[CHAPTER – PART 4] THE WEREWOLF

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1 | 2 | 3

NIGHT SCHOOL

“Kupikir kau akan kembali ke rumahmu setelah memberikan kode milik Chun Dong Family pada ayah Jin Ki,” ucap Jiyeon yang berinisiatif membuka pembicaraan setelah dua menit duduk bersebelahan dengan Myung Soo yang hanya diam dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang Myung Soo pikirkan.

“Aku hanya sebentar disini,” ucap Myung Soo tanpa berniat menatap Jiyeon. Wajahnya menatap lurus kegelapan di sela-sela batang pohon di ujung hutan.

“Soal Vargulf…” Jiyeon menggigit bibirnya sesaat. “…lagi-lagi aku minta maaf. Aku dibawah ancamannya dan…”

“Aku mengerti,” ucap Myung Soo memotong.

“Jin Ki diancam karena aku.” Jiyeon mengeluarkan kalung berbandulkan frame foto mini yang berisi foto keluarganya. “Vargulf menghancurkan semua keluargaku. Dia menggigit Soyeon, menjadikannya seekor Werecoyote yang suka lupa diri ketika berubah bentuk, mengamuk…menghancurkan kamarnya sendiri. Dan Kanima milik Vargulf, dia merenggut nyawa kedua orangtuaku yang tidak bersalah. Meninggalkan aku seorang diri…”

Merasa kehidupan yang Jiyeon alami lebih pelik, Myung Soo akhirnya menolehkan wajahnya seraya berkata, “Kau aman selama berada disini.”

“Aku ingin Vargulf mati,” ucap Jiyeon terlihat sangat bertekad. “Aku ingin membalas kematian keluargaku.”

“Dan aku ingin menyelamatkan Jin Ki,” ucap Myung Soo. “Tentunya dengan membunuh Vargulf.”

“Jadi kita punya prioritas yang sama…” ucap Jiyeon. “….membunuh si Pembunuh.”

Ya, membunuh si Pembunuh. Itu terdengar bagus di telinga Myung Soo.

“Ah soal Mountain Ash yang menjadi penghalang hutan ini…” ucap Jiyeon tiba-tiba saja mengubah topik pembicaraan. “In Guk memberitahu bahwa dia menyuruh seekor anjing liar untuk menghapus lingkaran Mountain Ash sehingga dia bisa masuk ke dalam hutan ini.”

“Bagaimana caranya?” tanya Myung Soo tidak mengerti.

“Werewolf memiliki insting yang kuat terhadap makhluk sejenisnya, termasuk kepada anjing. Jika kau sudah bisa memegang kendali soal itu, kau dengan mudah bisa membuat anjing-anjing disekelilingmu tunduk dan menurut padamu,” ucap Jiyeon menjelaskan. “Aku tahu soal ini dari Soyeon. Sedikit banyak dia menjelaskanku soal ini. Yeah, rasanya aku memang perlu tahu menyadari bahwa aku satu-satunya saudari yang dia punya yang bisa menjaga rahasia Werecoyote-nya dari kedua orang tua kami.”

“Kalau aku…” Myung Soo pun teringat akan saudaranya Kim Woo Bin yang tidak pernah berpisah dari senjata-senjatanya. “…sepertinya tidak akan bisa menceritakan hal ini kepada Hyung-ku. Dia Sheriff di kota ini. Dan dia sangat galak, begitu juga dengan senjatanya. Satu-satunya orang yang pandai menjaga rahasia dan bisa membantuku adalah Lee Jin Ki. Maka dari itu aku harus melindunginya dari apapun yang bisa membahayakan dirinya.”

“Kau orang yang baik, Kim Myung Soo…” ucap Jiyeon setelah lama menatap ke dalam mata Myung Soo. “Lee Jin Ki pun orang yang baik.”

“Dan cerewet…” ucap Myung Soo menambahkan.

“Yeah, dia sangat cerewet….” ucap Jiyeon disertai tawa pelan.

**

Keesokan harinya di Fellas Hills High School…

Siang hari tepatnya setelah jam makan siang, pelatih Ice Hockey Fellas Hills, Mr. Keahu mengadakan latihan tambahan agar pertandingan antar sekolah yang diadakan lusa besok bisa berjalan lancar dan tentunya kemenangan berada di pihak Fellas Hills. Dan Taeyang, dengan lagak sok jagoannya berhasil membuat hidung Myung Soo berdarah.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Mr. Keahu dengan tatapan super bingung melihat hidung Myung Soo terlihat normal tanpa ada bekas darah sedikitpun.

“Aku baik-baik saja,” jawab Myung Soo seraya berusaha berdiri.

“Ingat Dong Taeyang, ini persiapan kompetisi antar sekolah, bukan antar siswa Fellas Hills!” teriak Mr. Keahu terlihat seperti ingin menelan Taeyang.

Usai latihan, siksaan untuk Myung Soo ternyata belum berakhir. Taeyang lagi-lagi mengerjai Myung Soo, mengisi loker olahraga Myung Soo dengan kumpulan celana dalam milik anak-anak satu team Ice Hockey-nya.

“Bagaimana, Loser?” tanya Taeyang. “Masih kurang? Aku bisa mencuri celana dalam milik Couch-nim untukmu.”

Myung Soo hanya bisa menggertakkan giginya, mencoba menahan amarah yang timbul pada dirinya. Cakar-cakarnya pun bermunculan  di balik kaos olahraganya yang sedang digenggamnya saat ini. Ingin rasanya dia melompat saat ini juga ke arah Taeyang sebelum mencabik wajahnya yang pongah itu. Tetapi dia tidak boleh bersikap brutal jika tidak ingin terlibat masalah serius dengan ayahnya, kakaknya dan teman-teman satu sekolahnya yang mungkin akan menganggapnya sebagai manusia yang terkena kutukan gaib.

Masa penyiksaan Myung Soo berakhir setelah jam sekolah usai. Myung Soo melangkah gontai menuju halaman Fellas Hills dan tanpa diduga ada seseorang yang sudah menunggunya. Jung Woo dengan wujud manusianya tersenyum dan melambai ke arahnya seakan-akan dia pamannya yang hendak menjemputnya dari sekolah. Tanpa menghiraukan Jung Woo, Myung Soo mempercepat langkahnya dengan mengambil jalan lain menuju pagar sekolah. Dan pada saat itu juga suara Jung Woo terdengar jelas di telinganya.

“Kau pandai mengendalikan ancamanku, Myung Soo-ah. Tetapi perlu kau tahu, kau sudah membangunkan amarahku sejak tadi malam, sejak kau membawa Jin Ki dan Jiyeon entah kemana untuk bersembunyi. Bersenang-senanglah kau sekarang. Aku akan membiarkanmu. Dan menunggu waktu yang tepat untuk menghabisimu dan kawananmu secara bersamaan.”

Myung Soo mencoba menenangkan dirinya seraya berjalan pulang.

**

Mr. Kim melemparkan sebuah kunci mobil ke arah Myung Soo seraya berkata, “Aku memberikan mobil padamu bukan untuk melengkapi sarana bersenang-senangmu sampai larut malam. Aku hanya khawatir dengan keadaan kota sekarang ini. Paling tidak kau butuh sesuatu untuk cepat melesat kabur sebelum binatang buas itu menyerangmu.”

Sebenarnya Myung Soo terkejut akan hadiah—kalau bisa dibilang sebuah hadiah—yang sang ayah berikan padanya. Mobil. Waw, benda itu yang pernah Myung Soo rengeki sepanjang tahun pada sang ayah yang pada akhirnya dia hanya mendapatkan setumpuk buku tebal sebagai hadiah ulang tahunnya. Sekarang dia mendapatkannya. Walaupun saat ini mobil itu tidak begitu berarti karena kecepatannya berlari hampir menyamai kecepatan mobil atau kendaraan bergerak lainnya.

“Dimana Jin Ki?” tanya Mr. Kim. “Biasanya dia selalu mengekor di belakangmu.”

“Dia sedang tidak sehat,” jawab Myung Soo.

“Pantas Mr. Keahu melapor padaku tentang absennya Jin Ki yang tidak biasanya terjadi,” ucap Mr. Kim. “Kalau begitu belikan dia sesuatu agar dia cepat kembali pulih. Walaupun dia pemain cadangan, tetapi Mr. Keahu tetap ingin semuanya hadir saat pertandingan lusa nanti.”

“Baiklah,” ucap Myung Soo sebelum naik ke kamarnya. Ditutupnya pintu kamarnya dan dia terkejut dengan gambar taring serigala yang menghiasi dinding kamarnya. Seingatnya dia tidak pernah melakukan hal itu pada kamarnya sendiri, bahkan tidak disaat dia sedang berubah wujud menjadi Werewolf.

Merasa sangat penasaran dengan keadaan ini, Myung Soo pun melesat pergi ke Jacheon Forest.

**

In Guk menatap gambar taring serigala yang diambil pada cell phone Myung Soo dengan wajah serius.

“Ini simbol Alpha yang Vargulf ciptakan untuk pack-nya sendiri,” ucap In Guk.

“Dan apa artinya dia memberitahu simbol jeleknya itu pada Myung Soo?” tanya Jin Ki.

“Artinya Myung Soo sedang dalam pengawasan Vargulf,” jawab In Guk. “Dan itu cukup berbahaya.”

“Dia Werewolf,” ucap Jin Ki mengingatkan. “Dan Vargulf tidak akan mungkin menghabisi Myung Soo setelah dia mengubahnya…”

“Berbahaya bagi orang-orang yang berada disekitar Myung Soo, maksudku,” ucap In Guk memperjelas ucapannya. “Vargulf akan menyakiti orang-orang terdekat Myung Soo sampai akhirnya dia tahu dimana keberadaanku.”

“Itu gawat artinya,” desah Jin Ki. “Bagaimana kalau kau menyerahkan diri saja sehingga kami semua aman? Ancaman-ancaman itu dan simbol ini muncul karena kau tidak mau menunjukkan wajah serigalamu pada si Vargulf itu. Kau telah membuat semua orang berada dalam kondisi bahaya, Werewolf-ssi. Dan aku tidak mau terlalu lama tinggal di dalam hutan ini. Aku mau kembali menjadi Lee Jin Ki, bukan menjadi Jin Ki of The Jungle!”

“Aku akan muncul di hadapannya setelah aku tahu bagaimana cara menghancurkannya!” ucap In Guk menekankan.

“Dan selama itu kau akan membiarkan orang-orang terdekat Myung Soo habis dilahap olehnya?” tanya Jin Ki berteriak.

Tiba-tiba cell phone Myung Soo berdering, membuat Jin Ki mendesah, “Bisa kau matikan cell phone-mu selama aku memaki serigala ini?”

Myung Soo terlihat serius dengan percakapannya di telepon sementara Jin Ki kembali beradu argumen dengan In Guk.

“Kau benar-bener serigala pengecut,” desah Jin Ki menyerah setelah In Guk menunjukkan mata kebiruannya.

“Berita buruk,” ucap Myung Soo setelah memutuskan sambungan teleponnya. “Vargulf mulai mencari mangsa pertamanya.”

“Siapa?” tanya Jin Ki cepat.

“Taeyang dan Nana,” jawab Myung Soo.

**

“Aku benci dengan rencanamu!” ucap Jin Ki menggerutu selama dalam perjalanan menuju sekolah. “Kau mau menyelamatkan orang yang sudah mencekoki lokermu dengan celana dalam bau dengan membawaku, salah satu yang menjadi korban ancaman Vargulf? Aku tidak mau mati hanya karena berusaha menyelamatkan si gundul brengsek itu!”

“Aku butuh manusia pintar sepertimu untuk melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan olehku,” ucap Myung Soo seraya mempercepat laju mobilnya.

“Yeah, aku memang pernah dengar bahwa kekuatan otot dan otak seringnya tidak pernah berada dalam satu tubuh manusia. Tetapi aku bersumpah akan membunuhmu jika ini hanya akal-akalan Taeyang untuk lebih leluasa mengerjaimu di sekolah saat malam hari!” ucap Jin Ki mengancam.

Akhirnya mereka tiba Fellas Hills yang pintu gerbangnya sudah terbuka lebar.

“Bagaimana bisa si gundul itu membuka gerbang ini?” gumam Jin Ki seraya menatap mobil mewah Taeyang yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang. “Lihat, jika Vargulf yang melakukannya, mungkin dia sudah merusak pagar ini dengan tenaga serigalanya, bukan membukanya dengan cara manusia.” Jin Ki menunjukkan kunci kecil yang masih tercantol di dalam gemboknya.

“Sudah kubilang Nana yang menghubungiku dan memakiku karena dia mendapatkan pesan teror atas namamu,” ucap Myung Soo.

“Lalu kau pikir Vargulf tahu nomor cell phone Nana?” tanya Jin Ki merasa tidak masuk akal. “Sehingga dia bisa menyamar menjadi diriku dengan mencuri cell phone-ku yang masih berada di dalam ruangan Mr. Keahu?”

Tiba-tiba Jin Ki terdiam setelah mendengar ucapannya sendiri. Begitupun dengan Myung Soo.

“Mungkinkah Vargulf mengambil cell phoneku dari ruangan Mr. Keahu dan…”

“Mengirimi Nana sebuah pesan teks berisi teror,” sambung Myung Soo melanjutkan kata-kata Jin Ki.

“Sehingga Vargulf dengan mudahnya membawamu masuk ke dalam sekolah ini?” sambung Jin Ki dengan wajah ketakutan. “Dia sudah pasti mengira kau akan membawaku masuk ke dalam persoalan ini. Dan aku ada disini. Diluar Jacheon Forest dan siap mati.”

“Oke, ini hanya dugaan, Jin Ki-ah,” ucap Myung Soo mencoba menenangkan Jin Ki yang sudah sangat ketakutan. “Kita akan cari tahu dengan cepat sebelum kembali ke Jacheon Forest.”

“Aku akan membunuhmu, Kim Myung Soo!” rintih Jin Ki seraya mengekor di belakang Myung Soo yang sudah berjalan masuk ke dalam sekolah.

**

Taeyang tersenyum setelah mengambil stick Ice Hockey-nya yang berada di loker olahraganya. Nana sendiri sedang sibuk dengan cell phone-nya dan menunggu di depan kamar ganti pria.

“Sudah kubilang itu hanya akal-akalan si Loser untuk mengerjaimu,” ucap Taeyang setelah keluar dan menemui Nana.

“Aku benci menjadi korban teror pesan teks Lee Jin Ki karena kau sering mengerjainya,” ucap Nana seraya memasukkan cell phone-nya ke dalam tas kecilnya yang tergantung di pundaknya.

“Bukankah di pesan itu dia menyuruhmu untuk datang ke sini?” tanya Taeyang. “Kita sudah ada disini. Dan aku sudah siap menghajar wajah sok pintarnya itu dengan ini.” Taeyang tersenyum seraya mengelus stick Ice Hockey-nya.

**

“Aku benci ini….aku benci ini…” gumam Jin Ki ketakutan.

“Diamlah sebelum Vargulf mengetahui keberadaan kita,” geram Myung Soo dengan mulut cerewet Jin Ki.

“A-aku perlu sesuatu untuk perlindungan diri…” ucap Jin Ki seraya menahan tangan Myung Soo. “Kau punya cakar, lalu aku punya apa?”

“Kau punya aku,” ucap Myung Soo seraya melanjutkan langkahnya.

“Terdengar agak menjijikan,” gumam Jin Ki.

**

“Aku mau ke kamar mandi,” ucap Nana seraya menahan tangan Taeyang.

“Dasar wanita,” desah Taeyang seraya membiarkan dirinya ditarik oleh Nana untuk menunggunya di depan kamar mandi.

Tak lama kemudian cell phone Taeyang berbunyi. “Aku bisa saja membobol pintu ruangan Mr. Keahu untukmu,” ucap Taeyang pada cell phone-nya. “Tetapi aku dapat apa setelah aku berhasil mengambil majalah pornomu? Itu sangat beresiko, kau tahu… Bagaimana kalau dua tiket Night Club milik Hyung-mu? Baiklah…aku akan ambilkan majalah tidak bergunamu itu.”

Tanpa memikirkan sang pacar, Taeyang pun meninggalkan Nana menuju ruangan Mr. Keahu. Tak lama kemudian Nana keluar dan terkejut melihat kosongnya lorong tanpa adanya Taeyang.

“Pacar tidak berguna,” geram Nana dengan wajah ketakutan seraya mengambil cell phone di dalam tasnya untuk menghubungi Taeyang. “Oh tidak, kenapa harus mati dalam keadaan seperti ini!”

**

“Mungkin kau bisa hubungi cell phone Nana daripada mengitari sekolah ayahmu yang besar ini?” tanya Jin Ki mencoba sabar dengan lemotnya jalan pikiran Myung Soo.

“Jangan membuatku merasa semakin bodoh, Jin Ki-ah,” desah Myung Soo seraya mengeluarkan cell phone-nya. “Cell phone-nya mati,” ucap Myung Soo setelah mencoba beberapa kali.

“Kalau begitu kita kembali dengan cara idiotmu untuk mencari dimana Nana sekarang,” ucap Jin Ki yang tiba-tiba menangkap bayangan seseorang di ujung lorong. “L-lihat disana. Apa itu Vargulf? Seingatku rambutnya tidak sepanjang itu.”

“Itu Nana, pabboya,” ucap Myung Soo seraya pergi menghampiri Nana.

“Anak itu sudah berani menyebutku pabbo,” gumam Jin Ki seraya menyusul di belakang Myung Soo.

**

Myung Soo mencoba menahan tangan Nana yang hendak menimpuk Jin Ki dengan tasnya setibanya mereka menghampiri kekasih Taeyang ini.

“Bukan dia,” ucap Myung Soo mencoba menjelaskan.

“Seharusnya kau menyambutku lebih baik lagi setelah kuputuskan untuk menyelamatkanmu,” desah Jin Ki yang berdiri agak jauh dari Nana.

“Menyelamatkanku?” tanya Nana tidak mengerti. “Oh ya, maksudmu menyelamatkanku dari pesan teks konyolmu itu?”

“Bukan aku yang menerormu!” bantah Jin Ki dengan penekanan. “Kau pikir anak baik-baik sepertiku berani ambil resiko dengan menerormu lewat pesan teks?”

“Lalu siapa yang berani mengirimi teks padaku dengan ancaman pembunuhan?” tanya Nana masih terlihat kesal pada Jin Ki.

“Dia kurasa,” jawab Myung Soo seraya menunjuk sosok jangkung yang sedang berdiri di ujung lorong, membuat Jin Ki otomatis beringsut ke belakang tubuh Myung Soo dengan wajah ketakutan.

“S-siapa dia?” tanya Nana tidak mengerti tapi mampu merasakan atmosfir ketakutan yang Jin Ki sebarkan.

“Si pengirim pesan,” jawab Jin Ki.

**

Myung Soo, Jin Ki dan Nana berlari menyusuri koridor dan menaiki tangga menuju lantai dua dengan terengah-engah. Mereka pun masuk ke dalam kelas Mr. Cho sebelum menguncinya dan mengganjalnya dengan lemari kayu.

“Siapa dia?” tanya Nana masih tidak mengerti dengan jawaban Jin Ki. “Kenapa dia mengejar kita?”

“Dia yang mengancammu,” jawab Myung Soo. “Dan juga mengancam Jin Ki.”

“Sudahlah, beritahu saja yang sebenarnya,” ucap Jin Ki yang hampir kehabisan nafas. “Dia manusia serigala.”

“A-apa?” Ucapan Jin Ki terdengar tidak masuk akal di telinga Nana. “M-manusia s-serigala?”

“Kau tidak percaya?” tanya Jin Ki. “Apa dia perlu merubah wujudnya di depanmu dan siap menerkammu untuk membuatmu percaya?”

“Ini Seoul dan aku tidak mudah dibohongi!” ucap Nana sambil menunjukkan wajah marahnya.

“Ini Seoul dan Vargulf tidak pilah-pilih untuk mendatangi tempat tinggal mangsanya!” ucap Jin Ki seraya menunjuk kaca jendela kelas.

Nana pun terkejut luar biasa melihat seekor serigala besar berbulu putih sedang bertengger di depan kaca kelas. Dengusan dari hidungnya membuat kaca jendela berembun. Wajah bengisnya pun berhasil membuat Jin Ki dan Nana bergetar ketakutan di sudut kelas.

“L-lakukan sesuatu, Myung Soo-ah,” ucap Jin Ki dengan wajah pucat. “A-aku tidak mau mati malam ini.”

“Kalian pergi lewat pintu samping sementara aku mencoba menahannya disini,” ucap Myung Soo yang sudah bersiap membuka pintu kelas demi menghadapi Vargulf.

Tanpa banyak bicara Jin Ki dan Nana pun melesat kabur lewat pintu samping kelas menuju kelas-kelas berikutnya. Sementara itu Myung Soo sudah berubah menjadi Werewolf yang siap menghadapi Vargulf seorang diri.

**

“Tunggu!” ucap Nana terengah-engah ketika mereka sudah tiba di anak tangga menuju lantai tiga. Dan tiba-tiba Taeyang muncul dan langsung menghajar Jin Ki yang pada saat itu terlihat sedang menggeret tubuh Nana.

“Beraninya kau menyakiti Nana setelah menerornya!” ucap Taeyang seraya menghajar Jin Ki dengan stick Ice Hockey-nya.

“Bukan dia…” ucap Nana yang asma-nya tiba-tiba kambuh.

Tanpa mendengar atau melihat Nana, Taeyang terus meluncurkan serangannya pada Jin Ki yang sudah tak berdaya di lantai.

“Inhealer-ku…” erang Nana yang sudah terkulai lemas, membuat Taeyang akhirnya menghentikan aksinya pada Jin Ki untuk segera mencari inhealer milik Nana di dalam tasnya.

Nana pun kembali pulih setelah menghisap inhealernya.

“Ini belum seberapa, Loser,” ucap Taeyang seraya menendang kaki Jin Ki yang masih tergeletak tak berdaya dengan wajah terluka di lantai.

“Bukan dia yang menerorku,” ucap Nana setelah berhasil menemukan suaranya kembali. “Kebrutalanmu ini bisa membunuh orang tahu!”

Nana pun membantu Jin Ki duduk sementara Taeyang masih berdiam diri dengan wajah bingung.

“Ada manusia serigala di sekolah ini,” ucap Nana memberitahu. “Kita harus bersembunyi.”

“Manusia serigala?” tanya Taeyang. “Di Seoul?”

“Aku juga mengucapkan hal itu sebelum serigala itu menunjukkan wajahnya di depanku!” ucap Nana seraya membantu Jin Ki berjalan menuju lantai tiga.

Ketiganya akhirnya menemukan tempat yang cukup aman untuk bersembunyi. Ruangan Mr. Keahu terlihat agak berantakan setelah Taeyang mengobrak-abriknya untuk mencari majalah porno sobatnya yang disita oleh Mr. Keahu.

“Mr. Keahu bisa menghajarmu jika dia tahu kau masuk tanpa izin,” ucap Nana setelah meletakkan Jin Ki yang masih tak sadarkan diri di sudut ruangan.

“Aku baru saja akan merapikannya sebelum aku mendengar suara berisik dari lantai dua,” ucap Taeyang yang masih tidak mengerti dengan ,manusia serigala di sekolah mereka saat ini. “Bisa kau jelaskan aku soal manusia serigala yang kau katakan tadi?”

“Aku tidak tahu kenapa manusia serigala itu bisa disekolah ini,” jawab Nana. “Aku hanya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diriku sementara Myung Soo sedang menghadapi manusia serigala itu.”

“A-apa?” Taeyang nyaris mengeluarkan tawanya. “Dia…si pecundang itu? Menghadapi manusia serigala?”

“Kita akan segera tahu kenapa semua ini bisa terjadi setelah orang yang baru saja kau hajar ini sadar,” ucap Nana seraya memandang Jin Ki dengan wajah miris. “Kau bisa saja membunuhnya.”

**

 “Aku tidak akan biarkan kau sakiti teman-temanku,” ucap Myung Soo dalam kondisi bertahan. Cakar-cakar tajam Jung Woo sudah masuk ke dalam lehernya. Ini bagian tersulit yang Myung Soo belum bisa atasi. Dia perlu amarah untuk bisa melawan, tetapi rasa sakit yang dia rasakan justru melumpuhkan kemampuannya untuk berubah.

“Teman mana yang kau maksud?” tanya Jung Woo seraya menatap wajah Myung Soo dengan bola matanya yang merah padam. “Lee Jin Ki, sahabatmu yang tidak lebih dari seonggok daging yang siap kumangsa? Atau Dong Taeyang dan kekasihnya yang lebih suka melihatmu mati daripada harus berkeliaran di sekolah ini?”

“Ketiganya….” ucap Myung Soo pelan, tidak takut membalas tatapan Jung Woo dengan mata keemasannya.

Jung Woo akhirnya menunjukkan seringainya yang bertaring.

“Aku tidak suka membuang waktu untuk hal seperti ini. Bermain dengan remaja bodoh yang mencoba menjadi pahlawan bagi teman-temannya,” ucap Jung Woo lebih dekat lagi. “Aku hanya menginginkan Seo In Guk. Seharusnya semuanya terlihat mudah jika kau membawa Werewolf itu kehadapanku kemarin malam. Tetapi nyatanya kau lebih suka mengulur waktu untuk bersenang-senang denganku.”

Myung Soo mulai bisa mengeluarkan geramannya ketika cengkeraman tangan Jung Woo sedikit mengendur pada lehernya.

“Aku bukan remaja lagi, Kim Myung Soo,” sambung Jung Woo dalam bisikan. “Dan aku tidak suka Werewolf buatanku sendiri memutuskan untuk melawanku. Kini aku tidak hanya bernafsu untuk membunuh Seo In Guk, tetapi juga membunuhmu.”

Tatapan Jung Woo semakin melebar diikuti warna bola matanya yang semakin merah.

“Tatap aku,” ucap Jung Woo pelan seraya mengontrol dagu Myung Soo agar tetap berhadapan lurus dengan wajahnya.

Myung Soo mencoba melawan dengan menutup kedua matanya rapat-rapat, hanya saja cakar-cakar Jung Woo kembali menyesaki lehernya semakin dalam, membuat Myung Soo menyerah dan terpaksa menatap jauh ke dalam mata Jung Woo.

Keadaan ini berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya Myung Soo terdiam dengan tatapan kosong kearah Jung Woo.

“Bunuh ketiga temanmu itu,” ucap Jung Woo pelan. Dan pada saat itu juga Myung Soo meluncur pergi ke lantai tempat dimana ketiga temannya bersembunyi.

**

“Kau apakan aku?” teriak Jin Ki saat menyadari wajahnya penuh darah dan terasa nyeri.

“Beruntung aku tidak benar-benar menghancurkan wajahmu,” ucap Taeyang yang sedaritadi hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu, terlihat gusar dan bosan. “Kurasa keadaan di luar baik-baik saja. Dan manusia serigala karanganmu itu sepertinya memutuskan untuk kembali ke lubangnya sebelum pagi tiba.” Taeyang melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.

“Kau pikir aku sedang mengarang cerita?” tanya Nana dengan wajah tersinggung.

“Tidak ada manusia serigala, Cagiya!” ucap Taeyang seraya membentangkan kedua tangannya. “Kita tidak hidup di dunia khayalan yang berisi makhluk-makhluk supernatural seperti itu.”

“Kau menyebalkan,” ucap Nana seraya memukul Taeyang dengan tasnya.

Tiba-tiba Jin Ki mengulurkan tangannya seraya berkata, “Jika yang kau maksud adalah makhluk yang takut keluar pada pagi hari, itu Vampire namanya. Bukan Werewolf.”

“Diam kau!” geram Taeyang seraya berbalik menghadap pintu dan mendapati wajah serigala Myung Soo sudah bertengger manis di depan celah kaca pada pintu di hadapannya saat ini. Pelan tetapi pasti, Taeyang pun memundurkan langkahnya seraya berkata, “D-dia…”

Jin Ki yang melihatnya spontan berkata, “Myung Soo selamat? Oh syukurlah.”

“A-apa katamu?” tanya Taeyang dengan wajah super bingung. “M-Myung Soo?”

“Dia juga seorang W-Werewolf?” tanya Nana yang sama terkejutnya dengan Taeyang. Dan keduanya hanya mampu menatap mata keemasan Myung Soo yang entah mengapa memancarkan kesadisan.

“Aku akan jelaskan pada kalian nanti. Sekarang buka pintunya sebelum Vargulf kembali!” ucap Jin Ki mendesak.

“Kau yakin dia tidak akan menyerang kita jika kita membukakan pintunya?” tanya Taeyang yang matanya masih terpatri pada kedua bola mata Myung Soo.

“Dia sahabatku dan tidak akan menyakiti kita,” jawab Jin Ki.

“Tidak…” bantah Taeyang seraya menahan tangan Nana yang hendak mencoba menggapai gagang pintu. “Apa kalian tidak bisa lihat kedua matanya? Dia….seperti ingin menerkam kita.”

Jin Ki tak lagi mengoceh sementara dirinya mencoba bangun untuk berdiri di sebelah Nana dan mengecek apa benar yang Taeyang katakan. Hembusan dari hidung Myung Soo membuat embun pada celah kaca di pintu ruangan Mr. Keahu. Matanya pun memancarkan aura yang berbeda saat Jin Ki mencoba memperhatikan lebih seksama, ada keinginan seperti ingin menerkam dan membunuhnya. Ini bukan ekspresi yang Jin Ki kenal dari sosok Kim Myung Soo.

“Ada apa dengannya?” tanya Nana mulai ketakutan. “Apa dia kelompok dari serigala putih tadi?”

“Aku tidak tahu,” jawab Jin Kin pelan. “Yang pasti Myung Soo tidak akan pernah menatapku dengan cara seperti itu.”

**

Myung Soo beringsut dan membungkuk pada lantai dengan menekankan cakar-cakarnya pada tangannya sendiri, menggenggamnya dengan sangat kuat. Matanya masih berwarna keemasan. Entah apa yang orang lain lihat dari luar, yang Myung Soo tahu saat ini dia sedang berusaha melawan dirinya sendiri yang baru saja memiliki naluri kuat untuk membunuh ketiga temannya itu.

“Matahari…Bulan…Kebenaran….” Myung Soo kembali merasuki dirinya dengan ajaran Budhis itu, mencoba mempertahankan Kim Myung Soo yang sebenarnya pada dirinya. Tetapi yang terjadi justru amarahnya yang semakin berkobar, membuat kedua bola matanya kini berpendar terang di dalam warna keemasannya.

Lagi-lagi hasrat untuk membunuh ketiga temannya kembali. Myung Soo kembali berpijak pada lantai sementara kedua tangannya mencoba menjebol pintu yang sedang melindungi ketiga temannya saat ini. Raungan serigalanya pun terdengar.

“Jangan…kontrol…aku,” ucap Myung Soo bersusah payah menahan dirinya untuk menjauh dari pintu, sementara dirinya yang lain mencoba untuk menjebol pintu. “Aku bukan milikmu. Aku bukan salah satu dari pack-mu. Aku hanya Beta biasa. Aku…” Lagi-lagi naluri pembunuhnya mendesaknya untuk cepat membobol pintu di hadapannya saat ini. Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang merasuki pikirannya. Seorang wanita cantik muncul di hadapannya saat ini.

“Jangan biarkan Vargulf mengendalikanmu,” ucap si wanita seraya memegang wajah Myung Soo dengan kedua tangannya. Myung Soo pun hanya bisa terdiam seraya menatap wajah cantik si wanita itu. “Kau benar. Kau bukan bagian dari Vargulf. Kau adalah Kim Myung Soo. Dan kau telah memilih pack-mu sendiri, Lee Jin Ki, Seo In Guk, dan aku.”

Wajah si wanita tiba-tiba saja lenyap dan keadaan menjadi hening. Myung Soo terdiam dengan sisa nafas yang dipunyanya. Ditatapnya kedua tangannya yang sudah kembali normal dan hanya menyisakan jejak kukunya sendiri bercampur dengan darah. Dia berhasil mengontrol dirinya sendiri. Dan semuanya berkat si wanita itu.

**

Jin Ki berjalan gontai di sebelah Myung Soo menuju halaman sekolah seraya bertanya, “Apa yang baru saja terjadi padamu, Sobat? Kau terlihat sangat mengerikan.”

“Aku…” Kata-katanya seperti tertahan di ujung lidahnya, sementara pikirannya saat ini sedang berpencar entah kemana.

“Kau seperti ingin membunuhku,” sambung Jin Ki seraya menggoyangkan bahu Myung Soo.

“Vargulf berhasil mengontrolku,” jawab Myung Soo akhirnya. “Apa yang dia lakukan, sama persis dengan apa In Guk lakukan pada anjing-anjing liar yang tinggal di sekitar Jacheon Forest.”

“Um, mungkin karena Taeyang berhasil menghajar kepalaku, membuatku agak sedikit susah menangkap ucapanmu,” ucap Jin Ki seraya mengurut keningnya. “Bisa kau jelaskan lebih detail apa maksud ucapanmu?”

“In Guk memiliki koneksi dengan anjing-anjing yang biasa dia suruh untuk menghapus jejak Mountain Ash di Jacheon Forest,” ucap Myung Soo. “Dan apa yang dia lakukan itu sama persis dengan yang Vargulf lakukan padaku. Dia menatapku dan aku seperti…”

“Terhipnotis?” tebak Jin Ki mencoba membantu ucapan Myung Soo yang agak tersendat-sendat.

“Tidak seperti terhipnotis,” ucap Myung Soo seraya menggeleng. “…tetapi sejenis itu. Aku seperti tunduk padanya dan bersedia melakukan apa saja yang dia minta.”

“Jadi dia minta padamu untuk membunuh kami?” tanya Jin Ki kembali menebak.

Myung Soo pun mengangguk. “Dia mengontrolku. Dan aku berusaha untuk melepasnya dan mengembalikan diriku yang sebenarnya. Aku coba ucapkan ritual Budhis itu, tetapi tidak berhasil.”

“Kau berhasil melakukannya, kau kembali menjadi Kim Myung Soo setelah kami membuka pintunya,” ucap Jin Ki.

“Aku dapat mengontrolnya bukan karena ritual Budhis itu, tetapi karena seorang wanita yang tanpa kusadari dan secara tiba-tiba masuk ke dalam pikiranku,” ucap Myung Soo.

“Lalu siapa wanita itu?” tanya Jin Ki terlihat semakin penasaran.

“Park Jiyeon,” jawab Myung Soo seraya menatap wajah Jin Ki.

To Be Continue

61 responses to “[CHAPTER – PART 4] THE WEREWOLF

  1. Pingback: [CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s