Clash (Chapter 6)

FF Clash .

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Bae Suzy
  • Kim Jiwon

Support Cast :

  • Krystal Jung
  • Naeun
  • Fei

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Credit Poster : LeeHye

.

.

Jiyeon menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pandangannya yang mulai berkunang-kunang. Ia tertinggal beberapa langkah dari teman-temannya, karena itu Jiyeon mencoba mengejar langkah kaki teman-temannya.

Namun apa daya tubuh menentang, Jiyeon terkulai lemah. Tangannya mulai memegang dadanya yang terasa perih. Ia masih dalam keadaan sadar. Namun semuanya terlihat kabur di mata Jiyeon.

Dalam pandangannya itu ia dapat melihat Kim Taehyung berdiri tepat di hadapannya. Jiyeon, ia bersimpuh, terlihat seperti sedang memohon ampun pada Taehyung.

“Taehyung…”

 

Taehyung’s PoV

I’m still learning to love. Just starting to crawl.

 

“Taehyung…”

 

Mati rasa. Ibaratkan saja seperti itu. Mendengarnya merintih sedikit menarik rasa simpatiku. Melihatnya terkulai lemah, mencairkan es di hatiku.

Sorot mataku lurus terhadap Jiyeon. Gadis itu terlihat kesulitan bernafas. Rambutnya sedikit basah. Kepalanya mencoba ia dongakan seolah hal itu bisa mengurangi rasa sesaknya.

“Tae—hyung—jaebal—“

Racaunya tersendat. Ia berusaha mencoba berbicara denganku sayang kalimat terakhirnya tak mampu didengar, hanya terucap oleh gerakan bibir.

 

“JIYEON!”

 

Lantas ada suara nyaring memekakkan telinga. Gadis dengan rambut ikal -yang biasanya jalan dengan Jiyeon- segera bergegas mendekati Jiyeon. Gadis bernama Krystal itu menyandarkan kepala Jiyeon di kedua pahanya. Wajahnya panik dengan mata yang berkaca-kaca.

Ya! Oksigen! Oksigen!” teriaknya tak karuan.

Seketika sebagian temanku bergerombol mendekati mereka. Yang tadinya sudah lumayan berlari jauh, kini mengerubungi Jiyeon. Sementara Suzy berlari mencari tabung oksigen ke Ruang Kesehatan.

“Jangan dirubungi!” kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. Bahkan terdengar seperti bentakan, “Jika ada ‘seperti itu’ jangan dirubungi!” ulangku.

Sejenak mereka menatapku heran. Namun entah mengapa setelah itu teman-temanku menuruti perkataanku. Sebagian dari mereka menjauhi Jiyeon yang kini tengah menghirup oksigen dari inhaler yang dibawakan Suzy.

Aku menyempatkan untuk memandangnya sejenak, sebelum akhirnya aku ikut menjauhi gadis itu. Berjalan lunglai secara tiba-tiba. Dan hatiku seolah ikut merasakan apa yang dia rasakan.

Seperti itukah diriku ketika asma ini kambuh?

—o0o—

Bel pergantian pelajaran untuk yang kelima kalinya menggema di seluruh penjuru sekolah. Aku yang termangu memperhatikan bangku kosong yang berada paling depan. Nafasku berhembus terasa berat.

Guru Lee menyudahi pertemuan pelajarannya. Setelah wanita tua itu dipastikan sudah keluar pintu kelas, teman-temanku mulai rebut. Ada yang membahas tugas yang belum dikerjakan atau ada yang menguap lebar atau bergosip biasa. Namun yang aku tangkap sebagian besar dari mereka tengah membahas kejadian yang menimpa Jiyeon pagi tadi.

Gadis itu masih tertidur pulas di Ruang Kesehatan. Begitulah yang aku dengar. Wait, mengapa aku jadi peduli seperti ini? Oh ayolah, dia adalah seorang Park Jiyeon. Gadis yang disukai oleh Kim Myungsoo. Ah, tidak! Gadis yang disukai oleh bahan bully-anku masa SMP.

Aku menggelengkan kepalaku sembari berteriak jengah.

Mwoya~?” tanya Woohyun mungkin merasa terganggu dengan sikapku.

“Aku mengantuk,” sahutku asal.

YA~ kukira ada apa~” dengus Woohyun.

“Aku akan mengecek kondisi Jiyeon,” suara berat itu menarik perhatianku.

Jelas saja aku mengerutkan kedua alisku pada sosok jangkung yang sudah beranjak dari kursi. Jin, si ketua kelas dengan gaya sok bijak –menurutku-.

Namun belum saja Jin melangkah satu kaki, pintu kelas berderik terbuka. Membuat suasana kelas hening. Dan batang hidungnya muncul mengagetkan kami semua.

Park Jiyeon dengan rambut terurai berantakan. Kemeja kusut, dasi tidak dipakai, dan kantung mata yang tertera jelas menyeret kakinya seraya duduk kembali di bangku paling depan. Haha, bangku itu sudah tak kosong lagi.

Tak ada yang berani memberikan komentar. Kami kembali sibuk ke aktivitas semula. Jin hanya mengangkat bahu dan kembali duduk.

Ekor mataku masih melihat gadis berantakan itu. Aku yakin ia berjalan dari Ruang Kesehatan menuju kelas dalam kondisi setengah sadar, dilihat dari posisinya yang kini menelungkupkan kedua tangan di atas meja.

Jika itu aku, sudah dipastikan aku akan tidur seharian di Ruang Kesehatan. Hitung-hitung bolos satu hari full dari sekolah. Aku hanya mendecakkan lidah.

—o0o—

Sial, aku mengumpat kesekian kalinya dalam hati. Membodohi ketelodoranku. Kedua kakiku melangkah cepat. Bisa-bisanya aku melupakan buku sketsa yang kini entah bagaimana nasibnya di kelas.

Begitu mendobrak pintu kelas dengan kesal, aku terdiam di ambang pintu. Kukira kelas sudah kosong. Ternyata sesosok gadis masih ada di sudut kelas. Dia bahkan berada di bangkuku. Duduk manis asyik membolak-balikkan kertas.

Rambutnya kecoklatan tertimpa sinar matahari yang masuk melalui jendela kelas. Wajah pucatnya tertutupi oleh senyumannya. Ia sudah terihat lebih sehat. Sungguh berbeda dengan apa yang kulihat ketika ia bersimpuh lemah di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan?”

Pertanyaanku membuatnya terlonjak dari kursi. Rupanya dia tidak menyadari kehadiranku.

YA! Kukira kau setan!” ia menutup sebuah buku dengan gelagapan sambil mengelus dadanya.

Aku mengarahkan dagu ke buku bersampulkan warna hitam yang telah ia pegang, “Kembalikan itu.”

Mwo?” polosnya.

Dengan kasar aku menyambar buku tebal itu dari tangan mungilnya sedikit menggoyahkan tubuh gadis itu ke depan. Bahkan dapat kudengar ia mendengus sembari mengerucutkan bibirnya kesal.

Acuh tak acuh aku membalikkan badan. Tujuanku hanya mengambil buku sketsaku yang tertinggal. Namun…

“Ayam babon.”

Pendengaranku masih normal untuk bisa mendengar ledekannya. Mungkin ia tidak menyadari kekesalanku, karena ia hanya melengos melewatiku, meraih tas punggungnya dan hendak meninggalkan kelas.

“Nugu nde?!” bentakku. “Siapa yang kau sebut ayam babon?!”

Suaraku menggema dalam kelas ini. Kini aku bersitatap dengan punggung Jiyeong sampai gadis bertubuh ramping itu kembali berhadapan denganku.

“Seharusnya kau tau,” tak ada ketakutan di garis bola matanya, “Di kelas ini hanya ada aku—dan kau.”

YA!”

Baru kali ini ada seseorang yang berani membalasan tatapanku. Yang berani mengataiku. Yang berani menyahut pertanyaanku dengan enteng. Lebih malunya lagi dia seorang perempuan.

Perlahan aku mendekatinya. Menyudutkannya hingga pintu kelas tertutup karena tersentuh punggungnya. Tubuh gadis itu mungkin bergetar, tetapi bola matanya intens menatapku.

“Jika aku ayam babon, maka kau bebek buruk rupa,” cetusku tanpa disaring terlebih dahulu.

Wae? Biasanya kau tidak marah jika kukatai seperti itu?” ucapannya tak ada keraguan. “Apa kau sekarang benar-benar merasa tersindir?”

Aku marah karena kau berani menatapku dengan pandangan seperti itu. Aku tidak suka. Dulu saat SMP, setiap orang akan tunduk setelah kutusuk dengan tatapan tajamku. Tapi gadis ini?

“Berhenti menatapku seperti itu.”

Aneh, ucapanku sedikit mengerutkan alisnya.

“Kau…” sepertinya iblis dalam jiwaku bangun bernafsu meledeknya, “… gadis culun. Tidak bisa berbaur dengan yang lain. Kau hanya bergantung pada Suzy dan Krystal. Pendiam, menutup diri, dan pemalu.”

Mwo?”

“Kau juga—selalu tidak percaya diri. Menganggap dirimu yang paling kesepian. Bersikap seolah tak ada yang mau berteman denganmu—“

Ah, aku baru sadar Jiyeon memiliki bola mata berwarna abu-abu. Dan sorot matanya berubah menjadi lebih menyeramkan mendengar ucapanku. Dia sendiri membiarkanku melanjutkan kalimat bullshit ini.

“—dengan kata lain kau itu pecundang. Pecundang yang gagal mendapatkan teman banyak.”

Hening… lalu “Argghhh!”

Dapat kurasakan kaki Jiyeon menginjak salah satu kakiku dengan keras. Sakitnya minta ampun hingga aku meloncat tak jelas. Tanganku mengangkat kakiku mencoba untuk mengelusnya.

“Aku—“ Jiyeon berhenti sejenak, ia menarik nafas dan kembali berkata, “—aku benar-benar tidak menyukaimu.”

—o0o—

“Untuk apa kau memanggilku?” ujarku menyandarkan diri di tembok dimana banyak tumbuhan lumut.

Pria di hadapanku menyilangkan kedua tangannya. Mencoba bersikap tenang untuk menjawab pertanyaanku.

“Aku akan langsung ke masalahnya,” sahutnya to the point. “Kau melakukan apa pada Jiyeon kemarin sepulang sekolah?”

“Cih,” aku menarik salah satu sudut bibirku. Antara lucu menganggap itu guyonan.

“Jawab aku,” tegasnya.

“Kau sudah berbeda, Myungsoo,” ucapku malah mempermainkannya.

“Jawab pertanyaanku,” ada penekanan di setiap kata.

“Myungsoo yang kukenal di SMP sepertinya sudah menghilang. Apa GJ Club di SMA ini memaksamu untuk bersikap tegas seperti ini? Eoh?” –lagi- kata-kata menyakitkan ini meluncur begitu saja seolah mulutku memang diciptakan tanpa saringan.

“Jangan membawa nama club di sini. Aku bertanya tentang Jiyeon.”

GJ Club salah satu club yang terkenal garang di SMA ini. Tidak mudah untuk memasuki club ini. Hanya mereka yang lolos dari shock teraphy senior yang bisa resmi menjadi anggota dari GJ Club.

Aku tertawa sinis mendengarnya.

“Kau masih bisa mempermainkanku?” ujar Myungsoo naik darah.

Kedua matanya melotot. Urat di sekitar tangannya terlihat siap memukulku.

“Terlalu banyak perbedaan yang gila di SMA ini,” jujurku.

“Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, Kim Taehyung.”

“Ckckck, itu sulit,” akuku, “Keure… entah apa yang sudah diadukan Jiyeon padamu—“ aku sengaja menggantungkan kalimatku sembari mendekati Myungsoo, tidak mau kalah dengan mata elangnya.

“—tetapi sudah kuperingatkan dari awal bukan? Bagaimana usahamu untuk melindunginya dariku?” gaya bicaraku sama persis ketika aku mengucapkan kalimat terakhir itu. Dalam penuh makna.

 

BUGH!

 

Kepalaku terasa melayang mendapat tonjokan yang tak terduga. Pipiku memerah dengan darah di sudut bibir. Aku menghela nafas kasar tak menyangka lelaki ini akan mengeluarkan bogemnya.

Kim Myungsoo berdiri tegap di hadapanku. Menusuku dengan tatapan lasernya. Kepalan tangannya bergetar. Kedua matanya memerah.

“Kau tidak tau bagaimana jika seorang pria sudah mencintai perempuan,” kata-katanya sedingin es.

“Aiisshh.”

Giliran kesabaranku yang menguap. Aku menarik kedua kerah mejanya. Mengangkat sedikit tubuhnya. Jarak wajah kami terpaut beberapa centi saja. Kami saling bertukar pandang sengit.

 

“Sudah cukup!!!”

 

Pekikan suara itu menolehkan kepala kami berdua. Masing-masing dari kami kompak menyebut namanya, “Jiyeon?”

-TBC-

Hara gak nyangka udah satu bulan lebih Hara gak update. Hara mau minta maaf soalnya telatnya pake bangeettt. Sekarang baru di Chapter 6, masih panjang kisah cinta mereka huehue. Nahlo, itu beneran gak ya Jiyeon ngadu ke Myungsoo, masa iya sih Jiyeon segitunya? Taehyung bertengkar mulu ah sama Myungsoo and Jiyeon, hehe judulnya aja Clash. Kalau masih penasaran ditunggu next chapter, okay? Xiexie ^^

 

47 responses to “Clash (Chapter 6)

  1. Wah wah taehyung kenapa omonganx selalu ngak enak sih, ngak pernah di saring dulu 😕
    myung kelihatan banget suka sama jiyi 😊seneng tapi kalo kaya gitih si taehyung bakalan gangguin jiyi terus pasti 😑

  2. gila makin seru aja suka deh😀
    anyway buku sketsa nya taehyung isinya apa ya? kok jiyeon ngeliatnya sambil senyam-senyum gitu sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s