[Chapter 16] Love is not A Crime

LINAC NEW

Previous chapter

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19 / Laykim

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Mungkin kalian udah bosen sama FF ini. But, aku masih melanjutkan sampai ada kata FINAL nantinya

Sorry for typos

Jaejoong keluar dari kamar Jiyeon dengan perasaan sedikit tenang. Ya, hanya sedikit ketenangan yang ia rasakan karena dalam hatinya masih ada keresahan tentang balas dendam yang akan dilakukan oleh Jiyeon dan Myungsoo. Jaejoong khawatir kalau balas dendam itu malah akan membuat semuanya kacau sehingga mereka tidak berhasil membalaskan dendam pada Haeri namun mereka sendiri yang akan hancur.

Tap tap tap!
Langkah kaki Jaejoong terdengar jelas saat menapaki lantai teras belakang. Meskipun laki-laki itu berjalan menyusuri lantai keramik putih yang membawanya ke halaman belakang, pikirannya terpusat pada sesuatu yang lain dan sama sekali tidak memperhatikan langkahnya. Kedua indera penglihatannya terfokus pada seekor burung rajawali yang bertengger di atas pagar yang membatasi halaman belakang dengan jalan.

‘Kenapa ada rajawali di tempat seperti ini?’ tanyanya dalam hati. Ia pun mendekati sang rajawali yang tak beranjak sedikit pun dari tempatnya bertengger meskipun seseorang datang mendekatinya.

Jaejoong yakin bahwa burung itu bukanlah burung liar atau tak bertuan. Burung yang notabennya galak dan liar itu nampak seperti jenis burung jinak dan sudah terbiasa dengan kehadiran manusia di dekatnya. Jaejoong menginjakkan kaki di halaman belakang hingga meninggalkan jejak sepatunya di atas tanah. Saat sudah berada di dekat burung rajawali milik Jiyeon itu, Jaejoong mengulurkan tangan namun sang burung tak menghiraukannya dan terbang di atas rumah. Jaejoong masih menatap burung itu. Ia sangat ingin tahu apa yang sedang dilakukan burung rajawali di tempat seperti ini dan siapa gerangan sang majikan dari burung yang dikenal galak ini?

“Hyung!”

Jaejoong sontak membalikkan badan menghadap ke arah seseorang yang memanggilnya. “Myungsoo? Sudah selesai?” tanya Jaejoong.

“Eoh. Aku tidak betah berada di dalam sana. Hatiku masih sakit jika menyadari bahwa wanita yang aku nikahi bukanlah Gongju. Tapi di sisi lain, aku kasihan pada Soo Hee.”

“Kasihan?”

“Dari tatapan matanya sejak kami kecil, aku lihat dia kekurangan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya “

Hati Jaejoong mencelos. Seharusnya Myungsoo bukan mengatakan bahwa gadis yang dimaksud adalah Soo Hee, melainkan Jiyeon yang selalu menderita sejak dilahirkan. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan berusaha mencintainya,” jawab Myungsoo yang sukses membuat Jaejoong membulatkan kedua matanya. Baru saja Myungsoo mengatakan hal itu, dia melihat burung rajawali yang sama sekali tidak asing di matanya, terbang menuruni atap rumah. Ya, bagaimana Myungsoo tidak terperangah melihat burung miliknya yang telah ia berikan kepada Gongju kini bertengger di pagar yang berdiri mengelilingi rumah itu. “Hyung, burung siapa itu?”

Jaejoong mengangkat kedua bahunya. “Aku juga tidak tahu. Burung itu sepertinya jatuh cinta padaku karena tadi mengikutiku,” canda Jaejoong.

“Gaya bercandamu tidak lucu, Hyung.” Myungsoo masih tetap mengamati burung rajawali itu. Dia yakin bahwa burung itu adalah burung yang dimiliki oleh Gongju. Jika burung itu ada di sini, berarti Gongju juga ada di sini. Myungsoo mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok gadis yang sangat ia rindukan.

“Siapa yang sedang kau cari?” tanya Jaejoong yang mulai curiga melihat gelagat Myungsoo.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat kumpulan kupu-kupu terbang. Mereka begitu indah,” kata Myungsoo yang tentu saja berbohong agar Jaejoong tidak curiga lagi padanya.

Jaejoong mengangguk pelan tanda bahwa ia telah mengerti maksud Myungsoo. “Ayo kembali ke dalam, cuaca semakin panas.” Jaejoong melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, disusul oleh Myungsoo yang masih penasaran dengan adanya burung rajawali tadi.

Ceklek!
Soo Jin membuka pintu kamar Jiyeon dengan perlahan. Seperti biasa, Jiyeon selalu waspada saat ada orang yang membuka pintunya.

“Kenapa kau tidak mengunci pintunya?” tanya Soo Jin karena khawatir pada Jiyeon.

“Tadi sudah dikunci oleh Jaejoong oppa. Tapi aku membukanya kembali.”

Soo Jin mengerutkan kening. “Jaejoong? Dia di sini?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Ne, Eomma.”

“Jinjja? Di mana dia sekarang?” tanya Soo Jin yang ingin sekali bertemu dengan Jaejoong, putra dari pelayan setianya.

“Aku tidak tahu, Eomma. Tadi oppa keluar dari kamarku dan setelah itu aku tidak tahu ke mana dia pergi.” Jiyeon melihat ibunya terduduk lesu saat mendengar nama Jaejoong. “Eomma ingin bertemu dengannya?” tanya Jiyeon.

“Tentu saja. Sudah lama sekali aku tidak melihat anak itu. Bagaimana rupanya, seberapa tingginya, apakah dia baik-baik saja? Aku sungguh ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya.”

Jiyeon duduk di depan ibunya kemudian menggenggam tangan halus wanita yang telah melahirkannya. “Eomma, apakah Jaejoong oppa tidak masuk ke dalam gereja?”

“Jika saja aku tahu bagaimana rupa Jaejoong, aku pasti akan memeluknya.” Kedua mata Soo Jin tampak berkaca-kaca.

“Jangan khawatir, Eomma. Jaejoong oppa masih ada di tempat ini.” Jiyeon ingin menunjukkan bagaimana fisik Jaejoong pada Soo Jin namun sayangnya dia sendiri tidak memiliki foto Jaejoong untuk ditunjukkan kepada ibunya.

“Baiklah, kita bahas itu nanti saja. Eomma ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Ekspresi wajah Soo Jin berubah serius.

Beberapa menit kemudian.
“Apakah eomma yakin kalau aku bisa melakukannya?” tanya Jiyeon menanggapi apa yang telah dibicarakan oleh ibunya barusan.

“Kenapa tidak? Kau adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan, Jiyeon-a. Soo Hee akan berusaha keras untuk bisa menduduki kursi nomor satu di negeri ini. Apakah kau ingin menyerahkannya begitu saja? Bayangkan jika Soo Hee berhasil melakukannya, bukan tidak mungkin Haeri akan memanfaatkan kesempatan itu untuk bertindak sesuai keinginannya. Korea Selatan adalah sebuah negara, bukanlah sebuah mainan. Kita tidak dapat menyerahkan nasib dan masa depan rakyat di tangan orang yang tidak tepat.”

Jiyeon bergeming sejenak, memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya. “Jadi, mau tidak mau, aku harus melakukannya?”

“Ya,

Malam hari telah tiba. Jiyeon duduk termenung di dalam kamarnya dengan duduk melipat kedua kaki dan mendekapnya di depan dada. Ditatapnya peluit dan pedang secara bergantian. Dua buah benda yang sangat berharga baginya, melebihi nyawanya sendiri karena telah menemaninya melangkah sejauh ini. Jiyeon mendesah saat menatap peluitnya. “Apa yang akan terjadi jika aku meniupnya sekarang?” tanya Jiyeon pada dirinya sendiri.

Tak berapa lama kemudian, diraihnya peluit itu. Ia memperhatikan tiap lekuk peluit rajawali yang diberikan oleh Myungsoo saat dirinya masih tinggal di Utara. Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. Jiyeon teringat saat Myungsoo memberikan peluit itu padanya. Itulah saat terindah dalam hidupnya.

Tiiiiiiiiiiitt!
Jiyeon meniup peluitnya satu kali. Lalu fia mengulanginya lagi.

Tiiiitt!
Berselang satu menit kemudian, Jiyeon mendengar suara rajawali terbang menghampiri jendela kamarnya. Dahinya berkerut dan bertanya-tanya dalam hati ‘Apa yang terjadi? Kenapa rajawalinya datang dengan tergesa-gesa? Bukankah burung itu ada di halaman belakang?’

Jiyeon membuka jendela kamarnya. Ternyata burung rajawali yang bertengger di depan jendela itu bukanlah burung miliknya. Jiyeon mengamati burung asing itu dengan seksama. Sejak kapan ada rajawali lain di sekitar tempat itu? Rajawali adalah burung yang langka tapi dia….
Jiyeon membuka mulutnya membentuk huruf O. Ia melihat sebuah kertas yang dilipat dengan rapi di dalam cengkeraman sang rajawali. Jiyeon segera menjinakkan burung itu dan mengambil lipatan kertas yang docengkeram burung rajawali yang ukurannya lebih besar dari miliknya. Rupanya ada orang yang sedang berkirim pesan seperti yang ia lakukan yakni menggunakan burung rajawali sebagai pengantar surat.

Dibukanya lipatan kertas itu. Jiyeon terkejut membaca apa yang tertulis dalam kertas itu. Ia segera meraih pedangnya. Ekspresi wajahnya berubah drastis, menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.

Cekleeek!
Pintu kamar Jiyeon terbuka. Sontak Jiyeon mengarahkan pedangnya pada seseorang yang telah membuka pintunya itu. Hatinya mencelos saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Ya, Kim Myungsoo lah yang membuka pintu kamarnya. Ia datang karena mendengar lengkingan suara peluit pemanggil rajawali di sekitar kamar Jiyeon.

Myungsoo membulatkan kedua bola matanya. Ia tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh indera penglihatannya. “G, Gongju…” lirihnya seraya melangkahkan kakinya mendekati Jiyeon.

“Jangan mendekat!” Jiyeon masih mengarahkan pucuk pedangnya ke arah Myungsoo. “Jika kau melangkah satu langkah lagi, pedang ini akan menghunus tubuhmu.” Jiyeon tidak main-main. Dia sangat serius dengan ucapannya. “Berani sekali kau melakukannya.”

“Melakukan apa?” tanya Myungsoo bingung.

Jiyeon membeber kertas itu dan menunjukkannya pada Myungsoo. Myungsoo pun langsung tercengang melihat kertas itu ada di tangan Jiyeon.

“Gongju-a, itu….”

“Jangan panggil aku Gongju. Namaku Park Jiyeon, putri kandung presiden Korea Selatan, negara yang ingin kau hancurkan.”

“Mwo?” Myungsoo mengerutkan dahinya dan membuat kedua alis miliknya ikut berkerut. “Andwae. Itu tidak mungkin.”

“Terserah bagaimana tanggapanmu. Jika kau berani menyerang Korsel, kau akan berhadapan denganku karena aku adalah putri Korsel dan tak akan membiarkan orang sepertimu merusak segalanya di negara ini.” Jiyeon menatap Myungsoo setajam tatapan Myungsoo pada musuh-musuhnya.

Ingin rasanya Myungsoo berteriak saat itu. Ini bukan mimpi. Gongju atau Jiyeon berdiri di depannya adalah kenyataan, dia sama sekali tidak bermimpi, mengigau atau melamun. “Apakah kau benar-benar Gongju?” Suara Myungsoo melemah.

Jiyeon menahan hatinya untuk tidak luluh melihat mantan kekasihnya berdiri di hadapannya dengan masih mengenakan setelan baju pengantin berwarna putih. Dia menahan airmata yang ingin menyeruak keluar dengan sekuat tenaga. Tidak boleh menangis, itulah yang dia katakan pada dirinya sendiri. Jiyeon sama sekali tak menggerakkan tangannya sedikit pun. Tangan kanan yang menggenggam pedang tetap teracung pada Myungsoo, bahkan ujung pedang itu menyentuh jas putih yang dikenakan oleh Myungsoo.

Tiba-tiba Myungsoo berlutut di depan Jiyeon. “Maafkan aku. Semuanya adalah salahku. Maafkan aku karena telah meninggalkanmu. Maafkan aku karena aku telah mengingkari janjiku.” Airmata meleleh membasahi wajah tampan dan dingin itu. Baru kali ini Jiyeon melihat airmata Myungsoo mengalir sebanyak itu. “Hanya satu yang ku inginkan, aku ingin bertemu denganmu, Gongju. Aku… sama sekali tidak menyangka akan begini akhirnya. Maafkan aku untuk semua yang telah ku lakukan padamu. Maafkan aku karena dulu terlambat mencarimu.” Kepala Myungsoo tertunduk sedih. Ia tak sanggup lagi menunjukkan airmatanya pada Jiyeon.

Jiyeon tak bergerak sedikit pun. “Jangan sampai aku melihat kertas seperti ini lagi. Kalau tidak, aku sendiri yang akan membunuhmu.” Jiyeon menyobek kertas berisi misi rahasia Myungsoo yang dikirim oleh perdana menteri Korut, Lee Donghae. Sepersekian detik kemudian, Jiyeon melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya begitu saja.

Bersamaan dengan keluarnya Jiyeon dari kamarnya, Soo Hee juga keluar dari kamar pengantinnya yang telah dihias seindah mungkin. Dia yakin Myungsoo tidak ada di kamar pengantin mereka karena mendatangi Jiyeon di kamarnya.

Soo Hee memutuskan untuk mendatangi kamar Jiyeon. Baru melangkah beberapa langkah, dia bertemu dengan Jiyeon yang tengah memegang pedang yang terbungkus di tangan kanannya. Soo Hee menatap Jiyeon tajam.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Soo Hee sinis. Kebenciannya pada Jiyeon semakin bertambah.

Jiyeon tersenyum sinis. “Tebak! Apa yang dilakukan oleh suamimu di dalam kamarku? Kau bisa menebaknya?” Jiyeon ingin memanas-manasi Soo Hee.

“Kurang ajar kau, Wanita jalang!” Soo Hee melangkah dua langkah untuk menyerang Jiyeon.

Sriiing!!
Jiyeon mengeluarkan pedangnya dan mengacungkan ujung pedang itu ke arah leher Soo Hee sehingga gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. “Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku tidak akan segan menggorok lehermu di tempat ini.” Tatapan mata Jiyeon tak kalah tajam dnegan Soo Hee. Kemarahannya memuncak setelah mengetahui misi rahasia Myungsoo yang ingin menghancurkan Korsel.

Soo Hee mundur satu langkah. Dia tidak berani melawan Jiyeon dengan tangan kosong. Menurutnya, pedang harus dilawan dengan pedang. Namun sayangnya, dia tidak memegang benda runcing itu.

“Jaga suamimu dan katakan padanya untuk tidak masuk ke dalam kamar seorang gadis yang masih lajang.” Jiyeon menurunkan pedangnya dan beranjak dari hadapan Soo Hee.

Gadis bernama Park Soo Hee itu dapat bernafas lega. Dia melepas ikatan rambut dan membiarkan surai hitam itu terurai karena ikatan rambutnya tidak nyaman di kepala saat emosinya labil seperti itu.

Jiyeon pov
Aku sulit menceritakan semua yang aku alami. Lagipula, tidak ada lagi tempatku mencurahkan isi hati atau sekedar bercerita tentang apa yang ku alami. Dunia ini memang kejam. Semua yang tak terduga pasti dapat terjadi. Ya, itulah yang membuat hati dan jiwaku serasa terbakar. Ya Tuhan, ada apa ini? Apa yang akan terjadi pada negara ini? Belum cukup kah kau ambil orang yang aku cintai?

Dengan gontai, ku langkahkan kaki ini keluar rumah. Aku tidak peduli bagaimana tatapan orang-orang di luar sana dan bagaimana tanggapan mereka saat melihatku, tersangka hukuman mati ternyata masih hidup dan bebas berkeliaran di tempat pernikahan putri sah dari presiden Korsel. Aku tidak mempedulikannya.

Ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya saat ini. Hati dan pikiranku tidak kuat. Sungguh, ku paksakan hatiku untuk tegar menghadapi semua ini meski terasa sesak sekali. Ku rasakan semakin menipisnya oksigen yang ada di bumi ini, sulit bernafas dan bumi seakan menyempit dalam waktu yang singkat. Penat dan terbakar.

Setelah menyaksikan pernikahan Myungsoo dengan Soo Hee, hatiku terasa hancur. Teganya Myungsoo melakukan itu apdaku, ditambah lagi rencananya untuk menyerang Korsel. Apa motif di balik rencananya itu? Oh, aku tidak ingin memikirkannya lagi. Kabar ini harus segera ku sampaikan pada appa.

“Gongju-a!”

Aku mendengar suara itu. Langsung ku balikkan badan ini dan melihat orang yang memanggil namaku. “Oppa…” lirihku saat melihat Jaejoong oppa berdiri pada jarak yang cukup jauh dariku.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanya oppa padaku.

Aku tidak serta merta menjawab pertanyaan oppa. Emosi dan amarahku harus ku atur lebih dulu agar Jaejoong oppa tidak curiga. “Tidak ada. Aku hanya ingin mencari udara segar. Rumah itu terlalu banyak penghuninya. Jadi terasa semoit dan sesak.” Ya Tuhan, aku tidak pandai berbohong. Maafkan adikmu ini, Oppa.

Jaejoong oppa tersenyum padaku. Dia datang mendekat dan memelukku. Rasanya hangat sekali. Pelukan inilah yang aku rindukan selama dua tahun ini. Akhirnya aku dapat memeluk oppa lagi.

“Aku senang bisa memelukmu seperti ini lagi, Gongju.”

Dapat ku rasakan helaan nafas oppa dan hembusannya. Tanpa sadar, aku menangis dalam pelukan oppa. Meski kedua orang tuaku ada di sini, aku tetap lebih dekat dengan Jaejoong oppa. Dia adalah segalanya bagiku. Biarkan saja Myungsoo mengkhianatiku, biarkan saja dia menjadi musuhku. Namun jika oppa yang menjadi musuhku, aku tidak akan sanggup berdiri di depannya. Lebih baik aku bunuh diri jika harus membunuh Jaejoong oppa. Dia adalah kakak sekaligus orang tua bagiku. Tak ada yang dapat menggantikan posisinya di hidupku.

“Yaak! Gongju-a, kenapa kau menangis? Siapa yang menyakitimu, eoh? Kim Myungsoo?”

Aku menggelengkan kepala.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Mungkin inilah takdir kita. Aku tidak ingin kau selalu bersedih, Gongju-a. Kita adalah kakak dan adik yang selalu kompak dan akan selalu bersama. Aku tidak akan meninggalkan adik kecilku lagi.”

Air mataku semakin deras mengalir membasahi pipi. Orang yang paling ku sayangi adalah Jaejoong oppa dan tak akan ku biarkan kami berjauhan lagi.
Jiyeon pov end

Myungsoo kembali ke kamar pengantin di mana Soo Hee berdiri di sampingnya dan menggandeng tangannya menuntun ke peraduan.

“Tunggu, Soo Hee-a,” lirih Myungsoo. Wajah sembabnya belum berubah. Pikirannya kacau. Laki-laki tampan itu bekum dapat menerima kenyataan bahwa Gongju adalah Park Jiyeon, putri kandung presiden Park. “Aku ingin bertanya padamu.”

Soo Hee menatap Myungsoo nanar. Dia tak bergerak sedikit pun dari posisinya di samping Myungsoo. “Apa yang ingin kau tanyakan? Apakah itu menyangkut Park Jiyeon?”

Seketika itu Myungsoo langsung menoleh ke arah Soo Hee. “Kau tahu tentangnya?”

Istri Kim Myungsoo itu hanya terdiam. Tak lama kemudian dia menjawab,”Ya, aku tahu semua tentangnya. Dia adalah saudariku. Tapi kami tidak lahir dari rahim yang sama.” Akhirnya kata-kata itu terlahir dari mulutnya setelah sekian lama ia pendam dalam-dalam.

“Apa maksudmu?” tanya Myungsoo tidak mengerti. Ia memegang bahu Soo Hee kuat-kuat.

Soo Hee mulai menitikkan air mata. “Dia adalah putri appa yang lahir dari rahim Soo Jin eomma. Sedangkan aku adalah putri appa yang lahir dari rahim Haeri eomma.”

“Mwo? Jadi, kau adalah putri kandung Haeri? Jinjja michyeoseo!” Myungsoo berdiri dan menatap Soo Hee dengan tatapan mata elangnya. “Katakan kalau semua itu bohong!”

“Oppa, semua itu benar. Aku pun sangat terkejut mengetahui fakta ini.” Soo Hee tertunduk sedih. Hatinya sakit, kecewa, marah, dan kesal. “Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini. Pasti semuanya hanya mimpi.”

Myungsoo mengusap wajahnya dengan kasar. Nafasnya sesak. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali, tak percaya dengan semua kenyataan yang ada. Semuanya gila, benar-benar gila. Ia ingin membalas dendam pada Haeri dan Korsel tapi malah menikah dengan putri Haeri. ‘Bagaimana aku bisa membalaskan dendamku demi Kyung Ho saem?’ batinnya.

Beberapa hari setelah menikah, Myungsoo tidak lagi bertemu dengan Jiyeon meski mereka berada dalam satu atap. Meski dalam hati Myungsoo ingin sekali bertemu dengan Jiyeon, tak ada hak untuk melakukannya. Dia hanyalah suami dari saudari tiri Jiyeon. Jadi, bagaimana bisa dia bertemu dengan Jiyeon? Akhirnya Myungsoo putus asa dan tak memikirkan cara untuk menemui Jiyeon lagi.

Hari ini Myungsoo disibukkan dengan kegiatannya di Korea Utara sebagai calon presiden yang diajukan oleh partai appa-nya. Hal itu memaksanya untuk menjauh dari Selatan sementara waktu sampai pemilihan presiden selesai dilaksanakan.

Myungsoo duduk termenung di atas kursi kerjanya. Hari-hari yang ia lalui terasa seperti hendak menyekik lehernya. Hari yang berat dengan berbagai masalah yang harus dia hadapi. Kenyataan pahit memaksanya untuk merubah rencana.

“Ada apa?” tanya Jaejoong yang baru saja memeriksa ulang dokumen dana kampanye.

Myungsoo menatap kosong pada gelas bening di depannya. “Kau sudah tahu kebenarannya, Hyung? Aku sulit berpikir jernih akibat hal itu.”

“Kebenaran tentang apa?” tanya Jaejoong penasaran karena Myungsoo selalu bicara bertele-tele.

Tanpa mengalihkan tatapannya, Myungsoo pun menjawab,”Kebenaran yang akan membuatmu mati berdiri dan hampa seperti diriku.”

“Bicaralah dengan jelas! Aku sama sekali tidak mengerti maksud kata-katamu!”

Myungsoo mengalihkan tatapan matanya ke arah Jaejoong. “Kita harus merubah rencana.”

“Ada apa ini?” Jaejoong mulai muak dengan sikap Myungsoo. “Katakan apa yang telah terjadi!”

“Dengarkan baik-baik, Hyung. Aku tidak akan mengulangi karena terlalu sakit bagiku untuk mengatakan kebenaran ini.”

Jaejoong hendak beranjak dari kursi di depan meja kerja Myungsoo.

“Gongju adalah Park Jiyeon! Dia adalah putri kandung Park Soo Jin dan Soo Hee adalah saudari tirinya. Dia adalah putri Haeri.”

Penjelasan Myungsoo mampu menghentikan Jaejoong yang ingin pergi dari hadapan Myungsoo. Laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Myungsoo dengan sejuta pertanyaan yang ada di otaknya. “Mwo?”
Jaejoong sama sekali tidak terkejut mendengar kebenaran tentang Gongju atau Jiyeon. Namun dia sangat terkejut mengetahui kenyataan bahwa Soo Hee adalah putri Haeri. “Jadi, kau telah menikahi putrinya?” tanya Jaejoong lirih.

Myungsoo menjawabnya hanya dengan anggukan kepala. “Itulah sebabnya kita harus merubah rencana.”

Jaejoong baru sadar bahwa Jiyeon berada di pihak Korsel. Dia adalah putri presiden Park saat ini. Jadi, sudah pasti gadis itu akan membela Korsel mati-matian. Jaejoong mendadak lemas dan duduk kembali di atas kursi. Dia teringat pertanyaan Jiyeon, apakah dia akan tetap membela Jiyeon?

“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.” Kegalauan mendera Jaejoong. Dia harus memilih antara Jiyeon dan Myungsoo. Siapa yang akan dia bela? Beberapa hari yang lalu dirinya telah mengatakan pada Jiyeon bahwa dia akan selalu membela Jiyeon apapun yang terjadi. Mungkin inilah maksud Jiyeon. Pertanyaannya itu terlontar karena Jiyeon sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Jiyeon sudah tahu kalau Jaejoong masih berada di pihak Myungsoo. “Kau benar, Myung. Kebenaran ini serasa mencekik leherku. Sangat menyakitkan.”

“Nanti sore aku akan berdiskusi dengan appa dan PM Lee. Kau ingin ikut, Hyung?”

“Tidak usah,” jawab Jaejoong dengan lesu.

Kembali ke Korea Selatan.
Haeri menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Myungsoo pasca pemilihan presiden Korut. Dia sudah memastikan bahwa Myungsoo tidak akan maju sebagai presiden Korut. Meski hal itu terjadi, Haeri memiliki rencana lain. Ya, wanita licik itu memiliki seribu akal bulus untuk menjatuhkan siapa saja yang memusuhinya atau yang telah membuatnya sakit hati dan geram.

“Apa rencana nyonya?” tanya Siwan yang senantiasa menemani Haeri pergi ke sana kemati untuk membahas rencana jahatnya terhadap Kim Myungsoo.

Haeri tersenyum licik. “Kau akan tahu nanti.”

Siwan tak berani menanyakan hal itu lagi. Jika dia melakukannya, Haeri akan menyemburkan kata-katanya yang setajam pedang milik Jiyeon.

“Rencana kita berlaku untuk Utara dan kubu Soo Jin,” kata Haeri.

Siwan mengangguk.

Semua kaki tangan Haeri ingin tahu apa yang dilakukan oleh atasannya. Apakah rencana yang ia susun merupakan rencana hebat?

Pencalonan presiden Korsel maupun Korut oleh beberapa kandidat telah dilakukan. Tak ada nama Jiyeon dalam daftar pencalonan presiden Korsel dan tidak ada nama Myungsoo dalam daftar calon presiden Korut. Hal itu membuat Haeri kebakaran jenggot karena sudah dapat dipastikan bahwa rencana awal gagal total.

“Bagaimana bisa seperti ini? Apa yang akan dilakukan oleh mereka?” Haeri geram karena dugaannya meleset.

Park Soo Jin tidak mencalonkan Jiyeon sebagai presiden Korsel. Begitu juga dengan Kim Myungsoo. Laki-laki berdarah Korea Utara itu batal mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat presiden Korut.

“Bukankah ini adalah hal yang paling membahagiakan, Nyonya?” tanya Siwan yang terpaksa menyaksikan kemarahan Haeri di ruang tamu kediaman Junsu.

Wajah Haeri merah padam. “Bisa saja ini hanya jebakan.”

“Jebakan? Mana mungkin? Kenapa begitu?” Junsu malah bingung dengan jalan pikiran Haeri.

Haeri mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan itu terlalu luas ditempati oleh tiga orang yang sedang berdiskusi.

“Jika Jiyeon tidak dicalonkan sebagai presiden, itu artinya Soo Hee memiliki peluang yang lebih besar memenangkan pemilu nantinya.” Siwan mencoba membesarkan hati Haeri agar wanita itu tidak melampiaskan kemarahan pada dirinya.

“Kita belum dapat menarik kesimpulan semudah itu. Tunggu, kenapa PM Shim mencalonkan diri sebagai presiden?” tanya Haeri pada Junsu dan Siwan. Ia selalu meminta pendapat para pengikutnya.

“Masalah itu tidak perlu dikhawatirkan, Nyonya. Bukankah masuk akal jika PM Shim ingin kedudukan yang baru sebagai presiden. Dia telah menjadi perdana menteri. Apa salahnya kalau dia mencalonkan diri sebagai presiden Korsel?” Junsu mengambil pemikiran positif terhadap pencalonan PM Shim.

“Lalu rencana apa yang akan dilaksanakan oleh Soo Jin?” Haeri bertanya-tanya dalam hati. “Kita tidak boleh kalah,” serunya tiba-tiba.

Siwan dan Junsu tercengang mendengar suara Haeri yang lantang itu.

“Ah, ne, Nyonya. Anda benar, kita tidak boleh kalah.” Junsu tergagap saat bicara karena terlalu kaget mendengar suara Haeri tadi.

Pemilu Korut telah dilaksanakan. Beberapa petinggi negara-negara di dunia heran dengan pembatalan Myungsoo sebagai calon presiden Korut. Rupanya putra presiden Kim itu sengaja mengundurkan diri karena adanya perubahan rencana yang telah disusunnya bersama presiden Kim dan PM Lee.

Berita tentang pengunduran diri Kim Myungsoo dan pelaksanaan pemilu di Korut telah sampai di telinga Jiyeon. Ia tidak ingin terlalu serius menanggapi kabar tersebut. Dia yakin bahwa ini adalah salah satu rencana dari pemerintah Korut untuk menghancurkan Korsel. Jiyeon tidak bisa melupakan isi surat yang ditulis oleh PM Lee kepada Myungsoo melalui jasa pengiriman burung Rajawali.

“Jiyeon-a, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?” tanya Soo Jin yang tengah menyisir rambut lurus dan lebat milik Jiyeon.

“Tentang apa, Eomma? Tentang Korut?” tanya Jiyeon memastikan.

Soo Jin hanya tersenyum.

“Pertanyaan itu lebih tepat jika ditujukan kepada Soo Hee, Eomma. Dia adalah istri Kim Myungsoo.”

“Apa mungkin alasan Myungsoo mengundurkan diri dari pencalonan itu adalah Soo Hee?” tebak Soo Jin.

Jiyeon mengangkat alis kanannya. “Jongmal?”

“Entahlah, eomma hanya menebak-nebak.”

“Atau ada alasan lain?” Jiyeon ikut menebak. Alasan yang dimaksud oleh Jiyeon adalah sesuatu yang tertulis dalam surat PM Lee.

Soo Jin menatap putri cantiknya. “Apa maksudmu, Jiyeon-a?”

“Ah, bukan apa-apa. Eomma, pernah kah eomma merasakan patah hati?”

“Tidak. Memangnya kenapa? Apakah kau sedang patah hati?” tanya Soo Jin balik.

Jiyeon menggeleng dengan ragu. Dia tersenyum kecut. “Bukan aku. Ada seseorang yang sedang mengalaminya. Entahlah, dia bilang patah hati itu menyakitkan. Mungkin bagi beberapa orang, patah hati itu merupakan suatu pemicu semangat sehingga mereka tidak lagi bersedih karena rasa sakit.”

Soo Jin mendengarkan cerita Jiyeon namun tiba-tiba….

Kriiing! Kriiing!
Suara telepon berdering. Kedua ibu dan anak itu terlonjak kaget, terutama Soo Jin karena awalnya dia mendengarkan cerita Jiyeon dengan sungguh-sungguh.

“Aku saja yang mengangkat telepon itu, Eomma.” Jiyeon beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekati telepon yang tengah berdering heboh itu. “Yoboseo….”

“Yoboseo, Park Jiyeon.”

Deg!
Suara itu membuat Jiyeon terpaku di tempatnya dan jantung berdegub kencang. “M, Myungsoo?”

Myungsoo menyunggingkan senyum di seberang sana. Dia nekad menghubungi telepon kediaman presiden Park menggunakan ponsel pribadinya. Perasaannya menagtakan bahwa orang yang akan mengangkat telepon darinya adalah Jiyeon. Rupanya benar.

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Jangan pernah menyerah walaupun kau terdesak. Jika kau menyerah, maka aku yang akan mengibarkan bendera Utara di tanah kelahiranmu.”

Jiyeon merasakan sesak di dadanya. Kata-kata Myungsoo sangat menusuk. “Tenang saja. Aku tidak akan menyerah untuk melawan orang sepertimu.”

Klik!

Jiyeon memutuskan sambungan telepon. Dia tidak sanggup lagi mendengar suara Myungsoo yang mengatakan sesuatu yang dapat membuat hatinya terasa ditusuk-tusuk.

“Siapa yang menelepon, Jiyeon-a?” tanya Soo Jin dari jarak yang agak jauh.

Jiyeon menggeleng dan tersenyum. “Salah sambung, Eomma.”

“Salah sambung? Bagaimana bisa dia salah sambung ke nomor kediaman presiden?” Soo Jin merasakan ada sesuatu yang aneh.

Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini, Eomma.”

“Ah, kau benar juga.”

Tbc

24 responses to “[Chapter 16] Love is not A Crime

  1. Pingback: [Chapter 17] Love is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. aigo… itu kan bener! jawaban myungsoo nusuk bener,, dia akan berusaha untuk mencintai soo hee. dia bahkan nggak berusaha lebih buat nemuin jiyeon. bagaimanapun dia akan menyesal kalo tahu selama ini jiyeon lah yang paling menderita sejak dia lahir. kecuali jika benar2 myungsoo tidak lagi mencintai jiyeon. sekarang dia bahkan bermain politik dengan jiyeon dengan sedikit memperingati. sungguh  aku khawatir karena memikirkan bagaimana nanti kalo jiyeon hanya akan berakhir dg nasib seperti ratu seondeok di drama queen’s of seondeok!😥

  3. Sohe sm myungsoo jd nikah aku kira akan batal tyta gk Apa yg akan terjadi slanjuty makin pnasaran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s