Dear Mom

Dear Mom Jiyeon

Airin Hwang present

Dear Mom

|| Sad, Family, Angst ||

Written and Storyline : Airin Hwang

Featuring : Park Ji Yeon [T-Ara], Kim Myung Soo [Infinite]

Genre: Sad, Angst, Family┇ Rating: G┇ Length: Oneshoot (1.149 ms.word) ┇ Disclamer: This fanfiction is MINE. ┇

Eomma, aku tahu. Berapa pun banyaknya untaian kata yang keluar dari mulutku

takkan bisa membalas semua kebaikanmu. Karena dari itu

cukup satu kata untuk mewakili seluruh perasaanku,

Gomawo, eomma

–**–

 

a/n:Hellow, sebenarnya ff ini aku ingin ngepost ini di hari ibu,
tapi karena hari ibu masih lama, akhirnya ku post sekarang aja. Selamat membaca😀

 

Jiyeon melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke sebuah pusara berwarna putih sembari membawa keranjang yang berisikan bunga. Di pusara itu terdapat ukiran nama indah yang berwarna keemasan, sungguh terlihat elegan dan berkelas.

Sesampainya di depan pusara tersebut, sejenak Jiyeon bersimpuh kemudian menangkupkan tangannya lalu berdoa. Menyampaikan kepada Yang Maha Kuasa atas rasa terima kasih yang tak terkira karena masih terus menjaganya serta tak lupa berdoa untuk kebahagiaan ibunya di sana. Selesai berdoa, wanita itu kemudian membuka kedua kelopak matanya dan mengarahkan matanya ke arah pusara tersebut. Bayangan sang ibu selalu terlintas saat ia melihat batu pusara tersebut. Walaupun sudah bertahun-tahun beliau sudah pergi meninggalkannya, tapi wajah itu tak akan pernah terlupakan. Wajah cantik yang penuh kehangatan yang selalu dirindukan oleh Jiyeon setiap saat.

Wanita itu mencoba memberikan senyum terbaiknya dan mulai bergerak membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di sekitar pusara itu. Tak lupa menggantikan bunga mawar yang telah layu dengan yang baru.

Bunga mawar, adalah bunga kesukaan ibunya dan tak kan pernah ia lupa. Betapa ia masih mengingatnya dengan jelas, dulu setiap sore ibunya selalu menyempatkan diri untuk menyiram dan merawat bunga-bunga mawar yang ditanam olehnya. Terkadang Jiyeon selalu menanyakan mengapa ibunya sangat menyukai bunga mawar, akan tetapi ibunya hanya tersenyum dan tak menjawabnya. Jujur ia sendiri tidak menyukai bunga tersebut. Karena batang bunga mawar yang berduri dan bisa melukainya kapanpun. Bahkan sampai sekarang hal itu masih mengganggu pikirannya.

“Annyeong, eomma!”

Akhirnya Jiyeon mengeluarkan suaranya setelah beberapa sebelumnya ia memilih untuk mengunci mulutnya. Sebuah senyuman coba ia suguhkan dengan sepenuh hati.

“Bagaimana kabar eomma di sana? Apakah di sana eomma bahagia? Atau apa eomma sekarang sedang bersama Tuhan di sana? Aku di sini sangat merindukanmu. Eomma, di sini aku sangat bahagia. Sebentar lagi aku akan menikah, dan mungkin aku pun akan merasakan bagaimana jadi sepertimu. Kadang aku merasa takut, tapi aku juga tidak sabar menunggu hari itu tiba. Seringkali aku berpikir seandainya eomma masih ada…”

Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya serasa tercekat. Ini sudah keberapa kalinya ia mengujungi makan ibunya dan ia selalu saja seperti ini. Seakan dirinya masih belum bisa menerima kepergian orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

Sejenak Jiyeon seakan tenggelam dengan tangisnya. Ia akui dirinya memang tidak bisa menahan air matanya. Sekeras apapun ia berusaha untuk membendungnya, pasti air matanya kembali jatuh.

Pikirannya mulai terbang menjauh menelusuri memori masa kecilnya dulu bersama sang ibu. Senyumannya, tawanya, serta perlakuannya masih teringat jelas dan akan terus membekas. Kini ingatannya tertuju pada satu hal, nyanyian merdu ibunya yang indah. Dulu, sebelum tidur, ibunya selalu menyanyikan sebuah lagu pendek buatan ibunya sendiri.

Flashback

“Ayo Yeon-ah, sudah malam. Ayo cepat tidur” Terdengar suara sang ibu yang sudah berada di depan pintu melihat ke arah Jiyeon kecil yang masih asik dengan mainannya.

“Nanti dulu eomma , aku masih belum mengantuk.” Jawab anak kecil itu tanpa sedikitpun menoleh ke arah sang ibu yang masih setia menunggu.

Ibu Jiyeon hanya menghela napas pelan, ia tau kalau anaknya ini memang sangat susah diatur. Akhirnya sang ibu berjalan mendekati Jiyeon kemudian berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anaknya.

“Jiyeon-ah, ini kan sudah malam, waktunya tidur. Mainannya kan bisa dimainkan lagi besok. Ayo ke tempat tidurmu.” Ajak sang ibu dengan penuh kesabaran.

Tapi eomma, aku memang masih belum mengantuk. Lihat aku masih belum mengantuk kok.” Ucap Jiyeon kecil yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya masih semangat.

Sang ibu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut hitam Jiyeon “Tidak apa, kalau sudah berbaring di tempat tidur pasti akan mengantuk kok. Nanti eomma nyanyikan sebuah lagu biar cepat tidur”

“Benarkah?” Tanya Jiyeon kecil penuh harap

“Ya, tentu saja. Sebuah lagu ciptaan eomma sendiri.”

“Kalau begitu ayo, aku akan tidur.” Ujar Jiyeon kecil lalu meninggalkan mainannya itu dan segera membaringkan dirinya di tempat tidurnya yang berwarna biru muda.Sang Ibu kemudian duduk di samping Jiyeon serta membantu menyelimutinya. Tak lupa juga ia menyuruh buah hatinya itu untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar tidurnya nyenyak tanpa terganggu suatu apapun.

Selesai berdoa, sang ibu mulai menyanyikan sebuah lagu sambil mengelus puncak kepala Jiyeon.

“…tidurlah anakku sayang, jangan takut eomma menjagamu…”

“…tidurlah, karena esok hari yang cerah telah menunggumu…”

“…mimpi indah anakku sayang…”

Flashback off

Jiyeon hanya dapat diam termangu, lagu ini lagu yang hampir terlupakan olehnya. Bagaimana dulu suara yang indah itu menjadi sebuah pengantar tidur yang manis untuknya. Ia berusaha mengingat-ingat nada lagu itu. Sedikit sulit memang karena ia sendiri hampir tidak pernah menyanyikannya.

“…tidurlah…tidurlah anakku sayang, jangan takut eomma menjagamu…” Jiyeon mulai mencoba menyanyikan lagu tersebut sesuai dengan nada yang sama dinyanyikan oleh ibunya.

“…tidurlah, karena esok hari yang cerah telah menunggumu…”

“…mimpi indah anakku sayang…”

Karena terlalu asyik menyanyi, wanita tersebut tidak sadar jika ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Sebelumnya ia memang berniat untuk membuntuti Jiyeon dari awal. Ia hanya ingin memantau keadaan wanitanya itu saja. Jujur saja, ia merasa khawatir dengan keadaan Jiyeon yang terkadang sering melamun dan menangis karena merindukan ibunya.

“Jiyeon “ Panggilnya pelan

Jiyeon tersentak dan langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya tadi.

“Myung Soo? Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”

Lelaki yang bernama Kim Myung Soo itu hanya tersenyum kemudian ikut bersimpuh di samping Jiyeon serta menggenggam erat jari-jemari wanita itu. “Aku tahu jika kau sedang bersedih, kau pasti akan ke sini. Makam ibumu.”

Jiyeon hanya tersenyum kecil, lelaki itu benar-benar sudah mengetahui semua kebiasaannya. Wanita itu pun menyandarkan kepalanya di bahu Myung Soo, dengan mata yang tak pernah lepas memandangi pusara ibunya itu.

“Jiyeon?” Panggil lelaki itu.

“Hemm..”

“Bolehkah aku menyapa eommamu?”

Wanita itu hanya mengangguk.

Lelaki itu menarik nafas pelan lalu kembali dihembuskannya

”Annyeong eomma, ini aku Kim Myung Soo. Calon suami Jiyeon. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada eomma karena telah melahirkan dan membesarkan Jiyeon dengan baik dan cantik seperti sekarang ini. Yah, walaupun terkadang ia juga suka bertindak ceroboh dan manja. Tapi aku tetap mencintainya. Bagaimanapun prilaku dan kebiasaanya, aku tetap mencintainya. Karena itu aku meminta izin kepada eomma untuk merestui pernikahan kami kelak. Aku juga berjanji akan selalu ada buat Jiyeon, menjaga dan melindunginya sampai ahkir hayat kami. “

Kemudian Myung Soo menundukkan badannya di depan makam tersebut sebagai tanda penghormatannya. Setelah selesai ia pun melirik ke arah Jiyeon yang sedang menguap.

“Kelihatannya kau sudah lelah. Masih ingin di sini atau pulang?” Tawarnya sembari membersihkan bekas-bekas air mata wanita itu.

“Aku sudah mengantuk, kita pulang saja.” Ucapnya kemudian bangkit berdiri yang diikuti juga oleh lelaki itu.

“Eomma, aku pulang dulu. Nanti kapan-kapan aku akan kembali mampir ke sini.” Pamitnya kemudian menggandeng tangan lelakinya erat.

 

“Ayo, kita pulang”

-END-

17 responses to “Dear Mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s