[Chapter 7] School Rush!! Season 2

POSTER

fanfiction intro-_-

A/N : Sepertinya bellalang harus memberitahu kalian bahwa setting cerita ini pas musim gugur, jadi suhu udara di Seoul mulai menurun alias dingin. Maaf kalo updatenya lama pake banget, tapi bellalang udah usahain buat nepatin janji buat publish tanggal 10 Februari. 4 hari lagi adalah hari valentine, jadi di chapter ini ada sedikit adegan romantis antara Jiyeon dan Myungsoo!! [UNEDITED] BANYAK TYPO (poster buat sendiri)

Jiyeon POV

“Apa tidak ada orang disini? Seseorang tolong nyalakan lampunya” Aku mengedarkan pandanganku ke berbagai arah, tapi disini terlalu gelap sehingga aku tidak dapat melihat apapun disekitarku. Ketika saat indra penciumanku menangkap aroma obat-obatan khas rumah sakit, aku merasa ada yang salah dengan diriku.

“Apa ini rumah sakit?” gumamku pelan.

“Dokter! Dokter! DOKTER!” Aku berteriak sekeras mungkin, berharap agar seseorang mendengar teriakkanku lalu masuk kedalam dan menyalakan lampu ruangan ini. Gelap, disini sangatlah gelap sehingga aku bahkan tidak dapat melihat sedikitpun cahaya yang mungkin saja masuk melalui ventilasi ruangan ataupun celah dibawah pintu. Aku merasakan sebuah tangan merangkulku erat dan terasa hangat menenangkan. Aroma tubuhnya dan cara orang ini merangkulku, dia mengingatkanku pada Chanyeol oppaku yang dulu.

“Jiyeon-ah, tenanglah”

“Cha-Chanyeol oppa?” Aku terpaku ketika suara yang sudah kurindukan selama ini, masuk ke gendang telingaku. Apakah ini adalah mimpi? Tapi, kenapa Chanyeol oppa tidak menyalakan lampu ruangan ini?

“You’re blind, Jiyeon”

Chanyeol POV

Aku mengucapkan kata-kata itu dengan isakkan tangis yang tidak dapat aku tahan. Air mata mulai mengalir di kedua mata yang telah kehilangan cahayanya itu. Berulang kali aku menghapus airmata yang turun ke pipinya. Jiyeon bahkan tidak dapat mengeluarkan suara isakannya. Kehilangan pengelihatannya adalah sebuah tragedi bagi seorang fotografer sepertinya.

“Oppa akan bersamamu, sesulit apapun itu” bisikku pelan pada Jiyeon.

Sesulit apapun itu, Jiyeon

~o~

Chanyeol POV

“Dia mengalami benturan keras di kepalanya. Hal ini menyebabkan saraf mata di otaknya terputus. Dia akan mengalami kebutaan total”

Dengan berat hati, aku meninggalkan Jiyeon untuk sementara. Aku membutuhkan pakaian dan beberapa barang milikku dan Jiyeon untuk segera dipindahkan ke apartemen pribadiku sendiri. Dan saat Jiyeon keluar dari rumah sakit nanti, aku akan tinggal disana bersamanya.

“Darimana saja kau, anakku?”Langkahku terhenti sejenak ketika suara ibu tiriku terdengar dari atas tangga.

“Bukan urusanmu”

“Kenapa kau berbicara ketus seperti itu pada eommamu sendiri?”

“Kau bukan ibuku” Aku menatap yeoja tua itu sinis. “Karena sejak saat itu aku tidak pernah menyukaimu sedikitpun!” Aku mengabaikan tatapan kagetnya, dan berjalan menuju kamar Jiyeon terlebih dahulu.

“Apa ada hal yang sedang kau inginkan saat ini, anakku? Sehingga kau bertingkah seperti ini?” Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya.

“Ya. Ada satu hal yang sedang kuinginkan sekarang dan untuk selamanya. Tinggalkan kami! Aku dan Jiyeon tidak akan mengganggumu. Silahkan kau ambil semua yang kami miliki! Dan jangan ganggu kami lagi!” Kuluapkan semua amarah yang selama ini kupendam dalam hatiku.

“Kau membentak eommamu sendiri, sangat tidak sopan!” ujar yeoja itu marah.

“Ancamanmu tidak akan berlaku lagi padaku! Aku yang akan memegang kendali atas hidupku sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan mendengarkanmu lagi. Aku akan berada disamping Jiyeon, aku akan melindunginya darimu” Aku hendak berbalik, akan tetapi sepertinya ada satuhal lagi yang haru kukatakan pada yeoja ini.

“Ahh, satu lagi. Aku memegang seluruh rahasiamu di tanganku. Dengan bukti tentunya. Jika hal ini sampai ke tangan appa, aku penasaran apa yang akan terjadi padamu” Kutatap yeoja itu dingin.

“Kau bagaimana bi-”

“Apa kau pikir selama ini aku hanya diam dan menerima kenyataan untuk menjadi bonekamu? Aku tidak bodoh. Aku bisa menjadi lebih licik daripada dirimu. Karena untuk mengalahkan seekor rubah, aku harus menjadi lebih licik dari rubah” Yeoja dihadapanku mulai menunjukan sisi aslinya.

“Hmm, jadi namja kecil itu sudah berubah menjadi namja licik. Aku membesarkanmu dengan baik rupanya, anak rubah. Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih licik dan pintar” Sebuah senyuman licik tersungging dari mulutnya.

“Sekarang, posisi kita menjadi sama. Aku memiliki pedangku sendiri yang dapat membunuhmu, begitu juga kau. Siapa yang akan mengeluarkan pedangnya terlebih dahulu, kau atau aku?” ujarnya sinis sebelum berlalu pergi.

“Kaulah yang akan mengeluarkannya terlebih dahulu. Tapi, akulah yang akan menancapkannya terlebih dahulu padamu, ‘eomma’”

~o~

Myungsoo POV

Aku menatap pintu putih dihadapanku dengan keraguan. Sejak kemarin, aku ingin segera melangkahkan kakiku kedalam ruangan dibalik pintu ini. Tapi, seperti ada sesuatu yang menahanku yang membuatku tidak dapat masuk kedalam ruangan ini. Untuk kesekian kalinya, kuhembuskan napasku dan memegang gagang pintu dengan tangan dingin. Dan dengan perlahan kubuka pintu itu. Tidak ada siapapun didalam kecuali seorang yeoja yang sedang terbaring dengan selang infus yang masih terhubung di hidungnya.

“Park Jiyeon” Aku hampir tidak dapat mempercayai pendanganku sendiri. Yeoja ini terlihat begitu lemah dan rapuh. Aku mendekati ranjangnya untuk melihatnya lebih jelas. Kulitnya terlihat sangat pucat.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tertimpa reklame?”Aku sadar bahwa suaraku terdengar sangat aneh. Penuh kekhawatiran dan . . . kesedihan.

Saat mendengar keadaannya dari Chanyeol secara tidak sengaja kemarin, aku sudah mengkhawatirkannya dan tidak dapat menutup mataku dengan nyenyak di malam hari. Minseok hyung belum mengetahui kabar ini, karena untuk sementara waktu dia pergi ke Boston. Tentu saja bukan karena dia ingin meninggalkan masalahnya di Seoul, Minseok hyung hanya membutuhkan waktu untuk menangkan dirinya sendiri.

“Park Jiyeon? Apa yang. . . akan kaulakukan setelah ini?” Aku menatap mata yeoja ini yang masih tertutup. Dunianya akan menjadi sangat berantakan. Kebutaannya akan merebut salah satu hal yang paling berharga untuknya, passionnya pada fotografi. Karena bagaimanapun, bagi orang-orang sepertiku dan Jiyeon, sepasang mata adalah indera yang sangat berharga. Kugenggam tangannya erat tanpa meninggalkan pandanganku dari wajahnya.

“Aku . . . tidak mengerti diriku sendiri. Kenapa aku harus merasa peduli padamu?”

Tiba-tiba saja, aku merasa nyaman berada disini. Menggenggam tangannya dan memperhatikan wajahnya yang pucat.

“Apa yang telah kaulakukan padaku, Park Jiyeon?”

Tangan Jiyeon mulai bergerak pelan, dan itu membuatku sedikit terkejut.

Jiyeon POV

Aku merasakan sesuatu yang hangat sedang menggenggam tanganku dengan lembut. Seluruh tubuhku terasa nyaman ketika tangan itu mengelus pelan punggung tanganku. Kubuka kedua kelopak mataku, yang sudah tertutup hampir dua jam setelah Chanyeol oppa pergi untuk mengambil beberapa barang.

“Siapa ini?” Tidak ada jawaban untuk beberapa saat.

“Tidurlah, Park Jiyeon” Suara itu, Kim Myungsoo. Ada apa dengan suaranya? Kenapa hanya mendengar suaranya saja membuatku merasakan sesuatu yang aneh di tubuhku? Apa mungkin ada luka tidak terlihat selain kebutaanku ini?

“Kim Myungsoo?” Ingatanku pada hari dimana Minseok mengkhianati G Class terulang kembali. Aku merasa bahwa sampai saat ini, hidupku seperti mimpi buruk dimana aku tidak dapat bangun dan keluar dari mimpi ini.

“Untuk apa kau kemari?” ujarku dingin dan ketus. Untunglah aku tidak dapat melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Setidaknya, itulah satu-satunya keuntungan dengan keadaanku yang seperti ini.

“Aku . . . Aku hanya ingin mengunjungimu saja. Dan bertanya satu hal”

“Apa yang akan kau tanyakan?”

“Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini?” Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Apa yang akan kulakukan setelah kebutaanku dan setelah mengetahui fakta bahwa Kim Minseok tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari G Class? Aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di saat mendatang.

“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan, dan tidak akan pernah tahu” Setelah menjadi buta, kepriadianku agaknya menjadi sedikit melankolis.

“Eum, maksudku, apa yang akan terjadi padamu, jika kau sekarang bahkan tidak dapat lagi menekan shutter kameramu?”Aku merasakan airmata mulai jatuh dari pelupuk mataku.

“Kenapa kau harus mengatakan hal itu padaku? Kau tahu, sejak hari pertama aku mengalami kebutaan, satu-satunya hal yang membuatku bertahan untuk tidak menyerah untuk hidup adalah tidak memikirkan lagi apa yang akan terjadi pada dunia fotografiku. Dan sekarang, KAU! KAU MENGINGATKANNYA LAGI PADAKU! APA MAUMU??”Aku menggenggam erat sprei ranjangku, berusaha untuk menahan amarahku sedapat mungkin.

Namun, tiba-tiba tubuhku terasa hangat. Seperti ada yang sedang memelukku. Dan aroma tubuh ini, aroma yang selalu berhasil membuatku marah, tetapi selalu membuat jantungku berdetak jauh lebih cepat disertai dengan sensasi aneh pada tubuhku. Seharusnya, berdasarkan logikaku, aku harus segera mendorongnya menjauh. Tapi tubuhku berkata lain. Aku merasa sangat nyaman dan damai dalam pelukkannya, seperti aku tidak mau melepaskan pelukan ini.

“Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu akan hal itu, sungguh. Aku hanya, khawatir padamu, Park Jiyeon” Suaranya yang lembut terdengar sangat dekat dengan indera pendengaranku, dan napasnya dapat kurasakan dari tengkuk leherku. Sebuah perasaan aneh menghampiri diriku. Perasaan yang hangat dan mendebarkan. Apa yang telah dilakukan namja ini padaku?

“Lepaskan aku, Kim Myungsoo” ujarku dingin. Sejenak tadi, aku hampir lupa siapa dirinya.

“Maafkan aku, Park Jiyeon” Aku sedikit tidak percaya pada pendengaranku sendiri. Seorang Kim Myungsoo yang terkenal sangat arogan dan tidak pernah meminta maaf, baru saja mengucapkan kata maaf padaku.

“Dan tolong jangan terlalu membenci Minseok hyung, sebelum kau mendengar penjelasan darinya. Karena dia melakukan semua ini demi adiknya yang keras kepala dan manja” Usai mengucapkan kalimat itu, dia melepaskan pelukkannya. Dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu yang membuka dan menutup kembali. Dapat kupastikan bahwa Kim Myungsoo sudah keluar dari ruang rawatku.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya”

~o~

Suzy POV

“Jiyeon-ah, Chanyeol-ssi, bagaimana jika kalian berlibur bersamaku? Ke kampung halamanku” Aku menatap kedua orang kakak-beradik ini bergantian. Saat ini, aku dan Sohee sedang berada di apartement Chanyeol dan Jiyeon untuk merayakan kepulangan Jiyeon dari rumah sakit. Sejujurnya, kami belum terbiasa dengan keadaan Jiyeon saat ini, akan tetapi Jiyeon tetaplah Jiyeon walaupun dia kehilangan pengelihatannya. Dia tetap Jiyeon yang selalu tersenyum pada sahabatnya, dan dingin pada orang lain.

“Kampung halamanmu? Di kaki Gunung Jiri?” Jiyeon terdengar agak keget dengan usulku.

“Ne, sebentar lagi adalah libur musim dingin. Sekolah akan libur sampai awal musim semi. Itu berarti selama musim dingin kegiatan sekolah OIHS akan dihentikan, dan hal inilah yang membuat sekolah kita sangat menyenangkan!” Aku tidak dapat menahan kegembiraanku. Sebentar lagi aku akan segera bertemu halmoeniku di desa.

“Keundae, Suzy-ah, kenapa kami harus ikut bersamamu?” Jiyeon memiringkan kepalanya sedikit kesamping, dia tampak penasaran akan alasanku mengajaknya liburan bersama.

“Aku ingin kau melupakan segala hal yang telah terjadi belakangan ini dan menyegarkan dirimu dengan suasana desa. Kau pasti akan suka, Jiyeon-ah. Percayalah padaku” Aku menggenggam tangan Jiyeon berusaha untuk meyakinkannya.

“Benarkah? Atau mungkin kau melakukan ini karena kau ingin melakukan pendekatan pada Chanyeol oppa?” goda Jiyeon. Dan hal itu membuat semburat warna merah di wajahku semakin jelas terlihat.

“Ti-Tidak, tentu saja tidak” jawabku terbata. Sedangkan orang yang bersangkutan, Park Chanyeol, dapat dilihat dari wajahnya bahwa ia sedang menahan tawa.

“Ahh, andai aku bisa ikut bersama kalian” Sohee mem-poutkan bibirnya dengan kesal.

Sebelumnya, aku juga mengajak Sohee dan Jinri untuk ikut pergi bersamaku, akan tetapi karena alasan tertentu mereka tidak dapat melakukannya. Jinri sedang mengalami masa karantina oleh keluarganya, Jinri tidak boleh keluar dari rumahnya selama libur musim dingin, tetapi untunglah aku dan Sohee masih dapat menghubunginya. Sedangkan Sohee, dia berkata pada kami bahwa saat ini dia sedang bekerja pada Xi Luhan, dimana namja itu tidak memperbolehkannya mengambil cuti dan menikmati liburan musim dingin. Aku merasa sangat kasihan pada mereka berdua.

“Kau harus sabar menghadapi tingkah kekanakan Luhan. Percayalah, dia bukan namja yang sejahat itu” Chanyeol menepuk punggung Sohee pelan. Keduanya menjadi lebih dekat dibandingkan dulu.

“Ya, sepertinya aku harus menelan pil kesabaran sebanyak mungkin untuk hal itu”

Drrtt! Drrtt!

Sohee bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan tiba-tiba setelah sebelumnya dia tampak kesal membaca pesan singkat di ponselnya.

“Sang iblis menunjukan dirinya ketika sedang dibicarakan. Aku harus pergi sekarang. ARGGHH! Kenapa selalu disaat aku ingin meghabisakan waktu dengan kalian? Sungguh mengesalkan!” Sohee melangkahkan kakinya kesal menuju pintu.

“Aku pergi dulu” ujarnya lesu. Setelah itu dia segera menderapkan kakinya keluar dari apartement.

“Apa Xi Luhan memang semenyebalkan itu?” ujarku penasaran. “Aku sangat jarang melihat Sohee sampai sekesal ini”

“Kau tidak akan pernah tahu jika kau tidak mengenal yang dengan baik. Dia selalu bersikap manis pada semua orang yang beru pertama kali ia temui ataupun yang menurutnya dapat dijadikan mainannya yang baru” Chanyeol menjelaskannya seakan-akan ia sudah sangat terbiasa dengan itu.

“Mainan?” Aku dapat menangkap nada tidak suka dari cara bicara Jiyeon.

“Hmm, dia menjadikan perasaan orang lain sebagai mainannya. He’s totally a jerk

“Kenapa Sohee bisa mengenal orang seperti itu?” timpal Jiyeon kesal.

“Tapi, sepertinya Luhan tidak berniat untuk mempermainkan perasaan Sohee. Sebagai bukti, dia tidak memperlakukan Sohee sama seperti gadis yang lainnya walaupun caranya sedikit ekstrem. Dan Luhan bukanlah yang terburuk diantara kami semua” Menurutku pembicaraan kami menjadi semakin menarik.

“Bagaimana, jika kita menceritakan kehidupan teman-teman kita? Aku sangat penasaran dengan cerita kehidupan anak-anak super kaya seperti G Class” ujarku antusias. Sepertinya, ini adalah hal yang menarik.

“Ne, aku juga ingin mendengarnya. Ceritamu saat kau bertingkah seolah-olah kau tidak peduli peduli padaku” Jiyeon menunjukan evil grin-nya saat mengatakan itu.

“Baiklah, tapi ini akan menjadi cerita yang cukup panjang. Tapi, satu hal yang menjadikan kehidupan kami hampir serupa, kehidupan kami hanya berpusat pada diri kami sendiri. Dan mungkin, aku hanya akan menceritakan kisahku dan Myungsoo saja. Karena aku tidak akan mengungkapkan cerita kehidupan Jieun ataupun Howon, mereka memintaku untuk tidak pernah menceritakannya pada siapapun juga. Sedangkan untuk Luhan, aku tidak tahu masa lalunya sebelum dia menunjukkan dirinya pada kami saat berusia 10 tahun

“Kim Myungsoo, luar dan dalam dia adalah yang paling buruk diantara kami semua. Dia seperti seseorang yang mengindap penyakit D.I.D (Dissociative Indentity Disorder). Kepribadiannya tidak dapat ditebak oleh orang lain. Suatu saat dia bisa bertindak sangat keji, dilain hari dia bersikap manis, dilain hari lagi dia bersikap seperti anak kecil. Tapi, ada satu hal yang sudah sangat pasti dari Kim Myungsoo, dia amat sangat menyayangi Minseok atau brother complex. Dan hal yang kusuka darinya adalah, dia tidak pernah bertindak gegabah dan sangat dewasa jika itu berhubungan dengan pekerjaan yang diberikan padanya” Aku mendengarkan dengan seksama semua hal yang dikatakan oleh Chanyeol. Dan hal itu membuatku penasaran akan suatu hal.

“Eumm, apakah kau tahu alasan mengapa Minseok pergi dari rumahnya sendiri, padahal dia memiliki keluarga yang terbilang hangat dan harmonis untuk sebuah keluarga elite?” Aku melihat perubahan ekspresi wajah Jiyeon. Wajahnya menjadi seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Tentang hal itu, kau harus menanyakannya sendiri pada Minseok. Dan, apakah kalian ingin mendengar cerita tentang Minseok?” Tidak ada satupun dari kami yang menjawabnya.

“Baiklah, aku akan tetap menceritakannya pada kalian. Kebalikan dari Myungsoo, aku sangat mengagumi Minseok, dia lebih tua beberapa bulan dariku, akan tetapi dia sebenarnya sudah dapat menjadi cum laude jika dia berniat. Dia adalah seorang jenius dalam hal apapun. Oke, bahkan kalian pun adalah jenius karena kalian dapat lolos tes masuk OIHS. Tapi, dalam kasus Minseok, dia benar-benar berbeda dengan kita semua. Dia selalu yakin akan keputusan yang dia buat, selebihnya kalian yang mengetahui kepribadiannya dengan baik”

“Tidak, dia membohongi kami tentang segalanya. Mungkin, dia juga tidak pernah benar-benar menunjukan sifat aslinya”

“Begitukah menurutmu? Tapi, kurasa kalian salah tentang pengakuannya. Dari pandanganku, tanpa mengetahui alasan sebenarnya dia melakukan ini dan mengetahui kepribadian Minseok, dia hanya ingin kalian tahu siapa sahabat kalian yang sebenarnya dan tidak ingin lagi membohongi kalian tentang identitasnya. Hanya tentang identitasnya”

“Cukup. Aku tidak berniat untuk mendengarkannya lebih lanjut” Jiyeon bangkit dari tempatnya, dan mengarahkan tongkatnya untuk mengetahui apa yang ada di depannya. Tidak lama kemudian, dia sudah masuk kedalam kamarnya, meninggalkan aku dan Chanyeol sendirian di ruang tengah.

“Eum, sepertinya ini sudah mulai sore, aku harus segera pulang” Baru saja aku hendak berdiri, aku tertahan oleh tangan Chanyeol yang menggenggam pergelangan tanganku.

“Aku akan mengantarkanmu pulang. Dan jawaban untuk tawaranmu sebelumnya adalah ‘Ya, kami akan ikut denganmu’”

~o~

Jeollanam-do Provinsi Gokseong-eup Daepyong-ri

Chanyeol POV

“Halmoeni~~ Bogoshiposeo” Aku memperhatikan kedekatan antara Suzy dan neneknya, dan hal itu membuatku menyunggingkan sebuah senyuman. Yeoja itu sangat manis ketika ia bersifat manja seperti saat ini.

“Chanyeol- oppa, apakah saat ini Suzy sedang memeluk neneknya? Apakah mereka terlihat bahagia saat ini?” Kau mengalihkan pandanganku kepada Jiyeon.

“Hmm, mereka terlihat sangat bahagia. Ini pertama kalinya aku melihat Suzy bertingkah semanja ini. Sepertinya dia memiliki keluarga yang sangat bahagia” Aku melihat senyuman manis Jiyeon lagi. Ini adalah hal yang sangat kurindukan darinya. Seharusnya sejak dulu aku tidak pernah mengambil keputusan untuk berpura-pura tidak peduli padanya mengingat seberapa sering aku mengambil senyuman ini dari wajahnya dan menggantinya dengan isak tangis.

“Jiyeon-ah, Chanyeol-ssi, cepat masuk. Halmoeni sudah menyiapkan makan siang untuk kita” Aku segera menuntun Jiyeon untuk masuk kedalam rumah ala pedesaan itu. Rumah yang sederhana dan nyaman menurutku.

Seusai makan, Jiyeon meminta Suzy untuk mengantarkannya berjalan-jalan untuk menikmati udara sejuk. Sedangkan aku, memutuskan untuk membereskan barang bawaan kami di kamar yang akan kami gunakan.

“Anak muda, bisakah kau membantuku membersihkan piring-piring ini?” Aku sedikit kaget dengan kehadiran halmeoni ini yang secara tiba-tiba.

“Ne, halmeoni. Aku akan melakukannya setelah membereskan semua ini” ujarku ramah. Terkadang, aku sangat menyukai orang-orang yang sudah memiliki usia lanjut, dimana mereka sudah sangat dewasa dan mengerti bagaimana kehidupan ini. Segera setelah aku selesai membereskan barang-barangku dan Jiyeon, aku menghampiri halmeoni yang sedang mencampur kimchi di dapur. Dan dengan cekatan aku membersihkan piring-piring kotor yang menumpuk di westafel.

“Jarang sekali ada anak muda dari kota yang setampan kau bisa mencuci piring dengan cekatan seperti itu” puji halmeoni dengan tulus. Aku hanya bisa tersenyum simpul padanya.

“Ne, halmeoni. Ahh, halmeoni, apakah Suzy memiliki tetangga yang dekat dengannya disini?”

“Tentu saja, cucuku itu memiliki banyak sekali teman disini. Dia sangat terkenal. Apa mungkin kau tertarik pada cucuku itu?” Aku kaget mendengar pertanyaan dari halmeoni. Apakah aku tertarik pada Bae Suzy? Entahlah aku tidak terlalu mengerti. Tapi yang jelas, semua tingkah laku yeoja itu sangat lucu dan menggemaskan.

“Halmeoni, aku hanya ingin tahu dimana kira-kira aku harus menjemput mereka. Karena Suzy hanya berkata padaku untuk menjemput mereka di rumah tetangga baiknya”

“Ohh, itu. Kau pergi saja ke rumah yang terletak di seberang sungai ini. Tanyakan saja pada warga sekitar rumah keluarga Kim Pil Hoon. Mereka pasti akan mengantarkanmu kesana” Aku melihat senyuman ramah di wajah halmoeni, dan aku membalasnya dengan sebuah anggukan mengerti.

~o~

Jiyeon POV

Aku dan Suzy sudah berjalan mungkin selama 1 jam. Angin di desa ini sangat dingin tetapi menyejukkan. Andai saja aku tidak kehilangan pengelihatanku, mungkin aku sudah menyibukkan diri mengambil beberapa foto pemandangan Gunung Jiri.

The blue ocean that the red sun used to wash its face turns black
The white sky that had clouds and rain and the wind turns gray
I leave the darkness that finds my heart
Even the cold shadow that covers the night starts to harden

If the ice melts
A warmer song would have come out
But why is the ice so cold?
Why is it so cold?

Why are they so cold
Why are they so cold

The blue ocean that the red sun used to wash its face
I look at the past warmth that is deeply buried
Too late get it out
I wish the cold in the world of adults would be gone too
I wish the frozen love will melt away now

(Melted – AKMU)

Dari kejauhan aku dapat mendengar samar-samar nyanyian seorang namja. Suaranya sangat lembut dan menenangkan. Dan lagu yang dinyanyikannya sangat sesuai dengan kondisi cuaca yang dingin saat ini, akan tetapi cara namja itu menyanyikannya sangatlah hangat.

“Suzy-ah, siapa yang sedang menyanyi?” tanyaku pada Suzy.

“Ahh, ya! Kau harus bertemu dengan anak ini sebelum ke rumahnya” Tiba-tiba saja tanganku serasa ditarik oleh seseorang, mungkin ini tangan Suzy. Aku merasa seperti aku dibawa kesuatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempatku berada tadi.

“CHEN!!” Aku mendengar suara teriakkan Suzy memanggil seseorang. Chen?

“Perkenalkan dirimu Chen, dia temanku dari Seoul. Dia menyukai suaramu yang merdu” Aku merasa tangan Suzy membantuku untuk bersalaman dengan namja bernama Chen ini. Rupanya namja yang tadi bernyanyi adalah namja ini.

“Joneun Kim Jongdae imnida” Aku merasakan sebuah tangan berusaha untuk mencari letak tanganku dengan sedikit menyentuh bagian lenganku.

“Joneun Jiyeon imnida” Aku tersenyum pada namja ini.

“Kalian, memiliki nasib yang serupa” Aku dapat mendengar suara Suzy yang dipenuhi dengan kesedihan.

“Kalian kehilangan pengelihatan”

INFO

School Rush Cast Birthday Date :

March 13th 1998 : Myungsoo

March 28th 1998 : Hoya

May 16th 1999 : Jieun

November 27th 1997 : Chanyeol

April 20th 1998 : Luhan

October 10th 1998 : Suzy

March 26th 1997 : Minseok

June 7th 1999 : Jiyeon

March 29th 1998 : Jinri

June 27th 1998 : Sohee

32 responses to “[Chapter 7] School Rush!! Season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s