[multichapter] the heir’s secretary (7b/end)

the heirs
starring Park Jiyeon, Kim Myungsoo, & Kim Woobin
forgeting about the latest chapter? read here
PG-15 | romance | Multichapter

Woobin mengerutkan kedua alisnya. Mungkin sedikit banyak ia mulai mengerti apa yang sedang jiyeon coba utarakan.
“jiyeon-ah,, maukah kau menikah denganku?”
.
.

Jiyeon menatap lekat-lekat laki-laki tampan dengan rambut hitam legam yang duduk persis di hadapannya.

Woobin memaksanya untuk bertemu dengan myungsoo di sebuah restoran eropa tak jauh dari apartemen tempat tinggalnya.

Sahabatnya itu mengatakan bahwa jika langkah pertama untuk mengembalikan kehidupan normalnya adalah dengan berbicara secara pribadi kepada myungsoo. Meluruskan kembali segala kesalahpahaman dan mengutarakan maksud sebenarnya.

“erhmmm..” myungsoo berdehem sebentar. Ujung jari telunjuknya menyapu pinggiran cangkir espresso yang masih terasa hangat.

“apa yang ingin anda bicarakan myungsoo-ssi?”

Myungsoo menghela nafasnya kasar. Gadis itu masih saja bersikap dingin seperti biasanya kendati mereka bukan lagi rekan sekantor dengan status atasan dan bawahan. Mungkinkah jiyeon masih marah dan tersinggung dengan kejadian kemarin?

“pertama, aku ingin minta maaf secara tulus kepadamu jiyeon-ssi..”

“jika itu mengenai ciuman itu dan juga pemecatan diriku, aku sudah memafaakannya.. tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi”

Jiyeon memaksakan bibirnya untuk mengulas sebuah senyum kaku. Sungguh rasa di dalam dadanya begitu berkecamuk saat ini.

Perkataan woobin tentang rencana keluar negeri kemarin malam benar-benar mampu meyakinkannya untuk meninggalkan semua kenangan pahit yang tercipta di Seoul. Namun hanya dengan menatap kedua manik mata myungsoo yang menyiratkan sebuah rasa yang berbeda, pertahanan gadis itu mulai terkikis bak gunung pasir yang tertiup oleh angin gurun. Sedikit demi sedikit hingga gunung itu menjadi rata dengan tanah.

“tidak bisakah kau kembali bekerja menjadi sekretarisku lagi, jiyeon-ssi?”

Jiyeon tak ingin cepat-cepat memberikan jawabannya. Ia hanya menyesap perlahan caramel machiatto yang ia pesan sembari memejamkan mata sekilas untuk berfikir.

“well… maaf sebelumnya myungsoo-ssi,, sepertinya ayah anda sangat tidak menyukai saya, benar kan? Bagaimana bisa saya bekerja bersama orang yang membenci saya? Yang ingin menyingkirkan saya?”

“apa maksudmu?”

Jiyeon memutar bola matanya bosan. Benar-benar laki-laki ini pura-pura bodoh atau dirinya memang kelewat innocent.

“bukankah anda sudah tahu masalah yang sebenarnya terjadi antara saya dan ayah anda di masa lalu?”

“tunggu… aku tak mengerti arah pembicaraanmu jiyeon-ssi..”

Gadis itu menghela nafasnya. Caramel machiato nya hanya tinggal setengah cangkir. Ingin rasanya ia cepat-cepat menghabiskan sisanya dan beranjak dari tempat ini. Karena sungguh, jika bukan karena tatapan memohon yang dilayangkan laki-laki itu dari seberang meja, ia tak yakin bisa bertahan selama ini duduk berdua saja dengannya. Laki-laki yang sebenarnya kau puja namun sangat sulit untuk di raih.

“maafkan saya myungsoo-ssi.. saya harus pergi sekarang”

Jiyeon memundurkan kursinya. Diurungkan niatnya untuk menyesap habis caramel machiato yang sebenarnya sangat menggugah selera. Namun bagaimana mungkin ia bisa minum dengan tenang sementara air matanya telah siap untuk jatuh dalam hitungan mundur tiga bilangan.

Wajah myungsoo terlihat begitu damai, seperti biasa. Namun ada sesuatu yang mengusik wajah tampan itu. Alisnya berkerut beberapa kali sambil memincingkan mata hendak mendesak jiyeon untuk berkata lebih. Namun ia teringat lagi sebuah kata-kata dari tokoh film Riddick yang sangat menginspirasinya, jika kau memutuskan untuk menetapkan pilihan maka janganlah menengok kembali ke belakang.

Gadis itu telah memutuskan setelah pembicaraannya yang panjang lebar dengan woobin dari semalam hingga fajar menjelang. Membuahkan sebuah kesimpulan yang akan menjadi titik balik kehidupan seorang Park Jiyeon. Bahwa ia ingin meninggalkan jauh-jauh di belakang segala kenangan pahitnya yang bercokol di tanah kelahirannya. Tidak ada yang lebih baik selain memulai hidup baru dengan tenang dan menggoreskan kenangan yang lebih menyenangkan untuk diingat sepanjang sisa umurnya.

Maka ia segera bangkit berdiri hendak meraih tas tangannya. Namun entah dari mana datangnya, lengan kokoh itu menghalangi niatnya yang sudah bulat. Mengembalikannya kembali ke pusaran waktu yang sama. Rasa yang sama. Gejolak yang sama ketika telapak tangan myungsoo mengenggam erat pergelangan tangannya.

“maafkan aku jiyeon.. kau boleh menganggapku laki-laki yang bodoh atau apapun itu. Aku bersedia jika harus berpura-pura tidak ada di dunia ini asalkan kau tetap berada dalam penglihatanku. Apakah harapanku terlalu sulit untuk kau kabulkan?”

Jiyeon memejamkan kedua kelopak matanya sebelum beradau pandang dengan kedua manik mata indah milik Myungsoo.

“aku harus pergi.. aku hanya ingin memulai lembaran hidup yang baru”

“dan apakah aku tak termasuk ke dalam rencana lembaran hidup barumu?” tatapan myungsoo seakan menghakimi. Namun jiyeon tahu bahwa mungkin kali ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan pria –yang sangat ia puja namun sangat sulit untuk didapatkan-. Untuk itu tak ada salahnya bersikap jujur padanya, at least untuk yang terakhir kali sebelum ia memutuskan menghilang ke belahan bumi lain.

“myungsoo-ssi.. sebenarnya aku juga mencintaimu.. maafkan aku karena aku selalu bersikap sarkatis padamu bahkan sempat terfikir olehku untuk balas dendam pada mu seperti yang telah ayahmu lakukan padaku dan keluargaku.”

“jika itu maumu….”

“Sttt… dengarkan aku sekali ini saja myungsoo-ssi”

Myungsoo melayangkan tatapan penuh harap kearah gadis yang hanya berjarak tak lebih dari lima belas inchi dari tubuhnya, namun entah kenapa rasanya begitu jauh dan lebarnya jurang yang membatasi di antara mereka hingga myungsoo nyaris tak mampu menggapai gadis yang selama ini telah mengisis ruang-ruang di hatinya.

“aku takut mencintaimu myungsoo.. ayahmu bisa saja membunuhku kapan pun ia mau..” jiyeon menghela nafasnya. Ada rasa penat luar biasa yang menghimpit di dalam dadanya.

“aku hanya ingin memulai kehidupan baru yang menyenangkan, tanpa rasa takut, memulai semuanya dari awal dengan orang-orang yang baru. Hanya itu saja..”

Myungsoo terdiam mendengarkan penuturan yang terucap dari bibir gadis yang paling ia kasihi. Kata-kata yang ia lontarkan seakan menusuk sanubari dan terngiang dengan jelas di dalam pendengarannya. Namun bukankah kata pepatah cinta tak harus memiliki? Bentuk perasaan cinta sejati adalah membiarkan orang yang kita cintai berbahagia dengan atau tanpa diri kita.

“aku mencintaimu jiyeon.. dan aku ingin kau bahagia..” ada sebuah semburat senyuman yang diberikan oleh lelaki tampan itu. Membuat jiyeon sejenak terperangah namun detik itu pula ia menyadari satu hal, bahwa myungsoo benar-benar menicintainya. Tapi jiyeon tak ingin menengok ke belakang. Biarlah rasa cinta ini membekas di dalam hatinya entah sampai kapan. Biarlah ia mengingat bahwa ada seorang laki-laki bernama Kim Myungsoo yang pernah mencintainya dengan tulus. Biarlah hati ini memberitahukan bahwa pernah suatu ketika setiap ruang-ruang kosongnya dihadiri oleh sosok myungsoo yang tampan. Biarlah semuanya mengalir seperti air sementara ia menatap masa depan cerah yang ia angan-angankan.

“terimakasih myungsoo-ssi.. aku pergi..”

Kemudian genggaman itu mengendur, lalu terlepas. Menyisakan myungsoo dengan kesendiriannya tengah memandang sayu ke arah jiyeon yang menghilang dari balik pintu cafe.

.

.

.

“jadi,, kau ingin pergi hari ini juga? Tidak mau menemuiku dulu sebelumnya? jahat sekali~ ” jiyeon menoleh ke arah suara berat yang sangat ia kenal. Woobin sedang berada tepat di balik punggungnya dengan coat hitam yang membungkus tubuh atletisnya.

“kupikir kau marah padaku woobin-ah”

“cih.. masak hanya gara-gara ditolak olehmu kemudian aku menjadi namja uring-uringan? Benar-benar tidak keren” Jiyeon terkekeh pelan. Ia sangat bersyukur woobin bukanlah laki-laki yang gampang patah hati karena lamarannya di tolak.

“hmm… maafkan aku woobin-ah”

“seharusnya aku yang minta maaf padamu,, maaf ya? Seharusnya aku tak kehilangan kendali semalam” laki-laki itu menundukkan kepalanya, memandangi sepatu hitamnya yang mengkilat.

“aku yang memintamu untuk menciumku terlebih dahulu”

“tapi aku juga yang…..”

“ssstt.. sudahlah woobin. Aku tak ingin berdebat lagi di saat aku hendak pergi jauh seperti ini”

Woobin tersenyum kecut. Dirangkulnya pundak jiyeon erat. Merasakan harus wangi sampo yang dikenakan gadis itu bercampur dengan parfum aroma citrus yang menyegarkan.

“pastikan aku tetap berada dalam kehidupan barumu ji..”

“I will.. aku tidak akan bisa melupakanmu woobin-ah”

“ya.. kau tak boleh melupakanmu.. karena aku akan membuatmu bahagia sehingga kau mau menerima lamaranku di masa depan”

Jiyeon mendengus pelan. Ia memang sangat bahagia bersama woobin. Setiap waktu yang tersita untuk berkeluh kesah dengan sahabatnya, setiap menit yang ia lalui, setiap detik ketika ia bernafas di sisi woobin, semuanya tak ada yang terbuang sia-sia. Sungguh woobin adalah laki-laki luar biasa sempurna untuk gadis yang juga mencintainya.

Namun bodoh memang. Hanya ada satu kalimat bodoh yang jiyeon sesali dari serentetan ucapannya semalam. Ia terlalu kalut atau bisa di bilang pasrah. Hingga kata-kata seperti ‘aku ignin belajar mencintaimu’ itu keluar terlalu mulus dari bibirnya.

Tak seharusnya ia bekata seperti itu terlebih dengan fakta yang baru saja ia ketahui bahwa sahabat karibnya itu telah lama menaruh rasa kepadanya. Jangan salahkan woobin ketika ia melamarnya saat itu juga. Astaga..!! entahlah semuanya terasa semakin ruwet saja.

“hey.. kau melamun?” woobin menyentuh pipi kiri jiyeon membuat gadis itu melakukan kontak mata dengannya.

“tidak.. sebaiknya aku harus segera check in sekarang”

“tunggu..”

“wae?”

“tidak.. hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu”

Seulas senyum manis di perlihatkan oleh wajah cantik itu.

“semoga kau bertemu dengan gadis baik yang akan menjawab pernyataan cintamu sama persis woobin-ah”

.

.

.

3 years later…

Carrington, Manchester

Jiyeon tersentak dari lamunannya ketika suara dering telepon menganggu konsentrasi menyetirnya. Cepat-cepat gadis itu mengenakan earphonenya dan mengangkat panggilan dari atasannya.

“good morning Mr. John”

“coba ucapkan sekali lagi” jiyeon mendengus kesal, laki-laki berumur setengah abad itu sangat menuntut kesempurnaan bahkan untuk ucapan selamat pagi.

“good morning Mr. John”

“berapa kali harus kau katakan padamu nak? Nada suaramu itu seperti orang yang berasal dari masa lalu. Aku ingin kau mengucapkannya seakan kau menatap masa depan cerah di hadapanmu.”

“ucapkan sekali lagi!”

Jiyeon memutar bola matanya bosan. Untung saja bosnya itu tak dapat melihatnya melakukan hal ini. Jika ia mengetahuinya, habislah sepanjang paginya akan diisi oleh ceramah mengenai masa depan yang sempurna.

“Good Morning Mr. John~~”

“lebih baik dari tadi.. seharusnya kau meninggalkan kebiasaan lamamu itu. ingat! Masa sekarang dalam hitunganku termasuk ke dalam masa lampau”

“baik Mr. John”

“good girl.. kau ingat dengan pengusaha asal Jepang yang akan berinvestasi di perusahaan kita?”

“ya..”

“aku harus memimpin rapat pemegang saham sepuluh menit lagi sedangkan ia hanya berada hari ini di Manchester. Aku ingin kau menemuinya di Oak dalam waktu lima belas menit”

“baiklah Mr. John”

“apa yang baru saja kau katakan??”

“saya mengatakan, Saya Siap Mr. John”

“ucapkan sekali lagi!”

“saya siap”

“gadis pintar. Sekarang segera temui dia dan jangan lupa membawa proposal yang sudah kau susun kemarin”

“baiklah Mr John.. maksud saya, saya siap melaksanakan tugas”

“click..”

Sekonyong-konyong atasannya itu menutup sambungan telepon seketika. Membuat jiyeon mencak-mencak dalam hati sambil menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mobilnya mencapai kecepatan 90 mph.

‘Oh Tuhan, berikanlah hambaMu ini kesabaran’

‘orang sabar di sayang Tuhan’

Berkali-kali jiyeon berucap dalam hati ketika kejengkelan-kejengkelan yang dilakukan oleh bosnya ini menggerayapi ruang hatinya, menyulut amarahnya. Memang sangat melelahkan menjadi sekretaris dari pria paruh baya yang sangat kaya sekaligus perfeksionis. Tapi satu hal yang sedikit melegakan, bosnya sangat mencintai isitrinya dan Mrs Storm sudah menganggap jiyeon seperti puterinya sendiri dikarenakan tak ada satupun anak perempuan di rumah mereka yang luas. Ugghh… senangnya~~~ at least tidak akan selamanya Mr. Johnny Storm memarahinya terus menerus.

Lagipula bukankah ia sudah sangat beruntung mendapatkan pekerjaan menjanjikan di tengah situasi krisis ekonomi yang melanda Eropa beberapa bulan terakhir? Sangat jarang ada warga negara asing yang hanya memiliki visa ijin tinggal dan bekerja dapat memiliki profesi dengan bayaran lumayan atau bahkan lebih banyak jika tak mengecewakan atasannya. Hal itu tak bisa dilepaskan dengan pengalamannya menjadi sekretaris presiden direktur semasa ia masih berada di Korea. Pengalaman adalah pelajaran yang sangat berharga. Oh.. sudahlah, gadis itu sedang tak ingin memikirkannya saat sedang berkonsentrasi memarkirkan mobilnya.

Sebuah bangunan cafe berlantai dua yang notabene cafe paling mahal di blok ini terkenal dengan sajian pastry dan espresso yang sangat premium. Aroma wangi kopi.. hmmm…. menggerayangi penciuman siap saja yang melangkahkan kakinya memasuki bangun cafe yang tertata antik ini.

Jiyeon melangkahkan kakinya yang terbalut stiletto sepuluh centimeter ke arah meja kasir.

“aku Jiyeon Park, sekretaris Mr. John Strom” jiyeon menunjukkan tanda pengenalnya. Pelayan laki-laki itu mengeceknya sebentar dan mengangguk sopan.

“silahkan ikuti saya nona, tuan Yoshida sudah menunggu anda”

Pelayan laki-laki itu mengantarnya menuju lantai dua bangunan cafe. Ia nampak berhenti di depan salah satu meja yang terletak di pojok ruangan, berhadapan langsung dengan jendela lebar yang pemandangannya langsung mengarah ke arah jalanan sibuk kota Manchester.

“panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu”

Jiyeon mengangguk sambil mengucapkan terimakasih sebelum pelayan itu benar-benar berlalu dari pandangannya.

“Selamat pagi tuan Yoshida. Perkenalkan saya Jiyeon Park sekretaris Presiden Drirektur Storm enterprise. Mr. Johnny Storm sangat menyesal tidak dapat menemui anda secara langsung dan beliau juga mengirimkan permintaan maafnya” jiyeon ragu apakah bosnya itu juga mengatakan hal ini di telepon. Namun bukankah gadis itu selalu mengatakan hal ini jika bosnya itu berhalangan hadir menemui calon investor perusahaannya. Kewajibannya sebagai sekretaris pribadinya adalah mengatakan serentetan kalimat formal itu dengan nada sesopan mungkin.

“selamat pagi nona Jiyeon.. silahkan duduk” laki-laki di hadapannya itu meletakkan koran paginya. Ia menyesap espresso yang tampak belum disentuhnya semejak cangkir itu diantar oleh pelayan.

“kau suka caramel machiato bukan? Aku sudah memesankannya untukmu”

Jiyeon tersentak. Bagaimana laki-laki di hadapannya itu bisa tahu jenis kopi yang selalu ia nikmati? Ia tak pernah minum jenis kopi lain selain caramel machiato yang memiliki perpaduan sempurna antara manisnya caramel dan pahitnya kopi bercampur krimer.

“terimakasih tuan Yoshida”

“aku bukan tuan Yoshida”

“hah?”

Laki-laki berkemeja putih bersih itu mendongakkan kepalanya. Menatap penuh senyum kemenangan ke arah gadis yang tengah menunjukkan ekspresi terkejut bercampur tegang. Bahkan tumpukan tipis map yang ia bawa jatuh berceceran di lantai parket cafe.

“myung—-soo??” susah payah ia melafalkan nama yang dulu sangat ia kenal. Nama yang berusaha ia lupakan dari kamus bahasa pikirannya.

“duduklah”

Gadis itu menurut setelah sebelumnya mengambil kertas-kertas yang berceceran. Nafasnya memburu dan entah kenapa ia sangat kesulitan untuk mengontrol detak jantungnya yang bergemuruh secara berlebihan. Ada rasa terkejut di sana, namun nampaknya rasa senang lebih mendominasi ruang hatinya. Sekuat apapun ia melupakan sosok laki-laki tampan itu, semakin kencang pula rasa rindu itu menyergap.

“kau terkejut dengan kehadiranku?”

“ya..”

Hening lebih banyak mendominasi pertemuan pertama mereka semenjak kejadian tiga tahun silam di pusat kota Seoul. Jiyeon lebih tertarik menatap lekat-lekat ujung stilleto hitamnya karena tebaknya Myungsoo kini tengah menatap sosoknya lekat-lekat. Dan memang benar, myungsoo duduk tepat di hadapannya dengan manik mata yang tak dapat dilepaskan dari sosok cantik yang kini menundukkan wajahnya.

Ingin sekali rasanya ia menyentuh dagu itu, dan membisikkan kata-kata agar ia menatap balik ke arah manik mata cokelatnya seperti yang ia tengah lakukan sekarang. Namun apa daya, jarak yang tercipta oleh meja cafe ini terasa amat jauh hingga mungkin lengan myungsoo tak dapat meraih sosok jiyeon di seberang.

“kau pikir laki-laki berumur enam puluh tahunan berkewarganegaraan Jepang yang akan menemuimu?”

“hmm.. semula kupikir begitu”

Myungsoo berdehem pelan. Entah bagaimana caranya ia dapat mengalihkan pandangan jiyeon dari stiletto hitamnya yang kelihatannya sama sekali tak berlapis berlian, emas, dan semacamnya. Hingga tak dapat sedetik pun gadis itu melepaskan tatapannya dari benda yang dikenakan pada telapak kakinya itu.

“perkenalkan.. namaku Kim Myungsoo, sekretaris pribadi tuan Yoshida”

Jiyeon tertegun. Ragu apakah myungsoo berbicara yang sebenarnya atau tidak. Bukankah ia presiden direktur? Namun yang jelas kini laki-laki itu mengulurkan telapak tangan kanannya. Dengan wajah penuh tanya gadis itu menyambut uluran tangannya dengan sopan.

“maksud anda?”

Myungsoo mendesah pelan

“tolonglah, sudah cukup kau selalu berucap sopan padaku dulu.. sekarang aku sama denganmu, hanya seorang sekretaris”

“tapi.. sungguh aku tidak mengerti.. bagaimana bisa?”

Laki-laki tampan itu tersenyum sekilas. Ia kembali menatap kedua manik mata jiyeon sekaan mengisyaratkan pada gadis itu bahwa ia memang mengatakan yang sesungguhnya.

“segera setelah kau pergi, aku juga pergi.. aku tak ingin menjadi laki-laki jahat dengan terus berada di samping ayahku dan menjalankan perusahaan sesuai keingannya.” Perlahan myungsoo mundur dan menyandarkan tubuhya di bantalan kursi.

“aku cukup pandai dan berpendidikan tinggi, sangat mudah bagiku menemukan pekerjaan yang bagus”

Jiyeon mengangkat sebelah alisnya. Ternyata laki-laki ini narsis juga.

“jadi kau percaya padaku sekarang? Jika kau dapat menemukan kehidupan yang menyenangkan di sini, kenapa aku tidak bisa? Dengar.. aku sudah meninggalkan segalanya, persis seperti yang kau lakukan”

jiyeon cepat-cepat meraih cangkir di hadapannya, dan menyesap pelan caramel machiatonya.

“jiyeon-ah.. kenapa kita tidak memulai hidup yang baru saja?”

Hampir saja gadis itu tersedak mendengar ucapan myungsoo yang sungguh menurutnya sarat akan keambiguan.

“maksudmu?”

“kau percaya pada kebetulan?”

“tidak.. aku lebih percaya pada kehendak Tuhan..” gadis itu mengeleng. Namun segera ia dapat menangkap maksud dari ucapan yang ia lontarkan sendiri. Apakah memang pertemuannya dengan myungsoo bukan hanya sebuah kebetulan? Namun semua ini adalah rencana Tuhan. Ya!!

“aku juga.. aku lebih percaya pada rencana Tuhan” laki-laki itu tersenyum. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia dapat tersenyum setulus ini. Seakan Tuhan benar-benar telah mengangkat beban sekaligus mengobati kerinduan yang selama ini ia rasakan.

Apapun itu, kini mereka telah bertemu. Saling menatap manik mata masing-masing dengan ekspresi kerinduan yang amat sangat. Dan kita semua sudah tahu, cafe lantai dua di jantung kota Manchester menjadi saksi bisu dimana dan bagaimana kisah cinta rumit ini akan berlabuh.

END

Sekuel menyusul.. Nanti ada project baru, tapi bukan jiyeon-myungsoo.. Tapi myungsoo dgn member GB lain (bukan suzy juga)😀

19 responses to “[multichapter] the heir’s secretary (7b/end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s