[CHAPTER – PART 2] Skinny Love

skinny-love-by-little-thiefSkinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Lee Jieun, Choi Minho

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Pagi harinya, dia tak bisa menunda lagi. Melupakan semua tetekbengek tentang kuliahnya, pukul enam pagi tepat, dia berangkat pergi sebelum Ayah dan adiknya menyadarinya. Meninggalkan hanya secarik pesan di meja makan bila Sooyoung akan bergegas sarapan nanti.

Jiyeon, dengan semangat baru, masih dengan tas ransel di pundak, mulai berjalan ke jalan yang persis sama seperti semalam. Yang mengarahkannya kepada Moong Café. Entah kenapa, tapi Jiyeon merasa bisa menemukan titik terang di tempat itu. Pemilik itu tampaknya berbaik hati bila dia akan bekerja di sana.

Fajar mulai menyingsing, menerangi jalanan kecil kota Seoul. Udara pagi menyapanya. Cahaya merambat lurus dari arah timur, menuju tepat ke wajahnya. Membuat Jiyeon merubah posisinya agar tidak terkena sinar matahari. Dia bergeser ke kiri. Kemudian, ia melihat Moong Café sudah persis di depannya. Yang harus ia lakukan tinggal menyebrang, masuk, dan berbicara lebih lanjut dengan pegawai di sana. Atau mungkin dia harus mendatangi Minho. Ah, kenapa segalanya jadi tambah rumit?

Jiyeon menyebrangi jalan dengan langkah pelan. Siapa yang mau berlari, karena jalanan pun masih cukup sepi. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Tata jalanan ini mengingatkannya seperti nuansa kuno kota Inggris yang pernah dia lihat dari beberapa foto temannya. Ruko-ruko tua di pinggir jalan, orang-orang bersepeda, lampu merah, jembatan penyebrangan, tiang-tiang lampu dan telepon umum. Semuanya hampir persis. Persis dengan nuansa Moong Café yang sama kunonya, dan itu semua terlihat bahkan sudah dari seberang jalan.

Tepat ketika Jiyeon sudah mencapai ujung jalan, seseorang membalik sebuah plakat yang digantung pada sisi tengah pintu. Plakat itu tadinya bertuliskan ‘Tutup’ dan setelah orang itu membaliknya, akhirnya kafe itu resmi dibuka untuk hari ini.

“Masih adakah yang buka kafe jam segini?” Jiyeon keheranan. Melirik jam tangannya. Pukul setengah tujuh. Dia berharap, dengan begitu lebih baik. Setidaknya jika ia mendaftar untuk jadi pekerja di sana lebih awal, tak akan banyak pegawai yang mendesis melihatnya sebagai ‘anak bawang’.

Baru ketika akan membuka pintu, ia mendengar sayup-sayup suara seseorang yang tak asing lagi. Suara itu begitu menyebalkan, seolah Jiyeon baru saja mendengar suara seorang musuh lamanya. Ia menoleh ke samping kirinya, dan melihat seorang pria jangkung dengan parfum aroma Prancis menguap dari tubuhnya, tak jauh darinya. Hanya beda beberapa langkah.

Siapa lagi kalau bukan si Pelayan Minho.

Entah alasan apa yang membuat Jiyeon langsung waswas begitu melihat pria tersebut. Dia sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang menjual lollipop, permen dan kembang gula. Entah kenapa terlihat kebaikan terselip di dalam dirinya ketika ia melihat-lihat beberapa permen dan tertawa bersama si penjualnya.

Ah, biarkan saja. Karena yang ada di depannya anak kecil. Coba saja di depannya adalah Jiyeon, sudah bisa berkelahi mereka. Namun Minho sepertinya menyadari siapa yang sedang mengawasinya, dia mendadak menoleh ke belakang dan mendapati Jiyeon sedang melihatnya.

Tapi gadis itu tak punya waktu untuk kabur sama sekali. Sebagai gantinya, dia memberi tatapan mengancam pada Minho.

“Hei, kau,” Pria itu justru menyapanya, suaranya terdengar lebih ramah daripada kemarin, walaupun nada menyebalkan itu tetap ada. “Sedang apa di sana?”

Jiyeon melepaskan genggamannya pada pintu. Maka dengan ragu dia berjalan mendekati Minho, dan pria itu masih terus menawar-nawar permen dan kembang gula.

“Wah, harusnya kau mencoba beberapa variasi rasa kalau begitu. Di dekat sini, ada toko yang menjual perasa makanan. Mungkin kau bisa beli di sana.” Minho mengatakan kepada anak kecil penjual permen, dan merogoh uang dari sakunya. “Aku beli kembang gula yang ini.”

Jiyeon hanya menatap ketika anak kecil itu membawa kantong yang penuh dengan tumpukan lollipop, permen, dan kembang gula. Tubuh penjual itu kurus kering dan kepalanya botak. Wajahnya tak beda jauh seperti anak-anak korban perang. Melihat Minho begitu baik padanya, mungkin pria itu akan baik kepada dirinya juga, yang nasibnya tak beda jauh dari anak penjual permen ini.

Minho melihat Jiyeon menatap kantong itu penuh keinginan, dan menawarkan. “Kau mau?”

Jiyeon menatap Minho ragu, tapi dalam hati dia ingin mengangguk.

Minho menganggukan kepalanya, “Ambil saja. Simpan kembalian itu untukmu dan orang ini.”

Minho berbalik pergi, memasuki Moong Café, dan menghilang ke balik pintunya. Jiyeon baru akan mengejarnya ketika anak itu berkata, “Jangan sia-siakan kebaikannya. Ambil saja ini.”

Jiyeon menolehkan kepalanya, memusatkan perhatian kepada anak penjual permen. “Aku bisa dapat berapa?”

“Tiga kembang gula ukuran besar,” katanya, jujur, “Orang tadi memberikan uangnya kelebihan padaku. Karena aku tak punya uang kembalian.”

Jiyeon mengangguk, dan merogoh beberapa permen yang kelihatannya manis. “Oke, aku akan ambil ini.”

“Bilang aku berterimakasih kepada Tuan itu.”

Jiyeon tertegun dan mengangguk, kemudian berbalik ke arah kafe seraya membuka permennya. Sudah dua kali dia mendapatkan makanan dari Minho ini, padahal kenal dekat saja tidak. Maka Jiyeon memutuskan berhenti berpikir negatif. Ia menghela napas dalam-dalam dan kemudian memasuki kafe tersebut.

Ketika sudah memasuki kafe, dia terdiam. Tak ada orang sama sekali. Yang dia temui hanyalah seorang kasir, sudah siap memakai seragam kerjanya, melipat tangan melihat kehadirannya.

“Apa keperluanmu datang ke sini?” suara berat Minho menyapanya lagi.

Jiyeon menengok ke arahnya dan berjalan ke arahnya, melepas permen dari mulutnya, “Aku…mau berterimakasih. Maksudku, permennya.”

“Itu tidak penting,” Minho membersihkan sela-sela kembang gula di giginya, “Nah, hanya itu saja? Menurutku tidak.”

Jiyeon agak ragu mengucapkannya. “Eh, aku ingin, maksudku, menawarkan diri?”

Minho menautkan alis, “Kau yakin?”

Jiyeon merasa tersinggung, tapi dia yakin Minho bertanya itu karena sudah merupakan pelayan terlatih di sini. Jadi tak ada guna baginya untuk marah-marah. “Yakin.”

Minho menunduk ke laci di bawah meja kasir, langsung tak terlihat ketika didengarnya ia membuka sebuah laci dengan keras, mengambil sesuatu, dan menutupnya kembali.

Ia berdiri lagi dengan sebuah buku catatan kumal di tangannya. Ia melihat buku tersebut dan menelusuri tiap kata-kata dengan jari telunjuknya. “Hm, coba kulihat. Hunjae? Dasar anak pemalas…ah, ya, yang ini dia masih bekerja, yang ini hanya kerja jam sore, yang ini hanya hari Rabu, yang ini kalau hanya maunya saja…”

Selagi Minho berkomat-kamit, Jiyeon melihat seseorang membersihkan meja dan kursi kafe. Entah siap ia. Orang itulah yang tadi membuka kafenya. Ketika sedang termenung menatapnya, Minho bergumam keras. Membuat Jiyeon terlonjak kaget.

“Nah! Orang ini, Byun Baekhyun, baru saja mengundurkan diri seminggu yang lalu karena entah apa. Dan belum ada yang menggantikan.” Minho menutup catatannya, dan menatap Jiyeon seolah memberikannya harapan.

Mata Jiyeon langsung berbinar, “Jadi…aku bisa bekerja di sini?” tanyanya ceria.

“Memangnya semudah itu? Tidak seinstan itu, Nona,” sahutnya, dan menatap ke jalanan dari arah pintu. Jalan belum ramai juga, jadi belum ada yang memasuki kafe. Lagipula siapa juga yang akan masuk ke sini pada sepagi ini?

Minho membungkuk dan meletakkan catatan itu kembali pada lacinya, dan melipat tangannya. Berlagak berkuasa. “Sebelum itu, ada pelatihan untukmu. Kau sudah yakin benar, bukan? Kau harus kumpulkan dokumen. Lalu, kami melatih kesopananmu, ketangkasan, kecerdikan, keterampilan, etikamu, kerapihan dan penampilanmu. Ada banyak yang harus dinilai karena ini bukan kafe sembarangan.”

“Ya, lalu apa?” dengus Jiyeon, dia tak tahu begitu banyak konsekuensi yang harus dihadapinya.

“Pertama, kau harus temui dulu pemiliknya.” Desis Minho. Ketika mendengar kata terakhir, hati Jiyeon mencelos dan terlonjak. Dadanya langsung berdegup kencang. Entah mengapa, dia merasa takut walaupun dia tahu pemiliknya pasti baik.

“Dimana?”

“Mana mungkin kau datangi dia sendiri,” dengus Minho, sebal. “Seluruh pekerja di sini aku yang melatih mereka pertama kali karena memang aku yang pertama bekerja di sini. Ini kafeku dan kafe temanku itu. Hanya saja dia yang memilikinya. Aku yang bekerja. Sebetulnya aku pemilik kafe ini juga, jadi jangan sembarangan.”

“Iya, iya.” Jiyeon mengangguk patuh.

“Jadi, tunggu sebentar di sana.” Ujarnya, kemudian dia menghilang ke arah pintu dapur. Dari sana terdengar dia menapaki beberapa anak tangga logam untuk naik ke atas dan memanggil seseorang.

“Myungsoo!” sayup-sayup suaranya terdengar dari lantai atas. Jiyeon tak tahu kafe ini punya dua lantai, tapi dia tak peduli sama sekali.

Saat itu rasanya sangat lama menunggu. Lima belas menit Minho tak kembali. Sedang apa dia? Bermain catur? Maka Jiyeon duduk di salah satu meja dan melihat ke luar jalanan yang mulai padat. Tapi kebanyakan dari mereka akan berangkat bekerja, jadi belum ada yang masuk ke sini.

Lima menit kemudian, seorang wanita masuk dan menatap Jiyeon dengan ramah dan penuh senyum. Jiyeon membalasnya dengan kikuk ketika wanita itu mengucapkan selamat pagi. Kemudian dia berjalan menuju ke arah dapur dan kembali ke meja kasir, sudah lengkap dengan seragamnya.

“Halo, tampaknya kau tidak akan membeli, ya?” sapanya dengan senyum, tapi tangannya sibuk melakukan entah apa.

Jiyeon menggeleng. Dan sekaligus merasa malu.

“Mendaftar?” tanyanya ulang, “Menggantikan Baekhyun, ya?”

Jiyeon tak tahu siapa Baekhyun itu, tapi ia mengangguk. “Minho sedang mengurusnya di atas.”

“Oh, pasti lama. Dia memang selalu begitu. Dia dan Myungsoo, maksudku, si pemilik, selalu menyeleksi seluruh pegawai di sini.”

Entah mengapa, mendengar hal itu, Jiyeon semakin bertambah takut ia tak bisa bekerja lagi dan akhirnya mati kelaparan.

“Tunggu, darimana kau mengenal Minho?” tanya perempuan itu, mengerutkan dahi, menatap Jiyeon dari atas sampai bawah. “Oh astaga, kau bukannya yang pingsan itu kemarin?”

Jiyeon merasa fakta memalukan bahwa dia pingsan di depan umum tak harus diceritakan, apalagi disebut-sebut dengan nada terkejut. Tapi dia hanya mengangguk dan perempuan itu terkikik kecil.

“Pantas saja kau mengenalnya, pemilik ini yang mengutus dia untuk menjagamu. Kau sudah tahu bukan? Pasti perkenalan pertamamu tak menyenangkan.”

Jiyeon mengangguk setuju, merasa bingung kenapa perempuan ini tahu. “Kau dulu juga begitu saat bertemu dengannya?”

“Ya. Jahat sekali, dia itu. Tapi ketika seminggu aku berada di sini, keterampilan kerjaku mulai terlihat, dia langsung ramah dan baik sekali. Memang semua orang tak menyukainya begitu pertama kali kenal dengannya. Tapi dia begitu tegas dan disiplin. Makanya, aku hormat sekali padanya.” Katanya, merapikan beberapa uang dari mesin kasir, “Oh, ya, namaku Lee Jieun kalau mau tahu. Panggil saja Jieun.”

“Hai,” entah mengapa, keramahannya membuat Jiyeon mudah menyapanya dan tersenyum lebar, “Aku Park Jiyeon. Panggilah Jiyeon.”

Tapi tepat setelah itu, Minho sudah keluar dari pintu dapur, dan kembali ke meja kasirnya, dagunya menunjuk ke belakang, ke arah pintu sebelum Jiyeon sempat protes. “Kau akan bicara padanya sebentar.”

Jiyeon menutup mulut dan menunggu dengan berdebar siapa sosok yang akan menemuinya, mewawancarai atau mengetesnya, atau apalah sejenisnya. Siapa sosok pemilik kafe ini dan siapa yang kemarin membawanya ke rumah sakit, dan membawakannya roti-roti kering.

Tanpa sadar, jarinya mengetuk-ngetuk meja, wajahnya tegang. Jieun tersenyum simpul, “Jangan ketakutan begitu. Kau takkan disayat atau semacamnya.”

Tapi Jiyeon tetap saja berdebar, matanya tertancap lurus pada pintu dapur. Akhirnya terdengar suara bunyi pintu berderit terbuka, dan keluarlah sosok pria bertubuh kurus dan berwajah tegas.

Gadis itu menahan diri untuk tidak terlonjak dan jatuh. Dia merasa jantungnya akan melompat keluar. Dia tak sadar bahwa matanya sudah melotot sedari tadi karena tegang. Orang yang keluar dari pintu dapur itu menutup pintu di belakang dan kemudian menatap Jiyeon, wajahnya terlihat tak suka.

Saat melihat siapa orang itu, hati Jiyeon mencelos. Dia mengenalnya. Orang itu pria berjas hitam semalam, yang ditemuinya dari pintu kaca! Dugaannya selama ini ternyata benar. Tapi tatapannya tak seramah semalam. Tatapannya tidak juga menunjukkan bahwa dia yang berbaik hati mengantarkannya ke klinik darurat.

Pria itu berdeham, dan duduk di kursi di hadapan Jiyeon. Tanpa disadari tubuh Jiyeon gemetar dan ia ingin kabur. Seharusnya ia tak mendaftar di sini, ya?

“Nama?” tanya si pria singkat, melipat jemarinya.

“Jiyeon.”

“Nama lengkap.” ulangnya lebih tegas.

“Park Jiyeon.”

Pria tersebut mengangkat alis, “Oh, ya, Minho sudah cerita padaku. Jadi, aku sedang bergembira di ruang kerjaku ketika para pelayan memberitahu bahwa kau terjatuh—“

“Ya, aku sudah tahu,” potong Jiyeon tiba-tiba, dia merasa malu bila cerita itu disebarkan sekali lagi.

“Seharusnya calon pelayan baru tidak boleh memotong cerita.” Balasnya tajam.

Jiyeon terdiam dan berbisik meminta maaf. Maka pemilik itu kembali melanjutkan.

“Namaku Kim Myungsoo, pemilik kafe ini. Umurku dua puluh tiga. Aku tahu kita seumuran, tapi bagaimanapun, aku atasanmu. Ralat, maksudku, aku calon atasanmu. Kau belum tentu bisa diterima di sini.”

Hati Jiyeon berkomat-kamit agar Myungsoo mau melunak dan segera menerimanya jadi pelayan. Dia tak suka segala macam proses yang menyebalkan. Tapi dia memilih untuk tetap diam.

“Jadi, Minho akan melatihmu sementara aku mengawasi. Kuharap kerjamu lebih baik daripada Baekhyun. Bisa memasak?”

Jiyeon mengangguk. Tentu saja dia bisa. Tapi dia tak punya banyak makanan di rumahnya, jadi memasak adalah satu hal yang jarang dilakukan baginya. Dia lebih banyak menunggu keberuntungan.

“Bagus. Apa pendidikanmu?” kali ini Myungsoo mengeluarkan sebuah buku catatan dan pensilnya, menatapnya.

“Ehm, kuliah. Psikologi.”

“Oke, aku hanya akan menanyakan itu. Kau harus bawa dokumenmu besok. Ckup biodata singkatmu saja. Mulai dari namamu sampai makanan kesukaan sampai kapan saja waktu luangmu. Ada satu hal terlewatkan, maka kau tidak kuterima.”

Tanpa disadari gigi Jiyeon bergemeletuk.

“Jadi besok kau bawa biodatamu itu, kita akan berwawancara lagi sebentar, dan setelah itu kau akan dilatih selama beberapa hari. Mungkin sangat banyak, tapi ketelitian, sopan santun, kejelasan bicara dan keterampilan, itu yang paling penting. Aku tak mau menerima pegawai yang bicaranya terlampau cepat dan kumur-kumur.”

Jiyeon mengangguk, meremas tangannya sendiri yang agak berkeringat.

“Kurasa sudah?” timpal Myungsoo sedikit bergumam.

“Eh, ya, kurasa. Apa engkau ingin menambahkan?”

Myungsoo melayangkan satu senyum penuh arti. “Bekerjalah dengan sebaik-baiknya.”

-T B C-

44 responses to “[CHAPTER – PART 2] Skinny Love

  1. huh myungsoo nyebelin bggt sih, sok sok tegas gmna gth,, tp ga cocok jd atasan kaya gth,, hahaha jd ngebayangin pasti lucu bggt deh ngeliat muka myung yg sok tegas itu,,

  2. Wkwkw..myungsoo ssma minho sama2 menyebalkan kurasa .
    Terlalu tegas sih. HAhaha
    Keringat dingin juga lihat jiyeon diinterview sama myungsoo.
    Wkwk

  3. Ya ampun aku sampai ikut deg2an kya jiyeon saat ia diwa2ncara oleh myungsoo… Trnyata myungsoo sma sprti minho sangat tegas, tpi mungkin beda’y minho sedikit trlihat bersahabat dgn jiyeon dibanding myungsoo. Mungkin krna blm mengenal lama kli yah…. Ach, entahlah…. Next….😀

  4. apalah myungsoo mencurigakan banget disini =)) wkwk secamacam kae modus gitu =)) tapi tau deh kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s