[Chap 11] It Is a Curse?

It is a Curse


Cast:

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Other cast:
Park Chanyeol

Genre: Fantasy,Romance, Sad/ Hurt

Author : @kethychan

A/N: Ini ff murni keluar dari otak ku, mungkin jika ada sedikit kesamaan itu hanya lah kebetulan semata. Please don’t siders and don’t plagiat ok😉

Summary: Apa ini sebuah kutukan? Jika memang ini sebuah kutukan kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa tidak orang lain saja? Aku benci berada dalam situasi seperti ini!!

Backsong : Hyun ah –Can you love [ ost her lovely heels]
Entah kenapa saat menulis ff ini, aku ngerasa nyaman dan feel nya dapat pas denger lagu ini. Tapi aku gak tahu klo kalian[up to you] hanya recommend aja kq😀

Story Begin~

“Eonjega?” gumam Myungsoo gelagapan. Namja itu cukup shock saat mendapati Jiyeon yang telah siuman. Sedang kan yeoja yang tengah terbaring diatas tempat tidur itu hanya dapat memberikan namja di hadapan nya deathglear terseram yang ia miliki.

“Bisa kau tinggalkan aku, aku ingin sendiri” lirih Jiyeon yang telah mengalihkan pandangan nya dari Myungsoo. Namja itu hanya diam dan berbalik meninggalkan Jiyeon di ruangan bernuansa putih tersebut.

“Kenapa jantung ku berdegup dengan cepat? Dan kenapa aku merasakan wajah ku memanas? Apakah aku terkena penyakit jantung? Andawe, jeongmal andwae” gumam Jiyeon sambil menggeleng –gelengkan kepala nya frustasi.

Di luar ruangan, Myungsoo kini berjalan menuju ruangan Chanyeol. Mata nya menerawang jauh kedepan. Kejadian beberapa menit yang lalu terus saja terngiang –ngiang di benak nya. Sesekali ia memukul kepala nya sedikit keras, ia melakukan itu semata –mata untuk merutuki kebodohan yang ia perbuat sendiri.

“Haist! Memalukan sekali. Sejak kapan ia sudah siuman? Jangan –jangan sebelum aku keluar ruangan nya dia sudah siuman, aigoo aku bisa gila saat ini juga!!” decak Myungsoo frustasi sambil mengacak –acak rambut nya kasar.

*

Di dalam ruangan nya Jiyeon menatap kosong kearah jendela kamar nya. Ia memperhatikan setiap pergerakan awan yang berada di langit yang cukup cerah tersebut. Perlahan –lahan air mata nya mengalir begitu saja, bak aliran sungai kecil. Ia kembali teringat kejadian pertemuan singkat nya bersama appa nya. Senyuman getir terkembang di wajah nya. Ia kembali mengalihkan pandangan nya keseluruh penjuru ruangan nya.

“Apakah appa saat ini ada disini? Apakah appa saat ini memperhatikan Jiyeon?. Appa bogoshipda, jeongmal bogosippo appa” parau nya. Air mata nya kembali mengalir begitu deras. Seketika saja ruangan sunyi tersebut menjadi sedikit bising karena ulah nya, karena ulah nya yang mengeluarkan isakkan memuakkan itu.

“Eomma saja tak memperdulikan ku? Mungkin saja ia saat ini sedang merayakan pesta karena kecelakaan ku ini, huh! Rasa nya lebih menyiksa dari pada diacuhkan oleh orang –orang yang berada di sekitar ku”

*

Di sebuah pedesaan yang sangat nyaman dan damai tersebut. Nampak sebuah rumah yang berdekorasi klasik modern itu tengah di penihi oleh suasana yang cukup tegang. Seorang wanita paruh baya mungkin umur nya nya bisa di bilang sudah masuk kepala 6 itu tengah menatap yeoja di hadapan nya dengan tatapan penuh amarah. Kedua nya saling tatap, tatapan yang mengisyaratkan ketidak terimaan kedua belah pihak.

“Park Hyo Jin! Kembali lah ke Seoul dan temui putri mu, dia pasti sangat membutuhkan mu saat ini .” decak geram yeoja paruh baya itu. Kalimat ini sudah untuk kesekian kali nya ia ucapkan pada putri nya. Namun, sang putri hanya menatap nya dingin dan datar.

“Sudah kesekian kali nya juga aku katakan, yeoja itu bukan putri ku. Aku hanya memiliki seorang anak yang bernama Park Chanyeol. Hanya dia anak ku, kenapa eomma tak bisa mengerti, eoh?!” Hyo Jin meninggikan suara nya, tetapi ekspresi nya tetap saja tak berubah sedikit pun ia hanya menatap dingin eomma nya.

“PARK HYO JIN! Aku tegaskan kejadian 10 tahun yang lalu itu murni adalah sebuah kecelakaan dan Jiyeon itu bukanlah yeoja monster yang seperti kau katakan. Itu hanya lah sebuah kelebihkan, bukan kutukan! Kau tahu anak itu pasti sangat menderita saat ini, kembali lah ke Seoul jenguk dia walau sebentar, ibu mohon” suara yeoja paruh baya itu mulai melemah, mata nya mulai memanas ia tak kuasa saat memikirkan keadaan cucu nya tersebut. Ia tahu pasti gadis kecil nya itu sangat menderita saat ini.

“Arrachi, aku akan kembali ke Seoul, aku menjenguk nya bukan karena aku peduli pada nya tapi karena eomma yang meminta” Hyo Jin bangkit dari duduk hya memberikan salam hormat dan bergegas meninggalkan ruangan eomma nya.

“Yeoja itu selalu menyusahkan saja, kenapa ia tak mati saja, menyebalkan sekali” decak nya kesal.

*
Di ruangan nya, Jiyeon hanya dapat terbaring lemah. Karena ia baru saja siuman dari koma nya. Ia juga belum dapat sepenuh nya menggerakkan seluruh anggota gerak nya, ia masih merasa sedikit mati rasa. Chanyeol kini tengah mengupaskan beberapa apel untuk Jiyeon, sedangkan Myungsoo tengah berbaring di sofa. Ia masih canggung menatap yeoja itu, karena jika melihat yeoja itu kejadian tadi pagi terus saja terngiang –ngiang di benak nya.

“Oppa, apa eomma tak akan datang untuk menjenguk ku?” parau Jiyeon. Mendengar penuturan Jiyeon Myungsoo sontak saja menatap Chanyeol yang tengah tertunduk lemah.

“Jangan pernah hubungi eomma jika hanya untuk membicarakan yeoja monster itu” kalimat itu terngiang –ngiang kembali di indra pendengaran Chanyeol. Namja itu hanya diam membisu, sedangkan Myungsoo menatap sendu kearah Chayeol yang telah kembali melanjutkan mengupas apel nya.

“Haha~ harus nya aku tak perlu bertanya seperti itu, mana mungkin eomma akan mengunjungi yeoja monster seperti ku, hah! Nan jeongmal paboya” tawa renyah Jiyeon mampu mengisi kesunyian di ruangan tersebut. Di indra pendengaran kedua namja itu tawa Jiyeon malah terdengar seperti sebuah isakan yang begitu menyakitkan.

“Jangan berbicara konyol seperti itu Jiyeon –ah. Eomma mu tak membenci mu hanya saja dia masih shock, jadi berhenti lah menghujam diri mu sendiri sebagai yeoja monster” decak Myungsoo sedikit meninggi. Jiyeon menatap Myungsoo beberapa saat dan ia kembangkan senyum kecut nya.

“Begitukah menurut mu? Hah! Aku harap itu benar” parau nya.

Dreett…
Suara derit pintu yang tergeser itu mampu membuat ketiga sosok itu mengalihkan pandangan nya menuju arah suara tersebut. Mata kedua sosok itu sedikit membulat mana kala mereka melihat sosok yang memang sedari tadi tengah mereka bicara kan. Untuk beberapa saat ketiga nya terhanyut dalam tatapan masing –masing. Namun, itu hanya terjadi untuk beberapa saat, sampai suara yeoja paruh baya itu memecahkan kecanggungan diantara ketiga nya.

“Aigoo~ uri Yeolli, kenapa wajah mu begitu pucat? Apa kau kurang makan? Atau kau kurang tidur, chagiya~” Nyonya Park berjalan menuju Chanyeol dan meraih pipi tirus namja tersebut. Jiyeon yang melihat adegan tersebut hanya dapat memalingkan pandangan nya kearah jendela. Sedangkan Myungsoo hanya dapat menjadi penonton bisu, yang menyaksikan betapa miris dan menyedihkan nya kehidupan Jiyeon. Ia merasa saat ini seperti menonton sebuah drama –drama yang seperti di layar kaca dalam keadaan live.

“Eomma, Chanyeol baik –baik saja, yang sakit itu Jiyeon. Lihat lah banyak perban yang melilit tubuh nya,” tukas Chanyeol yang meminta agar eomma nya memperhatikan dongsaengnya.

“Begitukah? Tapi eomma melihat nya baik –baik saja. Sudah sepantas nya ia mendapatkan hal itu, kenapa ia tak mati saja. Agar ia segera mendapat pengadilan yang sebenarnya oleh tuhan” ucap nyonya Park sakartik. Myungsoo yang ada di ruangan tersebut. Membulatkan mata nya tak percaya dengan apa yang di ucapkan eomma Jiyeon. Sedangkan, Jiyeon terus saja menatap datar nan kosong kearah jendela.

“Eomma! Jika eomma hanya kesini untuk semakin menyiksa Jiyeon, lebih baik eomma tak perlu datang” geram Chanyeol yang sudah tak tahan dengan sikap kekanak –kanakan eomma nya.

“Eomma kesini bukan karena keinginan eomma sendiri, halmonie yang menyuruh eomma. Jika bukan karena nya, eomma tak akan pernah sudi menginjak kan kaki eomma di tempat memuakkan ini” jelas nyonya Park begitu dingin dan menusuk hati.

Ok! Myungsoo tahu ini begitu keterlaluan. Ia tahu Jiyeon kini tengah berusaha sekuat tenaga agar terlihat tegar di depan nya. Manik mata nya tak pernah lepas sedikit pun dari Jiyeon, yeoja itu tetap saja diam tak bergeming, sedangkan Chayeol telah mengepalkan tangan nya kesal.

“Nan Khalkkae” decak nyonya Park begitu dingin dan segra menginggalkan ruangan tersebut.

“Jiyeonnie neo gwenchanda?” gumam Myungsoo hati –hati. Namun, Jiyeon tak bergeming sedikit pun, keadaan kembali sunyi. Semua focus dengan pikiran mereka masing –masing.

“Jiyeonnie, jangan di masuk kan kedalam hati perkataan eomma tadi” ucap Chanyeol pelan. Mendengar penuturan oppa nya. Jiyeon sontak saja memalingkan pandangan nya kearah Chanyeol.

“Bahkan tadi aku tak mendengar apa yang di ucapkan oleh nya. Aku merasa seketika menjadi tuli saat mendengar suara nya, jadi oppa tenang saja” jawab Jiyeon dingin. Mendengar hal itu Chanyeol bangkit dari tempat nya dan menatap Jiyeon dingin nan tajam.

“Ya! PARK JIYEON!! Aku membenci mu!! Aku benci saat kau tak mau jujur dengan perasaan mu sendiri!! Aku benci saat kau menyembunyikan semua rasa sakit mu!! Aku sangat benci saat kau berpura –pura untuk tegar!! AKU BENCI ITU SEMUA PARKJIYEON!! TAK BISAKAH KAU BERSIKAP JUJUR PADA OPPA MU INI, KAU TAHU AKU SANGAT MENGKHAWATIRKAN MU!!” Chanyeol membanting nampan yang ada di tangan nya. Dan membanting pintu kamar Jiyeon begitu keras. Untuk pertama kali dalam hidup nya Jiyeon melihat oppa nya memarahi nya seperti itu, untuk pertama kali nya pula Chanyeol menatap nya sedingin dan setajam itu. Rasa nya bahkan sangat sakit sekali, 1000x lipat lebih sakit saat di acuhkan oleh eomma nya.

“AAAarrrghhttt!!” teriak Jiyeon frustasi. Myungsoo berjalan mendekat kearah Jiyeon, direngkuh nya tubuh rapuh tersebut. Sesekali Myungsoo mengelus pucuk kepala Jiyeon.

“Hiks… Hiks.. Chanyeol oppa membenci ku, eotokhae Myung, eottoekkhae?! Rasa nya aku ingin mati saja saat ini, semua orang di dunia ini telah membenci ku hiks .. hiks” tangis Jiyeon begitu menjadi saat ucapan Chanyeol terus terngiang –ngiang di benak nya.

“Chanyeol hyung bukan membenci mu, ia hanya kecewa. Ia tak mungkin bisa membenci mu, percayalah pada ku” bujuk Myungsoo. Jiyeon mengeratkan pelukan nya pada Myungsoo dan sesekali ia memukul –mukul punggung Myungsoo untuk meluapkan rasa sesak yang ia rasakan.

“Myung! Harus nya aku memilih ikut dengan appa ku saja, aku lelah Myung! Appa! Appa! Jinjja appunda”teriak Jiyeon histeris. Myungsoo melepaskan pelukan nya paksa. Ia menatap tajam manik mata Jiyeon. Namun, sosok yang di tatap masih saja menagis sesegukan.

“Berhentilah menangis PARK JIYEON!!” Myungsoo sedikit meninggikan suara nya. Namun, hal itu malah membuat tangisan Jiyeon semakin mengeras.

Chu~
Myungsoo mendaratkan bibir nya begitu saja di bibir Jiyeon. Mendapat perlakuan tersebut. Tangisan Jiyeon sontak saja terhenti. Mata yeoja itu kini malah membulat tak percaya dengn tindakan Myungsoo tersebut.

“Berhentilah menagis, aku benci melihat nya” gumam Myungsoo lirih.

*
*
*

Chanyeol menyenderkan tubuh nya di pohon sakura yang bunga nya tengah berguguran. Mata nya terpejam sejenak , tangan nya kini meraih dada sebelah kiri nya. Disana, di tempat itu, ia merasakan sesak yang sangat teramat, semakin erat ia menggenggam bagian itu. Namun, rasa sesak itu tak kunjung hilang.

“Aku menyakiti nya, sangat menyakiti nya” parau Chanyeol yang kini buliran bening telah membasahi pipi nya.

“Appa, aku adalah oppa yang tak pantas untuk Jiyeon. Aku telah membuat dongsaeng ku sendiri semakin menderita dan tertekan dengan aku mengeluarkan perkataan tak pantas itu” lirih Chanyeol yang kini tengah menengadahkan kepala nya keatas. Ia menatap langit biru kosong itu dengan tatapan sendu nya.

“Mianhae, jeongmal mianhae Jiyi”

To Be Continue….

PS: Hahay~ gimana dengan FF ini, aku ckup berpikir keras loh untuk part ini… Gimana feel nya udah dapet belum? Apakah udah cukup panjang? Gimana bagian terakhir nya, cukup mengejutkan kah? Kethy tiba –tiba ajh loh dapet ide kayak gitu, absturd banget ya? Gimana perasaan kalian tentang part ini? #dijawab ya, no kacang. Kacang mahal. RCL juseyo nde…
Dan satu lagi, mianhae baru dapet nongol sekarang, soalnya Kethy bru sempet #BowbarengabangMyung
Thank’s untuk para READER’s yang udah setia baca FF Kethy, sangat terharu loh sama pembaca setia ff ini. Jeongmal Kamsahamnida #bow… Thank’s for all Annyeong ~Pyong

33 responses to “[Chap 11] It Is a Curse?

  1. baru keingetan sama ff ini maapin kak sekitaran bulan april aku hiatus baca soalnya mau UN jadi kelupaan deh😦
    iiihh ff ini kenapa ya selalu bikin aku nyesek😥
    parah banget eomma nya jiyeon. ga suka-___-
    jiyi mangatse ya :’) semua akan indah pada waktunya :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s