[ONESHOOT] Trapped In Friendzone

indoffart

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

SUPPORTING CAST :

Find it by yourself

GENRE :

Romance || Sad || Friendship

RATING :

PG-15

LENGTH :

Oneshoot

CREDIT POSTER :

Big thanks to bekey@Indo FF Arts ^^

DISCLAIMER :

All cast belongs to God, their parents and themselves. But, this story is mine

***

Pagi hari ini, Jiyeon dan Myungsoo akan berangkat ke kampus bersama lagi. Seperti biasanya, Myungsoo akan menjemput Jiyeon di rumahnya, lalu Jiyeon mengajak Myungsoo untuk sarapan bersama keluarganya. Karena ia tau, Myungsoo pasti tidak sempat sarapan di rumahnya. Sekarang, inilah yang terjadi di kediaman Jiyeon.

“Myungsoo-ya, umurmu sudah dua puluh satu tahun, apa kau sudah memikirkan soal percintaan heum?” Tanya ibu Jiyeon tiba-tiba. Jiyeon yang mendengarnya kaget dan hampir saja tersedak makanannya.

“Ah, aku belum tau eomma, tapi aku sudah mempunyai kandidatnya, heheh”. Ucap Myungsoo sambil menampilkan deretan giginya yang putih itu.

“Ya ya ya, jangan bahas ini. Cepat makan saja, nanti aku telat”. Ujar Jiyeon dingin.

Mereka pun melanjutkan memakan makanannya. Selesai makan, Jiyeon dan Myungsoo pun bersiap untuk pergi ke kampus.

Eomma, aku berangkat dulu”. Jiyeon mencium pipi ibunya hangat.

“Aku juga”. Myungsoo juga mencium pipi ibu Jiyeon.

“Ah ya, nanti sore appamu akan pulang dari Jeonju, dan nanti kita dinner bersama ya? Dan Myungsoo-ya, ajak juga appa dan eommamu, ya? Arra?” Ujar ibu Jiyeon sebelum Jiyeon dan Myungsoo berangkat.

Arraseo, eomma”. Balas Myungsoo tersenyum.

“Sekarang berangkatlah”.

***

Myungsoo dan Jiyeon adalah sepasang sahabat sejak mereka kecil. Tepatnya saat mereka umur lima tahun. Masih sangat muda bukan? Jadi mereka sudah bersahabat lama sekali, lebih dari sepuluh tahun.

Mereka sangat dekat. Bahkan bagi orang yang tidak terlalu mereka akan menganggap mereka sebagai sepasang kekasih. Padahal tidak, mereka hanya sepasang ‘sahabat’.

Myungsoo dan Jiyeon sering berangkat ke kampus bersama, pulangnya pun sering bersama. Ah tidak, mungkin setiap hari? Ya, mungkin. Bahkan, Myungsoo memanggil ibu dan ayah Jiyeon dengan sebutan eomma dan appa, begitu pula Jiyeon memanggil ibu dan ayah Myungsoo.

Saat Jiyeon berusia tujuh belas tahun, ia merasakan ada yang aneh dari dirinya. Entah kenapa ia merasa cemburu saat Myungsoo mengobrol dengan Rayeon. Dan saat itu Myungsoo malah menyuruh Jiyeon untuk pulang sendiri dan memilih untuk mengantar Rayeon. Ia merasakan sakit didadanya. Dadanya sesak.

Saat itu juga tau bahwa dirinya,

…mencintai Myungsoo.

Flashback

Hari ini hari Minggu. Tentu saja setiap sekolah manapun libur. Hari ini Jiyeon dan Myungsoo berencana untuk pergi ke sebuah toko buku yang biasa mereka kunjungi.

Mereka pergi ke toko buku itu tidak menggunakan kendaraan. Mereka hanya jalan kaki untuk sampai di toko buku itu karena jaraknya yang dekat dengan rumah Jiyeon.

Diperjalanan, mereka terus saja bersenda gurau. Berbagai lelucon keluar dari mulut Myungsoo. Begitu juga dengan Myungsoo, ia juga tak jarang mengeluarkan lelucon-leluconnya. Hingga mereka tak sadar bahwa mereka sudah sampai di toko buku yang mereka tuju.

Mereka masuk kedalam toko buku itu. Tangan Myungsoo masih tetap bertengger pada bahu Jiyeon. Tentu saja setiap orang yang melihat mereka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Padahal bukan.

Myungsoo dan Jiyeon mulai mencari-cari buku yang mereka butuhkan. Mereka berpencar. Kalau mereka tidak berpencar, mungkin mereka akan lama di toko buku ini.

“Myungsoo-ya, aku kesana dulu. Kalau kau sudah selesai duluan, kau tunggu di luar saja”. Ucap Jiyeon sebelum meninggalkan Myungsoo.

Arraseo”. Jawab Myungsoo singkat.

Myungsoo dan Jiyeon pun mulai berpencar. Jiyeon ke bagian kiri toko, sedangkan Myungsoo ke bagian kanan toko.

Selesai mencari buku yang ia butuhkan, Jiyeon pun kembali ke tempat Myungsoo. Ternyata Myungsoo tidak ada disana. Myungsoo pasti berada di luar, pikirnya.

Ia pun keluar untuk menemui Myungsoo. Tetapi, ia melihat Myungsoo sedang mengobrol dengan perempuan yang ia kenal. Choi Rayeon. Jiyeon dan Rayeon memang tidak terlalu dekat, tetapi Jiyeon cukup mengenali perempuan bernama Rayeon itu.

Deg. Deg. Deg.

Jantung Jiyeon berpacu dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ia memegang dadanya yang merasa sesak. Ia tak tau kenapa dirinya bisa seperti ini. Mungkinkah aku cemburu? Tapi, apa aku berhak untuk mencintaimu? Batin Jiyeon.

Dengan pelan, Jiyeon melangkahkan kakinya ke arah Myungsoo dan Rayeon yang sedang asyik mengobrol. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ia berusaha untuk bersikap seperti biasa di depan Myungsoo dan Rayeon

“Ya! Aku sudah mencarimu kemana-mana ternyata kau ada disini”. Ucap Jiyeon basa-basi tentunya, karena ia sudah tau kalau Myungsoo menunggunya di luar, dan itu juga dirinya yang menyuruh.

“Hei, bukannya kau yang menyuruhku?” Protes Myungsoo.

“Kau lupa kalau aku ini adalah ‘pelupa’? ah atau sekarang kau yang pelupa? Ah sudahlah, lupakan. Dan hei lihat siapa yang ada… Choi Rayeon, sedang apa kau disini?” Tanya Jiyeon. Ia masih berusaha untuk bersikap seperti biasa didepan Myungsoo maupun Rayeon..

“Annyeong Jiyeon-ah, aku kebetulan juga habis membeli buku ditoko ini. Dan bertemu Myungsoo oppa”. Jawabnya.

“Oh begitu… Myungsoo-ya, kajja kita pulang!” Jiyeon menarik lengan Myungsoo. Tetapi Myungsoo malah menepis lengan Jiyeon.

“Kau pulang sendiri saja, ya? Rumahmu dekat ‘kan dari toko ini? Jadi kau pulang sendiri saja. Aku akan mengantar Rayeon. Kau tau ‘kan kalau rumahnya itu cukup jauh dari daerah sini?” Bisik Myungsoo.

Lagi dan lagi, jantung Jiyeon berpacu lebih cepat. Dadanya semakin sesak. Ia tak ingin terus berlama-lama disini. Ia ingin menangis sepuasnya.

Arraseo. Aku pulang dulu. Annyeong Rayeon-ah”. Ujar Yoona. Tak lama kemudian ia sudah tidak ada ditempat itu lagi.

Dada Jiyeon terasa benar-benar sesak. Ia tak kuat menahan liquid bening yang sedari ia tampung dipelupuk matanya. Ia menangis. Ia menangis disepanjang jalan menuju rumahnya. Oke ini mungkin memang terlalu lebay, tetapi inilah yang dirasakan Jiyeon.

Flashback END

***

Selama perjalan ke kampus, baik Myungsoo maupun Jiyeon tidak ada yang mau membuka suara. Mereka berdua sibuk dengan pikiran dan aktifitas masing-masing. Myungsoo dengan aktifitasnya yang sedang menyetir dan Jiyeon dengan aktifitasnya yang sedang memandang pemandangan luar dari kaca mobil Myungsoo.

Karena merasa tak tahan dengan situasi seperti ini, Jiyeon pun akhirnya membuka suaranya.

“Baiklah. Aku tak kuat jika harus berdiam terus menerus”. Ucap Jiyeon pada akhirnya.

Tak ada jawaban dari Myungsoo. Yang terdengar hanyalah suara kekehan kecil, tetapi Jiyeon masih dapat mendengarnya.

“Ya! Kenapa malah terkekeh?!” Kesal Jiyeon.

“Tidak ada”. Balas Myungsoo singkat.

Jiyeon kembali menatap kaca mobil Myungsoo yang tepat berada disampingnya. Ia bingung harus menanyakan siapa ‘kandidat’ yang tadi Myungsoo bicarakan.

Tapi, ia takut jika Myungsoo akan berpikiran bahwa Jiyeon mencintai Myungsoo. Walaupun sebenarnya benar, tetapi Jiyeon tidak ingin membuat tali persahabatan mereka hancur begitu saja.

Setelah lama berpikir Jiyeon akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Luhan.

“Myungsoo-ya, siapa kan…”

“Sudah sampai”. Potong Myungsoo.

Jiyeon merasa sedikit gelisah karena tidak sempat menanyakannya. Tapi, ia juga merasa sedikit senang.

Mereka berdua turun dari mobil Myungsoo dengan terus berdiam. Ah tidak, tepatnya Jiyeon yang berdiam. Sedari tadi, Luhan terus mengoceh tidak jelas.

Merasakan ada perubahan dari diri Jiyeon, Myungsoo pun bertanya, “Kau kenapa, eoh?” Tanya Myungsoo pada akhirnya.

Jiyeon masih enggan menjawab pertanyaan dari Myungsoo. Ia malah mempercepat langkahnya agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Myungsoo nantinya.

Gadis itu kenapa? Kenapa sifatnya sering berubah-ubah? Batin Myungsoo.

***

JIYEON POV

Sekarang sudah pukul dua belas. Sebentar lagi Profesor Shin akan masuk ke kelas dan memberikan materi-materi pelajaran yang membuat para mahasiswa ataupun mahasiswi pusing. Pikiranku sedang kacau hari ini. Jadi, tak apa ‘kan kalau aku bolos? Lagipula, aku juga tidak sering membolos. Hihihi.

Aku beranjak dari bangku tempat dudukku dan pergi ke kantin kampus. Aku melihat Myungsoo juga ada disana. Apa ia juga bolos? Ah lebih baik aku datangi saja dia.

Aku mendudukkan tubuhku begitu sampai ditempat Myungsoo. “Kau bolos ya?” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Aku hanya mampu menampilkan deretan gigiku yang putih ini. “Kau sendiri?” Tanyaku. “Aku tidak ada kelas hari ini”. Jawabnya. “Ooh…”

Ia mengankat kepalanya dan menatapku lekat. Demi apapun, aku suka saat ia menatapku seperti ini. Rasanya damai. “Lain kali, kau jangan bolos lagi, ini sudah ke berapa kalinya kau bolos heum?” Tanyanya sambil memajukan wajahnya.

Aku tak bisa berkutik. Aku gugup. Ya Tuhan…

“A-a-aku? Su-sudah… ti-tidak tau”. Balasku gugup.

“Ish. Jangan menatapku seperti itu. Kau ini tumben sekali perhatian padaku?” Ujarku berusaha setenang mungkin. Syukurlah ia sudah tidak menatapku lagi. Aku merasa sedikit tenang dan ya walaupun aku sedikit kecewa juga.

“Aku selalu perhatian padamu, ah sudahlah, kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir”.

“Tidak. Aku tidak lapar”. Balasku.

“Lalu, kenapa kau disini? Bodoh”. Ujarnya.

“Ya! aku tidak bodoh!” Protesku.

***

AUTHOR POV

Jiyeon berjalan pulang dengan wajah suntuknya. Sesekali ia menendang batu kerikil yang ada di jalan. Kesal? Bisa jadi.

Myungsoo yang berjalan di belakang Jiyeon merasa ada keanehan dari sahabatnya itu. Biasanya mereka akan berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih. Sekarang, Myungsoo berjalan di belakang Jiyeon layaknya pengawal Jiyeon.

Myungsoo mempercepat jalannya dan berusaha menyeimbangkan jalannya dengan Jiyeon. Setelah mereka beriringan, Myungsoo menolehkan wajahnya. Ia melihat Jiyeon sedang menggembungkan pipinya.

Aigo, neomu gwiyeowo” Kata Myungsoo sambil mencubit pipi Jiyeon gemas.

“Ish”. Desah Jiyeon. Ia sedang tidak ingin diperlakukan seperti ini sekarang. Ini bukannya memperbaik suasana tetapi malah memperburuk.

“Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kau sakit?” Tanya Myungsoo seraya merangkul Jiyeon.

Anio, nan gwaenchana”. Balas Jiyeon. Namun, ia masih saja menggembungkan pipinya yang membuat Myungsoo semakin gemas melihatnya.

“Hei, jangan seperti itu terus. Ingin kucium, heum?” Ujar Myungsoo seraya memajukan wajahnya.

“Ya! Dasar pria mesum”.

Jiyeon melepas tangan Myungsoo yang ada di bahunya, kemudian ia berjalan dengan cepat dan sesekali menghentak-hentakkan kakinya kesal. Melihat itu, Myungsoo terkekeh kecil dan sedikit berlari untuk menyeimbangkan jalannya lagi dengan Jiyeon.

***

Suasana sore hari di kota Seoul hari ini sangat dingin. Jiyeon merapatkan jaket serta syal yang ia pakai. Kadang, ia menyeruput kopi panas yang ada dimeja didepannya. Ia memandang pemandangan kota Seoul dari jendela kamarnya. Indah, sangat indah, pikirnya.

Yeoboseyo I han madiga eoryeowo jeonhwajocha geolji motae
Mianhaeyo deo…

Ponsel Jiyeon berdering. Ia beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke kasurnya itu.

Yeoboseyo?
“…”
“Ah ada apa kau menelponku sore-sore seperti ini?”
“…”
“Aku sibuk Myungsoo-ya
“…”
“Aku tidak sedang bercanda”
“…”
“Aku baik-baik saja. Sudah dulu, aku sibuk. Annyeong
“…”

PIP

Jiyeon mematikan panggilan telepon tersebut dan membanting ponselnya ke atas kasurnya itu. Untung saja kasurnya itu empuk jadi ponselnya tidak mungkin hancur atau rusak.

Jiyeon memegang keningnya dan memijatnya pelan. Kejadian tadi siang saat di kampus benar-benar membuatnya pusing. Pikirannya kacau.

Flashback

Jiyeon berjalan ke arah kelasnya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sedih tidak. Senang juga tidak.

Saat ia baru menginjakkan kakinya didepan kelasnya. Ia melihat pemandangan yang membuat perasaannya semakin buruk.

Pemandangan dimana Myungsoo dan Rayeon sedang berpelukan mesra.

Di kelas sedang tidak banyak mahasiswa ataupun mahasiswi, dan mereka juga sedang fokus dengan pekerjaan masing-masing jadi mungkin mereka tidak terlalu peduli dengan Myungsoo dan Rayeon yang sedang berpelukan mesra.

Jiyeon mengurungkan niatnya untuk ke kelas dan memilih untuk kembali ke kantin. Ia menahan liquid bening yang sudah terbendung dipelupuk matanya. Malu jika ia menangis di kampus seperti ini.

Flashback end

***

DRTTT DRRRTT

Ponsel Jiyeon bergetar. Ia bangkit dari tempat duduknya lagi dan beralih ke kasurnya yang empuk dan berukuran king itu. Ia merebahkan dirinya di atas kasurnya itu. Kemudian membaca pesan yang dikirim oleh Myungsoo

For: Jiyeon

Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?

—Myungsoo

Kemudian, jari-jari Jiyeon mulai mengetikkan balasan kepada Myungsoo. Setelah itu ia menekan tombol send yang ada dilayar ponselnya.

For: Myungsoo

Anio, aku baik-baik saja. Maaf karena membuatmu khawatir. Dan ah kau tumben sekali khawatir padaku?

—Jiyeon

Tak lama berselang, Myungsoo sudah membalas pesan dari Jiyeon itu.

For: Jiyeon

Ah syukurlah. Ya, itu ‘kan gunanya teman. Tak salah ‘kan jika aku mengkhawatirkanmu?

—Myungsoo

Mata Jiyeon memanas setelah membaca pesan dari Myungsoo itu. Bahunya bergetar tanda ia menangis. Ya, tak akan ada harapan untuk Jiyeon karena seperti pesan yang dikirim Myungsoo, Myungsoo hanya menganggap Jiyeon sebagai temannya saja. Tidak lebih.

“Argghhh”. Jiyeon mendesah frustasi.

Ia memegang keningnya dan sesekali menjambak rambut panjangnya itu.
***
Siang ini, Jiyeon sedang tidak kuliah. Hari ini ia hanya ada satu kelas. Jadi, ia membolos. Terlalu malas untuknya bila di kampus tidak melakukan pekerjaan apapun karena ia tidak ada kelas. Jadi ia memilih untuk di rumah. Ya, walaupun sama saja di rumahpun ia tidak melakukan apapun.

Tapi, yang paling ia hindari hari ini adalah bertemu dengan Myungsoo. Malas saja ia bertemu dengan Myungsoo

“Jiyeon-ah! Jangan terus-terusan meringkuk diatas kasurmu itu! Bantu eomma memasak hari ini!” Teriak ibu Jiyeon dari lantai dasar rumahnya.

Teriakan ibu Jiyeon berhasil membuat mood Jiyeon semakin turun sekarang. Ia menyingkap selimut yang menyelimuti tubuh ramping dan tinggi Jiyeon itu.

Ia turun ke bawah untuk menemui ibunya. Ia berhenti sebentar di tangga rumahnya. Ternyata, bosan juga berada di rumah, tetapi ini lebih baik daripada harus berdiam diri di kampus, pikirnya. Tak lama berselang, Jiyeon melanjuti melewati tangga itu dan menemui ibunya yang berada di dapur.

“Ini, kau bantu irisi daun bawangnya”. Setelah Jiyeon sampai di dapur, ibu Yoona langsung menyuruhnya untuk mengirisi daun bawang.

“Ish. Biasanya eomma akan me…”

“Jangan banyak protes. Kau ini sudah besar. Dan kau tau ‘kan kalau hari ini appa akan pulang karena kemarin tidak jadi?”.

Ucapan ibu Jiyeon tadi berhasil membuat Jiyeon diam. Tetapi, didalam hatinya ia terus saja menggerutu kesal.

***

Malam ini, suasana di rumah Jiyeon terlihat sangat ramai. Ada Myungsoo, ibu Myungsoo, ayah Myungsoo, serta ibu dan ayah Jiyeon. Ya, mereka mengadakan dinner bersama di rumah Jiyeon. Seharusnya, dinner ini dilaksanakan kemarin malam, tetapi dibatalkan karena ayah Jiyeon tidak jadi pulang kemarin dan baru pulang sekarang.

Canda tawa serta lainnya menghiasi suasana di ruang makan rumah Jiyeon hari ini. Semuanya terlihat bahagia. Saling menampilkan senyuman indah masing-masing. Begitu pula dengan Jiyeon, walaupun itu sebenarnya adalah fake smile tetapi ia berusaha untuk menutupi itu semua.

“Jiyeon-ah kenapa tadi kau bolos?” Tanya Myungsoo tiba-tiba sambil mengunyah makanannya.

“Selesaikan dulu makanan yang ada dimulutmu, Myungsoo-ya”. Saran ibu Myungsoo yang mendapat anggukan dari Myungsoo. Setelah menelan makanan yang tadi ada dimulutnya Myungsoo pun bertanya kembali.

“Aku? Ah tak apa. Hanya aku malas saja. Lagipula tadi hanya ada satu kelas”. Balas Jiyeon sambil memasukkan sesendok jjajangmyun ke dalam mulutnya itu.

“Kau tau? Di rumah ia tak melakukan apapun. Hanya berkutik dengan ponselnya saja dan meringkuk di atas tempat tidurnya. Hanya sekali saja ia melakukan pekerjaan, tadi ia sempat membantuku untuk memasak ini”. Ujar ibu Jiyeon.

“Dan… aku tak yakin ia mandi hari ini”. Sambung ibu Jiyeon yang mendapatkan desahan kesal dari Jiyeon dan juga tawaan dari orang-orang yang ada di ruang makan itu.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sudah larut rupanya. Keluarga Myungsoo pun memilih untuk pulang ke rumah mereka.

“Aku pulang, nde”. Ucap ibu Myungsoo.

Nde, hati-hati di jalan”. Balas ibu Jiyeon.

Tak lama setelah itu, keluarga Myungsoo sudah tak terlihat lagi di sekitar rumah Jiyeon tanda mereka sudah berjalan pulang.

Jiyeon berjalan ke atas untuk kembali ke kamarnya. Lelah. Itu yang ia rasakan sekarang. Apalagi ia harus melakukan fake smile yang membuatnya semakin lelah.

***
Pagi ini, kota Seoul kembali dilanda hujan salju. Tetapi, itu tak membuat Jiyeon membolos seperti kemarin. Ia akan dihukum oleh ibunya jika sering membolos kuliah.

Seperti biasa dan seperti sebelumnya, Myungsoo menjemput Jiyeon. Jiyeon turun dari kamarnya dan mendapatkan Myungsoo sedang sarapan bersama keluarganya di ruang makan. Jiyeon pun mempercepat langkahnya karena ia sedang sangat lapar sekarang.

Morning,” Sapa Jiyeon sambil menggeser bangku yang berada di sebelah Jiyeon dan kemudian duduk.

Morning” Balas yang lainnya.

Hari ini tak ada percakapan sama sekali. Tak seperti tadi malam yang penuh dengan percakapan. Ya, mungkin mereka lelah untuk berbicara karena tadi malam mereka memang banyak berbicara. Mungkin.

Setelah menghabiskan beberapa menit, akhirnya Jiyeon dan Myungsoo pun berangkat ke kampus bersama.

Di dalam mobil Myungsoo, Jiyeon diam tak berbicara sepatah kata pun seperit tadi saat sarapan di rumahnya. Gadis itu masih sibuk melihat turunnya salju dari kaca mobil Myungsoo.

“Jiyeon-aaah”. Panggil Myungsoo. Tidak. Ini lebih terdengar seperti sebuah ‘rengekkan’ dibanding ‘panggilan’.

Jiyeon menoleh dan menatap Myungsoo lekat. “Ne?”

Anio. Kau baik-baik saja?” Tanya Myungsoo.

“Oh ayolah Myungsoo-ssi, kau selalu saja menanyakan hal itu. See, aku baik-baik saja ‘kan? Jangan khawatir seperti itu hey”. Ujar Jiyeon. Tanpa sadar, ia memanggil Myungsoo dengan embel-embel –ssi daripada –ya.

“Jangan panggil aku dengan sebutan ssi. Tak salah ‘kan jika aku mengkhawatirkanmu? Aku temanmu”. Ini adalah jawaban yang sama seperti balasan pesan Myungsoo beberapa hari yang lalu.

Jiyeon hanya mengeluarkan senyum tipisnya dan kembali menatap salju dari balik kaca mobil Myungsoo.
***
JIYEON POV

Sekarang, aku sedang berada di perpustakaan kampus. Sekarang, aku sedang tidak ada kelas. Jadi, aku memilih untuk pergi ke perpustakaan. Ya, seperti biasa, saat aku tidak ada kelas aku akan pergi ke kantin, taman, halaman ataupun perpustakaan. Ah, kadang juga aku pergi ke atap kampus.

Aku memilih-milih buku yang tersusun rapih di rak buku ini. Saat aku hendak mengambil buku, tiba-tiba buku itu sudah dipegang duluan oleh sebuah tangan yang entah milik siapa. Aku menolehkan kepalaku dan ternyata yang memegang buku itu adalah Rayeon.

“Ah, mianhae”. Ucapku sambil sedikit membungkuk ke arahnya.

Anieyo. Ambil saja. Kau membutuhkannya bukan?” Balas Rayeon sambil menyodorkan buku yang tadi ingin aku ambil.

“Tidak juga. Kau saja yang mengambilnya. Aku mencari buku yang lain saja”. Balasku kemudian pergi dari hadapan Rayeon dan keluar dari perpustakaan ini.

AUTHOR POV

Jiyeon berjalan ke arah atap kampusnya. Jika, ia tidak menemukan tempat yang bagus saat kelas kosong, ia akan pergi ke atap. Menurutnya, di atap sekolah lebih nyaman karena sepi dan udaranya juga sejuk.

Tetapi, sekarang sedang turun salju. Apa Jiyeon gila ingin pergi ke atap kampus kala salju turun dengan derasnya seperti ini?
Sesampainya di atap, ia mendudukkan tubuhnya ditembok besar yang berada di atap sekolahnya itu. Dingin. Itu yang Jiyeon rasakan sekarang.

Tubuhnya menggigil. Ia mengusap-usap tangannya dan sesekali merapatkan jaket tebal dan berbulu yang ia pakai sekarang.

Tiba-tiba ia merasakan bahwa pintu atap kampusnya itu terbuka. Ia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Myungsoo yang datang ke atap.

“Apa kau gila? Sekarang sedang turun salju dan kau malah ke atap? Apa kau mau mati menggigil disini?” Tanya Myungsoo sambil duduk di sebelah Jiyeon.

“Kau lebih gila. Kenapa malah ikut-ikutan kesini?” Balas Jiyeon yang membuat Myungsoo diam tak bisa menjawab. Myungsoo telah di skakmat oleh Jiyeon.

“Baiklah langsung saja”. Ujar Myungsoo.

Jiyeon kembali menolehkan kepalanya ke arah Myungsoo yang sedang melihat turunnya salju. “Mwo?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Nanti sore. Apa kau sibuk?” Tanya Myungsoo menolehkan kepalanya juga menatap Jiyeon. Mata mereka bertemu.

Anio,” Balas Jiyeon singkat.

“Bisa nanti kita ke di café biasa? Aku akan menjemputmu”. Ujar Myungsoo masih menatap Jiyeon. Begitu pula sebaliknya.

“Tentu. Ada apa memangnya?”

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu…”

JIYEON POV

Apa yang barusan ia katakan? Ada yang ingin dibicarakan? Oh apa itu? Aku paling tidak suka dibuat penasaran seperti ini. Kuharap, itu bukan sesuatu yang menyakitkan dan membuatku menangis. Kuharap begitu.

Arraseo”. Ucapku sambil tersenyum.

Aku mengeratkan jaket yang aku pakai. Dan sesekali, aku juga mengusap-usapkan tanganku lalu meniupnya pelan. Tentu saja aku kedinginan. Apalagi, jaket yang aku pakai sekarang ini sangat tipis. Sebenarnya, bukan jaket, tetapi hanya sweater saja.

“Kau kedinginan?” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Tiba-tiba, ia memasangkan jaketnya ke tubuhku. “Apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil menengok ke arahnya.

“Sudahlah diam saja”.

Sekarang sudah pukul 1. Seharusnya aku masih ada satu kelas lagi. Tetapi, mataku begitu mengantuk. Jika aku tetap memaksakan diri, yang ada nanti aku akan tertidur di kelas dan akhirnya pun di suruh keluar. Jadi, aku memilih untuk pulang saja. Ya, dan juga sambil menunggu sore nanti.

Aku pulang sendiri ke rumah. Myungsoo masih berada di kampus karena Ia masih ada beberapa kelas lagi. Entahlah akhir-akhir ini aku merasa sangat malas. Sering membolos. Mahasiswi yang tak patut dicontoh. Ugh.

Eomma, aku pulang”. Ucapku.

Tidak ada jawaban. Berarti ibuku sedang pergi ke suatu tempat. Ya, paling urusan pekerjaan. Apalagi? Ibuku bukan orang yang mudah pergi ke luar rumah. Shopping saja ia tak mau. Ia keluar rumah jika sedang liburan atau bekerja saja. Selain itu? Tidak pernah.

AUTHOR POV

Jiyeon pergi ke kamarnya yang letaknya di atas. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh tingginya di atas kasur yang berukuran king itu.

Jiyeon mengambil ponsel yang tadi ia taruh di dalam tas berwarna coklat miliknya itu. Ia menyalakan ponselnya karena tadi sempat ia matikan. Jiyeon tidak memainkan apapun. Ia hanya menatap layar wallpaper ponsel miliknya yang terdapat gambar Myungsoo dan dirinya.

“Kenapa kau selalu membuatku penasaran? Kuharap, kau tidak membuatku menangis lagi… kuharap”. Gumam Jiyeon sambil mengusap gambar Myungsoo pelan dan tersenyum tipis.

Ia mendekap ponselnya itu. Kemudian ia memejamkan matanya. Tak lama setelah itu, ia pun tertidur.

MYUNGSOO POV

Ish jinjja. Kemana perempuan itu? Kenapa tidak keluar juga? Oh aku sudah tiga puluh menit lebih berada di depan pintu rumahnya ini.

Walaupun aku teman dekatnya, dan sudah sangat akrab dengan keluarganya. Tetapi, tetap saja tidak sopan jika aku langsung masuk begitu saja ke dalam rumah ini. Apalagi aku ini adalah seorang laki-laki.

Aku sudah menelpon dia tetapi, tak ada jawaban sama sekali. Oh sungguh. Wanita itu benar-benar…

CIITTT

Aku mendengar suara mobil berhenti. Langsung saja aku menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah ibu Jiyeon. Oh syukurlah.

“Myungsoo-ya?” Tanya ibu Jiyeon bingung.

“Kenapa diluar? Kenapa tidak masuk saja?” Sambungnya.

Anio, eommeonim, tidak enak saja, hehehe,” Balasku sambil tertawa renyah.

“Ah, kajja masuk”. Ucap ibu Jiyeon sambil menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya itu.

Aku pun mengikuti ibu Jiyeon dari belakang. Aku duduk di sofa yang berada di ruangan ini. Tentu saja karena disuruh oleh ibu Jiyeon. “Tunggu sebentar. Akan eomma panggilkan Jiyeon”. Ucap ibu Jiyeon sambil mengelus tanganku pelan. Aku pun menangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.

AUTHOR POV

Selagi menunggu ibu Jiyeon yang sedang memanggil Yoona yang sekarang entah sedang melakukan apa, Myungsoo memilih untuk memainkan ponselnya dan mengirim pesan untuk seseorang.

Sedangkan di kamar Jiyeon, Jiyeon sendiri masih meringkuk di atas tempat tidurnya itu. Ya, tadi ia sempat ketiduran setelah memandangi wallpaper ponselnya yang tak lain adalah gambar dari Myungsoo dan dirinya.

CEKLEK

Ibu Jiyeon membuka pintu kamar Jiyeon. Ia menggeleng pelan sambil berdiri di depan pintu kamar Jiyeon. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar Jiyeon dan membangunkan anak perempuannya itu.

“Jiyeon-ah, ireona,” Panggil ibu Jiyeon sambil mengguncangkan tubuh Jiyeon pelan.

Jiyeon menggeliat pelan. Ia merubah posisi tidurnya membelakangi ibunya. Sekali lagi, ibu Jiyeon menggeleng kecil melihat kelakuan anaknya. “Jiyeon-aaah, ada Myungsoo di bawah,” Ujar ibu Jiyeon. Mendengar itu, Jiyeon langsung membuka matanya. “Mwo?!” Tanya Jiyeon kaget.

Ibu Jiyeon menjawab, “Ne,”. Jiyeon mengernyitkan dahinya dalam diam. Ia bingung. Kenapa tiba-tiba Myungsoo datang ke rumahnya? Biasanya, Myungsoo akan bilang terlebih dahulu kepada Jiyeon jika ia ingin datang ke rumahnya.

Mungkin Jiyeon lupa akan sesuatu.

Jiyeon bangkit dari tidurnya. Ia duduk dipinggir ranjangnya itu. “Kenapa Myungsoo datang kesini?” Tanya Jiyeon bingung.

Eomma juga tidak tau, tetapi sepertinya ia sudah lama disini. Tidak, lebih tepatnya di luar rumah karena tadi saat eomma pulang dari kantor ia sedang berdiri di depan pintu rumah”. Balas ibu Jiyeon.

“Oohh”. Jawab Jiyeon sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kecil.

MWO?!!!” Benar. Jiyeon lupa akan suatu hal. Ia lupa kalau tadi saat di atap kampus, Jiyeon akan ke café yang biasa ia kunjungi dengan Myungsoo. Dan Myungsoo bilang, ia akan menjemput Jiyeon. Oh, Jiyeon babo

Eomma, tolong keluar nde? Aku ingin ganti baju…” Mohon Jiyeon. Ibu Jiyeon mengangguk dan tersenyum kecil.

Setelah ibunya sudah keluar dari kamarnya, Jiyeon menghela napas pelan. Ia pun bangkit dari duduknya dan beralih ke kamar mandi. Jika kau pikir Jiyeon akan membersihkan dirinya terlebih dahulu alias mandi, kau salah besar. Jiyeon tidak mandi, ia hanya membasuh mukanya dengan sabun khusus dan menyikat giginya saja.

Setelah selesai membasuh mukanya dan menyikat giginya, Jiyeon keluar dari kamar mandi. Ia beralih ke lemari yang berada di pojok kamarnya ini. Ia memilih-milih pakaian yang akan ia pakai nanti. Sudah sekitar lima pakaian yang ia pakai tetapi tidak ada yang cocok menurutnya. Yang satu terlalu ramai, yang satu terlalu feminim, yang satu terlalu mencolok, dan berbagai alasan lainnya. Andai saja tadi Jiyeon tidak ketiduran, mungkin ia akan memanggil Hyomin—sahabatnya—untuk memilihkan pakaian yang cocok untuknya. Jika sudah begini, ia yang repot sendiri, ‘kan?

Setelah beberapa menit memilih pakaian yang cocok untuknya, akhirnya Jiyeon menemukan pakaian yang cocok juga. Ya, pakaian itu tidak terlalu feminim dan juga tidak terlalu tomboy. Hanya dengan baju yang memperlihatkan pusarnya dengan celana yang tidak terlalu pendek ia akan pergi ke café dengan Myungsoo. Ia juga memakai kalung yang bertuliskan huruf ‘J’ karena huruf J adalah awal dari namanya, ‘Jiyeon’. Rambutnya ia biarkan terurai begitu saja. Oh siapapun yang melihatnya akan mengatakan ‘wow cantik’. Tetapi, ada juga yang mengatakan ‘perempuan ini bodoh atau apa? Cuaca sedang dingin seperti ini ia memakai baju yang seperti itu?’ Benar. Cuaca sekarang sedang sangat dingin.

Setelah merasa sudah rapih dan cantik, Jiyeon pun keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui Myungsoo.

Sesampainya di bawah, Jiyeon langsung duduk disebelah ibunya. “Mianhae karena membuatmu menunggu lama,”. Ujar Jiyeon sebelum meneguk jus jeruk yang sudah tersedia di atas meja. “Kajja,” Sambungnya sambil berdiri.

Eomma, aku pergi dulu nde. Annyeong…” Pamit Jiyeon sambil mencium pipi ibunya singkat. “Aku juga, eommeonim”. Myungsoo ikut berbicara. Ia juga bangkit dari duduknya dan mencium pipi ibu Jiyeon singkat.

Nde, hati-hati. Jangan pulang terlalu larut ya? Tidak baik untuk remaja seperti kalian”. Balas ibu Jiyeon yang mendapat anggukkan dari Jiyeon dan Myungsoo. Setelah itu, mereka pun berangkat.

***

JIYEON POV

Sekarang, aku berada di dalam mobil Myungsoo. Entah sedari tadi ia tidak menjalankan mobilnya dan malah melihatku terus. Apa ada yang salah dari penampilanku? Kurasa tidak ada. Jadi kenapa ia melihatku seperti itu terus?

“Jiyeon-ah, otakmu itu masih berfungsi dengan baik ‘kan?” Tanya Myungsoo tiba-tiba. Apa-apaan dia?

“Tentu saja. Kenapa memangnya?” Jawabku angkuh.

“Kau tau ‘kan kalau sekarang ini sedang dingin sekali? Hm?”

“Tentu”.

“Lalu, kenapa kau malah memakai baju yang memperlihatkan pusarmu itu?”

Oke. Sekarang aku menyadari kenapa ia melihatku terus menerus seperti tadi. Jadi karena pakaian yang aku pakai ini? Aku melihat tubuhku dari bawah. Benar. Hanya orang gila yang akan memakai pakaian seperti ini dicuaca yang dingin seperti sekarang. Jadi, aku termasuk orang gila itu? Maldo andwae.

“Aku juga tak tau”. Jawabku sekenanya.

“Sudahlah, jangan banyak bicara. Kita langsung ke café saja. Kau dengarkan kata eomma tadi? Kita tidak boleh pulang terlalu larut”. Sambungku.

Setelah itu, Myungsoo pun mulai menjalankan mobilnya.

Selama di dalam mobil, tak ada satu percakapanpun di antara kami berdua. Baik dari aku ataupun Myungsoo. Myungsoo memang jarang berbicara jika sedang di mobil, ia tentu saja fokus menyetir. Sedangkan aku memang lebih suka melihat pemandangan dari kaca mobil ini.

Cha, sudah sampai”. Ucap Myungsoo sambil memberhentikan mobilnya di depan café. Aku mengangguk dan membuka sabuk pengaman. Saat aku hendak membuka pintu mobil ini, tiba-tiba Myungsoo memegang lenganku.

“Kau ingin dibilang ‘orang gila’? Pakai ini,” Ucapnya sambil memakaikan jaket ke tubuhku. Aku melongo seketika. Tak lama setelah itu, aku mengangguk dan tersenyum. “Gomapta”. Balasku.

“Aaah geunde, apa kau tidak kedinginan?” Tanyaku sebelum membuka pintu mobilnya. Myungsoo menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

Aniya, aku sudah memakai dua jaket”. Balasnya. Aku mengangguk dan kemudian turun dari mobil ini.

Aku dan Myungsoo pun masuk ke dalam café itu. Kami duduk dibangku yang dekat dengan jendela café ini. Kami memang suka memilih tempat di dekat jendela jika sedang di café. Karena, kami bisa melihat pemandangan di luar dari jendela ini.

“Mau pesan apa?” Tanya Myungsoo.

Ice americano saja”. Balasku. Myungsoo mengangguk dan pergi ke pelayan café ini.

Sambil menunggu Myungsoo yang sedang memesan pesanannya. Aku memilih untuk memainkan ponselku dan memainkan game favorit-ku.

“Pesanan datang,” Myungsoo mengagetkanku. Hampir saja aku melempar ponselku ini karena kaget.

“Ugh kau ini”. Balasku.

Myungsoo menaruh nampan yang berisi ice americano milikku serta bubble tea miliknya di atas meja. Ia menyeruput bubble tea miliknya. Begitu pula denganku.

“Langsung saja. Ada apa?” Tanyaku to the point.

Myungsoo terlihat berdehem kecil dan merapikan bajunya. Kemudian ia merogoh kantong celana panjang yang ia pakai. Wow. Apa aku tidak salah lihat? Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin. Oh tolong katakan ini bukan mimpi.

Aku menepuk-nepuk pipiku pelan dan mencubit lenganku. Tidak. Ini nyata! Ini nyata! Ini bukan mimpi! Oh Tuhan, jadi selama ini perasaanku tidak sia-sia? Perasaanku terbalas? Oh Tuhan, terima kasih. Terima kasih banyak.

“Jiyeon-ah, maukah kau menjadi pendamping hidupku untuk seumur hidup? Maukah kau menikah denganku?” Ujar Myungsoo sambil membuka kotak cincin itu. Oh Tuhan, tanpa harus ditanya pun aku tentu saja akan menjawab iya. Ah betapa senangnya aku hari ini.

“Tentu. Tentu saja aku mau”. Tes. Tanpa sadar, sebulir air mata keluar dari pelupuk mataku. Aku menangis. Ya aku menangis. Tentu saja ini tangisan bahagia. Tidak ada orang yang menangis sedih ketika seseorang yang ia cintai menyatakan perasaannya. Mustahil.

“Yashhh!!!” Dia terlihat sangat senang. Aku mengulum senyum tipis dan mengelap air mata yang terjatuh dipipi ku.

“Jiyeon-ah. Gomapta! Terima kasih banyak!” Ujarnya. Aku mengangguk dan tersenyum kembali.

“Terima kasih untuk apa?” Tanyaku basa-basi.

“Karena kau telah membantuku. Kau telah membantuku untuk menyatakan cintaku pada Rayeon. Ya, aku ingin menyatakan perasaanku pada Rayeon. Awalnya, aku tidak berani dan gugup. Tetapi, mendengar jawabanmu tadi, aku menjadi merasa percaya diri dan rasa gugupku telah hilang begitu saja. Terima kasih Jiyeon, terima kasih,”

Bagaikan disambar petir di sore hari. Apa yang barusan ia katakan? Aku hanya dijadikan percobaan untuknya? Jadi, yang ia katakan tadi tidak benar? Jadi, sebenarnya ia ingin mengungkapkan kata-kata itu kepada Rayeon, bukan kepadaku? Aku hanya dijadikan per-co-ba-an? Apa maksud dari semua ini? Ku harap ini semua mimpi. Ku harap ini mimpi. Ku mohon, bangunkan aku jika ini mimpi. Ku mohon Ya Tuhan…

Jiyeon-ah, kenapa diam saja?” Tanya nya karena aku tidak menjawab ucapannya tadi.

N-ne? a-ah, cheonmaneyo, semoga kau sukses, Myungsoo-ya…” Jawabku pada akhirnya.

Aku tersenyum. Tentu saja itu adalah senyum paksaan. Siapa yang bisa tersenyum tulus disaat seperti ini? Myungsoo-ya, kenapa kau selalu membuatku terbang tinggi lalu menjatuhkanku secara tiba-tiba? Kenapa? Kenapa ini semua harus terjadi? Apa kau memang bukan takdirku? Apa aku memang tidak pantas memilikimu? Kenapa? Kenapa ini semua harus terjadi, ya Tuhan…

***

AUTHOR POV

Jiyeon dan Myungsoo keluar dari café ini. Mereka memutuskan untuk pulang saja. Walaupun mereka belum lama berada di café ini. Sebenarnya, bukan ‘mereka’ yang ingin pulang. Tetapi, Jiyeon yang ingin pulang. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. Terlalu sulit baginya.

“Myungsoo-ya, aku pulang sendiri saja,” Ujar Jiyeon saat berada di depan pintu mobil Myungsoo.

Mwo? Wae?” Tanya Myungsoo bingung. Ia mengernyitkan dahinya.

Anio, aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, semoga kau sukses untuk mendapatkan Rayeon, Myungsoo-ya, aku mendukungmu. Jangan putus asa”. Balas Jiyeon. Ia menepuk bahu Myungsoo pelan sambil tersenyum tipis. Sekali lagi, itu adalah sebuah ‘senyum paksaan’.

Myungsoo mengangguk dan membalas senyuman Jiyeon. “Hati-hatilah. Dan, kau pakai saja jaketku ini, cuaca masih dingin”. Ujar Myungsoo sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Setelah Myungsoo masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil itu, Jiyeon menatap miris mobil berwarna putih itu. Air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia menangis.

Tak lama setelah itu, Jiyeon pergi dari café ini. Ia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki sambil menutupkan mulutnya. Ia menangis sambil sesegukkan. Beberapa orang yang melihatnya terlihat bingung.

***

Jiyeon sampai di rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumahnya itu, Jiyeon berdiri di depan pintu sambil menarik nafasnya panjang setelah itu menghembuskannya perlahan. Ia tidak ingin memendam ini sendiri. Ia tidak kuat menahannya. Ia ingin menceritakannya kepada ibunya. Ia merasa sia-sia jika harus mencurahkan isi hatinya hanya kepada sebuah buku diary kecil. Ia yakin, ibunya pasti akan memberikan jalan yang terbaik.

Setelah cukup lama berdiri di depan pintu rumahnya, Jiyeon pun memegang kenop pintu itu dan memutarnya. Setelah pintu terbuka cukup lebar, ia pun masuk ke dalam rumah yang mewah itu.

Ia melihat ibunya sedang berada di ruang keluarga. Ibunya sedang menonton televisi. Jiyeon mendekatkan dirinya pada ibunya. “E-eomma”. Panggil Jiyeon pelan dan terdengar menyedihkan. Ibu Jiyeon menoleh. Dari wajahnya terlihat bahwa ia sangat khawatir.

Nyonya Park—Ibu Jiyeon—bangkit dari duduknya. Ia menghampiri anak perempuannya itu. “Jiyeon-ah, neo gwaenchana?” Tanya Nyonya Park khawatir. Nyonya Park memegang pipi anaknya itu.

Jiyeon tersenyum tipis melihat ibunya yang khawatir dengan dirinya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia menaruh kepalanya dipundak ibunya. Ia menangis dalam dekapan ibunya itu. Jiyeon menangis sampai sesegukkan.

Nyonya Park semakin dibuat khawatir oleh anaknya itu. Ia mengelus punggung anaknya yang sedang menangis didalam dekapannya. “Uljima chagiya”. Ujar Nyonya Lee.

Bukannya semakin tenang, Jiyeon justru malah semakin menangis. Nyonya Park melepas pelukan anaknya dan berucap, “Tenang sayangku. Ceritakan pada eomma saja”. Ujarnya. Setelah itu, Nyonya Park kembali memeluk anaknya itu lagi.

JIYEON POV

Aku menceritakan apa yang terjadi selama ini pada diriku dan Myungsoo. Aku menceritakan bahwa aku memang menyukai Myungsoo. Dan kejadian tadi sore pun tak aku lupakan. Ibuku juga mendengarkannya dengan teliti.

“Jadi karena itu kau menangis tadi saat pulang dari café?” Tanya ibuku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

“Kenapa kau tidak menceritakan bahwa kau menyukai, ah ani, mencintai Myungsoo sejak lama? Kau bilang kau sudah mencintai dia sejak umurmu tujuh belas tahun ‘kan?” Tanya ibuku lagi.

“Aku terlalu malu untuk mengatakan hal itu sebenarnya, jadi hanya aku dan Tuhan saja yang tau perasaanku itu”. Balasku menunduk.

Ibuku mendekat ke arahku. Tiba-tiba ia memeluk tubuhku erat. Entahlah, setiap kali dipeluk oleh ibuku aku merasa tenang dan hangat. Beban yang berada di pundakku seakan hilang dan jatuh begitu saja.

“Mulai sekarang, kalau terjadi sesuatu ceritakanlah pada eomma, jangan menanggung beban itu sendirian. Berdiam diri bukanlah jalan keluar, Jiyeon. Eomma akan selalu mendengarkan keluh kesahmu sayang,”.

***

Sekarang, aku berada di kamarku. Aku masih meringkuk di atas tempat tidurku. Sepertinya aku insomnia. Tidak biasanya aku belum tidur jam sembilan atau sepuluh malam. Tetapi sekarang sudah pukul setengah sebelas dan aku belum tidur juga?

Aku bangkit dari tidurku dan mengambil ponsel yang berada di atas meja belajarku. Aku nyalakan ponsel itu. Wow, ada sepuluh pesan dari Myungsoo, lima panggilan tidak terjawab dari Rayeon? Ada apa dia menelponku? Tumben sekali.

Aku memilih untuk menelpon Rayeon daripada harus membaca pesan dari Myungsoo.

Yeoboseyo?”
“…”
“Ah, Rayeon-ah, kenapa kau menelponku? Ada apa?”
“…”
Jinjja? Ah, chukhahae Rayeon-ah
“…”
Anio, aku tidak kenapa-kenapa. Sudah dulu ya, aku ingin tidur. Annyeong, dan selamat untuk hubunganmu dengan Luhan”
“…”

PIP

Aku mematikan sambungan telepon itu. Kau tau kenapa Rayeon menelponku sebanyak lima kali? Ia hanya ingin mengatakan terima kasih padaku. Alasannya? Sama seperti yang tadi sore Myungsoo katakan.

Ya benar. Myungsoo menyatakan cintanya pada Rayeon tadi malam saat pukul delapan. Beberapa jam setelah Myungsoo pulang dari café.

Aku membaringkan tubuhku di atas ranjangku lagi. Aku memilih untuk tidur saja walaupun sebenarnya aku tidak mengantuk. Aku menarik selimut yang berada di kakiku dan memakaikannya ke tubuhku. Lalu aku pun mulai tertidur.

***

“Jiyeon-ah, ireona”. Panggil ibuku.

Aku menggeliat di atas tempat tidurku. Aku membuka kedua mataku dan merasakan cahaya matahari yang menembus jendela kamarku. Begitu terik. Oh jam berapa ini?

Aku duduk dipinggir ranjang dan mengusap kedua mataku pelan. “Eomma, jam berapa sekarang?” Tanyaku setengah sadar.

“Ish. Cepat bangun, Myungsoo dan seseorang entah siapa eomma tidak tau sudah menunggumu di bawah, ppali ppali”. Ibuku menyuruhku untuk bangun dan segera membersihkan diriku

Tapi tunggu dulu, siapa yang datang dengan Myungsoo? Apakah dia Rayeon? Kenapa dia ikut datang menjemputku? Apa mereka ingin memamerkan kemesraan di depanku? Semua pertanyaan itu berputar di otakku.

AUTHOR POV

Myungsoo dan Rayeon masih setia menunggu Jiyeon di ruang tamu. Tangan mereka masih bertautan. Seakan tidak ingin kehilangan pasangannya.

Setelah lama menunggu, akhirnya Jiyeon pun turun ke bawah untuk menemui mereka berdua—Myungsoo dan Rayeon—. Ternyata benar dugaanku, Rayeon yang ikut datang dengan Myungsoo, batin Jiyeon.

Jiyeon berjalan ke arah mereka dan duduk di depan mereka. Ia meneguk teh manis yang sudah tersedia di atas meja ruangan tamu itu. “Maaf karena membuat kalian menunggu,” Ujar Jiyeon setelah selesai meneguk minumannya itu. Myungsoo dan Rayeon hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.

“Tunggu apa lagi?” Tanya Jiyeon dingin.

“Maksudmu?” Rayeon balik bertanya. Oh betapa bodohnya perempuan ini, batin Jiyeon. Ia menghela napasnya panjang dan tersenyum tipis ke arah Rayeon.

“Kita berangkat, Rayeon-ah”. Jawab Jiyeon dengan suara yang dibuat-buat menjadi lebih imut.

Myungsoo dan Rayeon bangkit dari duduknya. Begitu pula dengan Jiyeon. Mereka tidak berpamitan kepada Nyonya Park karena, setelah membangunkan Jiyeon tadi, Nyonya Park langsung berangkat ke kantornya.

Jiyeon berdiri di depan mobil Myungsoo. “Kenapa tidak masuk, Jiyeon?” Tanya Myungsoo bingung. Jiyeon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam mobilnya. Kali ini, ia tidak duduk disamping Myungsoo, melainkan duduk dibelakang sendirian.

“Jiyeon-ah, kenapa tidak didepan saja?” Tanya Rayeon. “Anio, gwaenchana”. Balas Jiyeon sambil melihat pemandangan dari kaca mobil.

Tak lama setelah itu, Myungsoo menjalankan mobilnya.

Di dalam mobil, Jiyeon seperti dianggap tidak ada oleh Rayeon maupun Myungsoo. Mereka berdua terus saja mengobrol dan bercanda seperti yang dilakukan Myungsoo dan Jiyeon sebelum Myungsoo dan Rayeon berpacaran. Sedangkan Jiyeon sendiri? Ia masih setia memandang pemandangan di luar dari kaca mobil ini. Sesekali ia mendengus pelan. Aku menyesal harus berangkat bersama kalian, seharusnya aku berangkat sendiri saja, ah atau aku tidak usah kuliah saja, batin Jiyeon.

Sesampainya di kampus, Jiyeon memilih untuk pergi duluan ke kelas. Ia tidak ingin dicampakkan lagi oleh Myungsoo maupun Rayeon. “Aku duluan ya, annyeong”. Ucap Jiyeon dan berlari menjauhi mereka berdua. Myungsoo menatap punggung Jiyeon yang semakin menjauh dari pandangannya. “Apa hanya aku yang merasa kalau dia berbeda hari ini?” Gumam Myungsoo tetapi masih dapat didengar oleh Rayeon yang berada di sampingnya. Rayeon menjawab, “Aku pun begitu”.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Hari ini, Jiyeon mengikuti semua kelas. Ia tidak membolos hari ini. Entahlah hari ini sepertinya semangat belajarnya berkobar kembali, tidak seperti beberapa hari yang lalu, ia bermalas-malasan.

Sebelum pulang ke rumahnya, Jiyeon memilih untuk pergi ke kantin terlebih dahulu. Perutnya masih terasa lapar walaupun beberapa jam yang lalu ia sudah makan di kantin.

Jiyeon datang ke ahjumma penjual di kantin ini. Ia hanya memesan sepiring bulgogi dengan satu ice americano.

Ahjumma, bulgogi satu dan juga ice americano”. Ucap Jiyeon tersenyum.

Ahjumma itu mengangguk dan membuatkan pesanan Jiyeon. Setelah sekitar lima menit menunggu, akhirnya pesanan Jiyeon sudah siap. Jiyeon mengambil dompet yang berada di dalam tasnya kemudian ia membayar bulgogi serta ice americano yang ia pesan itu dan kemudian membawa makanan dan minuman itu ke sudut kanan kantin ini.

Ia menyantap bulgogi pesanannya itu dengan nafsu. Setelah selesai memakan bulgogi sampai habis. Jiyeon meneguk ice americano nya juga sampai habis. Oh betapa rakusnya perempuan ini.

Jiyeon bangkit dari duduknya dan berniat untuk pulang. Ia melihat Myungsoo dan Rayeon sedang berada di kantin ini juga. Mereka terlihat sangat romantis. Saling menyuapkan makanan. Iri? Pasti. Sebegitu cintanya kah Myungsoo dengan Rayeon? Hingga ia mulai melupakanku? Kalau ia baru berada di sini, kenapa ia tidak menyapaku? Aku tak kuat dengan semua ini. Aku tak tahan dengan semua ini, batin Jiyeon Air matanya sudah membendung di pelupuk matanya. Langsung saja Jiyeon berlari keluar dari café ini dan pulang ke rumahnya.

***

Sudah dua bulan lebih Jiyeon seperti dicampakkan begitu saja oleh Myungsoo. Bahkan, sekarang Myungsoo pun tidak pernah menjemputnya lagi untuk berangkat kuliah bersama. Terakhir kali mereka berangkat bersama sekitar satu bulan yang lalu. Sebegitu cintanya kah Myungsoo dengan Rayeon? Jiyeon sering berpikir seperti itu.

Jiyeon tidak kuat menahan ini semua. Ia tidak sanggup melihat kemesraan antara Myungsoo dan Rayeon setiap harinya. Sudah sangat banyak air matanya yang keluar hanya karena itu.

Hari ini Jiyeon tidak kuliah. Matanya sembab karena terus menangis setiap harinya. Malu jika ia kuliah dengan mata yang sembab seperti ini. Pasti ia akan ditertawakan oleh orang-orang yang berada di kampusnya.

Jiyeon tidak kunjung keluar dari kamarnya sejak tadi pagi. Ia terus menyendiri di kamarnya. Bahkan ia pun belum makan sama sekali dari tadi pagi. Tentu saja hal itu membuat ibu serta ayahnya khawatir.

“Jiyeon-ah, buka pintunya nak, eomma tidak ingin kau sakit”. Ucap Nyonya Park sambil mengetuk pintu kamar anaknya itu. Ia juga membawa makanan favorit Jiyeon.

“Apa ia masih tidak mau keluar, yeobo?” Tuan Park tiba-tiba datang.

Nyonya Park hanya mengangguk lemas.

“Jiyeon-ah, kau boleh meminta apapun jika kau membuka pintunya, appa mohon chagiya”. Kali ini, Tuan Park ikut berbicara.

CEKLEK

Jiyeon membuka pintu kamarnya. Ia menunduk lesu. Ia tak berani menampakkan wajahnya yang pucat dan matanya yang sembab. Terlalu malu untuknya. Tuan Park dan Nyonya Park bernafas lega melihat anaknya keluar dari kamarnya. Tetapi, mereka dilanda rasa khawatir lagi kala melihat wajah Jiyeonyang pucat dan juga matanya yang sembab.

“Jiyeon-ah, kau kenapa?” Tanya Nyonya Park sambil memegang kedua pipi Jiyeon.

Anio eomma, nan gwaenchana”. Balas Jiyeon pelan. Sangat pelan hingga seperti sebuah bisikkan.

Appa, tadi appa bilang, kalau Jiyeon keluar dari kamar, Jiyeon boleh meminta sesuatu ‘kan? Apapun itu?” Tanya Jiyeon. Ia masih enggan untuk menampakkan wajahnya.

“Tentu. Katakan saja apa yang kau mau,”

“Jiyeon ingin melanjutkan sekolah di Amerika saja,”

M-MWO?!

“Boleh atau tidak?”

“Te-tentu ch-chagiya, nanti akan appa urus semua itu,”

***

Sehari sebelum Jiyeon akan berangkat ke Amerika, ia memilih untuk menemui Myungsoo terlebih dahulu. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya itu.

Jiyeon duduk disalah satu bangku yang berada di taman sekitar kawasan Seoul. Sudah dua puluh menit lebih ia menunggu Myungsoo tetapi pria itu belum datang juga.

Dari kejauhan, terlihat seorang pria yang tengah berlari tergopoh-gopoh ke arah tempat Jiyeon duduk sekarang. Jiyeon tersenyum kala mengetahui pria itu adalah Myungsoo.

“Maaf karena membuatmu menunggu lama”. Ucap Myungsoo.

Gwaenchana, anja”. Balas Jiyeon tersenyum.

“Myungsoo-ya, aku tidak tau harus memulai darimana. A-aku tidak ingin berbohong lagi padamu. A-aku mencintaimu…”

Mwo? Tapi, Jiyeon kita ‘kan hanya sebatas…”

“Aku tau aku tau, dan aku juga ingin mengucapkan selamat tinggal untukmu. Dan juga untuk Rayeon, aku tidak ingin kau bertanya lagi. Aku akan pergi ke Amerika dan melanjutkan sekolahku di sana. Semoga kau bahagia dengan Rayeon, Annyeong Myungsoo-ya”. Jiyeon bangkit dari duduknya. Ia tersenyum sebelum pergi meninggalkan pria dihadapannya itu.

Myungsoo terpaku di tempatnya. Pandangannya kosong. Tenggorokkannya seperti tercekat sehingga ia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Apalagi, Jiyeon tadi tidak membiarkannya menyela hingga ia benar-benar terdiam seperti ini.

***

Hari dimana Jiyeon akan pergi ke Amerika telah tiba. Jiyeon sudah mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya nanti. Sekarang, ia tinggal menunggu Shin Ahjussi yang akan menjemputnya ke bandara nanti.

Eomma, appa, aku akan sangat merindukan kalian berdua,” Ujar Jiyeon tersenyum.

“Eomma juga, nanti eomma dan appa akan sering-sering ke sana untuk menengokmu,”

Jiyeon mengangguk. Terdengar suara klakson mobil di depan rumah Jiyeon. Jiyeon yang tau siapa yang datang langsung menyeret kopernya ke luar. Diikuti oleh Tuan dan Nyonya Park.

Setelah sampai di bandara, Jiyeon masih harus menunggu beberapa menit lagi. Ia duduk sambil memainkan ponselnya. Tuan dan Nyonya Park tidak sempat mengantarnya ke bandara karena ada urusan pekerjaan.

Beberapa menit lagi, pesawat yang akan Jiyeon tumpangi akan take off, Jiyeon pun bersiap-siap. Jiyeon bangkit dari duduknya, tiba-tiba ada seseorang yang memegang lengannya. Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati sosok Myungsoo dan Rayeon.

“Apa kau sungguh ingin meninggalkan kami?” Tanya Myungsoo dengan nafas yang memburu. Pasti mereka berlari.

Tentu, aku tidak ingin menghabisi air mataku hanya untuk menangisimu,

“Tentu, aku ingin melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi,”

“Apa kau tega meninggalkanku dan Myungsoo?” Kali ini, Rayeon yang bertanya. Sama seperti Myungsoo, Rayeon bertanya dengan nafas yang tidak teratur.

Kalian saja tega bermesraan didepanku, kenapa aku harus tidak tega meninggalkan kalian berdua?

Mianhae,” Hanya itu yang mampu dikatakan Jiyeon. Walaupun apa yang bibirnya katakan bertolak belakang dengan yang hatinya katakan.

“Myungsoo-ya, Rayeon-ah, semoga kalian bisa bahagia. Aku pergi dulu, annyeong”. Jiyeon pergi meninggalkan Myungsoo dan Rayeon sendirian.

“JIYEON-AH SARANGHAEYO!” Teriak Myungsoo.

Jiyeon memberhentikan langkahnya seketika. “Nado, Myungsoo-ya, nado saranghae”. Gumam Jiyeon pelan dan melanjutkan langkahnya lagi.

END

A/N :

Hello everybody! Prllnrhmwt here^o^)/ Ini dia fanfic debutku di blog ini😀 Sebenarnya, udah banyak fanfic yang aku buat tapi ini fanfic pertama yang aku post disini mweheheh. Aku datang dengan cast Jiyeon&Myungsoo, ada yang ngeshipp mereka? Kalo ada kita sama dums /toss/ Ya, aku jelasin dulu ya biar ga ada salah paham. Aku udah pernah post fanfic ini di blog lain dengan cast Yoona & Luhan dengan versi Chaptered dan aku buat versi Jiyeon & Myungsoo dengan versi Oneshoot. Jadi muupkeun kalau nama Yoona, Luhan, Hyunra (OC) masih nyelip disini😦 Udah ya, segini aja hehe ^^ Ditunggu commentnya! Don;t be silent readers, okay? Thank You!

68 responses to “[ONESHOOT] Trapped In Friendzone

  1. Itu maksd myungsoo teriak saranghaeyo ke jiyeon apa? Cuma ungkapan biasa apa gimana?
    Nyesekkkk ngebayangin jiyeon bertepuk sebelah tangan. Hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s