[Chapter] Secret – Lee Jonghyun

nyimasRDA - secret 1

nyimasRDA present

Secret – Jonghyun side

Cast:

Park Jiyeon “T-ARA”

Lee Jonghyun “CNBLUE”

Kim Myungsoo “Infinite”

Lee Chaerin “2NE1”

Genre: Romance, friendship

Rating: G

Length: Chapter

 

Apa menurut kalian aku salah jika mencintai seseorang yang merupakan adik tiri ku? – Lee Jonghyun

-oOo-

 Secret Jiyeon

Andai saja aku dapat mengulang waktu, aku hanya ingin kembali pada waktu itu, dimana saat Appa mengatakan ingin menikah. Jika saja aku tahu wanita yang akan aku cintai dengan sepenuh jiwaku adalah adik tiriku, aku akan dengan keras menentang pernikahan itu. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku menghancurkan perasaan pria yang sangat aku cintai? Pria yang sangat berarti untukku? Keluarga ku satu-satunya. Aku tidak bisa seegois itu.

“Jonghyun-ah, Appa ingin bicara padamu.”ujar Appa saat kami tengah makan malam bersama.

Aku ingat dengan benar detik-detik Appa memberitahuku bahwa ia akan menikah lagi dengan seorang designer terkenal bernama Park Bom. Wajah Appa yang begitu gembira ketika menceritakan perihal pertemuannya dengan Park Bom benar-benar membuatku bahagia. Yah, aku sama sekali tidak merasa marah atau kecewa lantaran Appa akan menikah lagi karena aku yang selama ini terus mendesaknya. Aku tidak ingin Appa terus kecewa dan menangisi kepergian Eomma dengan namja lain.

“Appa akan segera menikah.”ujar Appa sumringah membuatku berhenti menyendokan makanan ke dalam mulutku.

“Appa serius?”

“Tentu, apa kau pikir Appa sedang bercanda? Bagaimana? Kau senang?”

“Apa dia wanita yang baik? Ia tidak melihat Appa hanya karena Appa pemilik perusahaan sukses, kan? Aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi.”

“Yya, kau ini masih kecil tapi kenapa fikiranmu seperti itu, sih? Tenang saja, Jonghyun-ah, Bom-ah adalah wanita yang baik. Ia teman Appa saat masih sekolah dulu.”

“Baiklah, tapi sebelum kalian menikah, aku ingin melihat bagaimana rupa nyonya Park Bom. Apa dia cantik? Aku yakin dia sangat cantik karena bisa membuat Lee Dongwook menyerah.”

“Eoh, dia sangat cantik. Kau pasti akan menyukainya, ia juga memiliki seorang putri yang sama cantiknya dengan dia.”

“Jadi kapan Appa akan memperkenalkan keluarga nyonya Park Bom padaku?”

Aku tersenyum kecut mengingat percakapan malam itu. Entah mengapa rasanya sakit sekali bila mengingat Appa menikah dengan Bom Ahjumma. Bukan, aku bukannya tidak setuju dengan pernikahan mereka. Aku justru sangat senang, akhirnya Appa menemukan wanita yang benar-benar mencintainya sampai suatu saat aku merasakan perasaanku berubah pada adik tiriku.

Awal pertemuanku dengannya sangat sederhana, dan tidak pernah terfikirkan kalau ia akan menjadi gadis yang sangat berarti untukku. Malam itu aku sedang menunggu Appa datang ke sebuah restoran untuk makan malam bersama calon ibu tiriku. Aku menunggu Appa di depan restoran sambil terus mencoba menghubunginya, namun tiba-tiba tubuhku ditabrak oleh seseorang.

“Hei, kau tidak apa-apa?”tanyaku berusaha membantu putri kecil yang menabrakku.

“Apa kau fikir aku akan baik-baik saja setelah menabrak…”suaranya terhenti, wajahnya yang sejak tadi terlihat kesal tiba-tiba merona merah.

Ingin sekali aku mencubit pipi chubby gadis itu yang tiba-tiba memerah. Aku mengulurkan tanganku, membantunya berdiri.

“Maaf aku menabrakmu. Seharusnya aku tidak berlarian tadi.”ujarnya sambil tertunduk malu yang ku balas dengan senyuman.

“Ya tidak masalah, aku yang seharusnya meminta maaf lantaran menutupi jalanmu.”jawabku memperhatikan wajahnya yang masih tertunduk hingga aku mendengar suara merdu wanita dari balik tubuhku yang ku tahu adalah ibu dari wanita dihadapanku, calon ibuku,

Yah, aku memang mencintainya, mencintai adik kecilku, mencintai Park Jiyeon. Jiyeon yang dulunya sangat manis kini berubah menjadi gadis yang cantik, bahkan ia sangat cantik. Awalnya aku tidak pernah berfikir akan mencintainya sebegitu dalam, yang ku fikir aku hanya ingin menjaganya dan tidak mau ia terluka, aku tidak ingin ia menangis dan menderita sampai suatu saat aku melihatnya tertawa bersama pria lain, Kim Myungsoo. Jiyeon juga Myungsoo berteman sejak dulu, sejak Jiyeon pindah ke rumah ku. Aku yang dulu melihat mereka hanya berteman biasa perlahan mulai merasa khawatir tiap kali melihat bagaimana Myungsoo memandang Jiyeon, terlebih aku sering melihat Jiyeon menangis ketika bersamanya.

Malam itu, aku melihat Jiyeon menangis di pundak Myungsoo. Aku marah, aku kecewa. Aku tidak menyangka bahwa Myungsoo membuat Jiyeonku menangis, aku tidak berfikir namja lugu sepertinya bisa membuat adik kecilku tersedu seperti itu.

Flashback on

“Jonghyun-ah, kau sudah pulang.”sapa Bom Ahjumma saat melihat kehadiranku di dapur.

“Eoh.”jawabku singkat. “Dimana Jiyeon? Apa dia belum pulang?”

“Belum, ku rasa Jiyeon masih bersama Myungsoo.”

“Begitu? Aku fikir ia akan segera pulang, tahu begitu aku ajak saja mereka pulang bersama tadi.”

“Kau bertemu dengan Jiyeon, Jonghyun-ah?”

“Ne Ahjumma, tadi kami ada di kafe yang sama, tapi aku fikir Jiyeon sedang bersama Myungsoo, jadi aku tidak mau mengganggu mereka. Mereka seperti sedang serius sekali, sedangkan aku sedang bersama G.Na.”

“G.Na? gadis yang pernah kau ajak kesini?”

“Eoh, dia akan kembali ke Amerika, jadi kami mengadakan pesta perpisahan kecil.”jelasku setelah memasukan satu potong daging panggang yang dibuat Ibu tiriku ini. “Ahjumma, aku pergi sebentar, ne.”

“Kau mau kemana?”

“Mencari Jiyeon.”ujarku lalu pergi.

Aku menyusuri jalanan setapak menuju sebuah taman yang biasa digunakan Jiyeon juga Myungsoo bertemu. Iris mataku mulai mencari sosok Jiyeon ketika kakiku mulai memasuki taman bunga itu.

“Myungsoo-ya, kenapa ini semua harus terjadi? Kenapa harus dengan wanita lain?”

Sebuah suara mengejutkanku, aku menoleh ke kiri kemudian melangkahkan kakiku agar mendekat dengan sumber suara. Betapa terkejutnya aku saat melihat Myungsoo tengah melingkarkan tangannya pada punggung Jiyeon sementara adik kecilku itu menangis dalam pelukannya.

“Kau harus mengerti Jiyeon-ah, jika itu memang bukan dirimu kau harus mengerti.”

Aku meremas tanganku sendiri, merasakan emosi yang meletup-letup kala mendengar tangisan Jiyeon yang semakin keras.

“Aku akan tetap menjadi temanmu, kau tahu itu. Kau tetap jadi yang nomor satu untukku, kau tidak perlu takut.”

Teman? Myungsoo bilang ia akan tetap menjadi teman Jiyeon setelah menyakitinya seperti ini? Tidak bisa dipercaya! Sejak saat itu aku mulai membenci Myungsoo karena selalu menyakiti Jiyeon. Aku sering mendengar adikku menangis dan mengatakan kenapa bukan dirinya yang menjadi wanita yang terpilih. Aku yakin itu semua karena Myungsoo yang memiliki kekasih.

Flashback off

Sejak saat itu aku tidak pernah rela melihat Jiyeon berdekatan dengan Myungsoo, aku tidak pernah rela adik kecilku menangis dalam pelukan pria yang membuatnya menderita. Awalnya aku hanya mengira semua ini adalah rasa khawatirku, suatu perasaan yang wajar mengingat Jiyeon adalah adikku tapi semua itu berubah saat aku mendengar Myungsoo berkata bahwa dirinya mencintai Jiyeon, meski ia tidak bisa bersama gadis kecilku.

Aku menggeram marah dan kecewa karena ia terus menempel dengan Jiyeon meski mereka bukan sepasang kekasih dan Jiyeon terus menangis karena hal itu. Tiap kali memandang Myungsoo yang melingkarkan tangannya pada pundak Jiyeon atau menggenggam tangan Jiyeon erat perasaanku berubah. Aku merasakan suhu tubuhku meningkat dan ingin segera menarik Jiyeon menjauh dari Myungsoo, perasaan yang sangat berbeda ketika aku bersama wanita lain. Hal inilah yang membuatku berganti-ganti pasangan dan bersikap dingin pada Jiyeon, aku tidak ingin Jiyeon tahu perasaanku yang sebenarnya. Ia tidak boleh tahu.

-oOo-

Aku berlari keras ketika mendapat panggilan dari seorang gadis yang terus menemani diriku akhir-akhir ini. Suaranya begitu mengerikan, jerit tangis yang terdengar begitu memilukan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Chaerin, tapi yang jelas sesuatu yang buruk sedang terjadi. Chaerin adalah gadis yang sangat baik, ia dingin namun pintar, suaranya juga indah. Tak hanya itu, ia juga sangat pintar menciptakan lagu. Aku mengenalnya ketika aku berkunjung kesebuah kafe dan Chaerin menyanyi disana. Aku jatuh cinta pada suaranya yang khas, pada tekhnik rap yang ia lakukan dan bagaimana karisma yang ia punya. Chaerin sempurna untuk ukuran gadis seusianya.

“Chaerin! Buka pintu!”ujarku ketika telah sampai di depan apartemen Chaerin.

“AAAAARRRGGGHHH!”suara terikan Chaerin semakin membuatku gelap mata.

Tanpa memperdulikan pandangan penghuni lain aku langsung mendobrak pintu dihadapanku. Mataku terbelalak kala melihat Lee Chaerin terduduk dilantai dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Chaerin memeluk lututnya, tubuh gadis bermata elang ini bergetar hebar.

“Apa yang terjadi?”tanyaku lembut.

“Dia datang, dia kembali Jonghyun-ssi.”lirih Chaerin.

Aku tahu siapa yang Chaerin maksud, aku tahu dengan benar siapa yang kembali dalam kehidupan gadis ini. Kwon Jiyong, pria yang telah menyiksa hidupnya, yang telah membuat Chaerin harus menelan kepahitan karena hubungan yang mereka jalin bertahun-tahun harus berakhir lantaran Jiyong berselingkuh, tak hanya itu, ketika Chaerin ingin mengakhiri hubungan mereka, Jiyong lantas menghajar Chaerin.

Aku melirik sekilas kearah tubuh Chaerin dan melihat beberapa luka memar ditubuhnya. Kaki kirinya bahkan mengeluarkan darah begitu juga sudut bibirnya. Aku menggeram keras melihat bagaimana kejamnya Jiyong pada Chaerin.

“Bersihkan dirimu, kita pergi dari sini.”ujarku kemudian menuntun Chaerin untuk memberihkan dirinya.

Aku menggenggam tangan Chaerin lembut dan memberikan kunci rumah padanya. Aku mengatakan padanya akan segera kembali dan dia bisa beristirahat di rumahku sementara aku mencarikan tempat tinggal baru untuknya. Hari itulah pertama kalinya ia bertemu dengan Jiyeon.

-oOo-

Aku tidak pernah menyangka bahwa kedatangan Chaerin dalam keluarga kami membuat sesuatu yang berharga. Ia berteman baik dengan Jiyeon dan mengembalikan keceriaan gadis kecilku lagi. Ia mengajak Jiyeon memasak bersama, bahkan mereka pergi bersama. Aku senang Jiyeon kembali tersenyum dan hubunganku dengannya pun mulai membaik. Aku tidak lagi menutup diri juga bersikap dingin padanya, meski hal itu hanya karena ada Chaerin disekitarku.

“Jiyeon, bisa ikut aku?”tanyaku pada Jiyeon saat aku akan mengantarnya kesekolah.

“Kemana Oppa?”tanya Jiyeon dengan mata berbinar.

“Mau tidak?”

“Tapi aku harus sekolah.”

“Membolos, aku tidak akan memberitahu Ahjumma juga Appa.”

“Mwo?”tanya Jiyeon dengan wajah lucunya, aku hampir saja tersenyum dan memeluknya kalau saja aku tidak ingat harus bertemu dengan Chaerin sesegera mungkin.

Sejujurnya aku melakukan ini hanya untuk menghabiskan waktu dengannya. Setelah menemui Chaerin aku mengajak Jiyeon pergi ke taman bermain, aku juga mengajaknya menonton cinema dan membelikannya ice cream. Aku melakukan semua yang dikatakan Chaerin. Senyum manis terpatri jelas di wajah cantik Jiyeon dan itu membuatku semakin mencintainya.

Setelah kencan seharian, aku juga Jiyeon kembali ke rumah dan mengingatkan ku kembali bahwa aku adalah saudaranya dan aku tidak seharusnya memiliki perasaan ini. Aku tidak harus mencintai adikku.

Cinta harusnya menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk setiap manusia, harusnya. Namun hal itu tidak terjadi padaku. Tampan, kaya juga pandai bermain musik tidak lantas membuatku kehidupan percintaanku berjalan dengan lancar. Aku Lee Jonghyun, pria yang sering dijuluki ice prince oleh banyak wanita tak dapat memiliki wanita yang ia cintai, bahkan ketika wanita itu adalah cinta pertamaku.

-oOo-

“Sedang melamun? ”ujar sebuah suara dari hadapanku, aku tersenyum melihat sosok gadis dengan mata elang yang kini menatapku dengan senyum manis di wajahnya. “Memikirkan Jiyeon?”

“Ah aniya Chaerin-nie, aku memikirkan lagu yang sedang kubuat untukmu.”

Yah, saat ini aku sedang duduk berdua dengan Lee Chaerin, gadis pindahan dari Jepang yang ku kenal beberapa waktu lalu. Gadis istimewa yang mengetahui semua rahasiaku. Aku menceritakan segalanya pada Chaerin, tentang perasaanku pada Jiyeon, meski awalnya ia yang memaksaku untuk jujur, tapi ku fikir Chaerin bisa menjaga rahasiaku, setidaknya aku harus berbagi rasa sesakku.

“Jangan berbohong padaku, Jonghyun-ssi.”ujar Chaerin setelah menyesap Americano yang ia pesan.

“Ani, aku hanya memikirkan tentang kita.”

“Tentang kita?”

“Chaerin..”panggilku membuat Chaerin menatap mataku. “Kau mau berkencan denganku?”

-oOo-

Sudah tiga hari sejak kepergian Chaerin ke Jepang, setelah permintaanku untuk berkencan Chaerin diminta Ayahnya untuk kembali ke Jepang lantaran Jiyong selalu saja datang ke kediaman keluarganya dan berteriak-teriak seperti orang gila memanggil Chaerin. Tidak pernah ada jawaban dari pertanyaanku, mungkin Chaerin hanya enggan menjawab atau ia tahu tentang perasaanku yang sesungguhnya. Ia pasti mengerti bahwa aku tidak mungkin menghianati cintaku pada Jiyeon atau mungkin dia memang tidak ingin mengubah status persahabatan kami hanya demi keegoisanku.

Aku tidak main-main saat mengajak Chaerin berkencan meski ia tahu tentang perasaanku yang sesungguhnya pada Jiyeon. Aku serius memintanya menjadi kekasihku, kami bisa saling melengkapi. Aku menyayangi Chaerin, aku tidak ingin ia terluka, aku menyayanginya sebagai adikku dan mungkin saja hal itu bisa berubah jadi cinta pada umumnya, sama dengan yang terjadi padaku juga Jiyeon dulu. Benar, kan?

Jiyeon Park is calling

Terkejut dengan getar ponsel tak mengalahkan keterkejutanku saat melihat siapa yang mencoba menghubungiku.

“Halo.”sapaku berusaha setenang mungkin.

“Oppa, kau dimana?”

Aku tersenyum mendengar suaranya yang lembut.

“Aku di kampus Jiyeon, wae?”

“Eoh, igeo, Chaerin-nie ada di rumah, ia menunggu kepulanganmu.”

“Jinjja?! Baiklah kalau begitu aku akan segera pulang.”ujarku kemudian mematikan sambungan.

Aku berjalan cepat menuju sepeda motor yang terparkir di belakang kampusku. Memacunya secepat kilat untuk segera sampai di rumah.

-oOo-

“Kenapa tidak memberi kabar kalau sudah kembali? Aku bisa menjemputmu.”ujaru ketika sudah berdiri di hadapan Chaerin.

Chaerin hanya tersenyum, senyum yang sungguh manis, senyum yang biasa ia berikan padaku.

“Aku tidak ingin merepotkanmu, Jonghyun-ssi.”jawab Chaerin, ia masih memanggilku secara formal meski kami sudah sangat dekat.

“Aku tidak mungkin kerepotan jika hanya menjemputmu.”

“Barang bawaanku banyak.”

“Aku bahkan bisa mengangkatmu bersama dengan koper-koper besarmu itu.”

Tawa Chaerin terdengar memenuhi seluruh ruangan membuatku ikut tersenyum juga. Aku melirik sekilas ke arah pintu dan melihat sosok Jiyeon berdiri disana. Aku tahu ia sering melakukannya belakangan ini. Ia sering memata-matai kami saat kami sedang berdua di dalam studio. Aku tahu ia khawatir dengan Chaerin karena hanya berdua dengan seorang pria, terlebih pria sepertiku. Pria yang ia tahu sering berganti pasangan. Jiyeon, andai kau tahu kenapa aku melakukan itu, kenapa Oppamu ini sering membawa wanita ke rumah, kau pasti tidak akan berfikiran buruk tentang ku.

“Jadi, bagaimana urusanmu? Sudah bertemu dengannya?”tanya ku setelah melihat Chaerin pergi.

Aku melihat Chaerin mengerutkan keningnya, seolah tidak mengerti dengan yang aku tanyakan.

“Kekasihmu, siapa namanya? Jingyo?”

“Jiyong dan dia bukan kekasihku, setidaknya bukan kekasihku lagi.”

“Ah, jadi bagaimana? Apa semua sudah selesai?”

“Ya, setidaknya aku sudah meninggalkan jejak tanganku disebelah pipinya dan melempar minuman di wajah selingkuhannya.”

Aku terkejut melihat perubahan mimik di wajah cantik sahabatku ini. Chaerin yang selama ini selalu tertawa dan tersenyum kini menunduk, menutupi semua rasa sakitnya. Entah apa yang membuatku begitu berani untuk mendekati Chaerin juga mengecup puncak kepalanya, tapi itulah yang aku lakukan.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada lagi Kwon Jiyong yang selalu memukulimu dan menduakan cintamu dengan sahabatmu sendiri.”

Aku bisa melihat luka begitu dalam dari iris mata Chaerin. Ia berusaha tersenyum ditengah tangisannya.

“Aku tidak bercanda dengan ucapanku sebelumnya, CL-ah. Aku bisa menggantikan dirinya jika kau berkenan. Setidaknya izinkan aku untuk mengobati lukamu.”

Aku bisa melihat keterkejutan di wajah Chaerin. Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikiranku, mungkin aku terlalu terbawa suasana atau aku memang ingin menjaganya atau pula aku hanya ingin kami saling melengkapi, saling mengisi dan saling mengobati luka. Saling memanfaatkan sama seperti yang aku sampaikan padanya beberapa waktu lalu.

Flashback on

“Chaerin..”panggilku membuat Chaerin menatap mataku. “Kau mau berkencan denganku?”

Mata Chaerin yang tajam seketika membesar saat aku mengajukan pertanyaan gila itu padanya. Ia tertawa yang membuatku sedikit tersinggung. Aku sedang mengajaknya berkencan lalu dia tertawa, menertawakan apa yang aku katakan.

“Hei, apa yang terjadi padamu Jonghyun-ssi?”

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kau mengajakku berkencan? Apa kau sudah melupakan Jiyeon?”

Aku terdiam, bagaimana bisa aku melupakan Jiyeon? Bagaimana bisa aku melupakan adik manisku saat kami terus saja bertemu, saat aku selalu merasakan debaran jantung bahkan hanya dengan menghirup harum tubuhnya. Aku bahkan tidak yakin kalau aku bisa melupakannya barang sedetik saja.

“Kau mencintainya, Jonghyun-ssi, aku tahu itu.”

“Kau benar, aku mencintainya.”

“Lalu kenapa mengajakku berkencan?”tanya Chaerin dengan senyuman. “Kenapa tidak berusaha meraih cintamu?”

Aku menggeleng pelan menanggapi apa yang dikatakan olehnya.

“Aku tidak mungkin melakukan itu. Bersikap egois dan melukai Appa juga Bom Ahjumma, aku tidak bisa Chaerin-nie. Appa begitu berharga untukku dan aku tidak yakin Jiyeon memiliki perasaan yang sama untukku.”

“Chaerin mencintaimu, Jonghyun-ssi. Terlihat dari matanya.”

“Jangan bercanda, dia mencintai Myunsoo.”

“Tidak, dia mencintaimu.”

“Jika dia memang mencintaiku, lalu menurutmu aku harus bersikap egois? Mengajaknya menikah dan menghancurkan pernikahan orang tua kami? Aku tidak mau itu terjadi. Appa sudah menderita selama ini.”

Chaerin terdiam, aku juga terdiam. Tidak ada yang bicara sampai seorang pelayan datang membawakan makanan penutup yang aku pesan khusus untuk Chaerin.

“Setidaknya, jika kita berkencan kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Kau bisa memanfaatkan aku. Aku akan melindungimu dari Jiyong, ia tidak akan bisa melukaimu lagi, begitu juga dirimu. Kau bisa melindungiku dari rasa cintaku pada Jiyeon, melindungiku dari rasa tersiksa dan sesak yang selalu aku rasakan tiap kali berdekatan dengannya.”

Aku berusaha menahan tangisanku, merengek pada sosok Chaerin benar-benar memalukan tapi tidak ada lagi yang bisa aku fikirkan selain ini.

“Bantu aku Chaerin, maka aku akan membantumu. Bantu aku melepaskan Jiyeon, berkencanlah denganku.”

Flashback off

“Aku tidak akan membiarkanmu menangis. Aku akan selalu menjagamu, CL-ah.”

Chaerin menangis, ia menangis begitu kuat saat aku menghapus air matanya. Aku melihat Chaerin menganggukan kepalanya pelan. Aku tersenyum, setidaknya setelah ini tidak ada lagi yang terluka. Aku akan menjaga Chaerin dan melepaskan Jiyeon agar ia bisa bersama Myungsoo. Aku akan melupakan cinta pertamaku dan menjalin hubunganku dengan Chaerin. Hubungan tanpa cinta ini. Aku mendekatkan wajahku pada Chaerin, mengecup lembut bibirnya, merasakan air mata gadis itu juga kepedihan dihatiku lantaran melepaskan Jiyeon, melepaskan cinta pertama ku.

-oOo-

Setelah mengantar Chaerin kembali ke apartmentnya aku kembali ke rumah. Rasanya lelah sekali, setelah apa yang terjadi hari ini aku memantapkan diri untuk melangkah tanpa melihat Jiyeon. Aku membuka pintu kediamanku dan terkejut melihat wajah panik Bom Ahjumma.

“Wae Ahjumma?”

“Jiyeon pergi, ia tidak ada di kamar.”

“Ahjumma sudah menghubungi Myungsoo?”

“Sudah tapi Myungsoo bilang ia sedang di Busan saat ini.”

“Mwo? Lalu kemana Jiyeon.”ujarku penuh kekhawatiran.

Aku melihat Bom Ahjumma sudah menitikan air matanya. Beribu fikiran buruk merasukiku. Belakangan ini banyak kabar tentang adanya seorang penculik yang membuatku mau tak mau berfikir buruk.

“Ahjumma tenanglah, aku akan mencari Jiyeon. Ahjumma tunggu Jiyeon disini jika Jiyeon sudah kembali Ahjumma hubungi aku, ne.”

“Gomawo Jonghyun-ah.”

Aku berlari keras menuju taman yang biasa dikunjungi Jiyeon juga Myungsoo namun nihil. Tidak ada siapun disana. Dingin angin malam menusuk kulitku. Badanku menggigil kedinginan, namun hal itu tidak menjadi penghalang aku mencari sosok Jiyeon.

“Halo, Chaerin-nie, Jiyeon menghilang.”ujarku saat mendengar suara Chaerin.

“Mwo?! Bagaimana bisa?!”

“Entah, apa kau tahu tempat yang biasa dia kunjungi?”

“Coba pergi ke taman ujung dekat rumahmu, Jonghyun-ssi. Aku akan bantu mencari.”

Aku langsung memutus sambungan dan kembali berlari menuju taman yang dikatakan Chaerin. Nafasku sesak, kakiku sudah tak sanggup lagi berlari saat aku melihat sosok Jiyeon duduk meringkuh dan kedinginan. Suara tangisan terdengar dari bibir mungilnya.

“Lee Jiyeon! Kemana saja kau?!”tanyaku dengan suara keras.

Jiyeon mengangkat kepalanya, ia sedikit terkejut dengan kedatanganku. Aku melihat dengan jelas air mata mengalir dari matanya yang indah. Oh aku tidak bisa lagi membiarkan ini. Kali ini Myungsoo sungguh keterlaluan.

“Ada apa? Kenapa kau menangis, eoh?”

“Anniya, gwaenchanha. Aku baik-baik saja.”

“Ceritakan padaku, apa yang membuatmu menangis, eoh? Apa Myungsoo membuatmu bersedih?”

Aku melihat Jiyeon mengerutkan keningnya saat aku bertanya. Apa dia mau bertingkah seolah ia baik-baik saja? Aku tahu Myungsoo yang membuatmu seperti ini Jiyeon-ah.

“Jangan lagi dekat-dekat dengannya.”pintaku akhirnya.

“Wae? Kenapa Oppa memintaku untuk menjauhinya? Dan kenapa Oppa berfikir kalau aku menangis karena Myungsoo?”

“Aku hanya tidak suka.”

“Lalu bagaimana jika kau bilang kalau aku juga tidak suka Oppa berdekatan dengan Chaerin. Demi Tuhan, kau tidak tahu apapun mengenai diriku dan Myungsoo. Dan asal Oppa tahu, bukan Myungsoo yang selalu membuatku menangis, tau kau..”

Wajahku mengeras, mendengar apa yang dikatakan oleh Jiyeon perlahan membuat aliran darahku tak berjalan sempurna. Bagaimana bisa kau yang membuatnya menangis? Aku selalu menjaganya, aku bahkan tidak pernah melarangnya berdekatan dengan Myungsoo selama ini meski aku tahu Jiyeon selalu menangis karena pria itu. Aku selalu menjaga perasaannya karena aku tahu ia sangat mencintai Myungsoo.

“Jiyeon-a..”

“Aku mencintaimu, Oppa. Mencintaimu bukan sebagai adik yang manis, tetapi sebagai wanita yang menatap pria. Apa kau tidak tahu? Apa kau tidak pernah merasakan perasaanku? Aku sakit setiap kali melihatmu membawa wanita-wanita yang berdeba ke rumah. Aku bahkan ingin mati saat melihatmu mengecup Chaerin dengan sayang. Sekarang terserah, aku sudah tak ingin peduli padaku, aku sudah lelah dengan perasaan yang sungguh menyiksa ini. Aku menyerah Oppa, aku sungguh menyerah, semoga kau bahagia bersama Chaerin.”

Apa katanya? Jiyeon mencintaiku? Ia mengatakan kalau ia ingin mati saat melihatku dengan Chaerin? Jadi, apa yang dikatakan oleh Chaerin itu benar? Jiyeon mencintaiku? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan Appa juga Ahjumma tapi aku tidak mau melihat Jiyeon terus menangis. Aku melihat tubuh Jiyeon yang semakin menjauh.

“Jonghyun-ssi.”lirih Chaerin dari balik tubuhku.

Oh apalagi sekarang? Aku yakin Chaerin mendengar apa yang dikatakan Jiyeon. Aku mungkin melukainya karena saat ini aku bisa melihat kesedihan dari wajah cantiknya. Aku melukai mereka, melukai wanita-wanita paling berharga dalam hidupku.

-oOo-

Sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Jiyeon. Ia tidak pernah lagi makan bersama, ia bahkan menolak setiap kali aku akan mengantarnya kesekolah. Aku juga tidak bertemu Chaerin, keduanya seolah menghindariku. Rasanya hariku sangat buruk dan tidak bisa lebih buruk sampai aku mendengar kabar kalau Jiyeon pindah. Ia memilih menerima beasiswa ke Paris untuk bakatnya di dunia fashion. Aku tercengang, bagaimana bisa ia meninggalkanku setelah semua yang ia katakan? Bagaimana bisa ia pergi tanpa mendengarkan dan mengetahui bagaimana perasaanku? Bagaimana bisa aku tahu kepergiannya setelah ia sudah tidak ada disini? Di sampingku. Aku begitu bodoh!

Aku menatap sosok wanita yang sangat kucintai pada layar ponselku, rambutnya yang panjang berwarna coklat, matanya yang besar juga senyumnya yang sangat mempesona. Aku mengambil gambarnya diam-diam ketika ia sedang belajar memasak bersama Chaerin beberapa waktu lalu. Aku menghela nafas berat kemudian menekan tombol hapus pada layar ponselku, mungkin ini memang saatnya. mungkin aku memang harus melepaskannya.

END

37 responses to “[Chapter] Secret – Lee Jonghyun

  1. Pingback: [Chapter] Secret – Myungsoo side Last Capter | High School Fanfiction·

  2. ya ampun jadi semuanya kayak salah paham jonghyun nyangka myungsoo pacarnya jiyi gitu juga sebaliknya aigoo kasian banget tapi emang kalian harus ngelupain rasa itu huhuhu sediih :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s