[TWO SHOOT] A SECRET FACE #END

aaaaaaaaaaaaa

Tittle : a Secret Face

Author : @ohohmr

Genre : Romance, a little bit Comedy

Length : Two Shoot (2.300+)

PG-15

Don’t be a plagiarism. Cast adalah milik Tuhan YME, dan cerita ini juga kepunyaan Tuhan. So, don’t copas (copy-paste). DON’T BE A SILENT READER. Please comment or like this ff. Thanks.

Cast :

  •  Kim Myungsoo INFINITE as Myungsoo
  •  Shin Dong SUPER JUNIOR as Shin Dong
  •  Kim Soeun (ACTRESS) as Soeun
  •  Bae Suzy MISS A as Suzy

Summary : Siapa namja itu? Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi ia memperkenalkan diri sebagai ‘pabo’. Lucu sekali.

.

.

.

.

.

Di luar sana, ternyata Suzy mendengar semua percakapan Shin Dong dan Myungsoo. Betapa sakit hatinya ketika mendengar bahwa Soeun, sahabatnya sendiri, tinggal dengan orang yang di sukainya. Hancur sudah.. kenapa harus Soeun?!

.

.

.

.

.

Suzy berjalan menjauh dari kelas Myungsoo, ia tak ingin mendengar lebih banyak lagi karena akibatnya akan fatal kepadanya. Hatinya akan semakin remuk. Dan secara tidak sadar, ia jadi membenci Soeun. Padahal sahabatnya itu sama sekali tidak bersalah. Tapi kenapa ia harus terlibat di permasalahan cintanya dan membuat semua menjadi rumit begini..?

.

.

.

.

.

Suzy melamun saja selama jam istirahat, ia tidak ke kantin, malas mengantri serta pikirannya sedang jenuh.

“Suzy-ah, ayo kita ke kantin..” ajak Soeun, suaranya di buat semanis mungkin agar Suzy menerima ajakannya.

Tapi itu sedang tidak mempan untuk saat ini, “Aku tidak mau.” tolak Suzy.

Jika di lihat secara rinci, Soeun memang gadis ideal bagi semua namja. Memiliki tubuh yang tinggi untuk seorang gadis mungil, badan yang langsing, kulit yang putih serta paras yang cantik. Sangat sempurna, so perfect!

Sedangkan Suzy..? Sudahlah, tidak usah di bahas. Suzy muak mengomentari tubuhnya sendiri. Yang ada nanti ia malah jadi kesal.

Bibir Soeun mulai manyun, “Kumohon..” Soeun menyatukan kedua tangannya.

“Pokoknya tidak mau, aku malas.”

“Huh! Ya sudah kalau begitu. Biar aku pergi sendiri saja,” Soeun berjalan pergi. Tapi tiba-tiba ia berlari kembali ke tempat Suzy. “Kenapa kau tidak menghentikanku?” rengeknya. “Kau jahat sekali membiarkan aku sendirian pergi ke kantin. Huhuhu…”

Inilah yang membuat Suzy tak rela. Ia terlalu terenyuh dengan akting Soeun yang luar biasa dahsyat. “Baiklah, baiklah..”

“Jadi kau mau?” tanya Soeun kegirangan.

“Iya,”

“Yeeeyy!! Aku menang lagi. Gomawo, Suzy-ah..” Soeun memeluk sahabatnya itu.

“Lepaskan. Atau aku tidak jadi menemanimu.” ancam Suzy. Buru-buru Soeun melepas pelukannya lalu setelah Suzy berdiri, ia menggandeng tangan Suzy. Mereka berjalan beriringan.

Ternyata ia tak bisa membenci Soeun. Sesakit apa pun hatinya, ia tetap tak bisa melampiaskan rasa sakitnya itu kepada Soeun. Suzy bersyukur juga ia tak membenci Soeun, karena Soeun tidak salah. Yang salah adalah dirinya, kenapa bisa-bisanya ia menyukai Myungsoo..? Ia terlalu kebanyakan berpikir sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah menginjakkan kaki di kantin sekolah.

“Suzy-ah, duduk saja disana. Aku akan mengambilkan 2 mangkuk mie udon. 1 untukmu dan 1 lagi untukku. Oke?” mata gadis itu selalu berbinar ketika berbicara dengan Suzy. Aneh..

“Oke,” Suzy membentuk huruf O menggunakan jemarinya. Ia duduk. Terdiam. Kebiasaan buruknya terjadi lagi, ia melamun, kembali melanjutkan lamunannya di kelas tadi.

“Pesanan sudah dataaanggg,” Soeun datang dengan membawa dua mangkuk mie udon panas. Suzy bingung, ternyata gadis ini kuat juga. Ia dapat membawa kedua mangkuk mie itu, jika di hitung-hitung berat kedua mangkuk itu adalah 1 kilo gram. Di tambah lagi mangkuk itu panas sekali. Hmm.. gadis ajaib.

“Terima kasih,” Suzy menerima mangkuk yang di sodorkan Soeun tadi.

“Selamat makan!”

Suzy tersenyum kecil, ia sangat bangga kepada Soeun. Soeun seperti tidak memiliki masalah apa-apa. Tampangya selalu ceria tiap harinya. Ingin sekali Suzy memiliki Adik sepertinya.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Adik, dulu Suzy punya seorang Adik laki-laki. Umurnya saat itu 10 tahun sedangkan Adiknya baru akan menginjak umur 2 tahun. Adik laki-lakinya itu bernama Bae Suwoong. Ia sangat lucu. Wajahnya sangat mirip dengan Suzy, kelakuannya pun mirip. Suatu ketika Suzy dan Suwoong sedang bermain di taman rumahnya, mereka di awasi oleh orangtuanya, saat itu orangtua Suzy masih lengkap.

Suwoong sangat menyukai bola, suatu saat Suzy yang kelelahan duduk di rerumputan, sekedar beristirahat sebentar. Namun Suwoong masih terus berlari dan tertawa girang sambil memainkan bolanya. Suwoong yang melempar bolanya berusaha mengambil kembali bola itu yang terlampau jauh ke arah kolam, yang tepinya banyak terdapat batu-batu hias, ada yang besar dan ada yang kecil. Ia berusaha mengambil bolanya, namun karena tubuh kecilnya masih belum seimbang, ia terjatuh dan saat itu juga kepalanya terbentur batu besar di tepi kolam. Orangtua Suzy serta Suzy menyaksikan kejadian itu. Suzy sangat shock melihat darah yang keluar dari kepala Adiknya itu, saat itu Suwoong tidak menangis, melainkan tubuhnya kejang-kejang. Suzy menangis histeris seketika itu juga. Ia menutup kedua telinga dan juga matanya. Semua itu terjadi begitu cepat. Orangtua Suzy langsung membawa Suwoong ke rumah sakit. Namun terlambat. Adiknya sudah kehabisan banyak darah dan tak tertolong lagi. Sejak saat itu, Suzy menjadi  sangat takut ketika melihat darah orang yang mengucur deras atau pun darahnya sendiri. Ia memiliki trauma tersendiri terhadap darah.

“Ada apa?” tanya Soeun ketika di lihatnya Suzy hanya menatap mangkuk mie dengan sedih, seperti tidak berniat untuk memakannya. “Kau sedang tidak berselera?”

“Tidak apa-apa, hanya saja tadi aku teringat sesuatu.” Suzy tersenyum kikuk. Saat tersenyum itu, matanya jadi menyipit, disana terdapat butiran-butiran air mata yang muncul mengaliri pipinya tanpa ia dan Soeun duga.

Soeun menghentikan makannya, ia terfokus kepada air mata yang menggenang di wajah Suzy. “Kau kenapa, Suzy-ah?” Soeun terlihat sangat cemas, ia mengusap air mata Suzy menggunakan tisu yang sempat ia ambil dari kantong bajunya. “Menangislah sepuasmu, tidak apa-apa..” Soeun kini beralih mengusap punggung Suzy, berusaha menenangkan.

Suzy terdiam, namun air mata itu tetap saja membanjiri wajahnya.

“Ceritakanlah padaku apa yang terjadi. Ya..?” Soeun merangkul pundak Suzy, ia ikut sedih melihat sahabatnya itu menangis.

Suzy segera menghapus air matanya, mengingat saat ini ia sedang berada di tempat umum, dimana semua orang akan melihatnya dan membuat asumsi yang di luar kebenaran. “Kau mengingatkanku kepada Adikku, Suwoong.”

“Ma.. maafkan aku,”

“Tidak, tidak.. kau sama sekali tidak salah.”

“Tapi aku sudah mengingatkanmu kepada Adikmu.”

“Sudahlah, itu bukan salahmu, Soeun-ah..” Suzy menatap Soeun yang sangat di liputi rasa bersalah itu.

“Baiklah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Bagaimana kejadiannya? Ceritakanlah padaku.”

“Kau tahu ‘kan, aku sangat benci darah?”

“Tentu aku tahu,” Soeun mengangguk.

“Semua itu bermula sejak aku berumur 10 tahun..” Suzy menceritakan kejadian yang sangat membekas di ingatannya itu. Soeun yang mendengar cerita itu terlihat sedih, ia terus mengusap matanya menggunakan tisu, mencegah air matanya untuk mengalir.

Hari itu juga, Suzy sudah menganggap Soeun sebagai Adiknya, pengganti Suwoong. Ia menyesal sempat membenci Soeun hanya karena seorang namja.

.

.

.

.

.

Bel pulang berbunyi, Suzy sudah membereskan buku serta perlengkapan menulisnya. Ia sudah siap untuk pulang. Ketua kelas menyuruh seluruh murid untuk memberikan salam dan kelas pun benar-benar selesai.

Suzy berjalan mengikuti Soeun yang menggandeng tangannya, ia menurut saja. Entah di bawa kemana ia sekarang, Suzy tidak tahu-menahu.

Di gerbang sekolah, Manajer Kim sudah menunggu, ia sudah melihat wajah Suzy dari kejauhan. Manajer Kim segera mendatangi Suzy yang sedang bersama Soeun.

“Mari kita pulang, Nona Muda.” ajak Manajer Kim.

“Tunggu,” Soeun menahan kepergian Suzy.

Suzy mengernyitkan dahi sejenak, “Ada apa?”

“Main ke rumahku dulu. Kau ‘kan belum pernah kesana.”

Mendengar Soeun mengajaknya ke rumahnya, ia kembali teringat dengan percakapan sialan itu. Percakapan yang membuat hatinya sakit bukan main. Sial!

Suzy ragu, namun ia tak mau menolak, karena Soeun sudah dianggap sebagai Adiknya, “Baiklah.”

“Yeeeyyy!!” seru Soeun kegirangan.

“Manajer Kim, antar kami ke rumahnya. Nanti dia akan memberitahukan jalannya. Bilang kepada Eomma, kali ini aku benar-benar sedang berada di rumah Soeun.”

“Baik, Nona Muda, saya akan menyampaikannya. Mari kita berangkat,” Manajer Kim membukakan pintu agar Soeun dan Suzy dapat masuk dengan mudah. Kemudian ia menutup pintu itu dan masuk ke dalam kemudi mobil. Mobil itu melaju pelan.

.

.

.

.

.

Di dalam mobil, Suzy terlihat cemas. Ia mereka-reka hal yang akan terjadi di rumah Soeun. Yang selalu ada di benaknya adalah, apa benar Myungsoo serumah dengan Soeun? Tapi kenapa mereka bisa serumah? Seluruh pertanyaan yang ada di benaknya belum ada satu pun yang terjawab. Ia gusar sendiri. Tiba-tiba Soeun mencolek pundak Suzy, “Kenapa mukamu seperti itu? Kau tidak suka ku ajak ke rumahku?”

Suzy segera menggeleng dengan cepat, “Bukan begitu. Aku sangat senang pergi ke rumahmu. Ngomong-ngomong ini kali pertama aku bermain kesana,” senyuman Suzy membuat Soeun kembali ceria.

“Benar, ini adalah yang pertama. Nanti aku juga main-main ke rumahmu, ya? Boleh ‘kan?”

“Tentu saja boleh, gerbangku selalu terbuka untukmu.”

“Hehehe.. jangan terlalu berlebihan begitu, itu bukan sifat Bae Suzy,” koreksi Soeun.

“Ya sudah kalau tidak mau. Huh! Seharusnya aku tidak memperbolehkanmu ke rumahku tadi,” Suzy berpura-pura marah.

Soeun kemudian membujuk Suzy, ia mengerjapkan matanya centil, bibirnya ia manyunkan. Lucu sekali gadis ini. “Iya, iya..” Suzy lebih baik mengalah dari pada terus-menerus di teror dengan wajah Soeun yang lebih mirip badut itu.

“Kita sudah sampai,” Soeun meyuruh agar Manajer Kim berhenti di depan rumah bercat emas. “Ini dia rumahku, tadaaa..” ia mengayunkan tangannya ke arah rumah emas itu. Yah sebut saja emas, rumah itu tidak benar-benar terbuat dari emas melainkan hanya catnya saja yang berwarna emas.

Mereka sudah keluar dari mobil, Suzy menyuruh agar Manajer Kim pulang. Suzy akan menelponnya jika sudah selesai dengan urusannya di rumah Soeun. Bukan urusan yang penting, melainkan hanya kegiatan remaja biasa yaitu bermain.

Suzy berjalan memasuki teras rumah Soeun.

Motor ninja!

Motor itu sangat Suzy kenal, firasatnya buruk. Motor itu terparkir di sebelah sebuah mobil. Ia tahu benar dengan motor tersebut.

Oh, tidak.. ujar Suzy dalam hati.

Ingin sekali ia menghilang dari tempat ini sekarang juga, tapi itu mustahil. Andai saja ia memiliki akses teleportation.

“Kenapa melamun?” Soeun menarik tangan Suzy, ia membimbing Suzy memasuki rumahnya.

Belum juga ia duduk di kursi tamu tiba-tiba sosok yang di terkanya akan muncul ternyata benar-benar tinggal di rumah ini.

Petir seperti menyambarnya. Seketika itu juga ia langsung menunduk, ia tidak ingin Myungsoo mengetahui keberadaannya. Myungsoo keluar dari toilet, mungkin baru saja mandi melihat ia memakai handuk di bagian terlarangnya dan dadanya terbuka begitu saja, memperlihatkan tubuh yang atletis.

Sangat menggoda mata yang melihat, namun saat ini Suzy malah merasakan sakit. Dadanya sesak, ia jadi sulit bernapas jika melihat Myungsoo, hal itu malah akan mengingatkannya kepada percakapan sialan itu. Sial, sial, sial!

“Soeun-ah, ada yang sedang bertamu?” tiba-tiba Myungsoo yang sudah naik ke lantai atas berteriak dari dalam kamarnya.

“Jangan berisik kau! Diam saja di kamar dan jangan sekali-kali kau turun!” ancam Soeun.

Suzy merasakan ada yang hancur secara perlahan di dalam dirinya. Melihat kedua orang itu saling menyahut, mereka benar-benar seperti sepasang kekasih.

“Kau ingin melihat-lihat kamarku?”

Suzy memaksakan senyumnya, “Boleh..”

“Soeun-ah! Dimana bajuku?!” suara Myungsoo terdengar kembali.

Lutut Suzy lemas mendengar suara itu. Baju? Hmm.. ternyata hubungan mereka sudah sangat dalam, lirih Suzy dalam hati.

“Kau buta atau bagaimana, hah? Liat saja sendiri, jangan tanya-tanya lagi. Kuhajar kau!” seru Soeun menggebu-gebu. Tidak biasanya Soeun bersikap seperti ini. Ini kali pertamanya Suzy melihat perubahan sikap secara drastis dalam diri Soeun.

Mereka naik ke lantai atas, melewati kamar yang bertuliskan ‘Myung si pabo’ lalu berhenti di kamar berpintu pink yang bertuliskan ‘Welcome to Barbie Home’. Sudah Suzy duga bahwa Soeun terobsesi dengan Barbie. Suzy menghela napas perlahan.

Tiba-tiba pintu kamar sebelah terbuka, “Soeun-ah, aku ”

Myungsoo kaget melihat Suzy yang berada di depan matanya. Ia tak percaya dengan penglihatannya. Ia sempat mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mungkin dia sedang memastikan apakah yang di lihatnya itu benar-benar Suzy asli atau KW hanya khayalannya saja. Karena sudah seminggu ini Myungsoo selalu memikirkan Suzy. Dan saat ini Suzy secara tiba-tiba ada di hadapannya. Sungguh suatu keajaiban.

“Su.. Suzy-ah?” ujar Myungsoo terbata-bata nada suaranya di mata Suzy seperti seseorang yang sedang tertangkap basah melakukan suatu kesalahan besar. Ia masih bertelanjang dada namun sudah bercelana.

Soeun menggaet tangan Myungsoo lalu mereka masuk ke dalam kamar Myungsoo. Entahlah, yang terdengar hanyalah bunyi hentakan kaki yang lalu di susul dengan gebrakan lemari. Apa mereka bertengkar? Oh, tidak..

Suzy membuka kenop pintu, ia menelan ludah yang sedari tadi sulit di telannya. “Hentikan kalian berduan!”

Kedua orang itu langsung kaku, saat Suzy masuk mereka belum sempat berpura-pura untuk merasa tidak terjadi apa-apa. Mereka terdiam.

“Apa-apaan kalian berdua ini?!” seru Suzy kesal. Ia sudah tak tahan lagi.

“Suzy-ah..” Soeun menghampiri dan berusaha untuk menggiring Suzy agar menjauh dari pandangan Myungsoo.

Suzy mengebaskan tangan Soeun. Ia menatap kedua orang itu dengan gusar. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian berdua!!!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kau tahu aku mengikuti Soeun, lantas kenapa kau juga mengikutinya? Apa kau menyimpan perasaan suka terhadapnya?” Myungsoo menatap Shin Dong curiga.

“Hei, jangan mengalihkan pembicaraan seperti itu. Cepat katakan apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Soeun?!”

“Sebenarnya kami tinggal satu rumah,”

“Apa?!!!” Shin Dong berkata dengan histeris, matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Kau sudah salah paham. Aku adalah Kakak Soeun. Maaf tidak memberitahumu sejak awal. Jika aku memberitahumu sejak dulu, mungkin masalah sekecil ini tidak akan jadi serumit dan serunyam sekarang,” Myungsoo memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah.

Shin Dong menepuk pundak Myungsoo, “Maafkan aku juga. Aku kira kau menyukai Soeun, ternyata.. bukan seperti itu kebenarannya. Maaf, Sobat!” kata Shin Dong bersungguh-sungguh.

“Sudahlah, tidak apa-apa.”

.

.

.

.

.

“Jadi setelah kau tahu kebenarannya, kau mau menjadi yeojaku?” tanya Myungsoo, ia berharap cintanya itu terbalaskan.

“Tentu, hehe..” Suzy dengan cepat menerima pernyataan cinta Myungsoo.

Myungsoo mengecup kening Suzy lembut, hangat sekali.

Malam ini sangat dingin, namun kehangatan yang di berikan Myungsoo tak membuat Suzy menggigil kedinginan.

“Lihat, disana ada bintang..” tunjuk Myungsoo ke arah Timur.

CUP!

Myungsoo mengecup bibir merona milik Suzy, lagi-lagi Myungsoo mengerjainya.

“MYUNGSOO-YA!!!” seru Suzy, ia kesal namun rasa senang terlalu mendominasi sehingga dengan cepat rasa kesal itu menghilang berganti dengan keceriaan. Ia mengejar Myungsoo yang berlari mengitari atap rumah Suzy yang megah.

Ternyata ada seseorang yang sedang terkikik melihat tingkah Suzy dan Myungsoo, yaitu Soeun. Ia senang melihat mereka berdua dan lebih senang lagi karena mendapatkan gambar terbaik sepanjang masa, ia tadi sempat memotret adegan ciuman Suzy dan Myungsoo.

“Oh, so sweet sekali..” Soeun tak dapat menahan kesenangannya. “Aku akan mencuci foto ini dan menghadiahkannya kepada Suzy saat ia ulang tahun nanti. Hehe…” tawa Soeun.

.

.

.

.

.

Sebuah kesalahpahaman itu telah membawa mereka ke kehidupannya yang sesungguhnya. Namja bermasker itu adalah Kim Myungsoo, yang pada akhirnya menjadi namja-chingunya. Di harapkan kalian bisa seberuntung mereka. Sekian kisah percintaan dari Myungsoo dan Suzy. Terima kasih sudah mau membacanya.

THE END
The end, what do you think. please comment. Thanks.

Salam, author ohohmr..

5 responses to “[TWO SHOOT] A SECRET FACE #END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s