[CHAPTER — PART 1] Sorry (Sequel Trapped in Friendzone)

prllnrhmwtreq_hsg191

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

SUPPORTING CAST :

Choi Rayeon

Choi Minho

Kim Hyunyoung

Choi Yeonji

GENRE :

Romance || Fluff || Sad || Friendship || Marriage-Life

LENGTH :

Chaptered

RATING :

PG-17 (bisa berubah kapanpun)

CREDIT POSTER :

Big thanks to Xenovia@HSG ^^

DISCLAIMER :

All cast belongs to God, their parents and themselves. But, this story is mine. And, inspired by Indian Movies, Kuch Kuch Hota Hai & Kabhi Alvida Naa Kehna

***

Haeundae Beach, Busan, South Korea. 15.00 KST.

Sebuah keluarga tengah menikmati liburan mereka. Keluarga itu sedang duduk di pasir-pasir putih sambil menikmati hembusan udara dan juga menikmati indahnya ombak di hadapan mereka. Ah ya, mereka juga tengah menunggu matahari terbenam. Oh pasti sangat indah, pikir mereka.

Di sisi lain, ada juga sebuah keluarga yang sama tujuannya. Menikmati keindahan pantai Haeundae ini sekaligus menikmati waktu liburan mereka yang tidak banyak.

Eomma, appa, Yeonji ingin ke sana, nde” Anak kecil perempuan yang berumur sekitar lima tahun itu berbicara kepada ayah dan ibunya yang tengah menikmati suasana di pantai ini.

Yeonji—nama anak kecil perempuan itu—memajukan bibirnya kesal. Huh! Appa dan eomma benar-benar menyebalkan! Batin Yeonji kesal. Tentu saja Yeonji diabaikan oleh pasangan yang menikah sekitar enam tahun lalu itu. Yeonji pun bangkit dari duduknya dan pergi ke pinggir pantai tak peduli jika ayah atau ibunya mencarinya.

Di sisi lain, keluarga ini terlihat sangat bahagia. Mereka tengah bersenda gurau sekaligus menikmati suasana pantai Haeundae ini. Sesekali mereka saling menaruh kepala di pundak sambil memejamkan mata menikmati hembusan udara di pantai. Oh siapapun yang melihatnya pasti sangat iri.

Anak kecil perempuan yang merupakan anak dari pasangan yang menikah sekitar tujuh tahun lalu itu melihat seorang anak perempuan yang dengan gembira bermain pasir di pinggir pantai. Apa anak itu tidak memiliki ayah ataupun ibu? Kasihan sekali, pikir anak perempuan itu.

Eomma, appa, Hyunyoung ingin kesana” Ujar anak perempuan yang ternyata bernama Hyunyoung.
Ayahnya melihat ke arah jari telunjuk Hyunyoung. Ia melihat seorang anak kecil perempuan yang berumur sekitar lima tahun. Ayah itu tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

Hyunyoung terlihat sangat gembira. Sebuah senyuman lebar mengembang dibibir mungil anak perempuan yang berumur enam tahun itu. Tak lama kemudian, ia pergi dari tempatnya tadi dan ke tempat seorang anak kecil perempuan yang sedang asyik bermain dengan pasir-pasir itu.

Annyeong haseyo”. Sapa Hyunyoung lugu sambil membungkukan sedikit badannya pada anak perempuan di depannya yang sedang berjongkok sambil bermain pasir tersebut. Yeonji mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya.

Yeonji terdiam sambil memandangi anak perempuan yang sebaya dengannya. Tapi sepertinya tidak, anak perempuan yang berada di hadapannya sepertinya lebih tua daripada dirinya. Yeonji berjalan mundur namun masih dengan posisi yang sama, berjongkok tanpa berdiri. Tentu saja hal itu membuat Yeonji kesulitan untuk berjalan.

Eomma, Appa, ada orang jahat!!!!” Teriak Yeonji ketakutan.

Hyunyoung mendekat ke arah Yeonji yang masih terus saja berjalan mundur itu. “Aniyo, Hyunyoung bukan perempuan jahat!” Teriak Hyunyoung tidak terima dengan perlakuan Yeonji. Hyunyoung kini berhenti mendekat ke arah Yeonji.

Tak jauh dari kedua anak kecil yang sedang berseteru itu, seorang ibu membuka matanya setelah mendengar suara yang mirip dengan anaknya itu. Ibu muda tersebut melihat ke sekililing. Benar, anaknya tidak ada! Oh bagaimana ini?! Bodoh, kenapa ia terlalu asyik menikmati suasana pantai ini sehingga melupakan anaknya sendiri? Dan juga, suaminya! Ia sama saja dengan dirinya! Ugh bodoh bodoh bodoh!

Ibu muda tersebut bangun dari duduknya dan melihat ke arah-arah lain. Matanya tertuju pada dua orang anak kecil yang terlihat seperti sedang bertengkar. Dua-duanya perempuan, si perempuan yang satunya tengah berjongkok sambil berjalan mundur. “Yeonji?!” Ibu muda itu memajukan tubuhnya sedikit untuk memastikan apa anak perempuan yang sedang berjongkok itu adalah anaknya atau bukan.

“YEONJI?!” Ucapnya kencang dengan mata membesar seperti huruf ‘O’.
“Yeonji-ya! Kemarilah!” Teriak ibu muda tersebut.

Di tempat yang tak jauh juga dari dua anak kecil itu, sepasang suami istri tengah memandangi anak perempuan mereka yang sedang berusaha meyakinkan seorang anak perempuan kalau dia bukanlah seorang perempuan jahat. Terkadang, mereka terkikik sendiri melihatnya.

“Hyunyoung-ah, jangan jauh-jauh!” Teriak sang ayah.

Sang ibu hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

Yeonji sepertinya tidak mendengar teriakan ibunya. Atau… pura-pura tak mendengar? Anak perempuan itu masih saja berjongkok dan berjalan mundur. Hyunyoung lama-lama geram dengan Yeonji. “Uuu! Hyunyoung bukan perempuan jahat! Hyunyoung perempuan baik! Hyunyoung hanya ingin berteman denganmu!” Ucap Hyunyoung.

Yeonji memberhentikan jalannya. Ia terdiam sambil memandangi anak perempuan di depannya. Berteman? Pikirnya. Sepertinya tidak buruk, lagipula Yeonji juga tidak memiliki teman, ah tidak, belum memiliki teman di Korea karena keluarga Yeonji memang baru pindah dari London—sebenarnya sudah cukup lama, namun karena Yeonji bukan tipe orang yang mudah bergaul, ia tidak memiliki teman di Korea—, jadi tak apalah jika Hyunyoung dan Yeonji berteman.

Yeonji bangkit dari posisi berjongkoknya. Ia membersihkan rok mininya yang sedikit kotor karena pasir-pasir putih yang menempel pada roknya itu. Yeonji tersenyum pada Hyunyoung dan mendekat ke arahnya.

Annyeong haseyo, jeoneun Choi Yeonji imnida”. Ujar Yeonji lugu sambil mengulurkan tangannya.
Melihat itu, Hyunyoung tentu saja membalas jabatan tangan Yeonji dengan cepat. Sebuah senyuman lebar mengembang di bibir mungil Hyunyoung.

Jeoneun Kim Hyunyoung imnida. Kau harus memanggilku eonnie karena sepertinya aku lebih tua darimu, Yeonji-ssi”. Balas Hunyoung yang mendapat anggukkan kepala dari Yeonji.

Ibu muda tadi yang melihat anak perempuannya mau berteman dengan anak perempuan lain tersenyum. Sifat anak perempuan itu mirip sekali dengan ibunya, awalnya takut untuk berkenalan namun tak lama kemudian dengan lugunya ia menerima untuk berkenalan dengan seseorang. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis menghiasi bibir ibu muda tersebut. Tiba-tiba, ibu muda tersebut mengingat bahwa suaminya masih asyik dengan mimpinya. Ia pun duduk kembali dan membangunkan suaminya itu. “Ya! Babo, ireona!”

Di sisi lain, sepasang suami istri masih dengan setianya memandangi dua anak kecil perempuan yang masih sangat lugu itu. Senyuman juga tak hilang dari bibir keduanya. Mereka juga saling mengeratkan pelukan karena cuaca di pantai ini sudah mulai dingin.

Haeundae Beach, Busan, South Korea. 17.25 KST.

Dua keluarga tadi masih setia berada di pantai Haeundae yang berada di kawasan Busan ini. Dua keluarga tersebut tengah melihat indahnya matahari terbenam serta melihat pemandangan anak mereka masing-masing tengah bermain dengan pasir-pasir di pinggir laut.

Ya, sedari tadi, sekitar pukul tiga sore kedua anak kecil perempuan bernama Hyunyoung dan Yeonji masih setia bermain di pasir-pasir. Orang tua mereka juga tidak memperdulikannya. Tunggu. Tidak memperdulikan? Hanya orang tua gila yang tidak memperdulikan anaknya. Tentu saja orang tua mereka mengkhawatirkan mereka. Namun, mereka hanya bias memantau anak-anak itu dari kejauhan tanpa menghampiri anak perempuan yang sedang bermain tersebut. Mereka takut mengganggu.

Yeobo, sudah gelap,” Seorang ibu muda menatap suaminya lekat yang masih melihat anaknya bermain.

Suaminya masih terdiam. Lalu beberapa detik kemudian ia mengangguk tanpa jawaban. Senyuman tercipta dari bibr sang ibu muda itu. Ia pun beranjak dari tempat duduknya tadi dan menghampiri anaknya yang sedang bermain itu.

Di sisi lain, sepasang suami istri juga masih memandangi anak mereka yang tengah bermain. Hingga sang suami sadar kalau hari sudah mulai gelap dan ia memutuskan untuk menghampiri anaknya dan mengajaknya pulang.

“Hati-hati, sayang”. Ujar sang istri yang mendapat senyuman tipis dari sang suami.
Seorang pria dan wanita yang sama-sama sudah memiliki istri dan suami berjalan menghampiri anak mereka masing-masing. Hingga tanpa sadar, sekarang jarak mereka sudah dekat. Amat dekat. Sang wanita berjongkok untuk meminta anaknya menyudahi bermainnya dan mengajaknya pulang.

Sedangkan sang pria ia hanya membungkukkan badannya sedikit lalu menatap anaknya. Anaknya tentu saja mengerti apa yang dilakukan ayahnya itu, ia pun mengangguk sebagai jawabannya.

“Yeonji-ya, sampai bertemu lagi”. Ujar Hyunyoung sambil menggandeng tangan ayahnya.
Ne eonnie, senang bertemu dengan eonnie”. Balas Yeonji.

Pria dan wanita itu mengangkat kepala mereka. Mata mereka bertemu. Mereka berdua saling bertatapan. Dalam. Sangat dalam. Hingga mereka seakan tak bisa melepas tatapan ini. Beberapa menit lamanya mereka bertatapan seperti itu sehingga membuat anak-anak mereka—Hyunyoung dan Yeonji—menatap mereka secara bergantian dengan tatapan bingung.

Ada apa dengan eomma?

Ada apa dengan appa?

Pikir mereka hampir sama. Baik si wanita ataupun si pria tidak ada yang ingin mengalihkan pandangannya terlebih dahulu. Mata mereka masih bertemu sejak tadi. Oh sungguh, kini mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang di pantai ini. Tak terkecuali istri serta suami mereka masing-masing. Hingga akhirnya, mereka memilih untuk membuka suara…

“M-Myungsoo?”

“Ji-Jiyeon?”

Seoul, South Korea. 21.45 KST

Jiyeon kini masih meringkuk di atas ranjangnya. Sedari tadi ia berusaha untuk menutup matanya dan tertidur dengan lelap seperti hari-hari biasanya. Tapi, entah kenapa sekarang tidak bisa. Ia masih memikirkan kejadian tadi sore saat bertemu dengan Myungsoo. Ketika mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa menit dan saat itu mereka sadar dan memanggil nama masing-masing.

Yeonji yang kini sudah tertidur lelap merasa terganggu akibat eommanya itu terus saja menggulingkan tubuhnya kesana kemari berusaha menghilangkan pikiran bodoh itu. Namun, apa daya, pikiran itu malah semakin menjadi-jadi. Yeonji terbangun dari tidurnya. Ia duduk sambil mengusap-usap matanya dengan menggunakan jari-jarinya.

Eomma, kenapa belum tidur?” Ujarnya setengah sadar.

Jiyeon yang menyadari kalau anak semata wayangnya terbangun dari tidurnya pun menggigit ujung selimutnya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Kemudian, ia bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan Yeonji, anaknya.

Eomma belum mengantuk sayang,”

Jiyeon tersenyum sambil mengelus puncak kepala Yeonji dengan penuh kasih sayang sambil memangku anaknya itu. Yeonji memejamkan kedua matanya menikmati elusan tangan Jiyeon di puncak kepalana.

“Kau tidur saja, besok kau sekolah ‘kan?” Tanya Jiyeon.

Yeonji hanya mengangguk pelan sebagai jawaban sambil beranjak dari pangkuan ibundanya dan kembali tertidur di bawah selimut tebal itu. Jiyeon membenarkan selimut biru langit itu karena tadi sempat sedikit berantakan.

Jiyeon bangun dari atas tempat tidurnya dan beralih ke meja riasnya. Ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di laci meja riasnya. Jiyeon membuka ponsel itu dan menatap foto dirinya dan Myungsoo serta mengelusnya pelan. Ia tersenyum tipis. Tanpa sadar, liquid bening lolos dari kedua mata indah Jiyeon.

Jiyeon mengelap air matanya yang jatuh di pipinya. Setelah itu ia menaruh ponselnya dan pergi ke ruang keluarga di rumahnya yang bisa dibilang cukup besar ini.

“Belum tidur, yeobo?” Tanya seseorang yang tengah duduk di sofa sambil menonton televise serta memakan beberapa makanan ringan. Orang itu tak lain adalah Minho, suami Jiyeon.

Jiyeon menggeleng dan menguncir rambutnya yang sedari tadi terurai begitu saja. Ia duduk di sebelah suami tercintanya dan menaruh kepalanya di bahu kekar Minho. Minho mengelus puncak kepala Jiyeon dan sesekali menciuminya.

“Ada apa? Ah ya, bukankah pria yang tadi kau temui di pantai Haeundae adalah Myungsoo? Sahabatmu? Ah, bagaimana kabarnya?” Tanya Minho.

Jiyeon terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Tubuhnya menjadi gemetaran dan kedua matanya memanas. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana ini?

Yeobo? Kenapa diam saja?” Minho yang menyadari kalau pertanyaannya tidak ditanggapi oleh Jiyeon pun bertanya kembali sambil menundukkan kepalanya berusaha melihat wajah Jiyeon sekarang.

“A-ah? N-ne, dia memang Myungsoo, sahabatku. Sepertinya dia baik-baik saja,” Jawab Jiyeon dengan suara yang gemetar.

“Hey yeobo, neo gwaenchana? Kenapa suaramu bergetar heum?”

Aniyo, nan gwaenchana”.

Jiyeon mengangkat kepalanya dari bahu Minho. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya membiarkan air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh membasahi kedua pipinya begitu saja.

Minho menatap Jiyeon bingung. Kenapa istrinya ini malah menangis ketika ditanya soal Myungsoo? Sepertinya tidak ada yang salah dari pertanyaan Minho bukan? Kenapa perempuan ini? Minho semakin bingung ketika tangisan Jiyeon berubah menjadi sebuah isakan. Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon dan mengusap air mata Jiyeon dengan menggunakan ibu jarinya.

Yeobo, jangan dipikirkan. Anggap saja aku tidak pernah bertanya soal tadi, mianhae”. Minho memeluk Jiyeon membiarkan kaos putih oblong yang dipakai Minho basah karena air mata Jiyeon. Minho mengelus punggung Jiyeon berusaha menenangkan istrinya itu. Isakan Jiyeon sudah hampir tak terdengar lagi. Namun, air mata masih saja membasahi pipi Jiyeon.

Mianhae, aku benar-benar tak tau kalau dia akan kembali lagi, aku mencintaimu Minho-ya, sangat mencintaimu, maafkan aku.

Seoul Art School, Seoul, South Korea. 05.30 KST.

Hyunyoung sekarang tengah berada di depan gerbang sekolah bersama ibunya. Hyunyoung masih takut untuk masuk ke dalam sekolah itu karena itu adalah sekolah barunya. Bagaimana kalau ia tidak punya teman di sana? Pertanyaan itu yang selalu memenuhi otaknya.

“Hyunyoung-ah, ayo masuk nak, sebentar lagi masuk” Ujar ibunya sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“T-tunggu sebentar, eomma, H-Hyunyoung ta…”

“Hyunyoung eonnie!”

Teriakan itu sontak membuat Hyunyoung maupun ibunya menoleh ke arah sumber suara. Sebuah senyuman lebar tercipta dari bibil mungil milik Hyunyoung. Tapi, tidak dengan ibunya. Ibu Hyunyoung malah menatap orang yang berada di belakang seseorang yang tadi memanggil nama anaknya.

“Yeonji-ya!” Hyunyoung melambai-lambaikan tangannya menyuruh Yeonji berjalan lebih cepat ke arahnya. Yeonji pun menuruti. Ia menarik tangan Jiyeon—ibu Yeonji—untuk berlari.

Jiyeon tak jauh berbeda keadaannya dengan ibu Hyunyoung sekarang. Matanya juga membulat sempurna tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari ibu Hyunyoung. Rayeon?

Kini, Hyunyoung dan Yeonji sudah berpapasan. Mereka tersenyum gembira sambil menggandeng tangan masing-masing. “Eomma, Hyunyoung masuk dulu ya. Annyeong eomma, annyeong ahjumma!” Ujar Hyunyoung riang sambil menarik tangan Yeonji untuk masuk ke dalam sekolah itu. “Eomma, Yeonji masuk dulu!” Teriak Yeonji dari kejauhan karena tangannya sudah ditarik oleh Hyunyoung.

Dua ibu muda itu masih berdiri tegap dengan mata yang masih membulat sempurna. Tak satu di antara mereka yang bergeming sedikitpun. Mata mereka juga bertemu.

“Rayeon?”

Rayeon makin membelalakan kedua matanya. Ia kira wanita di hadapannya ini bukanlah Jiyeon yang merupakan sahabatnya saat di High School dan juga saat di universitas melainkan hanya orang lain yang mirip dengan Jiyeon. Tapi ternyata itu salah. Orang di hadapannya ini adalah Jiyeon asli, bukan seseorang yang mirip dengan Jiyeon.

Mereka berdua tersadar. Pikiran mereka sudah kembali. Baik Jiyeon maupun Rayeon mengubah posisi mereka menjadi sedikit tenang, tidak tegang seperti tadi.

“Kau Jiyeon?” Tanya Rayeon basa-basi.

Jiyeon mengangguk canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Rayeon-ah, aku ingin kita mengobrol sebentar boleh? Sudah lama bukan kita tidak saling berbicara apalagi bertemu,” Ujar Jiyeon dengan tawa renyahnya.

“Mengobrol? Ah boleh juga, aku juga tidak ada kerjaan apapun di rumah”. Balas Rayeon.

“Kajja”

De Chocolate Coffee Café, Seoul, South Korea. 07.15 KST.

Sudah sekitar tiga puluh menit sejak mereka sampai di café ini tidak ada percakapan yang tercipta dari Jiyeon maupun Rayeon. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing, dan juga tentu saja mereka canggung dengan suasana baru ini, suasana mereka yang sudah sama-sama memiliki seorang nampyeon atau seorang suami.

Jiyeon sekarang masih disibukkan dengan kegiatan mengaduk-aduk iced americano pesanannya. Sedangkan Rayeon sendiri, ia masih sibuk berkutat dengan pikirannya, ia masih bingung apa yang harus ditanyakan kepada Jiyeon untuk membuka percakapan di antara mereka berdua.

“Bagaim…”

“Apaka…”

Jiyeon terdiam saat Rayeon terlebih dulu ingin menanyakan hal pada dirinya. Walaupun ucapan Rayeon terpotong. “Kau saja duluan,”

“Ani, kau saja yang duluan”.

Jiyeon menghela napasnya pelan. Ia berpikir sebentar, apakah hal yang ingin ditanyakan pada Rayeon harus ia tanyakan sekarang? Apa itu tidak terlalu, ya… begitulah.

“Baiklah. Apakah Hyunyoung anakmu?” Tanya Jiyeon berat. Sungguh, sebenarnya ia bimbang ingin mempertanyakan ini atau tidak, tapi jujur, ia benar-benar penasaran.

Rayeon tertawa kecil sebelum menjawab, “Tentu saja, bukankah kau dengar tadi ia mengatakan ‘eomma‘ padaku?”. Jawaban Rayeon tadi berhasil membuat Jiyeon hampir menumpahkan kembali iced americano yang ingin ia telan tadi. Ia tersedak.

“W-wae? Kenapa reaksimu terlalu berlebihan?”

“T-tidak ada,” Balas Jiyeon.

Dari suaranya, sudah kentara sekali kalau Jiyeon terlihat kaget saat mendegar ucapan Rayeon tadi. Jadi, saat Jiyeon tinggalkan sekian tahun lamanya, Myungsoo dan Rayeon menikah? Ck. Padahal, Jiyeon kira Myungsoo akan berubah pikiran dan mencari Jiyeon. Tapi sayang itu semua salah besar.

“Jiyeon-ah, apa Yeonji itu anakmu?” Tanya Rayeon tiba-tiba setelah menyeruput segelas coffee yang tadi sempat ia pesan.

“E-eo? N-ne, Yeonji anakku” Balas Jiyeon dengan senyum manisnya.

Rayeon tercengang mendengar balasan Jiyeon barusan. Dengan siapa kau menikah, Jiyeon-ah? Ingin sekali Rayeon menanyakan hal itu pada Jiyeon, tetapi menanyakan hal seperti itu menurutnya amat sangat tidak pantas.

Keheningan kembali tercipta di antara keduanya, percakapan tadi seperti percakapan terakhir yang tercipta dari mulut mereka, baik Jiyeon maupun Rayeon. Jiyeon dan Rayeon kembali berkutat dengan pikiran masing-masing. Jiyeon dengan pikirannya yang sedikit kacau karena mengetahui kalau Myungsoo menikah dengan Rayeon. Sedangkan Rayeon sendiri ia masih berkutat dengan pikirannya, apa ia harus menanyakan hal itu? Ia yakin, keheninganlah yang akan tercipta jika ia menanyakan hal itu juga. Percuma saja intinya.

Rayeon sesekali melirik ke arah Jiyeon yang sedang memainkan ponselnya. Tunggu, memainkan? Apa yang disebut memainkan? Jiyeon saja sekarang hanya sedang menyentuh-nyentuh layar ponselnya. Sekali lagi, jadi apa yang disebut memainkan?

Jujur saja, sebenarnya Jiyeon amat benci dengan situasi seperti ini. Rasanya ia ingin sekali menanyakan hal yang bisa membuat mereka berdua—Jiyeon dan Rayeon—berbicara tanpa harus kejebak dalam suasana hening lagi. Tapi sekarang, pikirannya seperti buntu sehingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih, tenggorokkannya juga seperti tercekat menyebabkan ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“Aah Jiyeon, aku harus pergi! Aku lupa membeli peralatan sekolah untuk Hyunyoung, ugh kalau ia tau eommanya tidak membelikan barang keperluannya, ia pasti akan mengoceh tidak jelas, mianhae Jiyeon-ah”. Ujar Rayeon sambil menepuk jidatnya pelan menandakan bahwa ia benar-benar lupa.

Jiyeon mendongakkan kepalanya karena sejak tadi ia terus menunduk sambil menekan-nekan layar ponselnya—merasa bosan karena keheningan yang hadir di antara keduanya—. Ia menatap Rayeon sebentar lalu tersenyum menganggukkan kepalanya seraya menjawab, “Tentu saja, aku juga harus pergi ke pasar untuk membeli keperluan sekolah Yeonji dan persediaan makanan di rumah, persediaan makananku sudah kritis, hehe”. Cengir Jiyeon.

Rayeon terkekeh pelan mendengar jawaban Jiyeon tadi. Ia bangkit dari duduknya dan menyimpangkan tas abu-abu miliknya ke bahu kirinya. “Aku pergi dulu, sampai bertemu nanti, annyeong Jiyeon-ah”. Pamit Rayeon sambil melambaikan tangannya pada Jiyeon yang dibalas dengan sebuah senyuman lebar dari Jiyeon.

Jiyeon menyeruput Iced Americano yang tadi ia pesan sebelum beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasnya dan menaruh uang itu di atas meja yang sempat tadi ia—dan Rayeon—gunakan. Setelah itu ia menenteng tas hitamnya dan berjalan ke luar café.

Incheon, South Korea. 09.50 KST.

Di sebuah perusahaan ternama di Incheon, Korea Selatan, Myungsoo kini tengah bersandar pada kursi kantornya sambil memutar-mutar bolpoint yang ia jepit di antara jari tengah dan jari telunjuknya. Hari ini pekerjaan kantornya tidak terlalu menumpuk, jadi ia bisa bersantai-santai seperti ini. Padahal, biasanya ia jarang atau bahkan tak bisa melakukan hal seperti bersantai-santai saking padatnya pekerjaan kantor. Tapi sekarang adalah hari keberuntungan menurutnya.

Ia teringat kalau hari ini ia memiliki janji dengan istrinya—Rayeon—untuk mengantarnya ke minimarket. Sebuah senyuman manis terukir dibibir Myungsoo. Ia benar-benar bersyukur hari ini tidak sedang banyak kerjaan, jika sekarang pekerjaannya menumpuk ia pasti harus menunda janjinya itu dan tentu saja itu membuat Rayeon kecewa. Ia tak mau hal itu terulang kembali, sudah sering sekali ia menunda janjinya dengan Rayeon.

Myungsoo bangkit dari posisi duduknya. Ia mengambil jaketnya yang tadi ia taruh di kursi. Myungsoo keluar dari ruangannya dan menghampiri Park Goohwa—sekretaris Myungsoo—.

“Goohwa-ssi, saya harus keluar dulu,” Ujar Myungsoo sambil menepuk pundah Goohwa.

Goohwa sendiri hanya bisa mengangguk dan membungkukkan badannya. Ia tak bisa menolak karena Myungsoo adalah sajangnim atau bossnya.

Ne sajangnim,” Balas Goohwa.

Myungsoo pergi ke tempat parkiran. Ia mengambil mobil berwarna silver miliknya dan mulai melajukan mobil tersebut. Myungsoo menyalakan sebuah lagu agar suasana di mobilnya tidak hening atau sepi. Ia paling benci dengan keheningan. Tanpa sadar, lagu yang diputar Myungsoo adalah lagu yang ia dengarkan dengan Jiyeon saat delapan tahun yang lalu…

Manyageh naega gandamyeon
Naega dagagandamyeon
Neon eoddeogeh saenggakhalgga
Yonginaelsu eobtgo

Manyageh niga gandamyeon
Niga ddeonagandamyeon
Neol eoddeogeh bonaeyahalji
Jaggoo geobi naneun geol

Naega babo gataseo
Barabolsu bakkeman eobtneungeon amado
Wemyeon haljidomoreul ni maeumgwa
Ddo keuraeseo deo mareojil saiga dwelggabwa

Jeongmal babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo ingabwa

Manyageh niga ondamyeon
Niga dagaondamyeon
Nan eoddeogeh haeyamanhalji
Jeongmal alsu eobtneungeol

Naega babo gataseo
Barabolsu bakkeman eobtneungeon amado
Wemyeon haljidomoreul ni maeumgwa
Ddo keuraeseo deo mareojil saiga dwelggabwa

Jeongmal babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo ingabwa

Naega babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo ingabwa

Myungsoo kembali teringat moment-momentnya dengan Jiyeon saat mendengarkan lagu itu berdua delapan tahun yang lalu.

Jiyeon kini sedang terbaring di atas rerumputan di pekarangan rumah Myungsoo. Ia memejamkan matanya menikmati segarnya udara di sore hari ini sambil merasakan beberapa dedaunan yang jatuh tepat di wajahnya. Senyuman juga tak menghilang dari bibir Jiyeon.

Jiyeon tak sadar jika ada seseorang yang ikut membaringkan tubuhnya di rerumputan itu—di sebelah Jiyeon—. Sepertinya, Jiyeon terlalu asyik menikmati udara sore hari ini. Oh atau jangan-jangan… ia tertidur?

Jiyeon membuka matanya ketika mendengar alunan music yang sangat yaaa menenangkan jika didengar. Ia menoleh dan mendapati sosok yang sudah sangat familiar baginya. Siapa lagi kalau bukan Myungsoo, heum?

“Ya! Kenapa kau disini?!” Bentak Jiyeon sambil menjauhkan tubuhnya dari Myungsoo.

“Memangnya tidak boleh?” Balas Myungsoo membuka kedua matanya dan menoleh menghadap Jiyeon.

“Ish! Terserah kau saja lah!”

Jiyeon mengerucutkan bibirnya kesal dan juga menggembungkan kedua pipinya. Kesan imut semakin bertambah dalam dirinya sekarang. Myungsoo yang melihat itu terkekeh sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jiyeon. Kini, mereka berdampingan lagi.

“Diamlah dan dengarkan lagu ini,” Suruh Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon erat dan juga memejamkan kedua matanya.

Jiyeon terdiam saat Myungsoo menggenggam tangannya begitu erat. Matanya membulat dengan bibir yang sedikit terbuka. Jiyeon tersenyum melihat itu. Ia memandangi wajah Myungsoo yang sedang memejamkan matanya. “Tampan”. Kata itu mencolos keluar dari mulut Jiyeon. Untungnya volume music yang kini mereka dengarkan cukup keras sehingga Myungsoo tak dapat mendengar itu dan juga Jiyeon mengucapkan kalimat itu dengan pelan… sangat pelan sehingga seperti sebuah bisikkan.

Jiyeon ikut memejamkan kedua matanya. Menikmati alunan music yang sedang diputar, ditambah dengan sejuknya udara sore hari ini. Ia tersenyum dalam diam.

CIIITTT

Myungsoo hampir menabrak sebuah pohon jika kesadarannya tidak kembali saat itu, dengan cepat ia membelokkan setir dan untungnya ia selamat.

Myungsoo mengatur nafasnya yang tidak teratur. Ia memberhentikan mobilnya sebenar di pinggir jalan. Ia memegang pelipisnya dan memijatnya pelan. Frustasi. Itu yang ia rasakan sekarang. Kenapa bayang-bayang itu harus kembali lagi? Dan juga, kenapa ia harus bertemu kembali dengan Jiyeon? Kenapa?

Tapi, apa bisa bayang-bayang itu hilang jika sekarang Myungsoo dan Jiyeon berada di satu Negara, satu tanah, satu udara, dan juga satu kota? Hal itu dapat membuat Myungsoo dan Jiyeon sering bertemu apalagi sekarang Jiyeon dan Rayeon juga kembali berteman seperti dulu.

Myungsoo mengambil ponsel yang ia taruh di dalam saku jaketnya. Ia menekan nomor seseorang, siapa lagi kalau bukan istrinya, Rayeon.

“…”

Yeobo, kau di mana sekarang?”

“…”

Arraseo. Aku akan kesana”

“…”

“Hehe, iya. Hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak,”

“…”

Annyeong yeobo, nado saranghae

Myungsoo mematikan sambungan telepon tersebut dan mulai melajukan mobilnya kembali.

Namdaemun Market, Seoul, South Korea. 10.15 KST.

Jiyeon kini sedang berjalan menelusuri setiap inci dari pasar tradisional yang cukup terkenal di kota Seoul tersebut. Barang-barang yang ia beli sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi entah kenapa ia masih belum merasa puas. Rasanya, ingin sekali ia memborong semua hal yang berada di pasar ini.

Jiyeon berhenti di suatu toko peralatan sekolah, menurutnya ia harus membeli beberapa peralatan sekolah untuk Yeonji. Kemarin saat ia memeriksa tas anaknya penghapusnya saja sudah hilang, tiga pensilnya juga hilang dan tersisa dua pensil. Dan kotak pensil anaknya itu sudah hampir rusak! Oh anaknya ini benar-benar ceroboh seperti dirinya!

Jiyeon masuk ke dalam toko itu. Ia berkeliling toko yang tidak terlalu besar itu mencari-cari beberapa perlatan yang dibutuhkan dirinya, tidak, dibutuhkan anaknya, Yeonji.

Saat Jiyeon hendak mengambil salah satu kotak pensil, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mendahuluinya. Jiyeon melihat ke arah orang yang lebih dahulu mengambil kotak pensil itu. Matanya membelalak ketika mengetahui siapa yang mendahuluinya…

TBC

A/N :

Lohaaa😀 Aku balik dgn ff sequel dari trapped in friendzone😀 hayooo siapa yang nungguin sequelnya hayooo /gaada/😄 haha, gimana? alurnya ga jelas ya? ember :p maaf ya klo nama Luhan, Yoona, Hanjung, Hayeon, Donghae, dan Hyunra masih nyempil di ff ini-_- aku udh berusaha supaya ga nyempil tapi semoga aja emang ga nyempil :v Oya itu yang bercetak miring ceritanya flashback ya😀 kalo yang bercetak miring+tebel itu lagu :v hehe, ditunggu commentnya{} Don’t be silent readers, okay? Thank You{}♥

Buat yang belum baca ff Trapped in Friendzone kalian bisa baca disini. ThankYou

59 responses to “[CHAPTER — PART 1] Sorry (Sequel Trapped in Friendzone)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s