The Stories Continue

Chapter 1 (WELCOME)
Tittle : The Stories Continue

Author : Hiruma

Cast : Km MyungSoo, Bae Suzy,………..
Additional Cast : Kim’s Family, Kim Sunggyu, Lee Howon, Lee Seunggyeol, Nam Wohyun, Jung Sojung, etc

Genre : Romance, Angsat,

Length : Chapter

Disclaimer : Jalan cerita dan alur FF ini berdasarkan pemikiran asli author dan beberapa inspirasi baik dari film dan ff. Apabila ada ada kesamaan cerita itu semua hanya kebetulan semata. Para tokoh yang ada dalam ff ini adalah milik agensi, orang tua dan diri mereka sendiri. Author hanya meminjam nama dan visualnya saja. Ini ff pertama jadi mohon untuk ketersediaannya untuk member koment dan saran. Maaf bila ada yang gaje atau aneh maklumin saja ya……

Don’t bashing

Sorry bila typo beterbangan

Happy reading

*****************************

Musim dingin selalu identik dengan salju. Hawa yang dipancarkan butiran putih halus itu bahkan sanggup membuat beku segala jenis makhluk. Saat salju turun orang-orang akan cenderung berdiam diri di rumah di depan perapian untuk menghangatkan diri mereka.

_______________________________________

Dua orang itu masih termenung dalam kesunyian. Dinginnya salju yang turun tak membuat mereka beranjak dari bangku taman yang bahkan telah mereka duduki beberapa menit yang lalu. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya sesekali helaan nafas yang keluar. Sepasang anak manusia berbeda itu masih duduk berdampingan meskipun dalam jarak yang jauh. Helaan nafas yang kesekian kali keluar dari lelaki tampan itu. Kepalanya menoleh ke samping kiri dimana seorang gadis manis dengan rambut panjang bergelombang duduk. Gadis disampingnya itu juga melakukan hal yang sama. Kepalanya menoleh kearah lelaki di samping kanannya.

“Mari kita akhiri.” Lelaki disampingnya itu menatap datar kearah sang gadis.

“Apa yang kau katakan? Jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu.” Lelaki itu menatap sang gadis tepat pada manik matanya. Mereka saling berpandangan intens. Hingga sang gadis memalingkan wajahnya kearah lain.

“Aku tidak bercanda. Jadi kita batalkan saja apa yang sebelumnya kita rencanakan. Karena hal itu tidak akan berhasil.” Lelaki itu menatap sang gadis tajam. Tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras menahan marah.

“Ada apa denganmu? Kau pikir ini semua lelucon? Tsk…. Semua ini sudah kita rencanakan sejak lama. Pemberkatan akan dilakukan seminggu lagi.” Gadis itu kembali menoleh kearah sang pria dengan tatapan sulit diartikan.

“Ini bukan lelucon dan aku serius. Kumohon mengertilah posisiku saat ini. Aku pergi.” Gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Sedangkan si pria hanya bisa menatap punggung gadis yang pergi meninggalkannya dengan mata memicing.

“ Kau tidak akan bisa terlepas dariku.” Ucapnya dengan seringai menakutkan.

*******************************

Bandara Incheon memang selalu penuh sesak dengan lautan manusia yang ingin bepergian maupun yang baru pulang dari berbagai tempat. Di pintu kedatangan luar negeri, beberapa penumpang berbondong-bondong keluar dengan barang bawaan mereka. Salah satu diantara mereka tampak seorang pemuda tinggi dengan kacamata hitam membingkai mata tajamnya tengah mendorong troli yang berisi koper dan beberapa barang lainnya. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri mencari seseorang yang di yakini akan menjemputnya.

Salah satu pria dari puluhan orang yang berdiri di depan pintu kedatangan tengah melambaikan tangan kepadanya. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Jelas ia kenal dengan pria bermata sipit yang tengah melambai padanya. Pria itu dikenalnya dengan sangat baik. Lihat mata sipitnya saat tersenyum. Ck..benar-benar tidak berubah. Sepupunya itu benar-benar memiliki mata seperti marmut. Pria berkacamata hitam itu menyunggingkan senyum yang menawan. Dihampirinya sang sepupu dengan langkah lebar. Mereka segera berpelukan dan tertawa bersama.

“Yya, Myungsoo……..kau kelihatan semakin keren saja setelah pulang dari inggris. Bagaimana dengan yeojadeul disana? Pasti para bule itu cantik dan seksi, eoh?” Namja bermata sipit itu merangkul pundak sepupunya secara tersenyum ganjil. Sedangkan yang ditanya hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyan itu.

“Ck…. Sunggu hyeong, sejak kapan otakmu terkontaminasi virus Hoya hyung? Aku tidak suka yeoja disana. Menurutku yeoja korea tak kalah dengan yeoja disana. Malah menurutku yeoja disini lebih manis.” Sunggyu hanya mencibir begitu mendengar jawaban Myungsoo. Sepupunya yang satu ini memang sangat berbeda dengan pemuda normal lainnya. Disaat namja lainnya akan berdecak kagum pada gadis berpenampilan seksi dan sedikit terbuka, sedang Myungsoo berdecak geli melihatnya. ‘apakah dia miskin hingga memakai pakaian kurang bahan begitu?’ Benar-benar anggapan yang aneh bukan, kadang sunggyu bertanya-tanya, apakah Myungsoo itu masih normal? Atau dia mengidap suatu syndrom aneh dalam dirinya. Hanya membayangkannya saja Sunggyu bergidik ngeri. Sunggyu kemudian beralih menatap troli yang Myungsoo dorong dengan sedikit mengerjapkan mata sipitnya. Kemudian segera memadang Myungsoo polos dengan penuh Tanya .

“Sejak kapan kau suka membawa begitu banyak barang seperti ini
Kim Myungsoo? Kau seperti para yeoja yang berburu oleh-oleh untuk keluarga setelah wisata dari luar negeri. Daebakk.”
Sunggyu bergumam ria sambil melihat-lihat koper yang dibawa Myungsoo . Sedangkan Myungsoo hanya menatap horor kearah Sunggyu yang sama sekali tak sadar akan bahaya yang tengah mengancam. Sadar akan perkataannya barusan, ia segera menepuk bibirnya pelan.

Gawat, aku keceplosan!

Sunggyu menggerutu pelan saat merasakan perubahan aura
disekitarnya, Sunggyu segera mengalihkan pandangannya pada Myungsoo yang sudah terlihat seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Sunggyu hanya dapat menelan salivanya dengan gugup.

“Seharusnya kau tahu ini semua ulah siapa.” Myungsoo menatap datar kearah Sunggyu. Sunggyu tinggal menunggu hal mengerikan apa yang akan dilakukan Myungsoo karena permintaannya dan teman-teman anehnya pada Myungsoo. Sunggyu hanya bisa menjerit dalam hati melihat prince Kim ini mengeluarkan aura hitam. “Eomma tolong anakmu yang tampan dari pangeran iblis ini.”

______________________________

Salah satu rumah di kawasan Cheongdam-dong itu tampak sangat sibuk. Beberapa pelayan lalu-lalang dan hilir-mudik menata dan membersihkan perabotan yang sejujurnya tak perlu dilakukan karena pekerjaan ini sudah mereka lakoni setiap hari. Sebenarnya ini merupakan penyambutan untuk putra dari Tuan rumah yang akan kembali kembali hari ini.
Disudut ruang keluarga di rumah itu seorang remaja dan wanita paruh baya sedang duduk dengan diiringi percakapan kecil.

“Jweseonghamnida. Ny Kim, mobil tuan muda sudah dalam
perjalanan. Mungkin sekitar 5 menit lagi akan sampai.” Wanita paruh baya itu menoleh kearah sang pelayan.

“Jinjja? Aku sudah tidak sabar melihatnya.” Pelayan itupun membungkuk dan pergi.

”So hyun-a apa appamu masih belum pulang? Aish..apa dia itu tidak rindu pada putranya? Mereka kan tidak bertemu selama 5 tahun.” So hyun hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti.

“Nan molla……..Appa tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Apa dia tidak mengatakan kepada eomma?” Ny kim tampak berfikir sejenak.

“Appa mu hanya bilang aka nada meeting dengan klient dari luar negeri. Tidak tahu meetingnya sampai jam berapa.”
”Lalu kenapa eomma malah bertanya kepadaku saat appa sendiri sudah memberi tahu eomma? Aish jinjja.” Ny Kim hampir membalas perkataan putrinya tapi diurungkan saat mendengar suara gaduh para pelayan. Seorang pelayan lain datang dan membungkuk.

“Ny Kim, tuan muda sudah tiba.”

_______________________________

Mobil Audy silver itu berhenti tepat di depan pintu rumah megah keluarga Kim. Para pelayan sudah berbaris di samping kanan dan kiri pintu guna menyambut kedatangan tuan muda mereka. Tampak 2 orang pemuda turun dari mobil. Para pelayan itupun sontak menundukkan kepala dengan serentak. Myungsoo, salah satu dari dua pemuda itu tampak melepas eyeglass yang membingkai mata tajamnya. Buru-buru ia melangkah kedalam rumah meninggalkan Sungggyu yang geleng-geleng melihat kelakuannya. Dengan langkah lebar, Myungsoo mengedarkan pandangannya di ruang tamu rumahnya.

“Na wasseo…eomma oddiega?”

Dari ruang tengah tampak Ny Kim, So hyun dan seorang pelayan di belakang mereka. Ny Kim langsung berhambur ke pelukan putranya. Sedang So hyun yang masih berdiri dibelakang Ny kim tersenyum tipis.

“Nae adeul…Bogoshipeo….” Ny Kim memeluk putranya.

“Nado bogoshippeo eomma.” Ny Kim kini melepas pelukannya dan mengelus puncak kepala Myungsoo sayang. Terlarut dalam kesenangannya, Myungsoo bahkan belum menyadari ada orang lain dibelakang sang eomma. Sedangkan So hyun hanya diam dengan wajah di tekuk. Oppanya ini manja sekali pada sang eomma. Ny Kim dan Myungsoo masih asyik dengan acara meet again tanpa mau menoleh padanya. Lama-lama juga So hyun sedikit jengkel.

“Ehm…………” Myungsoo mengalihkan pandangannya ke So hyun. Lalu sebelah alisnya terangkat keatas. Tanda ia bertanya-tanya. Siapa dia?

So hyun berdecak melihat respon oppanya. Apakah dirinya benar-benar orang yang gampang dilupakan?Tsk… Ny Kim yang melihat itu hanya terkekeh. Dan sedikit menggeser posisi berdirinya. Sehingga So hyun kini berdiri di sampingnya. Kemudian menepuk pundak Myungsoo.

“Soo_ya…kau tidak lupa pada adikmu ‘kan? Lihat, bukankah dia terlihat sangat manis sekarang.” Myungsoo membulatkan matanya begitu mendengar eommanya. Dongsaeng?…..

“Omo…….Sohyun~a….Kau membuat oppa tidak bisa mengenalimu. Aish…Kukira siapa gadis cantik disamping eomma…Ternyata nae dongsaeng sudah dewasa ne?” Myungsoo menepuk kepala So hyun. So hyun hanya mendengus mendengar celotehan oppanya.

“Bukan dewasa oppa…Aku ini masih remaja dan dalam masa pertumbuhan.”

“Mianhe…Oppa tadi tidak mengenalimu. Kau begitu berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Sekarang kau semakin cantik..” So hyun mendesis kearah Myungsoo. Sedang Ny Kim hanya tertawa kecil. Siapapun tidak akan percaya dengan perubahan penampilan So hyun.

“Heol~ bilang saja sekalian kalau aku dulu dekil. Menyebalkan.” Myungsoo tertawa melihat So hyun yang mendumel tanpa henti.

“Eomma…Appa oddiesso?” Kepala Myungsoo menoleh kekanan dan kiri.

“Eoh………appamu sedang ada meeting dengan kliennya. Katanya tadi dia akan pulang jika meetingnya sudah selesai.” Myungsoo hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Myungsoo….Sunggyu dimana? Kenapa dia tidak ikut masuk?” Myungsoo hanya tersenyum ganjil. So hyun yang melihat hanya bergidik ngeri. Entah hal apa yang Myungsoo lakukan hingga tersenyum seperti itu.

“Biarkan saja eomma. Sunggyu hyung masih punya urusan yang harus dia selesaikan. Lebih baik kita ke Ruang makan. Aku sudah lapar.” Ny Kim segera membawa So hyun dan Myugsoo ke Ruang makan.

______________________________

“Tuan muda….apa tidak sebaiknya anda memberikan koper-koper itu pada kami. Biar kami yang akan membawa ke kamar tuan muda Soo.”

Sunggyu menggeleng mendengar tawaran kepala pelayan Jang. Kedua tangannya penuh dengan koper Myungsoo yang beratnya minta ampun.. Ugh…Kenapa hanya dia yang harus jadi korban kejahilan Myungsoo? Ya, Myungsoo menyuruh Sunggyu membawa kopernya masuk. Katanya itu sebagai bayaran. Bayaran apanya? Oleh-olehnya saja belum diberikan. Astaga, dasar Kim Myungsoo. Tapi tidak apa-apa, toh Sunggyu yakin bukan hanya dia yang akan jadi tumbal seorang Kim Myungsoo. Lihat saja kalian nanti. Sunggyu tertawa dalam hati.

“Aigoo….Berat sekali kopernya?” Sunggyu hanya memelas dengan keadaannya saat ini. Rasanya nanti malam ia akan mengeluh sakit pinggang.

**********************************

Makan malam akan berlangsung kurang dari ½ jam lagi. Para pelayan rumah keluarga kim mulai menata makanan yang akan di hidangkan pada saat makan malam. Di ruang tengah Nampak tiga remaja yang sedang bersantai. Bukan tiga orang juga sebenarnya, karena dua dari tiga orang itu bisa dikatakan sudah dewasa. Bukan remaja lagi kan?

“Sunggyu-a…imo bawakan kau cream ini. Siapa tahu pinggangmu akan lebih baik.” Hana menyodorkan cream kecil pada keponakannya.

“Gamsahamnida.” Ny kim tersenyum saat sunggyu menerima cream yang dia berikan. Ny Kim lalu mengalihkan pandangannya pada putranya yang sibuk menonton televisi dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah sedari tadi. Ia mendesis pelan pada Myungsoo yang malah sibuk sendiri dan tidak merasa bersalah sedikitpun.

“Myungsoo….” Myungsooo hanya menoleh sekilas dan kembali terpaku pada televisi di depannya. Ny kim hanya mendengus melihat sikap putranya itu. So hyun yang kebetulan duduk di samping Sunggyu menoleh pada ibunya.

“Percuma eomma meminta dia melakukannya, dia mana mau melakukan hal itu.” Myungsoo berhenti mengunyah dan menoleh cepat pada So hyun.

“Aku kan sudah minta ma’af. Lagi pula Sunggyu hyeong juga tidak keberatan membantuku tadi. Dia melakukannya dengan suka rela. Yakan hyeong?” Myungsoo berkata dengan nada meyakinkan dan jangan lupakan ekspresi polos di wajahnya.

“Heol~…” So hyun mencibir pelan atas tingkah laku kakak lelakinya itu. Sementara Sunggyu hanya tersenyum garing pada bibinya setelah mendengar perkataan Myungsoo.

‘Dasar, setan kecil. Wajahnya sungguh menipu’

__________________________________

Ruang makan kelurga kim di hiasi dengan denting garpu dan juga sendok. Sesekali terjadi perbincangan hangat diantara anggota keluarga itu.

“Myungsoo-ya…kira-kira kapan kau mau membantu appa di perusahaan?” Lelaki paruh baya itu, Tn Kim. Bertanya pada putra sulungnya yang masih sibuk dengan makanannya.

“Mungkin tidak untuk 2 minggu ke depan appa. Aku masih ingin bertemu dengan teman-temanku. Lagi pula aku bermaksud berlibur bersama mereka akhir pekan nanti.” Sunggyu tersedak makanan yang ia makan satelah mendengar penuturan sepupunya itu. Ini tidak wajar. Sedangkan Tn Kim hanya mengangguk setuju.

“Tapi kau jangan terlalu lama bersantainya. Kau harus segera membantu appa. Seperti yang dilakukan Sunggyu.”Myungsoo hanya mengangguk, sedangkan sunggyu tersenyum tipis.

“Oppa…bolehkah aku ikut berlibur bersama oppa akhir pekan nanti?” Myungsoo dengan cepat menoleh kearah So hyun dan menyilangkan tangan didepan dada.

“Shireo..kau tidak boleh ikut. Karena nanti aku hanya akan mengajak teman-temanku dan Sunggyu hyeong. Mereka semua itu namja.” So hyun hanya menghela nafas dengan wajah lesu.

“Arasseo”

**********************************

Di depan pintu restoran ini tertera tulisan “CLOSED” yang artinya sudah tutup. Setiap orang yang akan berkunjung mengurungkan niat mereka untuk makan di restoran ini. Dari luar, restoran ini akan tampak sepi. Tapi pada kenyataannya, didalam restoran itu ada 3 orang pemuda yang tengah berbincang sambil menikmati kue buatan sang pemilik restoran yang ditemani dengan secangkir expreso hangat.

Ketiganya duduk melingkari sebuah meja bundar yang terdapat di pojok ruangan yang memang sengaja disiapkan oleh sang pemilik.

“Namu hyeong…kapan mereka sampai?” Lelaki berambut coklat itu menyeruput expresso hangat didepannya sambil menatap sang lawan bicara.

“Molla…Sunggyu hyeong hanya mengirim pesan bahwa dia dan Myungsoo akan kesini siang ini. Memangnya kau sudah tidak sabar ya ingin memeluk oleh-oleh dari myungsoo, Seunggyeol-ah?” Namja yang di panggil Seungyeol hanya geleng-geleng kepala.

“Bukan karena itu Wohyun hyeong. Hanya saja dua makhluk itu kan paling tidak suka dengan yang namanya keterlambatan. Kalau kau bicara siapa yang paling senang dan tidak sabar memeluk oleh-oleh dari Myungsoo tentu saja orang yang duduk disamping kananmu itu.”

Seunggyeol mengangkat tangannya seraya menunjuk seorang namja yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Wohyun segera menoleh pada satu makhluk lagi yang di tujuk Seunggyeol. Namja disamping kanannya ini sedari tadi tidak mengeluarkan suara dan selalu sibuk dengan ponselnya.

“Bertukar pesan dengan yeoja baru lagi, Lee Howon?” Pemuda yang di maksud langsung menoleh pada Wohyun dan menatapnya sebal.

“Waeyo? Ada yang salah ya dengan pertanyaanku?” Seunggyeol hanya terkekeh kecil menyaksikan pemandangan didepannya.

“Yya..yya..yya. Sudah kubilang panggil aku Hoya. Aish masih saja kalian memanggilku seperti itu.” Wohyun memasang wajah bodohnya.

“Seperti apa? Aku hanya memanggil namamu. Bukankah Lee Howon memang namamu?” Hoya mengacak rambutnya gemas. Hyeongnya ini benar-benar.

“Tapi aku kan menyuruh kalian memanggilku Hoya. Itu lebih keren.” Seungggyeol dan Wohyun hanya mencibir Hoya akan sikapnya.

“Geure…terserah kau sajalah. Aku tidak peduli.” Wohyun mengibaskan tangannya di depan wajah Hoya yang membuatnya mendesis.

“Kira-kira Myungsoo membawa oleh-oleh yang kita pesan tidak ya?” Kedua temannya hanya mengendikkan bahu.

Pintu kaca restoran tiba-tiba terbuka. Dua orang lelaki masuk kedalam restoran dengan langkah riang. Salah satu diantaranya membawa beberapa barang yang di masukkan ke dalam kotak kecil.

“Annyeoung Hyeongdul” Sontak ketiganya menoleh keasal suara.

“ Kim Myungsoo”

___________________________________

Mereka berlima kini tengah berbincang berbagai hal. Dimulai dari hal yang penting bahkan tidak penting sekalipun mereka obrolkan. Myungsoo juga telah membagi jatah oleh-oleh yang ia bawa. Memang benar kata Seunggyeol, dari mereka berempat, (read: Sunggyu, Wohyun, Hoya & Seuggyeol) Hoya adalah yang paling senang akan oleh-oleh yang Myungsoo bawa kali ini. Seperti pesanannya.

“Gomawo ne, Myung….oleh-oleh darimu sungguh diterima.” Wohyun berujar dengan senang. Senang karena barang yang sempat ingin ia miliki akhirnya datang juga.

“Cheonma hyeong …lagi pula barang pesananmu itu mudah mencarinya disana. Tidak seperti pesanan seseorang.” Hoya langsung mengalihkan mata berbinarnya dari oleh-oleh yang Myungsoo berikan. Dia menatap Myungsoo dan berdehem.

“Gomawo ne Myungsoo-ya. Telah membawakan pesanan oleh-olehku. Kau dongsaeng yang baik” Sunggyu, Wohyun, dan Seunggyeol mencibir kearah Hoya. Myungsoo tersenyum miring dan menyeruput expressonya.

“Bukan apa-apa hyeong, lagi pula setelah ini aku juga butuh bantuanmu.” Hoya menatap Myungsoo dengan alis bertaut. Sedang ketiga lainnya hanya menatap Myungsoo bingung.

**********************************

“Apa yang sedang kau lihat?”

Gadis itu terlonjak saat merasakan tepukan dibahunya. Saat dia membalikkan badan, terlihat seorang gadis berambut coklat yang seumuran dengannya tengah menatap penuh Tanya padanya. Kemudian kembali ia membalik badan dan menatap objeck yang dari tadi menjadi perhatiannya.

“Tidak ada, hanya merasa bosan disini.” Gadis di belakang punggungnya hanya mengangkat sebelah aliasnya tidak mengerti. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.

“Apa kau mau berlibur di pantai,suzy?” Suzy, gadis itu membalikkan badan secara tiba-tiba membuat orang di depannya memekik kaget dan hampir terjungkal ke belakang.

“Yya…kau mengagetkanku. Aish…tiba-tiba membalik badan.” Suzy tak memperdulikan omelan gadis didepannya. Matanya berbinar seakan menemukan tambang berlian.

“Jjinja Sojung-ah….?” Sojung hanya mengangguk dan tersenyum. Suzy langsung berhambur kepelukan Sojung.

“Gomawo Sojung~ah. Aku senang sekali.Kapan kita pergi?” Sojung melepas pelukan mereka. Jarinya ia tempelkan didagu, memasang pose berpikir.

“akhir pekan ini bagaimana?” Suzy menganggukkan kepala dengan semangat.

“Call……..ah aku lupa. Aku harus membersihkan ruang lukis ku. Aku pergi ne” Sojung menatap punggung Suzy yang telah pergi dan tersenyum miris.

******************************

Busan memang menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi apabila berlibur di korea. Selain terkenal dengan dengan hasil lautnya, Busan juga mempunyai beberapa wisata yang indah.

__________________________________

Kelima namja itu tengah bersantai di ruang tengah yang ada di dalam villa di Busan. Merasa lelah akan perjalanan yang baru saja mereka tempuh dari Seoul-Busan dengan menaiki mobil.

*********************************

“Wah…..pemandangan laut terlihat jelas dari sini. Kau pintar mencari villa ternyata hyeong.” Myungsoo tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih. Sedangkan seseorang disampingnya hanya mendengus kesal. Ya, mereka berdua tengah berdiri diatas balkon villa.

“tahu begini aku tidak akan meminta hadiah itu kepadamu. Kau itu menguras kantongku.” Tunjuk Hoya pada Myungso dengan telunjuknya. Myungsoo tertawa licik mendengarnya.

“eiyy….Kau itu kenapa seperti itu pada dongsaeng tampanmu ini. Lagi pula ini juga bisa disebut penyambutan kepadaku, hyeong.” Hoya semakin jengah dengan perilaku Myungsoo yang menurutnya sangat menyebalkan. Demi kaos kaki Haebum, Myungsoo benar-benar minta ditendang dan diceburkan dikolam renang Ddangkoma.

“Eoh….kalian berdua ternyata disini.” Dari dalam villa muncul seungyeol yang sedang membawa sekantong kripik kentang dan disusul oleh Wohyun dan Sunggyu.

“Wah Lee Howon-ssi, kau benar-benar perhatian dengan sepupu ku ne? balkon villanya benar-benar langsung menghadap laut. Baiknya.” Sunggyu tertawa sambil memegangi perutnya. Wohyun dan Seunggyeolpun tak luput tertawa bersama Sunggyu.

“Aish…shikeoro..” Hoya mengacak rambutnya frustasi. Sedangkan Myungsoo dan yang lainnya tertaw semakin keras.

‘Menyebalkan’

********************************

Langit sore begitu indah. Begitu banyak manusia yang masih ingin menikmati indahnya pantai walaupun angin di sore hari begitu dingin dan menusuk. _____________________________________

“Yya….Myung, ini sudah sore. Sebaiknya kita cepat pulang. Pasti Wohyun hyeong sedang memasak sekarang. Aku tidak mau jatah makanku dimakan oleh Hoya hyeong. Apalagi Sunggyu hyeong. Aigo….mereka berdua itu sama-sama rakus.” Myungsoo yang sedang asyik memotret langsung mengalihkan pandangannya kearah Seunggyeol.

“Aku belum menemukan gambar yang sempurna. Hyeong pulang saja dulu kalau lelah.” Myungsoo mengarahkan kameranya kearah pesisir pantai. Tepat saat itu, kameranya menangkap suatu objek yyang membuatnya terdiam bagai patung.

“Bagaimana aku bisa pulang tanpamu? Kau mau aku digantung Sunggyu hyeong? Lelaki cerewet itu akan mengomeliku habis-habisan.” Seunggyeol terus mengoceh tanpa henti. Tidak menyadari Myungsoo yang tidak merespon sama sekali akan ucapan yang diucapkannya.

“Kita harus pulang bersama Soo-ya.”

“……………”

“Myungsoo?”

“…………….”

“Kim Myungsoo…”

“Cantik”

“eh…”Seunggyeol menatap temannya dengan bingung.

Seunggyeol menatap Myungsoo yang tengah tersenyum dengan manisnya. Seunggyeol memiringkan kepalanya seraya mengerutkan dahi. Ia tidak pernah melihat Myungsoo tersenyum seperti itu. Lalu ia ikuti arah pandang Myungsoo. Disana….Di pesisir pantai, ada seorang gadis yang tengah bermain dengan gulungan ombak kecil yang saling bekejaran. Gadis itu tersenyum dengan indahnya. Dari tempatnya berdiri dapat ia lihat Myungsoo yang tengah mengambil gambar gadis itu. Dan setelah itu Myungsoo berjalan menghampiri gadis di tepi laut itu dengan senyum yang tak lepas dari sudut Bibirnya.

“Mwoya?”

___________________________________

“Chogiyo.” Gadis yang sedang asyik dengan bermain dengan air itu sontak berbalik saat dirasa seseorang memanggilnya. Dapat dilihatnya seorang namja tampan dengan kemera ditangannya tengah menghampirinya.

“Ne? Nuguseyo?” tanyanya saat namja itu sudah berada didepannya seraya tersenyum.

“Joneun Kim Myungsoo imnida.” Lelaki itu memperkenalkan dirinya dan kembali tersenyum. Gadis itu hanya mengangguk singkat dengan wajah bingungnya.

“Siapa namamu agasshi?”

TBC

Annyeong

Author hiruma nimbrung. Ikut gabung dengan HSF. Ini merupakan karya pertamaku dan kuharap kalian suka dan mau memberikan komentar dan saran demi membaik, memperindah dan mempercantik karya yang masih abal-abal ini. Maaf karena baru pos ff telat. Sebenarnya ini bukan ff yang rencananya mau aku publish. Tapi berhubung yang ‘itu’ belum kelar juga jadi pos yang ini deh. Ngomong-ngomong bila kalian ingin baca karyaku lainnya bisa kunjungi blog ini:https://widyahiruma.wordpress.com/

18 responses to “The Stories Continue

  1. Annyeong….
    Ijin baca ne thor…
    Yeoja itu Suzy kan thor??
    Ditunggu lanjutannya….
    Hwiting..
    Myungzy jjaanngg… Author jjaanngg…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s