[TWO SHOOT] A SECRET FACE

aaaaaaaaaaaaa

Tittle : a Secret Face

Author : @ohohmr

Genre : Romance, a little bit Comedy

Length : Two Shoot (2.400+)

PG-15

Don’t be a plagiarism. Cast adalah milik Tuhan YME, dan cerita ini juga kepunyaan Tuhan. So, don’t copas (copy-paste). DON’T BE A SILENT READER. Please comment or like this ff. Thanks.

Cast :

– Kim Myungsoo INFINITE as Myungsoo

– Shin Dong SUPER JUNIOR as Shin Dong

– Kim Soeun (ACTRESS) as Soeun

– Bae Suzy MISS A as Suzy

Summary : Siapa namja itu? Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi ia memperkenalkan diri sebagai ‘pabo’. Lucu sekali.

.

.

.

.

.

     Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun masih saja ada gadis yang nekat pulang larut malam seperti saat ini. Gadis itu mengenakan seragam SMA. Dilihat dari dasinya, bisa dipastikan dia adalah murid SMA  Daegu. SMA elit yang berada di pusat kota Gangnam. Padahal gadis itu orang kaya, lucunya ia pulang ke rumah tanpa pengawalan yang ketat. Biasanya gadis itu di kawal, namun sekarang tidak. Ya, benar, gadis itu kabur dari pengawasan sang pengawal. Ia lelah dengan pengawalan. Tidak bisa kemana-mana. Saat pulang sekolah, pengawalnya akan langsung membawanya ke rumah. Jika pulang sendiri seperti ini, ia dapat melakukan segala yang ia mau.

     “Hei, manis.. mendekatlah kepada Ahjussi..” tiba-tiba saja gadis itu di kagetkan dengan kedatangan seorang Ahjussi yang sepertinya sedang mabuk. Padahal jarak gadis itu dengan Ahjussi tersebut terhitung cukup jauh, namun bau alkohol dari mulut sang Ahjussi sangat tercium oleh hidungnya.

     Bae Suzy, nama itu tertera di kartu tanda pengenal yang ada di bajunya.

     Wajah Suzy tampak panik, ia takut jika Ahjussi di depannya itu akan mendekatinya. Benar saja, Ahjussi itu mulai mendekat. 3 meter lagi ia akan sampai di hadapan Suzy. Tiba-tiba dari arah belakang Ahjussi tersebut, muncul seorang namja. Sepertinya ia sepantaran dengan Suzy, karena mereka sama-sama mengenakan seragam SMA. Suzy tidak dapat melihat wajah namja itu dengan jelas, di karenakan namja itu mengenakan masker yang menutupi setengah wajahnya. Di tambah lagi tidak ada cahaya yang menyorot ke wajahnya. Ia membelakangi lampu jalan, wajahnya menjadi tampak begitu gelap.

     “Awas, aku mau lewat!” seru namja tadi, lalu mendorong Ahjussi itu hingga terjatuh. Alkohol yang di pegangnya tidak ikut terjatuh, namun melayang entah kemana.

     Melihat hal itu, Suzy menjerit dalam hati. Ia menutup matanya, tak sanggup melihat.

     Ahjussi itu tampak sempoyongan, ia berdiri, namun tetap dengan gaya sempoyongannya. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menjernihkan matanya yang tak dapat melihat dengan jelas akibat pengaruh alkohol yang di minumnya tadi.

     “Hei, bocah!” tunjuknya entah kemana arahnya.

     “Kau sedang bicara padaku?” tanya namja itu—santai. Tidak ada rasa takut sedikit pun yang terlihat di wajahnya.

     “Jangan macam-macam kau, ya!” Ahjussi itu berusaha menangkap namja itu, namun malangnya si Ahjussi, ia malah terpentok tiang lampu jalan.

     BRUKK!!

     Ahjussi itu ambruk. Ia tak sadarkan diri. Dahinya berdarah, namun tak akan membuatnya mati.

     Suzy meringkuk ketakutan, ia terbelalak ketika melihat darah segar mengalir dari wajah sang Ahjussi. Ia menjerit histeris. Rasa takutnya terhadap darah tak dapat ia atasi.

     Namja tadi segera mendekati Suzy. Ia membawa Suzy ke dalam pelukannya.

     Suzy menenggelamkan kepalanya di dada namja itu, ia terlalu takut saat ini. Memang sebuah pelukanlah yang ia butuhkan untuk menenangkan dirinya.

     Namja itu membimbing Suzy untuk berdiri, ia tak membiarkan Suzy melihat Ahjussi yang terkapar di jalanan itu.

.

.

.

.

.

     Mereka duduk di bangku taman. Saat ini Suzy sudah merasa baikan.

     “Gomawo, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada.” Suzy berkata lesu tanpa menatap ke namja di sebelahnya.

     “Bukan masalah besar. Aku tadi ingin ke minimarket, eh tidak sengaja melihatmu sedang di ganggu Ahjussi yang sedang mabuk, jadi sekalian saja aku menolongmu.”

     “Ya, aku berterima kasih karena kau sudah menolongku dan juga terima kasih untuk yang satu lagi.” lirih Suzy. Tenaganya terkuras karena melihat darah. Hal yang sangat di takutkannya sekaligus sangat ia benci.

     “Yang satu lagi? Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

     “Kau benar-benar tak ingat?”

     “Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, Nona.”

     “Aku malu mengatakannya, tapi ya sudahlah, terima kasih karena telah memelukku tadi. Aku berhutang double padamu.”

     Namja itu terkekeh di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya. “Itu bukan masalah, lebih tepatnya aku sedang hoki bisa memeluk seorang gadis cantik sepertimu. Hehe..”

     Suzy memandang wajah namja  tersebut, ia masih tak dapat mengetahui rupa namja itu. Karena lagi-lagi lampu taman membelakanginya, sehingga cahaya tak menyorot ke wajah sang pemilik masker.

     “Ada apa, Nona?” namja itu menangkap basah kedua mata Suzy yang sedang memandanginya cukup lama.

     Suzy langsung mengalihkan pandangannya. “Oh ya, namamu siapa?” ia mengganti topik pembicaraan.

     “Namaku? Mm.. teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan ‘pabo’.”

     Suzy terkekeh, senyumnya merekah, membuatnya nampak seperti bintang yang bersinar di malam hari. “Kau lucu,”

     “Begitulah aku.”

     Namja itu memperhatikan Suzy yang sedang tersenyum sambil memandang langit.

     “Sudah sangat larut, biar kuantarkan kau ke rumahmu,” ajaknya.

     Suzy mengangguk setuju dan mengikuti namja tersebut.

     “Ayo, naik.”

     Suzy duduk di jok belakang motor ninja milik sang namja.

     “Pakai ini,” namja itu melemparkan jaket tebal miliknya beserta sebuah helm.

     “Bagaimana denganmu?” Suzy memakaikan helm itu di kepalanya namun ia sedikit tidak yakin untuk menerima jaket milik namja itu.

     “Aku sedang tidak kedinginan, kau pakai saja.”

     “Baiklah kalau itu maumu, jangan salahkan aku jika nanti kau menggigil.”

     “Itu tidak akan terjadi. Pegangan yang erat, ya.”

     Motor itu melesat dengan cepat. Jalanan sedang sepi, tidak ada lagi orang yang lalu lalang. Mungkin mereka sudah terlelap di rumahnya masing-masing, sedangkan Suzy dan pabo masih baru akan kembali ke rumah.

.

.

.

.

.

     Ada perasaan ngeri bercampur lucu jika Suzy mengingat kejadian kemarin. Ia sangat menyukai lelucon namja itu. Namja yang menolongnya semalam.

     “Suzy-ah!” seru seseorang di lantai dasar.

     Suzy keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni anak-anak tangga.

     “Bae Suzy!!” kini seruan itu terdengar mulai tak sabar.

     “Tunggu sebentar! Aku sedang menuju kesana!” Suzy mempercepat langkahnya. Kupingnya sakit mendengar seruan melengking milik sang Eomma.

     “Duduk,” perintah sang Eomma, ketika Suzy sudah berada di hadapannya.

     Ia mengangguk lalu duduk di sofa empuk di belakangnya. “Kenapa Eomma memanggilku pagi-pagi begini?”

     “Jangan banyak tanya. Diam dan dengarkan Eomma bicara!” tandasnya pedas.

     “Baik,” Suzy menunduk kesal. Ia kesal karena tidak dapat membantah perintah Eommanya—untuk yang kesekian kalinya di dalam hidupnya.

     “Kemana saja kau kemarin?” tanyanya menginterogasi.

     “Aku.. aku ada di sekolah,” bohong Suzy.

     “Tapi kenapa Manajer Kim tidak menemukanmu disana? Ia sudah mengelilingi satu sekolahan namun tak kunjung menemukanmu. Dimana kau sebenarnya?!”

     Kupingnya serasa tertusuk jarum, sakit sekali. “Aku tidak suka di antar-jemput oleh Manajer Kim, seperti anak TK saja.”

     “Yang Eomma tanya bukan itu!”

     “Baiklah, aku pergi ke rumah teman. Ia mengajakku untuk makan malam di rumahnya.”

     “Memang siapa lagi temanmu selain Kim Soeun? Tidak ada ‘kan? Eomma sudah meneleponnya kemarin menanyakan keberadaanmu, dan dia bilang sedang tidak bersamamu. Sudah cukup bohongnya! Sekarang katakan, dimana kau kemarin?!!” kini sang Eomma sudah sangat marah, sepertinya ia ingin menghajar Suzy.

     “Baiklah, baiklah.. kemarin aku pergi ke toko buku, lalu makan di Taco Bell. Setelah dari sana, aku bermain wahana di Dream Land. Aku main hingga Dream Land tutup sekitar jam 9 malam. Ternyata sudah tidak ada bus, makanya aku berjalan berkilo-kilo meter menuju ke rumah. Tapi di tengah jalan..” Suzy menatap sang Eomma dengan ragu.

     “Lanjutkan.”

     “Hmm.. aku di hadang oleh Ahjussi yang sedang mabuk. Dan.. dan..” Suzy mengingat bahwa Ahjussi itu berdarah-darah. Ia langsung meringkuk ketakutan. Matanya terpejam, berusaha untuk menghilangkan bayangan darah yang ada di benaknya.

     “Suzy-ah, Suzy-ah.,” Eomma Suzy menghampirinya lalu memeluk putri tunggalnya itu. Ia tahu apa yang menyebabkan putrinya seperti ini.

     “Maafkan Eomma, Suzy-ah..” ia mengusap kepala Suzy—penuh kelembutan, berbeda dengan sikapnya yang temperamen tadi. “Sudah, lupakan kejadian kemarin. Eomma tidak akan mengungkitnya lagi.”

     Suzy masih gemetar, bayangan darah itu tak kunjung hilang di benaknya. Perkataan sang Eomma tak dapat di cernanya dengan baik karena saat ini otaknya sedang menayangkan kembali kejadian berdarah yang di alaminya semalam.

.

.

.

.

.

     Suzy masih penasaran dengan wajah namja yang sudah menolongnya itu. Ia berharap dapat bertemu kembali dengannya. Suzy sangat ingin mempunyai teman sepertinya. Selain bisa melindungi, dia juga lucu.

     “Hmm.. pabo,” Suzy terus mengulang kata-kata itu. Ia masih tidak percaya jika namja itu mempunyai nama panggilan ‘pabo’. Jika di ingat-ingat, namja itu memiliki tahi lalat di pelipis kanannya. Hanya itu yang ia tahu.

     “Hei, pabo!” seru seseorang di dalam kelas 12-3.

     Suzy terperanjat. Apa mungkin..

     Suzy segera melirik ke dalam kelas 12-3, ia melihat seorang namja berperawakan pendek yang sedang mengejar seorang namja tinggi. Mereka berkejar-kejaran layaknya Tom & Jerry. Teman-teman sekelasnya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Saat ini sedang tidak ada guru yang mengajar di kelas, para guru sedang mengikuti rapat dadakan. Maka dari itu Suzy dapat keluyuran di lorong sekolah semaunya. CCTV selalu mengawasinya dimana pun ia pergi. Selama ia masih di dalam sekolah, CCTV tentu dengan mudah dapat menjangkau keberadaannya.

     Ah, tidak mungkin namja gendut itu yang menolongku. Suzy mengira-ngira di dalam hatinya.

     Ia terdiam menatap tahi lalat yang ada di pelipis kanan si namja berperawakan tinggi.

     Ah, itu dia! seru Suzy dalam hati.

     Baru saja ia menemukan namja yang di carinya, tiba-tiba seseorang mencolek pundaknya, “Sedang apa disini? Kau murid kelas 10 ‘kan?”

     Miss Park sudah ada di belakangnya, ia menyeringai penuh kegetiran. “Tetap disini. Ibu ingin mengurus anak-anak nakal itu dulu. Jika kau berani kabur, kau tidak akan merasakan yang namanya kelas 11!” ancamnya.

     Suzy tak dapat berkutik, ia menurut saja. Daripada tidak naik kelas, lebih baik di hukum.

     “Yaaaaa!!! Bocah-bocah tengik!” Miss Park meneriaki kedua namja Tom & Jerry tadi. “Cepat kesini kalian berdua!”

     “Hei, pabo, ini semua gara-gara kau.” keluh sang namja pendek.

     “Sudahlah, kan ada aku. Jika di hukum nanti, aku akan membantu memegangi tanganmu. Hahaha…” masih sempat-sempatnya saja namja tinggi itu melemparkan lelucon, padahal keadaan sedang tidak memungkinkan seperti saat ini.

     “Hei, kenapa malah cengengesan?!” seru Miss Park—galak.

     Kedua namja itu sudah ada di hadapan Miss Park. “Myungsoo-ssi, kau berulah lagi. Belum kapok rupanya.” Miss Park menggelengkan kepalanya—heran, ia beralih menatap namja pendek yang sedari tadi memasang muka pucat, “Kau juga!” baru mendengar kata-kata itu saja, namja itu sudah terkaget-kaget. Lucu sekali dia, “Kenapa ikut-ikutan dengan dia? Kau juga ingin di beri pelajaran?!”

     “Ti.. tidak, Bu.” jawab namja itu takut-takut. Ia menunduk terus.

     “Siapa namamu?”

     “Nama saya Shin Dong.”

     “Dasar gendut! Kalian berdua, ikut Ibu sekarang juga!”

     Miss Park berjalan lebih dulu, ia berhenti di depan pintu kelas, “Kau!” serunya kepada Suzy. “Siapa namamu?”

     “Bae Suzy imnida,” ujarnya sopan—ia kemudian membungkukkan setengah badannya baru kemudian menegakkan kembali badannya itu.

     Myungsoo menatap Suzy, kemudian tersenyum kecil. Ia tak menyangka akan bertemu gadis itu lagi.

     Suzy terus menunduk, ia sedang di beri nasihat oleh Miss Park. Sebenarnya bukan nasihat namanya jika bicaranya berapi-api seperti yang di lakukan Miss Park saat ini. Sama saja Suzy sedang di marahi habis-habisan.

     Pada akhirnya, mereka bertiga di hukum berlutut di depan kelas sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal ke atas. Sudah menjadi tradisi di Korea. Murid yang nakal akan di hukum seperti itu.

     Suzy menghela napas panjang—ia menatap lantai yang terasa dingin di kakinya. Eomma pasti sangat marah jika mengetahui hal ini, pikirnya dalam hati.

     “Hei, kita bertemu lagi.”

     Suzy mendongak ke arah suara itu berasal. Oh ya ampun! Ia sampai lupa bahwa namja itu ada disini, di hukum bersamanya.

     “Hmm.. hai, pabo?” Suzy tersenyum sekilas.

     “Lucu sekali kita bisa bertemu di waktu yang tidak baik seperti ini. Hehe..” lagi-lagi Myungsoo membuat lelucon yang mengundang tawa. Suzy terkekeh. Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan kekehannya.

     “Hentikan, bisa-bisa aku mati karena kebanyakan tertawa.”

     “Aku tidak sedang melucu, kau saja yang gampang tertawa.” elaknya.

     “Baiklah, kita sudahi sampai disini. Aku tidak ingin Miss Park memarahi kita jika ia mendengar kalau kita berisik.”

     “Psstt!” Shin Dong, namja pendek itu, mengode Myungsoo agar menengok ke arahnya.

     “Ada apa? Mengganggu saja,” ujar Myungsoo jengkel.

     “Siapa gadis itu?” bisiknya.

     Suzy penasaran dengan hal yang sedang mereka perbicarakan. Ia tak dapat menangkap satu kata pun, karena Shin Dong berbisik terlalu kecil.

     Myungsoo mengernyitkan dahinya, “Gadis itu.. bisa di bilang dia adalah seorang korban.”

     “Apa maksudmu, hah? Aku sama sekali tidak mengerti.”

     “Aku meyelamatkannya ketika dia hampir saja menjadi korban pelecehan seksual,” jelas Myungsoo. Ia berbisik terlalu dekat di kuping Shin Dong, membuat Shin Dong mulai menggeliat geli.

     “Hentikan, Myungsoo-ya, hentikan..” Shin Dong berujar cukup keras untuk di dengar oleh telinga Suzy. Ia menggeliat sambil tertawa geli.

     Melihat hal itu, Suzy malah jadi salah paham. Ia mengira kedua namja itu sedang melakukan hal yang tidak senonoh. “Kalian itu.. gay?” tanya Suzy—mengira-ngira.

     Myungsoo langsung menoyor kepala Shin Dong, menyadarkan namja itu yang sedang menggeliat seperti ulat. “Tentu tidak, kau salah paham..”

     Shin Dong menatap Myungsoo bingung, ia bertanya ‘Ada apa?’ tanpa bersuara kepada Myungsoo.

     Myungsoo memasang tampang jengkel. Ia malas berbicara dengan Shin Dong. Selalu saja lemot.

     “Kami berteman, aku ini normal.. sangat menyukai wanita,” ujar Myungsoo dengan senyuman yang garing. “Mungkin dia yang abnormal. Liat saja badannya, pendek tak berbentuk. Fungsi otaknya juga di bawah rata-rata. Tahunya hanya makan saja!” Myungsoo membela dirinya di hadapan Suzy.

     Suzy tertawa mendengar hal itu. Sungguh lucu.

     Shin Dong tidak terima dengan ejekan Myungsoo, ia tak mau kalah, ia juga berusaha membela dirinya, “Kau kali yang abnormal. Tiap hari kerjaannya menguntit seorang wanita. Kemana pun dia pergi, kau selalu saja mengikutinya. Dasar tidak waras! Nilaimu juga jelek terus, masih mending aku. Biar gendut begini, aku pintar. Dasar, pabo!”

     GLEK!!

     Suzy yang sedang tertawa, tiba-tiba saja tersedak ketika mendengar kalimat Shin Dong mengenai Myungsoo.

     Shin Dong telah mengungkapkan aib terbesar Myungsoo, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu reaksi dari Suzy.

     Suzy memaksakan tersenyum ke arah Myungsoo. Ia sedang memikirkan kalimat yang di ucapkan oleh Shin Dong tadi soal Myungsoo.

     Hmm.. menguntit seorang wanita, ya.. sepertinya ia sudah memiliki orang yang ia sukai, batin Suzy dalam hati.

     3 jam pelajaran berlalu dengan cepat, bel istirahat sudah berbunyi saja. Padahal Suzy masih ingin bersama dengan Myungsoo, walau dengan posisi kaki berlutut dan tangan terkepal di angkat ke atas.

     Sudahlah, mungkin Myungsoo bukan namja yang tepat untuknya. Padahal ia sempat berharap banyak kepada Myungsoo karena telah menyelamatkannya waktu itu.

.

.

.

.

.

     “Apa-apaan kau ini?!” Myungsoo memarahi Shin Dong saat mereka duduk berdua di kelas yang sudah sepi. Seluruh isi kelas sedang ke kantin—santap siang.

     “Apanya yang apa-apaan?” Shin Dong balik bertanya.

     “Memangnya kapan aku menguntit wanita?” Myungsoo tidak terima jika di fitnah seperti ini oleh sahabatnya sendiri.

     “Memang benar ‘kan?!” Shin Dong tak mau kalah, ia meninggikan nada suaranya.

     “Memang kau ada bukti?”

     “Aku melihatmu mengendarai motor ninjamu mengikuti Soeun.”

     “Apa?” Myungsoo berkata namun seperti berbisik.

     “Saat itu Soeun baru saja keluar dari gerbang sekolah, ia berjalan sendirian karena mungkin tidak ada yang menjemput. Diam-diam kau mengikutinya dari belakang. Dan kau.. masuk ke dalam sana. Ke dalam rumah Soeun. Sebenarnya apa yang kau lakukan?”

     “Kau tahu aku mengikuti Soeun, lantas kenapa kau juga mengikutinya? Apa kau menyimpan perasaan suka terhadapnya?” Myungsoo menatap Shin Dong curiga.

     “Hei, jangan mengalihkan pembicaraan seperti itu. Cepat katakan apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Soeun?!”

     “Sebenarnya kami tinggal satu rumah,”

     “Apa?!!!” Shin Dong berkata dengan histeris, matanya terbelalak—tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

     Di luar sana, ternyata Suzy mendengar semua percakapan Shin Dong dan Myungsoo. Betapa sakit hatinya ketika mendengar bahwa Soeun, sahabatnya sendiri, tinggal dengan orang yang di sukainya. Hancur sudah.. kenapa harus Soeun?!

.

.

To be continue…


Chapter 1 selesai, tinggal nunggu penciptaan satu chapter terakhir. Mohon di tunggu ya. Thanks.

Salam, ohohmr

4 responses to “[TWO SHOOT] A SECRET FACE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s