[ CHAPTER – PART 7 ] COUPLE OR TROUBLE ?

COT3

Tittle : Couple or Trouble ?
Author : gazasinta
Main Cast : Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jung Soojung, Kim Jongin
Additional cast : Lee Taemin, Park Luna
Genre : Romance and Little Commedy
Rating : PG-15
Length : Chapter

Annyeong readers, ada yang menunggu ff ini kah ? Nih aku update meski Rabu dini hari : ) mian jika aku semakin lama update dan tiba-tiba PW-in ff ini, ada alasan yang ga bisa aku sebutkan, sekali lagi mian ;(

Oh aku juga mau kasih tau jika ada scene yang familiar kalian temukan di part ini, itu aku ambil dari salah satu drakor, kalo ga salah Personal Taste-nya abang Lee Minho, tapi Cuma 1 scene aja kok : )
Part ini panjang banget, jadi mian kalo banyak typo dan membosankan, aku berharap kalian tetap setia.
Terakhir
MASUKAN DAN KRITIKAN AKAN DITERIMA DENGAN LAPANG DADA

Part 7

Myungsoo’s Pov

Tik tik tik tik
Rintik hujan turun dan airnya yang masuk kedalam pori-pori tanah menimbulkan aroma khas menyeruak tajam kedalam hidung, membuyarkan lamunanku tentang sesuatu yang aku tidak tahu mengapa terus bersemayam dalam pikiranku. Sementara semilir angin masuk dari celah kaca mobil yang terbuka, terasa dingin membelai wajah menyadarkanku jika senja telah berganti malam.

Helaan nafas berat seseorang terdengar begitu jelas ditelingaku seolah menyiratkan rasa bosan. Hanya aku, ya mungkin hanya aku yang masih asyik menikmati suasana sunyi tanpa adanya suara apapun selain rintik hujan dan bisikan angin. Aku tidak ingat sejak kapan kami seperti ini, memilih untuk tidak beranjak dari dalam mobil dan memandang dalam diam jalan sepi dengan cahaya temaram di area rumah Krystal, wanita yang masih setia disampingku meski aku tahu rasa bosan sudah menyerangnya. Tidakkah ini terasa aneh ? ketika ada sepasang pria dan wanita yang baru saja bermesraan namun kini pria itu memikirkan tentang hal lainnya.

“ Biarkan saja seperti ini “ Ucapku tanpa melihat ke arah Krystal yang tangannya bergerak ke arah radio untuk menghentikan suasana hening diantara kami.

Krystal menarik tangannya dan kembali menyandarkan punggungnya pada kursi mobil “ Apa kau sedang memikirkannya ? “

Bibirku tidak segera bergerak untuk menjawab pertanyaannya, memberi kesempatan untuk otakku memilih kalimat yang tepat yang bisa mewakilkan apa yang kurasakan, apakah aku benar-benar sedang memikirkannya ? Hingga 3 menit pertanyaan Krystal berlalu, aku masih belum bisa menjawabnya.

“ Arraseo “

Kepalaku perlahan menoleh ketika mendengar kata mengerti yang Krystal ucapkan, dari bibir tipisnya yang merah terulas senyum lembut meski aku tahu itu terpaksa. Ia menunduk dan terus menganggukkan kepala seolah benar-benar mengerti dengan apa yang sedang kupikirkan. Aku masih menatap Krystal tatkala akhirnya ia kembali mendongakkan kepala dan membalas tatapanku tepat dimanik mataku.

“ Dia mencintaimu “

Raut wajahku seketika berubah dengan mata membelalak meski mulutku tetap bungkam “ Huh “ Lenguhku tersenyum hambar, ku gelengkan kepala tidak percaya dengan kesimpulannya tentang perasaan allien itu.

Ini tidak benar, mengapa harus membicarakan tentang allien itu disaat kebersamaanku dengan Krystal ? seharusnya ini bukan tentang allien itu, tapi tentang selanjutnya hubunganku dengan Krystal setelah kejadian ditoko kaset itu. Tapi nyatanya hati ini tidak bisa berbohong, sejak tadi aku memang memikirkannya, tentang allien itu. Apa yang allien itu rasakan ketika melihat kami berciuman ?

“ Apa aku bisa disebut sebagai orang ketiga ? kau selalu mengatakan tidak ada cinta dalam pernikahan kalian, dan aku…..” Krystal menghentikan kalimat yang terucap dan menarik nafasnya sejenak “ Entah mengapa aku senang mendengarnya, meskipun sampai saat ini…. aku sendiri belum mengerti tentang perasaanku padamu, yang baru saja kau lakukan, aku tidak tahu apakah harus merasa marah atau senang ? tapi sepertinya aku tidak bisa melupakannya dengan mudah” Suara lembutnya terdengar semakin melemah, ia menundukkan wajah menyadari matanya sudah nampak berkaca-kaca.

Tidak ada reaksi dariku membuat akhirnya Krystal menyampirkan tas pada bahunya , meski terlihat ragu, namun pintu telah ia buka dengan tangannya, aku masih belum melakukan tindakan apapun untuk mencegahnya, hingga suara dari sebuah payung yang mengembang terdengar.

“ Kau bukan orang ketiga diantara kami “ Ucapku dengan nafas memburu, merasa lega akhirnya kalimat itu terucap dari bibirku “ Aku lebih dulu mengenalmu dan kau tahu tentang perasaanku padamu sejak dulu, mengenai yeoja itu, aku sama sekali tidak memiliki pandangan yang sama sepertimu, wanita dengan umur yang masih muda selalu bertindak tanpa memikirkan apa yang sebenarnya ia rasakan, dia tidak menyukaiku, jadi jangan memikirkan tentang hal itu “ Sorot mata tajam ketika aku mengucapkan kalimat itu membuat pancaran sinar diwajah Krystal berubah, aku melihatnya tersenyum lega, tanganku pun bergerak untuk membuka juga knop pintu sebelum akhirnya…

“ Tidak perlu, pulanglah….ini sudah malam “ Krystal menghalangiku untuk mengantarnya.

Aku menarik kembali tanganku, menerima keputusannya untuk tetap berada disini dan hanya mengamati dirinya hingga menghilang dibalik pintu rumahnya.

“ Hufffttt “

Entah apa maksud lenguhanku, tapi itu tidak menjadikan perasaan mengganjal dihatiku kini menjadi surut. Ku lirik kaca spion didepanku untuk memastikan agar tidak menabrak apapun ketika mobil ku arahkan mundur, tidak sengaja aku melihat photo yang sudah tidak lagi terbungkus rapi dikursi belakang, aku menoleh dan menatapnya sejenak.

“ Kau, mengingkari perjanjian yang telah kita sepakati, untuk tidak jatuh cinta padaku “ Ucapku dengan nada kecewa seraya menatap wajah allien yang sedang tersenyum disana.

***

Author’s Pov

Dari celah sempit sehelai gorden Krystal mengamati Myungsoo, mobil pria itu masih terparkir disana entah apa yang sedang ia lakukan. Perasaan tidak rela membiarkan Myungsoo berada satu atap dengan gadis itu kembali muncul, meski berkali-kali Myungsoo mengatakan ia menikahinya tanpa dasar cinta, namun tidak sepenuhnya membuat hati Krystal menjadi tenang. Layaknya sebuah batu, sekeras apapun bentuknya akan hancur jika terus menerus ditetesi oleh air. Jemari Krystal membuka lebih lebar gorden yang menghalangi pandangannya ke arah mobil Myungsoo, dengan nafas berat dan pandangan nanar “ Mengapa aku tidak rela jika harus berbagi tempat dengan gadis itu ? “

Selama ini ia tidak pernah khawatir posisinya akan tergantikan, Myungsoo yang introvert membuatnya percaya diri bahwa dialah satu-satunya yang bisa sedekat ini dengan pria itu, namun ternyata dunia ini tidak akan pernah sama setiap harinya, akan ada seseorang yang datang dan kemudian harus pergi berganti dengan orang lainnya, dan Myungsoo tidak selamanya hanya akan memiliki Krystal sebagai wanita dalam hidupnya.

“ Sudahlah, jangan terus memandangnya seperti itu “

Luna muncul dari kamar Krystal dengan memegang sebuah kalkulator serta lolipop dimulutnya, ia kemudian menjatuhkan bokongnya diatas sofa dan kembali fokus pada tumpukan kertas dimeja. Bahu Krystal melemah seiring dengan ucapan Luna yang seolah menyurutkan semangatnya.

“ Dia adalah pria beristri, lebih baik kau teruskan pencarian pada pria yang bernama Kim Jong il itu “ Saran Luna yang ia ucapkan dengan santai, tanpa mengetahui reaksi Krystal setelah mendengar nama pria itu.

“ Dia bukan seorang diktator Korea Utara Park Luna, namanya Jongin bukan Jong il “ Protes Krystal yang hanya dibalas cengiran santai Luna.

Krystal mengambil duduk disamping Luna, meletakkan kepalanya pada bahu sofa. Hanya langit-langit ruangan yang nampak dihadapannya, sesekali terdengar hembusan nafas dari mulutnya “ Aku sudah berusaha untuk bertemu dengannya, dengan begitu aku bisa tahu apakah Myungsoo hanyalah pelarian atas perasaanku padanya atau aku benar-benar aku menyukainya, ohhh otthokae ? “

“ Jika aku jadi dirimu, aku akan membatasi hubunganku dengan Kim Myusang si pria beristri itu dan lebih serius mencari Kim Jongil, kau ini sebenarnya sedang menceburkan kakimu di air keruh jadi jangan mengeluh jika akhirnya terkena penyakit yang membuat kakimu itu luka “

Krystal memutar bola matanya malas, merasa lelah mengingatkan nama Myungsoo dan Jongin berkali-kali pada Luna, tapi harus Krystal akui otak Luna memang lebih realistis dibandingkan dirinya yang sering mengambil keputusan terburu-buru serta melalui jalan yang rumit.

***

Jiyeon’s Pov

Park Jiyeon, gadis bodoh yang menyedihkan, sekarang sudah seperti ini lalu apa yang akan kau lakukan ? sudahlah kau pergi saja dari sini, tidak ada yang bisa kau harapkan dari pria jahat seperti dirinya “

Jiyeon-ah, tidak ada rasa pahit atas kesabaran yang kita lakukan, jangan mudah berputus asa untuk mendapatkan sebuah kebahagian, lagipula kau sudah bertekad untuk berada dirumah ini setidaknya hingga waktu itu berlalu ? jadi tetaplah bersemangat

Jangan dengarkan dia, kau yang menjalani, dia hanya pandai berteori, tanpa merasakan jika kau tersiksa. Sudah segera bereskan barangmu dan pergi dari rumah yang seperti neraka ini

Jiyeon-ah, kau akan menjadi seorang pecundang jika menyerah sampai disini

Tidak masalah, lebih baik urus saja perasaanmu, tidak perlu pikirkan julukan orang lain terhadapmu

Jiyeon-ah, tetap disini

Tidak, pergi saja !!

Tinggal disini !!

Pergi saja !!

KEUMANHE !!! aku mohon hentikan….aku memang harus pergi dari sini hiks “ Ucapku melemah di bagian akhir.

Ku dongakkan wajahku, menghentikan perdebatan konyol makhluk berbaju hitam dan putih yang ada diatas kepalaku, sejak tadi aku seperti gadis bodoh yang hanya terdiam mematung menatap pintu rumah yang tertutup tanpa tahu harus melakukan apa ? Hati ini masih terasa perih, seperti ada seseorang yang mengiris-irisnya dengan belati.

Ingin sekali rasanya mengutuk keingintahuanku yang begitu besar, kedua kaki yang dengan cepat berlari, mata yang tak bisa kutahan untuk menatap, serta hati yang begitu mudah merasa hancur. Bukan salah ahjussi ataupun ahjumma itu, mereka berhak melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja. Lalu dimana letak salahnya ? aku tidak berhasil menemukannya.

“ Tch, michigeutta….hal yang mudahpun menjadi begitu sulit untuk kulakukan “ Kuusap airmataku kasar, tanganku yang gemetar membuat kunci tidak berhasil masuk kedalam lubang dengan mudah. Aku benar-benar nampak kacau, sebegitu hebatnya pengaruh ahjussi hingga membuatku sampai seperti ini, sebenarnya apa yang kurasakan padanya ? apa ini yang disebut menyukai seorang pria ?

Aku terus berperang dengan pikiranku sendiri, hingga tiba-tiba gagang pintu yang bergerak membuatku kini menatapnya dengan pandangan tertegun, seseorang membukanya dari arah dalam.

“ Hal-me-o-ni “ Raut sedihku seketika berubah menjadi sebuah ketakutan, seolah lupa dengan tekad awalku untuk menyudahi sandiwara bersama ahjussi, otakku justru kini sibuk mencari kalimat yang tepat agar halmeoni tidak marah ataupun curiga karena tiba-tiba aku menghilang dan meninggalkannya begitu saja, namun diluar dugaan….

“ Jiyeon-ah, kau tidak apa-apa? “ Bahuku terasa sakit karena halmeoni mencengkeramnya terlalu kuat, ia mengamati keseluruhan tubuhku dari kepala hingga kaki, membuatku semakin bingung dengan apa yang ia lakukan.

“ Maafkan halmeoni yang meninggalkanmu begitu saja, perut bodoh ini tiba-tiba begitu sakit dan aku benar-benar tidak sanggup untuk menahannya, aku tidak bisa pergi ke sembarang toilet, itu sangat menjijikkan. Maafkan halmeoni karena begitu sibuk mengurusi perut ini hingga melupakanmu “ Halmeoni memeluk tubuhku dan mengusap lembut rambutku.

Aku menggelengkan kepalaku lemah dan membalas kaku pelukan “ Gwencana, aku baik-baik saja halmeoni “ Ucapku menenangkan halmeoni.

Tanpa sadar aku menghembuskan nafas lega, ternyata Tuhan masih berpihak pada pernikahan pura-pura kami, apa yang akan aku jelaskan seandainya halmeoni tahu jika akulah yang meninggalkannya. Sepertinya Tuhan masih memiliki rencana lain atas diriku disini bersama dengan ahjussi, hingga tidak membiarkan rahasia kami terbongkar malam ini.

***

Author’s POV

Jongin melempar begitu saja pulpen dari tangannya, menyandarkan tubuhnya kasar pada bahu kursi dan berdecak kesal, tidak biasanya angka-angka yang tertera diatas kertas terlihat begitu membosankan dan membuat otaknya terasa kram.

Korban selanjutnya dari kegelisahan Jongin adalah ponsel yang sejak tadi berada disamping dokumen-dokumen kerjanya, Jongin melepaskan tubuhnya dari sandaran kursi dan meraih ponsel yang tidak bersalah itu, entah apa yang ia lihat hingga nafasnya kembali memburu tajam.

“ Lihat saja, meski kau seorang wanita dan masih bau kencur, aku tidak akan mudah melupakan lengkinganmu yang mengganggu telingaku barusan “ Gigi Jongin bergemeletuk geram berbicara pada nomor ponsel dikotak panggilan keluar.

Ini adalah pertama kalinya bagi Jongin bisa sampai begitu marah, jika biasanya ia tidak peduli dengan apapun tentang orang lain terlebih seorang wanita, namun kali ini ia benar-benar tidak bisa menerimanya. Jongin akan memperkarakannya, terlebih yeoja itu sudah berkali-kali ia tolong.

Jongin tidak berharap akan berhubungan dengan yeoja itu lagi, namun kejadian hari ini membuat ia menarik ucapannya, ia benar-benar akan membuat yeoja itu menyesali perbuatannya pada Jongin barusan, diluar yeoja itu adalah tersangka atas kasus hilangnya gelang yang sangat berarti untuk Jongin, yeoja itu adalah sejenis makhluk yang tidak tahu sopan santun dan mengenal balas budi.

***

Miaw

Miaw

Miaw

“ Jiyeon-ah….ini hanya sebuah drama, meski Tuhan memberikanmu begitu banyak talenta, kau tidak perlu berakting terlalu baik, tidak perlu mendalami peranmu sebagai anae-nya, kau…. tidak akan mendapatkan penghargaan ataupun sejenisnya, kau benar-benar tidak akan mendapatkan apa-apa “

Jiyeon menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut, Myungji yang ada didekapannya nampak meronta-ronta memaksa untuk keluar dari sana, namun Jiyeon tidak ingin sendiri, ia kembali menarik Myungji menghalangi kucingnya itu untuk melarikan diri.
Mulutnya sejak tadi tidak berhenti bergumam seraya menghapus kembali airmatanya yang jatuh. Ia sudah berusaha untuk melupakan peristiwa ditoko kaset itu, namun entah darimana datangnya, lagi-lagi bayangan itu muncul tanpa ia harapkan. Ia tidak tahu kepada siapa harus meminta pertanggungjawaban atas perasaan marah dan sedihnya yang hadir secara bersamaan, bukan Myungsoo….ia sadar pria itu sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak menggunakan perasaan dalam hubungan pura-puranya, bahkan pria itu pernah memintanya untuk pergi.

“ Myungji-ah, kau tau mengapa aku bisa merasa sedih seperti ini eoh ? “ Tanya Jiyeon seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan meraba dada bagian kirinya yang masih berdenyut-denyut.

Kriettt…

Pintu yang terbuka tiba-tiba membuat Myungji akhirnya bernafas lega, dengan cepat ia meloncat melepaskan diri dari jeratan Jiyeon dan melenggang mulus ke arah luar melewati kedua kaki Myungsoo yang sudah berdiri di ambang pintu. Jiyeon reflek menoleh, mata sembabnya terlanjur bertemu dengan mata tajam pria yang membuatnya seperti itu tanpa sempat ia menghindar.

Myungsoo menutup pintu dan melangkah masuk, sikap dinginnya membuat Jiyeon gugup, perlahan Jiyeon memutar tubuhnya agar terhindar dari menatap sosok Myungsoo.

Beberapa menit berlalu,

Myungsoo keluar dari kamar mandi dengan handuk dikepala untuk menutupi rambut basahnya, dilihatnya posisi Jiyeon masih sama, membelakangi dirinya. Myungsoo masih mencoba untuk bungkam, meski banyak hal yang harus ia luruskan dengan yeoja yang kini bersamanya.

Ditariknya selimut dari lemari pakaian, ada yang berbeda ia temukan disana. Seingatnya, ia masih memiliki pakaian yang belum sempat ia cuci kemarin, namun kini semuanya sudah tertata rapi di dalam lemarinya, ia menoleh ke arah Jiyeon yang ia yakin masih belum tertidur.

“ Apa kau yang melakukannya ? bukankah sudah tertulis di perjanjian yang kita sepakati untuk tidak menyentuh apapun milikku ? “ Ucap Myungsoo ketus menatap tajam hanya punggung Jiyeon.

Jiyeon berusaha menelan saliva dengan susah payah, tubuhnya kembali bergetar menahan tangisan, ia menginginkan Myungsoo menghiburnya, menanyakan keadaannya, bukan berkata ketus seperti yang sekarang pria ini lakukan, Jiyeon benar-benar tidak ingin merasakan sakit sendirian.

“ Mianhae, tidak akan terjadi lagi “ Ucap Jiyeon dengan menahan sesak didadanya.

Myungsoo tersenyum sinis, suara Jiyeon yang bergetar semakin menguatkan dugaannya bahwa Jiyeon memang memiliki perasaan yang lebih padanya. Myungsoo bukanlah seorang paranormal yang bisa menerawang apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Tapi Myungsoo, dia adalah pria dewasa yang telah banyak mengenal berbagai macam karakter ketika seseorang jatuh cinta, terlebih seorang wanita, makhluk di bumi yang sulit menyembunyikan apa yang dirasakannya. Meski ia sadar jika Jiyeon tidak bisa disalahkan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menolak atau memaksa seseorang untuk memiliki atau tidak memiliki perasaan terhadap oranglain.

Kaki telanjang Myungoo bergerak lebih mendekat ke arah Jiyeon, mata tajamnya menatap lekat keseluruhan tubuh yeoja yang kini meringkuk tepat dibawah ranjangnya dengan selimut yang membungkus hingga leher “ Berhenti untuk berpura-pura, aku ingin kita bicara “ Tegas Myungsoo.

Jiyeon memejamkan matanya, tangannya yang tersembunyi ia gunakan untuk menghilangkan jejak airmata di pipinya, dengan sekali hembusan nafas ia kemudian mencoba untuk bangkit dan duduk.

Melihat Jiyeon sudah bereaksi dengan perintahnya, perlahan Myungsoo merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Jiyeon, tatapan yang awalnya begitu tajam dan menuduh berangsur-angsur melemah seiring dilihatnya wajah Jiyeon yang sembab, gadis itu menatap lantai nanar “ Sebenarnya aku masih membutuhkanmu untuk meneruskan sandiwara ini dihadapan halmeoni, tapi melihat apa yang kau lakukan ditoko kaset tadi, aku mulai ragu untuk mempertahankanmu, tidak tahu apakah aku yang terlalu percaya diri ? atau mungkin kau yang terlalu bodoh menyembunyikan perasaanmu, aku berharap dugaanku salah, kau……maukah mengatakannya jujur ? apa….. kau menyukaiku ? “

Jantung Jiyeon berdetak kencang, ia tidak menyangka Myungsoo melihatnya, masih bisakah kini ia mengelak ? Jiyeon bergeming, rasanya malu untuk dirinya kini membuka suara dihadapan Myungsoo, ia tidak yakin suaranya akan terdengar baik-baik saja ketika mulai berbicara, jika sejak tadi saja ia berusaha untuk menahan tangisan.

“ Geurae, jika begitu aku akan memutuskan sesuatu “ Ucap Myungsoo merasa lelah karena Jiyeon tidak juga mengatakan apapun “ Cukup kau mengatakan tidak menyukaiku, maka aku akan mempertahankanmu untuk tetap disini, dan sebaliknya tidak perlu memikirkan halmeoni dan bagaimana nasibku ke depan, jika memang kau memiliki perasaan lain terhadapku….. “ Myungsoo menggantungkan kalimatnya “ Mianhae…. cukup sampai disini, pergilah! Aku tidak ingin lagi melihatmu disini…. perasaanmu hanya akan membuat segalanya menjadi rumit “

***

Jiyeon’s POV

Airmataku lolos begitu saja mendengar kalimat ahjussi. Sial sekali nasibku, aku bahkan belum mengatakan tentang perasaanku padanya, ia menolakku. Menolak perasaan yang belum sempat aku katakan.
Aku tersenyum miris, aku memang salah…..telah menyukainya, menyukai ahjussi yang tidak berperasaan ini, rasanya sakit sekali.

“ Ini adalah kedua kalinya ahjussi memintaku untuk pergi. Gwenchana….aku tidak akan lagi memaksa…. malam ini akan jadi terakhir kalinya ahjussi melihat wajah ku yang menyebalkan, aku akan pergi…. tapi bukan berarti apa yang ahjussi tuduhkan padaku itu benar, keumanhe …. nomuhajima ( jangan berlebihan ) meski aku tidak bisa mengatakan alasan mengapa aku menangis tadi “ Aku tersenyum getir dan bersusah payah menyelesaikan kalimat itu.

Tidak ada tanggapan dari ahjussi, ia hanya menatapku begitu lekat dengan ekspresi datar, aku tahu ia senang mendengarnya, hari suramnya akan segera berlalu berganti dengan kebebasannya semula. Arah pandangku tidak lepas mengikuti setiap geraknya, ahjussi bangkit meninggalkanku menuju ranjangnya, seolah tidak terjadi apa-apa ia mematikan lampu seperti biasanya, dan mulai berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

“ Gomawo “ Ucap ahjussi diiringi dengan helaan nafas lega.

Apa itu artinya pembicaraan ini selesai ? tidak adil, bahkan hatiku masih terasa sakit tertusuk-tusuk, namun dengan mudahnya ia menunjukkan ekspresi setenang itu.

Jiyeon-ah gwenchana !!! darinya kau bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai orang lain, yang belum pernah kau rasakan selama hidupmu, cinta pertama dengan pria dewasa yang memintamu untuk menjadi istri pura-puranya, meski terdengar bodoh, tapi aku tidak akan melupakannya.

Ahjussi, naneun neoreul johahaeyo, aku benar-benar menyukaimu.

***
Myungsoo’s POV

“ Yya sedikit kekanan, ah….tidak-tidak, masih miring, gunakan feelingmu, memajang foto saja sulit sekali, changkamanyo !!!! ya sudah…..itu sudah terlihat bagus, cukup “

Huuffttt, memajang foto yang sebentar lagi tidak berguna, pekerjaan yang sia-sia. Aku melangkah lemah menuju meja makan, bergabung dengan mereka menikmati sarapan, ku tarik kursi tepat dihadapan allien hingga mengapit halmeoni yang berada di tengah sebagai pusatnya.

“ Kalian benar-benar terlihat serasi disana, hanya saja si pabbo ini sedikit merusak pemandangan, yya!!! mengapa senyummu mahal sekali eoh ? jinjja….seharusnya kau mengambil sekolah kepribadian dan mendapatkan jam pelajaran tambahan untuk tersenyum, mengapa ada orang seperti dirimu didunia ini ? “

Tidak ada kalimat pembelaan yang biasa aku lontarkan jika halmeoni mulai memojokkanku dengan kalimat pedasnya, kali ini hanya senyum tipis yang aku ulas dengan paksa, cukup diam aku berharap setelah semua kesalahan yang sebentar lagi akan ia ketahui meringankan hukuman kami.

“ Halmeoni, kau jangan terlalu banyak memakan gula, tidak baik untuk kesehatanmu, 1 sendok saja, aku akan membuatkan ulang teh untuk halmeoni “

Aku melirik ke arah allien yang kini sibuk mengganti teh halmeoni, cara bicaranya berbeda, tidak lagi manja seperti anak kecil yang biasa ia tunjukkan. Tentu saja, setelah apa yang terjadi semalam, mana mungkin ia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

“ Ah gomawo, kau memang menantu yang sangat baik “ Ucap halmeoni senang karena allien ini begitu perhatian padanya.

Tak sengaja aku dan allien saling menatap ketika julukan menantu yang sangat baik halmeoni sematkan untuknya terucap. Dalam hati aku menyesalkan sikap manisnya saat ini, untuk apa ia melakukan itu ? Seharusnya ia berpasrah saja sepertiku, tidak perlu menambah luka halmeoni dengan kepergiannya nanti.

Ini adalah hari terakhir allien itu memainkan peran konyol sebagai istri dalam drama bergenre rumah tangga yang diciptakan oleh seorang penulis cerita amatir sepertiku. Jujur, aku sangat terkejut mendengar keputusannya semalam, pertimbanganku adalah kalimatnya yang begitu menggebu-gebu untuk tetap bertahan ketika pertama kali aku memintanya untuk pergi. Mungkin dugaanku yang berlebihan, hingga ia merasa tersinggung, tapi benarkah dia tidak menyukaiku ? Aku….masih penasaran dengan jawaban jujurnya.

“ Myungsoo-ah, Jiyeon-ah, aku adalah orang yang paling bahagia ketika mendengar berita kalian menikah, meski awalnya aku terkejut namun aku berusaha untuk menerimanya, tidak mudah untuk membuat cucuku jatuh cinta, aku sudah berkali-kali memilihkan wanita cantik untuk mendampinginya namun selalu saja anak bodoh ini punya cara untuk menolaknya, hingga aku benar-benar merasa lelah dan putus asa. Aku senang akhirnya engkaulah yang dipilihnya, meski usia kalian terpaut jauh aku tidak mempermasalahkannya, itu lebih baik daripada harus membiarkan anak bodoh ini mati dalam keadaan sendirian, jagalah rumah tangga kalian hingga maut yang akan memisahkannya, aku juga akan menjadi orang yang paling sedih jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga kalian, berjanjilah untuk mempertahankannya meski rintangan dalam berumah tangga silih berganti datang, jika tidak demi cinta kalian, lakukanlah untukku eoh, apa….kalian bisa melakukannya ? “ Halmeoni menaruh cangkir teh dihadapannya dan menuntut kami untuk mengatakan  ya  atau sekedar mengangguk menjawab pertanyaannya.

Tidak ada dari kami yang merespon ucapan halmeoni, hanya terdiam mendengar kalimat panjang lebarnya. Entahlah aku benar-benar tersentuh, harapan dari seorang nenek yang menginginkan kebahagian untuk cucunya, namun dengan konyolnya aku membuat ini seperti lelucon, pernikahan pura-pura yang setiap hari membuat aku merasa menyesal pernah melakukannya.

“ Halmeoni gomawo….aku tidak pernah menemukan orang lain yang begitu baik terhadapku sebaik dirimu, aku menyayangimu seperti orangtuaku sendiri “ Ucap allien dengan mata berkaca-kaca.

Suasana menjadi begitu haru ketika halmeoni menarik tangan allien itu dan membekap serta mengusapnya lembut, mata halmeonipun nampak berkaca-kaca. Tidak pernah aku lihat sebelumnya sikap halmeoni yang begitu lembut terhadap orang yang belum lama ia kenal, bahkan Krystalpun tidak bisa melakukannya.

“ Ehem…..halmeoni “ Ucapku berdeham mencoba untuk mengumpulkan keberanian.

Sudah waktunya, halmeoni harus mengetahui kebenaran tentang sandiwara ini, seketika aku merasa baju yang kupakai terasa begitu sesak meski tidak ada yang berubah dengan berat tubuhku, wajah allien dihadapanku pun nampak memucat, namun ia perlahan menganggukkan kepalanya seolah memintaku untuk cepat mengatakannya.

“ Ada hal serius yang ingin ku bicarakan “

Halmeoni menghentikan kunyahannya, ia menatap kami bergantian “ Waeyo ? Kau terlihat tegang sekali “ Ucapnya menyelidik.

Reaksi lainnya bermunculan, tubuhku terasa begitu dingin, lidah ini sulit sekali untuk ku gerakkan, halmeoni terus menatapku. Ayo Kim Myungsoo tunjukkan keberanianmu!! seorang lelaki sejati adalah yang berani menanggung resiko atas perbuatannya, bukan seorang laki-laki yang bahkan takut hanya mendengar suara menggelegar neneknya.

“ Jiyeon, hari ini dia….”

Kring

“ Changkamanyo “ Tahan halmeoni ketika ponselnya berbunyi, ia kemudian berlalu dari kami.

Fiuuhhh, seperti seorang terpidana hukuman mati yang permohonan grasinya dikabulkan, kurasakan syaraf-syaraf tubuhku mengendur, darahku kembali berjalan normal mengembalikan wajah pucatku seperti semula, meski ini hanya tertunda sementara.

Aku menangkap hal yang sama terjadi pada allien itu yang wajahnya terlihat dua kali lipat lebih gugup dibandingkanku.
Tidak berapa lama ku lihat halmeoni nampak tergopoh-gopoh kembali menghampiri kami.

“ Eoh Myungsoo-ah, aku harus berangkat ke Thailand sekarang juga, ada sedikit masalah disana, kau disini saja tidak perlu menemaniku, aku bisa membereskannya sendiri, ommo!!! Aku lupa “ Halmeoni merogoh sesuatu dari dalam tasnya, dan aku mengernyit heran ketika ia menyerahkannya padaku.

“ Mwoya igeo ? “ Tanyaku tak mengerti.

“ Dua hari lagi Presdir Kang pemilik PT. KangJin Corp akan membuka cabang di pusat ibukota, aku mungkin tidak bisa datang, maka kau harus mewakilkannya, datanglah bersama Jiyeon eoh “ Ucap Halmeoni seraya melangkah tergesa menuju kamar.
Aku dan allien hanya saling menatap dan bingung apa yang harus kami lakukan, apa ini artinya sandiwara kami harus terus berlanjut ? rasanya aku sudah tidak semangat lagi untuk mengatakan kebenarannya.

“ Waeyo ? mengapa ahjussi tidak mengakhirinya hari ini juga ? “ Ucapnya kini menatap tajam ke arahku.

Tch, pabbo!! Memangnya tadi dia tidak melihat usahaku, tidak melihat aku begitu gemetar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, seenaknya saja ia mengatakan aku tidak melakukan apa-apa, dan mwo ? apa maksud pandangannya yang seperti itu.

“ Yya!! apa kau menuduhku sengaja menggagalkan niat kita ? apa kau menuduhku ? andwe, aku bahkan lebih meginginkan ini segera berakhir, lagipula kalau kau bisa mengatakannya tadi, mengapa tidak kau saja ? “ Ucapku tidak terima allien ini menuduhku menggagalkan rencana.

Wajahnya memerah menahan kesal, ia terus menatapku, kali ini aku merasa tidak lebih menyeramkan dari allien ini ketika sedang menatap tajam kepada seseorang, ia benar-benar terlihat menyeramkan.

“ Kurasa…..ada hal yang harus halmeoni selesaikan tanpa harus dibebankan hal lainnya, apa kau tega menambah masalahnya ? ia harus fokus untuk menyelesaikannya, bukankah kau bilang halmeoni sangat baik dan sudah kau anggap seperti orangtuamu sendiri, apa tadi kau hanya berpura-pura bermulut manis saja ? “ Ucapku seperti orang yang salah tingkah menutupi kesalahan.

***

Author’s Pov

“ Hati-hati halmeoni, cepat pulang dan menginap kembali eoh “

Lambaian tangan Myungsoo dan Jiyeon mengiringi kepergian halmeoni “ Fiuhhh!!! “ Keduanya menundukkan kepala bersamaan seraya menghela nafas lemah, tidak berapa lama mereka saling melempar tatapan kesal.

Myungsoo berbalik, namun Jiyeon juga tidak mau berlama-lama disana, tubuh keduanya tertahan diambang pintu yang hanya terbuka satu sisi, mereka hanya berdiri menunggu yang lainnya untuk mengalah.

“ Berikan jalan pada seorang wanita terlebih dulu ! “

“ Apa hubungannya pintu dengan jenis kelamin ? kau bahkan sama galaknya dengan seorang pria “

“ Benar-benar keras kepala !!! “

“ Mwo ? kau saja yang terlalu gendut, hingga pintu ini tidak muat, aku dan Krystal meskipun jalan beriringan saja masih muat “ Ucap Myungsoo enteng membuat Jiyeon mengepalkan kedua tangannya memandang dalam diam kearahnya.

Sadar ada kata yang salah ia ucapkan “ Eum….kau….tidak keberatan untuk melanjutkan ini bukan ? mianhae, aku tidak bermaksud menggagalkannya, aku berjanji…. mulai besok akan memerintahkan beberapa orang anak buahku untuk mencari kekasihmu “ Ucap Myungsoo melunak mencoba mencairkan kemarahan Jiyeon.

Jiyeon mengalihkan tatapannya pada telapak kaki Myungsoo, ia lalu mengangkat sebelah kakinya tinggi dan….

“ Kyyaaaa!!!! Yya k-kau ? aaarggghkk!!!! “

Myungsoo memegang satu kaki dengan kedua tangannya seraya meloncat – loncat menahan sakit, Jiyeon tidak mempedulikannya, ia pun berjalan cepat meninggalkan Myungsoo yang terus bersumpah serapah mengutuk dirinya yang dengan tega menginjak kaki Myungsoo, itu adalah luapan kesalnya pada Myungsoo selama ini, selalu saja menyakiti hatinya padahal pria itu membutuhkannya.

“ Dasar allien gila, aku tahu mengapa kau melakukan ini eoh ? mendengar aku menyebut namanya saja sudah marah seperti itu “ Sungut Myungsoo seraya meniup-niup jemari kakinya yang memerah.

***

Jari-jemari Jongin mengetuk-ngetuk meja dihadapannya, pandangannya tidak lepas ke arah pintu masuk menunggu gadis yang Taemin janjikan akan datang sore ini. Dan ia segera menegakkan tubuhnya ketika sosok yang ia tunggu hadir. Jongin tersenyum sinis, namun gadis itu berhasil membuatnya melongo seperti pria bodoh, sudah jelas-jelas Jongin tidak sama sekali melepaskan pandangannya dari gadis itu, namun gadis itu berlalu begitu saja lewat dihadapannya. Apakah ia tidak terlihat, hingga gadis itu mengabaikannya ?

Mata Jiyeon sibuk mencari-cari keberadaan Taemin, Jiyeon harus segera menemui Taemin setelah Myungsoo mengatakan akan mulai mencari kekasihnya. Tentu saja itu bukanlah hal yang sulit bagi Myungsoo, ia memiliki banyak uang untuk memerintahkan orang untuk mencari keberadaan Taemin, yang ia mengaku-aku adalah kekasihnya, terlebih mereka masih dalam satu kota.

“ Dimana dia ? ini gawat sekali “ Jiyeon mengigit kuku tangannya cemas.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, Jiyeon menoleh dan tidak mengenali wajah orang itu yang tertutup masker, orang yang terdeteksi berjenis kelamin pria itu menariknya cepat ke tempat yang lebih aman.
Sementara Jongin mengernyitkan keningnya ketika menyadari gadis itu sudah tidak terlihat, ia hanya melepaskan pandangan dari gadis itu ketika tenggorokannya terasa haus, namun cepat sekali gadis itu menghilang. Jongin berdiri dan melangkah lebih ke dalam.

Di sudut bar yang jarang orang berlalu lalang,

“ Yya, kau dari mana saja pabbo ? 30 pesan dan 20 panggilan, pulsaku habis hanya untuk diacuhkan olehmu “ Taemin meluapkan emosinya yang sejak kemarin tertahan kepada Jiyeon yang wajahnya menampakkan kecemasannya.

Dengan cepat Jiyeon membekap mulut sahabatnya ini “ Itu sudah tidak penting, sekarang kau harus dengarkan apa yang aku katakan eoh “ Ucap Jiyeon seraya menormalkan nafasnya karena terlalu panik.

Taemin memajukan bibirnya kesal, teman wanita yang selalu memaksanya untuk mengalah, Taemin tidak pernah bisa berbuat apa-apa.

“ Seseorang akan mencarimu, cepat kau cari pekerjaan dan pakai nama lainnya untuk identitas barumu “ Ucap Jiyeon seenaknya seolah itu adalah perkara mudah yang bisa Taemin lakukan.

“ Mwo ? untuk apa ? apa kau menjual namaku pada penjahat ? oh tidak, bagaimana nasibku sekarang ? mereka pasti akan sangat mudah sekali untuk menemukanku “ Taemin bereaksi terlalu berlebihan membuat Jiyeon memutar bola matanya malas.

“ Tidak semengerikan itu, yang terancam justru aku bukan kau “ Ucap Jiyeon berusaha menormalkan kembali kelakukan Taemin.
Taemin mengernyitkan dahinya, mendengar kata terancam, ia teringat sesuatu, sejak tadi ia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya karena mendapat ancaman seseorang, apa orang yang mengancam Jiyeon adalah orang yang sama ?

“ Tuan Kim Jongin “ Panik Taemin.

“ Mwo ? Kim Jongin ? “ Jiyeon balik bertanya heran.

“ Nde, kau sudah baca pesanku tidak ? tuan Kim Jongin mencarimu, kemarin dia menelponmu namun wajahnya memerah setelahnya, memangnya apa yang kau katakan hingga membuatnya seperti itu ? sekarang kau harus menghadapnya dan meminta maaf, jika tidak maka nyawamu akan terancam “ Ucap Taemin dengan mata melotot terlalu takut membayangkan apa yang terjadi.

Jiyeon berpikir sejenak, kapan ada seseorang yang menghubunginya ? kemarin ? “ ah matta” Jiyeon manggut-manggut mengerti “ Aishh pabboya, aku tidak tahu jika itu dia, ah sudahlah itu tidak penting, apa yang akan aku ceritakan lebih gawat “ Ucap Jiyeon kembali teringat Myungsoo.

Jongin mengepal tangannya geram, yeoja ini mengacuhkan ancamannya, dan menganggap itu hanya hal sepele. Jongin semakin yakin jika gadis ini terlibat kasus kriminal, dari pembicaraannya saja bisa jelas ia ketahui nampak banyak sekali orang yang mencarinya, Jongin seketika keluar dari persembunyiannya.

“ KAU MENGATAKAN JIKA AKU TIDAK PENTING ?? “ Ucap Jongin terdengar marah.

Jiyeon dan Taemin yang sibuk grasak-grusuk pun terkejut dan sontak menoleh ke arah asal suara. Tidak seperti Taemin yang wajahnya sudah memucat, Jiyeon justru mengulas senyum dan membungkuk ke arah Jongin.

“ Annyeonghaseyo tuan, eoh sudah dua kali kita bertemu disini, rupanya kau juga bekerja disini ? “ Ucap Jiyeon polos tanpa bisa membaca aura pada wajah Jongin, sementara Taemin mengusap wajahnya mengutuk Jiyeon yang tidak peka menangkap arti dari sebuah raut wajah.

Jongin menatap Jiyeon dengan smirknya “ Kembalikan itu padaku “ ucapnya langsung menuduh

Jiyeon mengernyitkan kening, lalu menatap Taemin dan Jongin bergantian, seolah mencari jawaban dari pertanyaan Jongin “ Kembalikan ? maksud anda ? oh uang yang direstaurant itu ? jadi itu kau anggap hutang ? ku kira kau ikhlas menolongku ? tapi baiklah aku akan menggantinya, beri aku waktu, aku harus berbicara dulu pada temanku ini “ Ucap Jiyeon dengan wajah tak bersalah membuat Jongin tak percaya dan Taemin nampak putus asa.

“ Ku rasa uang yang ku berikan padamu cukup untuk membuatmu diam dan tidak melakukan apapun, aku tidak menculiknya hanya ingin memberi sedikit pelajaran kesopanan “ Ucap Jongin seolah mengancam Taemin.

Jiyeon membelalakkan wajahnya, Jongin menarik tangan dan menyeretnya kini, ia menoleh ke arah Taemin seolah meminta sahabatnya itu melakukan sesuatu, namun di luar dugaan Taemin hanya diam.

***

“ Kali ini aku harus lebih bersabar, sebentar lagi ia pasti pulang “

Krystal berdiri bersandar pada mobilnya, sesekali matanya menatap jalan berharap seseorang yang ia tunggu akan muncul disana. Benar saja, tidak berapa lama sebuah cahaya menyorot tajam kearahnya, pemilik rumah itu datang, ia sudah datang.

Degun Degun

Krystal membuang nafasnya teratur, tubuhnya berdiri tegak seraya berdoa agar tujuannya tidak menemui hambatan berarti, ketika mobil itu berhenti tatapan keduanya segera bertemu.

“ Tuan kau membawaku kemana ? “

Dari arah kursi belakang, muncul Jiyeon. Merasa pertanyaannya diabaikan Jiyeon mengikuti arah pandang Jongin. Jiyeon menutup mulutnya tidak percaya ketika seorang wanita cantik tinggi semampai dengan rambut agak kecoklatan berdiri dihadapannya.

Segera Jiyeon menyembunyikan dirinya, tidak ingin wanita itu melihatnya jika ia juga berada disini, namun sekarang Jiyeon berpikir, untuk apa wanita yang ia panggil ahjumma itu ada disini, menemui Tuan Kim, mereka saling mengenal ? lalu mengapa wajah Tuan Kim ini terlihat terkejut seperti itu ?

Brukk

Lamunan Jiyeon buyar ketika Jongin menutup pintu mobilnya kencang, pria itu keluar meninggalkannya, namun Jiyeon bersyukur dengan begitu ahjumma itu tidak tahu keberadaannya.

“ Annyeong, apa kabarmu ? “ Krystal menatap lembut Jongin yang masih terdiam dihadapannya.

Meski terkejut dengan kehadiran tiba-tiba wanita yang sangat ia rindukan, tidak membuat Jongin serta merta menghambur untuk memeluk wanita cantik dihadapannya, ia masih ingat bagaimana awal mereka tidak pernah lagi bertemu, bersama sahabatnya Kim Myungsoo, Krystal melukai perasaannya.

Dengan tatapan tajam Jongin menyisir keseluruhan penampilan Krystal, wanita ini nampak berbeda, kecantikannya semakin terpancar dari 4 tahun lalu, banyak yang berubah namun Jongin masih mengenalnya sebagai Soojung mantan kekasihnya “ Kau, darimana kau tahu aku masih disini ? “ Tanya Jongin seraya memajukan selangkah tubuhnya dari awal tempatnya berpijak.

Skip

“ Aishhh apa yang mereka bicarakan ? berapa lama lagi aku harus terkurung disini ? “ Jiyeon nampak semakin resah, Jongin benar-benar melupakannya, seolah-olah tidak ada orang yang ia culik didalam mobilnya.

Wajah Jiyeon mengernyit heran, Jongin dan Krystal terlihat bersitegang diluar sana, dengan sedikit keberanian Jiyeon membuka jendela mobil, ia sangat penasaran dengan pembicaraan keduanya.

“ Apa aku orang yang pertama kau temui setelah kembali ? atau pria itu ? tch, jelas aku adalah orang kedua untukmu “

“ Aku tidak sengaja bertemu dengannya di Jeju, niatku memang akan menemuimu terlebih dahulu, tapi apakah kau juga mempermasalahkan siapa yang pertama dan kedua yang akan aku temui jika hatiku saja selalu mengingatmu meski aku bersamanya, dan juga kau salah telah menuduhnya, ia sudah lama melupakanku, bahkan sekarang ia sudah menikah “ Ucap Krystal masih terisak.

Jongin terdiam, benarkah Kim Myungsoo sudah menikah dan melupakan Krystal ? membiarkan dirinya memiliki kesempatan untuk bersama cintanya yang telah lama hilang, mata Jongin tak sengaja menangkap lengan Krystal yang masih menggunakan gelang yang sama sepertinya, gelang ? tiba-tiba Jongin teringat pada gadis yang ia bawa, namun ia tetap harus menyembunyikannyan tidak berniat menimbulkan salah paham jika mereka memiliki kesempatan untuk bersama lagi, seperti ia pernah merasakannya, meski gadis didalam sana bukan siapa-siapa.

“ Baiklah, aku tidak memaksamu untuk memberikan maaf padaku, meski aku…sangat berharap kau memaafkanku, Jung Soojung masih berharap Kim Jongin mau memaafkannya “

Krystal melangkah cepat menuju mobilnya, wajahnya nampak begitu kecewa dengan sikap yang Jongin tunjukkan padanya, tidak berapa lama mobilnya sudah melaju kencang meninggalkan Jongin yang masih berdiri menatapnya dengan pandangan menyesal.

Jiyeon tiba-tiba merasa sedih membayangkan jika Myungsoo mengetahui kejadian ini, pria itu sangat mencintai Krystal, sedih dan bahagia pria itu bahkan hanya bisa Krystal yang menentukannya “ Mengapa aku harus berada diantara kisah mereka ? ahjussi, kau bahkan lebih pantas untuk dikasihani daripada diriku yang jelas-jelas sudah kau tolak “ Lirih Jiyeon.

Jiyeon mengangkat wajahnya ketika pintu mobil terbuka “ Simpanlah ini, kau harus kembali ke sini jika nanti aku menghubungimu, aku akan memberitahu apa yang harus kau lakukan, nomormu dan chingumu sudah ku simpan, dia bekerja disana jadi kau tidak bisa lari dari tanggungjawabmu, sekarang keluar “ Jongin menarik Jiyeon keluar dari mobilnya.

Jiyeon meringis sakit karena Jongin mencengkeram lengannya terlalu kuat, tidak seperti pria yang beberapa hari lalu ia anggap sebagai malaikat penolongnya, pria ini sudah menjelma menjadi malaikat dingin pencabut nyawa seperti Myungsoo.

“ Tch, apa semua pria bermarga Kim jahat seperti mereka ? pantas jika mereka saling mengenal, mereka cocok satu sama lain, sama-sama jahat pada seorang wanita “ Gerutu Jiyeon, ia mencibir kesal kearah Jongin yang sudah menenteng tas hendak masuk kerumahnya.

Teringat akan suatu hal “ Chogiyo “ Jiyeon berlari ke arah Jongin, namun ketika keduanya sudah dekat Jiyeon hanya menunjukkan sederetan gigi putihnya, wajah sangar Jongin mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal hubungan pria ini dengan Krystal.

“ Apa kau ingin melayaniku malam ini ? “ Tanya Jongin dingin.

“ Mwo ? Ah- ahh- ahniyo !!! aku bukan wanita seperti itu ? “ Jiyeon menggelengkan kepala bergidik ngeri mendengar kalimat Jongin, tanpa berpikir ia pun segera berlari meninggalkan Jongin.

Jongin menghela nafas berat, dan segera masuk ke dalam rumahnya, jika Krystal tidak muncul saat ini, mungkin ia masih bersemangat untuk memberi pelajaran pada gadis itu, masih banyak waktu untuk melakukannya, pikir Jongin.

***

“ Dia sudah pulang ? “

Jiyeon melongokkan kepalanya mengamati kamar Myungsoo yang pintunya tidak tertutup rapat, ranjang Myungsoo masih kosong tidak berpenghuni. Jiyeon semakin melangkah mendekat ke arah pintu, tanpa sadar kepalanya sudah ia sandarkan di pintu dan mengulas senyum mengingat hari-hari pernah tidur dikamar yang sama dengan Myungsoo, meski Myungsoo tidak mengijinkannya tidur diatas ranjang.

Apa yang ahjussi lakukan ?

Mengobati lukamu, kau lelet sekali aku harus tidur cepat

Pelan-pelan, sakit sekali…aarrggkk

Selesai, cepat sekarang kau tidur

Gomawo

“ Apa yang kau lihat ? “

Jiyeon sontak memutar tubuhnya ketika tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang, nampak Myungsoo sedang menatapnya dengan pandangan menyelidik “ Eum….Ahniyo, mianhae “ Jiyeon membungkuk dan segera menyingkir dari kamar Myungsoo.

Jiyeon memutar gagang pintu, namun ia kembali melirik kearah Myungsoo yang malam ini nampak terlihat berbeda, berbeda ? tidak, Myungsoo hanya memangkas rambutnya yang sudah sedikit panjang menjadi lebih rapi, namun entah mengapa ia terlihat semakin tampan dimata Jiyeon.

Tidurlah bersamaku malam ini, aku tidak mau kedinginan sendirian, tidak ada halmeoni bukan berarti kita tidak bisa bersama kan eum ?

Myungsoo menautkan kedua alisnya heran, karena Jiyeon masih terdiam seperti orang bodoh dipintu kamarnya sendiri, dan semakin heran karena Jiyeon kini senyum-senyum padanya, sampai-sampai Myungsoo harus memastikan tidak ada orang lain dibelakangnya yang jadi alasan untuk Jiyeon tersenyum.

“ Yya!!! Hentikan tatapanmu yang seperti orang idiot itu“

Ucapan sadis Myungsoo menyadarkan Jiyeon dari khayalan tentang pria itu yang menawarkannya tidur bersama, dengan wajah bersemu merah Jiyeon langsung menghambur masuk ke dalam kamar membuat Myungsoo semakin tidak mengerti.

Michigeutta, aku benar-benar sudah tidak waras, mengapa aku membayangkan hal itu ? “ Jiyeon memukul-mukul kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia bayangkan.

Mungkin beberapa bintang akan jatuh dari langit jika benar Myungsoo memintanya dengan lembut untuk tidur bersama.

***

Next Day,

“ Apa belum menemukan yang kau cari ? “

Myungsoo bertanya heran karena sudah berkali-kali ia dan Krystal berputar-putar ditempat yang sama, hanya mengamati satu-persatu gaun yang ada dipusat perbelanjaan tanpa satupun yang akhirnya Krystal pilih untuk ia beli.

“ Aku hanya sedang mencari inspirasi “ Ucap Krystal nampak tak fokus.

“ Untuk butikmu yang akan segera launching ? “ Tanya Myungsoo kemudian.

Krystal hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjelaskan, membuat Myungsoo menautkan alisnya tak mengerti dengan kata inspirasi yang Krystal maksud, ia sadar jika sejak tadi wajah Krystal nampak murung. Myungsoo yakin ini tidak berhubungan dengan masalah antara dirinya dengan Jiyeon yang membuat Krystal merasa bersalah, Myungsoo telah menjelaskan semua tentang Jiyeon, bahkan apa yang selanjutnya terjadi ketika kemarin ia dan Jiyeon sudah bertemu kembali, ini pasti tentang hal lain, namun Myungsoo enggan menebak-nebak.

Satu gaun di ujung sana menarik perhatian Myungsoo, ia kemudian mendekat dan nampak serius mengamati nya, gaun cantik berwarna putih dengan banyak hiasan dibagian dada, perlahan bibirnya mengulas senyum tipis.

“ Kau membelinya untukku ? “ Tanya Krystal ketika Myungsoo muncul dihadapannya dengan menenteng sesuatu.

“ E-eoh “ Ucap Myungsoo terbata dan setelahnya bahunya menurun seiring helaan nafasnya terdengar lemah.

Sehelai gaun yang Myungsoo berikan sedikit merubah raut wajah Krystal yang murung, sepanjang perjalanan Krystal selalu mengulas senyum memandang bungkusan ditangannya, Myungsoo ? ia pun mencoba untuk tersenyum.

***

Myungsoo menghentikan langkah kaki ketika ia melihat Jiyeon sedang serius menyiapkan sesuatu didapur, Myungsoo tersenyum mengejek, yang ia tahu Jiyeon adalah yeoja dari planet lain yang tidak pernah dekat dengan hal-hal apapun yang bisa makhluk bumi lakukan.

“ Kau sedang bereksprimen ? “ Tanyanya seraya melempar sebuah kantong membuat Jiyeon terkejut, beruntung Jiyeon memiliki reflek yang cukup bagus jika tidak ia pastikan lemparan itu akan mengenai wajahnya.

“ Apa ini ? “ Tanya Jiyeon heran membuka pemberian Myungsoo, untuk beberapa saat ia terdiam, dan bergantian memandang antara gaun yang ada ditangannya dengan Myungsoo penuh selidik.

“ Cepat kau bersiap-siap, kau masih ingat kan ? aku tidak suka menunggu “ Ucap Myungsoo pongah seraya memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.

Jiyeon memicingkan matanya, untuk apa Myungsoo menyuruhnya bersiap-siap, lagipula apa Myungsoo tidak melihat jika ia sedang membuat makan malam “ Ahjussi, aku sedang sibuk “
Myungsoo menatap sampai jauh kebelakang Jiyeon, kompor yang menyala dan bahan-bahan masakan sudah memenuhi meja dapur , serta apron yang masih melekat ditubuh Jiyeon “ Kau memasak ? apa hasilnya bisa dinikmati oleh manusia ? sudah tidak perlu, malam ini kita makan diluar….” Myungsoo langsung menutup rapat mulutnya, ia lupa setelah rencana untuk membongkar sandiwaranya gagal, ia dan Jiyeon sepakat untuk lebih menjaga jarak agar hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Namun kalimat ajakan makan malamnya sudah terucap, dan Jiyeon ia sudah terlanjur tidak bisa menyembunyikan senyumnya “ Apa maksud ahjussi adalah mengajakku berkencan “ percaya diri Jiyeon dalam hati.

Tuk

Myungsoo memukul pelan kening Jiyeon “ NEO-MU-HA-JI-MA “ ucap Myungsoo mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon, ia mengeja jelas agar Jiyeon tidak berpikiran macam-macam.

“ Gaun itu, aku hanya tidak mau ditertawakan orang karena dandananmu yang tidak sekelas denganku “ Myungsoo segera meninggalkan Jiyeon yang masih melongo tidak percaya dengan kalimat sadisnya.

“ Satu lagi “ Myungsoo menahan langkah kakinya kembali “ Rias wajahmu yang normal-normal saja, jangan berlebihan, kita akan bertemu dengan makhluk bumi, bukan makhluk planet lain atau sejenisnya “

“ Ckk….arraseo !!! “ Jiyeon berteriak kesal.

Myungsoo selalu mengejeknya dengan mengatakan jika ia memang tidak berbakat untuk merias wajah, seorang wanita biasanya akan terlihat semakin cantik jika menggunakan riasan diwajahnya, namun sebaliknya Jiyeon justru bisa menyulap wajah cantik seseorang menjadi sangat menyeramkan jika menggunakan riasan, meskipun gaun yang dikenakan orang itu begitu cantik.

“ Sebenarnya ahjussi akan mengajakku kemana ? “ Ia menggaruk kepalanya bingung.

***

Langkah kaki seseorang membuat para tamu undangan menatap kearahnya, dan setelahnya mereka berdecak kagum begitu terpukau melihat seorang wanita yang baru saja hadir berjalan anggun dihadapan mereka, gaun putih diatas lutut mengekspos kulit paha si pemilik yang putih dan mulus, rambut panjangnya dibiarkan menjuntai dengan gelombang dibawahnya, tidak lupa tas dengan merk mahal yang ada digenggaman membuat penampilannya begitu berkelas diantara tamu lainnya.

Dengan senyum lembut ia mengambil segelas minuman yang disodorkan seorang pelayan kearahnya, dan mulai mengedarkan pandangan mencari seseorang yang tidak ia percaya tiba-tiba mengundangnya untuk hadir mendampinginya.

“ Agassi, apakah anda yang bernama Jung Soojung ? “ ucap seorang pelayan menyapa Krystal.

Krystal melepaskan gelas dari bibirnya dan mengangguk lembut “ Nde, benar “

“ Silahkan aggasi, Tuan Kim Jongin meminta saya untuk menjemput anda “

Krystalpun mengikuti langkah pelayan yang mengantarkannya menuju Jongin, dari jarak cukup jauh Krystal sudah dapat menemukan sosok Jongin, pria itu pun tersenyum dan melambaikan tangan padanya, meski Krystal merasa aneh dengan perubahan cepat Jongin, namun ia mencoba berpikiran positif, Jongin telah merenungkan baik-baik permintaan maafnya.

“ Gomawo, kau sudah mau hadir “ Ucap Jongin ketika Krystal sudah ada dihadapannya.

“ Eoh, aku yang seharusnya berterimakasih karena kau bersedia mengundangku “ Ucap Krystal masih merasa canggung.

Jongin meneguk minuman ditangannya, dari balik gelas ia tersenyum misterius ke arah Krystal yang nampak wajahnya berbinar.

“ Mengenai hal kemarin, aku hanya belum siap tiba-tiba kau hadir dihadapanku, akuuu….sudah memaafkanmu, aku menyesal, tidak seharusnya aku memiliki perasaan benci selama itu padamu, sekarang aku yang meminta kau memaafkanku “ Ucap Jongin menatap penuh harapan.

Krystal menyentuh sudut mata dengan kukunya, menghalangi air mata haru yang hendak turun, Jongin masih sama dengan yang dulu, begitu pengertian sejak mereka menjadi sepasang kekasih.

Cukup lama keduanya bercengkrama, Jonginpun mengenalkan Krystal pada Presdir Kang, pemilik acara yang sudah mengangkat Jongin sebagai anaknya.

“ Jadi Soojung ini adalah kekasih yang sering kau ceritakan padaku ? ha..ha..ha kau memang sangat pintar Jongin-ah, tidak salah aku mempercayakan perusahaan untuk kau pimpin, kau juga sangat pintar memilih pasangan “ Ucapan Presdir Kang membuat wajah Krystal bersemu merah, terlebih Jongin tidak membantah sama sekali pernyataan appa angkatnya itu mengenai status dirinya yang masih disebut sebagai kekasih.

Jongin sesekali meneguk minuman seraya menatap pintu masuk seolah menunggu seseorang, ia hampir saja tersedak ketika seseorang yang ia tunggu muncul bersama dengan seorang gadis yang ia kenal dan membuatnya kesal.

“ Uhuk…uhuk “

“ Kau kenapa ? “ Tanya Krystal khawatir.

Jongin mengangkat tangannya memberi tanda bahwa ia baik-baik saja, matanya masih terus menatap ke arah dua orang yang berjalan semakin masuk dan hampir mendekat ke arahnya.

Sementara,

“ Launching KangJin Corp ? pabbo!!! Aku lupa jika ini amanat halmeoni “ Ucap Jiyeon, ia sedikit kecewa khayalannya meleset, ia pikir Myungsoo akan mengajaknya makan malam hanya berdua saja diluar.

Lagi-lagi ia selalu membayangkan seolah-olah Myungsoo perhatian dan memiliki perasaan lebih padanya, padahal sudah jelas-jelas ia tidak akan pernah masuk dalam kategori wanita yang ahjussi itu sukai sampai kapanpun. Jiyeon tersenyum kaku pada setiap orang yang melihat penampilannya, dalam hati ia mengutuk Myungsoo yang membelikan gaun yang kekurangan bahan dibagian bahu dan bawahnya, Jiyeon merasa risih, tangannya pun sibuk menarik-narik bagian bawah gaun meski panjang gaun itu tidak mungkin berubah.

“ Eoh ahjussi !!! “ Jiyeon menyusul Myungsoo yang berjalan cepat didepannya, seolah pria itu hanya sendiri menghadiri acara ini.

“ Ahjussi “ Tangan Jiyeon sudah mencengkeram kuat lengan Myungsoo, membuat pria itu melotot tajam ke arahnya.

“ Mianhae “ Ucap Jiyeon pelan

Jiyeon memegang perutnya yang tiba-tiba sakit, dan dadanya yang terasa nyeri “ Ahjussi aku akan ke toilet sebentar “
Myungsoo menghela nafasnya “ Tidak, kita kedalam dulu, kau bahkan belum memakan apapun, kenapa harus ke toilet ? “ Tanya Myungsoo menghalangi Jiyeon.

“ Memangnya harus memasukkan makan terlebih dahulu, baru boleh ke toilet ? “ Jiyeon mengangkat bibir atasnya bersungut dalam hati, ia pun hanya menurut dan melangkah kembali mengikuti langkah kaki Myungsoo, namun,…

“ Ahhh “

Jiyeon memegang keningnya yang menabrak tubuh Myungsoo karena pria itu berhenti tiba-tiba “ Ahjussi, hati-hati kal.. “ Jiyeon menutup rapat mulut dengan tangannya ketika melihat seseorang yang ia kenal sedang menatap ke arahnya dengan pandangan sama terkejutnya.

Kim Jongin, pria yang kemarin menculiknya dan membawa kerumahnya meski tidak melakukan apapun. Tidak, ia tidak akan membiarkan Myungsoo bertemu dengan Jongin, terlebih ada hal lain yang lebih berbahaya dari sekedar Jongin mengenalnya, Jongin adalah selingkuhan Krystal, ini sangat berbahaya jika mereka saling bertemu, tapi sekarang pria itu bersama siapa dipesta ini ? Bukankah seorang pria hanya akan membawa pasangannya ketika ke pesta ? dan…

Jiyeon kemudian melihat gaunnya, lalu mengamati gaun yang wanita bersama Jongin pakai, meski hanya tampak belakang yang terlihat karena wanita itu membelakanginya, namun ia yakin gaun mereka bukan hanya mirip, tetapi gaun yang sama. Eoh otthokae ? ia malas sekali memakai gaun yang sama dengan orang lain, Pasti akan banyak yang membandingkan, dari belakang saja lekuk tubuh wanita itu begitu sempurna, berbeda dengan tubuhnya.

“ Ahjussi, ayo kita kesana saja “ Jiyeon menarik lengan Myungsoo panik.

Myungsoo yang ditarik menghempaskan tangannya dari Jiyeon, meski bukan sorot wajah marah yang ahjussi ini tunjukkan tetap saja Jiyeon merasa akan ada hal yang tidak beres akan terjadi. Semakin dekat, kini Myungsoo dan Jiyeon sudah berada dihadapan Jongin.

“ Selamat datang Kim Myungsoo, ini adalah acara launching perusahaan appaku “ Ucap Jongin membungkuk memberi sambutan untuk Myungsoo.

Tubuh Krystal langsung menegang ketika Jongin menyebut nama Myungsoo, ia lalu menoleh yang membuat dua orang dihadapannya juga terkejut.

“ Myungsoo-ah “

“ Kau ? “

Keduanya tidak menyangka bertemu di satu tempat dengan pasangan yang lain, Krystal merasa tidak enak, sementara Myungsoo memandang sinis Krystal yang bersama dengan Jongin, ia merasa dibohongi.

Diluar rasa terkejutnya melihat Myungsoo bersama Jiyeon, Jongin tersenyum puas bisa melihat wajah Myungsoo yang kecewa karena Krystal disisinya, ketika ia tahu bahwa perusahaan Myungsoo adalah salah satu yang diundang oleh Presdir Kang, Jongin segera membuang egonya untuk memaafkan Krystal dan mengundang mantannya itu untuk datang, namun kini ia menjadi penasaran, gadis bernama Park Jiyeon apa hubungan keduanya ?

Aku tidak sengaja bertemu dengannya di Jeju, niatku memang akan menemuimu terlebih dahulu, tapi apakah kau juga mempermasalahkan siapa yang pertama dan kedua yang akan aku temui jika hatiku saja selalu mengingatmu meski aku bersamanya, dan juga kau salah telah menuduhnya, ia sudah lama melupakanku, bahkan sekarang ia sudah menikah

” Jadi gadis itu ? ” Tak Percaya Jongin.

***

“ Jadi kau sudah menikah ? “ Tanya Jongin pada Myungsoo.

Myungsoo hanya tersenyum sinis seraya mengocok gelas ditangannya.

“ Istrimu nampak sangat muda, lama tidak bertemu kau mengalami perubahan selera, tapi ia cantik juga “ Ucap Jongin yang langsung membuat Myungsoo menatapnya tidak mengerti dengan pujian Jongin.

“ Kalian sudah lama bertemu ? “ Myungsoo mengalihkan pembicaraan tentang dirinya.

“ Tidak, baru kemarin “ Ucap Jongin singkat.

Keduanya kembali diam, asyik dengan gelas ditangannya,

Sementara di toilet,

“ Eoh bagaimana ini ? aku lupa jika ini sudah tanggalnya “

Jiyeon menatap panik gaun bagian belakangnya yang berwarna merah darah, pantas saja dada dan perutnya terasa sakit, tapi mengapa harus ditempat seperti ini dan di jam-jam yang seharusnya ia sedang sibuk memburu makanan enak dan mahal. Digigit bibir bawahnya resah, tidak mungkin ia menelpon Myungsoo, sejak tadi saja wajahnya terlihat angker, tidak mau….ia lebih memilih untuk menunggu hingga orang lain datang saja.

Hingga beberapa menit berlalu, wajah Jiyeon langsung bersemangat ketika mendengar derit pintu, seseorang masuk dan memutar kran air “ Chogiyo, bolehkah aku meminta tolong ? “ Teriak Jiyeon.

Krystal menoleh ke belakang menatap salah satu pintu toilet, jika tidak salah dengar ia mengenali suara itu “ Park Jiyeon ? apa itu kau ? “ Tanya Krystal.

“ Eoh apa itu ahjumma ? “

Mendengar kata ahjumma membuat kepala Krystal terasa pusing tiba-tiba, yeoja ini menganggap dirinya setua itu “ Nde, apa ada yang bisa aku bantu ? “ Jawab Krystal mencoba menahan kesal.

Krieettt

Jiyeon muncul dari balik pintu toilet dengan wajah meringis, Krystal memperhatikan penampilan Jiyeon dari atas hingga bawah dan tersadar mereka memakai gaun yang sama, ia sudah menebak sejak awal jika Myungsoo membeli gaun yang ia pakai sebenarnya untuk Jiyeon.

“ Ahjumma, apakah kau memiliki pembalut dalam tasmu ? “ Tanya Jiyeon ragu.

Krystal mengangkat alisnya, dan menahan tawa ketika akhirnya Jiyeon berbalik dan menunjukkan noda darah dibelakangnya.

“ Aku tidak membawanya, tapi aku akan keluar dan meminta bantuan yang lain “ Ucap Krystal tenang.

Jiyeon menghela nafas lega, ia pun tersenyum dan menggamit tangan Krystal, meski jujur ia sangat malas melakukannya, namun ia harus merendah, karena dia dalam posisi butuh pertolongan.

“ Gomawo, jika tidak ada ahjumma entah sampai kapan aku akan terkurung disini “ Ucap Jiyeon menghela nafas tenang.

***

“ Kau darimana ? “ Tanya Jongin lembut.

Krystal tidak langsung menjawab, dilihatnya Myungsoo membuang pandangan tidak menatap ke arahnya dan Jongin “ Mencari ketenangan diluar “ Ucap Krystal masih menatap tidak enak pada Myungsoo.

Tidak sengaja Myungsoo mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tiba-tiba ia teringat Jiyeon yang sudah cukup lama menghilang “ Aku pamit “ Ucap Myungsoo kepada Jongin dan Krystal, ini bisa dijadikan alasan untuk pergi dari dua orang yang membuat hatinya panas.

“ Mau mencari istrimu ? “ Tanya Jongin kembali menyebut status Jiyeon.

“ Eoh “ Ucap Myungsoo terpaksa dan berlalu begitu saja.

Krystal tidak dapat berbuat apa-apa, ia tetap memilih untuk bersama dengan Jongin tanpa berusaha menjelaskan apapun pada Myungsoo tentang keberadaannya bersama Jongin.

***

Myungsoo menggusak rambutnya kasar, ia sudah berkeliling namun Jiyeon tidak juga ia temukan, hampir putus asa, ia lalu teringat sesuatu “ Aigo….apa aku harus kesana ? “ Tanyanya ragu

Di Toilet,

“ Kenapa lama sekali ? apa tidak ada satupun orang yang memiliki pembalut ? “ Jiyeon semakin resah didalam toilet, Krystal yang berjanji untuk menolongnya belum juga kembali.

“ Chogiyo…tolong aku, apakah ada orang disana ? aku mohon tolonglah “ Jiyeon berteriak berharap ada orang lainnya yang dapat membantu.

Sepi, tidak ada tanda-tanda orang lain masuk, ia pun menunduk lemas “ Ahjussi, tolong aku !!! apa kau tidak merasa kehilanganku ? “

“ Yya!!! Apakah kau ada disana ? “

Jiyeon langsung mendongakkan wajahnya “ Ahjussi apa itu kau ? ahjussi aku disini “ Teriak Jiyeon begitu gembira doanya terkabul, terlebih itu adalah Myungsoo yang datang.

Mendengar ada balasan, Myungsoo menatap kekiri dan kekanan, tidak ada siapa-siapa, lalu perlahan masuk kedalam toilet wanita “ Kenapa kau lama sekali ? cepat keluar sekarang “ Teriak Myungsoo was-was berada terlalu lama didalam toilet wanita, ia khawatir akan ada yang memergoki dan menganggapnya memiliki kelainan seks.

“ Ahjussi, aku tidak bisa keluar “ Ucap Jiyeon lebih terdengar seperti rengekan.

“ Yya keluar saja, palli aku tidak mau orang menganggku yang tidak-tidak “ Myungsoo memaksa Jiyeon yang masih berada didalam, ia terus menoleh ke arah pintu khawatir.

“ Ahjussi “ Jiyeon muncul dengan wajah meringis.

Myungsoo tidak mengerti apa arti ringisan Jiyeon “ Palli !!! cepat keluar “ Paksanya kembali

“ Aku butuh pembalut “ Ucap Jiyeon takut-takut.

“ MWO ???? “

***

“ Jeongmal, ini memalukan “ Myungsoo mendesah berat ketika baru menapakkan kaki di minimarket.

Jiyeon membuat Myungsoo harus mempertaruhkan harga jualnya dihadapan banyak orang, bagaimana mungkin pria setampan dirinya diperintah oleh seorang anak kecil untuk menemukan benda menijijikkan yang seharusnya hanya wanita yang memegangnya.
Myungsoo mengendap-endap menuju rak pembalut, sampai disana ia hanya terbengong menatap berbagai macam pembalut yang ia tidak tahu apa perbedaannya.

“ Hihihi….rupanya seorang pria juga membutuhkan pembalut “

“ Dia pasti pria yang sangat menyayangi pasangannya “

Myungsoo mendengar bisik-bisik dibelakangnya, ia berdecak kesal. Ini akan menjadi pertama dan terakhir allien itu membuatnya malu seperti ini, Myungsoo mengambil asal salah satu jenis pembalut dan meletakkan tangan pada pelipis kiri menyembunyikan wajahnya.

Masih ada satu tahapan lagi yang harus Myungsoo lalui, dan ini puncak rasa malunya, sudah ia duga kasir itu juga pasti tidak akan percaya sebungkus pembalut dibeli oleh seorang pria, Myungsoo meletakkan kedua tangan disaku, memasang wajah cool yang ia lemparkan ke arah lain seraya bersiul, tidak peduli kasir dan pembeli yang lain menatapnya seraya tersenyum sembunyi-sembunyi.

“ Ini belanjaan anda tuan “

Myungsoo dengan cepat meraih belanjaannya dan membiarkan uang lebih untuk kasir yang sudah berani menertawakannya, ia langsung berlari dari minimarket yang seolah rumah tantangan bagi dirinya.

***

Myungsoo mengepalkan tangannya kuat, nafasnya masih terdengar memburu namun kini harus ia tambah dengan rahangnya yang mengeras, Myungsoo merasa usahanya sia-sia jika ternyata Jiyeon sudah berhasil keluar dari toilet bukan karena bantuannya.

Jiyeon menunduk dalam, meremas gaunnya tidak berani menatap Myungsoo yang terlihat begitu marah, ia sudah menolak keras bantuan Jongin yang ingin mengeluarkannya dari toilet karena Myungsoo sedang berusaha menolongnya, namun akhirnya ia luluh ketika dengan cepat dan tidak peduli Jongin mengikatkan jasnya pada pinggang Jiyeon untuk menutupi bercak merah.

“ Aku menemukannya ditoilet, kau kemana saja ? dia sudah menunggu lama bantuanmu “ Ucap Jongin seolah menganggap Myungsoo tidak peduli.

Myungsoo menatap tajam tidak ke arah Jongin melainkan Jiyeon, ia benar-benar kesal pada allien yang membuatnya berkeringat malam-malam hanya untuk membeli barang yang sama sekali tidak penting untukknya jika setelahnya ada pria lain yang ia terima bantuannya, mungkin ini adalah hal sepele bahkan seharusnya Myungsoo berterimakasih karena dengan begitu Jiyeon tidak terlalu lama tersiksa didalam toilet, namun entah mengapa ia merasa kesal, rasanya lebih kesal dibandingkan ketika ia melihat Krystal bersama dengan Jongin.

“ KITA PULANG !!! “ Myungsoo menarik paksa tangan Jiyeon dan pergi meninggalkan Jongin dan Krystal.

Jongin tersenyum dan mengangguk mengerti, melihat kemarahan Myungsoo yang seperti tadi membuat ia harus mengganti target rencananya, dan keputusannya ialah akan tetap meminta Jiyeon membayar semua hutangnya, kali ini ia pasti berhasil membuat Myungsoo merasakan apa yang pernah ia rasakan dulu.

Sementara Krystal yang berdiri disamping Jongin menatap tidak mengerti, ia tidak menyangka dengan apa yang Jongin lakukan, namun ia yakin Jongin melakukannya karena ingin membuatnya cemburu.

“ Aku tidak mungkin kalah dengan anak kecil itu “ Batin Krystal dengan mata tajam menghitam.

*TBC*

110 responses to “[ CHAPTER – PART 7 ] COUPLE OR TROUBLE ?

  1. Hai thor~ maaf ya baru nyempetin ninggalin jejak di part ini abis aku penasaran bgt ama kelanjutannya sekali lg maaf ya thor
    Oiya aku suka ff nya feelnya dpt mulai dari seneng sedih kesel marah dsb/? Aku bahkan sambil bayangin idolnya kyak lg nntn drama/? Wkwk lanjutin ffnya ya thor semangaaattttt!!!!
    Semoga komen ini ke post ><

  2. hahhhh si myungsoo di gntungin krystal walaupun dia thu krys tdk mncintainya tpi mlht dri gelagat krys ia sprti menginginkn kduanya..
    dukung jonginnnnnn buat aja si myung menyesal.

  3. Myung baik banget mau beliin jiyi pembalut, dan dia mengesampingkan rasa gengsix 😊 tapi kasian dia udah malu beliin jiyi pembalut eh akhirx jiyi di tolongin orang lain ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s