The Stories Continue 2

Chapter 2 { First Step}

cover chapter 2

Author: Hiruma
Title : The Stories Continue
Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy
Additional Cast : Kim’s family, lee Howon, Kim Sunggyu, Nam Woohyun, Lee Seunggyeol, Jung Soojung.
Genre : Romance, Angst
Rated : PG-17
Leght : Series

Jalan cerita dalam ff ini murni pemikiran author . Apabila ada kesamaan entah itu jalan cerita, setting dan lainnya hanya kebetulan semata.
So, don’t copas and read this story.

Sorry…. Masih banyak typo beterbangan……

Happy Reading ^-^

*****************************************

Ruang tengah vila terasa sangat ramai. Seunggyeol yang sedang berebut remot tv dengan hoya dan woohyun yang sedang membaca majalah masakan dengan telinga yang tersumpal earphone. Ruangan itu benar-benar sangat kacau, segala toples terbuka dan sebagian isinya bercecer kemana-mana. Belum lagi layar tv yang berkedip-kedip karena chanel yang dipindah terus-menerus dan suara bising yang yang meyakitkan telinga. Seonggyeol yang masih tidak mau mengalah dan Hoya yang terus menarik remot tv seperti balita yang memperebutkan boneka.

Brakkkk!!!!!!

Pintu kamar disamping ruang tengah terbuka kasar dan menampakkan Sunggyu dengan wajah mengantuk dan ekspresi geram seperti akan menelan meraka hidup-hidup. Seunggyeol dan Hoya langsung ciut melihat ekspresi Sunggyu yang mengerikan itu. Pelan-pelan tangan Hoya yang meletakkan remot—yang sebelumnya telah berhasil direbut dengan menipu Seunggyeol—diatas meja tv. Dia dan Seunggyeol tersenyum dengan cengiran bodoh pada Sunggyu. Sedangkan Sunggyu hanya mengusap wajahnya frustasi melihat kelakuan dua makhluk didepannya. Woohyun yang tak mendengar keributan lagi segera membalik badan dan melepas earphone nya.

“Eoh kalian sudah selesai ? Kukira akan lebih lama dari biasanya.” Hoya dan seuggyeol hanya tertawa garing dan melirik takut pada Sunggyu. Sunggyu menggertakkan giginya geram dengan wajah memerah . Woohyun yang merasa janggal segera mengalihkan wajahnya kesamping dua mahluk tadi. Dan..taraa…..dia bisa melihat wajah memerah Sunggyu yang terlihat anker disana.

“Yya…..imma!!!!!!!!!!!!

————————————————-

Berbanding terbalik dengan ruangan tengah villa itu, Myungsoo berdiri di balkon yang menghadap langsung hamparan pantai didepannya. Ombak yang bergelung secara teratur tiap detiknya, angin pantai yang membelai permukaan kulit dan juga bayangan peristiwa tadi sore yang membuatya sedikit demi sedikit menarik sudut bibirnya hingga menimbulkan senyuman manis. Ah…rasa-rasanya kapan terakhir kali dia merasa sesenang ini.
Heran.

Myungsoo tidak menyangkal jika dia pernah suka dengan seorang gadis. Tapi rasanya dekat dengan gadis yang sore tadi dia temui berbeda. Seperti ada letupan-letupan kecil yang menjelma menjadi kembang dalam dirinya. Ukh..sepertinya dia akan menjadi manusia paling naif dari sekarang.


“Chogiyo.” Gadis didepannya ini berbalik.ugh…tuhan, Myungsoo seperti lupa caranya bernafas. Gadis didepannya ini, tatapan matanya………ada sesuatu pada mata itu yang menarik Myungsoo untuk terus menerus menatapnya. Seperti magnet yang mengikat logam disekitarnya. Anggaplah ia menjadi manusia puitis semacam Lee Howon. Tapi dia bersumpah rasanya kakinya tak lagi berpijak di bumi.

“Ne,nuguseyo?” Yya,..dia seperti kehilangan separuh jiwanya saat gadis itu bertanya padanya dengan suara lembut dan senyum manisnya. Bahkan untuk mengeluarkan suarapun rasanya tak mampu. Benar-benar seperti tersihir.

‘ Kumohon, jangan tersenyum. Atau aku akan benar hilang saat ini juga’ ucapnya dalam hati

“Joneun Kim Myungsoo imnida” myungsoo mencoba tenang dan memasang senyum terbaiknya pada gadis didepannya ini.

“Siapa namamu agasshi?” Myungsoo mengulurkan tangannya yang serasa bergetar saking gugupnya. Gadis didepannya memandang tangan yang terulur dengan bingung. Perlahan tangan terangkat dan menyambut uluran tangan namja didepannya ini.

“Sooji ……Bae sooji” Senyum yang sama terukir dibibir gadis bernama Bae suzy itu.
Mungsoo terdiam dengan nafas tercekat. Rasanya seperti ada aliran listrik yang mengalir dan merambat dari sentuhan gadis itu padanya. Mengalir semakin cepat dan membuat jantuung olahraga ditempat.

Mengingat itu Myungsoo semakin tersenyum lebar. Kadang meringis dan tersenyum sembari menutup wajahnya yang memerah. Heol….tingkahnya seperti remaja yang sedang dilanda kasmaran saja. Hei…seharusnya ia ingat berapa usianya sekarang. 24 tahun. Bukankah itu usia tidak lagi disebut remaja. Myungsoo memukul kepalanya. Sesekali menjambak dengan frustasi.

‘Akhh… Molla’

*********************************

Pagi harinya tidak seperti biasa, ruang makan terasa lebih ….damai? Entahlah, tapi suasana ini begitu membingungkan bagi Myungsoo. Dua orang biang onar duduk manis diatas kursi mereka dengan aktivitas menyantap sarapan yang dihidangkan Woohyun diatas meja. Seunggyeol dan Howon, dua orang itu begitu menghayati acara makan mereka dengan nikmat. Woohyun yang duduk disampingnya juga terlihat jauh lebih tenang. Hei, memangnya kapan chef ini terlihat ribut. Hanya jika dua orang yang duduk didepannya itu ribut Woohyun akan ikut mengomel, walaupun tak separah sepupunya.

Myungsoo menyikut pelan Woohyun yang sedang makan. Woohyun berhenti mengunyah dan menoleh pada Myungsoo dengan tatapan seakan bertanya ‘wae’. Myungsoo mengendikkan wajahnya ke depan yang menampakkan dua orang itu sedang makan dengan nikmat. Woohyun berbisik sangat pelan dan diangguki oleh Myungsoo.

Dan mereka meneruskan acara sarapan mereka yang tertunda hingga suara seseorang memecahkan keheningan itu.

“wah….pagi ini damai sekali ya.” Myungsoo mengangkat sebelah alisnya melihat Hoya dan Seunggyeol yang menghentikan sesaat kegitan makan mereka setelah kehadiran sunggyu yang wajahnya terlihat cerah.

—————————————————

“Bwahahahahahahahaha…………………” Myungsoo tidak berhenti tertawa setelah mendengar secara rinci cerita Woohyun. Bahkan kalau bisa mungkin dia akan berguling-guling seperti orang gila saking tidak bisa menahan tertawanya. Untungnya ia dan Woohyun sekarang berada di ruang santai villa.

“Yya…geumanhe Myung. Tsk, tau begini aku tidak cerita padamu.” Myungsoo masih berusaha menahan tawa. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Woohyun yang cemberut melihat kelakuan Myungsoo. Ditepuknya pundak Woohyun seolah menghibur hyeongnya itu. Woohyun hanya mendengus dan menepis tangan Myungsoo di pundaknya.

“ Hei…jangan seperti itu hyeong. Kau seperti yeoja yang merajuk pada namjanya” Woohyun mendengus mendengarnya.

“Merajuk kepala mu…Yya, kau tidak tahu seberapa marah Sunggyu Hyeong tadi malam. Aku yang tidak ikut-ikutan berulah juga di hukum olehnya. Kau harus lihat wajah seram dengan mata sipitnya itu. Aigo….aku serasa akan jatuh ke neraka,” myungsoo hanya terkekeh mendengar celotehan woohyun.

“kau juga ikut andil karena tidak memisahkan mereka. Kau kan tahu sendiri mereka itu perusak hyeong. Wajar Sunggyu hyeong ikut menghukummu.” Woohyun mendesis.

“Huh…aku mau pergi saja. Kau itu sama dengan Sunggyu hyeong.” Wohyun melangkah dengan menggerutu. Myungsoo merangkul Woohyun yang masih terlihat kesal itu.

“Yya hyeong…dari pada kau kesal terus lebih baik kita jalan-jalan ke pantai saja. Eotte?” Woohyun menepis tangan Myungsoo

“Shirreo…aku mau kepasar Myung.” Myungsoo terdiam sejenak. Entah kenapa Woohyun merasa ngeri melihat senyuman yang lebih mirip seringai tercetak dibibir Myungsoo.

“kajja”

*********************************

“kau tinggal dimana Sooji-ssi?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Myungsoo saat ia dan Sooji sedang berjalan disepanjang tepian pantai kala sore itu. Setelah acara perkenalan mereka yang membuat Myungsoo nyaris melompat saking girangnya, Myungsoo mengajak gadis itu—Sooji—untuk berjalan bersama dan menikmati suasana senja dengan melihat matahari tenggelam sebagai latarnya.

“Divilla dekat sini…kami, maksudnya aku, Soojung dan beberapa pelayan kami tinggal divilla yang sedikit jauh dari kawasan villa sekitar sini. Sebenarnya Soojung tidak memperbolehkanku pergi seorang diri apalagi dengan orang asing. Entahlah apa maksudnya.” Myungsoo hanya terdiam menatap Sooji yang sedang asyik dengan celotehannya.
“Tetapi yang kusuka saat disini adalah keramaian pasar tradisional yang biasa kukunjungi setiap pagi bersama beberapa pelayan dan Soojung tentunya.” Myungsoo menarik kedua sudut bibirnya sesaat setelah Sooji melampirkan senyum manisnya.

————————————————–

Woohyun yang sedari tadi berjalan disamping Myungsoo hanya mengerutkan dahi pertanda sedang bingung. Pasalnya baru sekali ini Myungsoo mau diajak kepasar yang Woohyun yakin termasuk dalam daftar urutan tempat paling dihindari lelaki itu. Namja satu itu yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan Myungsoo. Raut wajah Myungsoo terlihat biasa-biasa saja, bahkan terlihat seperti menikmati perjalanannya.

Entah apa yang sedang dipikirkan anak itu. Aneh saja melihat namja cuek semacam Myungsoo mau menemaninya kepasar yang bahkan menurut Myungsoo merepotkan—setidaknya itu dulu. Dari ekor matanya, Wohyun melihat perubahan raut wajah Myungsoo yang berubah cerah dan berbinar. Penasaran dengan apa yang dilihat Myungsoo hingga membuat matahari terbit diwajah Myungsoo yang biasanya terlihat seperti papan seluncur yang rata, Wohyun mengalihkan matanya pada objek pandang Myungsoo. Dan sesaat kemudian ekspresinya mendadak cengo. Matanya melebar dengan mulut terbuka. Kemudian tangannya dengan cepat melayangkan satu pukulan keras dikepala Myungsoo.

“Yya hyeong ….wae geure? Aish appo!” Myungsoo menoleh dan mengusap-usap kepalanya yang terasa pening karena ulah Wohyun. Wohyun melotot hingga rasanya Myungsoo yakin bola mata itu akan keluar dari tempatnya.

“aish sejak kapan kau ini berubah seperti Howon. Byeontae.” Myungsoo ikut memelototi Wohyun karena statement Woohyun yang tidak mendasar. Hei…..bagaimana hyeongnya ini menuduhnya yang macam-macam. Padahal dia kan hanya satu macam.(-_-)

“Mwo…hyeong jangan bicara macam-macam. Bagian mana dari sikapku yang menjurus ke hal-hal jorok seperti itu?” Myungsoo berkata dengan sedikit kesal pada hyeongnya yang satu itu. Bisa-bisanya dia menjelekkan Myungsoo.

“Hei kau itu dari tadi memperhatikan ahjumma itu kan? Kau itu masih tampan Myung, kenapa kau berselara dengan yang seperti itu? Aigo..” Myungsoo segera gantian memukul kepala Wohyun setelah tahu apa yang dipikirkan hyeongnya itu.

“Appo.”

“Hyeong…ternyata bukan Sunggyu hyeong saja yang membutuhkan kacamata rabun, kau juga.”

“Mwo” Wohyun mendesis mendengar kata-kata Myungsoo. Iblis tetap saja iblis.

“Kau tidak melihat yeoja berambut hitam bergelombang yang memakai dress itu. Bukankah dia sangat indah hyeong??”

“Huh?”

—————————————–

“Yya tidak bisakah harganya kurang? Beberapa hari yang lalu harganya tidak semahal itu. Kau ini.”

“Hei ini sudah murah. Para nelayan sedang kesusahan karena badai yang sedang terjadi. Wajar jika harganya sedikit mahal.”

Dua orang yeoja yang menyaksikan acara debat itu hanya terdiam sambil mengerjabkan mata. Salah satu dari mereka terlihat jengah dan mendengus. Ia berdecak dan menyeret pergi yeoja disampingnya.

“Jinjja, kenapa aku harus ikut ke tempat seperti ini? Bau ikan dimana-mana. Ukh…” Gadis itu terus menggerutu dan menghentakkan kakinya. Yeoja yang diseret hanya terdiam tanpa melakukan perlawanan. Sesaat kemudian kedua yeoja itu menghentikan langkah mereka.

“Seharusnya kita sedang bersantai dirumah atau paling tidak sedang berjalan ditepian pantai. Bukannya ikut Ahn ahjumma ke pasar begini Suzy-ah.” Yeoja yang diajak bicara hanya tersenyum kearah sahabatnya.

“Lalu kenapa kau harus ikut denganku jika kau tidak suka ketempat seperti ini, Jung Soojung?” Soojung hanya mempeotkan bibirnya lucu. Kenapa Suzy harus bertanya jawaban yang sudah pasti.

“Tentu saja untuk menjagamu Suzy-ah. Kau lupa apa yang ayahmu katakan?” Sooji tersenyum manis pada Soojung dan mengalihkan pandangannya pada tempat ramai disekitarnya. Rasanya kapan dia bisa menghirup udara seperti ini tanpa harus terus berdiam didalam rumah superbesar yang hanya berisi dia, Soojung dan pelayan pribadinya. Miris, bahkan untuk keluar dari ujung pintu rumahnya saja harus ada penjaga yang menemaninya.

“Aku hanya ingin menikmati liburan berharga ini Soojung-ah. Kapan lagi aku bisa keluar dari rumah itu tanpa ada orang yang mengikutiku. Rasanya seperti bebas.” Sooji tersenyum lebar sembari meregangkan tangannya menghirup udara disekitarnya. Soojumg yang berdiri didepannya ikut tersenyum dan tak sengaja dari ujung matanya melihat dua orang pemuda yang terlihat mengamati mereka berdua. Mungkin lebih tepatnya mengamati Suzy. Soojung memicingkan matanya penuh selidik pada dua orang asing yang tengah mengamati sahabatnya. Dengan langkah lebar Soojung melangkahkan kakinya ketempat kedua orang itu. Suzy yang tiba-tiba ditinggal soojung menatap soojung dengan kening berkerut.

Dua orang itu—yang tak lain adalah Woohyun dan Myungsoo—terkejut dengan kedatangan tiba-tiba soojung. Ditambah dengan ekspresi wajah yang kurang bersahabat. Matanya memicing dengan tangan yang bersedekap didepan dada. Menatap mereka berdua dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wohyun yang ditatap seperti itu mendadak salah tingkah. Hei..siapa yang tidak risih bila ditatap seperti itu oleh seorang gadis seolah menelanjang dengan tatapan tajam itu.

“Ehm.” Woohyun berdehem kecil dan sekilas menoleh pada Myungsoo yang kembali ke wajah aslinya—sedatar papan luncur.

“Yya…neo…neo…kenapa melihat temanku seperti itu eoh?” Myungsoo segera menepis tangan Soojung yang dengan kurang ajar menunjuk dihidung tampannya.

“Apa yang kau lakukan, eoh?” Myungsoo memicing sinis kearah soojung. Kenapa perempuan asing seperti itu menunjuk-nunjuk batang hidungnya tanpa tahu sopan santun.

“Ck….aku bertanya padamu. Kenapa kau dan temanmu itu melihat temanku seperti itu?” Myungsoo mengangkat sebelah alisnya sambil melihat Soojung dari atas kebawah dengan pandangan menyelidik.

“…..maksudnya aku, Soojung dan beberapa pelayan kami tinggal divilla yang sedikit jauh dari kawasan villa sekitar sini….”

Myungsoo mengerti sekarang, mungkin ini gadis yang dibilang Sooji.

“Neo….Soojung?” Myungsoo berucap meremehkan kearah Soojung. Soojung semakin menyipitkan matanya saat lelaki yang tak dia kenal ini menyebut namanya.

“Yya….” Baru saja Soojung hendak membuka mulut. Tetapi suara seseorang menghentikan aksinya.

“Myungsoo-ssi…” Itu Suzy. Gadis itu berlari kecil menghampiri lelaki asing yang tadi menyebut namanya.

“Eoh….Sooji”. Soojung melihat Suzy dan lelaki yang temannya panggil dengan nama Myungsoo. Heuh…..seperti nama pelawak saja. Sedangkan Wooohyun hanya menatap bingung pada tiga orang didepannya ini. Jadi Myungsoo benar-benar mengenal gadis itu. Dan mereka terlihat ….dekat..? Woohyun tidak salah lihat kan. Dia baru saja melihat Myungsoo tersenyum pada gadis selain ibu dan dongsaengnya? Oh…uh….

*******************************

Suara pintu terbuka membuat seorang lelaki yang tengah berbaring diatas ranjang itu terbangun. Seorang lelaki berwajah oriental dengan mata sipit masuk dengan membawa amplop coklat besar ditangannya. Sedangkan lelaki lain yang masih terbaring diranjang mulai mendudukkan dirinya. Menatap lurus pada langit cerah yang tertutupi oleh bingkai kaca jendela tanpa melihat sang lawan bicara. Lelaki berwajah asia itu meletakkan amplop coklat besar diatas nakas samping tempat tidur.

“Dia sekarang ada di Busan. Sedang berlibur dengan sepupu perempuannya yang bernama Jung soojung. Atau mungkin kau akan lebih mengenalnya dengan nama Krystal Jung. Tidak banyak pengawal yang tua Bangka itu ikutkan dalam liburannya. Hanya beberapa pelayan dan pengawal pribadi yang jumlahnya 10 orang. Para pengawal itu ditempatkan di sekitar villa tempat mereka menginap”

Setelah melaporkan hal itu, lelaki itu berbalik dan keluar dari ruangan kamar. Namja berambut pirang itu menoleh dan mengambil amplop coklat yang yang ada diatas nakas. Perlahan matanya memicing setelah melihat beberapa gambar yang ada di dalamnya. Pegangan pada amplop itu menguat dan mengepal.

‘sial’

******************************

Soojung masih saja melipat tangannya sambil menatap ketiga orang itu dengan mata menyipit. Ya…mereka saat ini sedang duduk di kedai kecil yang tidak jauh dari pantai. Myungsoo bilang ia yang akan mentraktir. Walaupun sebenarnya Soojung menolak ajakan lelaki yang menurutnya asing. Tapi karena wajah memelas Suzy, ia tak kuasa menolak permintaan sahabat sekaligus sepupu tersayangnya itu. Matanya menatap sinis namja yang duduk tepat didepan temannya itu. Saat memandang kedepan, dia bisa melihat seorang namja lagi yang sedang asyik dengan ponselnya. Lalu kembali melihat dua orang yang sepertinya masih mengobrol.

“kau mengenal namja ini dimana zy-ah?” dua orang itu—Myungsoo dan Suzy—menatap Soojung. Myungsoo mengalihkan pandangan ke segala arah. Malas jika harus melihat tatapan sinis Soojung.

“Aku bertemu dengannya di tepi pantai dua hari yang lalu. Lalu kami jalan-jalan disekitar pantai.” Soojung mengalihkan pandangannya pada Myungsoo. Menatap lekat-lekat namja satu itu. Sadar sedang diamati, Myungsoo menoleh pada Soojung dengan alis terangkat.

“Kenapa memandangiku seperti itu? Jangan lama-lama menatapku, nanti kau akan suka padaku.” Soojung menatap jijik kearah Myungsoo.

“Kenapa aku harus melirik pada namja sepertimu bila ada seorang bak malaikat yang menjadi kekasihku.” Tidak Myungsoo yang gantian menatap Soojung jijik, Woohyun yang asyik dengan minumannya bahkan menyemburkan air itu tepat ke wajah Soojung.

“Yya…neo…jorok sekali.…………………….”Soojung mengambil tissue yang ada diatas meja dan membersihkan wajahnya yang tersembur oleh Woohyun.

“Mianhamnida Soojung-sii ….aku tidak sengaja.” Soojung hanya mendengus sembari tangannya mengusap air yang baru saja terjun dari mulut woohyun. Sedangkan Myungsoo tertawa mengejek kearah soojung. Puas karena secara tidak langsung Woohyun membantu Myungsoo untuk memberi pelajaran pada Soojung karena tingkah tidak sopan soojung padanya. Beda dengan Suzy yang meringis pelan. Pasti sangat tidak nyaman terkena muncratan air minum seseorang. Apalagi tepat pada wajah, ukh….

“Kau seharusnya berhati-hati. Kenapa minum saja sampai seperti itu. Kau sengaja eoh?” Inilah Soojung. Cerewet luar biasa. Mulutnya masih komat-kamit mengomel pada Woohyun membuat lelaki mungil itu ciut ditempatnya duduk.

“Sudahlah Soojung–ah…dia ‘kan tidak sengaja. Dia juga sudah minta maaf.” Myungsoo menatap Suzy. Yya, suaranya saja begitu lembut hingga membuat dia jatuh cinta. Myungsoo masih tersenyum melihat Suzy mengobrol kecil dengan Soojung saat Woohyun menggoyang-goyangkan lengannya dan membuat fantasinya menguap entah kemana. Ia mendesis dan menoleh kesamping . Menampakkan Woohyun yang setengah berbisik padanya. Myungsoo memutar bola matanya malas. Kemudian mengalihkan pandangannya pada suzy didepannya.

“Sooji-ssi….” Suzy dan Soojung menoleh pada Myungso sesaat setelah dia merasa dipanggil.

“Boleh aku meminta nomer ponselmu?”

**********************************

Suara bantal dan guling yang saling bertubrukan menggema didalam kamar ini. Saling melayang dan berakhir mengenaskan terplanting dari temapat asalnya, bahkan ada yang teronggok mengenaskan dikolong ranjang. Soojung terus melakukan hal yang sama berulang kali hingga menbuat Suzy yang tengah duduk disofa samping jendela hanya menatapnya tanpa selera. Rutinitas itu sudah Soojung lakukan semenjak beberapa puluh menit yang lalu. Suzy tahu kegusaran apa yang melanda sepupu tersayangnya itu. Tapi ada kalanya sikap Soojung terlihat sedikit berlebihan menurutnya.

“Aaaaaaaa………….” Dan suara cempreng Soojung membuat Suzy terlonjak dari tempatnya. Benarkan..berlebihan.

“Waeyo nona Jung? Apa kau sudah lelah atau sudah sadar jika sikapmu kekanakan?” Soojung melebarkan mata mendengar kata yang terlontar dari Suzy.

“Yya Suzy-ah..kenapa sekarang kata-katamu seperti namja sombong itu? Ckckck…aku tidak menyangka belum lama mengenalnya membuat kau tertular sifatnya. Aigoo…sepertinya kau harus jauh-jauh darinya.” Suzy mendengusmelihat Soojung yang terlihat histeris—yang berlebihan menurut Suzy— sambil menggelengkan kepala kekanan dan kiri.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Myungsoo-ssi. Kau saja yang memang berlebihan dari dulu. Aku heran kenapa Minhyuk oppa bisa tahan dengan yeoja bawel sepertimu dan ditambah sikap berlebihanmu dalam segala hal.” Soojung mempeotkan bibirnya dan berjalan lemah kearah Suzy. Duduk disamping Suzy yang tengah serius membuka lembar demi lembar buku ditangannya.

“ Minhyuk oppa belum menelponku Zy-ah. Itu membuat Moodku buruk.” Suzy memutar bola mata jengah. Moodnya burukpun sikapnya seperti ini. Apalagi jika sedang bahagia. Suzy yakin Soojung tidak akan berhenti mendongeng.

“ Apalagi setelah insiden hujan minuman tadi pagi. Si sombong dan temannya itu…” Soojung mendesis mengingat kelakuan dua orang yang menurutnya menyebalkan itu.

“Kau tidak boleh seperti itu Soojung-ah. Mereka itu orang yang baik.” Soojung menoleh pada Suzy dan saat itu juga Ekspresinya berubah serius.

“ Jangan terlalu dekat dan sering berhubungan dengan mereka. Aku tidak mau kelalaian ku membuat kalian bertemau membuat kau kembali terkurung seperti biasa. Aku tidak mau membuat samchon menarik keputusan yang dia buat karena hal ini Suzy-ah. Mengertilah.” Suzy tersenyum kecut mendengar kata-kata Soojung.

“Arrayo”

*****************************

“Myung….Ayo kita pulang, hari sudah senja Myung.” Entah itu sudah bujukan keberapakali yang Woohyun tujukan pada namja didepannya ini. Tapi sedari tadi yang dibujukpun nampak cuek dan tidak mempedulikannya. Berdiri dibelakang pohon besar yang terletak tak jauh dari sebuah bangunan villa mewah yang dikelilingi para penjaga, membuat Myungsoo dan Wooohyun harus hati-hati dalam kegiatan ‘mengintai’ mereka. Memang Woohyun akui ia benar-benar sebal pada Myungsoo. Terjebak bersama namja nekat yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri membuatnya frustasi. Well, sebenarnya ini bukan seluruhnya kesalahan Myungsoo. Kalau bukan karena ‘mulut pintarnya’ yang mengeluarkan ide konyol yang ternya benar-benar dilakukan manusia nekad plus kejam macam Myungsoo.

“Mwoya….. kenapa dia tidak punya ponsel? Bagaimana caraku menghubunginya? Aku juga tidak tahu dimana letak villa tempat dia menginap.”

“Kalau begitu kenapa tidak kau cari tahu sendiri saja. Mengikuti mereka mungkin.”

Dan saat itu juga Woohyun mengutuk kata-kat yang keluar dari mulutnya saat dengan tiba-tiba myungsoo melibatkannya dalam rencana ‘spy’ Myungsoo. Kakinya kram dan rasanya mati rasa karena berdiri berjam-jam dengan posisi yang sama. Tiba-tiba Myungsoo berbalik dan tanpa dosa sedikitpun mengatakan hal yang Woohyun inginkan sejak berjam-jam yang lalu.

“ Ayo pulang hyoeng. Kurasa hari sudah hampir gelap. Nanti Sunggyu Hyeong bisa mengintrogasi kita.” Dan Woohyun bersumpah sekali saja ia ingin menguliti Myungsoo beserta sifat menyebalkannya.

TBC

Maaf banget ….jeongmal Mianhe…..aku lupa kalau udah jadi salah satu author disini….Ini bener-bener lupa dan gak keingat sama sekali……Maklum ya tugas menumpuk.
Ini . Tapi diusahaain part selanjutnya bakal lebih cepet updatenya. Ngomong-ngomong maaf kalau Myungzy moment belum terlalu banyak. Alurnya sedikit lambat buat ff ini. Tapi nanti bakal lebih banyak cast yang berdatangan. Dimohon meninggalkan komentar serta masukan buat author karena author masih dalam tahap belajar dan butuh saran dari readers supaya bisa lebih baik lagi dalam berkarya.

Gomawo,
Bow,

2 responses to “The Stories Continue 2

  1. wajar jika woohyun kesal sama myung—aku yg baca saja gondokan—astaga—

    berharap moga part 3 ga lama menyusul ya–moga makin semangat berkarya—diberikan kesehatan n keluangan waktu…

    SEMANGAT!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s