(Chapter 6) Belle in the 21st Century – The Wedding Day

belle6-myungyeon

Belle in the 21st Century – The Wedding Day

kkezzgw storyline

Main Cast: T-ARA’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: 15+

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 |5 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-


 

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 24 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

Kata ‘neraka’ mungkin sangat cocok untuk mengambarkan suasana dalam tempat pembelajaran ini, hanya bedanya tidak ada api ataupun iblis dengan wajah menyeramkan yang dilengkapi dengan berbagai alat siksaan yang mengerikan. Namun neraka yang Jiyeon hadapi saat ini adalah sejenis penyiksaan terhadap kebiasaannya yang jauh dari segala yang diajarkan padanya selama dua minggu ini, serta para ‘iblis’ yang ada disini berdandan cantik dengan hanbok lengkap dengan make up mereka dan menyiksa Jiyeon dengan buku setebal salju di kutub utara yang berisi tentang berbagai jenis tata krama dan bahkan sejarah tentang Korea Selatan—yang sudah dipelajarinya di bangku sekolah beberapa tahun yang lalu.

Tidak ada gadget Tidak ada kebebasan. Tidak ada waktu untuk sekedar bernafas.

Itulah yang dialami Jiyeon selama dua minggu yang terasa seperti dua abad saat dirinya berada disini karena ulah calon suaminya yang ingin memulai mencuri start perang. Gadis itu disiksa dengan rasa kebosanan dan segala hal – hal tua yang harus ia pelajari demi kelulusannya dari tempat pengajaran sialan ini.

Seperti saat ini, dengan pasrahnya gadis itu sedang menopang dagu sambil memperhatikan review yang diberikan instruktornya bersama empat gadis lainnya di sebuah ruang makan karena dua hari lagi sudah memasuki hari menjelang ujiannya, semua pelajaran yang sudah diajarkan kemarin akan di review selama dua hari dan para peserta mendapat test harian dari sana.

“Jiyeon-ssi, kau tidak boleh memegang sumpit seperti itu karena akan membuat sikumu tidak simetris. Fokus dan jangan terburu – buru!”

Dari 5 gadis dalam kelompok Jiyeon, Jiyeon-lah yang paling sering mendapat teguran dari instruktornya mengingat hanya dia satu – satunya gadis yang bukan dari keluarga kaya. Maklum saja, gadis itu tak pernah diajarkan hal – hal tak perlu seperti ini, bahkan keluarganya memperebutkan makanan yang ada di meja setelah itu mereka akan tertawa bersama. Jiyeon membuang nafasnya kasar, mengingat memori itu membuatnya senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan.

Dengan hanbok yang membungkus kelimanya, lima gadis itu berdiri sejajar di sebuah lorong. Sang instructor memperhatikan mereka dari depan sambil memperhatikan siapa yang melakukan kesalahan, “Mata harus lurus ke depan dengan tangan yang ditaruh di depan perut, tubuh harus tegap yang menunjukkan kepercayaan diri dan kaki harus berjalan segaris”

Kelimanya berjalan perlahan sesuai dengan apa yang diperintahkan dan mereka pelajari selama dua minggu disini, kelimanya sukses memancarkan aura masing – masing dengan senyum tipis yang terbentuk di bibir mereka, tak terkecuali Jiyeon. Well, mereka memang harus tersenyum seperti ini, mereka bilang sebuah senyuman atau guratan ekspresi di wajah seorang putrid menunjukkan emosi putri tersebut.

“Saat berbicara harus terlihat santun dan lembut, serta nada suara harus kita jaga agar tidak melebihi dua oktaf, perlihatkan wibawa kalian dalam setiap perkataan yang kalian ucapkan layaknya putri kerajaan.”

Jiyeon jengah mendengar kalimat tersebut. Astaga, semua orang seakan di setting untuk mengatakan hal itu setiap harinya minimal 4 kali sehari, bahkan Jiyeon bisa meniru dengan jelas intonasi sang instructor setiap mengatakannya.

Kini mereka mulai me-review pelajaran music tradisional Korea di ruang band yang cukup modern. Jiyeon memutuskan untuk bermain ajaeng atau sejenis kecapi yang merupakan alat music tradisional Korea. Sedangkan keempat temannya yang lain ada yang bermain seruling, haegeum, janggu, dan gayageum. Untuk bermusik, setiap kelompok akan diuji secara bersamaan dengan kelompoknya, karena itu Jiyeon paling tertarik dengan pelajaran bermusik, ia merasa tidak perlu berjuang sendirian di hadapan petinggi Korean Princess Institute.

Dan setelah melewati siang hari dengan berbagai review yang membuat otaknya pening, Jiyeon semakin tak berdaya ketika review untuk sejarah dinasti Joseon diadakan malam ini pukul 8 malam waktu setempat. Ya Tuhan, bahkan ia hanya bisa memejamkan matanya tak lebih dari 30 menit karena mereka diperlakukan bak Ratu Korea yang memang tidak mengenal kata istirahat saat bertugas memimpin negara.

“Beberapa hal yang penting dari pelajaran tentang dinasti adalah dinasti Joseon. Dinasti Joseon bertahan selama 5 abad lebih. Pendirian Joseon terjadi setelah lengsernya Dinasti Goryeo yang beribukotakan di Gaeseong dan kemudian berpindah ke Hanyang. Wilayah Dinasti Joseon diperluas sampai batas Sungai Yalu dan Duman di paling utara setelah berhasil menaklukkan bangsa Jurchen. Joseon merupakan dinasti Konfusius yang terlama memerintah di dunia. Setelah pendeklarasian Kekaisaran Korea pada tahun 1894, masa kekuasaan dinasti ini berakhir saat dimulainya penjajahan Jepang pada tahun 1910.”

Jiyeon tak sanggup lagi mendengarkan dongeng menyebalkan ini, ia menganggap suara dosen yang mengaung memenuhi ruangan kedap suara itu hanyalah erangan dari radio rusak. Ia benar – benar lelah setelah selama dua minggu kegiatan seperti ini tak henti – hentinya menerjang dirinya. Dengan mata terpejam dan tangannya memangku dagunya, ia pun terlelap dengan damainya.

“Setelah ini kita akan mengadakan test harian untuk persiapan ujian, bersiaplah. Saya akan memberikan waktu kepada kalian semua selama lima menit”

MWORAGU?

Mata Jiyeon langsung terbuka sempurna mendengarnya. Tidak….mengapa penyiksaan ini belum berhenti?  Ia tidak mau belajar untuk test itu, namun jika ia gagal ia akan mengulang selama dua minggu lagi, dan ia tidak mau sama sekali. Kini ia menggunakan seluruh kemampuan menghafalnya dan mulai menerka maksud dari semua tulisan dalam modulnya ini.

“Kim Myungsoo…aku bersumpah akan membalasmu nanti!” umpatnya dalam hati sambil sesekali mengutuk semua tulisan yang harus ia hafalkan.

.

.

Berbeda jauh dengan Jiyeon yang sedang merengang nyawa antara hidup dan matinya kebebasannya dalam dua minggu ke depan, Myungsoo justru kembali menghabiskan malamnya tanpa mengenal dosa. Pergulatan bibir Myungsoo dengan seorang gadis bertubuh sintal itu terhenti begitu mendengar ketukkan botol wine yang berasal dari mejanya. Myungsoo melihat Soohyun menatapnya datar sedangkan yang lainnya menatapnya maklum, terlebih Kai.

Dalam hal ini, Myungsoo dan Kai seperti anak kembar yang gila seks, wanita, dan wine.

“Untuk apa kau memanggil kami semua? Menontonmu berhubungan dengan wanita ini?”

Myungsoo tersenyum kecut lalu mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Keempatnya kini menatap Myungsoo geli saat pria itu ternyata berniat untuk membangikan undangan pernikahannya pada mereka, termasuk pada gadis yang kini sedang merengut kesal dalam pangkuannya, “Ibu tiriku menyuruhku memberikan ini pada kalian. Pastikan kalian membawa undangan itu saat datang karena setiap tamu akan di check

Kai mendengus geli, “Aku pemilik hotel tempat kau menikah. Jika mereka tidak mengizinkanku masuk, aku akan memanggil polisi untuk membubarkan acara pernikahanmu,”

Taemin dan Minho tergelak singkat sambil mengambil undangan mewah berwarna silver itu, sedangkan Soohyun masih menatap Myungsoo datar, “Kau jadi menikah rupanya.”

Myungsoo mengangguk malas, “Tentu saja, bung. Keempat orang di rumahku jelas jatuh cinta pada gadis desa itu.”

“Oh wow, keluargamu bahkan menyebarkan undangan seharga ₩100 per undangan, daebak!”

“Simpan pujianmu untuk hal – hal yang lebih penting, Minho-ssi

“Hei, kau akan lebih kaget lagi jika melihat tanggal pernikahanmu sendiri. Ternyata kau resmi menjadi suami seorang gadis sabtu ini.”

Minho melirik kearah Kai yang masih sibuk dengan wanita – wanitanya, selain Myungsoo yang sudah di cap maniak seks, Kai-lah yang terparah kedua dalam urusan ‘wanita’ dan ‘seks’ dengan wanita berbeda setiap harinya, “Yak Kim Jongin, ambil undangan ini sebelum kau menuntaskan hasratmu diatas,” sindir Minho.

Kai berdecak sebal lalu mengambil undangan itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang lainnya sedang sibuk merajai gadis malam yang ia sewa hari ini, “Aku sudah mengambilnya, kalau begitu boleh aku pergi sekarang?“ katanya dengan senyum penuh permohonan.

“Lakukan saja disini kalau kau mau, bukankah kita pernah melakukannya bersama dalam satu kamar dan dengan wanita masing – masing?”

Keemparnya tertawa sedangkan Soohyun hanya menggeleng pasrah jika mengingat moment itu, moment dimana mereka datang ke sebuah pesta dewasa yang mewajibkan setiap tamu membawa wanita mereka. Itu salah satu kejadian yang tak akan pernah mereka lupakan saat tua nanti. Seoerti biasa, hanya Soohyun yang tidak membawa satupun wanita malam, ia lebih tertarik berkencan dengan pasien – pasiennya atau eksperimennya dibanding dengan tubuh molek wanita.

“Ternyata kau benar – benar akan menikah dengan—tunggu, siapa namanya?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada gadis yang ada dalam pangkuannya, gadis itu menatap Myungsoo sendu saat pria itu juga memberikannya undangan, “Kau juga harus datang, Luna sayang. Aku ingin menciummu diam – diam saat tak ada yang melihat.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Beritahu aku siapa nama gadis desa itu”

“Park Jiyeon. Astaga, mendengar namanya saja sudah membuatku mengantuk”

Park Luna—teman kencan Myungsoo sekaligus designer perhiasan itu—tertawa mengejek sambil bergelayut manja di bahu tegap Myungsoo, “Kau masih memilikiku, dengan senang hati aku akan mengajakmu bersenang – senang saat calon istrimu itu membuatmu bosan”

Myungsoo terkekeh geli, tangannya yang usil meraba paha mulus Luna dengan cekatan, “Aku pegang kata – katamu, Nona Park”

Luna menggeliat senang mendapat sentuhan itu, serta merta gadis itu semakin merapatkan tubuh keduanya sambil membisikkan sesuatu pada Myungsoo dengan nada menggoda, “Geurae, apa perlu aku buktikan malam ini juga di kamar hotel?”

Undangan di sebuah kamar hotel terdengar begitu menggiurkan bagi seorang Kim Myungsoo. Pria itu memberikan seringai mematikannya lalu segera membawa Luna keluar dari ruangna VVIP club malam milik Kai. Seperti biasa, keempatnya tidak ada yang menghalangi ataupun mengingatkan Myungsoo tentang hal itu, karena mereka juga sering kali melakukannya dan mereka menganggap itu biasa terjadi di antara mereka.

Namun kali ini Soohyun memandang punggung Myungsoo tajam. Bagaimanapun Myungsoo akan menikah, dan bahayanya gadis bernama Park Luna itu sudah resmi menjadi teman kencan Myungsoo selama kurang lebih satu bulan. Tidak pernah dalam sejarah Kim Myungsoo membawa gadis yang sama, kecuali jika ia tertarik dengan gadis itu. Gagasan tentang ketertarikan Myungsoo terhadap Luna membuat Soohyun hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah sambil menenggak winenya cepat. Ia hanya mengharapkan yang terbaik untuk semuanya.

**

Dengan kantung mata tebal dan menghitam, muka ditekuk, tas bawaan yang bertambah dua kali lipat berisi buku – buku dari Korean Princess Institut, serta beberapa hanbok yang dibawanya sebagai cendera mata dari sana, Jiyeon menatap pasrah kearah Yoojung yang kini menatapnya dengan tatapan menahan tawa.

“Tertawa saja, Yoojung-ah. Aku tidak akan memarahimu” katanya dengan nada lemah.

Yoojung menggeleng sambil terkekeh geli, “Astaga eonnie kukira kakakku berbohong saat ia bilang ia memasukkanmu ke sekolah mengerikan ini, ternyata ia memang benar. Aigoo, kondisimu benar – benar mengenaskan saat ini. Sepertinya kau sangat tersiksa disana, pria bodoh itu memang sangat kejam”

Jiyeon hanya mengangguk pelan menyetujui perkataan Yoojung sembari memejamkan matanya. Ia bersumpah akan membalas perlakuan Myungsoo padanya setelah ia mendapatkan jatah tidur yang banyak. Selama dua minggu ia kesulitan untuk bernafas dalam lingkungan sempit ala kerajaan Korea zaman dulu.

“Baiklah, berhubung hari ini memang jadwalku untuk ke spa minggu ini, ayo kita pergi bersama!”

Sekali lagi Jiyeon hanya mengangguk lemah. Mobil merah itu melaju dengan seksinya membelah kesibukan kota Seoul yang semakin memadat seiring dengan berjalannya matahari yang merayap naik di cakrawala.

.

.

Tubuh Jiyeon seakan terlahir kembali setelah mereka memanjakan diri di sebuah spa terkemuka di pusat kota. Yoojung senang melihat Jiyeon kembali ceria dan terlihat segar setelah sebelumnya terlihat seperti singa yang siap menerkam mangsanya detik itu juga.

Yoojung melirik jam tangannya panic begitu mengingat tugasnya, ia mendesah lega begitu melihat jarum jam menunjukkan pukul 4 sore, yang artinya masih ada waktu 3 jam untuk Jiyeon bersiap – siap.

Kajja kita pulang!”

“Wait! Kita tidak bisa pulang sekarang, eonnie

Jiyeon mengernyitkan dahinya bingung, “Eo? Wae?”

Bola mata Yoojung bergerak gelisah karena ia tak tahu harus berkata apa untuk menutupi rencana ini, “Hmm…kita harus pergi ke salon untuk pergi ke sebuah acara”

Jiyeon yang tak tahu apapun akhirnya mengendikkan bahunya cuek dan segera mengikuti Yoojung. Gadis itu kembali mendesah pasrah begitu mengenali salon yang Yoojung arahkan padanya, lagi – lagi salon mahal yang terbiasa tampil di layar kaca.

“Nona Yoojung, ada yang bisa kami bantu?”

Jiyeon tak heran sama sekali saat para perias di salon itu mengenali Yoojung. Yoojung tersenyum ramah lalu menujuk Jiyeon, “Dandani dia secantik mungkin, buatlah semua mata lelaki tertuju kearahnya”

Pelayan salon itu tersenyum mengerti lalu membimbing Yoona untuk duduk. Jiyeon hanya menatap Yoojung bingung namun Yoojung hanay tersenyum seakan mengatakan bahwa Jiyeon harus berdandan.

“Lebih baik aku memilihkan dress untuk Jiyeon eonnie!” seru Yoojung semangat seraya meninggalkan Jiyeon di salon itu sendiri.

.

.

“Yoojung-ah

Yoojung segera menurunkan majalah yang ada di depannya mendengar sebuah suara memanggilnya. Majalah itu langsung jatuh ke pahanya begitu melihat seorang Park Jiyeon yang bertransformasi bagaikan bebek buruk rupa menjadi angsa yang anggun dan menarik.

Eoeonni?”

**

Ruang makan mewah berlapis kaca di sebuah hotel bintang lima di pusat kota itu kini dihadiri oleh keluarga besar pemilik perusahaan adidaya Korea Selatan, Jaekyo Group. Beberapa peralatan makan mahal mulai tertata rapi diatas meja, cairan berwarna merah keunguan mengisi beberapa gelas crystal yang berdiri dengan cantiknya di atas meja, serta lampu bertahtakan berlian bertengger dengan megahnya diatas meja kayu mahoni panjang yang kini memisahkan keluarga itu menjadi dua bagian. Semua keagungan yang di dapat oleh keluarga Kim tak lebih dan tak bukan karena kekuasaan, tahta, maupun harta yang mereka miliki.

Kim Myungsoo berdecak kesal setiap ia melirik jam tangannya. Ia harus kembali terjebak di acara keluarga bodoh yang sudah menjadi tradisi tersendiri bagi keluarga Kim, terutama karena sang nenek masih hidup dengan sehat dan terlihat gembira, dan sosok nenek yang sangat ia cintai itu membuatnya setengah jengkel karena sudah tidak sabar bertemu dengan calon istrinya yang bahkan tak ia anggap keeksistensiannya.

Halmoni, sepertinya ia tidak akan datang. Lebih baik kita kembali ke hotel dan beristirahat untuk acara besok” usul Myungsoo dengan nada setengah merengek.

Nenek Kim mengernyit tak suka mendengarnya. “Andwae! Walaupun ayahmu yang memilihkan calon untukmu, tapi aku harus menyeleksi dulu wanita itu agar cucuku mendapat pendamping yang terbaik sebelum terlambat”

Myungsoo mendengus sinis. Pendamping yang terbaik? Gadis desa itu? Yang benar saja, pernikahan ini lebih terlihat seperti lelucon bagi seorang Kim Myungsoo.

Myungsoo sama sekali tidak terlibat dalam persiapan pernikahannya. Karena itulah dengan kondisi ia yang tidak tahu menahu tentang ini sontak terlonjak kaget begitu mendengar ibu tirinya mengatakan ia akan menikah sabtu ini di hotel tempat mereka menginap saat ini.

Dan tentu saja gadis itu akan jauh lebih kaget.

Suara derit pintu yang terbuka sontak menjadi perhatian seluruh keluarga Kim yang sejak tadi menunggu kedatangan ‘bintang utama’ pesta besar besok—Myungsoo mendesah pasrah karena tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan ini. Suara terkesiap maupun tarikan nafas berat mendadak memenuhi ruangan ini, Myungsoo mengernyitkan dahinya tak mengerti dan akhirnya memutuskan untuk ‘menyambut’ kedatangan calon istrinya.

Namun ia tidak menyangka keputusannya untuk menoleh kearah pintu membuat pasokan oksigen ke paru-parunya berkurang dengan aliran darah yang berdesir halus.

Ia bersumpah gadis yang sejak tadi ia sebut ‘gadis desa’ darinya tidak pantas mendapat julukan seperti itu jika melihat penampilannya sekarang. Rambut cokelat gelapnya dibiarkan tergerai lurus menutupi bahu putihnya, tubuh langsingnya dibalut A-line dress berwarna oranye yang melekuk indah membalut tubuh langsingnya terlihat begitu menghipnotisnya, stiletto berwarna merah darah kian menyempurnakan penampilan seorang Park Jiyeon. Myungsoo tidak perlu repot – repot untuk menyembunyikan keterkejutannya dengan kejutan ini.

Apa gadis ini benar – benar Park Jiyeon?

Jiyeon menyadari kulit wajahnya memanas mendapati hujanan tatapan penuh kekaguman, sedangkan Yoojung tersenyum puas sembari melempar pandangannya pada Jiyeon. Well, kali ini kedua orangtuanya harus mengakui kemampuannya dalam memilih dress dan salon.

“Jiyeon noona…kau benar – benar cantik!” seru Kibum dengan wajah berseri.

Yoojung mengibaskan rambutnya ke belakang seolah mengatakan tentu-saja-siapa-yang-membuatnya-seperti-ini lewat gerakan rambutnya. Kedua orangtua Myungsoo pun menunjukan reaksi yang sama dengan Kibum, sedangkan Nenek Kim memandang Jiyeon seolah gadis itu adalah permata yang selama ini ia cari di tengah samudera untuk cucu kesayangannya.

“Astaga, jadi ini yang akan menjadi cucu menantuku?” nada gembira tak mampu ditutupi oleh Nenek Kim melihat sosok Jiyeon.

Annyeong hashimika, halmoni. Bangapseumnida, maaf aku baru sempat bertemu denganmu sekarang.” ujar Jiyeon sopan sembari membungkuk hormat.

Nenek Kim mengibaskan tangannya cuek, “Gwaenchana, aku tahu apa yang Myungsoo lakukan padamu. Dia benar – benar perhatian pada istrinya.”

Mendengarnya, seluruh keluarga Kim resmi memasang poker face dan berakting tidak tahu apapun dengan kenyataan yang ada—dan sekali lagi hanya Myungsoo yang tidak melakukannya.

Jiyeon dan Yoojung langsung mengambil tempat duduk setelah mereka membungkuk singkat—Yoojung disamping Kibum, Jiyeon disamping Myungsoo—dan terjadilah wawancara singkat antara Jiyeon dan Nenek Kim. Keluarga mereka hanya diam sembari memperhatikan keduanya, Nenek Kim terlihat menyukai Jiyeon, bahkan terkesan langsung jatuh cinta pada gadis ini walaupun baru pertama kali bertemu dengannya—Well, memang hanya Kim Myungsoo yang tidak menyukai Jiyeon.

“Apa kau memasak?”

Jiyeon mengangguk. “Tentu saja, halmoni. Aku menghabiskan seperempat waktuku dirumah untuk memasak.”

“Ah geurae? Lalu bagaimana dengan merajut? Apa kau suka merajut?”

Dan Jiyeon kembali mengangguk dengan senyum tipis. “Aku bisa melakukannya.”

Nenek Kim menempelkan kedua telapak tangannya di depan hidung dengan mata berbinar menatap Park Jiyeon. Keluarga Kim tahu Jiyeon baru saja mengenai jackpot dari ibu maupun nenek mereka.

“Astaga, kau benar – benar cucu menantu idamanku! Jongwoon-ah, kau tidak salah memilih calon menantu! Aku setuju dengan pernikahan ini, aku akan berdandan secantik mungkin untuk pernikahan cucuku besok!”

Tuan Kim tertawa renyah melihat tingkah ibunya yang terlihat seperti menemukan teman baru, ia pun melirik Myungsoo yang aura wajahnya semakin gelap dan Jiyeon yang memasang ekspresi kebingungan. Oh tentu saja gadis itu tidak tahu menahu tentang dunia luar setelah ‘dikurung’ oleh Myungsoo di tempat mengerikan sekelas Korean Princess Institute.

Jiyeon melirik kearah keluarga Kim seakan menuntut penjelasan atas pernyataan Nenek Kim yang membahas pernikahannya dengan Myungsoo dan secara kebetulan mengatakan acara itu terjadi besok.

“Tentu saja, emmonim. Kau harus berdandan secantik mungkin untuk pernikahan mereka besok”

Tubuh Jiyeon menegang mendengarnya. Tunggu, pernikahannya akan dilaksanakan…besok?

Tuan Kim yang melihat gelagat itu tertawa pelan untuk mencairkan es yang seperti membekukan seluruh tubuh Jiyeon. “Benar, Jiyeon-ah, pernikahanmu dan Myungsoo memang besok.”

“M—mworagu?”

**

Keinginan untuk meluluh lantakan hotel ini begitu kuat saat Jiyeon baru saja mengetahui fakta bahwa ia akan menikah dengan raja es itu besok, tepatnya kurang dari 24 jam lagi ia resmi menyandang marga suaminya. Astaga, kejutan apalagi yang ia dapat hari ini? Ia tidak menyangka beberapa jam setelah ia terbebas dari neraka, ia akan menemui neraka yang sesungguhnya. Tidak bisakah ia menarik nafas sejenak? Oh, tentu saja kebersamaannya dengan Myungsoo bisa dikategorikan sebagai menempati salah satu kamar di neraka.

Pasti tersiksa dan suasananya sangat panas.

Dan disinilah ia—setelah memutuskan untuk memasrahkan diri menghadapi pernikahannya esok hari dan tidak berniat untuk tidur—berjalan disekitar hotel dengan pandangan kosong dan tak terarah. Sebenarnya setelah makan malam tadi, Nenek maupun calon mertuanya menyuruhnya untuk beristirahat, namun ia hanya tidak bisa melakukannya.

“Aku tidak tahu calon pengantin wanita sibuk berkeliaran tengah malam”

Jiyeon terkesiap dan nyaris memekik sebelum menyadari siapa gerangan pemilik suara bass itu. “Suho-ssi, kau—“

Suho tertawa pelan menyadari wajah-ingin-mengutuk Jiyeon untuknya sembari mendudukan dirinya disamping gadis itu. “Tteokbokki?”

Jiyeon menggeleng pelan lalu pandangannya kembali lurus ke depan—kosong, dan Suho menyadarinya. “Hei, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat ini, tapi aku yakin kau bisa menjalani pernikahan itu dengan baik.”

Jiyeon tertawa hambar mendengarnya. “Entahlah, tapi aku tidak setuju dengan pendapatmu, Suho-ssi. Kurasa calon suamiku itu bukan tipikal pria yang bisa diajak bekerjasama dalam hal ‘membangun rumah tangga harmonis’. Bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali, hanya sekedar nama dan perawakan.”

“Sebenarnya yang harus kau lakukan hanya mengenalnya dengan baik dan kau akan tahu cara mengendalikannya, itu kuncinya.”

Mengendalikan? Ah, ia ingat rencana awalnya untuk membalas  dendam pada pria itu. Dan detik itu juga berbagai ide bermunculan untuk menghancurkan pria itu.

“Aku tidak berminat untuk mengenalnya, tapi jika itu bisa membantuku membalaskan dendamku padanya, sepertinya aku harus mengenal seorang Kim Myungsoo. Apa kau bisa memberitahuku?”

Suho menyeringai tipis, ia sudah yakin Park Jiyeon mampu melakukannya—dan dia pun ikut jatuh cinta padanya. “Baiklah, sepertinya aku harus menceritakan hal – hal dasar yang harus kau ketahui tentangnya. Apa kau tahu pria itu memiliki sahabat?”

Jiyeon terbelalak. “Tunggu, pria es itu memiliki teman?”

Suho tertawa kecil. “Percaya atau tidak, aku harus mengatakan iya. Mereka sudah bersahabat sejak dulu dan tidak pernah terpisahkan walaupun karakter mereka bisa dikatakan saling bertolak belakang, namun kurasa itulah tali pengikat hubungan mereka. Sifat mereka bisa dikatakan mirip atau bahkan tidak, ya begitulah”

“Lalu, apa mereka begitu berpengaruh untuk Myungsoo?”

Suho mengangguk, “Tentu saja, seperti yang ku bilang, hanya mereka yang sanggup bertahan dengan pria aneh itu selama lebih dari satu dekade. Dan orang – orang hebat itu adalah Choi Minho, Kim Soohyun, Kim Jongin, dan Lee Taemin. Mungkin kau pernah mendengar tentang mereka mengingat keempatnya masuk dalam jajaran pengusaha muda terkenal di Korea.”

Gadis itu mengangguk dan bertingkah seolah mencerna semua informasi baru yang ia dapat malam ini, “Sepertinya aku perlu mengenal mereka untuk ke depannya, bisa kau ceritakan padaku?”

“Kita mulai dengan yang paling akrab dengannya, yaitu Choi Minho. Apa kau tahu Dongwook Industries dan Jung Corp yang baru saja mendanai pembangunan taman wisata terbaru di Incheon beberapa waktu lalu? Pria itu adalah pewaris kedua perusahaan adidaya itu. Namun ia memiliki pengalaman buruk dengan masa lalunya. Orangtua kandungnya meninggal saat ia berusia 15 tahun dan ia pun diangkat menjadi anak dari pemilik Jung Corp. Karena itulah dulu ia sedikit pendiam dan tertutup, namun semenjak bersahabat dengan keempatnya sifat aslinya bermunculan—cerewet, moody, cepat panik, dan usil, namun ia sangat baik dan gentle. Tipikal Choi Minho.”

Jiyeon terperangah sedikit mendengarnya, sekelebat bayangan tentang sosok pria bernama Choi Minho yang malam itu menjemput Myungsoo membuatnya sadar seperti apa rupa Choi Minho.

“Lalu Kim Soohyun. Jika abad 20 punya Einstein, kita bisa menyebut pria ini sebagai ‘Einstein abad 21’. Kepintarannya sudah memasuki taraf yang mengkhawatirkan, ia terlalu jenius, terkesan pendiam dan tertutup, serta memandang segala hal dengan hal – hal ilmiah seperti seorang scientist dunia. Di umurnya yang baru menginjak 25 tahun, gelar master sudah berhasil diraihnya dan beberapa tahun belakangan ini kerap kali mendapat piala nobel berkat hasil penemuannya yang sangat memajukan penilitian Korea Selatan. Tahun depan ia akan melanjutkan S3 di Harvard University dengan mengantongi beasiswa.”

Tiba – tiba Park Jiyeon merasa sangat bodoh dan menciut mendengar biografi Kim Soohyun. Astaga, apa manusia seperti itu benar – benar hidup?

“Apa kau bercanda? S3 di usia 25 tahun? Bahkan aku harus mengerahkan segala kemampuanku untuk lulus dan mempertahankan beasiswa S1 di usia 22 tahun.” sungut Jiyeon.

Suho mengangkat bahunya tak paham. “Entahlah, aku juga bingung darimana asalnya kepintaran itu. Jangan membayangkan wajah penuh kerutan dengan tubuh bongkok, percayalah tidak akan ada yang percaya pria itu salah satu orang terpintar di dunia, mungkin. Dengan wajah tampan dan tubuh kekar, sebenarnya pria itu lebih cocok disebut seorang model. Terlebih lagi…kau pasti tahu Seoul International Hospital, kan? Well, dia pewarisnya.”

Jiyeon menghela nafas berlebihan kali ini, ia sungguh penasaran dengan sosok Kim Soohyun yang begitu jenius namun berwajah tampan. Sepertinya sangat menarik.

“Yang ketiga adalah Kim Jongin atau yang biasanya dipanggil Kai.”

Jiyeon mengernyitkan dahinya seperti mengenali nama itu, Suho yang menyadari hal itu hanya tersenyum lembut, “Ya mungkin kau mengenalnya, ia memang boss-mu di Tible Club and Bar”

Jiyeon mengangguk pelan lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Suho yang sepertinya berniat untuk menceritakan secara garis besar tentang Kai—dia cukup penasaran. “Mungkin dengan statusnya sebagai pemilik club malam, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa bermain dengan wanita ataupun wanita malam bukanlah hal yang aneh. Ya, dia seorang player, dalam hal ini ia memang sedikit mirip Myungsoo”

Jiyeon mendengus kesal, “Sial, jadi dia sama saja dengan pria kutub utara itu.”

Suho tertawa renyah, “Ya bisa dibilang begitu, mungkin? Tapi tidak sepenuhnya benar, walaupun ia playboy, namun dalam dia tidak seburuk itu dan bahkan wajib diakui kehebatannya. Di usianya yang masih terbilang cukup muda, ia harus belajar keras untuk menggantikan posisi ayahnya yang divonis terkena kanker paru – paru beberapa tahun setelah ia lulus SMA. Ia harus mempelajari segala hal yang berhubungan dengan hotel maupun club malam itu dalam waktu yang bersamaan dan hebatnya ia mampu melakukannya dengan baik hingga hotel itu berkembang pesat dan menjadi salah satu hotel bergengsi dan diperhitungkan di seluruh dunia. Dan hotel yang sedang kubicarakan itu adalah hotel ini.”

Reflek gadis itu memperhatikan penampialan hotel yang tepat berada di depannya, dan ia pun langsung terkesiap kagum menyadari kehebatan seorang Kim Jongin dalam mengerahkan kemampuannya untuk memajukan hotel ini—selain fakta bahwa pria itu playboy.

“Dan yang terakhir adalah Lee Taemin. Ia memang tidak memiliki ciri khusus yang begitu kentara selain sifat childish dan jahilnya yang diperlengkap dengan senyum menawannya. Tapi, sifat penurut dan ingin belajarnya membuat setiap orang yang tahu liku kehidupan Taemin akan kagum. Ia mengesampingkan keinginannya untuk menjadi seorang pengacara dan memilih untuk mengikuti permintaan ayahnya untuk masuk ke jurusan yang diharapkan orangtuanya. Apa kau tahu Speciaeng TV dan SM Entertainment? Ia merupakan pewarisnya dan hebatnya, ia sanggup membuat keduanya menjadi stasiun tv maupun agensi paling terkenal di Korea Selatan.”

Jiyeon menatap Suho datar, oh tentu saja teman – teman Myungsoo tidak mungkin berasal dari kasta rendahan, ia hanya berharap keempatnya tidak menyebalkan seperti Kim Myungsoo—tunggu, memang ada pria yang lebih menyebalkan dari calon suaminya?

“Kim Myungsoo….pria itu cukup beruntung bisa mendapat sahabat – sahabat yang selalu bersamanya dan mendukungnya dengan cara mereka sendiri. Dan walaupun sifat mereka maupun kemampuan mereka yang bertentangan, namun persahabatan mereka sangat awet. Itulah yang kukagumi dari mereka. Karena itu, kurasa kau harus tahu tentang ini dan berusaha berkenalan dengan keempat sahabatnya yang lain untuk membantumu ‘membalas dendam’.”

Jiyeon meringis sendiri membayangkan ia harus berkenalan dengan sahabat – sahabat Kim Myungsoo, itu terlihat seakan Jiyeon ingin mengakrabkan diri dengan lingkungan Myungsoo. Ia sedikit ragu dengan gagasan Suho.

“Mengapa aku tidak bertanya padamu saja? Sepertinya kau akrab dengannya, bahkan kau tahu dengan jelas seperti apa teman – temannya.”

“Begini, Park Jiyeon. Aku memang saudara sepupunya dan hubungan kami cukup dekat, tapi aku tidak tahu secara keseluruhan sosok Kim Myungsoo yang kau tanyakan itu, secara logika ia pasti lebih banyak mengungkapkan perasaannya pada sahabat – sahabatnya dan kau tidak perlu takut ataupun ragu pada keempatnya, karena mereka sudah menunggu kehadiranmu dalam hidup sahabatnya dan aku yakin mereka dengan senang hati membantumu.”

Jiyeon terdiam selama beberapa detik saat  dirinya menemukan sebuah kejanggalan dari kalimat Suho. “Mengapa mereka harus menunggu kehadiranku? Maksudku, kurasa mereka adalah sahabat yang baik dan tanpa kehadiranku pun seharusnya mereka bisa mengubah Myungsoo, bukan?”

Entah mengapa suasana diantara keduanya terasa dingin dan kaku setelah Jiyeon menanyakan hal tersebut, hal itu membuatnya bertanya – tanya apa ia memang salah bertanya atau semacamnya karena ia tidak menyangka akan mendapat reaksi sedingin ini dari sepupu calon suaminya.

“Maaf jika aku salah bertanya—“

Ani, bukan seperti itu. Aku hanya tidak tahu apa kau seharusnya mengetahui tentang ini atau tidak”

Jiyeon mengernyitkan dahinya tak mengerti, sebenarnya ada fakta apalagi yang disembunyikan darinya?

Museun tteusieyo?”

“Kami semua tahu bahwa Myungsoo membutuhkan sosok wanita setelah kepergian wanita – wanita yang ia cintai.”

DEG.

Gadis itu bisa merasakan hawa dingin menusuk kulitnya ataupun tiupan angin yang menerbangkan rambutnya, namun ia tidak bisa memikirkannya saat ini setelah mendengar perkataan Suho. Jadi…Myungsoo menyukai seorang gadis?

“Kim Myungsoo memang membutuhkan keempat sahabatnya, namun terlepas dari itu semua, ada satu pribadi yang harus melakukannya seorang diri tanpa bantuan secara langsung dari kami, yang tak dapat kami sentuh secara pribadi. Kami menyadari bahwa satu – satunya hal yang bisa mencairkan kebekuan hatinya dan mengembalikan kehangatan dalam dirinya hanyalah kehadiran sosok wanita yang sanggup menghapus bayang – bayang masa lalunya, dan ketakutannya terhadap sesuatu berbau ‘cinta’.”

“Kalau aku boleh tahu…siapa mereka?”

Suho menelan salivanya sebelum menatap Jiyeon, kilat keraguan memancar jelas dari pupil matanya yang berwarna hitam kelam. “Ibu dan kekasihnya dulu, dua orang yang paling ia cintai seumur hidupnya.”

“K—kenapa mereka bisa meninggal?”

Gomo terbunuh dan kekasih Myungsoo…kecelakaan. Itu merupakan pukulan terbesar untuknya, terlebih ia menyaksikan kematian keduanya secara langsung sangat mencintai keduanya melebihi dirinya sendiri dan kematian mereka berdua seakan ikut membawa seluruh kehangatan dalam dirinya. Karena itulah kami yakin jika ia terluka karena seorang wanita, tentu ia bisa sembuh karena kehadiran sosok itu dalam wujud yang berbeda.”

Mendengar itu semua, beban di pundak Jiyeon seakan bertambah. Tanpa ia sadari, Jiyeon merasakan sakit yang begitu perih mendengar calon suaminya mencintai gadis lain, sekalipun gadis itu sudah tenang disana. Namun keraguan yang Jiyeon rasakan semakin membesar mengetahui fakta bahwa Kim Myungsoo mencintai gadis lain, gadis yang pastinya jauh lebih baik darinya.

Apa yang ia miliki untuk menyaingi siapapun gadis itu? Apa yang ia miliki untuk mengubah Kim Myungsoo?

“Suho-ssi, kurasa kalian salah mempercayakan seseorang. Aku bukanlah pengganti yang tepat untuk keduanya, pria itu membenciku dan selamanya akan seperti itu.”

“Tidak! Justru sebaliknya, kami rasa justru kaulah gadis yang selama ini kami tunggu dan bahkan yang Kim Myungsoo tunggu. Ia hanya takut jatuh cinta lagi, ia tidak mau melukai wanita yang ia cintai, dan secara tidak sadar ia tidak mau melukaimu.”

“Hajiman

“Kami mengandalkanmu, Park Jiyeon. Kami percaya kau bisa mengubahnya seperti dulu lagi, dan kami sangat menunggu hari itu datang. Yakinkan dirimu dan kabulkanlah permintaan kecil kami semua, Jiyeon-ah.”

“Mengapa…kalian mempercayaiku?”

“Karena kau Park Jiyeon.”

Secercah harapan menghinggapi relung hati Jiyeon yang sempat hampa selama beberapa menit, ia sangat ingin melakukan hal itu; melihat Kim Myungsoo yang dulu, sosok Kim Myungsoo yang dirindukan seluruh keluarga maupun sahabatnya. Namun, apa ia bisa melakukannya?

Apa ia bisa mengubah Kim Myungsoo?

**

Meskipun ia terlihat tidak peduli dan terkesan pasrah dengan pernikahan ini, namun jauh di dalam lubuk hatinya Kim Myungsoo merasakan desiran gugup maupun cemas di relung hatinya yang terdalam. Sekalipun ia bersikap seolah – olah kemanusiawiannya sudah membeku, namun sebenarnya sisi manusiawi dalam dirinya masih bekerja untuk hari penting dalam hidupnya.

Pernikahan.

Acara sakral yang seharusnya dilalui keturunan adam dan hawa yang saling mencintai dan sepakat untuk menjalin cinta mereka dalam sebuah ikatan suci di hadapan Tuhan secara resmi. Bagaimanapun, Myungsoo sedikit tergelitik dengan fakta bahwa ia akan melakukan itu bersama seorang wanita yang tak ia harapkan sama sekali.

Pria itu mendesah frustasi, selalu seperti ini jika membahas tentang sosok wanita. Bayangan rupa maupun senyum yang terus menghantuinya selalu membuatnya tak pernah bisa memandang masa depan dengan cerah. Hidupnya terasa hampa karena ia sadar bahwa kebahagiaannya sudah pergi direnggut oleh takdir yang memisahkan alam mereka.

Myungsoo kembali memandangi foto gadis itu dengan seksama. Ia tidak pernah bosan memandangi gadisnya yang kini hanya bisa ia jumpai melalui foto ini. Tangannya mengambil sebuah kotak beludru merah dari balik kantung celananya dan terpampanglah sebuah cincin bertabur crystal yang terlihat begitu cantik dan elegan. Ibu jarinya mengusap mata cincin itu seiring dengan ekor matanya yang menyapu foto gadisnya untuk ke sekian kalinya.

Apa ia harus menyampaikan pikirannya lagi? Ia sangat ingin gadis yang berada dalam foto inilah yang memakai  cincin ini—cincin turun temurun keluarga besarnya. Ia ingin gadis inilah yang bersanding dengannya di atas altar, menjadi pendamping hidupnya, menjadi ibu dari anak – anaknya, menjadi sosok yang menemaninya meminum teh di beranda dengan rambut yang memutih. Angan tetaplah angan bagi Kim Myungsoo, karena harapan itu tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Terlebih ia akan menikah dengan wanita lain besok.

“Jieun-ah, apa aku harus membiarkan wanita lain memakai cincin ini? Apa aku harus…membiarkan wanita itu menggantikanmu?”

**

Pernikahan pewaris Jaekyo Group tentu saja membuat seluruh warga Korea Selatan berlomba – lomba mencari tahu tentang informasinya, hal itu membuat topik pernikahan Myungsoo dan Jiyeon menjadi headline news di berbagai media dan tak pelik wartawan memburu berita ini. Pernikahan yang menyita perhatian publik ini dilaksanakan di Takjong Hotel—hotel milik Jongin, tepatnya di dynasty hall hotel kelas International tersebut. Tempat resepsi pernikahan sudah disulap menjadi sebuah tempat resepsi mewah paling bergengsi dengan sebuah altar berwarna putih gading di ujungnya. Tempat ini di dominasi oleh warna merah muda, ungu, dan putih yang membuat ruangan terlihat sangat feminism dan cantik, berbagai karangan bunga yang memenuhi tiap sudut ballroom sibuk dijadikan objek foto oleh para tamu undangan karena keindahannya yang mengundang banyak orang untuk mengabadikan dirinya bersama mereka. Wangi parfum mahal, bunyi stiletto yang membentur lantai, serta kehadiran gaun – gaun bermerk seolah menjadi santapan umum di tempat ini mengingat banyak orang – orang penting yang menghadiri pernikahan yang menghabiskan dana diatas 500 juta won itu.

Meja – meja berbentuk bulat dengan perlengkapan makan mewah diatasnya menghiasi bagian belakang hall sedangkan bagian depan digunakan untuk para tamu merenggangkan otot – otot mereka dengan berdansa bersama pasangannya masing – masing. Namun yang paling special dari dekorasi di tempat ini adalah kue pernikahan yang benar – benar berbentuk mempelai wanita dan pengantin yang paling membuat semua orang berdecak kagum antara iri ataupun takjub. Rasanya semua wanita disini ingin menggantikan posisi Jiyeon yang sangat beruntung mendapatkan Kim Myungsoo sebagai suaminya.

Namun, apa benar Park Jiyeon seberuntung bayangan mereka?

Pantulan seorang gadis dengan wedding dress berwarna putih susu dari cermin besar seukuran tubuh di ruang makeup itu membuat siapapun yang melihatnya tidak sanggup untuk mengalihkan pandangan mereka, bahkan seseorang yang memiliki bayangan itu sendiri tidak percaya bahwa yang ada di depannya adalah dirinya sendiri.

Gaun putih panjang model mermaid yang terbuat dari bahan elastic satin dengan potongan leher deep v-neck serta low cut pada bagian belakang membuat punggung putih mulusnya terpampang jelas sampai batas pinggul, rambut cokelatnya dibiarkan tergerai menutupi punggung serta sebagian bahunya dengan aksen gelombang dibagian ujung. Stiletto berwarna putih yang sudah dilapisi dengan batu safir membuat tingkat kecantikan Jiyeon meningkat drastis.

Park Jiyeon nyaris tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Sekarang, ia lebih terlihat seperti putri di negeri dongeng dibanding seorang wanita yang akan menikah—well menurutnya secantik itulah dirinya saat ini.

“Seperti dugaanku, kau terlihat sangat cantik, Jiyeon-ah.”

Jiyeon sigap menoleh ke belakang begitu melihat pantulan Nyonya Kim dari pantulan cermin di depannya. Gadis itu hanya bisa tersenyum sopan sembari membenahi gaunnya gugup. “Eomonim juga, sangat cantik dan menawan.”

Nyonya Kim melempar senyum tipis sembari langkah kakiknya berjalan mendekati tubuh Jiyeon yang menjulang tinggi. “Aku harap kau bisa menjalani ini semua dengan baik, Jiyeon-ah. Setidaknya kau harus melakukan segala cara untuk mengubah anak itu”

Helaan nafas yang sangat tipis menjadi satu – satunya hal yang bisa Jiyeon lakukan sekarang. Bisakah ia tidak diingatkan tentang tugasnya yang satu itu?

Nyonya Kim menepuk bahu Jiyeon lembut, mata cokelat Jiyeon yang redup mendongak dan langsung bertabrakan dengan tatapan Nyonya Kim yang menenangkan namun mengintimidasi dalam satu waktu. “Karena tidak selamanya…kau bisa melakukannya.”

“Aku mengerti, emmonim

.

.

Aigoo, apa benar ini Park Jiyeon yang kemarin malam kuliha?”

Jiyeon tertawa gugup sambil menghampiri Suho yang mewakili ayahnya menemani dirinya berjalan diatas altar.

Dia akan menikah.

Fakta yang membuatnya memakai wedding dress dengan polesan makeup natural serta aliran darahnya yang berdesir tak menentu sekarang.

“Aku gugup sekali, Suho-ssi.”

Suho tersenyum tulus sambil menepuk – nepuk tangan Yoona yang berada dalam genggamannya, “Kau pasti bisa melaluinya, aku percaya padamu.”

Alunan musik klasik yang dimainkan dengan beberapa alat musik mulai memenuhi aula itu, mars pernikahan yang mengalun lembut membuat perhatian para tamu undangan memusatkan perhatiannya kearah sang mempelai wanita. Dengan perlahan Suho membimbing Jiyeon—yang sedang berusaha untuk tidak pingsan—dengan lembut menuju altar, menuju ke tempat pria yang akan berjanji menjaganya seumur hidup.

Terlepas dari kecantikan sang mempelai wanita, tokoh utama pria dalam pernikahan ini juga terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya. Sekalipun momen ini merupakan salah satu momen terpenting dalam kehidupannya, Myungsoo tampak cuek dan dingin seperti biasanya, seakan hari ini berjalan seperti biasa dan tidak ada yang patut membuatnya menarik bibirnya keatas. Matanya menatap kosong kearah Jiyeon dan tak ada rasa bahagia sama sekali yang ia rasakan karena pernikahan ini. Bahkan ia tidak menyadari langkah kaki Jiyeon yang semakin mendekat dan kini tepat berada di depannya.

Gadis itu terlihat cantik dengan rona wajah memerah dan keringat dingin yang bermunculan dibalik sarung tangannya. Myungsoo menyeringai tipis melihatnya, menikmati pemandangan langka itu. “Jaga Jiyeon dengan baik, Myungsoo-ya,”

Suara Suho menarik kembali Myungsoo dari alam bawah sadarnya. Pria itu hanya mengangguk pelan lalu meraih jemari Jiyeon yang terasa kaku dan kecil dalam genggaman tangan besar Myungsoo. Keduanya saling melirik melalui ekor mata sebelum kaki mereka berjalan beriringan ke depan altar.

“Hadirin yang terkasih, hari ini kita berkumpul disini untuk menyatukan pasangan yang akan mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan.” pendeta itu memulai. Para undangan pun mulai memerhatikan acara sakral ini dengan hikmat.

“Saudara Kim Myungsoo, maukah engkau mengambil wanita ini sebagai istri yang diberikan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah kau melindungi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia, baik pada waktu dia sehat maupun pada waktu dia sakit, serta mencintainya selama ia hidup?”

Tanpa ragu, Myungsoo menjawab, “Ya, saya bersedia.”

Pendeta itu menoleh kearahku, “Saudari Im Yoona maukah engkau menerima pria ini sebagai suamj yang diberikan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah kau menemani dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia, baik pada waktu dia sehat maupun pada waktu dia sakit, kaya maupun miskin, serta mencintainya selama ia hidup?”

Aku menatapnya sekilas sebelum mengukir senyum tipis di wajahku, “Ya, saya bersedia.”

Kami saling berhadapan untuk mengucap sumpah suci untuk kedua kalinya. Pendeta itu mempersilahkan Myungsoo memulainya terlebih dahulu. Aku mengerjap kaget saat Myungsoo meraih kedua tanganku sambil membacakan sumpahnya, “Saya, Kim Myungsoo, mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Allah dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya mengambil Park Jiyeon sebagai isteri yang sah, dan saya sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit dan akan memelihara dia dengan setia. Saya berjanji akan menuntut hidup suci dengan isteri saya dengan menyatakan kesetiaan dan iman saya di dalam segala hal kepadanya sesuai dengan Injil Tuhan Yesus Kristus.”

Pendeta itu tersenyum padaku, aku meraih jemari Myungsoo dan menarik nafas dengan berat sebelum mengucapkan sumpah ini. “Saya, Park Jiyeon, mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Alalh dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya menyambut Kim Myungsoo sebagai suami yang sah, dan saya sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia. Saya berjanji akan menuntut hidup suci dengan suami saya dengan menyatakan kesetiaan dan iman saya di dalam segala hal kepadanya sesuai dengan Injil Tuhan Yesus Kristus.”

[!!!] NB: Umat kristiani juga menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Allah’, hanya cara pelafalannya saja yang berbeda dengan kaum muslim. Author berharap tidak ada complain atau readers yang membahas tentang masalah ini saat RCL karena ini masalah yang cukup sensitive. Sekian dan terima kasih (:

Semua yang datang ke pernikahan ini menghembuskan nafas lega saat mereka selesai mengucapkan wedding vow. Beberapa dari mereka tersenyum bahagia menyaksikan keduanya sudah resmi menjadi suami istri. Myungsoo dan Jiyeon saling memasukkan cincin ke jari manis masing – masing dalam diam, kini Jiyeon benar – benar memakai cincin warisan keluarga Kim di jari manisnya.

“Di hadapan Tuhan, keluarga serta para hadirin yang terkasih, saya meresmikan kalian menjadi sepasang suami istri. Pengantin pria dipersilahkan mencium pengantin wanita”

Keduanya saling mengeluarkan ekspresi menolak dengan caranya masing – masing. Jiyeon melirik kearah Myungsoo—yang sekarang resmi menjadi suaminya—terlihat menghela nafas seolah ia ingin melarikan diri dari tempat ini sekarang. Jiyeon memutar bola matanya pasrah ketika Myungsoo membuka cadar yang menutupi wajah dan kepalanya, entah ia harus bersikap seperti apa dalam situasi serba salah seperti ini. Ekspresi Myungsoo yang dingin seperti biasanya kini terpampang jelas di depan wajahnya dalam jarak yang sangat dekat.

Myungsoo memandangi wajah istrinya dan ia berusaha keras untuk tidak memasang ekspresi terpesona. Ia tidak tahu bahwa gadis yang akan menjadi istrinya ini terlihat begitu cantik dan polos namun sanggup menggetarkan sisi hatinya yang bahkan tak pernah terjangkau oleh Jieun.

Wanita di depanmu ini istrimu, Kim Myungsoo.

Pria itu masih memandang Jiyeon dengan tatapan yang sanggup membakar kulit wajah Jiyeon hingga merah padam bak kepiting rebus. Gadis itu bertanya – tanya dalam hati mengapa Myungsoo tidak segera melakukannya agar acara ini segera berakhir.

“Kau terlihat gugup, tenang saja aku tidak berniat membuatmu merasa seperti itu sebenarnya.”

Jiyeon mendelik kesal kearah Myungsoo. “Aku tidak gugup. Sebaliknya, kurasa kaulah yang merasakan itu”

Kening Myungsoo mengerut tak terima. “Mwo? Kau bilang aku gugup karena akan segera mencium wanita?”

Jiyeon mengangguk tegas, “Ne, bukankah kau sudah biasa melakukan ini? Tapi kenapa sekarang kau terlihat gugup?”

Terkutuklah mulutmu Park Jiyeon! Sebenarnya apa yang baru saja kau katakan? Apa kau sedang menantang pria ini? Keduanya sama – sama terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Jiyeon. Garis rahang pria itu mengeras dengan sorot mata yang menggelap detik berikutnya.

“Kau akan menyesal pernah mengatakan itu padaku, Kim Jiyeon.”

Sebelum Jiyeon bisa mencerna apa maksud Myungsoo, bibir tipis gadis itu dibungkam oleh material lembut yang kini bergerak pelan diatas bibirnya. Sontak mata Jiyeon membulat sempurna merasakan hal itu, desiran halus menerpa tubuhnya seiring dengan kakinya yang terasa lemas dan tak berdaya.

Suara tepuk tangan meriah menjadi penutup ciuman Myungsoo. Jiyeon masih tercengang di tempat dan linglung bahkan setelah Myungsoo melepaskan ciuman itu sambil menyeringai puas.

Sepertinya Myungsoo tahu apa kelemahan seorang Park Jiyeon.

**

“Senang berkenalan denganmu, Jiyeon-ssi.”

Jiyeon tersenyum terpaksa untuk membalas sapaan gadis yang baru saja dikenalkan Myungsoo padanya. Park Luna, siapapun gadis ini, ia berusaha keras untuk tidak menjambak rambutnya agar menjauh dari tubuh suaminya.

Entah seperti apa hubungan keduanya, namun kata ‘teman’ tidak cocok untuk mendefinisikannya. Jiyeon bisa melihat perasaan Luna yang ditujukan pada suaminya hanya dari lirikan mata wanita itu pada Myungsoo, dan ia juga bisa merasakan kenyamanan yang Myungsoo rasakan terhadap kehadiran Luna.

Apapun yang terjadi diantara mereka sungguh membuat Jiyeon kesal. Tapi, untuk apa ia kesal? Myungsoo memang suaminya tapi itu tidak berarti pria es itu benar – benar suaminya, bukan?

Tanpa disadari ketiganya, beberapa pasang mata memperhatikan kejadian itu dengan seksama dari tempat duduk mereka. Bahkan salah satu diantaranya terlihat tidak suka melihat kehadiran Park Luna yang lebih mirip seperti penganggu dibanding tamu undangan.

“Kita tidak bisa membiarkan Myungsoo memperlakukan Jiyeon seperti itu terus. Jika ini terus terjadi, sampai kapanpun hubungan mereka tidak akan pernah berkembang.” Komentar Minho sembari mendesah kecewa.

Kai mengiyakan ucapan Minho. “Kita harus membantu gadis itu mengubah Myungsoo seperti dulu.”

“Sepertinya kita harus melakukan sesuatu untuk mereka” timpal Taemin.

Kai menepuk tangannya semangat. “Benar, sepertinya kita memang harus turun tangan sendiri. Tapi dengan cara apa? Any idea?”

Soohyun mengelus dagunya pelan, terlihat menyetujui usul ketiga sahabatnya sambil memikirkan cara untuk melakukan rencana itu. Detik berikutnya ia tersenyum tipis, “Aku tahu apa yang harus kita lakukan”

Mereka saling berpandangan dan menunjukkan ekspresi aneh yang membuat siapapun yang melihatnya curiga. Sepertinya mereka bertiga tahu apa yang akan Soohyun lakukan mengingat kerja otak sahabat mereka yang satu ini memang luar biasa hebat, akhirnya ketiganya pun tertawa lalu mengangguk setuju. Ide Kim Soohyun selalu menjadi yang terbaik diantara yang lain, dan mereka pun yakin kali ini fakta itu tetap berlaku.

Suara lembut nan halus menginterupsi perbincangan keempatnya, sontak mereka semua langsung mengalihkan padangannya kearah panggung dan mendapati seorang wanita dengan dress berwarna merah menyanyi disana. Minho, Kai, dan Soohyun kembali bercengkrama singkat namun tidak dengan Taemin. Mata lelaki itu terus menatap lekat kearah gadis dengan suara emas yang mulai menghantui gendang telinganya, Taemin tak menyadari bahwa ia sejak tadi menahan nafas karena terlalu larut dalam fantasinya dengan gadis itu.

Seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya, getaran apa yang ia rasakan saat ini?

**

Myungsoo dan Jiyeon berjalan tergesa – gesa masuk ke dalam kamar hotel mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk mendudukan tubuh mereka dalam tempat tidur maupun sofa yang dapat merenggangkan tubuh mereka yang terasa kaku akibat acara pernikahan bodoh itu.

“Akhirnya pernikahan itu berakhir juga!” desah Myungsoo sembari membuka dasi serta jasnya dan mendudukan dirinya di tempat tidur.

Jiyeon pun merasakan hal yang sama. Ia sama sekali tidak mengharapkan adanya pernikahan ini, karena itulah dengan wajah ditekuk ia berjalan kearah meja rias yang ada di ujung ruangan dan mulai melepas sepatu serta beberapa perhiasan yang mempercantik wajahnya.

Keheningan menyelimuti atmosfer diantara mereka. Keduanya sibuk mengurusi urusannya masing – masing tanpa saling menoleh ataupun mempedulikan satu sama lain. Jiyeon bangkit berdiri dan berniat untuk menarik risleting ketat yang membuat dadanya sesak. Gadis itu menggulung rambutnya asal ke depan dan tangannya mulai mencari ujung risleting gaunnya. Gadis itu melakukannya dengan tenang tanpa menyadari kehadiran Myungsoo yang hanya bisa tercengang di tempat tak tahu harus melakukan apa.

Jiyeon yang merasa kulit punggungnya terbakar karena tatapan seseorang menoleh dan terkejut mendapati wajah Myungsoo yang menatap kearahnya tanpa berniat membuang muka. Gadis itu mengeram kesal, tangannya yang bebas meraih bantal sofa terdekat dan sepersekian detik setelahnya bantal itu melayang mulus kearah kepala Myungsoo.

YAK! Apa yang kau lakukan? Geumanhae!” pekik Myungsoo tak terima dan melindungi diri dibawah tangannya yang terangkat untuk melindungi serangan bertubi – tubi yang dilakukan Jiyeon dengan brutal.

Nafas Jiyeon tersenggal – senggal setelahnya namun sorot kekesalan dan tuntutan begitu terlihat dari pupil matanya yang berkilat penuh dendam, “Mwo? Apa yang aku lakukan? Tentu saja untuk memberi pelajaran pada mata menjijikanmu yang harus kutusuk, pria mesum!”

Myungsoo menatap Jiyeon garang. “Apa kau baru saja menyebutku pria mesum?” tanyanya dengan suara pelan namun sarat akan emosi.

Wae? Kau tidak terima? Kalau begitu jangan menatapku seperti itu dan keluar sekarang karena aku ingin mengganti pakaian!”

Myungsoo tercengang di tempatnya, apa gadis ini baru saja mengusirnya?

Karena ia tidak mau dan malas berurusan dengan gadis aneh yang kebetulan sekali sekarang menjadi istrinya, pria itu menatap Jiyeon marah seraya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar hotel. Jiyeon memperhatikan setiap pergerakan suaminya dengan mata menyipit, bunyi pintu yang tertutup membuat gadis itu mendesah lega dan kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.

.

.

Sinar rembulan bersinar redup menyinari dinginnya malam akibat angin musim gugur yang masih berembus tipis diluar sana saat sepasang insan manusia tidak tahu harus melakukan apa di kamar yang sama setelah sebelumnya mereka diresmikan menjadi sepasang suami istri.

Setelah berusaha saling mengabaikan dan menganggap satu sama lain tidak ada hingga waktu mengingatkan mereka untuk beristirahat. Myungsoo dan Jiyeon saling memandang dingin di tempat masing – masing karena ternyata keduanya seakan memiliki kontak batin untuk melakukan hal yang sama dan nayris di waktu yang sama—memejamkan mata dan beristirahat di tempat tidur. Keduanya saling menatap sengit, pupil mata mereka bergerak panik kearah ‘lawannya’ lalu berganti kearah tempat tidur  dan begitupun seterusnya.

Detik berikutnya, tanpa disangka keduanya berlari cepat kearah tempat tidur dan langsung melompat ke tempat tidur, membuat tubuh mereka saling bertabrakan dan suara mengaduh serta ringisan terdengar begitu pilu di kamar itu. Myungsoo dan Jiyeon masih menikmati rasa sakit itu sebelum keduanya saling menatap dengan tatapan kesal dan menuduh satu sama lain.

“Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah aku ingin tidur!”

Mwo? Seharusnya itu kalimatku, Kim Myungsoo-ssi. Aku ingin tidur sekarang dan kau pikir apa yang kau lakukan sekarang?”

“Kau bisa tidur di sofa,”

“Kalau begitu kau juga bisa tidur di sofa ‘kan?”

Myungsoo mengepalkan tangannya kesal. “Kamar ini disewa atas namaku, jadi aku berhak memilih untuk tidur dimanapun yang kuinginkan.”

Jiyeon mengangguk pelan namun pergerakan itu sarat akan sindirian, “Ah, jadi kau tipe pria yang seperti ini, tidak mau mengalah dan malah menyuruh wanita tidur di sofa? Gentleman sekali, Myungsoo-ssi.”

“Aku ingin tidur dengan nyaman, nona Park.”

“Aku juga! Jadi lebih baik kau tidur di sofa saja karena aku tidak mau tidur di ranjang yang sama dengan pria mesum sepertimu!”

Sebelum Myungsoo menjawab ataupun menyadari apa yang terjadi, pria itu terhempas ke ujung tempat tidur dan bahkan ia nyaris saja terjatuh jika ia tidak memegang tufted headboard berwarna putih itu dengan cekatan. Kilatan kepuasan terlihat di mata Jiyeon saat tendangannya berhasil, gadis itu segera mengambil posisi di tengah – tengah tempat tidur dengan mata terpejam, kaki maupun tangannya ia buka lebar – lebar seolah tidak mempedulikan teriakan Myungsoo ataupun tatapan mata pria itu yang berkilat marah.

Myungsoo yang tidak terima diperlakukan seperti itu segera mendekat dan tidur di samping kiri Jiyeon. Punggung kekarnya mendorong tubuh mungil Jiyeon dengan kekuatan besar, membuat gadis itu semakin lama semakin terintimidasi dan tergeser ke kanan hingga gadis itu merasakan apa yang Myungsoo alami sebelumnya—nyaris terjatuh dan mengandalkan kehadiran tufted headboard tempat tidur itu. Pekikan gadis itu membuat senyum penuh kemenangan terukir di wajah tampan Myungsoo, pria itu kembali melakukan apa yang dilakukan Jiyeon—tidur di tengah ranjang dengan kaki dan tangan yang terbuka lebar serta mata yang tertutup.

Jiyeon menggigit bibir bawahnya emosi. “Kim Myungsoo, kupastikan hidupmu tidak akan tentram!”

Gadis itu meraih bantal terdekat yang bisa ia jangkau lalu melompat keatas tubuh Myungsoo, pria itu memekik kaget, suara teriakannya tenggelam dalam sapuan bantal – bantal yang diarahkan Jiyeon padanya. Myungsoo melawan, pria itu meraih pinggang mungil Jiyeon dan membalikan posisi mereka, kini pria itu yang menguasai keadaan. Myungsoo segera mengambil bantal yang ada di sisi kirinya dan melakukan hal yang sama dengan Jiyeon.

Park Jiyeon terus meronta dalam kurungan tubuh Myungsoo sekalipun ukuran tubuhnya kalah besar. Jiyeon dan Myungsoo saling memukul dengan bantal yang ada di tangannya, selimut maupun sprei kasur berwarna putih itu sudah tak terbentuk akibat ulah keduanya.

Jiyeon tersenyum puas karena tendangannya berhasil melumpuhkan Myungsoo yang kini tergeletak di sampingnya namun aksi perang bantal itu tidak berhenti begitu saja. Kini keduanya mulai menggunakan alat gerak mereka yang lain seperti kaki.

Kaki keduanya saling menendang dan melilit satu sama lain, Jiyeon dengan gesitu melingkarkan salah satu kakinya di pinggang Myungsoo untuk mengunci pergerakan suaminya. Telapak tangan kirinya ia tangkupkan ke depan wajah Myungsoo, tangan kanannya bekerja untuk memukuli Myungsoo dengan gerakan teratur. Sedangkan Myungsoo berusaha keras untuk melepaskan kaki Jiyeon karena aksi istrinya membuatnya tidak bisa bergerak untuk melawan, pria itu juga berusaha mengumpulkan konsentrasi dan tenaganya yang terasa nyaris habis karena tingkah konyol keduanya.

Bintang – bintang bersinar redup saat kedua anak manusia yang sudah bersatu menjadi suami istri sedang menghabiskan waktu bersama dengan moment yang sangat berbeda dari pasangan pada umumnya. Myungsoo dan Jiyeon tidak mengingat apa yang seharusnya mereka lakukan di malam pertama mereka, yang ada dipikiran keduanya hanyalah bersaing untuk menguasai tempat tidur ini sendirian dan tidak ada niat berbagi.

Mereka juga melupakan fakta bahwa kehidupan mereka kini sudah terikat sempurna dan benang merah telah mengikat  keduanya seumur hidup mereka, entah mereka sadari atau tidak.

 

 

To Be Continue

A/N [2016/06/24] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

80 responses to “(Chapter 6) Belle in the 21st Century – The Wedding Day

  1. serius deh suka banget sama sahabat sahabat nya myungsoo. mereka care banget sama dia😊 cocwiiiittt😊
    hahaha malam pertama nya kok absurd kiyut gimana gitu/? kkkkkk😂😂😂
    ngakak banget sih dua orang ini, saling benci tapi saling tersepona juga/? kkkkk😂😂😂 awas ah benci dan cinta itu bedanya tipis banget loh😂

  2. Wkwkwkwk malam pertama mereka di lalui dengan perang bantal hahahahahaa
    Ada2 aja deh mereka, masing2 punya ego dan harga diri yg tinggi

    Mdh2an setelah menikah myungsoo bisa sedikit berubah ya

  3. Pingback: [Chapter 11] Belle in the 21st Century – My Beauty | High School Fanfiction·

  4. Hahahaha…. Ya ampun lucu bgt sich mereka, kya tom & jerry aja dech ^^
    Makin seru nich cerita’y thor😀
    Aku makin suka & jatuh cinta sma ni ff ^^
    Aku next dlu aja yah thor, slm hangat untuk author yg brillian satu ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s