[ CHAPTER – PART 8 ] COUPLE OR TROUBLE ?

COT3

 Tittle : Couple or Trouble ?
Author : gazasinta
Main Cast : Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Kim Jongin, Jung Soojung

Additional cast : Lee Taemin, Park Luna
Genre : Romance and Little Commedy
Rating : PG-15
Length : Chapter

Here’s part 8 Couple or Trouble, udah lama nge-post sekalinya muncul, ide ceritanya makin aneh, namun begitu mohon dinikmati aja * wkwkwk.
Mianhae jika ff ini mempunyai kesamaan cerita, penistaan terhadap bias kalian ataupun typo yang berlebihan, ini hanya sebuah fanfiction, dan mohon hargai kerja keras ( ? ) author dengan meninggalkan jejak setiap kali selesai membaca  gomawo.

MASUKAN DAN KRITIKAN AKAN DITERIMA DENGAN LAPANG DADA

 Part 8

Author’s POV

“ Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya ? “

Bunyi tumbukan antara batu es dan gelas ditangan Jongin terhenti, seiring pria itu menghentikan kocokan gelas wine miliknya, ujung atas bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tidak terlihat oleh si penanya – Krystal, karena Jongin memunggungi wanita itu. Jongin menahan kecewa dihatinya, tidak tahukah jika wanita yang kini ada dihadapannya inilah alasan atas tindakannya tadi ?

“ Ada apa ? bukankah hal yang wajar jika menolong seseorang yang kita kenal ? “ Tanya Jongin berusaha tetap santai, ia meneguk sisa wine digelas dan menyapu lembut bibir atas dengan lidahnya untuk menghapus jejak wine yang tertinggal.

Krystal masih berdiri dibelakang Jongin, dahinya mengernyit heran “ Kau mengenalnya ? “

Jongin terdiam, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya kini membalikkan tubuh untuk menatap Krystal “ Bukankah MYUNGSOO-MU tadi mengenalkannya pada kita ? “ Ucap Jongin menekankan kata Myungsoo-mu dengan wajah dingin.

Bahu Krystal mengendur, Jongin masih tidak memaafkannya dengan tulus, namun ia berusaha untuk mengerti dan tetap memasang wajah tersenyumnya “ Eoh, arraseo…tentu saja karena yeoja itu adalah istri sahabatmu “ Ucap Krystal tenang.

Jawaban Krystal yang tidak tersulut dengan sindirannya membuat Jongin terdiam, dalam hati sebenarnya ia merasa bersalah menghukum wanita yang masih dicintainya ini terlalu lama dengan sikapnya.

“ Sudah selesai “ Krystal menatap sekeliling, dilihatnya satu-persatu tamu meninggalkan pesta, dan diujung sana Mr.Kang ayah angkat Jongin melepas rekan bisnisnya, ia kemudian menoleh kembali ke arah Jongin yang kini menatapnya lekat “ Gomawo sudah mengundangku “ Krystal membungkukkan tubuhnya dan tidak menunggu reaksi Jongin ia melangkah melewati tubuh pria itu, pelan namun pasti.

Krystal berharap Jongin mencegahnya atau menawarkan diri untuk mengantarnya, namun hingga cukup jauh ia melangkah tidak ada suara yang memanggil atau tangan yang mencegah langkahnya. Dengan kecewa Krystal meletakkan begitu saja gelas diatas meja yang ia lewati, dan berhenti sejenak untuk membungkuk hormat saat berpapasan dengan Mr Kang “ Kamsahamnida tuan, sukses untuk bisnis anda, saya permisi “ Ucap Krystal lembut.

“ Eoh, Jongin-ah kau tidak membiarkan kekasihmu yang cantik ini sendiriankan ? “ Teriak Mr Kang ke arah Jongin, membuat Krystal melirik kembali pria itu yang masih saja terdiam.

“ Ahniyo, aku yang mencegahnya untuk mengantarku “ Ucap Krystal berbohong “ Permisi dan senang mengenal anda “ Krystal kembali membungkuk dan tidak lama ia melangkah meninggalkan pesta diiringi wajah heran Mr Kang dan penyesalan Jongin.

“ Mianhae, butuh waktu lama untuk seperti dulu “ Ucap Jongin dengan pandangan nanar.

Myungsoo’s POV

Brugh

Tangan kananku membanting kasar daun pintu, sementara tangan kiriku menarik masuk tubuh allien paksa, aku tidak peduli dengan ringisannya, ia berhasil membuatku seperti pria bodoh yang tidak berguna setelah sebelumnya aku diminta melakukan hal yang memalukan dalam hidupku.

“ Ahjussi, lepaskan!!! Ini sakit sekali “

Tangannya berhasil terlepas dari genggamanku, aku menghentikan langkah tepat diruang tamu dan membalikkan tubuhku untuk menatapnya tajam, tuxedo hitam berharga mahal yang mengikat pinggulnya semakin membuat emosiku memuncak “ Lepaskan ini !!

“ Aku membungkukkan tubuhku untuk sejajar dengan pinggulnya.

“ Ahjussi ! apa yang kau lakukan ? “

Allien berontak dan berusaha mencegah, namun tanganku sudah berhasil melepas dan membuang tuxedo milik Jongin ke arah sofa, aku tidak peduli dengan wajahnya yang kini menatap tak percaya dengan apa yang kulakukan “ Bisakah kau tidak selalu merepotkanku eoh ? kau sengaja mengerjaiku kan? kau ingin mempermalukan aku dihadapan banyak orang, kau tahu betapa malunya aku ? “ Aku menunjuk wajah dengan jariku sendiri dan berkata dengan emosi tertahan dihadapan allien.

“ Apa maksud perkataanmu ahjussi ? mengerjaimu ? apa aku terlihat orang yang seperti itu ? mempermalukan diriku sendiri untuk bermain-main dengan orang lain ? “ Ucapnya menggeleng tak percaya dan memasang wajah yang kurasa ia hanya berpura-pura kecewa.

Tch air muka palsu, tentu saja allien pabbo ini bisa melakukannya, melihat sekarang ia bisa berada disekitar hidupku dan menyusahkanku, dia pandai berakting dan tidak tahu malu “ Kau bisa saja menungguku untuk tetap berada ditoilet itu, kau tahu apa yang harus ku pertaruhkan hanya untuk membeli benda menyebalkan itu eoh ? harga diriku, semua orang menatap aneh dan berbisik – bisik tentangku “ Geramku dengan tangan terkepal.

“ Kau berlebihan sekali ahjussi !! “

“ Mwo ? berlebihan ? “ Aku melangkah mendekat dan sedikit menunduk untuk mendekatkan wajahku dihadapannya, seraya berkacak pinggang “ Mungkin bagimu aku berlebihan, tapi aku tidak suka dengan hal-hal yang mempertaruhkan harga diriku “ Tekanku padanya, kurasa wajahku saat ini sangat menyeramkan, hingga allien pabbo akhirnya memilih menunduk.

Pasti ia menangis seperti yang sudah-sudah jika aku memarahinya setelah melakukan kesalahan, namun dugaanku salah, ia mendongakkan perlahan-lahan wajahnya dan dengan berani membalas tatapan tajamku, jika melihat orang yang seperti ini siapa yang tidak akan bertambah kesal ? sudah jelas-jelas salah tapi tidak sedikitpun merasa bersalah.

“ Teman ahjussi tidak sengaja menemukanku, aku sudah mengatakan jika ahjussi akan segera datang menolongku, tapi ia tidak peduli dan langsung saja mengikatkan tuxedo ini unt…”

“ Keumanhe!!! “ Aku kesal mendengar allien itu menceritakan apa yang Jongin lakukan padanya “ Apa kau sedang memamerkan betapa baiknya orang itu eoh ? kau tidak tahu jika aku…ah sudahlah “ Percuma saja menceritakan bagaimana tadi aku berjuang untuk menolongnya, membiarkan tubuhku berkeringat karena berlari kencang dan wajahku memerah karena menahan malu demi menolong allien pabbo ini.

“ Ahjussi, temanmu itu tidak salah, dan siapapun dia pasti akan menolong seseorang yang sedang kesusahan “ Ucapnya membela apa yang Jongin lakukan.

Mendengar lagi kata teman, aku langsung mendengus kesal “ Tch…kau tidak tahu apa-apa tentang kami, jadi jangan menyimpulkan dengan mudah jika ia temanku “

“ Sebenarnya kau kenapa ahjussi ? apa ini caramu menutupi rasa cemburu ? “ Pertanyaannya berhasil membuat mataku terbelalak, rasanya ingin sekali muntah dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.

“ Cemburu ? kau pikir kau siapa eoh hingga bisa membuatku cemburu ? “ Ucapku tak terima dengan tuduhannya.

“ Aku tidak bilang aku yang membuat ahjussi cemburu, tapi ahjumma….ahjussi cemburu karena ahjumma itu hingga melampiaskan kemarahan padaku ? “ Kini dirinya ganti menatapku sombong.

Glekkk…

Bodoh!! jadi cemburu yang allien ini maksud karena Krystal ? Aish jeongmal, hampir saja kepercayaan dirinya yang tinggi pindah padaku “ I- ittu…itu bukan urusanmu ? “ Ucapku menjadi sedikit gugup dan memalingkan wajah ke arah lain.

Dan ketika aku kembali menatap allien, apa yang terjadi ? wajah marah allien pabbo tadi kini menjadi senyum-senyum tidak jelas, aku mengernyit heran. Caranya yang seperti itu – berubah raut wajah dengan cepat – membuatku kadang bergidik ngeri, ia seperti memiliki kepribadian ganda ah tidak bahkan multi kepribadian.

“ Atau ahjussi memang……cemburu padaku ? “ Ucapnya dengan senyum kekanakan membuat mulutku sangat susah untuk tidak terbuka lebar.

Tuk

“ Awww “

“ Hentikan pikiran gilamu jika masih ingin tinggal disini “ Aku memukul pelan kepalanya, rasanya sudah tidak mood lagi untuk marah meski hati ini belum cukup puas melampiaskan kekesalan ini padanya. Mungkin inilah sifat anak kecil sesungguhnya, bisa dengan mudah mencairkan kemarahan pria dewasa yang sedang kesal padanya.

“ Ahjussi… “ Panggil allien itu dengan suara yang membuatku jijik, namun begitu aku memilih untuk menatapnya.

“ Mwo ? “ Ucapku galak dan tak bersahabat.

Tangannya menunjuk tuxedo Jongin yang ku buang, seolah memohon padaku untuk kembali mengambilkan untuknya “ Tch “ Ku lipat tangan didepan dadaku dan menggelengkan kepala “ SHIREO “ Ucapku yakin.

Jiyeon’s POV

Sepertinya lebih mudah meminta tolong pada dewa langit daripada ahjussi tua ini, eoh otthokae ? jika tidak ingin menolong kenapa ia tidak pergi saja dari hadapanku, bagaimana mungkin aku melangkah ke atas dengan noda darah dibelakangku yang akan terlihat olehnya.

Baiklah, seperti ini saja. Aku mulai menggeser kakiku ke arah samping, agar arah belakangku tidak terlihat oleh ahjussi, pria tua itu terus menatapku heran berjalan dengan cara seperti ini. Biar saja, aku tidak peduli ia menganggapku aneh, salahnya tidak mau menolong.

Masih beberapa langkah jarakku dengan sofa, ahjussi yang awalnya menolak tiba-tiba saja sudah bergerak dan mengambilkannya untukku “ Ini “ Ucapnya tanpa ekspresi melempar tuxedo hingga menutupi wajahku dan setelahnya ia melangkah pergi dari hadapanku.

Aku menggamit dengan bersungut tuxedo yang menutupi wajahku, namun tidak berapa lama senyum senang terulas dari bibirku. Meski cara memberikannya tidak manusiawi, harus ku akui aku mulai memahami sifatnya. Jika ia marah sebenarnya ia tidak benar-benar marah padaku, melihat bagaimana halmeoni, sepertinya tidak heran jika ahjussi sering marah-marah “ Ahjussi !!! “

Ia menoleh malas dan menunjukkan wajah tak bersemangat. Aku tahu ia sedang cemburu pada Kim Jongin karena ahjumma, hatinya pasti sangat sakit melihat wanita yang dicintainya bersama dengan pria lain.

“ Bisakah kau langsung saja mengatakan apa yang kau inginkan tanpa perlu berkali-kali memanggil seperti itu “ Kembali ia berteriak kesal padaku.

Aku menghela nafas pelan, aku ingin sekali menghiburnya, tapi tidak tahu dengan cara apa “ Ahjussi, kita bisa berteman kan ? dan seorang teman bisa dijadikan tempat untuk saling bercerita, jika kau sedang bahagia kau bisa membaginya padaku dan jikapun kau sedang bersedih, kau juga bisa menceritakannya padaku, otthe ? “ Aku menggigit bibir bawahku berharap-harap cemas dengan tanggapan ahjussi dengan tawaranku.

Heol ~ Diamnya ahjussi sudah melambangkan jika ia menolak tawaranku sebagai teman, aku menunduk lemah, tentu saja ia tidak akan pernah dekat dan terbuka padaku.

“ Aku tidak sedang bersedih “ Ucapnya pelan.

Aku sedikit lega mendengar penuturannya, ia terus menatapku lekat, apa ia akan mulai bercerita padaku? aku menunggu dan berharap banyak.

“ Tapi aku juga tidak sedang berbahagia “ Ucapnya kemudian, lalu tangannya merogoh sesuatu dari kantong tuxedonya ” Ini, ambil untukmu “

Aku menangkap sebuah bungkusan yang ahjussi lempar, pembalut ? dan seketika itu juga aku merasa bersalah tak menghargai usahanya untuk menyelamatkanku, ketika aku menoleh lagi ahjussi sudah menghilang

“ Gomawo “ Ucapku tersenyum lemah.

Author’s POV

Layar televisi berganti setiap detik, menampilkan tayangan satu dan dengan cepat berganti dengan tayangan lainnya, namun akhirnya berhenti pada satu acara karena seseorang yang mengendalikan remotenya terlihat bosan dan melempar begitu saja benda itu disampingnya.

Myungsoo merebahkan tubuh diatas sofa dengan kedua tangan menopang kepalanya “ Apa bertemu kembali harus menjadi musuh ? “ Ucapnya seolah berbicara sendiri tentang hubungannya dengan Kim Jongin.

Myungsoo sempat berpikir untuk kembali meminta maaf ketika melihat Jongin tadi, namun kebersamaan pria itu dengan Krystal menguapkan perasaan bersalah Myungsoo, ia merasa Krystal membohonginya dan Jongin mengasihaninya. Satu lagi, dan mengingat hal ini membuat dada Myungsoo kembali bergemuruh dan mengeluh kesal “ Huh “ Myungsoo memiringkan tubuhnya kasar, bantal yang menjadi tumpuan kepala ia gunakan untuk menutup telinganya kini.

” Aku menemukannya ditoilet, kau kemana saja ? dia sudah menunggu lama bantuanmu “

Kalimat yang terkesan nyinyir dan mengejek membuat kekesalan Myungsoo memuncak, tentu saja wajahnya serasa ditampar dihadapan banyak orang, tidak seharusnya ada pria lain menyelamatkan seorang wanita yang pergi bersamanya – apalagi pria itu ada rivalnya – atau setidaknya wanita yang pergi bersamanya tidak menerima bantuan pria asing dengan mudah.

Tring

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel yang ia letakkan pada meja dihadapannya, Myungsoo menyingkirkan bantal dan mengangkat kepala untuk melihat siapa pengirimnya, dan meraihnya malas.

             ” Aku tidak berniat membohongimu, ada alasan mengapa aku tidak mengatakan jika aku telah bertemu dengannya, kau mau memaafkanku ? “

Myungsoo menghela nafas panjang, tidak berniat membalas pesan dari Krystal, apakah ia marah ? entahlah Myungsoo juga tidak tahu kepada siapa sebenarnya ia merasa begitu marah. Terdengar suara pintu terbuka dari arah atas. Myungsoo melirik sekilas, meski pandangannya terhalang bahu sofa namun ia bisa melihat jelas Jiyeon diatas sana dan perlahan menuju ke bawah, Myungsoo berpura-pura untuk memejamkan matanya, ia juga malas berbicara dengan yeoja itu disaat hatinya masih merasa kesal.

Jiyeon menghentikan niatnya untuk mengambil air minum, ia mengernyit heran melihat layar televisi menyala, ia menoleh ke kanan dan kekiri, tidak ada siapapun di ruang televisi “ Ommo!! “ Kaget Jiyeon menemukan tubuh Myungsoo yang tertidur diatas sofa.

Diraihnya remote televisi dan kemudian mematikannya, ia hendak meneruskan langkah untuk menuju dapur, namun melihat Myungsoo yang nampak tenang karena sedang tertidur membuat Jiyeon membelokkan arah. Langkah kakinya kemudian mengantar Jiyeon kehadapan Myungsoo, ia kemudian duduk bertumpu pada lututnya dan memiringkan sedikit kepala menatap pria yang ia panggil ahjussi itu dalam diam, cukup lama Jiyeon terpaku pada wajah tampan dihadapannya, tiba-tiba Jiyeon mengangkat sebelah tangannya, namun kemudian tertahan diudara “ Tch…..apa yang aku lakukan ? jika ahjussi tahu, aku pasti akan dimarahi “ Ucap Jiyeon menarik kembali tangannya.

Terlalu lama memandang Myungsoo membuat tiba-tiba ada sesuatu yang membuat hati Jiyeon berdenyut-denyut seperti tertusuk jarum hingga rasanya sulit untuk menelan saliva, ia tahu bagaimana rasanya sakit hati karena seseorang yang dicintai ternyata tak membalas perasaannya, setidaknya ia mengira Myungsoo merasakan hal yang sama.

“ Bolehkan kali ini aku tidak menyebutmu ahjussi “ Tanya Jiyeon meski ia tahu Myungsoo tidak mungkin menjawabnya “ Mengapa kau tidur disini ? apa kau benar-benar sedang bersedih ? “ Tanya Jiyeon dengan senyuman, namun nyatanya ia berusaha menahan kesedihannya untuk Myungsoo.

“ Op-pa “ Suara Jiyeon nampak bergetar takut “ Dua orang diatap yang sama apa hanya diisi dengan pertengkaran ? tidakkah oppa ingin menganggapku sebagai seorang teman atau bahkan seorang dongsaeng eum? “ Jiyeon kembali bertanya seraya membayangkan Myungsoo membalas tatapannya lembut “ Huh pasti oppa tidak pernah tahu gunanya seseorang yang kau anggap sebagai teman “ Jiyeon menunduk lemah, namun tidak berapa lama ia kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut “ Ketika kita mengalami penderitaan dan mencoba menceritakan pada seorang teman, maka beban penderitaan itu akan berkurang separuh, dan jika kita mengalami kebahagian dan membagikannya kepada seorang teman, maka kebahagian kita akan bertambah dua kali lipat, carilah seseorang yang bisa oppa anggap sebagai teman, oppa membutuhkannya “

Tidak ada lagi kalimat yang Jiyeon ucapkan, ia kemudian duduk dan meletakkan tangan diatas lutut untuk menopang dagu lancip miliknya. Hanya seperti itu, menikmati wajah Myungsoo dari jarak sedekat ini, hal yang tidak mungkin bisa ia lakukan jika pria itu sedang dalam keadaan sadar diri.

Serrrrrr

Tenggggg

Bersamaan suara angin berhembus cukup kencang dan lonceng jam yang berbunyi, Jiyeon tersadar. Ia kemudian berdiri, melepaskan satu tangannya dari sweater yang ia pakai, dan melepaskan satunya lagi, ia membuang nafasnya perlahan sebelum akhirnya menyelimuti Myungsoo dengan sweaternya “ Aku tidak berani membangunkan oppa, tapi diluar sana udara sangat dingin, jika besok kau marah karena menemukan sweater milikku ditubuhmu, gwencanayo….aku hanya tidak ingin kau sakit “

Dan Jiyeon pun melangkah kembali ke kamarnya dengan perasaan senang, ia bisa berbicara dengan lembut dan baik-baik dengan Myungsoo meski pria itu dalam keadaan tertidur dan tidak menyadarinya.

Nafas Myungsoo tertahan untuk beberapa saat ketika sebuah kelembutan menyentuh tubuhnya tadi, kini matanya terbuka lebar dengan jakun dileher yang bergerak naik turun, Myungsoo memegang dadanya yang terasa berdetak begitu cepat, dan menggeleng kuat apa yang ia rasakan “ Sial, siapa yang mengijinkan jantungku berdetak seperti ini ? “ Myungsoo bangkit dari tidurnya dan memandang lekat ke arah pintu kamar yang telah tertutup rapat diatas sana “ Allien pabbo ? apa yang kau lakukan padaku barusan ? “ Ucap Myungsoo nampak putus asa menggusak kasar rambutnya.

Kringggggggg

Kringggggggg

Kringggggggg

Pagi datang terlalu cepat, bahkan Jiyeon merasa matanya baru tertutup, tangannya meraba-raba nakas disamping tubuhnya mencari benda yang mengganggu tidurnya.

“ Hoammmm…..5 menit lagi, aku janji hanya 5 menit “ Dan Jiyeonpun kembali memejamkan matanya.

Dor….dor…dor…dor

“ Ommo!! “

Jiyeon terkejut dengan gedoran membabi buta dari arah luar, ia menoleh dan menatap kesal “ Siapa disana ? kau pikir ini camp tentara, membangunkan dengan cara seperti itu eoh ? “ Bentaknya tak sadar dan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“ Yya!!! allien….kau pikir ini rumahmu seenaknya saja bermalas-malasan eoh ? bangun dan cepat kerjakan kewajibanmu sebelum aku mendobrak pintu ini !!! “

“ Ahjussi ? eoh apa dia akan memarahiku ? eoh otthokae ??? “ Jiyeon sontak terduduk mendengar suara Myungsoo dari arah luar, ia dengan terburu merapikan rambut dan menjepit poninya, sebelum membukakan pintu ia menyempatkan diri untuk berkaca.

“ Nde opp…ahjussi!!! “ Sapa Jiyeon gugup membukakan pintu untuk Myungsoo, untuk beberapa saat Jiyeon tak berkedip dan mulutnya sedikit terbuka mengagumi penampilan keren Kim Myungsoo, hanya menggunakan training dan sepatu kets serta tatanan rambut barunya, ahjussi dihadapannya ini benar-benar seperti seorang malaikat tampan, tentu saja Jiyeon mengabaikan sifat Myungsoo.

Tidak berbeda dengan Jiyeon,

Myungsoopun hanya terdiam, namun bukan mengagumi penampilan Jiyeon, tentu saja allien dihadapannya tidak terlihat cantik dalam keadaan baru bangun tidur, namun lebih kepada kebingungan dirinya dengan apa yang sekarang ia lakukan, sebenarnya ia tidak berniat membangunkan Jiyeon, entah mengapa ketika melewati kamarnya Myungsoo ingin sekali berbuat jahil untuk menggedor pintu allien ini “ Kau….” Bingung Myungsoo untuk mengatakan apa “ Eum…buatkan aku omelet “ Dan ia pun berlalu begitu saja dari hadapan Jiyeon yang hanya melongo menatapnya.

“ Omelet ? maksudnya ? “ Jiyeon menggaruk pelipis kanannya tidak mengerti maksud Myungsoo, ia pun memutar tubuhnya untuk kembali masuk dan melanjutkan tidur, namun….

“ Harus selesai dalam waktu 10 menit, jika tidak gajimu kupotong 10% “

“ Mwo ? “ Jiyeon terkejut dengan ancaman yang Myungsoo teriakan padanya “ Isshhh dia pasti sudah gila, menyiapkan sarapan tidak ada dalam perjanjian “ Gerutu Jiyeon namun ia tetap bergerak terburu-buru untuk melakukan apa yang Myungsoo perintahkan.

Myungsoo tersenyum begitu lebar, ia menoleh sekilas ke arah kamar Jiyeon dan setelahnya menaruh handuk kecil dileher dan melenggang keluar untuk lari pagi yang tentu saja akan menghabiskan waktu lebih dari 10 menit.

Jongin menyeruput teh hangat dan menggigit sedikit roti ke dalam mulutnya, ia mengunyahnya perlahan “ Cuhhh…..” Tidak ditelan ia justru membuangnya “ Bosan….apa sarapan pagi selalu seperti ini ? “ Ucapnya seraya bangkit untuk melihat sesuatu yang lain didalam lemari pendinginnya.

Tidak ada yang membuat ia berselera, semua bahan makanan yang ada disana nampak sama setiap harinya dan membosankan, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Jongin melangkah cepat untuk meraih ponselnya diatas meja makan, dengan senyuman menyeringai ia pun mengetikkan sebuah kalimat disana.

Sent

Jongin meletakkan kembali ponsel diatas meja dan kemudian berkacak pinggang menatap ponselnya “ Hana, dul…” Ia mulai berhitung

Derrrttt….

Jongin kembali tersenyum sinis melihat tidak sampai hitungan ketiga ponselnya sudah bergetar menandakan ada balasan pesan untuknya, senyumnya hilang dengan cepat ketika bukan balasan dari seseorang yang baru saja ia kirimi pesan melainkan wanita lain, namun sebenarnya Jongin pun mengharapkan wanita itu menghubunginya.

“ Apa yang harus aku lakukan agar kau benar-benar memaafkanku ? “

Jongin menggigit bibir bagian bawah seraya matanya menatap ke atas, ia berpikir untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan si pengirim kepadanya.

“ Dengan mengundangmu kemarin, aku sudah memaafkanmu “.

Dan kali inipun Jongin masih saja merasa sulit untuk menjadi seperti dulu terhadap wanita itu.

Derrrttt

Bukan sebuah pesan yang masuk kali ini tetapi seseorang menghubunginya, Jongin menatap tak percaya, namun dengan cepat tangannya menekan tombol terima “ Yeo……”

“ Yya!!!! apa aku ini sebuah restaurant seenaknya saja semua orang memintaku untuk membuatkan sarapan pagi ? “

Jongin menjauhkan ponsel dari telinganya, ia belum sempat mengucapkan salam namun lagi-lagi yeoja kecil ini meneriakinya.

“ Berapa umurmu ? kau tahu aku jauh lebih tua darimu, jadi bersikaplah yang sopan padaku “ Kalimat Jongin terdengar begitu tegas.

Terdengar helaan nafas diseberang sana,

“ Tuan K-I-M J-O-N-G-I-N yang terhormat… jika anda ingin dihargai oleh oranglain maka bersikaplah lebih dulu menghargai oranglain, meski ia jauh lebih muda dari umur anda. Lagipula, anda sudah tahukan jika statusku ini istri seseorang yang anda kenal, apa pantas memintaku membuat sarapan untuk anda eoh ? “

Jongin mengelus dagunya dan tersenyum penuh arti “ Karena aku tahu kau istri seseorang yang ku kenal, maka aku memintamu membuatkan sarapan untukku “

“ Mwo ? Michiesseo “

klik

“ Tch “ Jongin hanya memandang dengan senyum sinis ponsel yang sudah ditutup oleh seseorang yang menghubunginya.

Tangannya sibuk untuk mencuci piring, namun matanya selalu mengarah pada pria yang sedang lahap menikmati omelet sayur yang ia buat dimeja makan, Jiyeon merasa heran dengan sikap Myungsoo pagi ini.

“ Omeletnya ku beri nilai 5 dari 10, sayurnya terlalu matang dan kurasa garam yang kau beri berlebihan, lain kali kau harus memperbaikinya “ Ucap Myungsoo santai seraya menyeka bibirnya dengan tisu.

Jiyeon hanya diam memandang aneh Myungsoo tanpa membalas ucapannya.

“ Yya allien !! kau dengar tidak ? “ Teriak Myungsoo yang merasa diacuhkan.

Jiyeon menutup kran air dan kemudian mengeringkan tangan dengan baju yang ia pakai, Myungsoo menggeleng jijik apa yang Jiyeon lakukan.

“ Ada lap disana mengapa kau menggunakan bajumu ? jorok sekali “ Cibir Myungsoo.

Jiyeon menarik kursi dihadapan Myungsoo dan mengamati wajah pria itu lekat, Myungsoo yang merasa risih berusaha untuk mencari kesibukan lain, namun tidak ada apapun disekitarnya yang bisa ia jadikan kesibukan.

“ Yya!!! “ Akhirnya Myungsoo menoyor kepala Jiyeon membuat yeoja itu mengerucutkan bibirnya “ Kau aneh sekali, sejak tadi ku ajak berbicara tapi tidak sepatah katapun kau menjawabnya, kau kenapa ? “ Tanya Myungsoo.

“ Ahjussi, apa kau sakit ? “ Jiyeon dengan seenaknya meletakan telapak tangan didahi Myungsoo.

Myungsoo terdiam, menikmati telapak tangan Jiyeon yang hangat menempel didahinya, namun seolah tersadar “ Yya!!! siapa yang mengijinkanmu menyentuhku ? “ Ucapnya marah dan menghempaskan tangan Jiyeon dari dahinya.

“ Tidak panas “ Ucap Jiyeon nyaris tidak terdengar.

“ Gajimu ku potong “ Ucap Myungsoo tiba-tiba yang tentu saja membuat Jiyeon terbelalak.

“ Ahjussi, aku menyelesaikan ini dalam wak…” Jiyeon mencoba mengingat

“ Lebih dari 10 menit, benarkan ? kau tidak bisa berbohong “ Sergah Myungsoo

“ Tapi ahjussi kan juga tidak terlambat menikmatinya, hanya 12 menit, itu dikarenakan ahjussi sengaja mencabut gas dikompor sana “ Elak Jiyeon kini menyalahkan Myungsoo.

“ Terlambat ya terlambat, tidak ada alasan, baiklah tidak 10%, eummm…berapa ya ? “ Myungsoo nampak berpikir, ia melirik wajah protes Jiyeon “ 8%, aku baik kan ? “

“ Ahjussi kau tidak adil, setidaknya kau harus memberikan waktuku selama 15 menit tadi, jika begini gajiku akan habis dimakan oleh lintah darat “ Ketus Jiyeon asal, membuat kini Myungsoo mendekatkan wajahnya.

“ Mwo ? Lintah darat ? “ Tanya Myungsoo menatap Jiyeon tajam.

Jiyeon mengangguk cepat “ Nde, seseorang yang selalu memanfaatkan orang lemah sepertiku dan menguras habis hartanya itu disebut lintah darat, ahjussi cocok mendapat julukan itu “

“ Kau sebut lagi julukan itu maka gajimu ku potong 20% “ Ancam Myungsoo seraya memegang bahu Jiyeon kuat.

Jiyeon menatap bahunya yang Myungsoo pegang dan bergidik ngeri “ Ahjussiii….lepaskan tanganmu kau menyakitiku “

Myungsoo melepaskan pegangannya dengan cepat, dan emosinya kembali naik saat Jiyeon mengusap bahu dengan tangannya, seolah ingin menghilangkan jejak Myungsoo ditubuhnya “ Akhir-akhir ini dia sering sekali menyentuhku, harusnya ini ada dalam perjanjian “ Gerutu Jiyeon pelan, namun Myungsoo masih bisa mendengarnya.

“ Yya!! aku bukan sengaja menyentuhmu, itu dikarenakan kau selalu membuatku kesal, justru kau yang dengan sengaja menyentuhku, buktinya semalam… ” Myungsoo buru-buru merapatkan mulutnya.

Wajah Jiyeon menegang mendengar kalimat Myungsoo, keduanya pun terdiam dan menjadi kikuk, beruntung tidak lama bunyi ponsel Jiyeon menyelamatkan keadaan, Jiyeon segera berdiri dan melangkah mengambil ponsel yang tertinggal di kitchen set.

“ Pria gila ini lagi ? “ Keluh Jiyeon membaca pesan masuk diponselnya “ bagaimana aku meminta ijin keluar pada ahjussi ? dia pasti tidak memperbolehkanku “ Pikir Jiyeon dalam hati.

“ Dari siapa ? “ Jiyeon terlonjak kaget Myungsoo sudah berada tepat dibelakangnya, ia pun dengan cepat menutup pesan diponsel dan menghadap ke arah Myungsoo yang menatapnya heran.

“ Kau sudah memiliki teman disini ? “ Tanya Myungsoo yang nampak penasaran.

“ Assa!! Teman “ Pekik Jiyeon dalam hati, seolah mendapatkan ide untuk membuat alasan “ Ahjussi, kurasa sudah saatnya aku lebih giat mencari keberadaan kekasihku, waktuku kan tidak sampai 2 minggu lagi disini, jadi… hari ini ijinkan aku untuk keluar mencarinya ya? “ Ucap Jiyeon dengan wajah ia buat begitu memohon.

Myungsoo tidak lekas menjawab, tanpa ia sadari raut wajahnya berubah tak berekspresi dan merasa lemas untuk menggerakkan tubuhnya “ Baiklah “ Ucap Myungsoo akhirnya.

Jiyeon menghela nafas lega, dan tanpa menyadari perubahan sikap Myungsoo ia pun melesat menuju kamarnya.

“ Tch….begitu bersemangat sekali, aigoo…bukankah aku juga harus membantunya ? tapi….aku malas pergi berdua dengannya “ Myungsoo berbicara sendiri dan tidak berapa lama menyusul Jiyeon menuju kamar.

Taemin memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, selain ingin melarikan diri dari kejaran Jongin, ia juga tidak merasa cocok bekerja jika hingga shift dini hari, badannya sering terasa sakit dan mengantuk disiang hari. Hampir semua tempat Taemin datangi, meski tidak sedang membuka lowongan ia tidak ragu untuk melamar.

“ Tuan kami sedang tidak membuka lowongan “

“ Aku bisa mengerjakan apapun, dan tidak masalah jika gaji yang anda beri tidak banyak “

“ Tidak tuan “

Berkali-kali ditolak pun Taemin tidak pernah menyerah, dengan langkah lemah Taemin menaiki bus untuk mengantarnya ke tempat lain, hanya ada satu kursi tersisa, itupun diisi oleh seseorang yang membawa rangakain bunga besar hingga menutupi wajahnya.

“ Permisi, apa saya boleh duduk disini ? “ Pamit Taemin.
Wanita itupun menggeser duduknya, Taemin duduk dan langsung sibuk mencari-cari ponselnya yang berbunyi.

“ Eoh Jiyeon-ah “ Sapa Taemin dengan suara cempreng membuat orang-orang menatap terganggu ke arah Taemin “ Ah, jwesonghamnida “ Ucap Taemin menyadari sikapnya “ Eoh, Jiyeon-ah “ Kali ini Taemin berbisik.

“ Taeminie, pria itu memaksaku untuk datang menemuinya dirumah, bagaimana ini? “

“ Apa ? tt-tapi…apa kau akan menurutinya ? “

“ Tentu saja, dia mengancamku ”

“ Mengancam ? “

“ Dia mengancam akan melukaimu “

“ MWOOO ?? “ Suara cempreng Taemin meninggi, dan kembali semua orang menatap sinis Taemin “ Ah jwesonghamnida “ Wajah Taemin nampak pucat, bukan karena tatapan sinis sekelilingnya, melainkan ucapan terakhir Jiyeon “ Ba-bagaima jadi aku yang dia ancam? eoh otthokae ? hidupku dalam bahaya sekarang “ Gelisah Taemin, seseorang yang disebelah yang awalnya acuh, jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya “ tetangganya “ bicarakan.

“ Tenang, kau harus tenang, kita harus buat rencana “

“ Aigoo….oleh sebab itu sekarang ini aku sedang mencari pekerjaan lain, aku tidak mau hidupku selalu dikejar-kejar pria itu, kau sekarang dimana ? sebenarnya hidupmu itu bagaimana ? kau harus menceritakannya padaku “

“ Hidupku ? aisshh itu tidak penting, sekarang yang terpenting memang kau harus mencari pekerjaan baru, dan setelahnya kita mengganti nomor ponsel kita, kita harus menghilangkan jejak “

“ Tapi tidak mudah untuk mencari pekerjaan, kau sendiri sebenarnya bekerja dimana ? bisa tidak jika kau membantuku ? “

“ Eum, tempatku hanya membutuhkan seorang wanita, tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu kelaparan “

Tut…tut…tut…tut

Ponsel terputus begitu saja “ Sial, baterainya habis “ Gerutu Taemin dan tak sengaja menoleh ke arah seseorang disebelahnya. Wajah Taemin sukses melongo, seumur hidupnya baru kali ini ia melihat wanita berkepang dua yang sangat imut, melebihi tipe wanita idealnya, seolah lupa akan ketakutannya, Taemin justru sibuk memikirkan bagaimana agar bisa berkenalan dengan wanita imut disampingnya.

“ Eoh agassi…eum…bisakah aku meminjam ponselmu ? hanya untuk mengirim satu pesan ? “ Ucap Taemin mengacungkan 1 telunjuknya memohon.

Wanita yang diminta pertolonganpun mengangguk ramah “ Silahkan “ Seraya menyodorkan ponsel miliknya.

Taemin mengambil dengan gerakan slow motion ponsel yang disodorkan kepadanya, matanya tidak sedikitpun berkedip, jarinya mengetik cepat tanpa mengalihkan tatapan dari sosok disampingnya, wanita itu merasa risih dan memalingkan wajah ke arah luar.

“ Ini, gomawo ? “ Ucap Taemin mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.

Luna terpaksa turun ditempat yang tidak semestinya, pria aneh yang menatap seperti ingin memakannya membuat akhirnya ia merelakan dirinya terlambat mengirim bunga kepada si pemesan.

“ Aigo, jika mobilku tidak masuk bengkel tidak akan sesusah ini untuk mengantar bunga “ Luna kemudian mengecek ponselnya “ Pesan apa ini ? “ Heran Luna ketika hanya menemukan serangkaian huruf yang tidak membentuk kalimat di kotak keluar miliknya “ Benar-benar pria sinting “ Lenguhnya, dan menghapus pesan tersebut tanpa beban.

“ Aku juga tidak menyangka ia akan mudah memaafkanku, setelah bertahun-tahun kesalahpahaman itu ia percayai. Ketika ia mengundangku kemarin, tentu saja aku tidak mungkin menolaknya, atau…..mengajakmu serta “ Myungsoo tidak menginterupsi kalimat Krystal, ia terlihat santai bersandar pada bahu kursi seraya mengetuk-ngetuk cangkir kopi dengan telunjuknya, meski apa yang ia perlihatkan tidak sama dengan yang ia rasakan.

“ Maafkan aku tidak memberitahumu, kupikir aku juga memerlukan waktu untuk menceritakannya padamu, tapi ternyata kita malah bertemu disana sebelum aku menjelaskannya, apa itu kau anggap aku berbohong ? “ Tanya Krystal.

Myungsoo menghentikan ketukan jarinya dan menatap serius ke arah Krystal, ia tahu wanita dihadapannya ini tidak bersalah, namun rasanya sulit sekali menerima penjelasannya saat ini “ Chukkae “ Myungsoo mengulurkan tangannya, namun Krystal hanya diam tidak mengerti, Myungsoo tersenyum paksa “ Aku datang dengan seseorang yang memiliki status sebagai anaeku, dengan begitu kalian pasti bisa kembali seperti dulu jika kalian menginginkannya, benarkan ? “ Terdengar getir kalimat yang Myungsoo ucapkan.

Krystal tidak tahu harus mengatakan apa, bertemu dengan Jongin dan Myungsoo tidak serta merta membuatnya mudah untuk menentukan siapa pria yang ingin ia anggap sebagai sahabat dan sebagai kekasih, namun tentu saja tidak mungkin ia menyampaikan isi hatinya yang terdengar egois dihadapan keduanya “ Mianhae “ Hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulut Krystal.

Tatapan Myungsoo melemah, satu kata sudah menjelaskan segalanya, mungkinkah sekarang ini ia patah hati ?

“ Myungsoo-ah, tidak tahu apa yang terjadi dimasa datang aku harap kita masih bisa bersama “ Ucap Krystal.

Myungsoo tidak merasa mendengar apapun, semangatnya tiba-tiba saja menguap bahkan tidak bersisa, ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan beberapa lembar won di meja dan Krystal sendirian.

Krietttt

Myungsoo membuka pintu cafe dan membuang nafasnya kasar, sesuatu yang menyesakkan menghimpit dadanya.

“ Hari minggu yang buruk “ Ucap Myungsoo seraya memasukkan tangan ke saku jeansnya dan berlalu dari sana. Angin yang menerpa, Myungsoo harap dapat menerbangkan perasaan hampanya.

“ Apa jam segini masih bisa disebut sebagai sarapan ? “

Jiyeon menatap sebal pria dengan tampang sok galak yang menolak makanan yang sudah ia siapkan , ia tetap mengunci rapat mulutnya, tidak mau kekesalan yang akan keluar dari bibirnya menjadi boomerang dan memperparah hukuman yang diberikan si pria yang bernama Kim Jongin.

“ Hari ini kau gagal, aku tidak mungkin sarapan dijam segini dengan menu yang kau bawa “ Ucap Jongin melipat kedua tangan menyilang didadanya dan menyandarkan bokongnya dimeja makan.

Meski cara bicara Jongin begitu pelan dan berbeda dengan Myungsoo yang selalu berteriak, tetap saja Jiyeon menganggap keduanya memiliki sifat yang sama, sama-sama menyusahkannya “ Sebenarnya apa yang anda inginkan ? “ Tanya Jiyeon merasa kesabarannya habis.

“ Kau membayar hutangmu “ Ucap Jongin tegas dan menegakkan tubuhnya.

“ Berapa nominal yang harus aku berikan ? “ Tantang Jiyeon.

Jongin memperlihatkan smirk-nya dan kini mendekat ke arah Jiyeon “ Apa aku terlihat seperti orang yang kekurangan uang ? aku pria sibuk yang tidak punya waktu untuk mencuci bajuku, terkadang aku juga merasa bosan dengan makanan siap saji “

“ Itu tidak ada hubungannya denganku, tapi aku bisa memberikan saran pada anda, anda butuh seorang asisten rumah tangga “ Ucap Jiyeon dengan berapi-api.

Jongin melotot tajam, sikap tidak sopan seperti sekarang yang ia lihat dari yeoja ini yang membuatnya berang dan tidak ingin melepaskan yeoja ini begitu saja “ Jika aku bisa memanfaatkanmu, mengapa harus orang lain ? “ Ucap Jongin dengan nada bicara khas pelan namun tajam.

“ Ta-tapi… “

“ Aku tahu kau seorang ibu rumah tangga, disini aku juga melatihmu bukan ? untuk pintar-pintar memanage waktu, kalian belum memiliki keturunan kan ? anggap saja, aku anakmu yang masih balita yang juga harus kau urus “ Ucap Jongin enteng.

“ Kalian sebenarnya bagaimana ? eum maksudku, hubungan kalian ? “ Jiyeon tiba-tiba mengubah tema pembicaraan, berharap dari pria ini ia tahu bagaimana masa lalu Myungsoo.

Jongin memiringkan kepala dan menatap aneh Jiyeon “ Aku tidak suka bercerita “ Dan Jonginpun berlalu dari hadapan Jiyeon.

Tidak berapa lama, ia muncul dari arah kamarnya membawa sebuah keranjang berisi penuh pakaian, dengan santai ia memberikannya pada Jiyeon “ Ini, untuk membayar semua hutangmu dan agar aku memaafkan kesalahanmu, cuci bajuku 2 hari sekali, lupakan mengenai sarapan aku tahu kau harus melayani suamimu, tapi makan siang “ Jongin menghentikan sejenak kalimatnya, memberi tanda kepada Jiyeon untuk menutup mulutnya yang menganga lebar “ Kau harus menyiapkannya dan mengantarkan sendiri ke kantorku, kau tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini dari siapapun, termasuk suamimu, waktunya hanya 2 minggu “ Jongin meraih surat kabar dan berlalu menuju perpustakaan rumahnya, meninggalkan Jiyeon yang masih saja mematung dengan keranjang besar bertumpuk pakaian kotor ditangannya

“ MICHIESSEO ??? ARRRGGHHKKK, APA KAU TAHU DENGANNYA SAJA AKU SUDAH BANYAK MENYIMPAN RAHASIA, MENGAPA HARUS DITAMBAH DENGANMU ???? “

“ Wooaaa…sepertinya ini cocok untukku, pria atau wanita, single, pekerja keras, dan jujur “ Taemin menyebutkan klasifikasi pada lowongan kerja disebuah toko bunga. Dengan cepat ia kemudian masuk ke dalamnya “ Annyeonghaseyo, Taemin imnida, bangapseumnida “

Tepat ketika seorang wanita yang sedang menata bunga menoleh ke arahnya, jantung Taemin serasa ditusuk dengan anak panah, ia terdiam dengan keadaan jantung yang berdetak kencang, semakin gugup saat langkah kaki wanita berkepang dua yang pagi tadi ia temui itu mendekat.

“ Kau ? “

“ Oh nde, ini aku….kamsahamnida kau masih mengingatku “ Ucap Taemin gugup.

“ Kau siapa ? “ Wanita yang ternyata bernama Luna nampak bingung.

“ Nde ? “ Taemin merasa malu, ia pikir wanita imut yang sudah ia tetapkan sebagai tipe idealnya pagi tadi masih mengingatnya.

Brughh

Myungsoo mengunci mobilnya dan menatap heran keadaan rumahnya yang nampak sunyi dan gelap “ Sudah jam berapa ? mengapa ia belum juga pulang ? “ Myungsoo tidak langsung masuk, ia mengamati jalan dirumahnya hingga titik terjauh, namun tidak ada tanda-tanda jika seseorang yang ditunggunya muncul.

Lelah berdiri Myungsoo menaruh bokongnya pada sebuah ayunan ditaman halaman rumahnya, mengusir bosan ia pun memainkan Get Rich di ponselnya, sekumpulan nyamuk datang dan hinggap dikakinya dan mengisap darahnya, namun Myungsoo hanya mengusapnya lembut tanpa berniat untuk segera beranjak dari tempatnya, sesekali kepalanya menoleh ke arah jalan.

5 menit

10 menit

30 menit

“ Isshhh, ini sudah lewat dari jam yang disepakati, jeongmal !! “ Myungsoo mulai tidak sabar dan bangkit dari duduknya, berkali-kali ia menatap ponsel, namun terlihat ragu untuk menghubungi Jiyeon.

Sementara,

Jiyeon nampak gusar duduk disamping Jongin yang memaksanya untuk mengantar pulang, jika saja ia punya kekuatan menolak tentu ia akan menolaknya. Ini sama saja ia melakukan bunuh diri, bukan tidak mungkin ada orang lain yang akan tahu rahasia rumah tangganya “ Tuan, kau sudah janji kan tidak akan membocorkan rahasia kita pada siapapun ? termasuk ahj….termasuk suamiku eoh “

Jongin hanya menganggukkan kepalanya sekali dan tetap fokus dengan kemudinya, Jiyeon terlihat ragu dengan jawaban ala kadar Jongin.

“ Waeyo ? aku juga tidak bodoh muncul dihadapannya dengan membawa istrinya “ Ucap Jongin meyakinkan Jiyeon, namun justru kalimatnya membuat Jiyeon semakin menatapnya takut, Jongin mencoba menganalisa kembali apa ada kalimatnya yang salah “ Bukan juga aku mengajakmu berselingkuh “ Ucapnya kemudian menyadari.

Jiyeon pun bernafas lega, matanya kembali terbelalak karena jarak mobil Jongin semakin dekat dengan rumahnya “ Tuan, cukup….disini saja, rumahku diujung sana, kau tidak perlu mengantarku sampai disana “ Paniknya memegang tangan Jongin memohon.

Jonginpun menghentikan mobilnya “ Hufftt “ Jiyeon menghela nafas panjang “ Ini baru hari pertama, tapi kau sudah membuatku jantungan, jika masih ingin aku membayar hutangmu, aku mohon jangan mengulanginya lagi “ Jiyeon pun keluar dari mobil Jongin dan berlari cepat menuju rumahnya.

Jongin masih memperhatikan Jiyeon yang berlari dan tersenyum sinis “ Mungkin lebih menarik jika Myungsoo melihatku “ Ucap Jongin dan segera memundurkan mobil untuk berputar arah.

“ Hufttt syukurlah ahjussi belum pulang ? “ Lega Jiyeon membungkukkan tubuh ketika tiba dipagar halaman rumahnya untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Ia pun membuka pagar dan berjalan menuju pintu rumah, keadaan gelap rumahnya memunculkan perasaan tidak enak, namun Jiyeon mencoba acuh. Dengan cepat ia merogoh tas dan memasukkan kunci ke dalam lubang, namun tiba-tiba bulu kuduknya bergidik ketika mendengar sesuatu yang aneh dibelakangnya.

Sssttt…

Sssttt…

Jiyeon mempercepat gerakannya, kunci belum berhasil masuk kedalam lubang karena tangan Jiyeon yang bergetar hebat “ Tuhan, tolong aku….tolong bukakan kuncinya “ Ucapnya tak terasa keringat kembali membasahi tubuhnya, rasanya ia ingin memilih pingsan daripada disiksa dengan perasaan takut, dan tiba-tiba…

“ Duaarrrrrrrrrrrrrr !!!! “

“ Huuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa “

Lengkingan panjang Jiyeon terdengar kencang, seorang pria yang tidak lain adalah Myungsoo muncul dari persembunyian dan mengagetkan Jiyeon. Myungsoo memegang kuat perutnya yang serasa dikocok, ia tertawa puas melihat Jiyeon yang berhasil ia kageti dan kini berjongkok ketakutan menyembunyikan wajahnya.

“ Huahahahaahahahhahhaaha “

Tawa Myungsoo membahana, sungguh ia merasa menjadi jauh lebih muda bahkan kekanak-kanakkan dengan kelakuannya, seolah lupa jika hari ini seharusnya ia bersedih karena baru saja patah hati.

“ Hiks….hiks…hiks, ahjussi pabbooooo!!! “

Jiyeon bangkit dan menyerang Myungsoo dengan wajah ganasnya, Myungsoo yang masih sibuk dengan tawanya tidak sadar dan menyiapkan diri untuk menangkis serangan Jiyeon, alhasil kini dirinya hanya pasrah ketika Jiyeon menganiayanya.

“ Yya!!! yya !!! hentikan “ Myungsoo mencoba menghindar kini, amukan Jiyeon yang memukul bahunya membabi buta membuat dirinya kesakitan.

Jiyeon mengeluarkan semua kemarahannya, ia menyerang Myungsoo hingga akhirnya pria itu tersudut dan harus mundur ke belakang “ Ahjussi jahat…..kau jahat…kau memang sangat jahat padaku “ Serang Jiyeon tanpa ampun.

“ Kau saja yang penakut “ Myungsoo masih mencoba menggoda, kakinya terus melangkah mundur seiring Jiyeon yang tidak bisa ia kendalikan amarahnya, sebuah batu taman tak sengaja terinjak oleh kaki Myungsoo, Myungsoo mencoba untuk menghindar tapi sayang ia sudah hilang keseimbangan.

“ Ommo…..ahjussi !!!! “

Jiyeon mencoba menyelamatkan Myungsoo, namun justru tubuhnya tertarik karena Myungsoo menggenggam erat tangannya, dan tidak bisa terelakkan keduanya jatuh bersamaan dengan tubuh Jiyeon berada tepat diatas tubuh Myungsoo.

CHU….

Degh

Degh

Degh

Candaan konyol yang berujung pada masalah besar, mata mereka terbelalak, darah yang mengalir dua kali lebih cepat memompa jantung, hingga suaranya terdengar begitu jelas tertangkap telinga masing-masing. Tubuh keduanya tertindih dan tak menyisakan jarak, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki saling menyatu, dan anehnya meski mereka sadar dengan apa yang terjadi, tapi tidak satupun dari mereka menarik bibir yang saling bertautan. Bahkan dengan gilanya, Jiyeon benar-benar menikmati momen yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi seumur hidupnya, ciuman pertama selama hampir 20 tahun usianya didunia, ia serahkan pada seorang pria yang 10 tahun jauh lebih tua dari usianya, meski Jiyeon yakin pria itu akan mengutuk dan bersumpah serapah padanya setelah ini, ia tidak peduli. Perlahan, Jiyeon memejamkan matanya.

“ Ini manis sekali, aku tidak akan menyesal jikapun ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku, ahjussi maafkan aku, sekali saja….hanya sekali “

TBC

Next Part ~ entah part 9 atau 10 atau untuk ke-2nya*author galau

“ Apa memperpanjang kontrak ? “

“ Kau tidak mau ? “

“ Aku akan memikirkannya terlebih dahulu “

“ Siapa yang memesan bunga ini eoh ? aku bilangkan bunga untuk seorang wanita, mengapa kau mengirimkan bunga kematian ? “

“ Maaf tuan, saya akan menggantinya “

“ Bodoh, bagaimana bisa orang sepertimu dipekerjakan ? siapa namamu ? “

“ Lee Taemin tuan “

“ Jadi ini alasan kau tidak mau memperpajang kontrak kita eoh ? “

“ Ahjussi, dengar dulu penjelasannya “

“ Baiklah aku tidak akan memaksa, kau bisa pergi kapanpun kau suka, bahkan jika kau pindah kerumahnya pun aku tidak peduli “

“ Waeyo ? kau tidak terima jika istrimu bersamaku ? “

“ Apa kau gila ? pria mana yang membiarkan istrinya bersama dengan pria lain ? “

“ Bahkan jika dia hanya bekerja untuk membayar hutang “

“ Luna-ah, bagaimana bisa aku kalah dengan anak ingusan itu ? aku harus memberi pelajaran “

“ Park Jiyeon ? aku seperti pernah mendengarnya ? apa dia sahabatmu ? dia sudah menikah ? “

“ Tentu saja belum, usianya belum genap 20 tahun “

184 responses to “[ CHAPTER – PART 8 ] COUPLE OR TROUBLE ?

  1. Hahhahahaha aigo lucu bgt pas myung ngejailin jiyi aku smpe bayangin beneran muka jiyi maa myung.
    Jongin bakal jd pho kayaknya semoga luna ga kepo ama sahabatnya taemin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s