[Chapter – 3] FOREVER YOU : Strange Feeling

FY

 

Forever You : Strange Feeling

© Flawless

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jung Eunji, etc.

Previous : Chapter 1 : I Chose You Chapter 2 : With You

*

Malam kian larut ketika Jiyeon masih bergerak-gerak gelisah pada posisinya. Kepalanya cantiknya sudah dihantui firasat-firasat buruk mengenai keputusan gila yang sudah ia ambil tadi. Membiarkan Eunji bersama Myungsoo selama dua puluh empat jam, ia pasti seorang isteri yang sudah gila, dan ia mengakui itu. Ia meringis, membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan berstatus sebagai mantan isteri seorang Kim Myungsoo. Entahlah, hanya saja ada yang terasa tidak enak dalam dirinya begitu mengingat ia akan berpisah. Ini melenceng, ‘kan? Dia tidak seharusnya bertingkah seperti ini, ‘kan? Jangan coba menilanya dengan sebutan bodoh, nyatanya tindakannya itu semua untuk Myungsoo, demi mengembalikan kebahagian yang telah ia ambil.

Jiyeon menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembusan dengan perlahan. Matanya mengamati wajah Myungsoo yang tertidur tenang di sampingnya. Ini bahkan masih terasah aneh untuknya. Tidak peduli seberapa sering mereka melakukan kontak fisik dulu, tetapi mengingat sekarang mereka melakukannya dalam konteks yang berbeda kerap kali membuatnya merasa ganjal. Dia bukan tidak senang, hanya saja ada satu perasaan tanpa nama yang selalu menyelimutinya saat bersama Myungsoo.

Jiyeon menelusuri wajah Myungsoo dengan telujuknya. Senyumnya merekah. Setidaknya sekarang, ia tidak melarang dirinya merasakan perasaan tanpa nama itu, karena setelah ini ia sama sekali tidak pantas untuk merasakan perasaan itu. Jiyeon tahu, kemungkinan keputusan Myungsoo berubah lebih kecil, tetapi ia ingin Myungsoo jadi lebih egois dan mementingkan hidupnya sendiri, tidak lagi membuatnya berada dalam bayangan rasa bersalah padanya dan Eunji. Ia tidak bisa hidup seperti itu, sama sekali tidak bisa. Dengan Myungsoo yang sebagai sahabatnya dan Eunji sebagai teman dekatnya, ia tidak bisa membiarkan dirinya menjadi batu penghalan lebih lama lagi. Sudah cukup ia membuat dirinya menjadi poros utama, ia akan mengembalikannya lagi kepada orang yang seharusnya. Jung Eunji, gadis itu lah yang akan selalu untuk Myungsoo, bukan dia.

Perasaan miris itu datang tanpa mau mengucap permisi, sampai membuat Jiyeon tersentak dengan sendirinya. Miris ya? Jiyeon menarik tangannya dari wajah Myungsoo, dan bergerak mundur dari jangkauan Myungsoo. Ia merasakan bahwa kerja jantungnya berlebihan, matanya sukses membelak. Ini tindak benar!

“Kenapa menjauh?”

Oh Ya Tuhan. Ini bagian terburuknya. Jiyeon membeku tak bisa bergerak bahkan mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan pria itu. Ia masih melihat wajah Myungsoo meski dengan penerangan yang tak cukup. Pria itu setengah tertidur, nampak kelelahan. Ia menggeleng sebagai ganti dari sebuah suara. Deru jantungnya membuatnya ketakutan sendiri, bagaimana kalau Myungsoo mendengarnya, itu akan menjadi hal yang tidak baik. Dan peluang untuk ada kata perpisahan akan semakin berkurang. Dengan gugup ia kembali mendekat pada Myungsoo sesuai jarak sebelumnya. Tak terlalu dekat.

“Ada pikiran, hum?”

Sialan, Jiyeon ingin sekali memaki sekarang. Tangan Myungsoo melingkari pinggangnya dengan posesif, dan itu semakin tidak baik. Ia menegak salivanya dengan berusaha sekuat tenaga. “Tidak ada. Aku lelah, mau tidur.”

Dan jangan coba untuk bertanya lagi apa yang terjadi. Jiyeon benar-benar bekerja keras untuk tertidur meski dengan perasaan tidak tenang untuk hari esok, ditambah dengan perasaan tidak tenang lainnya karena tindakan kurang ajar jantungnya yang bekerja lebih cepat.

*

 

Myungsoo memandangi Jiyeon yang sibuk dengan dunianya sendiri semenjak beberapa menit lalu. Isteri sekaligus sahabatnya itu melamun, seperti arwahnya sedang melayang-layang di udara. “Ada masalah?” Tanyanya langsung.

Myungsoo hanya mendesah bahwa Jiyeon menjawabnya dengan gelengan bukan sebuah suara bersemangat seperti biasa. Dia mengenal Jiyeon, sangat. Dan dia tahu sekarang pasti ada sesuatu yang memberatkan gadis itu sampai melihatnya pun Jiyeon nampaknya enggan. Apa ia kebetulan berlaku salah? Atau Jiyeon masih dihantui perasaan bersalah? Ah, mengingat hal itu membuatnya tiba-tiba lesu. Sudah beberapa hari semenjak pernikahan mereka, semuanya tidak berjalan terlalu baik. Setiap hari dalam setiap waktu yang terlewat pembicaraan mereka tak pernah sekali pun menyentuh masa depan keduanya, mereka selalu menyentuh pembicaraan terlarang, atau hubungannya dengan Jung Eunji. Baiklah, jika kalian cukup penasaran bagaimana perasaannya terhadap Eunji, maka bersiaplah untuk kecewa, karena sejujurnya ia kebingungan sendiri sekarang. Perasaannya pada Eunji memudar terlalu cepat dari pemikirannya, dan pandangannya pada gadis itu tidak seperti dulu, semuanya buram seiring waktu ia belajar untuk lebih melihat Jiyeon dibandingkan Eunji.

“Tidak perlu berbohong, katakan hmm.”

Myungsoo akhirnya hanya bisa menelan pil pahit berupa kekecawaan karena sekali lagi Jiyeon hanya menanggapinya dengan satu gelengan kepala. Ia menyerah, tidak memaksa lagi. Juga, Myungsoo paham benar bahwa jika Jiyeon sudak menolak maka sampai rambutnya berwarna putih pun Jiyeon akan menolak. Yah, begitu lah keras kepalanya Park Jiyeon.

“Baik, aku tidak memaksa lagi.” Myungsoo memaksa dirinya untuk tersenyum seraya mengacak rambut Jiyeon. “Aku berangkat.” Ia mengecup singkat kening Jiyeon. Ya, rutinitas pasangan normal ‘kan? “Aku akan berusaha kembali lebih cepat.”

Kau tidak akan pulang, mungkin, pikir Jiyeon dengan sedikit rasa miris.

Raut wajah itu, ia melihatnya lagi setelah beberapa tahun. Raut wajah yang seperti tidak ingin ia pergi, sama seperti saat ia pernah mengatakan bahwa ia ingin mengambil kuliah di luar negeri, dan Jiyeon memasang wajah seperti ini sampai ia memilih menelan kembali mimpinya dan memutuskan untuk tetap tinggal. Hubungan persahabatan mereka dulu sangat dalam, ‘kan?

“Tidak perlu pasang wajah jelek seperti itu, aku membencinya asal kau tahu.”

Dan setelahnya raut wajah Jiyeon berubah, dipaksa terlihat bahagia –seperti itu lah menurut pandangannya-

*

 

Myungsoo melangkah dengan penuh wibawa melewati setiap pegawainya yang menyapanya dengan hormat, dan ada pula yang memberikannya ucapan selamat setelah pernikahannya yang hanya ia tanggapi dengan senyum tipis. Tapi, tak jarang juga ia menemukan mata pegawainya yang berjenis kelamin wanita memandangnya terluka. Oh itu bukan rahasia lagi bahwa ia memiliki fans club di perusahaannya sendiri. Dia tampan, dan jenius, siapa juga yang tidak akan meleleh, ya kecuali Jiyeon dikeluarkan dari daftar wanita yang tidak mendapatkan efek berlebihan karenanya, maka rekornya sebagai pria magnet wanita tak lagi cacat. Tapi, berhubung Jiyeon satu-satunya gadis yang tak terpengaruh maka rekornya masih belum sempurna. Ha-ha, katakan saja bahwa dirinya narsis karena kenyataan itu benar adanya.

Tak perlu waktu lama bagi Myungsoo untuk sampai pada ruangannya. Tempat yang sudah ia rindukan selama beberapa hari ini karena cuti pernikahannya. Ia menghirup udara sebanyak mungkin, membaui ruangannya yang masih terasa sama seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan sama sekali, bahkan sampai aromanya.

Myungsoo bergerak, dan duduk di kursi kekuasaannya. Sekarang wajahnya tak lagi nampak santai, malah terlihat sangat serius. Memang, waktu bersantainya telah habis, dan sekarang ia harus membayar hari liburnya dengan kerja habis-habisan. Dan detik berikutnya sekertaris pribadinya, -pengganti Jiyeon- datang dan membawa setumpuk dokumen-dokumen untuknya. Mungkin karena sudah terlarut dalam rasa santai selama beberapa hari ini, jadi ketika melihat tumpukan dokumen lagi sudah membuat kepalanya berdenyut nyeri, terlebih dengan keberadaan Han Min Jung, sekertaris pribadinya yang baru. Kerja Han Min Jung baik, tidak perlu diragukan, hanya saja dia lebih nyaman kalau posisi itu tetap pada Jiyeon, tapi apa daya keluarganya menolak Jiyeon kembali bekerja, dan meminta Jiyeon untuk diam di rumah dan harus mengurusinya.

Sudah beberapa jam berlalu sejak Myungsoo bercinta dengan dokumen kesayangan perusahaannya. Kepalanya kian berdenyut parah karena sekarang sudah memasuki jam makan siang, dan ia malah masih terperangkap di ruangannya. Padahal, biasanya Jiyeon akan datang dan membawakannya makan siang. Ya, itu saat Jiyeon masih berstatus sebagai sekertaris pribadinya.

Ketukan tiga kali pada pintu ruangannya membuat wajah muram Myungsoo langsung berubah cerah. Itu pasti Jiyeon, pikirnya senang. Namun, rahangnya langsung mengeras begitu pintu ruangannya terbuka. Coba tebak siapa yang datang? Jung Eunji, siapa lagi memang yang bisa membuatnya dalam situasi tegang seperti ini. Ia tidak siap. Sama sekali. Tapi, mungkin ia bisa berbicara baik-baik dengan Eunji perihal mereka.

“Makan siang?”

Kening Myungsoo mengkerut kebingungan. Eunji nampak biasa saja dengan senyum manis yang seolah tanpa beban, dan itu juga sukses membuat bebannya menguap di udara. Tanpa perlu mengambil waktu lebih lama berpikir, ia membalas senyum Eunji dengan lebih lebar. Awal yang baik, ‘kan?

“Ada apa?” Myungsoo mempersilahkan Eunji duduk di salah satu sofa yang berada di ruangannya. Ia duduk bersebrangan dengan Eunji, sekedar menjaga jarak.

“Apa? Ini waktu makan siang, dan kau terlihat sedang butuh makanan sekarang, jadi tidak salah aku datang bukan?”

Myungsoo menggeleng sebagai respon. Ada yang aneh di sini. Eunji bertingkah seperti saat mereka masih sepasang kekasih dulu, dan anehnya lagi ia bahkan tidak melihat kesedihan sedikit pun di mata Eunji seperti terakhir kali ia bertemu dengannya. Waktu itu ia melihat dengan jelas bagaimana hancurnya gadis itu. Namun, apa yang tengah terjadi sekarang?

“Buka mulutmu.”

Baiklah, ini gila. Ia menurutinya saja tanpa mau melontarkan sebuah kata penolakan. Ini tidak apa-apa, setidaknya ia harus membuat gadis ini senang dulu untuk memulai pembicaraan mereka.

“Eunji-ya,” suaranya tersendat di kerongkongan. Kata itu masih bertahan di sana, tidak ingin untuk ia keluarkan. Ya, memang harus ia akui gadis ini masih terselip dalam hatinya meskipun ia sudah menempatkan Jiyeon di sisi terdalam hatinya.

“Selesai.”

Myungsoo diam lagi memperhatikan bagaimana Eunji merapikan kotak makan siang itu. Baiklah, kau harus berani Kim Myungsoo, ini demi kehidupanmu kedepannya. Suara lain dalam dirinya berteriak menggebu-gebu.

“Maaf, kita tidak seharusnya seperti ini.”

“Malam ini, luangkan waktumu untuk makan malam denganku.”

Eunji mengalihkan subjek pembicaraan, lagi. Awalnya Myungsoo sudah hendak menolak, namun gadis itu memasang wajah terlukanya yang sukses membuat membatu dan akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala pasrah.

“Tapi tidak lama, karena aku sudah berjanji pulang lebih awal pada Jiyeon.”

“Aku pergi.”

Eunji mengecup pipinya lebih dulu sebelum pergi, dan setelah itu Myungsoo hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang perubahan sikap Eunji. Ini sama sekali tidak benar. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyusup ke dalam hatinya, dan ia tahu pasti akan ada sesuatu yang terjadi.

*

 

Jiyeon mengacak rambutnya frustasi. Untuk kesekian kalinya ia melirik jam dindin yang tergantung manis di dinding apartment-nya bersama Myungsoo. Masih pukul 05.30 sore, dan itu tandanya Myungsoo sekarang tengah menghabiskan waktu bersama Eunji. Entah apa yang akan Eunji lakukan, namun ia merasakan ketakutan yang berlebih. Rasa kesepian mendadak saja menyergapnya dalam sunyi, ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya, dan menangis. Baiklah, kali ini kalian sangat-sangat diperbolehkan untuk mengatai dirinya bodoh. Nyatanya, tidak semudah itu untuk benar-benar melepaskan Myungsoo.

Selama dua puluh tahun ia mengenal Myungsoo, pria itu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Pria itu selalu meletakkannya diurutan nomor satu, dan sekarang saat ia yang membuat dirinya sendiri akan berpindah dari urutan satu ke urutan selanjutnya membuatnya ingin berteriak marah. Sialan.

Jiyeon ingat dengan baik, bagaimana saat di High School, ia pernah meminta Myungsoo memilih antara dirinya dan kekasihnya sendiri, dan Myungsoo masih memilih dirinya dengan alasan bahwa dirinya lebih penting. Tapi, kali ini ia sangsi kalau Myungsoo akan berlaku sama. Ha-ha, Jiyeon menertawakan dirinya, belum lama ia mengukuhkan hati untuk merelakan Myungsoo dan sekarang ia sudah goyah, dan ingin menarik semua ucapannya pada Eunji kemarin.

Mengalihkan diri dari memkirkan Eunji dan Myungsoo, ia mengambil majalah di atas meja, dan membukanya dengan asal sekaligus kasar. Awalnya ia berhasil, namun semuanya tak berjalan lancar. Ia malah melemparkan majalah itu sembarangan, lalu memekik keras. Ia bangkit dan melakukan perenggangan dengan gaya yang aneh. Kepalanya tidak bisa diam dan tak berpikir. Setiap kali jarum jam berdetik pasti selalu ada kilasan mengenai kebersamaan Eunji dan Myungsoo. Aneh memang, mengingat sebelum menikah ia hanya memikirkan hal itu sesekali dan langsung melupakannya, tapi sekarang hal itu meningkat lima kali lipat, parahnya kilasan itu tak bisa musnah. Tidak, jangan coba mengatakan bahwa dirinya sedang cemburu. Itu tidak benar, dia tidak pantas merasakannnya, setidaknya begitu lah pemikiran dangkalnya.

Suara nada nyanyian pendek dari ponsel Jiyeon langsung membuat gadis itu melompat ke sofa. Ia cepat-cepat membuka pesan masuk yang datang. Dadanya terasa seperti dipukuli oleh beberapa orang, dan tiba-tiba ia lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik.

Jangan menunggu Myungsoo, aku dalam usaha membuatnya kembali padaku.

Tebak kami dimana sekarang?

Di apartmentku.

Jung Eunji.

            Air matanya luruh tanpa perintah sekarang. Ia tidak berpikir bahwa Eunji akan melakukan hal yang terlalu jauh untuk mematahkan pendirian Myungsoo. Ia tidak bisa untuk tidak merasa menyesal sekarang. Semuanya sudah terlalu terlembat untuknya. Tunggu saja, kau akan segera dibuang Myungsoo, batinnya sedih. Dan satu lagi, perasaan aneh macam apa ini yang terus mengganggu dirinya. Tolong siapa pun katakana pada dirinya bahwa ia tidak mencintai Myungsoo sebagai seorang pria. Dia butuh seseorang untuk menyadarkan kembali dimana posisinya sebenarnya. Dia bukan siapa-siapa untuk Myungsoo selain seorang sahabat yang kebetulan menjadi isterinya karena sebuah janji bodoh mereka. Ya, janji itu mereka buat saat berada di grade 11 yang mengatakan –Entah apapun, mereka akan selalu menuruti permohonan satu sama lain- dan waktu itu ia malah memohon untuk Myungsoo menikahnya karena permintaan ayahnya. Seandainya saja, ia tidak pernah melakukannya mungkin sekarang ia tidak perlu dihantui perasaan aneh tanpa nama ini.

 

*

 

Myungsoo bertopang dagu di meja berbentuk oval itu. Sesekali ia melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah sangat terlambat baginya untuk kembali. Ia mendesah, sudah nyaris dua jam ia terperangkap di apartment Eunji mendengar semua keluh kesah gadis itu, bahkan kadang kala Eunji melakukan kontak fisik dengannya. Entah menggenggam tangannya, atau menyentuh pipinya. Ia risih sekarang. Masalahnya ia bukan pria lajang, tapi ia sudah memiliki seseorang dalam hidupnya, yaitu Jiyeon. Ia merasa menghianati Jiyeon dengan menghabiskan waktu bersama Eunji. Meski ada sebagian dirinya yang merasa senang karena bisa sesantai ini dengan Eunji setelah semua yang terjadi.

“Myungsoo, kau mendengarku?”

Myungsoo hanya mengangguk. Pikirannya melayang pada Jiyeon. Apa yang dilakukan gadis itu di apartment sendirian tanpanya. Ia tersenyum kecil ketika pemikiran bahwa Jiyeon melakukan hal aneh hinggap di kepalanya.

“MYUNGSOO!”

Myungsoo menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia tidak mengerti, kenapa Eunji berteriak padanya. “Ada apa?”

“Memikirkan Jiyeon?!”

Dan Myungsoo tahu sekarang suasana hati Eunji telah hancur. Ia menahan nafas sebentar lalu kembali bernafas secara normal. “Aku harus kembali Eunji-ya, ini tidak pantas kita lakukan.”

Begitu ia bangun dari posisinya, Eunji langsung menahan pergelangan tangannya, dan memeluknya tanpa izin. Kini bebannya kembali datang. Ia benci harus terjebak diantara dua gadis sekaligus. “Eunji-ya..”

“Kenapa Jiyeon? Kenapa bukan aku? Kau mengatakan mencintaiku bukan Jiyeon, Myungsoo.”

Myungsoo hanya membiarkan Eunji terisak pelan. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Ia sudah melanggar kalimatnya sendiri. Ia mencintai Eunji memang tapi tidak sebesar ia mencintai Jiyeon. Nah, sekarang entah bagaimana hatinya sudah mengakuinya tanpa sadar.

“Aku.. Ya Tuhan, aku minta maaf.”

“Tidak. Aku tidak butuh maaf. Aku hanya ingin kau kembali.”

“Kau tahu aku tidak bisa, Eunji-ya. Aku mohon jangan membuatku menjadi pria jahat lebih lama.” Suara Myungsoo parau. Ia tidak tahan lagi mendengar isakan dari gadis ini. Ia ingin semuanya selesai, dan ia bisa benar-benar membuka lembaran hidup barunya bersama Jiyeon tanpa beban sedikit pun. Hanya itu yang ia butuhkan sekarang, Eunji melepaskannya maka semuanya akan baik-baik saja.

“Kenapa tidak? Jiyeon bahkan ingin kau kembali padaku.”

Myungsoo langsung melepaskan pelukan Eunji darinya, dan menatap ke manik mata Eunji. Ia mencengkram bahu Eunji dengan kuat. “Apa maksudmu?”

Eunji menghapus jejak air matanya dengan tenang, dan membalas tatapan mata Myungsoo menantang. “Dia yang memintaku melakukan ini, ini rencananya. Dia menyerahkanmu padaku selama dua puluh empat jam untuk membuatmu kembali padaku.”

Mata Myungsoo menggelap, dan rahangnya mengeras. Amarahnya naik begitu saja. Jiyeon melakukan hal seperti ini sudah cukup membuatnya ingin menghancurkan apa pun yang ia lihat. “Sialan, kenapa kau menyetujuinya?! Kau tahu dia sedang frustasi karena rasa bersalah.”

“Dia memohon padaku.”

Cukup sudah, ia benar-benar marah sekarang. Jiyeon anggap apa sebenarnya dirinya ini. Tangannya mengepal, sampai buku-buku tangannya mengeras. Ia menendang salah satu sofa kecil milik Eunji dengan emosi.

“Aku pergi.”

Myungsoo tidak lagi mau mendengar semua ucapan Eunji bahkan ketika gadis itu jatuh dan menangis tidak ia pedulikan. Sekarang yang ia pikirkan melampiaskan semua emosinya pada Jiyeon.

Pria itu membawa mobilnya seperti orang kesetanan. Ia mencengkram kemudi mobil. Beberapa kali ia berteriak marah, dan mengumpat kasar. Peduli setan tatak ramah berbicara, sekarang ia butuh mengeluarkan apa yang berada di kepalanya. Dia tahu bahwa sekarang emosinya tengah berada di puncaknya, dan ia bahkan tidak berpikir untuk membuat kepalanya dingin dulu. Ia harus berbicara dengan Jiyeon sekarang. Ia tidak memikirkan lagi entah seberapa kasar nanti dirinya bicara pada Jiyeon.

 

***

[Chapter – 4] Forever You : His Anger

Ia langsung terduduk di lantai begitu pintu apartment mereka dibanting dengan kasar. Air matanya mengalir tak terhentikan. Dadanya terasa sesak, sampai ia tak bisa menarik nafas. Pria itu marah padanya, pria itu menatapnya dengan terluka dan penuh kekecewaan. Demi apapun di dunia ini, ia rela menukar segala yang ia miliki hanya untuk memusnakan tatapan itu dari muka bumi.

 

***

 Okay, aku kembali lagi😀

Nah, sekarang tingkat ke gaje-annya makin meningkat. So, aku mau nanya ini masih pengen dilanjut atau gimana?

karena aku udah malu banget setelah post chapter 2 kemarin yang ceritanya, yah you know lah. Hancur -_-

Untuk HSL dan Sunflower akan di post minggu depan. Makasih🙂

 

 

96 responses to “[Chapter – 3] FOREVER YOU : Strange Feeling

  1. ahh,,konpliknya semakin memanas nih seru seru banget jiyi aku harap ini jdi plajaran buat kmu, myung udah bner2 sma kmu tnggal kmunya jngn mrasa trus2an bersalah…….

  2. Marah tanda nya kecewa, kecewa tandanya cinta hehehehe
    Ja intinya myung cinta nya ma jiyi bukan eunji..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s