[ TWO SHOOT ] SEOUL TRAFFIC LOVE STORY # 1

STLS

 

Tittle : Seoul Traffic Love Story
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo
Additional Cast : Shannon, Lee Jieun
Genre : Romance and Little Commedy
Rating : PG-17
Length : Two Shoot

Hi Chingu, aku balik bawa ff baru, Cuma two shoot sebelum aku melanjutkan COT nya, aku mutusin bikin ff ini setelah mengingat dulu pernah nonton film Thailand judul yang sama kecuali nama kotanya yah, dan sampai sekarang masih kebayang sama itu film, lucu dan romantis, Cuma disini author ga nuangin humor yang berlebihan karena aku yakin ga mungkin nyaingin itu film.
Bisa dibilang ff ini adaptasi, dan mengenai nama tempat atau budaya yang ada di ff ini jangan terlalu dipikirin kalau itu benar adanya, karena ini Cuma fanfiction.

Disclaimer : Dalam ff ini, semua tokoh mengalami perubahan umur. Sifat dan tingkah laku, jika ada yang tidak berkenan mohon maklum : )

Seoul Traffic Love Story

Kisah ini di mulai dari sebuah acara pernikahan Lee Jieun, sahabat dekat Park Jiyeon.

Jiyeon, wanita single yang tidak lagi bisa dikatakan muda, usianya sudah melewati kepala 3, lebih tepatnya 32 tahun, ia memiliki wajah yang cantik, meski kadang terlihat bodoh dan patut dikasihani.

Terlahir dari dua kebudayaan berbeda, ayahnya Park Junsu yang berkewarganegaraan Korea Selatan menikah dengan Phingcomak Sakakorn, seorang wanita berkewarganegaraan Thailand. Jiyeon adalah anak satu-satunya di keluarga mereka, namun begitu rumah mereka tidak pernah sepi, ada nenek – ibu dari ibu Jiyeon – yang cerewet tinggal bersama mereka.

Bekerja sebagai karyawan swasta pada perusahaan yang menjual produk panel surya, ia hanya karyawan biasa-biasa saja, bahkan memasuki 10 tahun karirnya disana, tidak ada peningkatan yang signifikan dari segi jabatan ataupun gaji, menurut bossnya yang berkepala botak dan selalu memarahi Jiyeon, mandeknya karir Jiyeon disebabkan pegawainya itu adalah seorang yang paling ceroboh yang pernah ia terima di perusahaannya.

Tok…tok…tok

Hyeri berlari dan mengetuk kencang salah satu kamar hotel yang disewa untuk kamar pengantin, tak berapa lama pintu terbuka dan muncul Yoo In Na dari dalamnya.

“ Apa mereka sudah kembali ? “ Tanya In Na.

“ Eoh, dan benar-benar mabuk “ Ucap Hyeri memijit keningnya.

“ Siapa ? pengantin laki-laki atau perempuannya ? “ In Na memastikan, merasa akan ada kekacauan selanjutnya.

“ Pendamping pengantin perempuannya “

“ Ya Tuhan “

Diujung koridor, muncul pasangan pengantin baru Lee Jieun dan suaminya yang nampak kerepotan memapah wanita mabuk berpakaian sexy bernama Park Jiyeon.

“ Lepaskan, aku tidak apa-apa !!! “ Teriak Jiyeon.

Brukk

” Aaarrgghhh ” Jiyeon yang sedang mabuk berat ambruk dilantai.

“ Ada apa dengannya ? “ Mata Hyeri mengerjap-ngerjab tak percaya.

Yang ditanya, Jieun menghela nafas lelah dan sibuk menaikkan gaun pengantinnya yang melorot akibat ditarik Jiyeon sepanjang memapah tadi “ Anggur “ Ucap Jieun singkat.

“ Berapa banyak ? “ Tanya In Na

Jieun memandang Jiyeon lelah “ Empat “

“ Gelas ? “ In Na memastikan.

“ Botol “ Terang Jieun.

“ Memalukan……cepat angkat dan bawa masuk ke dalam !!! “ Titah In Na.

Mereka pun mengangkat tubuh Jiyeon “ Ya Tuhan ia mengotori karpetnya !!! “ Teriak Hyeri melihat muntahan Jiyeon di karpet.

“ Apa dia tidak apa-apa ? “ Tanya In Na

“ Aku tidak apa-apa, tenang saja aku baik-baik saja, ayo ! kita lanjutkan pestanya “ Tiba-tiba Jiyeon menyingkirkan tangan teman-teman yang memegangi tubuhnya, setelahnya ia berjalan anggun masuk ke kamar pengantin seolah tak terjadi apa-apa.

“ Hey kreatif tolong kami untuk mengambil foto, Yya !!! Jieun-ah sini, kau didekatku “ Titah Jiyeon menarik semua temannya untuk berkumpul.

“ Ayo kita pulang, Jiyeon-ah kami masih ingin merayakan hari valentine dengan kekasih kami masing-masing “ Protes In Na.

Jiyeon menatap tajam Yoo In Na “ Hari kasih sayang tidak hanya dirayakan hari ini saja, ini pernikahan sahabatmu, mengapa harus buru-buru pulang ? “ Tanya Jiyeon mengabaikan protes Yoo In Na

“ Kau tidak pernah memiliki kekasih jadi kau tidak mengerti perasaan kami “ Lanjut In Na membuat sahabat lainnya melongo tidak menyangka In Na mengatakan hal yang sebegitu sensitif.

Jiyeon memaksa matanya untuk terbuka lebih lebar dan mendengus kesal “ Selama ini aku tidak memiliki kekasih karena selalu menemani kalian, ayo cepat berpose yang sexy “ Ucapnya sarkatis membuat In Na bungkam dan terpaksa menuruti keinginannya.

“ Hana….dul….set “

Klik

” Uweekkkkks “

Jieunpun pasrah gaun pengantinnya kotor karena lagi-lagi Jiyeon muntah didekatnya.

***

“ Kalian pergi saja, aku bisa menanganinya, pergilah bersenang –senang dengan kekasih kalian “ Ucap Jieun mengijinkan sahabat yang sebelumnya ditahan Jiyeon untuk pergi.

“ Baiklah hati-hati “ Ucap sahabatnya serempak.

Jieun melangkahkan kakinya menyusul Jiyeon yang sudah duduk diatas sofa dengan segelas wine ditangannya “ Jieun-ah, sejak kecil kita selalu bersama, bermain bersama, sekolah bersama, dan kini kita pun bekerja dikantor yang sama “ Lirih Jiyeon, bayangan kebersamaan ia dan Jieun kemudian terlintas “ Namun begitu, aku berbahagia untukmu Jieun-ah “ Jiyeon memeluk tubuh Jieun erat.

“ Gomawo “ Ucap Jieun merasa sedih, selama ini mereka memang tidak pernah berpisah, jadi Jieun begitu mengerti apa yang Jiyeon rasakan sekarang selain harus terlihat bahagia dengan pernikahannya.

“ Jiyeon-ah sebaiknya kau disini saja dulu, kau masih dalam keadaan mabuk “ Ucap Jieun yang sebenarnya ragu menawarkan, bagaimanapun ini adalah malam pertamanya.

Tanpa diduga, Jiyeon menggelengkan kepala menolak tawarannya “ Tidak, aku tidak apa-apa, aku tidak akan mengganggumu untuk malam ini, baiklah….aku pulang, selamat malam “ Jiyeon berdiri dan melangkah perlahan menuju pintu.

Jieun melirik suami yang berdiri dibelakangnya, keduanya tersenyum lega, namun,

Slerpp…

Bahu Jieun luruh diiringi pandangan kesal suaminya, Jiyeon tidak menuju pintu untuk keluar, melainkan naik keatas ranjang dan menarik selimut hingga mawar yang sudah terhias cantik diatasnya bertebaran tak beraturan, dengan santai ia pun menutupi tubuh dan tertidur dengan lelap.

***

Pukul 04.00 KST,

Kringg!!!

“ Hah !!! “ Jiyeon sontak terbangun, menatap kaget jam ditangannya.

Pandangannya mengitari setiap sudut ruangan “ Ommo !!! “ Pekiknya menutup mulut ketika otaknya berhasil mengingat apa yang terjadi.

Ia pun dengan cepat bangkit, pandangannya tertahan pada dua orang pengantin baru yang tertidur pulas disofa, mereka saling berpelukan begitu mesra dengan sehelai selimut yang menutupi keduanya.

Dengan perlahan langkah kakinya menuntun Jiyeon berdiri tepat dihadapan sahabat nya itu, ia memiringkan kepalanya mencoba menebak apa yang sedang Jieun rasakan hingga sahabatnya itu tersenyum ketika sedang tertidur, tak sadar matanya kini sudah berkaca-kaca.

***

Seolah ada lagu sedih yang mengiringi perjalanan Jiyeon menuju rumah, jalanan yang ia lintasi masih nampak gelap dan sepi, hanya dua orang pemabuk yang berjalan sempoyongan dan kemudian terjatuh, Jiyeon merasa tersentil, keadaan mereka benar-benar menyedihkan dan tidak berguna.

“ Hiks…hiks…hikss “ Jiyeon menangis tertunduk, tangannya ia gunakan untuk membekap mulut agar dapat meredam tangis.
Tanpa ia sadari, sebuah motor lewat memotong jalannya, Jiyeon mendongak dan terkejut, dengan cepat ia membanting setir berusaha untuk menghindar, namun terlambat….

Brugh

Brugh

“ Kyaaaa….kyaaaa…kyaaaa……kyaaaaaa!!!“ Jiyeon berteriak-teriak panik, mobilnya menghantam pembatas jalan mengakibatkan mobilnya tergores dan spion disebelah kanan terlempar.

“ Kyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! “

Cekitttttt

Mobil berputar-putar sebelum akhirnya berhasil dikendalikan, orang-orang yang menjadi saksi mata terbengong sempurna, beruntung tidak menabrak meja, kursi dan gerobak para pedagang kaki lima dimalam hari.

Tok…tok…tok

“ Nona….. “

Jiyeon memberanikan mengangkat kepalanya dari setir, hal yang pertama kali ia lihat adalah orang-orang yang terbengong menatapnya.

Tok..tok…tok

“ Nona…. “

Jiyeon menoleh kearah seseorang yang memanggilnya, alih-alih menjawab ia hanya melongo memandang wajah seorang pria yang mengetuk-ngetuk jendela mobil dan kini tersenyum kepadanya “ Wow, ternyata di dunia ini ada pria yang wajahnya tampan sekali seperti ini “ Takjubnya dalam hati.

“ Nona ….. “

Jiyeon menggelengkan kepala agar tersadar dan kemudian turun dari dalam mobil diiringi tatapan pria yang terus-menerus menyunggingkan senyum padanya. Si pria kemudian mengamati penampilan Jiyeon dari ujung rambut hingga kaki, rambut yang berantakan, eyeliner yang membuatnya nampak seram serta gaun super seksi berwarna fuschia berbelahan dada rendah yang melekat ditubuh kurusnya, terakhir sandal jepit sebagai alas kakinya membuat si pria tak tahan untuk akhirnya tertawa.

“ Apa kau baik-baik saja nona ? “ Tanya si pria mendekatkan wajahnya kearah Jiyeon, namun tidak lama ia menarik kembali wajahnya ketika mencium aroma alkohol dari mulut Jiyeon “ Kau mabuk seperti seekor sigung “

Jiyeon mengunci bibir dengan tangannya, dan nampak salah tingkah “ Eoh, mungkin mobilku yang dalam keadaan tidak baik “ Ucapnya gugup.

“ Kalau begitu aku bantu untuk mengeceknya, silahkan buka rokmu “

Jiyeon sontak terbengong mendengar ucapan si pria.

“ Maksudku kap mobilmu nona bukan rokmu “ Terang si pria santai dengan candaannya.

>> Skip >>

Beberapa orang membantu si pria mendorong mobil Jiyeon.

Tok..tok…tok

Jiyeon menurunkan jendela mobilnya “ Kamsahamnida kau sudah menolongku memperbaiki mobil ini “ Ucapnya didalam mobil yang bergerak pelan didorong oleh teman-teman si pria.

“ Ini spionmu kan ? “ Tanya si pria hendak mengembalikan.

“ Buat kau saja, anggap sebagai ucapan terimakasih “ Ucap Jiyeon dan berlalu dari hadapan si pria yang masih tersenyum memandang kepergiannya.

Jiyeon hendak menatap si pria tampan yang membuat hatinya bergetar dari spion di sebelah kanannya, namun menyadari itu tidak lagi ada ia pun beralih ke spion di atas kepalanya, dan tersenyum lebar tatkala melihat pria itu masih mengamati mobilnya, karena terlalu fokus pada pria itu…..

Brugh…

“ Ommo!!! “ Mobil Jiyeon kembali menabrak bahu jalan.

“ Hahahhaa….” Pria dan teman-temannya yang menolong Jiyeon tertawa melihat tingkah aneh Jiyeon.

***

Hari masih gelap ketika Jiyeon tiba dirumah, ia menggeser perlahan pintu rumah dan melihat ayahnya sudah berdiri disana dengan tampang marah.

“ Celaka “ Jiyeon menutup kembali pintu untuk merapikan penampilannya agar ayahnya tidak curiga ia pulang dalam keadaan mabuk

“ Huffft “ Pintu yang tertutup ia geser lebih lebar, kali ini semua anggota keluarganya ayah, nenek, dan ibunya ada disana.

“ Darimana saja kau eoh ? apa kau tidak tahu nenekmu sampai tidak bisa tidur khawatir denganmu ? “ Teriak ayahnya.

Jiyeon menatap dengan perasaan bersalah ke arah nenek, namun seketika menyesal mengetahui ucapan ayahnya sama sekali tidak benar, nenek justru sedang tertidur dihadapannya dalam keadaan berdiri.

“ Sudah 10 kali kami menelponmu tapi ponselmu tidak aktif, kami hampir saja menelpon ke kantor polisi “ Ucap ibu kesal kemudian menepuk bahu nenek untuk membangunkannya.

Nenek terkejut dan langsung menunjuk-nunjukkan jarinya marah ke arah Jiyeon “ Talat pheng thook phom chan khun khau ti nai “

Seperti sudah terprogram Jiyeon refleks menoleh ke arah ibu, ibunya adalah penterjemah jika nenek ingin berbicara padanya, sudah puluhan tahun –seumuran dengan usia Jiyeon – menetap di negeri ginseng namun hanya nenek yang tidak juga bisa berbahasa Korea, mungkin usia tuanya yang membuat nenek sulit belajar.

“ Nenek bilang, bagaimana kau bisa menyetir dalam keadaan mabuk ? untung hanya sedikit bodynya yang tergores dan spion saja yang hilang….“ Ucap ibu menerjemahkan kalimat nenek, kata untung hanya yang diucapkan nenek membuat Jiyeon akhirnya menatap nenek kembali dengan mata berkaca-kaca, ia begitu terharu, ternyata meski pikun dan cerewet nenek mengkhawatirkannya.

Tapi tidak berapa lama nenek melanjutkan kalimatnya “ !@#$%^&*!@#$%^& “

Dan Jiyeon pun kembali menolehkan pandangan ke ibu yang sudah siap dengan terjemahannya “ Jika mobil itu sampai rusak parah, kau tidak boleh pulang, tunggu mobil itu kembali ke keadaan semula “ Lanjut ibu tanpa ekspresi.

Gubrakkk!!!! Ternyata nenek masih sama, lebih menyayangi barang-barang milik keluarga daripada cucunya sendiri.

***

Keesokan harinya dipagi buta ,

Sebagai hukuman, ayah melarang Jiyeon menggunakan mobil untuk pergi kekantor. Akibatnya kini Jiyeon sudah harus memaksa matanya terbuka dan berjuang dengan udara dingin dipagi hari.

Diatas angkutan umum bersama dengan penumpang lainnya – kebanyakan ibu-ibu yang akan pergi kepasar – yang menahan tawa ketika melihat Jiyeon, kepalanya sesekali terantuk hingga menyentuh dengkulnya sendiri, Jiyeon sudah merelakan berangkat dua jam lebih pagi dari biasanya, jarak rumah menuju kantor bisa diibaratkan seperti orang yang akan pulang ke kampung halaman, ia harus mengganti sebanyak 5 kali kendaraan untuk sampai dikantornya.

“ Agassi…agassi kita sudah sampai di pemberhentian terakhir “ Teriakan supir angkutan umum membuat Jiyeon langsung terbangun.

“ Eoh “ Kagetnya yang reflek berdiri dengan wajah melongo.

Jiyeon pun turun masih dengan mata mengantuk, sadar harus berjuang dengan waktu, dengan cepat ia berlari menuju jalan raya menunggu angkutan umum lainnya yang selanjutnya akan mengantar ke perbatasan, tidak peduli rambut yang berantakan akibat angin kencang dan rupa bodohnya karena terlalu mengantuk.

Di dalam angkutan umum, ia harus rela menahan sakit ketika kakinya tak sengaja diinjak oleh ibu-ibu yang baru saja pulang dari pasar, belum lagi hewan ternak – ayam dan bebek – yang mereka bawa membuat perut Jiyeon terasa begitu mual karena bau kotoran yang menyengat. Tidak lagi tahan, belum sampai di tujuan ia memutuskan untuk pindah lebih cepat dengan menggunakan ojek.

Lihatlah sekarang !!! ia bahkan bukan seperti seseorang yang naik sebuah ojek melainkan menjadi kekasih si tukang ojek, tangannya begitu kencang melingkar dipinggang tukang ojek yang membawanya berlari kencang seperti mengikuti MotoGP.

“ Am-bil sa-ja kem-ba-li-an-nya “ Ucap Jiyeon dengan wajah pucat, bibir yang membiru serta penampilan yang acak-acakan setelah turun dari ojek.

Dengan cengiran yang justru terlihat menyeramkan tukang ojek berlalu dari hadapan Jiyeon, sosok motor bututnya berganti dengan kepulan asap yang semakin membuat penampilan Jiyeon berantakan

“ Uhuk uhuk uhuk “ Jiyeon kemudian melangkah dengan kaki gemetar menapaki satu demi satu tangga menuju loket stasiun, sepertinya ia bukan akan pergi mencari nafkah, tapi sedang mengikuti reality show yang penuh tantangan.

Jiyeon menutup kuat hidungnya “ Bau apa ini ? “ Ia mengibas-ngibaskan telapak tangan didepan wajahnya, karena penasaran ia sampai mengendus-endus ketiak kanan dan kiri miliknya “ Tidak mungkin, aku tidak memiliki masalah dengan bau badan “ Yakinnya.

Wajahnya memerah menahan nafas, aroma didekatnya begitu menyengat membuat siapapun lebih memilih untuk tidak sadarkan diri, namun tidak seorangpun yang bisa ia tuduh di kereta penuh sesak seperti ini, hingga tiba-tiba seorang pria berotot dengan kaos tanpa lengan persis didepannya mengangkat tangan tinggi untuk meraih pegangan diatas kepala, bola mata Jiyeon berputar sempurna, tidak salah lagi sumber busuknya ada disini.

Huekkkksssss…uhuk…uhuk..uhuk !!!!

Jiyeon berjongkok disudut jalan. mengeluarkan semua rasa mualnya yang tidak lagi sanggup untuk ditahan setelah berhasil keluar dari dalam kereta yang penuh sesak dengan berbagai macam aroma yang tercipta disana.

***

“ Aku pulang !!! “

Tidak ada jawaban, ia melihat ibu, nenek dan seorang pembantunya sedang serius menonton drama keluarga.

“ Ibu, apa ayah masih marah padaku ? jarak kantor dan rumah begitu jauh, sampai kapan aku akan dihukum ? “ Ucap Jiyeon memelas.

“ Wanita itu bodoh sekali, selalu mau diinjak-injak “ Seru nenek gemas dengan drama yang ditonton mengabaikan Jiyeon yang ada disana

“ Tidak-tidak, sebenarnya ia berani hanya saja wanita itu terlalu jahat “ Ibunya menjelaskan alur cerita drama kepada nenek.

Jiyeon berdiri dan menghela nafas pasrah, ia pun melangkah ke atas menuju kamarnya untuk beristirahat.

***

“ Jieun-ah, kau sedang apa ? “ Tanya Jiyeon di atas loteng dengan kaleng bir ditangannya.

“ Aku sedang berada dilantai bawah, ada apa ? “ Ucap Jieun tersenyum malu menjawab pertanyaan Jiyeon.

“ Eum ahniyo, hanya merindukanmu, eoh kau sedang melakukan apa dilantai bawah ? suamimu ? “ Tanya Jiyeon heran dan kembali meneguk bir kaleng ditangannya.

Jieun memandang suami yang berada diatas tubuhnya dengan tatapan mesra, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Jiyeon yang bodoh jika dia sedang bermesraan dengan suaminya “ Suamiku ? tentu saja dia sedang berada dilantai atas “ Ucap Jieun akhirnya.

Jiyeon mengernyit heran tidak mengerti dengan ucapan Jieun “ Apakah kalian berdua bahagia ? “ Tanya Jiyeon tiba-tiba menyimpulkan.

“ Pabbo!!! Kami baru 2 hari menikah tentu saja rasanya masih bahagia, tapi aku yakin kebahagianku akan selamanya “ Ucap Jieun centil mencubit dada terbuka suaminya.

Tiba-tiba telinga Jiyeon menangkap suara aneh, suara desahan yang ia tidak tahu berasal darimana “ Changkamman!! Jieun-ah sebenarnya kau sedang melakukan apa ? kenapa mendesah seperti itu ? “ Tanya Jiyeon memastikan.

Jieun diseberang sana gugup “ Ti-tidak, itu bukan suaraku, aku bahkan belum sampai pada tahap itu “ Jelas Jieun menyangkal karena memang ia belum melakukannya.

Jiyeon kemudian bangkit dari duduknya berjalan menuju sudut loteng yang keadaannya memang sangat gelap, suara aneh itu makin jelas terdengar “ Jieun-ah aku tutup dulu eoh, aku akan menghubungimu kembali nanti “ Jiyeon menutup ponselnya.

Langkah Jiyeon semakin dekat dengan sumber suara, ia pun bersembunyi dibalik dinding, matanya terbelalak sempurna dengan teriakan kencang keluar dari mulutnya melihat ada dua orang yang saling menindih dan bergerak naik-turun entah apa yang mereka lakukan.

“ Aaaaaaaaahhhh “

***

Ayah nampak begitu geram dengan pembantu perempuan dan seorang pria culun yang tidak ia kenal tiba-tiba berada dirumah dan melakukan hal yang menjijikan. Ibu, nenek dan Jiyeon hanya berdiri menyaksikan apa yang akan ayah lakukan kepada dua tersangka dihadapannya.

“ Dimana orangtuamu ? suruh mereka cepat datang atau sekarang kau ikut aku kekantor polisi !!! “

“ Jangan tuan, saya sudah menghubungi paman dan sebentar lagi ia akan datang menjemputku “ Ucap pria culun mengiba.

Ting tong….

“ Itu dia sudah datang “ Ucap pria culun.

Ayah, ibu, dan nenek langsung menoleh ke arah Jiyeon, mengerti dengan maksud tatapan mereka Jiyeon pun melangkah kebawah untuk membukakan pintu.

Greeekkk

Jiyeon terbengong menatap siapa yang datang, terlalu terkejut tidak sadar ia menutup kembali pintunya “ Ommo!! Aku pasti sudah gila masih berkhayal tentang pria itu “ gelengnya seraya mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan apa yang ia lihat hanya mimpi.

Greeekkkkk

“ Kau, ada urusan apa kemari ? “ Tanya Jiyeon datar melipat kedua tangan didadanya dan bersandar pada dinding.

“ Hai, aku Kim Myungsoo, pesuruh di asrama yang aku tinggali menelpon dan memintaku untuk menjemputnya “ Ucap pria bernama Kim Myungsoo dengan senyum seperti biasa yang selalu terukir diwajah tampannya.

“ Kau anggota keluarga pria mesum itu ? “ Tanya Jiyeon menuduh.

“ Ahniyo “ Myungsoo memajukan tubuhnya untuk menyangkal tuduhan Jiyeon “ Eum…apa kau memelihara seekor sigung ? “ Tanya Myungsoo mencium aroma alkohol dari mulut Jiyeon.

Jiyeon merasa malu, tiap kali bertemu selalu dalam keadaan mabuk, namun ia tetap mencoba bersikap anggun “ Dia benar kerabatmu kan ? “ Tanyanya mengalihkan pikiran Myungsoo.

“ Tidak, ia hanya pesuruh diasrama tempatku tinggal, aku bukan siapa-siapanya hanya berniat membantu menjelaskan “ Ucap Myungsoo meluruskan.

“ Baiklah, masuk “ Ucap Jiyeon kemudian menuntun Myungsoo masuk kedalam rumahnya.

***

Myungsoo merasa tidak enak setelah mendengar penjelasan ayah Jiyeon tentang apa yang dilakukan pria culun bernama Lee Seok yang akan ia jemput, dengan wajah yang ia buat setenang mungkin ia mencoba memberikan jalan keluar agar masalah ini segera selesai.

“ Festival air tahun ini, Lee Seok akan pulang kekampung halamannya, aku sudah memaksanya untuk meminta restu pada orangtuanya agar mereka menikah, aku harap kalian tidak lagi memperkarakan ini “ Ucap Myungsoo

“ Aku tidak peduli dengan apa yang akan selanjutnya mereka lakukan, aku hanya tidak suka dengan orang yang berbuat kotor dirumahku, dan terlebih ada kaleng bir disana, kau anggap apa rumahku ini eoh ? “ Ucap ayah masih marah memandang Lee Seok.

Mata Jiyeon membulat sempurna melihat kaleng bir bekasnya ada ditangan ayah.

“ Itu bukan milikku tuan “ Sergah Lee Seok.

“ Kau selalu menyangkal, jika bukan milikmu ini milik siapa ? “

“ Ayah, keumanhe…..ini sudah malam semua orang harus segera beristirahat, kurasa apa yang Myungsoo-ssi ucapkan sudah jelas, dan jangan mempermasalahkan lagi “ Ucap Jiyeon menghindari dirinya ketahuan mabuk.

“ Baiklah, Jiyeon-ah kau urus saja orang-orang ini “ Ayah, ibu dan nenekpun berlalu.

“ Apa benar kau melakukan itu ? “ Tanya Myungsoo sepeninggalan orangtua dan nenek Jiyeon

Lee Seok dan Lee Yoo Ra saling bertatapan, khawatir keduanya menyangkal Jiyeonpun menjelaskan “ Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mereka berdua sedang…..eum “ Jiyeon merasa malu untuk menjelaskan.
Myungsoo terus menatap Jiyeon, menunggu yeoja itu menyelesaikan kalimatnya “ Kau melihat mereka sedang apa ? “ Tanya Myungsoo tersenyum seolah menggoda.

“ Sedang-sedang….melakukan gerakan….menyikat, ya seperti orang menyikat, maju mundur…. seperti itu “ Ucap Jiyeon gugup.

Huahahhahahaa…..

Myungsoo tertawa keras seraya memegangi perutnya, gadis yang bernama Jiyeon meski sudah dewasa namun terlihat sangat polos.

“ Sudahlah kami memang melakukannya, gerakan menyikat itu “ Ucap Lee Yoo Ra pembantu Jiyeon menghentikan tawa Myungsoo.

>> Skip >>

Jiyeon mengantar Myungsoo, Lee Seok dan Lee Yoo Ra untuk meninggalkan rumahnya menuruni tangga, karena jalanan yang gelap Myungsoo nampak kesulitan untuk melangkah.

“ Apa tidak ada lampu disini ? “ Tanya Myungsoo heran.

“ Ayahku orang yang hemat, kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini “ Ucap Jiyeon masih terkesan datar, dalam hati ia senang sekali Myungsoo datang kerumahnya, ternyata masalah tidak selamanya membawa petaka, buktinya ia bisa bertemu lagi dengan pria yang membuatnya berkhayal setelah pertemuan pertamanya.

Grubuk….grubuk…grubuk

Klik

Seketika Jiyeon menyalakan lampu karena mendengar suara seseorang yang tersandung menuruni tangga, dan ia terpaku ketika melihat tiga buah kaset dewasa berserakan dilantai tepat di bawah kaki Myungsoo yang sedang berusaha untuk kembali berdiri sempurna.

Wajah Myungsoo terlihat begitu gugup “ Lee Seok-ah ambil, itu punyamu “ Ucap Myungsoo dengan tubuh kaku dan berusaha kembali melangkah.

Jiyeon mengantar Myungsoo, Lee Seok dan Lee Yoo Ra sampai depan pintu rumahnya, mereka bertiga kemudian pamit meninggalkan rumah Jiyeon, si pemilik rumah – Jiyeon – masih asyik berdiri memandang Myungsoo yang beberapa kali menoleh dan tersenyum kearahnya, namun dengan sikap jual mahal ia tidak membalas senyuman Myungsoo, padahal jelas-jelas jantungnya ingin meledak dipandang seperti itu oleh pria setampan Myungsoo.

***

Jiyeon melangkah sedih dengan kardus ditangannya, mengantar Jieun sahabatnya yang hari ini mengundurkan diri dari pekerjaannya, suaminya melarang Jieun bekerja dan menginginkan ia fokus mengurus rumah tangganya.

“ Jiyeon-ah, jika aku tidak ada, dengan siapa kau akan makan siang ? “ Tanya Jieun khawatir.

Jiyeon menghela nafas perlahan, selama ini mereka selalu bersama-sama tidak pernah terpisah sekejappun, namun Jiyeon tidak akan membuat Jieun menjadi sedih memikirkannya “ Sendiri saja, memangnya kenapa ? lagipula sebenarnya aku merasa lebih enak sendiri, aku tidak perlu bersusah-susah menunggu “ Ucap jiyeon menghapus kesedihannya dengan senyuman.

Jieun memeluk kuat tubuh Jiyeon, mengelus-elus punggung sahabatnya mencoba membuat ia tidak bersedih “ Sudahlah cepat pergi sana, jangan mendramatisir keadaan, eoh bagaimana malam ini kita mengunjungi midnight sale saja ? sudah lama kita tidak kesana “ Ucap Jiyeon memberi ide.

Jieun menggigit bibir bawahnya tidak enak, ia tidak tega menolak Jiyeon yang begitu antusias, namun untuk menurutinya ia pun tidak bisa, suaminya pasti melarangnya untuk bersikap seolah-olah Jieun masih berstatus single.

Tidak berapa lama sebuah mobil membunyikan klakson memanggil Jieun, Jiyeon baru sadar jika ia tidak lagi bisa seenaknya meminta waktu Jieun “ Aku lupa, jika kau sudah bersuami, baiklah lain kali saja kita kesana “ Ucap Jiyeon.

“ Kau tidak marah kan ? kau bisa datang ke rumahku kapanpun kau mau, untuk malam ini maaf aku tidak bisa “ Sesal Jieun.
Jiyeon mengangguk dan tersenyum tulus, meskipun sebenarnya ia merasa banyak yang hilang dari kehidupannya, namun ia tidak berhak memaksa Jieun, sahabatnya sudah tidak lagi sama sepertinya.

***

Jiyeon menjejakkan kaki di stasiun Cheonggyecheon, baru dua langkah keluar dari pintu kereta tiba-tiba matanya menangkap sosok Myungsoo yang berada di pintu sebelah hendak naik ke atasnya, dengan cepat Jiyeon memutar tubuh dan kembali masuk kedalam kereta.

Jiyeon memperhatikan Myungsoo dari jarak yang cukup jauh, dan segera memalingkan wajah ketika Myungsoo menatap kedepan, ia bersembunyi dibalik tubuh penumpang lainnya. Leher Jiyeon meliuk-liuk mencari celah agar sosok Myungsoo terlihat, namun perut gendut penumpang dihadapannya menghalangi Jiyeon dari sosok Myungsoo.

“ Stasiun Daeho, bagi penumpang yang ingin meneruskan ke Seoul silahkan melanjutkan pada kereta selanjutnya “

Jiyeon sontak bangkit ketika semua penumpang turun di stasiun Daeho dan beralih pada kereta selanjutnya menuju Seoul. Matanya terus fokus pada sosok Myungsoo yang juga turun bersama dengan kerumunan orang lainnya.

“ Huh, kemana dia ? “ Ucap Jiyeon setelah berhasil menaiki kereta selanjutnya menuju Seoul.

Jiyeon kehilangan jejak Myungsoo, ia berjalan menyusuri setiap gerbong, menatap satu persatu penumpang agar tidak terlewat, tiba-tiba tubuh Jiyeon menegang, Myungsoo berada tepat disampingnya bersandar pada pintu kereta, Jiyeon membuang wajahnya.

“ Pabbo!!! Apa dia akan tahu jika aku mengikutinya ? “ Ucap Jiyeon dan berjalan menjauh dari Myungsoo “ Ahh mungkin aku harus memakai riasan agar dia tidak mengenaliku “ Pikir Jiyeon dalam hati.

Jiyeon mengoles lipstick begitu menor pada bibirnya, berharap Myungsoo tidak mengenali dirinya, namun…..

“ Hei Ji “

Tubuh Jiyeon membatu, perlahan ia menoleh kaku kearah Myungsoo dengan tangan yang masih memegang lipstick untuk ia oleskan dibibirnya.

“ Hampir saja aku tidak mengenalimu dengan dandanan seperti itu “ Ucap Myungsoo dengan senyuman khasnya, namun kali ini tidak bisa hanya dikatakan tersenyum, Myungsoo sedang menahan dirinya untuk tertawa karena melihat tingkah Jiyeon yang lucu dimatanya.

Keduanya turun di stasiun Seoul, Jiyeon merasa dirinya gila merelakan ia harus kembali ke Seoul demi mengikuti sosok Myungsoo.

“ Kau mau kemana ? “ Tanya Myungsoo

“ Ke Central mall, ada sesuatu yang harus ku beli, kau ? “ Bohong Jiyeon.

“ Bekerja, kantorku di gedung STS ini “ Ucap Myungsoo

Jiyeon manggut-manggut mengerti seraya tangannya sibuk memasukkan karcis kereta kedalam tasnya, namun tiba-tiba karcis terjatuh, ia dengan cepat berjongkok untuk mengambilnya “ Ah ini licin sekali “ Ucapnya kesulitan mengambil selembar karcis dari lantai stasiun.

Myungsoo menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat sikap Jiyeon yang lucu “ Biar ku bantu “ Myungsoo menundukkan tubuhnya namun kacamata yang ia gantung di leher kemeja terjatuh.

Urung membantu Jiyeon, Myungsoo justru berdiri dan meniup-niup kacamatanya yang kotor karena terjatuh.

“ Berhasil !!! “ Teriak Jiyeon yang tiba-tiba berdiri dan membuat kacamata yang ada ditangan Myungsoo terlempar karena tersundul kepalanya.

Prang!!!

Krekkk

“ Ommo !!! “ Pekik Jiyeon menutup mulutnya, kacamata Myungsoo tertindas kereta yang baru saja lewat akibat ulahnya.

“ Mianhae “ Ucap Jiyeon menyesal.

Myungsoo melongo dan begitu syok kacamata kesayangannya sudah tidak lagi berbentuk, namun melihat wajah meringis Jiyeon ia tidak tega dan akhirnya terpaksa menyunggingkan senyum “ Tidak apa-apa, itu kecelakaan “ Ucapnya dan memutar tubuhnya untuk kembali melanjutkanlangkahnya “ Eoh sepertinya kita harus berpisah disini, aku sudah harus bekerja, sampai jumpa “ Myungsoo membungkukkan tubuh dan meninggalkan Jiyeon yang tampangnya masih meringis merasa tidak enak telah membuat kacamata Myungsoo hancur.

***

Jiyeon berjalan lemah menuju rumahnya yang sudah nampak dekat, namun dia nampak heran ketika melihat seorang namja dan yeoja yang memakai seragam SMU sedang bertengkar, tidak berapa lama si namja meninggalkan yeoja itu sendirian.

“ Shannon-ah ada apa ? “

Yeoja yang bernama Shannon nampak cemberut seraya mengemut lolipop dimulutnya “ Dimana sebenarnya pria baik hati berada ? “ Kesal Shannon.

Jiyeon mengernyit tak mengerti “ Ada apa ? “ Tanyanya kembali.

“ Aku memergokinya sedang bersama dengan wanita lain, dasar playboy “ Ucap Shannon memandang jauh namja yang masih terlihat diujung gang sana.

Tidak berapa lama seorang pria kurus menggunakan sepeda motor datang dan melambaikan tangannya ke arah Shannon “ Siapa dia ? “ Tanya Jiyeon.

Shannon tersenyum malu, membuat Jiyeon bisa menebak apa yang selanjutnya akan anak ingusan ini ucapkan “ Dia juga kekasihmu ? pantas saja kau tidak menemukan pria yang setia terhadapmu, kau pun tidak setia terhadap mereka “ Ucap Jiyeon.

Shannon mendengus kesal “ Dia hanya pelanggan, kemarin dia membeli stiker ditokoku lalu aku berikan saja nomor ponselku sebagai bonus, dan ia langsung menghubungiku “ Ucap Shannon enteng

“ Semudah itu kau memberikan nomormu pada seorang namja ? “ Tanya Jiyeon takjub.

Shannon hanya mengangguk dan tersenyum “ Eonnie-ah aterkadang kita harus lebih agresif, karena tidak semua pria berani mengungakapkan apa yang sebenarnya ia rasakan, ah kau tidak mengerti pasti tentang hal itu, eoh eonni aku tinggal dulu, kami sudah memiliki janji “ Ucap Shannon melambaikkan tangan ke arah Jiyeon

“ Dia mudah sekali mendapatkan pria diusia yang masih belia, sedangkan aku ? “ Jiyeon menunduk lemah dan kembali melangkah menuju rumahnya.

***

Didalam kereta menuju stasiun Cheonggyecheon, mulut Jiyeon tidak henti-hentinya mengucap doa, bahkan jantungnya semakin cepat berpacu tatkala stasiun tujuannya sudah semakin dekat, ia berharap akan kembali bertemu Myungsoo yang biasanya berangkat bekerja di jam ketika ia justru pulang bekerja.

Teringat perkataan Shannon tentang memberikan nomor ponsel pada seorang pria kemarin membuat sebuah ide muncul di otaknya, Jiyeon membeli sebuah kacamata rayban cokelat yang akan ia berikan untuk Myungsoo sebagai pengganti kacamata pria itu yang ia rusak kemarin, tidak lupa Jiyeon menyelipkan nomor ponsel pada kardus kacamata tersbut, berharap setelah itu Myungsoo menghubunginya dan mereka akan sering berkomunikasi.

“ Stasiun terakhir Cheonggyecheon “

Jiyeon membuka matanya lebar mencari sosok Myungsoo yang akan segera naik, namun pria itu tidak terlihat sampai akhirnya tubuh Jiyeon terdorong hingga keluar oleh penumpang lainnya. Jiyeon tersenyum lebar ketika ia menoleh ke arah kanan, berbeda satu pintu dengannya sosok yang dinanti nampak disana, tanpa membuang waktu ia segera berlari untuk kembali masuk kedalam kereta, kakinya yang lelah tidak ia pedulikan, ia terus berlari untuk keluar pada pintu yang akan Myungsoo lalui.

“ Hei Ji kau baru pulang ? “ Sapa Myungsoo ketika akhirnya mereka berpapasan dipintu kereta.

Jiyeon tersenyum dengan nafas yang masih memburu “ Eoh, nde kau akan berangkat ? “
Myungsoo mengangguk dan tersenyum, tiba-tiba wajah Myungsoo mengernyit heran ketika Jiyeon menyodorkan sebuah kantung kearahnya “ Apa ini ? “

“ Aku membelinya untukmu, kemarin kacamatamu aku yang merusaknya “ Ucap Jiyeon berharap tidak mendengar penolakan dari Myungsoo.

Myungsoo hanya terdiam dan memandang kantung yang ada ditangan Jiyeon, tidak ingin rencananya gagal Jiyeonpun memasang wajah memelas agar Myungsoo tidak menolak untuk menerimanya.

“ Maaf aku tidak bisa menerimanya “ Ucap Myungsoo nampak tidak enak.
Wajah Jiyeon jelas menampakkan kekecewaan, perjuangannya untuk bertemu Myungsoo itu melelahkan, jadi bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan rasa kecewanya dengan mudah.

“ Baiklah, jika kau memaksa aku akan menerimanya “ Myungsoo yang menyadari ada yang berubah dari wajah Jiyeon akhirnya memutuskan untuk mengambilnya.

Benar saja, hanya hitungan dentik setelah kantung itu berpindah, senyum sudah kembali terukir pada wajah Jiyeon.

“ Gomawo, eoh aku harus segera pergi “ Pamit Myungsoo karena kereta akan segera berangkat.

Tidak ada kalimat jawaban dari bibir Jiyeon, ia hanya terus tersenyum dengan wajah lucu atau bodoh yang terlihat oleh Myungsoo, entahlah. Dari dalam Myungsoo melambaikan tangan ke arah Jiyeon yang masih menatapnya hingga sosoknya tidak lagi terlihat.

“ Yyyyaaa!!! “ Jiyeon memekik senang, dengan semangat ia pun meneruskan langkahnya untuk pulang dan berharap tidak berapa lama ponselnya akan berbunyi.

“ Hana…dul…set “

Kringggg

Wajah Jiyeon semakin sumringah “ Eoh Shannon-ah idemu sangat brilian, seharusnya aku melakukan ini sejak 18 tahun yang lalu“ Jiyeon segera mengobrak-abrik tasnya untuk menjawab panggilan Myungsoo, namun wajahnya sontak berubah ketika bukan nama Myungsoo yang tertera disana, melainkan ibunya.

“Eoh, aku pikir Myungsoo “ Lirih Jiyeon dengan kepala yang tertunduk dan semangat yang menguap entah kemana.

***

“ Mwo ? dijodohkan ? memangnya kita hidup dijaman apa sampai-sampai aku harus dijodohkan ? “ Omel Jiyeon tidak terima, dipikir ada berita gembira apa yang ibunya katakan, dijodohkan sama sekali bukan berita gembira disaat ia sedang jatuh cinta pada pria yang selalu ia temui distasiun Cheonggyecheon akhir-akhir ini.

“ Pang ha phom chan me pun pang ha “

“ Nenek bilang, jangan menolaknya, kapan lagi ada pria tampan dan kaya raya yang mau dinikahkan denganmu, kau tidak mungkin selamanya hidup lajang, apa kau mau menjadi perawan tua ? “

Jiyeon mengerucutkan bibirnya kesal, bukan karena berita yang ayahnya katakan, melainkan kalimat nenek yang diterjemahkan oleh ibu, apa artinya sepanjang itu untuk kalimat pendek yang nenek ucapkan ? mengapa nenek kejam sekali mengatakan itu pada cucunya?

“ Ibu, nenek dan ayah, aku sudah dewasa, aku berhak menentukan hidupku sendiri, jika aku bilang tidak ingin dijodohkan, jangan berusaha menjodohkanku “ Jiyeon bangkit dari kursi dan hendak berlalu ke dalam kamar “ Satu lagi “ Jiyeon kembali menoleh, ayah, ibu dan nenek menatap serempak ke arahnya “ Festival air tahun ini aku tidak akan pulang ke Thailand, aku ingin disini saja “ Dan setelahnya ia pun naik ke kamarnya.

“ We mok chan pi chi lan cha “

“ Anak yang sok laku “ Ibu menerjemahkan kalimat nenek yang sebenarnya tidak ada yang bertanya.

***

Jiyeon tidak bisa tertidur, ia terus mondar-mandir bahkan naik turun menunggu Myungsoo menghubunginya, namun hingga tengah malam ponselnya tidak juga berbunyi. Berbagai macam pikiran tentang Myungsoo versi dugaannya berkelebat “ Sepertinya dia memang tidak tertarik padaku “ Ucap Jiyeon lirih, tak sengaja matanya jatuh pada telepon rumah yang terletak disudut ruangan.

“ Ommo !!! aku memberikannya nomor rumah ? bukan ponselku “ Ucap Jiyeon menyadari jika yang ia selipkan di kardus kacamata adalah telepon rumahnya, pantas saja ponselnya tidak segera berdering, jikapun Myungsoo langsung menghubungi sore tadi sudah barang tentu tidak akan ada yang mengangkat telepon dirumahnya.

“ Pabbo….pabbo…pabbo “ Jiyeon mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.

***

“ Pria dijaman sekarang memang sulit didekati, tapi tunggu dulu!! Apakah dia benar pria sejati, kau sudah begitu banyak peduli, namun dia tetap acuh “ Jiyeon mengaduk-aduk pop ice ditangannya.

“ Yya!!! dia bukan pria yang seperti itu , dia itu pria yang sangat baik, tampan dan sepertinya romantis “ Kesal Jiyeon yang tidak terima apa yang Shannon simpulkan tentang Myungsoo pria pujaannya.

“ Penampilannya atau kepribadiannya yang baik ? “ Tanya Shannon tak yakin.
Jiyeon menyunggingkan senyumnya membayangkan sosok Myungsoo “ Keduanya , begitu sempurnanya sampai aku tidak menyangka telah menemukannya, aku sangat beruntung “

Shannon melongo menatap Jiyeon, eonni didepannya benar-benar sudah tidak waras “ Jika begitu tanyakan saja padanya apa dia sudah memiliki kekasih ? “

Jiyeon menegakkan tubuhnya dan menatap Shannon dengan tatapan putus asa “ Jika aku berani menanyakan tentang itu, aku tidak akan kesini meminta bantuanmu “ Ucapnya terus terang.

“ Baiklah aku akan menjadi mata-mata untukmu, tapi kau harus memperlihatkan dulu pria itu padaku, baru aku akan memiliki ide untuk membuatnya jatuh cinta padamu “

Jiyeon meimbang-nimbang tidak yakin, namun sepertinya ia harus mencobanya.

***

Jiyeon dan Shannon bersembunyi di balik rak-rak kaset, menunggu Myungsoo yang biasanya datang untuk menyewa kaset.

“ Aku tidak melihatnya, sepertinya ia belum datang ? “ Ucap Jiyeon seraya matanya beredar untuk mencari sosok yang akan dibuntutinya.

“ Kau yakin dia akan datang ? “ Tanya Shannon.

“ Tentu saja, dia adalah pelanggan tetap disini “ Ucap Jiyeon meyakinkan.

“ Di toko cabang ini ? “

Mendengar pertanyaan Shannon, Jiyeon baru sadar tentu saja tempat menyewa dvd ada banyak sekali “ Apa ada banyak cabang ? “
Shannon mendesah lemah.

“ Chogiyo, apa aku bisa meminjam flm ini? “

Seseorang menegur Jiyeon dan Shannon yang menghalangi dirinya untuk mengambil dvd yang ingin ia sewa.
Jiyeon menggeser tubuhnya perlahan, namun ketika wajah yang menegurnya terlihat “ Eoh!! “ Kaget Jiyeon.

“ Ji ? kau juga menyewa dvd disini ? “ Tanya pria yang ternyata Myungsoo merasa surprised.

Jiyeon yang panik takut ketahuan tak sadar jika ia sudah mengambil banyak film, tanpa melihat judul film apa yang ia pilih, Myungsoo hanya menunduk tersenyum melihat sikap Jiyeon setiap kali bertemu dengannya.

“ Apa ini orangnya ? “ Tiba-tiba suara Shannon terdengar.

Jiyeon menoleh ke arah Shannon ingin membekap mulut teman kecilnya ini agar tidak membuat Myungsoo curiga dengan apa yang ia lakukan “ Eoh kenalkan ini tetanggaku “
Setelah Jiyeon mengatakannya, tangan Shannon dengan cepat menjabat tangan Myungsoo “ Shannon “ Ucap Shannon tanpa berkedip membuat Jiyeon mencibir kesal.

“ Hai “ sapa Myungsoo tanpa menyebut nama.

“ Ayo kita harus segera membayar dvd ini, dia harus segera pergi bekerja “ Jiyeon tetap tersenyum ke arah Myungsoo seraya menarik tangan Shannon.

“ Apa yang ahjussi lakukan, mengapa bekerja begitu malam ? “ Tanya Shannon yang matanya tak berkedip sedikitpun menatap Myungsoo.

Jiyeon semakin kesal rasanya ingin sekali menarik paksa gadis centil yang sedang bersamanya, namun tidak mau terlihat jahat dihadapan Myungsoo ia tetap menyunggingkan senyumnya.

“ Aku seorang teknisi “ Ucap Myungsoo.

“ Teknisi ? jika begitu ahjussi seorang yang pandai di bidang matematika, jika ada waktu maukah kau mengajarkanku matematika “ Ucap Shannon membuat Jiyeon membelalakkan matanya tak tahan.

Myungsoo tersenyum, ia menyadari sikap Jiyeon yang nampak tidak enak padanya.

“ Shannon-ah, aku kan lulusan accounting, aku bisa mengajarimu nanti “ Ucap Jiyeon masih berusaha menjauhkan Shannon dari Myungsoo.

Namun Shannon tidak juga menyerah, berbagai cara ia lakukan agar bisa berlama-lama menatap wajah Myungsso “ Apa anak-anak dan istrimu tidak keberatan kau selalu pulang pagi ?” Tanya Shannon memelintir kedua tangan bertanya pada Myungsoo.

Kali ini Jiyeon menunggu dengan dag dig dug jawaban Myungsoo, ia berharap jawabannya tidak membuat akhirnya ia lemas.

“ Aku bahkan belum memiliki kekasih “

Dan Jiyeon pun sukses tersenyum malu, ia menyampirkan rambut ditelinga tak berhenti tersenyum.

“ Semua pria akan mengatakan hal itu jika ditanya wanita muda “ Balas Shannon.

Myungsoo tersenyum “ Aku juga akan mengatakan jawaban yang sama jika pertanyaan itu berasal dari wanita tua “

Jawaban Myungsoo kembali sukses membuat Jiyeon melayang, itu berarti pria ini benar-benar masih lajang, namun tatapan Shannon membuat Jiyeon tak mengerti.

“ Maksudmu wanita tua ? “ Shannon melirik Jiyeon.

“ Yya!!! kapan kekasihmu yang kurus kering itu akan menjemputmu ? “ Balas Jiyeon tidak terima dirinya disindir.

“ Ommo!!! Benar, kenapa dia tidak menghubungiku, eoh Myungsoo-ssi, bolehkah aku meminjam ponselmu, aku lupa menaruh dimana ponselku” Mohon Shannon.

Myungsoo pun mengeluarkan ponsel dari balik jaketnya dan menyerahkannya pada Shannon, sementara Jiyeon semakin geram saja terlebih setelah ponsel Shannon berhasil dihubungi, betapa malunya Jiyeon bahkan ponsel Shannon pun dilengkapi dengan gantungan yang banyak dan besar-besar hingga mungkin tasnya hanya cukup untuk menaruh ponsel didalamnya.

“ Bagaimana bisa hilang jika gantungannya saja sebanyak itu “ Batin Jiyeon.

“ Ini Myungsoo-ssi, gomawo “ Ucap Shannon tidak merasa berdosa.

“ Ah aku harus pergi, senang bertemu dengan kalian “ Ucap Myungsoo dan segera pergi menuju kasir.

Jiyeon terus mengamati Myungsoo dari balik rak kaset, dan menarik wajahnya cepat ketika Myungsoo menoleh padanya dan tersenyum, namun wajah Shannon yang melambaikan tangan pada Myungsoo membuat akhirnya Jiyeon muak dan ingin segera meninggalkan toko ini.

“ Eonni-ah, bagaimana ejaan namanya ? aku ingin menyimpan nomornya “ Santai Shannon fokus pada ponselnya.

“ J-A-L-A-N-G “ Kesal Jiyeon dan langsung saja meninggalkan Shannon.

Shannon mengernyitkan wajah heran, namun tidak lama ia pun tertawa puas melihat sikap Jiyeon yang marah padanya.

***

Jiyeon berjalan sendiri menuju tempat penyewaan dvd yang biasa Myungsoo datangi, ia tidak ingin lagi mengandalkan Shannon untuk mendekati Myungsoo, namun ia sangat terkejut ketika melihat seorang wanita memakai seragam yang ada dibalik meja kasir dengan lolipop yang menjadi ciri khasnya, Jiyeon melangkah dengan cepat dan nafanya memburu.

Brakkk

“ Kau ? mengapa kau memakai seragam itu ? “ Tanya Jiyeon geram melihat Shannon.

“ Aku bekerja disini eonni “ Ucapnya enteng dengan senyum yang menyebalkan dimata Jiyeon.

“ Kenapa harus dicabang ini ? “ Cecarnya dengan berkacak pinggang.

“ Eoh ahjussi !!! “ Teriak Shannon membuat Jiyeon menoleh, namun ia mendengar Shannon tertawa senang karena berhasil mengelabuinya.

Jiyeon melirik ponsel Shannon yang tergeletak diatas meja kasir, dengan hati-hati Jiyeon menumpuk beberapa dvd hingga tingginya menghalangi wajah Shannon dari ponselnya, perlahan tangan Jiyeon ingin mengambil alih ponsel Shannon, ia berharap mendapatkan nomor Myungsoo disana.
“ Eonni, nomor ahjussi bukan disitu, sudah ku pindahkan ke ponselku yang satu lagi “ Teriakan Shannon sukses membuat Jiyeon melemas.

Dibalik rak kaset Jiyeon mengirim pesan kebeberapa nomor yang ada diponsel Shannon yang ia pinjam, dan setelahnya ia tersenyum evil “ Lihat saja kauakan menyesal berniat bersaing denganku “ Ucap Jiyeon dari balik rak.

Ting tong…

Satu orang pria datang dengan skateboard dan menemui Shannon, Shannon merasa bingung karena ia sama sekali tidak meminta kekasihnya untuk menjemput, tidak berapa lama, seoarang pria gendut berperawakan seram datang pula menemuinya, Shannon semakin panik, belum selesai sampai disana, satu orang lagi pria kurus kering yang Jiyeon tahu adalah pacar terakhir Shannon pun datang, Jiyeon memekik senang rencananya untuk menggagalkan Shannon bertemu Myungsoo berhasil.

Terjadi keributan diantara tiga pria yang datang, Shannnon pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa, keadaan toko sangat kacau karena perkelahian para kekasihnya, Jiyeon hanya berdiri menikmati hasil idenya yang cemerlang.

Dua orang tumbang ditangan pria gemuk, tidak berapa lama pintu terbukadan muncul seseorang yang Jiyeon dan Shannon rebutkan.

“ Ahjussi!!!! “ Teriak Shannon dan menghambur ke arah Myungsoo.

“ Apa kau juga ingin ku buat seperti mereka ? “ Ucap kekasih Shannon yang bertubuh gemuk menyambut kedatangan Myungsoo.

Myungsoo tidak mengerti apa yang terjadi, namun sebuah pukulan datang kearahnya sebelum sempat Myungsoo menghindar, alhasil tas yang ia bawa menjadi korban, terlempar jauh karena Myungsoo gunakan untuk berlindung dari amukan si pria gemuk.

***

Jiyeon memunguti satu-persatu dvd yang berserakan dilantai, sementara diluar sana pembuat onar dan Shannon sedang dihakimi oleh pemilik toko.

“ Taejung-ah apa kau memiliki back up file proyek kita yang sedang berjalan ? laptopku terkena virus, dan itu hilang semua, aku akan memperbaikinya besok, sementara kau cari back up filenya “

Klik

Jiyeon merasa sangat tidak enak pada Myungsoo, walaupun bukan dirinya yang secara langsung membuat laptop Myungsoo rusak namun tetap saja itu karena ide gilanya yang memanggil semua kekasih Shannon agar bertemu.

“ Aku akan memperbaikinya untukmu “ Ucap Jiyeon sebagai rasa tanggungjawab.

“ Tidak perlu, aku bisa memperbaikinya nanti “ Cegah Myungsoo seperti biasa tidak pernah menampakkan raut menyalahkan orang.

Sikapnya yang seperti ini yang membuat Jiyeon semakin merasa bersalah, sekaligus semakin tergila-gila pada Myungsoo “ Kau pasti tidak memiliki waktu untuk memperbaikinya “

“ Tidak apa-apa, aku tidak mau merepotkanmu “

“ Kekasih sahabatku seorang yang hebat dalam memperbaiki barang yang rusak “ Kali ini tangan Jiyeon hendak mengambil paksa laptop dari tangan Myungsoo.

“ Tidak apa-apa, kau jangan merasa bersalah “ Cegah Myungsoo kembali menenangkan.

Akhirnya terjadi aksi saling tarik-menarik antara Myungsoo dan Jiyeon, tenaga Myungsoo yang lebih besar membuat tubuh Jiyeon tertarik, namun ternyata Jiyeon tidak mau menyerah begitu saja hinga akhirnya….

Pranggg!!!!

Laptop terlepas dari tangan Myungsoo dan kembali jatuh, kini body laptop pun terbelah dua, Myungsoo hanya memandang tanpa ekspresi laptopnya yang sudah hancur semakin hancur, sedangkan Jiyeon menggigit bibirnya kuat “ Eoh otthokae ? apa yang harus aku lakukan ? mungkin setelah ini ia tidak akan mau dekat-dekat denganku, setiap ada diriku, dia selalu sial “ lirih Jiyeon dalam hati dan takut-takut memandang Myungsoo yang sama sekali belum bereaksi atas apa yang telah Jiyeon lakukan.

*** TBC ***

130 responses to “[ TWO SHOOT ] SEOUL TRAFFIC LOVE STORY # 1

  1. makasih udah d ijinin baca ff nya eon,
    aduh jiyi kamu tuh nakal masa semua pcr sanon d datangin semua hahahhh,
    hayuh gimana loh jiyi
    laptop myung rusak

  2. mau baca kelanjutannya,tapi karna lupa sama cerita sebelumnya makanya baca lagi dari awal.maaf ya thor udh berburuk sangka.jeongmal mianhe

  3. Hahahahaa, aku ngakak sendiri bacanya :v *banting2 laptop*😀
    Keren bingit eonni (y)😉
    Gmn tuh kalo ff ini diadaptasiin lagi jdi k-movie pemerannya Myungyeon, pasti kocak abis ngebayangin sifat ama ekspresi mereka berdua =)) *bayangin ndiri :D*
    Izin baca part end-nya eonni ^_^

  4. keren..keren.. Jujur aku pernah nonton thailand movienya, tapi gak sampe habis.. Hehehe.. Faktor Pemerannya yang kurang srek di hati.. :p ckckck..
    Hehehe… Ternyata ada Fanfictionnya, dan kesimpulanku lebih kerenan Fanfictionnya dari pada movie thailandnya.. (y)
    lucu banget JiYeonnya, dia ceroboh banget di depan MyungSoo.. Ckckck…
    Izin baca part Endnya ya Kak..🙂
    Annyeong..❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s