Americano

americano-45

Park Jiyeon T-Ara || Kim Myung Soo Infinite || Ficlet,Romance

“Terkadang cinta bisa saja tumbuh dari hal yang sangat sederhana”

 .

Copyright, Americano by.AirinHwang© 2015, All Rights Reserved

.
.
.

Kembali aku menatap ke arah langit yang mulai ditutupi oleh awan hitam. Semakin lama semakin gelap, pertanda hujan sebentar lagi akan turun membasahi bumi. Namun apa daya sepertinya awan hitam tersebut tak mampu menahan jutaan kubik air yang dibawanya sehingga jatuh membasahi kota Seoul temasuk kafe kecil milikku ini.

Saat itulah aku melihat seorang laki-laki yang bertubuh tegap berteduh di depan kafe kecilku ini. Aku tidak terlalu melihat wajahnya, tapi entah kenapa aku menginginkan lelaki itu masuk ke dalam kafeku ini.

Dan ya, permohonanku terwujud. Aku melihatnya berjalan memasuki kafe. Bergegas aku mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Lonceng kecil yang sengaja ku pasang di atas pintu pun berbunyi, aku pun menyapanya dengan senyuman sembari membungkukkan badanku sedikit. Ternyata ia sangatlah tampan, sosoknya yang terlihat begitu sempurna seakan mampu menarik semua wanita yang baru pertama kali melihatnya termasuk diriku.

Dia pun memilih sebuah kursi kosong di dekat jendela kaca,

“Ingin pesan apa?” Tanyaku ramah

“Aku pesan Americano” Jawabnya cepat dan melemparkan senyumannya kepadaku. Senyumannya sangatlah manis. Kali ini ia sepuluh kali lebih tampan.

“Baiklah, tunggu sebentar” Pamitku kemudian pergi meninggalkan lelaki itu untuk membuat pesanannya tadi. Selama membuat Americano miliknya, kedua bola mataku seakan tak lepas dari dirinya yang tengah duduk santai menatap ke arah pemandangan luar jendela. Menatap rintik-rintik air hujan yang turun terasa begitu menarik baginya.

Setelah siap, segera aku memberikan pesanannya tadi. Sayangnya, karena kebodohanku yang hanya ingin cepat melihatnya membuatku menabrak salah satu pelangganku yang lain. Yaitu seorang lelaki bertubuh agak besar dengan muka yang lumayan.

Alhasil tangan kananku terkena tumpahan dari americano tersebut dan terkena sedikit pada baju lelaki besar itu. Sementara aku pun jatuh terduduk dan gelas yang menjadi wadah dari Americano tersebut pecah di atas lantai.

“Kau benar-benar bodoh Jiyeon…” Rutukku dalam hati.

“Kau! Apa kau berjalan tidak memakai kedua matamu itu hah? Lihatlah bajuku ini terkena tumpahan kopi milikmu!” Marah lelaki bertubuh besar itu kepadaku. Dengan cepat aku bangkit berdiri dan membungkuk di hadapannya.

“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Maaf, aku benar-benar minta maaf”

“Enak saja kau meminta maaf, Dasar kau..” Ucapnya kemudian sekilas aku melihat lengannya terayun untuk memukulku. Yang bisa aku lakukan hanya bisa menutup mata dan pasrah dengan semuanya

 

“HENTIKAN! Wanita itu tidak bersalah”

 

Lengan yang terayun itu tiba-tiba saja terhenti. Aku pun membuka mataku dan melihat ke arah sumber suara itu.

Ternyata itu suara dari lelaki tadi. Ku lihat ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku. Lelaki bertubuh besar itu melempar tatapan tidak suka kepadanya karena telah ikut campur dalam urusannya.

“Apa masalahmu, kau tidak ada hubungannya dengan semua ini.” Geramnya marah.

“Aku memang tidak ada hubungannya dengan ini semua, tapi aku hanya ingin meluruskan hal ini saja. Wanita ini tidaklah bersalah, jelas-jelas kaulah yang menabraknya. Terlebih lagi bajumu hanya terkena sedikit, sedangkan wanita ini harus menahan rasa sakit di tangannya karena terkena air panas.”

Lelaki itu hanya bisa terdiam menelan mentah-mentah perkataannya, lalu pergi begitu saja tanpa ada satu kata yang meluncur dari mulutnya. Aku pun menghela nafas lega, karena aku sendiri pun belum tentu bisa berbicara seperti itu. aku benar-benar sangat bersyukur karena lelaki di hadapanku sekarang mau menolongku. Selain itu aku beruntung saat ini suasana kafe hanya ada kami berdua jadi tidak terlalu menimbulkan keributan yang besar.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya lelaki itu sambil menatap tubuhku dari atas hingga ke bawah.

Aku hanya tersenyum “Aku tidak apa-apa, hanya bajuku saja yang basah. Terimakasih sudah menolongku tadi. Jika tidak ada kau, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku selanjutnya.”

Lelaki itu tampak memandangku cemas.

”Apanya yang tidak apa-apa, tangan kananmu itu terkena air panas dan merah seperti itu. Sini biar aku dinginkan.” Ujarnya kemudian menggenggam pelan tanganku menuju ke sebuah wastafel yang beradadi sebuah sudut ruangan kafe.

Aku berusaha menolak tapi percuma saja. Saat ini aku benar-benar tidak mempunyai kekuatan. Ia kemudian mengambil sapu tangannya dan membasahinya dengan air, lalu dengan perlahan ia mengusapnya di tangan kananku yang terluka.

“Akh.. “ Erangku menahan pedih saat sapu tangannya yang dingin menyentuh permukaan kulitku. Rasanya benar-benar sakit,bahkan air mataku pun hampir keluar.

“Maaf, ini memang agak terasa sedikit sakit, tahanlah sedikit” Ucap lelaki itu yang sebenarnya tak tega melihatku kesakitan. Aku hanya bisa mengganguk dan kembali menutup kedua mataku sebagai upaya untuk menahan rasa sakit.

“Apa sudah terasa lebih baik”

“Ya, sedikit. Gomawo “ Balasku tulus.

“Ah, Ini saja belum cukup. Aku akan membelikanmu obat agar bisa sembuh lebih cepat. Kau tunggu saja di sini.” Kata lelaki itu kemudian ia langsung berlari keluar kafe menuju ke arah apotek terdekat. Bahkan aku saja belum sempat mencegahnya sama sekali. Aku kembali tersenyum melihat tindakan lelaki itu. Belum pernah aku bertemu dengan lelaki sebaik ini. Entah kenapa aku berharap bisa lebih dekat lagi dengan lelaki itu.

Tak perlu menunggu lama, lelaki itu datang dengan membawa kantung plastik putih yang berisi obat-obatan dan gulungan perban untukku. Ku melihatnya mengeluarkan gulungan perban itu kemudian menyuruhku untuk duduk di kursi.

Ia pun lalu mulai berjongkok di hadapanku kemudian membalutkan perban itu ke tangan kananku. Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. Ia begitu dekat denganku saat ini. tak kusangka, ia mempunyai garis wajah yang begitu kokoh.

“Selesai” Ucapnya kemudian bangkit berdiri.

Gomawo, kau tidak perlu sampai seperti ini. Kau terlalu berlebihan. Tapi aku sungguh berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkanku.” Ujarku dengan tulus dan memberikan senyum terbaikku.

“Ah, sama-sama aku hanya ingin membantu saja”

“Aku Park Ji Yeon. Panggil aku Jiyeon saja.”

“Aku Kim Myung Soo.”

“Maaf, karena kesalahanku tadi Americano mu jadi tumpah. “ Kataku penuh penyesalan. Aku merutuk dalam hati karena pertemuanku dengannya kenapa harus seburuk ini. Aku ini benar-benar bodoh.

“Sudah kukatakan itu bukan salahmu. Karena itu kejadian ini jangan kau pikirkan lagi.” Tegasnya.

“Baiklah kalau begitu aku akan membuatkan americano lagi untukmu” Katanya segera beranjak pergi namun ditahan oleh Myung Soo. Lelaki itu menggeleng dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya kepadaku.

“Tidak perlu, kau juga sedang terluka. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Ini ambilah, sebagai ganti dari americano yang tumpah tadi.”

“Tapi-“

“Tidak apa, kalau begitu aku pergi dulu. Sepertinya hujan sudah reda.Nanti aku akan mampir lagi”

Potong lelaki itu kemudian pergi meninggalkan kafe itu. Sementara aku masih memandangi punggung lelaki itu yang semakin lama semakin menjauh. Sedangkan tangan kiriku masih tetap menggenggam erat sapu tangan milik Myung Soo, lelaki itu. Yah, aku akan menantikannya. Menantikan lelaki baik itu kembali datang di kafe kecil milikku ini.

-fin-

Duh, apa ini? Maaf yah kalau agak “aneh” soalnya ini ide yang tiba-tiba lewat aja. Sayang kan kalau tidak dituang dalam tulisan. Komment Juseyo😀

38 responses to “Americano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s