[CHAPTER – PART 10] 15:40:45 – Clarify

myung-ji-154045-115:40:45

Clarify

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

Hari ini Jiyeon sengaja datang lebih pagi dengan niat mengerjakan tugas kelompoknya yang baru terselesaikan separuhnya. Tetapi saat ia baru menginjakkan kakinya di halaman depan sekolah, Yooyoung sudah mengejar dan bergerak menarik tangannya, menyeretnya ke arah kelas dengan cepat. Belum sempat Jiyeon bertanya, ketiga temannya yang lain sudah siap berdiri di depan kelas, seakan menunggu kedatangannya, bersedekap dengan gaya dan ekspresi wajah yang hampir sama.

Duduk dan dikelilingi empat pasang mata seperti ini membuat Jiyeon mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Seketika ia langsung teringat dengan apa yang terjadi dengannya kemarin sore. Bisa dipastikan keeempat temannya ini akan menyerangnya dengan beribu pertanyaan yang mungkin tak akan sangggup ia jawab. Melihat keadaannya sekarang, sepertinya Jiyeon harus absen dari kegiatan kerja kelompoknya bersama Kyung dan Jimin. Jimin dan Kyung juga sama sekali tidak berniat mengusik urusan para gadis disana, atau mereka akan berakhir mengenaskan karena amukan dari mereka di pagi hari.

“Apa yang terjadi kemarin?”

“Bagaimana semuanya bisa terjadi?”

“Ada dimana kau saat itu?”

“Mengapa Sehun bisa berubah menjadi seliar itu?”

Serentetan pertanyaan bernada sama datang dan ditunjukkan untuk Jiyeon secara hampir bersamaan. Jiyeon tidak tahu pertanyaan mana yang harus ia jawab terlebih dulu, bahkan Jiyeon tidak tahu pertanyaan apa saja yang dilontarkan keempat temannya.

“Pelan-pelan saja, telingaku tidak sebanyak itu untuk-”

“Kau gila, ya?” Potong Soojung cepat sesaat setelah ia menarik dalam nafasnya.

Jiyeon hanya terdiam menunjukkan wajah bingungnya, “A.. apa?”

“Kau tahu, kan, bagaimana keadaannya kemarin?” Tanya Soojung retoris.

Jiyeon kembali terdiam. Ia menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari tangannya dan mengangguk mengiyakan.

“Sangat parah.” Sahut Hayoung, “Dan kau meninggalkan mereka begitu saja tanpa penyelesaian sedikitpun?”

Jiyeon tak menjawab. Masih betah dengan posisi yang sama dengan sebelumnya.

“Aku tahu jika kau terpukul, aku pun tak menyangka jika Sehun akan mengambil tindakan sampai sejauh itu,” Sambung Yooyoung pelan, “Tidak ada yang menyangka jika Sehun akan berselisih dengan senior terdekatnya, dan semua itu bukan salahmu, Jiyeon-ah,”

“Tapi tidak dengan meningggalkannya begitu saja dan lari bersama lelaki lain.”

Jiyeon terhenyak. Sebaris ucapan diakhir kalimat Yooyung benar-benar terdengar tajam di telinganya. Hatinya seakan tertusuk dan entah darimana rasa nyeri itu tiba-tiba saja datang dan menyerang tepat di lubuk hatinya.

Tidak, Jiyeon tidak sejahat itu dengan pergi meninggalkan perselisihan antar dua sahabat yang sebenarnya tidak ia tahu apa penyebab pastinya. Ia hanya sebatas tahu bahwa pertikaian itu ada karenanya, dan Jiyeon yakin akan hal itu. Tidak ada yang tahu bahwa semalam Jiyeon hampir tidak bisa tidur. Berusaha mengundang rasa kantuknya dengan membaca buku, meminum susu hangat, atau mendengarkan musik sepertinya tidak begitu membantu. Wajah Sehun juga Minho, dan adegan perkelahian di taman samping sekolah terus menerus menghantui pikirannya. Membuat dadanya berdetak semakin kencang, keringat dinginnya terus mengucur keluar dari dahinya, dan semakin ia pikirkan, rasa bersalahnya pun ikut tumbuh menjadi semakin besar. Walau pada akhirnya Jiyeon tertidur setelah sekian lama tenggelam dalam berbagai pikiran buruknya tentang hari esok.

Jiyeon sempat berpikir untuk tidak masuk sekolah hari ini. Ia masih terlalu takut dengan apa yang akan terjadi di sekolahnya nanti. Bagaimana jika ia bertemu dengan Sehun ataupun Minho. Apa yang harus ia lakukan jika mereka berpapasan nanti. Bagaimana jika perkelahian antara Sehun dan Minho masih berlanjut hingga sekarang, dan kemungkinan besar jawabannya adalah iya. Tetapi sekali lagi ia berpikir. Ia tidak bisa terus menerus seperti ini, selalu lari dari masalah. Ia tidak bisa terus-menerus bersikap egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa pernah memikirkan bagaimana nasib yang lain karenanya. Toh kepergiannya kemarin sudah membuat semuanya tidak menjadi lebih baik dan Jiyeon tidak ada niat sama sekali untuk membuat masalahnya menjadi lebih buruk lagi.

Dan tentang lelaki lain yang disebutkan Yooyoung, Jiyeon sama sekali tak menampiknya. Memang benar ia telah ‘melarikan diri’ bersama lelaki lain disaat masalahnya masih panas, dan itu bukanlah pilihan yang tepat. Jiyeon tahu bahwa ia telah mengambil langkah yang salah. Seharusnya ia kembali dan berusaha menyelesaikan semuanya, berusaha melerai Sehun dan Minho, bukan lari meninggalkan masalah bersama Myungsoo.

Gila, Jiyeon memang sudah gila. Disaat yang lain akan berpikir normal dengan berusaha menyelesaikan masalah secepatnya. Jiyeon justru menerima ajakan Myungsoo untuk pergi. Jiyeon tidak menyalahkan Myungsoo, sama sekali tidak. Ini memang murni kesalahannya. Jiyeon bisa saja menolak tawaran Myungsoo, tetapi pada akhirnya Jiyeon juga akan pergi dengan ajakan Myungsoo. Jiyeon memang sepenuhnya bersalah, dimata orang lain, tetapi tak ada yang tahu bahwa Jiyeon menerima tawaran Myungsoo bukan tanpa alasan, ia hanya ingin sedikit menenangkan perasaannya, itu saja.

“Kau harus menyelesaikan masalahnya, secepatnya,” Soojung menepuk pelan pundak Jiyeon, “Jika kau tidak ingin terus bergelut dengan masalah yang sama.”

Soojung berbalik meninggalkan kelas menuju perpustakaan, menyusul Hayoung dan Yooyoung yang sudah lebih dulu pergi, memenuhi panggilan dari penjaga perpustakaan. Kini hanya tertinggal Bomi dan Jiyeon yang saling diam setelah ketiga dari yang lainnya pergi. Bomi yang sedari tadi diam, hanya sibuk memperhatikan Jiyeon dengan tatapan khawatir.

“Sepertinya aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi padamu, memberitahu apa yang seharusnya dan tidak kau lakukan,” Ucap Bomi memecah keheningan, “Semuanya telah dikatakan oleh Hayoung, Yooyoung, dan Soojung,”

Jiyeon hanya terdiam sambil menatap mata Bomi dalam dan kembali menundukkan kepalanya seperti semula.

“Myungsoo menyukaimu, kau tahu itu, kan?”

Jiyeon kembali mengangkat kepalanya menghadap Bomi yang kini berdiri tepat di depannya. Sedetik kemudian ia mengangguk, mencoba memberitahu Bomi bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.

“Dan kau juga pasti tahu, bukan tanpa alasan bocah itu tiba-tiba saja muncul dan menawarkan tumpangan pulang untukmu.” Sambung Bomi, “Kesempatan sekecil apapun tidak akan ia lepas begitu saja.”

Lagi-lagi Jiyeon hanya mengangguk mengiyakan. Sebenarnya masih banyak pertanyaan dan pernyataan lain yang ingin Bomi lontarkan, tapi ia berusaha menahan dan memberi Jiyeon kesempatan untuk menjawabnya.

“Aku tahu jika Myungsoo menyukaiku dan ia selalu mencari setiap kesempatan untuk lebih dekat denganku, walaupun aku lebih sering melakukan penolakan padanya,” Jiyeon tersenyum kecil.

“Tapi aku baru menyadari jika semakin banyak aku menolaknya, semakin banyak pula waktu yang aku habiskan dengannya, bahkan hanya untuk memikirkan segala tingkah lakunya yang tak seharusnya ia lakukan. Semua itu membuatku menjadi lebih terbiasa dengan kehadirannya.”

Bomi menatap Jiyeon bingung, “Dan tentang yang kemarin?”

“Begitu pula dengan yang kemarin. Aku sangat tahu jika itu adalah salah satu kesempatan dalam kesempitan yang berhasil ia dapatkan,” Jawab Jiyeon pelan dengan nada meyakinkan, “Aku hanya berusaha mencari ketenangan, dan Myungsoo datang saat itu,”

“Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah ketika hatiku sendiri tidak dalam keadaan yang tenang. Aku hanya ingin menyelesaikan semua dengan kepala dingin.”

Kini Bomi menganggukkan kepalanya mengerti. Dan kini ia mengubah pikirannya, menerima tawaran Myungsoo bukanlah pilihan yang salah, Jiyeon hanya memilih jalan terbaik walau tak menyelesaikan masalah dengan cepat.

“Apa kau memiliki perasaan pada Myungsoo?” Tanya Bomi cepat. Jiyeon hanya terdiam memandang wajah Bomi, terlihat berpikir.

Mulut Bomi sedikit terbuka, “Lalu bagaimana dengan Minho sunbae? Juga Sehun..”

“15:40:45, mungkin?” Jawab Jiyeon tak yakin.

“Apa yang kau maksud, aku tak mengerti..” Bomi mendekatkan wajahnya kearah Jiyeon, mencoba meminta penjelasan pasal ucapannya yang sama sekali tak Bomi mengerti.

Jiyeon menarik nafasnya sebelum menjelaskan, “Lima belas persen, empat puluh persen, dan sisanya empat puluh lima.”

“Tunggu sebentar, biar aku tebak, sepertinya ini menyenangkan,” Bomi terliat berpikir dan menyiapkan jari-jari tangannya untuk menghitung, “Lima belas untuk Myungsoo, empat puluh untuk Minho sunbae, dan empat puluh lima untuk Sehun,”

“Ah, tidak tidak. Lima belas untuk Sehun, empat puluh untuk Myungsoo, dan empat puluh lima untuk Minho sunbae? Atau lima belas-”

“Lima belas untuk Minho, empat puluh untuk Sehun, dan empat puluh lima untuk Myungsoo.” Sahut Jiyeon memotong.

Bomi membelalakkan matanya lebar. Mulutnya kini sudah terbuka sepenuhnya. Matanya mengerjap tak percaya. “Jeongmal? Kau tidak bercanda, kan? Em.. empat puluh lima untuk si tukang paksa itu?”

Jiyeon kini menganggukkan kepalanya yakin. Jawabannya barusan bukanlah candaan ataupun hasil rekayasa. Dan Bomi hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Aku tak menyangkan bahwa Myungsoo yang berhasil memeenangkan pertarungan ini,” Ucap Bomi tak percaya, “Sosok senior idaman seperti Minho sunbae, bahkan lelaki malaikat seperti Sehun dapat dikalahkan oleh si pembuat masalah seperti Myungsoo. Daebak!”

Jiyeon hanya tersenyum. Ia sendiri pun tak percaya jika hasilnya akan menjadi seperti ini. Seseorang yang sama sekali tak pernah ia duga justru berhasil menyentuh hatinya lebih dulu. Myungsoo yang awalnya selalu membawa masalah dan segala keonarannya, berhasil menciptakan langkah lebih berkat segala usaha uniknya.

“Dan bukankah artinya kau harus menyelesaikan semuanya?” Ucap Bomi, “Mengatakan tentang perasaanmu yang sebenarnya pada Minho sunbae dan memberikan Sehun keputusan juga pilihan yang lain, mungkin..”

Jiyeon menatap Bomi dengan wajah penuh tanya, “Apa yang kau bicarakan? Pilihan lain?”

Bomi berjalan ke arah jendela depan kelasnya dan melambaikan telapaknya dengan maksud menyuruh Jiyeon untuk mendekat ke arahnya dan melihat apa yang kini ia lihat.

“Lihatlah. Mungkin kau bisa membawa kebahagiaan itu kembali pada lelaki malaikatmu, Jiyeon-ah..”

Sudah lama Jiyeon tidak melihat pemandangan ini. Jika diingat-ingat, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu, dan saat itu Jiyeon belum mengenal Sehun begitu dekat, hanya sekedar tahu satu sama lain. Dan bagi penghuni sekolahnya yang sekarang, mungkin ini adalah pemandangan baru.

Jinri dan Sehun tidak lagi dekat semenjak hubungan mereka berakhir empat tahun lalu. Apalagi semenjak Sehun menjalin hubungan dengan Jiyeon, hampir sama sekali tak ada interaksi antara Sehun dan Jinri.

Jinri dan Sehun sama sekali tak menyangka jika mereka kembali ditempatkan dalam satu sekolah yang sama, walau tidak berada dalam satu kelas, tetapi sejak pertemuan Sehun dan Jinri di kantin waktu itu, membuat merekan berdua semakin sering bertemu tanpa sengaja. Awalnya mereka hanya saling memandang satu sama lain layaknya orang asing, bukan apa-apa, Sehun hanya merasa sungkan jika harus menyapa Jinri ketika ia sedang bersama Taemin. Hanya sesekali Sehun dan Jinri saling menyapa, itupun jika tidak ada Taemin, Jiyeon, ataupun temannya yang lain.

Sebenarnya Sehun bukan tipe lelaki penggosip, tetapi menurut berita yang ia dengar Jinri dan Taemin sedang dalam keadaan yang tidak baik akhir-akhir ini, bahkan mereka pernah bertengkar di kantin dan disaksikan oleh sebagian besar warga sekolah. Sebenarnya disaat seperti ini tak seharusnya Sehun dekat-dekat dengan Jinri atau gosip baru mungkin akan beredar keesokan harinya, tapi sepertinya tidak untuk pagi ini, Sehun tak peduli dengan gosip apalagi yang akan beredar tentangnya, ia hanya butuh seseorang untuk menemainya pagi ini dan sayangnya hanya Jinri-lah yang ia temukan pagi ini. Karena Jeongmin sedang sibuk dengan pagelaran musik yang akan diadakan sebentar lagi.

“Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?” Tanya Jinri setelah keduanya cukup lama saling diam.

Sehun menatap kearah Jinri diam tak menjawab. Sehun hanya sibuk menggigit bibirnya dan meminum buble tea yang telah ia beli sebelumnya.

Jinri menghela nafasnya pendek, “Aku tak menyangkan jika kau dan Minho sunbae akan bertengkar samapi seperti itu, bukankah kalian sangat dekat?”

Sehun hanya mengangguk dan tetap diam sedari tadi. Entahlah, ia hanya terlalu malu untuk mengatakan semuanya pada Jinri. Ia hanya tidak mau Jinri menganggapnya sebagai pengecut yang tak bisa memikirkan suatu hal secara dewasa. Walaupun Sehun yakin Jinri sudah mengetahuinya tanpa perlu bertanya.

“Apa mungkin karena.. Jiyeon sunbae?”

Sehun kembali mengangkat wajahnya menghadaap Jinri. Ia hanya mengedipkan matanya tanpa menjawab. Apa benar semua ini karena Jiyeon? Pertanyaan-pertanyaan itu kini seakan berputar dikepala Sehun, bukankah ia dan Jiyeon sudah berpisah, lalu untuk apa ia rela membuang tenaga bertarung dengan seniornya sendiri? Apa mungkin ia.. cemburu?

Sehun tertegun. Ia memang tak menginginkan perpisahan ini, karena pada dasarnya bukan Sehun yang meminta. Tapi apakah rasa itu pada ada untuk Jiyeon? Tidak tidak.. Walaupun Sehun belum melupakan Jiyeon sepenuhnya, tetapi ia sudah mulai belajar untuk menerimanya, melepas dan merelakan seseorang yang ia cintai untuk kebahagiannya.

Satu-satunya alasan Sehun hanya karena orang itu adalah Minho. Ia merasa dikhianati. Minho yang selama ini ia hormati dan ia anggap sebagai seseorang yang selalu mendukung apapun pilihannya. Jika dipikirkan sekali lagi, Minho sama sekali tak bersalah. Bukankah ia menggunakan cara bersih utuk mendekati Jiyeon. Minho tidak merebut Jiyeon saat Jiyeon masih bersama Sehun ataupun berhubungan dengan Jiyeon saat Jiyeon masih berstatus sebagai kekasih Sehun. Ia hanya marah. Mungkin ini hanya masalah waktu, terlalu cepat untuk Sehun. Dan mungkin masalahnya tidak akan menjadi seperti ini jika orang itu bukanlah Minho.

“Lihatlah luka lebamnya, apa kau tak mengobatinya semalam?”

Sehun terkaaget dengan keberadaan Jinri disampingnya. Entah sejak kapan Jinri berpindah tempat dan duduk disebelahnya.

Jinri mendekatkan wajahnya berusaha melihat luka lebam di pipi Sehun lebih jelas, “Kau benar-benar tidak mengompres lukanya semalam?”

“Aku tertidur setelah sampai di rumah.” Jawab Sehun singkat.

Jinri menggelengkan kepalanya, “Bagaimana kau bisa tertidur dengan luka sebanyak ini, pasti sakit.”

“Sudah tahu mengapa masih bertanya.”

Jinri hanya mendengus kasar. Tanpa ia sadari jari tangannya sudah bergerak menelurusi luka yang tersebar di pipi Sehun. Tubuh Sehun kini mendadak kaku. Bola matanya bergerak mengikuti arah gerak jari Jinri di wajahnya.

“Aku tak menyangkal jika Minho sunbae benar-”

Ucapan Jinri terhenti. Ia sadar dan segera menarik tangannya kembali dan mendekapnya dengan erat, takut-takut jika jari tangannya akan kembali bergerak ke tempat yang tak seharusnya. Jinri menunduk cepat menhembunyikan semburat kemerahan di pipinya.

“Ma.. maaf.”

Sehun berusaha menormalkan tubuhnya kembali dengan menarik nafas panjang, “Ah, ti.. tidak apa-apa.”

Keheningan kembali melanda keduanya. Sehun dan Jinri tak berani melihat satu sama lain. Jinri yang terus menundukkan kepalanya dan Sehun yang sibuk menghabiskan buble tea miliknya.

“Jinri-”

“Sehun-”

“Aku-”

“Aku-”

Keduanya kembali terdiam saling berpandangan. Bahkan untuk bicarapun kini terasa canggung.

“Ah, kau dulu saja.”

Jinri menggeleng cepat, “Tidak, kau saja.”

Sehun hanya mengangguk kecil. Menarik nafas panjang sebelum bertanya, “Bagaimana kau dan Taemin, apakah sudah baik?”

“Kau tidak tahu?” Jinri terdiam sejenak, “Aku kira beritanya sudah menyebar dengan cepat,”

“Aku dan Taemin sudah berakhir dua hari yang lalu.”

Jinri terdiam, begitu juga Sehun. Sehun memandang Jinri dengan rasa bersalah. Ah, seharusnya ia tak bertanya hal itu pada Jinri. Dasar bodoh!

“Tidak perlu minta maaf,” Jinri tersenyum, “Aku dan Taemin sepertinya memang tidak cocok lagi.”

Sehun hanya mengangguk kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Teeeettt! Teeettt!

Sehun menghela nafanya lega. Bel tada masuk benar-benar menyelematkannya dari kecanggungan bersama Jinri.

“Sebaiknya kau kembali ke kelas sebelum terlambat.”

Jinri hanya menjawab dengan mengangguk sebelum melambaikan tangannya dan beranjak pergi meninggalkan Sehun.

-O-

Sudah sejak bel tanda masuk dibunyikan hingga satu jam pelajaran terlewatkan, Jinki terus menerus memperhatikan seluruh luka lebam di pipi kiri Minho. Minho sudah mengatakan bahwa luka lebamnya tidak separah itu, tapi Jinki terus saja melawan dengan mengatakan bahwa luka itu akan semakin parah jika didiamkan terus menerus. Tapi lama-kelamaan pandangan yang Jinki berikan pada Minho terasa mengganggu.

“Berhenti melihatku dengan pandangan menjijikkan itu.” Ucap Minho sambil mengalihkan wajah Jinki.

Jinki menyingkirkan telpaka Minho dari wajahnya, “Sebagai sahabat yang baik, aku hanya khawatir padamu,”

“Lagipula aku tak menyangka jika Sehun-”

“Jika Sehun akan melakukan hal seperti kemarin padaku?” Potong Minho cepat.

Minho hanya tertawa kecil, “Aku pun begitu, sama sekali tak menyangka jika anak kecil itu begitu berani.”

“Kau tidak mencoba untuk membalasnya lagi, kan?” Tanya Jinki lagi mencoba meyakinkan, “Sebaiknya kau selesaikan dengan kepala dingin.”

Minho menggelengkan kepalanya sambil tertawa, “Tidak, Jinki-ya. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui cara apa yang harus aku pilih,”

“Dan aku yakin, Sehun sama sekali tak bermaksud melakukannya. Ia hanya emosi, dan karena aku memang salah..”

Malam kemarin ia menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, bahkan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya tanpa berniat untuk menggantinya, membiarkan seisi kamarnya bagaikan kapal pecah dengan tas, sepatu, dan segala barang yang tergeletak jauh dari tempat seharusnya. Itu hanya salah satu caranya untuk melampiaskan emosi. Dipukul dan dipermalukan di depan banyak siswa lain benar-benar membuatnya malu. Pamor sebagai senior paling dihormati mungkin tak akan menjadi miliknya lagi. Tapi sebenarnya bukan karena itu, Minho tak pernah peduli dengan pamornya sebagai senior paling dihormati atau apapun yang mereka sebut. Minho hanya merasa direndahkan oleh junior terdekatnya sendiri. Adik kelas yang paling ia jaga dan ia banggakan.

Tak ada yang aneh sebelumnya. Semuanya masih baik-baik saja. Di hari sebelumnya Sehun dan Minho masih berlatih bersama, bahkan Minho berjanji untuk memntraktir Sehun buble tea sepuasnya setelah Sehun berhasil mengalahkannya di pertandingan hari kemarin. Tapi Sehun justru datang dengan emosi dan memulai pertikaian dengannya. Tentu saja Minho tidak terima, diperlakukan kasar tanpa alasan yang jelas. Pukulan keras dari Minho sepertinya tak membuat Sehun jera, ia justru kembali bangun dan membalasnya lagi. Semuanya berjalan semakin panas, ditambah segerombolan siswa lain yang melingkar berdesakan sambil menyoraki nama keduanya. Sampai akhirnya Jiyeon datang dengan air mata yang hampir jatuh. Saat itu Minho baru meyadari sesuatu, bahwa Sehun datang memukulnya bukan tanpa alasan.

“Kau harus meluruskan semuanya.”

Minho menatap Jinki dengan wajah penuh tanya, “Mengapa harus aku?”

“Karena kaulah yang bersalah.” Jinki berpikir sekali lagi, “Dalam sudut pandang Sehun, maksudku.”

“Dan karena menurut satu sisi ,akulah yang bersalah, dan aku harus bertanggung jawab atas segalanya?”, “Minho menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak, tidak.. Kau harus melihat segalanya dari segala sisi, Lee Jinki, dan kau akan tahu..”

“Apa? Tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, begitu?” Tanya Jinki meyakinkan.

Jinki tersenyum kecil kemudian, “Tidak ada yang benar dan juga tidak ada yang salah disini. Tapi menurut pandangan luar yang tidak mengerti apa-apa tentang masalah ini, kaulah yang bersalah, kau Choi Minho!”

“Peduli apa aku tentang mereka!” Balas Minho berteriak, “Aku hanya menyukai Jiyeon dan apakah itu salah? Apa aku begitu tak pantasnya bagi Jiyeon, huh?”

Jinki hanya menelungkupkan kedua telapak di wajahnya dan melepaskannya dengan cepat, “Tidak, Choi, kau tidak bersalah. Just because this matter happen in a wrong time, you must know it, Choi!”

Minho terdiam setelah mendnegar sebaris ucapan yang dilontarkan Jinki. Mungkin benar apa yang dikatakan Jinki, ia tidak salah, hanya karena hal ini teerjadi pada saat yang salah, dan membuat segalanya menjadi lebih runyam dari yang seharusnya.

“Ini terlalu cepat. Mungkin Sehun masih belum sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya itu, walau hubungan keduanya telah berkakhir.” Ucap Jinki tenang.

Ponsel milik Minho yang diletakkan sembarangan diatas meja kini menyala, menandakan bahwa satu pesan telah masuk. Minho membuka dan membacanya dengan asal-asalan. Beberapa saat setelah matanya bergerak membaca pesanuntuknya, Minho menghempaskan ponselnya dengan nada putus asa.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Jinki langsung menyambar ponsel Minho dan ikut membaca apa pesan yang baru saja masuk.

“Mungkin ini memang yang terbaik, Choi.” Jinki menepuk bahu Minho pelan, “Heol! Lagipula kita masih tidak tahu apa yang akan dikatakan Jiyeon, apapun bisa terjadi, dan semoga tidak lebih memperburuk keadaan.”

From : Jiyeon

Kita bertemu pulang sekolah nanti.

-O-

Sebenarnya saat ini bukan waktu istirahat. Jiyeon tidak sedang membolos pelajaran, ia hanya lebih dulu menyelesaikan ulangannya, dan daripada harus berdiam diri duduk di depan kelas, Jiyeon lebih memilih untuk berjalan keliling sekolah. Walaupun Jiyeon sudah hafal betul dengan pemandangan sekeliling sekolah beserta isinya, setidaknya udara segar dari pepohonan rindang disekitarnya cukup mampu membuat pikirannya lebih jernih dari sebelumnya.

Saat melewati lapangan, Jiyeon melihat sekelompok siswa sedang bermain bola di tengah lapangan, dan Sehun ada disana, bersama teman satu kelasnya berusaha memperebutkan satu bola dan memasukkan ke gawang lawan. Tanpa sadar Jiyeon terus memperhatikannya, sampai sebuah bola mengarah tepat menuju kepalanya dan semuanya berteriak dari arah tengah lapangan.

“Awaaas!”

Sudah terlambat. Jiyeon sadar setelah bola itu sudah berjarak sekitar ddua puluh senti dari kepalanya.

Buukk..!

Sudah terlambat. Bola itu sudah lebih dulu menghantam kepala Jiyeon, seakan membuat puluhan ekor domba kecil berputar mengelilingi kepalanya. Jiyeon sempat terdiam beberapa detik dengan mulut yang sedikit terbuka sebelum jatuh terduduk di pinggir lapangan.

Gwenchana?”

Hanya itu yang sayup-sayup Jiyeon dengar. Setelah mengerjapkan mata berkali-kali, sedikit demi sedikit matanya terbuka. Sekelompok siswa dengan pakaian olahraga tengah mengelilinginya saat ini. Setelah memperjelas penglihatannya, Jiyeon baru sadar jika ada seseorang yang maju lebih dekat dengannya. Sehun, iya Sehun berjongkok di sampingnya dengan wajah khawatir, dan sekali lagi iya, Sehun mengkhawatirkannya.

“Jiyeon-ah, gwenchana?”

Jiyeon hanya mengangguk setelah berusaha bangun dari posisi tidurnya. Sehun hanya menghela nafas lega setelah Jiyeon bangun dan menunjukkan jika ia baik-baik saja.

Satu persatu siswa mulai pergi dan kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya setelah meminta maaf atas kecerobohannya sehingga tendangannya bisa melenceng jauh ke arah pinggir lapangan. Kecuali Sehun yang masih bertahan pada posisi awalnya, hingga hanya tersisa mereka berdua, yang masih saling melirik satu sama lain dan membuang pandangannya kembali.

Sehun berdiri dengan cepat dan mengulurkan tangan kanannya pada Jiyeon, hanya bermaksud untuk membantu Jiyeon untuk bangun. Setelah terdiam sejenak, Jiyeon akhirnya menyambut uluran tangan Sehun dan bangkit berdiri di samping Sehun.

“Maaf, tadi itu tidak sengaja.”

Jiyeon melambaikan telapak tangannya cepat, “Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing, itu saja.”

Sehun hanya mengangguk paham. Ia menggaruk kepalanya dan menatap sekelilingnya, “Jika begitu a..aku kembali. Sekali lagi maaf.”

Belum sempat Sehun jauh melangkan, Jiyeon sudah kembali menahannya, “Tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan denganmu,”

Sehun menghentikan langkahnya dan kembali berdiri menghadap Jiyeon. Jiyeon terus menunduk seraya menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya kembali.

“Aku minta maaf soal yang kemarin..”

Mendengar satu kalimat terputus yang diucapkan Jiyeon, Sehun sudah mengerti apa yang sebenarnya akan dibicarakan Jiyeon dengannya.

“Maaf karena aku, kau dan Minho sunbae bertengkar.”

Tepat seperti yang Sehun pikirkan. Pasti tentang perbuatan bodohnya kemarin. Pertengkaran yang ia ciptakan sendiri dan ia sesali hingga semalam suntuk. Sesampainya di rumah, Sehun hanya menelungkupkan wajahnya dan memikirkan tentang apa yang telah ia lakukan di sekolah. Bodoh, bodoh, bodoh. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada seniornya, kakak kelas terdekatnya. Hanya karena emosi sesaat, telah membuat kepercayaan satu sama lain menghilang begitu saja.

Sehun pikir hanya dengan memukulnya dapat membuat segala beban pikirannya hilang. Tetapi tidak, pertengkarannya dengan Minho justru membuat segalanya semakin runyam. Persahabatannnya nyaris putus sekarang. Tetapi setidaknya ia dapat sedikit bersyukur, kejadian waktu itu telah membuatnya sadar bahwa melepaskan Jiyeon adalah jalan terbaiknya.

“Maafkan aku, karenaku, kau dan Minho sunbae-”

“Tidak,” Sehun tersenyum, “Bukan karenamu, aku dan Minho hyung jadi seperti ini.Tapi ini karena ulahku sendiri yang belum bisa menerima keadaan bahwa kau dan aku sudah berpisah.”

“Dan tentang Minho hyung, entahlah,” Sehun mengendikkan bahunya, “Tapi aku yakin, dia akan memaafkanku, walaupun kami tak akan sedekat dahulu.”

Belum sempat menjawab Sehun sudah menyelanya kembali, “Kembalilah ke kelasmu, bukankah ini masih jam pelajaran..”

Jiyeon hanya terdiam dan mengangguk mengiyakan tanpa berkata apa-apa lagi. Kata-kata yang keluar dari bibir Sehun seakan menyihirnya, membuatnya diam tanpa perlawanan bahkan hanya sekedar untuk mengatakan ‘iya’.

Jiyeon berbalik meninggalkan Sehun, berjalan kembali menuju kelasnya. Tanpa sadar ia tersenyum dan menghela nafas lega. Satau beban pikirannya seakan terangkat, kepala juga hatinya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Di belakangnya, Sehun yang terdiam pada posisinya juga ikut tersnyum. Ia telah mengatakannya. Melepas dan merelakan Jiyeon pergi. Bahagia dengan Minho atau yang lainnya. Walaupun saat ini belum sepenuhnya ia melupakan Jiyeon, Sehun yakin, seiring berjalannnya waktu, ia pasti bisa benar-benar melepas Jiyeon dari hati dan pikirannya.

-O-

Tepat seperti apa yang telah Minho dan Jiyeon janjikan sebelumnya, mereka akan bicara secara empat mata setelah bel pulang sekolah. Awalnya Minho ingin memberi Jiyeon tumpangan dan berangkat bersama, tetapi Jiyeon menolak dengan alasan Hayoung dan Yooyoung akan mengantarnya.

Sudah sekitar sepuluh menit Minho menunggu dan akhirnya Jiyeon datang dengan langkah yang tampak terburu-buru, “Maaf aku terlambat, apa kau sudah menunggu lama?”

Minho menggeleng, “Tidak, aku baru saja datang.”

Jiyeon tampak duduk dengan nafas terengah dan keringat yang mulai keluar dari sela rambutnya. Sedetik kemudian ia menyambar gelas berisi minuman dan menghabiskan hampir setengahnya.

“Hei, minuman ini untukku, bukan? Maaf jika aku meminum milikmu..”

“Tidak,” Minho tertawa, “Kau tahu, kan, jika aku tidak suka mango float. Itu memang aku pesankan untukmu.”

Jiyeon hanya mengangguk paham dan terdiam. Begitu juga Minho. Setelah cukup lama terdiam, Jiyeon tampak menarik nafas panjang dan menghelanya, sebelum kembali membuka percakapan.

“Maafkan aku..”

Minho tahu jika Jiyeon akan membahas hal ini. Bahkan saat pertama kali ia membaca pesan dari Jiyeon, Minho sudah tahu pasti Jiyeon mengajaknya bertemu untuk membahas masalah ini. Masalah kemarin, antara dirinya dan Sehun di taman samping sekolah.

“Untuk?” Minho berpura tidak tahu.

“Kau dan Sehun.” Ucap Jiyeon menunduk, “Maaf jika kau yang harus terkena imbasnya dan aku tahu-”

Tawa Minho menghentikan ucapan Jiyeon seketika. Jiyeon hanya menatap Minho bingung.

“Mengapa kau harus minta maaf? Bahkan aku sendiri sadar bahwa akupun bersalah.” Minho menarik nafas mencoba menghentikan tawanya, “Dan aku pantas mendapatkannya,”

“Karena tak seharusnya aku mendekatimu. Harusnya aku tahu jika Sehun akan terluka jika tahu senior terdekatnya secepat itu merebut kekasih hatinya.”

“Bukan karena-”

“Aku sadar bahwa aku bersalah, Jiyeon-ah. Aku memang menyukaimu, dan aku harap semuanya berhenti sampai disitu.”

Jiyeon terus menatap bingung pada Minho tak menegrti dengan ucapannya.

“Aku tak ingin jika rasaku ini membuat orang-orang terdekatku menjadi terluka. Lebih baik aku bersikap dewasa dan mundur, daripada harus membiarkan rasa ini tumbuh dan semakin menyakiti hati yang lain.”

Jiyeon yang terdiam kini mulai mengembangkan senyumnya. Perasaannya kini benar-benar lega. Beban pikirannya seakan hilang. Mungkin inilah yang seharunya ia lakukan sejak dulu, mengatakan dengan baik-baik, dan semua akan berjalan baikpula. Berterimakasihlah pada Minho dan Sehun, Jiyeon tak menyangka jika keduanya bisa menyikapinya dengan bersikap dewasa, dan sekali lagi Jiyeon sangat bersyukur, seakan ia mendapat kemudahan pada jalannya.

Tanpa Jiyeon sadari, seseorang sejak tadi tengah memperhatikannya dan Minho dengan seksama. Setelah menajamkan pandangannya, Jiyeon mengeenali siapa yang sejak tadi mengawasinya.

Bukankah itu Sungyeol? Oh gawat! Pasti ia akan mengatakan hal ini pada Myungsoo dan aish!

Dengan cepat Jiyeon mengalihkan wajahnya dan secepat mungkin mengajak Minho beranjak pergi menjauh dari tempat itu.

-O-

“Katakan saja jika lelaki itu adalah kakak laki-lakiku. Jangan katakan yang sebenarnya, kumohon..”

Pagi-pagi sekali Jiyeon sudah datang dan menarik lengan Bomi untuk membicarakan suatu hal dengannya. Bomi yang terlihat sama bingung dengannya hanya mengacak rambutnya.

“Bukankah Myungsoo mengetahui bahwa kedua kakakmu sudah bukan siswa berseragam lagi,” Jawab Bomi, “Walaupun kau tak pernah mengatakannya, tapi Myungsoo sudah mencari sebanyak-banyaknya info tentangmu, aku berani bertaruh tentang itu.”

Kini gantian Jiyeon yang mengacak rambutnya bingung, “Oh, baiklah, bilang saja jika lelaki berseragam itu adalah saudara sepupuku.”

“Tapi..” Bomi menghentikan ucapannya sebelum mengangguk mengiyakan perkataan Jiyeon, “Baiklah.”

“Peringatkan Jimin untuk mengatakan hal yang sama denganmu. Jika tidak kemungkinan besar kita bertiga akan mati bersamaan dengan cepat.” Ucap Jiyeon kembali mengingatkan.

Sekali lagi Bomi hanya menganggukkan kepalanya mengerti, “Baik, aku sudah mengingat semuanya, Jiyeon-ah,”

“Tapi mengapa, sepertinya kau begitu mengkhawatirkannya. Bukankah kau daan Myungsoo masih belum memiliki hubungan apapun?”

“Iya memang, tapi..” Jiyeon menggigit bibirnya tampak bingung, “Ah sudah, yang jelas jangan berkata yang aneh-aneh, please..”

“Iya.. iya, aku mengerti.” Angguk Bomi terakhir kalinya.

Seperti yang telah Bomi perkirakan sebelumnya. Bagaimana reaksi Myungsoo pada saat Bomi juga Jimin masuk kelas, dan menemui dirinya. Terlihat jelas perubahan wajah Myungsoo, yang pada awalnya tertawa bercanda bersama temannya yang lain, dan saat keduanya masuk, mata Myungsoo berubah memicing dan menatap keduanya curiga.

Sungyeol merupakan teman dekat Myungsoo, dan sudah dapat dipastikan bahwa Sungyeol telah mengatakan apa yang dilihatnya kemarin. Dan yang pasti, hari ini tepatnya saat ini juga Myungsoo akan meminta penjelasan pada Bomi dan Jimin, sebagai teman terdekat Jiyeon yang dikenalnya.

“Siapa lelaki itu? Lelaki yang kemarin pergi berdua dengan Jiyeon. Cepat jawab dan katakan sejujurnya.” Tanya Myungsoo saat Bomi dan Jimin baru saja meletakkan tubuhnya di atas kursi.

Semua yang telah diingat Bomi betul-betul seketika hilang saat mendengar pertanyaan Myungsoo yang disampaikan dengan nada datar. Walau terkesan tanpa emosi, justru itulah yang membuat pertanyaan seakan lebih memberatkannya.

“Kakaknya.”

“Adiknya.”

Bodoh! Mengapa jawabannya bisa berbeda dan Myungsoo sudah mulai curiga.

“Adiknya.”

“Kakaknya.”

Matilah! Myungsoo semakin menatap Bomi dan Jimin curiga.

“Katakan yang sesungguhnya. Jangan bohong!”

“Hanya saudara sepupu,” Sahut Bomi cepat, “Ya, hanya saudara sepupu yang baru datang dari luar kota.”

Myungsoo masih menatap keduanya curiga dan tak lama kemudian tatapan matanya kembali normal. Tubuhnya kembali ia sandarakan pada punggung kursi yang didudukinya.

“Jiyeon tidak sedang dekat dengan siapapun, bukan? Jadi aku bebas mendekatinya.”

Entah ucapan Myungsoo ini ditujukan pada siapa, mungkin hanya bentuk realisasi bahwa ia benar-benar menyukai Jiyeon dan sebagai tanda bahwa ia telah menancapkan pagar bagi siapapun yang ingin mendekati Jiyeon. Berharap bahwa Bomi, Jimin, atau siapapun itu akan memberitahu Jiyeon bahwa Myungsoo tidak main-main.

-To be Continued-

Huuuuaaaa! Haloooohh~

Duoh lama banget ya updatenya? Maaf deh. Kegiatan lagi banyak banget, kesehatan tubuh juga sedikit tidak mendukung jadi ya lama gini deh, buka laptop aja kadang males, jadi maaf ya huhu u,u

Tapi ini deh gantinya, panjang kan, haha nggak tau deh bisa kuat nulis sepanjang ini, padahal biasanya udah gatel ada pengen TBC /eh

ah iya sepertinya cerita ini sudah mau sampai pada endingnya, diperkirakan mungkin akan end pada chapter 12, dan bagi kalian para silent reader hayo dikomen dong jangan diem dieman aja, karena mungkin part akhir akan aku protect. Ya minimal komen mulai dari part inilah, karena aku mungkin akan jadi sedikit jahat mulai sekarang /apa

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

83 responses to “[CHAPTER – PART 10] 15:40:45 – Clarify

  1. ternyata perkiraan aku memang benar,15 buat minho, 40 buat sehun dan pemenangnya myungsoo dengan skor 45.
    jadi myung memang serius,

  2. Oh.. Sekarang aku tau kenapa FF ini judulnya 15:40:45! Hehehe.. Ciye peluang MyungSoo sebanyak 45%, lebih unggul dari Sehun dan MinHo.. Itu MyungSoo suka sama JiYeon gara-gara apa sih? setahu aku gak ada sama sekali moment spesial diantara mereka.. Mungkin cinta pada pandangan pertama kali ya..! Hehehe..😀
    Penasaran sama perjuangan MyungSoo buat dapatkan hatinya JiYeon, izin baca next chapternya ya Thor.. Annyeong..🙂

  3. Ye ye ye akhir’y jiyeon eoniie udh nentuin tambatan hati’y yaitu myung oppa wah daebakk deh thor,,,
    Next read ga sabat gmna cara myung oppa nyatain perasaan’y sma jiyeon eoniie,,, apakah akan romantia atw tidak sama sekali,, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s