[CHAPTER – PART 3] Skinny Love

skinny-love-by-little-thief

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Lee Jieun, Choi Minho

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Jiyeon berjalan menuju ke arah dapur setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Sooyoung dan Ayahnya sedang bersama-sama duduk di meja makan, menyantap roti kering yang tersisa. Dan, itu dia, memang hanya cukup hingga hari ini. Jiyeon tak tahu harus bagaimana, tapi dia akan berusaha sebisa mungkin agar mereka punya pasokan makanan yang cukup.

Sooyoung terkekeh-kekeh kecil bersama sang Ayah. Ayah Jiyeon, Tuan Park, adalah seorang pemuda gagah dulunya. Tubuhnya tak sekurus itu dahulu pada masa mudanya. Dulunya ia seorang lelaki kekar, gagah dan tampan. Tapi itu gambaran puluhan tahu lalu. Kini dia sudah menjadi pria berkepala lima yang kurus kering, terlihat tak terawat, dan sakit-sakitan semenjak istrinya pergi dan meninggalkannya bersama kedua putrinya.

“Halo, selamat pagi,” sapa Jiyeon, menghampiri mereka berdua. “Hari yang bagus?”

Sooyoung mengangguk, “Unnie, kau akan bekerja pagi ini?”

“Ya, memangnya mau apa lagi?” Jiyeon memakan sarapannya, “Aku lakukan itu demi kita. Dan kalian berdua.”

“Jangan terlalu sering, kau harus pikirkan kuliahmu,” tegur Ayahnya, parau, “Bekerja baik, sekolah pun harus.”

Jiyeon menatap kedua anggota keluarganya ragu-ragu, terlihat tidak rela, tapi kemudian menghela napas. “Aku sudah pikirkan tentang hal itu.”

“Pikirkan apa?”

“Pekerjaan baruku ini. Aku terlalu pusing. Aku sudah pikirkan baik-baik. Aku akan bekerja tiap hari, mengesampingkan sekolahku, dan kalian akan dapat tunjangan.”

Sooyoung diam, matanya membelalak, “Mengesampingkan kuliah? Apa maksudnya?”

“Aku keluar, Park Sooyoung.”

Mendengar, tubuh Sooyoung tampak terguncang, begitupun Ayahnya. Jiyeon sudah memikirkan apapun resikonya semalam. Dia tak bisa membagi waktu antara dua hal itu. Menurutnya selama ini kuliah hanya membuat beban hidupnya bertambah, jadi yang dia perlu lakukan adalah bekerja di suatu tempat. Dia sudah mencapai kuliah tingkat akhir, tapi Jiyeon melihat banyak temannya yang keluar di tingkat tersebut, jadi dia meyakinkan diri yang dia lakukan adalah benar.

“Mana bisa?” pekik Sooyoung, “Kalau kau tidak melanjutkan kuliahmu, aku juga akan memutuskan sekolahku!”

Suara adiknya terdengar penuh kemauan, tapi Jiyeon langsung melotot tajam ke arahnya. Tangannya memukul meja dengan sangat keras, membuat Sooyoung terlonjak kaget. Wajahnya terlihat hampir menangis.

“Jangan ikuti jejakku, Bodoh! Kalau aku mengundurkan diri demi kau, harusnya kau berjuang lebih keras. Malah jangan bertambah bodoh. Pakai otakmu. Aku tak akan mengundurkan diri dari kuliahku kalau aku tak memikirkan sekolahmu juga, Soo.”

“Tapi aku sama sekali tak berpikir kau senekat itu,” Sooyoung mulai berlinang, “Kau beruntung. Jarang yang dapat beasiswa dari kecil sampai besar seperti dirimu. Kenapa harus mengundurkan diri? Seharusnya kau bilang saja padaku. Aku akan membantu.”

“Jangan cengeng,” desis Jiyeon, terkejut baru kali ini ia begitu kasar pada adiknya, “Aku keluar dari kuliahku bukan membuatmu cengeng begitu. Aku melakukannya karena aku tulang punggung. Jangan macam-macam, kau tak punya urusan denganku. Kerjakan tugasmu dan kalau aku berhasil, kita bisa menikmatinya bersama. Apa susahnya?”

Jiyeon melanjutkan makannya dengan berat, kemudian menatap Ayahnya. Namun Ayahnya hanya menatap kosong ke arahnya, tak punya ekspresi, apalagi pendapat untuk disampaikan. Seolah kejadian ini membuat pelik saja.

“Ayah minta maaf,” gumam Ayahnya akhirnya, “Aku yang harusnya bekerja untuk kalian. Bukan Jiyeon atau siapapun. Tapi kau lihat, tubuhku…”

“Tidak perlu,” Jiyeon berdiri, memotong perkataan Ayahnya dengan cepat. Dia jadi teringat peringatan Myungsoo kemarin padanya, bahwa dia harus lebih sopan saat orang bicara. “Yang perlu Ayah lakukan hanya istirahat dan sembuh. Semua tunjangan biar aku yang menanggungnya. Yang kalian lakukan cukup membuatku tidak bertambah sulit. Itu saja.”

Jiyeon kemudian meninggalkan ruang makan. Membuat Ayah dan adiknya terdiam, dan saling tatap. Mereka tak bisa melawan Jiyeon kali ini. Tapi gadis itu menyergah tak peduli. Ia memasuki kamarnya, mengambil jaket kulitnya yang sudah tua, dan mengambil tas ranselnya yang isinya masih sama. Terakhir ia memasukkan dua lembar kertas berisi biodata lengkapnya ke ransel, dan berjalan pergi meninggalkan rumah.

Jiyeon kembali menyusuri jalan tempat kafe tersebut berada. Seperti biasa, nuansa pagi selalu menyapanya hangat. Matahari belum begitu terlihat hari ini. Jadi ketika ia menyebrangi jalan dan sudah sampai di depan pintu, Moong Café belum buka sama sekali.

Ruangannya masih gelap dan kosong melompong. Jiyeon menggerutu kenapa dia bangun terlalu pagi. Apakah sesemangat itu? Maka, menikmati jalanan yang sepi, dia mondar-mandir tak jelas di depan pintu, menunggu seseorang, siapa saja, datang dan membuka kafenya. Dia menggigit-gigiti kukunya, jantungnya berdebar. Dia belum membuat persiapan apa-apa semalam, hanya selembar biodata itu saja, dan takut-takut bila ada informasi dirinya yang terlewat.

Ketika dia sedang berjalan mondar-mandir, seseorang menepuk keras pundaknya. Jiyeon kaget luar biasa dan langsung melompat terlonjak, nyaris berteriak. Namun saat itu terdengar suara berat pria yang terkekeh melihat aksi konyolnya. Jiyeon menoleh dan tanpa sadar mengerucutkan bibir begitu melihat siapa yang mengagetkannya.

Myungsoo. Hari ini penampilannya cukup berbeda. Ia memakai kaus putih bergaris dibalut sebuah jaket hitam, dan celana jins seperti biasanya. Namun yang membuatnya berbeda adalah rambutnya tidak disemir seperti biasa. Jadi tidak ada sinar matahari memantul dari kepalanya. Baguslah, pikir Jiyeon. Dia muak melihat rambut bercahaya aneh itu.

“Selamat pagi,” Myungsoo terkekeh lagi, menahan tawa. “Cukup bersemangat sampai terlonjak begitu ya?”

Jiyeon mendengus. “Nah, apalagi kalau begitu? Biarkan aku masuk.”

“Siapa yang mengizinkanmu?” tanya Myungsoo. “Aku yang masuk pertama, dan anak bawang sepertimu sebaiknya jangan melawanku.”

“Ya, sudah, silahkan masuk, Tuan.” Gerutu Jiyeon, membukakan pintu dengan terpaksa. Namun pintunya terkunci, jadi dia menarik-nariknya dan Myungsoo tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja pintunya dikunci, Nona. Aduh, seharusnya kau jangan bersikap bodoh.” Ejek Myungsoo, tak bisa menahan untuk tersenyum lebar melihat aksi konyol Jiyeon. Ia menarik sebuah gantungan kunci dengan sekitar sepuluh kunci dari sakunya, memilih sebuah kunci dan membuka pintunya itu.

“Nah,” Myungsoo menggoyangkan gantungan kunci, “Bukakan pintunya untukku.”

Jiyeon memasang wajah kesal dan menarik pintu kaca, membiarkan Myungsoo masuk. Pria itu pun masuk duluan, dan kemudian diikuti oleh Jiyeon. Setelah menutup pintu kaca, ruangan ini tampak begitu suram, hanya diterangi cahaya matahari pagi.

Maka Myungsoo menekan sebuah saklar lampu tak jauh dari pintu dan cahaya lampu pun menerangi sekeliling kafe. Pria itu lantas berjalan ke dalam meja kasir dan menuju ke pintu dapur, membuka kuncinya lagi.

“Aku akan ke ruang kerjaku untuk mengurus banyak hal. Kau, tunggulah, sampai ada pelayan lain yang akan datang.” Pesan Myungsoo sebelum menghilang ke balik pintu dapur dan Jiyeon mendengar langkahnya menaiki tangga setelahnya.

Dalam hati Jiyeon bertanya-tanya seperti apa ruang kerja Myungsoo yang terletak di lantai atas. Tampaknya cukup menarik. Pasti lebih bagus daripada kafe yang dimilikinya di lantai bawah. Dan apakah Myungsoo mendekam di sana selama hampir lima belas jam? Nah, bila dia nyaman di sana selama itu, pasti ruang kerjanya adalah sesuatu yang mewah.

Maka selagi menunggu, Jiyeon duduk di sebuah kursi dan melirik ke luar kafe dari dinding kaca. Jalanan mulai tampak ramai. Jiyeon baru sadar bahwa plakat di pintu masih bertuliskan tanda ‘tutup’. Jiyeon berdiri dan hendak membalikkan plakat ketika seseorang berjalan menuju ke arah kafe dan membuka pintunya.

Choi Minho.

Pria itu masuk, dan langsung membalikkan plakat di pintu, sebagai tanda kafe resmi dibuka. Jiyeon menggerutu dalam hati. Minho melirik ke arah Jiyeon berada dan langsung mengalihkan pandangan, seolah gadis itu tak ada. Pria itu berjalan ke meja kasir, dan terlihat mulai menyiapkan segalanya.

“Er, selamat pagi.” Sapa Jiyeon kaku, malas bila pria itu berpura-pura melihatnya tidak ada.

“Ya,” gumam Minho singkat, “Jangan ajak aku bicara, siapkankan saja dirimu sendiri.”

Jiyeon mengangkat bahu. “Yah, sebetulnya aku hanya ingin mengajak bicara. Tapi, ya, oke.”

Minho membersihkan beberapa gelas, melihat Jiyeon tajam dari mejanya, “Ya, ‘kan aku sudah bilang jangan ajak aku bicara. Tidak ingat? Aku tak ingin bicara pada siapapun, terlebih kau.”

Jiyeon mengangguk sarkatis. Dalam hati dia bertanya mengapa Minho begitu tak menyukainya. Tidak lama setelah itu, terdengar lagi bunyi derap kaki menuruni tangga yang pastinya berasal dari Myungsoo.

Pemilik itu keluar dari pintu dapur, dan Minho menoleh ketika Myungsoo keluar dari pintu sudah siap dengan beberapa kertas dokumen yang membuat Jiyeon nyaris terjatuh dari kursinya. Kedua pria itu bertos sebagai ucapan selamat pagi mereka.

“Kau akan menyeleksinya?” Jiyeon mendengar Minho berbisik pelan, dan dibalas anggukan Myungsoo.

Pemilik kafe itu keluar dari meja kasir, dan berjalan menuju ke meja di mana Jiyeon berada. Saat dia berjalan, terdengar pintu kaca kembali membuka nyaring dan sosok si gadis muda, Jieun, keluar. Dia tersenyum ramah, menyapa. Bahkan senyumnya ikut membuat Minho yang tadinya begitu kusut ikut tersenyum. Tanpa banyak bicara, Jieun berjalan ke meja kasir dan ikut membantu Minho menyiapkan semuanya.

Myungsoo menarik kursi di depannya, membuat Jiyeon terlonjak lagi dan segera mengalihkan pandangannya. Pria itu kini menatapnya, kemudian berkutat dengan lembaran dokumen. Dia terlihat menuliskan sesuatu di atas kertas dan berdeham.

“Biodatamu?” tanyanya.

“Oh, ya.” Jiyeon langsung mengambil dua buah kertas rapi penuh tulisan dari tasnya, dan menyerahkannya kepada Myungsoo. Pria itu mengambil kertas yang disodorkannya dan mulai membacanya dengan serius.

Jiyeon membasahi bibir dengan lidahnya, berdebar. Tanpa sadar tangannya terkepal di atas meja, menunggu. Gerakan mata Myungsoo yang membaca tiba-tiba terhenti di satu titik, alisnya terangkat dan dahinya berkerut.

“Kau tidak memasukkan di mana pendidikanmu.” ucapnya.

“Ya, aku kuliah. Psikologi, kemarin aku sudah bilang. Tapi hari ini aku sudah keluar. Secara resmi.”

“Keluar dari kuliahmu?” tanya Myungsoo, membaca kembali biodatanya. “Kenapa?”

“Hm, mungkin karena aku tak sekaya dirimu?” Jiyeon mengangkat bahu, “Lagipula, ada yang salah? Aku tak memasukannya karena memang itu bukan identitas diriku.”

Myungsoo terdiam. Tampaknya dia mengerti. Maka ia melanjutkan membaca sembari berkata, “Ya, aku tak mempersalahkan kalau itu memang bukan identitasmu. Tapi aku akan lebih menghargai orang berpendidikan tinggi yang masuk ke sini.”

“Apa pengaruhnya? Agar pintar memasak? Kau tak sering lihat acara televisi, ya? Anak dua belas tahun pun sudah bisa membuat masakan yang lebih berkelas dari kafe ini.” Celetuk Jiyeon, tampak tidak terima. “Lagipula orang berpendidikan tinggi juga tak akan mendaftar ke sini, mereka lebih memilih bekerja ke tempat lain yang lebih bagus.”

Tampaknya kalimat terakhir itu membuat semua orang tertampar. Minho dan Jieun menghentikan aktifitasnya, menatap Jiyeon. Myungsoo terdiam dan menghela napas, menyandarkan punggungnya di kursi, “Nah, kau ini sudah kuliah, namanya sudah berpendidikan tinggi. Kenapa kau memilih di sini?”

“Karena aku tak punya pilihan, bukan? Aku tak bisa berlagak langsung melamar di perusahaan besar.”

“Nah, kau sudah jujur. Aku suka pegawai yang jujur,” kata Myungsoo seraya menulis di kertas miliknya sendiri. Pintu kaca terbuka dan masuklah pengunjung pertama hari ini, dan disapa oleh suara lembut Jieun.

“Nah, dalam sesi wawancara bersamaku, aku tak perlu banyak-banyak. Aku akan melihat bagaimana cara kau bicara sebagai seorang anak bawang, atau lebih tepatnya pelayan baru. Dan, sayang, kau tak memulainya dengan baik.” Myungsoo menggumam seraya menggeleng. Jiyeon langsung menegang, namun kemudian Myungsoo menepuk meja.

“Ya, ya. Tapi tak apa. Dan aku hanya akan menanyakan kau satu pertanyaan saja dan untuk selanjutnya, kau bukan lagi urusanku.” ujar Myungsoo penuh tekanan, dia menutup kertas dan pulpennya, menatap Jiyeon dalam-dalam.

Jiyeon menatap balik ke matanya, berusaha untuk tidak terlihat takut. Namun akhirnya ia menunduk karena melihat suatu ancaman di mata Myungsoo.

“Park Jiyeon, apakah kau sudah siap untuk bekerja?”  Myungsoo menepuk mejanya

“Ya.” ucap Jiyeon, mengerutkan dahi kenapa diajukan pertanyaan semacam itu.

“Siap atau tidak?” Myungsoo menepuk meja lebih keras.

“Ya, siap!”

“Katakan!” Pukulan mejanya kini jauh lebih keras.

“Siap!”

“Lebih keras lagi!” teriak Myungsoo, pukulan mejanya ini sukses membuat pengunjung pertama itu menolehkan kepala, melihat apa yang mereka berdua lakukan.

“Siap!” balas Jiyeon, merasa dirinya seperti anak kecil yang sudah akan diajak untuk perkemahan.

Myungsoo tersenyum kecil dan lantas berdiri dengan membawa lembaran kertas Jiyeon di tangannya. “Baiklah, kau sudah bilang siap. Berarti siap lelah, siap mental, siap disiplin, siap tanggung jawab, dan segalanya. Nah, giliran Minho yang akan mengurusimu nanti. Semoga sukses.”

Pemilik itu berjalan masuk ke meja kasir, masuk ke pintu dapur dan langkah kakinya menaiki tangga terdengar dari kejauhan. Jiyeon terus menatap pintu dapur, dan kemudian melirik Minho.

Pelayan itu menatapnya kembali. Ia meletakkan cangkir kopi yang baru saja dibuatnya ke nampan, dan kemudian Jieun mengantarkan nampan itu ke pengunjung pertama tadi. Minho mengusap tangannya dengan sapu tangan, dan bergumam singkat.

“Ayo. Sekarang kau ikut denganku.”


A/N

Mohon maaf atas slow updatenya😀

37 responses to “[CHAPTER – PART 3] Skinny Love

  1. aigoo jujur deh aku baca ini jd ikut”an tegang sendiri, hahaha myung tegas bggt sih,, jadi pengen liat bneran deh myungsoo yg tegas kaya gth,,
    buat jiyeon moga sukses yya..
    next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s