[ TWO SHOOT ] SEOUL TRAFFIC LOVE STORY # 2

STLS

Tittle : Seoul Traffic Love Story
Author : gazasinta
Main Cast : Kim Myungsoo, Park Jiyeon
Additional Cast : Shannon, Lee Jieun
Genre : Romance and Little Commedy
Rating : PG-15
Length : Two Shoot

Karena aku sudah memutuskan ini adalah ff twoshoot dengan seenaknya aku buat ff ini sepanjang jalan kenangan, heheheh…..tapi mudah-mudahan kalian ga mati kebosanan saat baru ditengah-tengah cerita, dan tetap tinggalkan jejak kalian agar aku lebih semangat untuk membuat ff yang bisa kalian nikmati di HSF.

Kalau di #1 semua menjelaskan tentang perasaan Jiyeon, kali ini ada juga yang menjelaskan tentang perasaan Myungsoo, walaupun cuma sedikit.

Sekali lagi aku mau info jika ff ini adalah adaptasi dari film Thailand, judulnya aku kasih tau deh “ Bangkok Traffic Love Story “ untuk bahasa serta budaya yang ada di ff ini jangan terlalu dipikirkan kalau itu benar adanya, karena ini Cuma fanfiction 

Disclaimer : Dalam ff ini, semua tokoh mengalami perubahan umur, sifat dan tingkah laku, jika ada yang tidak berkenan mohon maklum : )
Maaf juga untuk banyaknya typo yang bertebaran, selamat menikmati

Ting tong

“ Eoh Jiyeon-ah ada apa ?

Jiyeon memandang heran Jieun yang nampak begitu senang bahkan terkesan centil menyambutnya, mata tajamnya menyusuri tubuh mungil Jieun yang hanya memakai kemeja berukuran besar dengan beberapa kancing bagian atas terbuka sehingga memperlihatkan belahan dada tanpa celana pendek atau apapun yang menutupi paha putih mulus milik Jieun..

“ Kenapa kau tidak pakai baju dulu sebelum membuka pintunya ? Tanya Jiyeon heran.

Jieun sontak melirik penampilannya “ Aku tidak melihat ada yang salah, masuklah “ Santai Jieun seraya menarik tubuh Jiyeon masuk ke dalam.

Baru beberapa langkah memasuki kamar Jieun, Jiyeon kembali harus terbengong menatap suami sahabatnya itu memakai pakaian yang harusnya dipakai Jieun, sepertinya mereka memang sengaja saling bertukar pakaian.

“ Oh sial “ Teriak suami Jieun dan langsung masuk ke dalam toilet.

Jiyeon menutup mata tak percaya dengan apa yang ia lihat, sedangkan Jieun hanya mampu menundukkan kepala seraya membekap mulutnya malu, Jiyeon datang disaat yang tidak tepat.

“ Apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan ? “ Tanya Jiyeon, namun yang ditanya hanya mengedip-ngedipkan mata dan tersenyum malu.

>> SKIP >>

“ Eoh…kau bisa memperbaiki segalanya kan ? “ Tanya Jiyeon dengan wajah polos menyerahkan laptop ketangan suami Jieun.

“ Tentu, jika itu mengenai laptop apapun bisa aku perbaiki “ Suami Jieun begitu bersemangat meraih laptop dari tangan Jiyeon.

“ Itu bukan laptopmu kan ? “ Tanya Jieun yang memang mengetahui barang-barang milik Jiyeon.

“ Ah, umm…itu milik klienku “ Ucap Jiyeon berbohong, dan ia pun kembali mengalihkan pandangan pada suami sahabatnya itu.

Dilihatnya suami Jieun berdiri dengan wajah melongo memegang masing-masing bagian laptop yang terbelah dengan tangan kiri dan kanannya, dan seolah tidak paham Jiyeon justru memasang wajah polos memohon dengan sangat agar laptop itu diperbaiki.

***

Pkl 02.00 dini hari,

Jiyeon memutuskan untuk menemui Myungsoo hari ini juga, ia memang tidak membawa kabar baik mengenai laptop Myungsoo, namun Jiyeon berharap Myungsoo menghargai perjuangannya yang berusaha bertanggung jawab.

“ Huaaaa “ Jiyeon menguap lebar menunggu petugas keamaan digedung Myungsoo bekerja untuk menghubungi pria itu.

Klik

“ Maaf nona, tidak ada yang mengangkat telepon, mungkin tuan Myungsoo masih berada di lapangan, eoh mengapa kau tidak menelpon saja ke ponselnya “ Tanya security di sana.

“ Aku tidak memiliki nomornya “ Ucap Jiyeon sedikit kecewa “ Kalau begitu boleh aku titip laptop miliknya disini ahjussi ? “ Jiyeon menyerahkan laptop milik Myungsoo.

“ Baiklah aku akan memberikan padanya “ Security nampak tidak keberatan dan meraih laptop pemberian Jiyeon.

“ Dan aku ingin menyampaikan sesuatu untuknya, mau kah kau menuliskannya untukku ? “ Mohon Jiyeon.

“ Eoh tentu, tunggu sebentar “ Security mengambil pulpen dari kantong seragam dan merobek kertas bagian belakang dari buku miliknya “ Silahkan nona, apa yang akan kau sampaikan “

“ Untuk Kim Myungsoo-ssi “ Ucap Jiyeon membuka kalimat pesan untuk Myungsoo

“ Untuk Kim Myungsoo-ssi “ Security mengikuti kalimat yang Jiyeon katakan dan menulisnya pada selembar kertas.

“ Ini semua salahku “ Wajah Jiyeon memperlihatkan raut penyesalan

“ Ini semua salahku “ Ucap security kembali membeo kalimat Jiyeon.

“ Laptop itu tidak bisa diperbaiki “ Terang Jiyeon

“ Laptop itu tidak bisa diperbaiki “ Security menyelesaikan kalimat Jiyeon dan kemudian menutup pulpen ditangannya mengira Jiyeon sudah selesai dengan pesannya, namun…

“ Aku sungguh minta maaf “ Lanjut Jiyeon.

Security buru-buru membuka pulpen yang telah ia tutup untuk kemudian tangannya menulis kembali apa yang Jiyeon katakan “ Aku sungguh minta maaf “ Security menarik nafas lega mengira Jiyeon telah selesai dengan kalimatnya, dan untuk yang kedua kali dugaannya salah.

“ Maafkan aku atas dosa yang telah aku lakukan “ Jiyeon masih memintanya untuk menulis kalimat untuk Myungsoo.

“Maafkan aku atas dosa yang telah aku lakukan “

“ Mulai dari sekarang….”

“ Mulai dari sekarang “

“ Aku tidak akan menjadi masalah lagi “

“ Aku tidak akan menjadi masalah lagi “

“ Aku tidak akan menghalangimu lagi “

“ Aku tidak akan menghalangimu lagi “

“ Mulai dari sekarang “

“ Mulai dari sekarang “

“ Aku tidak akan muncul lagi “

“Aku…..tidak…..akan….muncul….lagi…..dan…ini….pasti….hal…yang…..benar,aku…..”

“ Eoh ahniyo “ Jiyeon memotong ucapan security yang mensyairkan kalimat panjangnya menjadi sebuah lagu “ Hanya satu kalimat lagi, aku benar-benar meminta maaf “ Ucap Jiyeon kali ini benar-benar mengakhiri kalimatnya.

“ Kamsahamnida ahjussi, tolong berikan itu padanya “ Jiyeon memutar tubuhnya hendak meninggalkan gedung STS.

Security melirik jam ditangannya, merasa kasihan ia pun memanggil Jiyeon untuk kembali “ Eoh nona, sebenarnya tuan Myungsoo akan keluar sebentar lagi, kau bisa menunggunya disini “

Wajah suram milik Jiyeon berubah cerah, dengan senyum overnya ia pun mengangguk setuju. Jiyeon duduk dikursi milik security yang telah diikhlaskan untuknya, untuk membuang rasa kantuknya ia pun mengedarkan pandangan ke arah gedung STS tempat Myungsoo bekerja, namun tidak sampai 15 menit, kepalanya sudah lunglai dan terjatuh diatas laptop, Jiyeonpun tertidur di pos keamanan.

Myungsoo berjalan hendak meninggalan gedung STS, namun ia berhenti ketika security menyapanya.

“ Eoh permisi Tuan Kim, ada seseorang yang menunggumu sejak tadi disana“ Ucap Petugas keamanan seraya menyerahkan kertas bertuliskan tangannya.

Myungsoo mengernyit heran, penasaran dengan seseorang yang menunggunya ia membuka kertas yang diberikan oleh security padanya terlebih dahulu, dan bibir Myungsoo pun berhasil mengulas senyum ketika membaca ungkapan maaf dari Jiyeon untuknya “ Gomawo ahjussi “ Myungsoo melipat kembali kertas tersebut dan melangkah menuju Jiyeon.

Di pos keamanan,

Dilihatnya Jiyeon tertidur sangat pulas dengan kepala berada diatas laptopnya, sesekali terdengar dengkuran halus dari bibirnya, Myungsoo tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, ia menyentuh lengan Jiyeon dengan jari telunjuknya, namun tentu saja sentuhan selembut itu tidak dapat membangunkan orang yang sudah tertidur pulas.

Myungsoo tersenyum jahil, ia menyatukan jari tengah dan ibu jarinya untuk menyentil lembut telinga Jiyeon, namun belum sempat sentilannya menyentuh telinga Jiyeon tiba-tiba suara ponsel terdengar, Myungsoo sontak menjauhkan tubuhnya dari Jiyeon, ia memeriksa kantong jaketnya, bukan ponselnya yang berbunyi, pandangannya jatuh pada tas Jiyeon yang terbuka, dengan perlahan dan begitu hati-hati Myungsoo mengambilnya “ Ibu “ Ucap Myungsoo mengetahui siapa yang menelpon Jiyeon.

Myungsoo meletakkan ponsel yang berbunyi tersebut dilengan Jiyeon dan menunggunya, ia ingin tahu reaksi Jiyeon yang terkejut mendengar suara nyaring ponselnya yang berdering, namun Myungsoo harus menarik senyumnya kembali setelah mengetahui bahwa Jiyeon tidak sama sekali bergerak dan tersadar.

Kali ini ia memindahkan ponsel itu diatas telinga Jiyeon, benar saja dering yang kedua Jiyeon sontak terbangun dan meraih ponsel ditangannya.

“ Nde ibu, aku sedang berada di rumah Jieun “ Ucap Jiyeon dengan suara kantuknya “ Tidak, aku tidak akan kembali “ Setelahnya Jiyeon memutus sambungan.

Myungsoo tersenyum mendengar kebohongan Jiyeon, ia pun merapikan jaketnya untuk bersiap jika Jiyeon menyadari jika ada dirinya dibelakang, namun tak diduga Jiyeon kembali meletakkan kepalanya diatas laptop, Myungsoo menghela nafasnya perlahan “ Apa sengantuk itu, hingga ia mengabaikan keberadaan orang yang ditunggunya ? “ Ucap Myungsoo pelan dan menggeleng tak percaya.

5 menit, 10 menit, hingga 15 menit Myungsoo menunggu Jiyeon terbangun namun yeoja itu semakin terlihat pulas tertidur, Myungsoo pun mendekat, mengarahkan tangannya pada tas yang terdapat laptop didalamnya.

Sretttt….

“ Eoh “ Kaget Jiyeon yang sontak berdiri ketika menyadari ada seseorang yang menarik laptop dari kepalanya.

Myungsoo menutup mulutnya menahan tawa melihat raut wajah Jiyeon yang terkejut dan melongo menatapnya, namun kembali Myungsoo harus takjub ketika Jiyeon ambruk dilantai dan tidur dalam keadaan duduk.

***

Keduanya berjalan beriringan di peron stasiun, Myungsoo merelakan dirinya menunggu Jiyeon terbangun dengan sendirinya.

“ Maafkan aku karena telah merusak laptopmu, ternyata temanku bilang itu tidak bisa diperbaiki “ Jiyeon menundukkan wajahnya menyesal.

Myungsoo hanya tersenyum dan tidak ingin melihat hal itu menjadi beban untuk Jiyeon “ Jangan terlalu banyak berpikir, laptopku sudah tua dan sering rusak juga, lihatlah! Aku sudah memakainya sejak di kampus “ Ucap Myungsoo memperlihatkan tas laptop yang terpasang pin jaman kuliahnya “ Sudah waktunya bagiku untuk menggantinya juga “

Jiyeon mengangguk mengerti, dan mereka kembali melangkah tanpa ada kalimat lainnya yang terucap, mereka berjalan sudah cukup jauh, Jiyeon merasa suasana begitu sepi dan terasa canggung “ Eoh, ini terlalu sepi, aku harus mencari topik pembicaraan….eoh tapi apa, apa…apa..apa ? “ ucap Jiyeon panik dalam hati.

“ Bukankah bintang itu indah “ Jiyeon menunjuk cahaya terang dengan telunjuknya, berharap topik pembicaraan yang ia ciptakan bisa mencairkan suasana sepi.

Myungsoo menoleh kearah yang Jiyeon maksud “ Bintang ? itu adalah lampu di puncak menara, Seoul terlalu terang, kau tidak bisa melihat bintang disini “ Ucap Myungsoo seraya tersenyum.

Jiyeon merasa dirinya begitu bodoh ketika menyadari ucapan Myungsoo, ia lupa jika hari sudah menunjukkan pukul enam pagi, tentu tidak ada bintang yang masih menampakkan dirinya dilangit. Kaki Jiyeon terus mengikuti kemana Myungsoo melangkah, bahkan dipagi hari yang masih gelap, Myungsoo seperti bintang yang bersinar begitu indah dan terang dimata Jiyeon.

“ Jika kau ingin melihat bintang, kau harus pergi ke planetarium di Seoul, disana kau bisa melihat seluruh alam semesta “ Ucap Myungsoo menyambung bahasan Jiyeon tadi.

“ Aku pikir aku tidak akan bisa pergi, sepulang bekerja aku begitu lelah dan mengantuk, jadi tidak pernah sempat ke tempat hiburan “ Jawab Jiyeon yang sontak membuat Myungsoo mengernyitkan dahinya heran, dan tidak lama tertawa.

“ Hahahhahaa “ Tawa Myungsoo

Jiyeon menelaah kalimatnya kembali, ia pikir tidak ada yang aneh, tapi mengapa Myungsoo seperti menertawainya? “ Ada apa ? “ Tanya Jiyeon penasaran dengan wajah polosnya.

Myungsoo pun menghentikan tawa spontannya, didapatinya wajah bingung Jiyeon yang menatapnya, Myungsoo mengambil nafas perlahan “ Planetarium hanya buka disiang hari, kau pikir tempat itu dimana ? kau tidak pernah pergi kesana sebelumnya ya ? ”

“ Begitu ? “ Jiyeon mengusap lehernya yang tidak gatal semakin menyesali dirinya yang sama sekali tidak tahu apa-apa, bahkan ini pembicaraan ringan “Eoh…aku sering melewatinya, tapi tidak pernah masuk kesana “ Ucapnya kemudian.

Kaki mereka kembali berjalan menyusuri peron stasiun, Myungsoo memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya “ Apa sekolahmu tidak pernah membawa mu kesana ? “ Tanya Myungsoo yang dijawab gelengan kepala oleh Jiyeon “ Kau tahu ? Aku sudah lama sekali tidak kesana “ Sambung Myungsoo menerawang.

“ Karena pekerjaanmu ? kenapa kau tidak bangun saja lebih pagi jika ingin kesana ? “ Saran Jiyeon

“ Aku bekerja sepanjang malam, bagaimana aku bisa bangun sepagi itu, kartu pengenalku sudah kadaluarsa dan aku bahkan tidak punya waktu untuk memperpanjangnya “ Ucap Myungsoo

“ Jika begitu ambillah libur sehari “

“ Aku tidak bisa, aku tidak punya hari libur “ Ucap Myungsoo tersenyum lemah

“ Apa ? tidak ada hari libur atau akhir pekan ? tidak ada ? “ Tanya Jiyeon heran.

“ Tidak ada, STS beroperasi 365 hari dalam setahun “ Ucap Myungsoo.

“ Mengapa kau suka bekerja dimalam hari ? “ Tanya Jiyeon kemudian, kini ia merasa lebih tenang berbicara dengan Myungsoo.

Myungsoo menatap langit yang mulai berwarna kebiruan “ Karena hal itu cukup damai, tidak ada macet dan tidak ramai, kau ? mengapa kau suka bekerja pada siang hari ? “ Myungsoo menolehkan pandangannya kini ke arah Jiyeon.

“ Aku bekerja menjual sell matahari, benda itu butuh cahaya matahari, tapi sebenarnya aku juga suka malam, tidak panas dan aku tidak terbakar cahaya matahari…huuuaaaa dan aku tidak berkeringat juga “ Jiyeon mengatakan kalimat terakhir seraya menguap lebar.

Myungsoo menatap lekat dan tersenyum melihat Jiyeon yang nampak cuek menguap begitu lebar dihadapannya, dan mengalihkan tatapannya ketika Jiyeon pun menatapnya. Bunyi kereta menghentikan kaki keduanya, mereka pun berhenti dan bersiap di pinggir peron menunggu kereta yang akan mengantar mereka pulang ke rumah.

***

Di dalam kereta,

Jiyeon tidak lagi sanggup untuk menahan kantuknya, bahkan ketika nanti berpisah dengan Myungsoo di stasiun Cheonggyecheon, ia harus kembali ke stasiun Seoul tempat sekarang dirinya berada untuk bekerja. Mereka duduk berdampingan dikursi paling pinggir kereta, kepala Jiyeon sesekali terantuk, dan tak sengaja kini jatuh di bahu Myungsoo, Jiyeon tersadar dan segera mengangkatnya untuk kemudian ia sandarkan pada tiang kereta.

Myungsoo tersenyum tipis, ia terus menatap wajah Jiyeon yang tertidur begitu lelah, tidak berapa lama ia berdiri dan berpindah duduk pada kursi kosong tepat diseberang Jiyeon, mengamati dengan seksama wajah Jiyeon dari arah depan. Sepanjang perjalanan, seperti itu, mengamati wajah cantik Jiyeon tanpa sepengetahuan yeoja itu, hingga mereka sampai di tempat tujuan.

Distasiun Cheonggyecheon,

“ Hai tampan mengapa kau tidak menyapaku kali ini ? “ Ucap seorang wanita yang berjaga pada pintu masuk stasiun.

“ Aku takut kau bosan jika terus menyapamu dengan kata hai “ Ucap Myungsoo yang dibalas dengan rengutan wanita penjaga loket “ Baiklah-baiklah lain kali aku akan menyapamu dengan kata halo “ Ucap Myungsoo menyenangkan hati wanita itu, ia pun menempelkan tiketnya untuk kemudian masuk menyusul Jiyeon yang telah lebih dulu melangkah masuk.

Jiyeon tersenyum ramah pada wanita yang baru menyapa Myungsoo, walaupun sebenarnya hatinya menyumpah serapah pada wanita yang begitu blak-blakkan itu, ketika Myungsoo berada beberapa langkah didepannya, ia merubah senyum ramah tadi menjadi sebuah ejekan“ Huh “ Eluh Jiyeon dengan mengangkat dagu seolah bangga ia bisa merebut Myungsoo dari wanita manapun.

Si petugas hanya mengernyit heran dengan senyuman Jiyeon untuknya.
Semua mata menatap dan berbisik-bisik menunjuk ke arah Myungsoo, Jiyeon memasang telinganya ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan, dan ia tersenyum begitu lebar setelah mendengar apa yang orang-orang katakan, mereka bilang ia beruntung mendapatkan kekasih setampan pria disampingnya.

Sama halnya ketika menuruni eskalator, para siswi dengan seragam tersenyum centil ke arah Myungsoo, Jiyeon melihat pria disampingnya itu hanya menunduk malu, dengan memasang wajah galak serta dengan jarinya yang seolah memberi tahu bahwa “ Pria ini adalah milikku “ siswi itupun kemudian menarik senyum dan kembali berjalan.

“ Eoh “ Myungsoo reflek memegang tas laptop yang tiba-tiba talinya terputus.

Jiyeon kembali merasa tidak enak karena mengingat laptop rusak didalamnya, namun dengan santai Myungsoo menggulung dan membawa dalam tentengannya, pria itu kemudian mengeluarkan kacamata rayban cokelat dan memasang diwajah tampannya.

Jiyeon begitu terpesona hingga matanya tidak berkedip.

“ Dah !!! “ Ucap Myungsoo sebagai salam perpisahan.

Jiyeon hanya menganggukkan kepala dan terus berdiri mengamati sosok Myungsoo dari arah belakang, wajahnya berubah mengernyit heran ketika dilihatnya Myungsoo mengeluarkan laptop dan membuang tasnya kedalam tong sampah.

Merasa bisa dijadikan kenangan, Jiyeon bergerak cepat menuju tempat sampah, tanpa sepengetahuan Myungsoo ia mengambil kembali tas tersebut dari dalamnya, bahkan ia tidak merasa jijik untuk kemudian memeluk tas itu, membuat seorang pemulung menatapnya tajam karena merasa rejekinya diambil paksa oleh wanita aneh dan centil dihadapannya.

Perjalanan menuju kantor yang begitu berat tidak lagi Jiyeon rasakan, bahkan wajah masam yang selalu terukir ketika berada di lalu lintas ramai Seoul tidak lagi ada, sepanjang jalan hanya tersenyum, ia pun tidak sungkan membalas dengan senyuman ibu-ibu yang menginjak kakinya, orang-orang yang memiliki masalah dengan bau badan, dan tukang ojek yang membawanya berlari kencang.

Jiyeon terlalu bahagia melewati hari ini bersama Myungsoo, dan kini ia memiliki tas Myungsoo yang sewaktu-waktu bisa mengobati kerinduannya jika pria itu tidak ia temui distasiun.

***

Tiba dirumah,

Jiyeon terus memeluk tas milik Myungsoo meski kini ia sudah dengan piyamanya dan berada diranjang untuk tidur, tubuhnya berguling-guling senang dengan bibir yang tidak lepas mencium berkali-kali tas dipelukannya seolah itu adalah Myungsoo. Entah apa yang melintas dipikirannya, tiba-tiba ia terduduk.

Jiyeon membuka tas itu perlahan, beberapa benda ia keluarkan dari dalamnya, tangannya menemukan sebuah benda yang dibungkus rapi oleh kertas, ketika dibuka dahinya mengernyit heran mendapati 1 roll negatif film disana, penasaran Jiyeonpun memeriksanya.

Pagi hari ketika berangkat bekerja,

Jiyeon melihat dengan serius lembar demi lembar hasil negatif film yang baru saja ia cetak, Myungsoo ada didalamnya dengan berbagai gaya yang memperlihatkan ketampanannya, Jiyeon tersenyum senang tidak menyangka tetap bisa melihat Myungsoo meski hanya dari sebuah foto, namun wajahnya berubah sedih tatkala dibagian belakang ada foto Myungsoo dengan seorang wanita yang biasa ia lihat pada sebuah drama yang biasa ibu dan neneknya tonton “ Son Naeun….ada hubungan apa dengan Myungsoo ? “ Lirihnya tiba-tiba tak bersemangat.

***

Malam hari,

Myungsoo hendak menuju STS tempatnya bekerja, kali ini ia menyempatkan diri membeli surat kabar untuk mengusir rasa bosan didalam kereta nanti, wajahnya berubah datar ketika melihat ada foto dirinya dan seseorang dimasa lalu menjadi hot news di beberapa surat kabar, Myungsoopun mengurungkan niatnya untuk membeli dan melanjutkan langkahnya menuju stasiun.

Disepanjang perjalanan, otaknya terus mencari jawaban bagaimana foto lamanya kini muncul kembali, bahkan ia sudah satu tahun berpisah dengan mantannya yang seorang artis terkenal di Korea Selatan.

***

“ Bruk…bruk…bruk buka pintunya “ Jiyeon menggedor-gedor penuh napsu studio foto tempat ia mencetak pagi tadi.

Ia merasa kesal dan ditipu oleh pemilik studio tersebut, tidak salah dugaannya pasti pemilik studio telah memanfaatkan keteledoran dirinya untuk mendapatkan uang, mungkin Myungsoo akan memaafkan jika Jiyeon merusak semua benda kesayangannya, namun tidak dengan ditemukannya foto dirinya sedang bermesraan dengan seorang wanita tersebar, Myungsoo pasti akan benar-benar menjauhi dan benci padanya.

“ Bruk….bruk….bruk , Yya!!! buka pintunya cepat “ Teriak Jiyeon semakin marah.

Tidak lama muncul seseorang dari dalamnya “ Kamu!!! benarkan ? kamulah yang memberi fotonya kepada wartawan ? “ Labrak Jiyeon dengan mata melotot dan gigi bergemeletuk kuat.

Dengan santai si pemilik studio menjawab “ Aku tidak memberikannya pada wartawan, hanya menruhnya di Hi5 ( jejaring sosial ) “

“ Apa yang kau lakukan membuat orang-orang berada dalam masalah, kamu tahu ? “ Geram Jiyeon.

“ Apa hubungannya denganmu ? mengapa kau semarah itu ? apa kau Son Naeun ? “

Jiyeon mencengkeram kedua tangannya kuat, ia memang bukan Naeun yang akan diburu para pewarta, atau bukan Myungsoo yang sebentar lagi akan jadi pembicaraan banyak orang, tapi ia adalah Jiyeon si pembuat masalah, yang jika Myungsoo tahu ia akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dan dekat dengan pria itu.

Si pemilik studio tidak lagi menghiraukan Jiyeon, ia pun menutup kembali studionya, meninggalkan Jiyeon yang masih menahan amarahnya.

***

Hari ini dijalani Jiyeon dengan perasaan bersalah, setiap orang yang berada dijalan, bahkan kini semua orang kantornya sedang membicarakan berita hot hubungan Son Naeun dan Kim Myungsoo, Jiyeon begitu sedih lagi-lagi tidak bisa memenuhi janjinya untuk tidak menyusahkan Myungsoo dan membawa pria itu ke dalam masalah. Sepulang bekerja ia tidak lagi berharap bertemu Myungsoo di stasiun, bahkan Jiyeon sengaja menghindar ketika ia sebenarnya melihat Myungsoo, Jiyeon memutar tubuhnya untuk kembali masuk kedalam kereta, kali ini ia tidak berlari menuju pintu yang akan Myungsoo lalui, melainkan menunggu pria itu masuk dan kemudian ia melangkah keluar untuk pulang, namun dilihatnya Myungsoo masih berdiri diluar kereta, wajah tampannya berkeliling seolah menunggu seseorang.

Bunyi pluit petugas stasiun membuat Jiyeon nekat keluar bersembunyi dibalik tasnya, sementara Myungsoo pun akhirnya melangkah menaiki kereta menuju tempatnya bekerja.

Tiba dirumah, Jiyeon melihat ibu dan neneknya seperti biasa menonton tayangan telivisi, kali ini bukan sebuah drama yang diperankan oleh Son Naeun dan Taemin yang biasa mereka tonton, memang masih menyangkut Naeun, artis itu mengklarifikasi hubungannya dengan seorang pria yang Jiyeon kenal.

“ Aku memang pernah menjalin hubungan dengannya, tapi itu sudah berlalu dan kami putus secara baik-baik “

“ Apa hubungan itu suatu saat dapat diperbaiki ? “

“ Bagaimana bisa? kami tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun, jika tidak ada pertanyaan lagi aku akan pergi “

Jiyeon menghela nafas lemah melihat tayangan televisi tersebut, ia kemudian melangkah naik ke atas kamarnya untuk menenangkan dirinya.

Di dalam kamar,

Jiyeon memeluk boneka kesayangannya di atas loteng, matanya tidak lepas menatap lampu-lampu terang jauh di belahan bumi Korea lainnya, ia merasa sinar yang dipancarkan tidak seindah seperti biasanya.

Tok…tok…tok

Jiyeon melangkah menuju pintunya perlahan, wajah ibu muncul dari balik pintu yang ia buka “ Waeyo ? “ Tanya Jiyeon.

“ Ini bebaskanlah ayahmu karena mabuk-mabukan dan mengemudi, dia pergi makan dengan teman-temannya dan mungkin dipaksa untuk banyak meminum bir “ Ucap Ibu.

Jiyeon yang sebenarnya sangat malas dan sedang tidak bersemangat mau tak mau menuruti, ia adalah anak satu-satunya yang bisa orangtuanya andalkan.

***

“ Ayah terlalu banyak minum “ Ucap Jiyeon ketika didalam mobil berdua dengan ayahnya.

“ Nde, sampai-sampai aku punya cukup banyak tutup botol minuman untuk bermain catur “ Ucap ayah membuat Jiyeon tersenyum tipis.

Ayah dan anak yang sebenarnya masih dalam suasana marah itupun kembali terdiam, sesekali ayah menatap ke arah Jiyeon yang tidak biasanya lebih banyak diam “ Alasan aku tidak ingin kau mengemudi adalah karena aku khawatir tentang dirimu “ Tiba-tiba ayah berbicara mengenai hukuman yang diberikannya untuk Jiyeon.

Jiyeon diam dan masih fokus dengan kemudi, namun telinganya ia pasang untuk mendengar apa yang ayah bicarakan.

“ Kau adalah putriku satu-satunya, kalau terjadi sesuatu padamu apa yang akan aku lakukan ? “ Tanya ayah terlihat raut khawatir diwajah yang hampir keriput itu.

Jiyeon tersenyum, ia tahu ayahnya tidak suka meminum-minuman keras, mungkin malam ini ayah merasa sepi dan butuh kesenangan “ Ayah, ketika ibu menelepon, apa dia memakimu ? “ Tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“ Ibumu tidak seburuk itu, tapi nenekmu yang buruk, tapi kau jangan memberitahu tentang ini, aku akan mati dibunuh olehnya “ Ucap ayah membuat Jiyeon tidak bisa menahan tawanya.

“ Ayah “ Panggil Jiyeon

“ Eoh “

“ Kalau kita melakukan sesuatu yang salah, mmmmm….dan mengakui apa yang telah kita lakukan, akankah kesalahan kita dikurangi setengahnya ? “ Tanya Jiyeon mengingat kesalahannya pada Myungsoo.

“ Itu tidak selamanya benar, kalau itu sangat buruk, maka terkadang lebih baik menyimpannya untuk dirimu sendiri “ Ucap ayah memberi pandangan.

“ Ayah….. “ Panggil Jiyeon yang kali ini ayah hanya merespon dengan anggukan, karena lambat laun matanya terlihat terpejam “ Untuk festival air tahun ini aku akan pergi ke Thailand bersama kalian “ Ucap Jiyeon yang akhirnya membuat ayah tersenyum senang dengan keputusannya.

Menghindar dari Myungsoo selama mungkin, Jiyeon harap dapat menghilangkan bayang-bayang kesalahan yang ia lakukan.

***

Beberapa hari kemudian,

“ Ya, sebentar lagi aku sampai di stasiun Daeho, kita akan segera bertemu, nde gomawo, sampai jumpa disana, annyeong!!! “ Jiyeon menutup ponselnya, dan bersiap untuk turun.

Ia akan menemui klien yang memesan shell matahari di perusahaanya, selain sebagai seorang accounting Jiyeon juga dimanfaatkan untuk bisa menjadi seorang marketing oleh bosnya, Jiyeon bersiap untuk berdiri dipintu keluar, satu stasiun lagi ia akan sampai, namun sosok yang sedang tertidur pulas di bangku kereta membuatnya terdiam.

Pria itu, pria yang beberapa hari ini ia hindari ada disana, mata tajam pria itu ditutup kacamata yang ia berikan, Jiyeon gugup dan tidak menyangka akan bertemu Myungsoo disiang hari, ia masih ingat perkataan Myungsoo sebelumnya bahwa tidak akan membuang waktu tidurnya hanya untuk berjalan-jalan, Jiyeon membalikkan tubuhnya dan berdiri menjauh dari Myungsoo dengan panik, namun ia tetap mengawasi pria itu.

Dua orang wanita disebelah Myungsoo nampak menunjuk-nunjuk sosok pria itu, salah satunya tiba-tiba mengeluarkan majalah yang covernya memasang foto Myungsoo dan Son Naeun, mereka kemudian mendekat tanpa suara ke arah Myungsoo dan mengambil gambar bersama. Jiyeon membekap mulutnya sedih, Myungsoo pasti mendadak popular karena ulahnya.

“ Selanjutnya stasiun Daeho “

“ Maafkan aku, sampai jumpa di kehidupan kita berikutnya “ Ucap Jiyeon dihadapan Myungsoo, dan ia pun melangkah turun dari kereta.

Beberapa langkah setelah turun dari kereta tak membuat perasaan Jiyeon menjadi tenang, justru ia semakin merasa bersalah telah menghindar dari tanggungjawab, meski ragu namun Jiyeon memaksa dirinya untuk kembali masuk ke dalam kereta.

Jiyeon duduk disamping Myungsoo dengan perasaan bersalah, ia nampak tidak bisa diam dan seperti orang bingung, ia ingin membangunkan Myungsoo namun tidak cukup memliki keberanian, sampai akhirnya…

“ Stasiun terakhir “

Jiyeon sontak berdiri, kali ini ia benar-benar akan turun meninggalkan Myungsoo.

“ Tuan, ini adalah stasiun terakhir “

Jiyeon yang belum sampai dipintu keluar terpaksa membalikkan tubuhnya kembali ketika mendengar suara petugas kereta membangunkan Myungsoo, ia tidak mau Myungsoo mengetahui jika dirinya menghindar.

“ Eoh Ji ? “ Panggil Myungsoo ketika membuka mata dan menyadari jika ada Jiyeon disana.

Beberapa saat kemudian,

Jiyeon terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, ia sadar Myungsoo yang duduk disampingnya sedang menatap ke arahnya, ia pun memejamkan mata dan mengambil nafas sejenak “ Apa kau ingat tas yang kau buang itu ? “ Tanya Jiyeon yang hanya dibalas dengan senyuman seperti biasa Myungsoo.

“ Ada beberapa barang didalamnya “ Lanjut Jiyeon lagi “ Obat sakit kepala, permen herbal, kupon penyewaan video, dan juga…..satu rol negatif film “

Wajah Myungsoo berubah serius tanpa senyuman, Jiyeon menggigit bibir bawahnya cemas “ Aku pikir fotonya berasal dari negatif yang ingin aku cetak “ Ucap Jiyeon cepat tanpa jeda nafas sedikitpun, dan ia kembali menunduk mendapati tatapan tak percaya Myungsoo padanya.

“ Mwo ? “ Tak percaya Myungsoo

“ Iya…..ku pikir itu berasal dari negatif film yang ingin aku cetak “ Jiyeon menutup wajah dengan kedua tangannya begitu menyesal “ Maafkan aku “

Myungsoo mengalihkan tatapannya kearah lain, matanya mengerjap-ngerjap berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Rombongan murid-murid sekolah dasar naik ketika kereta berhenti, Jiyeon dan Myungsoopun berdiri memberikan tempatnya untuk mereka. Myungsoo masih terdiam dengan wajah seriusnya, sementara Jiyeon merelakan menunggu apa yang akan Myungsoo lakukan padanya sebagai hukuman, tangan mereka berpegangan pada tiang kereta, berdiri berdampingan tanpa menatap satu sama lain.

“ Lupakanlah , itu kesalahan kita berdua, aku membuangnya ….dan kamu mengambilnya ….mwo ? “ Tiba-tiba Myungsoo tersadar dengan ucapannya “ Kamu mengambilnya dari tempat sampah ? “ Tak percaya Myungsoo.

Jiyeon menarik dua sudut bibir atasnya untuk tersenyum, sementara Myungsoo hanya menghela nafas pelan tidak menyangka Jiyeon melakukannya.

“ Jadi siapa yang mencampakkan siapa ? kamu atau Naeun ? “ Jiyeon mulai memberanikan dirinya bertanya melihat wajah Myungsoo yang sudah kembali ramah seperti biasa.

“ Kau ? “

“ Eoh, aku sebenarnya tidak peduli dengan gosip, tapi…..bagaimana cerita sebenarnya ? “ Jiyeon tetap ingin tahu apa yang akan Myungsoo jelaskan.

Sejenak Myungsoo berpikir, cerita itu sudah lama ia kubur dalam “ Aku dan Naeun memang menjalin kasih, aku pergi untuk belajar keluar negeri, dan pada saat itu ia masuk kedalam dunia hiburan, sepulang dari luar negeri aku bekerja di malam hari, karena itu kami sangat jarang bertemu, Naeun bilang jika kami tidak bertemu sama sekali lalu bagaimana bisa kami ada dalam sebuah hubungan ? “ Ucap Myungsoo menatap Jiyeon lekat.

Tidak ada perubahan pada raut wajah Myungsoo yang Jiyeon lihat, pria itu sama sekali tidak bersedi “ Dan sekarang kau tidak apa-apa ? “ Tanya Jiyeon sekedar berbasa-basi.

“ Aku tidak apa-apa, baik-baik saja, dan Naeun juga baik-baik saja, untungnya Taemin mengerti “ Ucap Myungsoo.

Jiyeon mengangguk dan tersenyum namun wajahnya berubah takjub mendengar nama Taemin yang disebut oleh Myungsoo “ Mwo ? jadi mereka berdua benar berhubungan ? Daebak!!! jika ibu dan nenek tahu hal ini mereka sangat senang sekali, ibu dan nenekku sangat ingin mereka bersama dikehidupan nyata “ Ucap Jiyeon yang teringat akan drama yang Naeun dan Taemin perankan.

“ Pemberhentian berikutnya Planetarium “

“ Baiklah anak-anak kita hampir sampai di planetarium Seoul “ Suara seorang wali murid terdengar.

Mendengar kata planetarium, Jiyeon teringat pembicaraannya dengan Myungsoo ketika itu, dan dengan cepat ide untuk pergi bersama Myungsoo terlintas dikepalanya “ Mau pergi ? “ Tanya Jiyeon.

“ Mwo ? apa ? “ Myungsoo menunjukkan wajah tak mengerti.

“ Aku yang traktir “ Jiyeon pun keluar dari kereta.

Meski belum paham dengan apa yang Jiyeon lakukan, namun kedua kaki Myungsoo akhirnya mengikuti langkah Jiyeon turun kereta.

***.

Di planetarium,

Sepanjang didalamnya, Myungsoo tak henti-hentinya menguap, rupanya duduk bersandar dalam ruangan gelap memacu matanya yang memang tinggal beberapa watt semakin mengantuk.

“ Kau mengantuk ? bukankah biasanya kau bangun dimalam hari ? “ Tanya Jiyeon yang nampak heran melihat mata Myungsoo yang hanya tinggal segaris.

“ Ini kan memang belum malam hari, ini baru jam 3 sore “ Ucap Myungsoo berbisik

Jiyeon tersenyum, ia lupa jika mereka sedang berada didalam planetarium yang sudah pasti cahayanya dibuat menjadi seperti malam hari. Pemandangan luar angkasa yang sangat indah dengan bertabur bintang dilangitnya membuat perasaan Jiyeon begitu damai, entah di mulai sejak kapan tiba-tiba kesadarannya pun hilang, menyusul Myungsoo yang lebih dulu pergi ke alam mimpi.

“ Planetarium Seoul mengakhiri acara, sampai bertemu lain kali, sampai jumpa “

Mata Jiyeon perlahan membuka, mengumpulkan cahaya untuk dapat melihat dengan jelas, ruangan sudah kembali terang, ia mengalihkan tatapan kesamping kirinya, nampak Myungsoo masih tertidur lelap dikursinya, Jiyeon merengut kesal, bukan karena Myungsoo yang tertidur, namun dirinya yang tidak bisa menggunakan kebersamaan mereka dengan hal-hal yang berkesan, bertemu Myungsoo disiang hari seperti kejadian yang bisa dirasakan seumur hidup sekali, namun ternyata ia menyia-nyiakannya.

Di hall planetarium,

“ Ini adalah peta Seoul, kita bisa melihat seluruh kotanya “ Jiyeon menyusuri peta dunia yang terpeta dilantai planetarium.
Myungsoo menghampiri dan mencoba melihat apa yang Jiyeon tunjukkan, namun sesuatu yang ada di layar yang tersedia diujung sana mengalihkan perhatiannya.

“ Ketika komet Halley mengunjungi bumi, aku tertidur “ Jiyeon tiba-tiba berada disamping Myungsoo yang memang sedang memperhatikan sebuah komet dari layar yang tersedia disetiap sudut halaman depan planetarium.

Myungsoo tersenyum mendengar ucapan Jiyeon “ Halley muncul setiap 76 tahun sekali, tapi McBright mungkin tidak akan menghampiri kita lagi “

Jiyeon memicingkan matanya menatap layar yang Myungsoo lihat, sebuah informasi berjalan bertuliskan komet McBright akan muncul pada tanggal 16 April.

“ Apa kita bisa melihatnya dengan jelas nanti ? “ Tanya Jiyeon.

“ Yang satu ini lewat dekat dengan bumi “ Myungsoo menoleh dan tersenyum ke arah Jiyeon

“ Jika begitu mari kita melihatnya bersama-sama tanggal 16 April nanti “ Tawar Jiyeon

Myungsoo tersenyum tipis, ia pun kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain “ Eoh, kita lihat nanti “ Ucapnya lemah.

Kringgg!!!

Jiyeon terkejut bukan main setelah melihat nomor ponsel bosnya yang sangat galak muncul, sial ia lupa jika sebenarnya ia sedang ditugaskan untuk menemui klien yang akan memesan sheel surya dari perusahaannya “ Nde….yya boss!! “ Ucap Jiyeon takut-takut

“ Kau dimana ? klienmu terus-terusan menelpon mengapa kau tidak juga sampai eoh ? kau…..bulan ini ku potong gajimu, cepat kembali ke kantor “ Teriak seseorang disana marah.

Tanpa mengingat lagi jika dirinya pergi bersama Myungsoo, Jiyeon pun berlari begitu terburu-buru dan panik meninggalkan Myungsoo yang terbengong menatapnya.

***

Pagi hari rumah Jiyeon nampak sibuk, semuanya sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju kampung halaman ibu Jiyeon di Thailand, Jiyeon sudah rapi dan siap berangkat, ia menarik koper menuruni tangga.

Ting tong

Bel diluar berbunyi, Jiyeon meletakkan koper dan menggeser pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan tubuhnyapun mematung tatkala mengetahui siapa yang datang.

“ Ji, apa kamu masih kosong di festival air ini ? “

Jiyeon yang masih syok dengan kemunculan tiba-tiba Myungsoo dipagi hari tidak menjawab apa-apa, ia bingung apakah harus mengangguk atau menggeleng ? akhirnya ia melakukan keduanya, mengangguk dan menggeleng.

“ Aku dapat libur dan tidak yakin mau pergi kemana, jadi….aku ingin mengundangmu untuk menghabiskan waktu bersama- sama “ Ucap Myungsoo lembut dari matanya terpancar pengharapan, setidaknya itu menurut Jiyeon.

“ Eum….eum “ Jiyeon mengusap lehernya bingung, bibirnya sulit sekali untuk ia ajak bergerak, ia tidak menyangka tawaran ini datang dari Myungsoo.

“ Apa kau mau berbasah-basahan? “ Tanya Myungsoo kembali karena Jiyeon masih saja berdiri dengan wajah bingung.

Sedikit ragu, perlahan kepala Jiyeon bergerak turun untuk mengangguk, namun begitu mulutnya masih tidak tahu harus mengatakan apa, hingga “ Tentu, aku mau….aku mau….aku mau berbasah-basahan denganmu “ Ucap Jiyeon dengan nafas memburu.

Myungsoo tersenyum, ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah dan mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya “ Kalau begitu, aku akan menjemputmu besok “ Ucap Myungsoo memasang rayban diwajah tampannya seraya tersenyum, setelahnya ia berlalu meninggalkan Jiyeon yang harus bersusah payah menyadarkan diri dari sosok tampannya.

“ Jiyeon-ah, kajja!!! cepat telepon taksinya, kita hampir ketinggalan penerbangan “ Teriakan ayah yang muncul tiba-tiba membuat Jiyeon tersadar dari sosok Myungsoo.

Ayah dan ibu yang menggandeng nenek turun dari lantai atas dengan banyak koper yang akan mereka bawa menuju Thailand, Jiyeon memukul dahinya pelan, celaka !!! kehadiran Myungsoo sampai-sampai membuatnya lupa jika hari ini ia harus bertolak ke Thailand selama 4 hari, apa yang harus ia lakukan untuk menggagalkan kepergiannya ? Jiyeon panik.

Di halaman rumah,

Selesai menaruh semua barang ke dalam bagasi “Hati-hati selama diperjalanan !!! “ Ucap Jiyeon melambaikan tangan.

Taksi meluncur cepat hendak berlalu, namun baru beberapa meter berjalan “ Berhenti !! anak itu belum naik “ Teriak ayah.

Taksipun kembali mundur membuat Jiyeon memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya kuat, ternyata keluarganya sadar jika ia tidak ikut serta.

“ Ayo cepat naik “ Teriak ayah dan ibunya dari dalam taksi.

Jiyeon pun dengan terpaksa naik, didalam taksi otaknya terus berpikir untuk kembali menggagalkan perjalanannya, kepalanya celingak-celinguk, disepanjang jalan kendaraan begitu banyak dan menyebabkan macet.

“ Astaga, mengapa lalu lintasnya sangat padat, apa kita akan sampai tepat waktu ? “ Tanya ayah cemas pada sopir taksi yang terlihat juga frustasi mengantri dipintu tol.

“ Mungkin tidak, kita tidak usah pergi saja “ Ucap Jiyeon pelan namun begitu berharap.

Ibu dan ayah memandang Jiyeon tidak puas, untung saja nenek yang berada disamping Jiyeon tertidur pulas, jika tidak tentu kepala Jiyeon akan menjadi sasaran karena seenaknya memutuskan tidak berangkat.

“ Semoga macet, semoga ketinggalan pesawat “ Jiyeon memejamkan mata dan berdoa.

Namun setelah membayar tol, taksi meluncur begitu cepat tidak ada hambatan, semakin membuat hati Jiyeon ketar-ketir “ Ahjussi, pelan-pelan saja nenekku memiliki penyakit jantung, dia akan terkejut dan takut jika kau mengendarainya seperti ini “ Omel Jiyeon berharap taksi melambat dan mereka akan benar-benar tertinggal pesawat.

Mendengar kegaduhan, nenek yang tertidur sontak terbangun “ Wong ci ce le ma ce le ma!!! “ Ucap Nenek memajukan tubuhnya mendekat pada supir taksi.

“ Ahjussi, ibuku bilang kau bisa mengendarai mobilnya seperti di film Fast and Furious ! “ Terjemah ibu.

Jiyeon mendengus pasrah, padahal taksi sudah berada dikecepatan maksimal hingga Jiyeon sendiri takut berada didalamnya “ Eoh ayah, ibu!! kita harus kembali, celana dalamku tertinggal“ Jiyeon memasang tampang sangat serius berharap orangtua dan neneknya mengijinkan untuk taksi berputar arah.

“ Me soa wa ? “ Tanya nenek pada ibu.

“ Jiyeon bilang celana dalamnya tertinggal dirumah “ Ucap Ibu.

“ Ko ci wak ce tao dung po hok cai ma “

“ Nenek bilang, itu tidak apa-apa, kau bisa menggunakan miliknya, nenek bawa lebih dari cukup “

Tubuh Jiyeon lemas dan wajahnya semakin pucat, gagal lagi, sekarang ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar perjalanan kali ini gagal. Dengan mata terpejam dan kedua telapak tangan menyatu, mulut Jiyeon komat-kamit mengucap doa “ Lampu merah, lampu merah, lampu merah, lampu merah Ya Tuhan buat lampu hijau didepan sana rusak “

Jiyeon meringis menempelkan wajah sedihnya dikaca, tidak ada lampu merah atau lampu hijau yang rusak, taksi meluncur cepat menuju bandara.

***

Bandara Incheon,

Kini mereka sekeluarga sudah menjejakkan kaki dibandara, Jiyeon semakin panik, ia benar-benar berharap akan pergi dengan Myungsoo besok untuk merayakan festival air, ditengah kecemasannya “ Ayah….ibu, aku ke toilet sebentar !!“ Seru Jiyeon dengan menjepit tangan dikedua pahanya agar orangtuanya percaya.

“ Aigoo…..ya sudah sana cepat ! “ Ayah mengijinkan Jiyeon dengan cemas.

Di dalam toilet,

Jiyeon terdiam mematung didepan cermin, otaknya sudah menemukan ide untuk menggagalkan dirinya ikut serta keluarganya ke Thailand, namun ia masih ragu untuk melakukannya, dengan wajah datar ia mengeluarkan passport dari dalam tas dan menjepitnya diketiak, dilengan yang sama jarinya sibuk memelintir ujung rambutnya.

Jiyeon memutar tubuh meninggalkan cermin dan melangkah perlahan, tepat saat tubuhnya sejajar dengan tempat sampah disudut toilet ia mengangkat ketiak dan berjalan santai keluar toilet seolah tidak terjadi apa-apa.

Bersamaan dengan itu seorang anak kecil dengan kacamata minus tebal baru saja keluar dari salah satu toilet, ia melihat passport Jiyeon terjatuh ke dalam tempat sampah yang tersedia disana.

Degup jantung Jiyeon semakin kencang tatkala dari kejauhan keluarganya sudah terlihat oleh matanya, ia pun menarik nafas dan membuangnya perlahan, berharap keluarganya akan percaya alasannya kali ini.

Tap…tap..tap

Kakinya sudah semakin dekat dengan keluarga yang menunggunya cemas, tiba-tiba….

“ Ahjumma !!!! “

Jiyeon sontak menoleh menyadari suara seseorang memanggilnya, tepat ketika anak itu memperlihatkan passport yang sudah ia buang “ Ommo!!! “ Jiyeon membawa anak itu dalam gendongannya dan berlari cepat agar tidak terlihat keluarganya.

***

“ Ayah, ibu aku lupa membawa passport “ Ucap Jiyeon dengan memasang wajah meringis.
Ayah dan ibu membelalakkan mata tak percaya, sedangkan nenek masih terlihat santai tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“ Mwo ???” Kompak keduanya – ibu dan ayah –

“ Jiyeon-ah, apa kau sudah memeriksa tasmu ? “ Tanya ibu terlihat lemas

“ Bagaimana mungkin kau tidak membawanya ? mungkin ditasmu ? “ Ayah mengambil paksa tas yang ada ditangan Jiyeon hendak mencarinya.

“ Ayah, sudahlah, aku sudah mencarinya dan memang tidak ada “ Ucap Jiyeon menghalangi ayahnya untuk memeriksa.

“ Periksa lagi, lihat semuanya “ Ucap ibu masih memaksa.
“ Ayah, ibu….sudahlah tidak apa-apa, kalian pergilah hanya 4 hari saja kan ? aku bisa merawat diriku “ Ucap Jiyeon berusaha terlihat baik-baik saja.

Ayah dan ibu saling berpandangan, sementara nenek masih terlihat cool karena tidak mengerti dengan apa yang terjadi, ia pun tidka berusaha untuk mencari tahu.

“ Ya baiklah, apa boleh buat ? “ Ucap ayah mengendikkan bahu dan mengangkat koper yang harus mereka bawa meninggalkan Jiyeon dengan perasaan kecewa.

Ibu menangkup pipi Jiyeon “ Jiyeon-ah jaga dirimu, dan ingat jangan macam-macam selama sendiri dirumah, jangan terlalu banyak makan mie instan, keluar jika kau ingin memakan makanan yang enak eoh “ Ucap ibunya memperingati.

“ Iya, kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja “

Ibu dan nenek akhirnya menyusul ayah untuk segera check in, setelah keluarganya tidak terlihat lagi dari pandangannya, Jiyeon memekik senang, ia pun bergegas keluar hendak menyetop taksi untuk kembali ke rumah.

***

Disinilah akhirnya, Jiyeon tak henti-hentinya tersenyum selama berada diatas kereta mobil, transportasi yang membawa mereka menuju perayaan festival air, sesekali ia menunduk malu tatkala Myungsoo menoleh ke arahnya. Sepanjang perjalanan hanya komunikasi seperti itu yang mereka lakukan, mencuri pandang, kemudian membuang jauh pandangan ketika salah satu dari mereka memergoki sedang menatap, meski begitu sama sekali tidak membuat Jiyeon bosan.

“ Sudah sampai “ Ucap Myungsoo menyadarkan Jiyeon dari kegilaannya sendiri karena selalu tersenyum.

Jiyeon pun menyusul Myungsoo yang sudah turun terlebih dahulu, meski Myungsoo tak memberikan tangannya untuk membantu Jiyeon turun tetap saja ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan, Jiyeon benar-benar merasa bahagia dapat memiliki hari sesempurna ini bersama dengan pria yang ia cintai.

“ Ahjussi, bolehkah aku bergabung dengan kalian ? “ Suara centil yang tiba-tiba muncul dari arah belakang membuat mood Jiyeon turun drastis.

Siapa lagi jika bukan Shannon “ Jadi Myungsoo juga mengajaknya ? “ Kesalnya dalam hati dan menatap Myungsoo kecewa.

Yang ditatap hanya mengendikkan bahu tidak mengerti.

“ Ahjussi kajja!!! “ Seolah tidak menganggap kehadiran Jiyeon, Shannon menarik Myungsoo untuk segera berbaur dengan yang lainnya.

Tangan Jiyeon mencengkeran kuat, asap tebal dan tanduk seakan ingin keluar dari kepalanya, Myungsoo menoleh dan menatap Jiyeon dengan perasaan bersalah.

“ Sebenarnya dia ingin pergi bersama siapa ? “ Gerutunya dan tidak lama memutuskan untuk menyusul keduanya meski perasaan dongkol menyelimuti hatinya.

Dan selama itu, Shannonn tidak pernah sekalipun jauh dari Myungsoo, membuat Jiyeon kesal dan merasa hari ini tidak lagi sempurna, justru ia mengutuk kebodohannya yang dengan rela meninggalkan keluarga demi pria yang justru meninggalkannya kini.
Jiyeon menatap lemah Myungsoo dan Shannon yang asyik berperang air seolah melupakan keberadaannya, sesekali Myungsoo membalas Shannon yang menembaki tubuhnya dengan senjata berisi air, mereka tampak bahagia.

“ Bagaimanapun seorang pria lebih menyukai wanita muda ketimbang tak laku sepertiku “ Ucap Jiyeon dengan bibir mengerucut dan matanya yang memancarkan kesedihan.

1 jam telah berlalu,

Jiyeon terduduk lemah dengan sekujur tubuh yang sudah basah, hanya memandangi keramaian orang yang nampak bahagia saling menembak satu sama lain, ia meletakkan tangan didagunya untuk menopang kepala yang sepertinya hanya ingin menunduk.

“ Apa kau baik-baik saja ? “

“ Eoh “ Jiyeon mendongakkan kepala menatap seseorang yang menegurnya, begitu tahu jika pria itu adalah Myungsoo “ Wahh, bahkan dengan semua tepung diwajahnya, kau masih terlihat begitu mempesona “ Ucap Jiyeon dalam hati melihat kedua pipi Myungsoo yang berlumur tepung.

Srottttt

Tiba-tiba beberapa orang diatas mobil box terbuka menembakkan air ke arah Jiyeon dan Myungsoo, Jiyeon menggunakan tangannya untuk menghindar, pandangannya tak sengaja jatuh pada sosok Shannon yang masih terlihat gembira bermain air di keramaian, dengan cepat Jiyeon menarik tangan Myungsoo membawanya berlari untuk menjauh dari Shannon, Myungsoo tersenyum menatap tangannya yang digandeng oleh Jiyeon.

“ Bolehkah kami berdua ikut ? “ Tanya Jiyeon pada beberapa orang diatas mobil box terbuka yang juga sedang merayakan festival air.

Tanpa menunggu jawaban, Myungsoo berinisiatif untuk meloncat ke atasnya “ Ayo cepat naiklah !! “ Teriak Myungsoo mengulurkan tangannya untuk membantu Jiyeon naik.

Jiyeon tersenyum, ia pun menyambut tangan Myungsoo dan segera naik ke atasnya, Jiyeon tersenyum evil kearah Shannon yang baru saja menyadari jika dirinya dan Myungsoo meninggalkan gadis centil itu.

Diatas mobil Jiyeon dan Myungsoo saling menatap seraya tersenyum, tidak ada dari mereka yang ingin mengalah untuk berpaling, hingga entah apa yang mereka pikirkan keduanya tertawa begitu senang, wajah Jiyeon bersemu merah, hatinya berdesir ditatap begitu intens oleh Myungsoo.

Srotttt

Jiyeon menundukkan wajah yang ditembaki air dari arah samping oleh seseorang.

“ Hahahhaa “

Dan seketika perasaan kesal itu muncul kembali, ia tahu siapa pemilik suara gadis yang tertawa itu, Shannon mengikutinya dengan membonceng sepeda motor pada pria yang Jiyeon yakin Shannon juga tidak mengenalnya.

“ Dasar playgirl “ Ucap Jiyeon pelan dengan kesal yang tertahan.

***

“ Hatchi “

Myungsoo memandang khawatir ke arah Jiyeon yang duduk diseberangnya, mereka kini sudah berada diatas sebuah kereta mobil, alat transportasi yang beroperasi di komplek perumahan.

“ Ahjussi, kita akan pergi kemana selanjutnya ? “ Tanya Shannon kepada Myungsoo yang berada disampingnya begitu antusias.

“ Bagaimana menurutmu Ji ? “ Tanya Myungsoo melemparkan keputusannya pada Jiyeon.

Jiyeon sudah tidak lagi semangat, tubuhnya basah dan nampaknya flu sudah menyerangnya, namun sebenarnya bukan itu yang membuat moodnya rusak, adalah Shannon, Jiyeon rela mengorbankan hari ini hanya untuk berdua dengan Myungsoo tidak dengan Shannon “ Kebasahan seperti ini, membuatku sulit untuk berfikir “ Ucap Jiyeon berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

Myungsoo bukan tidak tau apa yang Jiyeon rasakan “ Bagaimana kalau pulang kerumah untuk berganti pakaian, lalu kita buat rencana disana ? “ Saran Myungsoo, ia merasa tidak enak telah meminta Jiyeon menemaninya, namun Jiyeon tidak terlihat bahagia ketika tadi bersama merayakan festival air.

Jiyeon tidak menjawab tawaran Myungsoo, hingga akhirnya pria itu berdiri dan memencet bel untuk turun dari kereta mobil.

“ Ahjussi apakah rumahmu berada disekitar sini ? “ Tanya Shannon ketika Myungsoo sudah turun dari kereta mobil.

“ Nde, aku tinggal di asrama diujung jalan sana “ Ucap Myungsoo seraya menunjuk ke arah ujung jalan.

Jiyeon yang menunduk kemudian mengikuti arah tangan Myungsoo yang memberi tahu Shannon letak tempat tinggalnya, Myungsoo lalu tersenyum menyadari Jiyeon masih ingin peduli tentangnya.

Myungsoo melangkah kedepan – kearah sopir – hendak membayar ongkos transportasi, setelahnya ia berbisik dibalik tubuh Jiyeon “ Aku akan menjemputmu dirumah, oke ? “

Dan kereta mobil kembali berjalan, Myungsoo masih berdiri ditempatnya menatap ke arah Jiyeon yang tidak lagi menoleh ke arahnya.

Shannon melangkah mendekat ke arah Jiyeon yang terdiam dan nampak tak bersemangat “ Bagaimana bisa eonni tidak terlihat gembira hari ini ? “ Tanyanya pada Jiyeon yang masih diam tak berniat menjawab pertanyaannya “ Jika tidak suka bermain air, lalu kenapa kita tidak pergi menonton film saja ? itu akan menyenangkan bagi kita bertiga “ Ucap Shannon enteng seolah tidak sadar raut wajah Jiyeon semakin kesal terhadapnya.

“ Jika eonni tidak ingin menonton film, bagaimana kalau kita bertiga berbelanja atau memang jika eonni tidak ingin pergi juga tidak apa-apa, aku dan ahjussi akan tetap pergi bersama “

“ KEUMANHE !!! “

Jiyeon tidak lagi tahan dengan kicauan Shannon yang tidak berhenti seolah-olah ia baik-baik saja jika harus pergi bertiga “ Dia adalah milikku !! “ Tegas Jiyeon, namun melihat wajah heran Shannon ia menundukkan wajah serba salah.
Shannon terdiam, Jiyeon masih menunduk dan tidak lagi berani menatap ke arahnya “ Ha…ha..ha “ Tiba-tiba Shannon tertawa membuat Jiyeon mendongak dan mengernyit heran.

“ Eonni ini “ Ucap Shannon dan menyenggol bahu Jiyeon dengan bahunya.

Jiyeon masih terbengong menatap Shannon yang masih tertawa “ Kau mau pergi kemana ? kita belum sampai dirumah “ Tanyanya melihat Shannon tiba-tiba berdiri hendak turun.

“ Kita berpisah disini saja, aku ingin bermain bersama teman-temanku yang lain “ Ucap Shannon.

Jiyeon masih memandang Shannon yang sudah turun tak mengerti.

“ Semoga beruntung eonni, hwaiting!!! “ Ucap Shannon kemudian dengan senyum lebar.

***

Jiyeon sudah nampak rapi dengan pakaian kering ditubuhnya, namun hingga saat ini Myungsoo yang berjanji akan menjemputnya belum juga datang.

“ Mungkin karena tadi aku tidak menjawabnya “ Ucap Jiyeon menerka mengapa Myungsoo belum juga datang untuk menjemput.

Cukup lama menunggu dalam kecemasan, Jiyeonpun meraih tas dan payung untuk menghindari dirinya kembali basah oleh semprotan air karena semua orang pasti masih merayakan festival air dijalan.

Tiba dirumah Myungsoo,

Jiyeon nampak ragu untuk masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka, suasana didalam nampak sunyi seperti tidak ada orang yang menempatinya, namun melihat setiap sudut rumah sangat bersih, Jiyeon memberanikan diri melangkah karena artinya rumah ini berpenghuni.

Jiyeon terus melangkah lebih dalam, dan tiba-tiba ia berjengkit kaget menutup mulutnya “ Ommo!!! “ Kaget Jiyeon mengangkat sebelah kakinya yang tidak sengaja menginjak kaki Myungsoo yang sedang tertidur di lantai beralaskan kasur tipis ditemani radio yang mengalun sedih lagu Stay with me nya Sam Smith.

Tidak ada sama sekali niatan untuk membangunkan Myungsoo, kini Jiyeon berjongkok dihadapan Myungsoo, menopangkan dagu diatas lututnya, matanya tidak sedikitpun berkedip menatap setiap jengkal wajah Myungsoo yang mampu menggetarkan hatinya “ Kau sangat tampan “ Ucapnya dengan senyum malu-malu.

“ Eoh, kau datang “

Glekkk

Jiyeon jatuh terduduk, terkejut tiba-tiba Myungsoo membuka matanya, ia pun menyisir rambut dengan jemarinya, berusaha menghilangkan kegugupannya“ Eoh mianhae, tta ta-ddi aku lihat pintumu terbuka, jadi akk-kkku memutuskan masuk, ii-yya begitu….mmaa-aaf “

Myungsoo pun tersenyum dan bangkit dari tidurnya “ Aku sudah siap, tapi tidak sengaja malah tertidur, maafkan aku akhirnya justru dirimu yang menjemputku “ Ucap Myungsoo.

“ Tidak apa-apa lain kali kau yang harus selalu menjemputku jika kita memiliki janji bersama “ Jiyeon mengucapkannya dengan penuh harapan bahwa akan ada lagi waktu seperti itu.

Myungsoo terdiam, tiba-tiba senyum yang ia tunjukkan memudar, berganti dengan tatapan sendu ke arah Jiyeon “ Aku harap akan ada hari yang seperti itu “

“ Eoh “ Jawab Jiyeon singkat tidak terlalu peduli ucapan Myungsoo “ Kali ini kita akan pergi kemana ? “

Myungsoo nampak berpikir sejenak “ Mengitari kota Seoul “ Ucapnya kemudian yang diangguki senang oleh Jiyeon, menikmati Seoul saat sore hingga malam hari berdua bersama Myungsoo ? wanita mana yang akan menolak.

***

Hingga malam, mereka berjalan menyusuri Seoul seraya memandang gedung-gedung yang banyak dipasang lampu-lampu indah membuat suasana semakin menyenangkan, Jiyeon tidak henti-hentinya tersenyum bahagia, sangat berbeda dengan siang tadi ia rasakan, tidak ada Shannon yang mengganggunya, hanya berdua bersama Myungsoo.

“ Myungsoo-ah nasi lembek atau keras, kau lebih suka yang mana ? “ Tanya Jiyeon seraya mengusap kedua lengannya menyilang untuk mengusir hawa dingin.

Myungsoo memiringkan kepala seraya menatap langit untuk mencari jawaban “ Nasi keras ? maksudmu nasi aron ? sepertinya itu enak jika dicampur kari, jika lembek terasa aneh “

Jiyeon mengangguk-angguk setuju “ Lalu yang mana yang akan kau pilih, mangga asam atau mentah ? “

Myungsoo membukakan pintu taksi untuk Jiyeon masuk ke dalamnya “ Aku pilih mangga mentah “ Ucap Myungsoo kemudian menutup pintu taksi dan berjalan cepat menuju pintu di sisi lainnya.

“ Alasannya ? “ Tanya Jiyeon ketika Myungsoo sduah berada disampingnya.

“ Mangga asam akan membuat wajahku mengkerut, wajah seperti itu pasti membuat wajahku jelek “ Ucap Myungsoo membuat Jiyeon tertawa karena Myungsoo memperagakan wajah mengkerutnya.

Sekarang giliranmu “ Wiski atau bir ? “ Tanya Myungsoo.

Jiyeon ingin memprotes pertanyaan Myungsoo, namun ia tidak bisa mengelak jika ia memang sering sekali mabuk, bahkan Myungsoo sudah memergokinya sebanyak dua kali “ Aku tidak bisa memutuskan, itu tergantung pestanya “ Ucap Jiyeon namun ia melihat raut ketidakpuasan pada wajah Myungsoo dengan jawabannya.

“ Menurutku, jika kau ingin muntah maka wiski pilihannya, jika ingin mabuk, maka bir pilihannya “
Jiyeon dan Myungsoo menatap serempak ke arah sopir taksi yang tak diminta namun memberikan jawaban “ Eoh, ahjussi benar, kau dengar itu ? “ Tanya Myungsoo seraya mengacungkan telunjuknya ke arah Jiyeon.

“ Giliranmu, berapa lama kau tidur dalam sehari ? “ Tanya Jiyeon.

Myungsoo menghitung dengan jarinya “ 10 jam “ JawabMyungsoo cepat “ Sekarang giliranmu, berapa banyak bir yang bisa kau minum dalam satu kali pesta ? “

“ 3 botol “ jawab Jiyeon tak ragu.

Myungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyangka wajah sepolos Jiyeon ternyata sangat kuat dalam hal mabuk.

“ Seberapa banyak film porno yang kau lihat dalam sehari ? “ Pertanyaan Jiyeon membuat wajah Myungsoo bersemu merah.

Myungsoo dibuatnya terdiam, entah apa yang akan ia katakan “ Eoh, mengenai itu ? sebenarnya kejadian waktu itu hanya salah pengertian, aku bahkan belum selesai menonton satu……aku sudah tertidur….hahahha “ Ucap Myungsoo dan kemudian tertawa.

Melihat Myungsoo tertawa saja membuat hati Jiyeon meleleh, ia benar-benar menyukai apapun mimik wajah Myungsoo dan apapun yang pria tampan disampingnya lakukan, Jiyeon masih memyimpan satu pertanyaan lagi, kali ini ia benar-benar ingin mengetahuinya

“ Berapa banyak wanita yang sudah kau pacari ? “ Tanya Jiyeon.

Myungsoo mengernyitkan dahinya, namun tidak berapa lama ia pun menjawab “ Dua “ membuat Jiyeon langsung menatapnya serius.

“ Dua ? hanya dua ? apa aku termasuk didalamnya ? “ Tanya Jiyeon dalam hati.

“ Dan berapa umurmu ? “ Kali ini Myungsoo yang bertanya.

Wajah Jiyeon sontak mengkerut, hal yang sensitif yang tidak pernah mau ia ingat, meski ia merasa usia Myungsoo tidak jauh berbeda, namun pertanyaan seputar usia dengan mudah membuat moodnya anjlok “ Aku tidak ingin menjawab lagi, sudah tidak menyenangkan “ Ucap Jiyeon menyandarkan kepala di kursi taksi.

Myungsoo tersenyum melihat Jiyeon yang terlihat ngambek ( ? )

“ Eoh sekarang kita kemana lagi ? “ Tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo melirik jam ditangannya “ Hari ini cukup sampai disini saja, besok aku akan membawamu menelusuri tur di bagasi kereta api, kau ingin pergi ? “

Perasaan Jiyeon senang bukan kepalang, Myungsoo mengajaknya kembali untuk bersama, tentu saja ia tidak akan pernah menolaknya “ Tentu saja, benarkah ? “ Tanya Jiyeon nampak antusias memegang lengan Myungsoo.

Myungsoo menatap tangannya yang digenggam Jiyeon, menyadari hal itu Jiyeon pun segera melepaskannya “ Mianhae, aku terlalu gembira “ Ucapnya jujur dan menunduk malu.

“ Besok adalah hari keluarga, perusahaan mengijinkan keluarga atau teman dekat untuk pergi “ Ucap Myungsoo membuat pipi Jiyeon nampak bersemu.

***

Keesokan hari di tur bagasi kereta,

Jiyeon tak henti-hentinya menyunggingkan senyum dibibirnya menyadari bahwa hanya Myungsoo yang membawa teman wanita di tur bagasi perusahaannya, sedangkan teman-teman Myungsoo yang lain membawa keluarga – anak dan istri.

Seorang pria setengah baya dan anak laki-lakinya tersenyum dari jauh dan mendekat ke arah Myungsoo “ Sayang, ucapkan salam pada ahjussi, Myungsoo ahjussi adalah atasan ayah di kantor “ Ucap pria setengah baya mengajari anak laki-lakinya yang sangat lucu.

“ Annyeonghaseyo paman “ Ucap anak kecil itu membungkuk yang dibalas dengan senyum ramah oleh Myungsoo “ Ayah, apa aku harus mengucapkannya juga pada bibi ini ? “ Tunjuknya ke arah Jiyeon yang hanya tersenyum meringis mendengar ucapannya, ia tidak senang dipanggil bibi, karena menunjukkan jika wajahnya sudah terlihat tua, meski sebutan yang sepadan juga anak kecil itu ucapkan pada Myungsoo.

“ Eoh, tentu “ Ucap sang ayah.

“ Paman dan bibi datang sebagai pasangan kan ? annyeong “

Wajah Jiyeon berubah sumringan mendengar kata pasangan yang disematkan anak kecil dihadapannya “ Kau imut sekali!!! Siapa nama kamu ? “

Myungsoo dan ayah dari anak kecil mengernyit heran dengan perubahan wajah Jiyeon yang tiba-tiba, dari datar menjadi terlihat centil.

“ Namaku, Moon Masoon “

“ Hah, bahkan namamu sangat lucu, berapa umurmu sekarang ? “ Tanya Jiyeon menyelipkan anak rambut ditelinganya dan berkedip-kedip senang.

***

“ Ji !!! “

Klik

Myungsoo tersenyum melihat hasil jepretan kameranya, Jiyeon yang reflek menoleh kearahnya terlihat natural.

“ Apa yang kau lakukan ? kau ingin mengambil foto ? aku belum siap, ayo sekali lagi “ Jiyeon merapikan penampilannya.

Myungsoo masih tersenyum memandang wajah bengong Jiyeon dikameranya, langkah kakinya mendekat ke arah Jiyeon yang masih sibuk dengan merapikan seluruh penampilannya.

Deg

Pipi Myungsoo menyentuh pipi Jiyeon, membuat Jiyeon terdiam sejenak dari gerakan merapikan penampilannya, Wajah Myungsoo teramat dekat dengan wajahnya “ Eoh, tunggu dulu, kau ingin kita fot bersama? “ Tanya Jiyeon sedikit gemetar dan melakukan senam wajah agar terlihat lebih segar ketika difoto, namun seolah tidak peduli Myungsoo langsung mengambil gambar mereka berdua.

Klik

“ Kau sudah mengambilnya ? “ Tanya Jiyeon heran merasa terjebak karena ia masih belum siap.

“ Huahahhhaaaa “ Myungsoo tertawa begitu geli melihat hasilnya.

Penasaran Jiyeon pun meminta Myungsoo memperlihatkan hasilnya “ Coba lihat, mwo ? jelek sekali, ini hapus saja “ Ucap Jiyeon terlihat panik wajahnya mengkerut karena melakukan senam wajah.

“ Tidak ini bagus, kau terlihat lucu !! “ Myungsoo menghalangi Jiyeon menekan tombol delete dikameranya.

“ Ya ampun jelek sekali, hapus…aku mohon hapus….hapus..hapus “ Jiyeon hampir menangis, ia benar-benar terlihat jelek dengan wajah menyerupai ( maaf ) seekor babi difoto itu.

“ Tidak ini bagus, biarkan saja ini terlihat lebih natural “ Ucap Myungsoo menahan tangan Jiyeon yang akan mengambil paksa kameranya.

“ Tidak, tidak biarkan aku menghapusnya “ Jiyeon merebut paksa kamera dari tangan Myungsoo, ia benar-benar malu dengan wajahnya yang seperti itu terlihat oleh Myungsoo.

Pranggg ……

Keduanya terdiam, menatap ke arah kamera yang baru saja terlempar dari tangan Myungsoo, Jiyeon menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia benar-benar seseorang yang mendatangkan kesialan untuk Myungsoo, kacamata, laptop, dan sekarang kamera pria itu.

Myungsoo melangkah perlahan dan berjongkok mengambil kameranya “ Hahaha, ini sudah rusak sama sekali “ Ucap Myungsoo masih dengan senyuman khasnya.

“ Ma-af-kan akkku, akkku ti-da-k se-ng-aja “ Sesal Jiyeon, benar-benar tidak bisa menggambarkan seberapa sialnya dia.

Myungsoo dengan cepat menoleh ke arah Jiyeon yang sepertinya ingin menangis, ia kemudian bangkit dan mendekat ke arah Jiyeon “ Gwenchana, ini memang kamera tua, tidak perlu sedih seperti itu, kajja!! “ Ucap Myungsoo mengajak Jiyeon menyusuri bagasi kembali, tidak mau yeoja itu berlarut-larut dalam penyesalan.

***

“ Oke anak-anak, ini adalah mobil SKL dan fungsi utamanya adalah menutupi bagian atas jalur kereta api setelah ditutup, dan disebelah sini adalah mesin yang memoles logam dari rel kecil kereta untuk membuatnya menjadi halus, jika kalian ingin tahu mengapa relnya harus dihaluskan, maka kita harus tanyakan pada paman yang berdiri disana, silahkan beri dia sambutan hangat “ Tunjuk seorang tour guide ke arah Myungsoo yang berdiri bersama Jiyeon.

Jiyeon bertepuk tangan dan mendorong Myungsoo untuk segera menerima sambutan anak-anak dan keluarga teman-temannya yang hadir, Myungsoo pun maju dan membungkukkan tubuhnya menyapa hormat.

“ Tapi sayangnya, paman ini tidak akan berada disini lagi, dia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jerman selama dua tahun, jika kalian ingin sepintar paman ini kalian harus belajar lebih giat dan menuruti nasehat orangtua “

Kalimat tour guide membuat Jiyeon tercengang, ia tidak pernah mendengarnya dari mulut Myungsoo mengenai pria itu menerima beasiswa pendidikan, Jiyeon menatap lekat wajah Myungsoo yang terlihat bersalah padanya.

“ Nona, apa kau juga sudah berkemas ? Myungsoo-ssi apa memintamu untuk pergi bersama ? “ Tanya ayah Moon Masson yang tiba-tiba berada disamping Jiyeon.

“ Tidak “ Ucap Jiyeon tegas nampak kecewa.

***
Myungsoo nampak serba salah, Jiyeon hanya berdiri dan menundukkan wajahnya tanpa sepatah kalimatpun yang diucapkan, ia pun mondar-mandir mencari cara untuk mengembalikan suasana seperti semula.

“ Ji, masih banyak tempat yang harus kita kunjungi hari ini, kira-kira kau ingin kita kemana dulu ? “ Tanya Myungsoo dengan senyum yang ia buat selebar mungkin.

Jiyeon tidak bergerak sedikitpun, wajahnya kini bahkan tidak dapat Myungsoo lihat dari arah samping karena tertutup dengan rambutnya “ Sejak kapan kau mengetahuinya ? bahwa kau harus pergi keluar negeri ? “ Tanya Jiyeon datar.

Myungsoo menghela nafas perlahan, ia tidka berniat menutupi hal ini pada Jiyeon, hanya saja ia ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya, dan sialnya orang lain justru tak sengaja mengungkapnya“ Eum…sekarang sudah 4 sampai 5 bulan “ Ucap Myungsoo pelan namun tetap berusaha mengulas senyum.

Jiyeon tak bisa menyembunyikan kekecewaanya, Myungsoo akan pergi lusa, namun hingga hari ini Jiyeon tidak diberitahu mengenai apapun, bahkan sekarang mengajaknya pergi bersama “ Kau akan pergi lusa ? “

Lidah Myungsoo begitu sulit untuk menjawab, ia tidak ingin membuat wajah Jiyeon yang sedih semakin memberatkannya “ Ya “ Ucapnya lemah.

Jiyeon mendongakkan wajahnya dan menatap Myungsoo tajam “ Dan kapan kau berencana untuk memberitahukan aku ? “

Myungsoo membalas tatapan tajam Jiyeon dengan perasaan menyesal “ Besok “

Kaki Jiyeon melangkah lemah, tidak lagi memiliki semangat untuk bersenang-senang, ia kecewa Myungsoo membohonginya, terasa semakin menyakitkan karena hari ini pria itu masih berusaha membuat kenangan sebelum kepergiannya, Jiyeon gembira namun rasa sedihnya lebih besar dari apapun.

Myungsoo berjalan pelan dibelakang Jiyeon, mengikuti kemana kaki putih mulus itu melangkah, ia tidak berani berbicara apapun, ia tahu telah menyakiti wanita cantik didepannya ini “ Kau tidak mau pergi keluar lagi ? Tanya Myungsoo ketika Jiyeon tiba-tiba menyetop taksi.

Jiyeon membuka pintu taksi, ia tidak ingin menjawab namun akhirnya ia menoleh ke arah Myungsoo yang wajahnya terlihat juga murung “ Aku lelah hari ini “ Ucapnya dan segera masuk kedalam taksi meninggalkan Myungsoo yang terdiam dan tidak sedikitpun berniat mencegahnya.

***

H-1 kepergian Myungsoo siang hari ,

Hampir seharian Jiyeon mengurung diri dalam kamarnya, tidak ada sedikitpun makanan atau air putih yang masuk ke dalam perutnya, teringat pesan ibunya untuk menjaga diri baik-baik ia pun akhirnya memaksa tubuhnya untuk bergerak. Satu cup mie instan sudah berada ditangannya, Jiyeon membuka bungkus bumbunya lemah, ia ingin sekali memakan makanan enak seperti saran ibu, namun untuk keluar mencari makanan Jiyeon sepertinya tidak sanggup.

Jiyeon terduduk pasrah, memandang layar televisi yang menyala dengan satu cup mie ditangan yang sudah sangat lembek dan mekar karena sejak tadi tak ia sentuh, entah apa yang mendorongnya, dengan cepat Jiyeon bangkit dan pergi meningglakan rumahnya.

Myungsoo berkali-kali memencet bel dirumah Jiyeon, namun pintu tidak juga bergeser, Myungsoo ingin meminta maaf dan melihat wajah Jiyeon untuk terakhir kalinya, sebelum besok pagi ia terbang menuju Munich untuk meraih impiannya.

“ Huh “ Myungsoo menghela nafas kasar, ia pun dengan berat hati melangkah meninggalkan rumah Jiyeon, ia tahu meskipun Jiyeon berada didalamnya, wanita itu tidak akan pernah menemuinya lagi.

Dilain tempat,

Jiyeon duduk sendirian di sebuah food court mall, pandangannya terlihat kosong dengan sedotan plastik yang tidak lepas dari mulutnya.

“ Agassi, mianhae aku tidak akan memberikan lagi kopi untuk anda “ Seorang pelayan menolak permintaan Jiyeon kali ini.
Jiyeon memang sudah memesan begitu banyak kopi untuk ia minum sendiri, namun tidak juga merasa dirinya lebih baik, perasaannya masih terasa sedih, meski keadaan mall begitu ramai namun Jiyeon tetap merasa dirinya hanya sendiri.

Sementara,

Myungsoo duduk memandang dalam diam tiket ke Jerman ditangannya, impian sejak kecil yang akhirnya terwujud, namun sesuatu kini mengusiknya, ia merasa tidak lagi 100% persen berambisi untuk pergi mewujudkannya, untuk menolaknya ia pun tidak ingin menyesal dikemudian hari.

***

Ting tong

“ Jiyeon-ah ??? “ Seru Jieun

“ Jieun-ah, kau sudah pulang ? “ Tanya Jiyeon dengan pandangan kosong.

“ Jika kau berpikir aku tidak disini, lalu kenapa kau membunyikan belnya ? “ Ucap Jieun yang nampak heran dengan penampilan acak-acakan Jiyeon.

“ Jieun-ah “ Panggil Jiyeon pelan.

“ Eoh “

“ Apakah kamu berpikir pasangan itu sebaiknya selalu makan bersama-sama ? “ Tanya Jiyeon lemah dengan pandangan datar.
Jieun menggaruk-garuk kepalanya “ Mengapa kau bertanya itu “

“ Aku mohon jawab saja “ Ucap Jiyeon.

“ Hmmm…..tidak selalu, ketika suamiku lapar, ia tidak pernah menunggu siapapun “ Ucap Jieun yang menoleh ke arah suaminya yang sedang makan sendiri dimeja makan.

“ Dan ketika kau harus makan sendirian, apakah kau merasa bosan ? “ Lanjut Jiyeon.

Jieun menutup pintu apartemennya, tidak ingin suaminya tahu apa yang mereka bicarakan, kini pandangannya fokus ke arah Jiyeon “ Ada masalah apa ? “ Tanyanya khawatir dan memegang lembut pipi Jiyeon.

“ Aku kesepian….aku sudah makan sendirian selama hampir dua bulan “ Ucap Jiyeon dengan bahu bergetar dan menangis.

Jieun menutup mulutnya tidak percaya Jiyeon si cuek pembuat masalah kini berwajah begitu menyedihkan dan patut dikasihani “ Aku kan sudah berkali-kali menyuruhmu untuk mencari seorang kekasih ? “ Ucap Jieun meraih tubuh Jiyeon dan membawa dalam dekapannya.

“ Jika aku memiliki kekasih, tapi dia tidak pernah bebas untuk bersamaku, atau pergi bersamaku, lalu apa gunanya aku memilikinya ? “ Ucap Jiyeon parau.

Jieun semakin mengeratkan pelukannya, tangannya bergerak lembut mengusap – usap rambut sebahu milik Park Jiyeon.

***

H-1 kepergian Myungsoo malam hari,

Tok…tok…tok

Sudah beberapa kali Jiyeon mengetuk pintu, namun pintu tetap tertutup, Jiyeon pun memutar perlahan tubuhnya hendak beranjak pergi, namun…

Cekrekkk…..

“ Maaf jika aku lama membukanya, aku sedang berada dikamar mandi tadi “ Myungsoo muncul dengan wajah gembira dari balik pintu, ia bernafas lega akhirnya bisa melihat Jiyeon hari ini.

Jiyeon tersenyum lembut, namun wajahnya jelas terlihat kesedihan dua kali lipat lebih banyak “ Tidak perlu meminta maaf, hari ini aku yang menghindar dari dirimu “ Ucap Jiyeon.

“ Silahkan masuk “ Myungsoo menggeser tubuhnya memberikan jalan untuk Jiyeon masuk ke dalam asramanya.

Jiyeon pikir airmatanya sudah habis untuk kembali menetes, namun melihat keadaan rumah Myungsoo yang sudah kosong, hanya berisi kardus-kardus untuk menyimpan barang tak terasa tubuhnya kembali ingin bergetar, Jiyeon berusaha sekuat tenaga menutupi kesedihannya dengan senyuman, karena ia tidak berhak melakukan itu pada Myungsoo yang bukan siapa-siapanya.

“ Jam berapa penerbanganmu besok ? “ Tanya Jiyeon pada Myungsoo yang bersandar pada dinding dan menatap tanpa berkedip dirinya.

“ Jam 08.00 “ Ucap Myungsoo pelan yang diangguki Jiyeon.

Keduanya kemudian memilih berbincang diluar asrama, berdiri di sebuah jembatan yang mengalir sungai dibawahnya, pemandangan gedung-gedung pencakar langit dengan lampu indah membuat perasaan mereka sedikit tenang.

“ Aku senang kita pernah pergi bersama untuk merayakan festival air “ Ucap Myungsoo mencoba mencairkan suasana sepi.

Jiyeon mengangguk dan tersenyum, hatinya terasa begitu nyeri jika mengingat ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka, cukup lama hanya berdiri berdiam diri “ Ketika kau mengajakku keluar, apakah kau berpikir…..eum…jika aku….“ Jiyeon memberikan sedikit jeda pada kalimatnya, mencoba menetralkan perasaan gugup yang menyelimutinya “ Jika aku…..lebih dari sekedar teman ? “ Setelahnya Jiyeon menunduk dalam.

Myungsoo yang sejak tadi menatap Jiyeon, kini melemparkan pandangan ke arah langit , menghela nafasnya sejenak dan membuangnya lembut “ Awalnya aku tidak ingin merayakannya bersamamu, namun ternyata aku tidak bisa menahannya “

“ Mengapa kau melakukannya, padahal kau tahu jika kau akan pergi ? “ Ucap Jiyeon

” Ku pikir, meskipun kita tidak berada ditempat yang sama, kita seharusnya bisa menjalani hubungan lebih dari sekedar teman “ Ucap Myungsoo menatap langit pekat dan menikmati semilir angin yang mengacak rambutnya.

Jiyeon terkejut dengan ucapan Myungsoo, apa itu artinya Myungsoo memang berniat menjalin hubungan dengannya, namun jika pria itu akan pergi ? jujur Jiyeon adalah wanita yang ingin diperlakukan romantis oleh pria yang menjadi kekasihnya kelak, jika ternyata yang menjadi kekasihnya bukan pria romantis setidaknya ia berada dekat dengannya “ Ketika kau kembali, maukah kau mempertimbangkan untuk berpindah kerja ke shift siang ? dulu aku merasa hanya wanita gila yang meninggalkan begitu saja pria seperti dirimu, tapi sekarang aku mengerti apa yang Naeun rasakan, dia benar….jika kita tidak bisa bersama-sama, bagaimana bisa kita menyebut diri kita sebagai pasangan ? “

Myungsoo terdiam, dalam hati membenarkan apa yang Jiyeon katakan.

“ Jika kita harus jauh dipisahkan satu sama lain, aku pikir lebih baik kita berteman saja, semoga beruntung “ Jiyeon memutar tubuhnya meninggalkan Myungsoo yang terpaku menatapnya.

Myungsoo membiarkan Jiyeon meninggalkannya, tidak sama sekali berniat untuk mengejarnya, ia memahami apa yang Jiyeon rasakan, siapapun pasti tidka akan sanggup memiliki hubungan jarak jauh, Myungsoo berusaha menerima dengan ikhlas keputusan Jiyeon.

***

Hari kepergian Myungsoo,

Ting…tong

“ Eoh kau sudah kembali ? bagaimana kabarmu ? “ Tanya Jiyeon menyandarkan tubuh didinding rumah dengan mata masih mengantuk membukakan pintu untuk Lee Yoo Ra yang baru saja kembali dari kampung halaman.

“ Terlalu banyak orang dan lalu lintasnya buruk, semua orang dimana-mana bersaing untuk makan dan pergi keluar, lebih baik di sini “ Ucap Yoo Ra

Lee Seok masuk dengan wajahnya yang culun, ditangannya membawa sebuah kotak yang cukup besar “ Aku mampir ke asrama paman sebentar, dan ia meninggalkan ini untukmu “ Ucap Lee Seok menyerahkan kardus yang ia bawa kepada Jiyeon.

Untuk Lee Seok,
Tolong serahkan kotak ini pada Park Jiyeon

Tertera kalimat pesan pada secarik kertas diatas kotak tersebut,

Jiyeon mengangkat tubuhnya dari sandaran, lalu mengambil alih kotak tersebut.

***

Lantai atas kamar Jiyeon,

Jiyeon membuka kotak besar titipan Myungsoo dan mengeluarkan satu demi satu benda yang ada dalam kardus. Ia menatap tak percaya sesuatu yang ada didalamnya, tangannya dengan ragu mengambil salah satu yang ada disana.

Sebuah spion yang kacanya sudah retak dan hancur,

“ Hari valentine terakhir, jika ini mengenai kepalaku maka kita tidak akan pernah bisa bertemu satu sama lain, karena sebagai gantinya aku sudah pasti sedang berada dirumah sakit “

Jiyeon menahan tangis dalam senyumannya mengingat pertama kali ia dan Myungsoo bertemu, spionnya mungkin saja terlempar dan jatuh hampir mengenai kepala Myungsoo yang saat itu bisa ia tebak sedang menikmati makan malam dipinggir jalan bersama teman-teman sebelum bekerja, mata sembab Jiyeon kemudian beralih pada benda lainnya, ia meraih kacamata Myungsoo yang hancur karenanya.

“ Dan jika ini tidak pecah, maka aku tidak mungkin mendapatkan yang baru, mianhae aku tidak cukup berani untuk menelponmu waktu itu meski kau sudah menyelipkan nomormu pada kemasan kacamata, jika sekarang mungkin sudah terlambat “

Hiks…hiks…hiks

Air mata pun mengalir bening dari sudut mata indahnya, beralih ke benda lainnya, Jiyeon menarik selembar kertas yang tertempel diatas laptop rusak milik Myungsoo, membukanya perlahan dan bibirnya pun berhasil tersenyum, kertas itu adalah kertas tulisan tangan security.

“ Aku ingin mendengarkan kau menyanyikan lagu ini untukku “

Jiyeon menggigit bibir bawahnya hingga berubah memerah, merasa lucu jika teringat security merubahnya menjadi sebuah lagu, dua buah tiket planetarium diambil oleh Jiyeon selanjutnya.

“ Kebanyakan pasangan pada kencan pertamanya akan pergi menonton bioskop, tapi kita melihat bintang pada kencan pertama, bukankah itu romantis ? “

Jiyeon menutup kuat mulutnya yang semakin terisak, kalimat Myungsoo terasa manis terdengar dan ia bisa membayangkan wajah pria itu meski kini tidak ada didekatnya, terakhir sebuah kamera yang tidak lagi terlihat baik.

“ Walaupun kamera ini rusak, kita masih memiliki kenangan didalam memorinya “

Jiyeon berusaha menghentikan isak tangisnya, tangannya dengan cepat menarik memori dari dalam dan memasangnya pada laptop miliknya, jarinya nampak gemetar ketika mengoperasikan laptopnya.

Huhuhuhu….

Dan tangis Jiyeonpun kembali pecah melihat banyak foto dirinya ketika bersama Myungsoo di tur bagasi, ia tidak sadar jika Myungsoo memotret dirinya yang sedang menguap, terbengong, tertidur tak sengaja, membersihkan kotoran dihidungnya, dan yang terakhir yang membuat bahunya bergetar hebat menahan tangis adalah ketika ia melihat wajah jeleknya berfoto bersama Myungsoo, pria itu terlihat begitu dekat hingga tak berjarak dengannya, Jiyeon merasa kehilangan pria itu, pria yang pasti akan sangat ia rindukan disetiap hari, ketika pria itu jauh dari dirinya.

***

Jiyeon bangkit dan kakinya bergerak lincah menuruni setiap anak tangga kamarnya, ia berlari untuk menyetop sebuah taksi menuju kebandara, meski tidak yakin akan membuat Myungsoo mengurungkan kepergiaannya, namun ia harus berusaha.

Tiba di bandara Incheon,

Seketika tubuh Jiyeon terasa lemas ketika matanya mengarah pada layar schedule pesawat, Incheon – Munich sudah berangkat sejak 2 jam lalu saat Jiyeon masih bergelut dengan pikirannya sendiri, dengan sesak Jiyeon melangkah lemah membawa serta penyesalan yang ia rasakan, ia tidak memiliki kesempatan untuk melihat dan mengantar pria itu terakhir kalinya.

Di stasiun Cheonggyecheon,

“ Eonni!!! Apakah kau baik-baik saja ? “

Jiyeon memandang datar ke arah Shannon yang menyapanya sesaat turun dari kereta, ia tetap melangkah meski langkahnya begitu pelan, tubuhnya bergerak semakin mendekat ke arah Shannon.

“ Kapan kau akan menikah ? jangan lupa kirimi aku undangnnya ya “ Ucap Shannon seraya tersenyum.

Hug…

Jiyeon langsung memeluk erat tubuh Shannon, ucapan Shannon membuat perasaan sedih itu kembali menyeruak “ Jika ini adalah kisah percintaan, bukankah aku seharusnya masih sempat melihatnya untuk terakhir kali ? “ Ucap Jiyeon menangis dipelukan Shannon.

Meski Jiyeon tak mengatakan apapun, namun Shannon mengerti jika Jiyeon baru saja merasakan kehilangan, tangannya pun dengan

lembut mengusap-usap punggung Jiyeon, untuk membuat perasaan Jiyeon sedikit lebih baik.

***

16 April, malam kepergian Myungsoo

Orangtua serta nenek sudah kembali dari Thailand membawakan begitu banyak oleh-oleh untuk Jiyeon, ibu bilang nenek yang begitu cerewet untuk mengingatkannya agar tak melupakan Jiyeon yang menunggu sendiri dirumah.
Jiyeon merasa terharu, mseki cerewet namun nenek sangat menyayanginya “ Nenek apakah kamu senang ? “ Tanya Jiyeon lembut.

“ !@#$%^&*!@#$%^&* “

“ Nenek bilang, tentu saja, ia bisa bertemu melepas rindu dengan kakek, nenek sangat merindukan kakekmu “ Ucap ibu menerjemahkan kalimat nenek.

“ !@@#$%%^&**)(%%$ “

“ Semua pria tua nampak terlihat seperti kakek dimata nenek, namun nenek sadar jika kakek memang sudah pergi jauh dan tidak mungkin akan kembali “ Ucap ibu.

Jiyeon mendekat ke arah nenek dan memeluknya erat, selama ini ia terlalu cuek terhadap orang-orang yang menyayanginya, ia tidak ingin lagi seperti itu, rasanya sangat menyesal kehilangan orang-orang seperti itu.

“ !@#$%%^&** “

“ Nenek bilang, kelak kau juga akan memiliki perasaan seperti itu pada pasanganmu “ Ucap ibu.

Jiyeon tersenyum sedih, ia mengingat Myungsoo, ini adalah hari pertama dirinya dan Myungsoo tidak bertemu untuk entah berapa tahun ke depan, atau mungkin tidak akan lagi pernah bertemu.

Tiba-tiba ayah menyalakan televisi, disana sedang tersiar berita bahwa semua orang sedang menunggu kemunculan komet McBright, ayah meminta ibu untuk menyiapkan kamera, mereka akan bersama-sama melihat kemunculan komet yang hanya bisa dilihat seumur hidup sekali.

Semua orang diseluruh dunia sedang menunggu, ingin melihat kemunculan komet itu dengan orang-orang tercinta, tidak terkecuali Myungsoo yang ada didalam pesawat, pilot pesawat memberitahu kepada penumpang bahwa komet McBright akan segera muncul, penumpang di pesawat pun menjadi heboh, mereka semua mengalihkan pandangan pada kaca jendela sebelah kiri, Myungsoo memandang sedih ke arah luar, ia semakin teringat akan Jiyeon yang pernah memintanya untuk melihat komet McBright bersama-sama.

Komet McBright yang ditunggu akhirnya muncul, semua dapat menyasikannya, Myungsoo dan Jiyeon pun menyaksikannya dilangit yang sama, meski tempat mereka berpijak berbeda.

2 years later,

Jiyeon segera meraih tas dan bersiap untuk berangkat ke kantor, saat ini sudah pukul 17.00 KST, selama berada dikereta Jiyeon tidak henti-hentinya menguap, ia tidak bisa tertidur, karena semua kursi penuh dengan karyawan yang baru saja pulang bekerja.

Ya, Jiyeon telah mengganti pekerjaannya menjadi shift malam pada bursa saham milik pemerintah, hari-hari sepi dan rindunya akan Myungsoo lambat laun bisa teratasi, meski ia berharap suatu saat akan bertemu lagi dengan pria itu.

Awalnya hal ini berat ia jalani terlebih ayah dan ibu berulang kali meminta Jiyeon untuk mencari pekerjaan lain dengan shift siang seperti dulu, namun ia selalu menolak karena dirinya sangat menikmati karirnya yang sekarang.

Kereta berhenti untuk mengangkut penumpang, Jiyeon yang terdesak berusaha mempertahankan dirinya untuk tetap bergelayut pada tiang kereta, seseorang masuk dan berdiri disebelahnya.

Jiyeon merubah posisi tubuhnya, tidak menyangka seseorang yang baru naik dan berdiri disebelahnya pun melakukan hal yang sama, pandangan mereka bertemu dengan degup jantung berubah menjadi kencang, mereka hanya terpaku saling menatap tanpa mampu mengatakan sepatah kata pun.

Bibir Myungsoo perlahan-lahan mengulas senyum, ia sudah berhasil menguasai kegugupannya, sedangkan Jiyeon ia masih menatap lekat pada Myungsoo, bibirnya sangat sulit sekali untuk ia gerakan.

“ Ss-sejak kapan kau kembali ? “ Jiyeon menyapa untuk pertama kali.

“ Eum, 2-3 bulan yang lalu “ Ucap Myungsoo tidak bisa memungkiri jika dirinya saat ini begitu gugup, tidak ada yang berubah dari wanita yang ada dihadapannya ini, hanya saja rambut Jiyeon semakin panjang, selebihnya masih sama, anggun dan cantik “ Apa kabarmu ? “ Tanya Myungsoo kemudian.

“ Aku baik-baik saja…..dan sekarang kau mau kemana ? “ Tanya Jiyeon penasaran.

“ Aku baru saja pulang dari rapat, dan sekarang mau pulang ke rumah, kau sendiri ? “

“ Eum aku….aku akan pergi bekerja “ Jawab Jiyeon.

Dan keduanya pun terdiam, entah apa yang ada dipikiran keduanya dengan pekerjaan baru mereka, keduanya sengaja mengalah untuk merubah shift kerja mereka demi seseorang yang mereka cintai.

“ Eum….aku turun disini “ Ucap Myungsoo terlihat bahasa tubuhnya begitu canggung.

Jiyeon memandang ke arah luar memastikan dimana sekarang mereka berada “ Eum aku juga, akan turun disini “ Ucap Jiyeon tak kalah canggungnya dengan Myungsoo.

Keduanya pun melangkah turun dari kereta bersama, lama tidak bertemu rasanya begitu aneh untuk saling bercerita seperti dulu, mereka hanya berjalan tanpa ada pembicaraan apapun hingga akhirnya…..

“ Sampai jumpa “ Pamit Jiyeon dan berjalan meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo membungkukkan tubuhnya, dua langkah sosok Jiyeon meninggalakannya Myungsoo membuang nafas pelan, namun jantungnya masih berdetak begitu cepat, dipandanginya sosok Jiyeon yang kini sudah cukup jauh melangkah, dalam hatinya berharap Jiyeon menoleh kembali ke arahnya, ternyata hingga tubuhnya menghilang, Jiyeon tidak lagi pernah menoleh.

Di dalam kereta,

Jiyeon berdiri termenung bergelayut pada tiang kereta, bertemu Myungsoo adalah harapan terbesarnya, namun entah mengapa ia merasa hubungannya dengan pria itu tidak akan mungkin lagi sama seperti dulu.

“ Wah ada apa ini ? “

“ Keretanya mati “

“ Waaa…bagaimana ini ? payah sekali “

Baru saja beberapa meter berjalan, kereta tiba-tiba berhenti, penumpang didalamnya heran dan bertanya-tanya, tidak berapa lama suasana menjadi gelap.

“ Perhatian pada semua penumpang, ada gangguan pada sistem, semuanya masih terkendali dan dalam pengecekan “

Sesaat setelah pengumum, nampak semua orang sibuk dengan ponsel ditangannya, berusaha menghubungi orang-orang terdekatnya. Jiyeon terdiam ditempatnya berdiri, tidak tahu harus menghubungi siapa selain orangtua dan nenek yang pasti sekarang sedang menonton sinetron dan tidak ingin diganggu.

Dalam kebingungan tiba-tiba ponselnya bergetar, nomor tidak dikenal tertera disana, ia mengernyit heran “ Yeobboseo ? “ Sapa Jiyeon ragu.

Cukup lama tidak ada jawaban, hingga “ Hai, apa ini kau Ji ? aku Myungsoo “ Suara seseorang diseberang sana berhasil membuat jantung Jiyeon terasa ngilu, ia tidak menyangka Myungsoo masih menyimpan nomor dan bersedia menghubunginya.

“ Ji “ Panggil Myungsoo lagi karena Jiyeon hanya terdiam.

“ Eoh yya..hha-llo, disini listriknya sedang mati “ Ucap Jiyeon mengatur nafasnya agar tetap normal.

“ Kau sedang berada dimana sekarang ? “ Tanya Myungsoo.

“ Eum….aku…. “ Jiyeon mengedarkan pandangannya, otaknya tiba-tiba terasa bodoh untuk berpikir “ Aku…belum sampai di Seoul “ Ucap Jiyeon akhirnya.

“ Jangan takut, ada gangguan pada sistem keretanya dan sekarang sedang diperbaiki, sebentar lagi akan berjalan seperti biasa “ Ucap Myungsoo menenangkan.

“ Ji “ Panggil Myungsoo kembali karena tidak ada respon dari Jiyeon.

“ Eoh “ Jiyeon susah payah menelan salivanya.

“ Festival air tahun ini, apa kau bisa pergi ? “

Dan bibir Jiyeonpun tertarik membentuk sebuah senyuman, ini seperti impiannya yang menjadi kenyataan, airmatapun menetes perlahan dari sudut mata indahnya “ Tentu…..tentu, tentu aku mau “ Ucapnya tak percaya dan kemudian menutup ponselnya.

“ Itu nomorku “

Jiyeon sontak menoleh, dilihatnya Myungsoo sudah ada disampingnya sedang tersenyum begitu tampan ke arahnya “ Jangan lupa untuk menyimpannya “ Lanjut Myungsoo.

Keduanya pun tidak melepaskan pandangan satu sama lain, berdiri berdampingan pada tiang kereta dengan letupan-letupan dihatinya, kerinduan yang begitu dalam dan hampir saja membeku, perlahan-lahan mencair seiring seseorang yang mereka impikan hadir dihadapannya

Tangan Jiyeon bergerak dan mencubit pipi Myungsoo untuk memastikan “ Awww… “ Teriak Myungsoo sakit.
Jiyeon tersenyum senang “ Ini bukan mimpi, ini nyata !!! “ pekiknya tak percaya.

Myungsoo hanya menggeleng dan membalas cubitan Jiyeon, Jiyeon tidak marah ataupun berniat membalasnya, hanya menikmati wajah Myungsoo yang tertawa karenanya.

Dua tahun penantian Park Jiyeon akan kehadiran seseorang yang amat ia cintai berakhir sudah, ia tidak lagi memikirkan shift siang dan malam yang memisahkan mereka untuk mudah bertemu, makan bersama, dan berjalan-jalan menikmati Seoul bersama, asal berada dilangit dan bumi yang sama dengan Myungsoo itu adalah kebahagiannya.

“ Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan, sekeras apapun kau berusaha menghindar dan menjauhiku pada akhirnya akan bertemu kembali, kau tak percaya takdir ? aku pun tidak, karenanya hanya ada satu cara untuk membuktikannya.

Kau, aku dan perjalanan ini…”

~ Park Jiyeon

THE END

55 responses to “[ TWO SHOOT ] SEOUL TRAFFIC LOVE STORY # 2

  1. ternyata ada kelanutanya,sekali lagi maaf ya thor.mungkin saat itu aku lagi emosi karna author ngk juga ngepost ff AMOH n COT.
    kalau baca versi jiyeon n myungsoo serunya beda.

  2. ternyata ada kelanutanya,sekali lagi maaf ya thor.mungkin saat itu aku lagi emosi karna author ngk juga ngepost ff AMOH n COT.
    kalau baca versi jiyeon n myungsoo juga seru

  3. kya.. Keren..keren.. Neneknya Jiyeon bener-bener dah, lucu banget.. Kocak abis, aku aja sampe ketawa GaJe bacanya.. Hahaha😀 … Happy Ending yang menyenangkan #NyengirKuda
    hehehe.. ditunggu FF MyungYeon lainnya ya Kak..
    Keep writing and Fighting..🙂
    Annyeong..❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s