[ONESHOT] Library Has A Story

library-has-a-story_

Library Has A Story by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo|| Minor Cast(s): Song Dong il|| Genre(s): just decided by yourself|| Length: Oneshot || Rating: General || Awesome poster by Pinkeucho @HSG

Warning! Cerita ini di adaptasi dari serial Detektif Conan karya Gōshō Aoyama.

***

Telunjuk lentik seorang gadis terlihat menelusuri buku-buku yang tersusun didalam rak. Alisnya sesekali mengerut karena tak bisa menemukan buku yang ia cari. Sudah sekitar sepuluh menit ia disini namun belum juga mendapatkan hasil.

“Kenapa susunan bukunya berantakan sekali,” gumamnya.”Bukunya juga masih buku-buku lama. Luna pasti sudah menipuku.”

Park Jiyeon, gadis itu terus memaki sahabatnya dalam hati. Pagi ini sahabatnya itu mengatakan buku untuk pelajaran sejarah ada di perpustaakan Giri, perpustakaan yang letaknya sangat jauh dari kota. Karenanya, perpustakaan ini jarang dikunjungi orang.

Jiyeon benar-benar tertipu. Nyatanya saat Jiyeon menanyakan kepada satu-satunya staf yang berada disana, ia mengatakan bahwa buku yang Jiyeon cari tidak tersedia di perpustakaan itu.

Jiyeon menghela nafas sambil menahan kesal. Ia melempar pandangannya ke arah jendela─meratapi tiga jam perjalanan yang ditempuhnya untuk sampai disini sudah sia-sia.

Saat ia memutuskan untuk pulang, matanya menangkap sosok seorang pemuda yang tidak asing. Jiyeon tahu betul siapa orang itu, kakak kelas yang dikenal paling dingin dan aneh oleh semua siswa di SMA Donghwan, Kim Myungsoo. Ia sedang duduk tepat di sudut ruangan sambil membaca buku Sherlock Holmes yang tampak usang.

Merasa ada yang sedang menatapnya, Myungsoo mendongak. Terlihat seorang gadis memang benar-benar tengah memandangnya. Park Jiyeon, semua siswa termasuk dirinya tahu gadis itu, gadis hiperaktif yang selalu membuat kegaduhan dimanapun dia berada.

Tak lama kemudian keduanya mengalihkan pandangan mereka seraca bersamaan. Jiyeon tidak pernah menyukai Myungsoo, tapi juga tidak membencinya, begitu pula Myungsoo. Mereka hanya tidak ingin saling megenal karena Jiyeon dan Myungsoo sama-sama tidak menyukai sifat masing-masing. Jiyeon yang tidak suka orang yang dingin, dan Myungsoo yang tidak suka dengan orang yang hiperaktif.

Alasan yang sukup masuk akal, memang.

Sebelum benar-benar pulang, Jiyeon memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Namun, langkahnya terhenti saat ada suara yang terdengar tidak wajar, seperti suara orang yang tercekik.

Dengan hati-hati, ia mendekati ruangan tersebut, kemudian sedikit mengintip dicelah pintu yang terbuka.

Matanya membulat. Dilihatnya seorang pria paruh baya sedang mencekik staf yang tadi bersama Jiyeon dengan tali tambang. Karena tidak bisa lagi menahan keterkejutannya, Jiyeon membuka mulutnya─bersiap akan memekik keras. Namun, tidak. Tangan kekar seseorang sudah lebih dulu membekap mulutnya.

“Diamlah…” Bisik seseorang itu.”Keadaan akan kacau jika kau berteriak.”

Jiyeon menurut. Ia tampak tenang setelah tahu bahwa orang yang membekapnya bukanlah komplotan pria paruh baya itu melainkan Myungsoo.

Merasa Jiyeon sudah tenang, perlahan Myungsoo melepaskan tangannya, lalu menuntun Jiyeon ke tempat yang sepi.

“Bagaimana ini, sunbae?” Tanya Jiyeon tampak resah.

“Kita lapor polisi.”

.

Tiga puluh menit kemudian tepat saat perpustakaan akan tutup, Polisi datang dan meminta penjelasan kepada Sung Dong il─kepala perpustakaan yang Jiyeon dan Myungsoo tahu adalah tersangkanya.

Dibalik tembok, Jiyeon dan Myungsoo mendengarkan setiap perkataan keduanya.

“Maaf, kami mendapat laporan bahwa telah terjadi pembunuhan di perpustakaan ini.”

“Siapa yang melaporkannya?” Ucapnya tenang.”Itu pasti hanya orang yang iseng. Silahkan saja anda mencari kesetiap sudut gedung ini. Sudah dipastikan anda tidak akan menemukan apa-apa selain buku-buku.”

Dan benar saja, setelah kurang lebih satu jam para polisi mencari namun mereka tetap saja tidak menemukan apapun.

“Sepertinya memang tidak ada pembunuhan di tempat ini.” Ucap polisi dengan geram karena merasa sudah dipermainkan.”Ayo pergi.” Ajaknya kepada para anak buahnya.

Ia lalu mengedarkan pandangannya kepada seluruh pengunjung yang ia perintahkan untuk jangan dulu pergi karena bisa saja mereka menemukan bukti dan menetapkan status mereka sebagai saksi. “Sebaiknya para pengunjung juga lekas pulang. Maaf karena telah menyita waktu kalian.” Ucapnya sambil membungkuk.

Para pengunjung yang terdiri dari  Jiyeon dan Myungsoo, tiga orang remaja, ibu dengan dua anak, dan seorang pria paruh baya segera bangkit dan bergegas untuk pergi.

Myungsoo terus bergelut dengan fikirannya, bagaimana bisa mayat staf itu tidak ditemukan sedangkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Dong il membunuh staf itu. Namun, lamunannya terhenti tatkala ia melihat tangan Jiyeon yang bergetar.

Myungsoo baru menyadari setelah melihat adegan pembunuhan itu, Jiyeon sama sekali tidak banyak bicara─seakan jiwanya telah terlepas dari raganya. Tanpa pikir panjang, ia menautkan jari-jarinya disela-sela jari Jiyeon. Ia bisa merasakan tangan gadis yang sedang berjalan disampingnya ini sangat dingin seperti es.

Lift sudah terbuka, satu per satu orang masuk kedalamnya termasuk Jiyeon dan Myungsoo.

PIP PIP PIP

Terdengar suara lift yang menandakan kelebihan kapasitas. Semua orang didalam sana saling pandang seolah menyuruh salah satu diantara mereka untuk keluar.

Pada akhirnya Myungsoo mengalah, ia berjalan keluar lift tersebut dan berniat akan turun lewat tangga saja.

“Aku menunggumu dibawah.” Ucap Jiyeon sebelum lift tertutup.

Kedua sudut bibir Myungsoo tertarik. Sepertinya Jiyeon tidak sehiperaktif dan semenyebalkan seperti bayangannya selama ini. Entah mungkin karena ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya selama ini, ia jadi sangat berhati-hati atau mungkin ia hanya tidak mengetahui sifat Jiyeon yang sebenarnya saja.

Entahlah.

.

Baru saja Myungsoo menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir, ia sudah ditarik oleh Jiyeon.

Sunbae, apa kau berniat akan mencari mayat ahjussi itu? Kalau begitu aku ikut. Aku tidak akan tenang jika terus diselimuti ketakutan seperti ini.” Bisik Jiyeon.

Myungsoo hanya terperangah, tak percaya. Bagaimana Jiyeon bisa tahu ia berniat akan mencari mayat itu dan melaporkannya lagi kepolisi?

Tidak ada yang perlu diherankan. Pemikiran Jiyeon sebenarnya sangat sederhana. Hanya dengan mengingat Myungsoo suka membaca buku-buku detektif, ia bisa menduga Myungsoo pasti akan senang jika dihadapkan pada situasi seperti ini.

“Tidak boleh, ini sudah sore. Kau sebaiknya pulang saja.” Tolak Myungsoo.

“Aku mohon…” Ucap Jiyeon sambil menunjukan puppy-eyesnya.

Myungsoo tampak mendegus. Kenapa wanita punya senjata seperti itu, lalu kenapa pula para pria tak bisa menolak? Aneh, memang.”Baiklah.” Ucap Myungsoo acuh tak acuk seraya berjalan terlebih dahulu.

Jiyeon tersenyum, menampilkan semua deretan gigi depannya sebelum menyusul Myungsoo.

Mereka berdua terus menerus menyusuri sudut-sudut gedung perpustakaan bertingkat tiga itu. Namun, keduanya sama sekali belum menemukan mayat yang disembunyikan, bahkan di ruangan tempat ia membunuh ahjussi itu.

Tepat ketika keduanya keluar dari ruangan itu, telinga mereka menangkap suara yang berasal dari ruangan disampingnya.

“Jongwon bodoh, andai saja ia tidak melihat isi buku ini pasti ia tidak perlu kubunuh.” Ucapnya.

Myungsoo dan Jiyeon menelan susah saliva mereka. Beruntung, suara langkah kaki mereka tak terlalu keras. Jika iya, mereka pasti dengan mudah akan ketahuan. Lalu, keduanya tertangkap dan kemungkinan terburuknya mereka bisa saja dibunuh. Ya, apalagi hukuman karena telah menjadi saksi mata selain ikut dibunuh?

Hanya dengan memikirkan hal yang sama sekali belum tentu terjadi, Jiyeon sudah bergidik ngeri.

Dibalik celah kaca mereka bisa melihat Dong il sedang memegang buku yang masih dibungkus oleh plastik sembari tertawa keras.“Polisi tetaplah polisi, mereka pergi tanpa menemukan apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa Jongwon sebenarnya sedang ‘tidur’ di perpustakaan ini.”

Sudah mereka duga, tubuh pria paruh baya bernama Dongwon itu masih berada di perpustakaan ini. Tapi dimana dia menyembunyikan mayatnya sampai polisi sekalipun tidak bisa menemukannya.

Krrrr

Tiba-tiba, terdengar suara perut yang kelaparan.

Mendengar hal itu, sontak membuat Dong il menghentikan tawanya. “Siapa disitu?!”

Tidak membuang waktu, Jiyeon dan Myungsoo segera berlari dan bersembunyi dibalik kamar mandi yang sempit. Sesaat kemudian, detak jantung keduanya berdetak cepat tatkala mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Nafas mereka tercekat saat melihat bayangan hitam semakin terlihat jelas.

Suara kenob pintu yang diputar sudah terdengar, dan…”Booo…” Ucapnya berniat mengagetkan namun nyatanya tidak ada siapapun diruang kecil itu, yang terlihat hanyalah dudukan putih.

Merasa salah menebak ruangan yang benar, Dong il segera menutup pintu kamar mandi itu─meninggalkan Jiyeon dan Myungsoo yang sedang menempel pada dinding kamar mandi dengan posisi berpelukan tanpa ada jarak sedikitpun diantara mereka.

Keduanya tampak membeku. Mereka tidak perduli dengan posisi mereka sekarang, yang penting mereka tidak boleh bergerak untuk sementara waktu.

Derap langkah sudah tidak terdengar lagi. Keduanya saling menatap seolah memberi tahu keadaan sudah aman. Namun, alih-alih berbicara, mereka hanya saling menatap, menelusuri setiap inci lekukan wajah sempurna yang berada tepat didepan mereka.

Krrrr

Suara perut terdengar kembali. Ternyata suara itu berasal dari perut Jiyeon.

Jiyeon sontak menjauh. Ia bersemu.

Myungsoo lantas merogoh sesuatu dari dalam tas dan memberikannya pada Jiyeon. Roti. Dengan malu-malu, Jiyeon menerima roti itu. Rasa malu biarlah ia abaikan untuk sesaat daripada perutnya terus berbunyi.

“Terimakasih.” Ucap Jiyeon tulus.

.

“Pertama, mari kita periksa buku aneh yang dipegang Dong il tadi.” Ucap Myungsoo.

Setelah Jiyeon menghabiskan rotinya, keduanya kembali ke ruangan Dong il tadi. Dengan mata kepala mereka sendiri, keduanya melihat Dong il berjalan pergi sembari menenteng tas kerjanya.

Segera setelah Dong il menghilang dari pandangan mereka, barulah Myungsoo dan Jiyeon masuk ke ruangan tersebut.

“Huh? isinya hilang?” Ucap Jiyeon tak percaya ketika melihat banyak buku-buku dengan isi yang kosong di dalam kardus.

Myungsoo tampak berfikir. Tidak mungkin dia menaruh barang itu didalam tas dan membawanya pulang. Terlihat ada banyak bungkus buku disitu, tentu saja tidak akan muat dalam tasnya. Dia mungkin menaruhnya disuatu ruangan. Ya. Pasti begitu, pikir Myungsoo.

“Sepertinya kita harus menemukan buku itu terlebih dahulu lalu mencari tubuh korban.” Ucap Myungsoo seraya dibalas anggukan oleh Jiyeon.”Ayo kita mulai mencari di rak-rak buku.”

Dong il berjalan pulang sambil menenteng tas kerjanya. Dengan senyum yang terpatri diwajahnya, langkah kakinya terasa ringan. Namun seketika tubuhnya menegang saat mendengar suara saklar lampu menyala.

“Bodoh! Jangan nyalakan lampunya!” Pekik Myungsoo saat ia menyadari Jiyeon menyalakan lampu.

Jiyeon sedikit tersentak karena teriakan Myungsoo.”Disini sangat gelap, sunbae.”

Terlambat. Dong il sudah terlebih dahulu melihat cahaya lampu yang berasal dari lantai dua itu.

“Dia bisa saja melihatnya.” Ucap Myungsoo sambil mematikan mematikan saklar lampu kembali.

“Jangan khawatir, dia pasti sudah pergi jauh.” Ucap Jiyeon seraya melihat Myungsoo berjalan menuju jendela.

“Sepertinya tidak apa-apa,” Ucapnya sambil melihat kebawah sana. Untuk sementara ia bisa bernafas lega. Kelihatannya Dong il sudah benar-benar pulang kerumahnya, pikirnya.

Tapi tidak, ia kembali untuk menjemput kematian tikus yang sudah menyelinap masuk ke daerah kekuasaannya.

.

Myungsoo terus mengeluarkan buku dan mengeceknya satu-persatu. Namun, belum ada apapun yang ia temukan. Sesekali ia menguap lebar, merasa bosan. Buku itu tidak ada di rak buku ini, tapi sepertinya Myungsoo merasa yakin telah mengeluarkan semuanya. Ia lalu melemparkan pandangannya kedalam rak tersebut. Ia memerintahkan Jiyeon untuk mengeluarkan buku-buku itu dari sisi rak yang berbeda. Tapi nyatanya masih banyak buku yang belum dikeluarkan oleh Jiyeon, bahkan Myungsoo masih bisa melihat rak itu masih penuh. Apa yang Jiyeon lakukan? pikirnya.

Myungsoo mendegus. Ia tidak punya pilihan lagi selain menghampiri Jiyeon.

“Woy, Jiyeon-ssi!” Panggil Myungsoo dingin sambil menyilangkan tangannya. Namun, kening Myungsoo berkerut tatkala ia melihat Jiyeon terduduk dengan kaki yang ia selonjorkan─terlihat lelah.

“Apa yang kau lakukan sebenarnya, sunbae?” Eluh Jiyeon.”Aku telah mengambil semua buku yang berada disini ini!”

Myungsoo melihat tumpukan buku disamping Jiyeon dan buku-buku yang masih rapih di rak sana secara bergantian.”Ini sangat aneh…” Ucap Myungsoo seraya membawa salah satu buku dari rak tersebut.”Ada apa dengan buku ini?!” Pekik Myungsoo ketika ia melihat buku itu tidak mempunyai pinggiran.

“Apa?” Jiyeon bangkit lalu mendekat kearah Myungsoo.

“Kau benar.” Ucap Jiyeon saat ia melihat buku itu memang tidak mempunyai pinggiran. Lantas ia mengeluarkan buku yang lainnya dari rak, dan benar saja, semua buku sama seperti itu.

Keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing, memikirkan apa maksudnya semua ini. Namun, ketika Myungsoo memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi saat ini dari buku-buku detektif yang ia baca, tiba-tiba Jiyeon menjentikkan jarinya.

“Aku tahu…” Ucap Jiyeon seraya menatap Myungsoo.”Buku-buku itu bukan terbalik tetapi buku-bukunya memang tidak mempunyai pinggiran. Dengan kata lain, Dong il ahjussi sengaja meletakan buku-buku ini dibaris tengah. Dengan melakukan itu, meskipun seseorang mengambil buku, mereka hanya akan melihat halaman tengah dari buku…”

Jiyeon sedikit mengambil jeda.“…mereka akan berpikir bahwa itu hanya buku disisi lain dan tidak menyadari ada barisan tengah. Ini adalah rak buku untuk anak-anak. Karena hanya anak-anak yang mengambil buku-buku, itulah alasan untuk meletakannya disini.”

Mendengar penuturan Jiyeon, Myungsoo hanya bisa menganga lebar. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan Jiyeon bisa mengambil kesimpulan yang begitu hebat dan akurat.”Aku tidak mengira ternyata kau sungguh pintar.” Puji Myungsoo tak sadar.

Jiyeon menaikkan sebelah bibir atasnya.“Ei~ walaupun aku tidak suka membaca tapi aku banyak menonton. Hampir semua jenis film pernah kutonton.”

“Lalu menurutmu, mengapa dia melakukan itu?” Myungsoo menguji Jiyeon dengan pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya.

Jiyeon memutar buku yang tengah dipegangnya.”Berdasarkan fakta bahwa buku-buku aneh yang dibuat di luar negeri lalu dibawa ke negara ini…”Ucap Jiyeon seraya mencoba membuka buku itu.”…berarti didalam ini terdapat pistol atau…” setelah bersusah payah membuka buku itu, Jiyeon melihat bungkus persegi empat berwarna putih.”…narkoba!”

Myungsoo mengambil alih penjelasan saat ia rasa sudah cukup untuk menguji Jiyeon.”Dengan kata lain Dong il sudah menyelundupkan narkoba disini. Ia pasti sudah menjual barang haram ini sedikit demi sedikit.” Jelas Myungsoo sambil meletakan telunjuk tepat di dagunya. Ia lalu berjalan keluar ruangan.

Jiyeon yang melihat itu mau tidak mau mengikuti Myungsoo dari belakang. Meskipun ia tidak tahu Myungsoo akan pergi kemana, namun ia juga tak ingin ditinggal sendirian di ruangan gelap itu.

Ditengah-tengah perjalanan, Myungsoo berkata,”Mungkin staf itu tidak sengaja melihat isi buku-buku itu dan pada saat yang sama Dong il memergokinya. Karena tidak ingin rahasianya terbongkar, maka ia lebih baik membunuh staf itu.”

Jiyeon mengangguk. Penjelasan Myungsoo benar-benar masuk akal.

Melihat Myungsoo menghentikan langkahnya, Jiyeon juga melakukan hal yang sama. Keduanya sekarang berada di lantai satu dimana terdapat fasilitas tambahan untuk perpustakaan, telepon umum. Sekarang Jiyeon tahu alasan Myungsoo kemari, apalagi jika bukan untuk menghubungi polisi─lagi.

“Huh? Ini aneh. Kenapa tidak tersambung.” Ucap Myungsoo ketika tak ada satupun telepon umum yang tersambung.

“Apa itu rusak?” Tanya Jiyeon.” Kurasa saat tadi kita menggunakannya tidak apa-apa.”

Myungsoo mengedikkan bahu.”Kurasa iya. Saat ini pilihan satu-satunya adalah datang ke kantor polisi.”

Sunbae, bagaimana jika sebaiknya kita mencari tubuh korban dulu?” Ucap Jiyeon.”Aku takut jika polisi-polisi itu tidak akan percaya pada kita lagi.”

Myungsoo terlihat berpikir. Jiyeon benar, mereka harus mengumpulkan semua bukti dahulu sebelum melapor kembali kepada polisi.”Baiklah, ayo.” Ajak Myungsoo.

Saat keduanya berjalan dengan percaya diri karena telah menemukan sebuah bukti, dibalik tembok terlihat sesosok pria yang tidak lain adalah Dong il tengah tersenyum , menyeringai. Dalam keadaan gelap seperti itu matanya coklatnya tampak merah. Entah itu karena kurangnya intensitas cahaya atau hasrat membunuhnya yang sedang membara. Entahlah.

“Hmm… tali sepatuku lepas.” Gumam Jiyeon seraya berjongkok untuk mengikat tali sepatunya lagi. Namun, tanpa dirinya ketahui, seutas tali terbentang tepat diatas kepala Jiyeon─perlahan siap melingkar dilehernya.

Myungsoo yang merasa Jiyeon tidak mengikutinya memutuskan untuk berbalik. “Jiyeon-ssi, apa yang kau lakukan? Ayo cepat.” Ucap Myungsoo ketika melihat Jiyeon tengah berjongkok.

“Tali sepatuku terlepas, sunbae.” Jawab Jiyeon seraya berdiri lalu mengikuti Myungsoo yang telah berjalan kembali.

Alasan kenapa Myungsoo tidak melihat Dong il yang akan mencekik Jiyeon dengan tali tadi, ternyata dirinya telah kalah cepat oleh Dong il yang sudah terlebih dulu bersembunyi kembali─di balik tembok yang gelap.

.

Sunbae, apa benar tubuhnya masih disini?” Eluh Jiyeon seraya memukul-mukul lututnya. Mereka sudah mencari kesetiap sudut ruangan namun sekali lagi…mereka tetap tidak bisa menemukan mayatnya.

Myungsoo menghela nafas. Dirinya yakin pasti ada sesuatu yang bisa menuntun mereka untuk menemukan mayat tersebut, tapi apa? pikirnya.

Tiba-tiba Jiyeon mengerutkan keningnya─bukan karena Myungsoo tak kunjung menjawab pertanyaannya, tetapi ia merasakan ada sesuatu yang bergerak disekitar sepatunya. Ia mencondongkan kepalanya, matanya menangkap sosok hewan kecil bernama tikus yang sedang bermain-main dengan sepatunya.

“AAAAAAAAAA” Jiyeon berteriak kencang. Dengan cepat, ia langsung melompat dan melingkarkan tangannya dileher Myungsoo. Myungsoo yang terkejut dengan teriakan Jiyeon─reflek mengangkat tubuh kecil Jiyeon.

“Tikus, tikus, ada tikus!.” Ucap Jiyeon.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, Myungsoo malah tertawa keras.”Hahahaha gadis sepertimu ternyata takut dengan tikus.” Ejek Myungsoo.

Jiyeon yang tidak terima diejek memutuskan untuk berteriak didepan muka Myungsoo.”Apa yang sunbae maksud dengan ‘gadis sepertimu’?!”

Keduanya terdiam, pasalnya wajah mereka kini hanya menyisakan beberapa senti saja. Mereka seakan terhipnotis─melihat jelas wajah seseorang didepan mereka. Mata keduanya tidak berkedip─seakan tidak mau melewatkan sedetikpun keindahan ciptaan Tuhan ini.

Tak ingin sampai melakukan hal yang bodoh, Myungsoo berdehem,“Ehm, kau sangat berat, Jiyeon-ssi.”

Jiyeonpun tercengang. Dengan cepat ia turun dari pangkuan Myungsoo.”Apa kau bercanda? Berat badanku bahkan hampir sama dengan berat anak kecil.” Ucapnya membela diri.

Berat badan. Tunggu…

Seakan mememukan potongan puzzle terakir, Myungsoo tiba-tiba tersenyum─membuat Jiyeon bertanya-tanya.

Tanpa menjawab pertanyaan Jiyeon, Myungsoo pergi begitu saja menaiki tangga menuju ke lantai dua. Jiyeon, dilain sisi, hanya bisa mendegus karena sudah ketiga kalinya ia ditinggalkan oleh Myungsoo─yang selalu seenaknya pergi tanpa memberitahu Jiyeon. Karena tak punya pilihan lain, iapun menyusul Myungsoo.

Saat ia tiba dilantai dua, Jiyeon bisa melihat Myungsoo sedang mencoba membuka pintu lift dengan kedua tangannya.

“Sedang apa kau, sunbae?” Tanya Jiyeon heran.

“Mungkin tubuhnya…” Ucapan Myungsoo sedikit tertahan karena mengerahkan kekuatannya untuk membuka lift itu.”…ada disini.”

Pintu lift sudah terbuka. Jiyeon mencondongkan badannya untuk melihat ada apa dibawah sana selagi Myungsoo menekan tombol agar lift naik ke atas.”Apa benar ada disini?” Jiyeon terlihat tidak yakin.

“Buktinya adalah bel ‘kelebihan kapasitas’ yang berbunyi ketika kita masuk ke lift tadi.”

Mendengar hal itu, Jiyeon sontak mengalihkan pandangannya ke arah Myungsoo.”Tapi, itu jelas karena kita berdelapan.”

“Bodoh! Kau tidak ingat ada dua anak kecil? Jika berat badan mereka disatukan, keduanya tidak akan lebih dari 100 kg, itu sama saja dengan setengah badan orang dewasa. Jika ditambahkan empat orang dewasa di lift dan apa yang mereka bawa, jika bel itu berbunyi pasti ada satu orang dewasa yang hilang.” Jelas Myungsoo seraya ikut berdiri di depan lift, menunggu benda itu naik ke atas.”Ada orang dewasa di lift ini dari awal. Tanpa diketahui oleh semua orang, tubuh itu sebenarnya berada di atapnya.”

Tepat setelah Myungsoo selesai berbicara, diatas lift itu terlihat mayat staf berbaring kaku dengan mata yang tak tertutup. Jiyeon mencengkram lengan Myungsoo dengan kuat, ini pertama kalinya ia melihat mayat dari jarak sedekat ini.

“Lihatlah tubuhnya. Setelah ia dicekik, ia mungkin didorong dan jatuh di atap lift.” Ucap Myungsoo setelah ia melihat jeratan tali disekitar lehernya.

Jiyeon mundur beberapa langkah, ia tak sanggup melihat mayat itu terlalu lama. Sesaat kemudian, Myungsoopun berbalik untuk menatap Jiyeon dengan kedua tangan terselip di saku celana seragamnya.”Sekarang, ayo kita pergi ke kantor polisi.”

Jiyeon bergeming. Ada yang aneh…

Lift itu terus naik, sampai pemandangan dari mayat itu tergantikan oleh sesosok pria yang sedikit demi sedikit mulai tampak jelas. Mata Jiyeon membulat ketika melihat bagaimana ia menyeringai. Ia nyata. Dong il…

…benar-benar ada disini.

Saking kagetnya, bibir Jiyeon seakan kelu untuk memperingatkan Myungsoo. Yang bisa ia lakukan hanya bisa menunjuk-nunjuk saja.

“Apa ada yang salah?” Tanya Myungsoo setelah melihat tingkah Jiyeon yang aneh.

“Do─do─dong─” Jawab Jiyeon terbata.

“Dong?” Karena penasaran, Myungsoo berbalik. Matanya membulat seketika ketika tahu apa, tepatnya siapa yang Jiyeon tunjuk. Dengan cepat Myungsoo berpindah kesisi Jiyeon.

Dong il berjalan keluar dari lift dengan tangan kanan yang ia sembunyikan dibalik badannya─sambil menggenggam besi seukuran pemukul baseball. “Ini sudah malam dan perpustakaanpun sudah tutup, lalu kenapa kalian masih berada disini, anak muda?” Tanyanya.”Bagaimana jika kuantar kalian ‘pulang’.” Dong il menekan kata pulang, yang ia maksud adalah pergi ke tempat dimana tidak akan ada yang menemukan keduanya. Dengan kata lain, mati.

Myungsoo tetap tenang, sedangkan Jiyeon hanya bisa bersembunyi dibalik Myungsoo dengan tubuh yang bergetar.

Dong il mengeluarkan senjatanya dan tak segan menghantamkannya kearah Myungsoo, namun ia menangkisnya dengan lengan kirinya. Perkelahian akhirnya terjadi. Myungsoo sebisa mungkin menjauhkan Dong il dari Jiyeon. Sesekali ia meringis karena berkali-kali menangkis serangan Dong il.

Myungsoo mencoba menyerang, ia melemparkan pukulannya ke wajah Dong il beberapa kali─membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya.

“Kurang ajar kau!” Pekik Dong il sembari menyerang Myungsoo dengan membabi buta. Namun, tak ada gunanya karena Myungsoo dengan mudah menghindar dan membalas kembali dengan pukulan dan tendangannya.

Karena kesal, Dong il melemparkan tongkatnya dan mengeluarkan sebuah pisau tajam nan runcing dari balik jas kerjanya. Diarahkannya pisau itu keleher Myungsoo. Hal itu nyaris berhasil jika saja Myungsoo tidak menghindar.

Myungsoo meraba pipinya yang terasa perih. Sebuah sayatan cukup panjang berhasil membuat darah mengucur dari pipinya. Ia terus mundur dan menghindar sampai punggungnya telah benar-benar menempel di tembok. Ia terjebak.

Sial.

Dong il menyeringai. Ia segera mengambil ancang-ancang untuk menancapkan pisau itu ke perut Myungsoo. Namun, sebelum itu terjadi, tubuhnya kejang-kejang tanpa sebab.

“AAAAAA” Dong il berteriak dengan sangat lantang ketika ia rasa sebuah aliran listrik perlahan melumpuhkan saraf-sarafnya.

Dong il terkulai lemas. Ia jatuh, tak sadarkan diri.

Myungsoo mendongak, dilihatnya Jiyeon sedang memegang sebuah alat kejut listrik dengan kedua tangannya, erat. Dengan nafas terengah, Myungsoo berdiri walaupun sekujur tubuhnya merasakan sakit.

Sunbae.” Jiyeon melemparkan benda itu begitu saja, lalu segera membantu Myungsoo menumpu berat badannya.

“Apakah dia mati, sunbae?” Tanya Jiyeon khawatir karena ia telah mengatur alat kejut listrik itu dengan tegangan paling tinggi.

Myungsoo melihat dada Dong il yang naik turun.”Tidak, dia masih bernafas.” Ucapnya.”Dari mana kau mendapatkan benda seperti itu?” tunjuknya kearah benda yang Jiyeon lempar tadi.

“Itu punyaku.” Jawab Jiyeon dengan pipi yang bersemu merah.”Aku selalu membawanya kemanapun. Yah, untuk sekedar berjaga-jaga.”

Myungsoo tersenyum simpul. Park Jiyeon─gadis ini─sangat penuh kejutan. “Gadis pintar.” Ucapnya sambil mengacak rambut Jiyeon. Alih-alih marah karena tatanan rambutnya menjadi berantakan, Jiyeon justru tersenyum. Entah kenapa ia berpikir bahwa perlakuan Myungsoo itu sangat manis.

“Ayo kita ke kantor polisi dan mengobati lukamu, sunbae.” Ajak Jiyeon seraya dibalas anggukan oleh Myungsoo.

Akhirnya, kasus pembunuhan Dongwon terungkap. Motif yang Jiyeon dan Myungsoo duga memang benar adanya. Dong il menyembunyikan narkoba di perpustakaan dan menjualnya sedikit demi sedikit. Ia membunuh Dongwon karena pria itu tidak sengaja mengetahui ada narkoba yang disembunyikan diantara buku-buku itu. Namun ada sesuatu hal yang Jiyeon dan Myungsoo tidak tahu, Dong il sebenarnya adalah bandar narkoba yang sedang polisi cari.

***

Pagi harinya Jiyeon keluar dari rumahnya, hendak berangkat menuju sekolah. Sebelum itu, ia merentangkan kedua tangannya dan menghirup oksigen yang masih segar sebanyak-banyaknya. Setelah kejadian memecahkan kasus pembunuhan tadi malam, entah kenapa Jiyeon merasa bahagia. Entah itu karena telah berhasil menjebloskan Dong il kedalam jeruji besi, ataukah mengingat bagaimana serunya petualangan dirinya dan Myungsoo.

Ya. Myungsoo. Jiyeon telah salah mengira. Seniornya itu tidaklah semenyebalkan yang ia pikirkan.

Gelembung lamunannya pecah saat ia mendengar suara pintu yang ditutup tepat disebelah rumahnya. Jiyeon menghendikkan bahunya tak peduli. Namun, ia berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Ia terlihat berfikir, pasalnya selama ini Jiyeon belum pernah bertemu dengan anak tetangganya itu. Dengan  penasaran, Jiyeon mencoba mencuri pandang.

Tepat ketika Jiyeon melempar pandang, orang yang baru saja keluar dari pagar rumahnya pun memandang Jiyeon. Keduanya terdiam sejenak.

Sunbae.”

“Jiyeon.” Ucap keduanya bersamaan.

FIN.

A/N:

Maaf ya bukannya lanjutin kill me love me malah buat ff geje gini mhehe sebenenya buat ff ini mau sekalian laporan sih .__. jadi gini, akhir-akhir ini olip lagi sibuk bgt sma tugas kuliah yg bejibun jdi buat lunasin utang, olip mau ngambil kredit aja gpp ya… kedip-kedip mata ;;)

♥♥♥ sebelum pulang, mau tebar-tebar love dulu ah buat para eonni, dongsaeng, chingu yang udh jadi penyemangat olip selama ini♥♥♥

102 responses to “[ONESHOT] Library Has A Story

  1. keren nih ceritanya!! daebak!
    suka genre yang misteri gini kkkk..
    duh masa kalian gak nyadar kalo kalian tetanggaan?/ *tunjuk myungyeon*
    ciee entar saling jatuh cinta nih *plak *

    author, bikin sequelnya dong yaa.. berasa kurang puas soalnya oneshoot. hehehe tapi tetap keren kok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s