Winter Confession(FINAL)

Lunchbox Jiyeon terjatuh saat Minho mendekatkan bibirnya ke Jiyeon dan menciumnya. Myungsoo pun menatap mereka berciuman, dan Jiyeon pun menyadari bahwa ada Myungsoo, berdiri di sana sambil menatap mereka dengan tatapan penyeselan.

Rasakan kau, Myungsoo.

Jiyeon melepaskan dirinya dari Minho pelan-pelan. Dia pun mengambil lunchbox-nya yang jatuh. Myungsoo berlari ke arah Minho dan mendorongnya ke tanah.

“Myungsoo! Apa yang kau lakukan?!”

Minho dengan cepat berdiri dan membalas meninju Myungsoo kuat-kuat. Darah pun menetes dari bibir Myungsoo. Jiyeon mengambil tisu di sakunya dan memberinya kepada Myungsoo.

“Minho,jangan tinju dia! Kau tidak apa-apa, Myungsoo?”tanya Jiyeon.

Myungsoo hanya menatap Jiyeon. Myungsoo mengambil tisu yang diberikan oleh Jiyeon, dan mengelap darah di bibirnya.

“Apa kau iri melihat Minho menciumku?” tanya Jiyeon.

Myungsoo hanya diam menatap Jiyeon, tidak bisa menjawab.

“Aku tak iri.”sahut Myungsoo.

“Kalau begitu, kenapa kau mendorongku?”tanya Minho.

“Hanya kesal. Suzy berselingkuh.”

Jiyeon menghela napas dan memeluk Myungsoo. Minho pun melihat mereka berpelukan dengan tatapan iri.

“Jangan khawatir, Minho. Ini hanya pelukan persahabatan. Lagipula kamu lah yang kucintai sekarang.”sahut Jiyeon, sambil melepaskan pelukanya.

Tidak membiarkan Jiyeon melepaskan dirinya, Myungsoo dengan cepat menarik tangan Jiyeon dan memeluknya erat-erat, melirik ke Minho.

“Yang ini bukan pelukan persahabatan. Jiyeon milikku.”sahut Myungsoo.

“Lepaskan aku, Myungsoo!”

Jiyeon mencoba melepaskan dirinya tapi Myungsoo tetap memeluknya erat-erat. Minho pun menarik tangan Jiyeon dari pelukan Myungsoo.

“Kau tidak mendengarkan? Jiyeon sekarang mencintaiku. Dia milikku. Kalau kau benaran mencintainya, kau seharusnya menyatakan perasaanmu dari dulu. Sekarang sudah terlambat.”sindir Minho.

“Aku hanya tidak menyadari perasaanku kepadanya. Aku baru sadar, kalau cintai ku ke Suzy, hanya cinta monyet. Tak lebih dari apa-apa.”

“Kalau begitu sama saja. Aku tidak mencintaimu lagi. Walaupun aku tidak menyangka Suzy berselingkuh, tapi perasaan itu sudah hilang. Yang kucintai sekarang adalah Minho, bukan kamu.”

Jiyeon menarik tangan Minho dan membawanya berlari meninggalkan Myungsoo. Myungsoo hanya diam. Dan perlahan-lahan, salju turun dari langit. Airmata pun keluar dari mata Myungsoo.

Sialan. Sekarang Jiyeon sudah milik orang lain. Kenapa aku tak bisa menyadari perasaanku ke dia lebih cepat? Seaindanya aku tahu perasaanku, sekarang, Jiyeon pasti sudah ada di sampingku, memelukku yang sedih, menangis.

—-

Jiyeon menghela napasnya saking dinginya. Minho menlihat Jiyeon dan memberi Jiyeon jas sekolahnya.

“Pakai saja.”

“Kau tidak kedinginan?”tanya Jiyeon.

“Tenang saja. Aku tidak kedinginan.”sahut Minho sambil tersenyum.

“Makasih.”

“Oh ya. Pada hari natal, kau merayakan natal sama siapa?”tanya Jiyeon.

Minho menatap langit musim dingin dengan bola mata hitamnya.”Natal ya… kalau bisa, dengan Park Jiyeon.”ujar Minho sambil tersenyum.

“Aku juga ingin merayakan natal bersama Choi Minho. Sangat…ingin.”

“Kalau begitu, aku akan menunggu di depan pohon natal besar itu. Kau tahu kan, yang dekat taman kompleks? Kutunggu disana jam 6 malam.”

Jiyeon mengganguk.”Iya.”

—-

Jiyeon men-play lagu EXO-Peterpan di IPodnya dan mulai menulis diarynya yang berwarna pink itu.

Dear diary.

Hari ini Myungsoo mengatakan bahwa aku miliknya. Jujur saja, aku sebenarnya senang waktu dia bilang seperti itu. Tapi, sekarang aku sudah punya Minho, dan juga sebaliknya. Tapi aku tidak tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin mengecewakan Minho. Dia juga mengajakku untuk menghabiskan natal bersama dia.

Tiba-tiba handphone Jiyeon berbunyi.

INCOMING CALL-MYUNGGIE

“Kenapa Myungsoo menelepon?”

Jiyeon menjawab teleponya dan mendekatkan handphone-nya ke telinganya.”Halo?”

“Jiyeon. Aku…hanya ingin meminta maaf.”

“Minta maaf? Untuk apa?”

“Karena keributan tadi siang.”

“Oh. Tenang saja. Itu sih sudah kumaafkan.”Jiyeon berdiri dan tempat duduknya dan melompat ke tempat tidurnya.

“Untunglah.”

“Myungsoo… kita masih sahabat,kan?”

“Tentu. Uhm… ayo kita ketemuan.”

“Boleh saja.”

“Kalau begitu, di depan jam tinggi.Kau pasti tahu yang mana. Jam 6:30.”

“E-Eh?”

“Sudah dulu ya.”

CALL ENDED.

Jiyeon menutup handphonenya dan menaruknya di meja belajar.”Aduh…jadi kayak gini kan??!!!”

—-

Myungsoo mengetuk-ngetuk meja belajar, dan penanya terjatuh. Dia membungkuk dan mengambilnya.

Dia membuka handphonenya dan melihat jamnya.

18:03

“Myungsoo! Waktunya makan malam!”teriak ibunya dari lantai bawah.

“Iya!!!”

Sebentar lagi.

—-

Minho merapikan syal berwarna birunya, dan dengan semangat dia mengambil kantong yang berisi bingkisan hadiah itu. Dia berlari ke luar rumah, dan berjalan ke tempat yang ditujunya.

Di situ, dia melihat Jiyeon sedang duduk di bench, mendegarkan lagu lewat headset-nya yang berwarna biru itu. Diam-diam, Minho menghampirinya dan mencubit pipi Jiyeon.

“Aww! Siapa…”dengan terkejut, Jiyeon melihat ke arah orang itu dan menyadari bahwa orang yang mencubitnya ternyata pacarnya.

“Imut sekali kau.”ujar Minho.

Karena malu, Jiyeon menundukkan mukanya dan mukanya memerah.

“Mukamu merah. Sakit ya?”tanya Minho, lalu dia duduk disebelah Jiyeon.

Jiyeon menggeleng-geleng. Minho tersenyum dan melepaskan headsetnya dari telinga Jiyeon.

“Kalau tidak dilepaskan, kau tidak akan bisa dengar suara imut pacarmu ini.”ujar Minho.

Jiyeon tertawa kecil dan Minho mencubit pipi Jiyeon lagi.

“Hentikan! Suka kali sih mencubit pipi orang.”sahut Jiyeon, lalu dia membesarkan pipinya yang masih merah itu.

“Pipimu mudah sekali memerah ya.”

“Kebiasaan, tahu. Lagi pula dulu Myungsoo juga sering membuatku malu, tapi dia tidak pernah menyadarinya.”

Setelah Jiyeon berbicara tentang Myungsoo, tiba-tiba saja suasananya jadi sunyi. Jiyeon menyadarinya, dan dengan cepat meminta maaf.

“Ngomong-ngomong, ini.”sahut Minho sambil menyodorkan hadiahnya.

“Untuk…ku?”

“Tentu. Untuk siapa lagi?”

Jiyeon tersenyum dan mengambil hadiahnya.”Boleh aku buka?”tanya Jiyeon. Minho mengganguk.

Jiyeon membuka hadiahnya dan mendapati kalung berbentuk hati didalamnya.”Kau suka?”tanya Minho.

Kalung ini… mirip dengan kalung yang diberi Myungsoo. Juga berbentuk hati tapi berbeda hati tapi warnanya beda. Tapi aku tidak memakainya hari ini, padahal… aku sudah janji akan kupakai setiap hari.

Aku ingat… semuanya.

—-

Aduh, aduh! Kenapa ya hatiku selalu bergedup kencang ketika berjalan-jalan dengan Myungsoo-Oppa berdua?!

“Jiyeon? Jangan melamun. Bukankah kau bilang akan membantuku mencari hadiah untuk Sooyeon?”

“O-Oh! Maaf! Ayo, kita ke sana! Mungkin ada barang bagus!”Jiyeon menarik tangan Myungsoo dan mereka berlari ke arah toko itu.

Ah… kalung hati ini bagus sekali.

“Oppa! Coba lihat ini!”ujar Jiyeon sambil menunjuk ke arah kalung itu.

“Oh! Sooyeon pasti suka. Ide bagus! Permisi, tolong yang ini!”

Aku juga mau… tapi stok-nya tinggal satu. Enggak apa-apa lah. Demi pacar Myungsoo-Oppa.

Myungsoo menyadari bahwa dari tadi Jiyeon melihat kalung itu terus.

Dia mau kalungnya ya? Kalau begitu…

“Kak! Kalung ini tinggal satu ya?”tanya Myungsoo.

Eh… Myungsoo… dia…

“Maaf, tapi persediaanya sudah habis. Laris sih.”

Yah… tidak apa-apa deh.

“Sini.”ujar Myungsoo. Dia menarik tangan Jiyeon dan mereka berjalan ke arah taman yang ada jam tinggi di tengahnya.

“Ada apa, Oppa?”

Myungsoo membuka bingkisanya dan memakaikan kalung itu ke Jiyeon. Mata Jiyeon melebar dan dia menunddukan mukanya karena malu.

“B-Bukankah ini untuk Sooyeon?”tanya Jiyeon.

“Awalnya memang iya, tapi sepertinya kamu pingin banget kalung ini. Lagipula, ini seperti tanda terimakasih. Makasih ya, sudah mau jadi sahabatku.”ujar Myungsoo sambil tersenyum.

Aku suka senyumnya. Sejak itu… aku menyadari. Perasaanku ke dia bukan perasaan teman, tapi suka.

Akhirnya dia membelikan keychain yang cute untuk Sooyeon, tapi hubungan mereka tidak bertahan lama.

Aku berusaha untuk menyatakan perasaanku, tapi dia sudah terlanjur pacaran sama Suzy.

—-

Senyumnya.

Aku… masih mencintainya. Kim Myungsoo!

“Jiyeon? Kau tidak suka ya?” tanya Minho.

“Maaf, Minho.”

“Hah?”

“Aku… masih… MENCINTAI MYUNGSOO!!!”teriak Jiyeon sambil berdiri.

Airmata keluar dari mata Jiyeon. Minho menatap Jiyeon dengan mata melebar. Kalungnya pun jatuh ke tanah.

“Sudah kuduga. Sejak awal kau selalu memikirkan Myungsoo walaupun kau sedang denganku. Kau selalu berbicara tentang dia. Betapa hebatnya dia dimatamu. Pergilah, Jiyeon.”

“Eh?”

“Pergilah mencari Myungsoo. Dia pasti sudah menunggu.”Minho berdiri dan menghapus airmata Jiyeon, dan memeluknya.

“Ini pelukan terakhir hubungan kita yang cuma berjalan selama 3 hari. Kita putus.”ujar Minho, tersenyum.

“Terima kasih, Minho. Kau membuatku menyadarinya.”

Jiyeon pun berlari meninggalkan Minho sendirian.

Di depan jam tinggi.Kau pasti tahu yang mana. Jam 6:30.

“Selamat tinggal, Park Jiyeon. Nah… aku jomblo deh di hari natal!”

—-

18:55

Dia… tak datang, pada akhirnya. Pasti lagi bersenang-senang bersama Minho. Pulang saja lah. Ternyata memang mustahil.

Baru saja Myungsoo ingin pulang, tiba-tiba ada perempuan berambut coklat berlari ke arahnya. Dia kenal perempuan itu. Park Jiyeon.

Jiyeon melompat ke arah Myungsoo dan memeluknya erat-erat sampai mereka berdua terjatuh.

“Sakit, ta…”

“M-Myungsoo…”sahut Jiyeon dengan terengah-engah.

“Bukankah kau…bersama Minho?”

“Memang, tapi… aku menyadarinya. Yang aku masih suka adalah kamu, Myunggie.”

Myungsoo tertawa. Jiyeon melihatnya dengan aneh.”K-Kenapa tertawa?!”tanya Jiyeon dengan nada malu.

“Ini pertama kalinya kau memanggilku Myunggie setelah kau pacaran dengan Minho!”

“A-Ah… Maaf aku telat. Tadi aku balik kerumah untuk mengambil ini.”

Jiyeon menyodorkan sebuah bingkisan yang ada tulisan “To Myungsoo-Oppa.”

“Apa ini?”

“Ini hadiah yang aku bermaksud memberikanya untukmu 1 tahun yang lalu. Tapi aku terlalu malu…”

Myungsoo mengambil bingkisanya dan membukanya. Ada dua t-shirt di dalamnya. Satu bertulisan ‘LOVE THIS GIRL’ dan satu lagi ‘LOVE THIS BOY’. Myungsoo tertawa melihatnya.

“Jangan tertawa!”

“Bagus kok. Pasti kita akan memakainya suatu hari nanti. Dan aku juga ada hadiah untukmu.”

“Ini… syal?”

Myungsoo tersenyum dan memakaikan syalnya ke leher Jiyeon.”Kau mudah kedinginan, bukan?”

“M-Myunggie…”Jiyeon menangis dan mendekatkan mukanya ke dada Myungsoo. Myungsoo pun memeluknya.

“Aku suka padamu… Myung… sa…ngat suka…”ujar Jiyeon yang masih menangis.

“Aku juga. Sangat suka padamu, Jiyeon.”

Myungsoo mendorong pipi Jiyeon dan mencubitnya.

“Sakit!”sahut Jiyeon.

“Sori.”Myungsoo tersenyum, dan mendekatkan bibirnya ke bibir Jiyeon dan menciumnya.

Aku tidak pernah menyerah dalam hal mencintainya. Kukira menyerah itu adalah keputusan yang buruk, tapi tidak juga. Karena aku tidak pernah menyerah, aku pun sekarang bisa pacaran dengan Myung.

Jangan mudah menyerah tentang cinta karena bisa saja ada yang berubah. Sama seperti aku sekarang.

Hari Natal, tahun 2014. Annivesary Jiyeon dan Myunggie.

END

Halo semua .w. Akhirnya end juga~Huft, capek. Sebagai bonus, aku panjangin final chapternya! Comment yang banyaknya! Oh ya, untuk cerita baru dari xxyenny, bisa dilihat di sini à https://highschoolfanfiction.wordpress.com/2015/03/20/youre-like-a-star-that-ill-never-reachcast-introduction/

Saat aku lihat fanfic author lain, comment mereka 2x kali lipat lebih banyak… jadi pokoknya untuk fanfic baru ini aku akan lebih berusaha~

See you on the next fanfic!♡

Credit: Cicil@HSG

15 responses to “Winter Confession(FINAL)

  1. Woah daebaaakkk.. kekeke.. akhrx myungyeon brsatu jg.. kasihan sih sm minho tp y gmna lg.. drpd hub mrk dlm kbhongan dan trpks kan? Hey thornim jgn pts asa.. maybe comment km pass mrk lg ga bs comment aja atau ol dr hp biasax mrk mls comment.. jgn pth smngt y nlsnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s