[Chapter – Part 2] Knock to My Heart (Sequel of Really Sorry)

knock to my heart

Prev: 1 |

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their family.

Bukan hasil flagiasi karena authornya aku sendiri. Sorry for typos 😀

Happy Reading

“I will do everyrhing for you although it’s too difficult for me…”

Suasana kelas kembali normal setelah kedua siswa baru datang dan mengenalkan diri.

Cekleeek!

Pintu terbuka. Kali ini bukan pintu depan yang terbuka, melainkan pintu belakang. Pintu itu dibuka oleh seorang siswa berambut blonde dengan wajah Innocent-nya.

“Oh Sehun! Dari mana saja kau?” tanya seonsaengnim dengan tegas.

“Dari ruang guru, saem,” jawab Sehun yang kini tengah menempati bangkunya. Bangku Sehun tepat di belakang Jiyeon. Sedangkan di samping kiri Jiyeon ada Myungsoo yang pura-pura tidak mendengar siapa yang baru saja bicara.

Dani menoleh ke belakang, diikuti Jiyeon. jiyeon dapat melihat namja bernama Oh Sehun itu sekilas.

“Sudahlah, dia memang begitu,” kata Dani dengan setengah berbisik agar tak didengar oleh guru mereka. “Kim Dani.” Dani mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Jiyeon.

Jiyeon menyambut uluran tangan Dani. “Park Jiyeon imnida.”

“Aku salut dan kagum padamu. Sebenarnya aku juga siswa akselerasi. Mungkin tidak sepandai dirimu.”

Jiyeon tersipu malu. “Jangan begitu. Kau juga hebat. Oh ya, namamu Kim Dani. Di kelasku saat di SMA Jaeguk aku punya teman namanya juga Kim Dani, wajahnya juga mirip sekali denganmu.”

Dani tersenyum geli.

“Waeyo? Apa kau Dani temanku di Jaeguk itu? Kau juga pindah ke sini?” tanya Jiyeon. ia memberondongi Dani dengan beberapa pertanyaan.

“Anhi. Sebenarnya akulah Kim Dani. Yang ada di SMA Jaeguk bukan Kim Dani, melainkan Kim Hani. Dia saudari kembarku. Kami kembar identik sehingga sulit sekali membedakan mana yang Dani dan mana yang Hani.”

Jiyeon manggut-manggut. “Benar juga. Aku sempat kaget saat melihatmu. Aku pikir kau adalah Kim Hani. Keunde, kenapa bisa tertukar begitu?”

“Waktu pendaftaran dulu, kami bertukar formulir. Hani ingin sekolah di SMA Jaeguk tetapi nilainya tidak cukup. Makanya dia menggunakan ijazahku dan aku menggunakan ijazahnya untuk mendaftar di SMA ini.”

“Oh begitu. Kembar identik memang sulit dibedakan.” Jiyeon melirik ke arah belakang dimana Sehun sedang membaca buku pelajarannya. “Namja itu kelihatan dingin sekali.”

Dani mengikuti arah lirikan Jiyeon. “Dia Oh Sehun, siswa akselerasi juga. Meskipun penampilannya seperti anak nakal dan ekspresi wajah yang selalu innocent, Sehun mampu menjadi juara di kelas ini.”

“Omo! Daebak! Dia juara kelas?” Jiyeon membelalakkan kedua bola matanya.

Dani mengangguk mantab. “Dia sering mengikuti olimpiade sains. Bahkan dia juga pernah ikut olimpiade di Yunani tahun lalu dan berhasil menyabet medali emas.”

“Daebak! Jinjja daebak! Aku tidak menyangka namja seperti itu sangat berprestasi.” Jiyeon tidka lagi melirik ke arah Sehun karena takut kalau namja itu akan mengetahuinya dan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.

“Gurae, untuk meningkatkan pemahaman kalian tentang materi ini, aku akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Yang pertama, dua siswa baru akan satu kelompok dengan Oh Sehun.”

“Waaaah kenapa mereka dijadikan satu, saem?” protes beberapa siswa yang tidak terima jika dua namja keren dijadikan satu apalagi dengan Jiyeon. Mereka juga iri karena di dalam kelompok itu ada dua siswa akselerasi.

“Wae? Kalian tidak terima?”

Myungsoo baru saja sadar kalau dirinya satu kelompok dengan Jiyeon. “Apa-apaan ini?” gumamnya lirih.

“Cepat pindahkan bangku kalian sekarang!” perintah seonsaengnim.

Dengan berat hati, Myungsoo memindahkan bangkunya ke sebelah Sehun. Sedangkan Jiyeon hanya tinggal memutar arah bangkunya karena Sehun ada di belakangnya.

Saat semua siswa sudah berkumpul bersama kelompok masing-masing, seonsaengnim membagikan materi dan tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa.

Myungsoo dna Sehun duduk bersebelahan, sedangkan Jiyeon duduk di hadapan mereka. Jiyeon mengamati Sehun yang tampak cuek dengan kehadirannya dan Myungsoo.

“Kau, Oh Sehun, kan?” tanya Jiyeon. Yang ditanya Jiyeon adalah Sehun tetapi yang menoleh ke arahnya malah Myungsoo.

“Eoh,” jawab Sehun dengan nada dingin.

Myungsoo menutupi wajahnya dengan buku catatannya setelah mendengar suara Sehun yang sedingin es.

“Oh, gurae, mari kita kerjakan soalnya bersama-sama.” Jiyeon menatap Myungsoo. Dia tidak berani menatap namja itu dalam waktu lebih dari dua detik.

Myungsoo menyadari sikap Jiyeon tadi. Dia langsung menjawab,”Kajja. Aku tidak mau kalah dengan kalian berdua. Setidaknya kalau kalah, selisih nilainya tidak jauh.” Myungsoo membuka buku catatan yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian dia mulai menulis sesuatu di atas kertas kosong itu.

Bel tanda istirahat berbunyi. Pelajaran berakhir. Semua siswa berhambur keluar kelas dengan membentuk kelompok-kelompok geng. Karena Jiyeon masih siswa baru, dia belum memiliki banyak teman. Hanya Dani yang saat ini dikenalnya. Tetapi Dani sekarang malah sudah sampai di kantin tanpa mempedulikan Jiyeon.

Bel masuk tinggal 10 menit lagi. Jiyeon masih terduduk di dalam kelas. Aneh, saat ini dia sama sekali tidak merasa lapar. Semua siswa masih berada diluar kelas. Hanya tinggal beberapa orang di dalam kelas dengan kesibukan mereka masing-masing., termasuk Jiyeon, Myungsoo, dan Sehun.

“Jiyeon-a, kau tidak pergi ke kantin?” tanya Dani yang tiba-tiba sudah duduk di bangkunya. Rupanya tadi dia lewat pintu belakang makanya Jiyeon tidak melihatnya masuk ke dalam kelas.

“Anhi. Aku belum lapar.” Jiyeon mengeluarkan buku catatannya. Dia ingin meringkas materi pelajaran.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Dani yang maish mengunyah snack-nya.

Jiyeon menoleh ke arah Dani dengan senyum terkembang. “Aku ingin meringkas materi pelajaran agar lebih mudah dipelajari.”

“Wow daebak!”

Saat Jiyeon baru saja membuka buku catatannya, tiba-tiba di tengah-tengah lembaran buku itu ada sebuah kertas berwarna dengan gambar cute berwarna pink. Jiyeon mengambilnya.

Deg! Dia merasa jantungnya berdetak hebat saat melihat lembaran kertas itu. ya, kertas itu adalah surat yang akan dia berikan pada Myungsoo sebelum kejadian di bawah guyuran itu terjadi. Karena takut kalau Myungsoo akan melihatnya, Jiyeon segera meremas kertas itu lalu membuangnya ke dalam laci mejanya.

 “Tes tes…”

Terdengar suara dari pengeras suara di sudut kelas.

Pengumuman dan kabar gembira untuk kalian semua. Di akhir semester ini, sekolah memberikan banyak beasiswa untuk kalian yang kurang mampu dari segi ekonomi. Syarat untuk mendaftar beasiswa tersebut dapat dilihat di papan pengumuman yang ada di sekolah. Ingat! Hanya siswa yang kurang mampu dan berprestasi bagus yang bisa mendapatkan beasiswa tersebut.

Sekian, gamsahapnida.

Beberapa siswa berlonjak-lonjak kegirangan. Sedangkan siswa yang berasal dari keluarga mampu hanya menatap mereka, menyaksikan kegirangan para siswa yang berharap bisa mendapatkan beasiswa.

Dani menggelengkan kepalanya melihat teman-temannya histeris, berlonjak-lonjak dan berteriak-teriak kegirangan.

“Apa mereka belum pernah mendapat beasiswa?” gumam Dani.

“Mereka pernah mendapatkan beasiswa sebelumnya?” tanya Jiyeon pada Dani dengan masih melihat beberapa siswa yang mengekspresikan kebahagiaan mereka.

“Eoh. Saat itu nilai mereka cukup bagus, jadi mereka bisa mendapatkan beasiswa.”

“Begitukah? Apa setiap semester bisa mendapatkan beasiswa jika berasal dari keluarga kurang mampu dan berprestasi?”

Dani menatap Jiyeon lekat-lekat.

“Wae?” tanya Jiyeon bingung.

“Kau ingin mendaftar beasiswa itu?” tanya Dani balik.

Jiyeon mengiyakan. Dia ingin sekali bisa mendapat beasiswa. Mungkin saja jika dia mendapat beasiswa, dia tidak perlu lagi mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai sekolahnya. “Ne, aku ingin mendaftar. Apakah caranya sulit?”

“Anhi. Aku akan membantumu mendaftar. Besok kita ke ruang guru untuk mendaftarkanmu.”

“Waah, gomawo, Dani-a…” Jiyeon memeluk Dani. Dia senang sekali karena Dani mau berteman dengannya di hari pertama dia sekolah di SMA itu.

Tanpa Jiyeon sadari, Myungsoo memperhatikan tingkahnya. Namja itu tersenyum kecil saat melihat Jiyeon memeluk Dani. Sebenarnya Myungsoo penasaran dengan sosok Dani karena dia pernah melihat Dani versi SMA Jaeguk.

Seonsaengnim memasuki kelas. Semua siswa terlonjak kaget karena mereka tidak mendengar bel masuk berbunyi.

“Apa kalian ingin aku hukum, eoh?” Park Seonsaengnim seakan-akan ingin mengeluarkan taringnya dan melahap semua siswa.

Para siswa yang bersorak tadi langsung duduk di bangku mereka masing-masing. Park Saem bingung, kenapa mereka menjadi sebegitu senangnya.

“Kalian ini kenapa? Kelihatan bahagia sekali. Apa kalian bahagia bertemu denganku?” tanya guru yang bernama lengkap Park Yoochun itu.

“Mwo?” seru para siswa serempak sedangkan yang lain hanya menahan tawa.

Saem, kenapa Anda memiliki rasa percaya diri yang overload?” tanya Dani.

“Yaak, Kim Dani, kenapa kau ikut-ikutan, eoh?”

Dani hanya tersenyum memamerkan deretan giginya dan Jiyeon juga ikut tersenyum.

Di SMA Jaeguk, suasana kelas sangat berbeda dengan SMA NAM. Di sana para siswa belajar dengan sangat serius hingga jarang ada humor yang setidaknya hanya untuk selingan dan hiburan agar siswa tidak merasa bosan belajar terus menerus. Maklum, sekolah itu adalah sekolah elit. Sekolah tempat para chaebol memamerkan kekayaan dan kehebatannya masing-masing melalui putra dan putri mereka. Sekolah itu memang menyediakan beasiswa bagi yang kurang mampu, namun ternyata beasiswa itu merupakan proyek yang menjadi rebuatan para chaebol untuk mempromosikan jenis usaha mereka.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Jiyeon pindah sekolah. Rupanya yeoja itu ingin keluar dari pergaulan kaum elit yang menurutnya sangat tidak cocok dengannya. Jiyeon memang mendapat beasiswa di sekolah itu. Namun untuk semester ini dia tidak bisa mendapatkan beasiswa karena ada siswa lain yang nilainya lebih tinggi. Akibatnya, orangtua Jiyeon bekerja keras mati-matian untuk membiayai sekolah Jiyeon yang super mahal.

Karena tidka ingin membebani orangtuanya begitu parah, Jiyeon memutuskan pindah sekolah. Alasan lainnya adalah dia ingin jauh dari Myungsoo. Maka dari itu, tekadnya semakin kuat saat dirinya mengingat nama Myungsoo.

Ahreum duduk termenung di atas bangkunya. Baru satu hari dia belajar tanpa ada Jiyeon yang menemaninya. Rasanya sepi sekali. Bangku bekas Jiyeon masih kosong, belum ada yang menempati. Ahreum melirik bangku itu. Ia teringat senyum Jiyeon dan canda tawa mereka.

“Ahreum-a!” panggil seorang namja.

Ahreum tetap dalam posisinya, duduk termenung dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Kedua tangannya menjadi alas kepalanya.

Namja itu datang mendekat. “Kau tidak keluar?”

Ahreum tetap tidak menjawab. Pandnagannya menerawang ke arah pintu masuk kelasnya.

“Yaak, ada apa denganmu? Kau sakit?” tanya namja itu yang ternyata adalah Eden.

“Apa kabar tentang perjodohan Myungsoo dengan yeoja bernama Suzy itu benar, oppa?” tanya Ahreum yang tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Eden cukup kaget dengan perubahan sikap Ahreum tadi. “Kau tadi melamun tentang itu?” tanya Eden heran.

“Anhi. Jawab pertanyaanku. Apa kabar itu benar? Bagaimana bisa?”

“Eoh. Benar. Myungsoo kalah dalam balap motor malam itu. Jadi, sebagai ganjarannya dia harus mau dijodohkan dengan Suzy, siswi dari SMA NAM.”

“Yaak! Kenapa kalian jahat sekali?” teriak Ahreum.

Eden semakin kaget melihat Ahreum tiba-tiba marah padanya. “Memangnya kenapa? Toh, si Myungsoo belum punya yeojachingu. Jadi tidak masalah kan?”

Ahreum mengepalkan telapak tangannya. Dia geregetan pada namja yang duduk di depannya. Wajahnya merah padam karena menahan emosi. Dia tidak terima jika Myungsoo bersama yeoja selain Jiyeon. “Bisakah kau menjodohkannya dengan Park JIyeon?” tanya Ahreum lirih.

“Park Jiyeon? kenapa kau memintaku melakukan itu?”

“Jawab saja. Bisa atau tidak?”

“Jadi kau menyamakan Suzy dengan Jiyeon? Tentu saja mereka berbeda. Suzy adalah anak dari donator yayasan sekolah ini. Kau tahu? Jadi kau tidak bisa menyamakannya dengan Jiyeon. Dia hanya anak orang biasa. Bukankah dia sekolah di sini hanya karena beasiswa? Setelah dia tidak bisa mendapatkan beasiswa di semester ini, dia pindah ke sekolah yang lebih murah. Begitu kan?”

Plakk!!

Ahreum melancarkan sebuah tamparan pada Eden. Pipi kanan namja itu memerah karena tamparan Ahreum.

“Sekali lagi kau hina Jiyeon seperti itu, aku juga akan pindah menyusul Jiyeon.”

“Kau juga ingin pindah? Andwae. Kau yeojachinguku. Kau tidak boleh kemana-mana.”

“Aku rela meninggalkan namjachingu kurang ajar sepertimu hanya demi seorang Park Jiyeon yang berhati emas. Kau belum mengenal Jiyeon. Jadi, jangan katakan apapun tentangnya apalagi menjelek-jelekkannya.” Ahreum berdiri lalu mengambil tasnya. Sejurus kemudian dia melenggang pergi.

“Ahreum-a!” panggil Eden dengan suara lantang.

Ahreum dapat mendengar suara Eden dengan sangat jelas tetapi dia tidak mempedulikan namjanya itu.

 Pulang sekolah, Jiyeon pulang berjalan kaki bersama Dani. Dani ingin membantu Jiyeon mencari pekerjaan paruh waktu. Saat berjalan bersama, Dani kerap kali melontarkam pertanyaan pada Jiyeon. Pertanyaan tentang diri Jiyeon, keluarganya, teman-temannya, dan lain sebagainya. Dani memang anak orang kaya tetapi ia tidak seperti kebanyakan orang kaya lainnya yang sombong, angkuh bahkan tidak mau berteman dengan orang-orang yang setingkat dengannya.
“Dani-a, kenapa kau mau pulang denganku? Kenapa kau juga mau membantuku?” tanya Jiyeon.
“Dari dulu aku sangat ingin bisa pulang sekolah seperti ini. Setiap pulang sekolah, aku selalu dijemput ahjussi. Berangkat sekolah juga diantarkan oleh Ahjussi. Kalau berangkat aku senang jika diantar. Pasti tidak telat. Tetapi kalau pulang sekolah, aku sangat ingin pulang sendiri bersama teman-teman.”
“Aku mengerti perasaanmu, Dani-a. Keurom, mulai sekarang ayo kita pulang bersama-sama.”
“Jinjja?”
Jiyeon mengangguk.
Dani senang sekali. Dia memeluk Jiyeon dari samping. Jiyeon juga merasa senang.
“Kim Dani!” Dani menoleh karena seseorang memanggilnya dengan suara lantang.
Seorang yeoja berambut panjang yang tingginya sama dengan Jiyeon sedang berjalan cepat ke arah mereka berdua.
“Yaak, Kim Dani, siapa dia?” tanya Suzy ketus.
“Kecilkan suaramu maka aku akan menjawabnya,” kata Dani yang tak kalah ketusnya dengan Suzy.
Suzy mendelik kesal karena ucapan Dani.
“Nugu?” tanya Suzy angkuh dengan mengamati Jiyeon dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Jiyeon yang sederhana dapat ditebak kalau Jiyeon berasal dari keluarga pas-pasan.
“Dia teman baruku. Namanya Park Jiyeon,” jawab Dani.
Suzy tersenyum dingin.
“Park Jiyeon imnida.” Jiyeon mengulurkan tangannya pada Suzy dan mengajaknya berkenalan namun Suzy malah membuang muka. Dia berpura-pura kencari ponselnya di dalam tas branded itu.
Jiyeon menarik tangannya kembali. Dani melihatnya. Dia geram pada Suzy yang angkuh.
“Ada apa kau menghampiriku?” tanya Dani.
Dia tidak ingin Suzy berlama-lama di tempat itu karena sikapnya yang angkuh dan sombong. Mentang-mentang dia berasal dari keluarga kaya, appanya adalah salah satu donatur yayasan SMA NAM yang menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi.
“Dani-a, hari ini aku mengundangmu ke pesta ulang tahunku nanti malam. Mian aku hanya memberitahumu seperti ini. Undangan yang aku cetak telah habis direbutkan oleh anak-anak di sekolah tadi.”
“Mwo? Kau ulang tahun?”
“Tentu saja. Aku punya tamu spesial yang akan datang di acara ulang tahunku nanti. Dia akan menyanyikan lagu yang indah untukku.”
Dani dan Jiyeon saling berpandangan.
“Oh ya, untuk siapa tadi … mmm, Park Jiyeon, kau juga bisa datang.”
“Nan?” tanya Jiyeon tidak percaya.
Suzy mengangguk mantab. “Ya sudah, aku pulang dulu. Annyeong…” Suzy melenggang pergi dengan gaya berjalan sok seperti model catwalk.

Sepeninggal Suzy, Dani mendesah kasar. Sepertinya dia memang sengaja melakukan hal itu.
“Yeoja itu selalu memamerkan kekayaan dan kecantikannya. Menurutku, dia tidak cantik. Kau tahu? Suzy adalah sahabat Oh Sehun. Sulit dipercaya namja setenang dan setampan Sehun bisa bersahabat dengan yeoja seperti Bae Suzy.”

Deg!
Jiyeon merasa dadanya mendadak sesak saat Dani menyebut nama lengkap Suzy.
“Bae Suzy?” tanya Jiyeon.
“Eoh. Wae?”
“Ah, anhi.”
“Oh ya, apa kau mau mampir ke kedai susu milik Jung Eunji? Maksudku bukan miliknya, tetapi milik nenek Eunji. Di sana susunya segar sekali. Kulitmu bisa kelihatan lebih mulus dan kinclong kalau .”
Jiyeon membelalakkan kedua bola matanya. Dani lucu sekali saat dia sedang memuji seseorang atau sesuatu. “Tentu saja. Apa letaknya jauh dari sekolah?”
“Anhiyo. Hmm kita berjalan kaki sekitar 1 kilometer. Ya, aku perkirakan seperti itu.”
Jiyeon manggut-manggut. “Kajja!”
Dani tersenyum

Namja bernama lengkap Oh Sehun sedang mencari buku di sebuah bookstore terkemuka di Seoul yang menyediakan berbagai macam jenis buku untuk semua umur. Sehun selalu menghabiskan waktu luangnya di depan sebuah buku. Minimal dia membaca buku ilmiah atau ensiklopedia. Daripada waktunya dihabiskan di dalam rumah dengan game, menganggur, atau hal yang lebih jelek, Sehun lebih memilih berjalan-jalan, ke toko buku atau ke perpustakaan nasional.
Saat sedang melihat-lihat katalog buku yang stoknya tersedia, tiba-tiba Sehun tertarik melihat sebuah novel genre fantasy yang sampulnya sangat menarik.
“My Book?” gumam Sehun membaca judul buku itu dengan nada bertanya. Ia penasaran apa isi buku itu lalu dibacanya sinopsis di balik buku setebal 550, halaman itu
Senyum tipisnya tiba-tiba menghiasi wajah tampannya yang memiliki kulit seputih susu.

“Oh Sehun!” panggil seseorang dari sebelah kirinya.
Sehun langsung menoleh. Ternyata Myungsoo sudah berdiri dengan beberap buku di tangannya. Rupanya namja itu juga sedang mencari buku yang diperlukannya.
Ekspresi wajah Sehun biasa saja, datar. Dia tidak terkejut, tidak menyambut Myungsoo dengan senyuman atau membalas sapaan dari Myungsoo. Sehun hanya terdiam sambil menatap Myungsoo sebentar. Tak lama kemudian penglihatannya beralih pada buku novel yang ada di tangannya.

Myungsoo cukup kesal dibuatnya. Bagaimana bisa ada seorang namja yang sangat cuek pada temannya
“Kenapa ekspresimu biasa saja? Kau tidak menganggapku sebagai teman? Yaak, kita ini teman sekelompok dan kau lebih muda dariku. Jadi kau harus respect padaku.”
“Begitu?” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Sehun untuk menanggapi rangkaian kata-kata yang dilontarkan oleh Myungsoo.
Myungsoo mencoba bersabar. Menurutnya, namja berambut blonde itu pandai dalam hal pelajaran namun tidak pandai bergaul. Sangat mengecewakan.

Kriiiing!
“Omo!” Myungsoo terlonjak kaget mendengar nada panggil di ponselnya tiba-tiba berdering. Bahkan ia hampir melempar buku yang dibawanya. “Yoboseo!”
“Yaaak, Kim Myungsoo, kau sudah tidak ingat pada kami, eoh?” Terdengar suara Eden yang begitu keras hingga Myungsoo harus menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.
“Langsung saja, ada apa?” tanya Myungsoo malas.
“Hari ini Suzy mengundangmu untuk datang di acara ulang tahunnya.”
“Mwoya? Aku tidak bisa.”
“Yaak, aku sudah bilang padanya kalau kau akan datang.”
Myungsoo meletakkan buku yang dibawanya di atas rak buku yang berada di depannya. Kemudian telapak tangannya mengepal karena kesal pada Eden yang selalu seenaknya saja. “Kenapa kau selalu mengaturku, eoh? Apa aku ini anakmu?” tanya Myungsoo dengan suara nyaring hingga beberapa pengunjung memandangnya aneh, termasuk Sehun yang masih berdiri di sampingnya. Sehun juga melihat kepalan tangan Myungsoo yang sepertinya ingin meninju seseorang.
“Mian mian… aku tidak bisa mengatakan kalau kau tidak datang. Yeoja secantik Suzy sayang kalau disia-siakan.”
“Kalau begitu kau saja yang pacaran dengannya. Aku ikhlas.”
“Myungsoo-a, datanglah malam ini. Jungkook dn Jin juga akan datang. Kami juga merindukanmu.”
Myungsoo mendesah kasar dan mengusap wajahnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menolaknya. Eden tidak mudah percaya begitu saja pada Myungsoo. “Tumben kalian merindukanku…”
“Kim Myungsoo, tentu saja kami merindukanmu. Kita kannsahabat.”
Myungsoo sangat yakin kalau saat ini Eden melakukan aegyo-nya atau menunjukkan puppy eyes. Untung saja Myungsoo tidak melihatnya
“Gurae, aku akan datang tapi tidak lama.”
“Okey. Kami menunggumu.”
Klik!

Ide gila apa lagi yang akan dilakukan oleh Eden dan yang lainnya. Myungsoo benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan chingudeul-nya.

“Tampaknya kau sedang marah,” kata Sehun yang sedang membaca majalah.
“Kenapa saat aku sedang ramah kau malah cuek sedangkan saat aku kesal, dengan santainya kau menyapaku? Aneh..” Myungsoo mengambil buku-bukunya lalu dia beranjak dari tempatnya.

Di kedai susu, Jiyeon dan Dani tengah menikmati susu segar yang rasanya benar-benar lezat, gurih dan nikmat.
“Omo! Sudah jam 6.” Dani berseru seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Jiyeon hampir memuntahkan cairan putih yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. “Jinjja?” Tak percaya, Jiyeon melirik arlojinya. Benar. “Aku harus segera pulang.” Jiyeon bersiap-siap pulang.
Dani melihat Jiyeon yang sudah berdiri dan siap meninggalkannya. “Apa kau akan pulang sendiri?”
“Wae? Tentu saja. Aku selalu pulang sendiri.” Tiba-tiba Jiyeon teringat saat ia ditabrak oleh Jin dan bertemu lagi dengan Myungsoo.
“Bukankah Suzy mengundang kita untuk datang ke pestanya?”
Jiyeon mengerutkan keningnya. Benar juga. Tapi dia tidak punya baju yang pantas dan bagus untuk dikenakan ke pesta itu. Semua orang pasti akan menertawakan penampilannya. Jadi, keputusannya adalah tidak akan datang ke acara pesta ulang tahun Suzy. “Aku bukan yeoja yang beruntung, Dani-a. Kau pergilah ke sana dan sampaikan salamku padanya. Semoga panjang umur.”

“Kau tidak datang?”
“Eoh,” jawab Jiyeon sangat singkat. “Aku tidak pantas pergi ke acara seperti itu. Aku…”
“Aku akan membuatmu pantas datang ke acaranya Bae Suzy. Percaya padaku. Sekarang hubungi orangtuamu kalau kau akan menginap di rumahku.”
“Mwo? Meninginap?”
“He’em. Kau akan menginap di rumahku. Makanya beritahu orangtuamu agar mereka tidak khawatir.”
“Keunde, Dani-a…”
“Yaak, Park Jiyeon. Acara ulang tahun tidak akan selesai dalam waktu dua jam. Minimal 4 jam.”
Jiyeon membuka matanya lebar-lebar. “Jongmal?”
Dani mengangguk. “Jika kau tidak menginap di rumahku, apakah kau yakin nantinya orangtuamu tidak akan marah jika kau pulang larut malam?”
Jiyeon tampak berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh Dani. Ia tidak ingin membuat orangtuanya khawatir.
“Gurae. Aku akan memberitahu eommaku kalau aku menginap di rumahmmu.”

“Baguslah. Aku senang kau mau menuruti kata-kataku. Supaya lebih cepat sampai di rumahku, aku akan menelepon ahjussi untuk menjemput kita.” Dani menegeluarkan ponselnya. Tak lama kemudian dia menghubungi sopirnya untuk menjemput dirinya dan Jiyeon yang berada pada jarak 5km dari rumahnya.

Sesampainya di rumah Dani, Jiyeon membersihkan diri dan makan malam dengan Dani. Orangtua Dani sedang tidak ada di rumah karena mereka masih ada bisnis yang harus diurus di luar negeri. Maklumlah, pengusaha sukses.
Dani meminta para pembantunya untuk menyiapkan makan malam yang spesial. Dia tidak meminta porsi yang banyak tetapi menu yang banyak dan enak karena ia ingin Jiyeon makan makanan enak di rumahnya.

Saat makan malam berdua, jJiyeon dan Dani mendengar langkah sepatu yang semakin dekat. Jiyeon deg-degan. Mungkin itu suara langkah kaki orangtuanya Dani, pikir Jiyeon.
“Dani-a, kau tidak mengajakku makan, eoh?”
Terdengar suara yang tidak asing di indera pendengaran Jiyeon. Jiyeon menoleh ke arah sumber suara.

“Omo! Jiyeon-a? Kau benar-benar Park Jiyeon?” seru Hani, kembaran Dani yang dikenal dengan nama Dani di SMA Jaeguk. “Kau juga berteman dengan bocah tengil ini?”
Dani menatap Hani tajam. “Yaak, siapa yang kau sebut dengan bocah tengil?”
Hani malah berpura-pura tidak mendengar kata-kata Dani.
“Ne, aku teman sekelasnya Dani.”
“Yaak, kau ikut akselerasi?” tanya Hani dengan antusias karena kembarannya memang sudah kelas dua dan Jiyeon sekelas dengan Dani.
“Ne.” Jiyeon tersenyum.
“Omo! Dunia memang sempit, tak selebar daun kelor,” lirih Hani yang sudah memposisikan diri duduk di samping Jiyeon. Dia juga ingin makan malam bersama-sama.
“Hani-a, apa kau juga diundang Suzy?” tanya Dani.
“Suzy? Diundang apa?”
“Kau tidak tahu? Berarti kau tidak diundang…”
“Yaak, memangnya si Bae itu punya acara apa?” tanya Hani dengan nada cuek.
“Ulangtahun.”
“Mwo? Dia tidak mengundangku? Apa dia bilang padamu untuk menyampaikan undangan padaku?”
Dani menggeleng. Hani kesal pada Suzy.

Jiyeon hanya dapat melihat dan mendengar dua saudara kembar itu berbincang-bincang. Betapa asyiknya. Dia jadi ingat pada eonni-nya. Mereka kompak meskipun tak setiap hari bertemu karena kesibukan masing-masing.

Dani, Jiyeon, dan Hani pergi ke pesta ulang tahun Bae Suzy. Acaranya sangat meriah karena undangannya banyak sekali. Hampir 200 orang hanya untuk acara sekelas ulang tahun.
Jiyeon mengenakan dress selutut yang dipinjamkan oleh Dani. Dress itu sangat cocok di tubuhnya. Dress yang berwarna peach dengn hiasan pita di bagian pinggang, serta desain khusus yang dibuat oleh seorang designer dari Jepang itu membuat Jiyeon terlihat semakin cantik. Rambutnya hanya digerai biasa tanpa hiasan. Sedangkan alas kakinya, dia mengenakan sepatu high heel 10 sentimeter karena Jiyeon tidak terbiasa memakai high heel apalagi yang tingginya di atas 10 cm.

Ketiga yeoja yang baru datang itu masih bingung mau kemana dan mau ngapain.
Hani celingukan ke kanan-kiri mencari seseorang yang mungkin dikenalnya. Sedangkan Jiyeon dan Dani malah asyik ngobrol sendiri di dekat meja tempat menghidangkan makanan camilan.

Rumah Suzy yang luas dan mewah ternyata muat sampai 200 orang untuk acara ulang tahun.
“Annyeon, welcoma beib…” ucap Suzy pada Dani dan Jiyeon.
Dani merinding mendengar kata-kata sok akrab dari Suzy apalagi nada bicaranya sangat dibuat-buat untuk mencari sensasi.
“Suzy-a, banyak sekali yang datang?” tanya Dani untuk memulai perbincangan dengan Suzy.
“Ya, begitulah. Kebanyakan dari mereka tidak aku undang tapi tetap saja datang karena terlalu baik padaku. Silahkan menikmati makanan yang sudah dihidangkan.” Suzy melangkahkan kaki jenjangnya ke arah kerumunan namja.

Jungkook, Jin, dan Eden baru saja datang. Mereka langsung menyerbu meja camilan yang berada di dekat Jiyeon dan Dani. Mereka bertiga terus saja tertawa dan yang mereka tertawakan adalah rencana untuk memenangkan balap motor minggu depan.
“Waaah, kelihatannya menggoda. Enak sekaki,” ucap Jungkook yang melebarkan matanya saat melihat banyak camilan lezat di depannya. Saat dia ingin mengambil piring kecil di ujung meja, tiba-tiba tanpa sengaja ia melihat Jiyeon yang berdiri mematung bersama Dani.
“Park Jiyeon!” seru Jungkook yang kaget melihat Jiyeon ada di acara pesta itu.
Jiyeon terlonjak kaget mendengar suara Jungkook yang menyebut namanya. Dia menolah dan menatap Jungkook.
“Kau juga datang?” tanya Jungkook. Dia bingung, bukankah Suzy merupakan yeoja yang penuh kebanggaan dan tidak mudah bergaul dengan yeoja semacam Jiyeon.
“Ne. Kau juga?” tanya Jiyeon.
“Tentu saja. Aku kan teman sekelas Suzy,” jawab Jungkook yang telah meeenuhi piring kecilnya dengan berbagai macam camilan yang telah dihidangka di atas meja.
“Yaak, Jeon Jungkook, apa kau tahu siapa tamu spesialnya Suzy malam ini?” tanya Dani.
Jungkook hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. Sebenarnya dia tahu siapa tau spesial itu namun ia tidak memberitahukan pada yang lain karena gengnya ingin membuat surprise untuk Suzy.

Malam semakin gelap. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pesta segera memasuki acara inti dimana Suzy akan meniup lilin, membuat harapan dan memotong kue.
Saat menyanyikan lagu ulangtahun, kedua mata Suzy mengedarkan pandangan diantara para undangan. Ia mencari seseorang yang sangat diharapkan kedatangannya.
Kini lilin pun sudah ditiup, Suzy membuat harapan. Semua undangan diam, setenang mungkin. Setelah itu acara potong kue dimulai. Suzy masih mencari sosok namja yang sangat dinantinya. Kue sudah dipotong oleh Suzy, para undangan bersorak gembira namun Suzy kelihatannya masih mencari keberadaan seseorang. Saat dia hampir memberikan kue potongan pertama pada Sehun, tiba-tiba seseorang datang dengan ekspresi innocent-nya.
Suzy berjalan ke arah namja yang ternyata adalah Kim Myungsoo. Semua mata mengekor kemana Suzy melangkahkan kakinya, termasuk Jiyeon dan si kembar Dani dan Hani.
“Memangnya siapa yang baru datang dan langsung mendapat potongan kue pertama?” tanya Hani pada Dani dengan suara lirih.

Rupanya Suzy memberikannya pada Myungsoo yang baru datang. Tentu saja Myungsoo bingung. Ia hanya menerima kue pemberian Suzy dengan ekspresi polosnya yang tak tahu maksud dari pemberian kue itu apa.
“Kisseu!”
“Kisseu!”
“Kisseu!”
Para undangan bersorak meminta Suzy dan Myungsoo berciuman. Suzy tersenyum senang sedangkan Myungsoo menatap dingin pada Suzy.
Chu..
Suzy mendaratkan bibirnya di atas bibir Myungsoo singkat. Semua orang yang datang bersorak gembira, kecuali Jiyeon.

Jiyeon menatap Suzy dan Myungsoo tanpa berkedip. Hatinya terasa sakit namun tak ada yang tahu tentang itu.
Saat beberapa orang mulai membubarkan diri dari kerumunan menuju meja-meja yang tempat menghidangkan makanan, Myungsoo melihat Jiyeon yang berdiri mematung dan menatapnya.

“Jiyeon?”
Myungsoo berusaha menghampiri Jiyeon namun yeoja itu malah menghindar dan bersembunyi di tengah kerumunan orang. Myungsoo mendesah kasar.
“Yaak, Kim Myungsoo. Sekaranglah saatnya,” kata Jin sambil menepuk bahu Myungsoo.
“Saat untuk apa?” tanya Myungsoo bingung.
Tiba-tiba Eden naik ke panggung dan mengambil alih microphone. Dia mengucapkan selamat malam kepada para tamu, memberi ucapan selamat kepada Suzy karena baru saja ulang tahun. Yang terakhir, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin memberikan kejutan pada Suzy.
Semua tamu bersorak untuk kesekian kalinya. Semua mata tertuju ke arah panggung dimana Eden berada.
“Baiklah, langsung saja kita sambut seseorang yang ingin memberikan kejutan untuk Suzy. Ini dia, Kim Myungsoo!”
Tepuk tangan riuh dari para tamu.
“Mwoya? Apa-apaan ini?” seru Myungsoo pada Jin.
“Kim Myungsoo akan menyanyikan lagu yang berjudul This Song is For You, khusus untuk Suzy,” lanjut Eden.

Hani dan Dani menutup mulut mereka yang menganga karena tak percaya kalau Myungsoo segitu perhatiannya pada Suzy.
Sedangkan Jiyeon, dia menggigit bibir bawahnya dan memegang gelasnya erat-erat.

Myungsoo sudah berada di atas panggung. Dia bingung harus mengatakan apa. Saat mengedarkan pandangannya, dia melihat Jiyeon yang juga menatapnya. Jiyeon menenggak habis minumannya lalu membalikkan badan agar tak melihat Myungsoo berdiri di panggung spesial milik Suzy.

Jiyeon ingin pulang ke rumahnya sendirian namun saat ia berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba sosok Jungkook muncul. Tentu saja Jiyeon senang. Dia bisa mengajak Jungkook pulang.
“Jung-a, ayo kita pulang.”
“Kenapa sudah pulang? Aku akan memboncengmu dan pulang bersama tapi tidak sekarang. Kejutan dari Myungsoo akan dimulai. Kenapa kita harus pulang tanpa melihatnya memberi kejutan pada Suzy?”
Jiyeon merasakan sesak di dadanya. “Aku… tidak enak badan, Jung-a. Ayo kita pulang saja.”
Jungkook tetap menolak. Dia malah bertanya, apakah Jiyeon ingin ke toilet? Jika iya, dia bisa menunjukkan tempatnya karena Jungkook baru saja dari toilet. Kalau Jiyeon tidak ingin pergi ke toilet, Jungkook menyuruh Jiyeon kembali ke pesta.
Jiyeon tetap berdiri di depan pintu keluar. Jungkook malah kembali ke pesta dan tak mempedulikan Jiyeon yang benar-benar merasa pusing.
Dengan hati terluka akibat melihat Myungsoo mencium Suzy dan Myungsoo memberi kejutan pada Suzy, hatinya terasa sakit kembali. Dia ingin melupakan Myungsoo tetapi kenapa malah seperti ini. Dengan langkah gontai dan tidak berpamitan pada si kembar, Jiyeon keluar dari rumah Suzy. Dia tidak ingin tinggal di pesta untuk melihat lanjutan acara.

Myungsoo tak dapat menemukann sosok Jiyeon dari atas panggung. Semua tamu sudah berseru memintanya cepat-cepat menunjukkan kejutannya. Dengan terpaksa, Myungsoo mulai menyanyikan lagu This Song is For You.

Meskipun sudah berdiri di depan rumah Suzy, Jiyeon masih dapat mendengar suara Myungsoo yang mulai menyanyikan lagu itu. Tanpa terasa, airmatanya meleleh membasahi pipinya dan merusak make-up nya. Ia ingat kejadian di tengah-tengah hujan dan sebelumnya. Jiyeon mengutuk dirinya sendiri yang ternyata belum dapat melupakan perasaannya pada Myungsoo.

Tbc

FF ini udah pernah publish di blog sebelah. Bagi yang belum baca, jangan lupa komennya

30 responses to “[Chapter – Part 2] Knock to My Heart (Sequel of Really Sorry)

  1. Pingback: Knock To My Heart [Chapter – 5] | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [Chapter – 4] Knock to My Heart | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s