[Chapter-Part 2] Seven Years of Love

syol

Seven Years of Love (Chapter 2)

Ayako Jung Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Park Jiyeon [T-ARA’s Jiyeon] || Genre : Romance, Hurt/Comfort, Sad, AU, Angst, Divergence, Drama, Non-Canon, Tragedy, and Friendship || Rating : PG-17+ || Length : Series/Multichapter || Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there same any title or characters. Sorry if you find typo(s)

A/N : Tulisan yang bercetak italic (miring) artinya masa lalu.

Big Thanks to : bekey @ Cafe Poster for amazing poster!

Previous : Chapter 1

Happy Reading ^^

***

Kemana semangat seorang Park Jiyeon? Yang dulunya selalu tampil dengan ceria di hadapan orang banyak maupun di dunia luar? Semuanya bahkan sudah hilang. Tidak ada senyum ceria yang menghiasi wajahnya, tidak ada suara penyemangat yang selalu menyemangati temannya yaitu Jung Soojung. Semuanya sudah sirna, Jiyeon yang awalnya ceria sekarang sudah sirna tidak ada lagi Jiyeon yang ceria. Sekarang malah menjadi terbalikannya yaitu selalu memandang seseorang dengan tatapan sayu dan juga tatapan yang menyiratkan sebuah kelelahan atau kehilangan seseorang yang dalam. Siapa lagi yang bisa membangun Jiyeon yang dulu? Hanyalah lelaki itu yang merupakan Cinta Pertama nya dan bahkan sudah dianggap oleh Jiyeon adalah Cinta Terakhir nya. Kim Myungsoo. Nama yang cukup sederhana namun bisa membuat jantung Jiyeon berdegup dan juga jiwa raga nya yang sebelumnya selalu low sekarang bisa tampil ceria. Seakan ponsel yang baru di-charge semalaman. Itulah Jiyeon yang dulu, sejak bertemu dan berpacaran dengan Kim Myungsoo semuanya telah berubah menjadi lebih jungkir balik dari yang sebelumnya. Sekarang? Keadaan Jiyeon sekarang? Kembali memutar pada sifatnya yang dulu –sekarang bahkan lebih buruk– Memang benar apa kata orang, Cinta memang bisa mengalihkan dunia seseorang. Bahkan Cinta bisa menjadikan seseorang itu untuk tampil lebih baik lagi. Itulah kelebihan kekuatan Cinta. Apalagi ikatan kedua Cinta yang tulus.

“Jiyeon-ah,”

Sebuah suara mengangetkannya. Kemudian kepalanya mendongak untuk melihat wujud orang itu, semenjak menangis tadi Jiyeon selalu menanamkan kepalanya pada kedua lututnya. Dan semenjak tadi Jiyeon juga berdoa agar Tuhan bisa menurunkan hujan sekarang ini, kalau hujan datang orang-orang yang berada di sekitarnya tidak akan menyadari bahwa ia menangis. Menangis bersama hujan. Ditolehkannya kepalanya pada sesosok gadis yang sebelumnya memanggilnya, sang sahabat yang selalu ia hindari. Setiap ada Soojung ia selalu menghindarinya dengan alasan bahwa tubuhnya sedikit tidak enak badan dan berniat pulang kemudian beristirahat disana. Alasan yang logis dan cukup bisa dipercayai oleh Soojung. Sebetulnya ia berencana untuk pergi ke tempat ini kemudian menyendiri disini, sendirian. Sejak kepergian Myungsoo tanpa kabar dan cukup membuat shock berat. Memangnya segitu berartinya ‘kah Kim Myungsoo untukmu nona Park? “Soojung?!” dengan sedikit perasaan kaget, Jiyeon langsung menghapus sisa-sisa air mata nya yang masih sedikit mengalir. Tidak! Soojung tidak boleh sampai tahu bahwa ia kali ini sedang menangis sekarang ini, ia tidak boleh terlihat kembali lemah di hadapan sahabatnya. “Kau sedang apa disini?” dengan ber-susah payah Jiyeon menetralkan suaranya yang tadinya terasa seperti orang terisak habis menangis. Jiyeon diam sejenak seraya menunggu respon dari Soojung.

Soojung melangkah untuk menemui Jiyeon. Sebenarnya ia sudah melihat dari kejauhan bahwa sahabatnya itu sedang menangis, Soojung mengetahui betapa cinta nya Jiyeon pada Myungsoo. Pasti berat untuknya untuk terus menunggu seseorang di luar sana dengan kabar yang tidak pasti alias kabar angun. Soojung tahu betapa tersiksa nya Jiyeon semenjak kepergian Myungsoo yang sangat mendadak dan Myungsoo hanya mengabari Jiyeon lewat secarik kertas yang ia tulis. Sekarang ia sudah berpura-pura tidak menangis, memang acting Jiyeon cukup hebat sehingga sekarang bisa membuat Soojung sedikit percaya bahwa ia baik-baik saja sekarang. Kemudian Soojung mendudukan dirinya di samping Jiyeon, kemudian tangannya terulur untuk menyentuh pundak sahabatnya itu kemudian mengelusnya pelan. Sebelum Soojung benar-benar mengeluarkan perkataannya, ia mengambil nafas terlebih dahulu. “Hmm, sebenarnya aku sedikit berat mengatakan hal ini untukmu. Tapi setelah melihatmu sedikit terpuruk melihat kepergian Myungsoo oppa aku menjadi tidak tega dan ingin menenangkanmu. Aku mohon jangan seperti dulu lagi Jiyeon-ah.. Apakah segitu berartinya Myungsoo oppa pada kehidupanmu? Ku tanya sekarang, kemana semangat seorang Park Jiyeon yang selalu tersenyum? Kemana sosok seorang Park Jiyeon yang sangat ceria dan selalu memberi dukungan untuk sahabatnya?! Semuanya sekarang? Sudah hilang, malah digantikan dengan sosok seorang Park Jiyeon yang selalu terlihat sedih dan bukan kecerian lagi. Aku tahu, tapi tolong jangan terus menerus seperti ini!” Soojung menaikan nada suaranya. Tadinya ia berusaha untuk tampak tenang dan berucap lembut serta penuh dengan pengertian untuk sahabatnya. Tapi sekarang ia malah berucap dengan nada tinggi.

Jiyeon terdiam sejenak, seakan mencerna setiap kata yang diucapkan Soojung olehnya. Kemudian tangan Soojung yang sedaritadi sudah bertengger di pundaknya ia singkirkan dengan sedikit kasar. Kemudian berdiri. “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Soojung-ah, kau tidak pernah merasakan arti dari kehilangan seseorang itu seperti apa! Myungsoo oppa memang seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku bahkan sangat takut untuk kehilangannya. Aku tidak mau kehilangannya, aku bahkan sudah berjanji bahwa Myungsoo oppa adalah Cinta Pertama sekaligus adalah Cinta Terakhirku. Aku memang sudah ingin menjadi hatiku untuknya sampai dia kembali, tapi kenapa sampai sekarang ia belum bisa kembali?! Sebenarnya apa yang ia lakukan?! Kau sama sekali tidak bisa merasakannya Soojung-ah!!!!!” bentak Jiyeon. “Kau bahkan belum bisa merasakan sakit yang aku rasakan, rasanya begitu perih mengingat janji yang diucapkan Myungsoo oppa padaku. Aku berharap bahwa ia kembali lagi ke Korea, sampai kapan ia harus berada disana? Bahkan sekarang ia tidak pernah lagi mengabariku, apakah sesibuk itu kah dirinya sampai tidak lagi mengabari kekasihnya?! Mengapa kau belum bisa mengerti Soojung-ah? Kau melihat sahabatmu sedang menangis tapi kau malah berkata seperti itu padanya, aku sedikit kecewa padamu.” Tutur Jiyeon dengan air mata yang kembali mengalir dari pelupuk matanya. Sungguh sedaritadi ia berusaha keras untuk tidak berkedip agar tidak ada air mata lagi yang keluar dari pelupuk matanya, ia tidak mau lagi terlihat lemah di hadapan Soojung. Tapi semuanya tidak berhasil, Jiyeon gagal, ia kembali mengeluarkan air mata kesedihannya di depan sahabatnya sendiri. Lututnya bahkan sekarang sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi, seakan kakinya sudah sangat lemah. Benar. Gadis ini terjatuh di rumput yang tadinya ia pijaki, sungguh ia tidak bisa lagi menahan beban semua ini. “Aku lelah menunggunya. Sudah sekian lama aku menunggunya, tapi kenapa ia belum kembali lagi Soojung-ah?” ucap Jiyeon lirih. Ia kembali membenamkan kepalanya pada kedua lututnya. Semuanya terasa menjadi serba salah, di satu sisi memang salah Myungsoo karena sudah membuat Jiyeon shock karena kepergianya yang begitu mendadak dan hanya meninggalkan secarik kertas. Sekarang Jiyeon sudah tidak bisa habis pikir lagi, kenapa Myungsoo bisa begitu saja meninggalkannya begitu saja? Apakah kepergiannya begitu mendadak. Yah, sebenarnya Myungsoo itu mendapatkan beasiswa sehingga ia bisa melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Soojung terdiam, hatinya sekan tertohok melihat keadaan Jiyeon yang kian lama mulai semakin kacau. Ayolah kenapa sifatnya yang dulu harus kembali terulang? Ini yang tidak di harapkan oleh Soojung. Yang di katakan oleh Jiyeon tadi memang ada benarnya. Kenapa Myungsoo tidak kunjung kembali? Ini sudah tujuh tahun Jiyeon mengharapkan Cinta nya kembali ke sisinya. Soojung tahu, betapa lelahnya menjadi Jiyeon harus menunggu seseorang dan tidak mendapatkan suatu kepastian dari orang tersebut. Myungsoo sudah berjanji pada Jiyeon dan Myungsoo harus menepatinya karena janji adalah hutang. Ugh~ Jika saja sekarang Myungsoo sudah kembali secara tiba-tiba, Soojung berjanji akan menghajar lelaki sialan itu habis-habisan karena sudah membuat sahabatnya bersedih dan rapuh. Tadinya Soojung berencana untuk menghibur Jiyeon, tapi ternyata tidak bisa. Sekarang otaknya mendadak berhenti berfungsi dan tidak bisa berpikir cara itu menghibur sahabatnya itu. Otaknya seakan mendadak mati. “Kenapa tidak ada ide?” gumam Soojung terdengar seperti bisikan yang sangat pelan. Semoga saja Jiyeon tidak mendengar suaranya. Soojung mengepalkan tangannya, sungguh sekarang ia sudah frustasi dan merasa emosi karena sudah menjadi sahabat yang buruk bagi Jiyeon. Rasanya ia ingin mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Tolong tinggalkan aku sendirian,”

Ucap Jiyeon menyadarkan lamunan Soojung. Ada rasa berat dalam hatinya untuk meninggalkan sahabatnya itu sendiri disini. Ia tidak tega meninggalkan Jiyeon dalam keadaan seperti ini, sahabat macam apa dia yang tega nya meninggalkan sahabatnya dalam keadaan buruk seperti ini? Di lain sisi ia juga takut terjadi hal yang tidak-tidak pada Jiyeon. Jiyeon menggigit bibir bawahnya, berapa air mata lagi yang harus ia keluarkan? Ini sudah kesekian kalinya ia menangis karena Cinta. Kenapa air mata nya harus kembali mengalir? Sebelumnya ia tidak pernah menangis, kenapa sekarang ia menjadi gadis yang sangat rapuh hanya karena seorang laki-laki? Myungsoo pernah berkata padanya bahwa gadisnya tidak boleh mengeluarkan air mata sedikitpun, apalagi Jiyeon menangis karena dirinya. Sekarang malah menjadi kebalikannya? Benar. Semua itu benar! “Soojung-ah, aku mohon! Tinggalkan aku sendiri, aku akan kembali jika aku menginginkan hal itu. Untuk kali ini, tolong tinggalkan aku sendirian, aku perlu waktu sendiri.” Ucap Jiyeon dengan nada yang tegas dari sebelumnya. Seperti nada orang yang sedang memerintah. “Aku tahu perasaanmu. Aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan aku lagi. Aku tidak akan pulang malam, mungkin setelah aku puas berdiam diri disini aku akan beranjak kemudian pulang dan akan segera menghubungimu jika aku pulang dengan keadaan yang selamat dengan tubuh yang masih sangat utuh dan normal.” Lanjutnya lagi dengan pandangan kosong tanpa menatap kearah Soojung.

Sejak kejadian Jiyeon mengenal Myungsoo lebih dekat. Saat Myungsoo berkata ingin mencoba berteman pada Jiyeon, hati gadis ini seakan berbunga-bunga dan ribuan kupu-kupu sekana keluar dari hatinya. Jiyeon bahkan tidak bisa membayangkan begitu senangnya dirinya saat bisa berteman dengan Myungsoo. Walaupun hanya berteman saja itu sudah membuatnya senang, apalagi lebih? Ah tidak, untuk saat itu Jiyeon tidak ada pikiran untuk hal yang semacam itu. hubungan mereka bahkan sekarang semakin dekat –bahkan lebih dekat daripada Jiyeon dan Soojung– Jiyeon lah teman wanita satu-satunya Myungsoo. Jadi banyak yang sedikit cemburu apabila Jiyeon berdua dengan Myungsoo atau sekedar makan bersama. Tapi karena hal itu membuat Jiyeon lebih terlindungi. Saat ini mereka sedang berada di salah satu café, rencananya mereka ingin mengerjakan tugas bersama atau belajar bersama. Soojung saja sampai hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ke-excited nya Jiyeon saat Myungsoo menelfonnya.

“Ternyata dia benar-benar berbeda dari para wanita yang aku kenal sebelumnya,” gumam Myungsoo dengan sangat pelan. Jiyeon masih sibuk ber ‘kencan’ dengan salah satu tugas Matematika nya. Tampaknya ia benar-benar serius mengerjakan itu. Sampai-sampai Myungsoo tidak tega untuk menganggunya karena saking serius. “Jiyeon-ah, apakah ada yang bisa aku bantu?” sedikit membantu dia tidak apa-apa bukan? Lagipula agar tugas Jiyeon cepat terselesaikan dengan adanya bantuan Myungsoo. Siapa tahu ada salah satu soal yang tidak Jiyeon ketahui bagaimana caranya. Ternyata dibalik sifat dinginnya, Myungsoo mempunyai kehangatan sebetulnya. Ia sedikit mempunyai sifat dingin yang tidak terlalu menonjol. Tapi sesungguhnya ia adalah lelaki yang hangat. 

“Tidak. Terimakasih,” ucapnya singkat. 

Myungsoo menghela napas. Gadis ini ternyata pintar, pikirnya. Sebelumnya Myungsoo tidak menyukai situasi yang seperti ini; canggung dan tidak ada obrolan sama sekali. Rasanya.. Tidak menyenangkan. Sungguh, sepertu seseorang yang tidak saling mengenal sebelumnya. Tanpa di ketahui oleh Jiyeon, Myungsoo mengamati seluk-beluk paras manis milik Jiyeon. Entah kenapa, lelaki bermarga Kim itu sangat terpesona dengan rupa wajah Jiyeon. Seperti tersihir karena melihat paras manis gadis itu. Ternyata jika di lihat lebih dekat, Jiyeon terlihat lebih cantik. Gadis secantik ini tidak pernah berpacaran? Ah, bukan hanya modal wajahnya saja yang terlihat manis, tapi dia juga sangat pintar, ramah, dan kalem. Apakah tidak ada seorang lelaki pun yang pernah menyatakan perasaannya pada Jiyeon? Pikir Myungsoo lagi. Sungguh mengherankan untuk hal ini. Padahal Jiyeon itu lebih beda dari yang lain. Mungkin saja lelaki lain lebih memilih modal wajah daripada hatinya. Myungsoo hanya mementingkan hatinya, sungguh! Ia tidak pernah memandang secantik apapun wajah gadis-gadis yang sering mengirimi surat atau menjadi secret admirer itu, sesungguhnya ia lebih tertarik pada gadis yang unik. Yang tidak menang dia paras wajahnya saja, tetapi juga di dalam hatinya. Yap, Myungsoo sangat menyukai gadis yang seperti Jiyeon ini. Ataukah… Myungsoo menetapkan Jiyeon sebagai type nya? Mungkin saja.

“Myungsoo-ssi?”

Ucapan Jiyeon tadi membuyarkan lamunan Myungsoo. “Ya?” dengan gelagapan Myungsoo menjawab pertanyaan Jiyeon. Yang ia takutnya adalah: Myungsoo kepergok sedang memandangi wajah Jiyeon. Itu hal yang paling memalukan yang pernah dilakukan oleh Myungsoo. “Ah kau melupakan itu lagi, eoh? Sudah kubilang berapa kali kepadamu kalau kau harus memanggilku dengan sebuatn oppa dan bukan dengan embel-embel ssi lagi. Itu terlalu formal, lagipula kita juga sudah saling mengenal satu sama lain. Ayolah, coba untuk memanggilku dengan sebutan oppa.” Rajuk Myungsoo. Ternyata kau punya cara lain untuk mengalihkan pembicaraan Jiyeon Tn. Kim? Pintar! Memang benar juga ucapan Myungsoo tadi, karena Jiyeon terlalu sering memanggil Myungsoo dengan embel-embel ssi dan Myungsoo tidak menyukai hal itu, karena mereka sudah mengenal dan tidak menggunakan ucapan formal bukan? Myungsoo merupakan type orang yang santai. Apa salahnya memanggil dirinya dengan sebutan oppa? Takut di bunuh oleh fans Myungsoo Nona Park? “Disini juga bukan di sekolah Nona Park,”

“Bagaimana jika ada fans mu disini? Bisa saja mereka langsung membunuhku dalam sekejap,” canda Jiyeon. Yah, perkataannya tadi tidak ada maksud serius dan hanya bercanda. Jiyeon tahu Myungsoo begitu banyak mempunyai fangirl, dan sebenarnya lelaki Kim itu pantas untuk menjadi seorang idola. Tapi sayangnya Myungsoo tidak terlalu tertarik. “Ah maaf, mungkin karena aku belum terlalu terbiasa memanggilmu dengan sebutan oppa. Rasanya lidahku ini belum terlalu menerima,” candanya lagi. Jujur saja, sebenarnya lidah Jiyeon rasanya belum menerima atau belum terbiasa memanggil Myungsoo dengan sebutan oppa. Rasanya memang sangat asing, mungkin saja ia belum terlalu terbiasa. Menurutnya, lidahnya itu sangat kurang untuk mengucapkan kata oppa? Ini aneh, tapi itulah sebenarnya. Dasar Jiyeon, gadis ini memang sedikit aneh.

“Mungkin saja. Tapi bisakah tolong latih lidahmu untuk memanggilku dengan sebutan oppa? Tapi jangan terlalu lama berlatih, karena aku tidak menyukai hal itu.” rajuk Myungsoo lagi.

“Jangan mengeluarkan aegyo menjijikan milikmu.” Cibir Jiyeon dan kembali mengerjakan tugasnya. “Dan jangan ganggu aku. Kau ‘kan tadi sudah berjanji untuk tidak mengangguku dan kita hanya sebatas belajar bersama!”

Pertemuan yang cukup singkat dan juga mengeluarkan beberapa curhatan yang mereka keluarkan saat itu, tapi itu cukup membuat gadis bermarga Park ini sangat senang. Harinya seperti penuh dengan warna-warni ceria dan menyenangkan. Jiyeon sendiri bahkan tidak bisa membayangkan betapa bahagia nya ia saat itu, sangat tidak bisa di perkirakan. Banyak para gadis yang merasa sangat diri dengan dirinya karena bisa dekat dengan Myungsoo. Tapi untunglah saat itu gadis-gadis di sekolahnya cukup mengerti agar tidak melakukan hal yang berlebihan seperti; Menjahilinya dan membencinya. Itu terlalu berlebihan. Nasib baik masih berpihak pada Jiyeon. Orang-tuanya sebenarnya tidak tahu tentang masalah ini, Jiyeon menyimpannya sendiri kecuali dengan sang sahabat Soojung. Orang tua nya saat itu juga sudah bisa menerima Myungsoo sebagai pendamping hidup Jiyeon di masa depan dan merestui hubungan mereka berdua sampai ada waktunya mereka untuk menikah. Myungsoo sudah di percayakan untuk menjadi kebahagiaan untuk anaknya? Kenapa lelaki bermarga Kim itu harus pergi dan tidak menjaga amanat Jiyeon sepenuhnya? Yang lebih parah, ia menghilang tanpa kabar kecuali mengabari Jiyeon lewat secarik kertas. Jiyeon menatap langit yang sekarang sudah gelap, berarti malam sudah tiba tanpa adanya cahaya matahari lagi kecuali menunggu hari esok. Matanya melirik kearah samping, Soojung sudah tidak ada. Berarti ia meninggalkan Jiyeon untuk sendiri. Ada sebuah cerita awal di pertemuan Myungsoo dan Jiyeon. Ada sebuah cerita yang tidak di ketahui oleh Jiyeon tentang Myungsoo.

“Aku percaya padamu bahwa kau bisa kembali padaku. Meski aku tidak tahu itu kapan dan aku hanya bisa menunggu kau kembali ke sampingku. Memang ini cukup berat dan membuat hatiku sakit dan cukup lelah. Tapi, aku berjanji untuk menjaga hatiku untukmu. Aku cukup menghargai mu, walaupun kau sudah tidak bisa menjaga janji mu padaku. Tapi suatu saat nanti kau bisa kembali menepatinya padaku!”

***

Seberapa jauh waktu membawaku pergi semakin menjauh darimu, itu tetap tidak akan merubah segalanya.

Aku yang mencintaimu dengan sangat dan juga hati yang sangat tulus, tak pernah sedikitpun terbesit di pikiranku untuk melupakanmu dari pikiran dan hati ini. Hatiku terasa terkunci dan hanya kau yang bisa mengambil gembok itu. Karena, saat kau datang kau telah mengambil sebuah kunci di hatiku kemudian menyimpannya sendiri. Kau seakan tidak mau membagi kunci itu.

Tapi aku percaya satu hal. Aku selalu disisimu, kemanapun kau pergi dan meski tak terlihat… Lewat doa pun aku bisa memelukmu.

Aku tidak akan melupakanmu!

***

Mengapa Jiyeon bisa mengenal Myungsoo? Bagaimana awal pertemuan mereka berdua? Sebenarnya itu begitu singkat. Dan entah kenapa bisa membuat hati Jiyeon berdegup dengan sangat kencang, awalnya gadis itu juga tidak pernah percaya kenapa hatinya bisa berdegup melihat rupa sang lelaki. Dan saat itulah ia merasakan hal-nya Cinta. Alias Jiyeon jatuh Cinta pada Pandangan pertama dengan seorang lelaki yang berhasil membuatnya jatuh hati dengan sekejap. Sebenarnya Jiyeon bukan type seorang gadis yang bisa begitu saja Jatuh Cinta atau Suka dengan orang lain atau siapapun kecuali ia sudah mengenal baik dengan orang itu. Dan selama ini ia juga belum pernah merasakan hal-nya Hati berdegup dengan kencang atau wajah bersemu merah karena bertemu dengan gebetan masing-masing, dan disini! Untuk pertama kalinya ia merasakan hal itu, Jiyeon juga belum percaya sepenuhnya. Tapi setelah ia selidiki lebih jauh dan barulah ia mengerti apa itu Cinta. Saat awal pertemuan mereka, mereka juga belum sempat sadar. Meski Myungsoo yang lebih dulu menyadarinya.

Tap… Tap… Tap…

Langkah seorang gadis terdengar, seiring sosoknya yang mulai terlihat tengah berlari dengan tas yang digunakannya sebagai penyangga diatas kepalanya. Hujan memang sudah mengguyur halaman depan sebuah sekolah menengah atas yang bernama Shinhwa High School, yang berada di utara daerah Gangnam-Gu itu memang cukup deras. Sang gadis hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Heran, padahal sejak tadi pagi cuaca cerah menyambut awal paginya yang di pertanyakan sekarang adalah kenapa bisa hujan tiba-tiba seperti ini? Pikirnya heran. Sang gadis menurunkan tas nya yang ia gunakan untuk menghindari air hujan agar tidak mengenai kepalanya itu seraya mengibas-ngibaskan bajunya yang sedikit mengenai percikan air, begitu ia sampai di sebuah pos Security yang kosong.

Aigo eottheokhe? Semuanya basah!” gerutunya. Sang gadis mem-pout ‘kan bibirnya lucu, bertanda bahwa ia sedang dilanda rasa bad mood yang teramat mendalam oh yeah, ini memang terlalu berlebihan. Tunggu apakah gadis itu tidak sadar bahwa tidak hanya dia saja yang tengah berdiri di tengah rinai hujan saat itu. Sebenarnya ada satu sosok lagi yang berdiri disana dan orang tersebut sedikit terkesima melihat rupa sang gadis yang hanya menjaga jarak lima langkah saja darinya. Bola mata coklat mudanya kini tengah menatap wajah jelita gadis yang persis berada di sampingnya. Namun sepertinya sang gadis sangat tidak peka dengan kehadiran lelaki itu disana. Terbukti sang gadis disana tengah mengeluh seraya membersihkan bajunya yang terkena percikan air.

“Aishh, Soojung dan Taeyeon sunbae pasti akan mengomeli ku karena aku sudah datang terlambat!” keluhnya kesal seraya menggigit bibir bawahnya, mungkin itu salah satu ciri khas nya ketika sedang berpikir keras. “Apa aku menerobos hujan saja ya? Sepertinya kalau aku meningkatkan laju lariku berubah menjadi cepat, mungkin baju ku tidak akan basah. Yah walaupun nanti pasti akan terkena, meski sedikit.” Lanjutnya lagi, berusaha mengambil tindakan. Dia memang tidak boleh berlama-lama di tempat ini. Dirinya masih merupakan seorang hoobae kelas sepuluh pada semester awal di sekolah ini, beruntung ia bisa terpilih menjadi anggota di sana masuk ke dalam kelas musik yang ketat dan hanya bisa masuk lewat penyeleksiannya itu. tidak semua orang yang memiliki niatan musik sehingga bisa masuk ke dalam kelas khusus tersebut. Hanya orang-orang yang mempunyai kemampuan dan bakat saja, yang bisa berkumpul bersama tiga puluh orang yang merupakan siswa-siswi pilihan dari seluruh murid yang berada di sekolat elite tersebut, tidak perduli ia dari kelas berapapun.

To be Continue..

Tadaa~~ Author kembali membawa chapter 2.. Mungkin agak gaje chapter 2 ini *pundung di pojokan* maaf yaa~~ Oh ya, tolong tinggalkan comment serta like kalian yaa *buing-buing* #hoekk. Kalian comment dan like kalian sangat berarti bagi ku dan juga sumber motivasi aku😀. Terimakasih🙂

24 responses to “[Chapter-Part 2] Seven Years of Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s