[Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime

LINAC 1

Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

[11] [12] [13]


Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19 / Laykim

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Sorry update-nya lamaaaaa pake bingit. Yang mau komen, silahkan. Yang gak komen ya udah…

Sorry for typos

Tap tap tap!
Myungsoo menginjakkan sepatu mahalnya di atas lantai ruang kerja yang menemaninya hampir 4 tahun dalam menjalankn tugas sebagai putra presiden dan Menteri Pertahanan Korea Utara. Laki-laki tampan itu berdiri mematung di belakang jendela dan matanya menerawang jauh entah ke mana. Dia tampak sedang melihat sesuatu yang berada nan jauh di sana, namun sebenarnya ada sesuatu yang sedang bersarang di pikirannya. Hanya Myungsoo sendiri yang tahu tentang pikirannya.

Tok tok tok!
Bunyi ketukan pintu terdengar sangat nyaring hingga dapat memekakkan telinga Myungsoo. Dia terperanjat kaget mendengar suara nyaring itu secara tiba-tiba. Tanpa ia membuka suara untuk menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk, tiba-tiba muncul seorang laki-laki jangkung. Siapa lagi kalau bukan Kim Jaejoong. Dua laki-laki tampan sedang berada di satu ruangan dan tengah menikmati pemandangan langit yang tampak dari balik jendela. Jaejoong berdiri di samping Myungsoo. Sesaat dia memejamkan kedua matanya dan menarik nafas panjang hanya untuk menenangkan pikirannya. Sedikit tenang, itulah yang dirasakannya saat ini.

“Ada apa, hyung?” tanya Myungsoo yang tidak ingin berada dalam keheningan bersama seorang Jaejoong.
Jaejoong menoleh ke arah Myungsoo. “Hari yang kau nantikan akan tiba,” jawab Jaejoong yang menyunggingkan senyum manisnya.
“Hari apa?” tanya Myungsoo polos.
Pleetaakk!
“Yaak, kenapa kau malah memukulku? Aku tidak tahu maksud pembicaraanmu itu. Makanya aku bertanya padamu.” Myungsoo mengusap puncak kepalanya yang dipukul oleh Jaejoong.
“Sebentar lagi kau akan menikah. Jangan berlagak bodoh seperti itu. Kau bksa bodoh beneran.
Myungsoo terdiam setelah dia mendengar kata ‘menikah’ dari mulut Jaejoong. Ya, Myungsoo akan menikah dengan seorang gadis yang telah mendampinginya selama 2 tahun terakhir.

“Apa Soo Hee tidak memberitahukanmu mengenai hal ini?”
Myungsoo menatap Jaejoong lalu menggeleng pelan. ‘Secepat itukah?’ tanya Myungsoo dalam hati.
“Tak terasa sudah 2 tahun berlalu. Selama itu pula, aku masih sangat mengingat seorang gadis yang selalu bersama kita. Semoga dia diterima di surga.” Jaejoong menatap kosong pada langit yang saat itu berangsur-angsur menjadi gelap. Sedangkan Myungsoo menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kesedihan di hatinya.

Beralih ke kediaman keluarga Park.
Soo Hee sibuk menghubungi butik, tempat catering, dan lain-lain untuk mengecek kesiapan mereka untuk melayani pesanannya tempo lalu. 3 hari lagi dia akan menikah dengan Kim Myungsoo, putra tunggal Presiden Korut yang sebentar lagi akan lengser.

“Semuanya sudah selesai?” tanya Soo Hee melalui sambungan telepon. Ia baru saja menghubungi tempat catering dan sekarang tengah menghubungi butik baju pengantinnya. “Baguslah, aku suka cara kerja kalian. Ingat, pernikahanku 3 hari lagi. Jangan sampai gaunku terlupakan. Ne, gamsahamnida.”
Klik!
Sambungan telepon telah terputus. Soo Hee pun menyunggingkan senyum senangnya. “Akhirnya… setelah sekian lama, aku bisa menikah dengan Myungsoo oppa.” Tiba-tiba dia teringat sesuatu hingga memudarkan senyumnya sendiri. Ya, Soo Hee ingat perjanjiannya dengan Kim Myungsoo saat mereka menikah nanti. “Semoga semuanya baik-baik saja,” gumamnya.

Satu hari telah berlalu.
“Myungsoo-a, kau sudah tahu tentang hal itu?” tanya Jaejoong yang lagi-lagi mendatangi Myungsoo di ruang kerjanya.
Myungsoo mendesah kasar. “Kenapa kau datang lagi, hyung?” Myungsoo melempar berkas laporannya di atas meja kerjanya dengan kasar. Lalu pandangannya beralih ke sosok Jaejoong.

“Yoon Soo Hee akan menjadi salah satu kandidat calon presiden Korsel.”
Myungsoo langsung mengerutkan keningnya. Dia nampak sedikit terkejut mendengar kabar itu.

“Ekspresimu itu menunjukkan kalau kau memang belum tahu…”
“Dia tidak mengatakannya padaku. Atau mungkin belum dia katakan?” tanya Myungsoo.
Jaejoong mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Tapi sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan. Kita harus waspada pada apa yang akan terjadi. Aku jadi ingat tentang kelakuan busuk si Haeri.”
“Bukankah sudah berulang kali ku peringatkan, jangan sebut nama itu lagi di depanku. Wanita itu layak untuk mendapat balasan atas semua perbuatannya. Aku tidak pernah melupakan kekejamannya terhadap Gongju dan Kyung Ho saem.”

Jaejoong termenung mendengar nama Gongju. Ia sangat merindukan adiknya yang satu itu. Tak terasa airmatanya meleleh.

“Hyung, kau baik-baik saja?”
“Ah, ne. Aku baik-baik saja.”
“Hyung, kita semua merindukan Gongju dan Kyung Ho saem. Tapi mereka sudah tidak ada. Kita juga tidak mungkin meratapi kepergian mereka selamanya. Hatiku pun sangat hancur. Gongju adalah nyawaku. Jika dia sudah tidak ada, nyawaku pun tinggal separuh.” Myungsoo menundukkan kepala untuk menyembunyikan airmata yang menitik dari sudut matanya.

“Kau benar, Myung. Mari kita fokus lagi pada rencana kita. Rencana ini akan membalaskan kematian Gongju dan Kyung Ho saem.” Jaejoong menepuk bahu Myungsoo. Laki-laki itupun tersenyum tipis.

Myungsoo pun membalasnya dengan senyum tipis. “Aku akan membuat Selatan bertekuk lutut di depanku,” ketus Myungsoo. Kalimat itu ia lontarkan begitu saja tanpa dicerna lebih dulu.

“Sabarlah, Myung… Waktu yang akan menjawab semuanya.”

Di sebuah gereja yang terletak jauh dari kota Seoul, seorang gadis sedang berbincang dengan beberapa biarawati yang baru selesai sembahyang. Dia tampak cantik dengan pakaian serba putih, berlengan panjang dan rok sepanjang lutut. Rambutnya yang terurai panjang menambah kecantikan alami yang terpancar dari gadis bermarga Park itu.

“Aku sangat berterimakasih kepada Anda semua. Berkat doa dan usaha dari para biarawati di sini, aku bisa selamat dari maut 2 tahun yang lalu,” kata gadis itu dengan sopan.

“Jangan seperti itu, Jiyeon-a. Kami ikhlas membantumu. Kau adalah orang baik. Jadi, selayaknyalah kami menolongmu. Ibumu, Park Soo Jin adalah orang yang membangun gereja ini. Dia sama sekali tidak meminta apapun sebagai imbalannya. Baru saat kau keracunan itulah Nyonya Soo Jin meminta bantuan kami. Tentu saja kami bersedia menolong,” terang salah seorang biarawati. Sedangkan biarawati yang lain hanya tersenyum, tanda mengiyakan bahwa apa yang dikatak oleh biarawati itu benar adanya.

Jiyeon tersenyum manis, senyum khasnya. “Syukurlah kalau ternyata kita sama sekali tidak ada hutang budi. Biarawati di sini sangatlah baik padaku. Aku senang tinggal di sini.”

“Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun, Jiyeon-a.” Terdengar suara wanita paruh baya dari arah belakang Jiyeon.

Jiyeon dan para biarawati itu menoleh ke arah sumber suara. Rupanya kepala biarawati yang mengatakan kalimat itu.
Jiyeon tersenyum. Dia senang melihat biarawati yang telah sembuh dari sakitnya beberapa hari yang lalu.

Kepala biawarati itu mendekati Jiyeon lalu memeluknya layaknya seorang ibu yang memeluk anaknya. Pelukan hangat dan penuh kasih sayang.
“Aku telah mengenalmu ketika kau baru dilahirkan, Park Jiyeon.”

Deg!
Jiyeon terkejut mendengarnya. “Apa maksud kepala biarawati?” tanya Jiyeon yang telah melepaskan pelukan sang kepala biarawati.

Wanita paruh baya itu tersenyum. Namun sesaat kemudian senyum itu berangsur-angsur hilang.

Jiyeon dan beberapa orang biarawati menanti penjelasan dari Sang Kepala biarawati.
Tak lama kemudian, biarawati mulai menceritakan kejadian yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu.

Flashback
Malam ini adalah malam yang spesial untuk keluarga Park. Bagaimana tidak? Kedua istri tuan Park sedang berada di kamar masing-masing untuk melahirkan anak mereka. Park Soo Jin dan Haeri akan melahirkan bayi mereka.
Tuan Park gelisah menanti kelahiran bayinya. Kedua istri yang melahirkandi waktu yang sama benar-benar suatu kebetulan yang jarang sekali terjadi. Laki-laki paruh baya itu berjalan mondar mandir untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Selain itu, dia juga sedang menunggu kedatangan seorang cenayang yang akan meramalkan nasib kedua anaknya nanti kalau sudah lahir.

Tak lama kemudian, cenayang yang dinantu Tuan Park datang. Cenyang itu datang seorang diri ke kediaman keluarga Park.

“Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Park,” cenayang itu menjabat tangan Tuan Park.
“Senang bertemu denganmu, tuan Lee.” Kepala keluarga Park itu meraih tangan tuan Lee dan menepuk bahunya.
“Aku bisa merasakan ada aura hitam menyelimuti kediamanmu ini, Tuan.”
Tuan Park mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”
“Aku mendapat petunjuk tentang masa depan anakmu kelak. Salah seorang istrimu harus melahirkan seorang putera.”
“Kenapa begitu?”
“Kedua istri Anda akan melahirkan bayi mereka di waktu yang bersamaan. Maka salah satu dari bayi itu harus berjenis kelamin laki-laki. Kalau hal itu tidak terjadi, maka…”
“Maka apa yang akan terjadi?” Ekspresi wajah Tuan Park tampak serius.
“Jika kedua istrimu melahirkan dua orang putri, maka salah satunya harus dibunuh. Malam ini adalah malam yang buruk untuk keluarga Anda. Tapi, jika yang akan lahir adalah seorang putra maka malam ini bukaalah malam yang buruk untuk keluarga Park.”
“Maksudmu malam buruk apa? Apa yang akan terjadi jika mereka melahirkan dua orang putri?” tanya Tuan Park serius.

Sang cenayang terdiam. Dia sedang memilih kata-kata yangvtepat untuk dikatakan pada tuan Park. “Tuanku, jika para nyonya melahirkan dua orang putri, maka keluaramga Anda akan dirundung kesedihan dan negara kita akan hancur. Saya juga tidak tahu kapan semua itu akan terjadi. Hanya bayang-bayang tentang itulah yang terlintas di dalam mimpi saya.”

Tuan Park resah dan gelisah. Bagaimana tidak? Kepercayaannya pada kemampuan cenayang sangatlah tinggi. Meski saat ini berbagai teknologi canggih berhasil diciptakan oleh para manusia hebat, Tuan Park tetap saja percaya pada hal-hal yang bersifat takhayul. “Lalu bagaimana jika kedua istriku melahirkan bayi perempuan?”

Sang cenayang bersiap untuk menjawab pertanyaan dari tuan Park namun tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka dan mengatakan bahwa kedua istri tuan Park telah melahirkan bayi perempuan yang cantik. Kedua bayi itu sehat dan normal. Pelayan itu mengatakan perihal kelahiran dua putri yang baru saja lahir kepada Tuan Park. Bukannya senang, tuan Park malah kelihatan bingung.

“Siapa yang melahirkan bayi perempuan?” tanya tuan Park pada pelayan itu.
“Kedua istri Anda, Tuan.”
Jlegeerrr!!
Petir menyambar-nyambar dalam hati tuan Park. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

“Tuan Lee, bagaimana ini? Apakah tidak apa-apa?” tanya Tuan Park gugup dan takut setengah mati.

“Salah satu dari mereka harus dibunuh, Tuan. Putri yang memiliki ramalan tidak bagus harus dibunuh,” terang Tuan Lee selaku cenayang. Dia sangat menyesal mengatakan hal ini pada Tuan Park. “Ayo kita lihat dulu siapa yang memiliki ramalan paling buruk.”

Dua orang laki-laki paruh baya itu melangkah pergi menuju salah satu kamar tempat bersalin. Kebetulan tempat pertama yang menjadi tujuan adalah kamar Haeri. Haeri terkejut melihat tuan Park datang bersama seorang cenayang.

“Apa yang kau lakukan di sini? Menjauh dari putriku!” teriak Haeri yang keburu histeris karena takut kalau cenayang itu akan membunuh putri yang baru dilahirkannya.

“Tenang, Nyonya. Saya hanya ingin melihat bayi Anda,” terang cenayang yang bermarga Lee itu.

“Tidak! Pergilah ke kamar Soo Jin. Bayinya yang memiliki nasib buruk, bukan bayiku.”

Setelah menuruti kemauan Haeri, tuan Park dan cenayang Lee mendatangi kamar Park Soo Jin. Wanita itu juga telah melahirkan seorang putri yang cantik. Cenayang Lee telah meramal nasib bayi itu. Tak ada tanda-tanda bahwa bayi itu akan menjadi mala petaka bagi Korsel.

“Bayi nyonya Soo Jin tidak memiliki pertanda buruk, apakah ini artinya bayi nyonya Haeri yang akan membawa nasib buruk bagi Korsel?” gumam cenayang Lee yang telah duduk di ruang tamu seorang diri. Selesai meramal nasib bayi mungil Soo Jin, cenayang Lee duduk di ruang tamu guna merenungi apa yang baru saja dilihatnya. Jika bukan bayi Soo Jin, berarti bayi Haeri yang harus dibunuh.

Ceekleeekk!!
Suara pintu yang baru saja terbuka berhasil mengagetkan cenayang Lee. Rupanya Haeri keluar dari kamarnya. Dia mengendap-endap keluar dari kamarnya seperti seorang perampok yang hendak memasuki rumah korbannya.

“Nyonya….”
“Ssstt!” Haeri memyuruh cenayang Lee untuk menutup mulutnya.
“Apa yang sedang nyonya lakukan?”
“Cenayang Lee, bayi siapa yang memiliki nasib buruk?”
Cenayang Lee terdiam, dia bingung bagaimana cara menjelaskan perihal ramalan itu pada Haeri.
“Bagaimana?” tanya Haeri lagi.
“Saya telah melihat ramalan bayi nyonya Soo Jin. Tak ada pertanda buruk pada bayi itu.”
“Apakah artinya bayiku yang bernasib buruk?”
Cenayang Lee tak menjawab dengan kata-kata namun dia menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Tidak bisa. Kau harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau bayiku dilenyapkan. Dia baru saja lahir. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakitinya.”
“Tapi, Nyonya….”
“Tidak! Aku ingin bayi Soo Jin yang dibunuh.”
“Tidak bisa, Nyonya.”
“Wae? Jika kau tidak mau, aku akan mengatakan kalau kau berdusta tentang nasib buruk yang akan menimpa salah satu putri keluarga Park dan Korsel.”
“Nyonya….”
“Maka dari itu, lakukan apa yang aku minta. Bunuh bayi Soo Jin. Katakan pada semua orang bahwa bayinya lah yang akan membawa nasib buruk bagi Korsel.”
“Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa membunuh bayi yang tak berdosa.” Cenayang itu menundukkan kepalanya saat meminta maaf pada Haeri.

“Apa? Tidak bisa? Baiklah, aku yang akan mengatakannya pada Soo Jin. Aku juga akan membunuh bayi itu dengan tanganku sendiri.” Haeri bergegas menuju kamar Soo Jin.

Braakk!!
Tuan Park dan Soo Jin terkaget akibat mendengar gebrakan pintu yang dibuka dari luar sekeras mungkin.

“Haeri, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Soo Jin yang tentu saja merasa jengkel karena ulah Haeri.

“Bayimu harus dibunuh. Dia yang akan menyebabkan musibah dan masalah di Korsel. Putrimu harus segera dilenyapkan.”

“Bukan bayiku. Dia tidak bersalah. Tolong jangan sentuh bayiku!”

Haeri merebut Jiyeon dari tangan Soo Jin. Kemudian dia mengambil sebuah tusuk konde kecil dan menusukkannya ke dada kiri bayi Soo Jin.

“Tidaaaakkk!! Jangan bunuh bayiku!” teriak Soo Jin yang sangat histeris melihat bayi canyiknya ditusuk oleh Haeri dengan begitu mudah. Bayi itu nampak tak bergerak sedikit pun, tak menangis dan terus saja menutup kedua matanya. “Jangan sentuh dia!” Soo Jin merebut bayinya dari tangan Haeri. Dia menangis sejadi-jadinya saat melihat bayi itu tak menghembuskan nafasnya lagi.

Soo Jin harus merelakan kepergian bayi yang baru ia lahirkan. Ditemani oleh Taehee, Soo Jin meratapi kepergian putrinya. Tidak mungkin putrinya harus meninggal dalam waktu sesingkat itu. Ia yakin putrinya akan memiliki umur panjang namun sampai saat ini bayi itu tetap diam tak nergerak, tak berkedip dan tak bersuara sedikitpun.

“Aku tidak ingin mengubur jasad bayiku. Aku tidak ingin tubuhnya rusak. Cukup luka tusukan ini yang membekas di dada putriku.”

“Nyonya, saya punya rencana. Mungkin Anda akan setuju dengan saya.”

Taehee membisikkan sesuatu di telinga Soo Jin. Ia pun mengangguk setelah diberitahu oleh Taehee bahwa bayi itu bisa diletakkan di mana saja asalkan cepat ditemukan oleh orang lain. Akhirnya Soo Jin menuruti kata Taehee. Ia memberikan selimut yang cukup hangat untuk bayi mungilnya. Kemudian Taehee memberikan selimut hangat pada Jaejoong kecil.

Mereka telah selesai menyiapkan sesuatu untuk bayi Soo Jin. Soo Jin pun telah siap membuang bayinya. Dia ditemani oleh Taeyeon, adik kandung Taehee. Taehee sengaja tidak menemani Soo Jin karena pada saat dia sedang menyiapkan selimut untuk Jaejoong kecil, Haeri mengawasi gerak geriknya dengan sangat ketat. Hal itu membuat Taehee tidak bisa pergi ke mana pun, termasuk mengantar putera semata wayangnya pergi menemani bayi Soo Jin.

Soo Jin dan Taeyeon berjalan menyusuri lorong-lorong jalan pintas menuju mini market. Sebenarnya mereka ingin pergi ke rumah sakit tapi niat itu telah diurungkan, mengingat penjagaan di rumah sakit sangat ketat. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke mini market dengan harapan ada mobil box yang berhenti di depan mini market.

Sesampainya di tempat tujuan, Soo Jin dan Taeyeon tidak melihat adanya mobil box melainkan mobil ambulance yang terparkir rapi di depan mini market.

“Taeyeon-a, apakah aku harus meletakkan bayiku di dalam mobil ambulance itu? Kita tidak menemukan mobil box,” lirih Soo Jin yang takut suaranya akan didengar oleh orang lain.

Taeyeon tidak segera membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sederhana yang dilontarkan oleh Soo Jin. Dia melihat keadaan sekitar mereka. Benar, tidak ada mobil box. Hanya ada mobil ambulance yang terparkir di depan mini market. Mungkin petugas medis sedang menangani seseorang yang perlu bantuan mereka.

“Benar, Nyonya. Tidak ada pilihan lain. Jaejoong dan putri nyonya….” Taeyeon menggantung kalimatnya karena dirinya tidak tahu nama bayi Soo Jin yang ingin dibuang.

“Aku beri nama Park Jiyeon. Ya, nama yang indah. Tidak peduli apapun arti nama itu, aku tetap memberinya nama sesuai keinginanku. Aku telah memikirkan nama ini sejak dulu.” Soo Jin menatap bayi mungilnya yang tak bergerak sedikit pun. “Jiyeon-a, maafkan eomma. Kami terpaksa melakukan ini demi keselamatanmu. Eomma harap kau bisa berjuang untuk hidupmu sendiri. Eomma juga yakin bahwa kau akan selamat dari maut yang hendak mengajakmu pergi ke surga. Kau akan baik-baik saja, Sayang. Jaejoong akan menemanimu.” Soo Jin tak kuasa menahan air mata yang terus menerus menetes membasahi pipinya hingga ada tetesan airmatanya yang jatuh membasahi wajah cantik bayinya.

Sama halnya dengan Soo Jin, Taeyeon pun tak mampu lagi menyembunyikan airmatamya dari Soo Jin. Dia menangis dalam diam. Meratapi nasib Jiyeon dan Jaejoong yang terpaksa dibuang demi keselamatan mereka.
“Jaejoong-a, kau harus bisa menjaga nona Jiyeon. Kau adalah anak yang berani, pintar, dan bertanggung jawab. Semua ini kami lakukan untuk menyelamatkanmu dan nona Jiyeon.”

“Jaejoong-a!” panggil Soo Jin yang sukses membuat Jaejoong menolehkan kepala ke arahnya.

Soo Jin mendekati Jaejoong. “Tolong jaga bayi itu. Jika kalian bisa selamat, kelak kalian berdua akan menjadi saudara. Tapi jika salah satu dari kalian harus pergi, jangan meratapi kepergian dengan menangis. Tinggalkan saja, hiduplah dengan bahagia.”

Jaejoong mengangguk mantab. Dia adalah anak yang cerdas namun nasibnya sedang tidak beruntung. Maka dari itu, Jiyeon yang masih bayi dan Jaejoong yang masih kecil, harus berjuang mempertahankan hidup mandiri. “Aku pasti akan menjaga nona kecil itu, Ahjumma.” kata Jaejoong pada Taeyeon. Namja kecil itu tidak mengetahui siapa nama bayi yang harus ia jaga.
Flashback End.

Sang biarawati meneteskan airmatanya saat menceritakan kesedihan Soo Jin ketika membuang bayinya.
“Nyonya Soo Jin meratapi kepergianmu setelah ia membuangmu, Jiyeon-a. Sampai sekarang pun, Ny. Soo Jin tetap merasa bersalah atas kepergianmu. Maka dari itu, nyonya dan tuan Park berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkanmu dari racun mematikan yang sudah ditukar oleh Haeri.”

“Ditukar? Apa maksudnya?” tanya Jiyeon bingung. Dia mengusap airmata yang membasahi pipinya.

Biarawati itu menatap manik bening milik Jiyeon. “Menjelang eksekusi pada hari itu, aku sudah menukar racun yang akan kau minum dengan racun biasa yang tidak mematikan sama sekali.”

“Lalu bagaimana Anda tahu kalaunaku akan memilih racun?” tanya Jiyeon lagi.

“Nyonya Soo Jin yang memberitahuku karena memiliki firasat kalau kau akan memilih racun. Dulu waktu nyonya Soo Jin membuangmu, dia tidak ingin menyakiti tubuhmu. Makanya dia lebih memilih membuangmu daripada menguburmu. Nyonya Soo Jin yakin kalau kau masih hidup, Jiyeon-a. Itulah alasan kenapa nyonya Soo Jin tidak ingin menyakiti tubuhmu. Keyakinannya begitu kuat. Tak disangka, firasatnya benar. Kau memilih racun itu. Saat kau tergeletak setelah meminum racun itu, kami sangat mengkhawatirkanmu.”

Sang biarawati menatap ke langit-langit gereja sembari mengingat kejadian waktu Jiyeon akan dieksekusi. “Setelah kau dibawa oleh para biarawati dengan alasan jenazahmu akan dimakamkan di dekat gereja ini, nyonya Soo Jin tak berpindah tempat meski hanya satu meter dari sisimu. Nyawamu terancam akibat racun yang sudah menyebar hingga ke organ-organ vital di dalam tubuhmu.”

Jiyeon bergidik membayangkan betapa kritis kondisinya saat itu. “Di mana eomma sekarang?” tanya Jiyeon pada biarawati yang telah menceritakan masa lalunya. Dia bertanya entah sudah yang keberapa kalinya.

“Nyonya ada di istana presiden. Haeri pasti curiga jika ibumu selalu menghilang dari rumah.”

“Benar juga. Aku sangat berterimakasih pada semua biarawati di sini yang telah menolongku dan mendidikku menjadi manusia yang lebih baik.” Jiyeon tersenyum sambil menyeka airmatanya.

Malam ini merupakan malam kegalauan bagi Myungsoo. Bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan Soo Hee yang notabennya adalah saudara sedarah dengan Gongju, sang gadis yang sangat ia cintai. Bayang-bayang Gongju tak pernah lepas dari pelupuk matanya. Suasana sepi sperti ini dalam setiap detik seakan  mencekiknya, merobek hatinya dan menghentikan jantungnya. Tak terbayangkan lagi betapa besar rasa rindunya pada Gongju. Ia sama sekali tidak menyangkan jika harus berpisah dengan Gongju selamanya.

“Tunggulah aku di sana, Gongju. Jika waktunya tiba, aku akan berada di sisimu selamanya. Kita akan bereinkarnasi bersama. Kita akan bersama selamanya,” lirih Myungsoo dalam kesendiriannya di dalam kamar tidur miliknya.

Myungsoo pov
Hari pernikahanku tinggal menghitung jati. Ya, 3 hari lagi aku harus mengucap janji suci dengan gadis bernama Soo Hee. Meski hatiku masih mencintai Gongju, aku juga tidak memungkiri kalau kini Soo Hee telah meluluhkan sisi hatiku yang lain. Gadis itu hampir mirip dengan Gongju. Dia pantang menyerah untuk mendapatkan hatiku. Sama seperti Gongju yang juga tak kenal lelah untuk mencintaiku.

Kenapa rasanya sakit sekali? Aku tak bisa menahan airmata saat mengingat wajah cantik Gongju. Kenapa hal ini harus terjadi pada kami? Baiklah, aku terima takdirku ini. Baiklah, aku akan menghancurkan orang-orang yang memisahkanku dengan Gongju. Korea Selatan! Tunggulah waktunya! Aku akan menghabisi kalian sampai tak tersisa. Kalian pantas mendapat balasan yang setimpal. Maafkan aku, Soo Hee.

Sampai kapan hatiku bergejolak dan pikiranku tak tenang? Sudah lama aku menyiapkan strategi dan rencana untuk menghancurkan Korsel. Perang sudah di depan mata. Aku harus menang. Perang kedaulatan ini harus berhasil aku menangkan. Jika tidak, Gongju dan Kyung Ho saem pasti tidak tenang di sana.

Ayolah Kim Myungsoo! Pejamkan matamu sekarang juga. Besok kau harus merencanakan sesuatu bersama Jaejoong.
Myungsoo pov end.

Keesokan harinya, teriakan kegembiraan terdengar memekakkan telinga siapa pun yang berada di dalam kediaman keluarga Park. Ya, Park Soo Hee sedang berteriak kegirangan karena dua hari lagi dia akan menjadi istri sah seorang Myungsoo. Setelah berteriak karena rasa senang yang berlebih, tiba-tiba Soo Hee menunjukkan ekspresi yang sebaliknya. Dia menjadi lesu dan tak bersemangat.

“Soo Hee-a, ada apa?” tanya Soo Jin yang bertanya-tanya dalam hati kenapa raut wajah putrinya itu berubah drastis?

“Eomma, satu minggu setelah aku menikah, Myungsoo oppa akan disibukkan dengan pemilu. Aku pasti akan ditelantarkannya.”

“Tidak mungki, Chagiya. Myungsoo adalah orang yang bertanggung jawab. Menurut eomma, kau harus mendukung Myungsoo. Jika dia bisa menjadi presiden Korut, kau pasti akan bangga padanya. Korut akan memiliki ibu negara sepertimu.”

Soo Hee tersenyum senang. Soo Jin memang selalu berhasil membuat Soo Hee seperti berada di atas angin. “Eomma, apakah kau akan merestui pernikahanku dengan Myungsoo oppa?”

“Tentu saja. Tidak ada alasan untuk eomma menolak menantu sesempurna Kim Myungsoo. Pernikahan kalian bisa menjadi pemersatu Utara dan Selatan.”

“Tapi eomma, jika aku menjadi istri Myungsoo, aku tidak akan bisa menjadi presiden Korsel.”

Deg! Soo Jin kaget mendengar pernyataan dari Soo Hee. Ia tak pernah menduga Soo Hee akan mengatakan hal itu padanya. “Soo Hee-a, kau bisa menjadi orang yang hebat. Tidak harus menjadi presiden.”

“Tapi Haeri eomma menginginkanku menjadi presiden setelah appa, Eomma.”

“Kalau begitu kau harus memilih salah satu. Menikah dengan Kim Myungsoo atau mejadi kandidat calon presiden Korsel?”

Soo Hee membisu. Dia dilanda gundah gulana memilih salah satu dari dua opsi tersebut. “Aku… aku… akan memilih menikah dengan Myungsoo oppa. Aku mencintainya sejak kami masih kecil.” Soo Hee mengaku di depan Soo Jin.

“Jika kau sudah memilih salah satu, kaubharus melakukannya dengan sungguh-sungguh.” Soo Jin membelai rambut Soo Hee dengan sayang.

“Park Soo Hee!” panggil Haeri secara tiba-tiba.

Soo Hee dan Soo Jin tersentak kaget. Mereka berdua menggerakkan kepala, menoleh ke arah Haeri yang berdiri di bawah tangga dengan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam layaknya buah tomat yang hendak membusuk. Tatapan matanya nanar, seakan membunuh siapa pun yang menatapnya.

“Eomma?”

“Ikut eomma sekarang juga!” Haeri menarik lengan Soo Hee dan memaksanya ikut ke dalam kamarnya.

“Eomma!” berontak Soo Hee yang tdak lengannya ditarik-tarik seperti itu. Ia berusaha melepaskan lengannya dari tangan kuat pegangan kuat.

Tap tap tap!!
Suara langkah kaki Soo Hee dan Haeri saling beradu. Frekuensi derap langkah mereka semakin intens hingga keduanya memasuki sebuah ruangan yangbtifak lahib1q
Haeri mendorong tubuh Soo Hee hingga ambruk di atas ranjangnya.

“Kau sudah masuk jeratan licik Park Soo Jin!”
“Apa maksud eomma?”
“Soo Jin akan menghancurkan hatimu.”

“Tidak mungkin.” Soo Hee menggelengkan kepalanya. “Jangan bicara sembarangan. Eomma selali bicara tanpa fakta dan alasan yang jelas.”

Haeri geram atas sikap Soo Hee yang seolah membela Soo Jin di depannya. Soo Hee adalah putri kandungnya, bukan putri Soo Jin. “Soo Hee! Kau membela wanita itu di depan ibu kandungmu?”

Soo Hee tersentak kaget. “Eomma! Bukan seperti itu. Aku rasa Soo Jin eomma tidak sejahat itu.”

“Cih! Kalau sudah dewasa makanya kau suka membalikkan kata-kata dan sekarang begitu mudahnya kau mengeluarkan pernyataan untuk membelanya. Kau sudah pantas menjadi putri kandungnya. Park Soo Hee! Kau adalah putriku maka kau harus berbakto padaku, bukan pada wakita itu!” bentak Haeri yang sukses membuat Soo Hee tertunduk. Putrinya itu merasa bersalah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Haeri. Dia harus berbakti kepada ibu kandungnya.

“Baiklah, Eomma. Aku akan menuruti kemauan eomma. Tapi… ijinkan aku menikah dengan Myungsoo.”

Plaakk!!

Tamparan keras mendarat mulus di atas pipi mulus milik Soo Hee. Bekas tamparan itu berangsur-angsur memerah.

“Eomma menamparku?” tanya Soo Hee dengan kedua manik mata yang berlinang airmata.

“Ya, aku menamparmu. Kau pantas mendapatkannya karena yang ada di otakmu hanyalah laki-laki itu.”

“Apa salahnya jika aku memikirkan Myungsoo? Sejak kecil aku menyukainya, Eomma. Dia harus jadi milikku. Tinggal selangkah lagi kami bisa bersatu. Apakah kau tega memisahkan aku dengannya?” Kali ini Soo Hee memelas. Baginya tidak ada yang lebih penting daripada pernikahannya dengan Myungsoo.

“Baiklah, lakukan apapun yang kau mau. Aku akan melakukan apapun yang aku mau,” kata Haeri dingin. Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan Soo Hee merenung di dalam kamar pribadinya (kamar Haeri).

Setelah berdebat sengit dengan putrinya, Haeri memutuskan untuk mengunjungi kediaman Junsu di kawasan Cheongdamdong. Dia ingin membahas rencana pencalonan Soo Hee sebagai salah satu kandidat Presiden Korsel.

“Noona, kau sudah datang? Aku tak menyangka kalau kau bersedia menginjakkan kaki di rumahku untuk yang kesekian kali,” sambut Junsu dengan kostum santai yang ia kenakan. Dirinya telah diberhentikan sementara dari jabatannya yang baru saja diperoleh 8 bulan yang lalu.

“Memangnya di mana lagi aku bisa membahas rencana kita?” tanya Haeri datar. Gaya sok bangsawannya tak pernah hilang dari dirinya. Ia selalu mengangkat kepalanya saat berhadapan dengan siapa saja. “Kau tahu putriku? Dia sangat keras kepala.”

“Keras kepala? Apa maksudmu, Noona?”
“Dia tetap bersikeras menikah dengan Kim Myungsoo. Junsu-a, bayangkan jika Myungsoo dan Soo Hee menikah. Apa yang akan terjadi pada negara ini? Ah, anhi, maksudku apa yang akan terjadi pada kita? Jika mereka menguasai Korsel, bagaimana lagi kita akan merebut pemerintahan dari kubu Soo Jin?”

“Noona, apakah kau sudah yakin kalau Soo Jin menginginkan hal yang sama dengan apa yang kita inginkan?” tanya Junsu yang ingin sekali mengetahui masalah internal keluarga Park.

“Dia menginginkannya bukan untuk dirinya sendiri.”

“Lalu untuk siapa?” tanya Junsu lagi.

“Untuk putrinya.”

Junsu yang tengah berdiri dengan jarak 6 meter dari meja makan, bergerak mendekati Haeri yang sedang bersantai di atas sebuah kursi yang menghadap ke arahnya. “Kau yakin?” tanyanya pada Haeri.

“Aku serius. Mana mungkin aku bercanda mengenai hal penting seperti ini? Kita harus segera bertindak. Aku tidak ingin Soo Hee menjadi korban Kim Myungsoo karena menurutku ada yang aneh dengan sikap namja itu.”

“Kau benar, Noona. Ada yang aneh pada putra presiden Korut itu. Dulu dia tidak begitu respect pada Soo Hee. Tetapi setelah kematian dua orang warga Korut, apalagi mendiang Jung Kyung Ho merupakan guru bela dirinya, sikap Myungsoo berubah drastis. Awalnya dia sangat berambisi dan keras kepala namun sekarang malah kebalikannya. Aku juga curiga, pasti ada sesuatu di balik pernikahannya dengan Soo Hee.”

“Aku takut jika kecurigaan kita benar. Bagaimana cara membujuk Soo Hee agar dia mau menuruti kata-kataku? Di kepalanya hanya ada Myungsoo. Aku juga tidak begitu tega memaksanya melupakan Kim Myungsoo. Kenapa putriku harus jatuh cinta pada laki-laki itu?”

“Jika itu benar maka kita harus merubah rencananya, Noona.”

Haeri mengerutkan dahi. “Kau punya rencana baru? Ingat Junsu! Jika Soo Hee menikah dengan Myungsoo, dia tidak akan bisa menjadi penguasa di negara ini.”

“Justru itu, Noona. Kau salah berpikir. Maksudku, argumenmu itu keliru. Soo Hee akan mudah menjadi penguasa jika dia bisa memanfaatkan posisinya sebagai istri Kim Myungsoo. Korut adalah negara yang kuat dari segi militer dan persenjataannya. Teknologi perang mereka lebih maju dari kita. Aku yakin jika Soo Hee benar-benar bisa mencari peluang, dia akan menjadi kandidat presiden. Kau tidak perlu khawatir, Noona. Menurutku, Myungsoo bisa membawa pengaruh signifikan pada kepercayaan rakyat terhadap Soo Hee. Lagipula pemilu masih lima bulan lagi.”

“Jika Myungsoo menjadi presiden Korut, bukankah Soo Hee tidak mungkin menjadi presiden Korsel?” Haeri masih cemas pada posisi Soo Hee.

“Kau benar. Jadi, tugas kita adalah memastikan Myungsoo tidak menjadi presiden atau perdana menteri,” tukas Junsu.

Haeri manggut-manggut membenarkan pendapat Junsu. Laki-laki yang berusia lebih muda darinya itu sangat pandai merencanakan strategi apalagi jika menyangkut strategi perang.
“Aku akan mencari cara untuk mengembalikan posisimu sebagai Jenderal utama. Kau harus bersabar.”

Junsu tersenyum tipis. “Terserahlah, Noona. Untuk saat ini aku ingin mengistirahatkan pikiran dan fisikku dulu.”

Jiyeon baru saja selesai membersihkan diri. Setelah menjemur handuknya yang berwarna biru, ia duduk di atas dipan di belakang sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari gereja. Jiyeon memgang sebuah buku yang dititipkan ibunya, Soo Jin, pada salah satu biarawati. Buku itu berisi tentang tata negara demokrasi. Awalnya Jiyeon bingung kenapa sang ibu memberinya buku semacam itu. Namun karena demi membahagiakan ibunya, Jiyeon menurut saja. Dia membaca buku itu hampir sepanjang waktu. Yeoja cantik itu memiliki banyak waktu luang karena dirinya masih dalam proses pemulihan sehingga tak banyak yang dapat dilakukannya.

“Nona Jiyeon!” panggil salah satu biarawati yang merupakan orang baru di tempat itu.

“Jiyeon mengalihkan pandangannya ke arah sang biarawati. “Ne?” sahutnya singkat.

“Ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh kepala biarawati padamu.”

Dahi Jiyeon berkerut karena hatinya bertanya-tanya, apa yang ingin ditunjukkan oleh kepala biarawati padanya? Tanpa bertanya lagi, akhirnya Jiyeon mengikuti langkah biarawati itu menuju ruang tamu.

Kepala biarawati telah menunggunya dengan duduk di atas sebuah sofa kecil yang telah usang. Jiyeon menghampiri wanita paruh baya itu. Mungkin usia kepala biarawati hampir sama dengan ibunya.

“Anda memanggil saya?” tanya Jiyeon sopan. Ia masih berdiri di depan keala biarawati.

“Ya, aku memanggilmu, Park Jiyeon. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu.” Wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari sebuah kotak kayu panjang. Kemudian dia mengambil benda yang tersimpan di dalam kotak itu. Benda itu dibungkus dengan kain merah hingga menutupi semua bagian benda yang panjangnya sekitar 1 meter itu.

Kepala biarawati menyerahkan benda yang masih tertutup kain itu pada Jiyeon.

“Apa ini?” tanya Jiyeon yang masih bingung.

“Bukalah! Kau akan mengetahuinya sendiri. Aku tidak perlu memberitahukan apa isi bungkusan ini.’

Jiyeon membuka kain penutup benda itu perlahan-lahan. Manik matanya tak melepaskan pandangannya dari benda yang sudah berpindah di tangannya itu. Hanya dalam hitungan detik, benda itu terbebas dari kain penutupnya.

“Ini….” Jiyeon tak dapat mengungkapkan rasa harunya melihat pedang miliknya yang masih utuh. Pedang peninggalan seorang Samurai Jepang itu mengingatkannya pada Jung Kyung Ho, Myungsoo, dan Jaejoong. Airmatanya berlinang membasahi mata cantik miliknya dan butirannya mengalir jatuh membasahi pipi. Jiyeon menutup kedua matanya dan mendekap pedang itu di depan dadanya. Dia sangat merindukan orang-orang yang telah memberi kenangan indah dalam hidupnya.

Tbc

27 responses to “[Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. benar2 tercengang! kejahatan haeri bener2 udah gak bisa di toleransi lagi.. aku gregetan >< kapan dia masuk bui ㅠㅠ
    kuharap myungsoo gak jadi nikah ama si soo hee, kuharap jiyeon akan muncul di hadapan myungsoo terlebih dahulu sebelum pernikahan itu terlaksana!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s