[CHAPTER-PART 2] Kill Me, Love Me

Untitled-1

 

Kill Me, Love Me by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Minor Cast(s): Jung Krystal, Lee Jongsuk, Kim Taehyung|| Genre(s):  Fantasy, Mystery, Romance.  || Length: Chapters || Rating: PG – 15 ||

Note: Maaf untuk typo(s) yg bertebaran

Happy reading!

***

Phantom, sebutan untuk orang yang dianugrahi sepasang mata Emperor─yaitu mata yang mempunyai kekuatan sesuai dengan warna yang dimilikinya. Mata Emperor dibagi kedalam tiga macam─yaitu merah, hijau, dan biru. Phantom yang mempunyai Emperor Merah hanya bisa mengalihkan benda, dan Phantom yang mempunyai Emperor Hijau hanya bisa menghentikkan waktu. Lalu apa kekuatan yang dimiliki Phantom yang mempunyai Emperor Biru?

Tak ada seorang pun yang mengetahui hal itu.

Meskipun begitu, tak ada yang mempermasalahkannya karena Phantom itu memang langka. Dalam seabad hanya akan muncul satu Phantom dengan Emperor biru.

Sampai suatu ketika, dalam satu abad muncul dua Phantom yang mempunyai Emperor biru. Bukannya lebih menyeimbangkan dunia dengan hidup berdampingan bersama manusia, salah satunya malah membawa petaka bagi semesta. Dengan kemampuan mata Eperornya, Phantom itu memporak-porandakan dunia.

Dari sanalah, awal mula peperangan antara manusia biasa dan Phantom. Para manusia biasa membentuk organisasi pemusnah Phantom dengan burung gagak sebagai simbolnya.

Walaupun berabad-abad berlalu, perburuan Phantom terus berlanjut…

…hingga saat ini.

***

Mata Jiyeon terkatuk-katuk. Setelah perjalanan panjang tentu saja ia membutuhkan istirahat, apalagi Jiyeon tidak tidur sama sekali mengingat selama perjalanan ia terlalu sibuk memikirkan ibunya.

Jiyeon menepuk kedua pipinya, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang menderanya. Dirogohnya ponsel yang ia simpan disaku mantelnya, berniat untuk memberi kabar kepada ibunya bahwa ia telah sampai di Korea. Namun, niat itu ia urungkan tatkala melihat jam yang tertera di ponselnya menunjukan 10.45, itu berarti sudah tiga puluh menit berlalu sejak Krystal pergi, namun sampai sekarang ia belum juga kembali.

Jiyeon mendesah pelan. Disimpannya lagi ponsel itu ketempat semula, memutuskan akan menelepon ibunya saat sudah dirumah Krystal saja. Saat ini ia lebih memilih untuk keluar, melihat apakah Krystal sudah berada dalam jangkauan pandangnya.

Bagitu Jiyeon telah berada diluar, ia mengedarkan pandangannya. Diantara kerumunan orang yang berlalu-lalang, tidak ada sosok Krystal disana. Namun, pandangannya tiba-tiba terhenti ketika matanya menangkap sosok lain, seorang pemuda yang sedang mematung sambil memandangnya. Jiyeon mengerjapkan matanya berulang kali, namun pemuda itu sama sekali tidak memperlihatkan pergerakan apapun.

Aneh.

Pikiran konyol Jiyeon mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya pemuda itu tengah lakukan. Mungkinkah ia diserang alien dan membeku tiba-tiba sampai akhirnya tidak bisa mengerakkan seluruh badannya? Ataukah ia mempunyai stroke dan penyakitnya itu kambuh di keramaian kota seperti ini? Entahlah, hanya saja Jiyeon merasa pemuda didepannya itu bukan pemuda biasa.

“Jiyeon!”

Jiyeon terperajat ketika seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh, mendapati Krystal yang sedang menatapnya heran.

“Apa yang sedang kau lakukan diluar? Ayo masuk, udara diluar sangat dingin.” Ajak Krystal seraya dibalas oleh anggukan kecil oleh Jiyeon.

Sebelum masuk kedalam mobil Jiyeon memutuskan untuk menatap pemuda itu sekali lagi, namun ia hanya bisa melihat punggungnya. Pemuda itu telah berjalan pergi.

***

Malam hari dikota Paris, Perancis, Anna yang tengah duduk terus bergantian melirik telepon dan ponsel yang berada digenggamannya. Ia sudah berada disana cukup lama, namun orang yang diharapkannya belum juga memberi kabar apapun.

Park Jiyeon. Gadis itu belum juga menghubunginya padahal ia telah berjanji akan langsung memberi kabar jika ia telah sampai di Korea. Alhasil, pikiran-pikiran buruk mulai terbersit dalam benaknya. Apakah telah terjadi sesuatu dengan Jiyeon? Apakah ia telah dirampok, diculik, atau dibunuh? Pikirnya.

Anna menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif dari otaknya dan menggantinya dengan segala kemungkinan yang positif. Mungkin saja Jiyeon langsung istirahat karena lelah, atau ia hanya lupa seperti kebiasaanya. Ya, itu pasti alasannya.

TING TONG~

Gelembung lamunan Anna pecah saat indera pendengarannya menangkap suara bel, menandakan ada orang yang mengunjungi apartemennya. Ia mengerutkan dahi, memikirkan siapa orang yang bertamu pada tengah malam seperti ini.

Dengan berhati-hati, Anna bangkit untuk melihat siapa orang diluar sana. Dari celah kecil pintu, Anna bisa melihat dua orang pemuda tengah berdiri dibalik pintunya saat itu. Keduanya asing, tak ada satupun diantara mereka yang ia kenal.

KRING~

Anna terperajat ketika ponsel yang dipegangnya tiba-tiba berdering. Dengan segera ia menyentuh bulatan merah, menolak panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Bodoh. Dalam hati ia mencaci dirinya sendiri. Hal yang ia lakukan pasti menumbuhkan kecurigaan pada kedua pemuda itu.

Ternyata dugaanya memang benar. Dibalik pintu, kedua pemuda itu menyeringai.

Tidak membuang waktu, pemuda yang ternyata adalah Jongsuk langsung mengambil tindakan. Mata yang tadinya coklat kini berubah warna. Merah. Seketika, pintu didepan mereka terbuka lebar, memperlihatkan Anna dengan mata yang terbelalak. Saking kagetnya, ia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Hyung, apa aku boleh menggunakkannya juga?” Tanya lelaki yang terlihat lebih muda, siapa lagi jika bukan Taehyung.

“Tentu saja,” jawab pria yang satunya,”tapi jangan terlalu luas, untuk satu apartemen ini saja kurasa cukup.”

Setelah mendengar pembicaraan kedua pemuda itu, kening Anna berkerut. Butuh beberapa detik untuknya memahami apa arti dari percakapan mereka sebelum ia tiba-tiba membulatkan matanya. Panik. Itulah yang ia rasakan saat melihat mata Taehyung berubah warna menjadi hijau.

Mungkinkah…

Tubuh Anna mematung sebelum ia benar-benar yakin dengan dugaanya. Segala aktivitas apapun yang berada di apartemen itu seketika terhenti, dentik jarum jam tidak bergerak sama sekali, bahkan setetes air keran yang jatuh pun tak kunjung bertemu daratan. Segalanya terhenti.

Kecuali dua pemuda yang masih berdiri didepan  Anna, Jongsuk dan Taehyun. Mereka lantas berjalan santai, menulusuri lebih dalam apartemen tersebut. Mencari si Biru. Kamar, dapur, sampai semua sudut ruangan telah mereka lihat namun keduanya tidak menemukan sosok lain di rumah ini.

“Hyung lihat ini.” Taehyun dengan cepat menyambar foto yang berada di meja rias. Didalam foto itu terlihat seorang wanita dengan rambut sebahu yang tengah terseyum.

Jongsuk mendekat kearah Taehyung, lalu memperhatikan foto itu.”Taehyung-ah apakah kau mempunyai pikiran yang sama denganku?” tanyanya sembari mengalihkan pandangannya pada Taehyung.

Taehyung mengangguk.

Keduanya saling menatap, seakan memberi aba-aba untuk mengucapkannya bersama-sama.”SI BIRU TERNYATA SEORANG GADIS!” Pekik keduanya.

Wajar saja jika mereka begitu kaget mengingat selama sejarah Phantom, orang yang mempunyai Emperor biru selalu laki-laki.

KRING~

Suara ponsel yang berdering lantas menarik perhatian Jongsuk dan Taehyung. Dengan penasaran, keduanya mendekati tubuh Anna yang mematung.

Lian. Itulah nama yang tertera dilayar ponsel itu.

Merasakan adanya suatu dorongan yang datang entah darimana, Taehyung, tanpa berdiskusi dahulu dengan Jongsuk, menggeser screen hijau dan tak lupa menyentuh kolom speaker agar Jongsuk juga bisa ikut mendegarnya.

“Hallo, Ibu. Maaf aku baru mengubungimu sekarang. Kau jangan khawatir, aku sudah tiba di Korea dengan selamat.” Ucap suara dari sebrang sana.”Ibu… apa kau mendengarkanku? Ibu.. ibu…”

Klik.

Jongsuk menutup sambungan telepon itu begitu saja. Ia melemparkan pandang kepada Taehyung lalu melangkahkan kakinya menuju keluar apartemen. Seakan mengerti dengan tatapan itu, Taehyung menyeringai. Ia langsung memasukan foto yang ditemukan tadi dan mengikuti Jongsuk dari belakang.

Sesaat setelah Jongsuk dan Taehyung berada diluar, pintu apartemen Anna tertutup dengan sendirinya dan waktu pun berjalan kembali.

Anna terlihat linglung. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang, mencoba mengembalikan ingatan tentang apa yang sudah terjadi dengannya. Pikirannya terus berputar sampai ia ingat dengan dua pemuda yang tiba-tiba masuk kedalam rumahnya. Dengan panik, ia segera berlari menuju kamarnya. Mengacak-laci mejanya.

Anna menghembuskan napas lega. Barang yang sangat berharga untuknya masih ada.

“Mungkinkah mereka mencari Jiyeon?” Tanya Anna kepada dirinya sendiri.

***

Jiyeon mendesah pelan sambil memandang ponsel yang sedang dipegangnya. Sesaat yang lalu ia menelepon ibunya, hendak memberitahukan bahwa ia sudah berada di Korea kemarin siang. Anna menjawab panggilannya, namun ia sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Ia bahkan memutuskan sambungannya begitu saja.

“Kenapa kau?” Tanya Krystal saat ia keluar dari kamar mandi dan mendapati sahabatnya itu tengah murung.

Jiyeon membaringkan badannya sebelum menjawab pertanyaan Krystal.”Barusan aku menelepon ibu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan menutup teleponnya sesaat kemudian.” Jawab Jiyeon sambil memandang langit-langit kamar Krystal.

Krystal menghampiri Jiyeon seraya duduk disampingnya.”Mungkin dia masih mengantuk. Jam segini, di Paris pasti tengah malam.”

Jiyeon mengangguk pelan.”Kau benar juga.” Ucapnya.”Nanti aku akan mencoba menghubungi ibu lagi jika waktu disana sudah pagi.”

Ketika Krystal hendak beranjak untuk mengganti handuknya dengan baju, ia mengurungkan niatnya dan kembali duduk.”Jiyeon-ah, tadi aku melihatmu sedang beradu pandang dengan seniorku. Apa mungkin kau mengenal Myungsoo-sunbae?” Tanya Ktystal.

Jiyeon mengubah posisinya menjadi duduk agar bisa menatap Krystal.”Oh, jadi pemuda tadi bernama Myungsoo, dan ia juga seniormu…” Jiyeon mengulangi kata-kata Krystal terlebih dahulu,”…aku sama sekali tidak mengenalnya. Yang kutahu, saat aku keluar dan berharap melihatmu, aku malah melihatnya tengah menatapku tanpa bergerak ataupun berkedip. Seperti patung.” Jelas Jiyeon panjang lebar.

“Dia memang seperti itu. Aneh.” Ujar Krystal.”Kau tahu? Dia itu mahasiswa tetapi tidak pernah sekalipun menghadiri kelas. Dia hanya berangkat ke kampus pada ujian saja. Walaupun begitu, para dosen menobatkannya sebagai mahasiswa terpintar.”

Jiyeon membulatkan kedua matanya.”Woah, daebak!” Ucap Jiyeon tak percaya.”Dia pasti sangat pintar. Tapi, apa yang membuatnya tidak pernah masuk kelas?”

Krystal menghendikkan bahu.“Tak ada yang tahu tentang itu. Maka dari itu aku bertanya padamu. Kukira kau mengenalnya dan mengetahui alasan kenapa ia tidak pernah masuk ke kelas.” Jelas Krystal.

”Tapi kenapa ia memandangmu seperti itu?” Tambah Krystal dengan kerutan di dahinya.

“Entahlah.” Jawab Jiyeon acuh.

“Sudahlah, kita hentikan saja pembicaraan tentang seniorku yang aneh itu dan mari kita membahas tentangmu.” Raut wajah Krystal berubah menjadi serius.“Kau sangat berubah setelah kehilangan ingatan.”

“Maksudmu?” Tanya Jiyeon tak mengerti.

“Dulu kau itu sangat tomboy, cuek dan kalem. Kau bahkan sama sekali tidak perduli dengan penampilanmu. Style kesukaanmu itu kaos kebesaran dengan cenala jeans belel yang dipadukan dengan sepatu kets. Tapi sekarang…” Krystal menuntun Jiyeon untuk berdiri. Ia mentap Jiyeon dari atas sampai bawah seraya berkata,”…lihatlah. Kau sangat feminim dengan sweater peach dan rok pink selutut ini, lalu tutur katamu sangat halus kepadaku.”

Sejurus kemudian Jiyeon terhenyak. Ia sama sekali tidak membayangkan jika dirinya yang dahulu ternyata seperti itu. Takut. Rasa itu tiba-tiba muncul, memenuhi otaknya. Ia takut Krystal tidak nyaman dengan penampilan dan sifat Jiyeon yang sekarang.

Namun, alih-alih protes karena penampilan sahabatnyaJiyeonsangat berubah derastis, Krystal malah berkata,”Aku harap saat ingatanmu telah kembali pun kau akan terus berpenampilan dan berperilaku seperti ini, Jiyeon-ah.” Ucapnya sambil tersenyum manis dihadapan Jiyeon,”entah kenapa walaupun kita dulu sangat dekat, aku seakan merasa kau menjaga jarak denganku.”

Jiyeon terkikik pelan. Bodoh. Ia kira Krystal akan mencacinya mengingat dari awal pertemuan mereka, ia mengetahui bahwa Krystal adalah orang yang selalu blak-blakkan. Namun tak dapat dipungkiri, ada pikiran aneh terlintas ketika mendengar ucapan Krystal. Kenapa dulu Krystal berpikiran ia seperti menjaga jarak? Apa maksudnya?

“Apa ada yang aneh dengan ucapanku?” Tanya Krystal sambil mengerutkan dahi karena melihat Jiyeon tiba-tiba terkikik.

“Tidak. Aku hanya mengira kau akan memarahiku karena sifat dan cara berpakaianku berubah, tapi ternyata aku salah.” Ujar Jiyeon. Ia lalu mendorong Krystal kedepan lemarinya.”Sudahlah nanti saja kita bicarakan lagi. Sekarang, cepatlah kau ganti bajumu. Aku harus segera mengurus kepindahanku nona Jung.”

Krystal mendesis,”Arasso, nona Park. Aku akan mengganti pakaianku sekarang juga.”

***

Myungsoo’s POV

Siang ini aku merasa sangat tidak nyaman. Ketika aku mulai melangkahkan kakiku kedalam lingkungan kampus, orang-orang yang kulalui menghujaniku dengan tatapan terkejut mereka. Bisik-bisik samar yang kudengar sedikit demi sedikit membuat kupingku gatal.

Apa yang salah?

Tak pernah sedikitpun terbersit dipikiranku bahwa keadaanya akan seperti ini. Hanya karena sama sekali tidak pernah datang ke kelas, aku menjadi topik hangat seantero kampus. Masa bodo. Kuputuskan untuk tak menghiraukan mereka dan terus berjalan, toh aku punya alasan sendiri kenapa selama ini aku hanya datang ke kampus jika ujian saja.

Aku punya pekerjaan. Ya. Pekerjaan yang pasti orang tertawakan.

Memburu Phantom.

Orang akan mengira bahwa aku sudah gila karena memburu makhluk fiksi yang dijelaskan dalam legenda telah punah berjuta tahun yang lalu. Well, mereka hanya tidak mengetahui bahwa Phantom benar-benar ada sampai ini, bahkan berbaur bersama mereka. Jika mereka tahu, mereka pasti tidak akan berani keluar rumah.

Sesampainya di kelas, aku hanya menopang daguku malas. Yang benar saja, hari yang kuharapkan akan menyenangkan malah seperti ini. Selama ini aku tidak mempunyai teman untuk menjaga rahasia tentang gagak dan Phantom. Aku selalu sendiri.

Teman.

Itulah alasan kenapa aku sangat senang terbebas dari tugas. Aku ingin seperti pemuda lainnya yang menghabiskan waktunya bersama, berjalan-jalan menyusuri kota yang belum pernah benar-benar terjamah oleh mataku, mengingat aku keluar dari ruangan pengap itu hanya jika ada sinyal yang menandakan kemunculan Phantom saja. Membosankan, namun aku bisa apa?

Sejak umur belia aku telah diajarkan bagaimana memburu Phantom. Ayah membekaliku dengan segala ilmu bela diri, bagaimana menggunakan senjata, dan… bagaimana hidup menyendiri, tanpa teman. Kesepian? Tentu saja, namun sekali lagi aku bisa apa?

Menurut ayah, kemampuan intelekku yang tinggi harus kumanfaatkan demi kedamaian hidup manusia. Aku menurut, rela menukarkan semuanya, kesenangan dunia luar, hangatnya keluarga, teman, dan cinta dengan harapan suatu saat aku akan bisa menggapai lagi semua yang telah kutukar.

Namun, disaat segalanya telah berakhir, semuanya tampak tak bisa kugapai. Apakah dunia luar benar-benar seperti ini ataukah selama ini, sedikit demi sedikit aku sendirilah yang telah menjauh? Entahlah.

Semua orang yang berada dikelas tampak diam ketika seorang dosen yang kuketahui bernama Song Jihyo memasuki kelas bersama seorang… gadis.

Mataku membulat seketika saat melihat gadis itu, gadis yang kemarin membuatku mematung. Mataku tidak bisa lepas darinya. Ia meletakan tumpukan buku yang dibawanya ke atas meja.

“Terimakasih, Jiyeon-ssi.” Kudengar Song-saem berterimakasih kepadanya.

“Sama-sama, bu.” Ia lantas membungkukkan badannya terlebih dahulu sebelum pergi keluar.

Jiyeon. Nama itu rasanya sangat cocok untuknya. Dengan tinggi badan yang pas, iris mata coklat, dan rambut sebahu yang berkilau, ia tampak… sempurna.

Tak pernah kubayangkan akan bertemu dengannya lagi. Mungkinkah ini takdir?

.

.

Sore harinya aku berjalan pulang dengan malas. Selama hampir setengah hari, aku sama sekali tidak mendapatkan teman baru, pun mengetahui keberadaan gadis cantik itu. Untuk pertama kalinya aku merasa sendiri itu sangat buruk, sangat sepi hingga rasanya aku merasa menjadi makhluk tak kasat mata, ada namun keberadaannya tak diketahui orang.

Dipersimpangan jalan, aku menghentikan langkahku ketika mataku menangkap sosok gadis itu. Jiyeon. Tanpa sadar, kakiku ikut mengikuti kemana ia berjalan.

Kami. Ah tidak, maksudku aku terus mengikuti Jiyeon yang telah berjalan cukup jauh. Namun, ada yang aneh. Ia terlihat bingung karena sesekali ia melihat kekanan dan kirinya, seolah mencari sesuatu. Sepertinya ia membutuhkan bantuan. Sebenarnya, ingin sekali aku menawarkan bantuan padanya namun pikiranku masih saja terus bergelut, memilah-milih kata-kata apa yang seharusnya kuucapkan saat menyapanya.

Aish! ini membuatku frustasi. Kenapa mendekati gadis tidak semudah memecahkan rumus atau membuat virus komputer?

Saking sibuknya dengan pemikiranku, tanpa sadar aku telah kehilangan jejak gadis itu, sosoknya tak lagi kulihat. Sial. Kamana dia pergi?

“Kau mencariku?”

Karena kaget dengan kehadiran Jiyeon yang tiba-tiba ada dibelakangku, aku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku dan…

BRUK!

Pantatku sukses mendarat dengan kasar ditumpukan sisa salju yang basah.

“Awww…” Ringisku pelan.

Omo! Maafkan aku. Kukira kau tidak akan sampai jatuh seperti ini.” Ucapnya lembut seraya berjongkok didepanku.”Aku hanya ingin mengagetkanmu. Habisnya aku sebal karena kau dari tadi terus mengikutiku.”

Dia mengetahuinya? Oh! Rasanya aku ingin menggali lubang sedalam mungkin untuk menyembunyikan diriku saat ini. Apa yang harus kukatakan kepadanya? Haruskah aku berkata ‘karena aku ingin mengenalmu’? Tidak. Kukira gadis ini pasti akan menganggapku pria agresif.

Hey otak! Ayolah bekerja. Jangan biarkan aku mematung kembali seperti orang bodoh dihadapannya.

Karena cukup lama tidak mendapatkan respon dariku, ia melambai-lambaikan tangan kanannya didepan wajahku.“Myungsoo-ssi, kau baik-baik saja?” Ia lantas mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Siapa saja tolong cubit pipiku dengan keras untuk memastikan bahwa ini benar-benar bukan mimpi. Jiyeongadis iniIa mengetahui namaku. Bak mendapat panggilan dari bidadari, hatiku terasa melompat-lompat kegirangan.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan segara kuraih uluran tangannyanya. Halus. Mungkin ini sedikit terdengar berlebihan, namun kurasa aku tidak akan pernah sanggup untuk mencuci tanganku ini.

“Te-te-terima kasih, aku baik-baik saja.” Ucapku sedikit terbata.”Tapi maaf, kenapa kau bisa tahu namaku? Dan tentang tuduhanmu, aku tidak mengikutimu. Sungguh.”

Kedua sudut bibir Jiyeon terangkat. Ia tersenyum.

Jika saja aku punya kantong doraemon atau setidaknya Emperor hijau, aku akan menghentikan waktu saat ini juga. Demi celana kotak spongebob, senyum itu harus diabadikan!

“Aku mengetahuinya dari temanku. Kurasa semua mahasiswa tahu karena katanya kau itu sangat terkenal…” Ucapnya.

Terkenal? Apa benar bergitu? Sangat aneh, bagaimana mungkin mahasiswa yang tidak pernah masuk kelas sepertiku bisa terke… tunggu. Apa mungkin karena setiap tahun aku mendapatkan predikat mahasiswa terpintar sekalipun tidak pernah masuk kelas? Bodoh. kenapa baru terpikirkan sekarang.

“…lalu apa kau benar-benar yakin tidak mengikutiku?” Kulihat matanya menyipit, menyelidikku.”sekalipun bayanganmu terlihat jelas di etalase toko-toko itu?” Tunjuknya kearah toko dikanan-kiri kami.

Sial. Aku ketahuan. Apa yang harus kukatakan sekarang? Mengaku atau mengelak? Entahlah, keringat dingin yang mulai keluar dari pori-pori kulit, menambah rasa gugupku. Saat ini, yang bisa kulakukan hanya menunduk malu. Ayah, kumohon selamatkan anakmu ini.

Aku bisa mendengar ia terkikik pelan. Apa yang sedang dipikirkannya?

Seakan tahu apa yang sedang kupikirkan, ia lantas berkata,”Kau sangat lucu, sunbae. Apa kau mengikutiku karna ingin berteman denganku?” Tanyanya seraya menunjuk dirinya.

Aku mengangguk pelan. Sudahlah tidak ada gunanya mengelak, toh apa yang dikatakannya memang benar.

“Kalau begitu mari kita berteman saja.” Ucapnya.

Karena kaget dengan perkataan Jiyeon, aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya. Sedetik berikutnya, ia megulurkan tangannya, mengajakku untuk berjabat tangan.”Namaku Park Jiyeon.”

Sebelum menjabat tangannya, tangannku yang basah karena keringat dingin tadi, kuusap-usapkan dahulu kebaju belakangku.”Namaku Kim Myungsoo.” Jawabku pelan dan…kaku.

“Karena kau lebih tua dariku maka aku akan memanggilmu oppa,” Ujarnya.

Oppa. Saat ia mengucapkannya, entah kenapa rasanya seperti lulaby yang memabukan, membuatku ingin mendengarnya terus menerus.

“Tapi…” Ia sedikit mengambil jeda,”karena kau sudah menguntitku, kau harus kuberi hukuman. Kau harus menemaniku ke toko buku dan menraktirku es krim.”

Menurutnya itu adalah sebuah hukuman? Tidak! Menurutku itu adalah sebuah kesempatan langka yang hanya bisa kudapat dalam mimpi.

Sebelum mengiyakan, tiba-tiba ponselku berdering. Kurogoh benda persegi empat itu dalam saku dan melihat siapa orang yang telah merusak momenku bersama Jiyeon. Ayah. Oh! Ayolah, bukannya datang saat tadi ku memanggilnya, dia malah menghubungiku sekarang, disaat aku telah berteman dengan Jiyeon.

“Dimana kau? Cepat kembali.”

Setelah aku mengangkat teleponnya, ia hanya berbicara beberapa kata dan langsung menutupnya. Hanya dengan mendengar nadanya saja, aku tahu pasti ada sesuatu yang serius.

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke toko buku dan menraktirmu es krim sekarang. Ada urusan yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.” Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlari begitu saja.

Entah kenapa langkahku ini tampak berat. Mungkin karena hatiku tidak ingin meninggalkan Jiyeon. Namun apa daya, otakku memaksa untuk pulang. Aku sudah berjanji apapun yang terjadi, tugasku harus menjadi yang paling kuutamakan melebihi nyawaku.

.

.

Dua puluh menit kemudian, aku akhirnya tiba dirumah dengan terengah-engah. Di ruang tamu, terlihat ayahku tengah memijat pelipisnya sesaat setelah aku membukakan pintu dengan sedikit kasar. Mau tidak mau dahiku berkerut, menerka-nerka apa yang akan ia sampaikan setelah melihat ekspresinya yang tampak diselubungi rasa frustasi.

“Ada apa, ayah?” Tanyaku seraya duduk disampingnya.

Ayahku tersentak. Kurasa, saking sibuk dengan pikirannya, ia sampai tidak menyadari kehadiranku.

Setelah mengetahui aku telah ada dihadapannya, ia mendesah pelan seraya berkata,”Ternyata kita salah, Phantom belum benar-benar punah. Tadi aku melihat sinyal Phantom berada di Paris.” Ujarnya.”Bagaimana ini, Myungsoo-ah. Semuanya sedang berlibur.”

Ayah benar. Tiga orang anggota yang biasa bekerja bersama kami sedang menikmati liburan mereka. Hanya aku dan ayah yang tersisa.

Aku terdiam. Tak tahu harus bereaksi apa. Mengapa para Phantom itu tidak menyembunyikan kekuatannya saja selamanya daripada membuatku harus memburu mereka. Hari ini adalah hari kelima sejak ‘kebebasanku’, namun belum ada satupun keinginanku tercapai. Ini semua gara-gara mereka. Aku bersumpah akan memusnahkan semuanya.

“Ayo kita pergi ke Paris dan bunuh mereka, ayah.” Ucapku dengan penuh amarah.

Ayah menatapku dengan tatapan tak percayanya. Ya. Ia tahu aku sangat tidak suka bepergian keluar negeri, maka dari itu ayah memutuskan menugaskanku di Korea saja. Namun sekarang ceritaya berbeda. Hasrat ingin memburu Phantom dalam dirku sedang membara.

***

Jiyeon’s POV

Aku malanjutkan kembali perjalananku untuk menemukan toko buku setelah Myungsoo-sunbae meniggalkanku tiba-tiba. Entahlah, kurasa ada sesuatu yang aneh mengenai dirinya. Ia tampak…kesepian.

Jika kuingat kembali kemenit-menit yang lalu saat ia diam-diam mengikutiku, aku tak bisa berhenti tersenyum. Ekspresi polos saat berhadapan denganku, kata-kata elakan yang ia coba ia utarakan, sampai rasa gugup luar biasa tampak menggemaskan dimataku. Melihat dari perilakunya yang canggung, ia tampak seperti seseorang yang kurang bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya. Ia seperti hutan yang belum pernah terjamah orang, terlihat asri namun tak orang ketahui apa yang ada didalamnya.

Yang kulihat didalam sana sangat kosong. Itulah yang mendorongku untuk berteman dengannya. Aku ingin membantunya untuk berteman dengan orang, mengajarkan betapa bahagianya hidup jika kita menikmatinya, dan memperlihatkan indahnya dunia padanya.

Tunggu…

Apa yang kupikirkan? Tujuanku jauh-jauh kembali ke Korea adalah untuk mengembalikan ingatanku yang hilang, dan bukan malah untuk membantu orang.

“Jiyeon!”

Kapjagi!” Aku tersentak saat seseorang menepuk bahu sambil memanggil namaku.

Kubalikan tubuhku dan melihat Krystal tengah berdiri dihadapanku sambil menyilangkan lengannya.“Ternyata kau disini. Kau tahu? aku sudah mencarimu kemana-mana.” Ucapnya.”Kau bilang akan ke toko buku, tapi kenapa kau berada disini? Jangan bilang kalau kau tersesat.”

Mendengar kata ‘tersesat’, aku hanya bisa tersenyum, memperlihatkan deretan gigi depanku padanya. Ya. Aku memang tersesat.

Seakan mengerti dengan ekspresiku, ia mendesis,”Sudah kuduga. Lalu kenapa kau tidak menghubungiku jika kau tersesat?”

“Aku nanti memang berniat akan menghubungimu. Hanya saja, saat ini aku sedang ingin berjalan-jalan melihat pemandangan kota ini.” Jawabku.

“Nanti saja berjalan-jalannya, sekarang kau harus ikut aku.” Ucap Krystal seraya menarik tangannku agar ikut bersamanya.”Aku telah mengetahui kabar Sehun.”

Karena tak bisa menyembunyikan kegembiraanku atas berita yang kudengar, tanpa sadar aku menghentikan langkahku saat mendengar Krystal menyebutkan nama Sehun. Yang kutahu dari Krystal dia adalah kekasihku. Menurutnya, besar kemungkinan ingatanku akan kembali apabila bertemu dengannya.

“Apa benar kau telah menemukannya?” Tanyanku antusias.

Alih-alih mendapatkan respon heboh Krystal yang seperti biasanya, aku malah melihatnya mematung. Ada apa dengannya?

“Jiyeon…” Panggilnya seraya berbalik menatapku. Matanya terlihat sendu.”Sehun… dia ternyata sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Setelah mengatakan itu, Krystal tiba-tiba memelukku, seolah menyalurkan rasa sayangnya agar aku kuat setelah mendengar berita itu. Kurasa pengaruh pemuda bernama Sehun itu sangat berarti untukku. Jika tidak, mungkin Krystal takkan memelukku seerat ini. Namun, entah kenapa hatiku terasa biasa saja. Malah, terbersit pikiran aneh dalam benakku. Apakah Sehun benar-benar kekasih yang sangat kusayangi? Jika iya, mungkin hatiku akan terasa tercabik-cabik ketika mandengar berita kematiannya walaupun aku tidak bisa mengingat apapun.

==== TBC ====

A/N:

Gimana gimana? setelah part2 ini apa masih ada yang bingung? Udah ngerti kan siapa itu si biru, Phantom, Emperor dll. Maaf jika nama-namanya pada aneh yaa xD

Jujur aja rada kecewa karena yg komen sedikit. Ya~ itu juga jd refleksi buat aku sih untuk membuat cerita lebih menarik dan juga lebih memperbaiki gaya bahasanya lagi  :)

Anyway, Terimakasih sebanyak-banyaknya kuucapkan untuk orang-orang yg selalu mendukungku. aaaaak saranghae♥

44 responses to “[CHAPTER-PART 2] Kill Me, Love Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s