[CHAPTER-PART 4] Kill Me, Love Me

Kill Me, Love Me by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Minor Cast(s):  Jung Krystal, Lee Jongsuk, Kim Taehyung|| Genre(s):  Fantasy, Mystery, Romance. || Length: Chapters || Rating: PG – 15 || Awesome poster by Mutia.R @HSG

Note: Maaf untuk typo(s) yg bertebaran

Happy reading!

Flashback.

Dalam tujuh hari, minggu menjadi hari yang ditunggu-tunggu orang untuk menghabiskan waktu luang mereka, entah itu untuk istirahat atau bepergian bersama keluarga. Begitu pula kedua pemuda yang sedang menunggu pesawat mereka lepas landas, Jongsuk dan Taehyung. Ya, dihari minggu yang cerah ini mereka memutuskan untuk berlibur ke Jepang.

“Hyung, aku punya firasat buruk.” Ucap Taehyung seraya duduk setelah keduanya membeli beberapa makanan ringan untuk mengisi perut mereka.

“Apa?” Jongsuk menaikkan sebelah alisnya. Sejujurnya ia meragukan sepupunya, pasalnya Taehyung juga pernah mengatakan seperti itu ketika mereka berlibur ke pulau Jeju, dan hasilnya ternyata Taheyung hanya lupa tidak membawa dompetnya.

Aneh, memang.

“Entahlah, yang pasti bukan tentang kita melainkan tentang orang tuaku.” Jelas Taehyung.

Tepat ketika Taehyung menyelesaikan perkataanya, mata keduanya menangkap sosok yang tidak asing yaitu paman Taehyung dan Jongsuk─Choi Wonyoung─sedang mendorong peti yang berukuran cukup besar dengan raut muka yang terlihat gelisah.

Ada apa? pikir keduanya.

“Taehyung-ah, ada yang aneh dengan pamanmu.” Ucap Jongsuk sambil terus memperhatikan Wonyoung yang berjalan kesana kemari.

“Kau benar, hyung. Ayo kita coba tanyakan saja.” Ajak Taehyung seraya berjalan menghampiri pamannya. Jongsuk menaikkan sebelah bibir atasnya melihat Taehyung yang sudah terlebih dahulu melesat meninggalkannya.

Taehyung dan Jongsuk menautkan kedua alis mereka karena Wonyoung seakan tidak menyadari kehadiran keduanya.

Karena terlalu lama menunggu, Jongsuk memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu,“Paman, apa yang kau lakukan disini dengan peti sebesar itu?” pertanyaan yang ia lontarkan sukses membuat orang yang berada didepannya itu terperajat.

“Yak! Kau mengagetkanku!” Pekik Wonyoung. Namun, setelah ia mengenali dua orang itu adalah keponakannya, ia tertegun.

“Ada apa, paman?” Tanya Taehyung. Ia berfikir ada sesuatu yang tidak beres dengan pamannya.

Sebelum menjawab pertanyaan Taehyung, Wonyoung menghela nafas seraya mempersempit jarak diantara mereka─seakan tidak boleh ada yang mengetahui apa yang akan ia sampaikan.”Gagak sedang melakukan penyeragan besar-besaran.”

Jongsuk dan Taehyung terbelelak. Mereka tahu setiap hari minggu di bulan kedua musim panas, para Phantom rutin melakukan pertemuan untuk menjaga kedamaian antar Phantom. Namun, keduanya tidak percaya informasi sepenting itu telah bocor, terlebih kepada musuh mereka. Para Gagak.

“Apa?!” Pekik Jongsuk,”sebaiknya kita harus segera kembali dan membantu yang lainnya, paman.” Jongsuk sudah tidak perduli lagi dengan liburan ke Jepang, begitupula Taehyung.

Keduanya meruntuki keputusan mereka. Andai saja mereka ikut hadir dalam pertemuan itu, mereka pasti sedang membantu yang lainnya. Jika seperti ini keadaanya, mereka seakan-akan telah menjadi seorang pengecut. Lari ke negeri orang untuk bersembunyi. Tidak. Keduanya tidak ingin dianggap seperti itu.

“Baiklah. Tapi sebelum itu, aku butuh bantuan kalian.” Ucapnya, “Tolong kalian kirimkan peti ini terlebih dahulu, sebab aku harus membantu tuan Biru dan yang lain secepatnya.” Tehyung dan Jongsuk tahu paman mereka adalah orang kepercaayaan tuan Biru. Sebutlah sekertaris.

Tanpa diketahui keduanya, Wonyoung berbohong. Alih-alih diminta membantu tuan Biru─Park Yoochun─yang notabennya adalah atasannya, ia justru diminta untuk kabur bersama dengan orang yang berada dalam peti yang ia bawa. Namun nuraninya bergelut, ia ingin disini bersama yang lain. Hidup atau mati tidak masalah asalkan ia ikut melawan.

Beruntunglah ia bertemu dengan kedua keponakannya itu. Ia bisa kembali lebih cepat.

“Ada apa dalam peti ini, paman?” Tanya Taehyung penasaran.

“Si Biru.” Jawab Wonyoung singkat.

“Apa?!” Pekik keduanya. Alasan kenapa keduanya sangat terkejut adalah karena mereka belum pernah melihat sosok dua Phantom biru yang lain selain Yoochun.

“Baiklah. Kemana kami harus mengirimnya?” Tanya Jongsuk. Sebenarnya ia sangat ingin melihat bagaimana rupa dari si Biru yang ada di dalam peti itu, namun saat ini ia tak punya waktu untuk melakukannya.

“Ke Paris. Ini alamatnya.” Wonyoung menyerahkan secarik kertas kepada Jongsuk. Lantas, ia menatap Jongsuk dan Taehyung secara bergantian.”Kalau begitu aku pergi sekarang. Jika sudah selesai, kalian juga cepatlah menyusul!” Ucapnya seraya dibalas anggukan oleh keduanya.

Flashback end.

Hyung!” Taehyung berteriak tepat didepan telinga Jongsuk. Hal itu sukses membuat Jongsuk yang tengah berbaring di sofa terperajat kaget.

“Yak! Kau ingin mati?!” Ucap Jongsuk, marah.

Taehyung mengerucutkan bibirnya.”Habisnya sudah kupanggil berulang kali, tapi hyung tetap saja tidak mendengar.” Ucapnya,”Sebenarnya kau sedang memikirkan apa, hyung?”

Jongsuk menghembuskan nafas terlebih dahulu sebelum memberi tahu apa yang tengah ia pikirkan tadi.”Aku sedang mengingat hari dimana kita mengantar si Biru.” Ujarnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk.

“Jika kuingat hari itu, entah kenapa bayangan mayat-mayat yang berserakan itu tak mau enyah dari benakku…” Ucap Taehyung seraya duduk disamping Jongsuk.”…termasuk orang tua kita.”

Jongsuk bergeming. Hatinyapun terasa sakit jika mengingat itu semua. Mengingat kejadian minggu kelabu dimana mereka terlambat datang untuk ikut melawan. Ketika mereka kembali setelah mengurus pengiriman si Biru, keduanya tak melihat apapun kecuali tubuh-tubuh yang tak bernyawa.

Mereka terlambat.

“Sebaiknya kau tidur, Taehyung-ah. Besok kita harus menjalankan rencana kita untuk memastikan apakah si Biru benar-benar kehilangan ingatannya atau tidak.” Ucap Jongsuk mengalihkan pembicaraan.

Taehyung mengangguk. Sejujurnya iapun tak ingin mengingat kejadian itu lagi.”Baiklah, hyung.”

***

Jiyeon’s POV

Kicauan burung dipagi hari mau tidak mau membuatku terbangun dari tidur lelapku. Kubuka mataku─masih melayang-layang antara terjaga dan mimpi. Aku berbaring diam, menunggu mimpiku yang entah indah atau buruk itu memudar.Aku tak ingat, sungguh.

Tidak lama kemudian, kucium aroma gosong yang entah datang dari mana. Lantas, bagaikan tetesan air yang merembes perlahan, kesadaran kecil membuatku terjaga. Perlahan, kusibakkan selimut yang telah melindungiku dari hawa dingin sepanjang malam.

Tunggu…

Ini bukan kamarku, bukan juga kamar Krystal.

Aku mulai panik. Kuedarkan pandanganku kesegala arah, ada playstation tepat didepan televisi, di sudut ruangan terdapat rak yang berisi berbagai bola─mulai dari bola baseball sampai bola basket, lalu yang terakhir adalah sprei bermotif bola. Tidak salah lagi, ini adalah kamar pria.

Oh Tidak!

Sontak kuraba badanku tatkala kuingat kejadian semalam dimana aku hampir saja dilecehkan oleh para ahjussi mabuk. Aku menghela nafas. Syukurlah, baju yang kemarin kupakai masih melekat di badanku. Lantas ini kamar siapa? Pertanyaan itu datang tanpa dikomando. Menurutku, hanya ada satu kemungkinan.

Myungsoo oppa.

Tak membuang waktu lagi, kuputuskan untuk keluar dari kamar, memastikan bahwa asumsiku benar.

Dan ternyata memang benar. Sesaat setelah kuikuti instingku untuk mencari dari mana bau gosong yang sedari tadi menggelitik hidungku, kulihat lelaki itu─Myungsoo oppa─sedang mengibas-ngibasakan tangannya, mengusir kepulan asap yang berwarna abu pekat.

Kulihat ia terbatuk-batuk. Dengan apron yang ia kenakan dan wajah yang hampir dipenuhi dengan tepung, ia tampak lucu. Aku terkikik pelan, mengingat apapun yang dilakukannya tampak selalu menggemaskan.

Well, kecuali semalam tentunya. Ia berbeda. Myungsoo oppa sangat… hebat. Cara dia menghajar para ahjussi mabuk itu tampak seperti dia adalah petarung profesional.

Mengagumkan!

“Jiyeon-ah!” Kulihat Myungsoo oppa tersentak, ia baru menyadari keberadaanku.”Begini. Semalam, saat aku akan menenyakan dimana rumahmu, kau tengah tertidur.” Ucapnya sedikit tergagap,“Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku membawamu ke rumahku.”

Alih-alih merasa marah, aku malah terkikik.”Tidak apa-apa, oppa.” Ucapku seraya mendekatinya.”Aku tahu kau berniat baik.”

Kulihat rona merah terpatri dikedua pipi Myungsoo.”Aku kira kau akan marah.” Ucapnya sambil tertunduk malu.”Kau tahu?  Dari semalam aku memikirkan kata-kata apa yang sebaiknya kuucapkan agar kau tak marah.”

Aku tertawa mendegar perkataanya. Kutepuk bahunya pelan. Pemuda ini─Myungsoo─benar-benar sangat polos.”Tidak, oppa. Aku sangat percaya padamu. Apalagi setelah kejadian sema…”

“Ssstt.” Myungsoo oppa memotong perkataanku sambil meletakan telunjuknya dibibirku.”Anggaplah kejadian itu tidak pernah terjadi, eoh?”

Kutatap tepat ke arah manik matanya. Terlihat kelembutan dan sedikit kekhawatiran disana.”Baiklah, oppa.” Ujarku dengan senyum yang mengembang. Sesaat kemudian, bau gosong itu menggelitik hidungku lagi. Kubalikan badanku dan melihat daging ayam berwarna hitam pekat dalam penggorengan.”Oppa, kau sedang memasak?” Tanyaku.

Myungsoo oppa kembali merona membuatku gemas ingin mencubit pipinya.”Ya. Tadinya aku ingin menyiapkan sarapan sebagai permintaan maafku karena membawamu ke rumahku tanpa izin, tapi… yah, bisa kau lihat sendiri hasilnya.“ Ucapnya sambil menunjuk penggorengan itu.

Aku mendesis,”Kau itu sangat nekad, oppa. Sudah, sekarang kau duduklah yang manis, biar aku saja yang memasak.” Ya. Aku harus melakukan ini, jika tidak Myungsoo oppa bisa saja membakar dapurnya sendiri.

“Ta-ta-tapi…” Sebelum ia mengutarakan penolakannya, kutarik Myungsoo oppa menuju meja makan.

“Jangan kemana-mana oppa, arraso?!” Ucapku sambil menunjuk tepat ke arah wajahnya, lalu berjalan kembali ke dapur.

Tunggu…

Kulangkahkan kakiku kembali kehadapan Myungsoo oppa. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, mungkin merasa bingung mengapa aku berbalik. Kutarik beberapa lembar tissue yang berada di atas meja makan, lalu perlahan membersihkan sisa tepung dari wajah Myungsoo oppa. Bisa kurasakan tubuh Myungsoo oppa seketika menegang, membuat kedua sudut bibirku mau tidak mau naik─membentuk sebuah senyuman.

Kusapu permukaan kulitnya perlahan. Sekarang, sudah tak ada noda apapun di wajahnya. Namun tak sedetikpun kualihkan pandanganku. Entah kenapa aku ingin lebih lama menatap mata bulat, hidung mancung, dan bibir pinknya yang sedikit terbuka. Aku meneguk susah salivaku. Oh Tidak! Apa yang kupikirkan?!

Kurasakan pipiku mulai memanas. Sebelum Myungsoo oppa menyadari hal itu, dengan cepat aku melesat pergi ke arah dapur.

Baiklah, mari lupakan sejenak perasaan aneh itu dan kita lihat apa yang ada di dalam kulkas ini. Kujentikkan jariku saat melihat bahan-bahan ini cukup untuk membuat satu set menu lengkap ala Korea. Ya. Tak perlu heran karena aku memang bisa memasak makanan khas Korea mengingat aku ikut kelas memasak saat di Paris.

Author’s POV

Tigapuluh menit kemudian semuanya sudah siap. Galbi (iga panggang), Kongnamul Bab (nasi dengan tauge), Spicy Seafood Salad, Oi Naengguk (sup mentimun dingin), dan Moo Saengchae (kimci dari lobak yang diiris-iris) telah tersaji di meja makan.

Oppa, ayo makan” Ajakan Jiyeon sepertinya menyadarkan Myungsoo yang sedari taditak berkedip memandang makanan yang disajikan gadis itu.

Walaupun belum benar-benar pulih dari keterkejutannya, Myungsoo sebisa mungkin mengangguk. Ia mengambil sedikit Galbi dan Kongnamul dengan sumpit, lalu memasukaannya ke mulut.”Hmm, mashita!” Ucapnya.”Kau jago sekali memasak.”

Jiyeon tersenyum, senang karena Myungsoo menyukai masakannya. Setelah mendengar pujian dari Myungsoo, iapun mulai memakan hasil masakannya.

Keundae, oppa. Apa orang tuamu tidak apa-apa? maksudku, kau tidak dimarahi karena membawa seorang gadis menginap dirumah?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Sebenarnya aku disini  tinggal berdua bersama ayahku, ibuku telah meninggal saat melahirkanku.” Ucapnya,”Ayahku sekarang sedang melakukan perjalanan bisnis.” Myungsoo berbohong. Ayahnya bukan sedang melakukan perjalanan bisnis melainkan sedang menyelidiki dimana Phantom berada.

Jiyeon mengangguk. Ingin sekali dirinya menanyakan apa pekerjaan ayah Myungsoo namun ditahannya karena ia rasa belum cukup dekat dengan Myungsoo.

*

*

Jiyeon keluar dari kamar Myungsoo. Setelah sarapan tadi, Myungsoo menyarankan Jiyeon untuk menyegarkan badannya dahulu sebelum mengantarnya pulang. Jiyeon menurut. Tak ada salahnya mandi mengingat kemarin ia hanya mandi satu kali. Sedikit membuat dia malu, memang.

Ketika akan menuruni tangga, indera pendengarannya menangkap suara aneh seperti barang jatuh. Ia melihat ke sekeliling. Di lantai dua itu hanya pintu kamar Myungsoo dan rak buku yang berada di sudut ruangan. Jiyeon berfikir mungkin itu buku yang jatuh. Ia lantas berjalan mendekatinya, namun ia sama sekali tak melihat apapun dilantai. Buku-bukupun terlihat rapi.

Lantas apa?

“Jiyeon-ah, kau sedang apa?”

Mendengar hal itu, Jiyeon sontak mengalihkan pandangannya. Dilihatnya Myungsoo sedang menatapnya penuh selidik. Pancaran mata itu seakan penuh kecurigaan, tajam. Untuk sesaat Jiyeon merasa terintimidasi, namun ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan tatapan itu.

“Aku mendengar ada suara benda jatuh. Kukira itu berasal dari buku didalam rak ini, tapi aku tidak menemukan benda apapun dilantai.” Jelas Jiyeon.

Setelah mendengar penjelasan Jiyeon, tatapan Myungsoo melembut.”Mungkin kau salah dengar, Jiyeon-ah. Kajja, kita pergi saja.” Ajak Myungsoo.

Jiyeon menghendikkan bahu.”Mungkin memang benar hanya perasaanku saja. Kajja oppa.” Ucap Jiyeon sambil merangkul lengan Myungsoo. Kali ini, alih-alih merasa gugup, Myungsoo malah tersenyum kegirangan.

Jiyeon…

Jiyeon menghentikan langkahnya sesaat setelah ia mendengar bisikan seseorang.

“Ada apa, Jiyeon-ah?” Tanya Myungsoo heran.

“Tidak apa-apa, oppa. Kajja!” Jawab Jiyeon seraya berjalan kembali. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Mungkin.

Ketika keduanya telah berada diluar, Jiyeon tiba-tiba memekik,”Oppa, kau tinggal di perumahan mewah ini?!”

Pertanyaan itu berhasil memunculkan kerutan di dahi Myungsoo.”Ya, memangnya kenapa, Jiyeon-ah?” Tanya Myungsoo heran.

Jiyeon mencondongkan badannya ke depan, mencari papan yang selalu ada disetiap blok perumahan.”Rumah sahabatku juga disini, tepatnya di blok 4. Ini blok berapa, oppa?”

Myungsoo semakin bingung.”Ini blok 8. Keundae, kenapa kau menyebut rumah sahabatmu? bukankah kita akan pergi ke rumahmu?”

Ah matta, aku belum menceritakannya padamu…”

Setelah mengatakan hal itu, Jiyeon menceritakan semuanya, mulai dari Paris, hilang ingatan, dan niatnya kembali ke Korea. Selama mendengarkan cerita Jiyeon, Myungsoo tampak berseri-seri karena berhasil mengetahui lebih banyak info mengenai gadis pujaannya itu.

Namun, ada hal yang mengganjal di dalam hatinya. Mengenai ingatan Jiyeon yang hilang. Entah kenapa setetes ketakutan mengusik dirinya. Bagaimana jika setelah Jiyeon mengingat masalalunya, dia akan terasingkan dari kehidupan Jiyeon. Bodoh, memang. Memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

Karena jarak rumah yang dimaksud Jiyeon sangat dekat, keduanya memutuskan untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Jiyeon bercerita banyak hal tentang Paris hingga tak terasa kini mereka sudah sampai di rumah Krystal.

“Kita sudah sampai, oppa.” Ucap Jiyeon.

“Hmm…” Myungsoo mengangguk.”Jiyeon-ah, sekali lagi maafkan aku. Andai saja aku tahu rumah sahabatmu sedekat ini, kau tidak perlu tidur di kamar laki-laki.” Ucapnya sedikit menyelipkan candaan.

Senyuman Jiyeon mengembang.”Tak apa, oppa.” Ia berjinjit, lalu mencium pipi kanan Myungsoo.”Terimakasih untuk semuanya.” Tanpa menunggu respon Myungsoo, Jiyeon langsung melesat masuk ke dalam pagar.

Jiyeon rasa ciuman antar teman tidak apa-apa mengingat itu adalah hal yang biasa di Paris. Ya di Paris tapi tidak di Korea. Di negeri gingseng itu, skinship seperti ini hanya dilakukan oleh orang yang telah benar-benar dekat dan saling mengenal dengan baik.

Myungsoo mematung. Bibir yang sedikit terbuka itu kelu, tak bisa berkata apa-apa. Mata elangnya tak sekalipun berkedip. Berlebihan, memang. Namun apa daya. Ia terlalu kaget dengan ciuman kilat yang di daratkan oleh bibir pink Jiyeon itu.

“Ibu lihat ada orang aneh.”

Terimakasih kepada anak kecil yang sedang berjalan-jalan dengan ibunya itu. Berkatnya Myungsoo berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Tak ingin terlalu lama dianggap aneh, dengan cepat Myungsoo berjalan pergi diiringi senyum bodoh yang terpatri di bibirnya karena mendapatkan ciuman dari Jiyeon, gadis pujaannya.

***

Jiyeon telah memencet bel beberapa kali. Sesaat kemudian, terlihat seseorang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Krystal.

“Jiyeon!” Pekiknya bercampur dengan senang dan heran saat melihat sahabatnya yang kemarin tiba-tiba menghilang kini telah kembali dengan ajaib.”Neo, paboya! Kemana saja kau? Aku sangat khawatir. Kukira kau tidak betah disini lalu kembali ke Paris. Aku menghubungi ibumu, tapi ia bilang kaupun tidak berada disana. Dan lihatlah, berkat kau aku jadi punya kantung mata.” Perkataan Krystal seperti suara kereta barang yang berbunyi nyaring ditelinga Jiyeon.

Alih-alih menjawab, Jiyeon malah tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Menurutnya tingkah Krystal sangatlah lucu, apalagi ekspresi kagetnya saat membuka pintu.

Yak! kenapa kau malah tertawa?!”

Jiyeon berdehem, mencoba menghentikan tawanya. Ia lalu mencubit pipi Krystal dan menarik keduanya ke arah yang berbeda, membuat mulutnya tampak lebar. Orang yang dicubit hanya bisa menautkan alisnya, tak mengerti dengan apa yang Jiyeon lakukan.

“Kau memang sahabatku yang terbaik, nona Jung. Baru sehari saja aku hilang kau sudah sekalap ini.” Ucap Jiyeon sambil menarik-narik pipi Krystal.

“Park Jiyeon jika kau tak ingin mati maka lepaskan tanganmu.” Ancam Krystal.

Jiyeon melepaskan tangannya.”Maaf.” Ucapnya seraya tersenyum menampilkan deretan gigi depannya.”Maaf karena telah membuatmu khawatir…” Jiyeon lalu menceritakan semuanya. Mulai dari ia pergi ke toko buku bersama Myungsoo sampai menceritakan bahwa rumah Myungsoo hanya berbeda empat blok dari rumah Krystal.

Jinjja?!” Tanya Krystal tak percaya. Yang lebih mengejutkan ternyata seorang Kim Myungsoo bisa juga dekat dengan wanita, terlebih wanita itu adalah sahabatnya.

Yah! Untuk apa aku berbohong.” Ucap Jiyeon tak terima.

Krystal mendesis,“Arasso, aku percaya. Ayo kita kedalam, aku sudah pegal berdiri terlalu lama disini.” Ia menarik Jiyeon kedalam rumah.

***

Myungsoo menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia merentangkan kedua tangannya, menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum, mengingat kembali saar-saat dirinya bersama Jiyeon. Wajah damainya saat tidur, senyumnya yang cerah, sentuhan tangannya yang lembut, dan… ciumannya. Myungsoo menutup matanya dan berkata,”Park Jiyeon, kau benar-benar membuatku gila.”

Tring!

Sesaat setelah mengatakan itu, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk di ponselnya. Dengan malas, ia mengeluarkan benda persegi empat itu dari dalam saku celananya. Ia menghela nafas. Walaupun ia belum melihat siapa pengirim pesan tersebut, ia bisa menebaknya dengan mudah. Well, jika bukan Junsu, itu pasti dari rekan Gagaknya.

Dan benar saja, pengirim pesan itu tidak lain adalah ayahnya, Junsu.

Jangan lupa memberi makan ‘dia’. Itulah kata-kata yang tertera di ponsel Myungsoo.

Myungsoo tahu betul siapa ‘dia’ yang ayahnya maksud. Dengan enggan, Myungsoo bangun lalu berjalan menuju dapur, membawa sisa makanan yang Jiyeon buat. Sebenarnya ia tidak ingin memberikannya, namun mau bagaimana lagi, dirinya terlalu malas untuk pergi keluar.

Myungsoo kembali naik ke lantai atas. Langkahnya terhenti di depan rak buku, tepat diposisi Jiyeon berdiri sebelumnya. Ia menarik salah satu buku yang berada disana. Lalu, dengan otomatis rak itu bergeser, menampilkan sebuah pintu putih yang berarti ada ruangan lain didalam sana!

Tanpa ragu, Myungsoo lantas masuk kedalam.

Tidak banyak barang atau hiasan. Di ruangan itu hanya terdapat nakas dan satu ranjang yang senada dengan warna tembok, putih. Di atas kasur, terlihat seorang pria dewasa tengah memeluk kedua lututnya.

Pria itu mendongak setelah ia mendengar suara pintu serta derap langkah yang semakin jelas terdengar. Namun, aneh. Kedua matanya enggan terbuka.

Myungsoo memutar bola matanya saat melihat piring yang berada di atas nakas tampak tidak tersentuh sedikitpun. Pria ini tidak memakan makanannya lagi, pikirnya.

“Apa kau benar-benar ingin mati?” Tanya Myungsoo tak segan-segan. Ia meletakan nampan yang berisi makanan baru dan mengambil makanan yang terlihat sudah berjamur tanpa mengharapkan jawaban dari pria itu. Percuma saja. Walaupun pria itu tidak bisu, namun selama ini ia tak pernah mengucapkan sepatah katapun.

“Ini memang makanan sisa, tapi siapa peduli. Lagipula kau pasti tidak akan memakannya lagi.” Ucap Myungsoo.”Seharusnya tadi aku habiskan saja. Kapan lagi Jiyeon memasak untukku.”

Mendengar nama Jiyeon, pria itu menoleh, namun tetap enggan membuka matanya.

Myungsoo mengerutkan dahi. Pasalnya, inilah pertama kalinya pria itu merespon walaupun hanya dengan gerakan kepala. Hal itu membuat Myungsoo curiga. Apakah suara yang bisikan orang yang memanggil nama Jiyeon tadi bukan hanya perasaannya saja?

Ya. Myungsoo juga mendengar bisikan itu, namun ia tak mengindahkannya.

“Apa kau kenal dengan Jiyeon?” Tanya Myungsoo. Seketika ia ingat tentang Jiyeon yang kehilangan ingatannya. Apa mungkin pria dihadapannya ini mengenal Jiyeon?

Lama Myungsoo menunggu, namun pria itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Myungsoo menghela nafas, jengah.”Lupakan saja. Aku akan mencari tahu sendiri.” Ucapnya langsung melesat keluar ruangan. Tak lupa, ia menutup kembali pintu dan memencet tombol agar rak buku kembali bergeser, menyembunyikan kembali keberadaan pintu itu.

Myungsoo tak langsung pergi, ia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Tak lama kemudian dari dalam sana terdengar suara sendok yang beradu pelan. Kening Myungsoo berkerut. Mungkinkah pria itu memakan makanannya? Pikirnya.

Karena penasaran, Myungsoo pergi ke ruangan dimana ia bisa melihat apa yang tengah pria itu lakukan dari sebuah monitor. Ya, mereka memasang CCTV disana.

Myungsoo terhenyak. Pria itu benar-benar memakan makanannya. Tangan Myungsoo mulai bergetar. Entah kenapa Myungsoo mempunyai firasat buruk tentang hal ini. Ia takut jika dugaannya ini benar. Ia takut jika pria di dalam sana benar-benar mempunyai hubungan dengan Jiyeon.

***

Setelah Jiyeon berganti pakaian, ia keluar kamar lalu berjalan menghampiri Krystal yang terlihat sedang duduk sambil menonton tv.

Krystal menoleh saat ia merasakan seseorang duduk disampingnya.“Kau sudah selesai?” Tanyanya seraya dibalas anggukan oleh Jiyeon.“Jiyeon-ah, apa kau suka dengan Myungsoo sunbae?”

“Tidak!” Jiyeon cepat-cepat mengelak.”Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Entahlah. Saat kau menceritakan tentang Myungsoo tadi, wajahmu sangat berseri-seri.” Goda Krystal.

Jiyeon terlihat sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan Krystal.”Mungkin hanya tertarik. Kau tahu? Karakter Myungsoo oppa sangat unik, dan kupikir karakter seperti itu sangat langka dan hanya ada dalam novel fiksi saja.”

Krystal mengangguk namun masih dengan ekspresi menggoda.”Ngomong-ngomong soal novel, sebenarnya novel seperti apa yang kau beli?”

“Hanya novel biasa…” Ucap Jiyeon sambil membawa tas yang berada di kursi sebelahnya. Ia mengeluarkan satu-persatu barang didalamnya.”Soojung-ah, novelnya tidak ada. Apa mungkin tertinggal di rumah Myungsoo oppa?” Jiyeon kaget karena novel yang dibelinya kemarin tidak ada di dalam tasnya.

Krystal menghendikkan bahu.”Mungkin.”

TING~ TONG~

Sesaat setelah Krystal menjawab pertanyaan Jiyeon, terdengar suara bel─menandakan ada tamu yang berniat mengunjungi rumah Krystal. Keduanya menoleh lalu saling melempar pandang, mencoba menerka-nerka siapa orang yang saat ini tengah menunggu di luar sana.

Jiyeon beranjak dari kursinya.“Biar aku saja.”

“Tidak. Aku ingin ikut.” Ucap Krystal sambil menyusul Jiyeon.

.

“Ibu?! Apa yang kau lakukan disini?” Pekik Jiyeon ketika tamu yang ia lihat ternyata adalah ibunya, Hyekyo.

“Lian!” Hyekyo langsung memeluk Jiyeon.”Saat Krystal mengatakan kau hilang, ibu sangat khawatir. Karena takut terjadi sesuatu padamu, ibu langsung mengambil penerbangan menuju ke Korea.”

Jiyeon membalas pelukan Hyekyo. Ia menutup matanya, merasa bersalah karena sudah membuat ibu yang telah merawatnya selama ini merasa khawatir. Namun, dilain sisi ia merasa beruntung bertemu orang sebaik Hyekyo. Terlepas dari anak kandung atau bukan, sangat terlihat jelas bahwa ia sangat menyayangi Jiyeon.

“Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir, ibu.” Ucap Jiyeon seraya melepas pelukannya.”Kemarin hanya ada kejadian kecil saja. Nanti akan kuceritakan.”

Raut wajah penuh kekhawatiran Hyekyo kini sudah sirna, tergantikan oleh senyum hangat. Ia sangat brsyukur Jiyeon baik-baik saja.

“Oh! Ibu. Kenalkan, ini Krystal.” Ucap Jiyeon baru menyadari bahwa Krystal berada di sampingnya.

Krystal terseyum.”Senang bertemu dengan anda.” Ucapnya sambil membungkuk.

Alih-alih menjawab, Hyekyo malah memeluk Krystal.”Senang bertemu denganmu, Krystal. Namaku Hyekyo. Tak usah terlalu formal, panggil saja aku ibu, seperti Jiyeon.” Ucapnya lalu melepaskan pelukannya.”Terimakasih karena sudah memberiku kabar mengenai Jiyeon.”

“Sama-sama, ibu.” Jawab Krystal mencoba panggilan barunya untuk Hyekyo.

“Ayo kita masuk. Aku akan bercerita banyak hal, tentunya sambil memakan buah kesukaan ibu, apel.” Ajak Jiyeon.

Sebelum mereka benar-benar memasuki rumah, Krystal berkata,“Tapi tidak ada apel di dalam kulkas, Jiyeon-ah.”

Jiyeon berpikir sejenak.”Kalau begitu aku akan beli dulu.”

Andwe!” Pekik Krystal. Ia takut jika Jiyeon tiba-tiba kembali menghilang.

“Tenang saja. Aku akan meminta Pak Nam mengantarku.” Ucap Jiyeon sambil mendorong ibunya dan Krystal ke dalam rumah.”Aku akan segera kembali.” Setelah mengatakan hal itu, Jiyeon langsung melesat pergi mencari Pak Nam, supir keluarga Jung.

***

“Aku ingin 1kg apel ini, ahjussi.” Ucap Jiyeon. Ia telah sampai di pasar tradisional yang tidak jauh dari komplek perumahan Krystal.

Mendengar gadis didepannya itu memanggilnya, ahjussi pedagang buah itu segera memisahkan dirinya dari ibu-ibu yang sedang bergosip. Ia baru sadar bahwa ada pelanggan di stannya.

Dengan patuh, ahjussi itu mengambil satu-persatu apel yang segar, memasukannya kedalam kantung plastik lalu menimbangnya, memastikan apel itu sudah pas satu kilogram.

“Semuanya jadi 4.23 won, nona.” Kata pedagang itu sambil menyerahkan apelnya, pada saat yang bersamaan Jiyeon juga menyerahkan 5.00 won sebagai uang pembayaran.

Jiyeon tersenyum.“Ambil saja kembaliaannya untuk ahjussi.”

“Ah! Terimakasih nona, anda sangat baik hati.” Puji ahjussi itu. Menurutnya jarang sekali ada orang yang baik hati seperti gadis didepannya itu.

Jiyeon tersenyum sambil mengangguk. Merasa urusannya sudah selesai, Jiyeon membungkuk dan berpamitan pada ahjussi pedagang, bergegas untuk pulang kerumah.

“Jiyeon noona!”

Jiyeon berbalik saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia melihat seorang pemuda berwajah menggemaskan tengah melambai ke arahnya. Ia tak sendiri. Disampingnya, seorang pria dewasa berjalan beriringan dengan pemuda itu.

Jiyeon mengerutkan keningnya.”Kalian mengenalku?” Tanyanya penasaran.

“Tentu saja.” Ucap pemuda yang ternyata adalah Taehyung.”Apa kau tidak ingat dengan kami? Aku Kim Taehyung dan ini sepupuku Lee Jongsuk.”

Jiyeon menggeleng.

“Paman kami adalah sekertaris ayahmu. Kami juga pernah mengunjungi rumahmu dulu.” Jelas pemuda dewasa disamping Taehyung, siapa lagi jika bukan Jongsuk. Well, mereka tidak sepenuhnya berbohong. Mereka berdua memang pernah berkunjung, namun hanya sampai pintu gerbang saja. Kebohongan kecil keduanya hanya tentang ‘mengenalnya’.

Sedikit membubuhkan bumbu kebohongan tidak apa-apa, kan?

Mengetahui ada orang yang mengenalnya selain Krystal, mata Jiyeon langsung berbinar.”Benarkah? berarti kalian tahu siapa orang tuaku, dan dimana aku tinggal?” Tanya Jiyeon.

“Kenapa kau sangat aneh, noona? Tentu saja kami tahu.” Ucap Taehyung berpura-pura bingung.

Jiyeon tidak memperdulikan tatapan bingung Taehyung. Ia tahu dengan pasti keduanya pasti tidak mengetahui jika Jiyeon kehilangan ingatannya.”Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, bisakah kalian ikut denganku.” Tanya Jiyeon. Disamping ia tidak ingin mengobrol di tengah kerumunan pasar, ia juga tidak ingin membuat Krystal dan ibunya khawatir lagi.

“Hmm…” Jongsuk berpura-pura terlihat berpikir.”Baiklah. Sudah lama juga kami tidak mengobrol denganmu.” Ucapnya sambil tersenyum bercampur seringaian samar.

Jiyeon membalas senyumannya. Ia lantas memberikan kantong plastik yang berisikan apel kepada Jongsuk, membuatnya mau tidak mau menautkan kedua alisnya. Dengan bingung, ia meraih plastik itu. Apa maksudnya ini? pikirnya.

Namun sebelum Jongsuk bertanya, tampaknya ia sudah mendapatkan jawabannya ketika Jiyeon memposisikan dirinya diantara Jongsuk dan Taehyung. Ia menautkan kedua tangannya di salah satu lengan keduanya, lalu menariknya bersamaan.”Kajja!” Ucap Jiyeon bersemangat.

Walaupun merasa kaget dengan aksi Jiyeon yang tiba-tiba itu, keduanya hanya bisa pasrah mengikuti kemana Jiyeon membawa mereka. Sekali lagi, keduanya mempunyai pikiran yang sama.

Apakah kehilangan ingatan dan terlalu lama tinggal di barat sana seorang gadis bisa seagresif ini?

***

Hanya dengan sepuluh menit perjalanan, mobil yang mengantar Jiyeon dan ‘kedua temannya barunya’ sudah tiba di rumah Krystal. Masih dengan beriringan, ketiganya memasuki rumah.

“Aku pulang!” Ucap Jiyeon.

“Kau sudah…” Hyekyo yang berniat menyambut Jiyeon tidak bisa tidak terhenyak melihat dua laki-laki yang berdiri diantara Jiyeon.“…pulang.” Lanjutnya.

Mendadak tangannya langsung bergetar. Ia sangat ingat kedua pemuda itu adalah orang yang tempo hari masuk ke rumahnya. Phantom!

“Ibu kau kenapa?” Tanya Jiyeon saat melihat raut muka ibunya berubah menjadi pucat pasi.”Mungkinkah ini efek jetlag? Sebaiknya ibu istirahat dulu saja.”

“Tidak. Ibu baik-baik saja.” Jawab Hyekyo.”Kedua laki-laki ini siapa, Jiyeon-ah?”

“Oh! Aku lupa memperkenalkan mereka, mian.” Ucap Jiyeon sambil tersenyum, menampilkan deretan gigi depannya.”Perkenalkan. Mereka teman baruku, ibu. Ini Jongsuk…” Jiyeon menunjuk Jongsuk yang berada di samping kirinya, lalu menunjuk ke sebelahnya.”…dan ini Taehyung.”

“Senang bertemu dengan anda.” Ucap keduanya sambil membungkuk.

“Jiyeon-ah, kau bantulah Krystal di dapur. Ibu rasa akan istirahat sebentar di sofa sana.” Ucap Hyekyo. Ia rasa tidak ada gunanya merasa takut. Toh, lambat laun sesuatu yang seperti ini pasti akan terjadi, ibarat pepatah sepandai-pandainya menyimpan bangkai, maka lambat laun pasti akan tercium juga bau busuknya.

“Siap!” Jiyeon langsung merebut kantong buah yang digenggam Jongsuk, lalu denga segera pergi meninggalkan mereka bertiga. Sejujurnya ia merasa aneh dengan tingkah Hyekyo yang tiba-tiba berubah, namun ia mencoba untuk tidak mengindahkannya. Mungkin ibunya hanya bingung karena Jiyeon tiba-tiba membawa teman baru. Mungkin.

Selepas Jiyeon pergi, sama sekali tidak ada percakapan antara ketiganya.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan?” Tanya Hyekyo tak sabar.

“Kami ingin penjelasan. Katakan apa yang sebenarnya terjadi pada dia.” Hyekyo tahu maksud ‘dia’ yang Jongsuk bicarakan.

“Jangan mencoba untuk berbohong karena kami adalah orang yang mengirim dia ketempatmu.” Ucap Taehyung ketika ia melihat gelagat Hyekyo yang berusaha untuk mengelak.

Hyekyo bergeming, terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya. Apakah ia akan menguatarakan kebenaran ataukah tetap menyimpan rahasia yang telah ia jaga selama tiga tahun ini? Tak masalah untuk menceritakan, namun apakah ia percaya kedua orang itu adalah orang yang tepat, terlebih keduanya sempat menerobos masuk ke dalam rumahnya.

==== TBC ====

A/N:

Maen tebak2kan yook! kira-kira siapa coba ‘pria’ yang ada di rumah Myungsoo? terus, siapakah yang lebih dulu tahu identitas orang yang sebnarnya musuh mereka itu? Myungsoo ataukah Jiyeon? Hayoooo ~(^^)~

 Oke ceritanya mulai menanjak! gak kecepetan kan yah? Niatnya emang gakan panjang2 sih soalnya ak orangnya mudah bosen, tar takut feelnya malah gak dapet kan -____-

Oh ya! ak seneng bgt ternyata ada jg yg nungguin ff ini hihi makasih lovelies♥

Kritik & sarannya ditunggu yaa, eonni, dongsaeng, chingu. Gapapa pedes juga hihi asal yang membangun yaa♥

Untuk teman2 yg ingin mengenal olip lebih dekat, kalian bisa add line: nzakia & twitter: @nzakiaa

Ps: Untuk chapter selanjutnya mungkin aku post abis UTS yaa😀

49 responses to “[CHAPTER-PART 4] Kill Me, Love Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s