[ONESHOT] PINOCCHIO

| Scriptwriter : natadecocoo|

| Cast : Kim Myungsoo & Park Jiyeon  |

| Genre : romance,fluff,angst (slight!)|

| Duration : oneshot |

| Rating : Teen |

Thanks to Olivemoon for this very beautiful poster (*^*)b


Keduanya merasakan kehampaan. Namun mungkin mereka akan tetap seperti itu jika mereka masih memendam kebenerannya untuk diri mereka sendiri. Kebenaran yang seharusnya terungkap.


Kembali, Jiyeon mematut bayangannya pada cermin besar yang berdiri tegak di kamarnya. Mengoreksi apakah ada sesuatu yang salah pada penampilannya. Entah itu rok yang terlipat, blazernya yang miring atau mungkin rambutnya yang sedikit mencuat ke arah tertentu. Biasanya ia tak se lama ini berada di depan cermin namun hari ini spesial—potongan rambutnya baru. Dari yang awalnya panjang terkuncir kini menjadi pendek sebahu. Memancarkan kesan dewasa pada dirinya, apalagi ketika ia dibalut dengan blazer dan rok selutut kuning gading yang formal. Lekuk tubuhnya tak ayal membuat para namja kehilangan fokusnya.

Setelah dirasa cukup, ia keluar dari kamar apartemennya.

“Selamat pagi dunia.” ujarnya pada dirinya sebelum ia mengembangkan sebuah senyum.

————————–

Memilih kubikel yang telah menjadi markas kerjanya selama bertahun-tahun itu, Jiyeon meletakkan tasnya di sana.

Saat ini masih terlalu pagi dan ia menghela nafasnya. “Aah sepertinya aku terlalu bersemangat pagi ini.”

Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk memastikan lagi apakah orang yang ia tunggu-tunggu—seseorang yang menjadi rekan kerjanya yang duduk di kubikel sebelahnya– sudah datang. Namun sama saja seperti saat ia pertama kali ia memasuki kantornya tsb—orang yang ditunggunya belum menampakkan diri juga.

Jangankan orang yang ia tunggu, ruangan dengan label ‘ABS’ besar-besar di depannya itu bahkan tak terisi oleh orang sama sekali kecuali dirinya dan seorang office boy yang baru saja meninggalkan ruangan.

Untuk membunuh waktu, Jiyeon membuka bendelan tebal dari tasnya. Setiap kata demi kata ia eja, mencari sebuah kesalahan di dalamnya. Sebenarnya, scene demi scene pada bendelan kertasnya itu telah ia baca tadi malam setelah ia mengetiknya dan memprintnya. Khatam. Namun pagi ini ia mengulanginya lagi. Untuk mencari sesuatu janggal yang mungkin terlewatkan.

Membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, matanya kemudian berhenti di sebuah adegan.

Choi Inha tak bisa berkilah lagi. Fakta bahwa ia seorang pengidap pinocchio syndrom dan tak bisa berhenti cegukan ketika mengungkapkan sebuah kebohongan membuatnya harus selalu mengatakan kebenaran.

Termasuk ketika ia menyangkal bahwa ia sama sekali tidak menaruh rasa pada namja di hadapannya—Choi Dal Po.

Umpatan sempat terdengar lirih dari mulut Inha. Ia tak berani menatap langsung ke wajah Dalpo dan memilih untuk menatap ke arah lain.

“Joahe. Jeongmal joahe.” Kebenaran itu akhirnya lolos dari mulut Inha.

Tak disertai dengan cegukan.

Yang berarti, itulah kebenaran yang selama ini Inha pendam.

Dalpo terkekeh pelan. Kekehan yang menyiratkan sebuah kelegaan. Kelegaan karena ternyata mereka memiliki perasaan yang sama satu sama lain.

Inha masih memandang ke arah lain, tak berani menatap wajah Dalpo namun sebuah tangan besar menyambut dagunya dan membuatnya harus berhadapan dengan wajah Dalpo yang kini mendekat ke wajahnya.

Yeah, he kissed her.

 

“Aah kisah mereka begitu indah..” ujarnya lirih pada dirinya sendiri. Namun selirih apapun itu jika ada seseorang yang sedang berada di belakangnya pun pasti akan mendengar ucapannya.

“Indah?”

Itulah salah satu kelemahan Jiyeon. Ia selalu bisa terlarut dalam sebuah kisah yang ia baca hingga ia tidak menyadari bahwa kantor sudah terisi hampir penuh.

Dan yang terpenting adalah seseorang di belakangnya sedang memergokinya mengagumi sebuah scene romantis dalam script drama yang ia tulis sendiri.

“Memuji karya sendiri, eoh?” suara tenor itu kembali menyapa telinganya.

Kamjagiya[1]! Ya Kim Myungsoo! Sejak kapan kau berada di sana?! Aish..”

“Sejak kapan? Nona Park, kau memang selalu bisa terlarut dalam kisah romansa seperti itu hingga tak menyadari kedatanganku..”

Jiyeon mengedipkan matanya berulang kali—rasa gugup itu memaksanya untuk bertingkah seperti itu.

Dwaesso. Lagipula ini karya kita berdua jadi aku juga secara tak langsung juga memuji karyamu..” balas Jiyeon. Ia terhenti sebentar lalu berkata dengan nada yang melemah di sebuah kalimat. “Kita kan partner..”

Myungsoo juga berhenti sejenak, mengangguk-angguk pelan membenarkan ucapan Jiyeon. Meski ia merasakan sesuatu yang aneh ketika Jiyeon mengucapkan partner. Karena ia sedikit mengartikannya dengan arti yang lain. Walaupun sebenarnya yang Jiyeon maksud adalah partner kerja. Myungsoo tahu akan hal itu. Hanya saja, ia berharap lebih. Ia berharap mereka tak hanya partner kerja…

“Tapi kau berhenti lama di scene yang kau buat..” Myungsoo masih belum mau berhenti—ia menemukan kepuasan sendiri ketika melihat wajah sebal milik Jiyeon.

Mereka bertengkar lagi. Bahkan ketika waktu masih pagi, sesuatu yang seharusnya diawali dengan keakuran antar rekan kerja. Seisi ruangan tahu bahwa mereka berdua sudah seperti anjing dan kucing—saling berselisih di berbagai macam perkara.

ketika akhirnya pertengkaran mereka terpaksa berhenti ketika rekan kerja mereka yang lebih tua melerai mereka.

“ Yayaya! Geumanhae. Naskah kalian sudah harus selesai minggu depan jadi jangan buang waktu kalian dan kembalilah bekerja!”

Jiyeon dan Myungsoo tak mempunyai pilihan. Mereka akhirnya menurut dan membungkuk ke senior mereka itu seraya mengucap “Ndae” dengan kompak.

Mereka lalu duduk ke kursi mereka masing-masing. Jiyeon tampak mendesah dan melirik cermin kecil di meja kerjanya selama beberapa detik. Apa dia tidak memperhatikan potongan rambut baruku? aish.. batinnya.

“Ya! Park Jiyeon-ssi. Potongan rambutmu baru, eoh? Wah, itu sangat sesuai denganmu.” Jiyeon berharap kalimat itu keluar dari mulut Myungsoo namun Jiyeon menyesal ia berharap terlalu tinggi. Karena pada kenyataannya, kalimat itu diutarakan oleh senior yang melerainya tadi, Yoo Jaesuk.

“Aaah.” Jiyeon memasang wajah tersipunya sebelum ia membungkuk ke arah seniornya sembari mengucapkan terima kasih.

“Myungsoo pasti bahagia melihat penampilanmu secantik ini.” lanjut seniornya itu. Membuat Jiyeon membeku di tempatnya. Apalagi ketika seniornya itu melanjutkan kalimatnya. “Ia sepertinya menaruh rasa padamu.”

Dilanjutkan oleh kekehan ringan seniornya.

Jiyeon senang tiada tanding. Rasa-rasanya, seperti ada roket yang akan membawanya terbang saat itu juga.

Dua detik rasanya Jiyeon seperti ada di surga. Sebelum Myungsoo menghancurkan semua harapannya—menjadi butiran kekecewaan yang meledakkan roket khayalan milik Jiyeon.

“A-ani sunbaenim. Saya tidak pernah menaruh rasa pada yeoja sepertinya. A-aah lihatlah, Park Jiyeon. Kamu masih tetap terlihat sama meskipun dengan gaya rambut berbeda. ”

Oh, ingin rasanya Jiyeon menendang namja itu dengan stillettonya.

————————–

Jiyeon meletakkan kepalanya di sebuah meja bundar. Ia tak peduli pipinya mulai mati rasa karena ia terus dalam posisi itu selama hampir satu jam.

Kecewa. Sedih. Putus asa.

Itulah yang ia rasakan.

Usahanya memilih model rambut seharian kemarin terasa sia-sia.

Ia bahkan telah rela menyisihkan uang gajinya beberapa persen untuk menyewa jasa pemotong rambut terbaik di daerah Gangnam.

“Dasar namja menyebalkan. Semoga kau melajang selamanya!” kutuknya.

Setelah menangis cukup lama di toilet tadi, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. “Mungkin aku salah memilih model rambut.”  “Mungkin aku harus melupakannya.” Terlalu banyak yang ia pikirkan saat ini. Hingga sebuah pikiran cukup tak waras datang di kepalanya. “Mungkin aku harus membunuhnya agar aku bisa segera move on darinya.”

“Aaah aku bisa gila! Tentu saja aku tak bisa membunuhnya ketika aku tak bisa hidup tanpanya!”

Jiyeon masih ingin memikirkan sebuah penyebab dan solusi dari semua perasaannya pada Kim Myungsoo, hingga lamunanya terhenti seketika ia merasakan sesuatu dingin di pipinya.

Frappucinno dingin.”

Suara menyapa telinganya yang berasal dari namja yang Jiyeon sendiri bingung, ia harus melupakannya atau tetap mencintainya atau membunuhnya—ah kita harus melupakan pikiran membunuh ini.

Jiyeon mendongak dan melihat sosok itu sudah duduk di seberangnya.

“Oh, gomawo.” balasnya sekenanya.

Perasaannya campur aduk saat ini. Kecamuk itu menyerang dada Jiyeon saat ia melihat Myungsoo menjawab. “Sama-sama” sembari memamerkan sebuah senyum.

Aish mengapa kau harus memberi senyum itu ketika aku sedang berusaha melupakanmu.

batin Jiyeon. Ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan cinta bertepuk sebelah tangannya itu selama bertahun-tahun dan ia merasa, sudah saatnya ia melakukan sebuah langkah besar.

Melupakan sesosok makhluk hidup tampan bernama Kim Myungsoo.

Berdiri, Jiyeon merogoh lembaran won dari saku roknya dan menaruhnya di meja depan Myungsoo. “Aku harus pergi. Sekali lagi, gomawo.”

Pergi dan menghindar memang bukanlah sesuatu yang tepat untuk melupakan seseorang namun dengan pergi, menurut Jiyeon usahanya untuk melupakannya menjadi lebih mudah. Setidaknya untuk saat ini hanya itulah solusi yang dapat terpikirkan olehnya.

———————————

Sudah hampir seminggu Jiyeon berusaha menghindari Myungsoo. Biasanya mereka selalu memikirkan script bersama, pergi hangout bersama, lunch bersama , dinner bersama. Katakanlah, sehari mereka bisa bersama selama hingga 18 jam.

Keduanya merasakan kehampaan. Namun mungkin mereka akan tetap seperti itu jika mereka masih memendam kebenerannya untuk diri mereka sendiri. Kebenaran yang seharusnya terungkap.

Jiyeon masih di kubikel tempat ia bekerja. Kesibukannya menggarap script drama ‘Pinocchio’ hampir mencapai akhirnya, membuatnya sedikit terlupakan akan sosok Myungsoo. Namun tetap saja, rasa itu masih ada. Hanya saja, kesibukan membuat energinya terserap ke hal yang lain, bukan Myungsoo.

Frappucinno dingin.”

Desahan nafas terdengar dari mulut Jiyeon. Saat ini memang hanya dirinya dan Myungsoo saja yang berada di dalam ruangan besar itu.

“Kau ingin membuatku overdosis kopi, Tuan Kim?”

Myungsoo tampak mengedikkan bahunya, berpura-pura mengabaikan Jiyeon yang sedang melihat ke arah tempat sampahnya yang penuh akan gelas plastik kopi.

“Itu kesukaanmu. Lagipula kita harus melembur script ini.”

Yeah, ‘kita’.” sindir Jiyeon pada Myungsoo karena Myungsoo hampir tak bekerja sama sekali.

“Kau yang menyuruhku untuk diam dan menunggumu bekerja. Kau bahkan menyuruhku untuk pulang dan menawarkan diri untuk bekerja sendirian.Ya. Kau bahkan mengabaikanku selama 5 hari.”.”

“Iya aku memang mengatakannya. Keundae…Ah sudahlah.Seandainya aku adalah Cho Inha yang mengidap sindrom Pinocchio, pasti semuanya akan terasa lebih mudah .”

“Bwoya? Ya. Apa maksudmu?”

Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Jiyeon. “Dwaesso! Kau tak akan pernah mengerti.”

Kini, Jiyeon beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke suatu tempat—meninggalkan Myungsoo sendirian di dalam ruangan luas itu.

Jiyeon terus melangkah cepat. Ia tak peduli kemana kakinya akan membawanya pergi. Hingga pada akhirnya ia menemukan jalan buntu. Tak terasa, ia telah menaiki semua tangga yang membawanya pada tempat tertinggi di gedung ABS.

Tangisnya pecah lagi. Kembali ia merasakan rasa perih di dalam dadanya. Seandainya ia bisa mengungkapkan semua perasaannya..atau mungkin seandainya Myungsoo memiliki rasa yang sama terhadapnya..Ia mungkin tidak akan seperti itu.

“KIM MYUNGSOO PABOOO!” Ia berteriak sekencang mungkin.

Ia tak peduli akan seseorang yang mungkin mendengarkan keluh kesahnya karena ia berada di atap gedung ABS saat ini. Yang ia yakin bahwa tak akan ada seorang pun yang akan mendengarnya.

Kini ia terduduk, sesenggukan. Ia menarik lututnya, mendekapnya erat dan menundukkan kepalanya.

Air mata itu terus mengalir—tak peduli betapa ia menyuruhnya untuk cepat berhenti.

Meski suara derap langkah mendekat, Jiyeon tak peduli. Ia masih tetap di sana.

“Kau akan kedinginan. Kajja kita kembali ke kantor.”

Tanpa mendongak pun Jiyeon tahu itu adalah suara Myungsoo. “Shireo.[2]” jawabnya pelan.

“Yaa. Ayolah, ini adalah awal musim dingin. Kau akan membeku di sini.”

“Kau tak mendengarku? Shireoyoo.”

Helaan nafas terdengar dari sosok yang sedang berjongkok di depan Jiyeon—Myungsoo.

“Sepertinya sekarang aku mengerti apa arti dari ucapanmu tadi tentang Pinocchio.”

“Kau tak akan mengerti.”

“Aku sudah mengerti.”

“Hmm.. Malhaebwa.[3]” balas Jiyeon yang masih belum mau mengangkat wajahnya. Kali ini, ia menyingkirkan sifat keraskepalanya dan memberikan Myungsoo kesempatan untuk menjelaskan.

 Myungsoo terdengar menarik nafasnya panjang lalu menjelaskannya pada Jiyeon. “Karena aku juga merasakan hal yang sama sepertimu.. Aku ingin mengidap sindrom Pinocchio.”

Diam.

Myungsoo tampak mengumpulkan serpihan keberaniannya untuk mengatakan kalimat selanjutnya.

“Karena seandainya aku mengidap sindrom Pinocchio, seandainya tak bisa berbohong, seandainya aku tak bisa berhenti cegukan ketika aku mengungkapkan kebohongan, seandainya aku bisa dengan mudah mengatakan kebenaran yang telah lama kupendam, pasti akan kukatan kebenaran itu sejak dulu.”

Kini, Myungsoo meraih tangan Jiyeon yang terasa dingin dan mengusapnya pelan.

“Karena jika seandainya aku mengidap sindrom Pinocchio, aku pasti tidak akan berbohong jika potongan rambut barumu tidak cocok denganmu..”

Selain karena sentuhan lembut tangan Myungsoo, Jiyeon juga terhenyak mendengar kalimat itu.

Ia tak percaya akan apa yang telah ia dengar—membuatnya mendongak untuk memastikan bahwa seseorang di depannya benar-benar Myungsoo.

“Karena jika aku mengidap sindrom Pinocchio, aku pasti akan cegukan ketika mengatakan bahwa aku tak mungkin menyukai seorang yeoja sepertimu.”

Jiyeon dapat melihatnya—keseriusan dalam wajah Myungsoo. Dan ketulusan yang membuatnya merasa seakan semua yang telah terjadi adalah sebuah mimpi.

Mereka saling bertukar tatap—begitu damai dan syahdu.

Tangan Jiyeon masih berada di genggaman tangan Myungsoo, mengusapnya dengan lembut.

“Karena jika aku mengidap sindrom Pinocchio, maka aku pasti bisa menyatakan rasa sukaku begitu lancar seperti ketika Inha mengatakan rasa sukanya pada Dalpo.”

Jiyeon merasakan darahnya berdesir begitu hebat saat ini. Ia begitu speechless, tak bisa berkata apapun. Oksigen seakan menjadi sesuatu yang ia butuhkan segera. Sesak—begitu sesak. Sesak karena ia merasa begitu seakan di surga. Kali ini perasaan bahagia itu melebihi ketika Jaesuk sunbaenim mengatakan bahwa Myungsoo mungkin saja menyukainya karena apa yang ia dengarkan saat ini langsung dari mulut Myungsoo—bukan dari orang lain.

Joahae. Jeongmal joahae.”

Persis seperti scene yang ia baca beberapa hari yang lalu. Persis sekali dengan scene yang ia tulis tentang Choi Inha yang menyatakan rasa sukanya pada Choi Dalpo.

Dapat ditebak, kejadian selanjutnya pun juga sama persis dengan apa yang telah Jiyeon tuliskan pada script dramanya.

Jiyeon terkekeh pelan. Kekehan yang menyiratkan sebuah kelegaan. Kelegaan karena ternyata mereka memiliki perasaan yang sama satu sama lain.

Myungsoo saat ini memandang ke arah lain, tak berani menatap wajah Jiyeon yang berseri bahagia namun sebuah tangan dengan begitu lembut menyambut dagunya dan membuatnya harus berhadapan dengan wajah Jiyeon yang kini mendekat ke wajahnya.

Yeah, she kissed him.

They kissed—witnessed by the moon and the night wind.

——————————————————————————–

[1] kau mengagetkanku

[2] tak mau

[3] katakan padaku

Heyhey, author kembali dengan sebuah ff pendek lagi. hehe *cuman mungkin ini lebih panjang sedikit dari biasanya. Maap yaa kalo kurang memuaskan ><

Dan lagi-lagi absurd ya? hihi The truth is aku nulis ini sambil ketawa-ketawa sendiri, senyum-senyum sendiri. Apalagi ketika bikin nama channel tv nya ‘ABS’. Author langsung mbayangin absnya Jimin masak. *ditabok army* *lupakan keyadongan author* Dan ketika Jiyeon berpikiran untuk membunuh Myungsoo. *psycho banget authornya*

Kali ini tersinspirasi dari drama Pinocchio! Yeeaaay *efek liburan kerjaannya marathon drama*

Makasiih banget buat olivemoon udah bikinin poster dalam waktu yang singkat banget :”’ *trus mewek* ure da best sist!❤ (ketularan olivemoon suka pake lope hehe)

Feedback yaaa!

Teori Gaya Newton III (kalo ga salah). Aksi=Reaksi. Author memberi aksi, readers memberi reaksi. Hassek

Kalo enggak gampangannya kayak orang kisseu, ada aksi reaksi. *yadong lagi* *maapkeun*

Iklan dikit yaa. Novel Bad Boy Meets Good Girl sudah ada di bookstore. ^^)/ Kamsahamnida~

66 responses to “[ONESHOT] PINOCCHIO

  1. Huuaaaaa ,, suka lohhhh authorrr ,, ihhhhh , pengen dehhh punya syndrom Pinocchio , biar gak punya dosa O.o , yeeekan , hhhhahah , sukaaaa dehhhhh ,,, ditungguu romance yg lainnnyaaaaa ,,, jjjjjjjaAaaannnggggg authorrrrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s