[CHAPTER – PART 11 END] 15:40:45 – I Do

myung-ji-154045-115:40:45

I Do

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Prev : 0,5 . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10

-oOo-

Seluruh siswa Anyang High School berkumpul di lapangan pagi ini. Berbaris dengan rapi mendengar sambutan cukup panjang  dari kepala sekolah yang sedikit banyak memang tak berguna dan sama sekali tak didengarkan oleh siswa-siswinya. Sedangkan beberapa dari yang lainnya tengah sibuk mengatur segala perlengkapan yang dibutuhkan di lobi utara. Setelah menyelesaikan ceramah paginya, perhatian kini berganti tertuju pada Kim Seokjin, ketua pelaksana acara yang diadakan sabtu ini.

Pelajaran memang sengaja diliburkan untuk sebuah acara yang telah direncanakan sejak satu bulan yang lalu. Bukan sebuah acara ulang tahun sekolah atau pertunjukan seni khusus, hanya sebuah persembahan dari ekstrakulkuler musik yang sebenarnya diadakan untuk penilaian bulanan. Memang tak terlalu penting bagi siswa lain diluar ektrakulikuler musik, tapi beruntunglah kepala sekolah mereka benar-benar mengerti bahwa siswa-siswinya membutuhkan hari bebas dari jadwal pelajaran, setidaknya satu hari untuk bersenang-senang tanpa harus memikirkan nilai dan materi.

Saat siswa lain tengah berkumpul dan mendengarkan arahan dari Seokjin di lapangan, para anggota ekstakulikuler musik justru sibuk dengan urusan masing-masing di belakang panggung. Ah, atau lebih tepatnya sebuah ruangan yang berada tak jauh dari lobi utara. Mempersiapkan lagu masing-masing, bersenandung kecil untuk mengingat setiap lirik dan bagian lagu, memilih kostum yang akan digunakan, bahkan mendandani satu sama lain untuk menyempurnakan aksi panggung mereka.

Disaat grup yang lainnya tengah sibuk dengan penampilannya, Jiyeon dan kawan-kawannya justru masih membingungkan segala permasalahan yang datang mendadak pada mereka pagi ini. Myungsoo meninggalkan music score-nya di rumah, bukan hanya miliknya tetapi juga yang lainnya. Tentu saja ini masalah. Bukannya mereka tidak menghafal not masing-masing dengan baik, hanya saja music score itu harus dikumpulkan pada juri untuk salah satu penilaian di bagian aransemen.

Kim Myungsoo memang seorang pembuat masalah. Mungkin tak akan menjadi masalah besar jika itu hanya membawa namanya sendiri. Tapi jika harus menyangkut kegiatan kelompok dan membawa orang lain bersamanya, bukankah itu benar-benar merugikan. Myungsoo tetap tak ingin disalahkan dengan berkilah dan mengatakan bahwa ia terburu-buru karena neneknya sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Padahal, Kevin, sebagai tetangga yang rumahnya berdekatan dengan nenek Myungsoo tahu betul bahwa nenek Myungsoo baik-baik saja tadi malam, bahkan kemarin nenek Myungsoo datang ke rumahnya dengan membawakan sepiring bongeobbang dan menghabiskan hampir separuh malam dengan berbincang bersama ibu dan ayahnya.

Tak ingin masalahnya semakin panjang, dengan segera Myungsoo pulang kembali ke rumahnya yang jaraknya cukup jauh dari sekolah. Myungsoo sudah berencana untuk mengendarai motornya di atas trotoar dan menembus seluruh lampu merah yang ada demi cepat sampai di rumah dan secepat mungkin kembali ke sekolah, tetapi untung saja tak ada kemacetan di sepanjang jalan, dan Myungsoo tak harus melanggar peraturan lalulintas lebih lanjut.

Tanpa mengucap salam, Myungsoo masuk ke kamarnya dan menyambar music score yang ia letakkkan di atas meja. Setelah tujuannya terselesaikan, Myungsoo keluar rumah tanpa melirik orang-orang yang ia lewati, meninggalkan begitu saja ayah dan ibunya yang sedari tadi hanya menatap Myungsoo dengan pandangan bingung. Menyalakan mesin motornya, mengendarainya dengan kecepatan tinggi sejak kilometer pertamanya, dan sampai di sekolah secepat mungkin.

Jiyeon tampak bingung sambil terus menerus menatap layar ponselnya. Berjaga-jaga mungkin Myungsoo menghubunginya dan memberinya sedikit kabar yang bisa sedikit membuatnya tenang. Sepertinya semuanya tidak berjalan mulus saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit, dan kurang dari tiga puluh menit lagi saatnya mereka tampil. Myungsoo massih belum kembali dari rumahnya, Kyungsoo sedang sibuk mencari kostumnya yang tiba-tiba menghilang, Kevin yang mengeluh sakit perut karena terlalu grogi untuk penampilan pertamanya, Hyeri sejak tadi tak bosan menatap dirinya di depan cermin sambil membenahi dandanannya, dan Baekhyun yang hanya bersantai di tengah ruangan bermain dengan ponsel tanpa membantu siapapun.

Hampir saja Jiyeon melempar Baekhyun dengan sepatunya jika Myungsoo tidak bergegas masuk dan menghampiri Jiyeon dengan nafas yang terengah. Niatnya memarahi Myungsoo hilang begitu saja setelah melihat keadaan Myungsoo sekarang. Seragamnya sudah tak lagi rapi seperti sebelum ia berangkat, keringat yang menganak sungai dari dahinya, dan tubuhnya yang semula wangi parfum kini berganti dengan bau matahari.

Myungsoo menyerahkan music score yang tampak kusut karena terlipat tak rapih di ranselnya. Ia mengangkat tangannya dan mencium seragamnya, dengan cepat ia mengalihkan wajahnya dan menunjukkan ekspresi yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Aku benar-benar bau keringat. Apakah masih sempat jika aku mandi?”

“Tidak,” Jawab Jiyeon cepat, “Sebentar lagi kita akan tampil,”

“Lagipula mana bisa kau mandi tanpa membawa sabun bahkan handuk.”

“Aku hanya butuh air untuk menyegarkan tubuhku dan menghilangkan sedikit bau keringatnya, Ji..” Jawab Myungsoo memohon.

Sekali lagi Jiyeon menggelengkan kepalanya, “Kubilang tidak ya tidak, Myung! Cepat ganti bajumu sekarang,”

“Hei hei, lihatlah.. Siapa yang sudah memiliki panggilan sayang untuk masing-masing.” Ucap Kyungsoo menggoda.

Jiyeon dan Myungsoo langsung menoleh, “Panggilan sayang apanya!”

“Myung, Ji. Panggilan singkat itu terdengar mesra di telingaku.” Sahut Hyeri.

Jiyeon hanya membalas dengan menatapnya kesal, “Sudah, cepat ke kamar mandi dan ganti bajumu,”

“Ah ini, lap seluruh keringatmu dengan bersih,” Ucap Jiyeon sambil melempar selembar kain yang ia ambil dari tasnya, “Tiga menit dari sekarang, ppali!”

Tanpa menjawab lagi Myungsoo segera berlari menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya dari keringat dan mengganti bajunya. Setelah selesai dengan urusannya, ia berlari kembali menuju ruangan di belakang panggung. Sesampainya Myungsoo di depan pintu, Jiyeon langsung menariknya duduk di depan cermin dan mengambil segala alat make-up yang telah disediakan untuk penampilannya hari ini. Tanpa aba-aba, Jiyeon langsung menaburkan bedak di sekitar wajah dan leher Myungsoo. Myungsoo yang sedikit terkaget hanya bisa diam. Ia berusaha menahan bersin karena hidungnya yang gatal karena tak terbiasa memakai make-up semacam ini, atau bisa dibilang ini pengalaman pertamanya memakai bedak setelah bedak bayi saat dirinya masih kecil dulu tentunya.

Awalnya Myungsoo menolak saat akan dipakaikan eye-liner oleh Jiyeon. Myungsoo berteriak takut bahwa Jiyeon akan menusukkan eye-liner pada matanya. Jiyeon hanya butuh memelototkan matanya untuk membuat Myungsoo kembali diam dan menuruti segala perintahnya. Mau apalagi, Myungsoo hanya menghindari amukan Jiyeon jika terus menerus menolak untuk didandani.

“Ini untuk mempertajam penampilanmu. Juri dan penonton melihatnya dari jauh, dan wajahmu tidak akan tampak jika tampil tanpa make-up.” Ucap Jiyeon yang hanya disambut Myungsoo dengan anggukan.

Suara tepuk tangana terdengar dari arah luar. Grup yang tampil sebelumnya telah menyelesaikan penampilannya dan kembali masuk ke ruang belakang panggung. Itu artinya sebentar lagi Jiyeon dan yang lainnya akan tampil, hanya menunggu panggilan dari pembawa acara dan mereka akan naik ke atas panggung. Tepat di belakang panggung Jiyeon, Myungsoo, Hyeri, Kyungsoo, Kevin, dan Baekhyun berdiri melingkar dan berdoa sebelum tampil, berharap bahwa penampilan mereka akan berakhir memuaskan.

“Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, “Ucap Kyungsoo memandu, “Kevin, tenangkan dirimu, kau telah berlatih dengan sangat baik,”

“Begitu juga dengan Jiyeon dan Hyeri. Baekhyun, jangan terlalu meremehkan, ini tidak semudah yang kau bayangkan. Dan Myungsoo, jangan terburu-buru atau kau akan kembali membuat masalah.” Lanjut Kyungsoo.

Panggilan dari pembawa acara untuk mereka baru saja terdengar. Dengan mengambil satu kali tarikan nafas, mereka naik menuju panggung dan berdiri pada satu garis, memberi penghormatan sebelum beranjak menuju posisinya masing-masing.

Tampak Bomi, Hayoung, Soojung, dan Yooyoung yang sudah duduk pada barisan paling depan dan menunjukkan jempolnya untuK Jiyeon. Jimin, Kyung, dan teman-teman yang lainnya juga berusaha untuk mendapat tempat paling depan untuk memberikan semangat. Suara tepukan tangan yang terdengar cukup riuh mengawali penampilan keenamnya.

Aren’t you somethin’ to admire, cause your shine is somethin’ like a mirror

And I can’t help but notice, you reflect in this heart of mine

If you ever feel alone and the glare makes me hard to find

Just know that I’m always peering out on the other side 

Cause with your hand in my hand and a pocket full of soap

I can tell you there’s no place we couldn’t go

Just put your hand on the past, I’m here tryin’ to pull you through

You just gotta be strong

Cause I don’t wanna lose you now

I’m lookin’ right at the other half of me

The biggest ? in my heart

There’s a space, but now you’re home

Show me how to fight for now

And I’ll tell you baby, it was easy

Comin’ back into you once I figured it out

You were right here all along

It’s like you’re my mirror

My mirror staring back at me

I couldn’t get any bigger

With anyone else beside of me

And now it’s clear as this promise

That we’re making two reflections into one

Cause it’s like you’re my mirror

My mirror staring back at me, staring back at me

Aren’t you somethin’, an original, cause it doesn’t seem ? to sample

And I can’t help but stare cause I see truth somewhere in your eyes

I can’t ever change without you, you reflect me, I love that about you

And if I could, I would look at us all the time

Yesterday is history

Tomorrow’s a mystery

I can see you lookin’ back at me

Keep your eyes on me

Baby, keep your eyes on me

You are you are the love of my life

Baby you’re the inspiration for this precious song

And I just wanna see your face light up since you put me on

So now I say goodbye to the old me, it’s already gone

And I can’t wait wait wait wait wait to get you home

Just to let you know, you are

Girl you’re my reflection, all I see is you

My reflection, in everything I do

You’re my reflection and all I see is you

My reflection, in everything I do

Suara tepuk tangan yang lebih riuh dari sebelumnya terdengar setelah Baekhyun menyelesaikan kalimat terakhir lagunya dan gebukan drum dari Myungsoo yang mengakhiri lagunya. Seluruh penonton tampak antusias dengan penampilan yang sangat memuaskan. Begitu juga dengan para juri yang memberikan standing ovation untuk penampilan mereka. Keenamnya langsung bertatapan dan tersenyum lega seketika. Latihan panjang mereka selama ini tidak membuahkan hasil yang buruk, bahkan benar-benar memuaskan.

-O-

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Penampil dengan nomer urut terakhir baru saja menyelesaikan lagunya dan turun dari panggung. Habisnya peserta tidak menandakan bahwa acara juga berakhir. Sabtu ini tetap berlanjut, masih berhubungan dengan musik, bukan khusus untuk siswa ekstrakulikuler musik saja, ini untuk semua, siapa yang ingin menyumbangkan suaranya dipersilahkan untuk maju. Bukan acara formal, hanya untuk bersenang-senang saja.

Sudah bisa ditebak siapa yang akan menjadi penampil pertamanya. Park Chanyeol naik ke atas panggung dengan membawa gitar dan menunjukkan senyum idiotnya dengan bangga. Anggota klub sepakbola satu ini memang gila panggung, tidak sekalipun ia pernah melewatkan setiap panggung yang digelar, walau sebenarnya ia lebih menggilai segala hal yang berbau sepakbola, tapi tidak menghilangkan minatnya pada bidang musik. Untung saja suara beratnya tak begitu buruk untuk bernyanyi, setidaknya masih bisa diterima oleh para pendengarnya.

Sejak pertama senar gitar Chanyeol dipetikan, gemuruh suara pendukungnya ah atau lebih tepat disebut dengan teman sekelasnya yang bertingkah layaknya Chanyeol adalah bintang besar yang datang ke sekolah mereka. Siapa lagi jika bukan Soojung, Hayoung, Bomi, Jiyeon, dan Yooyoung yang sengaja mengambil tempat duduk di barisan paling depan untuk meneriaki teman mereka di atas panggung. Ditambah lagi Jimin, Kyung dan gerombolan lainnya yang sedari tadi telah berteriak semangat memanggil nama Chanyeol. Bukan sebuah ejekan, justru sebagai dukungan dan penyemangat untuk Chanyeol yang begitu percaya diri dengan suaranya. Tidak terlalu bagus memang, tapi suara Chanyeol tidak sememalukan itu untuk dipertontonkan, setidaknya ia adalah pemain gitar yang baik.

Seturunnya Chanyeol dari panggung, Hoya dan Dongwoo yang telah bersiap untuk tampil sejak Chanyeol memasuki pertengahan lagunya, kini naik ke atas panggung diiringi dengan sorakan yang tak kalah ramainya dengan penampil sebelumnya. Tidak seperti Chanyeol yang banyak basa-basi diawal dengan melambaikan tangan, menebarkan ciuman jarak jauh, atau bergaya layaknya rribuan confetti jatuh di atas kepalanya, Hoya dan Dongwoo justru lebih to the point dengan langsung berdiri pada posisi masing-masing dan musikpun mulai dimainkan.

Neon jeongmal yeppeo
Neoman bomyeon nae ipkkorineun hepeo
Nae sarme Helper ne deoge ijeseoya gijigae pyeo
Gajaega gepyeonin geotcheoreom nae pyeon
Docu-eseo Melodrama-ro gaepyeon
I sesang modeun Lovestory-reul jaeyeonhae
Neoraneun taeyange nan imi deyeonne
An joheun giundeureun neoro inhae tteeo nae
Nae kkeoin deut nae kkeo anin Some-gateun ge
Anya teumeul julge hwajangeul jiwosseodo naekkeo
Neol mannan geon josangnimdo
Daegyeonhaehasil ge ppeonhae modeun ge byeonhae
Eobseodo nae yeope neol hyanghae heeomchyeo
Uriui Destiny apeuro gyesokdoeni
Geokjeong ma areumdaun gusogini
Nae geotgwa sok imi neo bakke mot nogyeo

Saat semuanya mulai menikmati dengan mengikuti alunan nadanya, tanpa disadari sesosok lelaki muncul dari samping panggung dan berjalan menuju bangku penonton. Bomi dan Jimin sudah saling lirik sejak pertama kali Myungsoo keluar dan menunjukkan dirinya. Riuhan dari penonton sedikit mereda. Fokusnya berganti kearah dua orang yang saling pandang di barisan paling depan. Jiyeon masih terdiam saat Myungsoo mengulurkan tangan padanya. Hanya memandang uluran tangan Myungsoo dengan kosong sambil mengerutkan dahinya bingung. Seakan sudah diperkirakan sebelumnya, Myungsoo hanya tersenyum dan menyahut tangan Jiyeon, menariknya maju ke atas panggung dengan dua penampil yang sama sekali tak terganggu dengan apa yang Myungsoo lakukan, justru tersenyum dan bernyanyi lebih nyaring dari sebelumnya.

Neon jeongmal yeppeo neomudo areumdawo
Gakkeumeun miwo nareul tto oemyeonhal ttaen
Geuraedo yeppeo neomudo areumdawo
Feel so good ooh lalalala

Perlahan Dongwoo dan Hoya mulai bergerak ke arah pinggir, memberikan tempat untuk Jiyeon dan Myungsoo di tengah panggung sebagai pusat perhatian. Jiyeon masih terdiam dengan raut wajah bingung yang memandang Myungsoo.

“A..-” Myungsoo menarik nafasnya sebelum kembali memulai ucapannya, “Aku tak tahu apakah ini moment yang tepat atau tidak, tapi..”

Semuanya hening. Hanya suara musik yang berdentum semangat tanpa riuhan penonton atau lirik yang dibawakan oleh si penyanyi. Seluruh perhatian kini benar-benar tetuju pada Jiyeon dan Myungsoo. Bahkan siswa yang sebelumnya tidak berniat mengikuti acaranya juga berlari menengok ke arah panggung demi memastikan apa yang terjadi.

“Mungkin selama ini kau mengenalku sebagai siswa berandal yang selalu bermasalah dengan apapun, begitu juga denganmu.” Myungsoo tertawa kecil seketika, “Apa kau masih ingat bagaimana aku dan kau saling mengenal? Ah apakaha pertemuan itu pantas kukatakan sebagai perkenalan,”

Sekali lagi Myungsoo tertawa kecil, masih disambut dengan tatapan bingung dan membisu dari Jiyeon.

“Jika aku jadi kau, mungkin aku tak akan menilai diriku sebagai seseorang yang baik atau seseorang yang dikagumi karena kelebihannya. Tapi aku benar-benar tulus,”

I hope now is the right time, would you be mine, Park Jiyeon..”

Riuhan suara kembali terdengar beberapa saat setelah Myungsoo mengakhiri ucapannya. Teriakan-teriakan dengan berbagai macam sahutan terdengar begitu ramai hingga tak ada satupun yang terdengar jelas di telinga. Hanya suara khas milik Bomi dan teriakan Jimin yang Myungsoo hafal benar intonasinya.

Ini puncaknya. Dan saat Myungsoo ingin memberikan eksekusi terakhirnya, Myungsoo baru menyadari sesuatu. Bunga yang seharusnya ia bawa sejak awal tertinggal di belakang panggung. Bodoh. Hanya satu kata itu yang kini terngiang di pikirannya. Bagaimana bisa ia menginggalkan senjata utamanya dan maju dengan tangan kosong seperti ini. Benar-benar bodoh.

Myungsoo tetap berusaha untuk tenang. Menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kembali. Sesekali ia mencuri pandang ke arah belakang dan menatap Dongwoo juga Hoya panik. Dongwoo yang dengan santai menunggu hanya memberikan pandangan seakan berbisik –serahkan-bunganya-dan-aku-akan-kembali-bernyanyi–. Pikirannya buyar seketika, Myungsoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jangankan melakukan improvisasi, otaknya benar-benar buntu sekarang. Hoya yang menyadari situasinya langsung menyikut lengan Dongwoo pelan. Ia berbalik dan berusaha memberitahu Chanyeol yang berada di dekat audio untuk menghentikan musiknya.

‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me

It’s as if my heart knows you’re the missing piece

You made me believe that there’s nothing in the world I can’t be

I’d never know what you see

But there’s somethin’ in the way you look at me

Jiyeon tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Myungsoo masih terdiam menatp Jiyeon. Tidak ada yang ia pikirkan saat ini. Masih berusaha mencerna apa yang dimaksudkan Jiyeon dengan segala gerakannya.

Yes, I do.”

Senyum Myungsoo merekah seketika. Ia berteriak tanpa suara saking senangnya. Jiyeon yang melihat hanya ikut tertawa. Tidak pernah Jiyeon melihat Myungsoo sebahagia ini. Dan baru pertama kalinya Jiyeon ikut bahagia melihat lelaki di hadapannya ini tersenyum.

“Kau bodoh.” Ucapan Jiyeon menghentikan kebahagiaan Myungsoo seketika, “Di momen sepenting ini kau masih melupakan sesuatu. Dasar ceroboh.”

Myungsoo hanya tertawa meringis sambil menggarung tengkuknya. Ia sudah tak peduli lagi dengan prosesi yang tak sesuai rencana atau bunga yang tertinggal. Rasa malunya sudah hilang, tertutupi oleh rasa bahagia dan lebih-lebih tak menyangka bahwa Jiyeon akan menerimanya begitu saja.

I don’t know how and why

I feel different in your eyes

All I know is it happens every times

Mungkin setelah ini Myungsoo harus benar-benar berterima kasih pada Bomi dan Jimin yang telah menjadi jembatan bagi kisah cintanya dengan Jiyeon. Juga pada Dongwoo dan Hoya yang telah membantunya menjalankan eksekusinya dengan sempurna, terlebih pada Hoya dan segala improvisasinya. Mungkin jika Hoya tak berpikiran cepat, kejadian ini akan berubah total menjadi kejadian paling memalukan sepanjang sejarah hidup Myungsoo. Dan sepertinya Myungsoo harus mengucapkan banyak terima kasih pada Minho dan Sehun yang telah menyebabkan banyak masalah dan membuka kesempatan baginya begitu lebar. Terakhir, tentu saja pada dirinya sendiri yang begitu mempesona hingga meluluhkan hati seorang gadis secantik Jiyeon.

I don’t want a perfect boyfriend. I just wanna someone to act silly with, someone who treats me well and loves being with me more than anything. –Park Jiyeon

You are beautiful. Not because society says so, not because men says so, not because the mirror says so, not because a scale says so. But because God says so. –Kim Myungsoo

-The End-

.

.

.

Epilogue

Ada alasan mengapa Myungsoo sampai lupa membawa music score yang begitu penting pagi itu. Walaupun ia ceroboh, Myungsoo bukan orang yang sepelupa itu. Semalam ia sibuk mempersiapkan rencananya untuk Jiyeon bersama Dongwoo dan Hoya. Mulai dari pemilihan lagu hingga sibuk membeli ini dan itu. Mungkin memang terdengar klise, memberikan bunga sebagai tanda cinta, tapi Myungsoo yakin yang satu ini akan meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

Ranselnya sudah cukup penuh dengan kostum panggung dan segala perlengkapan lainnya. Dan lagi, ia harus menyembunyikan sebuket bunga ini dari siapapun, terutama Jiyeon. Tentu saja jangan sampai rusak sedikitpun. Harus tetap terlihat cantik dan segar hingga sampai di tangan Jiyeon nanti. Myungsoo tak yakin jika sebuket bunga ini akan baik-baik saja bersamanya, tapi apa mau dikata, Bomi menolak untuk dititipi dengan alasan tasnya tak sebesar itu untuk menyembunyikan bunga. Jimin, ah anak itu sama sekali tak bisa dipercaya. Ia cukup membawa uang, ponsel, dan kunci motor di sakunya, Jimin sudah siap berangkat ke sekolah. Ransel yang dihadiahkan oleh Myungsoo dan teman-temannya sebagai kado ulang tahun yang ketujuh belas Jimin mungkin sedang tergeletak tak terpakai di kamarnya.

Pernyataan cintanya pada Jiyeon hari ini bukan tanpa alasan. Dua hari yang lalu, Bomi mengatakan padanya bahwa Myungsoo memiliki kesempatan empat puluh lima persen atas kepemilikan hati Jiyeon. Memang bukan presentase yang besar, tapi mengingat bahwa lawan mainnya adalah Minho dan Sehun, yang notabenya baru saja bermasalah, Myungsoo tak ingin melewatkan kesempatan emasnya. Tak peduli jika ada yang mengatakan bahwa Myungsoo memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, toh memang benar itu kenyataannya. Ini juga bukan pertama kalinya Myungsoo mencuri-curi kesempatan untuk lebih dekat dengan Jiyeon. Dan hasilnyapun tak buruk bahkan sangat memuaskan. Jiyeon menerima cintanya dan sekarang ia tak sendiri lagi. Ah satu lagi, Myungsoo bertekad untuk mengubah si empat puluh lima itu menjadi seratus persen..

kkeut!

Halooh..! Hehehe duh duh duh nggak tau deh mau ngomong apa, jadi kagok gini ._.

Rencana mau di password ngga jadi ya, maapkeun jika memaksa kalian untuk komen di part sebelumnya haha /evillaugh/ dan rencana kalo masih ada dua chapter terakhir setelah chapter yang kemarin nggak jadi juga. Kenapa? ya nggakpapa sih, sengaja emang dicepetin~ Kalo manut sama versi aslinya duoh puanjang banget ngalah-ngalahin sinema india. Berhubung akunya juga lagi sibuk sama urusan sekolah yang nggak tau kapan kelarnya /nggak usah sekolah aja/ eh ya nggak juga sih alibi mah kalo pake alesan urusan sekolah, ya yang pasti udah mulai buntulah sama ceritanya, lebay banget inih kalo diterusian /apasih/ ya pokoknya gitu deh, sekali lagi maapkeun, mohon dimengerti ya says~

Buat project selanjutnya udah ada sih, bisa dilihat disini sekalian boleh vote mau yang mana yang diduluin. tapi nggak janji cepet ya ._.

Dah deh.. Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

From this series, bye!

67 responses to “[CHAPTER – PART 11 END] 15:40:45 – I Do

  1. hi authornim aku review dari part awal sampai end disini aja yaa. hehe
    nggak kebayang deh gimana kalo ada di posisi jiyeon yg disukain sm cogan2. hahaha overall ceritanya menarik dan awal sedikit susah ditebak karena penggambaran perasaan jiyeon sm minho sehun dan myungsoo bener2 keren. nice ff dan terus berkarya yaaaa fighting!

  2. Yeah happy ending🙂
    jiyi am myung pacaran , ya walau di ff ini gg terlalu fokus ke myungyeon nya seh sedikit moment nya , tapi ini bagusss (y)
    ehm gimana am minho am sehun ???!
    trus sehun am jinri ???!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s