[Chapter – 4] Knock to My Heart

knock to my heart

Prev: 1 | 2 | 3

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their families.

Sorry for typos 😀

Happy Reading

Jiyeon penasaran pada Myungsoo yang meminta bantuannya. Kira-kira Myungsoo minta bantuan apa? Meski agak ragu untuk membantu Myungsoo, Jiyeon tetap bersedia membantu laki-laki yang selalu ada di dalam hatinya itu.

“Katakan kau mau membantuku, Park Jiyeon,” kata Myungsoo sedikit memaksa.

“Kenapa kau agresif begitu? Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?” tanya Jiyeon dengan mengerutkan keningnya.

Myungsoo tersenyum senang. “Akhirnya kau mau membantuku.” Myungsoo menatap Jiyeon yang berdiri di sampingnya. “Begini, kau menyamarlah menjadi seseorang kemudian berpura-puralah menjadi kekasihku. Eotte?”

“Apa kau sudah gila?”

“Gila apanya? Aku masih waras. Aku ingin kau menyamar menjadi kekasihku tetapi bukan sebagai dirimu sendiri. Pulang sekolah ikutlah denganku.”

“Yaak, Kim Myungsoo!” bentak Jiyeon. Dia kesal sekali pada  Myungsoo yang seenaknya saja minta bantuan yang gila seperti itu.

“Apa? Kalau kau tidak mau, tidak boleh. Pokoknya harus mau!” paksa Myungsoo.
Jiyeon menggeleng tak percaya. Kim Myungsoo adalah orang yang sangat menyebalkan. Dia heran kenapa dirinya bisa mencintai  laki-laki macam Myungsoo.
“Baiklah, pulang sekolah aku ikut denganmu.”
“Bingo! Aku akan membantumu memberesi bangku-bangku ini.” Myungsoo segera beranjak dari kursinya dan membantu Jiyeon memberesi bangku-bangku di dalam kelas itu.
Jiyeon hanya menatap heran pada Myungsoo yang semangat membantunya menata banyak bangku itu.

Myungsoo dan Jiyeon pulang bersama. Eits, tunggu dulu. Rupanya Myungsoo mengajak Jiyeon pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Jiyeon. Tempat itu adalah salon kecantikan. Ya, sesuai rencana Myungsoo, Jiyeon akan diubah menjadi sosok wanita cantik dan sexi seperti idol girlband yang terkenal di Korea Selatan.

Motor keren milik Myungsoo berhenti di depan sebuah salon terkemuka di kota Seoul. Myungsoo tahu tempat itu dari saudari sepupunya yang sekolah di SMA Jaeguk, Kim Ji Won. Ji Won pernah mengajak Myungsoo untuk menata rambutnya yang pada saat itu bisa dikatakan gondrong. Panjang rambut Myungsoo menutupi telinganya. Ji Won kesal padanya karena tampang Myungsoo dengan rambut sepanjang itu tak lebih baik dari seekor kambing.

“Aku punya kenangan menyebalkan di tempat ini. Jadi, kau harus menuruti apapun yang mereka katakan. Jangan membantah karena aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini.”

“Memangnya kenapa?” tanya Jiyeon dengan polosnya.

“Sudahlah, aku tidak akan menceritakannya karena hal itu sama sekali tidak penting. Masuklah! Aku menunggumu di sini.” Myungsoo mengambil tempat duduk di ruang tunggu, di bagian depan salon itu.

Jiyeon berjalan pelan masuk ke dalam salon. Baru pertama kali ini dia masuk ke dalam salon. Sebelumnya, Jiyeon hanya menata rambutnya biasa saja. Paling banter, dia meminta Gyu Ri untuk menata rambutnya yang sepanjang bahu.

Dua jam telah berlalu begitu saja. Myungsoo sampai tertidur saat menunggu hasil kerja para Hair Stylist di salon itu.

“Kim Myungsoo! Ireona!” Jiyeon menyenggol lengan Myungsoo yang ia gunakan untuk menyangga kepalanya.

“Oh!” Myungsoo tergagap dan mengucek kedua matanya. Pandangannya masih sedikit kabur namun dia berhasil menangkap sosok cantik yang berdiri di depannya. Saat pandangannya semakin jelas, Myungsoo terkejut melihat perubahan pada penampilan Jiyeon. Dia kagum sekali melihat yeoja cantik berdiri di depannya dengan penampilan style modern layaknya seorang anggota girlband.

“Kau melihatku seperti melihat hantu,” gerutu Jiyeon saat Myungsoo tak berkedip melihatnya.

“Sudah selesai?” tanya Myungsoo dengan tampang sedikit bodoh.

Jiyeon mengangguk. “Bolehkah aku pulang?”

“Kenapa pulang? Kau baru saja mau beraksi, jadi jangan pulang begitu saja,” sahut Myungsoo yang tak mengetahui bahwa sebenarnya Jiyeon ingin pulang karena perutnya keroncongan belum menyantap makan siang.

“Aku ingin pulang dulu,” rengek Jiyeon.
“Yaak! Kau tidak boleh pulang sebelum membantuku.”
“Kim Myungsoo….” panggil Jiyeon saat Myungsoo telah berjalan beberapa meter di depannya. Mereka keluar dari salon itu.
Myungsoo menghentikan ayunan langkah kakinya. “Wae?”
“Kalau tidak boleh pulang, tolong biarkan aku makan dulu.” Tampang Jiyeon memelas hingga membuat Myungsoo menggeleng tak percaya bahwa gadis seanggun Jiyeon merupakan gadis yang suka makan.
“Baiklah, kita makan di restoran depan itu. Aku yang traktir.” Myungsoo menunjuk ke arah restoran China yang berada tepat di depan salon itu. Mereka berdua berjalan kaki menyeberangi jalan raya yang begitu ramai.

Saat sampai di depan restoran itu, tiba-tiba Myungsoo berhenti. Hal itu membuat Jiyeon bertanya-tanya dalam hati.
“Kenapa? Tidak jadi?” tanya Jiyeon memberanikan diri. IQ-nya di atas Myungsoo, jadi dia harus belajar menjaga gengsi. Mana mungkin seorang siswa akselerasi bisa merendahkan diri di depan seorang siswa biasa. Setidaknya ada kelebihan dalam dirinya, itulah yang dipikirkan oleh Jiyeon.

“Bukan begitu. Apakah kau yakin ingin makan di tempat itu? Lihatlah! Tempat itu ramai sekali. Aku takut kalau pesanan makanannya tidak segera diantar karena aku tidak suka menunggu makanan yang lama tidak diantar.”

Jiyeon mendesah sedikit kesal. “Baiklah, aku saja yamg makan. Kau tidak perlu mentraktirku.” Jiyeon melangkahkan kakinya yang beralaskan sepatu heel setinggi 10 cm. Baru dua langkah dia berjalan ke arah pintu masuk restoran China itu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.

“Waeyo? Kenapa berhenti?” tanya Myungsoo heran. Tadi Jiyeon bersemangat makan di restoran itu namun sekarang malah berhenti di depan pintu.

“Bagaimana kalau kita makan samgyupsal di kedai kelontong?” usul Jiyeon yang baru saja mendapat ide. “Tidak ada salahnya kita makan di sana. Aku terbiasa makan di tempat seperti itu.”

“Mwo?” Myungsoo terkejut. “Bukannya tidak mau, aku hanya….”

“Baiklah, aku makan sendiri. Kau tidak perlu mengikutiku!” Kini Jiyeon melangkah pergi meninggalkan Myungsoo yang masih mematung di depan restoran China. Namun pada akhirnya, ia pun menyusul Jiyeon dengan motor kerennya.

Hanya memerlukan waktu lima menit untuk perjalanan menuju kedai kelontong terdekat. Myungsoo memarkir motornya di depan kedai. Motor keren itu tampak mencolok dan kelihatan betapa mahalnya harga benda keras itu.

“Kim Myungsoo!”
Terdengar suara seorang namja yang tentu saja tidak asing di pendengaran Myungsoo dan Jiyeon. Keduanya mencari sumber suara.
“Kenapa suara jelek itu ada di sini?” gumam Myungsoo kesal karena dirinya kepergok bersama Jiyeon dan berdiri di depan kedai kelontong pula.
“Bukankah itu Eden?” Jiyeon bertanya pada Myungsoo. Dia melihat dua orang namja yang berada di dalam sebuah mobil mewah.

“Waaah, keren! Seorang Kim Myungsoo makan di tempat seperti ini,” ejek Eden saat mobilnya sampai di depan Myungsoo dan Jiyeon.

“Berhentilah mengejekku. Omo! Dia….”
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Myungsoo sewot.
“Yeojachingu?” tanya Eden tak percaya melihat Myungsoo bersama seorang gadis cantik.
“Memangnya kenapa? Kau ingin menjodohkan diriku dengan Suzy?” tanya Myungsoo tak kalah sewot.

Eden belum menyadari kalau gadis cantik yang berdiri di samping Myungsoo adalah Jiyeon. Dia memang tak begitu mengenal Jiyeon dan hanya bertemu dengannya dua kali. Itupun secara tidak sengaja.

“Park Jiyeon?”
Mata indah Jiyeon terbelalak melihat orang yang berada di dalam mobil Eden yang tidak lain adalah Jungkook. Sebagai tetangga dan teman masa kecil, Jungkook sangat mengenal Jiyeon. Bagaimana diamnya Jiyeon, penampilannya, bahasa tubuhnya, dan hampir semua tentang Jiyeon sudah melekat di dalam kepalanya.

“Yaak! Kau benar-benar Park Jiyeon? Aigoo….” Jungkook terkejut melihat penampilan Jiyeon yang berubah 180 derajat dari biasanya. Dia membuka seluruh kaca mobil yang ada di sisinya untuk bisa melihat Jungkook dengan jelas.

Rona wajah Jiyeon berubah merah seperti tomat. “Jung….”
“Yaaak! Jeon Jungkook! Anak kecil dilarang keluyuran!” seru Myungsoo untuk mengalihkan perhatian Jungkook.

“Apa urusanmu? Jiyeon-a, pulanglah! Jangan keluyuran dengan Myungsoo!” pinta Jungkook yang tidak menyadari kalau dirinya lah yang seharusnya pulang. Jungkook lebih muda beberapa bulan dari Jiyeon.

Jiyeon hanya terdiam. Benar apa kata Jungkook. Dia harus pulang. Tapi saat ini dia harus menepati janji untuk membantu Kim Myungsoo. Mungkin ini akan menjadi bantuan terakhir darinya. Jiyeon harus menahan hatinya yang masih berdebar jika melihat Myungsoo atau berada di dekat namja itu. Jiyeon memang berpura-pura melupakan perasaannya yang ia yakini tak akan terbalas oleh Myungsoo. Tapi keliatannya hal itu tidak berlaku bagi Myungsoo. Namja itu kelihatan telah melupakan perasaan Jiyeon dan kejadian saat hujan tempo lalu di mana Jiyeon menunggunya hingga menggigil kedinginan dan pingsan.

“Aku akan pulang setelah ini,” ungkap Jiyeon dengan tenang.

Jungkook hanya mengangguk bahwa dia mengerti ucapan Jiyeon. Sebenarnya si Jung lebih memihak pada Jiyeon dan ingin gadis itu dekat dengan Myungsoo. Tapi apalah daya, teman-temannya lebih memilih Suzy untuk menjadi kekasih Myungsoo. Jungkook tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya pasti kalah. Usianya merupakan yang termuda di kalangan gengnya.

“Hyung! Antarkan dia pulang sampai di rumah!” Jungkook meminta Myungsoo mengantarkan Jiyeon sampai di rumahnya. Jiyeon kaget mendengar hal ini.

Tiba-tiba Eden melirik tajam ke arah Jungkook. Magnae geng itu pun langsung diam dan tak berani berkutik.

“Besok kita main ke rumah Suzy. Eotte?” usul Eden.

Jiyeon, Myungsoo, dan Jungkook membelalakkan mata mereka. Lagi-lagi Eden ingin menjodohkan Myungsoo dengan Suzy.

“Apa? Aku tidak mau!” ketus Myungsoo.

“Hyung! Untuk apa lagi kita ke sana?” tanya Jungkook.

“Hanya berkunjung. Aku akan menunggu kalian di tempat biasa,” kata Eden dengan ekspresi menyebalkan.

“Sudahlah, pergi sana? Kalian menghancurkan rencanaku.” Myungsoo menyuruh Eden segera enyah dari tempat itu. Tak lama kemudian Myungsoo membalikkan badan dan berjalan menuju kedai yang menjadi tujuan Jiyeon.

Jiyeon ingin menyusul Myungsoo. Saat hendak membalikkan badan, tiba-tiba Eden memanggilnya.

“Yaak! Jiyeon-a!”

Jiyeon menoleh ke arah Eden.

“Katakan pada temanmu bahwa aku tidak ingin putus dengannya. Kami tidak bisa putus secara sepihak,” kata Eden dengan jelas.

Jiyeon mengerutkan keningnya. Kata-kata dari Eden menyimpulkan bahwa Ahreum telah memutuskan hubungan dengan namja itu. “Gurae,” kata Jiyeon singkat lalu berbalik menyusul Myungsoo.

Jiyeon dan Myungsoo telah selesai mengisi perut mereka yang keroncongan. Myungsoo merasa puas menikmati makanan hasil masakan kedai pinggir jalan yang ternyata tidak kalah enak dengan makanan restoran.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jiyeon pada Myungsoo yang memegang perutnya.

“Aku sudah kenyang. Ternyata tempat ini bagus juga. Aku akan datang ke sini lagi di lain waktu.”

“Baiklah, datang saja. Lalu apa yang kau inginkan dariku? Bukankah kau bilang ingin minta bantuanku?” Jiyeon sudah jengah atas sikap Myungsoo.

Myungsoo tersenyum. “Kau tidak sabar?” tanya Myungsoo saat menghidupkan mesin motornya. Tak berapa lama kemudian, Jiyeon naik dan duduk di atas jok belakangnya.

“Bukan begitu,” jawab Jiyeon datar. Ingin rasanya dia mengatakan pada laki-laki yang duduk di depannya itu untuk segera menjauh darinya. Hatinya bukan batu yang tak bisa merasakan sakit.

Motor milik Myungsoo melaju dengan kecepatan sedang. Laki-laki bermarga Kim itu menyadari kalau di belakangnya ada seseorang bisa saja celaka jika ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

“Ke mana?” tanya Jiyeon penasaran.

“Ke tempat nongkrong Bae Suzy dan gengnya.”

“Mwo? Kenapa kau mengajakku ke sana?”

“Tenang saja. Lihat apa yang aku lakukan nanti.”

Jiyeon diam dan mencerna maksud dari kata-kata Myungsoo. Pergi ke tempat Bae Suzy sama saja menggali kuburnya sendiri. Myungsoo pun tahu hal itu. Tapi dia malah mengajak Jiyeon bertemu dengan sekelompok gadis yang selalu menghina Jiyeon.

“Kenapa kau diam?” tanya Myungsoo yang sukses membuyarkan lamunan Jiyeon.

“Ah, tidak apa-apa,” jawab Jiyeon ragu.

“Kau takut akan dihina lagi?”

Jiyeon tak segera menjawab. Dia terlalu malu untuk mengungkapkan jawabannya.

“Kali ini tak ada yang bisa menghinamu. Yaak! Park Jiyeon! Di sekolah yang baru, hanya kau yang aku kenal. Jadi, tidak ada yang bisa mengejekmu.”

Deg!
Jiyeon merasa ada sesuatu yang tajam telah menusuk hatinya. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan setelah mendengar pernyataan dari Kim Myungsoo. ‘Ternyata hatinya tak berubah,’ batin Jiyeon sedih.

20 menit perjalanan telah ditempuh motor sport milik Kim Myungsoo. Jiyeon dan Myungsoo turun dari motor itu dan berjalan ke arah temat yang ramai oleh tawa riang anak-anak remaja. Ya, mereka telah sampai di tempat tujuan yaitu tempat berkumpulnya Suzy dan teman-teman gengnya.

Myungsoo sengaja datang ke tempat itu karena ingin menunjukkan sesuatu pada Suzy dam teman-temannya.

“Kim Myungsoo!” seru salah satu gadis, teman Bae Suzy yang mengenakan pakaian minim.

Myungsoo menolehkan kepalanya dan menatap gadis bernama Jung Eunji yang telah memanggilnya tadi. “Ada apa? Mana Suzy?”

“Kau mencariku?” tanya Suzy yang tiba-tiba muncul di depan Myungsoo dan Jiyeon. Dahinya berkerut saat melihat gadis yang tak kalah cantik darinya. Gadis yang memiliko tubuh langsing dan tinggi semampai ditambah wajah cantik dan rambut panjang indah, telah memancing emosi Suzy. “Kau yang membawa gadis ini ke sini?” tanyanya sinis.

“Kenapa? Apakah ada larangan membawa gadis cantik seperti dirinya?” tanya Myungsoo tak kalah sinis dari Suzy. “Aku datang ke sini untuk mengenalkan seseorang pada kalian agar tak ada yang menjodohkan aku dengan Suzy.”

Beberapa orang yang berkumpul di tempat itu terkejut dan penasaran pada Myungsoo.

“Yaak! Kim Myungsoo! Apakah dia kekasihmu?” tanya Jin yang selalu datang ke tempat itu setiap malam saat tak ada balapan.

“Eoh,” jawab Myungsoo singkat. “Dia kekasihku.”

Semua mata tertuju pada Jiyeon namun tak ada yang mengenali gadis cantik itu.

“Siapa namanya?” tanya Jin yang baru menyadari kalau ia terpana melihat kecantikan gadis yang datang bersama Myungsoo.

“Untuk apa kau bertanya begitu?” Aku tidak akan memberitahukanmu!” Myungsoo tak mengizinkan seorang pun menyentuh Jiyeon. Ia tidak ingin Jiyeon dilecehkan atau dihina seperti sebelumnya.

“Ya ampun! Wajahnya mirip sekali dengan seseorang yang tidak asing di sekolah kita,” kata Eunji yang menatap Jiyeon intens. Terkadang dia memberikan tatapan membunuh pada Jiyeon sehingga Jiyeon harus menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dengan gadis ketus seperti Eunji.

“Siapa?” tanya Suzy ingin tahu. Dia pasti akan membully siapapun yang berani mendekati Myungsoo apalagi gadis yang datang bersama Myungsoo itu diakui sebagai pacar Myungsoo.

“Sok tau!” ketus Myungsoo sewot. “Kau baru saja bertemu dengannya. Jangan mengaku-ngaku pernah bertemu dengan pacarku. Selama ini aku menyembunyikan hubungan kami agar dia tidak dibully oleh Eden dan kawan-kawan.”

Jin yang mendengar setiap kata dari Myungsoo, membelalakkan matanya. Pasti yang dimaksud oleh Myungsoo adalah dirinya dan anggota geng yang lain. Jin tak berani berkomentar karena Eden dan Jungkook tidak ada di sana.

“Kalau begitu, mari berkenalan! Namaku Bae Suzy, calon tunangan Kim Myungsoo.” Suzy mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Jiyeon. Ia juga mengangkat kepalanya saat mengajak berkenalan.

“Sombong sekali. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu,” gumam Myungsoo heran melihat perilaku Suzy yang kelewat batas.

Jiyeon menjabat tangan Suzy. Awalnya dia ragu untuk melakukannya, tapi setelah dipikir-dipikir, tak ada alasan untuk menolak berjabat tangan dengan gadis berambut panjang itu. “Eoh, aku Lee Rian.”

Semua mata tertuju pada Jiyeon yang baru saja menyebutkan nama samarannya. Saat ini dia sedang menyamar sebagai kekasih Kim Myungsoo, jadi dia harus pandai menjaga samarannya. Kalau  tidak, dia akan dibuat malu di depan umum oleh Suzy dan gengnya. Jiyeon berpikir bahwa apapun yang terjadi pada dirinya sama sekali tidak berpengaruh pada Myungsoo karena laki-laki itu bukanlah kekasihnya.

“Senang bertemu denganmu, Bae Suzy,” tambah Jiyeon.

Saat Jiyeon mengenalkan diri pada Suzy tadi, rupanya Oh Sehun juga melihat mereka berdua berjabat tangan. Sehun mengerutkan dahinya ketika ia menyadari bahwa Rian adalah Jiyeon. Wajahnya sangat mirip Jiyeon.

“Lee Rian! Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Sehun yang baru saja menghampiri Jiyeon yang masih berdiri di depan Suzy.

“Yaak! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan, eoh?” Myungsoo tidak terima kalau Sehun mengajak Jiyeon bicara empat mata. Dia berusaha menghalangi Sehun.

“Gwaenchana…” lirih Jiyeon pada Myungsoo.

Myungsoo menatap Sehun tajam seperti tatapan seekor elang saat melihat mangsanya. “Gurae, karena dia sendiri yang mau bicara denganmu, aku tidak akan menghalangimu lagi,” ujarnya pada Sehun yang tersenyum tipis.

Jiyeon dan Sehun menjauh dari kerumunan orang agar mereka bisa berbincang dengan leluasa. Jiyeon khawatir jika Sehun mengetahui perihal rahasianya.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Jiyeon dengan nada yang ramah.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”

Jiyeon mengerutkan dahi. Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan senyumannya. “Silahkan. Aku akan berusaha menjawabnya.”

“Baiklah. Apakah kau benar-benar kekasih Myungsoo?” tanya Sehun curiga.

Deg!
Jiyeon gugup dan lidahnya terasa kelu, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Sehun yang baru saja dilontarkan.
“Oh itu. Aku, aku….”

“Apa?”

Jiyeon tak melanjutkan kata-katanya. Dia berpikir sejenak. Ya, memikirkan kata apa yang akan dia keluarkan untuk menjawab pertanyaan Sehun.

“Aku tahu yang sebenarnya,” ucap Sehun tiba-tiba.

Jiyeon terkejut mendengarnya. “Yang sebenarnya? Tentang apa?”

Sehun tak menjawab. Laki-laki itu menatap Jiyeon nanar. “Berikan tasmu!”

“Untuk apa?” tanya Jiyeon gugup.

“Berikan saja!” perintah Sehun pada Jiyeon.

Dengan masih gugup, Joyeon menyerahkan tasnya kepada Sehun. Laki-laki itu langsung memeriksa isi tas Jiyeon dan mengambil ponselnya. Tak lama kemudian Sehun mengembalikan tas milik Jiyeon namun ponsel itu masih berada di genggamannya.

Kriiiing!! Kriiing!
Ponsel Jiyeon yang tengah berada dalam genggaman Sehun berdering.
Jiyeon tersentak kaget. “Oh Sehun…” lirihnya.

Rupanya Sehun menghubungi nomor ponsel Jiyeon menggunakan ponselnya sendiri. “Inilah yang aku maksud,” kata Sehun.

“K, kau… dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?” tanya Jiyeon yang semakin gugup.

“Aku mendapatkannya dari Dani,” jawab Sehun singkat. “Aku melihatmu dibonceng oleh Kim Myungsoo dengan motor sport-nya. Karena penasaran, aku memutuskan untuk mengikuti kalian berdua. Aku terkejut saat kalian berhenti di depan sebuah salon.

“Kau mengikuti kami?”

“Jika tadi kau melihat mobil Mercedez Benz berwarna merah, itulah mobilku. Kau pasti tak melihatnya. Jadi, aku tidak khawatir akan ketahuan oleh kalian berdua.”

Jiyeon melangkahkan kakinya beberapa langkah ke arah samping. Dia bersandar pada dinding sebuah bangunan. “Jadi, kau sudah tahu tentang penyamaranku?”

“Satu hal yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Mwoya?”

“Apa alasanmu melakukan ini semua? Kau bisa dibully oleh Suzy dan gengnya.”

Jiyeon tersinggung atas ucapan Sehun yang mangatakan bahwa dirinya akan dibully oleh Suzy. “Aku bukan gadis yang lemah. Jangan sembarangan menilai seseorang. Kau pikir aku tahan diperlakukan seburuk tadi di sekolah?”

Kali ini Sehun yang terkejut mendengar nada bicara Jiyeon yang tegas dan meninggi.

“Aku memang diam saja diperlakukan seperti tadi. Oke, aku bisa menahannya. Tapi bukan berarti semua orang boleh menganggap kalau aku gadis yang lemah yang hanya berlindung di balik nama Kim Myungsoo atau berlindung padamu, Oh Sehun. Aku… diam saja karena menurutku mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang iri atas keberhasilanku. Bukan bermaksud sombong, tapi…”

“Lupakan hal itu. Aku tidak membahas tentang perlakuan Suzy padamu. Katakan alasanmu berpura-pura menjadi kekasih Kim Myungsoo.”

“Mwo?” Jiyeon baru saja ingat kalau dirinya tak memiliki alasan yang masuk akal untuk membantu Myungsoo dengan berpura-pura menjadi kekasihnya. “I, itu karena… aku melakukannya karena….”

“Kau tidak memiliki alasan yang masuk akal, kan?”

“Bukan begitu. Oh Sehun! Ini semua bukan urusanmu. Aku bersedia menjadi kekasih bohongan karena kemauanku sendiri. Tak ada paksaan dari Myungsoo.

“Oh ya?  Apakah karena kau menyukainya?”

Deg!
“Sehun-a….”

Sehun menarik nafas dalam-dalam. “Aku pernah memiliki seorang teman dekat. APa yang dialaminya sama persis yang kau alami sekarang. Temanku mengejar cinta seorang laki-laki. Dia juga bersedia menjadi pacar bohongan, sama seperti dirimu. Perasaannya tak bisa dibuang begitu saja hingga akhirnya dia telh jatuh ke dalam jurang yang disebut dengan ‘Cinta  Buta’. Meskipun  mereka telah berpura-pura berpacaran selama beberapa bulan, si laki-laki itu sama sekali tak menaruh hati pada temanku. Dia patah hati dan akhirnya….”
Sehun memutuskan kalimatnya.

“Akhirnya dia bunuh diri?” tebak Jiyeon dengan ragu.

“Eoh. Aku takut kau akan mengalami hal yang sama dengannya. Jika tadi aku tak melihatmu dibonceng oleh Kim Myungsoo, mungkin aku percaya kalau kau adalah kekasih Myungsoo. Jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin  melindungimu. Laki-laki seperti Kim Myungsoo itu….”

“Apa? Laki-laki seperti Kim Myungso itu apa, eoh?” Jiyeon mulai kesal pada Sehun yang ingin menjelek-jelekkan Myungsoo di depannya.

“Playboy.”

Plaaakk!!
Jiyeon menampar pipi kanan laki-laki yang berdiri di depannya. Ia sudah tak bersandar lagi pada dinding selerti yang  dilakukannya beberapa saat yang lalu. “Jangan menjelek-jelekkan Kim Myungsoo di depanku!”

“Park Jiyeon….”

Jiyeon menutup kedua telinga dengan telapak tangannya. “Aku tidak ingin mendengar apapun  darimu.”

“Dengarkan dulu.”

“Tidak mau! Aku akan melupakan Kim Myungsoo, tapi bukan ini caranya. Jangan mengatakan apapun tentang Kim Myungsoo. Dia tidak seburuk yang kau kira.”

“Maaf. Maafkan aku, Park Jiyeon. Aku hanya….”

“Jangan katakan apapun tentang Myungsoo. Jangan pernah memberitahu siapapun  tentang penyamaranku ini. Aku menganggapmu sebagai teman yang baik. Tolong jangan membuatku merubah anggapanku terhadapmu.”

Deg!
Sehun terhenyak mendengar perkataan Jiyeon.

Myungsoo memutar bola matanya untuk mencari sosok Jiyeon. Dia telah menyesal membiarkan Sehun mengajak Jiyeon bicara empat mata dengannya. Rasa khawatir mulai menghinggapi pikirannya. Ya, khawatir jika penyamarannya Jiyeon diketahui oleh Sehun.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Suzy yang tiba-tiba menghampiri Myungsoo.

“Tidak ada urusannya denganmu,” jawab Myungsoo ketus. Kenapa Suzy menghampirinya?

“Kau mencari kekasih palsumu?”

“Dia kekasihku yang sebenarnya.”

Suzy tersenyum sinis. “Terserah.”

Myungsoo melirik tajam pada Suzy yang berdiri di sampingnya. Dia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Suzy.

“Kim Myungsoo!” panggil Suzy seraya menahan langkah Myungsoo dengan memegang tangan laki-laki itu.

Myungsoo tak bergerak sedikit pun, bahkan dia tak menolehkan kepalanya.

“Apakah kau akan terus bersikap dingin padaku?”

Myungsoo tersenyum sinis. “Tergantung dari sikapmu. Jujur saja, aku sangat tidak menyukai sikap dan sifatmu. Kita baru saja saling mengenal dan aku masih menganggapmu sebagai teman. Tolong jangan membuatku merubah anggapanku terhadapmu.” Myungsoo melepaskan tangannya dari pegangan tangan Suzy.

Suzy hanya bisa mendesah kasar melihat sikap Myungsoo yang terlalu dingin seperti es. Gadis itu mulai memikirkan kata-kata dari Myungsoo. Menurut banyak orang, dia adalah gadis berhati batu dan memiliki sikap yang buruk. Tapi dalam dirinya, Suzy merasakan kekeringan kasih sayang dan perhtian.

Myungsoo berjalan mondar-mandir ke segala arah untuk menemukan sosok gadis yang diajaknya menginjak tempat berkumpulnya geng Suzy itu. “Di mana Sehun menyembunyikan Jiyeon?” lirihnya seraya menapakkan kakinya di dekat gedung kafe yang bersebelahan dengan gedung apartemen Suzy. Myungsoo ingin menghubungi ponsel Jiyeon tapi dia baru ingat kalau tak ada nama Jiyeon dalam kontak ponselnya.

Myungsoo menuruti ke mana kakinya melangkah. Semua tempat sudah dia datangi namun Jiyeon belum dapat ditemukan. Dengan semangat yang menipis dan kekecewaan karena belum menemukan Jiyeon, Myungsoo melangkahkan kakinya ke suatu tempat di mana dia mendengar suara Jiyeon dengan samar-samar. Dia mendekati arah suara itu dan berusaha meyakinkan dirinya kalau suara itu memang benar suara Jiyeon. Tapi di mana gadis cantik itu?

“Jiyeon-a, aku harap kau tidak bernasib seperti temanku.”
Terdengar suara Sehun. Myungsoo yakin kalau Jiyeon dan Sehun berada di tempat itu. Dengn langkah kilat, Myungsoo meluncur ke tempat di mana Jiyeon berada. Tinggal beberapa meter lagi, Myungsoo bisa bertemu dengan Jiyeon. Namun sayang, Myungsoo menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Jiyeon.

“Jangan bicara seperti itu. Jika kau membicarakan itu lagi, berarti kau mendoakan aku celaka seperti temanmu.”

“Yaak! Kenapa kau menjadi seperti ini? Kau salah paham, Jiyeon-a. Baiklah, aku tanya satu pertanyaan terakhir padamu.”

Suasana hening sesaat sebelum Sehun mengeluarkan suaranya lagi untuk bertanya pada Jiyeon.

“Apakah kau menyukai Kim Myungsoo? Aku bisa menebak sorot matamu saat menatapnya. Kau menyukai Myungsoo?”

Deg!
Bagaimana Sehun bisa tahu kalau dirinya menyukai Myungsoo. Anhi, dia tidak hanya menyukai Myungsoo karena ingatan tentang laki-laki itu tak dapat dibuang sembarangan. Jiyeon berusaha mengumpulkan keberaniannya dan menghilangkan rasa groginya. “Ya, aku memang menyukainya sejak lama. Aku… tidak bisa melupakannya meskipun niatku untuk melupakan segala tentangnya sangat kuat.” Akhirnya kalimat itu keluar dengan lancar dari mulutnya.

“Benarkah?” Sehun mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “AKu benar-benar tak menyangka.”

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Tidak ada urusannya denganmu, Oh Sehun,” ketus Jiyeon.

“Jadi, perasaanmu bertepuk sebelah tangan?”

“Keumanhe! Kau tidak berhak menanyakan hal itu! Aku tidak ingin membahasnya lagi!” bentak Jiyeon karena dia tidak ingin mengingat rasa sakit yang dulu pernah hinggap di hatinya..

“Jiyeon-a….” lirih Sehun dengan membelai bahu Jiyeon.

Kedua manik mata Jiyeon berkaca-kaca. Gadis itu menahan tangisnya sekuat tenaga. Ia tidak boleh menangis di depan orang lain apalagi di depan Sehun. “Aku pamit. Malam semakin larut. Orangtuaku pasti sangat mencemaskanku.” Joyeon membalikkan badannya.

Saat Jiyeon hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Sehun buka suara.
“Kau tidak pantas mencintai seorang Kim Myungsoo. Dia tak pantas menerima cinta setulus cintamu, Park Jiyeon.”

“Sudah ku bilang, tak ada hubungannya denganmu. Tolong jangan ikut campur dalam masalah pribadiku.” Jiyeon melangkahkan kakinya menjauhi Sehun yang berdiri terpaku menatap kepergian Jiyeon.

“Aku hanya tak ingin nasibmu sama seperti temanku, Jiyeon-a. Laki-laki yang dicintainya sama dengan laki-laki yang kau cintai,” lirih Sehun yang tak dapat melihat punggung Jiyeon karena gadis itu telah melangkah lebih jauh meninggalkan dirinya.

Jiyeon berjalan gontai menuju tempat parkir. Pikirannya dipenuhi oleh cerita Sehun tentang temannya. “Apakah aku sebodoh temannya?” gumam Jiyeon.

“Apa yang kau bicarakan?”

Jiyeon tersentak kaget karena Myungsimoo sudah berdiri tegak di depannya.

“Aku mencarimu ke mana-mana tapi kau malah malang melintang entah ke mana. Ayo kita pulang!” Myungsoo menarik lengan Jiyeon dan menyuruhnya untuk segera nangkring di atas jok motornya.

“Ayo. Mataku sudah mengantuk,” balas Jiyeon.

Myungsoo pov
Aku terkejut sekali mendengar pembicaraan Jiyeon dengan Sehun. Aku kira Sehun menyatakan cintanya pada Jiyeon. Tapi ternyata dia menanyakan perasaan Jiyeon padaku. Park Jiyeon… kenapa kau masih menyimpan perasaan itu? Aku sadar tindakan bodohku waktu itu sungguh tak bisa dimaafkan. Aku juga tidak meminta maaf sama sekali pada Jiyeon. Sekarang aku tahu kalau Jiyeon masih memendam perasaannya padaku.

Tapi aku memang tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Hingga saat ini aku belum dapat menyukai seseorang sebagai seorang wanita. Aku trauma. Kejadian masa lalu telah menjadi mimpi buruk dalam hidupku. Aku tidak ingin kejadian itu menimpa Jiyeon ataupun Suzy.

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Myungsoo pov end

Kim Myungsoo telah mengantar Jiyeon pulang ke rumahnya. Saat berhenti di depan rumah Jiyeon, Myungsoo terperangah menatap rumah sederhana di balik pagar kayu yang berdiri di belakang tubuh Jiyeon. Baru pertama kali ini Myungsoo melihat rumah Jiyeon.

“Ternyata kau tinggal di sini. Aku sering main ke rumah Jungkook tapi tidak tahu kalau rumahmu sangat dekat dengannya,” kata Myungsoo berbasa-basi untuk menghilangkan canggung diantara mereka berdua. Ya, canggung yang mulai menggerayangi Myungsoo dan Jiyeon. Myungsoo merasa canggung karena dia telah mengetahui fakta bahwa Jiyeon masih menyukainya. Sedangkan Jiyeon canggung karena dia belum bisa melupakan perasaannya pada Myungsoo.

“Eoh. Maaf, aku tidak bisa memintamu mampir ke rumahku. Malam sudah semakin larut.”

Myungsoo menyunggingkan senyumnya. “Tidak apa-apa. Terimakasih sudah bersedia membantuku. Aku pamit,” kata Myungsoo yang sedang memutar arah roda motornya.

“Sama-sama. Aku senang bisa membantumu. Berhati-hatilah di jalan!” Jiyeon melambaikan tangannya pada Myungsoo yang semakin lama semakin menjauh dari hadapannya. Jiyeon menurunkan tangannya perlahan. “Terimakasih atas rasa sakit dan senang yang kau berikan,” ucapnya lirih. Tak berapa lama kemudian Jiyeon berbalik menuju pintu gerbang yang terbuat dari kayu.

Oh Sehun masih bertahan pada posisinya seperti waktu dia berbincang dengan Jiyeon. Pandangannya kosong dan hatinya begitu kecewa pada Jiyeon. “Apa salahnya kalau aku ingin melindunginya? Aku melakukannya karena tidak ingin dia bernasib sama dengan Irene yang meninggal karena frustasi.”

“Oh Sehun!”

Sehun terlonjak kaget karena tiba-tiba Suzy berdiri di depannya. “Yaak! Bae Suzy, apa yang kau lakukan di sini?”

“Seharusnya aku yang bertanya demikian. Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” Suzy beraandar pada dinding tempat Jiyeon bersandar tadi.

Sehun melirik ke arah Suzy yang tengah menutup matanya dan berdiri bersandar pada dinding. “Kau tampak lelah sekali.”

“Eoh. Jangan tanyakan alasannya. Aku terlalu malas membahas sesuatu yang mengesalkan,” jawab Suzy seenaknya saja. “Sehun-a, apa yang kau lakukan jika aku mendekatimu?”

“Aku akan menolakmu,” jawab Sehun singkat.

“Yaak!” Suzy membuka matanya dan memelototi Sehun dengan mata bulatnya.

“Tentu saja itu akan dilakukan oleh semua laki-laki. Sikap dan sifatmu sungguh menyedihkan. Tak bisakah kau merubahnya?”

“Kita sudah berteman cukup lama. Kenapa baru sekarang kau menyuruhku berubah?” tanya Suzy sinis.

“Karena baru sekarang aku melihatmu begitu kejam. Kau menindas siswi yang lemah. Kau dan gengmu seharusnya bisa bersikap lebih baik. Berubahlah sebelum terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

“Oh Sehun! Tumben sekali kata-katamu begitu bijak.”

“Suzy-a, aku serius.”

Suzy mengangguk kecil. “Eoh, aku mengerti maksudmu. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa sikapku seperti ini.”

“Alasan?”

“Eoh. Kau tidak perlu tahu alasannya. Sebelum aku berubah, aku akan membuat Jiyeon menderita dan menyesal telah pindah ke sekolah kita.” Senyum evil tersungging menambah kesan buruk pada Suzy.

“Apa yang akan kau lakukan pada Jiyeon?” tanya Sehun khawatir. “Apakah ini ada hubungannya dengan Kim Myungsoo?”

“Sedikit,” jawab Suzy tanpa tambahan kata lainnya.

Sehun mengerutkan keningnya dan menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh Suzy terhadap Jiyeon?
“Jika kau ingin menyakitinya, aku akan berdiri di depan Jiyeon untuk melindunginya.”

Suzy tercengang.

Tbc

39 responses to “[Chapter – 4] Knock to My Heart

  1. Ohh jd sehun am myung temen lama dan kejadian myung am jiyi itu dialami temen sehun juga , hah nape coba myung demen pacaran pura” apa kagak laku yeh , hahaha
    ohh biasa nya kl di ff itu suka jelas detail nya tentang penampilan gtu , tapi disini gg tau” berubah aja , iya seh aq tau biar gg banyak basa basu nya yeh ,

  2. Myungsoo pabo pabo pabo ><
    Jiyeon sama sehun aja deh xd
    Tapi sehun ke jiyeon cuma ada rasa khawatir aja nih, ga ada rasa suka apa?
    Ehhh itu ai suzy mau ngapain jiyeon tuh? Apa yg bakal dy lakuin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s