[CHAPTER – PART 1] Skinny Love

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Jiyeon ada di sebuah ruangan yang seluruhnya putih. Sempurna putih. Atap, lantai dan dindingnya, seluruhnya berwarna putih tanpa tercela. Tak ada noda sedikit pun. Membuatnya merasa seperti berada di ruang kosong, tapi bedanya, warnanya putih.

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang di belakangnya. “Unnie! Aku ingin makanan!” Sooyoung merengek seperti biasanya. Jiyeon pun menoleh dengan enggan. Beberapa meter di belakangnya, Sooyoung tertidur, tubuhnya kurus kerontang. Wajahnya tak secantik yang biasa Jiyeon lihat, rambutnya kusut. Biasanya Jiyeon akan langsung mengomelinya, tapi kali ini tidak.

Jiyeon mendengus dan kemudian menatap ke arah depan. Entah ada apa, ketika dia sudah menoleh, ada setumpuk makanan di depan matanya. Setumpuk. Membentuk gunungan terbesar yang pernah dilihatnya. Entah kapan tumpukan makanan ini datang. Dan isinya banyak sekali. Berbagai bungkusan kue, jeli. Ratusan ekor ayam panggang dan bacon. Tumpukan mie ramen instan. Segalanya tampak lezat.

Tanpa ancang-ancang, Jiyeon langsung melompati kaki gunungan makanan tersebut dan mengambil apapun yang ia bisa. Ia memulainya dari sebuah kue cokelat. Lalu kemudian sebuah bacon yang lezat. Beberapa jamur. Dan kentang. Ia mengunyah semuanya tanpa henti, tak sadar bahwa Sooyoung sudah menjerit di belakangnya.

“Aku ingin tapi aku tak bisa mencapainya!” teriak sang adik. Dia masih dalam posisinya tadi, tapi tangannya berusaha menggapai dan kakinya berontak, jelas ingin meraih satu saja makanan. Tapi tubuhnya seperti dikunci. Dan sayangnya, Jiyeon tak peduli.

Maka gadis berambut pendek itu kembali memasukkan apapun ke mulutnya.Es krim. Sosis dan telur. Sampai giginya mau lepas karena kebanyakan mengunyah. Rasa kenyang itu melebihi batasnya, tapi dia ingin lagi dan lagi. Ketika rasanya dia sudah akan menghabiskan setengah isi gundukan tersebut, dia akhirnya terduduk, merasa menyerah.

 “Argh!” Sooyoung berteriak frustrasi di belakangnya, “Aku tak bisa bergerak!”

Tapi Jiyeon puas menerima kenyangnya. Namun saat itu juga, dia merasa tubuhnya sudah begitu membesar. Dia bahkan merasakan diameter lengannya bertambah drastis. Bahkan perutnya. Maka Jiyeon mulai menggapai panik ketika mendadak pakaiannya sudah tak muat lagi.

Tubuhnya membumbung besar.

Dirasakannya pula, pipinya membesar sampai dia kesulitan untuk berteriak. Kakinya pun membesar juga. Maka dia berteriak kali ini, tapi Sooyoung bahkan tercengang melihatnya. Lalu kemudian, DUAR! Dalam hentakan besar, seluruh isi perutnya keluar dari mulutnya.

Rasanya menjijikan. Muntahannya menyebar ke seluruh ruangan. Dan setelah itu, Jiyeon melihat kembali dirinya. Menyedihkan seperti tadi. Seolah kenyang itu sudah dilenyapkan darinya. Kini yang dia lihat di lengannya adalah hanya tulang dibalut kulit. Dia mencari tumpukan makanan agar tidak terlihat menyedihkan lagi, tapi tumpukan itu hilang sudah. Dan ketika ia menoleh ke belakang, Sooyoung sudah tak ada.

———

Jiyeon terbangun dengan jeritan kencang. “Sooyoung!”

Tapi adiknya tak menjawab. Biasanya dia akan langsung menyahut begitu diteriaki. Tapi sekarang suaranya tak ada. Jiyeon panik, ketika akhirnya matanya mulai menyesuaikan diri. Segala hal di ruangan ini tampak begitu aneh.

Ini jelas bukan kamarnya. Kamarnya tak semewah dan sebagus ini. Tempat tidurnya bukan terbuat dari kapas empuk dan selimut yang lembut. Suhunya tak akan sedingin ini. Dan juga dindingnya tak secemerlang ini. Kemudian hatinya mencelos begitu menghirup aroma beberapa perlatan rumah sakit.

“Hei.” Gumamnya, mulai merasa malu karena berteriak tadi. Karena ini jelas ruangan klinik, dan dia terduduk di atas sebuah tempat tidur yang diletakkan di ruangan kecil darurat.

Siapa yang membawanya ke sini?

“Halo?” Jiyeon bergumam kecil, bertanya entah kepada siapa. Dia masih melirik ruangan di mana ia berada. Mencari tanda-tanda seseorang di sana. Atau jejak kenapa ia bisa berada di situ. Tapi hanya dia yang sendirian di sana. Dinding berwarna putih cemerlang itu seolah memerangkapnya, persis seperti di mimpinya tadi.

Suhu udara dingin dari AC membuat giginya bergemeletuk. Kemudian dia menyadari bahwa jaket dan ranselnya diletakkan di sudut ruangan. Semakin aneh saja. Maka kemudian dia bertanya-tanya kenapa bisa ada di sini.

Oh, jelas saja! Kelaparan. Moong Café. Disapa pelayan, dan pingsan. Jelas akan ada orang berperikemanusiaan yang akan membawanya ke sini, tapi siapa dia? Mencari tahu, Jiyeon pun berdiri dari kasurnya dan ketika kakinya menapak ke tanah, dia berusaha menahan keseimbangan. Maka dia perlahan berjalan menuju pintu, dan berhati-hati bila ada sesuatu di luar sana.

Baru ketika ia akan memutar pintunya, tiba-tiba pintu itu sudah dibuka pula oleh orang lain. Muncullah satu sosok pria asing yang belum pernah dilihatnya.

“Ah!” Jiyeon menjerit, mundur beberapa langkah ke belakang. Namun semakin pria itu mendekat, rasanya tidak menyeramkan lagi. Malah gadis itu kini balik menatapnya dengan ekspresi selidik.

Sebaliknya, pria itu hanya terkekeh dan menutup pintunya, kemudian meletakkan sesuatu di nakas. Ditatapnya Jiyeon dengan tajam. “Tenang, dan duduk.”

Jiyeon mengerutkan dahi, merasa mengenali suara tersebut. Tak asing. Jangan-jangan pria tadi itu yang menyapanya di kafe sebelum dia pingsan? Jiyeon baru akan bertanya ketika mata pria itu menatapnya tajam. Entah mengapa, dia langsung menurut dan duduk kembali di tepi tempat tidurnya.

“Salam kenal,” pria itu berkata sambil mengunyah sesuatu, “Aku Choi Minho. Siapa nama kau?”

“Jiyeon.” ia balas menggumam. “Park Jiyeon.”

Pria bernama Minho itu mengangkat alis, “Oke, Jiyeon. Salam kenal kalau begitu.”

Jiyeon ingin melempar apapun ke wajah menyebalkannya, walaupun tahu itu tidak sopan. Maka sebagai gantinya, dia mempertanyakan satu-satunya hal yang ada di pikirannya. “Siapa kau dan kenapa kau ada di sini bersamaku?”

Minho berdeham dan mata bundar besarnya menatap lurus, “Jadi, Jiyeon, kau baru saja masuk ke Moong Café ketika aku menyapamu, berharap kau akan memesan promo beberapa menu es krim kami yang lezat. Tapi yang kulihat, adalah, kau tiba-tiba jatuh pingsan sebelum kau bisa berjalan masuk. Dan itu membuat seluruh pengunjung panik, termasuk aku dan pemilik kafenya.”

“Kau? Kau pelayan yang menyapaku tadi?” tanya Jiyeon, dan dibalas anggukan Minho. “Oh, aslinya kau tidak kedengaran begitu ramah seperti tadi ya?”

Minho merasa tersinggung, mencondongkan badan dan menatap lurus ke arah Jiyeon. “Ya, aku memang seperti itu kalau kau tak mencoba memulai. Jujur saja, Jiyeon, kupikir kau akan mengucapkan terimakasih atau apa. Tapi pemilik kafe itu yang berbaik hati membawamu ke sini, membayar biaya klinikmu dan menyuruhku mengantarkanmu ini.”

Ketika mengucapkan kata terakhirnya, Minho menggoyangkan satu plastik berisi beberapa buah roti kering dengan kismis di dalamnya. Membuat Jiyeon tersadar perutnya sudah melenguh kelaparan.

“Oke, aku akan berterimakasih. Tapi tidak padamu.” Balas Jiyeon, dan hanya disambut anggukan Minho dengan sarkatik. Wajah Minho kembali melunak dan dia menyerahkan plastik itu padanya.

“Itu, makan saja. Kau kelihatan sangat menyedihkan dan kelaparan.” Katanya, dan Jiyeon langsung mengambilnya. Dia bergumam terimakasih dalam hati dan mulai menyantap satu rotinya lahap.

Minho hanya memandang ketika dalam semenit, Jiyeon sudah menghabiskan roti kedua. “Kau kelihatan tak pernah makan beberapa hari, ya?”

Jiyeon mengangguk, “Belum pernah lihat orang menderita? Yah, kalau begitu, sekarang kau sudah melihatku.”

“Kau tampak seumuran,” gumam Minho, “Berapa usiamu? Kutebak, 23 tahun, ya?”

“22!” Jiyeon berseru, beberapa serpihan keluar dari mulutnya.

“Lebih muda setahun dariku. Nah, jadinya kau harus lebih sopan memanggilku. Pelayan Minho pun aku sudah senang,” Minho menambahkan nada muak ketika menyebutkan kata ‘pelayan’. “Apa kerjamu?”

“Belum ada,” Jiyeon menggeleng, “Dua bulan terakhir aku bekerja di minimarket…tapi seminggu lalu minimarketnya ditutup.”

“Kasihan. Aku sendiri sudah bekerja di Moong selama sekurangnya dua tahun. Karena ajakan pemilik kafe sialan itu.”

“Kau harusnya bersyukur dapat pekerjaan tetap. Aku bisa saja bekerja di kafemu untuk beberapa waktu.”

Minho mendesis, “Aku tak mau bekerja dalam satu tempat dengan kau.”

“Oke, tapi kalau kau melihat aku bekerja di tempat yang lebih bagus, jangan mengumpat.”

Setelah roti keduanya habis, Jiyeon berdiri dan merapikan beberapa remahan roti dari celananya. Kemudian ia berjalan ke arah sudut di mana ransel dan jaketnya tergeletak.

“Berapa jam aku tak sadarkan diri?”

“Tiga puluh menit.”

Jiyeon mengangguk, “Oke, kalau begitu aku pamit. Terimakasih, Pelayan Minho.”

Tapi Minho sudah berdiri, “Hei, mau kemana? Dokter bilang kau harus di sini paling tidak 24 jam sebelum dapat kembali pulang.”

“Ada adik dan Ayahku menunggu di rumah,” gumamnya, “Atau, kau bisa menempati tempat tidurku.”

Jiyeon menyampirkan ransel di pundaknya, jaket di leher dan kantong plastik berisi roti di genggamannya, “Besok aku akan datang ke Moong Café untuk berterimakasih pada si pemilik. Kalau aku tidak datang, kau saja yang sampaikan salamku.”

“Yah, terserah, Nona.” geram Minho.

Jiyeon mengangguk lagi, dan kemudian membuka pintu berjalan keluar dari kamar kliniknya. Kemudian dengan langkah cepat, dia berjalan keluar dari ruangan klinik. Ketika melihat jalan, dia sadar bahwa jalanan ini masih sama seperti yang tadi ditelusurinya.

Ketika dia melihat ke arah depan, di seberang klinik, terpancang beberapa ruko-ruko bangunan bergemerlap lampu. Moong Café berada tak jauh darinya. Dengan tekad, dia menyebrangi jalan dan melihat dari pintu Moong Café. Dia jelas tak akan masuk lagi, kejadian pingsan itu sudah cukup memalukan.

Pintu Moong Café adalah pintu tembus pandang. Kafe itu kelihatan kecil namun terkesan begitu damai dan mewah. Banyak lukisan entah punya siapa, dipajang. Tiap taplak mejanya dihias secara dekoratif. Tepat di sebelah pintu kaca, meja-meja kasir itu berada. Beberapa pelayan sedang bekerja di sana, melayani pembeli, dan Jiyeon yakin di situlah Minho biasanya berada juga.

Tapi seseorang menarik perhatiannya.

Seorang pria berjas hitam dan celana jins, sedang berbicara kepada seorang kasir lelaki di sana. Dari caranya bicara, jelas dia bukan pembeli. Mereka kemudian lantas tertawa, dan kembali berdiskusi, entah melihat apa.

Jiyeon memandang laki-laki berjas itu dari pintu kaca. Cukup terpukau. Rambutnya disisir rapi, dan senyumnya terlihat begitu lebar. Dia punya insting bahwa…pria berjas itulah pemilik kafenya?

Ketika orang itu menoleh ke arah pintu, matanya menangkap Jiyeon yang menyelidiki ingin tahu. Dahinya berkerut. Tampak mengenalinya. Dan Jiyeon sudah tahu.

“Oh, ya, pasti dia pemiliknya,” Jiyeon bergumam sendiri. Ketika mata orang itu mulai menatapnya dari atas sampai bawah, yang terpikirkan oleh Jiyeon hanyalah kabur secepat mungkin.

Dia kemudian berlari menyusuri tepi jalanan yang terang dan ramai. Kemudian berbelok di beberapa tikungan, akhirnya dia sudah mendekati rumahnya. Ketika sampai tepat di depannya, Jiyeon berhenti dan mengambil napas dalam-dalam. Kemudian ia pun masuk.

“Sooyoung-ah! Makan malam sudah siap!” Jiyeon berseru seraya membuka pintu rumah. Ia meletakkan ranselnya di sofa ruang keluarga dan jaketnya. Kemudian berjalan ke arah dapur, duduk di meja makan dan mulai membuka plastik berisi roti tersebut.

Walaupun sudah makan dua buah, Jiyeon merasa roti itu masih banyak dan cukup untuk persediaan makanan beberapa hari ke depan. Dia mengambil sebuah dan mengendusnya dalam-dalam. Baunya manis. Dalam hati dia berterimakasih tak terhitung kepada pria berjas yang instingnya mengatakan dianya pemilik kafenya.

Saat itu Sooyoung sudah datang dari kamarnya. “Unnie, kau sudah dapat makanannya?”

Jiyeon mengangguk, menyerahkan satu roti itu ke arah Sooyoung. “Seseorang berbaik hati mengirimkan aku itu,” timpalnya.

“Baguslah, itu lebih baik daripada kau mencuri,” Sooyoung tersenyum dan mulai menggigit rotinya, “Dan…ini enak.”

Jiyeon mengangguk senang, mengambil satu roti lagi dan menyodorkannya, “Ini, berikan kepada Ayah. Kau boleh ambil satu roti lagi dan simpan besok untuk sarapan. Aku akan mendaftar kerja di beberapa tempat esok.”

Adiknya mengangguk, menerima roti tersebut dan berlari menuju ke kamar Ayahnya, kemudian menggumam sesuatu di sana. Jiyeon meletakkan plastik itu di kulkas dan berjalan menuju kamarnya.

Dia kemudian merebahkan diri di tempat tidurnya. “Ah,” Jiyeon meringis. Yang dia tiduri kini bukan lagi tempat tidur empuk seperti tadi. Melainkan tempat tidur keras dan berdebu. Tidak ada lagi suhu udara yang dingin, atau dinding yang putih cemerlang.

Jiyeon termenung seraya menatap langit-langit. Memikirkan pemilik Moong Café tadi. Apakah pria berjas tadi itu benar-benar pemiliknya? Ah, ia terlalu cepat menyimpulkan. Seperti apa dia itu? Kenapa Minho menyebutkan kebaikannya seolah mendewakannya?

Memikirkan Minho membuatnya langsung mendengus. “Huh, pertemuan pertama yang tak menyenangkan. Untung dia orang asing. Kalau aku mengenalinya, kuhajar dia.” gerutunya sendiri.

Oh, mungkin, dia bisa saja esok harinya berbaikan dengan Minho, dan menawarkan diri agar menjadi asistennya. Lebih tepatnya, menawarkan diri untuk bekerja di Moong Café sana. Tapi Jiyeon tak peduli. Akhirnya dia terlelap tidur. Tapi mimpinya kali ini bukan bersama tumpukan makanan.

A/N

Nahlo ketebak hahaha. Untuk Myungsoo, doi akan muncul di chapter berikutnya :))

37 responses to “[CHAPTER – PART 1] Skinny Love

  1. Menyedihkan bgt hidup jiyeon & klrga’y….
    Lalu apa yg dimimpikan jiyeon kli ini? Apa si pemilik kafe moong “myungsoo” ??? ^^
    Jdi ga sbr buat lanjut…..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s