[Chapter 15] Love Is Not A Crime

LINAC NEW

Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

[11] [12] [13] [14]

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19 / Laykim

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Sorry update-nya lamaaaaa pake bingit. Yang mau komen, silahkan. Yang gak komen ya udah…

Sorry for typos

Saat memegang pedang kesayangannya, Jiyeon merasa telah menemukan kepingan nyawanya yang hilang dua tahun terakhir ini. Pedang peninggalan seorang pendekar samurai Jepang itu telah mengantarkannya menjadi seorang ahli pedang yang belum terkalahkan kecuali oleh mendiang gurunya sendiri. Saat melihat pedang itu, rasa sedih dan senang berkecamuk di dalam dadanya. Kadang terasa nyeri dan kadang terasa melegakan.

Rasa nyeri itu tentu saja disebabkan oleh bayang-bayang Jung Kyung Ho yang telah meninggal dalam ketidak-adilan. Jiyeon harus menanggung kerinduan mendalam pada mendiang gurunya, ditambah lagi ia belum mendapat kabar tentang keluarganya di Korea Utara. Apakah mereka hidup bahagia? Apakah mereka masih mengingatnya? Ingin rasanya Jiyeon kembali ke Utara dan berdiri di depan semua anggota keluarganya, menyatakan dirinya adalah putri kanfung preaiden Korsel dan bersembahyang di depan makam gurunya bersama anggota keluarga yang lain. Semua itu sangat ingin ia lakukan tapi ternyata hanya angan-angan. Jika mengingat itu semua, hatinya akan sakit dan sulit disembuhkan.

Hal pertama yang ingin dilakukan oleh Jiyeon saat ini adalah mengembalikan kemampuannya bermain pedang. Ia berlatih dari pagi sampai malam hari. Mengingat semua jurus yang diajarkan oleh gurunya dan mengingat semua nasehat dari orang-orang yang disayanginya. Dengan itu semua, Jiyeon dapat memulihkan semangatnya untuk kembali ke hadapan orangtuanya dan membongkar semua kejahatan Haeri. Ya, Jiyeon bertekad akan membuat Haeri bertekuk lutut di hadapannya.

Hari ini Jiyeon selesai berlatih. Peluh membasahi wajah cantiknya dan rambut panjang yang diikat ekor kuda. Nafasnya terengah-engah karena ia telh berlatih selama 5 jam tanpa istirahat. Jiyeon tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa.

“Jiyeon-a!” panggil seseorang yang sangat disayangi oleh Jiyeon.

“Eomma!” serunya saat melihat sosok wanita yang dirindukannya.

Jiyeon berlari menuju tempat Soo Jin berdiri. “Eomma, aku senang sekali melihat eomma dalam keadaan sehat.”

Soo Jin tersenyum bahagia melihat putri semata wayangnya menunjukkan wajah sumringah. Itu artinya Jiyeon dalam keadaan sangat baik. “Eomma ingin mengatakan sesuatu padamu. Karena eomma tidak memiliki waktu banyak, kita bicara di sini saja.”

“Eomma ingin membicarakan tentang apa? Apakah ini menyangkut Korea Selatan?” tanya Jiyeon menebak apa yang akan disampaikan oleh ibunya.

“Dari mana kau tahu?”

Jiyeon mengingat sesuatu. Lalu dia bercerita. “Aku pernah bermimpi memegang pedang ini di hadapan eomma dan appa. Tak hanya itu, semua rakyat Korsel berdiri di depanku. Mereka memanggil namaku. Entah apa arti mimpi itu. Aku merasakan kalau mimpi itu seperti nyata. Benar-benar membuatku takut. Eomma, sebenarnya apa yang telah terjadi? Sedang terjadi dan yang akan terjadi?”

Soo Jin bingung menjawab pertanyaan Jiyeon yang diucapkannya bertubi-tubi. “Eomma dan appa ingin kau tuntaskan belajar tentang tata negara dan hukum secepatnya. Keadaan politik Korsel sangat kacau. Ditambah lagi pernikahan Soo Hee dengan putera Presiden Korut.”

Deg!!
Putera Presiden Korut? Apakah yang dimaksud ibunya adalah Kim Myungsoo?

“Eomma, si, siapa putra presiden Korut? Apakah maksud eomma Kim Myungsoo?” tanya Jiyeon dengan ragu.

“Ya, Kim Myungsoo. Besok malam mereka akan menikah di gereja ini.”

Jleger!

“Gereja ini? Ta, tapi tidak ada persiapan apapun di sini.” Jiyeon berusaha menahan airmatanya yang ingin menyeruak keluar.

“Persiapannya sudah lengkap dan tinggal memasang dekorasi. Nanti malam akan ada banyak staf yang akan menghias dekorasi di gereja ini. Selama mereka berada di sini, aku minta padamu jangan menampakkan diri, Jiyeon-a. Jika ada yang melihatmu dan dilaporkan pada Haeri, keselamatanmu pasti akan terancam. Eomma tidak ingin hal itu terjadi.”

Jiyeon tak lagi mendengar kata-kata ibunya. Pikirannya melayang pada seseoramg yang sangat ia rindukan. Kenapa semuanya menjadi kacau begini? tanyanya dalam hati.

“Jiyeon-a!” panggil Soo Jin yang sukses membuyarkan lamunan Jiyeon.

“Oh, ya, ku tidak akan menampakkan diri selama mereka ada di sini. Eomma tidak perlu khawatir.”

“Baiklah. Eomma sudah membawakan buku-buku yang kau perlukan dan sudah disimpan oleh salah seorang biarawati tadi. Eomma pamit dulu. Takut kalau Haeri akan curiga karena eomma terlalu lama pergi keluar istana presiden. Jaga dirimu baik-baik, Jiyeon-a.”

“Ya, Eomma.”

Soo Jin berbalik kemudian meninggalkan Jiyeon yang berdiri mematung di halaman belakang sebuah pondok di dekat gereja. Pedang yang mengkilat itu ia tancapkan di atas tanah. Kedua kakinya tak sanggup menopang tubuhnya dalam waktu yang lama. Jiyeon duduk bersimpuh mengeluarkan airmata yang sama sekali tak diharapkan.

Jiyeon pov
Andwae! Aku tidak boleh menangis. Bukankah semua ini sudah takdir? Seharusnya aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan hidup padaku? Ya, aku harus bersyukur atas nikmat itu. Tapi… kenapa Myungsoo oppa harus menikah dengan Soo Hee? Apakah aku sudah tak lagi ada di hatinya? Apakah semua orang sudah melupakanku?

Rasanya begitu sakit di sini. Dadaku terasa sesak dan nyeri. Penyakit apa yang telah menjangkitku? Ku tidak mau merasakan ini semua. Ya Tuhan, tolonglah hilangkan rasa tidak menyenangkan ini.

Aku tidak boleh egois. Seharusnya aku ikut bahagia atas pernikahan Soo Hee. Di adalah saudariku. Kami memiliki darah dari seorang ayah yang sama.

Ku lirik pedangku yang tertancap di atas tanah. Sungguh sakit mengingat memori saat-saat kebersamaanku dengan Myungsoo oppa. Aaakh! Aku ingin melupakan semuanya. Lupakan Jiyeon-a! Lupakan semuanya! Kau adalah Park Jiyeon, bukan Gongju lagi.

Tunggu, aku rasa ada sesuatu yang mencurigakan. Apa motif Myungsoo oppa menikahi Soo Hee? Aku kenal betul sifat-sifatnya. Dia juga memiliki dendam pada orang-orang Selatan karena telah membunuh Kyung Ho saem. Apa alasannya? Kenapa dia mau menikahi Soo Hee? Ah, pertanyaan itu akan membuatku gila.

AKu harus bisa memenuhi permintaan eomma dan appa. Pasti ada alasan khusus kenapa eomma memintaku mempelajari tata negara dan hukum. Aku akan menganggap hidupku baru saja dimulai. Ya, aku harus bisa menunjukkan bahwa aku lah anak yang membawa keberuntungan, bukan anak yang membawa mala petaka untuk Korsel.
Jiyeon pov end

Suasana politik Korea Utara tak kalah kacau dari Selatan. Pernikahan Myungsoo dengan Soo Hee semakin membuat hawa politik di negara nuklir itu semakin panas. Banyak yang mendukung pernikahan itu dan banyak pula yang menentangnya.

“Kau akan tetap melakukannya?” tanya Jaejoong pada Myungsoo yang baru saja sampai di ruang kerjanya.

“Eoh. Tentu saja. Kita sudah merencanakannya sejak lama. Kenapa? Apakah kau meragukanku, Hynung?”

Jaejoong tersenyum tipis. “Bukan begitu.”

“Meskipun dunia mengatakan kalau Soo Hee adalah wanita yang cantik, aku tidak akan melupakan tujuan utama kita. Semua harus berjalan sesuai rencana.”

“Baguslah kalau kau menyadari hal itu. Aku takut kalau dirimu akan silau oleh kesenangan akibat pernikahan itu. Wanita bisa mengacaukan segalanya. Kau harus berhati-hati,” kata Jaejoong serius.

Myungsoo memainkan pulpennya di atas meja kerja yang penuh dengan kertas-kertas berkas. “Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana mereka memperlakukan Kyung Ho saem dan Gongju dengan tidak adil. Mereka menganggap keduanya seperti sampah. Maka aku juga akan menganggap mereka, terutama Haeri, sama seperti sampah. Bahkan lebih dari sampah.” Mata elangnya menatap tajam pada pulpen di tangannya.

Korut dan Korsel akan menyelenggarakan pemilu presiden hampir bersamaan. Kau akan memilih yang mana? Presiden Korut atau Presiden Korsel?

“Apakah kau tidak salah memberiku pertanyaan semacam itu, Hyung? Sudah pasti aku akan memilih Korut. Aku sama sekali tidak memiliki keinginan menjadi presiden di negeri orang-orang kejam seperti Haeri. Biarlah masyarakat dunia menganggap negara kita sebagai negara terkutuk. Mereka tak tahu apa-apa, jadi biarkan saja mereka menggonggong. Aku tidak akan terpengaruh oleh pernyataan para kepala negara yang akan menentang kita.”

Dendam sudah merasuk ke dalam jiwa Myungsoo. Bagaimanapun caranya, dia harus dapat menguasai Korsel dan menghancurkannya.

“Mereka telah berurusan dengan kita. Jadi, bukankah kita harus menyelesaikannya?”

“Kau benar, Myung. Aku adalah orang pertama yang akan berdiri di belakangmu dan mendukungmu secara penuh. Tenang saja, aku akan menjadi salah satu saksi pernikahanmu.” Tiba-tiba Jaejoong terdiam. Dia teringat pada Gongju. Seharusnya Myungsoo menikah dengan Gongju dan hidup bahagia. Andai saja Korsel tidak kelewat batas, pasti kenangan indah akan menghiasi hidup Myungsoo dan Gongju.

“Hyung! Kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo yang melihat perubahan sikap Jaejoong.

“Eoh. Aku hanya memikirkan kostum apa yang akan ku pakai untuk menghadiri pernikahanmu besok lusa.”

“Pembohong besar!” gumam Myungsoo namun masih dapat didengar oleh Jaejoong.

“Yaak! Kim Myungsoo! Aku sudah tidak memiliki adik. Maukah kau menjadi adikku?”

“Ige mwoya? Kau belum menganggapku sebagai adikmu, Hyung?”

Jaejoong menggeleng pelan.

“Jadi, selama ini kau menganggapku apa? Aku kira kau sudah menganggapku sebagai adikmu.”

“Baiklah, aku anggap kau sudah menjawab pertanyaanku. Hmmm, akhirnya aku punya adik laki-laki yang lucu.” Jaejoong mencubit kedua pipi Myungsoo dengan gemas.

“Yaak! Apa-apaan ini? Aku bukan bayi!” Myungsoo menepis tangan Jaejoong yang akan mencubit pipinya lagi.

“Kita harus pastikan Kim Myungsoo menjadi presiden Korut, bukannya Korsel. Dia merupakan ancaman terbesar untuk kita. Pernikahan ini bukan main-main. Nasib kedua negara sedang dipertaruhkan, Junsu-a. Kita harus lebih berhati-hati.” Kedua manik mata Haeri menyipit seakan ingin membidik seseorang dengan senjata api.

Junsu tampak berpikir keras mencerna kata-kata Haeri yang melebihi racun ular berbisa. “Aku yakin Kim Myungsoo lebih memilih meneruskan perjuangan ayahnya di Utara daripada berkuasa di negara ini.”

“Anak itu sulit diduga. Kita tidak bisa bersantai-santai begini. Ada kemungkinan dia ingin menjadi presiden Korsel.” Haeri mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. “Aku minta semua harus hadir saat pernikahan Soo Hee,” ujar Haeri.

“Noona, bukankah Soo Jin yang akan menjadi saksi pernikahan Soo Hee? Dia adalah ibu Soo Hee yang sah meskipun kau yang melahirkannya.”

“Jangan membicarakan hal itu! Inilah yang aku takutkan. Soo Jin telah merampas hakku sebagai seorang ibu. Aku tidak bisa memanggil putriku dan menciumnya saat pernikahan berlangsung.” Kali ini ekspresi wajah Haeri tampak bersedih mengingat hak asuh atas Soo Hee telah diberikan pada Soo Jin. Meskipun Soo Hee menikah, dia tidak dapat mengatakan pada dunia bahwa Soo Hee adalah anak kandungnya. Reputasi presiden Park akan dipertaruhkan terlebih lagi dirinya akan diusir dari Selatan jika berani membongkar rahasia itu. Dia pasti akan dianggap sebagai wanita simpanan Presiden Park.

Junsu tersenyum penuh arti. “Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan, Noona. Usaha kita tidak boleh sia-sia. Sudah lebih dari 20 tahun kita bermimpi menjadi penguasa Korsel. Langkah kita semakin mantab dan hasilnya pasti akan memuaskan.”

“Jangan lupa, Junsu-a. Lawan kita bukan hanya Soo Jin. Kim Myungsoo sedang mengacungkan pedangnya ke arah kita.”

Junsu mengangguk paham. Ya, dia paham betul apa yang diinginkan oleh Haeri. Selama ini hanya dia dan Siwan yang masih setia membantu Haeri merebut kekuasaan Korsel.

Pernikahan antara putra Korut dengan putri Korsel bukanlah kabar angin lagi. Banyak media cetak dan elektronik menyiarkan berita tentang kebenaran pernikahan itu bahkan beberapa diantara media nasional dan internasional telah mengantongi izin peliputan berita eksklusif persiapan pernikahan Myungsoo dan Soo Hee. Beberapa staf dan wedding organizers diwawancarai oleh banyak wartawan terkait persiapan pernikahan yang mereka lakukan di gereja tempat Jiyeon sembunyi.

Jiyeon dapat melihat dengan jelas betapa ramainya suasana di luar sana. Bunga-bunga mawar putih dan mawar merah berjajar rapi menghiasi setiap sisi dinding gereja. Semua hiasan penuh warna merah dan warna putih, sesuai dengan permintaan Soo Hee yang tidak bisa ditolak. Dekorasi interior gereja tidak terlalu mewah namun tetap terkesan elegant. Jiyeon membayangkan betapa bahagianya Soo Hee yang akan menikah dengan orang yang dicintai, tidak seperti dirinya.

“Kapankah aku bisa merasakan kebahagiaan?” lirih Jiyeon.

“Jiyeon-a! Apakah kau sudah makan malam?” Seorang biarawati mendatangi kamar Jiyeon yang pintunya sering terbuka lebar begitu saja.

Jiyeon menoleh ke arah biarawati itu. “Tidak, terimakasih. Aku masih kenyang,” jawabnya. Tak lama kemudian biarawati itu beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Jiyeon sendirian di kamar berukuran 5×5 meter itu. Kamar yang jauh lebih kecil dari pada kamar Soo Hee.

“Kebahagiaanku sudah tercapai. Meski aku tak dapat menikah dengan Myungsoo oppa, setidaknya aku masih bisa berada di tengah-tengah kedua orangtua yang selalu menyayangiku.” Jiyeon berusaha menghibur diri agar tidak terlalu larut dalam kesedihan atas kebahagiaan Myungsoo.

Saat melihat staf-staf yang berlarian ke sana kemari di luar kamarnya, kedua  bola matanya terpaku pada sebuah peluit di atas nakasnya. “Apakah peluit itu masih berfungsi?” lirihnya.

Perlahan tapi pasti, Jiyeon melangkah mendekati nakas yang terletak di sudut kamarnya. Peluit itu masih sama seperti dulu. Diraihnya peluit yang menjadi liontin kalungnya. Untung saja para biarawati menyimpan benda-benda berharga milik Jiyeon saat dirinya tak sadarkan diri dalam waktu yang relatif lama.

Bibir mungilnya menyunggingkan senyum tipis yang tak lama kemudian memudar seperti asap yang terhempas oleh angin. Ekspresinya kembali datar. Jiyeon melingkarkan kalung itu di leher jenjangnya. Tiba-tiba ia ingat saat Myungsoo memakaikan kalung itu padanya. Entah kenapa Jiyeon tak bersemangat melakukan aktifitasnya  setelah mengetahui bahwa Myungsoo akan menikahi Soo Hee besok malam. Janji suci diantara mereka berdua akan terucap besok malam. Mulai saat itulah dia harus melupakan laki-laki bernama Kim Myungsoo.

“Aku tidak akan pernah mencintai laki-laki lain selama jantungku masih berdetak.”

Cekleeekk!!

Seseorang membuka pintu kamar Jiyeon tanpa izin darinya.

Jiyeon tersentak kaget saat menolehkan kepalanya ke arah pintu itu. Park Soo Hee berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang tidak ramah. Setelah hitungan 15 detik, Soo Hee mendekati Jiyeon yang berdiri mematung di dekat nakas.

“S, Soo Hee?” lirih Jiyeon hampir tak terdengar.

Park Soo Hee tersenyum sinis dan berdiri tepat di depan Jiyeon. “Waow! Daebak! Aku saagat terkejut melihat hantu bediri di sini dan menyebut namaku. Hantu yang cantik!” kata Soo Hee dengan nada menyindir.

Jiyeon hanya menatap tajam pada saudarinya itu. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu sebelum ditanya oleh Soo Hee.

“Apa kabarmu, saudariku? Dilihat dari kondisi fisikmu, kau dalam keadaan baik-baik saja. Tapi aku yakin hatimu tidak sebegitu baik. Benar, kan?” Soo Hee mengarahkan jari telunjuknya pada letak hati Jiyeon.

“Kau sudah bisa menebaknya, kenapa masih bertanya? Menurutmu aku sakit hati? Kau salah, Soo Hee.” Jiyeon mengulurkan tangannya pada Soo Hee. “Selamat atas pernikahan kalian!”

Soo Hee terpaku melihat respon Jiyeon yang tak pernah ia duga. Dia mengira bahwa Jiyeon akan menangis dan bertekuk lutut memohon padanya untuk membatalkan pernikahan. Tapi semua perkiraannya salah. Jiyeon tak meneteskan airmata setetes pun. Kedua manik matanya juga tak berkaca-kaca sama sekali. Jiyeon kelihatan begitu tegar di mata Soo Hee.

“Kenapa kau masih di sini? Keluarlah! Aku ingin istirahat.” Jiyeon meminta Soo Hee untuk segera meninggalkan kamarnya karena dia sudah tak tahan melihat gadis itu ada di depannya.

Soo Hee menuruti permintaan Jiyeon. Dia segera melangkah pergi meninggalkan kamar Jiyeon dan langsung menuju teras rumah itu yang berdampingan dengan gereja. Suasana hati Soo Hee sedang kacau. Dia sangat mencemaskan pernikahannya karena Jiyeon masih hidup dan kemungkinan besar dia akan mengacaukan pernikahan itu.

“Aku tidak akan membiarkan gadis itu merebut Kim Myungsoo,” gumam Soo Hee yang mulai geram atas kemunculan Jiyeon yang sangat tidak disukainya.

Persiapan pernikahan Soo Hee dan Myungsoo sudah mencapai 80%. Dekorasi interior yang didominasi warna putih terlihat bersinar dan bersih yang telah menarik perhatian Park Jiyeon.

Jiyeon berdiri di samping ranjangnya sambil menatap kosong ke arah gereja yang telah disulap menjadi sebuah tempat yang indah dan menyilaukan. Senyum tipis dan datar tersungging dari bibir tipisnya. ‘Semua adalah takdir. Semoga takdirmu dan takdirku tidak akan berhubungan lagi. Cukup sampai di sini,‘ batin Jiyeon yang tak merasakan bahwa bulir airmatanya jatuh membasahi pipi mulusnya.

Setelah puas melihat hasil karya para staf Wedding Organizer untuk pernikahan saudarinya, Jiyeon meraih sebuah buku setebal kurang lebih 4 cm dengan halaman sebanyak 500 halaman. Buku berjudul “Negara dalam Genggaman Tangan Besi” berhasil menarik perhatiannya. Dilihatnya sampul buku itu kemudian dibukanya lembaran buku itu satu per satu. Senyum tipisnya berusaha menghiasi wajah cantiknya.

Jiyeon duduk di tepi ranjangnya dan mulai membaca halaman pertama buku itu. Buku yang menarik, pikirnya. Dia melanjutkan kegiatan itu hingga tak mendengar keramaian di luar sana. Ya, di luar sedang ada banyak wartawan yang ingin meliput berita gembira tentang pernikahan putra Utara dan Putri Selatan. Semua penduduk dunia memiliki pertanyaan yang sama yaitu apa yang akan terjadi pada Korut dan Korsel yang dikenal sebagai dua negara perpecahan yang selalu berada di situasi menegangkan.

Pada detik ini, keluarga presiden Kim dari Korea Utara telah datang untuk memastikan bahwa persiapan pernikahan putra mereka sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, mereka juga ingin melakukan kunjungan pribadi dengan keluarga Park dari Selatan.

Semua kamera diarahkan pada rombongan keluarga Kim yang tampak santai dan mengumbar senyumnya kecuali Kim Myungsoo. Ada sesuatu yang mengganjal di hati laki-laki tampan itu. Tanpa sadar, Myungsoo mengarahkan pandangannya pada sebuah jendela rumah yang berada tepat di samping gereja. Jendela itu adalah jendela kamar Jiyeon. Entah siapa yang ada di dalam ruangan itu, Myungsoo merasa dadanya terasa sesak saat menatap jendela itu.

“Myungsoo-a!” panggil Ny. Kim yang langsung membuyarkan perhatian Myungsoo terhadap obyek pandangannya.

Kim Myungsoo berusaha menyembunyikan sikapnya akibat terkejut saat dipanggil oleh ibunya. “Ada apa?” tanya Myungsoo malas.

“Kau sudah melihatnya? Bagaimana pendapatmu?” Ny. Kim tampak senang karena sebentar lagi putra tunggalnya akan menikah.

‘Apakah eomma memang sesenang ini? Apakah eomma tidak khawatir dengan hubungan Utara dan Selatan?’ tanya Myungsoo dalam hati. Dia melihat sikap ibunya agak aneh, tidak seperti ayahnya yang memang berpura-pura ramah terhadap orang-orang Selatan. “Bagus. Sempurna.” Hanya dua kata yang keluar dari mulut Myungsoo. Tak lama kemudian dia kembali memperhatikan jendela kamar Jiyeon.

‘Aneh, ada seseorang di dalam ruangan itu,’ batin Myungsoo yang tengah mengerutkan keningnya. Tatapan mata elang itu masih terpaku pada jendela yang ditutup oleh seseorang. Myungsoo mencoba melihat wajah gadis yang tengah menutup jendela itu dengan seksama.

Deg!
Kedua bola matanya menangkap sosok gadis yang tidak asing baginya. Ya, Myungsoo seperti melihat Jiyeon berada di balik jendela itu. Apakah dia memang Jiyeon? Ah, tidak mungkin. Myungsoo menggelengkan kepalanya untuk membuang bayang-bayang wajah Jiyeon dari pikirannya. Dia tidak ingin terlarut dalam kesedihan atas kepergian Jiyeon. Yang harus dia lakukan saat ini adalah balas dendam.

Setelah acara kunjungan pihak Utara selesai, para staf diijinkan untuk melepas penat hingga esok hari. Dekorasi sudah mencapai 100%, tinggal menunggu pelaksanaan upacara pernikahan yang akan dilaksanakan besok malam.

Keesokan harinya.
Kesibukan orang-orang yang bertugas menyiapkan acara pesta pernikahan Myungsoo dan Soo Hee semakin padat. Pada petang hari, beberapa delegasi asing yang ditugaskan di Korea Selatan telah datang memenuhi undangan pernikahan putri presiden Korea Selatan yang akan dilaksanakan satu jam lagi.

Kedua mempelai hampir selesai dirias di dalam sebuah ruangan yang tertutup. Siapa sangka ruang rias Myungsoo dan Soo Hee bersebelahan dengan kamar pribadi Jiyeon yang selalu tertutup. Bahkan orang-orang menganggapnya seperti gudang karena tak pernah mengetahui apa isi di dalam kamar tersebut.

“Oppa, bagaimana? Apakah aku terlihat cantik?” tanya Soo Hee pada Myungsoo yang sedang duduk di atas sofa empuk di depan Soo Hee.

Myungsoo berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Soo Hee dengan menutup mata dan terlihat sedang tidur.

“Oppa, kau tidur?” tanya Soo Hee lagi.

Rasanya Myungsoo ingin membungkamulut calon istrinya itu. ‘Aku rasa, aku telah menyesal memberikan sedikit hatiku padamu, Park Soo Hee,’ batin Myungsoo dalam diamnya. Dia masih tak menggubris Soo Hee yang merengek dan memintanya untuk menjawab pertanyaan tidak penting itu. ‘Kau memang cantik tapi Gongju jauh lebih cantik daripada dirimu.’

Myungsoo tidak menyukai tipe wanita manja seperti Soo Hee. Namun rasa cinta dan sayang dari seorang Park Soo Hee mampu membuatnya luluh dan memberikan sedikit hatinya pada gadis yang akan ia nikahi.

Saat orang-orang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara pesta pernikahan, Jiyeon malah asyik bermain dengan burung rajawalinya. Dia tak melepaskan burung itu agar tak ada yang dapat melihat keberadaannya. Ibunya, Park Soo Jin sengaja menyuruhnya untuk bersembunyi dengan alasan tertentu.

Cekleek!!
“Jiyeon-a, kau baik-baik saja?” Soo Jin masuk ke dalam kamar Jiyeon yang sangat rapi dan bersih.

Jiyeon tersenyum pada ibunya. “Ya, aaku baik-baik saja. Eomma tidak usah khawatir.”

“Sebentar lagi rombongan dari Utara datang bersamaan dengan rombongan Haeri. Eomma minta kamu tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Jika mereka tahu bahwa kau masih hidup, tentunya mereka akan mencari cara untuk menjauhkanmu dari kami, Jiyeon-a,”terang Soo Jin seraya melirik ke arah burung Rajawali milik Jiyeon yang bertengger di atas nakas.

“Aku akan menuruti perintah eomma,” kata Jiyeon.

Tak berapa lama kemudian Soo Jin memeluk putri kandungnya itu selama hampir satu menit.

Tamu undangan dan pendeta telah datang. Upacara pernikahan segera dilaksanakan. Kim Myungsoo sudah berdiri di altar dan menunggu kedatangan sang mempelai wanita. Tak menunggu lama, mempelai wanita pun datang diiringi oleh Presiden Park selaku ayah Park Soo Hee. Bersamaan dengan itu, Jiyeon pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu untuk melihat upacara pernikahan kekasihnya dengan saudaranya sendiri.

Setelah mengucap janji suci yang dipandu oleh pendeta, kini saatnya Myungsoo dan Soo Hee berciuman mesra di hadapan para tamu yang telah meluangkan waktu mereka untuk menyaksikan pernikahan langka itu. Jarak antara Myungsoo dan Soo Hee hanya sekitar beberapa sentimeter. Myungsoo masih belum bisa melakukan adegan ciuman itu. Ya, dia tidak bisa mencium gadis selain Gongju selama pikirannya masih diliputi oleh bayang-bayang sang kekasih yang sudah meninggal.

Tap tap tap!
Jiyeon berjalan menuju tempat pernikahan Myungsoo. Dia tidak mempedulikan bagaimana reaksi orang-orang yang melihat keberadaannya apalagi dirinya dalam keadaan sehat wal’afiat. Jiyeon berdiri di balik pintu yang menghubungkan teras gereja itu dengan ruang utama di mana Myungsoo telah mengucapkan janji sucinya pada gadis lain. Dengan hati yang sangat kecewa, Jiyeon melihat wajah tampan Myungsoo dari celah pintu yang sedikit tertutup. Tak ada penjaga di depan pintu karena gereja itu sudah disterilkan dengan alat pelacak bom dan senjata berbahaya yang dipasang secara otomatis.

Jiyeon tak kuasa menahan cairan bening hangat yang keluar dari sudut matanya. Sosok pria yang sangat dirindukan kini sedang berdiri di samping saudaranya. Bahkan pria itu telah resmi menjadi milik SOo Hee. “Selamat menempuh hidup baru, Myungsoo oppa…” ucap Jiyeon lirih dengan menundukkan kepalanya dan membiarkan airmata jatuh membasahi lantai gereja itu.

“Siaa kau? Kenapa berdiri di depan pintu?”

Deg!
Jiyeon terlonjak kaget dengan suara seorang pria yang terdengar seperti tengah menangkap seorang pencuri. Jiyeon mengenal suara itu. Ya, suara khas seseorang yang sudah lama tidak ia dengar. Gadis itu mengangkat kepalany dengan perlahan dan menatap manik mata seorang pria yang berdiri tepat di depannya.

“Gongju?” Suara Jaejoong terdengar lagi.

Jiyeon semakin deras meneteskan airmata. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Jaejoong akan melihatnya di tempat itu. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Jiyeon beranjak pergi, kembali ke rumah yang bersebelahan dengan gereja. Jaejoong tak ingin kehilangan jejak Jiyeon. Ia pun mengejar Jiyeon samlai ke dalam rumah itu.

“Gongju-a!” panggil Jaejoong yang sukses  menghentikan langkah Jiyeon.

Jiyeon menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia tidak ingin orang lain mendengar tangisannya.

“Gongju-a,” panggil Jaejoong lagi. Kali ini dia berusaha mendekati Jiyeon pelan-pelan. Setelah berdiri di belakang gadis yang dipanggilnya, pria jangkung itu memegang bahu Jiyeon.

Jiyeon memutar tubuhnya pelan. Dia masih menutup mulutnya dan menutup kedua matanya.

“Rupanya kau benar-benar Gongju. Gongju-a….” Jaejoong ikut menangis larut dalam suasana entah bisa dibilang bahagia atau malah berduka.

Jiyeon berusaha  mengatakan sesuatu namun bibirnya terasa kelu dan tak sanggup untuk bicara. Beberapa detik kemudian Jaejoong memeluk Jiyeon erat-erat. Rasa rindu pada adiknya itu terlampau berat. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya.

“Oppa…” ucap Jiyeon dengan suara parau. Akhirnya dia bisa mengucapkan kata itu setelah sekian lama tidak bertemu dengan kakaknya. “Oppa, bogosiposeo…” Jiyeon mengeratkan pelukannya.

Jaejoong sama sekali tidak menyangka kalau Jiyeon masih hidup dan bisa bertemu dengannya di tempat pernikahan Myungsoo. Ia tahu betapa sakitnya hati sang adik yang menyaksikan pernikahan kekasihnya dengan kedua matanya. Jaejoong tak ingin melepaskan pelukannya hingga ia merasa telah melepas kerinduannya pada gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.

Jiyeon dan Jaejoong duduk di tepi ranjang King Size milik Jiyeon. Pintu kamarnya telah ditutup rapat sehingga tak ada yang dapat melihat keduanya. Suasana hening sejenak hingg akhirnya Jaejoong mengatakn sesuatu.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, Gongju-a,” kata Jaejoong lirih.

“Aku juga tidak menyangka bahwa Tuhan masih mengijinkanku untuk menghirup udara yang segar ini.”

“Apa yang kau lakukan di tempat itu? Apakah mereka sudah tahu tentang keberadaanmu di sini?” tanya Jaejoong pada Jiyeon yang menundukkan kepala.

“Soo Jee, presiden Park dan istrinya yang telah mengetahui keadaanku.”

“Lalu bagaimana dengan Haeri?”

“Aku tidak akan menunjukkan diri di depan wanita iblis itu. Oppa, dia adalah orang di balik meninggalnya Kyung Ho saem. Aku telah bersumpah dan berjanji pada diriku sendiri juga pada mendiang guru untuk balas dendam pada wanita itu.”

“Sabarlah, Gongju-a. Kita harus bersabar. Aku juga ingin membalas dendam pada Haeri dan seluruh kaki tangannya.”

Jiyeon tersenyum tipis seakan dipaksakan.

“Aku tidak akan menanyakan tentang perasaanmu pada Myungsoo.”

“Kenapa begitu?” tanya Jiyeon penasaran.

“Ada alasan tertentu kenapa Myungsoo mau menikahi Soo Hee. Dia adalah orang pertama yang merasakan kesedihan sangat mendalam saat mengetahui kabar meninggalnya Kyung Ho saem dan dirimu. Kim Myungsoo pernah mendatangi Selatan hanya untuk melihat jenazahmu namun presiden Park tidak mengijinkannya. Akhirnya Myungsoo kembali ke Utara dengan penyesalan dan kesedihan teramat dalam. Setiap hari dia meratapi kepergianmu. Meski aku telah berusaha menghiburnya dan membantu pekerjaannya sebagai menteri pertahanan, Myungsoo tetap tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Setiap hari kami membicarakn tentangmu. Dia telah menambatkn hatinya padamu untuk selamanya, Gongju-a.”

Jiyeon sedih mendengar cerita tentang Myungsoo. Sungguh, dia tidak pernah mengira bahwa Myungsoo akan bersedih seperti itu. “Oppa, jika aku dan Myungsoo mempunyai tujuan berbeda, siapa yang akan kau bela? Aku atau Kim Myungsoo?” Pertanyaan Jiyeon membuat Jaejoong bingung. “Kau harus memilih salah satu, Oppa.”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Entahlah, aku hanya merasa ingin menanyakan hal itu padamu. Siapa yang akan kau bela?” tanya Jiyeon sekali lagi.

“Aku akan membelamu sampai nyawaku melayang,” jawab Jaejoong mantab.

“Kenapa kau memilihku, Oppa?”

“Hmm, itu karena aku tidak pernah menyimpan keraguan padamu, Gongju-a. Kau selalu bisa dipercaya.”

Tbc

27 responses to “[Chapter 15] Love Is Not A Crime

  1. Pingback: [Chapter 17] Love is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. hah~ beneran sedih banget!!! lho gak nyangka myungsoo jadi nikah, walaupun dia tidak 100% mencintai soo hee tapi dia telah memberikan sedikit hatinya untuk soo hee. mungkin hati myungsoo masih tersisa banyak untuk jiyeon. tapi mengingat tujuan mereka yg berlawanan! bukankah itu akan menjadikan mereka musuh! benarkah nanti disaat myungsoo melihat gongjunya masih hidup, hatinya masih untuk gongju?! atau dia akan tetap bertahan dengan soo hee, menambatkan lebih banyak hatinya pd soo hee?! hanya bisa berharap myungsoo dengan jiyeon bertemu di saat yg tepat! he to the ol, heol! pokoknya aku gak rela kalo myungsoo akan hidup selamanya dengan soo hee! walau jiyeon dapet duda a.k.a bekas juga gpp deh yg penting jiyeon happy ending! atau ada opsi lain mungkin, jiyeon happy endingnya ama siwan! kekeke #peace

  3. Pingback: [Chapter 16] Love is not A Crime | High School Fanfiction·

  4. Authornim, cepet di lanjut dong😀 kalo myung sama sohee gapapa deh😀 asal jirrong dikasih pairing baru😀 sama siwan oke tuh haha… fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s