SEQUEL [ONE SHOOT] LOVE

LoveTitle : Love

Author : Yan Hee

Main Cast :

Kim Myungsoo (Infinite)

Park Jiyeon (T-ara)

Byun Baekhyun (Exo)

Lee Hyeri (Girls Day)

Kim Taehyung (Bts)

Other Cast :

OC

Genre : Romance, sad

Rate : T (PG-16)

Credit Poster : AXyrus@HSG

~

Annyeong ^^

Di sequel ff oneshoot love ini akan dijelaskan kenapa Baekhyun dan Jiyeon ciuman. 

Mian kalau sequel ff love ini masih gaje, bikin pusing dan mengecewakan. Maaf juga kalau kelamaan pake bingits ngepostnya, hehehe. 

Ok, Happy reading!!! (untuk yang mau baca aja)

Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya!!!

Yang belum baca ff oneshoot lovenya, bisa klik. Baca disini. 

Oh ya, kunjungi wp baruku. Klik. Disini. Ngomong-ngomong disana ada ff baru loh tapi lengthnya drabble. Yang mau kesana, monggo. Jangan lupa tinggalin jejak ya ^^

***

Jiyeon tengah berjalan di koridor rumah sakit.

“Dokter Byun” sapa Jiyeon pada Baekhyun yang berpapasan dengannya.

Baekhyun hanya menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat lalu kembali melangkahkan kakinya tanpa membalas sapaan Jiyeon.

Jiyeon mengernyitkan dahinya. “Ada apa dengan dokter Byun? Tidak biasanya ia seperti itu? Apa ia merasa canggung setelah kejadian waktu itu? Atau ia merasa bersalah karena sudah lancang menciumku?” pikir Jiyeon.

BLUSH

Entah kenapa, pipi Jiyeon merona walaupun tidak kentara saat tiba-tiba kejadian dimana Baekhyun mencium dirinya melintas di otaknya. Jiyeon menangkup kedua pipinya.

“Ada apa denganku? Kenapa adegan kissing itu malah melintas di otakku? Ingat Jiyeon kau adalah milik Myungsoo”. Jiyeon mengingatkan dirinya sendiri jika ia adalah yeojachingu Myungsoo.

Jiyeon menurunkan tangannya. “Lebih baik aku menemuinya saja” ucap Jiyeon lalu kembali melangkahkan kakinya. Berniat menemui Baekhyun di ruang kerjanya.

__

__

Di ruang kerjanya, Myungsoo tampak membaca satu persatu deretan nama perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya lewat lembaran-lembaran yang berada di tangan kanannya.

“Sajangnim”. Suara seseorang dari luar pintu membuat Myungsoo meletakkan lembaran-lembaran itu di atas meja.

“Masuk!” titah Myungsoo dari dalam.

Seorang namja berperawakan tinggi masuk ke dalam ruang kerja Myungsoo lalu membungkukkan badannya sedikit tanda hormat.

“Ada apa?” tanya Myungsoo sambil menatap wajah Taehyun – sekretarisnya.

“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda”

“Siapa?”

“Saya tidak tahu, sajangnim. Tapi katanya ia adalah teman anda”

“Namja apa yeoja?”

“Yeoja, sajangnim”

“Baiklah, suruh dia masuk!”

“Ne, sajangnim”. Taehyun mengganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruang kerja Myungsoo.

Seorang yeoja cantik masuk ke dalam ruang kerja Myungsoo. Myungsoo membulatkan matanya menatap wajah yeoja cantik itu.

“Hyeri”

__

__

“Mwo? Dokter Byun, alasan anda mencium saya waktu itu karena anda mencintai saya?”. Ekpresi terkejut nampak jelas terlihat di wajah Jiyeon. Ia tidak percaya jika dokter yang selama ini sudah ia anggap teman ternyata diam-diam memiliki perasaan terhadapnya.

Baekhyun hanya diam. Ia lalu berjalan ke arah jendela yang berada di sisi kanan ruang kerjanya. Matanya menatap ke luar jendela dengan tatapan menerawang.

Jiyeon berjalan menghampiri Baekhyun. Berdiri di samping kanan namja berwajah imut itu.

“Baekhyun” panggil Jiyeon.

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Jiyeon. Baru kali ini Jiyeon memanggilnya dengan nama seperti itu.

Jiyeon menatap wajah Baekhyun dengan tatapan bersalah.

“Mianhae, tapi kau tahu kan kalau aku mencintai Myungsoo” ujar Jiyeon pelan. Takut menyakiti hati namja itu.

Baekhyun hanya mampu terdiam. Ia kembali menatap pemandangan dari balik jendela di depannya.

“Ne, aku tahu” ujar Baekhyun.

“Dokter Park” panggil Baekhyun sambil menoleh ke arah Jiyeon.

“Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu cukup panggil aku Jiyeon saja jika itu di luar pekerjaan atau saat kita mengobrol seperti ini”

Baekhyun menatap lekat-lekat wajah Jiyeon. Yang ditatap hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

“Baiklah”

“Jiyeon-ah”

“Ne?”

“Jika suatu hari nanti Myungsoo membuatmu sedih, datanglah padaku aku akan membuatmu tersenyum lagi. Dan jika suatu hari nanti Myungsoo pergi meninggalkanmu, datanglah padaku aku akan berusaha untuk membuatmu melupakannya dan membuatmu mencintaiku”

Jiyeon hanya mampu terdiam setelah mendengar ucapan Baekhyun.

Baekhyun menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Baiklah, aku pergi dulu! Ada pasien yang harus aku tangani”. Baekhyun membalikkan badannya lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya.

Jiyeon menolehkan kepalanya ke belakang, menatap punggung Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

__

__

Myungsoo saat ini tengah berada di dalam mobilnya. Kejadian tadi siang –saat Hyeri menemuinya di ruang kerjanya– melintas di otaknya. Ngomong-ngomong Hyeri dulunya adalah teman masa kecil Myungsoo tapi saat keduanya berusia 10 tahun, Hyeri dan keluarganya memutuskan pindah ke Jepang.

“Aku adalah calon istrimu”

Kepala Myungsoo berdenyut nyeri saat mengingat perkataan Hyeri tadi siang. Ditambah ucapan sang ayah (melalui ponsel) yang mengatakan kalau Hyeri memang calon istrinya. Myungsoo memijit pelipisnya agar rasa nyeri di kepalanya mereda. Myungsoo lalu membuang napas panjang.

Dreet,,, dreet…

Ponsel yang ia letakkan di dashboard mobilnya bordering. Myungsoo lalu menatap layar ponselnya. Ia menyunggingkan senyum tipisnya saat matanya melihat id sang penelepon di layar datar ponselnya. Ia lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

“Yoboseyo”

[“Apa kau sudah pulang?”]

“Belum”

[“Kenapa belum pulang? Apa kau sudah makan?”]

Myungsoo tersenyum tipis saat mendengar ucapan Jiyeon yang seolah tengah mengkhawatirkannya. “Sudah” ujarnya.

[“Myungsoo, kalau kau sudah selesai dengan urusanmu. Cepat pulang dan tidur ne?”]

“Ne”

TUT

Myungsoo kembali meletakkan ponselnya di dashboard mobil. Myungsoo menghela napas. Ia baru ingat perkataan yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu pada Jiyeon yang memintanya untuk menikah dengannya dan menjadi bibi untuk Taehyung. Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Apa yang harus aku lakukan?” batinnya.

***

Seorang yeoja cantik tampak berjalan masuk ke dalam sebuah gedung perusahaan. Saat memasuki gedung perusahaan, senyuman di bibir yeoja itu tak pernah hilang. Orang-orang yang berpapasan dengannya menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat membuat yeoja itu hanya bisa menunjukkan senyum tipisnya.

Yeoja itu menghentikan langkahnya saat manik matanya menangkap sosok namja yang ingin ia temui sedang mengobrol dengan seseorang di ujung sana. Yeoja itu lalu memutuskan berjalan menghampiri namja itu.

“Myungsoo”
.

Myungsoo menolehkan kepalanya saat ada seseorang yang memanggilnya. Ia terkejut karena seseorang yang memanggilnya adalah Hyeri.

Sungjong – seseorang yang mengobrol dengan Myungsoo juga ikut menolehkan kepalanya menatap Hyeri.

“Hyeri, apa benar kau Hyeri?” tanya Sungjong.

“Ne, ini aku Hyeri. Bagaimana kabarmu Sungjong? Sudah lama ya kita tidak pernah bertemu”

“Aku baik”

Myungsoo menatap Hyeri lalu Sungjong dengan tatapan bingung. Hyeri yang melihatnya tersenyum kecil.

“Kalian saling kenal?” tanya Myungsoo.

“Ne, aku dan Sungjong sudah saling kenal. Kami dulunya adalah teman semasa SMA”

Myungsoo hanya bisa diam mendengar penuturan Hyeri.

“Myungsoo, Hyeri. Maaf, aku tidak bisa mengobrol banyak dengan kalian. Karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu!” pamit Sungjong pada Myungsoo dan Hyeri.

Selepas Sungjong pergi. Hyeri menatap Myungsoo yang tampak melamun. Hyeri tersenyum miring, ia lalu memegang lengan Myungsoo. Myungsoo terkejut dengan apa yang dilakukan Hyeri. Ia lalu melepas tangan Hyeri yang memegang lengannya. Tanpa berkata apa-apa Myungsoo lalu pergi meninggalkan Hyeri. Hyeri menatap punggung tegap Myungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan.

__

__

Taehyung tengah duduk di sofa ruang tamu sambil tangannya memainkan robot-robotan kesayangannya. Ngomong-ngomong mulai kemarin Taehyung sudah tinggal bersama kakek dan neneknya.

“Taehyung, mau es krim?”

Taehyung berhenti sebentar dengan acara bermainnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah seorang yeoja paruh baya yang tak lain neneknya yang tengah duduk di sampingnya.

“Ne, aku mau es krim halmeoni” ucap Taehyung sambil menatap Hyo Jin – halmeoninya dengan mata berbinar-binar.

Hyo Jin tersenyum tipis. Tangannya tergerak mengusap rambut kecoklatan cucu kesayangannya itu.

“Taehyung, ingin jalan-jalan?”

“Ne, aku mau jalan-jalan dan es krim halmeoni” ujar Taehyung.

“Kalau begitu, kajja kita jalan-jalan dan beli es krim!” ajak Hyo Jin lalu berdiri.

“Halmeoni, bolehkah aku membawa mainan robotku?”

“Tentu saja” ujar Hyo Jin tersenyum lebar.

“Kajja, halmeoni! Kita pergi jalan-jalan dan beli es krim”. Taehyung turun dari sofa lalu memegang lengan Hyo Jin. Hyo Jin hanya bisa tersenyum tipis dengan tingkah cucu kesayangannya itu.

__

__

Jiyeon sedang berada di ruang kerjanya. Beberapa menit yang lalu, ia baru selesai mengoperasi salah satu korban kecelakaan. Dan ia memutuskan pergi ke ruang kerjanya setelah selesai mengoperasi.

Jiyeon menatap jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.

“Pukul 10 malam” gumamnya.

Jiyeon menghembuskan napas panjang. Entah kenapa ia merasa enggan untuk pulang. Tiba-tiba ia merindukan Myungsoo. Jiyeon lalu memutuskan untuk menghubungi namja berwajah tampan itu.

“Yoboseyo, Myungsoo”

[“Ne, yoboseyo”]

“Siapa kau?”

[“Aku adalah calon istri Myungsoo”]

Buliran bening tiba-tiba keluar dari kelopak mata Jiyeon. Benarkah jika Myungsoo sudah memiliki calon istri? Lalu kenapa Myungsoo memintanya untuk menikah dengannya?

“Jangan membohongiku” ucap Jiyeon dengan suara bergetar. Ia masih tidak percaya dengan ucapan yeoja itu.

[“Mana mungkin aku membohongimu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada Myungsoo”]

TUT

Jiyeon memutus panggilannya secara sepihak. Buliran-buliran bening keluar dari kelopak matanya turun membasahi pipi putihnya. Semakin lama semakin deras dengan disertai isakan kecil.

Jiyeon menggeleng-nggelengkan kepalanya. Masih tidak percaya dengan ucapan yeoja yang mengaku dirinya adalah istri Myungsoo.

“Tidak. Ini tidak mungkin. Benarkah Myungsoo sudah memiliki calon istri? Kenapa ia tidak memberitahuku?” tanya Jiyeon dalam hati.

Di lain tempat

“Hyeri” ucap Myungsoo yang baru keluar dari kamar mandi. Ia terkejut dengan kehadiran Hyeri yang tiba-tiba sudah duduk di tepi kasurnya.

“Bagaimana bisa kau berada disini?” tanya Myungsoo. “Maksudku bagaimana kau bisa tahu password apartemenku?”

Hyeri hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Myungsoo. Hyeri lalu berdiri dari duduknya dan kemudian menghadap Myungsoo. Ia mengelus pipi Myungsoo. Myungsoo sesaat terdiam dengan sentuhan Hyeri. Tapi buru-buru ia tersadar dan menurunkan tangan Hyeri.

“Lebih baik kau pulang. Dan apa sebenarnya tujuanmu datang kesini? Aku curiga padamu. Apa yang sudah kau lakukan selama berada disini?” tanya Myungsoo seolah menginterogasi Hyeri.

Hyeri merasa tercekat dengan ucapan Myungsoo. Tapi dengan ahlinya ia menampakkan wajah biasa-biasa saja agar Myungsoo tidak curiga. Hyeri memang cerdik, saat ponsel milik Myungsoo berdering, ia mengangkat panggilan dari seseorang itu tidak di kamar Myungsoo melainkan di balkon. Dan beruntung Myungsoo tidak mendengar dering ponsel miliknya sendiri.

“Myungsoo, aku kesini karena aku merindukanmu. Ku mohon, jangan curiga padaku” ucap Hyeri sambil menatap Myungsoo dengan sendu.

Perasaan Myungsoo berubah menjadi tidak enak karena ia mencurigai Hyeri.

“Baiklah, kalau begitu. Aku pergi!” pamit Hyeri lalu berjalan melewati Myungsoo keluar dari kamar Myungsoo.

Myungsoo hanya bisa menatap punggung Hyeri dengan tatapan bersalah. Tanpa Myungsoo ketahui, diam-diam Hyeri tersenyum menyeringai.

***

Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela kamar tidur seorang namja imut yang masih tertidur dengan lelapnya.

Namja imut itu lalu membuka matanya. Taehyung – namja imut itu kemudian bangun dari tidurnya. Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya terbuka.

“Cucu halmeoni rupanya sudah bangun”. Hyo Jin berjalan menghampiri Taehyung yang masih duduk di atas kasur.

“Halmeoni” panggil Taehyung dengan suara khas bangun tidur sambil menatap wajah Hyo Jin yang duduk di sampingnya.

“Ne?”

“Apa haraboji masih lama di Jepang?” tanyanya.

“Taehyung merindukannya?”

“Ne, aku merindukan haraboji, halmeoni”

Hyo Jin tersenyum tipis mendengar ucapan Taehyung. “Tunggu ya. Mungkin beberapa hari lagi, haraboji kembali ke korea”

Taehyung hanya menatap wajah Hyo Jin tanpa menjawab ucapannya.

__

__

Myungsoo tengah mengendarai mobilnya menuju perusahaan. Setelah sampai, ia lalu turun dari mobilnya berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan.

Myungsoo meletakkan tasnya di sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia menghela napas sebelum mendudukkan dirinya di kursi putarnya.

Suara dering ponsel membuat Myungsoo merogoh ponsel yang ia simpan di saku celana panjangnya.

“Appa” gumam Myungsoo sambil melihat layar datar ponselnya yang menampilkan id sang penelepon.

“Yoboseyo” sapa Myungsoo setelah mendekatkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

[“Apa kau bisa menjemput appa di bandara incheon sekarang?”]

“Ah, ne. Apa pembangunan proyek di sana sudah selesai?”

[“Sebenarnya belum. Tapi tenang saja, appa sudah menyuruh Sung Jae untuk mengawasi jalannya pembangunan proyek di sana”

“Ah, ne. Appa tunggu ya, aku akan segera ke bandara”

TUT

Myungsoo kembali menyimpan ponselnya. Ia lalu berdiri dari duduknya, berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.

__

__

“Dokter Byun, dimana dokter Park? Apa kau tahu dia dimana? Dari tadi aku tidak melihat batang hidungnya”. Salah satu dokter bertanya pada Baekhyun yang berjalan di koridor rumah sakit.

Baekhyun terdiam sejenak. “Aku tidak tahu dia dimana” jawabnya.

“Oh, begitu. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu!”

Baekhyun mengganggukkan kepalanya.

“Apa Jiyeon sakit? Dari tadi aku juga tidak melihatnya. Jam segini kan biasanya ia sudah berada disini?” monolog Baekhyun. “Ah, lebih baik aku meneleponnya saja”

Baekhyun merogoh ponsel yang ia letakkan di saku celana panjangnya. Ngomong-ngomong Baekhyun belum memakai pakaian dokternya. Baekhyun lalu mencari kontak Jiyeon di ponselnya. Setelah ketemu, ia langsung menyentuh ikon hijau di layar datar ponselnya.

Baekhyun kemudian menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menunggu sambungan antara dirinya dan seseorang di sebrang sana tersambung. Tapi nyatanya malah suara sang operator menyapa indra pendengarannya.

“Apa sudah terjadi sesuatu padanya? Tidak biasanya ia seperti ini? Ah, aku mengkhawatirkannya” batin Baekhyun sambil menyimpan kembali ponselnya.

“Apa aku ke apartemennya saja ya? Ah, baiklah lebih baik aku ke apartemennya saja”. Baekhyun lalu membalikkan badannya, berjalan menyusuri koridor yang membawanya keluar dari gedung putih khas bau obat-obatan itu.

__

__

“Bagaimana? Semakin dewasa, ia semakin cantik saja, bukan?!”. Pertanyaan dari Sang Woon – ayahnya membuat Myungsoo terdiam sejenak.

“Apa Hyeri yang appa maksud?” tanya Myungsoo sambil terus fokus menyetir.

“Ne”

Myungsoo menyunggingkan senyum tipisnya. “Ne, semakin dewasa ia semakin cantik”

Sang Woon tersenyum senang mendengar jawaban putra bungsunya itu. “Jadi, kau pasti tidak akan menolak bukan kalau sebentar lagi Hyeri akan menjadi istrimu?!”

DEG

Myungsoo terdiam. Enggan menjawab ucapan sang ayah. Jujur, sebenarnya dulu ia pernah menaruh hati pada Hyeri. Ia menyukai segala yang ada pada diri yeoja itu terutama sifat baiknya. Tapi semenjak Hyeri dan keluarganya pindah ke Jepang, ia mencoba untuk melupakan yeoja itu. Dan akhirnya ia berhasil walaupun itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Setelah sekian lama, akhirnya Myungsoo kembali menaruh hati pada seorang yeoja yang tak lain adalah Jiyeon. Saat itu Myungsoo duduk di bangku 10 senior high school. Tapi Myungsoo tidak langsung menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Ia tidak ingin gegabah. Ia ingin mengenal lebih jauh tentang yeoja itu. Dan cara yang ia pilih adalah menjadi teman dekatnya. Saat ia sudah berteman dengan Jiyeon, ia merasa Hyeri dan Jiyeon banyak memiliki kesamaan. Tapi ia segera sadar, kalau ia tidak boleh menyamakan Jiyeon dengan Hyeri. Seiring berjalannya waktu, Myungsoo akhirnya menyatakan perasaannya pada Jiyeon. Hal yang tidak terduga terjadi pada Myungsoo ternyata Jiyeon juga memiliki perasaan padanya dan ya, Jiyeon menerima pernyataan cintanya.

“Myungsoo”. Panggilan dari Sang Woon membuat lamunan Myungsoo buyar.

“Apa yang kau lamunkan, eoh? Jangan melamun disaat mengendarai mobil. Kau tidak ingin nyawa dirimu dan appa melayang bukan?”

“Mian, appa” ucap Myungsoo sambil kembali fokus menyetir.

__

__

“Apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu, Jiy? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?” tanya Baekhyun dalam hati sambil menatap Jiyeon yang terlelap.

Tadi, saat Baekhyun berdiri di depan pintu apartemen Jiyeon sambil menunggu sang empunya membukakan pintu, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan Jiyeon yang langsung menghambur memeluknya setelah sang empunya membuka pintu. Ia terkejut bukan main. Tapi setelahnya ia mengenyitkan dahinya saat telinganya mendengar isakan pelan dari Jiyeon.

Baekhyun panik dan khawatir karena Jiyeon tiba-tiba menangis. Ia mencoba bertanya pada Jiyeon alasan kenapa ia menangis. Tapi Jiyeon seolah tidak mempedulikannya dan terus menangis. Baekhyun hanya menghela napasnya, tangannya lalu tergerak untuk mengelus punggung Jiyeon berusaha menenangkan yeoja itu.

Baekhyun dan Jiyeon tidak tahu jika ada orang yang diam-diam memotret apa yang tengah mereka lakukan yakni berpelukan. Karena ya, mereka berpelukan di depan pintu apartemen Jiyeon. Setelah Baekhyun tidak lagi mendengar isakan keluar dari bibir Jiyeon, ia lalu sedikit menjauhkan tubuh Jiyeon dari tubuhnya. Jiyeon menatap sayu ke arah Baekhyun, tiba-tiba matanya mendadak buram dan akhirnya ia hilang keseimbangan. Beruntung Baekhyun dengan sigap menahan tubuh Jiyeon agar tidak terjatuh. Baekhyun lalu menggendong Jiyeon ala bridal style menuju ke kamar Jiyeon.

Baekhyun menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Jiyeon. Ia menatap sendu wajah Jiyeon yang pucat. Tangan kanannya lalu tergerak menggenggam jemari kiri Jiyeon.

Deringan ponsel membuat Baekhyun merogoh ponselnya dari dalam saku celana panjangnya dengan tangan kirinya. Ia menatap layar datar ponselnya yang menampilkan id sang penelepon. Baekhyun lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

“Yoboseyo”

[“Ne, yoboseyo. Kau dimana, dokter Byun? Ada pasien bernama Yoo Ah Joo tidak ingin dioperasi jika yang mengoperasi bukan kau padahal ia harus segera dioperasi kalau tidak penyakitnya akan bertambah parah”]

“Aku sedang berada di apartemen dokter Park. Benarkah? Baiklah, aku akan segera kesana”

TUT

Baekhyun menatap wajah Jiyeon. Dengan perlahan ia melepas tangan kanannya yang menggenggam jemari Jiyeon. Ada perasaan tidak rela ia meninggalkan Jiyeon. Tapi kalau pasien bernama Yoo Ah Joo itu tidak segera dioperasi kemungkinan penyakitnya akan bertambah parah dan ia sebagai dokter tidak ingin hal itu terjadi.

Baekhyun melirik selembar kertas yang ada di meja kecil samping tempat tidur Jiyeon. Ia lalu menulis memo untuk Jiyeon. Sebelum meninggalkan kamar Jiyeon, Baekhyun dengan lancangnya mencium kening Jiyeon.

“Aku menyayangimu, Jiy” ucapnya.

Setelah itu, Baekhyun keluar dari kamar Jiyeon.

__

__

“Aku merindukan Jiyeon imo. Kapan ya aku bisa bertemu dengannya lagi?” gumam Taehyung sambil terus memainkan robot kesayangannya.

Hyo Jin yang duduk di sampingnya mengernyitkan dahinya mendengar nama seseorang yang baru saja disebut oleh cucu kesayangannya itu.

“Jiyeon imo, siapa itu Taehyung?” tanya Hyo Jin.

Taehyung menolehkan kepalanya ke arah Hyo Jin. “Jiyeon imo itu yeojachingu Myungsoo samchon, halmeoni” ujarnya.

Hyo Jin terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut Taehyung. “Yeojachingu Myungsoo samchon?”

“Ne, halmeoni. Kata Myungsoo samchon ia akan menikah dengan Jiyeon imo. Halmeoni tahu, Jiyeon imo benar-benar cantik. Aku senang kalau Myungsoo samchon benar menikah dengannya. Dan otomatis Jiyeon imo akan menjadi bibi Taehyung” ucap Taehyung dengan mata-mata berbinar-binar.

Hyo Jin hanya mampu terdiam setelah mendengar ucapan Taehyung. “Bagaimana ini?” ucapnya dalam hati.

__

__

Perlahan mata Jiyeon terbuka. Yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamar tidurnya. “Kenapa aku bisa berada disini?” tanyanya entah pada siapa.

“Ah, aku baru ingat. Tadi Baekhyun ke sini lalu aku malah memeluknya. Kemudian tiba-tiba kepalaku terasa pusing lalu semuanya gelap. Pasti Baekhyun yang membawaku ke sini” monolog Jiyeon.

Jiyeon sedikit meringis karena kepalanya mendadak pusing tapi ia berusaha untuk bangun dari tidurnya. Ia lalu bersandar pada kepala tempat tidur. Ia menolehkan kepalanya ke samping ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Manik matanya menangkap selembar kertas di samping obatnya. Ia lalu mengambil selembar kertas itu dan membacanya. Sebuah senyuman terbit di bibir Jiyeon tatkala matanya menatap deretan tulisan yang memenuhi selembar kertas putih itu. Jiyeon lalu melipat kertas itu dan menaruhnya kembali di tempat semula. Kemudian tangannya beralih mengambil obatnya.

Setelah makan obat didampingi segelas air putih, kepala Jiyeon yang awalnya terasa pusing sedikit mereda. Jiyeon menghela napasnya. “Hanya gara-gara memikirkan perkataan yeoja itu tempo hari aku jadi sakit seperti ini. Hah, kenapa aku tidak menanyakannya langsung pada Myungsoo ya?” gumam Jiyeon.

Jiyeon lalu menggapai ponsel yang letaknya persis di samping obatnya. Jiyeon mencari kontak Myungsoo di ponselnya. Setelah ketemu, ia lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

“Yoboseyo”

[“Ne, yoboseyo”]

“Apa kau sedang sibuk, Myungsoo?”

[“Tidak. Ini tadi aku baru selesai menghadiri meeting. Memangnya kenapa?”]

“Aku ingin bertanya sesuatu hal padamu”

[“Kau ingin bertanya apa?”]

Jiyeon sedikit menghembuskan napasnya sebelum bertanya pada Myungsoo.

“Apa benar kau sudah memiliki calon istri?”

Di lain sisi

[“Apa benar kau sudah memiliki calon istri?”]

DEG

Myungsoo terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Jiyeon. Ia tidak menyangka Jiyeon bertanya tentang hal itu padanya. Dan bagaimana Jiyeon bisa tahu?

[“Myungsoo”]. Panggilan dari Jiyeon membuat Myungsoo tersadar.

“Lebih baik kita bertemu di Ando Cafe. Aku akan menjawab pertanyaanmu”

TUT

Myungsoo memutuskan panggilannya. Ia lalu keluar dari ruang kerjanya.

Di lain sisi

[“Lebih baik kita bertemu di Ando Cafe. Aku akan menjawab pertanyaanmu”]

TUT

Jiyeon menghela napasnya. Ia tatap layar datar ponselnya dengan tatapan menerawang. Dengan perlahan ia turun dari atas tempat tidurnya. Ia lalu mengganti pakaian dan bersiap-siap. Setelah itu, ia keluar dari kamar tidurnya.

__

__
Raut wajah Myungsoo nampak sumringah saat matanya menangkap sosok yeoja masuk ke dalam Ando Cafe. Ia menyunggingkan senyumannya sambil melihat yeoja itu yang berjalan menuju mejanya.

Perlahan raut wajah sumringah Myungsoo memudar digantikan dengan raut wajah khawatir saat Jiyeon sudah berdiri di hadapannya. Wajah yeojachingunya itu terlihat pucat.

Myungsoo lalu berdiri dari duduknya. “Apa kau sakit, Jiy? Wajahmu terlihat pucat”

Jiyeon menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak sakit” ujarnya sambil mendudukkan dirinya di kursi kosong yang berhadapan dengan Myungsoo.

“Jangan berbohong padaku. Kajja, kita ke rumah sakit!” ajak Myungsoo masih dengan nada yang tersirat kekhawatiran sambil memegang lengan Jiyeon.

“Baiklah-baiklah, ne aku berbohong. Aku memang sakit tadi tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa. Kondisiku perlahan membaik. Aku sudah minum obat. Jadi, jangan mengajakku ke rumah sakit. Apa kau lupa jika aku ini seorang dokter?”

Myungsoo tersenyum tipis mendengar ucapan panjang lebar Jiyeon. Ia lalu melepas tangannya yang memegang lengan Jiyeon. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon.

CUP

Myungsoo mengecup bibir Jiyeon singkat. Kecupan singkat itu berhasil membuat Jiyeon terkejut. Tapi dengan segera ia kembali menormalkan wajahnya.

“Myungsoo, jawab pertanyaanku. Apa benar kau sudah memiliki calon istri?”

Myungsoo menghembuskan napasnya sebelum menjawab pertanyaan Jiyeon. “Ne, aku sudah memiliki calon istri. Tapi aku tidak akan pernah menikah dengan Hyeri. Aku hanya mencintaimu dan aku ingin menikah denganmu” ucap Myungsoo seraya menggenggam jemari Jiyeon yang berada di atas meja.

Jiyeon mengernyitkan dahinya. “Hyeri? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Ah ya, Hyeri adalah teman masa kecil Myungsoo sekaligus cinta pertama Myungsoo. Tapi tunggu, di korea kan banyak yang punya nama Hyeri. Ah, lebih baik aku bertanya pada Myungsoo saja” pikir Jiyeon.

“Myungsoo, apa Hyeri yang kau maksud adalah Hyeri teman kecilmu sekaligus cinta pertamamu itu?”

Myungsoo mengganggukkan kepalanya. “Ne”

Jiyeon melepas tangan Myungsoo yang menggenggam jemari tangannya.

“Benarkah kau hanya mencintaiku setelah hadirnya Hyeri dalam kehidupanmu, Myungsoo? Bukankah melupakan cinta pertama itu sulit?”

Myungsoo hanya mampu terdiam setelah mendengar ucapan Jiyeon. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Sedangkan Jiyeon hanya diam sambil mengamati wajah Myungsoo yang tampak bingung. Dalam hatinya, sebenarnya ia juga mencintai Myungsoo dan ingin menikah dengan namja tampan itu tapi ia juga tidak ingin memaksakan Myungsoo untuk menikah dengannya apalagi Myungsoo yang sudah memiliki calon istri. Bukankah mencintai seseorang itu tidak harus memiliki seseorang tersebut?

__

__

Myungsoo menatap langit-langit kamar tidurnya. Perkataan Jiyeon saat di Ando Cafe masih terngiang di kepalanya.

“Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku menjadi bingung dengan perasaanku sendiri? Sebenarnya siapa yang ku cintai? Hyeri atau Jiyeon?” gumam Myungsoo. “Akh, memikirkan ini membuatku pusing. Lebih baik aku tidur saja. Besok saja aku pikirkan lagi”. Myungsoo menutupi dirinya dengan selimut lalu memejamkan matanya.

***

Taehyung berjalan menghampiri Hyo Jin yang sedang duduk di sofa. Ngomong-ngomong hari ini adalah hari minggu dan Taehyung sudah membersihkan tubuhnya.

“Halmeoni” panggil Taehyung setelah mendudukkan dirinya di samping Hyo Jin.

“Ne, ada apa Taehyung-ah?” sahut Hyo Jin sambil menoleh ke arah Taehyung.

“Aku merindukan appa dan eomma, halmeoni” lirih Taehyung dengan wajah sedih.

Hyo Jin menatap iba Taehyung, ia lalu merengkuh tubuh cucu kesayangannya itu ke dalam pelukannya.

__

__

Jiyeon tengah menonton tv di ruang tamu. Lama-kelamaan menonton tv membuatnya bosan. Jiyeon lalu mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Jari-jari tangannya dengan lincah mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan ke seseorang. Setelah terkirim, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja sambil menunggu seseorang di sebrang sana membalas pesannya.

Jiyeon tersenyum saat mendapati layar ponselnya menyala. Dengan segera, ia mengambil benda berbentuk persegi panjang itu. Membuka pesan masuk dan membacanya. Senyuman yang terukir di bibirnya hilang tatkala matanya mendapati tulisan kalau seseorang di sebrang sana tidak bisa menerima ajakannya jalan-jalan. Jiyeon menghembuskan napasnya sedikit kecewa. Ia sadar diri jika Myungsoo sudah memiliki calon istri. Mungkin Myungsoo dan Hyeri saat ini sedang berdua mengingat hari ini adalah hari libur.

Suara ketukan pintu membuat Jiyeon berdiri lalu berjalan untuk membukakan pintu.

“Baekhyun”

__

__

Myungsoo tengah mengendarai mobilnya menuju perumahan yang ada di kawasan Jamsil.

“Mianhae, Jiy” batinnya sambil meletakkan kembali ponselnya di dashboard mobil. Ia baru saja mengetik pesan balasan untuk Jiyeon kalau dirinya tidak bisa menerima ajakan jalan-jalan yeojachingunya itu. Karena ya, hari ini ia ingin menemui kakak sepupunya yang tinggal di salah satu rumah di kawasan Jamsil untuk meminta bantuan mengenai masalah yang membuatnya pusing yaitu mengenai perasaanya.

Myungsoo memakirkan mobilnya begitu sampai di pekarangan rumah kakak sepupunya itu. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumah bercat putih dan coklat tersebut.

Myungsoo menekan bel rumah sepupunya itu. Tapi tidak ada tanda-tanda penghuni rumah membukakan pintu. Myungsoo lalu merogoh ponsel yang ia simpan di saku celana panjangnya.

Myungsoo mengetik sebuah pesan singkat untuk kakak sepupunya itu. Saat ia akan mengirim pesan tersebut. Tiba-tiba sebuah suara berat menyapa indra pendengarannya membuatnya menghentikan kegiatannya tersebut karena terkejut.

“Myungsoo” panggil Jin Sung.

Myungsoo mendongakkan kepalanya. “Hyung” ucapnya.

“Ada apa kau kemari?” tanya Jin Sung pada adik sepupunya itu.

Saat Myungsoo akan membuka suaranya. Jin Sung malah menyuruhnya masuk terlebih dulu. Dan itu membuat Myungsoo sedikit kesal. Tapi ia tetap menuruti apa kata kakak sepupunya itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa ini ada kaitannya dengan masalah percintaan?” tanya Jin Sung pada Myungsoo yang duduk di sofa sebrang sana.

“Tepat sekali. Bagaimana hyung bisa tahu?” tanya Myungsoo penasaran. Sedangkan Jin Sung hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

“Sudah, jangan berbasa-basi. Lebih baik, kau ceritakan saja masalahmu itu!” suruh Jin Sung.

Jin Sung menyimak dengan baik cerita Myungsoo. Sesekali ia mengelus-ngelus dagunya sambil tetap menyimak cerita Myungsoo.

“Hyung” panggil Myungsoo.

“Hm”. Jin Sung hanya bergumam menanggapi panggilan Myungsoo.

“Bagaimana, hyung? Menurut Hyung, aku mencintai siapa?” tanya Myungsoo.

“Entahlah. Menurutmu bagaimana?” tanya balik Jin Sung.

“Aku tidak tahu, Hyung. Maka dari itu aku bertanya padamu” jawab Myungsoo sedikit kesal.

Jin Sung tersenyum miring dengan nada dalam ucapan adik sepupunya itu yang menyiratkan kekesalan.

“Myungsoo, jika Hyeri dan Jiyeon sama-sama tenggelam. Siapa yang pertama kau selamatkan?”

Myungsoo terdiam memikirkan jawaban apa yang ia berikan.

“Aku bingung, hyung” ucapnya.

Jin Sung menghembuskan napasnya. “Sebenarnya kau ini kenapa, Myung? Dulu, kau tidak pernah bingung dengan perasaanmu sendiri. Tapi sekarang kau jadi begini. Apa semenjak Hyeri hadir dalam hidupmu?”

“Ne, hyung”

“Berarti kau masih mencintai Hyeri, Myung. Perasaanmu dulu pada Hyeri masih ada” ucap Jin Sung.

Myungsoo terdiam sambil memikirkan ucapan Jin Sung.

__

__

Hyeri tengah duduk di sofa sambil tangannya membuka satu persatu lembaran majalah fashion yang berada dipangkuannya. Deringan ponsel membuat Hyeri meletakkan majalah fashion di sampingnya. Tangannya lalu menggapai ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia tatap layar datar ponselnya yang menampilkan id sang penelepon. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Ia lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

“Yoboseyo, eommonim”

[“Ne, yoboseyo Hyeri-ya”]

“Ada apa eommonim menelepon?”

[“Apa kau bisa datang ke butik eommonim? Kau dan Myungsoo harus mencoba baju yang sudah eommonim rancang sekalian kalian foto pra wedding”

Hyeri tersenyum mendengar apa yang diucapkan Hyo Jin yang tak lain adalah ibu Myungsoo. “Ne. Aku bisa, eommonim”

[“Ne. Oh iya, bisa kau hubungi Myungsoo? Eommonim sudah mencoba untuk meneleponnya tapi suara operator yang malah terdengar”]

“Baik, eommonim. Aku akan aku coba menghubungi Myungsoo”

[“Ne, terima kasih ya”]

“Sama-sama, eommonim”

TUT

Hyeri tersenyum tipis. Ia lalu beralih mencari kontak Myungsoo. Setelah itu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

Hyeri menunggu dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. Cukup lama ia menunggu seseorang di sebrang sana menerima panggilannya. Mungkin sekitar 15 menit. Dan akhirnya seseorang di sebrang sana menerima panggilannya.

“Yoboseyo, Myungsoo”

[“Ada apa kau menelepon?”]

Hyeri sedikit tercekat dengan ucapan Myungsoo yang terdengar dingin tapi sebisa mungkin ia tidak mempedulikannya

“Eommonim menyuruh kita ke butiknya. Kita harus mencoba baju yang sudah eommonim rancang sekalian kita foto pra wedding”

Myungsoo terdiam cukup lama mendengar ucapan yang keluar dari mulut Hyeri. Ia bingung. Apakah ia harus ke butik eommanya apa tidak?

__

__

Baekhyun dan Jiyeon sedang jalan-jalan di taman. Ya, setelah mengobrol di ruang tamu apartemen Jiyeon, Baekhyun mengajak Jiyeon jalan-jalan di taman. Dan ya, Jiyeon menerima ajakan Baekhyun.

Setelah jalan-jalan, mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana untuk melepas lelah.

“Jiyeon-ah, bolehkah aku tahu alasanmu menangis kemarin?” tanya Baekhyun sambil menoleh ke arah Jiyeon.

Jiyeon menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun.

“Baekhyun, apa kau mau mendengar ceritaku? Kenapa aku bisa menangis kemarin pagi?” tanya Jiyeon.

Dan dimulailah Jiyeon menceritakan kenapa dirinya bisa menangis kemarin pagi pada Baekhyun. Sedangkan Baekhyun menyimak cerita Jiyeon dengan baik.

“Hyeri? Calon istri Myungsoo?” ulang Baekhyun setelah Jiyeon selesai bercerita.

“Ne, Hyeri. Ia adalah calon istri Myungsoo. Ia dulunya adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertama Myungsoo” ucap Jiyeon sambil menatap lurus ke depan.

Baekhyun menatap wajah Jiyeon baik-baik dari samping. Ia merasa kasihan dengan yeoja yang ia cintai itu. “Jadi, hubungan kalian sekarang bagaimana?” tanyanya.

Jiyeon menoleh ke samping ke arah Baekhyun. “Kita tetap menjalin hubungan” ucapnya.

Baekhyun cukup terkejut dengan jawaban Jiyeon. Ia tidak menyangka Myungsoo tidak memutuskan hubungannya dengan Jiyeon padahal jelas-jelas ia sudah memiliki calon istri.

“Jiy, apa kau masih mencintai Myungsoo? Kau tahu kan, pasti sebentar lagi Myungsoo akan menikah. Maaf, aku mengatakan ini. Aku tidak ingin kau terluka nantinya. Karena aku mencintaimu, Jiy. Tak bisakah kau meninggalkan Myungsoo dan bersamaku?” ucap Baekhyun.

Jiyeon hanya mampu terdiam sambil menatap wajah Baekhyun.

__

__

Myungsoo mengendarai mobilnya menuju butik ibunya. Ya, ia memutuskan untuk pergi kesana. Tujuan ia kesana bukan untuk mencoba baju rancangan ibunya untuk pernikahannya dengan Hyeri dan foto pra wedding tapi tujuan ia kesana adalah untuk menjelaskan baik-baik pada ibunya kalau ia tidak ingin menikah dengan Hyeri. Ya, Myungsoo sudah percaya dengan dirinya kalau ia mencintai Jiyeon bukan Hyeri.

Myungsoo turun dari mobilnya setelah sampai di depan butik milik ibunya. Ia lalu masuk ke dalam butik ibunya.

“Myungsoo, akhirnya kau datang juga” ucap Hyo Jin sambil menghampiri anak bungsunya itu.

Myungsoo mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia tidak melihat Hyeri di butik ibunya. Ah, kenapa ia malah memikirkan Hyeri, bukankah tujuannya ke sini adalah untuk menjelaskan kalau ia tidak ingin menikah dengan Hyeri.

“Eomma, bisa kita bicara” ucap Myungsoo.

Hyo Jin menatap wajah Myungsoo. “Baiklah, kita bicara di ruangan eomma saja” ucapnya lalu melangkah menuju ruangannya diikuti Myungsoo yang berjalan di belakangnya.

.

“Apa?”. Hyo Jin terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Myungsoo.

“Kau sedang becanda kan, Myungsoo?” tanya Hyo Jin.

“Tidak. Aku tidak sedang becanda, eomma” ucap Myungsoo dengan wajah datar.

“Myungsoo, eomma mohon jangan lakukan ini. Kau tahu kan, kalau eomma, appa, dan kedua orang tua Hyeri sudah setuju kalau kau dan Hyeri menikah. Apalagi tanggal pernikahanmu dengan Hyeri sudah dekat”

“Mian, eomma. Tapi aku tidak ingin menikah dengan Hyeri. Karena aku mencintai Jiyeon. Aku mencintainya, eomma dan aku ingin menikah dengannya. Maafkan aku, eomma” ucap Myungsoo lalu berlalu pergi meninggalkan Hyo Jin.

Hyeri berjalan menuju butik Hyo Jin. Ia baru saja dari minimarket. Saat ia akan masuk ke dalam butik, ia berpapasan dengan Myungsoo yang akan keluar.

“Myungsoo” panggilnya. Tapi Myungsoo tidak mempedulikannya dan terus berjalan.

Hyeri mengenyitkan dahinya. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya. “Sepertinya sudah terjadi sesuatu” ucapnya dalam hati.

__

__

“Kau sekarang ada dimana, Jiy”

[“Aku sekarang ada di taman”]

“Sendirian atau bersama orang lain”

[“Sendirian”]

“Di taman mana?”

[“Myungsoo, aku ingin kita putus”]

TUT

Myungsoo terkejut dengan ucapan terakhir Jiyeon. “Putus? Jiyeon meminta putus darinya?”

Di lain tempat

“Kau meminta putus dari Myungsoo?”

“Ne” jawab Jiyeon.

“Baekhyun, bisakah kau membuatku melupakan Myungsoo?” tanya Jiyeon.

Baekhyun membelakakkan matanya cukup terkejut dengan pertanyaan Jiyeon.

“Apa itu artinya kau mau bersamaku, Jiy?”

“Ne. Aku ingin bersamamu. Buat aku melupakan Myungsoo dan buat aku untuk mencintaimu, Baekhyun”

Baekhyun merasa bahagia. Ia lalu memeluk Jiyeon. “Gomawo, Jiy. Aku akan berusaha untuk membuatmu melupakan Myungsoo dan membuatku mencintaiku”

Jiyeon hanya diam sambil menatap lurus ke depan.

__

__

Myungsoo memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Ia ingin menjernihkan pikirannya. Ia turun dari mobilnya begitu sampai di depan gedung apartemen. Ia lalu melangkah masuk ke dalam.

Mobil berwarna putih tiba di depan gedung apartemen. Hyeri – pemilik mobil berwarna putih itu turun dari mobilnya lalu melangkah masuk menyusul Myungsoo.

“Myungsoo” panggilnya. Tapi Myungsoo tidak mempedulikannya dan terus berjalan. Sedangkan Hyeri hanya dapat menghembuskan napas.

“Myungsoo” panggil Hyeri lagi. Saat ini, Myungsoo sudah berada di depan pintu apartemennya. Ia tidak mempedulikannya dan langsung masuk ke dalam.

“Myungsoo” panggil Hyeri lagi. Ia sudah masuk ke dalam apartemen Myungsoo. Ia lalu melangkah menuju kamar tidur Myungsoo.

“Myungsoo” panggilnya pada Myungsoo yang duduk di tepi kasur. Myungsoo tidak menyahut, ia hanya menatap Hyeri dengan wajah datar.

“Tarik kembali kata-katamu. Aku punya sesuatu untukmu” ucap Hyeri sambil membuka resleting tas bahunya. Mengambil sesuatu dari dalam tas bahunya tersebut.

“Ini”. Hyeri menyodorkan selembar foto pada Myungsoo.

Myungsoo tidak berkomentar, ia hanya menerima selembar foto tersebut.

Di foto itu terpampang Jiyeon dan Baekhyun yang tengah berpelukan. Ngomong-ngomong yang memotret saat Baekhyun dan Jiyeon berpelukan waktu itu adalah teman Hyeri.

Myungsoo mengepalkan tangannya menatap foto itu. Ia lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar tidurnya. Hyeri lalu menyimpan kembali foto itu dan menyusul Myungsoo.

__

__

Myungsoo turun dari mobilnya begitu sampai di depan gedung apartemen Jiyeon. Bersamaan dengan itu, Hyeri juga turun dari mobilnya.

Myungsoo berjalan dengan langkah lebar menuju apartemen Jiyeon. Diikuti Hyeri yang berjalan sekitar 5 meter darinya.

Suara ketukan pintu terdengar oleh Baekhyun dan Jiyeon yang duduk di sofa ruang tamu apartemen Jiyeon. Jiyeon berdiri dari duduknya diikuti oleh Baekhyun yang ikut berdiri.

“Kenapa kau ikut berdiri, Baekhyun?” tanya Jiyeon.

“Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku ingin melindungimu” ucap Baekhyun.

Jiyeon tersenyum tipis mendengar ucapan Baekhyun. Ia lalu memegang lengan Baekhyun. “Kajja!” ajaknya. Mereka berdua lalu berjalan untuk membukakan pintu.

“Kalian berpacaran?” tanya Myungsoo begitu Jiyeon membuka pintu.

“Ne. Kami berpacaran” ucap Jiyeon dengan wajah datar.

“Apa kau yang bernama Hyeri?” tanya Jiyeon pada yeoja di samping Myungsoo yang tak lain adalah Hyeri.

“Ne. Aku Hyeri” ucap Hyeri.

“Buat Myungsoo melupakanku ya. Buat otak Myungsoo hanya ada namamu. Semoga kalian bahagia” ucap Jiyeon lalu menutup pintu.

Myungsoo terdiam setelah mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Jiyeon. Ia masih tidak percaya jika mulai saat ini dirinya dan Jiyeon sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.

***

Hubungan Jiyeon dan Baekhyun sudah menginjak 3 bulan. Tanpa dua orang itu ketahui jika saat ini Myungsoo tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan ditemani alat-alat kedokteran. Myungsoo kecelakaan seminggu yang lalu. Dan sampai saat ini, Myungsoo masih terbaring lemah dengan mata yang masih setia terpejam.

Saat ini Baekhyun dan Jiyeon sedang makan siang di restoran dekat rumah sakit. Baekhyun menatap Jiyeon yang tampak melamun. Entahlah, akhir-akhir ini ia sering mempergoki Jiyeon melamun.

Timbul pertanyaan dalam benak Baekhyun. “Apa alasan Jiyeon ingin bersamanya itu karena Jiyeon iba padanya? Apa selama ini Jiyeon merasa tertekan saat bersamanya?”

“Jiy” panggil Baekhyun.

“Ah, ne?” sahut Jiyeon tersadar dari lamunannya.

“Aku tidak suka melihat orang yang ku sayangi merasa tertekan. Sepertinya caraku untuk membuatmu mencintaiku tidak berhasil. Di hatimu hanya ada Myungsoo. Jadi, lebih baik kita berteman saja” ucap Baekhyun.

“Tidak, Baekhyun. Aku mencintaimu”

“Sudahlah, Jiy. Jangan membohongi perasaanmu sendiri. Aku bahagia jika kau turut bahagia”

Jiyeon hanya diam sambil menatap wajah Baekhyun.

__

__

Di salah satu kamar rawat, terbaringlah seorang namja tampan yang tertidur dengan ditemani alat-alat kedokteran. Tidak jauh dari sana, tepatnya di sofa tampak seorang yeoja juga tertidur. Perlahan mata yeoja tersebut terbuka. Yeoja itu lalu bangun sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Yeoja itu lalu berdiri berjalan menuju wastafel untuk mencuci wajahnya.

Setelah selesai mencuci wajah dan mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, yeoja itu lalu berjalan menghampiri ranjang namja yang tertidur dengan ditemani alat-alat kedokteran tadi.

“Myungsoo, sampai kapan kau tertidur? Ku mohon, sadarlah!” lirih Hyeri – yeoja itu sambil menatap wajah Myungsoo.

GREK

Suara pintu digeser membuat Hyeri menolehkan kepalanya ke arah pintu. Masuklah seorang yeoja paruh baya dan namja kecil yang tak lain adalah Hyo Jin dan Taehyung.

“Hyeri, kau pasti lelah. Pulanglah! Biar emmonim yang menjaga Myungsoo” ucap Hyo Jin.

“Tapi, eommonim”. Hyeri merasa enggan untuk pergi bekerja yang otomatis ia harus meninggalkan Myungsoo.

“Hyeri, lihat dirimu. Kau tampak lelah. Eommonim tidak ingin kau sakit nantinya” ucap Hyo Jin.

“Baiklah, eommonim. Aku permisi dulu!” pamit Hyeri lalu keluar dari kamar rawat Myungsoo.

Selepas Hyeri keluar, Hyo Jin lalu duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Hyeri. Hyo Jin menatap sendu putranya tersebut.

“Myungsoo, bangunlah, nak” lirih Hyo Jin. Buliran bening tiba-tiba keluar dari kelopak matanya. Ia tidak kuasa menatap wajah anaknya yang kepalanya terbungkus perban juga hidungnya yang tertutup oleh alat yang membantu pernapasannya.

“Halmeoni jangan menangis. Myungsoo samchon pasti sebentar lagi bangun” ucap Taehyung.

Hyo Jin tersenyum mendengar ucapan Taehyung. Ia lalu merangkul tubuh cucunya itu.

__

__

Hyeri duduk di tepi kasurnya. Ia sudah membersihkan tubuhnya beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar sedih saat mendengar Myungsoo kecelakaan seminggu yang lalu. Selama seminggu itu ia tidak memutuskan untuk bekerja. Ngomong-ngomong Hyeri bekerja menjadi designer.

Hyeri berusaha memantapkan hatinya untuk melepaskan Myungsoo. Ia tidak ingin memaksakan namja itu untuk menikah dengannya. 2 hari yang lalu ia sudah berbicara pada orang tuanya dan juga orang tua Myungsoo jika ia membatalkan pernikahannya dengan Myungsoo. Awalnya orang tua Myungsoo begitupun orang tua Hyeri marah tapi akhirnya ia menuruti permintaan Hyeri.

Hyeri lalu menoleh ke samping. Matanya langsung tertuju pada tas bahu berwarna coklat miliknya yang terletak di samping lemari. Ia lalu berdiri berjalan mengambil tas tersebut. Hyeri mengambil sesuatu dari dalam tas bahunya. Ia tatap selembar foto itu. Ia baru teringat jika dirinya belum memberitahu Jiyeon jika Myungsoo kecelakaan. Hyeri lalu mencari kontak Jiyeon di ponselnya. Ngomong-ngomong ia mencuri nomor Jiyeon dari kontak Myungsoo.

“Semoga ia tidak berganti nomor” ucap Hyeri dalam hati lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu ke telinganya.

[“Yoboseyo”] Sapaan dari seseorang di sebrang sana membuat Hyeri tersenyum.

“Apa kau Jiyeon?”

Di lain sisi

Jiyeon mengernyitkan dahinya menatap layar datar ponselnya yang menampilkan nomor tidak dikenal. Tapi meskipun begitu ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.

“Yoboseyo”

[“Apa kau Jiyeon?”]

DEG

Jiyeon merasa mengenal suara ini. Ah, ia baru ingat ini adalah suara Hyeri. Tunggu, kenapa Hyeri meneleponnya?

“Apa kau Hyeri?”

[“Ne, aku Hyeri. Maaf, aku baru bisa memberitahumu sekarang. Myungsoo kecelakaan seminggu yang lalu. Dan sampai sekarang ia masih belum sadar”]

DEG

Myungsoo kecelakaan?

“Mwo? Kau berbohong, bukan?”

[“Tidak. Aku tidak berbohong padamu, percayalah. Jenguklah Myungsoo. Ia dirawat di kamar anggrek 10 rumah sakit hanyang. Maaf ya, aku merebut Myungsoo darimu. Tapi mulai sekarang ku mohon buat Myungsoo bahagia. Kalian bersamalah lagi. Baiklah, aku tutup telponnya ya”]

TUT

“Tapi mulai sekarang ku mohon buat Myungsoo bahagia. Kalian bersamalah lagi” ulang Jiyeon. Apa maksud dari perkataan Hyeri itu? Apa Hyeri dan Myungsoo tidak jadi menikah?” pikirnya.

__

__

Sang Woon mengendarai mobilnya menuju rumah sakit Hanyang. Ia baru selesai bekerja dan ia ingin mengetahui keadaan putranya itu. Sang Woon turun dari mobilnya begitu selesai memakirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Ia lalu berjalan masuk ke dalam.

“Myungsoo, masih belum sadar juga?” tanya Sang Woon menghampiri sang istri yang duduk di kursi di samping ranjang Myungsoo.

“Ne, Myungsoo masih belum sadar” ucap Hye Jin.

“Kau pulanglah! Biar aku saja yang menjaga Myungsoo” suruh Sang Woon.

“Tapi_”

“Sudahlah, apa kau tidak kasihan pada Taehyung?” sela Sang Woon sambil menoleh ke arah Taehyung yang tertidur di sofa sebentar lalu kembali menatap wajah istrinya.

“Baiklah, tapi apa kau tidak lelah? Besok kau kan harus kembali bekerja”

Sang Woon tersenyum mendengar ucapan Hye Jin yang mengkhawatirkannya.

“Aku tidak lelah. Besok aku memutuskan tidak bekerja” jawab Sang Woon.

“Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu” ucap Hye Jin lalu memeluk tubuh suaminya sebentar. Kemudian berjalan menuju sofa dimana Taehyung tertidur. Setelah itu, berjalan keluar.

__

__

“Yoboseyo, Baekhyun”

[“Ne, yoboseyo, Jiyeon-ah. Ada apa kau menelepon?”]

“Apa kau mau ikut denganku besok ke rumah sakit hanyang setelah jam makan siang?”

[“Untuk apa kau mengajakku ke sana?”]

“Myungsoo kecelakaan seminggu yang lalu. Dan kata Hyeri -dia memberitahuku lewat telepon- sampai saat ini ia masih belum sadar”

[“Benarkah?’]

“Ne, mana mungkin aku berbohong”

[“Baiklah, aku ikut”]

“Ne”

TUT

Jiyeon meletakkan ponselnya ke meja kecil samping tempat tidurnya. Ngomong-ngomong ia dan Baekhyun tidak lagi terikat sebuah hubungan. Mereka memutuskan untuk berteman saja. Jujur, Jiyeon masih mencintai Myungsoo. Dan Jiyeon tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia merindukan namja itu. Jiyeon menghembuskan napasnya. Ia teringat perkataan Hyeri tadi.

“Apa iya, Hyeri dan Myungsoo tidak jadi menikah? Bukankah Myungsoo dan Hyeri saling mencintai?” pikirnya. “Ah, sudahlah. Memikirkan ini membuatku pusing. Lebih baik aku tidur” ucap Jiyeon akhirnya.

Jiyeon lalu menutupi dirinya dengan selimut. Tak lama kemudian, ia pun memejamkan matanya.

***

Jari tangan Myungsoo tiba-tiba bergerak. Bersamaan dengan itu Sang Woon terbangun dari tidurnya. Sang Woon menatap jari tangan Myungsoo yang bergerak. Melihat itu Sang Woon merasa senang dan bersyukur. Myungsoo akhirnya sadar. Perlahan mata Myungsoo terbuka.

“Myungsoo, akhirnya kau sadar juga” ucap Sang Woon.

Myungsoo mengernyitkan dahinya. “Nugu?”

Sang Woon terkejut. Ia tidak menyangka hal yang ditakutkannnya terjadi. Myungsoo amnesia. Sang Woon menatap sendu Myungsoo.

“Aku appamu, Myungsoo” ucap Sang Woon.

“Kau tunggu disini ya. Appa akan memanggil dokter” ucap Sang Woon lalu keluar dari kamar rawat Myungsoo.

Selepas Sang Woon keluar, Myungsoo merasakan pusing di kepalanya. Ia memutuskan memejamkan matanya sejenak. Setelah rasa pusingnya mereda, Myungsoo kembali membuka matanya.

Ia menatap ke sekeliling ruangannya yang nampak asing. “Dimana ini? Apa ini di rumah sakit?”

__

__

Hyeri mengunci pintu apartemennya. Ia memutuskan untuk kembali bekerja. Hyeri lalu membalikkan badannya melangkahkan kakinya menuju lift yang membawanya menuju lantai 1. Hyeri lalu kembali berjalan keluar dari gedung apartemen.

“Hyeri”

Setelah keluar dari gedung apartemen, Hyeri merasa ada yang memanggil namanya. Ia lalu menoleh ke belakang.

“Jong Suk”

__

__

“Bagaimana dokter? Apa anak saya mengalami amnesia?” tanya Sang Woon setelah dokter yang menangani Myungsoo selesai memeriksa keadaan putranya.

“Ne, anak anda mengalami amnesia ringan. Itu disebabkan kepalanya yang membentur aspal dengan keras. Tapi anda jangan khawatir, anak anda bisa kembali mengingat semuanya jika anda rutin mengajarinya mengingat semuanya entah itu tentang dirinya atau lainnya tapi lakukan itu dengan pelan-pelan” pesan Yoon Hae – dokter yang menangani Myungsoo.

“Ne, dokter. Terima kasih” ucap Sang Woon.

“Sama-sama. Baiklah, saya permisi dulu” pamit Yoon Hae lalu keluar dari kamar rawat Myungsoo.

Sang Woon menatap Myungsoo yang terlelap. Ia lalu merogoh ponsel yang ia simpan di saku celananya. Ia baru teringat jika dirinya belum memberitahu sang istri dan Hyeri jika Myungsoo sudah sadar. Ngomong-ngomong dua minggu yang lalu dan sampai saat ini orang tua Hyeri masih berada di Italia.

__

__

Jiyeon dan Baekhyun turun dari mobil. Tak jauh dari situ, seorang yeoja paruh baya dengan seorang anak kecil juga turun dari mobil. Baekhyun dan Jiyeon lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit hanyang.

GREK

Suara pintu digeser membuat Sang Woon dan Myungsoo menoleh ke arah pintu. Ya, Myungsoo sudah bangun.

“Apa kau dokter Park Jiyeon?” tanya Sang Woon sambil berdiri.

“Ne” jawab Jiyeon sambil mengangguk.

“Apa kau juga yeoja yang dicintai oleh Myungsoo?” tanya Sang Woon. Ngomong-ngomong Sang Woon tahu karena diberitahu oleh Hyeri.

Jiyeon menoleh ke arah Baekhyun sejenak. “Ah, saya tidak tahu” jawabnya tersenyum samar.

Sang Woon tersenyum tipis. “Ne, kau adalah yeoja yang dicintai oleh putraku, Myungsoo”

Myungsoo mengernyitkan dahinya. “Appa, siapa dia? Apa dia yeojachinguku?” tanya Myungsoo.

Jiyeon dan Baekhyun sama-sama menoleh. Otomatis keduanya jadi bertatapan.

“Apa Myungsoo mengalami amnesia?” tanya Jiyeon.

“Ne, Myungsoo mengalami amnesia ringan” jawab Sang Woon.

“Appa, siapa dia? Apa dia yeojachinguku?” ulang Myungsoo.

Sang Woon menatap wajah Jiyeon lalu beralih menatap wajah Myungsoo. “Ne, dia yeojachingumu”

Jiyeon menoleh ke arah Baekhyun. Dan Baekhyun hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.

“Appa, siapa dia? Kenapa dia sepertinya dekat dengan Jiyeon? Aku cemburu, appa” ucap Myungsoo.

Sang Woon tersenyum. Ia lalu menatap Baekhyun. “Bisa kau jawab pertanyaan Myungsoo?”

Baekhyun mengangguk. “Aku teman, Jiyeon. Namaku Baekhyun” jawab Baekhyun.

GREK

Suara pintu digeser membuat keempat orang itu menoleh ke arah pintu.

“Syukurlah, akhirnya kau sadar juga putraku” ucap Hyo Jin sambil menghampiri ranjang Myungsoo.

“Nugu?”

Hyo Jin menatap sang suami meminta penjelasan kenapa putranya itu tidak mengingatnya. “Myungsoo mengalami amnesia ringan” ucap Sang Woon.

Buliran bening tiba-tiba keluar dari kelopak mata Hye Jin. “Aku eommamu, Myungsoo” ucap Hyo Jin sambil menatap wajah Myungsoo.

“Eomma jangan menangis” ucap Myungsoo.

“Ah, ne. Eomma tidak menangis” ucap Hyo Jin sambil menghapus air matanya.

“Ini Taehyung keponakanmu”. Hyo Jin memperkenalkan Taehyung pada Myungsoo.

Taehyung lalu memegang tangan Myungsoo. “Myungsoo samchon, ini aku Taehyung” ucap Taehyung sambil menatap wajah Myungsoo.

Myungsoo mengangguk. “Ne” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Myungsoo lalu menoleh ke arah Hyo Jin. “Eomma, kalau begitu aku punya kakak bukan? Kakakku laki-laki apa perempuan? Siapa namanya? Lalu dimana dia sekarang?” tanya Myungsoo.

Mendengar pertanyaan Myungsoo membuat Hyo Jin jadi teringat akan Hong Jin – putra sulungnya.

“Ne, kau punya kakak, Myung. Kakakmu laki-laki. Namanya Kim Hong Jin. Dia sudah bahagia di surga” lirih Hyo Jin. Buliran bening kembali keluar dari kelopak matanya.

Myungsoo ikut meneteskan air matanya. “Lalu kakak iparku dimana? Siapa namanya?” tanya Myungsoo lagi.

“Dia juga sudah bahagia bersama kakakmu di surga. Namanya Shin Ji Hyun”

“Eomma, mereka meninggal karena apa?”

“Mereka meninggal karena kecelakaan”

“Eomma, setelah kondisiku stabil. Bolehkah aku ke makam mereka?”

“Tentu saja”

GREK

Lagi-lagi suara pintu digeser membuat keenam orang tersebut menoleh ke arah pintu. Masuklah seorang yeoja cantik dan seorang namja tampan.

“Myungsoo, syukurlah akhirnya kau sadar juga” ucap Hyeri sambil menghampiri ranjang Myungsoo diikuti Jong Suk.

“Nugu?” tanya Myungsoo.

Hyeri menoleh ke arah Jiyeon meminta penjelasan. “Myungsoo mengalami amnesia ringan” ucap Jiyeon.

Hyeri lalu menatap Myungsoo. “Aku temanmu, Myung” ucap Hyeri.

Myungsoo mengangguk. “Lalu, siapa dia?” tanya Myungsoo sambil menunjuk namja yang berada di samping Hyeri.

“Dia temanku. Namanya Jong Suk” jawab Hyeri.

“Benarkah? Apa dia bukan namjachingumu?” tanya Myungsoo tidak percaya jika Jong Suk adalah teman Hyeri.

Jong Suk entah kenapa merasa senang.

“Benar, mana mungkin aku berbohong. Dia bukan namjachinguku, Myung. Dia temanku” jawab Hyeri. Jong Suk yang mendengarnya menjadi sedih.

“Myungsoo, tuan, nyonya, Hyeri, Jong Suk dan Taehyung, maaf kami tidak bisa berlama-lama disini. Kami harus segera kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Kalau begitu, kami permisi!” pamit Jiyeon.

“Jangan pergi!” cegah Myungsoo. “Tetaplah disini”

Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo kemudian menatap ke arah Baekhyun dengan tatapan yang menyiratkan ‘Bagaimana ini?’

Baekhyun tersenyum tipis. “Kau tetaplah disini. Turuti permintaan namjachingumu itu”

“Tapi bagaimana dengan pasien disana?”

“Jiy, di Seoul Hospital banyak dokter dan perawat. Jadi kau jangan khawatir”

“Baiklah”

Baekhyun tersenyum. Ia lalu menatap ke arah Myungsoo, Hyo Jin, Sang Woon, Taehyung, Hyeri dan Jong Suk. “Saya permisi!” pamitnya lalu berjalan keluar dari kamar rawat Myungsoo.

__

__

Hyeri tengah berjalan menuju parkiran mobil. Ia baru selesai bekerja.

“Hyeri”

Merasa jika ada seseorang yang memanggilnya membuat Hyeri menoleh ke belakang. Sebuah senyuman terukir di bibirnya setelah melihat wajah seseorang yang memanggilnya barusan.

“Hyeri, bisa kita bicara”

Hyeri menatap wajah Jong Suk yang nampak berbeda. Wajah namja itu terlihat serius.

“Tentu saja” ucap Hyeri sambil menyunggingkan senyum tipisnya.

Jong Suk tiba-tiba memegang tangan Hyeri. Membuat Hyeri sedikit terkejut.

“Saranghae. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

Hyeri terdiam sejenak. Ia cukup terkejut dengan pernyataan cinta Jong Suk. Ngomong-ngomong Jong Suk adalah mantan namjachingunya sekaligus teman kuliahnya saat ia berkuliah di Tokyo University.

Jong Suk menatap wajah Hyeri sambil menunggu yeoja itu membuka suara. Hyeri menatap tepat di kedua manik mata Jong Suk. Ia lalu menyunggingkan senyum tipisnya. “Ne, aku mau” ucapnya sambil mengangguk.

“Terima kasih” ucap Jong Suk sambil memeluk Hyeri.

“Ne, cheonma” jawab Hyeri sambil membalas pelukan Jong Suk.

__

__

Baekhyun berjalan di lorong rumah sakit.

“Dokter Byun”

Baekhyun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang begitu mendengar ada seseorang yang memanggilnya.

“Dokter Yoo. Ada apa anda memanggil saya?”

Yoo Eun Hae menatap wajah Baekhyun dengan tatapan yang menurut Baekhyun tidak biasa. “Bisa kita bicara”

Baekhyun mengangguk.

“Dokter Byun, saranghae. Maukah kau menjadi namjachinguku?”

Baekhyun terkejut bukan main ia hanya menatap wajah Eun Hae.

“Aku sudah jatuh hati padamu dokter Byun, sejak pertama kali kau bekerja disini. Aku malu untuk menyatakan perasaanku padamu. Aku cemburu saat kau sering berduaan dengan dokter Park. Aku tahu jika kau mencintai dokter Park. Tapi bisakah mulai saat ini kau bersamaku? Aku akan membuatmu untuk mencintaiku” ucap Eun Hae sambil menatap wajah Baekhyun.

Baekhyun menatap di kedua manik mata Eun Hae. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Eun Hae. Dan…

CUP

Baekhyun mengecup pipi kiri Eun Hae. Dan itu sukses membuat pipi Eun Hae merona merah. Baekhyun lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Eun Hae. “Dokter Yoo Eun Hae, buat aku untuk mencintaimu” ucap Baekhyun.

Buliran bening tiba-tiba keluar dari kelopak mata Eun Hae. Ia terharu. “Gomawo, dokter Byun” ucapnya.

“Jangan menangis” ucap Baekhyun lalu menghapus air mata Eun Hae. Ia lalu memeluk tubuh Eun Hae.

“Aku akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku. Terima kasih” ucap Eun Hae lagi.

***

Jiyeon dan Myungsoo saat ini sedang duduk di salah satu bangku panjang di taman rumah sakit. Jiyeon tengah menyuapi Myungsoo makan bubur. Ngomong-ngomong keadaan Myungsoo sudah jauh lebih baik. Dan mungkin besok Myungsoo sudah bisa pulang.

“Jiy” panggil Myungsoo.

“Habiskan bubur yang ada di dalam mulutmu itu baru berbicara”

Myungsoo mengangguk. “Jiy” panggilnya setelah menghabiskan bubur yang berada di dalam mulutnya.

“Ne?”

CUP

Myungsoo mengecup pipi kanan Jiyeon. Dan itu berhasil membuat pipi Jiyeon merona.

Myungsoo tersenyum evil. Ia lalu mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Jiyeon. Dan…

CUP

Kali ini bukan pipi tapi bibir. Myungsoo mencium bibir Jiyeon melumatnya dengan lembut. Jiyeon pun membalas ciuman Myungsoo.

END

44 responses to “SEQUEL [ONE SHOOT] LOVE

  1. aigoo seru bggt cerita’y,, akhir’y myungyeon bersatu kembali,, huh senang’y,, dan baekhyun dan hyeri audah nendapatkan kebahagiaan’y masing”,,,

  2. ah,akhirnya happy ending.
    sempet sedih sich pas myungyeon pisah tapi akhirnya balikan juga.
    ada sequelnya lagi ngk ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s