[CHAPTER-PART 3] Kill Me, Love Me

Kill Me, Love Me by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Minor Cast(s):  Jung Krystal, Lee Jongsuk, Kim Taehyung|| Genre(s):  Fantasy, Mystery, Romance.  || Point of View: Third Person || Length: Chapters || Rating: PG – 15 || Awesome poster by Mutia.R @HSG

Note: Maaf untuk typo(s) yg bertebaran

Happy reading!

Myungsoo dan ayahnya telah tiba di Paris. Karena ketidak sabaran Myungsoo, perjalanan yang seharusnya besok menjadi hari itu juga. Alhasil, ayahnya─Junsu─hanya bisa menuruti permintaan anaknya itu. Tak bisa dipungkiri, ada rasa bangga dalam dirinya ketika melihat Myungsoo yang bersemangat. Mungkin ia telah mencintai pekerjaannya, pikirnya.

Tapi tidak.

Junsu hanya menerka-nerka. Alasan yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Myungsoo ingin kehidupan yang normal, itu yang benar. Walaupun Junsu sendiri menyadari akan hal itu, namun ia seolah menutup matanya, berpura-pura tak peduli. Menurutnya Myungsoo harus memanfaatkan kepintarannya untuk membantunya mempermudah memburu Phantom. Egois, memang.

Myungsoo dan Junsu kini menghentikan langkah mereka didepan pintu sebuah apartemen disudut kota Paris. Sebelum salah satu diantara mereka menekan tombol bel, dari dalam sana seorang wanita sudah terlebih dulu membukakan pintu, hendak keluar.

Mata Junsu membulat.

“Hyekyo…” Panggil Junsu pelan.

Lain halnya dengan Myungsoo, ia langsung menodongkan senjatanya tepat kearah mata wanita itu. Ya, mata. Sudah menjadi reflek seorang pemburu Phantom jika mereka menemukan mangsanya, mereka akan mengincar mata terlebih dahulu. Jika tidak, Phantom itu pasti akan berbalik menyerang mereka. Semacam siapa cepat, dia yang dapat.

“Myungsoo hentikan, dia manusia biasa.” Ucap Junsu seraya merebut senapan Myungsoo.

Ekspresi Anna tidak jauh beda dengan Junsu. Ia sangat terkejut ketika melihat pria dihadapannya itu memanggilnya dengan  Hyekyo, nama koreanya. Meskipun ia sudah memperkirakan para Gagak akan datang mengingat dirinya tahu kedua pemuda kemarin malam telah menggunakan Emperor mereka, namun Hyekyo sama sekali tidak mengira salah satu anggota gagak adalah orang yang dikenalnya.

Hyekyo bukanlah seseorang wanita yang tak tahu apa-apa. Phantom, Emperor, Gagak, bahkan tentang perihal ‘kecelakan yang Jiyeon alami’, ia tahu semuanya.

“Bagaimana ayah tahu jika dia bukan Phantom?” Tanya Myungsoo heran.

“Ia temanku.” Jawab Junsu membuat Myungsoo terdiam tak percaya. Selama ini yang ia tahu ayahnya itu tidak mempunyai teman sama seperti dirinya. Namun tampaknya ia salah, ia punya, terlebih lagi temannya itu seorang wanita.

Alih-alih saling menanyakan kabar karena sudah lama tidak bertemu, Junsu malah memilin tangan Hyekyo kebelakang dan mengunci pergerakannya, membuat Kyekyo mau tidak mau meringis kesakitan. Ia tidak ada niat sama sekali untuk bertegur sapa karena bagaimanapun radar mereka benar-benar menagkap adanya sinyal Emperor di apartemen ini, yang berarti Hyekyo pasti telah berkomplot dengan para Phantom.

“Dimana Phantom itu?” Tanya Junsu.

Hyekyo meronta.“Phantom? Apa kau sudah gila?! Manusia seperti itu hanya ada dalam legenda.” Bohongnya.

“Katakan yang sebenarnya padaku jika kau ingin selamat!” Bentak Junsu, tak ada sedikitpun rasa gentar dalam dirinya walaupun harus membunuh temannya itu.

Hyekyo tiba-tiba berhenti meronta, membuat Junsu dan Myungsoo menatapnya heran.“Ya, bunuh saja aku. Aku memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua hartaku sudah raib dibobol maling kemarin malam.” Ucap Hyekyo dengan nada sedih yang ia buat.

Junsu terlihat berfikir. Mungkinkah dirinya telah salah mengira? Apakah Hyekyo hanyalah korban para Phatom itu? pikirnya. Pegangannya terlihat mengendur, hal itu membuat seringaian tipis terlihat dibibir Hyekyo walaupun hanya sekilas.

“Ceritakan apa yang terjadi malam itu.” Myungsoo yang selama itu hanya diam melihat ayahnya bertindak, kini angkat bicara.

“Entahlah, akupun tak tahu. Yang kutahu malam itu pintu apartemenku terbuka begitu saja dan ketika aku sadar, barang-barang berhargaku sudah  hilang.” Jelas Hyekyo.

Myungsoo mengangguk pelan.

.

Sepuluh menit kemudian semuanya terlihat normal, Junsu dan Myungsoo kini telah berlaku seperti tamu yang semestinya. Mereka duduk berhadapan dengan pemilik apartemen─Hyekyo─sambil menyesap teh yang disuguhkannya. Namun, karena kesalahpahaman yang tadi terjadi, suasana menjadi canggung. Junsu dan Myungsoo melihat-lihat kesetiap sudut ruangan. Semuanya tampak kosong, tak ada hiasan sedikitpun selain jam dinding.

Tentu saja Myungsoo dan Junsu mengira Phantomlah pencurinya. Tapi tidak, Hyekyo memang sudah mengemasi semua barangnya.

“Sudal lama sekali, ya?” Ucap Junsu kaku.”Sejak kapan kau tinggal disini?”

“Sejak bajingan itu mengambil anakku.” Jawab Hyekyo dingin.

Junsu tertunduk. Ia tahu,‘bajingan’ yang Hyekyo maksud tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri─Kim Jaejong. Dimasa lalu, ia telah melakukan kesalahan yang besar terhadap Hyekyo yang notabennya adalah sahabatnya sendiri. Jaejong menghamili Hyekyo dan mengambil anaknya begitu saja sesaat setelah ia lahir, tanpa bertanggung jawab setidaknya dengan menikahinya.

Marah, malu, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu membuat Hyekyo sedikit demi sedikit kehilangan kewarasannya. Ia wanita yang sangat malang. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya, lalu ayahnya juga meninggalkannya karena terkena serangan jantung saat Hyekyo menceritakan bahwa dirinya tengah hamil.

Lantas, keputusan akhir telah ia buat. Sebelum dirinya benar-benar gila, ia memutuskan untuk pindah ketempat yang jauh. Mengubur semua kenangan buruk tampaknya jalan terbaik untuknya saat itu.

Pengecut?

Biar saja. Hyekyo bukanlah orang naif yang percaya dengan harapan yang selalu ada disaat hal tersulit datang. Menurutnya harapan itu seperti setitik debu emas yang tertutup kerikil, sulit, lama, dan harus bersabar dalam menemukannya.

“Tak bisakah kau memaafkannya?” Tanya Junsu.”Kumohon, biarkanlah ia tenang dialam sana.”

Mendengar hal itu, Hyekyo mendesah pelan. Ia tahu Jaejong telah meninggal bertahun-tahun yang lalu, namun luka yang ia terima belum kering sepenuhnya. Ia masih butuh waktu untuk benar-benar memaafkan kesalahan Jaejong.

Dilain sisi, Myungsoo hanya bisa mengerutkan keningnya karena berada diantara obrolan Hyekyo dan Junsu yang sama sekali tak ia mengerti. Yang ia tahu, keduanya tampak sedih ketika membicarakan kakak ayahnya itu.

“Sudahlah, jangan membicarakannya lagi. Lagipula aku sudah melupakan semuanya.” Ucap Hyekyo. Ia lalu menatap Junsu dengan wajah yang terlihat serius. “Aku penasaran untuk apa sebenarnya kau datang jauh-jauh ke Paris?”

Junsu dan Myungsoo terlihat resah mendengar pertanyaan Hyekyo. Apa yang harus mereka jelaskan? Terlebih lagi tadi Junsu tidak sengaja mengatakan ‘Phantom’.

“Kami hanya mengunjungi bibi. Katanya ayah ingin melihat keadaanmu.” Ucap Myungsoo karena ayahnya belum juga menjawab.”Soal tadi, itu hanya kejutan kecil yang kami siapkan.” Bohongnya.

Hyekyo mendegus kesal.”Kejutan yang sama sekali tidak lucu.” Ucapnya mengikuti alur kebohongan Myungsoo.

***

Jiyeon dan Krystal kini berada dilahan kosong yang membentang luas, tak ada rumah ataupun orang yang terlihat disana, hanya gundukan-gundukan tanah yang disusun beraturan. Pemakaman. Mereka berdua memutuskan untuk ke tempat itu setelah paman pemilik flat kecil yang disewa oleh Sehun dulu memberitahu mereka lokasi dimana Sehun dimakamkan. Tak lupa, ia juga memberikan barang-barang Sehun yang sebelumnya telah ia kemas ke dalam sebuah kardus sedang.

Krystal mengusap gundukan tanah didepannya.”Sebenarnya apa yang telah terjadi tiga tahun yang lalu?” gumamnya.

Jiyeon ikut berjongkok disamping Krystal. Ia meremas pelan bahunya seraya berkata,”Tunggulah, aku pasti akan segera mengingatnya.” Ucap Jiyeon.”Kurasa ini ada hubungannya dengan kecelakaanku tiga tahun lalu.”

“Ya, mungkin saja. Tapi apa menurutmu ini tidak aneh? Dua kecelakaan diwaktu yang sama tapi ditempat yang berbeda.”

Jiyeon hanya menghendikkan bahu.”Entahlah.” Ucap Jiyeon. Ia lalu memandang nisan yang bertuliskan nama Sehun.”Krystal, bisakah kau ceritakan bagaimana hubunganku dengan Sehun dulu?”

Alih-alih menjawab, Krystal malah berbalik untuk meraih kardus milik Sehun yang mereka bawa. Lantas, ia menyerahkan sebuah album poto kepada Jiyeon.”Kau lihatlah foto-foto itu sementara aku bercerita.”

Jiyeon menurut, diraihnya album foto itu. Dengan perlahan, ia membuka lebaran pertama. Disana terpampang sosok seorang pemuda─yang tidak lain adalah Sehun─tengah mencium keningnya. Kedua sudut bibir Jiyeon terangkat tatkala ia melihat diatas foto itu terdapat tulisan ‘Park Jiyeon hanya milik Oh Sehun. Selamanya’.

Sebelum memulai ceritanya, Krystal menerawang kearah matahari yang mulai memerah.”Kalian itu ibarat amplop dan perangko, kemanapun selalu berdua. Kau dan Sehun adalah satu, tanpa Sehun kau bukan apa-apa begitupun sebaliknya. Kau tahu? Saat kau mengatkan itu, peruutku tiba-tiba berontak…”

“Maksudmu ingin muntah?” Potong Jiyeon.

Krystal terkikik.”Ya. Kau mengeluarkan kata-kata yang bahkan tak pernah aku bayangkan keluar dari mulut seorang Jiyeon yang dingin.”

Sejenak, Jiyeon mengalihkan pandangannya untuk menatap Krystal.”Apa aku dulu benar-benar orang yang dingin?” Tanyanya.”Lalu bagaimana bisa kau bersahabat denganku?”

“Dulu, saat kita masih berstatus siswa baru di SMA Shinhwa, aku sering dibully oleh siswa yang lain karena dituduh berselingkuh dengan kekasih Hyejin-sunbae yang terkenal itu, padahal itu sama sekali tidak benar. Lalu…” Ucap Krystal sedikit mendramatisir.”Bak seorang super hero kau datang menyelamatkanku. Entah apa yang kau lakukan pada meraka, yang kutahu kau hanya bilang ‘jangan pernah mengganggu gadis ini lagi’.”

“Lalu?” Ujar Jiyeon karena Krystal terlalu lama membuat jeda.

Krystal tersenyum seraya menatap Jiyeon.”Sejak hari itu benar-benar tidak ada seorangpun yang menggangguku.” Ucapnya.”Sejak hari itu juga kuputuskan untuk berteman denganmu, namun kau seolah tidak menganggapku teman. Aku tidak putus asa, aku terus megikutimu sampai kau benar-benar menerimaku. Dan benar saja, pada akhirnya kau menerimaku.”

Jiyeon tampak murung setelah mendengar perkataan Krystal.”Maafkan aku. Tak kusangka diriku yang dulu benar-benar seperti itu.”

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Itu hanya masa lalu.” Ucap Krystal seraya mencubit pipi Jiyeon pelan.

Setalah itu, Krystal menceritakan kisah-kisah lucu yang mereka berdua alami dulu.

Sambil mendengarkan, Jiyeon kembali membuka lembar demi lembar foto Sehun bersama dirinya. Hanya dengan melihat saja Jiyeon bisa merasakan kehangatan dalam foto itu. Pasti dulu sangat menyenangkan, pikirnya.

Ketika Jiyeon membuka halaman selanjutnya, terlihat secarik kertas disana.

 

12 Desember 2011

 

Sebenarnya aku tidak biasa mencurahkan isi hatiku dalam selembar kertas. Namun, entah kenapa kali ini aku sangat ingin mencobanya. Sungguh lucu, bukan?

Aku tak tahu ini sebuah firasat atau bukan. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, seperti… perpisahanku dan Jiyeon, mungkin. Aku dan Jiyeon tahu takan ada yang bisa memisahkan kami kecuali…

…Maut.

Apa itu tandanya salah satu dari kami akan meninggal? Jika ia, tolong pilih aku saja. Karena tanpanya aku pasti takan bisa melanjutkan hidupku dengan baik. Well, jika aku yang mati setidaknya aku masih bisa memandangnya dari atas sana.

Jika, jika. Kurasa aku terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak.

Entahlah.

Aku hanya akan berdoa semoga Jiyeon akan selalu bahagia, dan takan pernah bertemu dengan Gagak selama hidupnya.

Kening Jiyeon berkerut. Gagak? Apa Sehun hanya bercanda ataukah Jiyeon takut dengan jenis burung itu? Entahlah, yang pasti ia sama sekali tak tahu maksud dari kata ‘Gagak’ tersebut.

“Krystal, apakah aku takut dengan burung gagak?” Tanya Jiyeon.

Krystal mendegus.”Jangan bercanda, kau itu tidak takut pada apapun.” Jawabnya.

Jika bukan itu maksudnya, lalu apa? pikir Jiyeon.

***

Jiyeon berjalan keluar dari kelasnya dengan malas. Sudah dua hari sejak ia mengunjungi makam Sehun, namun ia sama sekali belum mengetahui ‘Gagak’ yang Sehun maksud. Tampaknya mengembalikan ingatan tidak semudah yang ia kira. Walaupun saran dokter telah ia lakukan, itu sama sekali tidak membuat Jiyeon mengingat apapun, tidak sedikitpun.

Bagaimana bisa?

Bahkan dalam drama yang sering ia tontonpun, cepat atau lambat ingatan akan kembali saat sang pemeran utama menggali lebih dalam tentang masa lalunya. Kota kelahiran, sahabat, kekasih, Jiyeon sudah mengetahui semuanya namun tetap saja ia tak ingat apapun. Sebenarnya apa yang terlewatkan?

Jiyeon menghentikan langkahnya saat sesuatu hal terlintas dipikirannya.

Rumah, tempat tinggalnya dulu.

Jiyeon menjentikkan jarinya. Bagaimana bisa hal penting seperti itu bisa terlewatkan. Iapun mempercepat langkahnya untuk menemui Krystal. Ia yakin Krystal tahu dimana rumahnya berada.

BUGH!

Jiyeon menabrak seseorang saat ia hendak berbelok, dan hal itu sukses membuat buku yang tengah dibawa oleh orang yang Jiyeon tabrak berjatuhan.

“Maaf, aku sungguh tidak sengaja.” Ucap Jiyeon seraya berjongkok, memunguti buku-buku yang berserakan.

“Ti-ti-tidak apa-apa.” Jawab orang itu yang tidak lain adalah Myungsoo. Ia lalu ikut berjongkok, membantu Jiyeon memunguti bukunya.

Sungguh beruntung.

Setelah dua hari perjalanan panjangnya ke Paris, ia kira bertemu lagi dengan Jiyeon akan sedikit sulit untuknya mengingat ia tak tahu jurusan apa yang Jiyeon ambil. Namun, tampaknya ia salah. Terbukti, Myungsoo dengan mudahnya menemukan Jiyeon dihari pertamanya kembali ke kampus.

Merasa suara itu tak asing ditelinganya, Jiyeon mendongak.”Myungsoo oppa.” Ucapnya.

Jiyeon juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Myungsoo lagi. Selama dua hari ini, selain mencari informasi tentang masa lalunya, Jiyeon tidak memikirkan apapun termasuk janji Myungsoo yang mengatakan akan mengantarnya ke toko buku.

Jiyeon dan Myungsoo kembali keposisi semula─yaitu berdiri setelah tidak ada buku yang tersisa dilantai.

Teringat akan cerita Krystal yang menyebutkan Myungsoo selama ini memang tidak pernah masuk kelas, ada sedikit rasa penasaran dalam benak Jiyeon. Sebenarnya apa yang Myungsoo lakukan selama ini?

“Kemana kau selama dua hari ini, oppa? Apa kau benar-benar sibuk hingga kau melupakan janjimu?”

Tidak. Myungsoo tidak pernah melupakan janjinya, bahkan sedetikpun. Berlebihan, memang. Namun, itu hal yang wajar bagi Myungsoo yang memang terkena syndrom lovesick─yang seharusnya hanya remaja yang tengah dalam masa pubertaslah yang mengalaminya.

Singkatnya, Myungsoo mengalami masa pubertasnya diusia 22 tahun.

Menggelikan, bukan?

“Aku tidak lupa dengan janjiku, sungguh. Hanya saja, banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan.” Bohong Myungsoo.

Jiyeon mengangguk walaupun masih ada keraguan dipikirannya. Sejujurnya ia tidak puas dengan jawaban Myungsoo.

“Bagaimana kalau sekarang saja, apa kau masih ada kelas?” Tanya Myungsoo memberanikan diri.

Jiyeon terlihat berpikir. Tujuan awalnya memang ingin bertemu Krystal, namun tampaknya ia harus mengurungkannya saat ia mengingat perkataan Krystal tadi pagi. Ia mengatakan bahwa hari ini dirinya akan sibuk menyiapkan pameran seni yang selalu diadakan setahun sekali di jurusannya. Ya. Krystal adalah mahasiswi jurusan seni.

“Tidak. Aku tidak punya jadwal lagi, kajja.” Ucap Jiyeon sambil menggandeng tangan Myungsoo. Reflek seperti ini sudah biasa Jiyeon lakukan jika mengajak atau diajak temannya.

Tapi tidak dengan Myungsoo.

Seperti ada aliran listrik, ia sempat menegang saat Jiyeon menyelipkan tangannya di lengan Myungsoo. Perasaannya bercampur aduk antara senang dan…gugup.

Belum semenit, mereka berdua sudah menjadi bahan gunjingan orang-orang. Kebanyakan dari mereka membahas topik yang sama, ‘Hubungan apa yang dimiliki antara mahasiswi baru dan si misterius Myungsoo?’

Myungsoo tersenyum samar. Walaupun ia sempat khawatir Jiyeon akan merasa tak nyaman dengan bisikan-bisikan orang, namun ia senang karena nyatanya Jiyeon sama sekali tidak memperdulikan hal itu.

Tepat saat mereka tiba dihalte, bus yang akan mereka tumpangi juga datang. Sungguh sangat kebetulan.

“Ayo naik.” Ajak Myungsoo.

Jiyeon menurut. Ia mengkuti langkah Myungsoo dari belakang. Keduanya mengedarkan pandangannya, mencari kursi untuk mereka duduki.

“Oppa sebelah sana.” Ucap Jiyeon sambil menunjuk kursi kosong di barisan kedua dari belakang.

Myungsoo mengangguk sebelum akhirnya mereka berdua berjalan menuju kursi kosong itu.

Lima menit berlalu namun Jiyeon sudah dirundungi rasa bosan. Ia menoleh kearah Myungsoo yang yang terlihat…kaku. Kedua sudut bibirnya lantas tertarik keatas, sepertinya dugaan Jiyeon benar tentang Myungsoo, tentang dirinya yang polos. Bayangkan saja, jika orang biasa pasti akan basa-basi membicarakan apapun untuk membunuh rasa bosan saat naik bus, namun tidak dengan Myungsoo.

Diam. Ia hanya diam.

Tidak boleh seperti ini. Jiyeon harus melakukan sesuatu agar Myungsoo bisa bersikap lebih santai. Dirogohnya benda persegi empat dari dalam sakunya, ponsel.

“Oppa,” Myungsoo sedikit tersentak dengan panggilan Jiyeon.”apa kau membawa earphone?”

“Ya, aku membawanya.” Jawab Myungsoo seraya mengambil earphone dalam tas hitamnya.

Myungsoo meruntuki dirinya. Apalagi yang Myungsoo pikirkan ketika Jiyeon menanyakan earphonenya selain ‘ia pasti bosan’. Ya, bosan. Jiyeon pasti bosan karena Myungsoo sama sekali tidak megajaknya mengobrol.

Well, itu bukan sepenuhnya salah Myungsoo. Iapun ingin sekali berbincang dengan Jiyeon. Hanya saja, ia tidak tahu harus memulainya dari mana.

Bodoh, memang.

Myungsoo memejamkan matanya setelah memberikan earphone putih itu kepada Jiyeon. Pupus sudah harapannya untuk mengobrol dengan Jiyeon.

Lantunan lagu stay with me yang dinyanyikan oleh Sam Smith tiba-tiba masuk kedalam gendang telinga kiri Myungsoo. Perlahan ia membuka matanya. Sosok Jiyeon yang tengah tersenyum sedikit demi sedikit terlihat jelas.

Itu bukan mimpi. Jiyeon benar-benar tengah tersenyum sambil menatapnya.

“Apa kau suka lagunya, oppa?” Tanya Jiyeon.

Myungsoo mengangguk sambil tersipu. Ia kira Jiyeon akan mendengarkan musik sendiri dan mengacuhkannya. Tapi tidak, ia justru memasangkan sebelah earphone itu ke telinga Myungsoo.

“Aku sangat suka jenis musik yang slow seperti ini.” Ucap Jiyeon.”Jenis musik apa yang oppa suka?”

“Aku suka semua jenis musik, tapi yang paling kusuka adalah pop.” Jawab Myungsoo.

Dari sana, obrolan ringan terus berlanjut. Jiyeon memang hebat. Hanya dengan earphone yang ia pinjam bisa membuat Myungsoo terlihat lebih santai.

.

.

“Buku apa yang kau cari?” Tanya Myungsoo ketika mereka sudah berada di toko buku.

“Karena aku mahasiswi jurusan sastra, jadi aku mencari…” Jawab Jiyeon.

“Buku sastra.” Potong Myungsoo seraya menunjuk tumpukan buku yang di atasnya terpampang tulisan ‘buku sastra’.

Dalam hati Myungsoo tersorak kegirangan. Sekarang ia bisa dengan mudah menemukan, lebih tepatnya memata-matai Jiyeon di kampus.

Jiyeon mulai memilih-milih buku yang akan dibelinya. Seperti orang kebanyakan, ia akan membolak-balikan terlebih dahulu buku itu dan membaca apa yang tertulis dibelakangnya sebelum benar-benar memutuskan untuk membelinya.

Myungsoo terus memperhatikan Jiyeon. Dilihatnya, sesekali Jiyeon akan menyelipkan rambut yang menjuntai ke belakang telinganya. Cantik, pikirnya.

Buku bersampul biru yang terlihat sedikit berdebu menyita perhatian Jiyeon. Kening Jiyeon berkerut tatkala mengetahui buku yang berjudul ‘We are NOT different’ itu dikarang oleh penulis yang hanya mencantumkan inisialnya saja, KTH.

Aneh.

Bukankah semua penulis selalu mencantumkan nama asli mereka agar mudah dikenal orang? Bahkan dalam artikel sekalipun nama asli harus dicantumkan.

“Ada apa, Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo setelah ia melihat kerutan di dahi Jiyeon.

“Aku menemukan penulis yang hanya mencantumkan inisialnya saja, oppa.” Ucap Jiyeon seraya menyerahkan buku itu untuk Myungsoo lihat.

Benar apa kata Jiyeon, disana hanya ada inisial penulisnya saja. Myungsoo lantas membalikkannya, ingin mengetahui tentang apa sebenarnya buku itu.

 

Dahulu kala seorang manusia biasa dan Phantom jatuh cinta.

Perbedaan tidak menghalangi keduanyakarena pada kenyataanya mereka berdua tidak berbeda.

Sama-sama hidup dan saling membutuhkan.

Walaupun banyak batu yang mencoba menghalangi jalan mereka, akhir yang bahagia bisa mereka dapatkan.

 

Myungsoo menaikkan sebelah bibir atasnya. Hanya orang bodoh yang berpikir manusia dan Phantom bisa hidup berdampingan dengan aman.

“Sepertinya seru.” Myungsoo tersentak karena ia tidak menyadari Jiyeon juga ikut membacanya, terlebih lagi dalam jarak sedekat ini.

“Kau benar-benar akan membacanya?” Tanya Myungsoo, memastikan.

“Yup!” Jiyeon merebut buku itu dari tangan Myungsoo dan berlalu begitu saja menuju kasir untuk membayar buku-buku yang dibawanya.

.

Pemandangan langit hitam namun penuh bintang langsung menyambut mereka sesaat setelah keduanya keluar dari toko buku. Hari sudah malam. Padahal mereka hanya sebentar, namun mengapa waktu terasa begitu cepat? itu karena Myungsoo membawa Jiyeon ke toko buku yang jaraknya cukup jauh.

Ya. Myungsoo memang sengaja melakukannya agar ia bisa berlama-lama dengan Jiyeon.

Licik? Tidak. Pintar? Iya.

“Jiyeon-ah, bagaimana jika es krimnya diganti dengan kopi saja? Tenang saja aku akan tetap membelikanmu es krim tapi lain kali.” Tanya Myungsoo saat ia dan Jiyeon tengah menunggu lampu merah menyala agar bisa menyebrang.

“Tidak mau.” Jawab Jiyeon sambil mengembungkan pipinya, membuat Myungsoo jadi salah tingkah.

“Ini sudah malam dan musim dingin masih belum berakhir. Kau mau sak…”

“Baiklah,” Potong Jiyeon.”Tapi janji, kau akan membelikanku es krim.” Lanjutnya seraya melangkahkan kakinya untuk menyebrang karna lampu sudah berganti warna.

Myungsoo melihat sebuah mobil hendak menerobos lampu merah. Melihat hal itu, dengan segera ia menarik tangan dan pinggang Jiyeon, lalu memutar tubuhnya. Jiyeon sama sekali tidak berkedip, ia terlalu kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi. Jika Myungsoo tidak ada, ia pasti sudah tertabrak.

Wajah Jiyeon dan Myungsoo hanya berjarak beberapa senti. Dari jarak sedekat itu keduanya bisa melihat dengan jelas lekukan wajah masing masing. Deru nafas hangat keduanya sangat terasa menerpa kulit mereka. Entah kenapa, hal itu lantas membuat jantung keduanya tiba-tiba memompa lebih cepat dari biasanya.

“Oppa.” Panggil Jiyeon pelan.

Myungsoo langsung melepas pelukannya. Untung saja Jiyeon menyadarkannya sebelum ia gila dan melakukan hal yang tidak-tidak akibat melihat bibir pink Jiyeon yang menggoda.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo.

“Tidak. Gomawo, oppa.” Ucap Jiyeon tulus.

“Jiyeon-ah, sebaiknya kau tunggu di bangku itu saja selagi aku membeli kopi hangat untuk kita.” Ujar Myungsoo sambil menuunjuk bangku taman yang tidak jauh dari posisi mereka. Ia harus menormalkan detak jantungnya terlebih dahulu sebelum ia berbincang lagi dengan Jiyeon.

“Baiklah.” Jiyeon tidak banyak bicara, sejujurnya ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Sepertinya kejadian tadi benar-benar menggangu fungsi otaknya.

***

“Hyung, aku sudah tidak sanggup lagi berjalan. Besok lagi saja kita cari si Biru. Pelan-pelan saja, hyung. Kaupun tahu Korea selatan ini begitu luas.” Oceh Taehyung yang tidak didengar sama sekali oleh Jongsuk.

Ya. Mereka berdua sudah tiba di Korea selatan dua hari yang lalu. Selama itu, mereka sudah mencari si Biru namun belum membuahkan hasil sampai saat ini. Bagaimana tidak? Mereka nekat mencari seorang gadis di negara sebesar Korea selatan tanpa tahu dengan pasti dimana mereka bisa menemukannya. Ceroboh, memang.

Tapi apakah mereka punya pilihan? Tidak.

Setelah keduanya menggunakan kekuatan mereka tempo hari. Sudah dipastikan para Gagak akan mencari mereka. Jika mereka tertangkap sebelum menemukan si biru, habislah sudah.

Phantom akan benar-benar punah.

“Baiklah, kita istirahat saja dulu dibangku itu sebelum pulang.” Ucap Jongsuk seraya menunjuk bangku yang berjarak beberapa langkah didepan mereka. Akhirnya Jongsuk menyerah. Kupingnya sudah tidak mau lagi mendengar eluhan dan ocehan Taehyung.

“Hyung tunggu!” Taehyung tiba-tiba menarik Jongsuk menuju semak-semak.

Jongsuk menatap Taehyung dengan malas.”Apa lagi?”

“Lihatlah.” Tunjuk Taehyung ke arah gadis yang tengah duduk manis di salah satu bangku taman.

Jongsuk menyipitkan matanya. Butuh beberapa detik untuk otaknya mengenali siapa gadis itu. Saat Jongsuk akan memekik, Taehyung sudah terlebih dahulu membekap mulutnya. Ia sungguh mengenal Jongsuk dengan sangat baik.

Karena jengah, Jongsuk melepas paksa tangan Taehyung. Ia mendesis,”Jangan pernah kau lakukan itu lagi.”

Taehyung tidak membalas. Ia hanya memberikan cengiran kudanya berserta sinyal ‘V’ yang ia buat dengan kedua jarinya.

Jongsuk menaikkan sebelah bibir atasnya sebelum kembali mefokuskan matanya kepada sosok gadis itu. Sosok yang dicarinya, Si Biru. Namun kini ia tidak sendirian, beberapa pria mabuk tengah mengganggunya.

“Hyung, ayo kita menolongnya.” Ajak Taehyung.

Tanpa menatap Taehyung, Jongsuk menjawab,“Tidak.”

“Wae?” Tanya Taehyung heran.

“Ini adalah kesempatan untuk melihat kekuatan si Biru, Taehyung-ah.”

Taehyung menyeringai, sekarang ia tahu maksud Jongsuk. Tanpa bertanya lagi, ia kembali mengalihkan pandangannya untuk melihat gadis yang dalam situasinya saat ini hanya mempunyai dua pilihan. Di lecehkan oleh para pemabuk itu atau menggunakan kekuatannya.

Keadaan gadis itu semakin genting. Apa yang mereka berdua bayangkan─yaitu si Biru menggunakan kekuatannya tak kunjung terjadi.

Jongsuk sudah tidak bisa tinggal diam, ia langsung berdiri─hendak menyelamatkan si Biru. Namun, ia hanya bisa mematung saat sesosok pemuda sudah terlebih dulu melayangkan bogem mentah ke muka para pemabuk itu. Dengan cekatan, ia terus menghajar satu per satu dari mereka sampai akhirnya tidak ada satupun pemabuk yang tersisa disana. Semuanya pergi sambil berlari ketakutan.

“Taehyung-ah, ayo kita melihat mereka lebih dekat.” Ajak Jongsuk. Ada hal mengganjal di pikirannya. Bagaimana bisa si Biru dengan bodohnya memutuskan untuk tidak menggunakkan kekuatannya dan lebih memilih untuk membahayakan dirinya? Pikir Jongsuk.

.

.

“Ssstt Jiyeon-ah, kau sudah aman.” Ucap Myungsoo seraya memeluk erat tubuh mungil Jiyeon yang bergetar. Untunglah Myungsoo tiba tepat waktu, ia sungguh tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyeon.

Jiyeon terisak sambil memeluk Myungsoo dengan erat. Meskipun para pemabuk tadi sudah pergi, tapi rasa takutnya tidak semudah itu hilang.

“Terimakasih, oppa.” Ucap Jiyeon setelah ia merasa cukup tenang.”Jika tidak ada kau, aku pasti…”

“Ssssttt jangan lanjutkan.” Potong Myungsoo,”kau aman sekarang, bersamaku.”

Bodoh. Myungsoo terus memaki dirinya sendiri. Jika saja ia tidak mengulur waktu untuk terus bersama Jiyeon, jika saja ia mengabaikan detak jantung bodohnya dan tidak menyuruh Jiyeon menunggu seorang diri, hal ini pasti tidak akan terjadi.

“Apakah kau sudah tenang sekarang?” Tanya Myungsoo,”aku akan mengantarmu pulang dan menjelaskan semuanya kepada orang tuamu.”

Alih-alih menjawab, Jiyeon malah termenung.”Aku sudah tidak punya keluarga.” Jiyeon hanya bisa tersenyum miris.”Aku bahkan tidak ingat bagaimana wajah orang tuaku.”

Hati Myungsoo menceletos, ia sama sekali tidak menduga Jiyeon seorang yatim piatu.”Maaf, aku sungguh tak tahu.” Myungsoo tampak menyesal.”Tapi boleh kutahu apa maksudnya dengan tidak mengingat wajah orang tuamu?” Tanya Myungsoo sedikit berhati-hati.

“Sebenarnya tiga tahun yang lalu aku kehilangan ingatanku dalam kecelakaan yang juga merenggut kedua orang tuaku di Paris. Maksudku datang ke Korea─tidak lain adalah untuk mengembalikan ingatanku.” Cerita terhenti begitu saja saat tiba-tiba Jiyeon bersin-bersin. Sepertinya udara malam benar-benar tidak cocok untuknya.

“Sebaiknya kita pergi dari sini terlebih dahulu. Ini sudah terlalu malam.” Ajak Myungsoo. Sebenarnya ia ingin sekali mengetahui kelanjutan cerita Jiyeon, namun ia tidak bisa melihat Jiyeon kedinginan seperti ini. Walaupun sedikit, setidaknya ia sudah cukup tahu banyak tentang wanita pujaannya itu.

Jiyeon mengangguk. Ia lalu bangkit dan berjalan bersama Myungsoo, meninggalkan taman itu.

Juga meninggalkan dua orang yang tampak diselubungi oleh keterkejutan mereka sendiri. Jongsuk dan Taehyung. Sekarang mereka tahu mengapa Jiyeon sama sekali tidak menggunakan kekuatannya. Alasannya tidak lain adalah─amnesia.

Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa Jiyeon mengalami kecelakaan, sedangkan keduanya masih mengingat dengan jelas bahwa mereka berdualah pengirim kotak yang berisikan si Biru─Jiyeon─ke Paris tiga tahun yang lalu.

Saat ini, hanya ada dua kemungkinan yang terlintas dipikiran mereka. Kecelakaan itu hanya sebuah kebohongan yang Jiyeon buat, atau kebohangan yang dibuat untuk Jiyeon.

Mana yang benar?

Entahlah.

 

==== TBC ====

A/N:

Holaaa my lovelies! I’m back hihi. Di part sebelumnya memang aku janji sma diri sendiri jika comment mencapai 35, ak akan update part selanjutnya, daaaaan jadilah chapter 3 ini mhehe.

Masih ramekah di part ini? boring? *nangis dipojokan*

♥♥Kritik & sarannya ditunggu yaa, eonni, dongsaeng, chingu♥♥

PS: maaf belum bisa bales comment kalian di part sebelumnya karena modem lagi limit banget. Tapi aku baca semua kok dan as expected from you guys, kalian luar biasaaaa~ bisa bikin aku senyum2 sendiri baca komen kalian♥

46 responses to “[CHAPTER-PART 3] Kill Me, Love Me

  1. Aku ketinggalan update karna sibuk kerja😀 aku next baca part slanjutnya ya hoho mungkin akan meninggalan komentar di last update ff ny mianhae ….

  2. kayaknya part ini aku udah baca tapi komemnya kok ga ada ya .-.
    aku komen lagi aja deh hahaha
    aku penasaran kenapa jiyi bisa lupa ingatan sama kematian sehun. kira2 nanti jongsuk sama taehyung bakal suka sama jiyi ga ya terus rebutan sama myung hahaha
    ditunggu looh kelanjutannya ayo update ^^

  3. Sibiru satunya lagi itu sehun k????
    Omo sbenarnya pihak yx jahat itu gagak ato phantom??? Next juseyo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s