[CHAPTER 5] A Thousand Years

a thousand years myungyeon ver

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Kai EXO as Kai (Naeun’s Brother)

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog| Chapter 1 | Chapter 2| Chapter 3| Chapter 4

Hanya saja ia terjebak. Pada situasi yang tidak semestinya.

5th Chapter

“Lihatlah kata-katanya. Alunan tintanya. Sungguh ia wanita yang sangat lembut dan pandai bersyair.” —El

                Jiyi berangkat ke rumah Kung Chen setelah selesai mengantarkan sarapan untuk Naeun dan El. Meski El sempat menahannya dan bertanya kemana, Jiyi tak menjawab lalu bergegas pergi. Ia melewati jalan setapak menuju rumah Kung Chen. Jika ditempuh dari jalan itu, ia akan sampai di belakang rumah Kung Chen dan menghemat setengah waktu dari biasanya.

Rumah Kung Chen dari belakang atau depan sama saja, sama mewah dan terlihat gagah. Jiyi masuk lewat jendela besar pada tembok yang berbentuk bulan sabit. Ukurannya pas dengan tubuh Jiyi. Lubang itu tak ditutupi kaca atau teralis besi, terbuka lebar yang langsung mengarah ke taman belakang rumah Kung Chen. Jiyi merasa tak bersalah memasuki rumah itu tanpa ijin, sempat ia sekali berkunjung ke rumah itu untuk mengantarkan undangan dari Ezra. Kung Chen menyambutnya dengan ramah dan meminta Jiyi untuk masuk kapan saja kapanpun ia mau. Jiyi mendengar suara gemerisik air yang semakin kentara. Suara yang berasal dari kolam ikan koi itu yang menjadi hiburan Kung Chen selain anak dan hartanya. Saat Jiyi memasuki rumahnya, Kung Chen sedang duduk-duduk sambil menaburi makanan ikan.

“Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu pagi Anda. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.” Tutur Jiyi. Kung Chen seketika tersenyum dan mempersilahkan Jiyi masuk. Jiyi melewati batu-batu pualam yang diatur berjajar disekeliling kolam. Terasa halus saat menyentuh telapak kaki Jiyi.

“Apa gerangan yang ingin kau utarakan padaku?” tanya Kung Chen. Jiyi mendekat lalu duduk di sebuah pualam yang paling dekat dengan Kung Chen.

“Sangat tidak sopan bagiku mengganggu ketenangan pagi seseorang. Namun ketidak tenangan Tuan Mudaku bahkan telah mengusik seluruh pagiku. Aku kemari untuk mengatakannya.” Jiyi mulai menarik napas. Kung Chen memperhatikannya dengan seksama, namun tidak menjawab.

“Tuan Mudaku, putra Ezra telah jatuh cinta dengan salah satu putrimu.” Setelah Jiyi mengatakan kalimat terakhir, Kung Chen merasa tertarik. Ia membenahi duduknya lalu bertanya “Putriku yang mana?”

“Yang tercantik dari yang tercantik. Tuan Mudaku pintar memilih.” Jawab Jiyi. Sebenarnya Jiyi belum tahu bagaimana paras putri Kung Chen sesungguhnya. Namun ia yakin yang dipilih El pastilah yang tercantik diantaranya.

“Putriku yang mana? Apa si sulung ataukah bungsu?” tanya Kung Chen lagi. Dirinya tampak berfikir salah satu putrinya yang tercantik.

“Saya tidak tahu, Tuan. Tuan Muda saya pernah melihatnya memasuki toko, ia berada di barisan paling belakang. Siapapun itu, pasti ia selalu berjalan di barisan paling belakang.” Tutur Jiyi. Kung Chen menggosok dagunya, masih berpikir.

“Pastilah ia si bungsu. Ia tak pernah memimpin perjalanan.” Balas Kung Chen. Ia menabur segenggam penuh makanan ikan. Tatapannya menelisik kea rah Jiyi. Gadis itu mengikuti irama tangn Kung Chen yang member makan ikan.

“Ya. Bisa jadi si bungsu. Apakah aku bisa bertemu dengannya? Tuanku yang pintar telah membuatkannya sebuah puisi. Semua gadis pasti tersanjung dengan puisi.” Tutur Jiyi memohon. Kung Chen tampak merenungkan permintaan Jiyi.

“Anak-anakku akan datang ke mari sebentar lagi. Mereka akan mengambil baju-baju. Kau bisa memilih diantara mereka.” Setelah Kung Chen menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara beberapa langkah kaki dari arah depan rumah. “Mereka sudah datang.” Sambung Kung Chen lagi.

Beberapa orang gadis memasuki taman belakang Kung Chen dengan riang. Hampir semua diantara mereka mengobrol dengan saudaranya. Mereka sungguh cantik dengan balutan busana-busana mahal. Pastilah baju-baju itu terbuat dari sutera. Kung Chen yang melihat putri-putrinya datang segera bangkit dengan senyuman bangga. “Mereka semua putriku. Mana yang membuat Tuan Mudamu jatuh hati?”

Jiyi segera bangkit dan membersihkan roknya. Seluruh putrid Kung Chen menatapnya. Banyak dari mereka yang merasa heran melihat seorang gadis asing yang berbicara dengan Ayahnya. Jiyi menunduk untuk memperkenalkan diri. “Selamat pagi, Nona-nona. Saya diutus kemari untuk menyampaikan surat. Untuk putrid Tuan Kung Chen yang sudah membuat Tuan Muda saya jatuh hati.”

Semua anak Kung Chen bersorak. Mungkin mereka belum pernah menerima kiriman seperti ini. Suasana pagi itu berubah menjadi kontes kecil dimana salah satu dari mereka akan dipilih oleh seorang lelaki tampan. Semacam pesta dansa pangeran. Lalu salah satu dari mereka yang bisa dipastikan si sulung bertanya, “Siapa diantara kami?”

Jiyi memikir kata-katanya dengan jeli. Tak mungkin ia langsung memilih si bungsu diantara gadis-gadis itu, pastilah semua kecewa. Ia mulai berpikir untuk mencari teka-teki.

“Pastilah salah satu dari kalian. Tuanku memilih gadis yang sangat dicintainya. Ia sendiri belum tahu namanya. Ia memberitahuku bahwa ia jatuh hati pada yang tercantik.” Jiyi belum menyelesaikan kalimatnya tetapi putri-putri Kung Chen telah bergemuruh heboh. “Kami semua cantik.” “Apa itu aku.” “Pastilah itu aku.”

“Ia bilang padaku bahwa gadis yang telah merebut hatinya adalah gadis yang paling pendiam diantara kalian. Ia tak berbicara dengan siapapun. Dan dia selalu berjalan dibelakang. Ia tak pernah memimpin, ia mempersilahkan kakak-kakaknya berjalan di depan.” Jiyi baru bisa bernapas. Lalu semua putri Kung Chen terdiam. Mereka saling pandang satu sama lain. Sesaat kemudian, mereka berbalik lalu menatap anak gadis Kung Chen yang lain. Si gadis yang ditatap kakaknya merasa aneh dan terkejut. Jiyi langsung menatapnya. “Tuanku tak pernah salah. Anda sangat cantik, Nona.”

Si bungsu menatap kakaknya, tidak ada hawa persaingan diantara mereka. Namun tetap saja, si bungsu merasa bersalah karena dirinyalah yang terpilih. Ia melangkah mendekati Jiyi. “Tuanmu jatuh hati padaku?” tanyanya lirih.

Seperti yang Jiyi bayangkan, gadis itu sangat lembut. Wajahnya sangat putih, garis wajahnya lembut, membuat semua orang tak bosan memandangnya. Suaranya juga enak di dengar, seperti sutera.

Kung Chen lalu menepuk bahu Jiyi. “Dialah si bungsu. Sebenarnya aku berharap yang tertua yang akan dipilih. Tetapi cinta tak memiliki kemudi. Sampaikan padanya.” Tuturnya pada Jiyi. Jiyi lalu mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah kain emas dari sakunya.

“Aku dengar setiap gadis menyukai puisi. Kau bisa membacanya. Alangkah senangnya hati Tuanku jika kau membalas puisinya.” Kata Jiyi sembari menyerahkan kain itu.

Si bungsu menerimanya dengan kikuk, kemudian ia membuka lebar-lebar sehingga kakaknya dapat melihat. Mereka semua membaca dalam hati. Tak ada kata-kata keluar dari mulut mereka. Setelah beberapa detik mereka menutup mulut mereka masing-masing. “Apakah semua lelaki semanis ini?”

Baru kali ini pipi si bungsu memerah. Ia menutup kembali kain itu. “Tuanmu sungguh pintar bersyair. Namun tidak beruntungnya aku tak pandai membuat puisi. Menulispun aku masih terbata.”

Jiyi yang sepertinya sudah siap dengan jawaban seperti itu Nampak tenang. “Nona tetap bisa menulis kan?”

Pertanyaan itu dijawab anggukan oleh si bungsu. “Lalu apa yang harus aku tulis?”

Jiyi mendekat kearah si bungsu lalu berbisik kepadanya. “Biarkan aku yang mengarang puisinya.”

***

Jiyi berjingkat menuju kamar El. Saat tiba di rumah, hari mulai beranjak senja dan lampu El nampak temaram. “Tuanku?”

Jiyi memasuki kamar El setelah pria itu membukakan pintunya. “Kau lama sekali. Apa terjadi sesuatu?” Jiyi yang sebenarnya terkejut ditanyai seperti itu. Bukannya bertanya mengenai puisi untuk anak Kung Chen, El malah bertanya mengenai keadaannya. Sungguh penyayang sekali Tuannya itu.

“Tidak terjadi apa-apa. Tuan Kung Chen menyambutku dengan baik, ia mempersilahkanku makan siang bersamanya. Ada sesuatu yang akan membuatmu bahagia, Tuanku.”

El yang kedua bola matanya langsung berubah menjadi emas tatkala Jiyi mengeluarkan lembaran kain emas dari sakunya. Di gulungan itu pada El. Terdapat pita berwarna merah mengilap yang mengikat kain itu agar tetap rapi. El yang sepertinya tak bisa berkata-kata hanya melempar senyum bahagia pada Jiyi.

Lalu ia membukanya.

Seperti bintang-bintang menyambut malam

Engkau Sang Malam tak pernah jera

Menemui segala yang kau damba

Berkilat

Itulah bintang-bintang

Tetapi bintang bisa kabur

Bersembunyi saat kakak mereka awan menyelubungi

Tetapi ada satu yang akan selalu menemanimu

Menemani Sang Malam

Bahkan hingga bintang terakhir tak muncul

Aku Bulan menyapa uluran tanganmu

 

“Jiyi! Kau harus membacanya. Harus. Kau harus melihat betapa bagusnya ia dalam bersyair. Lihatlah kata-katanya. Alunan tintanya. Sungguh ia wanita yang sangat lembut dan pandai bersyair.”

Sebelum El memberikan gulungan itu pada Jiyi, Ezra mengetuk pintu kamar El. Wajahnya terlihat diantara celah pintu. “Masuklah Ayah.”

Ayahnya yang terlihat ceria hanya berbicara di ambang pintu. “Kun datang membawa sesuatu.”

El yang sedang mencerna nama itu hanya memutar bola matanya beberapa kali. “Kun? Siapa Kun?”

Ayahnya hanya bergidik dan menyuruh El untuk segera pergi ke ruang tamu. Merasa waktunya diganggu, El menghembuskan napas beberapa kali. “Aku akan kesana dalam lima menit.”

Stelah Ayahnya pergi, ia kembali meyakinkan Jiyi untuk membaca surat itu. Dengan tatapan yang sangat memancarkan kebahagiaan, ia menepuk pundak Jiyi lalu berkata “Kau harus membacanya nanti. Aku akan bertemu dengan Kun terlebih dahulu.”

Jiyi langsung mengangguk. Ia menyaksikan bagaimana El melipat kain itu lagi seperti semula. Melingkarkan pita merah itu dengan hati-hati dan rapi. Lalu ia menaruhnya di bawah bantal tidurnya.

***

Seorang yang berwajah mirip dengan Ezra namun bermata sipit sedang mengobrol dengan Ezra. Mereka berbicaera banyak, mengenai keluarga, makanan dan karpet-karpet. El yang baru memasuki ruang tamu langsung disambut baik oleh orang itu yang sepertinya Kun yang ayahnya maksud. “Kau El putra Ezra?” tanyanya.

El dengan kikuk memperkenalkan diri dan menjabat tangannya. Ia duduk disamping Ezra yang sedang meminum the dari cangkir. “Ada banyak yang bisa ku ceritakan padamu El. Tapi kurasa kau akan sedikit bosan karena ini pembicaraan orang tua hahaha.” Terdengar gelak tawa keceriaan dari Ezra dan Kun. El baru mengingat wajah orang itu. Ia adalah sahabat dekat Ayahnya.

“Apa yang kau temukan dari Negara kita, Sahabatku?” setelah menaruh cangkirnya dan berhenti tertawa. Ezra melihat kantung besar yang dibawa Kun. Ia menebak pastilah dalam kantung berwarna hijau gelap itu tersimpan barang-barang menakjubkan dari negara asalnya, Israel.

“Oh hampir saja aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan.” Kun dengan jenggotnya yang berayun-ayun mencoba membuka ikatan tali kantung itu dengan susah payah. Setelah talinya terlepas, berhamburlah berbagai benda aneh dari dalam kantung.

Wajah Ayahnya sama terkejutnya dengan El, bedanya dalam mata Ayahnya terdapat kesan kekaguman yang mendalam. Sedangkan El, hanya murni kebinbgungan. Benda apa saja itu.

Kun meraih sebuah sisir yang gagangnya di hiasi batu-batu kecil cantik. “Kau tahu, sisir ini diambil dari rumah seorang janda kaya raya. Rumah itu sudah ditinggalkan sejak 150 tahun yang lalu. Beruntung masih ada yang tersisa.”

El menyipitkan matanya. Bukankah semua barang yang Kun ambil itu barang curian? Kenapa teman ayahnya itu begitu bangga.

Lalu Kun mengambil satu benda lagi. Sebuah benda mirip Hookah kecil seukuran teko teh biasa. “Aku mendapatkannya dari salah satu kolektor benda langka. Aku mendapatkannya dengan harga lumaya. Yang ku tahu benda ini lebih tua daripada nenek kita.” Kun menyerahkan benda itu pada Ezra dan ia terlihat kagum. El yang merasa bahwa semua barang itu hanya rongsokan yang tak ada gunanya. Ia membenarkan duduk beberapa kali sebagai kode bahwa ia tak nyaman dengan pembicaraan ini.

Namun ada satu benda yang membuatnya tertarik. Satu benda yang rasanya membuat dirinya tersulut untuk penasaran. “Paman, boleh aku tahu benda apa itu? Dalam bungkusan kulit.”

Kun dan Ezra mengikuti tunjukan tangan El yang mengarah pada benda yang dibungkus dengan kulit. Sepertinya ada petasan kecil yang menyala dalam otak Kun sehingga lelaki itu berjingkat dan mengoceh dengan semangat. “Inilah barang utamanya. Kau sungguh pintar El.”

Kun meraih benda itu dan langsung membuka bungkusnya. Seketika, sebuah pedang yang sangat mengilat keluar dari bungkusan kulit yang terlihat tak istimewa itu. El yang terpukau pada benda itu memandangnya tanpa berkedip. Sebuah bilah pedang selebar lengan El, dengan permukaan mengilap seperti cermin, ia bisa melihat bayangannya dari pedang itu. Sangat kokoh dengan ujungnya yang runcing.

“Pedang ini menjadi salah satu saksi peristiwa besar. Banyak dari kita yang terbunuh dengan pedang ini. Lihatlah.” Kun menyerahkan pedang itu pada El. El yang masih terpana menerima pedang itu dengan tangan gemetar.

“Satu peristiwa besar yang terjadi pada Negara Negara kita. Sudah terjadi sejak lama, mereka mengenangnya dengan nama Holocaust. Sangat disayangkan, bayak keluarga kita yang terbunuh dari peristiwa ini.”

Lalu Ezra dan Kun berbicara banyak mengenai peristiwa yang telah membunuh banyak orang Yahudi itu. El tak tertarik mengenai itu, ia hanya tertarik pada benda yang ada di tangannya. Bagaimana bisa benda secantik itu membunuh banyak orang. Ia yakin, pastilah benda ini memiliki kekuatan yang besar selain pemegangnya yang begitu kuat. “Boleh aku memilikinya, Paman?”

Kun yang tengah menceritakan bagaimana mereka membunuh orang-orang langsung menghentikan ceritanya. “Kau ingin memilikinya?”

El mengangguk dengan mantap. Ia kembali menatap bayangannya di atas permukaan pedang. Kun masih berfikir mengenai itu. Hingga akhirnya ia melepas pedang itu untuk El. “Baiklah. Kau bisa menerimanya. Anggaplah sebagai hadiah karena tidak berjumpa sekian lama.”

***

Malam itu suasana lebih damai. Meskipun tak banyak bintang, tetapi bulan masih tampak di tengah temaramnya lilin-lilin rumah. Atas permintaan Chu Ma, Jiyi menghampiri dapur untuk sekedar meringankan bebannya. Saat ia masuk, Chu Ma hampir menyelesaikan pekerjaannya.

Dapur telah bersih, pinggan serta cangkir sudah bertengger manis di dalam kotak. Chu Ma hanya disibukkan dengan teko kecil yang mengepulkan asap. “Oh Jiyi, kau sudah datang? Maukah kau membantuku.”

Jiyi yang berjalan mengendap-endap masih saja terdengar oleh telinga tua Chu Ma. Gagal sudah niatnya untuk mengagetkan wanita itu. “Ya. Aku baru saja melipat baju. Ada apa kau memanggilku? Sepertinya pekerjaanmu hampir selesai.”

Chu Ma mengeluh sambil mengusap dahinya. Meski tak ada keringat yang bercucuran namun jelas sekali wanita itu sangat lelah. “Sebenarnya masih ada satu. Aku sudah tidak kuat untuk melakukan apapun. Tolong antarkan ini, biar aku bisa beristirahat.” Chu Ma menyiapkan satu cangkir dan satu teko yang baru saja diangkat. Dahi Jiyi berkerut, sepertinya El sedang tidak ingin minum sesuatu. Pemuda itu tengah mengobrol dengan Ayahnya.

“Apakah El menginginkan teh?” tanya Jiyi. Chu Ma menarik napas panjang dan menyerahkan baki berisi teh itu pada Jiyi.

“Adik Nona Naeun baru tiba tadi pagi. Ia sungguh merepotkan. Terakhir dia memintaku membuatkannya minuman sebelum tidur.”

“Adik Nona Naeun?”

Chu Ma mengangguk dengan gusar. “Dia sangat tidak sopan. Permintaannya banyak. Sudahlah, tolong antarkan ini. Semoga saja dia tidak menyuruhmu membuatkan apapun lagi.” Setelah mengatakannya Chu Ma segera meninggalkan dapur.

“Tunggu. Ada dimana dia?”

Dari kejauhan Chu Ma berteriak “Dia ada di taman belakang.”

 

Jiyi mencari sosok laki-laki di sekitar taman. Tapi sepertinya taman itu damai-damai saja, tak ada tanda bahwa ada seseorang yang berada disana. Jiyi mencoba mencari di dekat kolam ikan namun tak ada seorangpun. Lalu ia melihat seseorang duduk di bawah pohon, tengah menghadap langit.

“Kau butuh minuman hangat.” Jiyi mendekat sambil menyodorkan baki pada pemuda itu. Pandangan pemuda itu tetap tertuju pada langit. Tak bereaksi seolah Jiyi tak ada disana.

“Akan ku taruh disini.”

“Tunggu. Berani sekali kau berkata kasar. Bukankah seharusnya aku dianggap Tuan disini?” Pemuda itu berkata sinis. Ia baru menatap Jiyi setelah gadis itu bangkit untuk meninggalkannya. Merasa bahwa dirinya berbuat salah, Jiyi kembali duduk.

“Maafkan aku, Tuan. Ku kira saya boleh berbicara dengan lebih akrab.” Kata Jiyi sambil menunduk. Pemuda itu terus menatap Jiyi dengan sinis, sudut bibirnya tertarik.

“Kau pembantu di rumah ini? Ada banyak sekali pembantu di rumah ini.” Pemuda itu berkata lebih-lebih pada dirinya sendiri. Ia menuang teh ke dalam cangkir lalu meniupnya. Jiyi yang masih tak berkutik tetap duduk di depan pemuda itu.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Pemuda itu. Ia menyilangkan dada lalu menatap langit lagi. Jiyi mengangguk.

“Seberapa hebatnya emas? Seberapa berharganya dia?” Pemuda itu menanyai Jiyi tanpa mengalihkan pandangannya. Jiyi yang merasa bingung dengan pertanyaan itu. Ia menatap sekeliling untuk mencari jawaban yang tepat.

“Aku belum pernah memegang emas sebelumnya. Ku rasa jika emas itu berharga mahal akan sangat dicari. Pastilah pemiliknya merasa bahwa emas itu sangat berharga.”

Pemuda itu malah memejamkan matanya. Mungkin saja ia merasa tidak puas dengan jawaban Jiyi. “Jika kau tak pernah memegang emas, kenapa kau bisa mengatakan bahwa emas itu sangat berharga?”

Jiyi merasa dirinya terbendung. Mulutnya seakan tak bisa berkata-kata. Memang benar apa yang dikatakan pemuda itu. Sungguh lancing mulutnya berkata sesuatu yang bahkan belum pernah ia sentuh.

“Sehebat apa Tuanmu El? Apa dia semahal itu sehingga membuat saudariku jatuh cinta? Kenapa dia begitu dikagumi. Aku yakin kau pasti akan menjawab bahwa Tuanmu itu sangat berharga. Tetapi sadarlah, kau bukan pemilik emas itu. Kau tidak pernah menyentuhnya, kau hanya melihatnya.”

Jiyi merasa hatinya tertusuk lalu pemuda itu menabur garam diatasnya. Jiyi tak bisa berkata apa-apa. Ia teringat akan perkataan Chu Ma bahwa pemuda ini sedikit kasar. Ia berniat pergi dari situ tanpa berkata apa-apa.

“Tunggu.”

Jiyi bisa mendengar pemuda itu berteriak dan memegang tangannya. Sangat erat hingga ia merasa bahwa tangannya itu memerah bahkan hanya dalam tiga detik. Jiyi memberontak tetapi kekuatan tangan pemuda itu seribu kali lebih kuat. Dengan kasar pemuda itu membalikkan tubuh Jiyi. Lalu menempelkan bibirnya pada bibir Jiyi.

Seperti dihujani batu ber ton-ton, Jiyi segera mendorong pemuda kurang ajar itu. Meskipun singkat Jiyi merasa bahwa dirinya telah dinodai dengan kelakuan tidak senonoh pemuda itu. “Kau sungguh keterlaluan. Meskipun aku tak pernah memiliki emas itu, tatapi aku tahu emas itu lebih berharga daripada sebuah batu. Bahkan orang tolol pun mengerti itu.”

Kemudian Jiyi berlari meninggalkan taman itu. Berlari ke kamar El.

***

Sambil terus memegangi bibirnya, Jiyi langsung menerobos masuk ke kamar El. Waktu itu El tengah bersiap untuk tidur. Ia baru saja berganti baju sebelum Jiyi masuk ke kamarnya dan memeluknya. Gadis itu menangis dalam pelukannya. El yang tak tau apa-apa mencoba menanyai gadis itu, tapi tetap tak ada jawaban. Gadis it uterus terisak. “Katakanlah sesuatu.”

Jiyi menggeleng dalam pelukan El. Ia tetap tak bisa berkata apa-apa. El menepuk bahunya, mencoba menyalurkan semangat pada Jiyi. “Jika kau tak mengatakan sesuatu bagaimana aku bisa menenangkanmu?”

Lalu Jiyi melepaskan pelukannya. Air mata seolah butiran permata jatuh mengaliri pipi gadis itu. Derak lilin yang berkobar terpantul dari bola matanya yang berair. Jiyi malah menggeleng.

“Apa yang terjadi?” El mengusap air mata di pipi Jiyi tetapi gadis itu menolaknya.

“Dia! Dia!” Jiyi histeris sambil menunjuk arah luar. Ia masih terlalu syok dengan kejadian yang telah menimpanya tadi.

“Siapa yang menyakitimu?” El mulai panik pada Jiyi yang semakin histeris. Sesuatu telah mengguncang dirinya, begitulah pikir El.

“Seseorang telah menodaiku.” Setelah Jiyi menyelesaikan kalimatnya, ia langsung mendekati wajah El. Menempelkan bibirnya dengan milik El. El yang sangat terkejut dengan perlakuan Jiyi tak bisa berbuat apa-apa. Segera setelah mendapatkan bibir El, Jiyi mengusap bibirnya dan mencoba lebih tenang.

“Aku akan suci kembali dengan menetralkan diriku pada, Tuanku. Aku akan menenangkan diri setelah ini.”

El masih tak dapat berkata-kata. Ciuman Jiyi yang singkat dan sulit di percaya membuatnya sangat terkejut. Apa yang membuat gadis itu ketakutan sehingga membuatnya seperti itu.

Setelah Jiyi keluar dari kamarnya, kini giliran Naeun yang masuk. “Kenapa gadis itu keluar dengan menangis?”

El tak menjawab. Ia mencoba memalingkan wajahnya yang terkejut dari Naeun. Lalu menggeleng. “Tidak terjadi apa-apa. Dia bilang dia diganggu seseorang.”

“Seseorang? Lalu apa haknya memasuki kamarmu tanpa ijin.”

“Naeun, ayolah dia sudah tinggal denganku semenjak kecil.”

“El, kau akan menikah. Bagaimana ini bisa terus terjadi saat kita sudah menikah nanti?”

‘Naeun, kumohon?”

Naeun cukup terkejut mendengar bentakan El terhadapnya. Ia sangat tak menyangka ekspresi El akan seperti itu saat disinggung mengenai Jiyi. “Kenapa kau selalu seperti ini saat aku menyinggung nama Jiyi. Dia hanya budakmu.”

“Hentikan! Bisakah kau tidak bicara sekarang. Kita belum menikah dank au tak boleh memasuki kamarku tanpa ijin.” El mengusap wajahnya dengan gusar.

“Lalu kenapa wanita itu bisa masuk ke kamarmu saja?”

El semakin naik pitam. “Aku bilang dia sedang diganggu seseorang. Apa itu kelakuan adikmu?” Pertanyaan El seolah menantang.

Naeun merasa tersinggung akan pertanyaan El. Ia bahkan tak menyangka hanya karena nama Jiyi pemuda itu bisa sangat marah. “Ada apa denganmu? Adikku tak berbuat apapun.”

“Dia tak akan merasa setakut ini. Pasti adikmu itu telah menceakai Jiyi hingga ia menjadi trauma dan ketakutan.”

“Tidak ada yang terjadi. Adikku tak mungkin serendah itu, Jiyilah yang mengarang semua ini.”

Pertengkaran antara El dan Naeun semakin menjadi. El yang tak terima dengan perlakuan adik Naeun terus menghujati kakaknya dengan ribuan pertanyaan. Sedangkan Naeun masih mempertahankan asumsinya bahwa adiknya tak mungkin melakukan hal memalukan, terlebih pada orang rendahan seperti Jiyi. “El, adikku tak mungkin berbuat sepeti itu.”

“Tidak. Dia pasti melakukannya.”

Kemarahan Naeun tak dapat dibendung lagi. Kini ia benar-benar tersinggung. Boleh saja El melindungi Jiyi semampu yang ia bisa, tetapi ia tak boleh menyangkutkan masalah ini pada keluarganya. Hingga amarah menguasainya, ia meraih benda dengan bungkusan kulit itu dari dinding kamar El. Ia melihat benda itu berkilat tajam di bawah sinar matahari senja. Kini dengan sinar lilin temaram, benda itu berkilat lebih indah dan mengancam.

“Aku tak pernah meminta ini.”

Naeun mengayunkan benda itu kea rah El. Beruntung El cepat menghindar, namun dahinya tak dapat lolos sehingga darah bercucuran dari sana. Pedang itu langsung terjatuh di lantai. Naeun tak menyangka bahwa ia bisa berbuat sekeji itu, terlebih pada calon suaminya sendiri El.

El jatuh terkapar di lantai. Darah mengaliri wajahnya hingga ke lantai. Naeun sangat terkejut dan ia menjerit. Jiyi yang mendengar jeritan itu langsung berlari ke kamar El. Sejak tadi ia tak bisa jauh dari kamar itu, ia yakin jika Naeun tengah marah pada El. Ia sangat khawatir sehingga ia tak bisa jauh-jauh dari kamar itu.

Setelah memasuki kamar, hal-hal yang ia lihat adalah El yang terkapar dengan penuh darah dan Naeun yang syok tengah memandangi tangannya. Lalu Jiyi berlari kearah El lalu membantu meredakan pendarahan pada dahinya. Ia menyobek kain roknya untuk membersihkan darah dari dahi El. Yang membuat dirinya semakin panic, El pingsan dan tak sadarkan diri. Jiyi terus membersihkan darah itu dengan sekuat yang ia bisa. Menutup luka El dengan bebatan kain roknya.

Naeun hanya menyaksikan peristiwa itu. El yang berlumuran darah, Jiyi yang mencoba meredakan pendahan itu dan tangannya yang gemetar. Ia menggeleng dengan keras seolah ia tengah dirasuki pikiran jahat. “Tidak. Tidak. Aku tidak mencelakasinya. Bukan aku.”

Kemudian Naeun berlari, membawa pedang itu bersamanya.

***

Beberapa saat terdengar jeritan setelah beberapa langkah mendekati kamar El. Jiyi masih sibuk dengan pendarahan hebat El. Madame Ezra berteriak dan tak kuat menahan tangisnya. Sedangkan Ezra memasuki kamar El. Ia sangat terkejut dengan keadaan putranya saat ini. “Apa yang terjadi?”

“Mereka bertengkar, Tuan.” Kata Jiyi tidak jelas. Ia menyobek kain roknya lagi lalu menekan darah dari dahi El agar tidak keluar.

Tangisan Madame Ezra memenuhi ruangan. Ia memasuki kamar El dengan pucat. Ia tak kuasa melihat putanya yang tak sadarkan diri. Ditatapnya suaminya yang kebingungan, matanya berkaca-kaca dan bibirnya pucat. “Naeun bunuh diri.”

Jiyi yang masih menekan dahi El berhenti seketika. Ia mendengar Nyonya besarnya itu berkata jika Naeun bunuh diri. Itu artinya gadis itu membunuh dirinya dengan pedang yang sama dengan pedang yang ia gunakan untuk mencelakai El, mengingat benda itu sudah tak ada di lantai.

Madame Ezra berjalan tergopoh-gopoh kearah Jiyi. Memegang pundaknya dan terbata-bata berkata “Apa kau penyebab pertengkaran mereka?”

 

Tbc

Tbc lagi kakak. Dan ga jadi di password ternyata -,- ya gapapa sih.

Cerita ini bakalan aku tamatin 2 atau 3 chap lagi. Semoga gak molor semakin lama. Sebenernya sih aku belom ada pandangan buat lanjutin, tapi aku ngerasa ada yang bolong di perasaanku kalo ini gak end. Soalnya ini fict dulu primadonaku banget. -,-

Aku mau ngucapin buat readers yang sudah samapi disini. Tanpa dukungan kalian mungkin aku udah ninggalin ff ini dari chap awal.

Meskipun begitu aku masih memberikan sesuatu yang terbaik yang aku bisa. Selamat membaca ya, Readers!

Terima kasih sudah mendukungku sampai saat ini. Tetap tunggu sampai ending, ya😀😀

43 responses to “[CHAPTER 5] A Thousand Years

  1. adiknya naeun kurang ajar banget sih ngeselin-___- naeun nya juga sama ngeselin-____-
    aaaaaa madame ezra kok nanya nya gitu sih?😦 ah jiyi nya jan di apa-apa in dong😦

  2. Setlah kejadian yang menimpa naeun n myungsoo apakah jiyi bakalan yang di slhkan??? Maldwo andwe… next juseyo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s