[CHAPTER-2] Prophecy Of The Midnight Sun

potms-by-periwinkeul

Poster/art by : periwinkeul @hsg

Author : MJS

Title : Prophecy Of The Midnight Sun

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jung Eunji

Other Cast : pemain akan bertambah seiring berjalannya cerita

Genre : mystery, fantasy, romance, friendship

Lenght : Chaptered

Rating : T

“Kim Yeonji dan Park Jiyeon, dari namanya saja sudah berbeda..” keluh Myungsoo begitu sadar bahwa pikirannya terus tertuju dan yakin bahwa Yeonji adalah Jiyeon.

 

“Maaf, Myungsoo-ssi. Tapi sepertinya perpustakaan ini harus dibersihkan. Kau bisa menulis dibuku daftar itu, kalau kau ingin meminjamnya.” Myungsoo hanya mengangguk-angguk saja. Setelahnya, Ia berjalan keluar kelas dan meninggalkan ahjussi itu sendirian.

“Eunji-ya, kudengar Myungsoo dekat denganmu.” sahut Jiyeon. Eunji hanya mengangguk saja. Jiyeon bertanya, “Dia tinggal dimana?”

 

“Didepan cafe didekat sekolah kita. Kenapa?” Jiyeon hanya menggeleng dan tersenyum. Eunji menyipitkan matanya, “Kau menyukainya?” Semburat merah menghiasi pipi mulus Jiyeon. Namun Ia tak menjawab sama sekali.

 

“Kuanggap kau menyukainya..”

 

“Kau kan dekat dengannya, tidak memiliki perasaan apapun?” Eunji hanya tersenyum tipis.

 

“Chingu.” balasnya singkat.

 

‘Ini baru permulaan untuk kalian. Aku pasti akan membalaskan seluruh dendamku..’ 

 

“Kau menyukai Mark, kan?” Pernyataan Jieun membuat Eunji tertohok. Gila saja, Ia menyukai laki-laki seperti Jack Frost itu?

 

“Aku tidak akan menyukai namja dengan rambut lumutan itu.” ujarnya yang disambut tawa ketiga temannya. Memang, akhir-akhir ini Mark mengganti penampilan rambutnya menjadi warna hijau. Sekalipun warnanya tidak seperti lumut. Itu malah terlihat cocok pada wajahnya.

 

Sudah beberapa kali diperingati oleh para guru, namun apa pedulinya. Ia memilih menjadi flower boy disini. 

 

“Aku rasa dia lebih mirip Jack Frost.”

 

“Eunji selalu memberikan julukan spesial untuknya. Aku rasa memang ada sesuatu diantara mereka.” ujar Soojung sembari menyipitkan matanya berusaha menginterogerasi.

‘Kau serius, dialah Kim Myungsoo?’

 

‘Tentu. Kau tidak dengar namanya waktu itu, hah?!’ sahutnya kesal. Namja itu hanya menyengir dan bersahut,

 

‘Maksudku memang dia Myungsoo yang kita cari?’

 

‘Ya. Dan aku tidak mau mau menunggu terlalu lama lagi untuk ini.’

 

‘Kapan kau mau melakukannya?’

 

‘Secepatnya, sekarang Ia sudah akrab denganku. Akan lebih mudah untuk membohonginya begitu aku mengetahui bahwa Ia menyukaiku.’

 

‘Secepat itu?’

 

‘Tentu. Kim Jaejoong si brengsek itu saja mencintai eommaku hanya dalam waktu 3 menit. Anaknya sama saja.’

 

‘Lalu bagaimana jika Ia melakukan hal yang sama seperti Jaejoong lakukan? Kau mau jatuh untuk yang kedua kalinya?’

 

‘Tak akan, Yi-En. Aku sudah menyiapkan semuanya lebih dulu. Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah membuatnya semakin terjebak dengan kita. Itu akan membuatnya semakin mudah dihabisi.’

 

‘Arraseo, Yeonji-ah. Aku melakukannya karena aku mencintaimu.’ Ia hanya tersenyum manis dan mencium bibir namja itu mesra.

Jiyeon berjalan-jalan disekitar para makam-makam orang lain dan menginjak petinya. Bukan tidak disengaja. Bukan disengaja juga. Ia hanya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Tak lama, Ia berhenti didepan sebuah makam dengan nama ‘Park Tae Hee’.

 

“Gara-gara dia, eomma harus rela menjadi manusia selamanya. Eomma rela meninggalkan kerajaan kita. Eomma membuatku menjadi bukan manusia. Semuanya gara-gara dia!! Aku akan membunuhnya,, dengan orang-orang yang berhubungan dengannya!”

 

Airmata Jiyeon terjatuh, namun Ia tersenyum sinis begitu airmatanya jatuh ke tanah dan berubah menjadi kristal-kristal hitam yang mengagumkan.

 

“Permainan ini akan segera berakhir..”

 

“..kita akan melihat. Siapa yang bertahan pada akhirnya..”

 

“Myungsoo Kim.”

 

Terdengar suara petir berbunyi kencang tak membuat Jiyeon gentar. Setelah semua ini terselesaikan, Ia akan memiliki semuanya. Ia memiliki seluruh kerajaan dan bumi ini. Ia dapat menghapuskan dendam terbesarnya yang membuat dirinya berubah.

 

Mendadak, wajah Jiyeon berubah menjadi lebih putih, bibir yang terlihat sangat peach, mata merah, dengan rambut blonde keputihan miliknya. Serta pakaian dan mahkota berduri diatas kepalanya membuatnya terlihat seperti.. Ratu Kejahatan. Dan inilah Ratu Sunrise Castle.

 

“Aku akan melakukannya dengan sangat halus, supaya kau tidak kesakitan Kim..” Seringai menyeramkan tersungging dibibir Jiyeon.

“Kenapa Myungsoo tidak masuk hari ini?” tanya Soojung heran, baru masuk sebulan sudah tidak masuk lagi. 

 

“Ia baru saja mengirimiku pesan kalau.. appanya meninggal.” Ketiga temannya terbelalak begitu Jiyeon melontarkan pernyataan yang didapatinya barusan.

 

“Tiba-tiba? Seingatku Myungsoo tidak pernah mengatakan tentang keluarganya.”

 

“Mungkin saja, appanya memang sudah sakit. Nanti kita tanyakan saja. Besok kita akan mengunjunginya.” usul Jiyeon yang disetujui teman-temannya. Sementara seseorang dibelakang sana malah tersenyum sinis sambil bergumam, 

 

‘Aktingmu luar biasa, Yeon..’ 

Seluruh teman-teman Myungsoo menghadiri pemakaman Kim Jaejoong, ayah Myungsoo yang tiba-tiba tergeletak mati dirumahnya dengan keadaan mengenaskan. Kepalanya seperti ditembak dan perutnya ditusuk dan tangannya yang sudah terkibas benar-benar mengejutkan Myungsoo.

 

Kala waktu itu, Myungsoo berniat pulang ke rumah appanya untuk mengantarkan dokumen appanya yang tertinggal dikantor. Dan tak disangka, Ia mala melihat appanya telah mati mengenaskan. Ia bahkan tak tahu siapa yang melakukan hal sejahat itu pada appanya.

 

Kini Ia hanya terduduk lemas tanpa arah. Ia memandang kosong kearah jenasah appanya yang telah ditutupi kain. Teman-temannya memandangnya iba. Ia tidak memiliki ibu, sekarang ditinggalkan ayahnya. Dan sekarang, hanya tertinggal warisan ayahnya.

 

“Myungsoo-ya..” Jiyeon memandang Myungsoo tenang dengan suara lembutnya. Myungsoo menoleh tanpa semangat, tanpa senyuman, tanpa candaan. Tidak seperti biasanya bagaimana Ia menatap Jiyeon.

 

“Kau memang terluka. Tapi terus bersemangat, eoh?” Myungsoo tak menyahut. Tak juga memperdulikan Jiyeon yang menyentuh tangannya erat. Perasaannya campur aduk.

 

“Kalau kau membutuhkan orang lain, panggil aku. Ceritakan semuanya padaku..” Myungsoo masih tak bergeming. Ia lebih memilih menatap jenasah ayahnya yang tak bisa Ia lihat lagi selamanya. Tanpa sadar, Jiyeon tersenyum mengejek.

 

‘Ini yang aku rasakan ketika eommaku meninggalkanku beserta kerajaannya, Myungsoo-ya.’

 

Jiyeon memutuskan untuk meninggalkan Myungsoo sendirian dengan rasa puasnya, toh untuk apa memandangi orang lemah yang menangis. Dia kan sudah tidak bisa merasakan perih lagi, semuanya terasa kaku dan dingin.

 

“Myungsoo-ya, are you okay?” Myungsoo hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Mark. Ya, namja itu sangat perhatian dengan Myungsoo. Membuatnya semakin nyaman bersama Mark.

 

“I will be your knight.” ujarnya terkekeh untuk mencairkan suasana. Myungsoo hanya tersenyum kecil. Mark tersenyum miring dan menepuk bahu Myungsoo dan meninggalkannya.

 

“Kim Myungsoo. Kau pasti bisa.” Myungsoo menahan tangan Eunji begitu yeoja itu berniat meninggalkannya. Eunji menatap Myungsoo bingung

 

“Ada yang aneh pada appaku dan Jiyeon. Appaku menyebut-nyebut nama Yeonji dan Jiyeon..”

 

FLASHBACK ON

Seminggu sebelum kematian Jaejoong, Myungsoo mengunjungi rumahnya dan berniat masuk ke ruang kantornya. Namun, Ia menahan dirinya begitu terdengar sesuatu didalam.

 

“Yeonji bersekolah disana? Sama dengan anakku?” Samar-samar Myungsoo mendengar nana Yeonji disebut, membuatnya teringat pada buku yang sempat Ia baca.

 

“…”

 

“Park Jiyeon? Ia mengubahnya?”

 

“…” Myungsoo mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya dan mengetuk pintu Jaejoong.

 

“Eoh, Myungsoo-ah.”

 

“Appa, apa tadi kau menyebut nama Park Jiyeon?” Sekujur tubuh Jaejoong menegang, “K-kau mengenalnya?” Myungsoo tersenyum dan mengangguk cepat seraya membalas

 

“Tentu. Aku mencintainya, appa.”

 

“MWO?”

 

“Wae? Aku salah menyukainya?”

 

“A-ani, Myungsoo.”

FLASHBACK END

 

“Dan kedatangan kalian kesini membuatku heran..”

 

“- Aku sama sekali tidak menghubungi Jiyeon tentang hal ini.” Eunji terkejut? Lalu bagaimana Jiyeon bisa mengetahui tentang kematian ayahnya?

 

“Nanti akan kutanyakan padanya.”

 

“Jangan, aku mau menyelidikinya. Aku rasa appaku ada hubungan dengan Jiyeon.” Eunji kemudian mengangguk mendengar pernyataan Myungsoo. Mau tidak mau, Ia harus kembali masuk dalam urusan Myungsoo.

Eunji mendesah bingung atas pernyataan Myungsoo kemarin, ditambah pernyataan Jiyeon yang benar-benar membuatnya semakin gila. Beberapa hari lalu, Eunji berbincang-bincang mengenai Myungsoo. Ia mengatakan akan membuat Myungsoo merasa dibohongi dan terjebak.

 

Ditambah lagi, Ia berbicara dengan Mark.

 

Sahabatnya.

 

“Ya!” teriak Mark menepuk bahunya, membuatnya tersentak kaget. Sementara yang mengerjai hanya menyengir puas.

 

“Kau kenapa?” Eunji hanya menggeleng pelan. Dengan tatapan tajam Mark, Eunji hanya mendesah dan meninggalkannya.

 

‘Aku tahu apa yang kau pikirkan Jung Eunji..’

 

Mark hanya tersenyum miring dan bergumam sendiri, ‘Aku harus selesai mengurusi ini. Yang pertama harus kita singkirkan.. Jung Eunji.’

maaf ya, ini laptop aku lagi rusak, tapi aku tetep paksain buat update ff nya.

oh ya, sebenarnya aku ga yakin mau terusin ff ini atau ga, soalnya tiba” ngerasa ga dapet feelingnya lagi. tapi ya okelah, aku akan lanjutin terus.

maaf kalo berantakan, laptop aku rusak jdi susah ngaturinnya.

20 responses to “[CHAPTER-2] Prophecy Of The Midnight Sun

  1. terusin dong penasaran soalnya sma ceritanya. ffnya juga keren kok.

    #myungyeon❤
    #semangat ya author🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s