Clash (Chapter 9 Road to Final)

FF Clash new

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon

Support Cast :

  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

.

.

.Prev.

“Aku menyukaimu.”

“Mwo? Coba ulangi, aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas.”

Kalimat itu menyanyat hati gadis itu. Ia menenggelamkan wajahnya. Mengatur ekspresinya lantas mengangkat kepala. Berusaha memberikan senyuman pada pria di hadapannya.

“Jiyeon menyukaimu.”

‘Aniy… Jiwon menyukaimu.’

.

CLASH

Road to Final

.

You’re not mine but you’re the best. I want to approach you but you’re seriously too beautiful.

–Myungsoo.

I’m getting nervous. What are you? Are you that great? Why do you keep teasing me?

-Taehyung.

.

Jiyeon’s PoV

 

Berkas mentari menyebar di permukaan bumi. Langit melukiskan awan cerah, memayungi aktivitas manusia di pagi hari itu. Suatu jalan terbentang lurus dengan sisi kanan kirinya pepohonan rindang. Tidak jarang di antara pepohonan itu ada pedagang kaki lima, pemusik jalanan atau atraksi lainnya.

“Jiyeon, kau tidak capek senyum terus?”

Suara berat itu mengganggu kenikmatanku menghirup udara segar. Mengubah garis wajahku menjadi muram.

“Ayolah aku hanya bercanda,” dari meliriknya dapat kulihat ia mengerlingkan mata, “Jika senyummu tidak ada, maka oksigen yang kuhirup juga tidak ada.”

Do you think I’ll be swayed with a few words? Tetapi nyatanya wajahku sedikit memanas.

“Kau mau es krim?” lelaki bahkan bisa mengabaikan bualannya dan langsung menawari hal hal manis, “Akan kubelikan. Kau tunggu di sini.”

Mulutku baru ingin membuka untuk menolaknya. Pria berbadan tegap itu sudah terlanjur melangkah lebar mendekati si penjual es krim. Aku hanya menghela nafas.

Kencan? Entahlah. Yang jelas akhir pekan seperti ini dimanfaatkan untuk menjernihkan pikiran. Kebetulan dia mengajakku ke taman ini. Dan seorang Jiyeon (aku) mengiyakannya.

Kaki kiriku yang dibungkus sepatu kets nike menggaruk-garuk tanah sembari menantinya. Pandanganku ke sana ke mari, melihat sekeliling yang terlihat cukup hijau di mata. Kedua tanganku terlipat di depan dada.

Aku menghentikan gerakan kakiku begitu melihat seorang gadis berlari-lari kecil ke arah Myungsoo.

Sepasang mataku menyipit untuk melihat lebih jelas. Kim Jiwon?

Mereka berdua tampak asik mengobrol. Seperti kawan yang sudah berteman sangat lama. Akrab, enak, dan manis untuk dilihat. Serasi jika dijadikan pasangan. Bahkan Myungsoo memberikan es krim pada yeoja berponi yang cantik itu.

Kepalaku menunduk dan mulutku mencoba tersenyum. Sementara pikiranku mencoba memahami situasi ini. Tidak ada getaran yang dirasakan di hati. Maka aku menghembuskan nafas.

Begitu aku mengalihkan perhatianku dari keduanya, penglihatanku menangkap beberapa seniman jalanan yang tidak jauh dariku.

Mungkin sekitar enam orang. Ada daya tarik tersendiri yang membuat langkah kakiku mendekati mereka. Bukan sebuah pertunjukan musik, melainkan melukis. Yah, pria yang rata-rata sebaya denganku itu duduk santai di hadapan papan lukisnya.

Masih dengan melipatkan kedua tanganku, aku sudah berada di dekat seniman pelukis itu. Salah seorang menarik perhatianku seolah pandanganku tak ingin lepas darinya.

Model rambut acak-acakan berwarna pirang. Wajah tirus, mata setajam pisau, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Tangannya sibuk memoleskan kuas di atas papan kanvas, sedangkan sebelah tangannya memegangi pallet.

Sorot mataku terus mengarah padanya. Tidak barang sedetikpun kulepas darinya. Mungkin sudah ada magnet dalam tubuhnya.

Seperti kaset yang memutar sebuah film, bayangan tentangnya yang selalu mencoret-coret bukunya di kelas terngiang. Tiap menengok ke arahnya, ia sibuk berkutik dengan pensil dan kertasnya.

Sebuah luka menembus hati. Saat bayangannya pula yang selalu memandangku dengan sengit dan mengeluarkan kata-kata pedas. Tanpa sadar kedua tanganku sudah tersampir di sisi hotpants yang kukenakan.

Dan perlahan ia menurunkan kuasnya, mengangkat kepala, detik ini pula dunia serasa berhenti berputar. Pandangan kami bertemu. Di suatu titik yang sulit untuk dijangkau.

Alisnya berkerut mendapati diriku. Ia memiringkan kepalanya seolah memikirkan sesuatu. Dan aku masih mematung layaknya aku adalah model yang akan dilukisnya.

Tetapi ia tak kunjung meraih kembali kuasnya. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing. Bingung bagaimana cara melepasnya.

 

BRAK!

 

Hingga satu benturan keras berhasil mengalihkan perhatianku sepenuhnya. Pandanganku menatap sebuah mobil yang melesat cepat.

 

CITTT!

 

Rem kemudi memekik keras. Mobil itu hilang kendali, salah jalur menembus pepohonan yang mengarah pada taman. Adegan itu terekam jelas oleh mataku. Layaknya sebuah pertunjukan slow motion.

 

BRAK! BRAK!

 

Melayang bebas melewati pepohonan di dekatku dan berakhir dengan kondisi seperti mobil rongsokan tepat di sebelahku.

Tubuhku terkulai di tanah begitu saja. Percuma memaksa otak untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Bahkan suara-suara di sekelilingku terdengar samar. Mereka segera heboh berlari ke sana ke mari. Hal ini semakin mempersulit pernafasanku.

Dalam sisa pandangan yang kabur aku berusaha meraba-raba tas selempangku. Begitu menemukan alat bantu pernafasan –inhaler– aku meletakkannya di mulutku.

Sayang, seseorang berlari terlalu cepat dan tidak sadar menyenggol inhaler hingga terlempar jauh dari posisiku.

Meski inhaler itu masih bisa dilihat olehku, namun aku tak sanggup mengambilnya.

Air mata hangat terasa di pipi. Tak kuat menahan nyeri di ulu hati. Seperti ada tali tambang yang menjeratku. Aku tak berdaya di antara orang-orang yang bahkan tak sedikitpun menoleh untukku.

 

Selamatkan aku, jaebal…

 

Jiyeon’s PoV END

.

.

Mata pria itu hampir mencuat keluar menyaksikan kecelakaan nyata. Detak jantungnya berpacu cepat. Sepenuhnya ia mengacuhkan lukisan yang padahal baru setengah jadi. Mobil itu terseret jauh hingga mendekati seorang gadis.

Tubuh gadis itu terkulai lemah di tanah. Kedua tangannya memegangi dadanya. Nafasnya terlihat memburu.

Orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya tidak menyadari kondisinya. Mereka terlalu sibuk dengan aktivitas mereka. Bahkan mereka berlari ke sana ke mari.

Kasar pria itu beranjak berdiri. Bahkan pallet kesayangannya terbuang sia-sia di tanah. Ia mulai mengambil langkah begitu kerumunan itu menelan tubuh mungil gadis itu.

Kesulitan mulai ia dapatkan untuk menembus gerombolan yang kian lama kian ramai. Bahkan tingginya tak mampu melihat keadaan di depannya. Ia harus berjinjit dan terpakasa ia menerobos kasar membuat beberapa orang tersungkur. Ia tak mempedulikan orang-orang yang menyindir karena ketidaksopanannya.

Sifat aslinya nampak, berbuat seenaknya demi menyelamatkan sesuatu yang berharga. Kim Taehyung sungguh terlihat frustasi.

Taehyung mulai putus asa. Ia sendiri lupa dengan riwayat asma yang dimilikinya. Ia menenangkan diri sejenak di antara manusia yang masih sibuk sok membenahi kecelakaan itu.

Hatinya sedikit lega mendapati sosok gadis itu. Ia segera mendekati gadis yang terduduk di tanah dengan kedua tangan sebagai tumpuannya.

Taehyung menekukan salah satu lututnya tepat di hadapan gadis itu. Meraih kepala gadis itu ke dalam pelukannya. Tak peduli detak jantungnya akan terdengar, ia tetap meletakan gadis itu di bidang datarnya.

Kini Taehyung sepenuhnya melindungi tubuh Jiyeon. Awalnya Jiyeon tampak tegang dan sedikit terkejut dengan kedatangannya. Namun kian lama Taehyung dapat merasakan kepala Jiyeon bersandar di dadanya dan berat badan Jiyeon sedikit membebaninya.

Taehyung masih meringkupi tubuh Jiyeon dari keramaian, ia sedikit memberi celah udara untuk Jiyeon. Bahkan pegal dan kaku sudah tidak dapat dirasakannya. Yakin keadaan sekitarnya lebih tenang dari awal, Taehyung mulai meregangkan pelukannya.

Di situlah ia menyadari Jiyeon kehilangan kesadaran. Keringat dingin terlihat di dahi yeoja itu, kedua matanya terpejam seperti bayi, mulutnya pucat pasi.

 

“JIYEON!”

 

Namja lain dengan wajah kebingungan mendekati Taehyung dan Jiyeon. Kedua es krim di genggamannya sudah meleleh, dan ia membuangnya begitu saja.

Taehyung melempar tatapan tajam padanya. Namun namja itu mengabaikannya, ia hanya meneliti tiap inci wajah Jiyeon yang terlelap di pangkuan pria lain.

“Kau bersamanya kemari?” tanya Taehyung.

Barulah ia membalas pandangan tak suka Taehyung. Bukannya menjawab pertanyaan Taehyung, ia justru mengambil alih tubuh Jiyeon ke dalam dekapannya.

“Aku akan mengantarnya pulang,” ujarnya dengan tenang seraya membopong tubuh Jiyeon di punggungnya.

Kepala gadis itu tersandar di bahunya. Nafas hangat Jiyeon menerpa cuping hangatnya.

YA! Kim Myungsoo!”

Myungsoo tak jadi melangkah karena teriakan dari Taehyung.

Wajah Myungsoo memperlihatkan kedataran tak biasa. Padahal dalam hatinya tercurah kekhawatiran.

“Jika kau keluar bersamanya, seharusnya kau menjaganya dengan baik,” ucap Taehyung diselingi smirk sambil berlalu kembali melanjutkan kegiatan melukisnya.

.

.

 

Myungsoo’s PoV

 

Sekujur tubuhnya tersandar di salah satu kursi taman. Sementara aku berada di sisi kursi taman sambil memperhatikan wajah seputih susu dengan mata terpejam.

Jika kau keluar bersamanya, seharusnya kau menjaganya dengan baik

Perkataan pria itu mendengung di telingaku. Aku menundukkan kepala. Menyesal atas diriku yang tidak berbuat apa-apa untuknya.

Kedua kelopak matanya mulai terbuka. Ia mengedipkan mata sekali dua kali, mungkin mencoba mengatur intesitas cahaya. Kemudian ia berusaha menegakkan tubuhnya. Pucat pasi masih terlihat jelas.

“Di mana ini?” suaranya lemah.

“Masih di taman.”

Wajahnya linglung, dahinya membentuk beberapa garis. Ia menatapku meminta penjelasan. Sedangkan aku berpindah posisi duduk di sebelahnya.

“Tenang saja, kecelakaan tadi sudah diatasi,” sahutku.

Kepalanya menunduk membuat helaian rambutnya menutup sebagian wajahnya. Sehingga aku tidak bisa membaca ekspresi yang digambarkan olehnya.

“Taehyung…” lirihnya. “Aku melihat Taehyung.”

Kepalan tanganku bergetar. Gejolak di dada terasa panas. Mulutku terkunci rapat, tidak berniat membalas omongannya.

“Akan kuantar kau pulang sekarang,” aku berkata seperti ini seraya beranjak berdiri tanpa memandangnya.

Aku mulai melangkahkan kaki. Dia mengikutiku di belakang. Kekakuan menyeruak di antara kami. Tak ada yang berani membuka suara. Ia tak kunjung menyamai langakahku, ia terus berada di belakangku.

“Myungsoo-ya.”

Meski sebatas lirihan aku mampu mendengarnya. Dengan memberanikan diri aku memutar tubuhku. Barulah aku menyadari kedua mata yang memakai softlens berwarna abu-abu di hadapanku berkaca-kaca.

Sorot matanya sayu dengan kedua alisnya yang bertautan. Bibirnya bergetar kaku.

“Aku—“ ia menghela nafas, “—tidak tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya—“

Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengarnya.

“—hatiku memang sedang bersamamu sekarang, tetapi—“

Menatapnya dalam adalah salah satu cara agar dia menghentikan perkataannya.

“—pikiranku ada di pria lain.”

Saat itu pula aku seolah terbentur sangat keras. Hatiku hancur berkeping-keping. Untuk bernafas saja begitu sulit. Amarah dan sedih bercampur aduk menjadi satu.

“Aku—“ perkataannya terbata. Tangisannya terlihat semakin membuatku terjatuh lebih dalam. “—tidak mengerti—Aku—”

“Jiyeon,” potongku cepat.

Tidak. Ini pertama kalinya aku merasakan perih di dada. Sulit untuk berpura-pura tersenyum.

Gwenchana,” akhirnya senyumanku adalah palsu.

“Tenangkan pikiranmu dulu. Setelah itu, beritahu aku yang pasti,” Cih! Aku mengatakan seolah aku baik-baik saja.

Wajah Jiyeon mendongak untuk melihatku. Rasanya aku ingin menerawang pikiran gadis ini.

“Aku akan tetap mencintaimu, Jiyeon.”

Myungsoo’s PoV END

—o0o—

Buku tebal tampak nyaman di dekapannya. Rambutnya hitam kelam bergelantungan seiring langkah kakinya. Ketukan sepatu merah mudanya menggema di sepanjang koridor sekolah yang ia lalui.

Langkahnya berhenti saat melihat sesosok gadis termenung. Gadis yang sudah lama ia kenal. Sobat karib yang selalu tertawa bahkan menangis bersama.

Suzy menghela nafas melihat sahabatnya begitu rapuh. Ia melangkahkan kaki mendekati Jiyeon seraya duduk di sebelahnya.

Gwenchana?” tanya Suzy.

“Eoh,” Jiyeon mengerjapkan mata seolah tersadar dari lamunannya. Kemudian tersenyum tipis, “Mm.”

Kedua gadis kalem itu melempar pandangan lurus ke depan. Entah apa yang mereka lihat.

“Jiyi.”

“Hm?”

“Kau ada masalah?”

Tak ada jawaban dari Jiyeon. Membuat Suzy kudu memandanginya.

Merasa tidak enak dengan pandangan intogerasi Suzy, ia tertawa singkat, “Aniy.”

Suzy kembali menerawang ke depan, “Tetapi dari wajahmu seperti ada beban yang besar”

Mulutnya membisu. Ia memaksa otaknya untuk berpikir. Mencari jalan keluar.

“Suzy,” lirihnya.

“Hm?”

“Ada pria yang menyakitiku—“

Suzy mulai memperhatikannya. Menajamkan pendengarannya.

“—pria itu menyebalkan. Selalu membuatku kesal—“ ia tersenyum masam.

“—Di tempat lain, ada pria yang begitu hangat. Ia mengerti cara memperlakukan wanita dengan lembut—“

Satu per satu kata itu akhirnya keluar. Suzy yang cerdas bisa menebak siapa yang dimaksud oleh sahabatnya.

“Taehyung—Myungsoo–?” potong Suzy.

Jiyeon tidak mengiyakan atau menolaknya, ia malah melanjutkan ceritanya yang sempat terputus, “Aku nyaman berada di dekat Myungsoo. Tetapi—aku ingin bersama Taehyung…”

Dan kalimat itupun akhirnya terucapkan.

Suzy yang mendengarnya membulatkan mata. Sedangkan Jiyeon membalas tatapan Suzy dengan air mata yang membasahi pipi.

“Apakah aku ini gadis egois? Aku menyukai Myungsoo, tetapi aku tidak mau kehilangan Taehyung. Aku ingin bersama keduanya.”

Isakan tangisnya mulai terdengar. Seakan kesedihannya tersalur pada Suzy, Suzy merasakan kedua matanya pedas menahan cairan bening yang bisa keluar seenaknya.

Pelan Suzy berkata,

 

“Jika jalan pikiranmu seperti itu maka kau akan kehilangan keduanya.”

To be continued~~~

EVERYBODY PUT YOUR HANDS UP!!! YO YO YO! wekawekaweka, maapin Hara heboh *peace* abisnya seneng banget udah bisa on pc again fyuh. Dan bisa update ff ini huraahh huraahh. Yaa.. tapi telatnya lama pake banget😦 Maapkeun. Udah road to final aja lagi, gak kerasa ya? *plak*. Sebenarnya Jiyeon itu suka siapa :(? Maruk amat pingin dua duanya, penasaran kan? *Hara pun iya* *lempar Hara jauh jauh* Oke, Hara udah nentuin kok siapa ‘pangeran’ yang tepat *hoek. Babay semua, paipaaaiiii~~~

36 responses to “Clash (Chapter 9 Road to Final)

  1. aaa suka bnget sma part ini >< apalagi pas taehyung ngelindungi jiyeon😀
    jiyeon msih bingung siapa yg mau dia pilih, hah semoga yg dipilih jiyeon adalah yg terbaik buat dia ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s