[Chapter – Part 1] Knock to My Heart (Sequel of Really Sorry)

knock to my heart

Really Sorry here

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their family.

Sorry for typos 😀

Happy Reading

“I will do everyrhing for you although it’s too difficult for me…”

Tepat pukul 3 sore bel pulang berdering di seantero sekolah elit SMA Jaeguk.
Para siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 segera bersiap pulang ke rumah masing-masing atau mampir ke suatu tempat sesuai dengan keinginan mereka. Namun hal itu tidak berlaku bagi penghuni ruang kelas 1-1. Seluruh siswa masih berdiam diri di atas bangku mereka seraya mendengarkan nasehat dari Yoo sonsaengnim di akhir pelajaran biologi saat itu.
“Jika waktunya sudah pulang, kalian harus segera pulang. Jangan main kemana-mana. Orangtua kalian pasti menanti kepulangan putra putri tercintanya.” Yoo saem memberikan sedikit nasehat seperti itu karena akhir-akhir ini banyak siswa yang keluyuran sepulang sekolah hingga larut malam.
Siswa yang sering keluar malam tentu tidak senang mendengar nasehat ini. Mereka berpura-pura tidak mendengar suara Yoo sonsaengnim.
“Gurae, kalian boleh keluar. Selamat siang!” Yoo saem meninggalkan kelas.
Seluruh siswa berteriak kegirangan karena kali ini Yoo saem memberikan nasehat hanya beberapa menit. Biasanya seonsaengnim cantik itu memberikan nasehat di setiap akhir kelasnya karena akhir-akhir ini banyak siswa yang masih keluyuran di luar sampai larut malam. Untuk mengatasi hal itu, salah satu upaya yang dilakukannya sebagai seorang guru adalah memberikan nasehat sesering mungkin.
“Baiklah, kalian semua boleh keluar. Selamat sore!”
“Sore saem…” seru semua siswa di dalam kelas itu sambil bersiap pulang.
Park Jiyeon dan Lee Ahreum melakukan hal yang sama dengan siswa lainnya. Mereka memasukkan semua barang-barang ke dalam tas. Sebagian lagi tidak dimasukkan ke dalam tas karena akan mreka simpan di dalam loker.
“Jiyeon-a, hari ini kau mau kursus lagi?” tanya Ahreum dengan polosnya.
Jiyeon terdiam sejenak. Ia teringat kejadian terakhir setelah ia pulang kursus membuat cupcake. Dengan suara lirih, Jiyeon menjawab,” Anhiya. Sepertinya aku tidak akan pergi ke sana lagi.”
“Wae? Orangtuamu melarangmu?”
Jiyeon tersenyum tipis. “Anhi. Itu kemauanku sendiri. Aku baru sadar kalau itu semua hanya sia-sia.”
Mereka berdua telah selesai bersiap-siap. Ahreum dia saja. Dia masih memikirkan kata-kata Jiyeon. ‘Aku baru sadar kalau itu semua sia-sia‘. Apa maksud kata-kata Jiyeon? Bukankah dia sangat antusias pergi ke kursus membuat cupcake karena dirinya sangat menyukai Myungsoo yang gemar makan cupcake… Ahreum menggelengkan kepalanya dan memukulnya pelan. “Pabbo! Kenapa kau memikirkan mereka, Lee Ahreum…” kata Ahreum pada dirinya sendiri.
“Jiyeon-a, gidaryeo!” teriak Ahreum meminta Jiyeon menunggunya tetapi Jiyeon sama sekali tidak meresponnya. Yeoja itu tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Malam ini Myungsoo disibukkan dengan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi. Dia harus segera menyelesaikan tugas itu sebelum hang iut dengan teman-temannya di balapan motor. Ya, Kim Myungsoo memang anak seirang chaebol yang memiliki hobi balap motor. Dari kecil, Myungsoo sudah terbiasa mengerjakan tugas sekokah sebelum pergi bermain. Karena otaknya lumayan encer, dia jarang menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
“Akhirnya selesai. Wah, punggungku pegal-pegal. Badan terasa pegal-pegal tetapi pikiran tenang. Besok pagi aku tidak akan dimarahi Hwang Seonsangnim karena belum mengerjakan tugas.” Senyum terukir indah di wajah tampannya. “Waktunya pergi…” Myungsoo mengambil ponsel, dompet dan kunci motornya lalu meluncur mengambil sepeda motor dan melesat pergi ke arena balap motor.
Di arena balap motor, beberapa orang sudah menunggu Myungsoo untuk mengajaknya balapan. Ada juga yang ingin memberikan semangat pada namja yang memiliki tatapan setajam elang itu.
Tepuk tangan bergemuruh di arena balapan saat Myungsoo datang dengan senyum yang bisa membuat setiap yeoja bertekuk lutut di hadapannya.
“Myungsoo-a, akhirnya kau datang.” Eden menyambut Myungsoo dan merangkul bahunya. “Kau sudah siap?”
“Tentu saja,” jawab Myungsoo dengan antusias. Dia melirik jam tangan yang melingkar indah, mewarnai pergelangan tangan kirinya. Jam 7 malam. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Flashback.
“Myungsoo-ssi, apa kau bisa bertemu denganku?” tanya Jiyeon yang telah memberanikan diri buka suara.
Myungsoo menatap tajam padanya. Namja itu masih membawa tas ransel kecil miliknya. Jiyeon dan Myungsoo belum pulang ke rumah, mereka masih mengenakan seragam sekolah.
“Onje?” tanya Myungsoo dingin.
“Besok. Besok jam 7 malam. Eotteyo?” tanya Jiyeon lagi. Dia merasa seperti di atas angin karena akhirnya Myungsoo mau bicara dengannya.
“Akan aku usahakan tetapi aku tidak bisa janji.”
“Gomawo Myungsoo-ssi.”
Flashback end.

Myungsoo mendesah kasar setelah teringat peristiwa itu. Malam itu adalah kali pertama dirinya bertemu dengan yaoja cantik dan cute bernama Park Jiyeon. “Apa aku sudah menyakitinya?” gumam Myungsoo lirih saat mengingat nama Jiyeon.

“Kau sudah siap, Myung?” tanya Eden.
“Yaak, kapan balapannya dimulai? Dari tadi kau hanya bertanya apakah aku sudah siap?
Eden terkekeh. Ia baru menyadari hal itu. “Benar juga. Baiklah ayo kita mulai.”
Myungsoo, Jin, dan Jungkook bersiap memutar gas mereka masing-masing.
1, 2, 3…
Dalam hitungan ketiga, tiga orang pembalap itu melesat dengan kecepatan tinggi. Kali ini Myungsoo harus menang. Kalau tidak, teman-temannya akan menjodohkan dirinya dengan seorang yeoja dari sekolah lain. Konon katanya, yeoja itu merupakan idola para namja di sekolahnya. Tentu saja Myungsoo tidak mau dijodohkan dengan yeoja yang sama sekali tidak ia kenal. Ide teman-temannya ini super gila.
Dengan penuh hati-hati dan kewaspadaan tingkat tinggi, Myungsoo melajukan motornya dengan kecepatan 120Km/jam. Posisinya berada di urutan kedua setelah Jin. Sedangkan Jungkook ada di belakangnya. Myungsoo menambah kecepatan motornya. Beruntung jalanan saat itu sedang sepi, kalau tidak, pasti mereka sudah tabrakan dengan kendaraan lain.

Sore tadi seharusnya Jiyeon pergi ke tempat kursus membuat cupcake dan baru pulang jam segini. Ternyata kejadian minggu lalu membuatnya berhenti melakukan aktifitasnya seperti biasa. Dalam kamus hidupnya tak ada lagi kata ‘cupcake’ dan tak ada lagi kata ‘cinta’. Dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya yang membuatnya berkali-kali terluka. Arlojinya menunjukkan pukul 7 malam. Dia harus cepat-cepat sampai di rumah. Orangtuanya pastinsudah sangat mengkhawatirkan keadaannya. Rumah JIyeon terletak 2 km dari tempatnya berada saat ini. Dia memutar otak, mencari jalan pintas menuju rumahnya agar lekas sampai dan tidak terlalu lelah.
“Aku harus lewat mana? Kalau aku belok kanan, sama saja dengan memutar. Akan lebih jauh dan lebih lama.” Jiyeon bicara pada dirinya sendiri saat berada di persimpangan jalan. “Kalau aku belok kiri, jalannya sepi. Bahkan jarang sekali ada orang yang lewat di sana. AKan lebih dekat kalau aku lewat sana. Tapi kalau ada orang jahat bagaimana?” Jiyeon galau memilih jalan alternatif menuju rumahnya. Dia harus berpikir ekstra agar dapat memilih jalan pintas yang tepat. Waktu adalah uang. Ya, itulah prinsip barunya beberapa hari ini.
“Baiklah, aku akan belok kiri. Aku pasti berani. Semoga tidak ada yang lewat di sana.” Jiyeon memantabkan hatinya untuk lewat jalan pintas yang jarang dilalui orang. Jalan itu memang selalu seoi, baik siang maupun malam hari. Bukan sekali ini Jiyeon melewati jalan sepi itu. Beberapa kali dia lewat jalan itu, untungnya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Dalam kesunyian malam, Jiyeon hanya dapat mendengar suara jangkrik. Sepi, dingin, dan gelap. Itulah keadaan jalan yang dilalui Jiyeon. Agar tidak terkesan menyeramkan, Jiyeon bersenandung lirih. Ya, lumayan untuk memecah keheningan malam itu.
Tiba-tiba langkah Jiyeon terhenti. Dia mendengar suara sesuatu. “Suara apa itu?” lirihnya kemudian dia melanjutkan perjalanannya. “Sesangi… sepertinya itu suara…” Jiyeon memutus kata-katanya karena tiba-tiba ada sorot lampu dari sebuah sepeda motor yang menyilaukan pandangannya.
Ckiiitt bruukkk!!
Jin kaget. Dia sama sekali tidak tahu kalau di depannya ada orang yang sedang berjalan. Akibatnya motor yang ia kendarai menabrak Jiyeon hingga terpental sejauh 3 meter.
Jiyeon masih dalam keadaan sadar. Dia tidak dapat menggerakkan badannya kecuali kedua tangannya. Yeoja itu meringis kesakitan.
Selang beberapa detik, Myungsoo dan Jungkook tiba. Mereka berdua terkejut melihat Jin menabrak seseorang. Myungsoo belum mengetahui kalau orang yang ditabrak Jin adalah Jiyeon.
“Jin-a, ige mwoya? Kau menabrak seseorang?” tanya Myungsoo yang baru saja turun dari sepeda motornya.
Jiyeon dapat mendengar suara Myungsoo dengan jelas. Dia menundukkan kepalanya agar Myungsoo tidak dapat melihat wajahnya. Jiyeon tidak siap bertemu dengan Myungsoo, namja yang tega membuat hatinya terluka.
Jungkook sadar kalau orang yang ditabrak Jin masih berada di lokasi. Dia pun mendekati Jiyeon yang masih menundukkan kepalanya.
“Neo gwanenchana?” tanya Jungkook pelan.
Jiyeon sangat kenal suara namja ini. Dia pun mendongakkan kepalanya.
“Omo! Jiyeon-a…” lirih Jungkook. Ia makin terkejut saat melihat yeoja yang tinggal dekat rumahnya terduduk lemas di pinggir jalan beraspal itu. “Jadi, orang yang ditabrak Jin itu kau?”
Jiyeon mengangguk.
“Gwaenchanayo?” tanya namja itu lagi.
“Aku tidak bisa menggerakkan badanku,” jawab Jiyeon.
“Jung-a, apa dia korban tabrakan Jin?” Suara Myungsoo sedikit menggema di jalan sepi itu. Namja itu melihat Jungkook sedang bicara dengan seseorang.
“Eoh. Dia tetanggaku.”
Myungsoo mencoba melihat siapa yang ditabrak oleh Jin. Kedua bola matanya membelalak saat dia melihat Jiyeon terduduk di atas jalan beraspal. “Park Jiyeon…”
“Hyung, kau kenal Jiyeon?” tanya Jungkook.
“Dia kakak kelasku,” jawab Jiyeon dengan suara datar.
“Jinjja?” Jungkook kaget. Dia baru tahu kalau Myungsoo adalah kakak kelas Jiyeon di sekolahnya.
“Biar aku antar pulang,” tawar Myungsoo.
“Ah, tidak usah, hyung. Aku saja yang mengantar Jiyeon. Rumahnya dekat dengan rumahku. Kami bertetangga.”
Myungsoo terdiam. Rupanya Jiyeon adalah tetangganya Jungkook. Kenapa dia baru tahu sekarang. “Eoh, gurae. Antar dia sampai di rumah.” Myungsoo menatap iba pada Jiyeon namun yeoja itu pura-pura tidak melihat Myungsoo yang masih berdiri di depannya.
Jungkook membantu Jiyeon berdiri. Lalu dengan susah payah Jiyeon duduk di jok belakang motor Jungkook. Namja itupun segera memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang.

“Yaak, Jiyeon-a, kenapa kau lewat jalan itu?”
“Aku hanya ingin lewat jalan pintas supaya lekas sampai di rumah.” Jiyeon melingkarkan tangannya di pinggang Jungkook. Namja imut-imut itu termasuk namja yang perhatian pada Jiyeon karena mereka sudah saling mengenal sejak mereka masih anak-anak.
“Pabbo!”
“Mwo?” Jiyeon selalu tidak terima kalau Jungkook mengoloknya ‘pabbo’.
“Kau, Park Jiyeon pabbo!”
“Yaak Jeon Jungkook!”
“Haha aku berhasil memancing emosimu. Senangnya…”
“Kau mengerjaiku?”
“Tentu saja. Bukankah aku sudah melakukannya ratusan kali? Haha… Aku akan terus mengerjaimu, My Twin…”
“My twin? Sejak kapan aku punya saudara sepertimu? Kembar pula…” Jiyeon menggerutu kesal tapi ia juga berterimakasih pada Jungkook karena namja itu berhasil membuatnya sedikit tenang. Tentu saja, Jungkook adalah sahabat terdekatnya.
Ckiiitt!
“Sudah sampai. Kau bisa turun kan? Aku tidak kuat menggendongmu.”
“Eoh. Aku bisa sendiri. Lagipula siapa yang ingin kau gendong?”
Jiyeon berusaha turun dari motor Jungkook. Meskipun memakan waktu agak lama, akhirnya dia berhasil melakukannya. “Aku pulang ya…”
“Gomawo Jung-a.” Jiyeon melambaikan tangan pada Jungkook yang tak lama kemudian berbelok di ujung gang. Rumah Jungkook hanya berjarak 100 meter dari rumah Jiyeon.

Bel istirahat berbunyi. Jiyeon meletakkan kepalanya di atas meja. Materi pelajaran yang disampaikan oleh Lee Seonsaengnim membuat kepalanya berputar-putar seperti naik komedi putar. Mata pelajaran fisika benar-benar beban berat bagi otaknya.
“Kau kenapa? Ngantuk?” tanya Ahreum sambil yang sedang membereskan buku-bukunya.
“Anhi. Aku hanya merasa kepalaku berputar seperti bumi yang berotasi pada sumbunya.” Jiyeon memejamkan kedua matanya.
“Yaaak yeorobun!”
Jiyeon, Ahreum dan anak-anak yang ada di dalam kelas sontak terkejut mendengar teriakan Kim Dani yang baru saja masuk ke dalam kelas.
“Yaak Kim Dani! Apa kau ingin membuat kami mati karena jantungan?” seru Ahreum sangat kesal karena dia benar-benar terlonjak kaget akibat ulah Dani.
“Yaak, dengarkan kalian semua. Aku punya berita baru. Hot. Super hot.” Dani berdiri di depan papan tulis.
“Mwoya?” tanya salah satu siswi.
“Hmm tadi aku dengar dari kelas 2 kalau namja paling tampan dan imut-imut Kim Myungsoo telah dijodohkan dengan seorang siswi dari Nam Highschool.”
“Mwo?” Suara Ahreum menggelegar.
“Ahreum-a, keumanhae!” lirih Jiyeon sambil menarik lengan Ahreum agar yeoja itu segera duduk kembali di bangkunya.
Sebenarnya Jiyeon syok mendengar kabar yang disampaikan oleh Dani. Dia berharap kalau kabar itu tidak benar. Dalam lubuk hatinyang paling dalam, Jiyeon masih memendam perasaannya pada Myungsoo.
“Gwaenchanayo?” tanya Ahreum pada Jiyeon yang duduk diam di bangkunya.
“Eoh, gwaenchana.”
“Jiyeon-a, mungkin saja kabar ini tidak benar. Jangan percaya dulu.”
“Sudahlah, Ahreum-a. Aku sudah melupakan Kim Myungsoo. Kau pasti tahu alasannya. Aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri. Aku menyerah untuk mendapatkannya.”
“Jinjja? Jiyeon-a…”
Jiyeon tersenyum pada Ahreum. Senyum yang ia paksakan. “Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu, Ahreum-a.”
“Mwonde?”
“Mulai besok aku pindah ke Nam Highschool.”
“Yaak!” teriak Ahreum. “Jiyeon-a…” Ahreum lesu mendengar pengakuan Jiyeon kalau dirinya akan pindah sekolah. “Kau pindah ke sekolah si yeoja yang dijodohkan dengan Myungsoo?”
“Kabar itu belum tentu benar, Ahreum-a. Aku yakin dia bukan orang yang mudah menerima orang lain masuk dalam kehidupannya.”
“Aigoo… kenapa kau selalu membela Myungsoo?”

Kabar tentang Myungsoo yang dijodohkan dengan seorang siswi dari Nam Highschool menyebar ke segala penjuru sekolah bahkan para guru juga mengetahuinya. Myungsoo geram dan marah pada teman-temannya. Akibat ulah mereka, kini Myungsoo menjadi kambing hitam di sekolahnya. Semua orang membicarakannya. Mereka mengira kalau Myungsoo benar-benar dijodohkan dengan yeoja itu dan akan menikah jika sudah lulus SMA.
“Eden-a!” Myungsoo memanggil Eden di kelas sebelah. Dia yakin Eden lah dalang di balik menyebarnya kabar tidak benar tentangnya.
“Myungsoo-a. Kau mencariku? Wae?”
Myungsoo menarik dasi Eden. Dia ingin memberi pelajaran pada temannya itu.
Myungsoo menyeret Eden ke atap sekolah. Brraakk!
Pintu dibanting Myungsoo. Namja itu sudah sangat emosi. Dia tidak tahan dengan kelakuan temannya yang menurutnya sudah kelewatan. Menyebarkan gosip seperti itu sama artinya dengan mencemarkan nama baik.
“Pasti kau yang menyebarkan berita bohong itu.” Myungsoo memegang kerah baju Eden dan sedikit menariknya sehingga Myungsoo bebas menatap tajam ke mata Eden.
“Maksudmu kabar itu?”
“Jangan sebut itu sebagai kabar karena yang tersebar bukanlah suatu kabar melainkan hanya sebuah isu.”
Eden tersenyum evil. “Tenanglah, Myungsoo. Lambat laun semuanya akan berjalan normal kembali. Kau hanya perlu melupakannya.”
“Lalu apa maksudmu menyebarkan isu seperti itu? Kau ingin menghancurkan nama baikku?” Myungsoo masih menarik kerah baju Eden.
Eden sedikit menahan nafasnya. “Aku melakukannya karena aku…”
“Apa? Katakan dengan jelas!” bentak Myungsoo yang berhasil membuat nyali Eden menciut.
“Aku hanya ingin kau jadi namjachingu sepupuku.”
“Mwo? Sepupumu? Jadi Suzy itu sepupumu? Cih, kurang ajar sekali kau.”
Myungsoo mendorong Eden dengan kasar sehingga namja itu jatuh tersungkur.
“Mulai sekarang kembalikan nama baikku atau aku tidak mau berteman lagi denganmu.”
Myungsoo melangkah pergi meninggalkan Eden yang merasakan sakit karena luka lecet di beberapa bagian di lengannya.

Selesai pelajaran matematika, Jiyeon mendapat tugas mengumpulkan buku-buku tugas milik teman-temannya lalu diberikan pada Yoo seonsaengnim. Setelah terkumpul semua, buku-buku itu dibawa Jiyeon sendirian ke ruang guru.
“Yaak, Jiyeon-a berhenti dulu!” teriak Ahreum yang sedang mengejar Jiyeon menuju ruang guru. Ahreum ngos-ngosan mengejar Jiyeon. Untungnya yeoja yang dikejar segera menghentikan langkahnya lalu menoleh.
“Waeyo?” tanya Jiyeon polos.
“Bukuku belum kau ambil. Ige. Ah, biar kubantu. Kau kan baru saja ditabrak. Pasti masih terasa pegal-pegal begitu.” Ahreum mengambil buku-buku yang ada di tangan Jiyeon.
“Jangan semuanya.” Jiyeon mengambil beberapa buku yang telah diambil oleh Ahreum. Tak lama kemudian mereka berjalan beriringan menuju ruang guru.
Jiyeon dan Ahreum tidak membutuhkan waktu lama agar sampai di ruang guru. Letak kelas mereka hanya berjarak beberapa meter dari ruang guru. Setelah melewati empat kelas, mereka sampai di ruang guru.
“Dimana meja Yoo seonsaengnim?” tanya Ahreum lirih.
Jiyeon menoleh kanan-kiri, mengira-ngira dimana meja Yoo seonsaengnim. “Mungkin di sana. Meja yang paling ujung.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Di sana ada pulpen yang sering dibawa oleh Yoo saem. Kajja!”
Mereka berdua berjalan pelan menuju meja yang terletak di sudut ruangan. Benar. Meja itulah yang mereka cari. Tetapi si empunya meja sama sekali tidak kelihatan di ruangan itu.
“Kita tinggalkan saja di sini.” Jiyeon menaruh buku-buku yang ia bawa di atas meja Yoo seonsaengnim.
“Kim Myungsoo!” bentak Hwang seonsaengnim. “Kau bersalah tetapi tidak mau mengakui!”
“Saem, Eden yang telah mencemarkan nama baikku. Wajar saja bila aku menghajarnya.”
“Sejak kapan kau jadi berandalan seperti ini? Kau tahu kan kalau Eden itu anak dari ketua yayasan sekolah ini?”
Myungsoo terdiam. Rupanya para guru di sekolahnya selalu mengagung-agungkan ketua yayasan beserta keluarganya.
“Gurae, cukup keluarkan aku dari sekolah ini kalau itu yang Saem mau.”

Jiyeon dan Ahreum dapat mendengar percakapan Myungsoo dengan Hwang Chan Sung seonsaengnim. Mereka berdua terkejut mendengar kata-kata Myungsoo yang terakhir.

“Aku tidak akan mengeluarkanmu tetapi kau sendiri yang harus keluar dari sekolah ini. Ketua yayasan pasti tidak senang melihatmu di sekolah ini.”
Myungsoo sangat kecewa atas perlakuan gurunya yang tidak adil. Setelah mendapat beberapa nasehat, namja itu berbalik menuju kelasnya lagi.

Jiyeon dan Ahreum menatap punggung Myungsoo yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.
“Kasihan sekali Myungsoo oppa…” lirih Ahreum.
Jiyeon masih menatap Myungsoo dari belakang. Hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian yang lalu saat dia menunggu Myungsoo dibtengah hujan deras. Tetapi dalam hati, Jiyeon masih menyayangi Myungsoo. Hanya saja, dia menjaga jarak dan perasaannya agar tidak sampai jatuh hati terlalu jauh pada namja itu.

Sepulang sekolah, Jiyeon dan Ahreum berencana untuk menghabiskan waktu hingga malam tiba di Lotte World. Besok Jiyeon sudah pindah sekolah, oleh karena itu, mereka berdua ingin bersenang-senang sebelum berpisah.

“Kajja!” ajak Jiyeon yang telah menggapit lengan Ahreum namun yeoja itu diam saja. “Ahreum-a, waeyo?” tanya Jiyeon curiga.

“Mianhae, Jiyeon-a. aku tidak bisa pergi denganmu ke Lotte. Tadi Donghae oppa meneleponku dan mengatkaan kalau ibu masuk rumah sakit.”

“Aigoo… Gurae, segeralah temui ibumu. Aku tidak apa-apa. Titip salam untuk ibumu ya, semoga lekas sembuh.”

“Gomawo Jiyeon-a, annyaeong.” Ahreum melambaikan tangannya pada Jiyeon. Begitu juga Jiyeon. Yeoja itu mendesah kasar. Tidak mungkin dia pergi ke Lotte sendirian. Jiyeon memandang gedung sekolahnya. Dia membalikkan badan dan melangkahkan kaki memasuki gedung yang telah sepi itu. kedua manic matanya tidak terlepas dari tiap sudut sekolahnya. Gedung yang tinggi, sarana dan prasarana yang super lengkap dan mewah. Tanpa sadar, Jiyeon sudah berada di koridor depan kelasnya. Ia menghentikan langkah lalu melihat ke dalam ruangan kosong itu.

“Besok aku sudah tidak ada di sini lagi. Annyeong…”

“Apa maksudmu?”

Jiyeon terlonjak kaget. Jika dia punya penyakit jantung, mungkin saat itu juga nyawanya lepas dari raganya. “K, kau?”

Kim Myungsoo sudah berdiri di sampingnya dan bersandar pada dinding kelas Jiyeon. “Kau tidak menyebut namaku?”

“Ah, anhi. Sedang apa kau di sini?” tanya Jiyeon untuk memecah keheningan.

“Aku sedang malas pulang. Tadi ku dengar kau berpamitan pada ruang kelasmu. Kau mau kemana?”

“Aku mau pindah sekolah.”

“Wae?”

“Aku harus ikut eonni-ku. Karena jarak tempat tinggal kami dengan sekolah ini terlalu jauh, aku lebih memilih pindah sekolah.” Jiyeon mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan Myungsoo tadi. Sebenarnya alsan dia pindah sekolah adalah untuk menghindar dari Kim Myungsoo. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan hal itu pada namja tampan yang berdiri di depannya.

“Kau tinggal dimana? Bukankah tempat tinggalmu di sekitar arena balap kemarin?”

“Ne. tetapi tempat tinggal eonni-ku bukan di situ. Aku harus pulang. Orangtuaku pasti khawatir kalau aku tidak segera pulang. Annyeong…” Jiyeon segera beranjak dari tempat itu. dia tidak kuat berlama-lama berada di dekat Kim Myungsoo. Pasti hatinya bergejolak dan kejadian itu akan teringat kembali.

Myungsoo hanya terdiam. Dia menatap kepergian Jiyeon. ‘Kenapa kau selalu mendahului langkahku, Park Jiyeon?’ batin Myungsoo. Sesaat kemudian dia melangkah meninggalkan gedung sekolah.

“Jiyeon-a, ini seragam barumu,” kata Gyu Ri seraya menata seragam baru milik Jiyeon.

Besok Jiyeon sudah pindah ke Nam Highschool. Baju seragam baru, buku-buku sebagian baru, tapi tidak dengan yang lain. Mungkin dia akan memiliki teman baru. Ya, mungkin. Dulu Jiyeon mudah sekali mendapatkan teman baru. Tetapi sekarang, keadaan berbalik 180 derajat. Jarang sekali yang mau berteman dengannya padahal Jiyeon merupakan siswi terpandai di kelasnya dan tidak pernah berbuat jahat pada siapapun. Di sekolah baru, dia berharap teman-temannya akan bersikap baik padanya. Setidaknya menyapanya setiap pagi atau bekerja sama dalam kelompok belajar. Hanya itu yang Jiyeon inginkan dari teman-temannya. Sayang, sampai sekarang dia belum bisa mewujudkan keinginannya itu.

“Kau sudah menyiapkannya, eonni?” Jiyeon memeriksa seragam barunya. Kali aja ada bagian yang belum disetrika.

“Kau pasti cocok memakai seragam itu.”

“Gomawo, eonni.” Jiyeon membalas senyum Gyu Ri padanya.

“Kau sudah menyiapkan buku-bukumu untuk besok?” tanya Gyu Ri yang selalu perhatian pada dongsaengnya.

“Sudah, eonni. Semuanya sudah beres. Aku tinggal tidur, sarapan, lalu berangkat ke sekolah baru.”

“Anak pintar…” Gyu Ri mengacak rambut panjang Jiyeon sehingga rambutnya benar-benar berantakan.

“Eonni, rambutku jadi kusut gara-gara kau…” gerutu Jiyeon.

Jam 9 malam.

Myungsoo masih tampak galau. Appanya menyuruhnya sekolah di sekolah milik yayasan yang dikelola appanya. Awalnya Myungsoo ingin menolak. Meski appanya adalah ketua yayasan di sekolah yang sering disebut-sebut sebagai sekolah para idola oleh kaum muda, Myungsoo tetap berat hati sekolah di sana. Sekolah appanya memang terkenal gara-gara beberapa idol yang sekolah di sana. Tapi justru karena itulah Myungsoo enggan sekolah di sana. Dia memilih sekoah di Jaeguk Highschool yang biaya sekolahnya sangat sangat mahal.

Ia membuang nafasnya kasar. Lalu tubuhnya direbahkan di atas ranjang, di dalam kamarnya. Kedua matanya terpejam. “Mungkin aku memang harus menuruti kemauan appa,” gumamnya. Sekali-sekali menuruti appanya bukanlah kesalahan fatal, pikirnya.

Bel masuk berbunyi sepuluh menit yang lalu. Siswa yang terlambat mendapat hukuman di halaman sekolah, termasuk Myungsoo.

“Seonsaengnim, aku siswa baru. Apa kau juga akan menghukumku?”

“Ya, kau tetap harus dihukum.”

“Saem, aku bahkan belum mendapat kelas. Calon kelasku dimana juga aku belum tahu.”

“Makanya jangan datang terlambat.”

Tiba-tiba guru olahraga yang merangkap sebagai guru kedisiplinan itu membungkukkan badannya. Myungsoo bingung atas sikap guru itu. Apa guru itu sedang membungkukkan badan padanya?

“Seonsaengnim, waegurae?” tanya Myungsoo polos.

“Selamat pagi, Direktur-nim,” ucap guru itu.

Direktur? Myungsoo membalikkan badan untuk melihat siapa yang dipanggil guru itu dengan sebutan Direktur. Dia terkejut melihat appanya didampingi beberapa orang sedang berjalan cepat di depannya. Appanya melihat Myungsoo datar, begitupun dengan Myungsoo.

“Biarkan mereka semua masuk ke kelasnya masing-masing, Nam Seonsaengnim,” perintah sang direktur yang ternyata adalah appa kandung Kim Myungsoo.

“Ne, Direktur-nim.”

Setelah mendapat perintah dari sang direktur, Nam seonsaengnim membiarkan siswa-siswa yang terlambat itu masuk ke kelas mereka masing-masing.

Myungsoo berjalan gontai menuju kelasnya. Kelas 2-2.

“Hari pertama saja sudah menyebalkan,” lirihnya. Myungsoo berhenti di depan kelas 2-2 dan merapikan baju seragamnya.

Tok tok…

“Masuklah!” Terdengar suara seorang yeoja paruh baya mem[ersilahkan Myungsoo untuk segera masuk ke dalam kelas.

Myungsoo berjalan mendekati guru yang tengah mengajar. Seperti biasa, guru itu memberitahukan kepada seluruh siswa kalau mereka akan mendapatkan teman baru.

“Perkenalkan dirimu!”

“Annyeonghaseo. Joneun Kim Myungsoo imnida. Aku pindahan dari Jaeguk Highschool.”

“Yaak, apa kau dipindahkan ke sini karena orangtuamu sudah tidak sanggup membiayai sekolahmu di sana?” Seorang siswa dengan sengaja mengejek Myungsoo yang baru saja menyebut nama Jaeguk Highschool.

Ciih! Kau akan menyesal mengucapkan kata-kata seperti itu. Keluargaku bahkan labih dari kata cukup,’ batin Myungsoo. Dia masih dapat menahan emosinya karena ejekan siswa tadi.

“Duduklah di bangku yang masih kosong.”

Myungsoo menurut. Dia menjejalkan bokongnya di bangku dekat jendela. Posisi bangku yang sangat ia sukai.

“Baiklah anak-anak, kita lanjutkan pelajarannya.”

Tok tok tok!!

Pintu kelas 2-2 diketuk lagi oleh seseorang dari luar ruangan. Semua mata tertuju ke arah pintu yang baru saja diketuk itu, namun tidak termasuk Myungsoo. Namja itu sibuk mengeluarkan buku-bukunya.

“Saya siswi baru, seonsaengnim.”

Guru bahasa Inggris itu terkejut. “Murid baru lagi?”

“Ne,” jawab Jiyeon bingung. Lagi? apa sebelumnya ada siswa baru yang masuk di kelas itu?

“Baiklah, perkenalkan dirimu.”

“Naneun Park Jiyeon. Kalian bisa memanggilku Jiyeon.”

Deg!

Myungsoo sontak mendongakkan kepalanya. Dia menghentikan aktifitasnya mengeluarkan buku-bukunya. Kedua matanya membulat melihat Jiyeon yang berdiri di depan papan tulis dengan seragam yang serupa dengan siswi lainnya. “Park Jiyeon?” seru Myungsoo. Semua mata kini tertuju pada Myungsoo, termasuk Jiyeon.

Jiyeon malah sangat terkejut melihat Myungsoo duduk manis di atas bangkunya. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Dia pindah ke sekolah ini untuk menghindari Kim Myungsoo. Tetapi kini dia malah sekelas dengan Kim Myungsoo.

“Bukankah kau masih kelas satu?” tanya Myungsoo.

“A, aku ikut program akselerasi,” jawab Jiyeon sedikit gugup.

“Waaah hebat…” Suara beberapa siswa yang kagum pada Jiyeon karena dia bisa meloncat kelas.

“Park Jiyeon! kau pindahan darimana?” tanya seorang siswa.

“Jaeguk Highschool,” jawab Jiyeon singkat.

“Waaahh dia hebat sekali. Ikut kelas akselerasi dari Jaeguk Highshool. Duduklah di sini.” Siswi bernama Kim Dani menunjukkan bangku di sampingnya yang masih kosong.

“Gomawo,” ucap Jiyeon yang langsung berjalan ke arah Dani.

Kim Myungsoo masih tidak percaya dia bisa satu kelas dengan Jiyeon. Begitu pula Jiyeon. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Myungsoo di kelas barunya. Jiyeon hanya bisa pasrah menjalani takdir. Ya, mungkin ini semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Dia tinggal menjalaninya.

Cekleeek…

Pintu dibuka dari luar. Nampaklah seorang siswa tampan dengan rambut blonde-nya memasuki ruang kelas.

Joesonhamnida…”

“Darimana kau, Oh Sehun?”

“Dari ruang guru, saem.” Sehun duduk di bangku belakang Jiyeon. Namja itu tidak tahu menahu kalau di kelasnya kedatangan dua siswa pindahan dari Jaeguk Highschool.

Tbc

Sequelnya gaje. Muehehe…

Komennya aku tunggu ^^

43 responses to “[Chapter – Part 1] Knock to My Heart (Sequel of Really Sorry)

  1. Bentar tdi disekolah jiyi yang dulu ada kim dani , sekarang di sekolah yang baru ada juga ,sama kah orang nya???!
    ohh aq kira jiyi am myung emang pacaran tp ternyata lgy pedekate cerite nya mah , nyesel yeh uda nyuekin jiyi -_-

  2. Kemana jiyeon pergi ada myungsoo nih kkkk
    Di tambah cast sehun pasti lebih seru nih, triangle love story nih kyk nya kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s