Clash (Chapter 7)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon
  • Krystal Jung
  • Naeun

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Previous

.

Myungsoo’s PoV

Begitu mendengar kabar dari Irene, aku segera bergegas menemuinya. Irene adalah teman dekatku yang sekelas dengan Jiyeon. Aku meminta tolong padanya untuk mengawasi Jiyeon. Terakhir kabar yang kudapat darinya, Jiyeon tengah berduaan di kelas bersama Taehyung sepulang sekolah.

Otakku memanas mendengarnya. Aku tak segan-segan menemui pria yang dulu sempat kutakuti dan kuhindari. Dan kini ia di hadapanku sambil menyandarkan diri di tembok belakang sekolah.

“Ada apa kau memanggilku?”

Lama kami berbincang dengan sengit sampai kesabaranku terbakar habis. Dan kutonjok pipi merah lelaki itu. Tidak ada ketakutan, yang kurasakan kini hanyalah amarah.

“Kau tidak tau bagaimana jika seorang pria sudah mencintai perempuan.”

.

CHAPTER 7

.

 

Jiyeon’s PoV

I love you, man. Why can’t you see that?

 

Sebelah tanganku menyentuh dada. Mencoba merasakan masih ada detak jantung di sana. Nafasku kuatur baik-baik. Tarik, hembuskan, tarik, hembuskan, begitu saja lalu aku memantapkan langkah untuk berjalan.

Siang bolong dengan terik yang menyengat memang membuat para siswa malas untuk berkeliaran. Di jam segini, mereka lebih memilih sibuk di dalam kelas dengan air conditioner.

Dan karena kemalasan mereka pula yang membuatku harus berjalan menuju lapangan sekolah. Tidak ada satu teman sekelasku yang mengambil copy-an tugas dari Guru Lee, terpaksa aku saja yang mengambilnya. Hitung-hitung mengurangi rasa kantuk di kelas.

Lapangan yang berada di bagian belakang sekolah seperti kuburan. Aku mengangkat bahu sambil meneruskan langkahku.

Aku semakin jengkel menyadari gerbang sekolah bagian belakang terkunci. Kulihat di post satpam tidak ada orang. Aku nyelonong masuk untuk mengambil kunci. Sekilas senyuman terpatri begitu aku menemukan kunci gerbang di dalam laci.

Tidak lama senyumanku terhapus. Dari dalam post satpam, aku dapat menangkap dua orang pria dengan postur tubuh yang jelas kukenali. Meski kaca dari post kecil ini berwarna hitam kelam, namun tidak salah lagi itu Taehyung dan Myungsoo.

Tadinya aku hendak mengabaikan mereka dengan pura-pura tidak tau, tetapi melihat Taehyung menarik kerah baju Myungsoo menggerakan naluriku untuk mendekati mereka dengan langkah sedikit emosi.

 

“Sudah cukup!!!”

 

Suara lantangku menggema di lapangan ini. Taehyung tampak meregangkan cengkramannya, Myungsoo membulatkan matanya. Dan keduanya spontan menyebut namaku, “Jiyeon?”

Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Menggeleng-gelengkan kepalaku sambil mendecakkan lidah. Kasihan dengan perkelahian yang ada di hadapanku.

“Lucu sekali,” santaiku, “Posisi kalian saat berkelahi, terlihat seperti sahabat yang lama tak jumpa.”

Sadar dengan sindiranku, kedua pria itu saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Lantas Taehyung cuma-cuma mendorong tubuh Myungsoo dan menjaga jarak darinya.

“Jadi itu benar,” dari sini aku bisa yakin bahwa Taehyung dan Myungsoo dulunya satu sekolah, “Melihat kalian sedekat itu, aku percaya kalian pernah satu sekolah.”

“DEKAT?!” Taehyung melotot geram, “Jangan menggunakan kata menjijikan itu.”

Myungsoo mengulum senyuman kecut.

Ya, Kim Taehyung, kembalilah ke kelas. Jangan membuat keributan di sini,” ujarku.

“Aish, jinjja. Babo-ya? Di sini hanya ada aku, kau, dan lelaki kucrut ini, kau bilang keributan?” timpalnya.

Merasa tidak terima dengan sebutannya, Myungsoo hendak menghantam Taehyung. Namun aku meliriknya pedas.

“Aku tidak tau kalian sedang apa dan mau apa, tetapi—“ aku berhenti sejenak dan saat itulah aku sadar di sudut bibir Taehyung ada bercak darah, “—lebih baik kalian hentikan saja.”

Myungsoo dan Taehyung saling berpandangan. Tidak peduli dengan perkataanku mungkin.

“Myungsoo,” panggilku. “Bisakah kau mengantarku mengambil copy-an?”

Yah, mungkin lebih baik seperti ini untuk memisahkan mereka.

Myungsoo tak bergeming. Kemudian ia menyeringai puas pada Taehyung sembari menghadap padaku. Dan merubah wajahnya menjadi senyum manis untukku. Lantas aku dan Myungsoo membalikkan badan, meninggalkan Taehyung dalam kesendirian.

—o0o—

Pandanganku bergerak ke sana ke mari. Tidak lepas dari layar monitor tepat di hadapanku. Sesekali jemariku menekan tetikus yang terletak di sebelah komputer.

“Hey.”

Suara berat mengusikku. Aku membalasnya dengan senyuman tanpa mengalihkan pandanganku.

“Sedang sibuk?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Kau hobi membaca novel di internet ya?”

Kalimat itu menghentikkan gerak gerik bola mataku. Barulah aku menoleh dan mendapati Minho sudah duduk di sebelahku sambil tersenyum hangat.

“Oh, yaa.. aku suka saja,” timpalku kembali menatap layar monitor.

Sore ini sepulang sekolah anak Admin Club kumpul di laboratorium komputer –basecamp kami-. Selesai rapat tentang pembagian jabatan, waktu bebas diserahkan kepada kami. Dan itu kumanfaatkan untuk membaca cerita di blog kesukaanku.

“Kau cantik.”

Ini telingaku yang rusak atau apa. Aku menyempatkan diri untuk menatap pria di sebelahku. Dia tersenyum begitu halus.

Nde?” polosku atau sok polos?

Aniy, lanjutkan membacamu.”

“Ah, aku lanjutkan membaca,” ucapku ragu.

Dan ini sedikit membuat suasana menjadi canggung.

.

.

Merasa puas membaca novel gratisan di dunia maya, aku ijin pulang terlebih dahulu pada teman-temanku di Admin Club. Begitu mereka mengijinkan aku pulang, aku bergegas keluar laboratorium. Kedua kakiku berlari kecil.

Dugaanku benar, lelaki itu sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Dia duduk secara kasual di montor besarnya sambil memainkan ponselnya.

Aku menyisiri rambutku terebih dahulu menggunakan jemariku. Selesai berbenah singkat, aku menghampirinya.

Mian membuatmu menunggu lama,” ujarku.

Ia mengangkat kepalanya. Hidung mancungnya begitu enak dipandang. Terlebih mulutnya membentuk lengkungan yang sempurna. Ah, aku baru sadar bahwa lelaki ini memiiki wajah yang cukup tampan.

Gwenchana,” sahutnya. Kemudian ia menyodorkan helm untukku.

Aku menerimanya dengan senyuman.

“Myungsoo, kau tidak keberatan bukan?” tanyaku sebelum menaiki montornya. Padahal Myungsoo sudah siap mengendarai montor.

“Tentu saja tidak.”

“Maap aku merepotkanmu. Kau harus mengantarku dulu ke rumah,” gumamku.

Myungsoo memamerkan sederetan giginya, “Ya, jangan sungkan padaku.”

Aku balas menatapnya. Menyadari senyumannya yang tulus, rasa tidak enakku menjadi hilang.

Ketika aku mengenakan helm di kepalaku, aku melihat Minho dari kejauhan. Tubuh pria itu mematung di sana. Melihat aku yang akan membonceng Myungsoo. Seolah ia baru saja mendapat sengatan listrik, pria itu segera membalikkan tubuh. Berlari sekencangnya.

Meski jaraknya cukup jauh, aku yakin tadi melihat wajah Minho linglung tak percaya. Kedua mataku bahkan masih memandang punggungnya yang semakin menjauh.

“Jiyeon?” panggil Myungsoo memecahkan lamunanku.

“Oh, ne,” sadarku sambil menaiki montor milik Myungsoo.

“Pegangan yang erat.”

“Eo.”

Saat montor berwarna merah ini mulai melaju dengan suara beratnya, aku sudah tidak bisa mendapati sosok Minho. Dan montor ini membawaku pergi bersama Myungsoo.

—o0o—

“Minho tidak hadir?”

Pertanyaan itu sudah kesekian kalinya dilontarkan oleh seniorku di hadapan laboratorium komputer. Admin Club memang mempunyai jadwal latihan rutin. Kami semua selalu menghadirinya. Dan kini ada satu anggota kami yang tidak datang tanpa memberikan alasan.

“Alasannya apa?” tanya senior berkacamata itu.

Tidak ada yang berani menjawab. Antara senior dan adik kelas sedikit ada tata karma.

“Suho!” senior itu menyebut ketua muda Admin Club yang baru kemarin dipilih, “Baru dua kali latihan rutin, kau tidak bisa mengatur anggotamu untuk hadir semua?!”

Sudah menjadi hukum alam jika ada kesalahan anggota, maka yang menjadi sasarannya adalah ketua mudanya.

Mianhae, sunbae. Besok aku akan menemui Minho.”

Senior itu lebih memilih tidak melanjutkan adu debat. Ia meneruskan materi tentang teknologi. Masing-masing dari kami menghela nafas lega.

Tidak dengan aku. Pikiranku masih kalut. Mencari alasan mengapa Minho tidak hadir. Biasanya ia yang paling rajin. Selain itu, ia dekat dan disenangi oleh senior-senior.

Aku menggelengkan kepala mencoba menfokuskan pada materi yang tengah diajarkan oleh seniorku. Di tengah materi, aku menyempatkan membuka social media.

Kedua mataku membulat, melihat suatu gambar yang baru beberapa menit di upload oleh Minho. Di dalam gambar itu hanya berisikan tulisan. Tulisan itu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Sunbae!” aku mengangkat tangan kanan.

Senior dan teman-temanku memusatkan perhatian padaku.

“Aku ijin mencari Minho.”

Mereka memberikanku wajah bertanya-tanya. Seniorku diam sejenak. Tampaknya ia sedang berpikir.

“Baiklah. Jika sudah bertemu, kembali lagi ke sini.”

Aku mengangguk sekaligus senang mendengar ijin dari seniorku. Mantap aku bangkit dari kursiku. Dan mulai bergerak.

Dari social media ada keterangan lokasi, dan lokasi itu menunjukan ia masih berada di gedung akselerasi. Aku melesat ke sana.

Jika Minho dibiarkan, maka aku yakin untuk selanjutnya ia tidak akan datang ke latihan larut Admin Club atau dia akan meninggalkan Admin Club. Aku tidak bisa melepaskan satu anggotapun dari Admin Club. Terlebih aku tidak ingin membebani Ketua Muda dan teman-temanku. Jika salah satu dari kami menghilang, maka dipastikan kami akan diberi shock teraphy dan hukuman dari senior-senior kami.

Aku menunduk memegang kedua lututku begitu mencapai gedung akselerasi. Dadaku sedikit nyeri, tetapi aku menahannya. Aku berjalan sambil memegangi dadaku.

Pandanganku menyelidiki tiap penjuru gedung sekolah yang lebih kecil dari gedung regular. Merasa tidak sanggup, aku mendudukan diri di depan salah satu kelas. Aku mencoba mengatur nafasku. Menenangkan diri. Ini pasti karena aku berlari tadi.

Nafasku pendek tak karuan. Perlahan aku mengaturnya. Dalam pandanganku, aku bisa melihat Minho berjalan santai hendak keluar sekolah.

Aku segera berdiri dan menyusulnya.

“Minho!”

Butuh tenaga ekstra untukku berteriak memanggil namanya. Ia terhenti, ragu menengok ke belakang.

“Jiyeon?”

Wajahku sumringah lega. Aku mempersempit jarak agar suaraku dapat didengarnya.

“Hari ini jadwal latihan rutin Admin, ayo ke lab sekarang,” ajakku ramah.

Mimik Minho yang biasanya memandangku lembut, berubah menjadi lebih gelap, “Aku tidak bisa.”

Aku menahan Minho untuk tidak membalikkan tubuh. Minho mengerutkan alisnya.

“Aku mengerti,” ujarku menundukan kepala, “—aku mengerti bagaimana perasaanmu,” ulangku pelan –begitu pelan-

“Jika seperti itu, aku minta maaf sudah melukaimu,” lanjutku.

Minho mengatupkan mulutnya rapat. Aku berbicara tetapi pikiranku menggambarkan tulisan pada gambar yang diunggah oleh Minho.

“Kau tidak bisa latihan rutin karena aku. Benar kan?” kali ini aku menatapnya meminta penjelasan.

Minho membalas tatapanku layu, “Eo.”

“Minho—” lirihku sambil mengingat kejadin di mana Minho melihatku bersama Myungsoo, “—aku tidak tau kau bisa menjadi seperti ini. Tetapi tidak bisakah kau membedakan urusan pribadimu dengan urusan Admin Club?”

Ia masih membiarkanku berbicara.

“Admin Club tidak bisa melepaskan satupun anggotanya. Itu sudah menjadi janji kita diwaktu diklat—”

“Aku hanya tidak hadir sekali di latihan rutin,” potongnya cepat. “Jadi, tidak usah khawatir. Aku tidak akan keluar dari club.”

Minho meneruskan langkahnya melewati sisi tubuhku. Bukan ini yang kumaksud penjelasan. Bukan.

“Minho!” sergahku dan ia kembali melihatku.

 

Mianhae.”

 

Lembut suaraku terbawa oleh angin. Dan pria itu dengan jelas memberikan senyuman tulusnya kembali seolah menyamarkan isi hatinya.

Batin pria itu berkata, ‘Aku akan melepaskanmu sekarang, Jiyeon.’

.

.

Tulisan pada gambar post oleh Minho:

   ‘I never stopped loving you, I just stopped showing it.’

.

.

Dalam keterdiaman aku memandangnya sosoknya yang makin lama makin menghilang. Aku menghela nafas. Mengurangi sesuatu yang janggal di hati.

Nada singkat dari ponselku terdengar, aku membaca pesan whatsapp dari Myungsoo. Ia menagih janjiku yang akan menemaninya makan setelah latihan rutin Admin Club.

Aku hanya tersenyum tipis sambil membalas pesannya. Lantas aku kembali ke gedung regular dengan hati sedikit lebih tenang, untuk meneruskan kembali latihan rutin Admin Club.

—o0o—

Waktu terasa singkat hingga kini aku sudah berada di foodcourt. Duduk termangu tidak dengan siapapun.

Bagi orang dengan tipe sepertiku, rasanya aneh jika harus melukai hati pria. Apalagi pria itu begitu baik. Tetapi mau bagaimana lagi, cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?

“BAA!”

“Ah, kamjakke!” kagetku.

Myungsoo hanya menyengir tanpa dosa. Sementara aku menimpuk pundaknya, kesal karena dia membuat jantungku hampir copot.

Pria itu masih tertawa, mungkin lucu membayangkan ekspresi terkejutku tadi. Mulutku memberengut, tetapi semakin melihat tawanya, semakin aku terhanyut. Ikut dalam tawanya yang seolah memiliki magnet tersendiri.

Akhir-akhir ini, jantungku berdebum rasanya tiap berada di dekat dengan Myungsoo. Di sisi lain, aku memikirkan Minho yang baru saja pergi, dan Taehyung yang selalu membuatku jengkel. Ah, atau—mungkinkah pilihan yang tepat adalah pria ini?

-TBC-

Anyeong, semuanya! ^^. Huraay huraayy Chapter 7 rampung dirapikan mwehehe jadi bisa dipublish. Ini juga lebih panjang wekaweka. Atau masih kurang panjang ya? btw, Hara lagi suka banget sama BTS nih apalagi Jungkook, wajahnya babyface sukasuka, V juga lumayan lah~ Eh, napa jadi ke BTS yaa. Oke balik, ditunggu kelanjutannya yaa, teman teman. Masih pada bingung kan namja yang bakalan dipilih sama Jiyi??? Hara juga bingung *PLAK* *pukul saja Hayati bang*. Okee, see yaaaa~~~

30 responses to “Clash (Chapter 7)

  1. ya minho ptah hati.yang sabar minho.
    yes jiyeon udh suka sama myung,semoga eng.a mereka berdua jdi pasangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s