[FREELANCE – ONESHOOT] My Naughty Man

my-naughty-man

Credit poster : BabyChocho @HSG

My Naughty Man

Main Cast: Park Jiyeon & Wu Yifan / Kris | PG-16 |

Gendre: Romance, Comedy, Married Life | Story by. TheBakabon/ Fayra Nadifa

[Pernah di publish di WP pribadi. Story is mine, sorry for the typo and happy reading]

.

.

“matanya itu tolong! matanya” sudah kesekian kalinya Jiyeon menggerutu dan menegur lelaki yang duduk didepannya sambil mengerucut sebal, sedangkan lelaki yang disindirnya hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Jiyeon.

“sayang, yang namanya makhluk ciptaan Tuhan itu harus dinikmati” jawaban lelaki tersebut membuat Jiyeon memutar kedua bola matanya dengan malas, selalu saja alasan itu yang dibuat. Apa tidak ada alasan lain? Pikir Jiyeon.

“kalau begitu kenapa tidak samperin saja sekalian, minta kenalan, pendekatan terus pa.ca.ran!” sungut Jiyeon sambil bersedekap, perut yang lapar tadi sudah hilang entah kemana, selera makan sudah pergi saat melihat Kris, kekasihnya malah asik melirikan matanya kesembarang arah.

Oke, Jiyeon akan memaklumi kalau Kris –pacarnya yang sangat tampan- menurut Jiyeon itu melihat-lihat barang seperti mobil mahal, jas-jas kantoran yang harganya selangit, sepatu keluaran terbaru atau bahkan rumah dengan harga selangit. Tapi pada kenyataannya, mata Kris itu selalu melihat ke benda hidup yang tak lain adalah wanita.

Siapa sih yang tidak kesal kalau punya pacar dengan mata jelalatan seperti bunglon itu?. Siapapun wanitanya mungkin akan merasakan hal yang sama seperti Jiyeon.

Kenapa tidak minta putus? Cinta. Itulah jawabannya, saking cintanya Jiyeon sudah kebal dengan tabiat Kris yang satu ini, asalkan jangan selingkuh saja pikirnya.

“lihat sayang wanita cantik yang duduk disudut itu, kenapa dia sendirian ya? Mana pacarnya?” sumpah! Jiyeon ingin sekali menyumpal mulut Kris yang pandai mencium itu, dan Jiyeon sudah membuktikan kehebatan bibir Kris.

“yasudah, samperin!” ketus Jiyeon dan memakan donatnya bulat-bulat dengan lahapnya. Kris menoleh pada pacarnya dan tersenyum sumringah, oh god! Apa Kris akan kesana?

“kenapa harus kesana kalau didepanku sudah ada wanita cantik?”

Uhuk! Jiyeon tersedak donatnya. Kris dengan cekatan memberikan minum untuk Jiyeon dan membantu Jiyeon meminumnya sampai—BYUR!

“ya! Ini kopi panas WUYIFAN!!” sembur Jiyeon tepat di hadapan Kris. Kris hanya meringis melihat kekasihnya tersebut, jika Jiyeon sudah memanggilnya nama asli, tandanya Jiyeon sudah marah.

“oh sayang, maafkan aku” lirih Kris.

……………..

Jiyeon pov

Aku melambaikan tangaku pada Kris setelah mencium sekilas bibir tipisnya yang kissable itu. Kris harus kembali ke perusahaannya, ya pacarku itu yang matanya jelalatan adalah CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti.

Pacarku Kris itu tampan, baik hati, tidak sombong, sayang keluarga, suka anak kecil dan pintar dalam segala hal. Hanya satu kekurangannya, matanya itu! Mata Kris itu indah, berwarna cokelat terang tapi sayang manfaat matanya itu minus! Suka sekali melihat wanita cantik. Apa aku kurang cantik? Aku ini tidak kalah dari model Miranda Kerr yang itu loh mantannya Orlando Bloom—ah kenapa jadi melantur kesana.

Tersadar, aku membalikan badanku kembali ke sekolah. Tenang, tenang. Aku bukan anak SMA apalagi anak SMP. Aku ini seorang guru di sekolah dasar. Umurku 25 tahun dan Kris berumur 27 tahun. Usia yang matang bukan untuk menikah? Sangat!.

Tapi sampai detik ini juga Kris belum juga mengajakku menikah, setidaknya melamarku kek. Teman-temanku saja sudah menikah. Padahal aku dan Kris sudah lama berpacaran, sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat meeeeen!. Sepuluh tahun sejak aku berusia 15 tahun waktu itu, awal masuk SMA dan Kris adalah kakak kelasku, sahabat kakakku. Awalnya sih dia galak, teramat sangat galak, suka sekali mengerjai aku tapi dibalik sikap galaknya itu ternyata dia gugup setengah mati menutupi perasaannya padaku.

Hoel~ siapa coba yang tidak jatuh cinta?.

Tapi itulah, dari semua kesempurnaannya hanya sikap mata-nyalah yang membuatku semakin hari semakin sebal. Awalnya aku syok mendapati salah satu—bukan, bahkan satu-satunya kekurangannya dan kami hampir putus waktu itu, tapi dengan perlahan Kris menjelaskannya padaku dan aku memakluminya hingga sampai sepuluh tahun aku kebal dengan tingkahnya yang satu itu karena dia selalu bisa mengembalikan kepercayaanku.

“habis makan siang dengan pangeran bunglon mu itu ya?” sahut sebuah suara yang kuyakini adalah suara Luna, sahabat sekaligus rekan kerjaku di sekolah dasar. Lihat! Luna saja sudah hamil besar dan sebentar lagi akan menyambut anak pertamanya bersama Suho. Lah aku? Mommyyyy Wuuuuu…kapan anakmu itu melamarku?

“kenapa bunglon?” tanyaku heran, Luna terbahak dan menepuk bahuku. Menyerahkan buku biologi anak SD kelas tiga, aku membacanya sekilas dan mengerucutkan bibirku saat keterangan hewan bunglon yang kubaca. Mata bunglon ternyata dapat melihat kedua arah, dan secara terang-terangan Luna menyindir Krisku. Keren sekali.

Lihatkan? Bahkan sepasang mata Kris yang indah itu sudah termahsyur kekuatannya. Untung saja mata Kris tidak mengeluarkan sinar laser seperti Cyclops di X-Men, bisa matilah aku.

“jadi apa kau sudah mengungkit masalah pernikahan dengan Kris, Jiyeon?” tanya Luna yang sedang membereskan barang-barangnya, kulihat dari jendela kantor Suho sudah menjemput Luna di parkiran sana.

“belum, aku sudah bosan menyindirnya soal menikah. Mulutku sudah berbusa melebihi deterjen” aku menghempaskan tubuhku ke sofa dan Luna memandangiku dengan sendunya.

“bersabarlah, mungkin Kris belum siap dengan pernikahan atau—“ aku menoleh ke arah Luna, penasaran dengan kata-kata selanjutnya.

“atau apa? Jangan berfikir negatif, biar bagaimanapun dahsyatnya mata Kris itu, dia tidak pernah selingkuh di depanku!” ucapku, aku tau apa yang ada di otak Luna.

“Jiyeon bodoh! Memangnya ada ya selingkuh di depan? Dimana-mana yang namanya selingkuh itu di belakang!” pernyataannya langsung membuatku memelototinya, Luna tau dia sedang dalam keadaan bahaya dan detik berikutnya dia berjalan cepat ke arah pintu sambil pamit dengan berteriak.

“sialan dia, untung sedang hamil kalau tidak sudah aku sumpahi” ujarku dengan galaknya. Astagaaaa! Mulut cantikmu ini Jiyeon tidak boleh seperti ini.

Haaaah! Ini semua gara-gara Kris.

Jiyeon pov end

……………..

Keesokan harinya Jiyeon membawa bekal makan siang, dia akan memberi kejutan untuk Kris. Kris suka sekali dengan masakan Jiyeon, secara Jiyeon pintar memasak berbagai makanan, cita-cita Jiyeon itu cheff. Sayang tidak kesampaian.

“Jongdae! Kris ada?” tanya Jiyeon saat menemui sekertaris Kris yang bermana Jongdae yang sedang bergurau dengan beberapa karyawan wanita.

Sudah ditebak, Jongdae akan tebar pesona dan mengeluarkan joke-jokenya jika sudah bersama beberapa wanita.

“Jongdae!” tehur Jiyeon sekali lagi, Jongdae menoleh dan menghembuskan nafasnya kasar saat melihat ke arah Jiyeon.

“apa Jiyeon?” rasa-rasanya Jiyeon ingin sekali melempar Jongdae ke samudera hindia dengan ucapannya barusan.

“Kris, apa ada di dalam?” tanya Jiyeon. Jongdae mendesah dan kembali ke mejanya.

“panggil aku Chen dan aku akan memberitahukannya” Jiyeon memutar bola matanya malas.

“iya CHEN! Apa Kris ada di dalam?” tanya Jiyeon

“ada” Jiyeon segera melangkah ke ruangan Kris tapi suara Jongdae mengintrupsinya.

“tapi sedang ada klien di dalam, kau tunggu saja di sofa” lanjutnya yang membuat Jiyeon geram dan duduk di sofa, dan Jongdae kembali dengan aktivitasnya melihat para karyawan wanita dengan tebar pesonanya. Jiyeon yang melihatnya hanya meringis kecil ‘tidak atasannya, tidak sekertarisnya sama saja’.

Setengah jam berlalu dan pintu ruangan Kris terbuka, Jiyeon mendongak dan berdiri melihat Krisnya yang tersenyum lebar. Tunggu! Senyum lebarnya itu ia tunjukan pada seorang wanita yang sepertinya sekertaris dari kliennya, oh Tuhan!

Bukan matanya saja yang jelalatan tapi mulut Kris juga sekarang ikut-ikutan dengan matanya, rupanya mulut Kris ini minta di tampar dengan sandal jepit rumahhnya, pikir Jiyeon.

“ekhem!” Jiyeon berdehem, sengaja membuyarkan pandangan Kris pada klien—salah! Sekertaris kliennya yang sudah beberapa langkah jauhnya di depan.

Tidak mempan, Jiyeon berdehem sekali lagi

“ekheeem!!” lebih keras dan Kris menyadarinya, dia menoleh dan tersenyum dengan senyuman lebarnya. Jiyeon mematung seketika, tuh kan. Bagaimana bisa marah, kalau senyum Kris mampu membuatnya lupa kalau dia harus menggampar mulut Kris itu.

“sayang, sedang apa disini?” tanya Kris saat memandangi Jiyeon dari atas sampai bawah. Jiyeon mendelik sebal dan segera menyerahkan beberapa kotak makanan pada Kris yang langsung diterimanya dengan sumringah.

“aku pulang”

Eh? Kris menoleh dan memegang lengan Jiyeon. Rasa-rasanya Kris tau apa yang membuat Jiyeon marah sekarang.

“sayang kenapa langsung pulang? Temani aku makan siang dulu” ujar kris sambil sesekali mengelus punggung tangan Jiyeon. Jiyeon diam, sentuhan dan suara berat Kris membuatnya ragu seketika.

Kalau bukan karena cinta, Jiyeon sudah melempar Kris dari lantai kantornya ini. Tidak tidak! Jiyeon tidak mau Kris mati, menikah saja belum.

.

.

Kris dan Jiyeon duduk bersebelahan di sofa ruangan Kris. Jiyeon sedang menyuapi Kris yang makan dengan lahapnya, dan Jiyeon menyukai salah satu sifat Kris yang ini. Dia akan menghargai apapun usaha Jiyeon, termasuk yang satu ini.

“kau kelaparan sekali” tanya Jiyeon yang sedang memilih lauk dan nasinya. Kris menganggukan kepalanya, mulutnya penuh dengan makanan.

“memangnya tadi belum sarapan?” tanya Jiyeon lagi, Kris menggeleng dan menelan makannanya.

“belum, aku kan tinggal sendirian di apartemen, mana sempat makan” ujar Kris.

“makannya cepat nikahi aku, biar kamu tidak sendirian di apartemen” sindir Jiyeon sambil memasukan suapannya lagi ke dalam mulut Kris. Kris hanya menganggukan kepalanya dan kembali mengunyah makanan tersebut.

“oh iya, nanti malam mommy dan daddy mengajakmu makan malam” ucap Kris

“oke, jemput aku ya?” dan Jiyeon kembali memasukan seseondok makanan lagi kedalam mulut Kris.

“kau tau sayang, klien tadi adalah salah satu klien terpentingku. Aku berhasil mengajaknya bekerja sama” inilah kebiasaan Kris yang begitu Jiyeon sukai, dia selalu terbuka soal masalah apapun padanya, sampai-sampai aibnya saja ia buka sendiri, tapi Jiyeon tidak mempermasalahkannya karena bukankah suatu hubungan dilandasi dengan saling keterbukaan?

“lalu, kau sangat senang ya?” cibir Jiyeon saat teringat mata jelalatan Kris tadi yang memandangi sekertaris kliennya dengan intens.

“iya, apalagi tadi sekertarisnya kau tau? Wajahnya mirip dengan model, siapa namanya Miranda Ke—mppphh” Kris berhenti berbicara saat Jiyeon memasukan gumpalan makanan besar kemulutnya, setelahnya Jiyeon kembali memasukan lagi sesendok makanan sampai-sampai pipi Kris itu menggelembung besar menampung makanan.

“telan! Cepat telan! Dalam lima detik, bicaranya setelah kau menelan makannanya”

Kris buru-buru mengunyah makannanya, dan setelah habis Jiyeon kembali memasukan gumpalan besar makanan ke dalam mulut Kris agar Kris tidak bisa bicara soal sekertaris kliennya yang tadi.

……………….

Malam harinya,

Jiyeon dengan dress selututnya tanpa lengan, berwarna merah bata membuat mata Kris melebar dengan sempurnanya saat dirinya menjemput kekasih tercintanya tadi. Rambut pendek sebahunya yang Jiyeon tata dengan gaya messy hair itu membuat bulu kuduk Kris meremang.

“aku melihat bidadari tadi” Jiyeon memutar bola matanya malas saat Kris berbisik di telinganya.

“sudah biasa, hentikan hobi matamu itu” sungut Jiyeon, Kris terkekeh. Pasti Jiyeon mengira Kris melihat wanita lain tadi, padahalkan dia melihat Jiyeon. Susahnya kalau sudah dicap jelek, mau menggombal seperti apapun pasti disalah artikan.

Nasib, pikir Kris.

“jadi kapan kau melamar Jiyeon, Kris?” tanya tuan Wu disela-sela acara makan malam keluarga. Jiyeon menoleh ke arah Kris dan tersenyum tipis.

“nanti” jawaban pendek Kris membuat senyum tipis di wajah Jiyeon memudar berganti dengan wajah datar Jiyeon. Nyonya Wu yang melihat Jiyeon langsung mengelus punggung tangan Jiyeon yang duduk disebelahnya.

“apa tidak ada kata lain selain ‘nanti’ Kris? Memangnya apa sih yang membuatmu berlama-lama berpacaran dengan Jiyeon?” tanya tuan Wu sambil melihat anak lelakinya itu.

“aku punya rencanaku sendiri dad” jawaban Kris membuat semuanya terdiam. Tuan Wu memang mempercayai anaknya dalam berhubungan, terlihat sekali kalau dua sepasang sejoli ini sangat serius dengan hubungan mereka, tapi yang masih jadi kendala adalah ketidaktegasan Kris dalam meminang Jiyeon.

Memangnya apa sih yang ditunggu? Kedua keluarga sama-sama sudah kenal dengan baik, sering berlibur bersama bahkan sering mengadakan jamuan makan malam bersama yang menjurus ke arah pembicaraan pernikahan Kris dan Jiyeon, namun Kris terlihat enggan membahasnya lebih lanjut.

.

.

“kau marah gara-gara tadi?” tanya Kris sambil menggengam tangan Jiyeon. Saat ini mereka berdua sedang menikmati indahnya malam di taman yang tak terletak jauh dari sungai Han.

Jiyeon menoleh dan tersenyum.

“tidak, aku tau kau pasti akan menjawabnya seperti itu” jawab Jiyeon yang menetralkan nada suaranya.

Kris berhenti berjalan dan menghadapkan dirinya paada Jiyeon, menggenggam tangan Jiyeon dan mencium punggung tangannya.

“aku mencintaimu sungguh, tapi aku mohon bersa—“ ucapan Kris terpotong saat matanya menatap kebelakang Jiyeon dengan serius. Jiyeon yang melihat keanehan Kris ikut menoleh dan langsung menyetel wajah datarnya.

Apalagi sih yang dilihat Kris kalau bukan wanita?

“Jiyeon aku rasa wanita itu sedang marah dengan pacar—aduuuh!” Kris mengadu kesakitan saat Jiyeon menoyor kepalanya dengan tas kecilnya. Jiyeon beranjak pergi dari sana dengan langkah yang besar. Kris mengikutinya dari belakang.

“sayang, maaf aku tadi hanya spontan melihatnya dan—“ kata-kata Kris terpotong saat Kris melihat sekertaris kliennya itu berpapasan langsung denganya.

Jiyeon menoleh ke belakang dan menghentakan kakinya kesal, dasar Kris! Matanya selalu tau radar wanita cantik.

“Kris berengsek!” seru Jiyeon dan membuat Kris menoleh ke arahnya, segera Kris berjalan cepat di belakang Jiyeon lagi yang sudah berjalan didepannya lagi.

“aduh sayang, jalan pelan-pelan dong! Nanti ja—“

“aawww”

“—tuh kan jatuh!” sambung Kris saat melihat Jiyeon terpeleset akibat sepatu stilettonya. Kris berjongkok dan mengelus kaki Jiyeon yang sepertinya sedikit terkilir itu.

“naiklah” akhirnya mau tak mau Jiyeon menerima gendongan Kris dan melingkarkan kedua tangannya di leher Kris. Berjalan pelan Jiyeon menyandarkan kepalanya ke pundak kanan Kris dan bernyanyi pelan.

“Kris”

“hmm”

“Kris”

“hmm”

“Kris”

“ya sayang”

“Kris”

“kenapa?”

Jiyeon terkekeh, perasaan kesalnya tadi sudah hilang entah kemana hanya dengan mendengar suara berat Kris yang Jiyeon sukai itu.

“Kris apa kau tau murid-muridku di sekolah tadi bertanya yang macam-macam, mereka cerewet sekali sampai-sampai aku kebingungan  menjawabnya” curhat Jiyeon sambil bercerita, dan Kris sesekali bertanya dan menjawabnya.

“…….menurutmu, apa yah yang harus kubuat untuk kerajinan tangan nanti?” tanya Jiyeon setelah panjang lebar bercerita.

Hening

Jiyeon mengernyitkan dahinya dan memajukan wajahnya ke arah Kris dan oh Tuhaaan! Dari ekor matanya Jiyeon tau Kris sedang memperhatikan segerombolan wanita yang sedang bersenda gurau di depannya.

“akkhh—“ Kris berteriak saat Jiyeon menjambak jambul Kris itu. Jalan Kris tak tentu arah, sempoyongan ke kiri dan ke kanan akibat jambakan Jiyeon yang luar biasa sakitnya.

“sayang—aahh ini sakit!” adu Kris namun Jiyeon tak menghiraukannya, seakan belum puas kekesalannya, Jiyeon segera menutup mata Kris dengan telapak tangannya dan membuat Kris tak bisa melihat jalan dengan benar sampai—BRUUKK!

Keduanya terjerembab di tanah dengan muka keduanya menghantam tanah. Beberapa orang yang berada disekitar mereka tertawa terbahak bahak melihat pasangan yang aneh dengan mempermalukan dirinya sendiri.

…………….

Semenjak insiden tersebut Jiyeon mengibarkan bendera perangnya yang dibalas sama oleh Kris. Keduanya saling diam, tidak berkirim pesan, tidak mengabari, tidak menelepon dan tidak ada pertemuan selama dua minggu berjalan ini.

Biasanya Kris yang akan meminta maaf setelah sehari mereka bertengkar, namun Kris tidak muncul dengan mata yang jelalatan itu, akhirnya Jiyeon menyimpulkan bahwa Kris juga berfikir sama dengannya.

Perang.

Jiyeon mehana dirinya untuk tidak segera ke kantor Kris dan membawakan makan disertai kecupan-kecupan bibirnya untuk Kris, dan Kris menahan mati-matian rasa rindunya pada kekasihnya tersebut.

Jika Jiyeon menahan diri karena terlalu sebal dengan sifat Kris, disatu sisi Kris sebenarnya sudah berniat minta maaf setelah kejadian jatuh bersama di taman itu tapi egonya menolak dan dia harus segera menyelesaikan suatu hal sebelum menghadap pada Jiyeon.

.

.

Jiyeon diajak Luna dan Suho menonton pertandingan baseball di akhir pekan, awalnya Jiyeon menolak. Masa melihat pertandingan diantara kedua pasangan itu, tapi atas desakan Luna akhirnya Jiyeon menyetujuinya.

Sorakan demi sorakan terdengar membahana dalam stadiun baseball tersebut, kedua suporter tim lawan saling bersorak senang jika tim kesayangannya mendapatkan poin.

Begitu juga dengan Jiyeon yang berteriak tak kalah kencangnya. Pada menit-menit menjelang pertandingan berakhir, Luna dan Suho pamit ke kamar mandi dan menyuruh Jiyeon agar menunggu mereka disana, tidak boleh pergi kemanapun.

Pertandingan berakhir dan Jiyeon baru menyadari kalau kedua temannya itu belum datang juga. Para penonton pergi satu persatu, hanya menyisakan beberapa orang yang saling berjauhan di dalam stadion yang luas tersebut.

“ya! Kau dimana?” tanya Jiyeon saat Luna mengangkat panggilannya

“masih di toilet, kau tunggulah disana, jangan pergi kemanapun” Ujar Luna

“cepatlah, aku sendirian di bangku section ini”

“iya iya, tunggu saja”

Sambungan terputus, Jiyeon memasukan ponselnya dan menghela nafasnya. Di lapangan terlihat beberapa orang yang sedang memunguti berbagai confetti dari pertandingan tadi, ada beberapa satpam dan tunggu! Mata Jiyeon menangkap seseorang yang dari seberang lapangan sana berlari.

Bukan gaya berlarinya yang terlihat aneh, hanya saja wajah orang itu. Iya, tidak salah lagi, orang itu adalah Kris. Pacar jelalatannya yang tidak dilihatnya selama lebih dua minggu ini.

Kris berhenti di tengah lapangan, seseorang membawakannya sebuah michropone.

“hai”

Jiyeon memasang wajah datarnya, ‘hai?’ ke siapa orang itu berbicara. Bahkan stadion sudah sepi hanya ada beberapa orang petugas.

“hai Jiyeon”

Jiyeon masih terdiam, bukankah yang bermana Jiyeon banyak. Pasti Kris memanggil Jiyeon yang lain, tapi pertanyaanya stadion sudah sepi.

Apa author perlu ulangi lagi?

STADION SUDAH SEPI!

Jiyeon berdiri dari duduknya dan menatap Kris dengan pandangan menilai, apa yang akan dilakukan pacarnya itu.

“kemarilah Park Jiyeon” ucap Kris. Jiyeon masih bergeming di tempatnya. Bukan apa-apa, dari tempatnya duduk ke arah Kris itu jauh, belum lagi Jiyeon masih harus turun dari bangku satu ke bangku lainnya. Malas kan?

“kau tidak mau kemari?” terdengar helaan nafas dari Kris. “baiklah, aku yang akan kesana” ujar Kris sambil melangkahkan kakinya. Dari tempatnya, Jiyeon terkekeh mendengar ucapan Kris, bertanya sendiri dijawab sendiri.

.

“kau ini kenapa tidak mau ke tengah lapangan sih!? Padahal kan lapangannya sepi, aku tau kamu malu. Makannya aku pilih waktu saat semua penonton sudah pergi, lagipula kalau banyak penontonnya nanti mataku yang indah ini jelalatan” ujar Kris panjang lebar, Jiyeon memutar bola matanya malas.

“Ji—“ ucapan Kris berhenti saat material lembut yang sangat Kris rindukan mendarat pas di bibir tipisnya, apalagi kalau bukan bibir merah alami Jiyeon. Saking kangennya Kris, dia sampe kalap melakukan french kiss yang menyebabkan Jiyeon menginjak kakinya dengan kencang.

“ishh aku kangen sayang” ujar Kris sambil mencebik, Jiyeon mencibir.

“ada apa kau kesini? Bukankah kita masih perang?” tanya Jiyeon sarkatis, Kris meringis mendengarnya.

“tadinya aku mau mengajakmu menikah disana, seperti di drama-drama yang kulihat saat si lelaki mengajak pacarnya menikah, tapi kau tidak mau ke tengah jadi—eh kemana?” tanya Kris saat Jiyeon menyeretnya turun dari bangku penonton.

“ke tengah” Kris terkekeh, mendengar kata ‘nikah’ saja Jiyeon langsung sumringah. pacarnya ini memang ajaib.

Ditengah lapangan,

“mana cincinya?” Jiyeon mengulurkan tangan kanannya kehadapan Kris. Kris terdiam dan kemudian menepuk jidatnya, ternyata dia lupa kalau mengajak menikah itu harus menyiapkan cincinya.

“ya Tuhan sayang, aku lupa menyiapkan cincinnya. Maaf”

Jiyeon memberengut, lupa sih lupa. Tapi kalau melamar pacar tanpa cincin itu sama saja dengan makan tanpa lauk. Apa ini kekurangan Kris selanjutnya? Pelupa?.

Sebelum Jiyeon marah, Kris buru-buru mengeluarkan sebuah map yang membuat Jiyeon mengernyit keheranan.

“maaf sayang, aku memang benar-benar lupa dengan cincinnya tapi aku memberikanmu hal lain sebagai pengganti cincinya” Kris menyerahkan map tersebut pada Jiyeon. Jiyeon membukanya dan membaca isinya dengan teliti.

Mulutnya terbuka dan matanya melotot dengan hebatnya, dipandanganginya Kris dan map tersebut bergantian. Rasa-rasanya Jiyeon tidak akan mempercayai apa yang ia baca, tapi ini sungguh nyata.

“jadi—kau?” setetes air mata keluar dari mata indah Jiyeon. Kris yang melihatnya buru-buru menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.

“iya, maafkan aku sayang. maaf karena membuatmu menunggu” ujar Kris. Jiyeon tidak tau apa yang harus ia katakan, hatinya terenyuh dan terlalu bingung dengan keadaannya.

Bgaiamana tidak, ternyata Kris lama melamarnya karena Kris sedang membangun rumah kecil impian mereka yang nantinya untuk diisi dengan keluarga mereka kelak –well jika Kris menyebutkan rumah bergaya victoria itu kecil-, dengan taman bunga dan kolam renang yang Kris rancang untuk Jiyeon dan anak-anak mereka.

Tidak sampai disitu, Kris juga berjuang demi perusahaan yang sekarang sudah ayahnya serahkan atas namanya lima tahun terakhir ini, dan Kris membalikan perusahaan tersebut atas nama Jiyeon sebagai pemiliknya beserta berbagai bisnis lainnya yang mengatasnamakan dirinya, dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengurus surat-suratnya.

“kau tau, aku bahkan mengukir namamu di punggungku, milikmu” bisik Kris

“kau seharusnya tidak perlu melakukan hal ini” ucap Jiyeon disela isak tangisnya di pelukan Kris yang sedang membelai rambutnya.

“aku hanya ingin menegaskan kalau apa yang kumiliki adalah milikmu sayang” ujar Kris lembut. Hati Jiyeon menghangat, inilah Kris yang sebenarnya, minus dengan mata jelalatannya.

“tapi aku hanya butuh kamu, bukan hartamu Kris” ujar Jiyeon. Kris terkekeh.

“yasudah kalau begitu kita nge-kost saja” setelahnya Kris mendapatkan cubitan pada pinggangnya.

“ya maksduku bukan begitu—“

“ya ya ya aku tau sayang” Kris semakin mempererat pelukannya pada pacar tercintanya—ah bukan, pada calon istrinya ini. Setelah cukup lama berpelukan keduanya saling berpandangan dan terkekeh geli.

“bersiaplah, nanti malam kita menikah” Jiyeon membulatkan matanya saat mendengar penuturan Kris. Selain matanya yang jelalatan, sifat pelupanya, ternyata Kris juga egois, semanunya sendiri. Tapi Jiyeon menyukai Kris apa adanya.

………..

Wedding day,

Di sebuah gereja bergaya eropa sepasang mempelai pengantin sedang tersenyum bahagia, setelah pastur mengesahkan mereka sebagai pasangan suami istri keduanya sekarang sedang menyematkan cincin di jari masing-masing.

Jiyeon menyematkan cincin ke jari Kris, dan tersenyum senang. Akhirnya hari yang dinantikannya terjadi, menikah dengan orang yang sangat ia cintai, memberikan darah di keturunannya kelak dengan orang yang dicintai, dan menjadi rumah bagi orang yang dicintai.

Namun,

Jiyeon terdiam saat Kris berhenti dari gerakan tangannya saat akan menyematkan cincin di jari manisnya. Jiyeon mengernyitkan dahinya. Tunggu! Apa kambuh lagi?.

Jiyeon menoleh ke belakang dan mendapati segerombolan penyanyi berjenis kelamin perempuan yang sedang duduk menyaksikan sakralnya acara. Ohh, si mata jelalatan Kris ternyata kambuh lagi.

“WU.YI.FAN” ucap Jiyeon dengan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Kris segera tersadar saat Jiyeon menoyor kepalanya dan kembali menyematkan cincin di jari Jiyeon.

~hap~

Acara melempar bunga selesai, Jiyeon dan Kris digiring masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke sebuah penginapan yang sudah mereka pesan.

“kau.tidak.mendapatkan.jatah” bisik Jiyeon sebelum mereka masuk kedalam mobil. Kris terpaku. Apa jatah?? Hahaha Kris tertawa sumbang dan mengulang pernyataan Jiyeon tadi.

“sayaaaaaang” Kris segera menyusul Jiyeon sambil berteriak heboh.

Fin.

Epilog.

2 tahun kemudian….

“sayang, matanya”

“sayaaaaang, matanya”

Kris geram setengah mati saat mata Jiyeon tak berhenti memperhatikan para lelaki dengan setelan jas kantorannya yang berseliweran di depannya. Kris akan menjadi pembicara dalam acara seminar bisnis untuk para pembisnis pemula dan Jiyeon ngotot ikut.

“Kris, ini kemauan si dedek bayi. Apa kau tidak mengerti?” seru Jiyeon sambil menunjuk perutnya yang membuncit.

Sudah dua bulan ini permintaan Jiyeon membuatnya ingin menelan semua lelaki dengan bulat-bulat. Padahal kandungan Jiyeon sudah sembilan bulan sekarang, tapi keinginannya menyebalkan. Jiyeon sekarang suka sekali melihat lelaki, dimanapun berada.

Bahkan pernah Jiyeon ingin sekali melihat Jongdae seharian penuh yang membuat Kris geram setengah mati pada sekertarisnya itu, padahal Jongdae tidak tau apa-apa. Kemarin saja, Jiyeon ngotot ingin melihat fashion show hanya karena model prianya. Cih, memangnya mempunyai suami setampan dirinya kurang?

Helooowww….

“berhentilah menatap mereka seperti ingin menyeret mereka ke kamar!” geram Kris saat tatapan Jiyeon sangatlah intens pada seorang lelaki berdiri dengan kikuk karena ditatap oleh Jiyeon.

“kim.Jong.In” eja Jiyeon pada name tag peserta seminar.

“Jiyeon..matanya, matanya tolong dijaga”

“sayang, aku itu sedang menikmati ciptaan makhluk Tuhan. Berhentilah merengek” ujar Jiyeon mengembalikan kata-kata Kris yang sering ia lontarkan. Semenjak Jiyeon hamil, Kris tidak melakukan keanehannya lagi dalam melihat wanita lain, baginya Jiyeon jauh terlihat lebih seksi dan menggairahkan saat menikah ditambah hamil, berkali lipat.

Kris menarik Jiyeon berdiri dan menuntunnya keluar

“loh! Kau kan belum mengisi acaranya” heran Jiyeon.

“tidak perlu, aku risih dengan tatapanmu. Kalau kau mau melihat yang tampan dan seksi di rumah ada” jawaban Kris membuat Jiyeon bingung

“siapa sayang?”

“aku! Nanti aku akan bertelanjang dan menari striptease bila perlu, kalau hal itu membuatmu diam dan bungkam” lanjut Kris lagi. Jiyeon tersenyum girang dan langsung memeluk Kris.

“itu baru Krisku” ujar Jiyeon dan mengecup bibir Kris sekilas

“oh iya, besoknya kau bawa Kim Jong In itu juga ya untuk menari bersama”

“JIYEOOOOOONN!”

Fin.

39 responses to “[FREELANCE – ONESHOOT] My Naughty Man

  1. Hahahaha,,,lucu ceritanya,,,si kris matanya heboh banget ngeliatin cewek. Sekalinya jiyeon yg kyk gtu dia malah kalang kabut
    Hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s