(Chapter 8) Belle in the 21st Century – Beauty’s Hidden Ability

request-pc13b

Belle in the 21st Century – Beauty’s Hidden Ability

kkezzgw storyline

Thanks for the poster: Arin Yessy

Main Cast: T-ARA’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: 15+

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 |5 | 6 | 7 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

“You never know how strong you are…until being strong is the only choice you have.”

Jiyeon menatap pantulan dirinya di cermin raksaksa kamarnya dengan seksama dan dengusan pelan pun keluar dari mulutnya tanpa bisa dihalangi. Entah ia harus merasa sedih atau bodoh ketika mendapati matanya terlihat sembab dengan kantung mata menghitam saat ia berkaca seperti sekarang. Ia merasa kesal tapi bingung harus melampiaskannya pada siapa, toh pria itu tidak pernah memaksanya menangisinya, bukan?

Oh tolong jangan bahas tentang alasan Jiyeon menangis semalaman kemarin malam, itu hanya membuatnya semakin merana dan ingin bunuh diri.

Diliriknya jam dinding berwarna ungu yang berada dekat jendela, masih pukul enam pagi dan Jiyeon yakin pria itu belum bangun, karena seingatnya kemarin suaminya baru sampai dirumah pukul satu malam—entah apa yang dilakukan pria itu, dan Jiyeon menolak untuk memikirkannya.

Walaupun tidak memakai perlengkapan bertempur secara fisik seperti para tentara ataupun polisi, namun semangat juang Jiyeon sudah berkobar sejak pertama kali matanya terbuka pagi ini. Jika kemarin Myungsoo apat dengan mudahnya melarikan diri dari acara sarapan, kini Jiyeon bertekad untuk melakukan segala cara agar setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam sistem pencernaan Kim Myungsoo.

Ia berjanji akan membentengi dirinya setinggi mungkin dan akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Gadis itu mulai mengeluarkan amplop putih pemberian Seungho kemarin sore, dengan telaten ia memperhatikan setiap detail yang tertulis disana, membaca dengan kesadaran yang sejujurnya masih menipis akibat kurang tidur.

“’……Selain teksturnya yang lembut dengan rasanya yang manis, pisang mengandung karbohidrat yang cukup yang membuat perut dalam keadaan kenyang yang lebih lama. Disamping itu, buah ini mengandung potassium yang berperan menurunkan tekanan darah secara alami.’ Sepertinya hari ini aku harus membuat jus pisang” desah Jiyeon senang setelah menemukan menu termudah untuk sarapan kali ini.

Jiyeon menepuk tangannya sekali seraya tersenyum lebar, “Baiklah, untuk hari ini sepertinya jus pisang!”

Jiyeon berlari kecil keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan sedikit pelan, tidak membutuhkan waktu lama untuk kakinya menginjak lantai kayu dapur yang didominasi warna biru muda itu.

“Pisang…pisang…pisang…ah ini dia!” Jiyeon mengambil beberapa buah pisang yang berada di sebuah ruangan besar bersuhu cukup rendah, membuat tubuh kedinginannya seakan dirajami es batu. Seperti yang ia katakan sebelumnya, dapur ini lebih terlihat seperti tempat acara memasak. Setelah itu, ia menuju ke ruangan tempat penyimpanan perlengkapan masak—yang terlalu lengkap hanya untuk sebuah rumah—untuk mengambil blender, setelah itu kaki kecilnya mulai berjalan kearah kulkas dan mengambil susu cair serta ice cream vanilla.

Jiyeon meletakan semuanya diatas meja dapur mewah itu dan mulai mencampurkan semuanya di dalam blender. Suara bising blender mulai memecah keheningan penthouse mewah nan luas namun seakan tak berpenghuni ini. Tak lama Jiyeon menuangkan jus pisang itu ke dalam sebuah gelas kaca yang membuat gadis itu ingin sekali tertawa. Gadis itu membersihkan dapur sebelum meletakan jus pisang itu ke dalam kulkas dan merangkak naik ke kamarnya sendiri untuk bersiap – siap mengingat hari ini jadwalnya mengambil kuliah kelas pagi.

**

Seperti biasanya, Myungsoo sudah bersiap dengan pakaian – pakaian yang menunjukan kebesarannya sebagai seorang pimpinan utama Jaekyo Group, walaupun saat ini statusnya belum secara resmi diangkat sebagai CEO dan masih sebagai Manager, namun respect dan rasa segan karyawan perusahaan adidaya itu terhadapnya tak perlu diragukan lagi.

Pria itu melirik sekilas pintu kamar Jiyeon yang tepat berada di dekat kamarnya masih tertutup rapat. Sebersit rasa bersalah tiba – tiba menyelimtui relung hatinya. Kejadian semalam…sungguh ia tidak bermaksud sama sekali untuk membawa Luna ke penthouse ini, namun Luna memaksa dan sempat merajuk saat Myungsoo menolaknya. Terlebih apapun yang dilihat Jiyeon di dalam lift sungguh membuat mulutnya terasa gatal untuk meminta maaf, namun ia terlalu gengsi dan merasa perasaan Jiyeon bukanlah urusannya.

Dengan langkah dipercepat, pria itu menuruni tangga masih dengan ekspresi angkuh dan dingin yang ia miliki. Namun ekspresi itu sedikit berubah ketika melihat Jiyeon sedang duduk di mini bar penthouse ini, wilayah kekuasaan Myungsoo.

Gadis itu terlihat cantik bahkan hanya dengan kaus putih polos yang dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam dan sepatu kets berwarna merah darah, tak ada polesan make up sama sekali dan Myungsoo yakin gadis itu terbiasa pergi kemanapun tanpa make up. Sepertinya Jiyeon belum benar – benar menyadari kehadiran dirinya, mengingat bahkan sampai sekarang gadis itu masih sibuk mengetuk – ngetukan jarinya diatas meja sambil memandangi jendela raksaksa penthouse mereka. Myungsoo membuang pandangannya dari Jiyeon dan mulai berjalan lurus kearah pintu dengan langkah santai.

“Myungsoo-ssi!”

Myungsoo reflek menghentikan seluruh pergerakannya saat mendengar suara gadis itu memanggilnya seiring dengan derap langkah kaki yang mendekatinya.

“Tunggu sebentar!”

Myungsoo membuang nafasnya kasar melihat Jiyeon kini berdiri di depan pintu, menghalangi pergerakan dan niatnya untuk segera angkat kaki dari tempat ini. “Menyingkirlah, aku ingin berangkat kerja.” ujar Myungsoo datar.

Jiyeon mengangguk setuju, “Tentu saja kau harus bekerja, aku tahu itu.”

“Lalu apa yang kau lakukan saat ini, huh? Menghalangi seseorang yang berniat pergi bekerja?”

Aniyo, justru aku ingin membantu seorang work-aholic man yang selalu lupa waktu makan dan beristirahat saat sedang bekerja”

Myungsoo masih mengernyitkan dahinya tak mengerti sebelum mata tajamnya menangkap objek yang membuatnya tercengang. Pria itu langsung menatap Jiyeon dengan pandangan berang, menuduh, tak terima, dan bersiap memakinya, terlebih melihat ekspresi gadis itu yang seakan bersorak gembira karena sepertinya apapun yang ada dalam pikirannya berhasil terlaksana.

“K-kau apakan gelas crystal-ku itu?” desis Myungsoo sarat akan emosi.

Jiyeon berusaha keras untuk tidak tertawa puas, ekor matanya melirik sekilas gelas crystal yang sedang ia pegang kini. Oh tentu saja gadis itu masih ingat dengan jelas rekaan kejadian dimana Myungsoo meninggalkan sarapannya begitu saja dan otak cerdasnya terpikirkan untuk menggunakan sesuatu yang dapat membuat Kim Myungsoo bertekuk lutut.

Waeyo? Apa yang salah?”

“Sudah kubilang untuk tidak menyentuh wine-ku!”

“Apa yang kupegang ini adalah wine? Kukira wine berwarna hitam atau ungu pekat atau entahlah-apa-warnanya sedangkan ini berwarna kuning cerah”

“Bukan,” Myungsoo memijat pelipisnya yang terasa berdenyut tak berdaya, “Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menyentuh barang pribadiku, termasuk gelas – gelas crystal itu!”

Jiyeon mengendikan bahunya cuek dengan ekspresi polos, “Well, seingatku kau hanya bilang untuk tidak menyentuh wine-mu dan bukan sesuatu yang dapat menopang acara masuknya-cairan-tak-berbobot itu ke mulutmu.”

Pandangan Myungsoo semakin menggelap yang menandakan emosinya mulai tak terkendali, menunjuk – nunjuk jus buah yang ada dalam gelas crystal miliknya, “Buang cairan sialan itu dan berikan gelasnya padaku!”

Jiyeon menyeringai licik lalu menggeleng, “Jika kau ingin gelasmu kembali, maka minumlah jus pisang ini!”

Myungsoo terbelalak di tempatnya, ia menatap Jiyeon dengan pandangan mencela sekaligus tak percaya, “Apa kau bercanda?”

“Apa wajahku saat ini mengatakan hal itu?” jawab Jiyeon tenang.

“Satu hal yang kau harus ketahui, Nona Park, aku tidak minum jus. Dan warnanya kuning!” pekik Myungsoo setengah histeris.

Jiyeon menatap Myungsoo dengan pandangan heran bercampur geli, “Apa kau mengharapkan pisang berubah warna menjadi merah atau hijau atau bahkan biru? Sampai kapanpun pisang akan tetap berwarna kuning!”

“Ya, dan itu sangat tidak pria!”

“Oh ya, sangat jika itu berurusan dengan jus pisang!”

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan. Oh astaga sebenarnya apa lagi yang sedang gadis ini lakukan padanya?  Meminum jus? Ia ingat dengan jelas hal itu terjadi terakhir kalinya saat ibunya memaksanya meminum jus jeruk, dan itu kenangan manis sekaligus pahit yang terjadi 14 tahun yang lalu.

Dan kini, Park Jiyeon dengan polosnya melakukan hal yang sama dengan mendiang ibunya. Entah ia harus kesal atau terharu karena hal ini.

“Aku tidak akan meminumnya. BUANG!” bentak Myungsoo sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.

Namun berbeda dari sebelumnya, kini Jiyeon benar – benar menepati  janjinya sendiri untuk jauh lebih kuat dan tegar menghadapi seorang Kim Myungsoo. Buktinya kini keduanya hanya saling menatap layaknya musuh yang bertemu di medan perang, mata Jiyeon terbuka lebar dengan dagu terangkat sedangkan Myungsoo menajamkan pandangannya dengan nafas memburu.

“Aku juga tidak akan membuangnya. MINUM!” debat Jiyeon jengkel, membalikan perkataan Myungsoo yang kembali tercengang di tempatnya.

“Kau pikir aku sudi meminumnya? Siapa yang tahu kau mencampurkan racun tikus atau semacamnya di dalamnya?”

“Ide bagus, mungkin aku akan melakukannya suatu saat tapi tidak hari ini, jadi minum atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal!”

Myungsoo berdecak sinis, “Aku tidak takut, Jiyeon-ssi

Kali ini Jiyeon yang tersenyum miring sambil menatap Myungsoo dengan tatapan penuh ejekan, “Kau yakin, Myungsoo-ssi?”

Myungsoo yang tadinya terlihat tak peduli kini terbelalak di tempat melihat apa yang Jiyeon lakukan saat ini. Pria itu mengerjap berkali – kali, pupil matanya bergerak bergantian menatap Jiyeon dan gelas crystal itu dengan gelisah bercampur panik—dan ketidak relaan yang begitu mendalam.

Bayangkan saja, gelas crystal seharga $500 atau setara dengan ₩6 juta ditangan gadis itu sudah bersiap mendarat mulus—dengan sangat tidak cantik dan berkelas—di dalam tempat sampah yang entah sejak kapan berada di sana. Jiyeon sudah merentangkan tangannya jauh – jauh dan memegang gelas itu asal, terlihat dari keseimbangan gelas yang mulai tidak stabil dengan penahan yang lebih kecil dibanding beban yang harus ia tanggung.

“JANGAN LAKUKAN ITU!”

Jiyeon mengendikan bahunya acuh tak acuh, “Jika kau tidak meminumnya dalam hitungan ketiga, lebih baik siapkan saja kata – kata terakhirmu untuk gelas cantik ini!”

Myungsoo dapat merasakan kepanikan yang memalukan muncul dalam dirinya kali ini, ia menatap Jiyeon dengan marah sekaligus memohon, “Jiyeon—“

“Satu.” gadis itu mulai menghitung.

‘Oh sialan! Dia tidak main-main dengan perkataannya, cepat lakukan sesuatu bodoh!’ suara hati kecil Myungsoo memaki dirinya sendiri seakan memperingatinya.

“Dua.”

Keringat dingin seakan merambat diseluruh permukaan kulit Myungsoo, terlebih melihat keseimbangan gelas itu sudah berada diambang kematian, lihatlah jemari tangan Jiyeon yang mulai melepaskan kontak mereka secara teratur dan rapi.

Demi Tuhan itu hanya sebuah gelas dan kau tidak mungkin rela tunduk padanya karena hal sekecil dan sekonyol itu, bukan? Yang benar saja kau Kim Myungsoo!

 

“Ti–”

Tanpa berpikir dua kali, Myungsoo langsung berjalan kearah gadis itu dengan langkah lebar, meraih gelas crystal yang ada dalam genggaman Jiyeon dan menenggak jus pisang itu hingga tandas. Sedangkan Jiyeon yang melihat itu semua kini hanya terdiam entah harus senang atau bangga melihat ia dapat menemukan titik kelemahan Myungsoo dengan begitu mudah.

Wine dan segala antek-anteknya.

Jiyeon tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Myungsoo yang tampak menikmati jus pisang buatannya walaupun berusaha keras untuk menjaga ekspresinya agar tidak terlihat. Dalam hati Jiyeon mengibaskan rambutnya bangga, sejak dulu kemampuannya meramu masakan memang tidak perlu diragukan—setidaknya dessert.

“Bagaimana, enak?”

Myungsoo langsung melirik kearah Jiyeon dengan tatapan penuh kebencian. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Myungsoo meletakan gelas crystal tadi keatas meja bar itu dan pergi meninggalkan apartement tanpa menoleh kearah Jiyeon barang sedikitpun, seakan menunjukkan ia marah besar pada gadis itu.

Sedangkan Jiyeon langsung menghempaskan punggungnya pada pintu, mengatur deru nafasnya yang terasa memburu akibat menahan debaran jantungnya yang bekerja tidak terkendali. Sejujurnya ia sangat gugup dan takut untuk melakukan hal itu, namun ia harus melakukannya agar pria itu kembali ke jalan yang benar.

Beberapa detik kemudian Jiyeon mengulum senyum tipis sambil memandangi pintu penthouse mereka yang sudah tertutup rapat, “Welcome to hell, Kim Myungsoo! Kau akan tahu siapa aku sebenarnya” ujarnya disertai senyum miring penuh kebanggan miliknya.

**

“Kau terlihat pucat dan lelah. Apa kau sakit?”

Jiyeon reflek memegang kedua pipinya mendengar komentar Eunji, matanya melirik sekilas kearah Eunji yang masih memperhatikannya dengan seksama seakan mencari sesuatu yang salah di wajahnya.

Jiyeon tertawa pelan sambil mengibaskan tangannya di udara, “Hanya perasaanmu saja”

Eunji mengernyitkan keningnya tak setuju, masih sibuk memperhatikan Jiyeon yang kini sibuk menata kue – kue baru saja dibuat oleh para pattisier di dapur. “Kau juga lebih pendiam hari ini. Apa kau sedang ada masalah?”

Jiyeon tersenyum tipis sambil menggeleng, “Tidak”

Eunji merengut kesal, “Lalu kau kenapa aneh sekali hari ini? Apa ini ada hubungannya dengan suamimu?”

Pergerakan tangan Jiyeon terhenti. Matanya menerawang jauh kearah para pelanggan yang sedang menikmati kue sambil bersantai dengan gadget mereka melalui kaca cake display ini. Eunji mendesah pelan lalu menjadikan kedua tangannya sebagai penopang bobot tubuhnya, “See, sepertinya kau memang ada masalah dengannya. Ceritakanlah, jangan membiasakan menyimpan bangkai di pikiranmu!”

Kali ini Jiyeon yang mendesah, gadis dengan tinggi semampai itu mengikuti jejak sahabatnya sambil merapikan rambutnya singkat. “Entahlah, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Masalah kami memang sedikit…rumit.”

“Memang apa penyebab masalahnya?”

“Kau tahu kan bagaimana sikap pria itu pada semua orang?” Eunji memiringkan kepalanya sejenak sebelum mengangguk setuju, “Dan bayangkan saja, bagaimana caranya aku harus mengubahnya menjadi pria normal seperti yang lainnya? Bukankah itu tantangan yang berat?” desah Jiyeon putus asa.

“Sebaiknya kau ceritakan padaku bagaimana sikapnya padamu selama ini.”

“Astaga, kau akan merana jika menjadi diriku.”

Eunji tertawa kecil, “Well, aku ingin tahu se-merana apa diriku itu”

“Dia benar – benar memperlakukanku seperti seseorang yang tidak ada. Beberapa hari yang lalu bahkan ia mengacuhkanku yang sudah bersusah payah membuatkannya sarapan, aku juga melihatnya bercumbu dengan wanita lain tepat di depan mataku. Sungguh, aku ingin menyerah saja, aku benar – benar tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mengubahnya”

Eunji menepuk bahu Jiyeon pelan, “Hei, jangan semudah itu menyerah! Ini baru beberapa minggu kau menyandang gelar sebagai Nyonya Kim. Dalam jangka waktu se-singkat itu, kau memang tidak dapat berharap lebih padanya, apalagi mengubah sifat dan sikap seseorang yang sudah mendarah daging seperti itu, kau hanya harus lebih bersahabar. Oh ya, apa kau sudah bertanya – tanya tentang Myungsoo pada sahabat – sahabat tampannya itu?”

Jiyeon terkekeh geli mendengarnya. Kejadian saat di pesta pernikahannya kembali terlintas begitu saja dimana Eunji tidak berhenti histeris dan merona dengan sendirinya melihat ketampanan sahabat – sahabat Myungsoo.  Ia seakan melihat F4 versi dunia nyata—tampan, kaya, pintar, dan tentunya memiliki karisma tersendiri.

“Apa kau percaya jika aku bilang mereka sendiri yang membantuku?”

Jinjjayo? Wah, daebak! Tidak hanya tampan, mereka juga baik hati. Lalu apa saja yang mereka katakan?”

“Banyak dan berbeda – beda. Ada yang memberitahuku tentang jadwal kerja, kebiasaannya, bahkan tentang daftar makanan sehat yang harus dikonsumsinya serta laporan kesehatan pria itu. Tapi ada satu yang membuatku sedikit tergerak”

Ucapan Jiyeon yang menggantung itu sukses membuat mata Eunji menyipit penasaran dan langsung mendekatkan wajah keduanya, “Mwo? Mwoga?”

Raut wajah Jiyeon sedikit sendu dibanding sebelumnya, ia menatap Eunji enggan. “Sebenarnya Myungsoo yang sekarang bukanlah Myungsoo yang sesungguhnya, semuanya terjadi karena ia kehilangan dua orang yang paling ia cintai.” Jawabnya dengan nada tercekat, entah karena alasan apa.

“N-nugu?”

“Ibu dan…mantan kekasihnya”

Eunji mengerjap sekilas lalu kembali memandangi sahabatnya yang kini menerawang jauh dengan ekspresi terluka dan kecewa. Butuh beberapa saat untuknya  menyadari bahwa ada hal baru yang muncul di hati Jiyeon; cinta, sahabatnya jelas jatuh cinta pada sosok yang sedang dibicarakannya saat ini.

“Kau menyukainya”

Jiyeon langsung menoleh dengan ekspresi memberontak dan tidak terima, “Mwo?”

“Kau menyukainya, Park Jiyeon. Semuanya sudah terbaca di wajahmu”

“A-aku tidak—“

Yes you are! Kalau kau tidak menyukainya, kau tidak akan merasa gagal dan semerana ini karena tidak dapat mengubah Kim Myungsoo seperti semula”

Jiyeon sudah membuka mulutnya untuk membantah, namun ia tak dapat menemukan kosakata yang baik sehingga ia memilih bungkam dan menoleh kearah lain, menghindari tatapan menyelidik Eunji.

Eunji mengulum senyum tipis lalu merangkul bahu sahabatnya erat, seolah menghantarkan perasaan hangat dan nyaman yang dibutuhkan Jiyeon saat ini, “Kau tahu, kurasa satu – satunya hal yang dapat kau lakukan untuk mengubahnya adalah mengetuk pintu hatinya untuk membiarkanmu masuk ke dalamnya, karena jika ia tidak membuka pintu hatinya, sampai kapanpun kau hanya dianggap sebagai tamu ataupun orang asing yang tak ia kenal.”

Jiyeon menggeleng, “Tidak mungkin, hal itu tidak boleh terjadi.”

Eunji mengernyitkan keningnya bingung, “Waeyo? Bukankah memang seharusnya begitu?”

“Aku…sejujurnya aku tidak mau melibatkan perasaan dalam hal ini.”

Mwoya? Apa maksudmu Jiyeon-ah? Dengar, itu cara termudah dan ‘terindah’ yang seharusnya kau terima saat ini.”

“Tapi aku tidak mau melakukannya. Biarkan aku melakukan dengan caraku sendiri dan jika memang tidak berhasil…aku akan menerima saranmu”

Eunji mengeluarkan seringai penuh ejekan lalu membalas jabatan tangan Jiyeon, “Okay, aku terima tantanganmu. Deal?”

“Deal!”

**

Jiyeon menggerutu kesal di ruang makan pagi ini, ia benar – benar jengkel karena hari ini Kim Myungsoo berhasil ‘lolos’ dari acara sarapannya. Kemarin malam gadis itu bertekad untuk menyelesaikan skripsinya dan alhasil ia bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya ataupun berangkat kuliah.

Dengan setengah hati, Jiyeon terpaksa harus menyilang tanggal hari ini di kalender yang diberikan Seungho beberapa minggu yang lalu. Gadis itu menghembuskan nafasnya singkat lalu menopang kepalanya pada tangannya, memandang jauh kearah jendela – jendela kaca yang melukiskan indahnya ibukota Seoul dibawah hangatnya mentari pagi, “Bagaimanapun pria es itu belum sarapan dan aku yakin ia tidak akan tertarik untuk melakukan itu tanpa paksaan.  Lalu aku harus apa?” ujarnya setengah merana.

Diliriknya perlengkapan memasak yang sebelumnya ia pakai untuk membuat sarapannya sendiri, beralih kearah kulkas dan beberapa kotak makan yang berada di dekatnya. Tiba – tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya. Gadis itu tersenyum penuh arti sesaat sebelum ia bangkit berdiri dan mulai bersiap untuk mengolah berbagai bahan masakan yang baru saja ia keluarkan. Gadis itu memanaskan air lalu berlari naik ke kamarnya untuk mengambil resep daftar makanan – makanan sehat yang juga diberikan Seungho waktu itu.

Jiyeon mengangguk riang sebagai pembuka aksinya memasak masakan sehat seperti yang tertulis disana, dan ia pun tidak mengerti mengapa ia begitu bersemangat melakukannya.

**

Tidak ada hal yang dapat membuat Jiyeon merasa idiot dan kaku seperti sekarang selain kejadian yang ia saksikan tepat di depan matanya sendiri. Euforia yang sudah menyertai setiap pergerakan kaki jenjang Jiyeon menuju gedung pencakar langit kebangaan milik Jaekyo Group seakan runtuh tepat ketika kakinya memasuki ruangan General Manager yang lebih tepatnya adalah ruangan kerja suaminya sendiri.

Mata gadis itu mengerjap sekilas namun tak melepaskan pandangannya kearah dua objek yang kini menjadi poros pandangan kedua iris matanya. Keduanya masih belum menyadari kehadiran Jiyeon, begitupun dengan Jiyeon yang ingin rasanya meneriaki langit dan bumi untuk membuat terowongan waktu yang dapat mengantarnya keluar dari ruangan Myungsoo detik ini juga.

Omo—“

Pagutan bibir kedua anak adam itu terlepas sepihak ketika sang wanita mneyadari keberadaan raga Jiyeon yang menatapnya sinis dengan pandangan setajam belati. Tak perlu berpikir keras bagi seorang Myungsoo untuk mengetahui siapa gerangan yang menghentikan aktifitasnya, pria itu mendesah kecil sebelum membalas tatapan Jiyeon.

“Seharusnya kau bisa lebih menjaga sikap dengan tidak mengotori ruanganmu dengan hal – hal laknat seperti tadi, Myungsoo-ssi.” Ujar Jiyeon sakratis.

Luna—gadis yang Jiyeon lihat untuk ketiga kalinya—merengut cuek sembari membenarkan letak pakaiannya yang sudah terekspos bebas, sedangkan Myungsoo hanya terdiam dengan rahang mengeras mendengar kalimat sakratis Jiyeon.

“Dan untuk apa kau datang ke ruanganku yang kotor ini, Nona Park?”

Jiyeon menghampiri Myungsoo dengan wajah datar, mengambil kotak makanan berwarna hijau dan meletakannya di atas coffee table di hadapan Myungsoo dan Luna. Keduanya mengeluarkan ekspresi berbeda—terkejut dan mengernyit heran —dengan kehadiran kotak makanan itu.

“Aku membuatkanmu bekal berhubung tadi pagi kau tidak sarapan”

Bunyi suara tawa terdengar cukup untuk menggelitik gendang telinga Myungsoo dan Jiyeon. Myungsoo memejamkan matanya malu sedangkan Jiyeon hanya menatap datar dan sinis kearah Luna yang berusaha keras untuk menghentikan aksi tertawanya.

“Astaga oppa, aku tidak tahu kalau kau masih diperlakukan seperti bocah ingusan yang lupa dibawakan bekal ke sekolah.”

Myungsoo menatap jengkel sekaligus malu kearah Jiyeon yang dibalas dengan tatapan tak kalah sengit dari gadis itu. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan saat ini, huh?”

Suara mencekam Myungsoo sukses membuat Luna menghentikan tawanya dan Jiyeon mengerjap kaget. Namun ia tidak akan menyerah, Jiyeon menegapkan tubuhnya dan balas menatap Myungsoo, “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan”

Tawa sinis keluar dari mulut Myungsoo, “Berhentilah mencampuri urusanku!”

Jiyeon terlonjak di tempatnya. Kini ia tidak berani berkata apapun lagi melihat kemarahan suaminya, begitupun dengan Luna yang langsung menunduk takut. Myungsoo bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati Jiyeon yang kini memasang mode siaga, gerakan mundur teratur dilakukan oleh Jiyeon saat Myungsoo semakin mengintimidasinya dengan tatapan khas milik pria es itu.

“Aku tidak butuh perhatianmu,” Jiyeon mengerjap takut melihat pandangan menggelap Myungsoo padanya, “dan aku juga tidak butuh segala hal yang harus kau lakukan sebagai istriku, karena seharusnya kau sadar pernikahan ini tidak lebih dari aib terbesar yang pernah kuterima sepanjang hidupku, termasuk keberadaan dan statusmu sebagai pendamping hidupku! Kenapa kau menikah denganku—ani, mengapa kau harus muncul dalam kehidupanku?”

Tidak hanya Jiyeon yang tercengang dan membeku mendengar kalimat menyayat hati Myungsoo, namun Luna yang sejak tadi berusaha mengalihkan perhatiannya dari pertengkaran ‘suami-istri’ di depannya pun bahkan menganga lebar.

Buliran air mata tanpa permisi mulai menggenangi pelupuk mata Yoona, membuat Myungsoo terkesiap dan sedikit tak percaya. Jiyeon dapat merasakan tubuhnya terasa lemas dan pikirannya melayang selama beberapa detik sebelum kesadarannya mulai terkumpul ketika ia menyadari air mata itu. Cepat – cepat Jiyeon menghapus titik air mata itu, tangannya yang bebas meremas ujung kausnya secara intensif tanpa berminat menatap Myungsoo kembali, karena sama saja ia membuat luka yang ada semakin menganga lebar.

Tanpa banyak berkata apapun, Jiyeon mengangguk kecil lalu tertawa pedih, “Geurae, sepertinya memang begitu. Seharusnya aku menyadarinya. Baiklah, aku akan melakukannya. Mulai besok aku akan berhenti melakukan hal yang tidak perlu seperti ini. Aku permisi.” putus Jiyeon sebelum benar – benar angkat kaki dari ruangan Myungsoo ini, setidaknya aura menyegarkan kembali menjadi atmosfernya mengingat ia tidak perlu melihat suaminya lagi.

Sedangkan Myungsoo justru tak sanggup menggerakan persendian tubuhnya pasca kepergian Jiyeon beberapa menit yang lalu. Ia merasa terganggu melihat air mata Jiyeon entah karena alasan apa, dan ia pun menyesali apapun yang ia katakan sebelumnya, bahkan kehadiran Luna yang selalu membuatnya senang kini menjadi salah satu batu sandungan untuk perasaan menenangkan yang berusaha memasuki relung hatinya. Alhasil Myungsoo hanya menatap hampa kearah pintu ruangannya yang sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.

Dan tanpa mereka sadari, benang merah yang mengikat mereka terasa semakin mencekik keduanya dengan sebuah rantai mematikan yang tak akan pernah hilang.

**

Pantulan oranye sinar matahari membalut aliran air Sungai  Han dengan begitu cantik, pembiasan langit sore itu menandakan sang raja siang bersiap untuk mengucapkan salam perpisahan manis pada seluruh masyarakat di dunia untuk mengawali tidur panjangnya dan digantikan oleh sang ratu yang bersiap memancarkan sinar selembut bulu pada bumi. Angin musim gugur berhembus, membuat surai rambut Jiyeon berterbangan dan pergerakan tangan Jiyeon untuk menghalau udara dingin yang terasa semakin menusuk seiring berjalannya jarum jam.

Setelah kejadian di kantor Myungsoo, Jiyeon memutuskan bersantai di pinggir Sungai Han, tempat dimana ia selalu bisa menghalau perasaan gundah maupun terpuruk yang sering ia alami setiap mengalami masalah. Gadis itu hanya duduk di rerumputan terdekat dengan sisi sungai ditemani dengan segelas teh hangat yang dijual di sepanjang taman Sungai Han.

“Aku tidak butuh perhatianmu dan aku juga tidak butuh segala hal yang harus kau lakukan sebagai istriku, karena seharusnya kau sadar pernikahan ini tidak lebih dari aib terbesar yang pernah kuterima sepanjang hidupku, termasuk keberadaan dan statusmu sebagai pendamping hidupku!”

“Kenapa kau menikah denganku—ani, mengapa kau harus muncul dalam kehidupanku?”

Pil pahit itu terasa kembali mengisi tenggorokan Jiyeon sehingga gadis itu harus kembali merasakan rasa pedih akibat luka yang dibuat oleh Myungsoo beberapa jam yang lalu setiap mengingat kalimat Myungsoo. Gadis itu memejamkan matanya secara perlahan, berusaha melupakan Myungsoo dan keinginan untuk menyerah mengubah sikap Myungsoo datang begitu saja.

Namun detik berikutnya ia sadar kesalahan apa yang saat ini sedang ia pikirkan. Tidak, ia tidak boleh menyerah. Nyawa ayahnya berada dalam genggaman tangannya sendiri, entah apa yang akan terjadi pada ayah dan keluarganya jika Jiyeon berani keluar dari ‘permainan’ ini. Jiyeon menghembuskan nafasnya kasar sambil menenggak air teh itu kembali tanpa menyadari seorang pria yang kini sedang menatapinya penasaran.

“Jiyeon-ssi?”

Gadis itu menoleh begitu mendengar suara familiar memanggil namanya, detik berikutnya ia mendapati kehadiran seorang pria berwajah tampan yang kini tersenyum kearahnya penuh kelegaan, “Minho-ssi?”

Choi Minho tersenyum ramah kearahnya, “Boleh aku duduk disampingmu?”

Jiyeon mengangguk seraya tersenyum menyambut. Entah mengapa diantara semua teman Myungsoo, ia selalu menyukai Minho. Selain pria inilah yang pertama kali bertemu dengannya diantara tiga teman Myungsoo yang lain, ada aura menyenangkan dan easy-going yang memancar dari dalam diri Minho sehingga membuat Jiyeon nyaman dan perasaan canggung pun tidak pernah menyelimuti keduanya. Seperti saat ini, Minho pun mendudukan dirinya disamping Jiyeon dengan santai lalu kembali meletakan buku gambar berukuran F4 yang ada di tangannya beserta satu set pensil warna merk terkenal disampingnya.

“Kau menggambar?” tanya Jiyeon dengan nada kagum yang tak ditutup – tutupi melihat coretan tangan Minho yang terlihat begitu indah dan cantik.

Minho tersenyum lalu mengelus kertas itu pelan, “Begitulah, tuntutan profesi dan hobi yang saling berkesinambungan.” desahnya bangga.

“Oh?” Jiyeon mengerjap, “Kau seorang arsitek?” tebaknya.

Minho memiringkan kepalanya ke kanan mempertimbangkan jawabannya, “Entahlah, sepertinya tidak bisa dibilang seorang arsitek, aku pemimpin Jung Corp dan jarang sekali aku turun ke lapangan langsung jika menangani sebuah proyek. Terkadang aku harus berpuas diri melihat hasil kerja para arsitek kantorku yang menangani sebagian besar proyek.”

Jiyeon mengangguk paham lalu kembali memusatkan perhatiannya pada riak air sungai di depannya. Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa menit, seakan mereka terlalu terhipnotis dengan fenomena alam yang selalu terjadi setia dua belas jam sekali itu.

“Apa kau ada masalah?”

Sontak pertanyaan Minho membuat fokus Jiyeon beralih pada wajah tampan itu—yang kini sedang menatap ke depan tanpa berniat membalas tatapan Jiyeon. Jiyeon bungkam dan memilih mengalihkan pandangannya dari Minho.

Minho tersenyum tipis, “Sepertinya memang iya,” Minho lalu menepuk bahu Jiyeon lembut, “Ceritakanlah padaku. Mungkin kita baru beberapa bulan saling mengenal, tapi kau sudah kuanggap sebagai adik perempuanku sendiri.”

Jiyeon tertawa pelan lalu menggeleng kecil, “Bukan hal besar, aku hanya sedang…sensitif.” jawab Jiyeon asal, mengabaikan iris mata Minho yang menatapnya tak percaya.

Minho mengangkat bahunya acuh tak acuh, “Aku tidak tahu apa yang menjadi masalahmu saat ini sehingga wajahmu terlihat begitu sendu dan merana seperti ini—walaupun sebenarnya aku bisa menebaknya dengan mudah.”

Kini Jiyeon yang memandangan Minho meminta penjelasan dan kedua mata mereka pun saling bertatapan. Jiyeon memutuskan kontak itu dengan desahan kuat serta dorongan untuk memejamkan mata serta menunduk adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Minho mengabaikan isakan tangis Jiyeon yang mulai menggema di gendang telinganya. Ia tidak berniat untuk menenangkan Jiyeon seperti layaknya pria pada umumnya, ia hanya berusaha mengerti posisi Jiyeon yang saat ini sangat ingin menangis namun tak dapat ia ungkapkan secara gamblang. Bahkan baru beberapa bulan mengenal gadis ini, Minho tahu satu karakter Jiyeon yang tidak disukainya sejak awal; memendam segalanya seorang diri.

“A-aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ujar Jiyeon menggantung.

“Tanyakanlah.” balas Minho—masih menatap Jiyeon sedih.

“Apa kau akan mempertahankan seseorang yang kau cintai meskipun kau tahu perasaanmu ini terlarang dan bahkan…orang yang kau cintai itu sangat membencimu?”

Minho terbelalak mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka Jiyeon akan menanyakan hal ini padanya. Jujur saja, ia bingung dengan apa yang harus ia ucapkan, ia tidak mau gadis itu semakin kacau disini.

“Sejujurnya aku tidak tahu harus menjawab apa,” ujarnya pelan, “namun untuk jawaban pertanyaanmu, aku akan berusaha mempertahankannya sebisa mungkin selama aku masih mampu melakukannya. Karena itulah kejamnya permainan takdir. Takdir adalah sebuah misteri yang Tuhan dan kita rajut bersama. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita pun tidak dapat mengulang kejadian di masa lalu yang sudah kita pilih. Saat ini, yang harus kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik sampai Tuhan mempertemukan kita dengan titik temu dari pilihan kita sendiri. Kau gadis yang baik, Jiyeon-ah. Aku sudah menyadarinya bahkan saat pertama kali kita bertemu, aku hanya berharap kau mengikuti takdir dari pilihanmu sendiri—dengan mempertahankan Myungsoo. Apa kau pernah mendengar istilah ‘Cinta adalah sebuah bunga yang berubah menjadi buah dalam perkawinan’? Saat ini, mungkin perasaan itu belum berkembang, namun seiring berjalannya waktu perasana itu akan tubuh dan menciptakan sebuah buah pernikahan yang manis. Karena sekali lagi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.”

Jiyeon mendengarkan dengan seksama semua perkataan Minho. Tangisannya sudah berhenti sejak beberapa detik yang lalu, kini otaknya sibuk mencerna bulat – bulat apapun yang Minho katakan.

Minho beranjak dari tempatnya, membereskan segala peralatannya diiringi dengan tatapan Jiyeon yang terus mengamati pergerakannya. “Aku harus pergi, kantor membutuhkanku.”

Jiyeon mengangguk, kini gadis itu kembali ke posisi semula—memandang sendu kearah Sungai Han dengan raut wajah sedikit cerah.

“Satu hal lagi, Jiyeon-ah,”

Jiyeon menoleh, memandangi punggung tegap Minho yang menyambutnya, “Jangan menyerah pada Myungsoo. Bertahanlah sedikit lagi. Kumohon, jangan.”

Jiyeon tidak berniat membalas permohonan Minho, gadis itu hanya memandangi punggung tegap yang semakin menjauhinya. Gadis itu kembali memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan kasat mata sang angin pada wajah mulusnya tanpa berniat membukanya lagi. Ia merasa aman dan nyaman hanya dengan melakukan ini, ia merasa kekuatannya seakan terkumpul kembali untuk melawan Kim Myungsoo.

.

.

Jarum jam masih menunjukan pukul delapan malam waktu setempat, namun keajaiban terjadi di sebuah penthouse mewah di pusat kota metropolitan Seoul. Kim Myungsoo terus melirik kearah jam dinding diatasnya, menekan deretan angka pada remote TV yang ada dalam genggamannya, atau menenggak wine dalam gelas crystalnya. Namun semua hal manusiawi yang biasa ia lakukan tak sanggup membuat pikirannya teralihkan dari kenyataan bahwa Park Jiyeon—tidak seperti biasanya—belum sampai di rumah.

Sebersit perasaan khawatir dan tidak enak kembali menghantui Myungsoo. Semenjak kejadian tadi siang di ruangannya, ia merasa bersalah pada gadis itu tanpa alasan yang tak ingin ia akui. Terlebih untuk pertama kalinya ia melihat Jiyeon menangis saat diperlakukan buruk olehnya.

Dan disinilah dirinya, menunggu Jiyeon datang dan bahkan pulang nyaris lima jam dari biasanya.

KLIK~

Bunyi apartement yang terbuka menggema diseluruh penjuru ruangan. Myungsoo yang mendengarnya sontak berdiri, mata tajamnya menatap Jiyeon yang sedang melenggang masuk dengan tatapan menuduh. Pria itu bangkit berdiri mendekati istrinya yang sepertinya belum menyadari kehadirannya di ruangan ini. Terbukti, Jiyeon sejak tadi sibuk memijat tengkuknya yang terasa pegal, membuka sepatu, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas tangan yang sebelumnya ia pakai tanpa sekalipun menoleh kearah Myungsoo.

“Apa setiap harinya kau pulang semalam ini? Apa kau tidak lihat rumah berdebu?”

Jiyeon langsung terlonjak dari tempatnya, bola matanya terbelalak kaget lalu mengerjap mendapati sosok Myungsoo berdiri tegap di depannya dengan tangan melipat di depan dada, sorot matanya penuh intimidasi dan menuduh.

“Kim Myungsoo?” gumam Jiyeon ragu. Ia takut berhalusinasi mengingat hampir sepanjang hari hanya sosok suaminya yang bersarang dalam pikirannya.

“Hadir, songsaenim!” sindir Myungsoo penuh penekanan.

Jiyeon terbelalak, gadis itu reflek melirik kearah jam tangannya dan kembali menatap Myungsoo—yang masih menatapnya dengan cara yang sama, “K-kau sudah pulang? Ini masih jam delapan malam.” ujar Jiyeon sedikit bingung.

Myungsoo menyipitkan matanya kearah Jiyeon, “Memang ada yang salah jika aku pulang jam delapan malam? Eo, atau setiap harinya jam pulangmu memang jam delapan malam jika tak ada aku?”

Jiyeon memutar bola matanya jengah lalu menatap Myungsoo jengkel. Ada apa dengan pria ini? Sebelumnya ia memaki Jiyeon dan bahkan dengan jelas meminta Jiyeon untuk tidak memerdulikannya, dan lihatlah situasi mereka saat ini. Kim Myungsoo tidak ada bedanya dengan seorang suami protektif yang tidak suka melihat istrinya masih menghirup udara malam seorang diri.

Jiyeon mengangkat kantung – kantung belanja yang sempat ia bawa sebelumnya, menunjukan pada Myungsoo alasan keterlambatannya, “Aku membeli bahan makanan. Persediaan makanan di dalam sana sudah menipis.” ujar Jiyeon datar. Myungsoo masih memandangi Jiyeon intens sebelum mendengus jengkel lalu meninggalkan Jiyeon.

“Apa kau sudah makan malam? Kalau belum, aku akan memasakannya untukmu.”

Jiyeon mengatakannya sambil berjalan memasuki dapur. Ia dapat merasakan tatapan Myungsoo menusuk punggungnya yang memanas. Ia bahkan tidak mau menerka apapun yang ada dalam pikiran pria itu, ia hanya tahu bahwa memang seharusnya inilah yang ia lakukan. Melakukan tugasnya dengan baik, seperti melayani Myungsoo sebagai seorang istri yang baik.

“Tidak, terima kasih.” tolak Myungsoo kasar.

Jiyeon mengangkat bahunya acuh tak acuh seakan mengatakan ‘baiklah kalau begitu’ dalam aksi kecilnya. Gadis itu pun masuk ke dalam ruangan penyimpanan makanan tanpa menyadari tatapan Myungsoo yang terus menatap pintu berbahan stainless steel itu.

Entah apa yang Myungsoo rasakan saat ini. Ia tidak suka dengan sikap Jiyeon beberapa menit yang lalu padanya, ia merasa aneh dan tidak nyaman dengan sikap Jiyeon yang terlihat tidak peduli padanya. Myungsoo merasa ini tidak benar dan mau tidak mau perasaan menyesal pun kembali menyelimutinya begitu mengingat perkataan Jiyeon padanya sebelum angkat kaki dari ruangannya.

Tak lama Jiyeon keluar dari ruangan itu. Ia mendapati punggung tegap sang suami sedang menikmati indahnya Seoul dari ketinggian dibalik jendela kaca penthouse mereka. Gadis itu mengikat asal rambutnya sebelum mengambil sapu dan menyiapkan alat pel. Seperti biasanya, Jiyeon selalu membereskan rumah tak lama setelah ia sampai dirumah.

Sekali lagi Myungsoo mendapati dirinya memandangi Jiyeon dari pantulan bayangan istrinya, objek pandangannya seketika berubah tepat setelah Jiyeon berada di sekitarnya. Hatinya mendesir melihat Jiyeon dengan telaten membersihkan setiap inchi rumah dengan wajah santai seakan sudah terbiasa dengan hal itu. Suatu pemandangan yang sudah lama tak Myungsoo lihat dan tentunya hal ini tidak akan pernah pria itu dapatkan pada wanita – wanita malamnya.

MWOYA!

Pekikan ngeri Jiyeon memecahkan keheningan penthouse keduanya. Myungsoo menoleh hanya untuk mendapat lirikan tajam dari sang istri. “Bisakah kau kecilkan suaramu?” desah Myungsoo jengkel.

Jiyeon melempar sapu itu sembarangan, berjalan tergesa – gesa kearah Myungsoo yang tengah menikmati wine-nya santai. Myungsoo tersenyum sangat tipis melihat wajah menahan marah milik Jiyeon, entah mengapa ia mulai menyukainya. Tunggu, sebenarnya ada apa dengan dirinya?

“Berikan padaku!” Jiyeon mengadahkan tangannya kearah Myungsoo yang masih berpura – pura bodoh.

Mwoga?” tanyanya santai.

“Gelas crystal dan botol wine itu, cepat berikan padaku!”

Myungsoo menyeringai sinis, “Never, yeobo.” olok Myungsoo.

Wajah Jiyeon memerah menahan amarah. Tidak, ia tidak bisa membiarkan Myungsoo terbiasa menenggak cairan-tidak-sehat ini, bagaimanapun ini salah satu hal yang harus diubah dalam diri Myungsoo.

“Cepat berikan padaku atau aku benar – benar akan melakukan hal buruk pada keduanya.”

Pria itu mengangkat dagunya seakan menantang sang istri untuk melawannya, “Then do it!

Gadis itu berdecak meremehkan melihat kebodohan Myungsoo yang seakan ingin melawannya, sang master bela diri yang bahkan sudah diakui kemampuannya oleh perlombaan tingkat International beberapa tahun yang lalu. Jiyeon menyesali keputusan Myungsoo untuk melawannya, mau tidak mau ia harus membuat pria ini jera.

Jiyeon mulai mengeluarkan kemampuan bela dirinya dimulai dari pergerakan matanya. Ia menggunakan teknik ‘Snake Kungfu’ yang menjadikan mata sebagai pusat pergerakan dan bahkan sarana penghilang fokus lawan. Sama seperti Kim Myungsoo saat ini, pria itu mengerjap heran melihat pandangan mata Jiyeon yang terlihat fokus dengan kepala dimiringkan ke kanan dan ke kiri secara bergantian.

Secepat angin, tangan Jiyeon menyelinap ke balik punggung Myungsoo, meraih botol dan gelas crystal yang sempat disembunyikan sang suami dari jarak pandangnya. Pergerakannya sangat halus, bahkan Myungsoo terbelalak melihat keduanya berada dalam genggaman Jiyeon hanya dalam sepersekian detik.

Yak!

Jiyeon tertawa pelan mendengar derap langkah Myungsoo yang mengejarnya menuju dapur. Jiyeon  membuka penutup botol wine itu, membuang cairan mahal itu dengan santainya tanpa memedulikan bola mata Myungsoo yang nyaris keluar melihat cairan dalam botol wine-nya terbuang dengan cara yang sangat mengenaskan.

YAK PARK JIYEON! SEBENARNYA APA MAUMU!”

Myungsoo kalap, ia membanting botol kosong yang ada dalam genggaman Jiyeon, menyeret dan membanting tubuh Jiyeon kearah lemari kaca tempatnya meletakan gelas – gelas crystal-nya. Oh, bahkan pria itu sudah tidak peduli dengan hal itu. Jiyeon meringis kecil mendapat hantaman menyakitkan itu.

Kini tubuh kekar Myungsoo menghimpit tubuh mungil Jiyeon, membuat gadis itu tak dapat berkutik sedikitpun. Sorot matanya menggelap, menandakan pria itu sedang berada dalam puncak emosi yang tak dapat ditahan.

“Gadis sialan, wine yang baru saja kau buang adalah Boutari Santorini, salah satu dry white wine termahal dan terlangka di daratan Yunani dan kau dengan santainya membuangnya begitu saja? ”

Jiyeon sejujurnya cukup takut melihat kondisi Myungsoo saat ini, namun ia tidak boleh menyerah, wine tidak baik untuk kesehatan Myungsoo. Kini, ialah yang mengangkat dagu menantang sang suami. “I don’t even care with that fucking dry white wine from Greece! Yang aku tahu saat ini, aku harus menyingkirkan minuman tak berbobot itu darimu!”

“KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGATURKU!”

“AKU PUNYA!” balas Jiyeon dengan nada tinggi, “AKU ISTRIMU!”

“And it doesn’t mean you can treat me like your fucking husband, our marriage is fake!”

Ani, pernikahan kita sah secara hukum maupun agama. Jadi, selama aku masih menjadi istrimu, tidak akan kubiarkan kau melakukan apapun sesukamu, Kim Myungsoo-ssi.” debat Jiyeon.

Myungsoo mendesis marah, “Aku tidak menyangka kau serendah ini, Park Jiyeon-ssi. Sebesar itukah harapanmu untuk menjadi istriku seutuhnya? Jangan pernah berharap!”

Jiyeon kembali goyah, namun akal sehatnya kembali meyakinkan dirinya untuk mengubah Myungsoo. Gadis itu tertawa sinis tanpa melepaskan kontak mata keduanya, “Jangan bergurau, aku hanya melakukan kewajibanku, tidak lebih. Salah satu kewajibanku adalah merubah kebiasaan burukmu meminum minuman tak berbobot itu, aku akan memastikannya sendiri!”

Myungsoo menyeringai sinis, “Geurae, buktikan padaku apa caramu untuk menjauhkanku dari ini semua. Aku menantangmu melakukannya sekarang juga, istriku.” sindir Myungsoo penuh penekanan.

Jiyeon meremas ujung kausnya menahan ledakan emosi dalam dirinya. Myungsoo dan Jiyeon masih saling melempar tatapan sinis, saling menatap dengan tatapan permusuhan yang begitu mendominasi. Dalam aksi itu, Jiyeon terus memikirkan cara bagaimana ia bisa menjauhkan Myungsoo dari hal – hal tak pantas yang selama ini ia jalani.

Jiyeon mengerjap saat mendapatkan sebuah ide cemerlang yang tiba – tiba datang menghampiri jalan pikirnya. Astaga, mengapa ia tidak pernah memikirkan hal ini? Ia yakin seratus persen Myungsoo benar – benar akan terkurung dalam aturan Jiyeon.

Jiyeon tersenyum miring, jemarinya yang sebelumnya pasif mulai merambat naik menuju tengkuk Myungsoo. Pria itu mengerjap dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan mata Jiyeon pun berubah penuh menggoda seakan meminta Myungsoo ‘melakukan sesuatu bersama’ sekarang juga. Terlebih Jiyeon mulai merapatkan tubuh keduanya untuk bergerak menjauhi lemari. Gadis itu membawa kepala Myungsoo tenggelam dalam bahunya, membiarkan feromonnya tercium indera penciuman sang suami yang kini menundukan tubuhnya mencecapi aroma itu lebih mendalam. Myungsoo susah payah menelan salivanya, melihat Jiyeon yang menampakan wajah menggoda membuat tubuhnya kembali kacau.

Namun ekspektasi liar Myungsoo berubah sedetik berikutnya. Jiyeon tidak berniat menggoda Myungsoo, gadis itu berniat membekukan seluruh pergerakan Myungsoo.

Semua tindakan Jiyeon hanyalah kamuflase belaka. Tangan yang memeluk bahu Myungsoo ternyata digunakan Jiyeon untuk menopang bobot tubuhnya ketika kedua kakinya melangkahi punggung Myungsoo, pahanya menjepit kepala sang suami, memutar dan membanting tubuh kekar Myungsoo ke tanah tepat ketika bokongnya mencium lantai marmer dibawah mereka.

“AH!”

Myungsoo dapat merasakan tulangnya terasa patah ketika seluruh tubuhnya bertabrakan dengan lantai marmer secara mendadak tanpa persiapan, ia tidak bisa bergerak karena kepalanya tertahan oleh cekikan kaki Jiyeon yang menjepit batang lehernya dari atas dan bawah.

Myungsoo tercengang, ia benar – benar tidak tahu kalau Jiyeon ahli bela diri. Dan hari ini, ia menyadari itu semua, terlihat dari gerakan Jiyeon yang begitu mulus dan tak terduga, membuatnya merasa ini hanyalah mimpi.

“K-kau….Park Jiyeon…k-kau—“

“Terkejut, tuan Kim?” ujar Jiyeon tampak bangga karena rencananya berhasil.

Myungsoo masih tidak percaya dengan ini semua. Bahkan lidahnya terasa kelu untuk bicara atau melakukan perlawanan terhadap sang istri. “A-apa yang kau—sejak k-kapan kau bisa bela diri?”

Jiyeon tertawa meremehkan, “Sejak seribu tahun yang lalu, Kim Myungsoo-ssi.” ujarnya bangga.

Myungsoo masih terlalu shock untuk berkomentar, ia hanya melakukan perlawanan kecil. Sungguh, ia merasa malu dengan istrinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Park Jiyeon bisa melakukan hal – hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali oleh Myungsoo?

Y-yak! Kau mau apa? YAK!

Jiyeon tertawa penuh kemenangan melihat Myungsoo meronta dalam kuasanya saat ia mengambil borgol—yang ia siapkan jauh – jauh hari untuk berjaga – jaga—dari laci di dapur itu, lalu mulai memborgol kedua tangan Myungsoo dengan borgol miliknya.

NEO MICHESSEO? APA YANG KAU LAKUKAN? YAK MICHIN YEOJA! IGEONWA!”

Jiyeon membantu Myungsoo yang masih meronta dalam kuasanya untuk berdiri. Myungsoo yang sebelumnya bersiap untuk menyakiti Jiyeon, kini terpaksa harus berada dalam kurungan kekuasaan sang istri dengan keahlian yang sangat mengguncang jiwa dan raga Myungsoo.

YAK PARK JIYEON CEPAT LEPASKAN INI ATAU AKU AKAN MELAPORKANMU PADA POLI—hmpphhh—“

Jiyeon menekan kedua pipi Myungsoo lalu menyumpal kain putih ke dalam mulutnya sehingga rontaan Myungsoo pun tak dapat terdengar Jiyeon. Gadis itu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menarik Myungsoo yang berusaha keras untuk melarikan diri dari Jiyeon. Hingga akhirnya keduanya sampai di kamar Myungsoo.

Jiyeon—menggunakan kekuatan dalamnya—mendorong Myungsoo yang tersungkur keatas tempat tidurnya dengan sangat tidak lembut. Myungsoo berniat untuk kabur, namun dengan gesit Jiyeon mendudukan tubuhnya diantara kedua kakinya sebelum mengeluarkan borgol lainnya. Gadis itu tertawa melihat wajah ketakutan Myungsoo, terlebih saat ia menyambungkan borgol di tangan Myungsoo dengan headboard tempat tidurnya sehingga kini Myungsoo benar – benar tak dapat berkutik.

Jiyeon belum berniat melepaskan sumpalan mulut Myungsoo sebelum ia menghubungi tuan Kim Jongwoon. Jiyeon merogoh kantung celana Myungsoo, mencari nomor kontak sang mertua lalu mulai menghubunginya.

Yeoboseyo? Abeonim …..ne, aku ingin mengatakan bahwa Myungsoo tidak bisa hadir selama beberapa hari ke kantor karena aku akan mengajaknya ke suatu tempat ….gomapseumnida, abeonim.

Jiyeon mengakhiri panggilannya lalu menoleh kearah Myungsoo yang menatapnya menuntut jawaban. Gadis itu mendesah malas, berjalan mendekati sang suami dan langsung mengambil sumpalan kain itu dari mulutnya. Kini Myungsoo pun kembali bebas untuk bicara.

Ya-yak, apa kau teroris? Kau perampok yang menyamar menjadi calon istriku untuk menguras hartaku, bukan begitu? LEPASKAN AKU!”

Jiyeon memutar bola matanya mendengar dugaan konyol Myungsoo. Wajah gadis itu mendekat kearah Myungsoo, menatap Myungsoo jenaka, “Ya, aku memang perampok yang akan merampas sesuatu darimu. Tapi bukan harta, tapi hal – hal burukmu yang akan kurampas. Sampai jumpa besok, Myungsoo-ssi.”

YAK MICHIN YEOJA! KAU AKAN MEMBIARKANKU TIDUR SEPERTI INI? LEPASKAN BORGOLNYA! YAK! YAK!

Bahkan sampai pintu tertutup pun Jiyeon tidak menjawab apapun pertanyaan Myungsoo. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Myungsoo, memandang pintu kamar itu melalui bahunya lalu membuang nafasnya kasar.

Sejujurnya ia tidak mau kemampuannya diketahui oleh Myungsoo, namun ia tidak bisa melakukan hal lain agar Myungsoo bisa berubah—dan dapat dengan mudah dibawa ke suatu tempat yang akan mengubah Myungsoo.

“Myungsoo-ah, aku melakukan ini semua demi kebaikanmu.”

.

.

Sinar matahari menerobos masuk melalui kaca yang tak tertutup oleh gorden kamar selama semalaman penuh. Hal itu membuat sang pria—dengan keadaan paling mengenaskan dalam hidupnya—mulai terbangun karena kelelahan setelah nyaris semalaman berteriak – teriak meronta.

“KIM MYUNGSOO IREONA!”

Lengkingan suara Jiyeon sukses membangunkan jiwa pemalas Myungsoo. Pria itu sigap duduk dengan keadaan seadanya, dengan mata sayu pria itu mendongak keatas dan mendapati Jiyeon menatapnya kesal.

“Sekarang jam berapa? Mengapa kau baru bangun?”

Myungsoo mendesis jengkel, “Menurutmu aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini, huh?”

Jiyeon mengangkat bahunya cuek. Tanpa berniat memperkeruh suasana, Jiyeon membuka kedua borgol itu dan membiarkan Myungsoo merenggangkan otot – otot tangannya yang terasa kaku akibat ulah Jiyeon.

Myungsoo menatap Jiyeon penuh kebencian. Ada keinginan untuk membentaknya, namun mengingat kejadian semalamam, terpaksa Myungsoo harus memendam keinginan itu jika ia tidak ingin diborgol atau disumpal lagi. Astaga, semalam benar – benar hal yang membuat harga dirinya terjun bebas.

“Mandi dan bersiap. Seperti perkataanku pada abeonim kemarin malam, kita akan pergi ke suatu tempat selama beberapa hari?”

“Kita akan kemana? Tempat perkumpulan teroris?” debat Myungsoo jengkel.

Jiyeon menyeringai licik dan hal tersebut sukses membuat Myungsoo bergidik ngeri, “Well, kau akan tahu nanti.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Bersiaplah melihat beberapa jurus yang tak pernah aku keluarkan sebelumnya.”

Myungsoo berniat mendebatnya namun ia urungkan niat itu. Sambil menggerutu, Myungsoo berjalan lurus kearah kamar mandi tanpa menoleh lagi kearah Jiyeon. Gadis itu pun senang melihat perubahan sikap Myungsoo padanya, oh tentu saja ia yakin Myungsoo akan lebih menjaga sikap pada Jiyeon.

Sembari menunggu Myungsoo, Jiyeon mulai mengecek jadwal keberangkatan bus menuju ‘destinasi’ mereka. Jiyeon melirik jam dinding di kamar Myungsoo, ia memastikan mereka masih ada waktu satu jam untuk bersiap.

“KIM MYUNGSOO! Mandi dengan cepat karena kita harus tiba di halte satu jam dari sekarang, jika sampai terlambat, aku benar – benar akan memarahaimu!”

MWO? BUS? KITA AKAN KEMANA?”

.

NEXT CHAPTER

.

“Katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Jonghyun?”

Jiyeon mengerling kearah Myungsoo, ia sedikit ragu untuk menjawabnya, “Dia…mantan kekasihku.”

MWO?

To Be Continue 

Huft akhirnya part 8 selesai juga^^ gimana menurut kalian part ini wkwk gak tau ya aku pas bayangin mereka di scene terakhir ketawa – ketawa sendiri. Aigoo, imajinasiku bener – bener aneh😄 dan disini mulai menuju kearah2 cinta antara mereka, dan karena aku terlalu bosen sama ide perjodohan yang flat-flat aja, jadilah seperti ini kkk~ sekarang pada ngerti dong kenapa Jiyeon bisa bela diri di FF ini? INILAH FUNGSINYA LOL

Sebenernya aku lagi sibuk banget di sekolah. Terlebih, sekolahku ada proyek sama salah satu stasiun TV untuk buat film dan kebetulan banget aku bagian salah satu staff atas yang kerjaannya banyak so aku bener – bener nyolong2 waktu buat bikin FF. I’m sorry readers but I’ll try my best T______T

Oh iya, pada penasaran gak kira – kira mereka kemana? Dan kenapa Jiyeon yakin Myungsoo bakal berubah? Dan siapa itu Jonghyun? WKWKWK yang penasaran tahan dulu ya, semua akan terjawab di CHAPTER 9^^

See you on the next chapter<3

85 responses to “(Chapter 8) Belle in the 21st Century – Beauty’s Hidden Ability

  1. serius aku SUKA BANGET sama karakternya jiyeon disini yg keren abis!!!!!
    ngakak deh ngeliat myungsoo syok diem ga berkutik gitu😂 kkkkk
    hmm kira kira mereka kemana ya?:/ kampung halaman jiyeon/? haha sok tau deh gue-_-

  2. Wkwkwkwkw akhirnya jiyeon ngeluarin jurus mematikannya juga buat bikin myungsoo ga berkutik
    Tp saat myungsoo melontarkan kalimat di kantor nya itu bener2 nyakitin bgt deh
    Untung jiyeon cewe yg kuat

    Jiyeon fighting ^^

  3. kyaaaaaaaaaaa kerennnnn bgttt jiyeoonnnn nya myungsooo pe ga berkutik gitu wkwkkkkkm

    itu L sunggguh sadis bin kejammmm tp rasakan pembalasannya.huuu mereka berdua mau kmn y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s