[CHAPTER-PART 1] Kill Me, Love Me

Untitled-1

 

Kill Me, Love Me by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Minor Cast(s):  Jung Krystal, Lee Jongsuk, Kim Taehyung|| Genre(s):  Fantasy, Mystery, Romance.  || Point of View: Third Person || Length: Chapters || Rating: PG – 15 ||

Happy reading!

***

 

Musim dingin belum berakhir, butir-butir putih yang orang kenal dengan salju masih memenuhi daratan. Namun, bukan berarti semua orang hanya berbaring dan menggeliat dikasur hangatnya, bagaimanapun juga mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup, seperti menuntut ilmu dan bekerja tentunya. Sama seperti seorang gadis yang sedang berjalan ditengah kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di pinggiran kota Paris, Perancis. Ia terlihat beberapa kali melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya.

“Sial. Aku terlambat.” Gumamnya.

Kini ia mempercepat langkahnya, masa bodoh dengan rambut sebahu yang sudah ditatanya tadi pagi. Orang-orang disekitarnya hanya bisa menggeleng, menatapnya tidak habis pikir karena berlari dengan membawa tumpukan buku-buku tebal ditangannya. Mereka menduga, pasti gadis itu adalah seorang mahasiswi dan pagi ini ia terlambat masuk ke kelasnya.

Dan mereka benar.

Terbukti gadis itu masuk ke salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di kota Paris, University of Paris 1 Pantheon-Sorbonne. Ia terus berlari tanpa mengurangi kecepatan walaupun beberapa kali harus menembus setiap gerombolan mahasiswa yang menghalangi jalannya. Mereka menghadiahinya cacian kecil yang dianggap Jiyeon hanya udara hampa disekitarnya. Tak berarti apa-apa.

Gadis itu menghentikan langkahnya didepan pintu besar berwarna coklat. Ia masih terengah.  Dengan kedua tangan yang diletakkan dilututnya, setidaknya mampu menumpu berat badannya yang kelelahan.

Ia tiba-tiba menegakkan badannya sambil menghembuskan napas pelan dengan posisi tangan kanan yang sudah memegang knob, bersiap untuk membuka pintu itu. Keraguan terbersit dibenaknya. Perdebatan kecil antara kubu putih dan hitam yang berasal dari khayalan gadis itu akhirnya terjadi, haruskan dia masuk? Atau hanya pergi dan membolos untuk saat ini? Pikirnya.

Akhirnya kubu hitam menang. Gadis itu menghela napas lalu berjalan dengan gontai menjauh dari pintu yang semula akan dibukanya. Menurutnya ini adalah pilihan terbaik mengingat didalam ruangan itu ada seseorang yang ditakutinya melebihi rasa takutnya pada apapun didunia ini. Lazare Carnot, dosen matematika tergalak dikampusnya.

“Park Jiyeon!” Pekik gadis yang sesaat lalu dilewatinya.

Merasa gadis itu memanggil dirinya, iapun berbalik dengan dahi berkerut. Ditatapnya seorang gadis berambut hitam panjang tengah memandangnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan ekspresi kaget.“Apa kau memanggilku?” Ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Maaf sepertinya kau sudah salah orang, namaku Lian Eveline, bukan Park Jiyeon.”

Gadis didepannya lantas menaikkan sebelah bibir atasnya setelah mendengar pernyataan wanita yang bernama Lian Eveline itu.”Jangan pikir aku bisa kau bodohi, Jiyeon.” Ucapnya dalam bahasa Korea seraya menyilangkan kedua tangannya.”Apakah ini lelucon kecil untuk menyambutku? dengan pamer bahasa Prancis dan berpura-pura tidak mengenalku? Seharusnya kau langsung memelukku dan meminta maaf karena sudah menghilang selama tiga tahun tanpa memberitahuku kemana kau pergi. Sahabat macam apa kau ini.”

Lian bergeming. Bagaimana bisa orang yang baru pertama kali ia temui mengklaim sebagai sahabatnya. Lalu, tiga tahun silam? Dan yang teraneh adalah kenapa ia bisa mengerti setiap kata yang diucapkannya sedangkan ia sama sekali tidak merasa mempelajari bahasa Korea? Meskipun ia ingin menggali informasi lebih dari gadis itu, ia tetap harus berhati-hati. Bisa saja gadis ini hanya menipunya, kan?

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Sungguh, aku tidak mengenalmu.” Ucap Jiyeon masih dengan logat Perancisnya. Meskipun ia yakin bahwa dirinya bisa menjawab dengan bahasa Korea, namun ia ingin tahu reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh gadis didepannya itu.

“Kau sungguh tidak mengenalku?” Gadis itu membulatkan matanya.”Aku Jung Krystal.” Kali ini gadis yang bernama Krystal itu berbicara dalam bahasa Perancis.

Karena tidak mendapat respon dari Lian, Krystal mendekat dengan pandangan menyelidik. Ia menarik tangan kanan Lian dan membalikkannya. Dilihatnya tato Plumeria tepat di pergelangannya, menutupi garis urat yang seharusnya terlihat. Sudah ia duga. Ia tidak mungkin salah mengenali sahabatnya sendiri.

Gadis dihadapnnya ini memanglah Park Jiyeon.

Lian terperajat saat Krystal membalikkan telapak tangannya, memperlihatkan tato yang sama persis dengan tato miliknya.

“Kau masih mau mengelak?”

***

          Disebuah tempat tersembunyi di sudut kota Seoul, Korea Selatan, seorang pria tengah mengacak rambutnya frustasi saat memasuki ruangannya dipenuhi oleh cup mie instant yang berserakan dimana-mana. Ia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Komputer-komputer masih menyala, namun tidak ada yang special selain peta, radar, dan gambar lainnya yang terlihat seperti alat-alat pencari.

Pandangannya terhenti ketika matanya menangkap sosok laki-laki tengah menggeliat disudut ruangan.

“Kim Myungsoo, ayah tak menyangka baru beberapa hari aku memintamu untuk berjaga dinisi, kau sudah membuat ruangan ini tampak seperti pembuangan sampah mie instant. Menjijikan.” Ejeknya seraya menyikirkan beberapa cup mie instant dari sofa agar ia bisa duduk.

Mendengar ocehan pria setengah baya yang ternyata adalah ayahnya, Myungsoo bangun dengan malas sambil menguap lebar. Ia mengucek matanya terlebih dahulu sebelum berjalan pelan, menghampiri orang yang telah mengganggu tidurnya.

“Apa aku punya pilihan? Ayah mengunciku disini dan memintaku 24 jam mengawasi layar-layar monitor itu, lucunya ayah lupa memberiku persediaan makanan.” Ucap Myungsoo sembari duduk disamping ayahnya.”Aku bahkan menggunakan lubang ventilasi untuk membawa mie-mie ini masuk. Bersyukurlah karena aku tidak mati kelaparan.”

Ayah Myungsoo─Kim Junsu─terlihat merasa bersalah pada anaknya. Walau bagaimanapun ia tidak seharusnya marah karena itu sepenuhnya adalah kesalahan Junsu.”Ayah minta maaf,” ucap Junsu, “tapi untunglah kau anak yang pintar, nak. Aku bersyukur mempunyai anak sepertimu.” Dalam hati Junsu menggerutu, sebenarnya ia tidak ingin memberi pujian itu kepada Myungsoo karena anaknya sangat mudah besar kepala.

Myungsoo tersenyum bangga.“Kau tak bisa menganggap remeh aku, ayah.” Ucapnya sambil menyilangkan lengan.

Junsu hanya bisa menggeleng pelan melihat perkiraannya benar-benar tepat. Myungsoo benar-benar besar kepala sekarang.

“Ngomong-ngomong, bagaimana perjalananmu, ayah? Apakah kau berhasil menemukannya?” Tanya Myungsoo.

Junsu menghela nafas.“Tidak. Perjalanan keluar negeriku tampaknya sia-sia lagi.”

Myungsoo memutar bola matanya malas.”Sudah kubilang, pasti sudah tidak ada yang tersisa. Ini sudah tiga tahun dan tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan mereka. Aku yakin kita sudah menghabisi semuanya, ayah. Mari kita hentikan saja semua ini dan menjalani kehidupan yang normal.” Ucap Myunsoo sembari menyambar botol minuman yang beada di atas meja, lalu meneguk airnya dengan perlahan.

Junsu terlihat berfikir. Ia pun tampaknya sudah merasa lelah.”Kau benar, ini sudah lama semenjak operasi Minggu Bersih kita sukses. Tiga tahun kurasa cukup untuk membuktikan bahwa kita telah menghabisi semuanya.”

Myungsoo meninju sebelah tangannya ke udara.“Yosh! Ini adalah kata-kata yang kutunggu sejak dulu, ayah.”

Junsu tersenyum melihat tingkah anaknya. Ia sama sekali tidak merasa heran melihat reaksi Myungsoo. Bayangkan saja, Myungsoo sudah membantu ayahnya sejak kecil. Kebebasan tentu saja adalah apa yang selama ini ia inginkan.

***

          Disalah satu kedai kopi di Tokyo, Jepang, terlihat dua orang laki-laki sedang duduk bersebrangan dengan raut wajah yang resah. Salah satu pria terlihat memijat pelipisnya─seakan sedang berpikir keras mengenai suatu hal, sedangkan pria yang lainnya menangkup cangkir kopi dengan kedua tangannya sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria didepannya.

“Jongsuk hyung, apa yang harus kita lakukan? Kemarin salah satu Gagak nyaris menemukan kita.” Ucapnya tidak sabar karena pria didepannya belum juga mengatakan apapun.

Pria yang bernama Jongsuk itu menghela napas seraya menyandarkan punggungnya.”Entahlah. Setidaknya kita bisa bernafas lega karena nasib baik masih ada dipihak kita, Taehyung-ah.” Jawabnya.

Taehyung menundukkan kepalanya.“Semua Phantom dikalahkan oleh lima orang manusia biasa. Sungguh menggelikan. Sampai saat ini pun mereka sangat gigih mencari, bahkan setelah membunuh keluarga kita. Sebenarnya apa yang mereka inginkan?” Suaranya melemah ketika ia mengucapkan kalimat terakhir.

Jongsuk bergeming. Ia menatap Taehyung dengan iba. Memang benar para gagak telah membunuh semua Phantom termasuk keluarga keduanya hingga hanya menyisakan mereka saja.

“Mereka melakukan pemusnahan. Hanya karena salah satu diantara kita memanfaatkan kekuatan dengan salah─yaitu menggunakannya untuk membunuh orang, semua keluarga kita ikut terkena imbasnya.” Jawab Jongsuk.

Keduanya terdiam.

Taehyung menghela napas seraya berkata,”Apakah kita akan terus seperti ini? selamanya bersembunyi tanpa menggunakkan kekuatan kita? Kenapa kita tidak mencoba melawan saja? Aku yakin, pasti ada cara untuk mengalahkan mereka.”

“Sebenarnya ada satu cara untuk melawan para gagak, yaitu…”

Mendengar hal itu, sontak membuat Taehyung menatap Jongsuk penuh harap.

“…kita harus mencari si biru.”

Taehyung tampak ragu.“Kenapa kita harus mengajak dia? apakah kita tidak bisa mengalahkan para Gagak dengan hanya dua orang?”

Bukannya menjawab, Jongsuk malah tersenyum.

“Kenapa kau malah tersenyum, Hyung?” Tanya Taehyung sedikit sebal.

”Kau hanya belum tahu bagaimana kuat dan cerdiknya si Biru, Taehyung-ah.” Ucap Jongsuk.”Bertahun-tahun yang lalu saat Phantom Merah dan  Hijau bekerja sama melakukan serangan tiba-tiba untuk melenyapkan kelompok Phantom kecil Biru yang hanya terdiri dari tiga orang, ia maju seorang diri dan berhasil melumpuhkan semua Phantom dan trik yang sudah mereka susun matang.”

“Ja-ja-jadi, itu bukan rumor semata?” Tanya Taehyung kaget, ia sama sekali tidak menduga bahwa rumor yang dulu orang tuanya bicarakan ternyata benar adanya.

“Ya, itu bukan rumor, itu kenyataan.”Jawab Jongsuk.”Aku tidak berbohong karena aku juga salah satu dari mereka. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi denganku waktu itu. Yang aku ingat hanya cahaya putih saat memasuki gerbang rumah mereka. Saat aku membuka mataku, aku sudah berada dikamarku lagi dan ibuku mengatakan bahwa aku sudah tidur selama tiga hari. Katanya, hari itu aku tiba-tiba pulang dan tidur tanpa menjawab pertanyaan dari kedua orang tuaku.”

“Mwo?! Hyung, kenapa kau baru memberitahu cerita itu sekarang!” Pekik Taehyung. Untunglah kedai itu sekarang sedang sepi, jadi mereka tidak akan menjadi pusat perhatian akibat lengkingan Taehyung tadi.

Jongsuk menaikkan sebelah bibir atasnya. Ia mendesis,”Ish! Pelankan suaramu.”

“Hehe… mian Hyung.” Taehyung hanya bisa tersenyum, menampilkan semua deretan gigi depannya.”Habisnya si Biru benar-benar keren. Kau dan orang-orang yang mempunyai Emperor Merah hanya bisa mengalihkan benda, lalu aku, dan orang yang mempunyai Emperor Hijau lainnya hanya bisa menghentikkan waktu. Mungkinkah menghipnotis orang adalah kemampuan Emperor si Biru?”

Jongsuk menghendikkan bahu.”Entahlah, tidak ada yang tahu soal itu.” Ucap Jongsuk.”Jadi bagaimana? Apakah kita akan mencari si Biru lalu mengalahkan para Gagak? Atau hanya akan hidup seperti ini?”

“Tentu saja aku memilih mencari si Biru dan mengalahkan para Gagak.” Ucap Taehyung yakin.

***

          Kini, Jiyeon dan Krystal telah berpindah tempat ke taman yang berada dibelakang kampus. Mereka berdua duduk bersebelahan dibawah pohon rindang, namun tidak ada percakapan sama sekali antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jiyeon yang masih belum mempercayai Krystal adalah sahabatnya, dan Krystal yang bingung kenapa Jiyeon jadi tiba-tiba tidak mengenalinya.

Apa mungkin…?

Krystal seketika melirik Jiyeon yang sedang menyentuh telinga kanannya.”Kenapa kau?” Tanyanya dalam bahasa Korea.

“Entahlah, kupingku terasa panas. Kata orang, ini pertanda bahwa sedang ada orang yang membicarakanku.”Jawab Jiyeon.

Krystal tercengang ketika mendengar Jiyeon membalasnya menggunakan bahasa Korea.”Kau bilang tidak mengerti bahasa Korea, lalu apa barusan?”

Bodoh, pikir Jiyeon. Ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa dengan lancar menjawab pertanyaan Krystal dengan menggunakan bahasa Korea. Ia tertegun. Tidak ada jalan lain lagi selain menceritakan semuanya, mengelakpun rasanya percuma.

“Sebenarnya aku hilang ingatan.” Jiyeon mulai menjelaskan,”tiga tahun yang lalu saat aku membuka mata, aku sama sekali tidak ingat apa-apa. Hal pertama yang kutahu adalah saat itu aku sedang berada dirumah sakit. Seorang suster menceritakan bahwa aku dan keluargaku mengalami kecelakaan. Aku berhasil diselamatkan sedangkan orang tuaku tewas.”

Krystal mengangguk mengerti. Ternyata dugaannya benar.”Jadi begitu…” gumamnya,”…lalu selama ini kau tinggal dengan siapa?”

“Aku tinggal dengan seorang bibi berhati mulia yang bernama Anna Elisabeth. Saat aku berada di taman rumah sakit, aku mengobrol dengannya. Dia mengajakku tinggal bersama mengingat ia juga tidak mempunyai keluarga sepertiku. Identitas, tempat tinggal, sekolah, semua itu takkan bisa aku dapat tanpa bantuannya.” Jelas Jiyeon panjang lebar. Hatinya terasa hangat saat ia menceritakan tentang sosok Anna Elisabeth.

Mata Ktystal sedikit berkaca-kaca. Di raihnya tangan kanan Jiyeon dan mengusapnya lembut.”Aku benar-benar tidak tahu bahwa kau mengalami masa-masa yang sangat sulit, yang kutahu kau tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa memberitahuku. Maafkan aku karena telah menjadi sahabat yang tidak berguna.” Ucap Krystal sambil mengusap air matanya yang keluar tanpa ia sadari.”Aku juga turut berduka cita untuk orang tuamu.”

Jiyeon menatap Ktystal. Hatinya tertohok melihat Krystal menangis untuknya, sekaligus memberi keyakinan pada dirinya sendiri bahwa gadis didepannya ini benar-benar sahabatnya.

Jiyeon menyapu lembut air mata Krystal, “Sudahlah jangan dipikirkan, semuanya sudah berakhir dan kaupun bisa melihat aku sekarang baik-baik saja, kan?” Ujar Jiyeon seraya memeluk Krystal, menepuk-nepuk punggungnya untuk memberi kenyamanan.

Krystal membalas pelukan Jiyeon.“Ya, aku sangat senang kau baik-baik saja.”

Selama beberapa saat keduanya seakan meluapkan rasa rindu dengan saling memeluk.

Merasa ada sesuatu hal yang harus ia tanyakan, Krystal melepaskan pelukannya.”Selama tiga tahun ini kau benar-benar tidak mengingat apapun?” Tanya Krystal seraya dibalas gelengan kecil oleh Jiyeon.”Bahkan Sehun?” Lanjutnya.

“Sehun? Siapa itu?” Tanya Jiyeon dengan dahi berkerut.

Krystal memijat pelipisnya pelan. Ini akan menjadi sesi bercerita yang panjang, pikirnya.

***

          Matahari memerah, mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Para mahasiswa yang baru menyelesaikan perkuliahannya lantas berhamburan keluar, mencari tujuan selanjutnya. Hanya sedikit yang pulang ke rumah, kebanyakan dari mereka lebih memilih menghabiskan waktu dahulu berkumpul dengan teman-teman sebelum pulang. Lalu Jiyeon termasuk kedalam kelompok yang mana? Tentu saja ia termasuk kedalam mahasiswa minoritas yang memilih untuk langsung pulang ke rumahnya.

Entahlah.

Jiyeon bukanlah kutu buku yang menarik diri dari ‘hubungan sosial’, ia justru seorang mahasiswi yang dikenal karena kepintarannya, keramahannya, dan kebaikkannya. Hanya saja setiap ia diajak pergi sehabis perkuliahan usai, Jiyeon selalu menolak dengan alasan ‘ibu sedang menungguku dirumah’.

Mereka tidak pernah memaksa karena mareka tahu kisah gadis yang bernama Lian Eveline itu. Alih-alih memojokkannya atau menghinanya, mereka justru kagum dengan Jiyeon. Ia bekerja keras selama dua tahun untuk masuk ke Perguruan Tinggi itu, mengumpulkan ijazah-ijazah yang seharusnya sudah ia miliki namun entah berada dimana. Bangkit kembali dari keterpurukan bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan orang berputus asa, lebih memilih mati daripada mengambil resiko hidup dalam penderitaan.

“Ibu, aku pulang.” Ucap Jiyeon ketika ia memasuki apartemen yang ia tinggali dengan orang yang sudah ia anggap ibu.

“Selamat datang, ibu ada didapur, nak.” Timpal Anna.

Dengan segera, Jiyeon menghampirinya. Seperti biasa saat ia tiba dirumah, Jiyeon akan mencium pipi ibunya itu.

“Mengapa kau tampak berseri-seri? Apa hari ini ada sesuatu yang spesial?” Tanya Anna ketika ia menagkap raut cerah terpancar dari wajah Jiyeon.

“Ya, hari ini ada sesuatu yang spesial.” Jawabnya sambil membawa apel dari keranjang buah di samping Anna yang sedang memotong sayuran.”Tadi pagi aku bertemu dengan sahabatku. Akhirnya aku tahu namaku dan darimana aku berasal.” Ucapnya sembari menggigit apel yang sudah ia cuci barusan.

Tubuh Anna menegang. Tiba-tiba tangannya berhenti memotong sayuran.

“Ada apa ibu?” Tanya Jiyeon karena ia melihat gelagat aneh Anna.

“Tidak, sayang. Ibu hanya baru sadar telah salah memotong sayuran. Seharusnya ibu tidak memotong wortel ini terlalu besar.” Ujar Anna.

Jiyeon mengangguk pelan. Ia meneruskan ceritanya kembali,”Gadis yang mengaku sahabatku itu bilang namaku Park Jiyeon, dan aku berasal dari Korea. Aku memintanya untuk menceritakan lebih jauh tentangku, namun sialnya aku ingat ada kelas yang harus aku hadiri.”Ucap Jiyeon, ia melirik Anna sebentar, ada sedikit keraguan untuk melanjutkan ceritanya.”Di akhir obrolan kami, Krystal memberi saran untuk tinggal di Korea bersamanya jika ingin ingatanku cepat kembali.”

Anna tertegun. Ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa.

Jiyeon merasa panik karena ibunya tidak memperlihatkan reaksi apapun.“Ibu aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, kalau kau tidak mengizinkan…”

“Sudahlah, kau mandilah dulu,” Ucap Anna memotong perkataan Jiyeon,”lalu kita makan malam bersama.”

Jiyeon menurut, ia sama sekali tidak berkata apapun lagi dan langsung berjalan menuju kamarnya. Ia tahu ibunya perlu waktu untuk berpikir. Bagaimana mungkin Jiyeon bisa lancang pergi ketika Anna sudah memberi segalanya selama ini? sesal Jiyeon dalam hati.

Lima belas menit kemudian Jiyeon keluar dari kamarnya. Ia melihat Anna tengah duduk dimeja makan, menunggunya. Dengan ragu ia menghampirinya dan mendaratkan pantanya di kursi yang bersebrangan dengan Anna.

Selama makan malam berlangsung, meraka sama sekali tidak bersuara. Hening. Suara sendok dan piring yang beradu tak mereka perdulikan.

“Maaf, tadi ibu hanya sedikit terkejut.” Ucap Anna tiba-tiba.

Jiyeon mendongakkan kepalanya untuk menatap Anna.

“Apakah kau ingin benar-benar pergi ke Korea?” Tanya Anna.”Ayo kita pergi dan menetap disana.”

Jiyeon terhenyak. Ia sama sekali tidak menduga ibunya akan berkata seperti itu.”Ibu, apakah ibu bercanda? Ibu mau meninggalkan pekerjaan disini dan pindah begitu saja ke Korea? Tidak ibu, tidak. Lebih baik ingatanku tidak kembali daripada ibu harus bersusah payah mencari pekerjaan disana.”

Anna lantas tersenyum mendengar penolakan dari gadis yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya. Jiyeon pasti sungguh sangat menyayangi dirinya sampai-sampai ia dengan mudahnya berkata ‘merelakan’ semua kenangan yang selama ini ingin ia ingat.

“Apa yang kau khawatirkan?” Tanyanya dengan menggunakan bahasa Korea. Hal itu sukses membuat Jiyeon membulatkan matanya.”Kau pikir, ibu tidak bisa berbahasa Korea? Kau sungguh telah salah mengira. Sebenarnya ibu lahir dan besar disana. Saat orang tua ibu meninggal, ibu memutuskan untuk pindah dan menetap di Perancis.”

“Sungguh?” Tanya Jiyeon meyakinkan.”Kenapa ibu baru menceritakannya sekarang?”

“Apa kau pernah bertanya?” Anna menjawab pertanyaan Jiyeon dengan pertanyaan lainnya.

Jiyeon berdecak, menurutnya Anna sangat pintar dalam menjawab.”Ne, aku tidak pernah bertanya soal itu, tapi tetap saja…” Jiyeon mengerucutkan bibirnya,”…tanpa aku bertanya pun ibu bisa menceritakannya kepadaku, bukan?” Ujar Jiyeon ikut menggunakan bahasa Korea.

Anna terkikik, puas melihat wajah anaknya yang tampak sebal.

Jiyeon tiba-tiba menyentikkan jarinya.“Jika ibu orang Korea berarti ibu mempunyai nama Korea, kan?”

“Tentu saja…” Jawab Anna.”Nama Korea ibu, Song. Hye. Kyo.” Ia mengeja nama koreanya penuh penekanan.

***

          Hari dimana Krystal akan pulang ke Korea telah tiba. Ia telah siap dibandara, menunggu jadwal keberangkatannya. Sesekali ia melirik ponsel putihnya, seakan berharap seseorang menghubunginya.

Park Jiyeon.

Selama dua hari ini gadis itu belum menghubunginya juga. Krystal memaki Jiyeon dalam hati. Karena terburu-buru, hari itu Jiyeon lupa membawa ponselnya. Alhasil, ia hanya bisa menuliskan nomor ponselnya dibuku Jiyeon. Apa kecelakaan itu menyebabkab Jiyeon menjadi seseorang yang pelupa? Pikirnya.

Kedatangannya ke Perancis sebenarnya hanya untuk berlibur, melihat pemandangan kota Paris dan mengunjungi kampus terkenal disana. Namun, ia tidak menyangka bisa menemukan sahabatnya di negara itu.

Pengumunan untuk para penumpang pesawat tujuan Korea telah terdengar, menandakan bahwa beberapa menit lagi pesawat itu akan lepas landas. Krystal yang berpikir Jiyeon tidak akan datang langsung berdiri dan menyeret malas kopernya.

“Krystal!”

Merasa ada yang memanggil namanya, Krystal membalikkan badannya. Dilihatnya Jiyeon─sahabatnya─tengah berlari kecil sambil menyeret sebuah koper. Senyum mengembang lantas terpatri dibibir Krystal.

“Kukira kau tidak akan datang.” Ucap Krystal saat Jiyeon telah berada di depannya.

“Tadinya sih begitu.” Timpal Jiyeon. Dia hanya ingin sekedar menggoda Krystal.

“Apa kau bilang?” Desis Krystal.

Bukannya menjawab, Jiyeon malah menarik tangan Krystal. “Nanti saja kuceritakan. Kajja, kita masuk kedalam pesawat dulu.”

.

.

“Jadi apa yang membuatmu memutuskan untuk ikut bersamaku? Lalu, kenapa kau sama sekali tidak meneleponku?” Tanya Krystal tak sabar saat mereka tengah dalam mobil jemputan Krystal.

Ya, mereka telah sampai di Korea Selatan.

Selama dalam pesawat, mereka tidak bisa mengobrol mengingat letak kursi keduanya sangat berjauhan. Jika saja Krystal tahu Jiyeon akan ikut, ia pasti akan memesan dua tiket yang bersebelahan. Ini semua karena Jiyeon yang tidak menghubunginya sejak awal, gerutu Krystal sepanjang perjalanan.

“Maaf. Aku terlalu sibuk mengurusi pasport dan surat-surat kepindahanku.” Jawab Jiyeon.”Sebenarnya aku memang tidak membayangkan bisa pergi ke Korea mengingat aku tidak ingin meninggalkan wanita yang sudah kuanggap ibuku itu tinggal sendirian. Namun diluar dugaan, ibuku setuju dan memutuskan untuk menetap bersama disini.” Jelas Jiyeon.

Jinjja?” Tanya Krystal tak percaya.”Kau beruntung bisa bertemu orang sebaik dia, Jiyeon-ah.”

Jiyeon mengangguk dengan senyum diwajahnya. Ia sangat setuju dengan perkataan Krystal.

“Lalu, kenapa ia tidak ikut bersamamu?” Tanya Krystal heran karena Jiyeon pergi sendirian.

“Ia akan menyusulku, kira-kira dua bulan lagi. Ia bilang harus menyelesaikan pesanan pakaian para pelanggan terlebih dahulu dan mengurus kepindahannya ke butik cabang Korea Selatan.” Jelas Jiyeon.”Untuk dua bulan ini tidak apa-apa kan jika aku tinggal dirumahmu?”

“Wah! ibumu itu ternyata seorang desainer, ya? Daebak!” Ucap Krystal terkagum-kagum.”Soal tempat tinggal, jangan khawatir. Kau bisa tinggal dirumahku selama yang kau mau, Jiyeon-ah.”

Dengan serempak, kening Jiyeon dan Krystal berkerut tatkala mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti.

“Ada apa, Pak Nam?” Tanya Jiyeon kepada supirnya.

“Maaf, sepertinya mobilnya mogok, nona.” Jawabnya.”Saya akan mencoba memeriksanya dahulu. Jika mobil ini benar-benar tidak bisa menyala, saya akan memanggil mobil yang lain untuk menjemput nona.”

Krystal menghela napas.”Baiklah. Lakukan saja pelan-pelan.” Ia lalu menatap Jiyeon. “Aku akan membeli minuman dulu. Kau tunggu saja disini, Jiyeon-ah.” Ucap Krystal seraya turun dari mobilnya.

***

          Kim Myungsoo terlihat sedang berjalan-jalan dengan tangan yang ia sembuyikan dibalik mantelnya. Sudah empat hari sejak ‘kebebasannya’, ia sering berjalan-jalan seperti ini, melihat-lihat pemandangan kota yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan.

Langkahnya terhenti sesaat setelah ia melihat seorang gadis berambut sebahu turun dari mobil hitam di depannya. Ia tidak bergerak sedikitpun dan hanya terus memperhatikan gadis itu. Dilihatnya gadis itu tengah melirik kesegala arah sampai akhirnya pandangan mereka bertemu.

Cantik. Itulah kata yang pertama kali terlintas dipikiran Myungsoo ketika menatap wajah gadis itu. Entah apa yang terjadi, waktu seakan berhenti. Ia hanya bisa merasakan banyak kupu-kupu dengan berbagai warna berterbangan diperutnya. Menggelitiknya, memberikan rasa yang sama sekali belum pernah ia rasakan.

Selama seumur hidupnya, ia tidak pernah mempunyai waktu untuk memikirkan wanita bahkan cinta. Namun setelah melihat gadis rupawan didepannya, untuk pertama kalinya ia merasa membutuhkan keduanya.

Cinta dan Wanita. Jika frasa itu diubah menjadi kalimat yang sesuai dengan apa yang Myungsoo tengah alami saat ini, tentu saja kalimat itu akan mempunyai arti yang sangat luar biasa untuknya yaitu…

Myungsoo jatuh cinta…

… pada wanita berambut sebahu itu.

==== TBC ====

A/N:

Holaaa~ Oliv’s here! akhirnya ada keberanian buat post ff chapter disini hehehe. Gimana ceritanya serukah? boringkah? jelekkah? oke kalian bebas menilai sendiri ff ini -_-

Oh! Special thanks to natadecocoo for helping me choose the tittle. Mhehehe♥

Kritik dan sarannya ditunggu yaa♥

Ps: Lebih banyak komen, maka chapter selanjutnya akan lebih cepat aku post.

85 responses to “[CHAPTER-PART 1] Kill Me, Love Me

  1. Myungsoo langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama jiyeon.. daebak… apakah jiyeon seorang phantom biru ? Dan myungsoo adalah pemusnah phantom..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s