Clash (Chapter 8)

FF Clash new

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon

Support Cast :

  • Ahn Jaehyun as Park Jaehyun (Jiyeon’s younger brother)
  • Park Jibin (Jiyeon’s younger brother)
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon
  • Krystal Jung

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

.

.

Myungsoo’s PoV

Just one day, if I can be with you. Just one day, if I can hold your hands. If only we can be together.

 

Wajah tirus dengan pipi bersemu merah dan bola mata yang membulat karena aku sengaja mengagetkannya, sungguh menggemaskan. Hingga membuat tawaku meledak. Dan sulit menghentikan senyumanku.

Sejujurnya ini tidak terlalu lucu, mungkin aku tertawa karena aku senang dia mengiyakan ajakanku untuk makan di foodcourt.

Awalnya Jiyeon terlihat cemberut –semakin membuatku ingin mencubitnya-, tetapi lama kelamaan ia ikut menyunggingkan senyuman.

“Jiyeon-a?” panggilku.

“Hm?”

“Besok kau ada acara?”

Gadis itu tampak menimang dengan mendengungkan mulutnya, dia menjawabnya sambil menggelengkan kepala.

“Kau mau nonton?”

Pupil matanya membesar. Ah, apa aku terlalu to the point? Jiyeon sepertinya agak ragu dengan ucapanku.

Melihat reaksi Jiyeon yang kebingungan, aku jadi putus asa. Tidak apalah jika dia menolaknya. Lagipula aku terlalu terburu-buru.

“Baiklah,” sahutnya.

Satu kata dari mulut Jiyeon cukup membuatku tidak percaya. Kini aku yang menatapnya meminta penjelasan. Dan Jiyeon hanya memamerkan senyuman yang selalu bisa membuatku melayang di udara. Cantik sekali.

—o0o—

“Perijinan belum cair?!”

Seorang namja berbadan tegap terlihat frustasi di hadapan teman-teman satu club-nya, termasuk aku. Namja yang terpilih sebagai ketua muda GJ Club, yang akrab disapa Kris tengah berjalan mondar mandir sambil berkacak pinggang.

“Aku sudah meminta Guru Lee Seunggi untuk menandatangani proposal perijinan ini, tetapi dia menolaknya,” jelas Eunji, yang merupakan sie perijinan.

Well, GJ Club akan mengadakan lomba antar sekolah. Tentunya hal ini membutuhkan dana, tempat perijinan, dan lainnya. Sekarang ini kami kumpul membahas masalah perijinan.

“Kau harus meminta kembali,” paksa Kris.

“Meminta kembali bagaimana?” rupanya Eunji sedikit tidak terima. Gadis itu memang sudah berusaha. “Guru Lee Seunggi susah untuk diajak berkompromi.”

“Biar aku dan Myungsoo yang memintanya,” tawar seseorang bernama Hoya yang sontak mendapat tatapan tajam dariku.

“Serahkan padaku proposalnya,” lanjut Hoya, “Myungsoo, kita harus mendapatkan perijinannya sekarang. Kajja!”

Tidak mungkin aku menolak ajakan Hoya di depan teman-temanku lainnya. Dengan malas aku beranjak berdiri, mengikuti Hoya yang memang lebih tinggi dariku.

Ketika kami melewati depan sekolah, penglihatanku melihat sosok Jiyeon tengah duduk termangu. Lantas aku mengingat bahwa hari ini adalah hari dimana aku menonton bersamanya.

“Sial,” umpatku, “Ya, kau duluanlah. Aku ada urusan sebentar.”

Tanpa menunggu respon Hoya, aku langsung berlari menghampiri Jiyeon. Sesaat gadis itu tidak menyadari kehadiranku. Kemudian kepalanya terangkat. Dari wajahnya aku bisa membaca ia sudah menunggu lama.

Mianhae, Jiyeon. Aku ada kumpul GJ Club mendadak. Kau bisa menunggu sebentar?” sungguh tidak enak untuk mengatakannya.

Jiyeon mengangguk sambil tersenyum halus. Sedikit lega seraya aku kembali ke tempat Hoya.

“Kau ada kencan dengannya?” tanya Hoya.

“Tidak usah banyak bicara, lebih baik cepat menemui Guru Lee.”

.

.

Sekitar satu setengah jam berlalu, aku sudah bolak-balik melewati pintu gerbang sekolah mencari perijinan tempat. Dan sebanyak itulah aku bersisapa dengan Jiyeon yang masih menungguku.

Kini aku sudah berada di basecamp GJ Club, tentu hasil perijinan tempat akhirnya ditandatangani oleh Guru Lee. Buru-buru aku menjauhi basecamp dan menekan beberapa angka pada layar ponselku, lalu menempelkannya di telinga.

“Jiyeon, kau di mana?” nadaku cemas, karena begitu aku sampai di gerbang, tidak ada lagi gadis yang duduk manis.

“Myungsoo, aku—aku sudah berada di bioskop.”

Perkiraanku gadis itu pulang ke rumah, “Jinjja? Aku akan segera ke sana sekarang.”

Secepat mungkin aku menaiki montorku. Dan mengambil kecepatan penuh membelah jalanan di siang hari.

—o0o—

Udara pendingin ruangan menyambutku saat aku memasuki bioskop. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Kakiku melangkah cepat dengan irama jantungku yang terus berkejaran.

Kuhela nafasku panjang setelah mendapati sosoknya tengah mengantri membeli popcorn. Aku menarik nafas kembali, dan kuayunkan kakiku untuk mendekatinya.

“Hey.”

Ia menolehkan kepala dan tersenyum tipis melihatku. Aku sungguh tidak enak membuatnya menunggu lama dan mengharuskannya pergi sendirian ke bioskop.

Saat tangan mungilnya menerima popcorn, aku segera menyerahkan beberapa lembar uang pada barista yang bisa dibilang tampan. Barista itu mengucapkan terima kasih sedangkan aku mengabaikan tatapan tanda tanya dari Jiyeon. Tetapi, gadis di sebelahku hanya mengangkat bahu sembari memakan jagung manis itu.

“Maafkan aku,” ujarku akhirnya.

“Eh?”

Aku memandanginya dari samping. Mulutnya tampak asyik menguyah jagung kecil. Bahkan tingkahnya yang tidak penting, akupun suka.

Aniy,” aku mengacak rambutnya gemas seraya merangkul bahunya.

Kami mulai memasuki teater yang ternyata hampir penuh isinya. Aku berjalan menaiki tangga sambil mencari tempat duduk yang sudah dipesan. Yakin dengan kursi nomor dua dari belakang, aku duduk di sana. Jiyeon mengikutiku.

Lampu-lampu mulai meredup. Layar lebar siap ditayangkan. Sesekali aku melirik gadis di sebelahku. Kedua matanya fokus ke depan, mulutnya masih saja mengunyah. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil.

“Kita benar-benar melihat film horror?” bisiknya tidak memalingkan wajah dari layar.

“Mm. Bukankah kau suka horror?” akupun mulai mengikuti alur cerita yang ditayanagkan.

“Aku memang suka. Tetapi—“

Kalimat Jiyeon terputus akibat teriakan dari penonton lain yang terkejut dengan adegan dalam film horror itu. Aku saja sedikit melonjak.

“Apa-apaan ini,” omel Jiyeon.

Penerangan tidak cukup untuk melihat wajah Jiyeon dengan jelas. Bukannya melihat film, aku justru enak memandangi Jiyeon. Mungkin gadis ini tidak sadar dengan sikapku, buktinya ia sesekali menjerit tertahan menonton film-nya.

Rasanya waktu ingin berhenti saja. Hingga aku bisa terus memandanginya sesukaku. Irama jantung enak dirasa berdetak kencang. Aliran nadi memanas serasa tangan ingin menyentuhnya. Hanya satu hari, biarkan aku bersamanya.

.

.

“Uwaahhh,” Jiyeon menguap sambil meregangkan kedua tangannya, “Ini film yang paling horror yang pernah kulihat.”

Sekilas aku tersenyum mendengar ocehannya. Kami berdua beriringan keluar dari gedung bioskop. Air-air derasnya jatuh ke bumi. Mengguyur seluruh permukaan bumi. Membuat beberapa manusia berteduh sejenak.

“Hujan,” geming Jiyeon.

Kemudian aku ingat, aku tidak membawa mantel.

Jiyeon tidak mengeluarkan suara. Kurasa ia membiarkanku untuk angkat bicara.

“Kita pulang sekarang,” ajakku.

Pupil matanya membesar seolah tidak percaya keputusanku.

“Ditunggu saja, ini deras sekali,” tentu gadis ini tidak menyetujuinya.

Masing-masing dari kami terbungkam di sisi pintu masuk bioskop. Meratapi rinai hujan yang membasahi bumi. Membiarkan suara rintik-rintik air mengisi kesunyian kami. Terus begini hingga aku memecahkan suara.

“Disaat hujan seperti ini, langitnya terang, aku yakin hujannya akan lama,” ujarku memandangi langit.

Jinjja?” Jiyeon menundukkan kepalanya, “Baiklah,” lirihnya.

“Aku akan mengambil montor. Kau tunggu di sini.”

Tanpa menunggu responnya aku segera menuju parkiran. Membawa montorku dengan kecepatan penuh. Baju yang kukenakan mulai basah terguyur hujan.

Sesampainya di depan pintu masuk, langkah Jiyeon ragu. Ia membonceng di belakangku, tetapi tidak pernah menyentuh pinggangku meski aku sudah menyuruhnya berpegangan.

Kami berdua sama-sama membelah jalanan yang sedikit tergenang air. Hujan tetap mengguyur kami. Mengiringi perjalanan kami.

Udara dingin mulau menusuk tulang-tulang. Jemariku berwarna kebiruan. Asap mengepul tiap kali aku menghela nafas.

Dari kaca spion, aku melihat Jiyeon menggigil. Lantas sengaja aku mengencangkan kemudi, membuat tubuh gadis itu terhuyung ke depan dan memmeluk pinggangku.

Terasa kaku ia di punggungku. Setelah itu, ia mulai menyesuaikan diri. Dan aku merasa Jiyeon tertidur.

Ini bukan yang pertama kalinya aku mengantar Jiyeon pulang. Aku sudah hafal betul jalan ke rumah Jiyeon. Sesampainya di depan garasi rumah yang lumayan besar itu, hujan masih setia tetapi sedikit berkurang derasnya.

Tersadar mesin montorku berhenti, Jiyeon terbangun. Dia segera turun seraya membuka garasi dan menyuruhku untuk memasukan montorku di sana.

“Mampirlah sebentar,” ujarnya.

Kini kami sudah terlindungi dari dinginnya air hujan. Pakaian Jiyeon basah kuyup, tidak berbeda jauh dengan pakaianku. Tidak mungkin aku meneruskan perjalanan. Aku memutuskan untuk memasuki rumah Jiyeon.

Sepi memang, ruang tamu yang bisa dibilang kecil untuk ukuran rumah yang lumayan besar ini tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku tidak berani duduk di sofa, takut jika sofa itu akan ikut basah.

Gadis itu berlari-lari kecil masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang diambilnya. Tetapi tidak lama kemudian, ia sudah berganti pakaian, dan membawakan handuk serta kaos.

“Ini punya adikku. Kau ganti baju dulu,” titahnya.

Badanku sudah cukup membeku. Ketika aku hendak berjalan menuju kamar mandi, aku melihat seorang laki-laki bertubuh jangkung tengah menonton televisi. Berhubung lelaki itu tidak menyadariku, aku langsung saja berlari ke kamar mandi.

Begitu kembali ke ruang tamu, sudah ada teh hangat dan mie di meja. Jiyeon tersenyum malu. Aku duduk di sofa bernuansa modern itu. Aroma mie mulai menggodaku.

“Makanlah,” ujar Jiyeon.

“Maaf aku membuatmu kehujanan,” kataku sambil meraih semangkok mie instant. Hangat rasanya tersalurkan lewat telapak tanganku.

“Myungsoo, hari ini kau banyak meminta maaf.”

Aku menunduk dalam. Itu benar.

Gwenchana, bukankah kesenangan dan kesedihan itu dirasakan bersama.”

Lagi, aku menatap Jiyeon. Seolah memandanginya adalah kecanduan tersendiri.

“Jiyeon-a, laki-laki yang besar itu siapa?” tanyaku hati-hati.

“Adikku.”

Mwo?!” hampir saja aku tersedak. Kemudian aku meminum teh hangat untuk menahannya.

Jiyeon terkekeh, “Dia memang lebih besar dariku.”

“Dariku juga,” sadar akan perbandingan tubuhku, “Siapa namanya?”

“Jaehyun.”

Kepalaku mengangguk mengerti.

“Aku juga punya adik satu lagi,” kata Jiyeon.

Jinjja?”

Ne. Namanya Jibin. Mungkin dia sedang berada di rumah temannya.”

“Hujan-hujan begini?”

“Jibin itu tidak suka di rumah. Ia suka bermain, berbeda dengan kakaknya Jaehyun. Yang selalu di rumah dan bisanya bermain game saja.”

“Aaa,” aku mengangguk kembali.

Lantas aku dan Jiyeon terhanyut dalam obrolan. Ditemani dengan suara rintik hujan yang tak kunjung reda. Rasanya senang menyadari Jiyeon sudah mulai berbagi cerita. Hingga tak sadar langit sudah berubah menjadi gelap.

—o0o—

Kicauan burung terdengar di sana sini. Taman yang dipenuhi pepohonan rindang, menyejukkan tiap pengunjung yang datang. Matahari belum muncul sempurna.

Kunikmati segarnya udara melalu batang hidungku. Langkahku santai sambil memasukan kedua tanganku di saku celana.

“Myungsoo! Coba lihat itu!”

Ah! Ada bidadari yang menemaniku jalan di pagi hari. Gadis itu selalu modis dengan penampilannya. Kaos lengan panjang berwarna putih dipadukan hotpants berwarna merah muda. Tidak lupa bandana menghiasi rambut kecokelatannya.

Dengan girang ia menarik lenganku, mendekati suatu pemusik jalanan yang sedang memamerkan bakatnya.

“Wah,” wajahnya sumringah seperti bunga yang baru saja mekar.

Puas melihat aksi musik, aku dan dirinya kembali berjalan santai. Di antara pepohonan besar dan di antara pasangan lainnya atau segerombol anak muda.

“Jiyeon, kau tidak capek senyum terus?” godaku.

Tentu saja Jiyeon menghentikan senyuman riangnya. Berubah menjadi wajah cemberut.

“Ayolah aku hanya bercanda,” aku mengerlingkan mata. “Jika senyummu tidak ada, maka oksigen yang kuhirup juga tidak ada.”

Pipinya bersemu seperti tomat. Bibirnya yang berwarna merah muda menahan senyuman. Ia tersipu malu. Dan aku semakin menyukainya.

“Kau mau es krim?” tawarku melihat penjual es krim yang tidak jauh dari kami, “Akan kubelikan. Kau tunggu di sini.”

Langkahku lebar meninggalkan Jiyeon untuk membeli es krim. Biasanya para gadis menyukai es krim, kekeke.

“Myungsoo?!”

Seorang gadis yang sangat kukenali berlari kecil menghampiriku. Biasanya ia menggerai rambut hitam kelamnya, tetapi sekarang ia mengikatnya.

“Jiwon?”

“Kau juga di sini,” ujar Jiwon senang.

“Eo. Kau dengan siapa di sini?”

“Yang lainnya. Kau mau bergabung?”

Jiwon dan aku satu kelas, kami lumayan dekat. Ketika Jiwon menawarkannya, rasanya aku ingin mengangguk cepat. Namun untuk saat ini aku menolaknya.

“Aku sedang bersama seseorang,” ujarku.

Wajah Jiwon sedikit kecewa, tetapi mendengar ucapanku ia segera sadar, “Aaah, arraseo.”

“Eoh, Jiwon! Kau mau es krim?” barangkali ini dapat mengembalikan senyumnya.

“Boleh,” Jiwon tersenyum tipis.

“Taraa~ es krim gratis untuk Jiwon,” aku menyodorkan es krim yang cukup besar dengan topping choco chips di atasnya pada Jiwon.

“Wah,” Jiwon menerimanya.

Sedangkan aku menerima lagi dua es krim. Satu es krim rasa cokelat berada di tangan kanan, dan satunya es krim vanilla kesukaanku.

 

 

“Aku menyukaimu.”

 

 

Saking sibuknya membayangkan aku akan memberikan es krim pada Jiyeon, aku sedikit mengabaikan Jiwon yang berada di dekatku.

Mwo? Coba ulangi, aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas.”

Ditambah ramainya taman ini yang menyamarkan suara kecil Jiwon.

“Jiyeon menyukaimu.”

Jiwon mengulangi perkataannya. Aku menatap gadis ini sejenak, memastikan itu benar atau tidak.

“Tentu saja!” aku pun menjawabnya dengan penuh percaya diri. “Aku duluan ya. Paipai.”

Myungsoo’s PoV End

.

.

Pria itu meneteng dua es krim di masing-masing tangannya seraya meninggalkan Jiwon. Padahal pria itu tersenyum cerah, berbeda dengan Jiwon. Ia menatap punggung pria itu dengan miris. Kemudian pelan ia berkata,

“Jiyeon menyukaimu.”

‘Aniy… Jiwon menyukaimu.’ Begitulah hatinya berbicara.

-TBC-

Minho sudah pupus harapan, Jiwon pula. Maaf readers, Hara sengaja nyepetin alurnya😦. Takutnya Hara nggak bisa nyelesain nih FF. Berhubng besok Senin Hara mulai masuk sekolah lagi *ceritanya abis liburan seminggu*. Ditambah Hara punya pemikiran FF lain lagi *doohh*. Pingin banget pubish FF baru ini abis Clash. Doain aja ya semoga bisa, wekaweka. (Padahal FF barunya masih disimpen dalam bentuk imajinasi). Ya sudahlah, yang penting readers senang, Hara juga senang🙂. Paipaaii~

32 responses to “Clash (Chapter 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s