[FICLET] FIRE

pstrficletWritten by Shin Min Rin/Lin

FIRE

Starring Kim Myungsoo (L ‘Infinite’) & Park Jiyeon (Jiyeon ‘T-Ara’) and other…

Fluff & Romance  | Ficlet  |  Rated T

DISCLAIMER

The Cast(s) belong to themselves. Eventhough this fanfic, not good but it purely made by me as a author.

SUMMARY

Hubungan yang selalu baikan dan berpisah. Jiyeon yang bermulut pedas ‘wanita ular berbisa’ dan Myungsoo yang sudah tidak tahan dengan sikap Jiyeon.

WARNING! TYPO(s), OOC, OOT, and (foto yg nyomot dari google dan diedit dikit, maaf kalau tidak lezat(?))

—-Fire—-

Amarah yang meledak membludak seperti api yang ditiupkan angin. Amarah itu seolah-olah menjalar, terasa panas, naik ke atas, merambat menyebabkan kerusakan akibat rasa panasnya yang semakin parah. Melahap segala hal yang masih normal.

Dia melipat tangannya, menatap dengan matanya yang terlihat tidak ada kesenangan apapun disana. Tatapan angkuh nan dingin. Dia menyilangkan kakinya. Topi beludru coklat yang melekat dikepalanya, dress selutut berwarna biru tua, mantel kulit lembu berwarna biru langit dan sepatu hak beludru coklat. Bahkan penampilan cantik dan super ‘wah’ yang setiap hari ku lihat tidak sepadan dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Dia menatapku tajam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seakan-akan menungguku duluan untuk berbicara memecah keheningan yang menyelimuti suasana diantara kami. Aku membetulkan posisi dudukku sejenak. Menatapnya kembali yang masih menatapku dengan tatapan kesalnya. Aku menghela nafas sebelum benar-benar memulai pembicaraan.

“Bisa ku jelaskan semuanya,” Dia langsung membuang muka, mengarahkan pandangannya ke dalam kafe, memandang orang-orang lain. Menolak dengan mentah apa yang akan ku katakan.

Aish jinjja! Kalau kau begini terus, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi disisimu.”

Aku membuang nafas kesal. Dia langsung mengarahkan pandangannya menatapku, alisnya tertarik ke atas, tampak tak terima mendengar penuturanku barusan. Aku menatapnya dengan kesal. Dia meletakkan tangannya ke meja. Dia mendekatkan wajahnya kepada ku.

Mwohaneungoya?! Kau mau kita sudahan?” Aku mengangguk sebagai tanda jawabannya. Dia membuang nafas kesal, lalu membuang mukanya dan bersandar ke kursinya lagi sambil melipat tangannya.

“Kau mau sudahan dengan hubungan ini hanya karena kesalahanmu sendiri? Cih, childish.”

Jantungku bergemuruh, aku mencelos hanya dengan kalimat pedasnya yang sudah setiap hariku dengar. Aku mengepalkan tangan diatas meja, menatapnya dengan gusar. Diremehkan seperti ini terus-menerus. Awal dekat baik-baik saja, tapi lama kelamaan keluar taring aslinya si wanita ular berbisa ini. Penampilannya yang cantik tidak bisa menutupi kelakuan dan mulut pedasnya. Lelaki mana yang bisa tahan dengan wanita semacam ini?!

“Oh baiklah aku sudah selesai… aku sedang banyak urusan, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kita benar-benar selesai sampai disini. Aku sudah lelah dengan permainan ini. Jangan pernah menghubungiku lagi. Selamat tinggal Jiyeon-ssi.”

Tanpa memperdulikan dia yang tengah melongo tampak tidak terima dengan keputusan sepihak ini. Aku mengambil jas silver yang tersampir pada kursi dan meninggalkannya sendiri di dalam kafe. Sedikit perasaan lega bercampur dengan perasaan tidak rela. Ya, walaupun semuak apapun, tetap saja aku mencintainya yang apa adanya seperti itu. Tapi ada saatnya pula, aku merasa benar-benar tak tahan dan muak dengan hubungan rapuh kami. Selalu berpisah dan nanti kembali lagi. Menyesali perbuatan masing-masing yang kekanak-kanakan tapi kembali melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Kali ini, aku benar-benar muak dengan semua permainan di hubungan ini. Walaupun tidak rela, mungkin aku bukan yang terbaik dan tidak cocok untuk gadis seperti dia.

Sebuah tangan menarik bahuku dengan kuat. Aku berbalik mendapati Jiyeon menatap ku dengan sedih?

Dia menggigit bibirnya, ekspresinya disaat-saat tidak rela dan menyesal. Aku merasa agak kasihan juga melihat wanita yang sudah menjadi posisi mantan pacar sekarang berdiri di hadapan ku dengan wajah seperti ini.

Aku menundukkan kepalaku untuk menatap matanya secara langsung. Ku pegang kepalanya, ekspresinya masih sama. Dan….. PLAK!

Aku memegang pipiku yang terasa pedas dan panas. Menahan kekesalan yang terasa diujung kerongkongan ku. Aku mengeraskan rahang menatapnya yang menatap ku dengan mata merah berkaca-kacanya.

“Jika itu maumu, kita benar-benar berakhir! Selamat tinggal Myungsoo-ssi. Anggap kita tidak pernah kenal selama ini.”

Dia berjalan dengan cepat sampai-sampai bahunya ikut bergoyang mengikuti arah langkahnya yang sangat cepat. Aku hanya bisa menahan dongkol di dalam hati. Dijadikan tontonan oleh para pelanggan kafe dan beberapa staf disini.

 

.-.–.

 

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian memalukan itu terjadi. Tidak ada sambungan telepon ataupun sms masuk ke ponselku dari wanita ular berbisa itu. Ada sedikit perasaan janggal namun ini memang keputusan bulat kami, untuk tidak melakukan hal yang sama berulang kali. Tapi biasanya bila kemarahan yang membara seperti api itu sudah menjadi dingin dalam hitungan dua atau tiga hari. Kami akan kembali seperti biasanya, tapi kali ini, sepertinya benar-benar berakhir.

Ditampar, dikatai kata-kata pedas dan bahkan diinjak dengan sepatu tinggi haknya itu sudah biasa bagi ku ketika kami sama-sama menyebarkan amarah yang berujung perpisahan seperti ini. Tapi kali ini, tampaknya benar-benar berakhir. Aku melihat kontaknya, masih tertera nama ‘Baby’ disitu. Nama yang diberikannya diam-diam ke kontak ponselku saat dulu aku dan dia masihlah ‘kami’.

Eoh sudahkah?” ucap ku begitu melihat wanita paruh baya yang barusan keluar dari department store. Aku langsung membuka pintu mobil dan menghampirinya yang sedang membawa beberapa kantong dan tas kertas belanjaannya. Aku langsung meraih barang belanjaannya dan membawanya masuk ke dalam bagasi mobil.

“Ah! Yang itu jangan Myungie-ya. Bawa kesini, itu barang gampang pecah,” Ibu langsung mengambil tas kertas yang berada di tanganku. Setelah itu pula, aku menutup pintu bagasi belakang dan masuk ke dalam mobil sebelah kiri.

“Eomma sudah lama tidak melihat Jiyeon, kemana dia?” Ibu menatapku menuntut jawaban, jantungku terasa berdegup kencang. Hubunganku dengan Jiyeon sudah terbilang lama dan sudah diketahui oleh kedua orang tua. Aku bingung akan menjawab apa jika aku bilang kami sudah tidak memiliki status hubungan apapun.

“Ah… dia sibuk.” Hanya itu jawaban bohong yang bisa ku lontarkan mengiringi senyuman hambar yang terpancar jelas diwajahku.

“Aigo… padahal Eomma kangen dan ada yang mau Eomma berikan padanya.”

“Berikan? Biar aku saja Eomma, dia benar-benar tidak bisa ditemui minggu-minggu ini.”

No no no. Ini barang yang spesial, Eomma harus memberikannya secara langsung.” Ibu ku tersenyum misterius. Aku hanya memutar bola mataku, lalu tidak memperdulikan ocehan apa yang akan dikatakan Ibu setelah ini.

Aku memasukkan kunci mobil. Mulai menginjak pedal gas. Tapi aku melihat sosok wanita ular berbisa itu yang sedang berbincang hangat dengan teman-temannya di seberang jalan sana. Aku seperti menangkap ikan yang sudah lama ku cari. Tanpa memperdulikan tatapan Eomma yang penuh tanda tanya sedang melihatiku kini. Aku langsung meraih ponsel yang ada di dashboard. Mengetikkan beberapa kalimat disana dan setelahnya samar-samar bibirku terasa tertarik ke samping. Aku mulai menginjakkan gigi dan menginjak pedal gas.

 

=.=.=.=.=

 

“Kali ini gantian bukan aku yang menghubungi pertama kali. Siapa yang bilang ‘jangan menghubungi ku lagi’…. Lihatlah sekarang siapa yang mengingkari janjinya.” Jiyeon duduk manis dengan posisi angkuhnya. Melipat tangannya dan melipat kakinya begitu melihat Myungsoo datang dan akan duduk.

Myungsoo menarik kursinya untuk mendudukkan pantatnya. Dia tersenyum miring mendengar perkataan sarkastik Jiyeon.

Arasseo. Aku juga ingin bertanya, siapa yang begitu habis dihubungi langsung datang lebih awal dan sudah duduk manis dengan berdandan rapi disini?” Myungsoo memutarkan bola matanya dan mengangkat jari telunjuknya, “Ah, ini juga belum masuk ke jam perjanjiannya. Aku keawalan 10 menit, dan kau sudah disini daritadi?”

“Cih, jangan membolak-balikkan pertanyaan. Myungsoo-ssi.” Jiyeon tak mau kalah menanggapi perkataan Myungsoo.

“Kau masih mengenal namaku ternyata Jiyeon-ssi? Kau bilang terakhir kali untuk tidak saling mengenal, kan?”

Jiyeon berdecak kesal, perkataan Myungsoo benar-benar bisa melawannya. Dari dulu, Myungsoo selalu bisa melawan kalimat-kalimat pedas yang dilontarkannya. Tapi terkadang Myungsoo juga lebih memilih mengalah dibanding debat kusir dengan dirinya. Jiyeon memutar bola matanya jengah. Jiyeon meluruskan kakinya yang tadi dilipat menimpa kaki satunya.

Raut wajah Jiyeon tiba-tiba berubah menyeramkan. Senyum sinis menghiasi wajah cantiknya.

“Aw! Apa yang kau lakukan wanita ular?!” Myungsoo meringis kesakitan. Wajah tampannya tampak mengerut kesal menghadapi wanita di hadapannya. Jiyeon malah tersenyum dengan angkuhnya, dia menjauhkan sepatu hak tingginya yang barusan diinjakkan ke sepatu lawan di depannya dan membaca buku menu yang ada di hadapannya.

 

Begitu pelayan restoran sudah meninggalkan meja mereka. Mereka langsung menatap satu sama lain. Myungsoo tersenyum meremehkan. Jiyeon menyandarkan dagu pada tangannya.

“Jadi ada urusan apa Myungsoo-ssi memanggilku kesini dan mengajak makan malam begini?” Myungsoo terkekeh melihat ekspresi Jiyeon yang tampak angkuh dibuat-buat.

Ya! Perhatikan ucapanmu, tidak pantas dengan sifatmu yang seperti ular berbisa.”

Jiyeon menggertakkan giginya. Dia merubah posisinya sekarang, kembali melipat tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.

Joah, Tidak usah dibahas. Bisa merusak selera makan ku saja.” Jiyeon menyandarkan kembail tubuhnya pada sandaran kursi, dia tidak memperhatikan Myungsoo yang ada di depannya.

Akhirnya mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Bingung ingin memulai pembicaraan apa di suasana canggung seperti ini. Sampai pelayan datang membawa pesanan makanan mereka. Mereka memakan makanan masing-masing tanpa mengucapkan sepatah katapun.

 

Myungsoo menatap Jiyeon yang meminum minumannya habis. Dalam hatinya terasa menggeletik, dia merasa gemas melihat wanita ular berbisa yang dibenci sekaligus yang dirindukannya. Tak lama, Jiyeon juga menatapnya dengan alis mengernyit bingung.

Mwo? Kau terpana melihat mantanmu?” Ucapan tersebut membuat Myungsoo ingin muntah di depannya saja. Tak lama Jiyeon tertawa kecil melihat ekspresi Myungsoo yang agak sebal.

Bogoshippeo.”

Tawa kecil Jiyeon terhenti mendadak, dia langsung menatap Myungsoo fokus. Suara pelan dan terasa lembut itu cukup membuat jantungnya berdetak cepat.

Ye?”

“Aku bilang, aku merindukanmu.” Myungsoo tersenyum manis memperlihatkan kedua lesung pipinya. Jiyeon tampak salah tingkah. Dia membetulkan poni rambutnya sebentar.

Lalu kembali melihat Myungsoo yang masih tersenyum. Jiyeon menatap alas meja tampak seolah berpikir namun dengan beraninya dia langsung mengambil tangan Myungsoo yang berada di meja. Menggenggamnya dengan lembut.

“Kita balikan lagi, ne?”

Myungsoo mengangguk sambil tersenyum lembut. Jiyeon tersenyum manis menanggapinya.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Jiyeon tersenyum lembut dan manis setelah berkata seperti itu.

Di tengah hiruk pikuk restoran yang mulai meramai mereka memandang satu sama lain sambil tersenyum. Panasnya api yang membara seminggu lalu sudah tersiram oleh air dingin berisi batu es. Sudah dingin seiring dengan berjalannya waktu menghapus panasnya baraan api itu.

“Besok datang ke rumah ku, Eomma kangen padamu.” Jiyeon mengangguk begitupula tangan Myungsoo mengusap-usap tangannya seraya tersenyum lembut.

 

 

FIN~

—-

Notes a/n : Hola! Aku kambek dari kehiatusan ku membawa ficlet baru yang gajeeee banget dan mungkin alurnya kecepetan .___.v) Oke jadi gini, aku kena wb pulang dri ospek puncak kmaren dari kampung orang(?) dan pulang darisana, aku lupa gmana caranya nulis, suer dehhhhh jadi ini alasan aku gabisa publish ff chapter dr awal join wp ini hoho *mungkingabutuhcurcolanini:v* gapapalah ya curcol dikit wekekekekewekkkk😄 Ohiyaaaa ficlet ini terinspirasi ama lagu madclown yg judulnya fire, dan mungkin ini ga sesuai kyak fire lagunya madclown itu wkwk~ :v maklumlah yawww

Well, kalo ada yang kurang kritik sarannya ditunggu! Jangan lupa abis R, C dan L🙂

Lots of love, Shin Min Rin ^^

42 responses to “[FICLET] FIRE

  1. hahaha aku jadi keinget ATM er rak error malahan!
    ahh itu namyanya mencintai kekurangan satu sama lain. gemes banget igh lihat tingkah kekanakan mereka di kala detik2 mereka balikan. keke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s