colour-ring

Tittle: Colour Ring

Main Cast: Park Ji Yeon T-Ara – Kim Myung Soo Infinite

Genre: Sad romance

Rating: 15

Author: BabyAchan

Disclaimer: Inspired by Winner-Color Ring and some act inspired by K.Will’s MV You Don’t Know Love and all pov are Myung Soo’s

——————————————————————————————————————

   Aku menatap langit biru yang terlihat indah. Dengan awan stratus yang menghiasinya. Bak teman abadi. Tapi mengapa aku terlihat signifikan dan begitu buruk? Kenapa aku terus memegang telepon tak berguna ini? Aku terlihat seperti orang bodoh. Hanya menggenggam telepon dan menuliskan beberapa digit angka yang merupakan nomormu. Kemudian memencet tombol hijau pertanda aku menelponmu. Melodi nada sambung terdengar begitu indah. NSP mu yang berjudul ‘Color Ring’ itu menyadarkanku akan suatu hal. Menyakitkan hatiku, telingaku, dan ingatanku. Kedengarannya kau sedang menertawakan aku melalui NSP mu di seberang sana. Kenapa hatiku terasa sakit? Aku benar-benar bodoh.
“Angkatlah teleponmu, Park Ji Yeon kumohon,” gumamku.
Tetap saja. Tak ada respon darinya.
Jiyeon, seorang yeoja baik hati dan ceria. Dia, mantan pacarku. Kami berpisah karena sesuatu hal. Sesuatu yang membuatku menyakiti Jiyeon. Sesuatu yang membuat Jiyeon tak sudi bertemu aku. Jangankan bertemu, bahkan mengangkat teleponku saja tak sudi.

***

   Pagi telah tiba. Aku membongkar almari ku dan menemukan sebuah sweater berwarna hitam. Sweater yang pernah diberikan Jiyeon padaku. Aku baru sadar jika aku belum mengembalikan barang yang pernah diberikan Jiyeon untukku. Begitupun sebaliknya. Jiyeon belum mengembalikan barang yang pernah ku berikan padanya. Fotoku dan Jiyeon terpampang nyata. Menyayat memori di otakku tentangnya.Hatiku menjerit, ya aku merindukannya.
Aku baru sadar ternyata isi apartemenku sangatlah buruk. Baju kotor, bantal sofa, dan bekas minuman kaleng masih di tempat yang sama. Ah, bodohnya kau Kim Myung Soo. Baiklah, mari kita bersihkan.
“Eoh? Apa ini? Cincin?” monologku ketika menemukan sebuah cincin berwarna abu-abu bersembur blink-blink.
Ingatanku kembali terbuka. Cincin ini milik Jiyeon. Ya, milik Jiyeon yang dia kembalikan padaku di hari itu. Di hari dimana aku memahat luka di hatinya. Aku meninggalkan aktivitasku dan mencari cincinku. Ya, ketemu! Aku memasukkannya kedalam kotak dus besar berseleret merah fanta.
“Aku akan kembali, tunggu aku,” gumamku sambil bergegas untuk ke suatu tempat.
Sekarang, aku sudah sampai di suatu tempat. Suatu pekarangan di dekat danau yang indah. Tempat dimana aku dan Jiyeon sering menghabiskan waktu bersama-sama. Dan juga, tempat dimana aku dan Jiyeon saling tersakiti ah tidak. Aku yang menyakitinya. Aku melihat sosok seorang yeoja berambut blonde sepunggung tengah membawa kotak berseleret hijau tua. Dia, dia Park Ji Yeon!

   “Jiyeon!” teriakku.
“Kim Myung Soo,” dia tampak memanggil namaku. Dia segera meletakkan kotaknya dan lari meninggalkanku, namun aku tak bodoh. Aku mengejarnya.
“Jiyeon tunggu!” teriakku sambil menahan lengannya.
Dia terdiam tanpa perlawanan. Dia terisak sekarang. Namun dengan cepat dia menghapus air matanya dengan kasar.
“Lepaskan aku,” ujarnya lirih.
“Tidak,” ucapku.
“Kenapa? Bukankah kita sudah berakhir?” tanyanya.
Aku terdiam sejenak. Memang iya, kami sudah berakhir. Tapi kenapa aku masih merindukannya?
“Jiyeon aku merindukanmu,” ujarku jujur.
“Merindukanku? Kau bilang kau merindukanku? Sekarang aku sudah terjebak di tempat yang sama. Kenapa setelah aku ditinggalkan.. Aku harus menemui awal yang menyedihkan?” tanyanya menatapku lekat-lekat.
kkeuchi nanneyo naui geudaeyeo eodi innayo ije urin chueogi dwaetjyo haengbok haesseoyo nal itji marayo tto dasi mannayo geoul soge nae moseubeun teong bin geotcheoreom gongheohae,” aku menyanyikan sepotong lirik dari lagu milik Winner yang berjudul Empty.
”Mengapa setelah aku ditinggalkan aku harus mendengar akhir lagu yang menyedihkan?” dia menanyakan hal yang berbeda dengan kalimat yang sama.
Aku terdiam. Dia terlihat sangat sedih. Sebegitu terlukanya kah dia karena aku? Jawabannya adalah iya.
“Kau tidak disisiku, aku menangis di atas kisah sedih kita. Hanya aku yang merasakannya sementara kau tidak,” ujarnya tersenyum kecut.
Aku tetap di tempatku. Melihat Jiyeon dan mendengarkan apa yang dia ingin katakan.
“Kau manusia tanpa perasaan. Bagaimana bisa kau membuatku melupakanmu dan sekarang kau muncul lagi? Kau manusia tanpa perasaan kau gila!” ujarnya sambil menangis.
Oke sekarang dia memakiku. Baik silahkan, aku memang salah.
“Kau gila! Kau bodoh!” ujarnya sambil memukuli dadaku. Aku menahan tangannya. Aku menatapnya lekat dan mengeluarkan sebuah cincin.

   “Cincin warna ini, cincin yang menyerupai kita. Tolong Jiyeon jangan membuatku menangis juga. Tolonglah,” pintaku sambil menunjukkan dua cincin warna abu-abu itu.
“Kau bilang kita berakhir dan itu yang terakhir! Kenapa kau kembali? Harusnya kau pergi!” teriaknya sambil terisak.
“Aku selalu mengatakan itu yang terakhir tapi mengapa aku tetap menelponmu? Kenapa?! Kau pikir kenapa Jiyeon kenapa?!” emosiku lepas kendali.
“Aku berjalan di jalan yang sama, jalan yang kita gunakan untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Melodi tentang permainan cinta kita masih terngiang jelas di telingaku. Bayanganmu masih tergambar jelas! Kau pikir kenapa aku berusaha menemuimu? Aku merindukanmu! Jiyeon aku masih sangat mencintaimu!” teriakku sambil sedikit menitikkan air mata.
Jiyeon terdiam. Ia memegang tanganku sambil tertunduk. Aku tak mengerti maksudnya apa.
“Myungsoo tolong, jangan membuatku tersiksa lagi dengan kehadiranmu. Pergilah kau Myungsoo, jebal ka,” ujarnya sambil memegang tanganku erat-erat.
Hatiku bagai disambar petir di siang bolong. Kenapa orang yang selama ini aku cari mengabaikan aku. Bahkan kalimat “aku merindukanmu” tidak terucap dari bibir mungilnya.
“Kau… Bukan yang terbaik untukku dan aku bukan yang terbaik untukmu,” ujarnya.
“Tapi kenapa Jiyeon? Jika kau bukan yang terbaik untukku dan aku bukan yang terbaik untukmu kenapa kita saling mencintai dan bahkan bersama dalam waktu yang lama? Kenapa?” tanyaku mengguncangkan bahunya.
“Myungsoo…” lirihnya.
Aku dan dia masih terdiam di tempat. Kami hanya mampu menunduk merenungi kesalahan kami masing-masing. Kulihat Jiyeon tak lagi menangis. Dia sudah berhenti. Kali ini dia menatapku lekat-lekat. Seakan berkata, “Aku ingin mengatakan hal ini padamu.”
“Katakan apa yang ingin kau katakan,” perintahku.
“Myungsoo aku… Aku sudah bertunangan,” ucapnya sambil menatap manik mataku. Dapat kulihat bahwa tak ada kebohongan disana.
“Apa?” tanyaku tak percaya.
“Aku baru saja bertunangan. Dengan putra CEO Kingdom Hotel. Kim Sung Gyu,” ucap Jiyeon lirih.
“Lalu…” ucapku.
Jiyeon bagaikan menembakkan meriam besar ke dadaku. Jantungku seakan mau meledak. Otakku berusaha mencerna apa yang dia katakan. Berulang kali aku menolak pernyataan itu. Inikah, jawaban yang diberikan pada seorang pengkhianat yang merindu setelah sekian tahun?
“Itukah jawaban untukku?” tanyaku sambil menatapnya nanar.
“Harusnya kau tahu,” jawabnya.
Aku terdiam. Aku… Sungguh ingin memaki Jiyeon. Iblis apa yang merasuki aku. Tapi aku ingin memaki gadis ini.
“Kau… Kaulah manusia tanpa perasaan. Setidaknya, kau bisa menutupi hal itu dariku! Setidaknya kau bisa mengerti kalau aku merindukanmu! Berapa tahun Jiyeon? Berapa tahun aku hidup tanpamu? Baiklah itu memang salahku! Tapi setidaknya, kau hargai ketulusanku ini. Ketulusanku yang ingin menebus semua itu,” ucapku.
“Tapi kenapa? Kau tidak lagi di sisiku? Itukah yang kau berikan padaku?! KAU TIDAK LEBIH BAIK DARI BAE SUZY KAU SAMA SAJA!” teriakku di akhir kalimat yang membuatnya bergidik ngeri.
“HARUSNYA KAU DAPAT MENUTUPINYA SEMENTARA! SETIDAKNYA JIKA KAU INGIN LARI DARIKU KAU TAK MELARIKAN DIRI! SETIDAKNYA BERBASA-BASI LAH SEAKAN TAK TERJADI APA-APA! WALAUPUN SEBENARNYA KAU SAKIT! TAPI BUKAN HANYA KAU YANG SAKIT SEKARANG, AKU JUGA!! KAU… WANITA MUNAFIK!” teriakku dengan nafas terengah-engah. Aku tak peduli dia menganggapku apa. Masa bodoh!
“Mulai sekarang, aku tak akan mengganggumu. Aku akan hidup dengan caraku sendiri. Lihat ini, ini yang terakhir. Dan aku serius,” ujarku sambil melempar sepasang cincin berwarna abu-abu ke arah danau.
“Annyeong,” ujarku dingin sambil meninggalkan Jiyeon yang terpaku di tempatnya.
Kuharap dia mengejarku dan mengatakan bahwa dia masih mencintaiku. Tapi, aku sudah berjalan terlalu jauh dan dia tak mencegahku. Ini menyakitkan. Ini menyesakkan. Tapi, aku sudah memilih jalanku. Jalanku untuk meninggalkannya. Meskipun aku tahu jika aku lelaki pengecut. Aku mencintainya. Seharusnya aku berusaha untuk menjadikan dia milikku. Tapi, semuanya sudah berakhir. Selamat tinggal Jiyeon. Semuanya sudah berakhir. Dan ini yang terakhir.

     Inilah akhir dari kisahku yang menyedihkan. Yang pada akhirnya dirundung penyesalan. Dan yang pada akhirnya juga ditinggalkan. Kenapa? Iya. Karena akulah penghianat yang sesungguhnya. Dengan aku buang cincin itu ke danau, semuanya sudah berakhir. Walaupun aku tak yakin apa yang akan aku lakukan setelah berpisah dengan gadis yang sangat aku cintai, aku akan mencobanya. Mencoba untuk memulai kisah baru sebagai Myung Soo yang baru.

~FIN~

Yosh, ini FF kedua saya. Maafkan jika sangat panjang. Oya, FF Blame belum bisa dilanjut karena ada something you know lah. Writer block e.e. Over all thank you yawn… Saranghae❤ Maaf juga kalo ga rapi aku copas dari MS Word soalnya. Tq sekali lagi❤ Sider? Kamu pelit comment sama aku :’)

16 responses to “

  1. dia yg udh nyakitin jiyeon dlu, knapa dia harus marah nerima kenyataan jiyeon udh mau tunangan. hah bner2 deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s