[Chapter – Part 3] Knock to My Heart

knock to my heart

Prev: 1 | 2

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their families.

Bukan hasil flagiasi karena authornya aku sendiri. Untuk selanjutnya, FF ini akan publish di sini kemudian di wp pribadi.

Sorry for typos 😀

Happy Reading

Suasana pesta ulang tahun Bae Suzy sangat meriah. Semua teman yang diundangnya tampak menikmati pesta itu kecuali Park Jiyeon. Karena tidak ingin hatinya semakin sakit melihat Myungsoo memberikan hadiah dan surprise untuk Suzy, Jiyeon memutuskan untuk pulang sendiri.
Saat Jiyeon baru saja keluar dari rumah Suzy, dia menghentikan langkahnya di depan rumah mewah itu.
‘Saengilchuka hamnida, Bae Suzy,’ batinnya seraya menoleh ke belakang. Sejurus kemudian Jiyeon mulai melangkahkan kakinya lagi.
“Kau mau pulang?”
Deg!
Jiyeon kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang bertanya padanya. Ini bukan suara Myungsoo, pikirnya. Jiyeon menoleh ke arah belakang.
“Kau mau pulang?” tanya orang itu lagi.
“Oh Sehun?”
“Tadi aku ingin ke toilet. Saat berjalan sampai di samping rumah, aku melihatmu berjalan gontai keluar rumah. Memangnya kenapa kau ingin segera pulang?”
“Aku… merasa tidak pantas berada di pesta itu. Kalian semua adalah orang-orang kaya yang bisa bersenang-senang dengan mudah. “
“Maka dari itu, jika ada kesempatan, bergabunglah bersama kami. Tidak ada istilah kaya atau miskin di dalam pesta. Pesta baru saja dimulai, jadi jangan pergi begitu saja. Apa kau sudah mengucapkan selamat kepada Suzy?”
Deg!
‘Kenapa Sehun menanyakan hal itu?’ batin Jiyeon. Ia tak segera menjawab pertanyaan dari Sehun.
Seakan tahu jawaban dari Jiyeon, Sehun melanjutkan,”Sebaiknya kau memeberi ucapan selamat dulu kepada Suzy. Baru setelah itu kau bisa pulang.”
Jiyeon tercengang mendengar kata-kata Sehun. Tidak ada yang bisa mengetahui seberapa sakit hatinya saat ini. Betapa dia ingin sekali menjauhkan diri dari semua ini. Tetapi Sehun malah meminta Jiyeon kembali ke pesta dan memberi ucapan selamat kepada Suzy.
“Ne, aku akan kembali ke sana.”
Sehun tersenyum mendengar kesanggupan Jiyeon. “Baiklah, kau kembalilah ke sana. Aku ingin ke toilet. Ini sudah di ujung tanduk.” Sehun segera berhambur ke dalam rumah mewah milik keluarga Suzy dan mencari toilet.

Sementara itu, di depan rumah, Jiyeon masih ragu apakah dia kembali ke pesta atau mengingkari ucapannya sendiri dengan melarikan diri dari pesta itu.
Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian dan ketetapan hati, Jiyeon kembali ke pesta itu dengan langkah yang masih ragu-ragu.

Pesta masih berlangsung dengan sangat meriah. Setelah acara pemberian surprise dari Myungsoo untuk Suzy, kini giliran teman-teman Suzy yang memberikan surprise untuknya. Jiyeon menyaksikan itu semua.
“Kau beruntung sekali, Bae Suzy…” lirih Jiyeon dengan raut wajah datar dan sedikit sedih.

Tap!
Tiba-tiba seseorang memegang tangannya dan menarik Jiyeon menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang menikmati pesta. Jiyeon kaget dan tidak melakukan perlawanan karena dia belum tahu siapa yang menarik tangannya.
“Nuguya?” tanyanya dengan memberanikan diri setelah mereka berjalan cepat sejauh 7 meter dari kerumunan orang. ‘Namja?’ batinnya. Jiyeon melihat punggung seorang namja yang menarik tangannya.
Setelah dirasa cukup jauh dari kerumunan, namja itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menghadap Jiyeon.
‘Kim Myungsoo?‘ seru Jiyeon di dalam hati.
“Jiyeon-a, kau bersedia menolongku?” tanya Myungsoo dengan ekspresi super dingin yang dimilikinya.
Jiyeon sudah terbiasa menatap ekspresi Myungsoo semacam itu. Dia bertanya,”Apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu?”
“Bantulah aku keluar dari tempat ini.”
Kedua bolak mata Jiyeon terbelalak. “Keluar dari sini? Memangnya kenapa?” tanya Jiyeon yang telah melupakan rasa sakit di hatinya karena kini dia berhadapan dengan orang yang disukai, yaitu Kim Myungsoo.
“Aku tidak nyaman berada di dalam pesta semacam ini dalam waktu yang relatif lama. Aku tidak suka acara seperti ini.” Myungsoo memberikan alasan yang tidak masuk akal.
“Jinjja?”
“Kau pikir aku bercanda? Aku memang tidak suka dengan pesta semacam ini.”
Jiyeon melihat keseriusan dari sorot mata Myungsoo yang tajam itu. “Baiklah. Apa yang bisa aku lakukan?”
“Kau hanya perlu mengikuti apa yang aku rencanakan. Kajja!” Myungsoo menarik tangan Jiyeon lagi, namun kali ini tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya.

Mereka berdua kembali ke pesta dan mencari genk’nya Myungsoo.
“Jiyeon-a,” panggil Jungkook yang melihat Jiyeon bergandeng tangan dengan Myungsoo. “Ada apa ini?”
Lalu Jin dengan polosnya bertanya,”Apa kalian berkencan?”
Deg!
Joyeon merasakan detak jantungnya tidak karuan. Ini gara-gara pertanyaan dari Jin.
“Pabboya! Bukan begitu,” kata Myungsoo dengan memukul kepala Jin yang telah bicara sembarangan. “Jiyeon merasa tidak enak badan. Jadi aku akan mengantarnya pulang.”
Jiyeon, Jungkook, Eden, dan Jin tercengang mendengar pengakuan Myungsoo.
“Benar begitu kan?” Myungsoo menyenggol lengan Jiyeon.
“Ah, ne,” jawab Jiyeon dengan tergagap karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Myungsoo akan mengatakan hal itu kepada teman-temannya.
“Kalau begitu aku saja yang mengantarkan Jiyeon pulang. Rumahku kan dekat dengan rumahnya,” sahut Jungkook.
“Andwae!” Myungsoo spontan mengatakannya hingga membuat teman-temannya membelalak lagi.
“Biar aku saja yang mengantarnya.” Tiba-tiba Sehun datang dan menarik tangan Jiyeon.
“Yaak, ige mwoya?” tanya Myungsoo yang terpancing emosi.
“Kau temani Suzy. Biar aku yang mengantar yeoja ini. Suzy sangat membutuhkanmu.”
“Kau pikir aku ini apanya Suzy? Aku bukan siapa-siapa Suzy. Jadi jangan berpikir yang macam-macam!” seru Myungsoo.
Jiyeon melihat ekspresi kemarahan Myungsoo. Dia khawatir hal ini akan berakhir dengan perkelahian. “Keumanhe! Aku akan pulang dengan Jungkook.” Jiyeon melepaskan tangannya dari Myungsoo dan Sehun.
“Baiklah. Itu lebih baik,” timpal Sehun yang tak lama kemudian beranjak dari tempat itu.
“Yaak, apa maksud Sehun datang kemari?” tanya Eden.
Jin dan Jungkook mengangkat kedua bahu mereka.
“Jung-a, kajja!” ajak Jiyeon pada Jungkook yang asyik menikmati es krimnya.
“Eoh. Kajja.” Namja imut itu segera meletakkan es krimnya di atas meja di sampingnya.
“Jiyeon-a, jebal…” lirih Myungsoo memegang tangan Jiyeon lagi.
“Kim Myungsoo, kau harus tetap di sini menemani Bae Suzy.” Eden merangkul bahu Myungsoo dan ingin mengajaknya pergi menemui Suzy.
Sebenarnya Jiyeon ingin menolong Myungsoo karena dia sudah berjanji pada namja itu untuk membantunya keluar dari tempat itu.

Eden membawa Myungsoo menjauh dari Jiyeon. Myungsoo hanya menurut.
“Chakkaman!” seru Jiyeon yang kemudian berlari mendekati Eden dan Myungsoo yang sudah menjauh darinya.
“Waeyo?” tanya Eden.
“Aku berubah pikiran. Biarkan Myungsoo yang mengantarku pulang.”
Jungkook dan Eden membelalakkan mata mereka.
“Jinjja?”
Myungsoo tersenyum senang.

Akhirnya Jiyeon dan Myungsoo meninggalkan pesta tanpa mempedulikan orang-orang yang menahan kepergian Myungsoo.
Kali ini Myungsoo tidak membawa motor tercintanya, melainkan mobil sport Ferrari kesayangannya. Dia tidak meninggalkan Jiyeon begitu saja di tengah jalan atau di halte bus. Namja super tampan itu mengantar Jiyeon pulang.
“Aku bukan tipe namja yang tak tahu balas budi. Aku antar kau pulang. Di mana alamat rumahmu?” tanya Myungsoo yang sedang berkonsentrasi menyetir.
“Turunkan saja aku di halte depan.”
“Kenapa di halte? Aku bisa mengantarmu sampai di rumah.”
Jiyeon tersenyum tipis. Dia ingin menjaga jarak dengan Myungsoo. “Masih ada suatubtempat yang ingin aku kunjungi.”
“Malam-malam begini kau mau ke mana?”
Jiyeon terdiam. Sebenarnya dia mengatakan ingin mengunjungi suatu tempat hanyalah sebuah alasan agar tidak merepotkan Myungsoo.
“Aku ingin pergi ke sungai Han. Suasana malam hari di sana menyenangkan.”
Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon. “Jinjja?”
Jiyeon mengangguk.
“Hmmm baiklah, kalau begitu kita ke sana saja sekarang.”
“Aku bisa ke sana sendiri. Kau pulanglah.”
Myungsoo tersenyum evil. “Shireo! Kau bilang suasana di sana menyenangkan. Makanya aku juga ingin ke sana. Kepalaku hampir meledak berada di pesta itu.”
“Kenapa begitu?” tanya Jiyeon penasaran.
“Dari kecil aku tidak suka yang namanya pesta. Bahkan aku tidak pernah merayakan ulang tahun sperti Suzy. Tak ada pesta karena kepalaku akan pusing jika melihat banyak orang yang tertawa dan ramai. Rasanya kepalaku ingin meledak.”
“Aku juga tidak pernah merayakan ulang tahun.”
“Tidak pernah sama sekali?” tanya Myungsoo tidak percaya.
“Hmm, sama sekali.”

Myungsoo baru tahu kalau ternyata tidak semua yeoja merayakan ulang tahun mereka dengan pesta yang meriah.

Dalam waktu 10 menit, mereka berdua sampai di pinggir sungai Han.
“Woow ternyata begini rasanya kalau berdiri di pinggir sungai Han pada malam hari. Tahu begini, dari dulu aku ke sini malam-malam…”
Jiyeon tersenyum melihat Myungsoo yang tengah menikmati dinginnya udara malam. “Malam hari setelah belajar, aku selalu pergi balapan motor dengan teman-teman. Tak tahunya di sini sangat menyenangkan.”
“Appaku yang mengajakku ke sini srjak aku masih kecil.”
“Itu sebabnya kau senang menyendiri di sini?”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Jiyeon.
Myungsoo tersenyum. “Aku hanya menebak.”

Kriiiing!
Ponsel Myungsoo berdering nyaring hingga ia sendiri kaget dibuatnya.
“Yaak, siapa yang menelepon mendadak begini?” gumamnya lalu merogoh saku jaketnya yang berisi ponsel touchscreen keluaran terbaru itu.
“Yoboseo…”
“Kim Myungsoo!”
“Yaak, jangan berteriak. Kau tidak tahu kalau…”
“Kau dimana? Kembalilah ke rumah Suzy!” seru namja di ujung telepon yang ternyata Eden.
“Aish! Aku belum sampai di rumah, kau malah sudah menyuruhku kembali. Memangnya ada apa?”
“Yaak, Suzy mencarimu. Katanya sebentar lagi appanya akan datang. Kau tahu sendiri kan kalau appa Suzy adalah salah satu donatur tetap untuk sekolahmu?”
“Itu kan sekolah milik appaku. Kenapa kau mengkhawatirkannya? Khawatirkan sekolahmu sendiri.” Myungsoo hendak mematikan teleponnya.
“Yaak! Jangan dimatikan dulu. Cepatlah kembali. Ini penting. Katanya appamu juga akan datang ke pesta.”
Myungsoo mengerutkan dahinya. “Apa hubungannya appa dengan Suzy?” tanya Myungsoo lirih. Tiba-tiba ia menepuk dahinya,”Omo! Baiklah, aku segera ke sana.”
Klik!
Myungsoo mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jaketnya. “Jiyeon-a, mianhae. Aku harus kembali ke pesta. Appaku akan datang ke acara yang memusingkan itu.”
Jiyeon mengangguk. “Gwaenchana… Kembalilah!”
“Mian.” Myungsoo berbalik menuju mobilnya dan tak berapa lama kemudian dia beserta mobilnya melesat menuju kediaman keluarga Bae.

Jiyeon menatap datar pada tempat parkir mobil Myungsoo tadi. Tempat itu sekarang hanya dilalui oleh angin malam yang berhembus semakin kencang karena sebentar lagi hujan akan turun.

Jlegeeer!
Tiba-tiba terdengar suara halilintar. Joyeon bertanya-tanya di dalam hati. Bagaimana mungkin hujan belum turun tetapi halilintar sudah terdengar menakutkan? Jiyeon pun menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Ia berjalan mencari tempat berteduh atau jika memungkinkan, dia akan berjalan menuju halte terdekat dan pulang ke rumahnya.
Rencananya malam ini Jiyeon akan menginap di rumah Dani dan Hani. Tetapi mereka berdua sedang asyik menikmati pesta di rumah Suzy hingga melupakan Jiyeon.
Hujan mulai turun untuk mengguyur kota Seoul dan sekitarnya. Pada permulaan, hujan yang turun tidak begitu deras. Jiyeon berlari ke tepi jalan untuk berteduh di depan mini market. Dia tidak membawa payung, jadi harus menunggu hujan reda atau nekad berlarian di bawah guyuran hujan.
Dengan keadaan baju yang sedikit basah, Jiyeon nerteduh di depan sebuah mini market. Ia menoleh ke arah mini market itu dan melihat wadah payung yang terletak di dekat pintu masuk. Wadah itu tampak kosong. Mungkin payungnya habis terjual. Dengan terpaksa, Jiyeon berteduh di depan mini market padahal hujan semakin deras mengguyur kota Seoul dan sekitarnya.

Hawa dingin mulai menusuk kulit ari hingga lama kelamaan terasa sampai ke tulang. Jiyeon menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang ia rasakan.
Hujan semakin lama semakin deras hingga membuat Jiyeon berteduh semakin lama.

Myungsoo yang sedang asyik menikmati perjalanan ke rumah Suzy tersontak kaget mendengar suara halilintar saat itu. Karena sangking kagetnya, Myungsoo menghentikan mobilnya di tepi jalan. Jantungnya masih berdegub kencang akibat bunyi halilintar tadi.
“Ige mwoya?” gumamnya saat hujan turun dengan tiba-tiba. Myungsoo masih belum melajukan mobilnya. Tiba-tiba dia teringat Jiyeon yang masih berada di tepi sungai Han.

“Apakah dia masih di sana?” tanya Myungsoo entah kepada siapa. Pertanyaan itu lebih tepatnya ia tanyakan kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang yang diajaknya mengobrol. Myungsoo melajukan mobilnya. Namun dia tidak meneruskan perjalanannya ke rumah SUzy, melainkan kembali ke sungai Han untuk melihat apakah Jiyeon masih di sana atau tidak.

Myungsoo sudah mendekati sungai Han. Di dalam mobil, dia celingukan kanan-kiri mencari sosok Jiyeon yang mungkin saja sedang berlarian mencari tempat berteduh. “Opso…” lirihnya setelah 5 menit mencari sosok Jiyeon di tepi sungai Han tempat mereka melihat pemandangan tadi. Myungsoo membanting setir menuju jalan raya. Dia masih berharap menemukan Jiyeon di pinggir jalan. “Seharusnya dia ada di sini karena hujan semakin deras. Jam segini juga bus pasti belum datang atau malah sudah tak ada bus yang lewat lagi. Apakah dia sudah pulang?” Myungsoo bertanya pada dirinya sendiri.

Karena tak kunjung menemukan Jiyeon, akhirnya Myungsoo memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko buku. Hujan-hujan begini, enaknya mendengarkan lagu favoritnya. Tangan Myungsoo menekan pemutar lagu di dashboard mobilnya. Beberapa detik pun lagu terdengar nyaring di dalam mobil Myungsoo. Myungsoo menikmati alunan musik yang disukainya hingga tak terasa kantuk pun menjalar merayapi kelopak matanya. Tak lama kemudian dia tertidur di dalam mobil.

Hujan masih turun dengan derasnya. Sedangkan Jiyeon masih setia menunggu hujan reda. Namun tampaknya kedua kaki Jiyeon terlalu lelah menjadi penopang tubuhnya dalam waktu yang cukup lama. ‘Aku tidak bisa berada di sini terus,’ batinnya. Dia harus pulang karena malam semakin larut. Jiyeon menjulurkan tangannya untuk menadahi air hujan agar ia tahu seberapa deras hujan saat itu.
Masih deras. Namun ia bertekad untuk menerobos hujan deras itu.
Jiyeon berlari menuju halte terdekat meski harus basah kuyup terkena guyuran hujan. Tanpa disadari, Jiyeon melintas di depan mobil Myungsoo yang terparkir di depan sebuah toko buku. Jiyeon tak tahu kalau mobil Ferrari yang terparkir dengan rapi itu adalah mobil milik Myungsoo. Dia tidak begitu hafal dengan mobil Myungsoo yang tadi ditumpanginya. Jiyeon berlalu begitu saja di depan mobil Myungsoo. Sedangkan Myungsoo, dia telah tertidur pulas di dalam mobilnya karena alunan musik yang membuatnya mengantuk.

Setelah berlarian mencari halte, akhirnya Jiyeon sampai di sebuah halte yang sepi. Mungkin bus yang ditunggunya belum lewat atau bahkan sudah lewat dan tak ada bus yang lewat lagi malam itu karena jam sudah menujukkan pukul 10 malam. Jiyeon beristirahat di halte dengan keadaan basah kuyup namun ponselnya ia lindungi agar tak terkena air hujan. Jiyeon bingung ingin menghubungi siapa selin keluarganya di rumah karena ia tidak mungkin menelepon keluarganya di malam selarut ini.
“Sesangi… eotteohke?” lirih Jiyeon sembari duduk di bangku halte dan setia menunggu bis datang. Jiyeon menggigil kedinginan karena pakaiannya basah sekali sampai kainnya bisa diperas airnya.

Pukul 11 malam, hujan masih belum reda.
Kriiiiing!!
Myungsoo terlonjak kaget karena ponselnya berdering memekakkan telinga. Suara musik saja kalah dengan suara ponselnya. Dia lupa mematikan suara ponselnya.
“Yoboseo…” ucap Myungsoo malas.
“Kau ingkar janji, eoh? Katamu akan ke sini secepatnya. Ini sudah jam 11. Kau di mana?” Suara Eden lagi.
Pertanyaan Eden membuat Myungsoo tersadar kalau dirinya tengah berada di depan sebuah toko buku karena mencari Jiyeon yang tak kunjung ia temukan. “Ah, mian. Aku terjebak hujan yang sangat deras. Aku tidak berani menerjang hujan.” Myungsoo memberikan alasan palsu kepada Eden agar namja itu tak lagi berkicau ria menanyakan keberadaannya.
“Baiklah. Pulanglah. Pesta sudah bubar.”
Myungsoo mengelus dada. Dia berayukur jika acara itu sudah bubar. Jadi, dia tidak harus datang ke sana lagi. Setidaknya, dia bisa pulang saat itu juga.
“Eoh. Annyeong.”
Klik! Myungsoo memutuskan sambungan telepon.
Myungsoo meletakkan kepalanya di atas kemudi mobilnya. “Apa aku harus mencari Jiyeon lagi? Ah, pasti dia sudah sampai di rumahnya.” Myungsoo meraih ponselnya lagi dan mencari kontak telepon milik Jiyeon. “Ah, pabbo! Aku kan tidak punya nomor teleponnya.” Myungsoo mendesah kasar. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah karena hujan sudah reda.

Mobil Ferrari itu mundur beberapa meter lalu berputar arah menuju jalan raya. Saat melewati halte bus, Myungsoo mengurangi kecepatan mobilnya karena melihat sosok Jiyeon duduk di atas bangku dengan mata tertutup. “Apakah itu Park Jiyeon?”
Tanpa babibu, Myungsoo menghentikan mobilnya di depan halte. Dia keluar dari mobil dan berjalan ke arah yeoja yang dikira Jiyeon.
Dahi Myungsoo berkerut. Mungkinkah itu Park Jiyeon?
Saat semakin dekat dengan yeoja yang terduduk lemas di depan matanya, Myungsoo terkejut karena yeoja itu ternyata bukan Jiyeon. Myungsoo mengelus dadanya. Syukurlah yeoja itu bukan Jiyeon. Kalau dyeoja itu Jiyeon, Myungsoo pasti merasa bersalah karena menelantarkan Jiyeon. Tapi di mana Park Jiyeon sekarang? Pertanyaan itulah yang terngiang di dalam pikiran Myungsoo.
“Semoga kau baik-baik saja, Park Jiyeon.”

Keesokan harinya, kantor administrasi NAM Highschool ramai dikunjungi banyak siswa yang mendaftar untuk mendapatkan beasiswa, termasuk Jiyeon.
“Kenapa jadi begini?” gerutu Dani yang mengeluhkan antrian pendaftaran beasiswa di kantor administrasi.
“Memangnya kenapa?” tanya Jiyeon dengan polosnya.
“Sebelum-sebelumnya, pendaftaran beasiswa tidak segaduh ini. Para siswa berjajar rapi mengantri di depan ruang administrasi.”
“Oh, begitu.” Hanya kata itu yang diucapkan oleh Jiyeon. Dia harus sabar mengantri selama lebih dari 30 menit karena peserta pendaftaran beasiswa mencapai 40% dari total seluruh siswa NAM Highschool.
“Kalian sedang apa?” tanya Sehun yang datang tiba-tiba.
“Oh Sehun? Aku sedang mengantar Jiyeon untuk mendaftar beasiswa. Kau sedang apa di sini?” tanya Dani balik.
Jiyeon diam saja. Dia membiarkan Dani mengobrol dengan Sehun di belakang, sedangkan dirinya berada di tengah antrian yang panjang. Tapi untungnya Jiyeon datang lebih awal sehingga ia tidak perlu mengantri hingga satu jam untuk mendaftar beasiswa.
Menurut panitia, pengadaan beasiswa ini tergolong mendadak dan belum ada persiapan yang matang. Berhubung semester ini belum ada beasiswa yang diberikan oleh pihak seeolah kepada para siswa miskin berprestasi, para petinggi yayasan berinisiatif memberikan beasiswa saat itu juga. Jadi, maklum saja jika pendaftarannya tidak dibuka secara online karena belum ada persiapan yang matang.

“Akhirnya aku berhasil mendaftar,” kata Jiyeon dengan mengusap peluh di dahinya.
“Sudah? Kalau begitu ayo kita ke kelas. Yaak, Sehun-a, kau mau ke kelas atau berdiri di sini?” Dani memang selalu seqot pada Sehun yang kelihatan cuek.
Jiyeon, Sehun, dan Dani berjalan bersama-sama menuju kelas mereka. Namun di tengah perjalanan, beberapa orang yeoja mencegat mereka. Sehun mengerutkan dahinya karena dia belum pernah mengalami hal itu. Siapa pula yang akan mencegatnya seperti itu? Ini pasti ada hubungannya dengan Dani atau Jiyeon.

“Yaak, Park Jiyeon!” seru seorang siswi yang pakaiannya serba ketat. Sehun sampai menahn tawa melihat penampilan siswi itu. “Berani-beraninya kau merwbut Kim Myungsoo dari Suzy.”
Mendengar nama Suzy disebut oleh yeoja itu, kini Jiyeon, Dani, dan Sehun tahu kalau para yeoja itu pasti teman-teman Suzy.
“Mwo? Merebut?” tanya Jiyeon bingung karena dia tidak merasa merebut siapapun dari tangan siapapun. Dia mang memiliki perasaan spesial pada Myungsoo, tetapi itu bukan nerarti dia merebut Myungsoo dari seseorang apalagi Suzy.
“Kau jangan berpura-pura!”
“Yaak, apa yang menyuruh kalian adalah Suzy?” tanya Dani tak terima jika temannya diperlakukan tidak baik.
“Dani-a, sabar dulu,” kata Jiyeon menenangkan Dani yang sudah terpancing emosi.
“Bukankah kalian masih kelas satu? Beraninya kalian bicara tidak sopan pada sunbae kalian!” bentak Dani tak sabaran.
Para yeoja itu makin ganas. Salah satu diantara mereka menarik dasi milik Jiyeon hingga Jiyeon terpaksa maju satu langkah mendekati yeoja yang menarik dasinya.
“Apa maumu? Lepaskan aku!” seru Jiyeon yang memegang dasinya agar yeoja itu melepaskan tangannya dari dasi yang ia pakai. Jiyeon melonggarkan lingkaran dasinya agar tak tercekik oleh dasi itu.
Dani berusaha membebaskan Jiyeon dari yeoja kurang ajar itu.
“Kenapa? Bukankah kalian siswa akselerasi yang seharusnya satu tingkat dengan kami? Kalian jangan sombong. Mentang-mentang siswa akselerasi, bisa seenaknya saja berbuat sesuatu.”
“Mwo?” Kali ini Sehun ikut bicara. “Yaak, apa maksud kalian, eoh? Kurang ajar sekali kalian bicara seperti itu. Tarik ucapanku sekarang juga!” bentak Sehun.
Sementara itu, yeoja yang menarik dasi Jiyeon tadi belum melepaskan dasi itu. Jiyeon mendesah kasar. Sebenarnya apa mau para yeoja ini? pikirnya.
“Apa mau kalian?” tanya Dani dengan suara yang agak pelan. Dia berusaha keras menahan amarahnya.
“Kami ingin yeoja ini minta maaf pada Suzy karena telah mengambil Myungsoo darinya.”

“Dari siapa?”
Terdengar suara namja yang tak asing di telinga Jiyeon. Semua menoleh ke arah namja yang bernama Kim Myungsoo itu.
Myungsoo melepaskan tangan yeoja yang menarik dasi Jiyeon dan berdiri di depan Jiyeon. “Ulangi sekali lagi. Kenapa Park Jiyeon harus minta maaf kepada Suzy?”
Para yeoja itu terdiam.

Tap tap tap!
Suara sepatu seaeorang berhenti tepat di sisi kanan kumpulan siswa yang sedang berseteru itu.
“Karena dia telah mengambil Kim Myungsoo dariku.”
Para yeoja yang berbuat seenaknya itu tersenyum evil. Ya, Suzy datang untuk menjadi dewi penyelamat mereka.
“Oh, rupanya kau.” Myungsoo menatap Suzy dengan tatapan mata elang yang super duper dingin.
“Bukankah semalam kau dibawa pergi oleh yeoja itu? Kim Myungsoo, apa kau tahu kalau semalam Appamu menahan malu akibat ulah putera tunggalnya yang meinggalkan pesta begitu saja?”
“Jangan membawa-bawa appaku dalam masalah ini. Kau tidak perlu menyuruh para siswi itu untuk menyiksa Jiyeon. Bicara langsung padaku.” Myungsoo emosi. Sedangkan Jiyeon, Dani, dan Sehun hanya menatap mereka dengan datar dan sangat penasaran.
“Sepertinya, perjodohan kita hukan main-main lagi. Aku akan berterima kasih pada teman-temanmu. Berkat mereka, aku dan kau akan dijodohkan.”

Jlegerr!!
Semua orang yang berdiri di tempat itu terkejut mendengar pengakuan Suzy yang entah benar atau tidak.
“Bae Suzy, jangan bicara yang bukan kebenaran.” Sehun mengingatkan Suzy agar tidak mengatakan hal yang tidak benar.
“Kenapa? Apa kau cemburu, Sehun-a?” tanya Suzy dengan nada sombong.
“Tcih!” Sehun membuang muka. “Siapa yang menyukaimu. Aku tidak akan pernah menyukai yeoja sepertimu. Sekarang aku baru tahu kalau ternyata kau adalah yeoja licik dan jahat lebih dari siluman ular.”
Suzy tersenyum licik. “Terserah apa katamu. Yamg penting aku telah mendapatkan Kim Myungsoo dengan cara yang mudah. Bukankah sangat baik jika ketua yayasan berbesanan dengan donatur tetap sekolah ini? Wow daebak! Ini sangat langka.” Suzy menyombongkan dirinya di depan banyak orang.

Kini semua mata tertuju pada Myungsoo, kecuali Sehun karena namja itu telah mengetahui identitas Myungsoo. Jiyeon, Dani, dan beberapa orang siswi itu baru tahu kalau Myungsoo adalah putera dari ketua yayasan sekolah.
“Bagaimana? Bukankah itu hal yang baik? Senang bertemu denganmu, calon suamiku.” Suzy melenggang pergi. “Oh ya, aku tunggu permintaan maaf darimu, Park Jiyeon.” Suzy berhenti saat dirinya sudah sejajar dengan Jiyeon.

Patah hati, itu yang dirasakan Jiyeon.
“Baiklah, aku minta maaf padamu, Bae Suzy,” ucap Jiyeon yang mengundang tatapan tak percaya orang-orang yang berdiri di sekitarnya.
“Yaak, apa-apaan kau, Jiyeon-a?” Dani tidak terima jika Jiyeon minta maaf pada Suzy.
Suzy tersenyum senang.
“Aku yang memilih Myungsoo mengantarku pulang. Jadi, aku harus minta maaf.” Jiyeon menahan airmata yang ingin menyeruak keluar dari kedua sudut matanya.
Sehun, Dani, dan Myungsoo mengerutkan dahinya.
‘Jika aku yang mengantarmu, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya, Park Jiyeon,’ batin Sehun.
“Bersyukurlah aku masih berbaik hati memaafkanmu, Park Jiyeon.” Suzy beranjak pergi dari tempat itu. Dia berjalan dengan angkuhnya.

Tanpa mereka sadari, Yoo In Na mendengarkan perbincangan mereka dari jarak 10 meter. In Na menggelengkan kepala melihat para siswanya seperti itu.

Tap tap tap!
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Semua menoleh ke arah Yoo Un Na yang datang secara tiba-tiba.
“Yoo seonsaengnim?” seru Jiyeon senang melihat In Na ada di sekolah itu.
“Annyeong, Jiyeon-a, Kim Myungsoo. Ternyata kalian menjadi teman sekelas di sekolah ini.”
“Ne, seonsaengnim,” sahut Myungsoo cuek.
“Sekarang sudah waktunya jam pelajaran dimulai. Masuklah ke kelas kalian. Aku yang akan menjadi guru bahasa Inggris kalian.”
“Jongmal? Uwaah, senangnya…” seru Jiyeon karena terlalu senang bisa diajar lagi oleh Yoo In Na, guru super sabar dan perhatian pada siswa.
Yoo In Na tersenyum.

Kabar tentang perjodohan Myungsoo dan Suzy sudah menyebar luas di NAM Highscool. Kali ini perjodohan mereka tidak main-main. Hal ini sangat mengganggu pikiran Myungsoo, apalagi Jiyeon. Jiyeon selalu memikirkan perjodohan itu.

Karena tak tahan dengan simpang siur berita yang belum tentu benar, Myungsoo memutuskan untuk menemui appanya di ruang ketua yayasan. Baru kali ini Myungsoo menemui appanya di luar rumah.

Tok tok tok!
Tanpa diminta masuk, Myungsoo membuka pintu ruangan orang nomer 1 di NAM Highschool itu.
“Myungsoo, ada apa? Tumben sekali kau menemui appa.”
Myungsoo langsung duduk di depan appanya dengan tatapan dingin.
“Ada apa dengan tatapanmu itu? Apa yang ingin kau bicarakan?” Tuan Kim sangat tahu sifat anaknya. Dia tahu kalau tatapan Myungsoo seperti itu adalah tatapan kekesalan dan kemarahan.
“Abeoji, aku ingin bertanya langsung padamu.”
“Mwoya?”
“Apa benar kau menjodohkan aku dengan Bae Suzy?”
Bukannya menjawab, Tuan Kim malah tersenyum mendengar pertanyaan dari Myungsoo. “Kau mendengarnya dari siapa?”
“Tidak penting dari siapa. Aku tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Apa aku harus pindah sekolah lagi?” Myungsoo kesal pada appanya karena menganggap masalah ini tidak penting dan meremehkan masalah tentang dirinya.
“Aku tidak perlu menjawabnya. Kau akan tahu dengan sendirinya. Waktulah yang akan menjawab pertanyaanmu.”
Myungsoo mengepalkam tangannya. Dia kesal karena appanya tidak berpihak padanya. Situasi ini sunggub tidak nyaman bagi Myungsoo.

Bel pulang sekolah berbunyi. Setelah sang guru keluar dari kelas, para siswa juga berhambur keluar kelas karena mereka tak sabar segera sampai di tempat tujuan.
Berbeda halnya dengan Jiyeon. Hari ini dia kebagian tugas membersihkan kelas dan menata bangku seorang diri.
“Kau akan melakukannya sendiri?” tanya Sehun yang telah selesai memberesi buku-bukunya. Dia semakin akrab dengan Jiyeon karena mereka merupakan teman sekelompok.
“Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir.”
“Aku ingin membantumu.”
“Aku tidak ingin mendapat bantuanmu,” sahut Jiyeon.
Sehun hanya bisa mendesah kesal. “Baiklah. Aku pulang. Lain kali, biarkan aku atau Dani yang membantumu.”
“Oke,” ucap Jiyeon dengan senyum terkembang di bibirnya.

Semua siswa sudah keluar. Saat baru saja memulai menata bangku, Jiyeon melihat Myungsoo duduk termenung di bangkunya. Jiyeon tidak menghiraukannya. Dia segera menata bangku-bangku itu sendirian. Kini giliran bangku milik Myungsoo yang harus ia angkat ke atas meja.
“Kim Myungsoo, kenapa kau tidak pulang?” tanya Jiyeon lirih.
“Shireo!”
“Yaak, Kim Myungsoo, setidaknya keluarlah dari kelas agar aku hisa segera membersihkan kelas. Aku juga harus segera pulang.”
Myungsoo tak bergeming sama sekali. Namun tiba-tiba ia bertanya,”Semalam kau pulang sendiri?”
Jiyeon terkejut mendengar pertanyaan dari Myungsoo. Ia mengangguk.
“Di tengah derasnya hujan?”
Jiyeon mengangguk lagi.
Pletak!
“Pabbo!” Myungsoo memukul kepala Jiyeon dengan pulpennya. “Apa kau percaya pada berita itu?”
Jiyeon mengerutkan kening. “Tentang apa?”
“Tentang aku dan Suzy.”
“Aku tidak tahu tentang itu,” jawab Jiyeon bohong. Sebenarnya dia berharap berita itu sama sekali tidak benar.
“Kalau itu benar, maukah kau menolongku?”
Deg!
Jantung Jiyeon berdetak lebih cepat.
“Apa maksudmu?”
“Perjodohan ini akibat ulah Eden, Jungkook, dan Jin. Mereka yang memulai semuanya. Maka dari itu, aku membutuhkan bantuanmu, Park Jiyeon.”
Jiyeon bertanya-tanya dalam hati, bantuan apa yang diminta oleh Myungsoo?

Tbc

49 responses to “[Chapter – Part 3] Knock to My Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s